• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa verba bertentangan dengan aturan no. 2, jadi hafalkan

Dalam dokumen Grammar Bahasa Jepang (Halaman 48-62)

→プラスチックでいろいろの容器を作る。

3) Beberapa verba bertentangan dengan aturan no. 2, jadi hafalkan

季節は変わる kisetsu wa kawaru Musim berganti ... ママは予定を変える mama wa yotei o kaeru Mama mengganti jadwal ...

Perhatikan bahwa hairu (masuk) dan ireru (memasukkan) adalah pasangan, walaupun awalnya beda.

3) Beberapa verba bertentangan dengan aturan no. 2, jadi hafalkan

Untuk verba-verba di kategori terakhir ini, bentuk intransitifnya malah diakhiri -eru. Karena jumlahnya sangat sedikit, jadi bisa dianggap verba-verba di sini adalah perkecualian dari aturan nomor 2. Inilah daftarnya (mungkin belum lengkap, tapi ini yang bisa saya temukan, jadi silahkan tambahkan kalau ada yang lain):

見える (mieru) terlihat 見る (miru) melihat

焼ける (yakeru) terbakar, dimasak 焼く (yaku) membakar, memasak 割れる (wareru) terbelah 割る (waru) membelah

抜ける (nukeru) copot 抜く (nuku) mencopot, mencabut 砕ける (kudakeru) hancur 砕く (kudaku)

menghancurkan とける (tokeru) terselesaikan (masalah dsb.), larut とく (toku) menyelesaikan (masalah dsb.), melarutkan

ほどける (hodokeru) lepas (ikatan dsb.) ほどく (hodoku) melepas (ikatan dsb.) 歯は抜ける ha wa nukeru Gigi copot ... お医者さんは歯を抜く o-isha-san wa ha o nuku Dokter mencabut gigi ... -te kuru/-te iku

By Wiwit Lestari in BAHASA GAUL JEPANG,(yang pinter atawa yang belajar bisa gabung) (Files) · Edit Doc

The meaning of -te form of a verb + "kuru come/iku go" changes according to whether the verbs "kuru" and "iku" function independently of the other verb or not.

"-Te kuru" and "-te iku" are divided into four stages according to the degree to which they function independently.

1) Stage 1 ("-te kuru" and "-te iku"; kuru and iku have the meaning of the original verbs)

(1) Kusuri o katte, (mata) kimasu.

He will buy medicine and (then) come (again). (2) Obentoo o tsukutte, (sorekara) ikimasu.

I will make my lunch and (then) go.

2) Stage 2 ("-Te kuru" and "-te iku"; kuru and iku are not independent verbs, but they still retain the character of the original verb.)

(3) Kamera o motte kimashita. I brought a camera.

(4) Bentoo o motte ikimashita. I went with my lunch.

3) Stage 3 ("-Te kuru" and "-te iku"; kuru and iku have the character of "come" and "go", but at the same time indicate direction.

(5) Tanaka-san o yonde kimasu. I will call Mr.Tanaka to come here.

(6) Doozo ban-gohan o tabete itte kudasai. Please have supper (and go).

(7) Shitai ga ukiagatte kita. The dead body has floated up. (8) Shitai ga shizunde itta. The dead body has sunk down.

4) Stage 4 ("-Te kuru" and "-te iku"; kuru and iku do not express “come” and “go.” (9) Kanojo wa (ima made) onnade hitotsu de kodomo o sodatete kita.

(10) Kanojo wa (korekara mo) onnade hitotsu de kodomo o sodatete iku. She will (continue to) bring up her child by herself (from now on). (11) Atsuku natte kita. It is getting hot.

(12) Samuku natte iku. It will get cold.

In stages 1 and 2, "kuru" and "iku" are written in Chinese characters, and in 3 and 4, in hiragana. Here, we will focus on the stages 3 and 4, where "kuru" and "iku" lose their verbal independency and are used as auxiliary verbs.

● "-te kuru"

"-Te kuru" imples that a thing, a situation, etc. is approaching a central point (often the speaker or the listener), either literally or figuratively.

When "kuru" is attached to an intentional verb (taberu eat, miru see, suru do etc.), it expresses actions which occur in sequence, like "doing a certain thing and returning to the speaker/listener again."

In addition, it expresses continuous actions, such as in sentence (9) and "koremade zutto gaman shitekita. I have endured until now."

On the other hand, when "kuru" is attached to an unintentional verb (ochiru fall, naru become etc.) it expresses "a change of state " (example: Samuku natte kuru, It gets cold. Sukoshi futotte kita, I am putting on weight. Yononaka ga kawatte kita, The world has changed.)

● "-te iku"

"-Te iku" implies that a thing, a situation, etc. moves away from the central point (often the speaker or the listener), either literally or figuratively. Although the functions of "-te iku", resemble "-te kuru", it is different in this respect.

When "-te iku" is attached to an intentional verb as shown in sentence (6), it expresses the meaning of orderly actions like "doing a certain thing and the going away from a speaker/hearer" (example: tabete iku, mite iku) .

At the same time it expresses continuous actions like sentence (10), as well as sentences like "Korekara mo hitoride yatteiku. I (have been and )will continue to do it by myself ", and "Korekara mo shizen o taisetsu ni shite ikitai.I (have been and) will continue to protect nature.”

On the other hand, If "-te iku is attached to a unintentional verb, as shown in sentence (12), it expresses "the progress of a state change", (examples: Samuku natte iku, It will get cold. Korekara mo shizen o taisetsu ni shite ikitai, We want to preserve nature from now on, too. Yo no naka ga kawatte itta, The world has changed).

kegunaan te

By Roeckiesh van JouckErz in BAHASA GAUL JEPANG,(yang pinter atawa yang belajar bisa gabung) (Files) · Edit Doc

Kegunaan lain bentuk-te

Bentuk-te sangatlah berguna karena dia digunakan di berbagai macam tata bahasa untuk menyatakan beragam ekspresi. Kita akan mempelajari keadaan berlanjut dengan bentuk 「~て いる」 dan 「~てある」. Walaupun kita telah belajar berbagai konjugasi verba, semuanya menyatakan aksi sesaat (sekali tembak). Sekarang kita akan belajar cara mengatakan misalnya "Saya sedang berlari." Kita juga akan belajar cara melakukan aksi demi masa depan dengan menggunakan 「~ておく」 dan memberi nuansa gerakan pada aksi dengan 「~ていく」 dan 「~てくる」.

Menggunakan 「~ている」 untuk keadaan berlanjut

Kita telah belajar cara menyatakan keadaan benda dengan 「です」, 「だ」, dsb. Tapi tidak ada dimensi keberlanjutan pada tata bahasa tersebut; yang ada hanyalah mengungkapkan: kamu adalah sesuatu atau bukan. Tata bahasa kali ini menyatakan keadaan berlanjut suatu verba. Ini biasanya berarti "sedang melakukan" di bahasa Indonesia kecuali beberapa perkecualian yang akan kita pelajari nanti. Kita bisa memanfaatkan bentuk-te yang dipelajari di bab sebelumnya karena yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan 「いる」! Hasil gabungannya adalah verba-ru biasa.

「いる」 yang dipakai di sini adalah verba-ru yang menyatakan adanya sesuatu, pertama kali kita pelajari di bab verba negatif. Tapi dalam penggunaan kali ini, kamu tidak perlu memusingkan apakah subjeknya benda hidup atau bukan.

Untuk menyatakan aksi berlanjut, pertama konjugasikan verbanya ke bentuk-te lalu tempelkan verba 「いる」. Hasilnya berkonjugasi sebagai verba-ru.

例) 食べる → 食べて → 食べている

例) 読む → 読んで → 読んでいる

Hasilnya adalah verba-ru, tanpa peduli apa verba aslinya

PositifNegatif Taklampau 読んでいる sedang membaca 読んでいない tidak sedang membaca Lampau 読んでいた sedang membaca

(lampau) 読んでいなかった tidak sedang membaca (lampau)

Contoh

(1) 友達は何をしているの?- Teman(mu) sedang melakukan apa? (2) 昼ご飯を食べている。- (temanku) sedang makan siang.

Tentu saja setelah kamu mengubahnya menjadi verba-ru biasa dengan cara seperti ini, semua konjugasinya berlaku. Contoh berikut menunjukkan konjugasi bentuk-masu dan negatif:

(1) 何を読んでいる?- (Kamu) sedang membaca apa?

(2) 教科書を読んでいます。- (Saya) sedang membaca buku pelajaran.

(1) 話を聞いていますか。- Apakah kamu sedang mendengarkan? (lit: Apakah kamu sedang mendengarkan pembicaraanku?)

(2) ううん、聞いていない。- Tidak, tidak sedang mendengarkan.

Perhatikan bahwa pada kasus terakhir, bahasa Indonesia yang lebih alami adalah tanpa menggunakan "sedang", misalnya "Kamu ndengerin nggak sih?!?" Walaupun begitu, cara berpikir bahasa Jepangnya yang menggunakan 「~ている」 pun seharusnya bisa dengan mudah dimengerti karena pada waktu tersebut memang orangnya "sedang" mendengarkan (atau tidak).

Karena orang biasanya terlalu malas menggerakkan lidahnya untuk membunyikan 「 い 」 dengan benar, di situasi yang santai 「い」-nya bisa dibuang begitu saja. Ini adalah kepraktisan untuk berbicara. Kalau kamu sedang menulis esai atau karya tulis, kamu harus selalu menggunakan 「い」. Inilah versi yang disingkat dari contoh-contoh sebelumnya:

(1) 友達は何をしてるの?- Teman(mu) sedang melakukan apa? (2) 昼ご飯を食べてる。- (temanku) sedang makan siang.

(1) 何を読んでる?- (Kamu) sedang membaca apa?

(2) 教科書を読んでいます。- (Saya) sedang membaca buku pelajaran.

(1) 話を聞いていますか。- Apakah kamu sedang mendengarkan? (lit: Apakah kamu sedang mendengarkan pembicaraanku?)

(2) ううん、聞いてない。- Tidak, tidak sedang mendengarkan.

Perhatikan bahwa saya tetap menggunakan 「い」 untuk bentuk sopan. Walaupun tentunya orang juga membuang 「い」-nya pada bentuk sopan, mungkin sebaiknya kamu membiasakan diri berbicara dengan bentuk standardnya sebelum asyik terbawa penyingkatan-penyingkatan santai. Kamu benar-benar akan terkejut mengetahui banyaknya penyingkatan yang mungkin di pembicaraan santai. (Kamu juga akan kagum bahwa semua hal menjadi sangat panjang di gaya bicara super sopan) Pada intinya, penyingkatan-penyingkatan itu terjadi kalau kamu mengucapkan segala sesuatunya dengan malas-malasan dan menyambung semuanya menjadi satu. Partikel-partikel di sana-sini juga akan dibuang.

Contohnya:

(1) 何をしているの?(Repot banget sih ada partikel segala...)

(2) 何しているの? (Uh, males rasanya ngebunyiin semua vokalnya.) (3) 何してんの? (Ah, sempurna.)

Ada beberapa kasus di mana keadaan berlanjut tidak bisa diterjemahkan sebagai "sedang" pada kerangka berpikir bahasa Indonesia. Ini karena sebetulnya ada ambigu mengenai "apa" yang sedang berlanjut pada bentuk 「~ている」: aksinya ataukah hasil aksinya. Maksud sebenarnya bisa diketahui dari konteks dan penggunaan umumnya. Sebagai contoh, walaupun 「結婚して いる」 secara teknis bisa berarti bahwa suatu pasangan "sedang" melakukan akad nikah (aksi), biasanya ungkapan tersebut digunakan untuk mengacu pada orang yang "telah" melakukan akad nikah dan saat ini sedang berada pada "status" menikah yang terlahir dari aksi akad nikah tersebut (hasil).

(1) 彼女は結婚しています - Dia sudah menikah/Dia berkeluarga. (kalau dijabarkan: Dia "telah" melakukan aksi akad nikah, sehingga "hasilnya" statusnya berubah dari single menjadi menikah, dan status tersebut "berlanjut" sampai sekarang. Jadi 「 ~ て い る 」 di sini menyatakan aspek keberlanjutan hasilnya.)

Kita akan membahas beberapa verba umum yang sering membuat pelajar bahasa Jepang bingung dalam aspek ini.

「知る」

「知る」 artinya "tahu". Bahasa Indonesia sebetulnya aneh karena "tahu" adalah suatu verba, padahal fungsinya lebih pada menyatakan keadaan punya pengetahuan. Bahasa Jepang lebih konsisten dan 「知る」 hanyalah verba aksi biasa. Dengan kata lain, aku "tahu" (aksi, misal mendengar berita) sesuatu sehingga sekarang aku tahu hal tersebut (keadaan). Inilah alasannya kenapa kata "tahu" bahasa Indonesia berpadanan dengan keadaan berlanjut di bahasa Jepang, yaitu: 「知っている」.

「知る」 vs 「分かる」

「分かる」 yang berarti "paham/mengerti" mungkin kedengarannya mirip dengan 「知る」 di kasus-kasus tertentu. Namun ada perbedaan nyata antara "tahu" dan "paham". Jangan sampai menukar-balikkan 「知っている」 dengan 「分かっている」. 「分かっている」 artinya kamu sudah berada di keadaan paham. Dengan kata lain, kamu sudah "ngeh". Kalau kamu salah menggunakan kata ini, kamu akan terdengar sok. ("Iya, iya, aku dah ngerti kok. Jadi plis deh jangan ngomong lagi.") Tapi di lain sisi, 「知っている」 hanya berarti bahwa kamu tahu sesuatu.

Contoh

(1) 今日、知りました。- Saya mengetahuinya hari ini. (Saya melakukan aksi "tahu" hari ini.)

(2) この歌を知っていますか?- Apakah (kamu) tahu lagu ini?

(3) 道は分かりますか。-Apakah (kamu) tahu jalannya? (lit: Apakah (kamu) paham jalannya?)

(4) はい、はい、分かった、分かった。 - Iya, iya, ngerti, ngerti.

Verba Gerakan (行く、来る、etc.)

Sangatlah masuk akal kalau kamu menebak bahwa aksi 「行っている」 dan 「来ている」 berarti masing-masing "sedang pergi" dan "sedang datang". Tapi sayangnya tidak begitu. Bentuk 「~ている」 dari verba gerakan lebih menunjuk pada urutan aksi seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Kamu menyelesaikan gerakannya, lalu sekarang kamu berada di kondisi tersebut. (Ingat, 「 い る 」 adalah verba yang menyatakan adanya benda.) Mungkin akan memudahkan kalau kamu memikirkannya sebagai dua aksi bertahap dan terpisah: 「行って」、 lalu 「いる」.

Ini tentunya sama seperti kasus 「結婚している」 yang telah kita pelajari sebelumnya. Yang berlanjut adalah hasilnya, bukan aksinya. Dengan kata lain, penjabaran 「行っている」 adalah: Kamu "telah" melakukan aksi pergi, sehingga "hasilnya" kamu sekarang berada di tempat tujuan, dan keadaan "sampai tujuan" tersebut berlanjut sampai sekarang.

Contoh

(1) 鈴木さんはどこですか。-Di mana Suzuki-san?

(2) もう、家に帰っている。- Dia sudah di rumah. (telah pulang dan sampai sekarang ada di sana)

(3) 先に行っているよ。- Saya pergi duluan. (Saya akan pergi dan berada di sana sebelum kamu.)

(4) 美恵ちゃんは、もう来ているよ。- Mie-chan sudah di sini loh. (telah datang dan sampai sekarang ada di sini.)

Menggunakan 「~てある」 untuk keadaan hasil

Sebagaimana ada 「ある」 sebagai pasangan 「いる」, ada juga bentuk 「~てある」 yang memiliki arti khusus. Dengan mengganti 「いる」 dengan 「ある」, maksudnya bukanlah keadaan berlanjut tetapi menyatakan hasil dari suatu aksi yang telah dikerjakan. Biasanya, ungkapan ini digunakan untuk menjelaskan bahwa sesuatu telah selesai dilakukan. Aksi yang diselesaikan juga membawa nuansa dilakukan sebagai persiapan untuk hal lainnya.

Contoh

Karena tata bahasa ini menyatakan keadaan dari aksi yang telah diselesaikan, umumnya kita akan menemui partikel 「は」, 「も」, dan 「が」, bukannya 「を」.

(1) 漢字が黒板に書いてある。 - Huruf kanji tertulis di papan tulis. (Seseorang selesai menulisnya, dan hasilnya bisa kamu lihat)

Perhatikan bahwa pola dasarnya yaitu 漢字を書く (menulis kanji) berubah menjadi 漢字が書い てある (kanji telah selesai ditulis dan hasilnya bisa dilihat).

(1) 準備はどうですか。- Bagaimana persiapannya?

(2) 準備は、もうしてあるよ。 - Persiapannya sudah selesai. (sudah dilakukan, dan sebagai hasilnya kita bisa ke tahap selanjutnya)

(1) 旅行の計画は終った?- Apakah rencana perjalanannya sudah selesai?

(2) うん、切符を買ったし、ホテルの予約もしてある。- Iya, saya tidak hanya membeli tiketnya, tapi juga sudah membooking hotelnya. (dan sebagai hasilnya, kita bisa menginap di hotel itu)

Menggunakan 「~ておく」 sebagai persiapan untuk waktu mendatang

「 ~ て あ る 」 memang mengandung nuansa bahwa suatu aksi selesai dilakukan sebagai persiapan hal lainnya. Namun 「~ておく」 secara eksplisit menyatakan bahwa suatu aksi dikerjakan (atau akan dikerjakan) demi masa depan (sebagai suatu persiapan). Bayangkan ini: Kamu telah membuat kue pai lezat dan kamu akan meletakkannya di dekat jendela agar menjadi dingin sehingga bisa kamu makan setelahnya. Ini menjelaskan kenapa verba 「おく」 (置く), yang berarti "meletakkan", bisa dipakai untuk menyatakan persiapan demi masa depan. Walaupun 「置く」 yang berdiri sendiri ditulis dengan kanji, kalau ditempelkan ke bentuk-te biasanya digunakan hiragana.

Contoh

(1) 晩ご飯を作っておく。- Saya akan membuat makan malam (sebagai persiapan, untuk dimakan nanti malam tentunya).

(2) 電池を買っておきます。- Saya akan membeli baterai (sebagai persiapan, untuk dibawa kemah misalnya).

「~ておく」 juga kadang disingkat 「~とく」 demi kemudahan.

(1) 晩ご飯を作っとく。- Saya akan membuat makan malam (sebagai persiapan, untuk dimakan nanti malam tentunya).

(2) 電池を買っときます。- Saya akan membeli baterai (sebagai persiapan, untuk dibawa kemah misalnya).

Menggunakan verba gerakan (行く、来る) dengan bentuk-te

Kamu juga bisa menggunakan verba gerakan "pergi" (行く) dan "datang" (来る) dengan bentuk-te, untuk menunjukkan bahwa aksi dasarnya dilakukan dengan unsur gerakan. Contoh yang paling umum dan berguna dari hal ini adalah verba 「持つ」 (memegang). 「持っている」 berarti kamu sedang dalam keadaan memegang sesuatu (atau memiliki), sedangkan jika 「いる」 diganti menjadi 「 い く 」 atau 「 く る 」 maka artinya menjadi kamu pergi atau datang membawa sesuatu. Tentu saja, konjugasinya sama dengan 「行く」 dan 「来る」 biasa.

Contoh

(1) 鉛筆を持っている?- Apakah (kamu) punya pensil?

( 2 ) 鉛 筆 を学 校へ 持 っ てい く ? - Apakah (kamu) akan pergi membawa pensil ke sekolah?

(3) 鉛筆を家に持ってくる?- Apakah (kamu) akan datang membawa pensil ke rumah? Untuk contoh-contoh tersebut, mungkin akan lebih mudah kalau kamu memikirkannya sebagai rentetan aksi: pegang lalu pergi, atau pegang lalu datang. Inilah beberapa contoh lain:

(1) お父さんは、早く帰ってきました。- Ayah pulang cepat. (2) 駅の方へ走っていった。- Berlari menuju arah stasiun.

Pada contoh di atas, sebetulnya verba seperti 帰る dan 走る secara implisit sudah mengandung makna perpindahan tempat. Namun tanpa verba gerakan, kesannya hanyalah satu titik waktu di mana aksi tersebut berlangsung (bayangkan melihat foto orang berlari). Penambahan 行 く maupun 来る di sini membuat kesan "bergerak" tersebut lebih kentara dan hidup.

Verba gerakan juga bisa digunakan di ekspresi waktu untuk memberikan gambaran waktu yang maju atau bergerak.

(1) 冬に入って、コートを着ている人が増えていきます。

- Memasuki musim dingin, orang yang menggunakan mantel akan bertambah (seiring jalannya waktu).

Pada contoh di atas, kita bisa membayangkan bahwa seiring dengan pergerakan waktu ke masa depan, jumlahnya secara bertahap bertambah.

(2) 一生懸命、頑張っていく!

- Saya akan berusaha (menuju masa depan) dengan seluruh kemampuan yang ada!

(3) 色々な人と付き合ってきたけど、いい人はまだ見つからない。

- Saya telah bergaul (dari dulu sampai saat ini) dengan bermacam-macam orang, tapi belum menemukan orang yang baik.

Di contoh atas juga terbayang, seiring majunya waktu, penulisnya bertemu dengan orang-orang baru yang akan menjadi teman bergaulnya.

(4) 日本語をずっと前から勉強してきて、結局はやめた。 - Belajar bahasa Jepang sejak sangat lama dan pada akhirnya berhenti.

Sebagai penutup, perlu diketahui bahwa sebagaimana 「~ている」 bisa disingkat menjadi 「~てる」, pada pembicaraan santai bentuk 「~ていく」 juga bisa menjadi 「~てく」. Lalu, karena kanji 行く juga memiliki bacaan alternatif ゆく, kamu juga akan menjumpai 「~ てゆく」 yang artinya tentu saja sama dengan 「~ていく」.

kalimat gabungan

By Roeckiesh van JouckErz in BAHASA GAUL JEPANG,(yang pinter atawa yang belajar bisa gabung) (Files) · Edit Doc

Kalimat gabungan

Di bagian ini, kita akan belajar banyak cara untuk menggabungkan banyak kalimat sederhana menjadi satu kalimat kompleks. Sebagai contoh, kita akan mempelajari cara merantai kalimat-kalimat yang terpisah menjadi satu untuk menyatakan banyak aksi atau keadaan. Dengan kata lain, misalnya kita punya dua kalimat sederhana dengan subjek yang sama "Saya makan" dan "Saya berlari", maka ki...ta akan belajar cara menyatukannya menjadi "Saya makan dan berlari." Kita juga akan mempelajari cara melakukan hal yang sama untuk adjektiva dan nomina. (Misalnya: Dia kaya, tampan, dan menarik.)

Menyatakan serangkaian keadaan

Merantai nomina dan adjektiva untuk menggambarkan orang atau benda sangatlah

Dalam dokumen Grammar Bahasa Jepang (Halaman 48-62)

Dokumen terkait