Anggota DPR
1. Vonis Ringan Para Tersangka
Kasus ini kemudian berakhir di pengadilan. Setelah melakukan sidang berpekan-pekan, pada Kamis 28 Juli 2011, Majelis hakim Pengadilan Negeri Serang, Banten akhirnya menjatuhkan hukuman 3 sampai 6 bulan penjara kepada 12 terdakwa yang dinyatakan terbukti melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik. Putusan Pengadilan Negeri Serang ini tidak jauh berbeda dengan tuntutan jaksa. Jaksa penuntut umum sebelumnya menuntut para terdakwa dengan tuntutan lima hingga tujuh bulan penjara. Mereka yang divonis itu:
1. Ujang M Arif bin Abuya Surya divonis 6 bulan penjar 2. Endang bin Sidik divonis 6 bulan penjara
3. Muhamad bin Syarif divonis 6 bulan penjara 4. Muhamad Munir divonis 6 bulan penjara 5. Adam Damini divonis 6 bulan penjara
6. Idris alias Idis bin Mahdani divonis 5 bulan 15 hari penjara 7. Dani bin Misra (17 tahun) divonis 3 bulan penjara
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 74 8. Yusri bin Bisri divonis enam bulan penjara
9. Muhamad Rohidin bin Eman divonis 6 bulan penjara 10. Saad Baharuddin divonis 6 bulan penjara
11. Ujang Sahari divonis 6 bulan penjara 12. Yusuf Abidin divonis 6 bulan penjara.
Sementara itu, pada 15 Agustus 2011 majelis hakim Pengadilan Serang juga menghukum enam bulan penjara kepada Deden Sujana, warga Ahmadiyah. Deden dinyatakan bersalah karena dianggap melawan aparat keamanan, menolak dievakuasi dan melakukan penganiayaan terhadap Idris . Deden juga dinilai menjadi pemicu insiden bentrokan Cikeusik. Deden yang juga terluka parah sebelumnya sempat dikabarkan tewas. Jaksa sendiri tak melakukan banding terhadap vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka pelaku kerusuhan di Cikeusik itu.
Ringannya vonis yang dijatuhkan kepada para pelaku tersebut mendapat kecaman dari mana-mana. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menyebut vonis itu terlalu rendah. Direktur Eksekutif Elsam, Indriaswati Dyah Saptaningrum menyatakan, pengadilan telah gagal menjadi benteng terakhir penegakan hukum dan HAM. Elsam menyesalkan rendahnya hukuman itu, Menurut Elsam secara faktual peristiwa Cikeusik ini bukan merupakan peristiwa kejahatan biasa, tapi kejahatan serius.
Suara keprihatinan juga muncul dari DPR. "Bagaimana seseorang pelaku yang menghilangkan tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan? Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi atas tindak kekerasan," kata Eva Sundari anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan. Setara Institute juga mengecam diajukannya Deden sebagai tersangka. Menurut lembaga yang bergerak antara lain dalam bidang penegakan HAM tersebut, Deden tak layak dijadikan terdakwa apalagi divonis bersalah karena ia justru korban penyerangan berutal itu.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 75
Memerangi Human Trafficking
ternational Organization for Migration (IOM) mengumumkan hasil penelitian yang sangat mengejutkan. Dari penelitian yang mereka lakukan di berbagai belahan dunia, Indonesia disebut menempati posisi teratas sebagai negara asal korban perdagangan manusia. Hingga Juni 2011 lalu, IOM mencatat terdapat 3.909 korban perdagangan manusia yang sebagian besar merupakan perempuan.
"Masing-masing 90 persen perempuan dan 10 persen laki-laki dalam kategori dewasa. Sedangkan untuk korban usia anak, 84 persen perempuan dan 16 persen laki-laki," kata Menteri Negera Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar di Jakarta saat membuka acara peluncuran proyek empower di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis, 3 November 2011.
Menurut Linda Gumelar, Pemerintah sangat serius memberantas kejahatan human trafficking ini. “Salah satunya dengan diterbitkannya UU No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang serta dibentuknya gugus tugas tingkat pusat tentang pencegahan dan penanganan kasus yang sama lewat Perpres No 69 tahun 2008," kata Linda.
UNICEF, seperti dikutip humantrafficking.org., memperkirakan ada sekitar 100 ribu perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam lalu-lintas perdagangan manusia. Menurut UNICEF, sekitar 30 persen dari jumlah tersebut adalah perempuan di bawah umur 18 tahun yang dipekerjakan di “industri” prostitusi, baik di lingkup nasional maupun internasional. Di lingkup internasional, umumnya negara yang dijadikan tujuan ialah Malaysia, Singapura, Taiwan, Japan, Hongkong, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Perdagangan manusia (human trafficking) telah menjadi persoalan sangat serius di Indonesia. Situs berita online The JakartaGlobe.Com menyebut untuk tahun 2010 saja tercatat hampir 4.000 kasus human trafficking terjadi di Indonesia, yang mayoritas melibatkan perdagangan anak di bawah umur untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks di luar negeri. Secara nasional, dari jumlah keseluruhan kasus human trafficking yang terjadi, sebanyak 23 persen berasal dari Jawa Barat.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 76 Situs berita online, Antaranew.com, menyebutkan Sukabum merupakan daerah terbesar kedua di Indonesia, setelah Indramayu, sebagai daerah yang paling banyak terjadi kasus perdagangan manusia,
Elis Nurbaeti, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi kepada wartawan di Sukabumi, 7 Desember 2011, menyatakan, selama setahun terakhir lembaganya sudah menangani sebanyak 68 kekerasan terhadap wanita dan anak. "Dari 68 kasus tersebut, 40 persennya merupakan kasus perdagangan manusia," katanya. Menurut Elis, sampai saat ini sudah 27 kasus perdagangan manusia yang ditangani oleh P2TP2A. Kebanyakan korban dijual ke Malaysia dan Batam dengan iming-iming bekerja dengan gaji yang cukup besar.
Sebagian besar korban perdagangan manusia adalah perempuan
Tini binti Hari, 24 tahun, warga Kampung Babakan Genteng, RR/RW. 04/06, Desa Lembursawah, Kecamatan Cicantayang, Kabupaten Sukabumi dipulangkan ke keluarganya dalam kondisi terbungkus peti mati. Seperti diberitakan Republika (17 Oktober 2011) dan Pos Kota (20 Oktober 2011), Tini adalah korban human trafficking. Di bulan Agustus 2010, Tini berangkat ke Malaysia, ia dijual kepada seorang majikan di Johor Baru, Malaysia, oleh sebuah perusahaan yang tidak jelas. Baru sekitar setahun Tini di negeri jiran itu, pihak keluarga kemudian mendapat kabar kematiannya dari pemerintah desa dengan keterangan sederhana: mengidap TBC.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 77 Apa yang menimpa Tini hanya sebagian dari serangkaian panjang cerita sedih dan tragis kasus “kanibalisme” manusia atas sesamanya ini. Ini pula, misalnya, yang menimpa Yanti, 36 tahun, salah satu dari 27 perempuan korban perdagangan manusia asal Kampung Gunungguruh RT 34 RW 17, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, kabupaten Sukabumi. Akibat, tertipu iming-iming dipekerjakan dengan gaji besar di luar negeri, Yanti dijebak menjadi pekerja seks komersial di Malaysia. Bersama sejumlah perempuan lainnya Yanti dibawa ke negeri jiran tersebut.
Para perempuan itu dijadikan pekerja seks untuk menopang industri pariwisata di sana. Untuk mereka dengan modal wajah yang cantik dan suara cukup merdu akan ditempatkan di kafe-kafe. Sementara mereka yang lain, biasanya akan dilempar ke kawasan perkebunan sawit, dijadikan perempuan-perempuan penghibur para buruh dan mandor perkebunan.
Faktor kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan serta keinginan untuk mendapatkan penghasilan besar dan kekayaan secara cepat membuat persoalan human trafficking menjadi persoalan yang rumit dan kompleks. Eva Biaudet, anggota Forum Tetap PBB untuk Masyarakat Adat (UNPFII), satu badan penasehat untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), yang telah bekerja di 66 negara menangani masalah human trafficking, menyebutkan bagaimana sulitnya menghentikan perdagangan manusia. ”Tidak seorangpun bisa menyelesaikan masalah itu," kata Biaudet.
Saksi dan Korban Enggan Melapo
Apa yang dinyatakan Eva Biaudet menunjukkan perlunya keterpaduan untuk memerangi human trafficking. Terlebih, persoalannya tidak hanya didasari faktor ekonomi dan sosial, tetapi kesulitan untuk memerangi kasus human trafficing ini juga terkait dengan soal kultural. Sulitnya menghentikan derasnya laju perdagangan manusia seperti yang dialami Yanti, menurut Elis Nurbaeti, salah satunya disebabkan banyak saksi dan korban human trafficking enggan melaporkan apa yang mereka alami.
Faktor pertimbangan malu menjadi kendala kultural yang membuat para ”slave holder” makin leluasa menjalankan aksinya. Mendatangi desa-desa yang terjebak dalam kemiskinan rumit, membujuk rayu orang-orang desa dengan iming-iming pekerjaan di kota dan di luar negeri bergaji besar.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 78 Membebaskan mereka yang telah terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia di luar negeri menjadi persoalan yang sama sulitnya, bahkan bisa jadi lebih sulit dibandingkan dengan upaya membebaskan pekerjal Indonesia yang terjebak kasus hukum dan diancam hukuman mati di Timur Tengah. Pendekatan hukum dan kultural beserta negosiasi dengan sejumlah pihak terkait seperti yang jamak dilakukan untuk kasus TKI bermasalah jelas tidak cukup. Mereka yang telah menjadi ”komoditi” di dalam bisnis prostitusi di luar negeri tersebut berada dibawah penguasaan para sindikat kejahatan perdagangan manusia internasional yang impersonal sifatnya.
Di beberapa negara Asia Tenggara yang juga terhitung tinggi kasus human trafficking-nya seperti, misalnya, Kamboja, pelibatan sejumlah NGOs international sudah dilakukan. Upaya ini cukup berhasil di tingkat preventif, namun tetap sulit untuk menembus jaringan kejahatan perdagangan manusia yang berifat international tersebut. SISHA, salah satu NGOs internasional yang bekerja sama dengan NGO lokal di Kamboja memasifkan kampaye ke kalangan remaja sebagai salah satu upaya preventif mengatasi permasalahan human trafficking, misalnya dengan menyelenggarakan MTV EXIT (End Exploitation and Trafficking) yang melibatkan kemitraan global.
Untuk Indonesia, khususnya daerah Indramayu dan Sukabumi yang menempati tingkat pertama dan kedua tertinggi kasus human trafficking secara nasional, upaya preventif masih terbatas dan bisa dikatakan tidak melibatkan jejaringan baik yang bersifat nasional maupun internasional. Padahal, masalah human trafficking adalah permasalahan global yang harus disikapi dengan pendekatan yang bersifat nasional dan transnasional.
Langkah preventif secara secara holistik dan lintas sektoral, melibatkan berbagai institusi dan lembaga terkait, mulai dari pemerintah setempat, kepolisian, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kesehatan, dan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKPP), mutlak dilakukan. Sementara langkah penanganan yang bersifat aksi pemulangan perempuan-perempuan Indonesia yang masih terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia dan membongkar jaringan sindikat kejahatan perdagangan manusia tersebut harus melibatkan tidak saja kepolisian lokal dan nasional, juga lembaga seperti Interpol, Departemen Pendidikan, Departemen Sosial, dan Komisi Perlindungan Anak, karena banyaknya anak-anak yang menjadi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 79 korban perdagangan lintas negara dan korban kejahatan pedofilia, juga Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
P2TP2A misalnya, sampai hari baru dapat menyediakan fasilitas rumah singgah untuk para korban perdagangan manusia. Keberadaan rumah singgah ini bisa dijadikan tempat pengaduan dan pelaporan. Namun, masalahnya pengaduan dan pelaporan adalah persoalan lain yang tak kalah rumitnya. Kerumitan ini terkait bukan saja kendala pada kultural yang disebut di atas, tetapi juga ada ketakutan dan trauma yang menjadi kendala sosial yang psikologis sifatnya. Bukan rahasia umum, bila lalu-lintas perdagangan manusia yang melibatkan aktor-aktor (slaves holder) mulai dari tingkatan lokal, nasional, sampai internasional itu telah membentuk jaringkan sindikat kejahatan yang rapi dan demikian terorganisir. Di tingkat lokal, ada para ”pemain kecil” yang disebut ”para pemetik”, dengan tugasnya mencari ’kaki-tangan’ yang biasanya memiliki kedekatan personal dan emosional dengan calon korban.
Kasus yang cukup menghebohkan di Amerika Serikat di tahun 2009 lalu misalnya, melibatkan orang terdekat korban yang mengiming-imingi bekerja dan studi di Amerika Serikat. Sejumlah perempuan belia pun diselundupkan dari beberapa negara di kawasan Afrika untuk kemudian dipekerjakan di ”industri” prostitusi. Untuk kasus di Sukabumi dan Indramayu, modul yang digunakan kurang lebih sama. ”Para pemetik” menggunakan jasa sejumlah orang terdekat dari calon korban. Iming-iming pekerjaan dengan gaji besar tetap menjadi ”bahasa persuasi” yang efektif untuk menjerat calon korban yang memang berada dalam lingkaran kemiskinan ditambah tingkat pendidikan yang rendah.
Adanya kesamaan modus operandi itu sebenarnya sudah mengindikasikan adanya rantai kesalinghubungan kejahatan human trafficking antarnegara. Dengan kata lain, kasus perdagangan manusia sebagaimana yang terjadi di Sukabumi merupakan kejahatan serius yang bersifat dan berjejaring transnasional dengan tingkat ancaman yang tidak kurang seriusnya bagi para saksi tersangka dan saksi korban.
Sebagaimana dinyatakan Eva Biaudet, kasus human trafficking tidak bisa disikapi secara biasa dan sektoral yang hanya ditangani oleh otoritas lokal seperti kepolisian, tetapi, harus
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 80 melibatkan kerjasama yang terintegrasi antara daerah yang menjadi pemasok, otoritas lokal dan nasional, negara yang menjadi tujuan, dan social networking seperti NGOs nasional dan internasional dan yang tidak kalah pentingnya adanya peran lembaga yang dapat menjadi ”katup pengaman” para para saksi dan korban.
Kesuksesan menggagalkan kasus human trafficking, seperti di Pontianak pada bulan Agustus 2011, memang cukup memuaskan. Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Kepolisian Daerah Kalimatan Barat berhasil menggagalkan penjualan manusia. Korban adalah dua gadis muda, Lis, 24 tahun dan Lin,18 tahun asal Kampung Cibungur, Desa Warung Kiara, Kabupaten Mojokerto Sukabumi, Jawa Barat. Setelah disekap selama beberapa hari, kedua korban rencannya akan dijual ke Brunei Darussalam dengan iming-iming gaji 250 dollar setiap bulan. Namun, keberhasilan mengungkap kasus ini hanya menghasilkan dua tersangka, Sutisna dan Syukur yang hanya merupakan ”pemain kecil” dalam kejahatan ini, bukan otak pelaku utamanya.
Sebagaimana galib banyak kasus human trafficking yang terbongkar, mereka yang terciduk umumnya memang hanya ”pemain-pemain kecil” di lapangan. Sulitnya untuk membongkar siapa
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 81 aktor yang lebih kuat terkait dengan ketakutan para ”pemain kecil” yang dijadikan tersangka untuk menjadi justice colaborator - tersangka yang mau bekerja sama oleh aparat penegak hukum untuk membongkar kasus dan menyingkap pelaku utama.
Para ”pemain kecil” ini jelas hanya kaki tangan di lapangan, bukan aktor utama. Mereka inilah awal rantai awal untuk menelusuri jaringan hingga pelaku utama kejahatan tersebut. Tapi, kekhawatiran bahwa pengakuan mereka akan mengancam diri dan keluarga mereka, membuat mereka tak berani mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Begitu pun untuk saksi pelapor. Ketakutan tiadanya jaminan keamanan membuat mereka yang mengetahui dan memiliki informasi memilih silent dan menjauhi resiko. Sementara menyangkut saksi korban, rasa sungkan dan trauma yang dialami membuat mereka sangat sulit untuk dijadikan pintu guna membongar rantai perdagangan manusia.
Kasus 27 korban human trafficking di Sukabumi jelas hanya persentase kecil dibandingkan keseluruhan kasus yang sama yang terjadi di Indonesia. Ini hanya puncak dari sebuah gunung es yang dapat diungkap. Sementara kenyataan sebenarnya tersembunyi dengan rapi. Perlu upaya terpadu, dengan melibatkan lembaga dan berbagai institusi terkait untuk mencegah dan memerangi kejahatan human trafficking. Dari tingkat hingga tingkat paling bawah, RW dan RT. Tanpa upaya terpadu, maka kejahatan human trafficking akan terus terjadi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 82
Video Kekerasan TNI di Puncak Jaya
engadilan Militer Jayapura menjatuhkan hukuman penjara 8 sampai 10 bulan penjara kepada tiga tentara yang terbukti melakukan penyiksaan yang terekam video handphone. Putusan itu dijatuhkan pada pada 24 Januari 2011 atau berselang hanya 11 hari sejak pengadilan dimulai pada Kamis 13 Januari 2011.
Ketiga anggota TNI tersebut adalah: Sersan dua Irwan Rizkianto, Prajurit Satu Yakson Agu, dan Prajurit Satu Thamrin Makangiri dari Batalion 753 Kostrad. Tuduhan kepada mereka adalah pelanggaran disiplin militer, bukan penyiksaan. Ketiganya dihukum masing-masing sepuluh bulan, sembilan bulan, dan delapan bulan penjara. "Siapa pun prajurit Kodam XVII/Cenderawasih yang melakukan pelanggaran hukum harus diusut tuntas dan ditindak tegas," kata Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Erfi Triassunu.
Tiga Anggota TNI menjalani persidangan militer
Sidang yang mulai digelar pada 13 Januari itu terbuka untuk umum. Masyarakat dan media dapat menyaksikannya. Menurut Erfi, penyelesaian sidang dilaksanakan secara intensif dan secepatnya sebagai upaya TNI untuk lebih serius menyelesaikan kasus tindakan kekerasan tersebut. TNI, kata Erfi, berkomitmen menegakkan hukum
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 83 Hukuman untuk para prajurit itu sendiri dinilai terlalu ringan oleh Human Rights Watch (HRW). Menurut HRW sistem peradilan militer Indonesia, kurang transparan, tidak independen, dan tidak adil. Selama bertahun-tahun, pengadilan militer Indonesia telah gagal menyelidiki secara memadai dan menghukum secara adil pelaku pelanggaran HAM yang dilakukan prajurit TNI. Tuntutan hukuman yang diajukah pada tersangka pelaku pelanggar HAM, menurut HRW, relatif tidak signifikan sementara hakim militer juga selalu menjatuhkan hukuman ringan.
Penyiksaan Terhadap Korban
Kasus ini bermula ketika Tunaliwor Kiwo, 50 tahun, dan tetangganya, Telangga Gire 30 tahun, mengendarai motor dari kampung mereka, Tinggi Nambut ke Mulia, ibu kota kabupaten Puncak Jaya. Di pos pemeriksaan militer di Kwanggok Nalime, Yogorini, kedua pria itu dihentikan. Menurut pengakuan Kiwo dalam testimoninya, tentara kemudian menangkap dan memukul mereka. Tangan mereka diikat, demikian juga kaki mereka -diikat dengan kawat berduri- lalu diseret ke halaman belakang pos militer.
Kiwo mengaku disekap dan disiksa selama tiga hari. Selama disekap dia dipukul dengan tangan kosong dan pentungan, dijepit jempolnya dengan tang, disekap kepalanya dengan kantong plastik, disundut kelaminnya, dan dilukai bagian tubuh dan kepalanya. Luka-lukanya itu, kata Kiwo, kemudian diolesi cabai. Rekaman testimoni Kiwo tentang penyiksaan tersebut muncul dalam situs jejaring Engage Media.
Selain pengakuan Kiwo, bukti kasus kekerasan yang terjadi itu juga berwujud rekaman video berdurasi 10 menit. Video itu merekam gambar dua pria yang berbicara dengan dialek Lani dengan tangan diikat dipunggung dan tubuh telentang di atas tanah kotor. Kedua korban dikelilingi pria yang membawa senjata dan alat komunikasi. Keduanya dimintai konfirmasi tentang informasi dugaan keberadaan timbunan senjata dan pember ontak OPM. Penduduk Papua sendiri mengidentifikasi lokasi peristiwa tersebut terjadi di sebuah tempat dekat Tinggi Nambut di Kabupaten Puncak Jaya. Kedua pria yang disiksa itu tidak lain Kiwo dan Gire. Data di video menunjukkan, penyiksaan dimulai pukul 13:26 pada 30 Mei, 2010.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 84 Video itu menunjukkan bagaimana Kiwo dilucuti bajunya hingga hanya mengenakan pakaian dalam. Ketika ditanyai tentang senjata, Kiwo menjawab bahwa dia hanya penduduk sipil dari Tinggi Nambut dan tak tahu menahu perihal senjata.
Selang dua menit, salah satu interogator mulai memukul wajahnya dan menginjak dadanya dengan sandal dan sepatus. Video kemudian beralih ke Gire yang telentang di dekat Kiwo ketika salah satu interogator berulangkali menampar wajahnya dan menekankan pisau ke hidung dan lehernya. Kemudian video kembali fokus pada Kiwo, disertai terikan, "Bakar penisnya! ... Bakar penisnya." Kiwo menjerit saat sepotong kayu membara berulang ulang disundutkan ke alat kelaminnya.
Kiwo terus menjerit sampai seorang interogator menodongkan senjata semi-otomatis ke mulutnya dan berkata, "Tutup mulutmu.. tutup mulutmu. Akan kutembak... akan kutembak mulutmu." Kiwo berhent dan kemudian si interogator terdengar berkata: "Kamu jujur ya? Kini tunjukkan senjatamu. Bawa kami ke senjatamu. Saya akan membakar lagi penismu ... di mana senjata itu? Apakah kamu menyimpan di gerejamu? Di rumahmu? Di hutan? Di sungai? dikubur? Katakan saja. Jujur saja. Kami orang yang cinta damai."
Dewan Adat Papua melaporkan tindak kekerasan ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Agustus 2010, setelah mewawancarai Telangga Gire pada bulan Juli. Salah satu anggota Dewan Adat Papua menyatakan bahwa penyiksaan itu mungkin melibatkan anggota batalion Kostrad 753.
Menggapi laporan tersebut Komnas HAM menuntut adanya investigasi khusus atas rekaman itu. Komisioner Komnas HAM, Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, pihaknya akan menyelidiki laporan kekerasan di Papua secara keseluruhan. Video itu hanya merupakan salah satu bagian. "Komnas HAM telah menerima laporan-laporan tentang adanya kekerasan di Papua tiga minggu sebelum video tersebut beredar," kata Yoseph di Kantor Komnas HAM. Salah satu laporan yang diterima Komnas HAM, ditemukannya potongan kepala yang terpisah dari badan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 85 Salah satu warga Papua yang menjadi korban penyiksaan oleh Anggota TNI
Peristiwa penyiksaaan ini menjadi isu internasional. Pada 17 Oktober video penyiksaan atas Kiwo dan Gire beredar di Youtube. Adalah lembaga swadaya masyarakat Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berbasis di Hong Kong, Cina, yang menyebarkannya pada 17 Oktober.
Sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) pun mendesak pemerintah Indonesia untuk menginvestigasi kebenaran dari video itu. Salah satunya adalah Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. "Siapa pun yang terlibat dalam kekerasan ini harus dibawa ke jalur hukum. Publik perlu melihat bahwa keadilan dijalankan," kata Wakil Direktur HRW untuk kawasan Asia, Phil Robertson, dalam situs lembaga independen ini pada 20 Oktober 2010.
Sejak itu kasus video penyiksaan menjadi bahan berita media nasional dan internasional. Luasnya pemberitaan tersebut mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar sidang kabinet terbatas pada 22 Oktober dan setelah itu Menkopolkam Marsekal Djoko Suyanto, mengakui kebenaran video tersebut.
Presiden SBY memerintahkan penyelidikan terhadap penyiksaan yang diduga dilakukan aparat militer tersebut , walau kemudian tidak diumumkan hasilnya. Sementara Dewan Adat Papua kemudian meminta Kiwo memberikan testimoninya serta merekamnya dalam format
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 86