• Tidak ada hasil yang ditemukan

275 Volume 8 Nomor 2 Juni

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PESERTA DIDIK

DALAM MENYELESAIKAN SOAL TRIGONOMETRI PADA KELAS X MIADI SMA NEGERI 1 LUWUK

Edy Wibowo UNTIKA Luwuk

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik pada kelas X MIA4 di SMA Negeri 1 Luwuk. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 32 peserta didik yang diberikan soal tes tertulis selanjutnya dipilih 3 orang responden yaitu peserta didik yang dikategorikan berdasarkan hasil tes yaitu peserta didik dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah untuk dilakukan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan soal trigonometri; 1) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi, sedang dan rendah mampu memahami masalah, 2) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi dan sedang mampu menyusun rencana penyelesaian masalah, adapun peserta didik dengan kemampuan rendah belum mampu menyusun rencana penyelesaian masalah, 3) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi dan sedang mampu melaksanakan rencana penyelesaian masalah, adapun peserta didik dengan kemampuan rendah belum mampu melaksanakan rencana penyelesaian masalah dan 4) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah tinggi mampu mengevaluasi hasil yang diperoleh, adapun peserta didik dengan kemampuan sedang dan rendah belum mampu mengevaluasi hasil yang diperoleh.

Kata kunci: Pemecahan Masalah Matematika, Trigonometri

PENDAHULUAN

Salah satu bagian dari kemampuan matematika adalah memecahkan masalah matematika. Karena pada dasarnya dalam mempelajari matematika seseorang tidak terlepas dari masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika

ditandai adanya kemampuan dalam

menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Bell (dalam Fadilah, 2011:5) menyatakan bahwa pertanyaan merupakan masalah

bagi seseorang bila ia menyadari

keberadaaan situasi itu, mengakui bahwa situasi itu memerlukan tindakan dan tidak

dengan segera dapat menemukan

pemecahan atau penyelesaian situasi tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut

Hudoyo (dalam Fadilah, 2011:7)

menyatakan bahwa di dalam matematika

suatu soal atau pertanyaan akan

merupakan masalah apabila tidak terdapat aturan atau hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban tersebut.

Dari kedua pendapat tersebut, dapat

disimpulkan bahwa suatu pertanyaan

merupakan suatu masalah bagi peserta didik jika ia tidak dapat dengan segera

menjawab pernyataan tersebut atau

dengan kata lain peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan prosedur rutin yang telah diketahuinya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Soedjadi dalam Somakim (2007:2) bahwa pendidikan matematika memiliki dua tujuan besar yang meliputi (1) tujuan yang bersifat formal, yang memberi tekanan

pada penataan nalar anak serta

pembentukan pribadi anak dan (2) tujuan yang bersifat material yang memberi tekanan pada penerapan matematika serta

kemampuan memecahkan masalah

matematika . Berdasarkan penjelasan

diatas bahwa pemecahan masalah

merupakan salah satu doing math yang erat dengan kaitannya dengan karekteristik matematika . Sumarno dalam Fauziah (2010 :1) pemecahan masalah merupakan hal yang penting sehingga menjadi tujuan umum pengajaran matematika bahkan sebagai jantung matematika Pentingnya

276

PEDAGOGIKA Jurnal Ilmu Pendidikan

kemampuan pemecahan masalah juga

diungkapkan oleh Branca (dalam

Herlambang, 2013:5), bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik memiliki keterkaitan dengan tahapan menyelesaikan masalah matematika.

Polya (1957 : 6 – 12) dimaknai bahwa pemecahan masalah matematika paling tidak memiliki empat tahapan , pertama mengidentifikasi masalah (understanding the problem) dalam memecahnkan masalah yang dihadapi siswa dengan mengidentifikasi fakta dan kondisi masalah. Mengidentifikasi apayang akan dicari dan

menstranfer masalah menjadi situasi

matematis. Pertanyaan pertanyaan berikut dapat digunakan untuk memahami soal,

apa yang ditanya? Dapatkah kita

menyatakan kembali masalahnya?. Kedua Merencanakan penyelesaian (devising a plan) rencana strategi dapat dipilih dari beberapa pilihan strategi yang dipikirkan dengan berpatokan dari fakta dan kondisi yang tersedia dalam soal dan perkiraan penyelesaian soal. Pertanyaan-pertanyaan

berikut dapat membantu siswa

merencanakan penyelesaian soal, apa yang diketahui? Apa yang perlu kita buat untuk memecahkan soal? Apakah kita membutuhkan lebih banyak informasi? Bagaimana kita memperolehnya?. Ketiga Melaksanakan rencana (carrying out the plan), siswa melaksanakan strategi penyelesaian yang telah direncanakan sampai memperoleh jawaban. keempat Memeriksa kembali proses dan hasil (looking back) ,siswa melaksanakan pengujian jawaban. Langkah terakhir ini menyangkut membandingkan jawaban atau menguji jawaban apakah sesuai dengan

soal. Dua pertanyaan berikut dapat

membantu kita mengecek jawaban soal. Apakah masuk akal jawabannya? Haruskah kita mengulang rencana stretegi untuk memenuhi semua fakta dan kondisi pada soal?

Meskipun pemecahan masalah

merupakan aspek yang penting, peserta didik masih mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah matematika. Menurut Lambertus (dalam Herlambang, 2013:6) kelemahan peserta didik ialah dalam menganalisis soal, memonitor proses penyelesaian dan mengevaluasi hasilnya atau dengan kata lain peserta didik tidak mengutamakan teknik penyelesaian tetapi lebih memprioritaskan hasil akhir.

Kenyataan di lapangan menunjukkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dalam belajar matematika belum

terlatih dengan baik. Dalam proses

pembelajaran peserta didik hanya

menghafal pengetahuan yang diberikan

oleh guru dan kurang mampu

menggunakan pengetahuan tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata. Sehingga jika peserta didik menemui soal

yang berkaitan dengan pemecahan

masalah, mereka tidak mampu menentukan masalah dan merumuskannya.

Berdasarkan hasil wawancara

terhadap guru mata pelajaran matematika SMA Negeri 1 Luwuk kelas X, diperoleh informasi bahwa kemampuan peserta didik

dalam memahami masalah seperti

informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam suatu permasalahan masih kurang.

Mereka juga masih kesulitan dalam

merencanakan dan menentukan masalah serta langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut. Selain itu, mereka juga masih kesulitan

dalam menyelesaiakan dan

menginterpretasikan hasil. Dalam

mengerjakan soal yang memuat

permasalahan, peserta didik cenderung untuk menggunakan rumus atau cara cepat yang sudah biasa digunakan daripada menggunakan teknik penyelesaian soal,

sehingga mengakibatkan kemampuan

pemecahan masalah peserta didik dinilai masih rendah.

Trigonometri merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran matematika yang diajarkan pada peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Dasar dari trigonometri adalah konsep kesebangunan segitiga siku-siku.Salah satu

submateri dalam trigonometri ialah

perbandingan trigonometri dan teorema Phytagoras. Dalam menyelesaikan soal- soal tersebut diperlukan pemahaman dan penguasaan terhadap bangun segitiga siku- siku, pemahaman terhadap perbandingan trigonometri sinus, cosinus dan tangen, menentukan besar sudut serta ketelitian sehingga peserta didik tidak hanya sekedar menghafal rumus yang ada. Permasalahan dalam trigonometri juga erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya dalam menyelesaikan soal-soal trigonometri peserta didik mengalami berbagai kesulitan seperti kesulitan memahami teorema Phytagoras,

277