BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Viskositas Sediaan Shampo
Viskositas merupakan ukuran tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, maka tahanannya semakin besar (Martin, 1993).
Viskositas memainkan peranan yang penting dalam sejumlah sediaan yang berbeda, viskositas merupakan faktor penting dalam menahan obat dalam sediaan suspensi, meningkatkan kecepatan pelepasan obat pada tempat aplikasi dan mempermudah pemakaian obat di tubuh. Farmasis di bidang compounding secara rutin menggunakan viskositas untuk meningkatkan stabilitas dari berbagai sediaan (Allen, 1999).
C. Busa
Busa merupakan sistem dispersi yang mengandung gelembung gas, yang dipisahkan oleh lapisan cairan. Busa tidak terbentuk pada cairan murni, karena pada cairan murni, gelembung gas yang masuk ke bawah permukaan cairan akan langsung pecah ketika ada aliran cairan ke bawah (drainage) (Tadros, 2005). Agar suatu cairan dapat membentuk busa, cairan tersebut harus dapat membentuk membran yang bersifat elastis disekitar gelembung gas untuk melawan penipisan lapisan cairan di antara gelembung gas sebagai akibat dari drainage. Busa tidak dihasilkan pada cairan murni karena tidak ada mekanisme untuk mencegah drainage terhadap lapisan cairan diantara gelembung gas ataupun untuk menstabilkan tegangan permukaan (Myers, 2006).
Busa terbentuk saat ada gelembung udara yang terbentuk di dalam larutan surfaktan. Ketika ada gelembung udara yang terbentuk di dalam larutan
7
surfaktan, maka akan terjadi penyerapan (adsorpsi) surfaktan pada batas antarmukanya. Gelembung yang terbentuk kemudian akan bergerak ke permukaan cairan dan setelah mencapai permukaan cairan, gelembung tadi akan membentuk suatu lapisan cairan yang terdiri dari dua lapisan adsorpsi surfaktan. (Exerowa, 1998). Adanya surfaktan dapat menurunkan tegangan pada permukaan serta meningkatkan viskositas pada lapisan antarmuka antara udara dengan cairan yang membuat busa menjadi stabil (Schramm, 2005).
Gambar 2. Ilustrasi pembentukan lapisan busa saat gelembung udara mencapai permukaan larutan surfaktan (Exerowa, 1998)
D. Ketahanan busa
Ketahanan (stabilitas) busa menyangkut ketahanan terhadap dua proses yang berbeda, yaitu film thinning dan coalescence (film rupture). Pada kasus film thinning, dua atau lebih gelembung mendekat dan membuat lapisan cairan yang memisahkannya menjadi menipis, tetapi gelembung tidak benar-benar bersentuhan dan tidak ada perubahan area total permukaan. Pada kasus coalescence, lapisan tipis cairan diantara gelembung pecah dan gelembung
menyatu membentuk gelembung baru yang lebih besar (Schramm, 2005). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan busa, antara lain (1) viskositas yang tinggi, dimana viskositas yang tinggi dapat memperlambat proses drainage, dan pada beberapa kasus dapat menahan beberapa macam gangguan secara mekanik; (2) efek rheologi permukaan, yang dapat menahan kehilangan cairan lewat penarikan cairan yang bersifat kental; (3) adanya interaksi tolak-menolak (repulsive) ataupun halangan secara sterik pada cairan pembatas (lamellae) yang dapat melawan drainage (Myers, 2006).
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengukur ketahanan busa adalah dengan cara membuat larutan surfakan, kemudian dituang ke dalam labu dan diaduk dengan kuat selama 2 menit menggunakan pengaduk mekanik elektris, setelah itu didiamkan selama 5 menit dan diamati tinggi busanya (Edoga, 2009).
E. Shampo
Shampo merupakan sediaan kosmetik pencuci rambut yang digunakan untuk menghilangkan kotoran dari kulit kepala dan rambut, mengobati ketombe dan gatal serta mempertahankan rambut dalam kondisi bersih dan indah. Untuk dapat melakukannya, sediaan shampo harus memiliki kemampuan membersih yang cukup untuk menghilangkan semua kotoran tetapi tidak menghilangkan terlalu banyak sebum yang sangat diperlukan oleh kulit kepala dan rambut (Mitsui, 1997).
Shampo merupakan campuran dari surfaktan, conditioning agent, dan bahan-bahan lainnya dalam basis air. Hampir tanpa kecuali, shampo mengandung
9
larutan, emulsi, ataupun dispersi dari satu atau lebih surfaktan yang dicampur dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan penampilan dan estetika dari produk. Bahan tambahan digunakan untuk memberi bau dan warna, mengentalkan, memburamkan, dan memberi kesan tertentu. Termasuk didalamnya bahan penstabil, foam modifier, pengawet, conditioning agent, dan bahan anti-ketombe (Barel, 2001).
F. Surfaktan
Surfaktan merupakan molekul amfifilik yang memiliki bagian non polar atau hidrofobik, dimana bagian ini melekat pada bagian yang polar atau hidrofilik (Tadros, 2005). Berdasarkan karakteristik muatannya, surfaktan dapat berupa anionik, kationik, zwitterionik (amfolitik) atau non ionik. Contoh surfaktan anionik yang paling sering digunakan adalah Sodium Lauryl Sulfate (Attwood, 2008).
G. Sodium Lauryl Sulfate
Lauryl Sulfate merupakan komponen dominan yang banyak terdapat dalam formulasi shampo. Meskipun merupakan pembersih yang baik, namun pada konsentrasi tinggi, alkil sulfat mempunyai kecenderungan untuk mengiritasi kulit kepala dan menghilangkan beberapa komponen lipid dari kutikula rambut. Untuk membuat shampo yang menggunakan alkil sulfat menjadi lebih lembut, alkil sulfat digunakan bersamaan dengan alkil eter sulfat atau surfaktan amfoterik yang bersifat kurang iritatif (Paye, 2006).
Secara umum, alkil sulfat merupakan pembusa yang baik, terlebih pada air sadah, karekteristik pembusa yang baik diperoleh pada panjang rantai antara C12 hingga C14. Sodium Lauryl Sulfate memiliki panjang rantai 12 atom karbon dan merupakan satu dari sekian banyak surfaktan yang umum digunakan. Kombinasinya dengan surfaktan lain memungkinkan peningkatan terhadap kompatibilitas dengan kulit sementara tetap menghasilkan busa yang baik (Barel, 2009).
H. Betaine
Betaine merupakan surfaktan pembusa, pembasah, serta pengemulsi yang baik, terutama dengan adanya surfaktan anionik. Alkylamido betaine menghasilkan busa yang lebih stabil juga merupakan bahan pengental yang lebih baik dari alkyl dimethyl betaine. Betaine kompatibel dengan surfaktan yang lain, dan mereka biasanya membentuk misel campuran, campuran ini terkadang menghasilkan sifat yang unik yang tidak ditemukan pada surfaktan saat digunakan secara terpisah (Barel, 2009)..
Betaine bersifat kurang iritatif terhadap mata dan kulit, lebih lagi, adanya betaine dapat mengurangi efek iritatif dari surfaktan anionik. Karena kemampuannya meningkatkan daya tahan kulit terhadap iritasi dari surfaktan anionik, dan juga karena harganya yang mahal, maka biasanya betaine digunakan sebagai gabungan dengan surfaktan lain (Barel, 2009).
11
I. Landasan teori
Shampo merupakan sediaan kosmetik pencuci rambut yang mengandung satu atau lebih surfaktan yang dicampur dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan penampilan dan estetika dari produk. Pada sediaan shampo yang dibuat, surfaktan yang dipilih adalah Lauryl Sulfate dan Betaine.
Lauryl Sulfate dipilih karena merupakan agen pembersih yang baik, namun pada konsentrasi tinggi, Lauryl Sulfate mempunyai kecenderungan untuk mengiritasi kulit kepala dan menghilangkan beberapa komponen lipid dari kutikula rambut (Paye, 2006). Oleh karena itu, untuk mengurangi sifat iritatif dari Lauryl Sulfate, maka Lauryl Sulfate digunakan bersamaan dengan Betaine yang bersifat kurang iritatif untuk mengurangi efek iritatif dari Lauryl Sulfate (Barel, 2009).
Untuk dapat diterima oleh konsumen, suatu sediaan shampo harus dapat menghasilkan busa yang cukup melimpah serta tahan lama. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan busa, antara lain viskositas yang tinggi, efek rheologi permukaan, serta adanya interaksi tolak-menolak (repulsive) ataupun halangan secara sterik pada cairan pembatas (lamellae). Viskositas yang tinggi dapat meningkatkan ketahanan busa karena dapat memperlambat proses drainage, dan pada beberapa kasus dapat menahan beberapa macam gangguan secara mekanik (Myers, 2006). Namun, besarnya viskositas dipengaruhi oleh banyaknya bahan pengental.
Sebagai bahan pengental dipilih CMC-Na karena dapat larut dengan cepat di dalam air panas maupun dingin (Lathauwer, 2004) serta secara umum dinyatakan sebagai bahan tidak beracun dan tidak mengiritasi (Rowe, 2009).
J. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori, diduga dengan meningkatnya konsentrasi CMC-Na, maka viskositas dan ketahanan busa pada sediaan shampo juga akan meningkat.
13 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis rancangan penelitian
Penelitian ini merupakan rancangan quasi eksperimental untuk mencari tahu adakah serta bagaimana pengaruh peningkatan konsentrasi CMC-Na sebagai bahan pengental terhadap viskositas dan ketahanan busa sediaan shampo.
B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi CMC-Na sebagai bahan pengental.
2. Variabel tergantung
Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah viskositas dan ketahanan busa.
3. Variabel pengacau terkendali
Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah alat dan bahan yang digunakan, kecepatan putar pengaduk, dan lama waktu pencampuran.
4. Variabel pengacau tak terkendali
Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini meliputi jumlah gas (udara) yang masuk ke tabung pada saat pengukuran ketahanan busa.
C. Definisi Operasional
1. Ketahanan busa adalah kemampuan busa untuk mempertahankan jumlah busa yang dihasilkan setelah beberapa saat, dinilai dengan mengukur selisih tinggi busa pada saat awal pembentukan dengan tinggi busa setelah didiamkan selama 5 menit.
D. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Sodium lauryl sulfate, Cocamidopropyl Betaine, Carboxylmethylcellulose Sodium, asam sitrat, methyl paraben, air.
E. Alat Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas Pyrex-Germany, neraca Mettler-Toledo GB3002, neraca analitik Mettler-Toledo AB204, hot plate Cenco, paddle, propeller, pH meter merk Hanna, vortex, viscotester seri VT 04 RION-Japan.
15
F. Tata Cara Penelitian 1. Pembuatan Shampo
a. Formula
Sodium lauryl sulfate 60,0 g Cocamidopropyl Betaine 60,0 g CMC-Na* Methyl paraben 0,6 g Asam sitrat (50% b/v) 0,9 ml NaCl (25% b/v) 24,0 ml air ad 600,0 g *(CMC-Na: 1,2; 2,4; 3,6; 4,8; 6,0 g)
b. Cara Kerja Pembuatan Shampo. CMC-Na dikembangkan dalam 200,0 ml air selama satu hari. 60,0 g Sodium lauryl sulfate dicampur dengan 0,6 g methyl paraben, dilarutkan dalam 250,0 ml air, panaskan pada suhu 700C hingga larut seluruhnya. CMC-Na yang sudah dikembangkan dicampur dengan larutan Sodium lauryl sulfate sambil diaduk menggunakan paddle dengan kecepatan 300 rpm. Tambahkan dengan 24,0 ml NaCl dan 0,9 ml asam sitrat, setelah itu tambahkan dengan 60,0 g Cocamidopropyl Betaine sambil terus diaduk. Tambahkan dengan air hingga beratnya 600,0 g. Aduk selama 15 menit. Shampo yang sudah dibuat kemudian dibagi 3 ke wadah yang berbeda (masing-masing 200 g) untuk disimpan selama 2 hari, 15 hari, dan 30 hari sebelum dilakukan
pengukuran. Lakukan replikasi sebanyak 3 kali untuk tiap konsentrasi CMC-Na yang digunakan.
2. Uji Viskositas dan Ketahanan Busa Shampo
a. Uji Viskositas. Sebanyak 200 ml shampo dimasukkan perlahan-lahan ke dalam wadah dan dipasang pada viscotester. Diamkan 5 menit agar sediaan mempunyai kesempatan untuk menstabilkan diri lebih dahulu. Nyalakan alat dan lihat viskositasnya dengan mengamati gerakan jarum penunjuk pada viscotester. Uji dilakukan tiga kali, yaitu 2 hari, 15 hari, dan 30 hari setelah shampo selesai dibuat untuk melihat stabilitas shampo.
b. Uji Ketahanan Busa. Buat larutan shampo 0,1% (b/v) dengan cara melarutkan 0,5 g shampo dalam 49,5 ml aquadest panas. Ambil 10,0 ml larutan shampo yang sudah dibuat, masukkan perlahan-lahan lewat dinding ke dalam tabung reaksi berskala ukuran 25 ml yang sudah ditempelkan dengan kertas milimeter blok untuk mengukur tinggi busa. Larutan shampo dimasukkan secara perlahan-lahan lewat dinding tabung agar tidak terbentuk busa. Tutup bagian atas tabung reaksi dan vortex selama 2 menit. Catat tinggi awal busa yang dihasilkan, diamkan selama 5 menit, kemudian catat tinggi akhir busa. Ketahanan busa dinilai dari selisih tinggi busa pada saat awal dan setelah didiamkan selama 5 menit. Uji dilakukan tiga kali, yaitu 2 hari, 15 hari, dan 30 hari setelah shampo selesai dibuat untuk melihat stabilitas busa yang dihasilkan.
17
3. Analisis Hasil
Hasil nilai viskositas dan ketahanan busa yang didapat diuji statistik dengan korelasi Pearson dan repeated ANOVA menggunakan program SPSS versi 16. Signifikansi didapat jika nilai p<0,05. Kekuatan hubungan dilihat dari nilai koefisien korelasi yang didapat dari uji korelasi Pearson.
18 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Formulasi Sediaan Shampo
Shampo merupakan sedian kosmetik yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan kotoran yang menempel pada kulit kepala dan rambut. Untuk dapat membersihkan kotoran yang menempel di kulit kepala serta rambut, maka suatu sediaan shampo harus mempunyai kemampuan untuk melarutkan kotoran yang menempel pada rambut lewat penggunaan surfaktan. Oleh karena itu, komponen dasar pada sediaan shampo adalah surfaktan, disamping bahan-bahan tambahan lain yang dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan stabilitas sediaan shampo. Dalam penelitian ini, formula shampo yang digunakan terdiri dari surfaktan, bahan pengental, bahan pengatur keasaman, bahan pengatur kekentalan, pengawet, serta air demineralisata.
Surfaktan yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang merupakan surfaktan anionik, serta Cocamidopropyl Betaine yang merupakan surfaktan amfoterik. SLS dipilih karena merupakan penghasil busa dan pembersih yang baik, hal ini dapat dilihat dari nilai HLB SLS yang tinggi, yaitu 40. Nilai ini memberikan arti bahwa SLS bersifat sangat hidrofil, sehingga, setelah digunakan, SLS dapat dengan mudah dibilas menggunakan air. Umumnya, suatu surfaktan dapat bersifat sebagai pembersih jika nilai HLB-nya lebih besar dari 12. Cocamidopropyl Betaine sebagai surfaktan amfoterik dipilih karena memiliki sifat yang kurang iritatif sehingga dapat
19
mengurangi sifat iritatif dari SLS. Selain itu, tujuan penggunaan lebih dari satu jenis surfaktan adalah untuk meningkatkan kemampuan membusa, serta untuk meningkatkan kestabilan busa yang dihasilkan. Sebelum pencampuran, SLS dilarutkan terlebih dahulu di dalam air hangat (40-700C), tujuannya adalah untuk memudahkan proses pencampuran. SLS dilarutkan di dalam air hangat karena kelarutan SLS di dalam air dingin rendah.
Bahan pengental yang dipilih dalam penelitian ini adalah Carboxymethylcellulose Sodium (CMC-Na) karena lebih cepat larut di dalam air panas maupun dingin dibandingkan CMC biasa. CMC-Na merupakan bahan pengental anionik semi-sintetik, sehingga lebih tahan terhadap pertumbuhan mikroorganisme dibanding bahan pengental lain yang bersifat alami, selain itu, CMC-Na juga mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menjaga viskositas yang dihasilkannya tetap stabil dalam jangka waktu yang cukup lama.
Bahan pengatur keasaman yang dipilih adalam asam sitrat. Sesuai dengan namanya, fungsi asam sitrat adalah untuk menurunkan pH dari sediaan shampo. pH sediaan shampo biasanya dibuat cenderung asam karena jika sediaan shampo dibuat pada pH basa (di atas 8,5), maka pada saat digunakan, ikatan disulfida pada rambut dapat putus sehingga rambut menjadi rusak. Penurunan pH sediaan juga dapat menurunkan viskositas sediaan karena penurunan pH akan menurunkan gaya tolak menolak antar molekul CMC sehingga secara tidak langsung ikut mengurangi kemampuan molekul CMC untuk mengembang. Hal ini disebabkan pada kondisi asam, ion H+ berada dalam jumlah yang berlebihan sehingga dapat mendorong gugus COO- pada molekul CMC untuk berikatan dengan ion H+ dari
asam sitrat membentuk gugus COOH. Dengan terbentuknya gugus COOH pada molekul CMC, maka gaya tolak-menolak antar molekulnya juga akan berkurang sehingga secara tidak langsung ikut mengurangi kemampuan molekul CMC untuk mengembang dan pada akhirnya membuat viskositas sediaan menjadi turun. Namun, pH yang terlalu rendah (di bawah 4) juga tidak baik karena selain dapat mengiritasi kulit, pH yang terlalu rendah juga dapat menyebabkan terjadinya reaksi hidrolisis pada polimer CMC-Na yang mengakibatkan pemutusan rantai CMC-Na, sehingga, secara tidak langsung menurunkan viskositas sediaan secara drastis. Oleh karena itu, pH sediaan yang dibuat diatur agar berada pada rentang 5,0 sampai dengan 6,0 yang juga merupakan rentang pH kulit kepala dan rambut.
Bahan pengatur kekentalan yang dipilih adalah NaCl. Bahan pengatur kekentalan diperlukan untuk menurunkan viskositas sediaan karena viskositas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan shampo menjadi sukar untuk mengalir sehingga sulit untuk dituang dan menjadi tidak nyaman untuk digunakan. NaCl dapat berfungsi sebagai bahan pengatur kekentalan karena jika dilarutkan, NaCl bersifat sebagai elektrolit kuat yang menyediakan ion Na+. Dengan adanya tambahan ion Na+ dalam sediaan, CMC-Na akan mengalami efek ion senama (common ion effect) yang karenanya akan mengurangi kemampuan CMC-Na untuk mengion sehingga secara tidak langsung mengurangi kemampuan CMC-Na untuk mengembang tanpa membuatnya mengendap. Hal ini dapat terjadi karena derajat ionisasi dari NaCl lebih besar, sehingga gugus COONa yang derajat ionisasinya lebih rendah akan sulit mengion dan terdesak ke bentuk molekulnya.
21
Pengawet yang digunakan adalah nipagin atau methyl paraben karena methyl paraben efektif pada rentang pH yang luas serta memiliki aktivitas antimikroba dengan spektrum luas, selain itu, kelarutan methyl paraben dalam air paling tinggi diantara jenis paraben lainnya sehingga cocok untuk digunakan sebagai bahan pengawet dalam medium berair.
Air yang digunakan untuk membuat sediaan shampo adalah air demineralisata, hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kemungkinan air yang digunakan bersifat sadah karena air sadah banyak mengandung logam-logam bimetal seperti Ca2+ dan Mg2+ yang dapat mengurangi kemampuan surfaktan menghasilkan busa.
B. Viskositas Sediaan Shampo
Viskositas sediaan diukur menggunakan viscotester Rion seri VT 04. Pengukuran dilakukan tiga kali, yaitu 2 hari, 15 hari, dan 30 hari setelah sediaan selesai dibuat. Hal ini dilakukan untuk melihat profil viskositas dari sediaan selama penyimpanan. Pengukuran pertama tidak dilakukan sesaat setelah pembuatan, melainkan 2 hari setelah pembuatan, tujuannya adalah untuk meminimalkan pengaruh gaya geser selama pengadukan serta memberikan kesempatan relaksasi pada sediaan yang sudah dibuat sehingga dapat mengurangi kemungkinan hasil yang didapat tidak sesuai. Nilai viskositas yang didapat kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Hubungan antara peningkatan konsentrasi CMC-Na terhadap viskositas diuji menggunakan korelasi Pearson karena korelasi Pearson merupakan uji yang digunakan untuk
membandingkan dua variabel kontinu yang dipilih dari populasi berdistribusi normal (De Muth, 1999).
Tabel I. Hasil pengukuran viskositas shampo dan uji korelasi Pearson antara konsentrasi CMC-Na dengan viskositas shampo
Konsentrasi CMC-Na
(%b/b)
Rata-rata viskositas (cps)
2 hari 15 hari 30 hari
0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 3366,67 ± 550,76 4033,33 ± 550,76 4600,00 ± 264,58 6000,00 ± 0,00 7000,00 ± 0,00 3633,33 ± 709,46 4433,33 ± 923,76 6800,00 ± 984,89 7650,00 ± 785,81 8983,33 ± 1025,10 3933,33 ± 513,16 4833,33 ± 1040,83 6666,67 ± 763,76 7833,33 ± 1040,83 8666,67 ± 763,76 r 0,986 0,987 0,992 p 0,002 0,002 0,001 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 0,2 0,4 0,6 0,8 1 konsentrasi CMC-Na (%b/b) vi s k o s it as (cp s )
hari ke-2 hari ke-15 hari ke-30
Gambar 3. Kurva hubungan konsentrasi CMC-Na dengan viskositas
Dari tabel I, diketahui bahwa nilai SD yang diperoleh sangat bervariasi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena viskositas tidak hanya tergantung dari konsentrasi bahan pengentalnya saja, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi antara polimer dengan pelarut serta interaksi muatan dari polimer. Tetapi, dari hasil uji statistik, didapatkan nilai koefisien korelasi (r) yang lebih besar dari 0,80 serta
23
nilai p yang kurang dari 0,05. Hal ini menandakan bahwa peningkatan konsentrasi CMC-Na memiliki hubungan yang kuat dan bermakna terhadap viskositas. Hasil yang sama juga dapat dilihat pada Gambar 3, dimana pada hari yang sama, dengan meningkatnya konsentrasi CMC-Na, maka viskositas sediaan juga meningkat. Hasil ini sesuai dengan teori yang ada, dimana dengan meningkatnya konsentrasi bahan pengental, maka viskositas sediaan juga akan meningkat.
Tabel II. Hasil uji Repeated ANOVA untuk viskositas shampo pada tiap konsentrasi dari hari ke-2, 15, dan 30
Konsentrasi CMC-Na (%b/b) Hasil 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0
viskositas hari ke-2 dengan hari ke-30 berbeda viskositas hari ke-2, 15, dan 30 tidak berbeda viskositas hari ke-2 dengan hari ke-30 berbeda
viskositas hari ke-2, 15, dan 30 tidak berbeda viskositas hari ke-2, 15, dan 30 tidak berbeda
Setelah itu dilakukan perbandingan antara nilai viskositas hari ke-2, 15, dan 30 menggunakan repeated ANOVA untuk melihat apakah nilai viskositas yang diperoleh berbeda antara hari ke-2, 15, dan 30.
Secara umum, dari hasil uji repeated ANOVA (tabel II) dapat dikatakan bahwa nilai viskositas yang diperoleh pada hari ke-2, 15, dan 30 tidak berbeda. Namun, untuk konsentrasi CMC-Na 0,2% dan 0,6%, nilai viskositas yang diperoleh pada hari ke-2 berbeda dengan nilai viskositas yang diperoleh pada hari ke-30. Perubahan nilai viskositas ini kemungkinan disebabkan adanya hidrasi
lebih lanjut dari bahan pengental di dalam sediaan selama masa penyimpanan yang menyebabkan peningkatan viskositas dari sediaan setelah beberapa hari dari waktu pembuatan (Liebermann, 1996).