BAB I VITAMIN A DAN ZINK
B. Vitamin A DAN Zink
B. Vitamin A dan Zink 1. Vitamin A
a. Pengertian Vitamin A
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat di perlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar dapat melihat dengan baik) dan untuk kesehatan tubuh (meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan penyakit infeksi lain). (Puspitorini, 2008).
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh.Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin A, antara lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama yang berwarna hijau dan kuning), dan juga buah-buahan (terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan pepaya). (Almatsier,2004)
Vitamin A adalah salah satu zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) dan kesehatan mata. (Gsianturi, 2004).
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara luas vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan prekursor/provitamin A / karotenoid mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol. (Suhardjo, 2002)
12 b. Fungsi Vitamin A
Fungsi vitamin A antara lain :
1) Berhubungan dengan proses melihat yaitu sebagai retinene atau retinal, yang merupakan bagian dari pigmen penglihatan, yang peka terhadap cahaya.
2) Menjaga kesehatan jaringan epitel agar dapat berfungsi dengan baik 3) Berperan dalam proses penyempurnaan gigi, khususnya dalam
pembentukan sel-sel epitel email.
4) Meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh 5) Ikut berperan serta dalam pertumbuhan badan
6) Ikut berperan dalam proses reproduksi. Kebutuhan vitamin A selama hamil meningkat,untuk pertumbuhan janin dan untuk persiapan menyusui. (Hendra, 2006).
Salah satu fungsi vitamin A adalah memelihara kesehatan jaringan epitel, termasuk kulit dan selaput-selaput yang melapisi semua saluran yang terbuka keluar badan dan kelenjar-kelenjar serta saluran-salurannya. Jaringan-jaringan epitel tersebut dapat mengalami keratinisasi (timbul lapisan tanduk) bila terjadi kekurangan vitamin A. (Clara M, 2007)
c. Asal Usul Vitamin A
Vitamin A pertama kali ditemukan sebagai vitamin larut lemak dan digunakan sebagai nama generic untuk retinol dan semua provitamin. Tahun 1932 susunan kimia Vitamin A ditemukan dan pada 1937 dapat diisolasi dari minyak halibut. Vitamin A banyak digunakan sebagai fortifikan dan suplemen. Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat adanya kemungkinan vitamin A dan beta karoten digunakan dalam
13
pencegahan penyakit jantung koroner dan kanker karena sebagai antioksidan. (Endang, 2013).
Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang agak stabil terhadap suhu tinggi dan tidak hilang dengan proses perebusan. Oleh karena itu, cara memasak biasa tidak mempengaruhi keadaan vitamin A dalam suatu bahan makanan. (Pudjiadi S, 2003).
Bentuk aktif vitamin A hanya terdapat dalam pangan hewani, pangan nabati mengandung karotenoid yang merupakan prekursor (provitamin) vitamin A. Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu (didalam lemaknya) dan mentega. Margarin biasanya diperkaya dengan vitamin A karena vitamin A tidak berwarna, warna kuning didalam kuning telur adalah karoten yang tidak diubah menjadi vitamin A. Minyak hati ikan digunakan sebagai sumber vitamin A yang diberikan untuk keperluan penyembuhan. (Suhardjo, 2002)
Sifat kimia vitamin A antara lain berbentuk Kristal alcohol berwarna kuning, larut pelarut lemak. Dalam makanan biasa terikat dengan dengan lemak rantai panjang. Vitamin A tahan terhadap panas cahaya dan larutan alkali, tetapi tidak tahan asam dan oksidasi. Bentuk aktif vitamin A hanya pada makanan hewani. Bentuk alpha, beta, gama dan kriptoxantinberperan sebagai provitamin A dan digunakan sebagai pewarna makanan. Satuan yang digunakan untuk vitamin A 1 ug (mikro gram) Retinol Ekuivalen (RE) = 1 ug retinol=6 ug beta karote =12 ug karoten lain=3.31 SI retinol = 9.9 SI (satuan Internasional) beta karoten.(Endang,2013).
Sumber karotin : sayur-mayur berwarna merah, kuning dan hijau seperti wortel, tomat, ubi kuning,jagung kuning, bayam, sayur dan daun-daunan. Buah : pepaya, mangga dan jeruk.(Hendra,2006)
14
Bahan makanan yang mengandung banyak vitamin A antara lain : hati, lemak hewani, telur, susu, metega dan keju. Sedangkan yang mengandung banyak provitamin A antara lain sayuran berdaun, wortel, pepaya dan minyak kelapa sawit. (Pudjiadi S, 2003)
d. Cara Mendapatkan Kapsul Vitamin A
Vitamin A dosis tinggi, baik yang biru maupun yang merah, tidak diperjual belikan dan diberikan secara gratis di posyandu, pos kesehatan atau melalui petugas kesehatan. (Gsianturi, 2004)
e. Dosis Pemberian Vitamin A
Untuk bayi berumur 6-11bulan, diberikan kapsul vitamin A bewarna biru dengan dosis 100.000 IU dan untuk umur 12-59b ulan diberikan kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.000 IU. (Gsianturi, 2004).
Vitamin A bersifat larut dalam lemak, sehingga dosis yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gejala-gejala keracunan. Biasanya anak merasa mual, sakit kepala dan tidak nafsu makan. Cara pemberian dengan memotong dan memencet isinya kedalam mulut anak, akan menghindari resiko anak menelan beberapa kapsul sekaligus. Walaupun efek samping tersebut bersifat sementara, namun harus diusahakan agar tidak sampai terjadi. (Puspitorini, 2008).
f. Akibat Kekurangan Vitamin A
1) Kurang vitamin A (KVA) pada anak-anak yang berada di daerah pengungsian dapat menyebabkan mereka rentan terhadap penyakit infeksi, sehingga mudah sakit.
2) Anak yang menderita kurang vitamin A, bila terserang campak, diare atau penyakit infeksi lain, penyakitnya tersebut akan bertambah parah dan dapat mengakibatkan kematian. Infeksi akan
15
menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap zat-zat gizi dan pada saat yang sama akan mengikis habis simpanan vitamin A dalam tubuh.
3) Kekurangan vitamin A untuk jangka waktu lama juga akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada mata, dan bila anak tidak segera mendapat vitamin A akan mengakibatkan kebutaan.
4) Bayi-bayi yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita KVA, karena ASI merupakan sumber vitamin A yang baik. (Gsianturi, 2004).
Kekurangan (defisiensi) Vitamin A terutama pada anak-anak balita. Tanda-tanda kekurangan terlihat bila simpanan tubuh habis terpakai. Kekurangan vitamin A dapat merupakan kekurangan primer akibat kurang konsumsi, atau kekurangan sekunder karena gangguan penyerapan dan penggunaannya dalam tubuh, ataupun karena gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A. Kekurangan vitamin A sekunder dapat terjadi pada penderita Kurang Energi Protein (KEP), penyakit hati, gangguan absorpsi karena kekurangan asam empedu. (Suhardjo, 2002).
Penyebab lain KVA pada balita dikarenakan kurang makan sayuran dan buah-buahan berwarna serta kurang makanan lain sumber vitamin A seperti : daun singkong, bayam, tomat, kangkung, daun ubi jalar, wortel, daun pepaya, kecipir, daun sawi hijau, buncis, daun katu, pepaya, mangga, jeruk, jambu biji, telur ikan dan hati. Akibatnya menurun daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Depkes RI, 2005)
16 g. Kelebihan Vitamin A
Kelebihan vitamin A jarang sekali terjadi, namun harus waspada karena pemberian dosis tinggi secara terus menerus untuk pencegahan, bisa menyebabkan keracunan dengan gejala-gejala : sakit pada sendi-sendi, sakit kepala dan muntah-muntah.(Hendra,2006).
Kelebihan vitamin A hanya bisa terjadi bila memakan vitamin A sebagai suplemen dalam takaran tinggi yang berlebihan, misalnya takaran 16.000 RE untuk jangka waktu lama atau 40.000-55.000 RE/hari. Gejala kelebihan ini hanya terjadi bila dimakan dalam bentuk vitamin A. Karoten tidak dapat menimbulkan gejala kelebihan, karena absorpsi karoten menurun bila konsumsinya tinggi. (Suhardjo, 2002)
Gelaja-gelaja kelebihan vitamin A yang ditemukan antara lain secara umum adalah pandangan mata kabur, penurunan nafsu makan, kepala pusing/sakit, lemas, impotensi/ejakulasi dini, mual, osteoporosis, kemudian juga adanya perubahan pada kulit dan rambut seperti kerontokan rambut, sensitivitas pada cahaya matahari, kulit dan rambut berminyak, gatal pada kulit, warna kuning pada kulit dan juga membesarnya payudara pada laki-laki. Sedangkan untuk kelebihan vitamin A ini secara akut akan menyebabkan kadar kalsium yang terlalu tinggi, gangguan ginjal, gangguan hati, kanker prostat
Pada bayi ini terdapat dua hal yaitu kelebihan vitamin A sebelum persalinan dan setelah persalinan. Jika kelebihan vitamin A ini pada saat mengandung, maka dapat berakibat pada kecatatan bayi nantinya seperti terjadinya pembesaran kepala, hidprosefalus. Kecacatan pada bayi ini akibat kelebihan vitamin A lebih terjadi pada saat semester pertama kehamilan atau sekitar 3 bulan pertama dan 6 bulan pertama. Karena pada masa janin ini mengakibatkan sulit dideteksi dengan USG apakah
17
ada kecatatan atau tidak. Sehingga dihindari suplemen berlebihan terhadap ibu hamil ini. Sedangkan gejala yang timbul setelah persalinan pada bayi seperti adanya penonjolan pada ubun-ubun tetapi hanya sementara sampai konsumsi suplemen vitamin A dihentikan.
Beberapa tanda keracunan vitamin A antara lain: sakit kepala, pusing, rasa nek, rambut rontok, kulit kering, anoreksia, dan sakit pada tulang. Pada wanita dewasa biasanya menstruasi dapat berhenti dan bayi dapat mengalami pembesaran kepala. (Endang,2013). Untuk menghindari kelebihan ataupun kekurangan vitamin A sebenarnya gampang, anda cukup memberikan makanan dengan kandungan gizi lengkap. Anda dapat memberikan minuman susu yang mengandung tinggi zat gizi lengkap. Jangan berikan suplemen dosis tinggi sembarangan, berkonsultasilah dengan dokter. (Pudjiadi S, 2003)
Defisiensi vitamin A berpengaruh terhadap sintesis protein, sehingga juga meinpengaruhipertumbuhan sel. Karena itulah maka, anak yang menderita defisiensi vitamin A akan mengalamikegagalan pertumbuhanw. Masalah defisiensi vitamin A berdasarkan Survey Nasional oleh Hellen Keller International (HKI) tahun 1992 dilaporkan, bahwa masih ditemukan 50% anakbalita mempunyai kadar serum retinol <20 ug/dl^. Survey tahun 1995 di Pulau Jawa menunjukkan bahwa prevalensi anak prasekolah yang mempunyai kadar serum retinol <20 ug/dl sebesar 58,41%^, sedangkan survey nasional tahun 2006 ditemukan 14,6%w.(Taufiqurrahman, 2009)
h. Cara Mencegah Kurang Vitamin A
Vitamin A dapat diperoleh dari ASI atau makanan yang berasal dari hewan (susu, hati, daging ayam, telur) atau dari sayuran hijau serta buah bewarna merah atau kuning (mangga, pepaya).
18
Dalam keadaan darurat, dimana makanan sumber alami menjadi sangat terbatas, suplementasi kapsul vitamin A menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. (Gsianturi,2004).
Untuk mencegah kekurangan vitamin A, maka di adakan pemberian vitamin A dosis tinggi secara rutin dua kali dalam satu tahun. Suplementasi vitamin A dosis tinggi yang dilakukan secara berkala pada anak, dimaksudkan untuk menghimpun cadangan vitamin A dalam hati, agar tidak terjadi kekurangan vitamin A dan akibat buruk yang ditimbulkannya seperti kebutaan dan kematian. Cadangan vitamin A dalam hati ini dapat digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan. (Puspitorini, 2008)
i. Metabolisme vitamin dalam tubuh
Vitamin A (dalam bentuk ester dan β-karoten) diserap dari usus halus dan sebagian besar disimpan di dalam hati. Bentuk karoten dalam tumbuhan selain β, adalah α, γ-karoten serta kriptosantin. Setelah dilepaskan dari bahan pangan dalam proses pencernaan, senyawa tersebut diserap oleh usus halus dengan bantuan asam empedu (pembentukan micelle). Vitamin A dan karoten diserap oleh usus dari micelle secara difusi pasif, kemudian digabungkan dengan kilomikron dan diserap melalui saluran limfatik, kemudian bergabung dengan saluran darah dan ditransportasikan ke hati. Di hati, vitamin A digabungkan dengan asam palmitat dan disimpan dalam bentuk retinilpalmitat. Bila diperlukan oleh sel-sel tubuh, retinil palmitat diikat oleh protein pengikat retinol (PPR) atau retinol-binding protein (RBP), yang disintesis dalam hati. Selanjutnya ditransfer ke protein lain, yaitu “transthyretin” untuk diangkut ke sel-sel jaringan. Vitamin A yang tidak
19
digunakan oleh sel-sel tubuh diikat oleh protein pengikat retinol seluler (celluler retinol binding protein), sebagian diangkut ke hati dan bergabung dengan asam empedu, yang selanjutnya diekskresikan ke usus halus, kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui feses. Sebagian lagi diangkut ke ginjal dan diekskresikan melalui urine dalam bentuk asam retinoat. Karoten diserap oleh usus seperti halnya vitamin A, sebagian dikonversi menjadi retinol dan metabolismenya seperti di atas. Sebagian kecil karoten disimpan dalam jaringan adiposa dan yang tidak digunakan oleh tubuh diekskresikan bersama asam empedu melalui feses. Pada diet nabati, di lumen usus, oleh enzim β- karoten 15,15deoksigenase, β- karoten tersebut dipecah menjadi retinal (retinaldehid), yang kemudian direduksi menjadi retinol oleh enzim retinaldehid reduktase. Pada. diet hewani, retinol ester dihidrolisis oleh enzim esterase dari pankreas, selanjutnya diabsorbsi dalam bentuk retinol, sehingga diperlukan garam empedu. Proses ini dijelaskan dalam gambar berikut.
Proses di atas sangat terkontrol, sehingga tidak dimungkinkan produksi vitamin A dari karoten secara berlebihan. Tidak seluruh karoten dapat dikonversi menjadi vitamin A, sebagian diserap utuh dan masuk ke dalam sirkulasi, hal ini akan digunakan tubuh sebagai antioksidan. Beberapa hal yang menyebabkan karoten gagal dikonversi menjadi vitamin A, antara lain (1) penyerapan tidak sempurna ; (2) konversi tidak 100%, salah satu sebab adalah diantara karoten lolos ke saluran limfe, dan (3) pemecahan yang kurang efisien.
Absorbsi vitamin larut lemak yang normal ditentukan oleh absorbsi normal dari lemak. Gangguan absorbsi lemak yang disebabkan oleh gangguan sistem empedu akan menyebabkan gangguan absorbsi
20
vitamin–vitamin yang larut lemak. Setelah diabsorbsi, vitamin ini dibawa ke hati dalam bentuk kilomikron dan disimpan di hati atau dalam jaringan lemak. Di dalam darah, vitamin larut lemak diangkut oleh lipoprotein atau protein pengikat spesifik (Spesific Binding Protein), dan karena tidal larut dalam air, maka ekskresinya lewat empedu, yang dikeluarkan bersama-sama feses. Vitamin A essensial untuk pertumbuhan, karena merupakan senyawa penting yang menciptakan tubuh tahan terhadap infeksi dan memelihara jaringan epithel berfungsi normal. Jaringan epithel yang dimaksud adalah terutama pada mata, alat pernapasan, alat pencernaan, alat reproduksi, syaraf dan sistem pembuangan urine.
Hubungan antara vitamin A dengan fungsi mata yang normal, perlu mendapat perhatian khusus. Vitamin A berperan dalam sintesis stereoisomer dari retinal yang disebut retinen, yang berkombinasi dengan protein membentuk grup prostetik yang disebut “visual purple”, yang lebih dikenal dengan istilah rodopsin. Jadi vitamin A diperlukan untuk mensintesis rodopsin, yang selalu pecah atau dirusak oleh proses fotokimiawi sebagai salah satu proses fisiologis dalam sistem melihat. Apabila vitamin A pada suatu saat kurang dalam tubuh, maka sintesis ”visual purple” akan terganggu, sehingga terjadi kelainan-kelainan melihat.
2. Zink
Secara kimiawi zink mempunyai keunikan tersendiri karena berfungsi pada sebagai regulator, katalitik, dan struktural yang penting pada berbagaisistem biologi dimana zink berperan pada lebih dari 300 enzim yang terdapat pada bermacam-macam spesies. Zink berperan
21
dalam metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein serta sintesis dan degradasi asam nukleat melalui peranannya pada enzim karbonik anhidrase (metabolisme CO2 dan HCO3), thimidin kinase/DNA dan RNA polimerase (sintesis asam nukleat dan protein). Zink juga berperan dalam stabilisasi struktur protein, asam nukleat, serta integritas organella subseluler seperti proses transport, fungsi imun, dan ekspresi informasi genetik serta perlindungan terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Zink penting untuk berbagai fungsi termasuk pertumbuhan dan perkembangan, fungsi reproduksi, fungsi sensori dan kekebalan, antioksidan, serta stabilisasi membran.
Kandungan zink didalam tubuh manumur sekitar 1 2,5 gram, terdapat pada tulang, gigi, rambut, kulit, hati, otot, dan testis. Tidak ada organ tubuh yang khusus sebagai tempat penyimpanan zink; zink terdapat pada semua sel dan jaringan tubuh dalam konsentrasi yang cukup tinggi.20,21 Konsep nutrien tipe I dan tipe II dapat menjelaskan mengenai pengertian homeostasis dan distribusi dari zink. Nutrien tipe I terlibat dalam fungsi metabolik spesifik tertentu, bila terjadi defisiensi akan menimbulkan tanda klinis spesifik. Nutrien tipe mempunyai tempat penyimpanan didalam tubuh dan bila terjadi keadaan defisiensi maka konsentrasi di jaringan akan menurun. Sebaliknya, nutrien tipe II merupakan bahan pokok komposisi sel dan sangat penting untuk fungsi dasar jaringan.
Defisiensi nutrien tipe II menyebabkan disfungsi metabolik secara umum yang pada akhirnya memicu katabolisme. Konsentrasi nutrien tipe II di jaringan tidak akan menurun bila terjadi defisiensi. Karena nutrien tipe II tidak mempunyai tempat penyimpanan maka diperlukan masukan terus-menerus dalam jumlah kecil. Respon utama
22
defisiensi nutrien tipe II adalah gagal tumbuh dan berkurangnya volume jaringan (loss of tissue).
Contoh :
nutrien tipe II adalah asam amino, nitrogen, kalium, magnesium dan zink.
23 a. Sumber zat zink
Untuk mencukupi kebutuhan zink dapat di ambil dari sumber-sumber alami baik hewani maupun nabati seperti daging merah, daging unggas, makanan laut (seafood), tiram, produk susu, kacang-kacangan, sereal, dan biji labu kuning. Selain itu, sayuran hijau seperti bayam, asparagus, kemangi, brokoli, dan kacang polong merupakan makanan sehat sumber zink. Berikut adalah tabel beberapa kandungan zat zink (Zink) dalam bahan makanan.
Sumber : Sinlye Evan, 2012
Pemberian suplementasi Zink dan Fe juga dipengaruhi oleh asupan makanan. Zink banyak terdapat dalam daging, tiram, ikan kering, hati dan susu juga merupakan sumber makanan yang kaya akan zink. Selain itu makanan yang mengandung fitat dan makanan berserat menghalangi absorbsi Zink (Eschleman, 1996). Beberapa
24
bahan makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zink dan besi adalah asam askorbat dan sitrat (pepaya, jambu biji, pisang, mangga, semangka, pir, jeruk, lemon, apel, jus nenas, kembang kol, dan limau), asam malak dan tartrat (wortel, kentang, tomat, labu, kol, dan lobak cina), asam amino sistein (daging, kambing, daging babi, hati, ayam, dan ikan), dan produk-produk fermentasi (kecap kacang kedele, acar/asinan kubis).
Beberapa makanan yang dapat menghambat penyerapan zink dan besi adalah fitat (beras, terigu, gandum, kacang kedele, susu coklat, kacang dan tumbuhan polong), polifenol (teh, kopi, bayam, kacang, tumbuhan polong, rempah-rempah), kalsium dan fosfat (susu dan keju) (Gillespie, 1998).
Seperti rendahnya bioavailibilitas dari zat gizi besi Bering disebabkan oleh tingginya asupan fitat yang banyak terkandung di dalam padi-padian dan kacang- kacangan yang dapat menghambat absorpsi besi. Dan juga disebabkan sedikitnya konsumsi daging yang dapat menyediakan besi yang bisa diserap dalam bentuk heme iron (zat besi yang berasal dari hewani) (Ernawati Nasution, 2004).
Jumlah zat zink yang dibutuhkan oleh anak berbeda – beda. Setiap tahapan umur anak-anak mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda terhadap asupan zat zink, tetapi secara umum jumlah asupan yang di rekomendasikan adalah sebagai berikut :
25 Sumber : Sinlye Evan, 2012
b. Absorbsi dan metabolisme
Proses absorbsi zink didalam tubuh digambarkan sebagai suatu keseimbangan yang dinamis. Zink diabsorbsi di usus halus dan sebagian kecil di lambung dan usus besar. Jejunum merupakan tempat absorbsi zink yang maksimal, sedangkan kolon tidak berperan penting. Ligan-ligan dengan berat molekul yang rendah seperti asarn amino dan asam-asam organik lainnya dapat meningkatkan daya larut dan memudahkan absorbsi. Sistein dan metionin meningkatkan kemampuan absorbsi zink dengan cara membentuk kompleks yang stabil dengan zink. Zink diabsorbsi lebih efisien dalam jumlah kecil. Seseorang dengan kadar zink rendah akan mengabsorbsi zink lebih efisien bila dibandingkan dengan kadar zink tinggi.
Secara fisiologis, zink diabsorbsi melalui dua proses yaitu uptake zink dari lumen gastrointestinal ke dalam enterosit (atas) dan transport zink dari enterosit ke dalam sistem sirkuler (bawah).
26
Didalam lumen usus, terjadi uptake zink ke dalam enterosit sebagai zink bebas (free-Zink) atau sebagai zink terikat pada ikatan berat molekul rendah (low molecular weight-ZinkZink-LMW). Uptake free-Zink atau Zink-LMW melibatkan protein transport pembawa mediated dan non-mediated (atas). Didalam enterosit, zink transport terlibat pada protein transport transeluler kaya sistein. Metalotionin bersaing dengan protein transport ekstrasel untuk zink setelah sebelumnya berperan pada absorbsi zink. Pengeluaran zink dari enterosit masuk ke dalam sistem sirkuler merupakan mekanisme aktif (bawah).
Dalam jumlah kecil zink dan transportnya akan berdifusi kemudian terjadi transport paraseluler zink bebas (atas). 12 Zink yang berasal dari diit akan bercampur dengan zink hasil sekresi pankreas dan hasil deskuamasi usus yang mengandung zink di dalam lumen intestinal kemudian melintasi permukaan serosa dan secara aktif di sekresi ke dalam sirkulasi portal dan akan diikat oleh albumin. Mekanisme ini bersifat reversibel. Pada kadar zink yang cukup, peningkatan pool zink dapat memicu sintesis metalotionin sel usus yang dapat mengikat kelebihan zink intraseluler. Setelah masuk ke dalam enterosit, zink diikat oleh protein intestinal kaya sistein (cystein rich intestinal protein CRIP) yang memindahkan zink ke metalotionin atau melintasi sisi serosa enterosit untuk berikatan dengan protein plasma (albumin) masuk ke sirkulasi portal dan terkonsentrasi di hati. Komponen plasma lain yang mengandung zink 2-makroglobutin, transferin, dan asam amino khususnya sistein dan histidin.
27
Distribusi zink yang telah diabsorbsi ke jaringan ekstrahepatik terutama terjadi didalam plasma yang mengandung sekitar 3 mg (0,1%) dari kadar total zink didalam tubuh. Zink terikat longgar dengan albumin dan asam amino, yang bertanggung jawab pada proses transport zink dari hati ke jaringan. Pertukaran zink dari plasma ke dalam jaringan cepat terjadi guna memelihara konsentrasi plasma zink yang relatif konstan.
Zink dikeluarkan dari tubuh melalui tinja, urin, dan jaringan yang terlepas termasuk kulit, rambut, dan sel-sel mukosa, pertumbuhan kuku, menstruasi dan ejakulasi. Sebagian besar zink diekskresi melalui tinja (90%) dan sekitar 0,5 0,8 mg/hari zink dikeluarkan melalui urin setiap harinya. Kehilangan zink melalui permukaan kulit, keringat, dan rambut hanya sekitar 1-5 mg/hari, selain itu dapat melalui sekresi semen dan menstruasi.30,31 Ada 4 transporter zink didalam proses metabolisme tingkat seluler yang diberi nama ZinkT-1, ZinkT-2, ZinkT-3, dan ZinkT-4. ZinkT-1 diekspresikan di jaringan, termasuk usus, ginjal, dan hati. Ekspresi ZinkT-1 di usus banyak dijumpai di permukaan basolateral dari villi duodenum dan jejunum. ZinkT-2 terutama dijumpai di usus, ginjal, dan testis. Sedangkan 3 terbatas pada otak dan testis. ZinkT-4 banyak terdapat pada kelenjar payudara dan kemungkinan