ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PESERTA DIDIK
DALAM MENYELESAIKAN SOAL TRIGONOMETRI PADA KELAS X MIADI SMA NEGERI 1 LUWUK
Edy Wibowo UNTIKA Luwuk
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik pada kelas X MIA4 di SMA Negeri 1 Luwuk. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 32 peserta didik yang diberikan soal tes tertulis selanjutnya dipilih 3 orang responden yaitu peserta didik yang dikategorikan berdasarkan hasil tes yaitu peserta didik dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah untuk dilakukan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan soal trigonometri; 1) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi, sedang dan rendah mampu memahami masalah, 2) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi dan sedang mampu menyusun rencana penyelesaian masalah, adapun peserta didik dengan kemampuan rendah belum mampu menyusun rencana penyelesaian masalah, 3) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi dan sedang mampu melaksanakan rencana penyelesaian masalah, adapun peserta didik dengan kemampuan rendah belum mampu melaksanakan rencana penyelesaian masalah dan 4) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi mampu mengevaluasi hasil yang diperoleh, adapun peserta didik dengan kemampuan sedang dan rendah belum mampu mengevaluasi hasil yang diperoleh.
Kata kunci: Pemecahan Masalah Matematika, Trigonometri
PENDAHULUAN
Salah satu bagian dari kemampuan matematika adalah memecahkan masalah matematika. Karena pada dasarnya dalam mempelajari matematika seseorang tidak terlepas dari masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika
ditandai adanya kemampuan dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Bell (dalam Fadilah, 2011:5) menyatakan bahwa pertanyaan merupakan masalah
bagi seseorang bila ia menyadari
keberadaaan situasi itu, mengakui bahwa situasi itu memerlukan tindakan dan tidak
dengan segera dapat menemukan
pemecahan atau penyelesaian situasi tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut
Hudoyo (dalam Fadilah, 2011:7)
menyatakan bahwa di dalam matematika
suatu soal atau pertanyaan akan
merupakan masalah apabila tidak terdapat aturan atau hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban tersebut.
Dari kedua pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa suatu pertanyaan
merupakan suatu masalah bagi peserta didik jika ia tidak dapat dengan segera
menjawab pernyataan tersebut atau
dengan kata lain peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan prosedur rutin yang telah diketahuinya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Soedjadi dalam Somakim (2007:2) bahwa pendidikan matematika memiliki dua tujuan besar yang meliputi (1) tujuan yang bersifat formal, yang memberi tekanan
pada penataan nalar anak serta
pembentukan pribadi anak dan (2) tujuan yang bersifat material yang memberi tekanan pada penerapan matematika serta
kemampuan memecahkan masalah
matematika . Berdasarkan penjelasan
diatas bahwa pemecahan masalah
merupakan salah satu doing math yang erat dengan kaitannya dengan karekteristik matematika . Sumarno dalam Fauziah (2010 :1) pemecahan masalah merupakan hal yang penting sehingga menjadi tujuan umum pengajaran matematika bahkan sebagai jantung matematika Pentingnya
276
PEDAGOGIKA Jurnal Ilmu Pendidikankemampuan pemecahan masalah juga
diungkapkan oleh Branca (dalam
Herlambang, 2013:5), bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik memiliki keterkaitan dengan tahapan menyelesaikan masalah matematika.
Polya (1957 : 6 – 12) dimaknai bahwa pemecahan masalah matematika paling tidak memiliki empat tahapan , pertama mengidentifikasi masalah (understanding the problem) dalam memecahnkan masalah yang dihadapi siswa dengan mengidentifikasi fakta dan kondisi masalah. Mengidentifikasi apayang akan dicari dan
menstranfer masalah menjadi situasi
matematis. Pertanyaan pertanyaan berikut dapat digunakan untuk memahami soal,
apa yang ditanya? Dapatkah kita
menyatakan kembali masalahnya?. Kedua Merencanakan penyelesaian (devising a plan) rencana strategi dapat dipilih dari beberapa pilihan strategi yang dipikirkan dengan berpatokan dari fakta dan kondisi yang tersedia dalam soal dan perkiraan penyelesaian soal. Pertanyaan-pertanyaan
berikut dapat membantu siswa
merencanakan penyelesaian soal, apa yang diketahui? Apa yang perlu kita buat untuk memecahkan soal? Apakah kita membutuhkan lebih banyak informasi? Bagaimana kita memperolehnya?. Ketiga Melaksanakan rencana (carrying out the plan), siswa melaksanakan strategi penyelesaian yang telah direncanakan sampai memperoleh jawaban. keempat Memeriksa kembali proses dan hasil (looking back) ,siswa melaksanakan pengujian jawaban. Langkah terakhir ini menyangkut membandingkan jawaban atau menguji jawaban apakah sesuai dengan
soal. Dua pertanyaan berikut dapat
membantu kita mengecek jawaban soal. Apakah masuk akal jawabannya? Haruskah kita mengulang rencana stretegi untuk memenuhi semua fakta dan kondisi pada soal?
Meskipun pemecahan masalah
merupakan aspek yang penting, peserta didik masih mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah matematika. Menurut Lambertus (dalam Herlambang, 2013:6) kelemahan peserta didik ialah dalam menganalisis soal, memonitor proses penyelesaian dan mengevaluasi hasilnya atau dengan kata lain peserta didik tidak mengutamakan teknik penyelesaian tetapi lebih memprioritaskan hasil akhir.
Kenyataan di lapangan menunjukkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dalam belajar matematika belum
terlatih dengan baik. Dalam proses
pembelajaran peserta didik hanya
menghafal pengetahuan yang diberikan
oleh guru dan kurang mampu
menggunakan pengetahuan tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata. Sehingga jika peserta didik menemui soal
yang berkaitan dengan pemecahan
masalah, mereka tidak mampu menentukan masalah dan merumuskannya.
Berdasarkan hasil wawancara
terhadap guru mata pelajaran matematika SMA Negeri 1 Luwuk kelas X, diperoleh informasi bahwa kemampuan peserta didik
dalam memahami masalah seperti
informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam suatu permasalahan masih kurang.
Mereka juga masih kesulitan dalam
merencanakan dan menentukan masalah serta langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut. Selain itu, mereka juga masih kesulitan
dalam menyelesaiakan dan
menginterpretasikan hasil. Dalam
mengerjakan soal yang memuat
permasalahan, peserta didik cenderung untuk menggunakan rumus atau cara cepat yang sudah biasa digunakan daripada menggunakan teknik penyelesaian soal,
sehingga mengakibatkan kemampuan
pemecahan masalah peserta didik dinilai masih rendah.
Trigonometri merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran matematika yang diajarkan pada peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Dasar dari trigonometri adalah konsep kesebangunan segitiga siku-siku.Salah satu
submateri dalam trigonometri ialah
perbandingan trigonometri dan teorema Phytagoras. Dalam menyelesaikan soal- soal tersebut diperlukan pemahaman dan penguasaan terhadap bangun segitiga siku- siku, pemahaman terhadap perbandingan trigonometri sinus, cosinus dan tangen, menentukan besar sudut serta ketelitian sehingga peserta didik tidak hanya sekedar menghafal rumus yang ada. Permasalahan dalam trigonometri juga erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Pada kenyataannya dalam menyelesaikan soal-soal trigonometri peserta didik mengalami berbagai kesulitan seperti kesulitan memahami teorema Phytagoras,