• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Kampanye

3.2 Visi dan Misi Serta Ideologi Partai Golkar

Visi adalah gambaran tujuan atau cita-cita masa depan yang harus dimiliki

setiap organisasi. Berdasarkan Keputusan Munas VIII Partai Golkar Nomor

VII/MUNAS-VIII/GOLKAR/1997, visi Partai Golkar adalah terwujudnya

masyarakat Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, modern, damai, adil, makmur,

beriman dan berakhlak mulia, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi, dan bermartabat dalam tata pergaulan dunia.

Sedangkan misi adalah rumusan-rumusan utama sebagai penjabaran dan

implementasi visi organisasi. Berdasarkan Keputusan Munas VIII Partai Golkar

Nomor II/MUNAS-VIII/GOLKAR/1997, misi Partai Golkar adalah:

1. Menegakkan, mengamankan, dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar

Negara dan ideologi bangsa demi memperkokoh Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

2. Mewujudkan cita-cita Proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional

di segala bidang untuk merealisasikan masyarakat yang demokratis dan

berdaulat, sejahtera, adil dan makmur, menegakkan supremasi hukum dan

menghormati hak azasi manusia, serta terwujudnya ketertiban dan perdamaian

3. Mewujudkan pemerintahan yang efektif dengan tata pemerintahan yang baik,

bersih, berwibawa, dan demokratis.

Pengertian umum ideologi adalah seperangkat nilai-nilai dasar (basic values)

atau sistem pemikiran yang mendasar diyakini sebagai pegangan/pedoman utama

suatu identitas sosial/politik dalam memandang segala sesuatu. Ideolog partai Golkar

adalah Pancasila, sebagaimana dituangkan pada Pasal 5 AD/ART Partai Golkar,

bahwa Partai Golkar berazaskan Pancasila.

Dalam pandangan Partai Golkar, Pancasila adalah ideologi, falsafah, dan Dasar

Negara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pancasila bukan ideologi yang

dogmatik, tertutup/statis, melainkan ideologi yang hidup (living ideology), terbuka,

dan dinamis yang mampu menyerap dan merespon berbagai dinamika, tantangan, dan

tuntutan serta perubahan seperti tertuang dalam paradigma baru Partai Golkar.

Merujuk pada Ketentuan UU No. 3 Tahun 1975 Tentang Parpol dan Golkar

yang menyebutkan adanya ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita

partai politik yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam hal

ini, Partai Golkar memiliki ciri karya kekaryaan, yakni sebagai partai politik yang

mengedepankan karya nyata di dalam pembangunan sebagai wujud pengamalan

Pancasila. Dengan demikian, orientasi Partai Golkar adalah karya kekaryaan,

pembaharuan, dan pembangunan.

Dalam analisis sistem kepartaian, Partai Golkar secara ideologi politik dapat

berorientasi program.27 Hal ini selaras dengan posisi dan titik berat Partai Golkar

yang sejak awal merupakan organisasi sosial politik yang di dalam perjuangannya

mamperhatikan keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual. Di sisi

lain, Partai Golkar merupakan Partai Nasionalis-Inklusif, yang akomodatif dan

terbuka (catch-all) terhadap berbagai kelompok sosial di dalam masyarakat, termasuk

kelompok keagamaan.28

3.3 Kampanye

Kampanye merupakan bagian terpenting dalam pelaksanaan pesta demokrasi.

Dalam pelaksanaan kampanye, para pemimpin partai dan calon-calon yang akan

mewakili rakyat di DPR berhadapan langsung dengan pendukungnya. Dalam

kampanye ini akan terlihat dengan jelas bagaimana perilaku politik para kontestan

dan massa yang mengikuti kampanye tersebut.

Dalam melaksanakan kampanye, kontestan pemilu akan menyampaikan

program-program partainya. Pada tahap ini masyarakat akan dapat menilai partai

yang mereka anggap mampu mewakili mereka di DPR nantinya. Selama kampanye

akan terlihat dengan jelas partai-partai mana saja yang program partainya menarik

minat masyarakat.

Secara nasional, dalam mengajukan programnya, banyak partai yang

menyinggung masalah pembangunan yang dipusatkan di daerah pedesaan. Akan

27

Kevin R. Evans, Sistem Kepartaian di Indonesia: Kajian Orientasi Program, Jakarta: LP3ES, 1994, hal. 73

28

Anies Baswedan, Partai Golkar Dalam Kajian Sosial-Agama, Jakarta: Sinar Harapan, 1992, hal. 65

tetapi konsep pembangunan yang mereka kampanyekan sangat tertinggal jauh dengan

konsep pembangunan yang dikampanyekan oleh Golkar. Akibatnya rakyat lebih

meyakini hanya Golkar yang dapat melaksanakan pembangunan tersebut secara lebih

baik. Hal inilah yang menyebabkan Golkar mampu menyesuaikan diri dengan daerah

dan masyarakat tempat mereka melakukan kampanye.

Kata lainnya, walaupun program-program yang dibeberkan dalam kampanye

hanya merupakan janji-janji kosong belaka, para petani lebih mempercayainya

ketimbang kita membicarakan masalah ideologi dan pelaksanaan kehidupan politik

yang lebih demokratis. Hal ini disebabkan mereka lebih cepat tanggap kepada hal-hal

yang langsung menyinggung kebutuhan mereka sebagai masyarakat petani.

Sebenarnya partai-partai politik harus lebih lincah berkiprah untuk

memobilisasi seluruh potensi masyarakat yang telah ada. Dengan demikian program

partai dapat menyentuh golongan masyarakat paling bawah. Achmad Tahir kemudian

mengatakan, bahwa masyarakat lebih menyukai tema-tema pembangunan ketimbang

kehidupan dan cara kerja partai-partai politik.29

Hal yang paling menarik dari pelaksanaan kampanye di lapangan adalah cara

penyampaiannya yang berbeda-beda. Penyampaian program-program ini sangat

sesuai dengan hakikat Pemilu yang sesungguhnya, yaitu persaingan. Dalih persaingan

itu sendiri ditentukan oleh apa yang bakal dicapai. Untuk memperoleh kursi

sebanyak-banyaknya semua partai politik, termasuk Golkar harus berupaya

29

Anon., Amanat Ketua Dewan Kekaryaan pada Penutupan Pekan Orientasi Para Anggota

DPRD Tk. I dan II, tanggal 22 Desember 1971 di Medan, Medan: Departemen Pertahanan Keamanan

mensukseskan kampanyenya masing-masing. Persaingan dalam pemilu ini bertitik

tolak dari anggapan bahwa parlemen mempunyai kedudukan yang penting dalam

struktur kekuasaan negara.

Dalam melaksanakan kampanye program di Kabupaten Dairi, masing-masing

kontestan tidaklah terlalu sulit untuk menentukan tema apa yang harus mereka bawa.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu sebenarnya dapat menjadi tema kampanye yang

sangat menarik untuk dibicarakan. Golkar maupun partai-partai politik yang lain

mengajukan kampanyenya masing-masing bertitik tolak dari kondisi tersebut.

Dalam kenyataan di lapangan, program-program partai yang dikampanyekan

tidak selalu sama dengan kampanye program yang dilakukan secara nasional.

Perbedaan ini terjadi mengingat situasi masing-masing daerah yang berbeda.

Mengatasi hal tersebut, setiap partai politik dalam kampanyenya dituntut untuk

melakukan penyesuaian dengan kondisi masyarakat partai-partai politik itu

melakukan kampanye lapangan.

Kampanye lapangan adalah proses pertemuan langsung antara calon dari partai

atau juru kampanye partai dengan massa pendukungnya. Dalam kampanye ini, para

juru kampanye akan membeberkan program-program partai secara langsung dan lebih

terbuka.

Dalam kampanye lapangan sering kali masyarakat belum dapat menerima dan

mencerna program partai yang disampaikan oleh juru kampanye partai. Hal ini

antara satu partai dengan partai lainnya. Dengan kata lain,setiap partai tidak

mengusung satu tema yang mengena tentang kehidupan social masyarakat melainkan

hanya mengusung tema yang hanya menyinggung masalah politik dan pemerintahan

semata.

Selama kampanye pemilu berlangsung, kondisi keamanan di Kabupaten Dairi

relatif aman. Walaupun demikian, pelaksanaan kampanye tersebut tidak terlepas dari

adanya kericuhan kecil yang terjadi akibat saling tuding-menuding antar partai yang

bersaing dengan massa pendukungnya.

Sebagai akibat besarnya persaingan antar partai, sering terjadi gangguan-

gangguan selama pelaksanaan kampanye. Selama masa kampanye berlangsung,

banyak partai yang menjadi korban penggarapan yang dilakukan oleh partai lain dan

massa pendukungnya maupun golongan yang memiliki kepentingan lain di balik

pelaksanaan kampanye.

Dokumen terkait