Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 1
Vincentius dan Kasus Pajak Asian Agri
ebagai financial controller Asian Agri Group, Vincentius Amin Sutanto sangat mengetahui lika-liku bagaimana perusahaannya melakukan berbagai manipulasi pajak agar terhindar dari kewajiban membayar pajak negara. Inilah yang kemudian dia laporkan dan beberkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Direktorat Pajak juga media. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menempatkan Vicentius sebagai saksi yang perlu dilindungi karena kesaksiannya penting untuk membongkar kasus kejahatan pajak yang diduga dilakukan oleh Asian Agri Grup, salah satu anak perusahaan Garuda Mas, grup perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto.
Sukanto Tanoto
Kasus kejahatan pajak ini terungkap setelah sebelumnya, pada akhir tahun 2006, Vincent lari ke Singapura karena membobol dana PT Asian Agri Oil and Fats di Singapura US$ 3,1 juta (sekitar Rp 28 miliar). Bersama dua rekannya, Hendry Susilo dan Agustinus Ferry Sutanto, Vincent membuat dua perusahaan untuk menampung dana US$ 3,1 juta dari Asian Agri. Vincent sendiri belum sempat menikmati duit itu. Sedangkan kawan Vincent, Hendry, sempat menarik Rp 200 juta sebelum aksi mereka terbongkar. Vincent kemudian memilih lari ke Singapura. Dia sempat meminta maaf kepada Sukanto Tanoto, walau tak dikabulkan. Sukanto, menurut majalah Forbes Asia, orang terkaya Indonesia pada 2006 dan 2008.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 2 Dari Singapura itulah Vincent membeberkan kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri Grup ke media massa. Beberapa waktu kemudian, ia memilih pulang ke Indonesia. Menyerahkan sejumlah dokumen dan bukti-bukti pelanggaran hukum yang dilakukan Asian Agri ke Komisi Pemberantasan Korupsi sebelum kemudian menyerahkan diri ke polisi dan ditahan di Rumah Tahanan Salemba.
Rumah tahanan Salemba
Vincent mengaku selama menjadi buron selain khawatir terhadap keselamatan dirinya, dia juga khawatir dengan keadaan anak dan istrinya di Indonesia. Dia tahu hal-hal buruk bisa menimpa keluarganya. Apalagi sejumlah teror juga sudah dialami lelaki kelahiran Singkawang 21 Januari 1963 tersebut.
Penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri diduga membuat negara rugi sekitar Rp 1, 3 trilun. Setelah kembali dari Singapura, pada akhir 2006, Vincent menyerahkan dokumen internal Asian Agri Group kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Dokumen itu berisi dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri selama 2002-2005. Komisi Pemberantasan kemudian melimpahkan dokumen tersebut ke Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 3 Berdasarkan laporan Vincent itu Direktorat Pajak melakukan penyelidikan terhadap Asian Agri. Setelah melakukan pemeriksaan dan menelisik dokumen yang diberikan Vincent serta melakukan penyitaan terhadap lebih dari seribu kardus dokumen Asian Agri dari sebuah ruko. Direktorat Pajak kemudian menetapkan dua belas tersangka dalam kasus ini.
Vincentius Amin Sutanto dalam persidangan
Kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Direktorat Pajak Vincent membeberkan modus Asian Agri dalam melakukan kejahatan pajak. Secara garis besar manipulasi pajak dilakukan lewat transfer profit ke perusahaan afiliasi Asian Agri di luar negeri, seperti Hong Kong, British Virgin Islands, Macau, dan Mauritius. Ada tiga pola yang digunakan, yaitu pembuatan biaya fiktif, transaksi hedging fiktif, dan transfer pricing. Tujuannya untuk mengurangi keuntungan sehingga pajak yang dibayarkan berkurang.
Vincent juga sempat akan dipindahkan ke tahanan di Pontianak. Dengan alasan diduga melakukan pemalsuan paspor, ia akan diperiksa di Pontianak. Kala itu dia sudah diterbangkan ke Pontianak. Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia, Denny Indrayana meminta Kapolri Bambang Hendarso Danuri untuk memerintahkan anak buahnya memulangkan Vincent ke Jakarta karena keterangannya masih dibutuhkan. Akhirnya, pada hari yang sama Vincent dibawa lagi ke Jakarta dan kali ini ditempatkan di dalam Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 4 Pentingnya Kesaksian Vincent
Sebagai salah satu bekas orang penting di Asian Agri, kesaksian Vincent sangat penting untuk membongkar kejahatan pajak dibekas perusahaannya itu. Direktorat Pajak sendiri memang membutuhkan informasi, keterangan, dan bukti dari Vincent yang bisa menunjukkan dengan jelas dan detail dugaan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri. Dan Vincent menunjukkan semua yang ia ketahui bagaimana penyelewengan pajak tersebut dilakukan.
Perusahaan ASIAN AGRI
Bukan tanpa resiko Vincent membongkar kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri. Setelah dia kembali ke Indonesia, melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan menyerahkan diri ke polisi, berbagai teror dan ancaman kerap dia terima. Karena itulah, saat dia berada di tahanan secara khusus Direktorat Pajak mengirim surat ke Direktorat Lembaga Pemasyarakat, meminta agar Vincent mendapat pengawasan dan ruang tahanannya dijaga sedemikian rupa agar keselamatannya terjamin. Untuk menjaga agar keluarganya tidak mendapat hal-hal yang tak diinginkan dan anak-anaknya tidak shok, Vincent melarang keluarga dan tiga anaknya menjenguknya di tahanan.
Vincent mengaku sepulang dari pelariannya di Singapura dia mendapat sejumlah ancaman dan teror. Ancaman tersebut antara lain disampaikan lewat telepon. Dia, misalnya, diminta untuk tidak banyak bicara soal Asian Agri. Soal kemungkinan pembalasan yang dilakukan Sukanto Tanoto itu menurut Vincent sudah terpikirkan olehnya saat Asian Agri tahu dia melakukan pembobolan rekening perusahaan. “Makanya saya minta pengampunan (kepada Sukanto Tanoto, pemilik Asian Agri),” katanya tentang permintaannya yang tak terkabulkan tersebut. Keluarga
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 5 dan anaknya juga mendapat teror dan mengadu dan meminta perlindungan ke Komisi Nasional Perlindungan Anak.
Karena kesaksiannya penting dan dia dinilai bisa bekerja sama dengan aparat hukum untuk membongkar kejahatan pajak yang merugikan negara, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban menetapkan Vincent sebagai saksi yang dilindungi.
Vincent mendapat perlindungan sebagai saksi sejak Mei 2011. Kepada wartawan pengacara Vincent, Asmar Oemar Saleh mengatakan, kliennya mendapat perlindungan dengan kategori sedang. Dengan kategori ini, maka Vincent tak dipindahkan ke rumah aman. “Vincent tetap di LP Cipinang, namun ada monitoring dan koordinasi berkala antara lembaga perlindungan dengan LP,” kata Asmar.
Dijerat Undang-Undang tentang Pencucian Uang
Pada Mei 2007 Vincent mulai diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Polisi menyatakan Vincent telah melakukan kejahatan pencucian uang. Dia dijerat dengan Undang-Undang tentang Pencucian uang yang hukuman maksimalnya adalah 20 tahun penjara. Jaksa sendiri menuntut Vincent sebelas tahun penjara.
Pada 9 Agustus 2007 majelis hakim yang diketuai Sutarti K.S. memvonis Vincent hukuman 11 tahun penjara dan membayar denda Rp 150 juta. Dia dinyatakan terbukti melakukan kejahatan pencucian uang dan pemalsuan tanda tangan. Dia kemudian dimasukkan ke penjara Salemba. Vincent menyatakan vonis itu tak adil, demikian pula tuduhan dia melakukan pencucian uang.
Menurut Vincent berdasarkan pendapat pengacaranya juga Komisi Pemberantasan Korupsi, yang dilakukannya bukanlah masuk katergori kejahatan pencucian uang. Karena itulah dia menduga ada sesuatu di balik putusan tersebut. “Pasti ada tangan-tangan kepentingan yang mau menjatuhkan saya. Motifnya balas dendam atau apa. Saya kan mengungkap kasus Asian Agri. Bisa jadi ada yang tak senang,” katanya.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 6 Menurut Vincent, bahwa dia pulang dan kemudian diadili merupakan resiko yang memang harus dihadapinya.”Saya memang harus mempertanggungjawabkan tindakan saya,” katanya. Namun, dia ingin diadili secara adil dan dia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Dakwaan pencucian uang, menurut dia, sangat tidak adil dan mengada-ada. Kasusnya menurut dia adalah pemalsuan yang ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara yang dalam prakteknya vonis hakim biasanya berkisar delapan bulan hingga satu tahun penjara.
Pada 17 Februari 2010, Vincent mendapat kunjungan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Abdul Haris Semendawai. Kepada Abdul Haris Semendawai, Vincent mengaku mendapat ancaman akan dihabisi nyawanya. Dia meminta perlindungan LPSK. “Saya akan merasa nyaman kalau dalam perlindungan LPSK," kata Vincent. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyimpulkan Vincent adalah saksi kunci. "Karena, dia yang melaporkan ke pihak yang berwenang. Dia adalah whistleblower," kata Abdul Haris.
Terhadap vonis hakim yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Vincent, menyatakan banding. Menurut pengacara Vincent, Petrus Balla Patyona, jaksa dan hakim tidak memahami pasal pencucian uang. Menurut dia, jika Vincent terbukti melakukan pencucian uang, kenapa uang Rp 28 miliar dikembalikan ke Asian Agri. "Bukankah seharusnya disita negara?" katanya. Menurut Petrus, sesuai pendapar pakar hukum perbankan Sutan Remy Sjahdeini, ciri-ciri perbuatan pencucian uang adalah memindahkan uang hasil kejahatan dari satu jasa keuangan ke jasa keuangan lainnya. Menurut Petrus dalam kasus kliennya, transfer yang dimaksud belum terjadi.
Ditingkat banding dan kasasi upaya hukum Vincent ditolak. Kasasi Vincent ditolak Mahkamah Agung pada Maret 2008. Vincent kemudian mengajukan upaya hukum PK (Peninjauan kembali). Salah satu pengacaranya, Teguh S. Raharjo menyatakan pihaknya melihat ada kekhilafan hakim dalam mempertimbangkan tindak pidana yang didakwakan kepada Vincent. Itulah yang menjadi salah satu dasar Vincent mengajukan PK.
Tapi, pada September 2010 upaya hukum PK yang diajukan Vincent ditolak majelis hakim yang terdiri dari Mugiharjo, Andi Abu Ayyub Saleh, dan Komariah Emong Sapardjaja.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 7 Pada 25 November 2011 Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengunjungi Vincent di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Denny datang bersama anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas PMH) Mas Achmad Santosa, serta penasehat hukum Vincentius, Adnan Buyung Nasution.
Menurut Denny, Kementerian Hukum dan HAM akan memberi remisi dan asimilasi untuk Vincentius Amin Sutanto. Pemberian remisi dan asimilasi tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Vincentius karena telah menjadi whistleblower dalam kasus penggelapan pajak Asian Agri. "Vincentius ini akan dipertimbangkan mendapatkan remisi dan asimilasi. Kalau syarat asimilasi akan diberikan dalam bentuk perlindungan LPSK. Dia juga akan mendapatkan bebas bersyarat 2/3 masa tahanannya," kata Denny. Denny mengatakan, sebagai whistleblower , Vincent akan diberikan haknya secara penuh. Kuasa hukum Vincent menurut Denny juga sudah memohon grasi kepada presiden SBY.
Menurut Adnan Buyung Nasution, Vincent adalah korban dari sistem hukum di Tanah Air. Sebagai whistleblower setelah membongkar dugaan penggelapan pajak PT Asian Agri pada 2007 lalu Vincentius justru dimasukan ke dalam penjara. Buyung menegaskan, Vincent bukan diistimewakan, tapi sebagai whistleblower harus dilindungi. Dimasukkannya Vincent di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang adalah sebagai bentuk perlindungan, karena dia dan keluarganya sering mendapatkan ancaman. “Whistleblower jangan dijadikan korban, tapi harus dilindungi," kata pria berambut putih ini.
Vincent mengucapkan terimakasih kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum atas upaya yang dilakukan kepada dirinya selama ini. Dia berharap para whistleblower tidak takut mengungkap kebenaran. “Saya mengimbau kepada calon whistleblower jangan segan maju kedepan, sampaikan kebenaran yang diketahui," katanya Vincent sendiri sudah mengajukan permintaan grasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 November 2011.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 8
Agus Condro dan Skandal Cek Pelawat
etelah menjalani hukuman selama 13, 5 bulan atau satu setengah bulan lebih cepat dari masa hukuman, akhirnya Agus Condro Prayitno, 52 tahun, pada 25 Oktober 2011 menghirup udara bebas. Sebelumnya, pada 16 Juni 2011 Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) memvonis Agus 15 bulan penjara. Dia dinyatakan bersalah menerima suap dalam kasus terpilihnya Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang berlangsung pada 2004.
Semula Agus mendekam di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya hampir selama dua bulan. Tapi, dia kemudian meminta dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Alas Roban, Kendal, Jawa Tengah. Difasilitasi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), permintaan bekas anggota DPR periode 1999-2004 tersebut disetujui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar. Pada Rabu, 3 Agustus 2011, Agus pun dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Alas Roban.
Menurut Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana, Agus menerima remisi dan berbagai perlakuan khusus karena dia berkelakuan baik dan bekerja sama dengan penegak hukum justice collaborator. Sebagai pelaku pelapor, kata Denny, Agus memberikan informasi yang kuat, tidak melakukan banding atas putusan yang diterimanya, mengembalikan cek pelawat sebesar Rp 500 juta, dan memperoleh Surat Keputusan dari LPSK sebagai pelaku pelapor.
Dengan karekteristik seperti itu, kata Denny, Agus memenuhi persyaratan sebagai whistle blower yang berhak atas penghargaan berupa remisi atas perannya dalam membongkar kasus korupsi. "Kalau mau tahu apa kriteria seseorang untuk bisa dikatakan sebagai whistleblower, Agus Condro orangnya," kata Denny.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 9 Denny menjelaskan, ada sejumlah kriteria yang membuat seseorang bisa disebut whistleblower, yaitu memberikan informasi akurat tentang sebuah kasus yang dikuatkan dengan putusan pengadilan, mau bekerjasama dan mengakui perbuatan pelanggaran hukum yang dilakukannya, mengembalikan hasil korupsi atau kejahatannya, tidak melanggar hukum selama dalam masa penyidikan hingga ke persidangan, dan keputusan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) bahwa orang itu layak ditetapkan sebagai whistle blower. Agus, menurut Denny, memenuhi itu semua.
Selain itu, tambah Denny, bebas bersyaratnya Agus ini merupakan pesan bagi setiap warga negara agar tak ragu untuk menjadi justice collaborator (pelaku pelapor). Justice collaborator yang membantu pengungkapan kasus korupsi akan mendapat penghargaan. Baik berupa tuntutan hukum lebih ringan dan atau mendapatkan remisi kalau sudah dipenjara.
Agus Condro dalam wawancara media
Perlakuan khusus yang diterima Agus Condro tidak berjalan otomatis, tapi melalui proses yang cukup panjang dan berbelit-belit. Kisah ini, seperti ditulis Satrio Arismunandar “Agus Condro, Yoedha, Dan Perjuangan Dari Dalam Partai pada 24 agustus 2008 di blognya, berawal dari persoalan internal PDIP. Dalam blognya, Satrio memaparkan Dhia Prekasha Yoedha, mantan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 10 wartawan Kompas yang menjadi anggota PDIP sejak awal pendirian partai tersebut, mengirim SMS ke beberapa angota PDI-P. Bunyinya, “Gerakkan segera demo ke Lenteng Agung. Desak DPP bentuk Komite Disiplin. Periksa Emir Moeis, Max Moein, Daniel Budi Setiawan, Agus Condro Prayitno, Dudie Murod. dll dan kenakan sanksi PAW jika terbukti langgar Kode Etik Partai”.
Tak ada penjelasan tentang kode etik apa yang dilanggar, tetapi SMS itu menambah kesialan Yoedha. Posisi nomor urut Yoedha sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta (dari Daerah Pemilihan Jakarta Timur) jadi melorot dari nomor urut 2 ke 4, dan akhirnya ke nomor urut 8. Tak cukup dengan itu, Yoedha juga mendapat teguran keras dari salah satu petinggi PDI-P.
Isu pelanggaran kode etik itu beredar di banyak kalangan, tetapi tetap menjadi rumor, sampai kemudian, Agus Condro, yang waktu itu anggota Komisi IX DPR, mengakui di depan pejabat KPK telah menerima Rp 500 juta sepekan setelah terpilihnya Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia . Kepada KPK, Agus mengaku uang tersebut dibagi-bagikan melalui koleganya di Komisi XI DPR, Dudhie Makmun Murod, di ruang kerja Ketua Komisi IX Emir Moeis. Pengakuan ini kemudian dibahas dalam rapat pleno FPDIP pada Selasa, 19 Agustus 2008.
Miranda Goeltom dalam menanggapi kasus Agus Condro
Tidak jelas apa hasil rapat pleno PDIP tersebut. Tapi sehari kemudian Agus ‘bernyanyi” lebih nyaring. Kepada pers di Gedung DPR, Agus mengatakan bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang menerima traveler cheque (TC). Dia mengungkapkan sejumlah nama lain yang menerima cek pelawat Rp 500 juta bersama dirinya, yakni, William Tutuarima, Budiningsih, Mateus Formes, dan Muhammad Iqbal.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 11 Ketika itu, kata Agus, dia menduga-duga pemberian uang berupa 10 lembar cek dari Bank Internasional Indonesia (BII) merupakan gratifikasi setelah berhasil meloloskan Miranda menjadi Deputi Gubernur Senior BI. Kuasa hukum Agus, Firman Wijaya, menyatakan, sebelumnya sebenarnya Agus pernah menceritakan kasus dugaan suap itu kepada Mahfud M.D saat keduanya bertemu di Garut, Jawa Barat. Belakangan, Mahfud sendiri menyatakan kesiapannnya jika dia diminta sebagai saksi meringankan untuk Agus.
Pernyataan Agus tentang cek pelawat ini ternyata bukan lolongan anjing di padang pasir. Sekitar sebulan setelah pengakuan Agus, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan telah menemukan 400 lembar cek perjalanan yang dibagikan kepada anggota Komisi Perbankan. Satu lembar cek bernilai Rp 50 juta. Hasil temuan tersebut kemudian diserahkan ke KPK.
Namun, sampai hampir 10 bulan sejak pengakuan Agus Condro, tidak ada tenggapan terbuka dari KPK. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa KPK tidak menindaklanjuti dugaan korupsi terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tersebut. Karena itu, MAKI (Masyarakat Anti Korupsi Indonesia) mempraperadilankan KPK yang dianggap lamban menangani pengaduan Agus Condro. Menurut MAKI, KPK sebenarnya bisa dengan mudah menetapkan Agus Condro sebagai tersangka dengan sangkaan menerima gratifikasi karena Agus Condro sudah mengakui perbuatannya.
Akhirnya pada 9 Juni 2009, KPK menetapkan dan menahan empat orang sebagai tersangka kasus penerimaan TC tersebut. Mereka, Hamka Yandu (Golkar), Endin AJ Soefihara (PPP), Dudhie Makmun Murod (PDIP), dan mantan anggota fraksi TNI/Polri yang telah menjabat anggota BPK, Udju Djuhaeri.
KPK juga mengembangkan kasus ini. Pada 1 September 2010 KPK mengumumkan 26 tersangka kasus suap terkait pemilihan Miranda Gultom sebagai DGS BI pada 2004. Dari 26 nama itu, 14 tersangka berasal dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), 10 dari Fraksi Partai Golkar, dan 2 dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP). Termasuk
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 12 dalam deretan tersangka adalah Agus Condro, politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan, dan politisi senior Golkar, Paskah Suzetta.
Empat tersangka penerima suap kemudian diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Mereka, Dudhie Makmun Murod, Hamka Yandhu, Endin AJ Soefihara, dan Udju Djuhaeri. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 17 Mei 2010 menghukum dua tahun penjara Dudhie, Hamka, dan Udju. Ada pun Endin divonis 15 bulan, tapi Pengadilan Tinggi DKI kemudian memperberat vonis ini menjadi dua tahun penjara.
Pada 16 Juni 2011, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang diketuai Suhartoyo menjatuhkan vonis satu tahun tiga bulan penjara –tiga bulan lebih ringan dari tuntutan jaksa- kepada Agus Condro. Selain itu Agus juga diwajibkan membayar denda Rp 50 juta. Menurut Ketua Majelis Hakim Suhartoyo, mantan politikus PDIP itu terbukti secara sah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam dakwaan jaksa kedua, yakni melanggar Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP.
Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan menjatuhkan hukuman untuk Agus satu tahun tiga bulan penjara karena dia mengakui terus terang perbuatannya, menyesali perbuatannya, bersikap sopan selama persidangan, belum pernah di hukum, telah mengembalikan uang hasil korupsi, serta telah melaporkan kasus suap ini ke ke KPK.
Kendati dihukum lebih ringan ketimbang yang lain, putusan hakim ini tetap menimbulkan kecaman dari sejumlah pihak. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan LPSK misalnya, menyatakan hukuman 1 tahun 3 bulan penjara dan denda Rp 50 juta kepada Agus Condro itu terlalu berat. "Meski hukuman tersebut lebih ringan dari terdakwa lainnya, seharusnya Agus Chondro mendapat perlindungan hukum yang lebih signifikan" ujar Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai dalam siaran persnya. Dalam siaran pers tersebut, Haris juga mengakui perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada jaminan signifikan dari undang-undang.
Dibanding hukuman para penenerima cek pelawat lainnya, hukuman untuk Agus memang tak jauh beda. Max Moein dan Rusman Lumbantoruan, kolega Agus di PDI Perjuangan yang
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 13 menyangkal perbuatannya dan tidak mengembalikan cek yang diterimanya, misalnya, dihukum 20 bulan penjara. Padahal, sebagai justice collaborator LPSK telah mengirim surat kepada majelis hakim untuk mempertimbangkan peran Agus dalam mengungkap kasus suap ini. LPSK sendiri telah menetapkan secara resmi perlindungan untuk Agus sejak 15 Maret 2011.
Penetapan Agus Condro sebagai pelaku pelapor oleh LPSK merupakan hasil pembicaraan antara LPSK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, serta Kementerian Hukum dan HAM. Ketiga lembaga ini sepakat, sebagai justice collaborator Agus layak mendapat "hadiah" atas kontribusinya bekerja sama dengan aparat penegak hukum, yakni, remisi, asimilasi, atau pembebasan bersyarat. LPSK juga ikut memantau dan mendampingi Agus dalam persidangan.
Kasus Agus Condro ini juga membuat Ketua Mahkamah Agung (MA), Harifin Andi Tumpa, mengeluarkan surat edaran Mahkamah Agung (SEMA) yang isinya meminta para hakim memperhatikan secara khusus pelaku pelapor kasus kejahatan seperti kasus Agus Condro. Tujuannya, agar pelaku tidak takut lagi melaporkan. SEMA itu tidak memberikan rincian sanksi yang diberikan kepada whistleblower. "Masalah sanksi itu dikembalikan ke hakim, tetapi harus diperhatikan," kata Harifin. Harifin mengungkapkan perihal SEMA ini setelah pertemuan MA dengan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH).
Ketua Mahkamah Agung, Harifin Andi Tumpa
Pertemuan MA dengan PMH adalah untuk menindaklanjuti pembicaraan di Cipana yang bertujuan mengevaluasi program pemberantasan mafia hukum dan rencana seminar tentang whistle blower serta kemungkinan adanya pernyataan bersama antar penegak hukum terkait UU
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 14 Perlindungan saksi. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, whistleblower belum mendapatkan penghargaan dari pemerintah, meski telah membocorkan informasi penting menyangkut kejahatan yang merugikan negara.
Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Kuntoro Mangkusubroto menegaskan, memang harus ada penanganan khusus bagi whistleblower itu. Mereka yang melakukan kejahatan tapi kemudian ikut melaporkan dan membantu mengungkapkan kejahatan, harus mendapat perlakukan khusus. Perlakuan tersebut, antara lain, pengurangan hukuman atau divonis ringan. Kuntoro menunjuk vonis terhadap Agus Condro yang dinilai tidak adil. ’’Harusnya jauh lebih ringan."
Tanggapan Ketua LPSK mengenai kasus Agus Condro
Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, perlindungan terhadap whistleblower atau justice collaborator memang perlu diatur lebih jauh dan detail. Mereka, kata Abdul Haris, jika memenuhi syarat bahkan bisa bebas dari tuntutan," katanya. Syarat itu di antaranya, memberikan informasi untuk mengungkapkan kejahatan, saksi pelaku bukan aktor intelektual dari kejahatan, serta tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Menurut Abdul Haris Semendawai, putusan hakim terhadap Agus Condro menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada jaminan dari undang-undang.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 15 Perlindungan hukum terhadap whistleblower yang juga tersangka hanya sebatas ketentuan Pasal 10 Ayat (2), yakni adanya pertimbangan hakim, dalam meringankan pidana yang dijatuhkan.
Padahal, tambah Semendawai, LPSK sudah melakukan langkah serius dalam memberikan perlindungan hukum terhadap Agus Condro. Salah satunya, mengirim surat kepada majelis hakim untuk mempertimbangkan peran dan informasi penting yang dimiliki Agus Condro. Semendawai mengakui perlindungan yang tidak maksimal dari LPSK disebabkan adanya kelemahan dalam UU No.13/2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban (PSK). Atas kelemahan tersebut, LPSK bersama Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) telah merumuskan perlindungan hukum dalam rancangan revisi UU No.13/2006.
Semendawai mengatakan LPSK terus mendorong supaya revisi UU tersebut segera terwujud. Salah satu rumusan revisi tersebut terpenting adalah pemberian penghargaan kepada saksi atau pelapor yang juga tersangka atau terdakwa yang mau bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk membongkar suatu kejahatan. Penghargaan tersebut diberikan untuk kepentingan penegakan hukum agar pelaku kelas kakap dapat diproses secara hukum dan berbagai kejahatan dapat terungkap.
Kekecewaan terhadap vonis hakim yang menghukum penjara Agus Condro juga dikemukakan Indonesia Corruption Watch (ICW). Menurut koordinator divisi hukum ICW, Febridiansyah, seharusnya Agus Condro divonis bebas dia adalah pelapor dan pengungkap skandal cek pelawat yang hingga kini terus disidik Komisi Pembentasan Korupsi. KPK sendiri pada 10 Desember 2011 telah membawa pulang Nunun Nurbaeti yang sebelumnya ditangkap polisi Thailand di Bangkok pada Rabu 7 Desember 2011. Nunun, yang merupakan buronan KPK, diduga ikut berperan penting dalam menyalurkan cek pelawat tersebut ke anggota DPR. Febri mengatakan, seharusnya majelis hakim bisa lebih progresif dalam menjatuhkan putusan, tidak terpaku pada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Menurut Semendawai, LPSK telah melakukan sejumlah langkah sebagai bentuk perlindungan sekaligus penghargaan terhadap Agus Condro yang telah bekerja sama dengan aparat hukum mengungkap kasus suap ini. Selain meminta majelis hakim meringankan hukuman terhadap
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 16 Agus atas jasanya mengungkap kasus suap cek pelawat, meminta Agus ditempatkan di lembaga pemasyarakatan yang lebih mudah diakses keluarganya, LPSK juga telah mengajukan permohonan remisi dan pembebasan bersyarat untuk Agus.
Komitmen Agus Condro
Apa yang membuat Agus Condro bernyanyi? Mungkin SMS dari koleganya itu memang ikut mempengaruhinya. Kepada media, Agus sendiri menyatakan dia hanya ingin menyampaikan kebenaran. Pria asal Batang, Jawa Tengah, itu mengaku sejak awal telah siap menerima risiko apapun dengan langkahnya, termasuk mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota DPR. Akibat pengakuannya Agus memang diberhentikan dari keanggotaan DPR. Agus telah dua kali menjadi anggota DPR/MPR dari Jawa Tengah.
Di hari saat dibebaskannya dia dari penjara, kepada wartawan, Agus mengatakan akan tetap melanjutkan komitmennya memberantas korupsi dengan membentuk wadah yang melibatkan masyarakat tanpa ditunggangi kepentingan politik. "Dalam tahanan saya merenung, banyak peristiwa korupsi dan telah ada upaya pemberantasannya, namun ditunggangi kepentingan politik. Jadi perjuangannya tidak murni.”
Menurut Agus, rakyat belum banyak berpartisipasi aktif dalam upaya pemberantasan korupsi. Karena itu, dia akan merangkul teman-temannya untuk menggalang komitmen melawan korupsi. "Ini sifatnya gerakan rakyat dan fokus menggerakkan lapisan masyarakat bawah untuk peduli pada pemberantasan korupsi tanpa bermuatan politik dan dilakukan murni untuk kepentingan bangsa,” katanya
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 17
Susno Duadji: Nyanyi Sunyi Seorang Jenderal
usno Duaji berjasa dalam mengungkap kejahatan pajak Gayus Tambunan. Mendapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Dari Kepala Badan Reserse dan Kriminal menjadi pesakitan. Demikianlah nasib yang menimpa Komisaris Jenderal Susno Duaji. Pria kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954 itu tersandung dua kasus yang menjadi sorotan masyarakat yang juga kemudian berujung pada pencopotan jabatannya lalu membuatnya menjadi narapidana.
Susno sendiri berkukuh tidak bersalah terhadap apa yang dituduhkan ke dirinya. Di tengah-tengah perlawanannya itulah dia kemudian membuka borok sejumlah petinggi kepolisian, bahkan dengan terang-terangan menyebut inisial mereka. Mereka, menurut Susno, menyalahgunakan jabatannya untuk mempermaikan kasus demi keuntungan pribadi. Salah satu kasus yang disebut Susno, kemudian menjadi pemberitaan besar di media massa, yakni kasus kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Tambunan.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menetapkan Susno sebagai saksi yang dilindungi. LPSK berpendapat keterangan dan informasi yang diberikan Susno penting untuk mengungkap kasus kejahatan pajak tersebut. LPSK juga memantau keberadaan Susno di dalam tahanan.
Nama Susno pertama kali menjadi perbincangan publik saat dia melontarkan istilah “cicak melawan buaya” dalam sebuah wawancara dengan sebuah media massa. Cicak ditujukan untuk Komisi Pemberantasan, dan “buaya” untuk polisi, sebagai sosok yang jauh lebih kuat ketimbang buaya. Ungkapan itu dinyatakan Susno saat muncul kabar Komisi Pemberantasan Korupsi tengah membidik Kepala Bareskrim itu terkait dengan kasus Bank Century. Susno merasa KPK telah menyadap teleponnya, sesuatu yang membuatnya berang. Maka saat populerlah istilah “cicak vs buaya.”
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 18 Chandra dan Bibit saat menanggapi kasus Susno di KPK
Hubungan kepolisian dan KPK makin panas setelah kemudian kepolisian menetapkan Chandra dan Bibit sebagai tersangka suap dalam kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan yang dilakukan PT Masaro Radiokom dengan tersangkanya, antara lain, Anggoro, pemilik perusahaan tersebut. Chandra dan Bibit bahkan saat itu sempat ditahan polisi.
Para aktivis antikorupsi menyebut tindakan ini sebagai kriminalisasi KPK. Perang Cicak vs Buaya ini makin panas, setelah kemudian Kejaksaan Agung menyatakan berkas Chandra dan Bibit siap untuk diserahkan ke pengadilan. Gerakan membela Chandra dan Bibit pun terjadi di mana-mana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan membentuk tim untuk meneliti kasus ini dan disimpulkan tak ada bukti dan kesalahan yang bisa membuat Chandra dan Bibit diajukan ke pengadilan. Kejaksaan sendiri, belakangan, kemudian menghentikan kasus ini lewat mekanisme surat penetapan penghentian perkara.
Lain Chandra dan Bibit, lain pula nasib Susno, pernyataannya tentang keterlibatan sejumlah perwira tinggi memancing kehebohan di kalangan internal kepolisian. Dalam konferensi pers di Kantor Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Hukum, Susno mengungkapkan bahwa ada jenderal di Polri yang terlibat makelar kasus (markus). Susno mengatakan saat dirinya masih menjabat sebagai Kabareskrim, pada 2009 lalu, terdapat laporan dari PPATK soal penggembungan rekening seorang karyawan pajak atas nama Gayus M. Tampubolon. Uang dalam rekening itu senilai Rp 25 miliar. Namun, dalam penyidikan, uang yang dinyatakan bermasalah adalah Rp 400 juta. Sedangkan sisanya, kata Susno, yakni sekitar Rp 24,6 miliar, tidak diketahui keberadaannya. Maka, meledaklah kasus Gayus ini. Apalagi, dalam
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 19 perjalanannya, ternyata pengadilan Gayus ini juga diwarnai dengan skandal perubahan tuntutan yang dilakukan jaksa dan suap terhadap hakim yang mengadili Gayus.
Susno pun menyebutkan beberapa nama pejabat polri yang diduga menjadi markus. Untuk markus yang berada di Mabes Polri, Susno bahkan menyebutkan inisialnya. "Brigjen EI, yang kemudian digantikan Brigjen RE, KBP E, dan Kompol A," katanya.
Menurut Susno, dalam konferensi pers di kantor Satgas Antimafia Hukum itu, yang dia sampaikan adalah sebagai bentuk ketidaksetujuannya atas perilaku yang tidak satu kata dan tidak satu perbuatan. "Suka melepas tanggung jawab, mengorbankan anak buah, antara perbuatan dan perkataan munafik, mendapatkan kekayaan dengan cara ilegal, salah menggunakan jabatan, mencari kesalahan orang lain, menutupi kejahatan di tubuh Polri, melindungi judi, preman, narkotika, ilegal logging dan ilegal mining," katanya saat itu.
Serangan balik kemudian menimpa Susno, dia dituduh menerima suap saat kepolisian menangani kasus yang membelit PT Salmah Arowana Lestari, perusahaan yang bergerak dalam bisnis ikan, yang berlokasi di Riau. Tak hanya itu, Susno kemudian juga dituduh korupsi dana pengamanan pemilihan kepala daerah (Pilkada), Jawa Barat tahun 2008.
Dalam situasi terjepit ini, Susno membuat kejutan lagi. Hadir sebagai dalam sidang Antasari Azhar, dia menegaskan kasus Antasari sarat rekayasa. Menurut Susno, sebagai Kepala Bareskrim saat pengusutan pembunuhan direktur PT PBK, Nasaruddin, dan membuat Ketua KPK Antasari Azhar sebagai tersangka, dia sama sekali tidak tahu dan dilibatkan. Pernyataan Susno yang kerap kontroversial itulah yang antara lain membuat dia kemudian dipanggil Komisi III DPR.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 20 Profil Susno Duaji
Drs. Susno Duadji S.H., M.Sc.
Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang menghabiskan sebagian kariernya sebagai perwira polisi lalu lintas sudah mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi. Kariernya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang.
Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi Kepala Pelaksana Hukum di Markas Besar Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada 2003. Pada 2004 dia ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sekitar tiga tahun di PPATK, Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jawa Barat. Beberapa pernyataan dan kebijakan kontroversial selama menjabat Kapolda Jawa Barat di antaranya adalah, “Jangan pernah setori saya” dan perintah tembak di tempat bagi penjahat yang melarikan diri.
Sejak 24 Oktober 2008, Susno menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri (Kabareskim) menggantikan Bambang Hendarso Danuri yang diangkat menjadi Kapolri. Saat menjabat Kabareskrim dia disebut-sebut sukses mengembalikan uang negara hasil kejahatan sekitar Rp 15 triliun, lebih dari dua kali lipat dana talangan Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 21 Pengadilan Susno
Dibelit kasus yang memojokkan namanya, pada 5 November Susno sempat menyatakan dirinya mundur dari jabatan Bareskrim. Tapi, itu tak lama karena pada pada 5 November 2009 dia aktif kembali. Baru tiga pekan kemudian, pada 24 November 2009 Kapolri secara resmi mengumumkan pemberhentian Susno dari jabatan sebagai Bareskrim.
Susno sendiri akhirnya diperiksa penyidik independen Polri. Setelah melalui serangkaian penyidikan, akhirnya Susno dijadikan tersangka penerima gratifikasi sebesar Rp 500 juta dari PT Salmah Arowana Lestari (SAL) Riau. Tuduhan menerima suap tersebut berdasarkan keterangan Sjahril Djohan dan Haposan Hutagalung, pengacara PT SAL. Susno juga dituduh melakukan penggelapan dana pengamaan Pilkada Jawa Barat saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat. Dalam kasus ini Susno dinilai telah merugikan keuangan negara Rp 8,1 miliar. Susno sendiri menolak menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan juga, belakangan, surat penangkapan atas dirinya kendari kemudian dirinya tetap ditahan. Selain Susno polisi juga menetapkan Sjaril Djohan dan Haposan Hutagalung sebagai tersangka.
Haposan Hutagalung dan Sjaril Dohan saat mengikuti pengadilan
Saat persidangan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Markas Besar Polri menunjukkan dua alat bukti yang digunakan sebagai dasar penangkapan dan penahanan Susno pada pertengahan 2010 itu.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 22 Alat bukti pertama, laporan polisi nomor polisi LP/272/K/IV/2010 Bareskrim tanggal 21 April 2010. Alat bukti kedua berupa keterangan enam saksi, yakni Sjahril Djohan, Haposan Hutagalung, M. Dadang Apriyanto, Upang Supandi, Ahsanur, dan Syamsurizal Mokoagouw.
Proses peradilan Susno terhitung lambat. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya jumlah saksi yang diajukan jaksa, yakni 124 saksi. Dalam perjalanannya banyak saksi yang tidak bisa dihadirkan atau kehadirannya ditunda sehingga menyebabkan penundaan persidangan. Penggabungan persidangan dua kasus yang berbeda tempat dan waktu itu, yakni kasus penggelapan dana pengamanan Pilkada dan kasus PT SAL, sempat menjadi polemik.
Persidangan Kasus Penggelapan Dana Pilkada
Sejumlah bekas kepala kepolisian dihadirkan sebagai saksi dalam sidang ini. Mereka, antara lain, Sugiono (mantan Kapolres Subang), Erwin Faisal (mantan Kapolres Sumedang), Suntana (mantan Kapolres Kota Tasikmalaya), Rudi Antariksawan (mantan Kapolres Kota Sukabumi), M. Arif Ramadhan (mantan Kapolres Bandung Tengah), dan Moh Gagah Suseno (mantan Kapolres Majalengka).
Kepada majelis hakim PN Jakarta Selatan para perwira Polri itu mengakui adanya pemotongan dana anggaran pengamanan yang diterima masing-masing Polres dari Bidang Keuangan Polda Jawa Barat. Menurut mereka, besarnya potongan anggaran pengamanan pilkada untuk tiap Polres berbeda-beda. Namun, total potongan untuk enam Polres mencapai Rp 1,833 miliar.
Cuma, tak satu pun di antara para saksi menyebut bahwa pemotongan itu merupakan perintah Susno yang saat itu menjadi Kapolda. Tentang pemotongan dana tersebut, para saksi mengaku mendapat arahan dari Kepala Sub-direktorat (Kasubdit) Keuangan Polda Jawa Barat, AKBP Iwan Gustiawan dan AKBP Agus.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 23 Susno Duadji saat mengikuti pengadilan
Persidangan ini juga menghadirkan saksi penting, yakni Kepala Bidang Keuangan (Kabidkeu) Polda Jawa Barat saat itu, Maman Abdurahman Pasha, yang sebelumnya berkali-kali mangkir. Maman mengaku dirinyalah yang memerintahkan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Akun Bidang Keuangan Polda Jabar Iwan Gustiawan dan pegawai negeri sipil Bidang Keuangan Polda Jabar, Yultje Aprianti, untuk memotong dana pilkada dan pemotongan itu atas atensi Kapolda Jabar saat itu, Susno Duadji.
Dalam kesaksiannya, Yultje menyebut penyerahan uang tersebut dilakukan oleh Maman Abdurahman. Dia juga menyatakan, Kapolda mendapat jatah pemotongan sebesar Rp 50 juta. Yultje mengaku bertugas untuk membagikan uang itu ke sejumlah kepala biro dan perwira berpangkat komisaris besar dan ajun komisaris besar.
Dari pemotongan itu, kata Maman, Susno mendapat Rp 150 juta, Wakil Kepala Polda, Brigadir Jenderal Supriyadi Usman, mendapat Rp 100 juta, dan Inspektur Pengawasan Daerah Komisaris Cecep Lukman memperoleh Rp 75 juta. Adapun pejabat setingkat kepala biro memperoleh Rp 20 juta. Sedang para ajun komisaris besar menerima Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.
Menurut Maman, Susno-lah yang memerintahkan penarikan dana dalam beberapa tahap sebesar, antara lain, Rp 1,3 miliar dan Rp 1,5 miliar yang kemudian ditukar dengan dolar AS. Selain itu, kata Maman, Susno juga memerintahkan uang senilai Rp 1 miliar agar ditukarkan dalam bentuk 40 lembar cek pelawat. Cek itu kemudian dibagi-bagikan kepada para petinggi Polda Jawa Barat dan sisanya untuk membiayai berbagai kegiatan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 24 Susno bertemu kuasa hukumnya
Tapi keterangan Maman itu oleh Susno dianggap mengada-ada karena tidak sesuai satu dengan lainnya. Maman belakangan, setelah dicecar para pengacara Susno, membuat pengakuan baru. Dia menyatakan pembangunan Gedung Olahraga Brimob, pembelian mobil Camry, Suzuki APV, peringatan Hari Bhayangkari, dan pembagian uang Lebaran tidak memakai duit pengamanan pilkada. “Dari Samsat," ujarnya. Padahal, sebelumnya, dia menerangkan pembangunan gedung olahraga, pembelian mobil dan sebagainya itu dari dana pengamanan pemilihan gubernur Jawa Barat itu.
Susno juga membuktikan ketidakakuratan kesaksian Maman tentang travel cheque yang disebut dari pemotongan dana Pilkada. Susno menegaskan, cek perjalanan tersebut dibeli dari uang pribadinya, hasil menjual tanah. Bukti itu dibeberkan sebelum Susno menghadirkan saksi meringankan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Para Saksi Kunci Kasus PT SAL
Susno dijadikan tersangka penerima suap setelah polisi memeriksa Sjahril Djohan dan Haposan Hutagalung, pengacara Ho Kian Kiat, warga Singapura yang mengaku korban penipuan dan penggelapan yang dilakukan pemilik PT Salmah, Anuar Salmah. Susno dituduh menerima uang Rp 500 juta dari PT Salmah Arowana. Menurut Sjahril yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini, dialah yang mengantar uang ke Susno.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 25 Di persidangan, Sjahril Djohan berkukuh menyatakan, uang itu betul-betul telah diterima Susno. Uang tersebut, ujarnya, dia terima dari Haposan untuk diteruskan ke Susno. "Uang betul-betul saya serahkan ke Susno. Manusia bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak,” ujarnya di persidangan. Dia menyerahkan uang tersebut pada 4 Desember 2008 di rumah Susno. Susno menyatakan dia tak menerima uang seperti disebutkan Sjahril. Menurut Susno, Sjahril Djohan berbohong.
Saksi lain yang juga dihadirkan dalam kasus suap ini adalah AKBP Syamru Rizal, salah seorang saksi yang mengaku menyaksikan Syahril Djohan menyuap Susno senilai Rp 500 juta. Syamsu Rizal yang tak lain bekas anak buah Susno mengaku menyaksikan Syahril ke rumah Susno di Jalan Abuserin 2B Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk menyerahkan uang senilai Rp 500 juta. Susno menyatakan keterangan Syamsu itu palsu. Dia menduga kesaksian tersebut dilontarkan Syamsu yang dendam karena dirinya telah mencopot Syamsu dari jabatannya. Sjahril sendiri, dalam kasus ini, pada Oktober 2010, divonis hukuman satu tahun enam bulan penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan suap. Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa, yakni, dua tahun penjara dan denda Rp 75 juta.
Ada pun Haposan Hutagalung divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider tiga bulan kurungan. Haposan dinilai terbukti melakukan tiga tindak pidana, yakni memberikan keterangan yang tidak benar mengenai asal-usul uang Gayus senilai Rp 28 miliar yang diduga berasal dari hasil korupsi. Kemudian terbukti memberikan uang sebesar US$ 6.000 kepada penyidik M. Arafat Enanie saat menangani perkara Gayus serta terbukti turut serta memberikan uang kepada Susno Rp 500 juta, melalui Sjahril Djohan. Haposan mengajukan banding, tapi pengadilan banding memperberat hukumannya menjadi sembilan tahun penjara.
Walau sudah diputus pengadilan, toh peradilan Susno dalam perkara suap PT SAL dianggap belum tuntas. Itu karena sejumlah saksi kunci yang bisa memberi keterangan benar atau tidaknya Susno menerima suap sebesar Rp 500 juta dari Sjahril Djohan yang akan dihadirkan oleh jaksa ternyata tidak kunjung hadir. Mereka adalah Mr. Ho, Dadang, dan Vincent Apriyono. Mr. Ho dan Vincent adalah pengusaha asal Singapura yang merupakan investor PT SAL. Sedangkan Dadang adalah office boy dan sopir yang bekerja di kantor Sjahril Djohan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 26 Dalam persidangan Susno juga dihadirkan beberapa saksi ahli baik yang memberatkan maupun yang meringankan Susno, di antaranya Brigjen Iza Fadli, Muhammad Nuh Al Azhar, Ahmad Yani (Komisi III DPR), Prof. Bambang Purnomo (guru besar bidang pidana UGM), dan Dr. Mudzakir (ahli hukum pidana Universitas Islam Yogyakarta).
Tewasnya Dua Saksi yang Mencurigakan
Penyelidikan kasus Susno juga diwarnai meninggalnya dua saksi meringankan Susno. Sejumlah kalangan mehubung-hubungkan kematian keduanya yang sama-sama karena kecelakaan tersebut dengan perkara Susno yang tengah bergulir di persidangan. Saksi yang tewas itu Brigadir Kepala Doni Rahmanto dan Inspektur Dua Anjar Saputro.
Doni Rahmanto, mantan pengawal Susno, tewas akibat kecelakaan di jalan raya pada 9 Maret 2011. Dia ditemukan terkapar terjatuh dari sepeda motor Yamaha Mio putih bernomor polisi B 6684 EOB miliknya di Jalan D.I. Panjaitan, di seberang kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta Timur. Beberapa saksi di tempat kejadian mengatakan Doni menjadi korban tabrak lari. Saat bersaksi di pengadilan, Doni membantah jika Susno pernah bertemu Sjahril Johan di rumah Susno seperti dakwaan jaksa. Sebelumnya, Anjar Saputro, juga tewas akibat kecelakaan di jalan raya Bogor pada 16 Oktober 2010 lalu. Dia meninggal sebelum memberi kesaksian meringankan untuk Susno.
Pada 24 Maret 2011 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Susno hukuman tiga tahun enam bulan penjara, denda Rp 200 juta serta membayar kerugian negara Rp 4 miliar. Susno tidak ditahan. "Karena alasan kemanusiaan, terdakwa Susno Duadji tidak (belum) ditahan. Namun, jika nantinya sudah ada keputusan inkraclit, tetap akan dilakukan eksekusi," ujar juru bicara Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Sobari.
Walau menyatakan menghormati putusan majelis hakim, Tapi Susno menilai putusan tersebut tidak adil. Dia melakukan perlawanan hukum terhadap putusan tersebut. Alasannya, mengajukan banding tersebut juga ditulis Susno panjang lebar dalam situs pribadinya, www.susnoduadji.com.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 27 “Alasan saya dan Tim Advokad mengadakan perlawanan hukum BANDING bukan karena beratnya hukuman yang dijatuhkan. Saya tidak takut dengan hukuman apa pun yang dijatuhkan, mati pun saya siap. Yang saya dan Tim Advokad persoalkan adalah vonis bahwa saya terbukti bersalah. Seandainya saya dihukum satu hari atau satu jam pun kalau ada hukuman yang demikian, maka saya dan tim advokad tetap akan melakukan perlawanan hukum banding.
Vonis bahwa saya dinyatakan BERSALAH itu yang kami tidak bisa terima karena saya memang tidak bersalah dan tidak ada satu alat bukti pun yang membuktikan bahwa saya bersalah. Semua fakta yang diangkat oleh Majelis Hakim adalah berdasarkan keterangan satu orang Mafia Hukum Sjahril Djohan untuk dakwaan pertama (perkara Arowana) dan satu orang saksi rekayasa Maman Abdulrahman Pasya untuk dakwaan kedua (perkara Pilkada Jabar).
Saya dan Tim Advokad menyatakan sangat menyesalkan Majelis Hakim yang sangat "mendewakan " mafia hukum/Markus Sjahril Djohan dan si Pembohong Maman Abdulrahman Pasya daripada ratusan saksi dan bukti authentic….
Tapi, upaya banding Susno gagal. Pada 9 November 201, lewat putusan Nomor 35/PID/TPK/2011/PT. DKI, majelis hakim banding Pengadilan Tinggi DKI yang dipimpin Roosdarmani tetap menyatakan Susno bersalah. Dia tetap dihukum 3 tahun 6 bulan penjara. Susno dianggap terbukti bersalah dalam kasus korupsi penanganan perkara PT Salmah Arowana Lestari dan dana pengamanan Pilkada Jawa Barat 2008. Selain denda Rp 200 juta, Susno juga harus membayar ganti rugi kepada negara yang oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dinaikkan menjadi Rp 4.208.898.749. Ada pun kurungan pengganti denda diturunkan dari enam bulan menjadi empat bulan.
Terhadap putusan banding tersebut, Susno mengajukan kasasi. Pengacara Susno secara resmi menyerahkan memori kasasi klien mereka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin, 19 Desember 2011. Arie Yusuf Amir, salah seorang kuasa hukum Susno, menyatakan, dalam memori kasasi pihaknya secara khusus menyoroti kurang memadainya pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan pengadilan. "Mereka menghukum cuma dengan satu saksi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 28 Di kasus Sjahril Djohan (kasus suap PT Salmah Arowana Lestari/PT SAL) cuma Sjahril Djohan dan di kasus dana Pilkada Jawa Barat hanya Kombes Dul Rachman (Maman Abdulrahman)," kata Arie Yusuf Amir.
LPSK Mendampingi Susno
Susno Duaji memandang perlu untuk memita perlindungan LPSK demi keamanan dirinya sekaligus membongkar kejahatan yang ia ketahui. Susno mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK pada 4 Mei 2008. Setelah melakukan rapat internal, pada 24 Mei 2010 mengabulkan permintaan Susno.
LPSK memandang perlu melindungi Susno karena perannya sebagai whistleblower dalam
kasus dugaan kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Halomoan Tambunan. Dasar perlindungan
Gayus Halomoan Tambunan bertemu kuasa hukumnya
Mengacu pada pasal 10 ayat (1) dan (2) Undang-Undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Menurut LPSK, Susno berjasa dalam kasus Gayus karena dialah yang pertama kali mengungkapan kejahatan pajak yang, belakangan, kemudian menyeret banyak orang, termasuk sejumlah jaksa. Terhadap perannya itu, LPSK meminta pengadilan bisa meringankan hukuman Susno, jika dia dinyatakan bersalah, dengan mempertimbangkan perannya tersebut.
Sebelum menetapkan perlindungan untuk Susno, LPSK sendiri pernah menggelar rapat dengan Markas Besar Polri. Rapat digelar pada 17 Mei, ketika status Susno sudah menjadi tersangka. Kendati begitu, berdasarkan rapat pleno LPSK, Susno tetap layak dilindungi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 29 Saat menjalankan tugas dan fungsi perlindungan sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saki dan Korban, LPSK menghadapi sejumlah tantangan berkaitan degan pemberian perlindungan terhadap Susno ini. Misalnya, adanya beda persepsi dengan Markas Besar Polri perihal penempatan Susno. LPSK berpendapat Susno seharusnya ditempatkan di rumah aman (safe house), bukan di rumah tahanan. LPSK berpandangan, karena Susno menjadi whistleblower dalam kasus Gayus, dia layak dilindungi.
Sebaliknya Mabes Polri menyatakan Susno yang menjadi tersangka dalam kasus PT SAL tak layak mendapat perlindungan. LPSK kemudian melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ditujukan ke Presiden karena menurut undang-undang LPSK adalah lembaga negara yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Surat itu kemudian mendapat respons Menteri Hukum dan HAM. LPSK tetap berhak member perlindungan kepada LPSK walau Susno berada di rumah tahanan Brimob Kelapa Dua.
Menurut Lili Pintauli Siregar, Komisioner Penanggung Jawab Bidang Bantuan, Kompensasi, dan Restitusi, LPSK diberikan keleluasaan untuk memantau perkembangan kesehatan Susno. LPSK juga terus berkoordinasi dengan tim pengacara untuk memantau keadaan Susno. “Makanya kami punya keleluasaan melihat perkembangan kesehatan beliau di rutan,” ujar Lili.
Berdasarkan Pasal 36 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2006, LPSK dapat bekerja sama dengan instansi yang terkait dalam memberikan perlindungan saksi dan korban. Posisi saksi dan korban yang sudah mendapat perlindungan pun kuat. Pasal 10 ayat (1) UU Perlindungan Saksi menyebutkan “saksi, korban, dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan kesaksian yang akan, sedang, dan atau telah diberikannya”.
Dalam kasus PT SAL, menurut Lili, kepada Susno dapat diterapkan rumusan Pasal 10 ayat (2) UU Perlindungan Saksi yang menyebutkan “seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila dia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan”. “Terhadap kasus Gayus, Susno adalah whistle brower. Maka diterapkan Pasal 10 ayat (1). Tapi, untuk kasus SAL, dapat diterapkan Pasal 10 ayat (2),” ujar Lili.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 30 Kini, meskipun Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tetap memvonis Susno Duadji penjara 3 tahun 6 bulan, LPSK masih terus memberikan perlindungan. "Perlindungan terhadap Susno Duadji tetap kami lakukan. Susno kami lihat sebagai seorang whistleblower," kata Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 31
Vonis Abu Bakar Ba’asyir dan Perlindungan Saksi Kasus
Terorisme
bu Bakar Ba’asyir akhirnya divonis bersalah. Setelah bersidang selama empat setengah jam, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Herry Swantoro, pada 16 Juni 2011, menyatakan Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme. Hakim menyatakan Ba’asyir terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus pembiayaan pelatihan militer untuk kegiatan terorisme di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh.
Majelis hakim menghukum Ba’asyir 15 tahun penjara. “Terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaaan subsidair,” kata Herry Swantoro. Untuk dakwaan primer, menurut Herry, hakim tidak menemukan bukti kuat. “Tidak terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Membebaskan Abu Bakar Ba’asyir dari dakwaan primer tersebut,” kata Herry. Hukuman terhadap Basyir lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut Ba’asyir hukuman penjara seumur hidup.
Dalam dakwaan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum yang dipimpin Andi Muhammad Taufik menuntut Ba’asyir hukuman penjara seumur hidup. Dalam dakwaan subsider, jaksa menyatakan Ba’asyir secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 14 jucto pasal 7, subsider pasal 14 jucto pasal 11, lebih subsider pasal 15 jucto pasal 9, ke bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 7, ke bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 11, dan terakhir pasal 13 huruf a Undang-Undang tentang Terorisme dengan ancaman hukuman 3 tahun sampai 15 tahun penjara.
Ba’asyir didakwa merencanakan dan menggerakan orang lain untuk mengumpulkan dana, baik secara pribadi maupun selaku Amir Jamaah Ansharut Tauhid dalam kaitannya dengan pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho di Aceh Februari 2010. Dana yang dikumpulkan Ba’asyir berasal dari dari Syarif Usman sebesar Rp 200 juta dan Hariyadi Nasution sebesar Rp150 juta. Ba’asyir menurut dakwaan jaksa juga memberikan dana, di antaranya sebesar Rp5
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 32 juta, Rp120 juta, dan 5.000 dolar AS untuk keperluan survei hingga pelatihan. Pelatihan ini menurut jaksa sudah termasuk tindak pidana terorisme. Ba’asyir merencanakannya bersama Dulmatin alias Yayah Ibrahim dalam pertemuan di salah satu ruko di dekat Pondok Pesantren Mukmin Ngruki Solo, Jawa Tengah, pada Februari 2009 yang difasilitasi Ubaid atas arahan Dulmatin.
Jaksa juga mendakwa Ba’asyir terbukti pernah menonton rekaman video pelatihan militer berdurasi 45 menit yang dibawa oleh Ubaid di kantor Jamaah Ansharut Tauhid Jakarta dan rumah Hariyadi Usman di Bekasi. Rekaman itu berisi kegiatan pelatihan di Jantho, Aceh, antara lain pelatihan fisik, menggunakan senjata api, dan orang-orang berkumpul sambil makan.
Ba’asyir membantah dakwaan jaksa. Menurut dia, pelatihan militer di Aceh direncanakan oleh Ubaid dan Abu Tholud. Dia mengaku dirinya tak setuju dengan kegiatan itu karena Jamaah Ansharut Tauhid belum siap melakukan I’dad dengan senjata api. Terhadap vonis Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut, tim pengacara Ba’asyir langsung menyatakan banding.
Sidang pembacaan vonis terhadap Abu Bakar Ba’asyir mendapat pengawalan ketat dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Sekitar 3.400 polisi, termasuk penembak jitu, ditempatkan di sekitar gedung pengadilan. Ketatnya pengamanan terhadap sidang tersebut karena banyaknya pendukung Ba’asyir, termasuk dari Solo, yang menyatakan akan hadir dalam sidang pembacaan vonis tersebut. Beberapa saat setelah hakim menjatuhkan hukuman kepada Ba’asyir, para pendukung Baasyir berlari-lari sekeliling halaman depan gedung Pengadilan Jakarta Selatan sebagai wujud protes mereka terhadap putusan hakim.
Profil Abu Bakar Ba’asyir
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 33 Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu atau Abdus Somad, merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Sejumlah badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda. Ba’asyir sendiri berulangkali menolak dirinya dihubungkan dengan organisasi tersebut. Dia membantah memiliki hubungan dengan JI dan terorisme.
Ba’asyir pernah menjalani pendidikan sebagai siswa Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah (1963). Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo. Ia kemudian menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo. Dari sini kariernya dalam organisasi Islam terus meningkat. Dia terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961), Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mu’min (1972) dan Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002.
Pada 10 Maret 1972, bersama Abdullah Sungkar, Ba’asyir mendirikan Pesantren Al-Mu’min di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, bersama dengan Abdullah Sungkar pada 10 Maret 1972. Pada masa Orde Baru, Ba’asyir melarikan diri dan tinggal di Malaysia selama 17 tahun atas penolakannya terhadap asas tunggal Pancasila.
Saksi Kunci Tak Dihadirkan
Tim pengacara Abu Bakar Ba’asyir menyatakan mereka memiliki alasan kuat kenapa menyatakan banding terhadap putusan hakim. Menurut salah satu anggota tim pengacara, Achmad Michdan, karena karena majelis hakim tidak mempertimbangkan pentingnya pengakuan saksi kunci, Khairul Gazali. "Proses dalam pertimbangan hakim itu kan fakta persidangan berdasarkan saksi-saksi. Yang menarik justru ada keterangan salah satu saksi yang tidak dipertimbangkan," kata Achmad Michdan, seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 16 Juni 2011.
Menurut Mihdan, Khairul adalah salah seorang saksi yang kini ditahan karena tuduhan terlibat perampokan Bank CIMB Medan. Khairul adalah orang yang mampu membuktikan bahwa tindak pidana yang memberatkan Ba’asyir adalah hasil intimidasi penyidik kepolisian dan diminta
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 34 polisi. "Dia saksi yang mengungkapkan para tersangka teroris itu mendapat tekanan fisik, mendapat tekanan mental. Inilah, yang kemudian menjadi atensi," kata Mihdan.
Sebelumnya tim kuasa hukum Ba’syir juga kecewa dengan pemeriksaan saksi melalui teleconference. Untuk menghadirkan saksi, majelis hakim, karena keberadaan saksi yang berada di Rumah Tahanan Brimod Kelapa Dua, memutuskan memeriksa saksi memakai teknologi teleconference. Ada empat saksi yang diperiksa dari Rumah Tahanan Brimob.
Tim pengacara Ba’asyir menolak cara ini. Mereka menilai pemeriksaan cara ini tidak adil bagi Ba’asyir. “Kami sejak awal menginginkan agar prosesnya lebih transparan. Saksi-saksi dihadapkan ke persidangan. Kalau mereka keberatan dipertemukan dengan terdakwa (Baasyir), bisa saja terdakwa di luar (ruang sidang) dan saksi diperiksa di ruang sidang. Kami ingin fairness trial, " demikian kata Achmad Michdan.
Dari sisi lokasi, keberadaan mereka di dalam tahanan Brimob, dinilai Achmad Michdan akan member tekanan bagi saksi. Salah satu saksi yang sudah memberikan keterangan melalui teleconference adalah Luthfi Haidaroh alias Ubaid. Ubaid saksi penting yang dapat menunjukkan dugaan keterlibatan Ba'asyir dalam pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh. Saksi lain yang diperiksa secara teleconference adalah Abdul Haris, Hendro Sultoni, dan Sholehudin.
Vonis terkait kasus terorisme juga dijatuhkan kepada seorang remaja pelajar SMK Negeri 2, Klaten, Jawa Tengah, berinisial AW (18 tahun). Pada 17 April 2011 majelis hakim Pengadilan Negeri Klaten yang dipimpin A.S. Pujo Harsoyo dengan anggota Marliyus dan Slamet Setyo Utomo memvonis AW hukuman dua tahun penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana terorisme, yakni ikut merakit dan meletakkan bom dalam kasus terorisme di Klaten. Sebelumnya, jaksa menuntut AW dengan hukuman empat tahun penjara. Yakni melanggar pasal 15 junto 9 UU nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, serta pasal 1 ayat 1 tahun UU darurat nomor 12 tahun 1951.
Menurut jaksa penuntut umum yang dipimpin Muji Martopo, AW terlibat dalam perakitan dan pemasangan bom di pos polisi Delanggu, Klaten. Selain itu, dia terlibat perencanaan peledakan bom di alun-alun utara Surakarta, ritual sebar apem di Kecamatan Jatinom, Klaten, serta Masjid
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 35 As-Syifa di dekat Rumah Sakit Islam Klaten, pada 1 Desember 2010 hingga 21 Januari 2011. Untuk memperkuat dakwaannya, jaksa mendatangkan enam saksi mahkota, yang lima di antaranya didatangkan dari Jakarta. Lima saksi mahkota datang dari Jakarta melalui Bandara Adi Soemarmo Solo, dan dibawa ke PN Klaten dengan kawalan sejumlah pasukan Densus 88 Antiteror.
Saat mengadili AW, dihadirkan dua saksi meringankan, masing-masing seorang guru SMK Negeri 2 Klaten dan seorang tetangga AW. Mereka menerangkan, AW berkelakukan baik selama di sekolah maupun di kampungnya. Menurut kesaksian guru SMK Negeri 2 Klaten, AW sejak duduk di bangku kelas satu hingga tiga, dia tidak pernah memiliki catatan melakukan pelanggaran di sekolah. Ada pun tetangga AW yang juga menjabat Kepala Urusan Umum di Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Selatan, menyebut AW tidak pernah bermasalah di kampungnya.
Kesaksian Umar Patek dan Perlindungan Saksi Terorisme
Pada Juli 2011 tersangka terorisme Umar Patek, yang sebelumnya ditangkap dan ditahan di Pakistan dideportasi ke Indonesia. Menurut Juru Bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, Setidaknya ada 27 saksi yang akan diperiksa terkait dengan tragedy Bom Bali I yang menewaskan 202 orang, termasuk wisatawan asing itu.umar patek merupakan salah seorang tersangka utama insiden Bom pada 2002 yang melululantahkan sari club dan Paddy’s bar di Kuta, sebelumnyya polisi juga menghukum mati amrozi,Mukhlas dan imam samudera, terpidana kasus serupa. Umar Patek diduga juga terlibat dengan aksi bom di beberapa tempat lain. karena itu, selain kasus bom Bali I, polisi juga akan memeriksa keterkaitan Umar dengan kasus-ksus bom lain di tanah air “Tapi saat ini di Bali dulu karena saksi banyak disana,” ujar anton pada wartawan, rabu 5 oktober 2011.
Berdasarkan catatan POLRI tertanggal 24 desember 2000, didalam negeri pria kelahiran Pemalang 20 juli !(66 ini tercatat terlibat dalam sejumlah aksi penegeboman, latihan militer, dan penyelundupan senjata api, yakni kasus:
1. Bom gereja kanisius Menteng Raya, Jakarta pusat 2. Bom gereja Anglikan Jalan Arif Rahman, Jakpus 3. Bom gereja Kainonia jalan matraman, Jakarta Timer
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 36 4. Bom Gereja oikumene jalan Halim, Jaktim
5. bom gereja Santo Yosep Jalan Matraman, Jaktim 6. Bom bali 12-13 oktober 2002
7. Latihan militer senjata api, berdasarkan laporan reskrim polda Aceh 22 Februari 2010 8. Upaya memasukan senjata api ke Indonesia
9. Terkait penangkapan tersangka Harry Kuncoro dan Penemuan Senjata Api,amunisi, serta magazen pada 19 juni 2011
10. Terkait pengeledahan rumah tersangka Haryy Kuncoro 15 juni 2011 dan penemuan dokumen yang diduga palsu, antara lain kartu keluarga dan akta yang digunakan sebagai persyaratan pembuatan paspor bersama istrinya, Rukayah binti Husein luceno, alias Fatimah Zahra.
Di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, saat menjadi saksi persidangan pemalsuan identitas diri dokumen keimigrasian atas nama Rukoyah binti Husein Huseno alias Fatimah Zahra, istri Umar, pada 28 November 2011, Umar mengaku memiliki nama asli Hisyam dan lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Dia mengaku memalsukan nama diri menjadi Anis Alawi. Istrinya yang bernama Rukoyah yang berasal dari Filipina dan dinikahi di kamp pelatihan militer Islam di Mindanao, Filipina Selatan, pada 1998, menjadi Fatimah Zahra.
Umar menyatakan, pemalsuan identitas terjadi pada 2010 di Indonesia. Waktu itu, dia dan istrinya sudah kembali dari Mindanao dan tinggal di Pamulang, bertetangga dengan Dul Matin, teroris yang ditembak saat penggerebekan pada 2010. Umar mengatakan, pemalsuan identitas itu bertujuan untuk melarikan diri akibat dia ditetapkan buron kasus terorisme sejak 2002 oleh Mabes Polri. "Saya memilih hijrah ke Afganistan untuk berjihad," katanya.
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, penangkapan Umar Patek ini penting untuk mengungkap jaringan terorisme yang selama ini kerap membuat sejumlah teror di Indonesia. Umar Patek adalah anggota Jamaah Islamiyah yang juga disebut-sebut sebagai salah satu ahli dalam membuat bom.
Selama ini, penangkapan pelaku terorisme yang berakhir dengan kematian mereka terkena tembakan banyak disesalkan sejumlah pihak. Itu karena dengan demikian berarti aparat tak bisa meminta dan mengorek keterangan dari mereka selain juga disebut sebagai pelanggaran karena
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 37 mereka belum diadili untuk menentukan mereka sebenarnya bersalah atau tidak. Sejumlah tersangka terorisme yang tewas tertembak antara lain, Syaifudin Zuhri, Mohammad Syahrir, dan Bagus Budi Pranoto. Polisi meyakini mereka kaki tangan Noordin M. Top, salah seorang otak pelaku terorisme yang juga tewas di tangan polisi. Para terorisme itu tewas dalam penyergapan polisi di daerah Mojosongo, Solo dua tahun silam.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan, saksi dan pelapor kasus-kasus krusial seperti terorisme harus dilindungi sebelum dan sesudah melakukan kesaksian di pengadilan. Saksi atau pelapor teroris yang membeberkan jaringannya ke polisi bahkan harus dilindungi seumur hidup. LPSK sudah melakukan koordinasi, antara lain, dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, untuk menjamin keselamatan para saksi dan pelapor kasus-kasus terorisme. Para wistleblower kasus terorisme bisa mendapat hak istimewa seperti perlindungan dan keringanan hukuman.