• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melihat pola pergerakan harga teh grade Dust pada periode Februari minggu ke-3 2009 hingga April minggu ke-2 2011, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan timbal balik antara harga teh grade Dust di Jakarta Tea

Auction dengan Guwahati Tea Auction dan Colombo Tea Auction. Dikarenakan

teh grade Dust lebih difokuskan untuk konsumsi dalam negeri di Sri Lanka dan India. Berdasarkan hasil permodelan VAR, perubahan harga yang terjadi pada Guwahati dan Colombo masih belum tertransmisikan terhadap harga teh grade Dust Jakarta.

Melihat respon shock yang terjadi di pasar, Jakarta Tea Auction merespon shock yang terjadi di Guwahati Tea Auction dan Colombo Tea Auction pada periode kedua. Dikarenakan perbedaan waktu auction yang dilaksaknakan oleh ketiga tempat lelang. Namun pengaruh shock yang dirasakan tidak terlalu besar, dikarenakan masih terbukanya peluang bagi pasar teh grade Dust. Selain diekspor ke Inggris, Mesir, dan Pakistan, Jakarta juga mengekspor teh grade Dust ke beberapa pasar lain seperti Malaysia, Belanda, Amerika Serikat, Jerman, dan Polandia. Dalam pendugaan harga yang akan datang, berdasarkan hasil Variance

Decomposition, Jakarta Tea Auction memberikan kontribusi yang lebih besar

terhadap penjelasan ragam (variance) harga teh grade Dust Jakarta Tea Auction yang akan datang, jika dibandingkan dengan Guwahati Tea Auction dan Colombo

Tea Auction.

Jika membandingkan antara Model Naive Forecasting dengan Model VAR (Vector Auctoregression), Model Naive Forecasting sudah cukup baik menggambarkan harga rata-rata teh grade Dust untuk masa mendatang. Dikarenakan dalam penentuan harga teh dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal selain harga sebelumnya yakni kualitas teh yang dijual saat lelang, keadaan alam, kondisi geopolitik, kondisi ekonomi global, dan keadaan negara tujuan buyer

Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh PT. KPB Nusantara dan Dewan Teh Indonesia, khususnya untuk meningkatkan penjualan teh grade Dust berdasarkan model VAR (Vector Autoregression) yang dibuat adalah, 1) Mencoba

63 memformulasikan pendugaan harga yang lebih tepat jika dibandingkan model

Naive Forecasting, dikarenakan adanya pengaruh komponen musiman dalam

data. 2) Meningkatkan kualitas teh grade Dust yang dilelang di Jakarta Tea

Auction 3) Pertukaran informasi antara PT. KPB Nusantara dan Dewan Teh

Indonesia, guna merespon informasi pasar teh grade Dust.

7.2 . Saran

Bagi PT. KPB Nusantara dapat mencoba untuk melakukan pendugaan harga dengan model univariate lainnya, untuk mendapatkan permodelan pendugaan harga yang lebih cocok mengingat adanya komponen musiman dalam data.

Bagi peneliti selanjutnya, dapat mengkaji mengenai pergerakan harga teh hitam grade lainnya, seperti BOP, Fanning, BOP I dan grade lainnya. Ini dilakukan, untuk memperoleh gambaran menggenai pergerakan harga teh hitam keseluruhan. Masih belum dapat ditemukannya transmisi harga di tingkat domestik dikarenakan keterbatasan peneliti, dapat menjadi masukan bagi peneliti selanjutnya untuk mengkaji mengenai transmisi harga teh domestik.

64 DAFTAR PUSTAKA

Abbott P, Wu, C, Tarp F. 2011. Transmission of World Prices to the Domestic Market in Vietnam. Di dalam 8th Midwest International Economic

Development Conference, April 2011. USA: Purdue University

Aritonang, LR. 2009. Peramalan Bisnis. Edisi Kedua. Bogor: Ghalia Indonesia. Conforti, P. 2004. Price transmission in selected agricultural markets. FAO

Commodity and Trade Policy Research Working Paper No. 7. Roma : FAO

Information Division.

Dharmasena KASDB. 2003. International Black Tea Market Integration and

Price Discovery [Thesis]. Texas: Texas A&M University.

Dharmasena KASDB, Bessler DA. 2004. Weak-Form Efficiency Vs Semi-Strong Form Efficiency in Price Discovery : an Application to International Black Tea Markets. Sri Lankan Journal of Agricultural Economics Vol. 6 No. 1. : 1-24

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Statistik Perkebunan :Tree

Crop Estate Statistics Tea 2009-2011. Jakarta: Direktorat Jenderal

Perkebunan.

Eden T. 1965. Tea. Second Edition. East Africa: Tea Research Institute.

Enders W. 1995. Applied Econometric Time Series. New York: John Wiley & Sons.

Enders W. 1996. RATS Handbook for Econometric Time Series. New York: John Wiley & Sons.

Forbes & Walker Tea Brokers Ltd. 2009. Sri Lanka Tea Review 2008. Colombo : Forbes & Walker Tea Brokers Ltd.

Forbes & Walker Tea Brokers Ltd. 2010. Sri Lanka Tea Review 2009. Colombo : Forbes & Walker Tea Brokers Ltd.

Gujarati DN. 2006. Dasar-dasar Ekonometrika Jilid 2.Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.

[GTAC] Guwahati Tea Auction Centre. Auction Catalog [terhubung berkala]. http://www.assamteaxchange.com/auctions/catalogs.asp. [21 September 2011].

Hazarika K. 2008. Tea Auction Market; with a special reference to Guwahati

Auction Centre. www.nits.ac.in/department/Humanities%20new/new_hum/ social_scanner/9.doc. [03 Juli 2011].

65 Henke JE. 2005. Business Forecasting. Eighth Edition. America: Pearson Prentice

Hall.

[ITC] International Tea Committee. 2009. Annual Buletin of Statistics 2009. London: International Tea Committee.

Irawan B. 2007. Fluktuasi Harga, Transmisi Harga dan Margin Pemasaran Sayuran dan Buah. Analisa Kebijakan Pertanian Vol. 5 No. 4 Desember 2007 : 358-373.

[Kementan] Kementrian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Pertanian

2010-2014. Jakarta: Kementrian Pertanian.

Kotler P. 1991. Marketing Management; Analysis, Planning, Implementation, &

Control. Seventh Edition. USA: Prentice-Hall Inc.

Kusnanti VR, Widiyanti T. 2007. Research on the Supply Chain in the Tea Sector

in Indonesia. Solo: The Business Watch Indonesia.

Mardjoko T. 2004. Pasar Lelang: Harapan baru memperbaiki posisi tawar petani. www.pdfio.com/k-201862.html, [29 April 2011]

Nazaruddin, Paimin FB. 1993. Pembudidayaan dan Pengolahan Teh. Cetakan I. Jakarta: Penebar Swadaya.

Nazir M. 2005. Metode Penelitian. Cetakan Keenam. Bogor: Ghalia Indonesia. Ngadijarno FX, Laksito NE, Listiani, I.I. 2006. Lelang:Teori dan Praktek.

Jakarta: Lembaga Pengkajian Keuangan Publik dan Akuntansi Pemerintah (LPKPAP)

Priyadi U, Susantun I, Dewanta AS. 2004. Analisis Distribusi Ayam Broiler di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No.2 Desember 2004: 193-205

[PPTK] Pusat Penelitian Teh dan Kina. 2006. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman

Teh. Edisi Ketiga. Bandung: Pusat Penelitian Teh dan Kina.

[PPTK] Pusat Penelitian Teh dan Kina. 2008. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Edisi Kedua. Bandung: Pusat Penelitian Teh dan Kina.

Rifin A. 2009. Price Linkage Between Price of Crude Pal Oil (CPO) and Cooking Price Oil in Indonesia. Di dalam International Association of Agricultural

Economists Conference, 16-22 Agustus 2009. Bogor: Institut Pertanian

Bogor.

[SLTB] Sri Lanka Tea Board. 2011. Adjusted Monthly Tea Production 2010. http://www.pureceylontea.com/Whats%20New/2010%20Monthly%20Prod uction%20-%20Final%20Revision.pdf [28 juli 2011]

66 [SLTB] Sri Lanka Tea Board. 2010. Adjusted Monthly Tea Production 2009. http://www.pureceylontea.com/Whats%20New/2009.Monthly%20Productio n.Final%20Revision.pdf [28 juli 2011]

[SLTB] Sri Lanka Tea Board. 2009. Adjusted Monthly Tea Production 2008. http://www.pureceylontea.com/Whats%20New/2008%20Revised%20Mont hly%20Production.pdf [28 juli 2011]

Suharyanto, Parwanti IAP, Rinaldi J. 2008. Analisis Pemasaran dan Tata Niaga Anggur di Bali. Socio Economic of Agriculture and Agribusiness Vol. 08 No. 1 Februari 2008 : 1-16

Sumaryanto. 2009. Analisis Volatilitas Harga Eceran Beberapa Komoditas Pangan Utama Dengan Model ARCH/GARCH. Jurnal Agro Ekonomi Vol.27 No. 2. Oktober 2009: 135-163.

Suprihatini R, Gumbira-Sa‘id E, Marimin, Syamsul M. 2004. Peta Selera Pasar Teh Dunia. Jurnal Manajemen dan Agribisnis Vol.1. No.2. Oktober 2004: 103-112.

Widarjono A. 2010. Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya. Yogyakarta: Ekonisia.

68 Lampiran 1. Tabel Fungsi Respon Impuls Jakarta Tea Auction

Response of LOG(JTA):

Period LOG(JTA) LOG(CTA) LOG(GTA)

1 0.041759 0.000000 0.000000 2 0.036048 0.001534 -0.000391 3 0.031176 0.002717 -0.000671 4 0.027014 0.003612 -0.000865 5 0.023452 0.004271 -0.000992 6 0.020398 0.004738 -0.001068 7 0.017777 0.005050 -0.001104 8 0.015522 0.005237 -0.001110 9 0.013579 0.005323 -0.001096 10 0.011902 0.005331 -0.001065 Response of LOG(CTA):

Period LOG(JTA) LOG(CTA) LOG(GTA)

1 0.004960 0.042151 0.000000 2 0.004981 0.038443 -0.000148 3 0.004950 0.035078 -0.000264 4 0.004877 0.032022 -0.000354 5 0.004771 0.029246 -0.000421 6 0.004639 0.026722 -0.000471 7 0.004487 0.024426 -0.000505 8 0.004321 0.022337 -0.000527 9 0.004145 0.020434 -0.000539 10 0.003962 0.018700 -0.000543 Response of LOG(GTA):

Period LOG(JTA) LOG(CTA) LOG(GTA)

1 -0.007787 0.002430 0.082983 2 -0.013617 0.001947 0.070133 3 -0.017583 0.001290 0.059339 4 -0.020116 0.000545 0.050264 5 -0.021557 -0.000228 0.042627 6 -0.022175 -0.000985 0.036194 7 -0.022183 -0.001697 0.030770 8 -0.021749 -0.002345 0.026192 9 -0.021003 -0.002919 0.022324 10 -0.020044 -0.003414 0.019053

Cholesky Ordering: LOG(JTA) LOG(CTA) LOG(GTA)

69 Lampiran 2. Grafik Fungsi Respon Impuls Jakarta Tea Auction

-.01 .00 .01 .02 .03 .04 .05 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of LOG(JTA) to LOG(JTA)

-.01 .00 .01 .02 .03 .04 .05 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of LOG(JTA) to LOG(CTA)

-.01 .00 .01 .02 .03 .04 .05 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of LOG(JTA) to LOG(GTA)

70

Lampiran 3. Hasil Perhitungan Perbandingan Peramalan Naive Forecasting Jakarta Tea Auction dengan model VAR

110 99 88 77 66 55 44 33 22 11 1 2,6 2,4 2,2 2,0 1,8 Index JT A Length 1 Moving Average MAPE 2,87249 MAD 0,06225 MSD 0,00876 Accuracy Measures Actual Fits Variable

Moving Average Plot for JTA

Penentuan MSE Model Naive Forecasting dan VAR 1) MSE Naive Forecasting

( ̂) ⁄ 3,86147E-05 2) MSE VAR Forecasting

Dokumen terkait