• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Vibrio cholerae dan Penyakit Kolera

Kolera adalah penyakit diare yang disebabkan oleh serogrup toksigenik dari bakteri Vibrio cholerae, yang dapat menyebabkan dehidrasi dan kematian yang cepat. Kolera berkaitan erat dengan kemiskinan, sanitasi yang buruk, dan kurangnya air minum bersih. Dengan demikian, jumlah kasus kolera di Afrika dan Asia selatan, terhitung sekitar 99% dari kasus di seluruh dunia. Kolera dapat bersifat endemik dan menyebabkan epidemi. Bakteri kolera disebarkan melalui kontaminasi langsung tinja-oral atau menelan air atau makanan yang terkontaminasi. Masa inkubasi kurang dari 24 jam hingga 5 hari. Hanya 25% dari orang yang terinfeksi menimbulkan gejala, 10-20% mengalami penyakit diare sekretorik kronis yang bermanifestasi sebagai diare berair akut (banyak sekali), biasanya dengan muntah. Hal ini menyebabkan dehidrasi cepat, yang dapat menyebabkan syok hipotensi, gagal ginjal, dan kematian dalam beberapa jam setelah onset (12).

Waspada kolera didefinisikan dengan mendeteksi salah satu dari berikut:

• dua atau lebih orang ≥ 2 tahun yang berhubungan dengan waktu dan tempat (dari daerah yang sama dalam satu minggu

8 satu sama lain) dengan diare berair akut dan dehidrasi parah, atau meninggal akibat diare berair akut

• satu kematian akibat diare berair akut yang parah pada seseorang ≥ 5 tahun

• satu kasus diare akut berair yang positif kolera dengan uji diagnostik cepat (RDT) di daerah yang belum pernah terdeteksi kasus kolera.

Kebanyakan orang dengan kolera tidak menunjukkan gejala dan dari mereka yang mengalami gejala, 80% mengalami diare ringan yang sulit dibedakan dengan yang disebabkan oleh patogen lain, seperti virus. Namun, orang yang terinfeksi V. cholerae, dapat menyebarkannya ke orang lain. Kolera berat (kolera gravis), terjadi kurang dari 10% kasus, ditandai oleh :

• Timbulnya diare encer - diare ini 'berwarna jerami' dengan flek lendir dan sering digambarkan menyerupai air beras • Muntah

• Dehidrasi Berat • Kram Kaki

Ketika tubuh kehilangan cairan, darah dalam tubuh akan mengental dan kulit menjadi berwarna biru keabuan. Pasien juga mulai merasa lesu berlebihan, kurang kesadaran, kebingungan dan terkadang demam. Dehidrasi yang cepat ini, sebanyak 1 liter cairan dapat hilang setiap jam - yang dapat berakibat fatal dalam waktu 24 jam setelah terserang penyakit.

9 Pada anak-anak, kehilangan cairan yang cepat dapat menyebabkan ketidakseimbangan natrium yang parah, yang dapat menyebabkan kejang dan henti jantung. Tingkat kematian dalam kasus yang tidak diobati bisa setinggi 30-50%. Jika pasien diberikan terapi rehidrasi, maka angka kematiannya di bawah 1% (13).

Banyak penyakit yang dapat menyebabkan diare. Namun, produksi feses encer yang keseringan membutuhkan perawatan yang lebih cepat karena risiko dehidrasi yang tinggi. Melihat sampel tinja di bawah mikroskop dapat membantu praktisi medis membuat diagnosis. Metode kultur konvensional adalah gold standar untuk diagnosis V. cholerae. Sampel tinja atau apusan rektal pada TCBS (garam empedu tiosulfat sitrat) agar akan menunjukkan koloni V. Cholerae yang tampak kuning (karena memfermentasi glukosa). Koloni yang dicurigai kemudian akan dipilih untuk analisis lebih lanjut dengan uji biokimia dan serologis seperti slide aglutinasi (13).

Pengobatan kolera fokus pada penggantian cairan tubuh karena air yang tidak mudah diserap oleh tubuh. World Health Organization (WHO) merekomendasikan air bersih dan garam-garam rehidrasi untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit. Terapi rehidrasi oral (ORT) menggunakan garam rehidrasi, yang sudah tersedia di apotek. ORT telah digunakan cukup lama dalam pengobatan kolera dan, jika digunakan dengan benar, dapat mengurangi kejadian rawat inap dan kematian (13). Antibiotik tidak dapat digunakan sebagai pengobatan tunggal untuk penyakit ini,

10 namun ada keuntungan untuk menggabungkan terapi rehidrasi oral (ORT) dengan pengobatan antibiotik. Antibiotik diberikan untuk mengurangi lamanya penyakit sekitar 50% dan untuk mengurangi pelepasan V. choleraein di feses (Greenoughet al., 1964; Lindenbaumet al., 1967; Pierceet al., 1968). Antibiotik mengurangi keparahan gejala dengan mengurangi volume diare, dan jumlah cairan yang diperlukan untuk mempertahankan hidrasi (Greenoughet al., 1964; Lindenbaumet al., 1967; Pierceet al., 1968) (14).

Sayangnya, beberapa penelitian mengatakan bahwa beberapa strain genus Vibrio mengalami resistensi antimikroba, salah satunya yaitu bakteri V. cholerae. Dari 72 strain yang diuji, 70 resisten terhadap ampisilin (97,2%), 60 terhadap gentamisin (83,3%) dan 56 terhadap penisilin (77,7%). Hal ini kemudia mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian terkait resistensinya dan pengobatan alternative yang bisa diberikan pada penderita kolera yang mengalami resistensi antibiotik (15). B. Vibrio Cholerae

Vibrio cholerae (V. cholerae) adalah keluarga Vibrionaceae, anaerob fakultatif dengan flagel yang digunakan untuk bergerak. Termasuk jenis gram-negatif, berbentuk batang kacang, dan oksidase positif, tetapi tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat tumbuh maksimum dalam kondisi aerob, meskipun mereka adalah organisme fakultatif. V. cholera bisa bertahan dengan baik dalam media alkali tetapi dapat hancur dalam kondisi apa pun di bawah pH 6 dan dapat biasanya ditemukan di habitat akuatik (air

11 tawar, air asin atau air payau) atau di usus, muntah dan tinja inang manusia (8).

Bakteri ini dibedakan secara serologis pada antigen O dari lipopolisakarida menjadi kolera vibrio (patogen) dan varian noncholera vibrio (non-patogen). Strain penghasil toksin kolera, serogrup O1 dan O139, menyebabkan penyakit kolera (diare enterik manusia akut), sedangkan kelompok O1 / O139 yang non-toksigenik menyebabkan non-epidemi diare periodik, infeksi luka, gastroenteritis, septikemia dan infeksi kulit (8).

Meskipun semua strain Vibrio ada di lingkungan akuatik, strain non-toksigenik lebih dominan di lingkungan biasa. Dalam habitat akuatiknya, bakteri ini ditemukan sebagian besar menempel pada exoskeleton dari fitoplankton dan zooplankton untuk meningkatkan adaptasinya terhadap habitat air. Bakteri ini harus dimodifikasi agar sesuai dengan kedua lingkungan (habitat akuatik atau dalam usus inang manusia (8).

Infeksi akibat Vibrio cholerae terjadi saat menelan air atau makanan yang terkontaminasi. Setelah melewati barrier asam lambung, organisme ini akan mengkolonisasi epitel usus kecil melalui pili yang diatur toksin-co (Taylor et al., 1987) dan kemungkinan faktor kolonisasi lainnya seperti haemagglutinin yang berbeda, faktor kolonisasi aksesori dan pilus inti yang disandikan, yang semuanya dianggap memainkan peran penting. Enterotoksin kolera yang dihasilkan oleh vibrios yang melekat, akan disekresikan melalui membran luar bakteri ke dalam lingkungan ekstraseluler dan mengganggu transportasi ion oleh sel-sel epitel usus.

12 Sehingga menyebabkan air dan elektrolit yang tidak di absrobsi dengan baik. Hilangnya air dan elektrolit secara terus menerus ini akan menyebabkan terjadinya diare kronis (9).

C. Daun Bidara (Ziziphus mauritiana)

Bidara (Ziziphus mauritiana), juga dikenal sebagai Apel Cina, Jujube, Prem India dan Masau, adalah spesies pohon buah tropis milik keluarga Rhamnaceae. Spesies ini diyakini berasal dari wilayah Indo-Malaysia di Asia Tenggara. Saat ini secara luas dinaturalisasi di seluruh dunia dari Afrika Selatan melalui Timur Tengah ke anak benua seperti India, Cina, Indomalaya, Australia, dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini tumbuh liar di seluruh Jawa dan Bali pada ketinggian di bawah 400 meter dari permukaan laut. Tanaman ini bertahan dengan suhu ekstrem dan tumbuh subur di bawah kondisi yang agak kering dengan curah hujan tahunan antara 6 hingga 88,5 inci (15-225 cm) (7).

13 Gambar II.1 Daun Bidara (Ziziphus mauritiana)

Sumber : (Palejkar CJ, Palejkar JH, Patel AJ, Patel MA. 2015)

1. Taksonomi Bidara (Ziziphus mauritiana)

Berikut adalah taksonomi dari tumbuhan bidara (5). Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Ordo : Rosales Famili : Rhamnaceae Tribe : Paliurea Genus : Ziziphus Species : Z. mauritiana

2. Morfologi Bidara (Ziziphus mauritiana)

Bidara (Ziziphus mauritiana) adalah pohon berukuran sedang yang tumbuh dengan kuat dan memiliki akar tunggang yang berkembang cepat, yang diperlukan untuk kondisi adaptasi terhadap kekeringan.

14 Tinggi spesies ini sangat bervariasi, mulai dari semak lebat setinggi 1,5 hingga 2 m, hingga pohon setinggi 10 hingga 12 m dengan diameter batang sekitar 30 cm. Pohon bidara dapat menyebar luas, dengan cabang berduri, cabang zigzag, tanpa duri, atau dengan duri pendek yang tajam lurus berbentuk seperti kait (7).

Daunnya beragam bentuk, ada yang berbentuk bulat seperti telur dan lonjong berbentuk elips dengan ujung bulat. Panjang daun sekitar 2,5 - 3,2 cm dan lebar 1,8 - 3,8 cm, memiliki gigi halus di pinggirnya. Warnanya hijau tua dan mengkilap di sisi atas dan hijau pucat hingga abu-abu di sisi bawah. Perbedaan warna ini tergantung pada iklim. Bunganya berukuran kecil dan memiliki 5 kelopak, serta berwarna putih atau putih kehijauan. Untuk buahnya biasa berwarna oranye sampai coklat dengan panjang 2-3 cm (7).

Pohon bidara ini mulai menghasilkan buah dalam waktu tiga tahun. Buahnya lembut, berair, berbiji dengan diameter 2,5 cm, namun dengan budidaya yang canggih, buah ini memiliki ukuran panjang 6,25 cm dan lebar 4,5 cm. Bentuknya bisa oval, bulat, atau lonjong. Kulit buahnya bisa halus atau kasar, mengkilap, tipis tetapi keras. Awalnya berwarna hijau, lalu menguning saat matang. Buah yang mencapai tingkat kematangan maksimal akan berwarna merah, tekstur yang lembut, berair, serta memiliki aroma yang sedap seperti apel (7).

15 3. Manfaat Bidara (Ziziphus mauritiana)

Bidara sangat bermanfaat dengan buahnya yang lezat dan efektif dalam pengobatan herbal. Dapat membantu menambah berat badan, meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan stamina. Dalam pengobatan Cina, biasa diresepkan untuk memperkuat fungsi hati. Biasanya juga digunakan sebagai penangkal racun, diuretik, emolien dan ekspektoran.

Daunnya digunakan sebagai obat penurun panas, juga untuk melebatkan pertumbuhan rambut. Buah bidara yang kering dapat digunakan sebagai anti nyeri, anti kanker, obat penenang, sakit perut. Juga dianggap dapat membersihkan darah dan membantu pencernaan. Selain itu digunakan secara internal untuk mengobati kelelahan yang kronis, kehilangan nafsu makan, diare, anemia, gangguan kecemasan. Benihnya digunakan untuk hipnosis, narkotika, obat penenang, sakit perut dan tonik. Juga digunakan secara internal dalam mengobati palpitasi, insomnia, kelemahan saraf, keringat malam. Akarnya digunakan dalam pengobatan dispepsia dan demam. Akar juga dapat dibuat menjadi bubuk dan dioleskan pada luka atau bisul (5).

16 D. Senyawa Aktif Daun Bidara (Ziziphus mauritiana) Sebagai Agen

Antibakteri

Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun Z.mauritiana menunjukkan bahwa ekstrak Z. mauritiana mengandung metabolit sekunder seperti saponin, flavonoid, tannin, steroid. Dimana metabolit sekunder ini memiliki sifat antioksidan dan antibakteri. Mekanisme saponin sebagai antibakteri adalah untuk mengurangi tegangan permukaan yang menyebabkan peningkatan permeabilitas atau kerusakan sel, sehingga senyawa intraseluler bakteri akan keluar . Senyawa ini berdifusi melalui membran luar dan dinding sel, kemudian mengikat ke membran sitoplasma dan mengurangi stabilitas. Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang menyebabkan kematian sel. Saponin bekerja sebagai antimikroba karena senyawa saponin dapat melakukan mekanisme penghambatan dengan membentuk senyawa kompleks dengan membran sel melalui ikatan hidrogen, untuk menghancurkan sifat permeabilitas dinding sel bakteri dan menyebabkan kematian sel bakteri (6). Sedangkan, mekanisme kerja flavonoid sebagai antimikroba yaitu dengan menghambat sintesis asam nukleat sehingga memblokir pertumbuhan sel bakteri dan bakteri akan mati. Dan efek antibakteri tannin melalui reaksi dengan membrane sel yaitu dengan inaktivasi enzim atau meghambat sintesis enzim, sehingga menyebabkan hilangnya viabiltas dan sering menyebabkan sel lisis (17).

17 E. Tinjauan Keislaman

Berbicara mengenai hidup sehat tidak luput dari adanya kenikmatan yang diberikan Allah swt, nikmat dari Allah itu sangat berlimpah dan tidak terkira. Sebagaimana dalam QS An-Nahl ayat 18 :

ٌمي ِحَر ٌروُفَغَل َ هاللَّ هنِإ ۗ اَهوُصْحُت َلَ ِ هاللَّ َةَمْعِن اوُّدُعَت ْنِإ َو

wa in ta'uddụ ni'matallāhi lā tuḥṣụhā, innallāha lagafụrur raḥīm Terjemahan :

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Diantara nikmat yang sangat berharga dan tidak ternilai tersebut adalah kesehatan. Dalam perspektif ajaran Islam, sangat menganjurkan bagaimana hidup dengan sehat dan teratur, karena tujuan dari kehadiran Islam itu sendiri adalah untuk memelihara agama, akal, jiwa, jasmani, harta dan keturunan ummat manusia (16).

Didalam penyembuhan penyakit ala Rasulullah SAW di terapkan tertentu sebagai pedoman yang perlu di ketahui dan dilaksanakan. Meyakini bahwa Allah SWT yang maha menyembuhkan segala penyakit. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Allah SWT adalah dzat yang maha penyembuh. Sebagaimana dalam QS Asy-Syu’ara ayat 80 :

ِنيِفْشَي َوُهَف ُتْض ِرَم اَذِإ َو

wa iżā mariḍtu fa huwa yasyfīn Terjemahan :

18 “Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku”

Tetapi, perantara pengobatan tersebut bisa berupa penciptaan Allah SWT, karena tidak ada di muka bumi, suatu penciptaan Allah SWT yang tidak memiliki manfaat bagi manusia. Salah satu penciptaan Allah SWT yang digunakan sebagai media pengobatan (obat) yaitu tumbuhan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran QS Asy-Syura ayat 7 :

ٍج ْو َز ِ لُك ْنِم اَهيِف اَنْتَبْنَأ ْمَك ِض ْرَ ْلْا ىَلِإ ا ْو َرَي ْمَل َوَأ ٍمي ِرَك

a wa lam yarau ilal-arḍi kam ambatnā fīhā ming kulli zaujing karīm Terjemahan :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”

Selain itu, pohon bidara disebutkan secara spesifik dalam salah satu ayat di Al-Quran QS Saba’ ayat 16 :

fa a'raḍụ fa arsalnā 'alaihim sailal-'arimi wa baddalnāhum bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai`im min sidring qalīl

ْمِهْيَتَّنَجِب ْمُهاَنْلَّدَب َو ِم ِرَعْلا َلْيَس ْمِهْيَلَع اَنْلَس ْرَأَف اوُض َرْعَأَف

ٍطْمَخ ٍلُكُأ ْيَتا َوَذ ِنْيَتَّنَج

ٍليِلَق ٍرْدِس ْنِم ٍءْيَش َو ٍلْثَأ َو

19 Terjemahan :

“Maka mereka berpaling ingkar, lalu Kami hantarkan kepada mereka banjir yang membinasakan, dan Kami gantikan dua kumpulan kebun mereka (yang subur) itu dengan dua kumpulan kebun yang berisi dengan pohon-pohon yang pahit buahnya, dan pohon-pohon yang jarang berbuah, serta sedikit pohon-pohon bidara”

F. Kerangka Teori

G.

Gambar II.2 Kerangka Teori

Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus mauritiana) Tannin Flavonoid Saponin Menghambat sintesis asamnukelat Bakteri mati Menghambat sintesis enzim Bakteri lisis

Kebocoran protein dan enzim dari dalam sel

20 BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Konsep Pemikiran

Gambar III.1 Konsep Pemikiran

B. Definisi Operasional

1. Ekstrak daun bidara Ziziphus mauritiana dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% yang di peroleh dari hasil ekstraksi metode maserasi yang dilarutkan dengan etanol 96%

Instrumen : Neraca analitik dan gelas ukur Cara ukur : Pengenceran

Hasil ukur : Konsentrasi Larutan 2,5%, 5%, dan 10% Skala ukur : Rasio

2. Bakteri Vibrio cholera ditumbuhkan pada medium Muller-Hinton Agar (MHA) yang diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam kemudian diukur sensifitasnya setelah penanaman cakram uji ekstrak daun bidara pada konsentrasi tertentu.

Cara ukur : Berdasarkan zona hambatan yang terbentuk dalam mm Ekstrak Daun Bidara

Ziziphus mauritiana

Sensitifitas Bakteri Vibrio cholerae

21 Alat ukur : Jangka sorong atau Mistar berskala

Hasil ukur : Nilai dalam millimeter (Greenwood21) > 20 mm = Kuat

16-20 mm = Sedang 10-15 mm = Lemah < 10 mm = Tidak ada Skala Pengukuran : Numerik C. Hipotesis

1. Hipotesis Null (H0)

Ekstrak daun bidara tidak memberikan efek sensitif terhadap bakteri Vibrio cholerae

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ekstrak daun bidara memberikan efek sensitif terhadap bakteri Vibrio cholerae

22 BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental dengan perlakuan pemberian ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana) terhadap bakteri Vibrio cholera untuk menguji sensitifitasnya menggunakan metode disc diffusion atau cakram kertas dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin pada bulan Desember-Januari 2020.

C. Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel dari bahan tanaman yaitu daun bidara (Ziziphus mauritiana) dan bakteri Vibrio cholera

yang ditumbuhkan pada Muller-Hinton Agar (MHA) yang diinkubasi pada

suhu 370C selama 24 jam.

Pada penelitian ini jumlah sampel minimal diestimasi berdasarkan rumus Frederer sebagai berikut :

23

(t-1) (r-1) > 15 Keterangan :

r = jumlah sampel tiap kelompok perlakuan t = banyaknya kelompok perlakuan

Dalam rumus akan digunakan t = 5 karena menggunakan 5 kelompok perlakuan, dalam hal ini ada 3 sampel konsentrasi ekstrak, 1 kontrol positif, dan 1 kontrol negatif, maka jumlah sampel (n) minimal tiap kelompok ditentukan sebagai berikut :

(t-1) (r-1) > 15 (5-1) (r-1) > 15 (4) (r-1) > 15 r-1 > 15:4 r > 3,75 + 1 r > 4,75 (dibulatkan menjadi 5)

Berdasarkan hasil penelitian di atas, banyaknya kelompok sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 5 kelompok sampel, dan diberikan perlakuan pengulangan sebanyak 5 kali. Jadi total banyaknya sampel yang digunakan adalah 25 sampel.

24 1. Kriteria inklusi

a. Alat dan bahan dalam keadaan steril.

b. Bakteri yang digunakan adalah bakteri Vibrio cholera

c. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana)

2. Kriteria eksklusi

a. Sediaan bakteri terkontaminasi dengan bakteri lain b. Sediaan bakteri rusak

c. Daun yang digunakan sudah tidak segar (mengering) atau layu

D. Alat dan Bahan 1. Alat

Erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, penangas air, blender, timbangan analitik, labu ekstraksi, batang pengaduk, stirer, cawan petri, rotary evaporator (oven), jarum ose, pinset, inkubator, laminair air flow, termometer, autoklaf, mikropipet, mistar berskala, jangka bersorong, dan alat fotografi.

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun bidara (Ziziphus mauritiana), bakteri uji (Vibrio cholerae) yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Larutan Dymethil sulfoxide 10% (DMSO 10%), etanol 96%, tablet Eritromisin 500 mg, Thiosulfate-Citrate-Bile

25 Salts-Sucrose Agar (TCBS), Muller-Hinton Agar (MHA), kertas saring no.1, kertas label dan aluminium foil.

E. Alur Penelitian

Gambar IV.1 Alur Penelitian Persiapan Sampel

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI Ekstraksi Sampel Daun Bidara

(Ziziphus mauritiana)

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI

Persiapan Konsentrasi Ekstrak Daun Bidara (Ziziphus mauritiana)

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI Persiapan Bakteri Uji (Vibrio

cholerae)

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI

Pengujian Sensitifitas Ekstrak Daun Bidara (Ziziphus mauritiana)

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI Hasil

dr. Ami Febriza, M.Kes FISIOLOGI Sterilisasi Alat

26 F. Prosedur Penelitian

1. Persiapan Sampel

Sampel diambil dari daun bidara (Ziziphus mauritiana) di berbagai daerah seperti di Kota Makassar, Palangga Gowa, Kab. Soppeng, dan Daerah Polewalimandar.

2. Pengolahan Sampel

Daun bidara (Ziziphus mauritiana) yang diperoleh dibersihkan dan dicuci dengan air bersih yang mengalir. Kemudian dipotong kecil, dan disimpan dalam simplisia selama ±3 hari, hal ini untuk mencegah kerusakan pada senyawa bioaktifnya yang peka terhadap sinar matahari langsung, hingga daun bidara siap diekstraksi

3. Ekstraksi Sampel

Ekstrak simplisia daun bidara Ziziphus mauritiana dimasukkan ke dalam 2 toples besar, kemudian direndam dengan pelarut etanol 96% ± 2,5 L pada masing-masing toples , lalu ditutup dengan aluminium foil dan dibiarkan selama 3 hari sambil sesekali diaduk. Lalu dievaporasi menggunakan rotary evaporator, sehingga diperoleh ekstrak kental daun bidara.

4. Sterilisasi Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian aktivitas antibakteri ini disterilkan terlebih dahulu. Alat-alat gelas disterilkan dalam oven pada suhu 170oC selama ± 2 jam, jarum ose dan pinset dibakar dengan spiritus

27 diatas api langsung dan media disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.

5. Pengenceran

Pengenceran dilakukan untuk menghasilkan beberapa konsentrasi dari ekstrak daun bidara serta melihat efeknya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae. Pengenceran yang dibuat adalah 2,5%, 5%, dan 10% menggunakan pelarut DMSO 10%.

6. Persiapan Bakteri Uji

Bakteri Vibrio cholerae yang sudah diremajakan dalam medium TCBS kemudian diinokulasikan pada cawan petri yang telah ada medium Muller-Hinton Agar. Selanjutnya dimasukkan kertas cakram yang telah disuspensikan ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana) yang telah diencerkan dan eritromisin sebagai kontrol positif dan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Hasil inkubasi berupa zona bening disekitar cakram menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan bakteri.

7. Pengukuran zona hambat

Pengukurannya menggunakan jangka sorong untuk mengukur besar zona daya hambat atau zona inhibisi yang terbentuk disekitar kertas cakram. Jaraknya diukur mulai dari ujung disk sampai ke batas bening daya hambat ekstrak daun bidara. Pengukuran dengan jangka sorong dinyatakan dalam millimeter.

28 BAB V

HASIL

Hasil pengamatan uji sensitivitas ekstrak etanol daun Bidara (Ziziphus mauritiana) terhadap Vibrio cholerae dengan variable konsentrasi ekstrak 2,5%, 5%, 10%, disertai kontrol positif (eritromisin) dan kontrol negatif (DMSO 10%) untuk memastikan kelayakan ekstrak dan sediaan bakteri dalam pengujian. Uji ini menggunakan metode disc diffusion atau cakram kertas dengan meneteskan ekstrak dengan berbagai konsentrasi yang nantinya akan disimpan diatas medium MHA (Mueller Hilton Agar) yang telah dikulturkan bakteri didalamnya. Daya hambatnya diamati berdasarkan besar diameter zona bening yang muncul disekitar cakram kertas dan diukur menggunakan jangka sorong. Hasil pengukuran zona hambat tersebut adalah sebagai berikut :

Sampel Penelitian Hasil Penelitian Rata-rata

I II III IV V 2,5 % 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 5 % 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 10% 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm Kontrol Negatif (DMSO 10%) 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm Kontrol Positif (Eritromisin) 24,31 mm 24,22 mm 22,97 mm 22,45 mm 23,45 mm 23,48 mm

Tabel V.1 Hasil Diameter Zona Hambat ekstrak etanol daun Bidara (Ziziphus mauritiana) terhadap bakteri Vibrio cholerae

29 BAB VI

PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Ekstraksi

Daun bidara disortasi basah yakni dengan cara dicuci menggunakan air bersih mengalir. Setelah itu sampel dikeringkan di dalam oven simplisia selama 3 hari dengan suhu 60oC. Setelah kering selanjutnya sampel diserbukkan hingga menjadi serbuk dan sampel siap diekstraksi. Daun bidara ditimbang dan didapatkan sebanyak 500 gram dan dimasukkan kedalam wada maserasi kemudian ditambahkan etanol 96% hingga sampel terendam secara sempurna sebanyak ± 5 Liter. Wadah maserasi kemudian ditutup dan disimpan selama 3 x 24 jam dan disimpan diruamgan tanpa terkena paparan sinar matahari langsung. Setelah itu dilakukan penyaringan untuk memisahkan antara ampas dan ekstrak daun bidara. Ekstrak etanol yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dipekatkan dalam rotatory evaporator dan cairannya diuapkan hingga diperoleh ekstrak etanol kental. B. Uji Aktivitas Antibakteri

Uji aktivitas antibakteri dilakukan diatas medium MHA. Medium yang berisi ± 10 ml MHA dituangkan ke dalam 5 cawan petri, lalu dibiarkan sampai memadat. Setelah memadat, dilakukan inokulasi bakteri pada agar MHA. Selanjutnya dimasukkan 5 kertas cakram pada masing-masing 5 cawan petri yang telah disuspensikan ekstrak daun bidara (Ziziphus

30 mauritiana) yang telah diencerkan dan eritromisin sebagai kontrol positif

Dokumen terkait