• Tidak ada hasil yang ditemukan

W . m engatur hal ini dalam Titel 11 Buku III (pasal2 1694 — 1739)

Dalam dokumen HUKUM PERDATA TENTANG PERSETUDJUAN2 TERTENTU (Halaman 115-120)

Pasal I 6 OI0 menjebutkan tjara memperhitungkan upah untuk satu hari kerdja, terutama dalam hal upah itu ditetapkan berw u

Dikenal 4 golongan buruh jaitu :

B. W . m engatur hal ini dalam Titel 11 Buku III (pasal2 1694 — 1739)

D isebutkan dua m atjam penitipan barang, jaitu ke-1 penitipan sedjati (eigenlijke bew aargeving) dan ke-2 ,,sequestratie”. Perbedaan pada pokoknja ialah, bahw a penitipan sedjati selalu berdasar atas suatu persetudjuan, sedang sequestratie djuga dapat berdasar atas

suatu perintah dari H akim (pasal 1730 ajat 2).

M enurut pasal 1698 B .W . penitipan sedjati dapat terdjadi dengan suka-rela atau dengan terpaksa (uit noodzaak), dan menurut pasal 1730 B .W . penitipan setjara terpaksa ini adalah penitipan jang dipaksakan oleh keadaan jan g tidak disangka lebih dulu, seperti dalam hal kebakaran, rumah runtuh, bandjir, perampokan, ketje- lakaan dilaut d.1.1., tetapi menurut pasal 1705 penitipan-terpaksa ini diatur menurut pa sa l-p asal jan g ditentukan untuk penitipan dengan suka-rela, m aka dengan ini perbedaan antara dua ¿natjam

penitipan sedjati ini sam a sekali tidak berarti.

Dulu, pada zaman Belanda, waktu masih ada Raad van Justitie jang takluk pada Reglement Burgerlijke Rechtsvordering, masih ada arti dari pengertian „penitipan terpaksa” jaitu dalam pasal 580 ke-2 ditentukan, bahw a dalam hal seorang menggugat untuk mene­

rima kembali b a ran g jan g dititipkan setjara terpaksa itu, Hakim berwadjib untuk, atas permintaan penggugat, menjatakan putusannja jan g memerintahkan kembalinja barang itu, dapat didjalankan setjara menangkap seorang tergugat itu (lijfsdwang). Sekarang Reglemen Indonesia ja n g diperbaharui atau H.I.R. (pasal 209) dan „Rec s reglement Buitengewesten” (pasal 242) berlaku dan dua-duanja memungkinkan segala putusan Hakim dapat didjalankan setjara paksaan badan.

M enurut pasal 1694 B.W . penitipan barang adalah terdjadi, apabila seorang menerima barang dari orang lain dengan kewadjiban untuk menjim pan baran g itu dan dikemudian hari mengembalikan barang itu sew udjud seperti semula („in natura” ), sedang menuru pasal 1696 a ja t 2, hal jan g termasuk peraturan dari B.W. ini, ialah

hanja penitipan barang bergerak. .

D a ri pasal 1697 B .W . jan g mengatakan, persetudjuan ini baru terbentuk apabila sudah terdjadi atau dianggap terdjadi penjerahan dari b aran g itu, ternjata, bahwa persetudjuan penitipan barang ini adalah suatu persetudjuan „reeel” ( = bersifat n jata). Pengang- gapan terdjadi suatu penjerahan barang ini, ada dalam hal seorang

HUKUM PE R D A TA T E N T A N G P E R S E T U D J U A N - T E R T E N T U

- sudah memegang barang miliknja si B setjara kebetulan, dan emudian antara mereka diadakan persetudjuan penitipan barang 1 ^/^raditio brevi manu). D juga mungkin seorang A mendjual barang miliknja kepada B, tetapi memegang barang itu selaku penjimpan barang si B (constitutum possessorium).

. . dar* „reeel” dari persetudjuan penitipan barang la,a > 'bahwa, apabila penjerahan barang belum terdjadi, maka tidak a a persetudjuan penitipan barang, melainkan suatu persetudjuan am, jang bertudjuan untuk mengadakan persetudjuan penitipan arang dan hanja takluk pada peraturan umum bagi persetudjuan Pada unaumnja dibagian permulaan dari Buku I I I B.W .

enurut pasal 1696 ajat 1 B.W . persetudjuan penitipan barang iatHfgap terdjadi dengan pertjuma („om niet” ), apabila tidak di- perdjandjikan ada pembajaran upah-penitipan.

an Brakel mentjeriterakan dalam bukunja halaman 284, bahwa a am Hukum Romawi, dasar dari penitipan barang adalah suatu eno ongan dari seorang guna seorang kawan (vriendschapsdienst), a -a dari itu dalam Hukum Romawi, hal jan g dinamakan penitipan arang itu adalah selalu dengan pertjuma. D ju ga Code Civil dari eran jis menamakan penitipan barang ini ,,un contract essentielle- i u r 111-! persetudjuan jang pada pokoknja bersifat pertju- ini Hpn'o- ’ 6 ^ dan Indonesia melemahkan sifat pertjuma uDah Plenjatak>a^» bahwa ada kemungkinan ada pembajaran W m ^ a k a ^ a k a n V / ,? ^ ?idiandj ikan’ dianggap kedua belah Pasal 1696 aia+ i • * pe^t3mna dari penitipan barang,

nipa, bahwa m n J mi sekiranJa dapat ditafsirkan sedemikian danaf- j untuk memberi upah dalam keadaan tertentu Jaitu mis^Im' P ivT m®skiPun tidak setjara tegas diperdjandjikan, ada perusahaa apa pihak PenJimpan barang adalah seorang jang barang-barang untuk orang *la!n S eh arH lari jan& beru pa men3imPan

Pasal2 1701 rian 17HO

untuk meneadair Jang mengenai kemampuan (bekwaamheid) oleh karena sam ^'h61^ ^ 1^ 113’11 Pen^ iPan barang adalah tidak perlu, persetudjuan r>ad unjm*,'a dengan pasal2 1331 dan 1451 mengenai dewasa atau orang1 ^mumnja’ jaitu, bahwa kalau seorang-belum- njimpan barang o r a n ^ l a ^ ^ ^ t dibawah pengawasan curatele, me­

nuntut pembatalan dari p e r s ^ T * ^ ataU pen^ awasn3a dapat me’

bahwa si npniirYino« i, tudJuan penitipan barang, dengan akibat

^lald iu tn “ ^ ^ dapat dituntut me„gem balikan barang dan barang senert' -e^ aS .ari ^ewadjiban2 lain dari seorang penjimpan barangnja sudah f wa^ akan dikemukakan. Dan apabila mengganti keruei1 d^'anj=‘annJa s* penjimpan, ia tidak diharuskan barang jang sudah apab1ila ia mendapat keuntungan dari nja untuk keperluannia ^ t n3a dipergunakan

oleh-iuannja dan kemudian baru hilang.

p e n i t i p a n b a r a n g Kewadjiban-lcewadjiban si penjimpan barang

-Kewadjiban terpenting ialah untuk mpniimnn t,

ja n g sebaik-baiknja, jan g berarti bahwa «i « * * rangllJa setJ*ara lihara barangnja sebaik-baiknja dan nada harUS meme' ke“ p ^ aiai ? o f ? w ePada 3anS “ enitiP*an b a r j ™ ^ ” enJerahk“

b a J s i i r s “ iha~

sendiri. Sedang menurut pasal 1707 pemeliharna ^ ^arang “ iliknja lebih sangat berhati-hati atau

ja n g m ula2 menjediakan diri untuk meniimnan i, S1 P^njimpanlah ia mendjandjikan akan mendapat upah-simpan apabila terutam a dilakukan untuk keperluan <?i •• ’ apabila pemtipan se tja ra tegas didjandjikan, bahwa si p e n ^ i m ^ ^ ’ i^ 11 (d ) apabiJa d ja w a b atas segala kelalaian dalam m e n ii™ ^ , bertanggung-

D ari perkataan „lebih

strengheid toegepast)” dapat disimpulkan b a h meerdere Se- ini, si penjimpan diperkenankan kurang berhati h*f empat haI h ara barangnja Tentang hal ini ada suatu nera+nr!' memeli-dalam pasal 1235 ajat 1 B.W. jan g menentukah^ , 1 ' ‘ T “ 34 perdjandjian untuk menjerahkan suatu b a r a ig k e n ^ i „ T v * * (kini untuk menjerahkan kembali barang pada aohir ^ l ^ si berwadjib, selama penjerahan itu belum terdiadi h persetudjuai1) ’ b a ran g n ja sebagai seorang kepala ru m a h -ta n g L i a n t T - w “ 6lhara goed huisvader” ). Dengan ini dapat disimpulkan ha\ 6611 umum ini berlaku lagi dalam empat hal penitipan b a r ^ g Pt“ uT

In. adalah pendapat jan g lazimnja dianut oleh para a h i S £ di N eg e ri Belanda (V a n Brakel halaman 285, Hofmam, h a t a n L W ?

D alam praktek tentu akan agak kabuk

netapkan apa ja n g dinamakan lebih sangat dan apa jang dinamakan kurang sangat berhati-hati itu Maka dari itu sekiranja dapat dike mukakan ta ta ra n lain, jaitu bahwa ukuran tidak diletakkan pada lebih sangat atau kurang sangat berhati-hati dalam memelihara b7 rang. Sudah terang dua=-nja hal memerlukan pemeliharaan setjara

S J u f M JanS ? Pat ^ perSunakan dalam praktek ialah, bahw a hal pemeliharaan barang sebagai seoran- Kenapa n.

m ah-tangga harus diukur setjara „objectief” iait„ n-ii? w ,, , biasaan kebanjakan orang- jan g d i U d J W ^ ^ ^ barang, sedang hal peme hharaan barang sebagai penjimpanan barang mihknja sendiri harus diukur setjara „subjeetief”, jaitu dilihat dari kebiasaan seorang penjimpan tertentu itu sadja dalam hal memeli- nara baran g m ihknja sendiri.

D an lagi tafsiran ini adalah lebih sesuai dengan w * i * dipergunakan oleh pasal2 1235 dan 1706 B.W. tadf ta' kata JanS

K alau baran gn ja musnah sebagai ak ib a t'dari

maksa (overm acht) maka si penjimpan l e p ^ T a r f £ £ £ £ £

f fi n^nja kem-djawab, ketjuali apabila ia lalai dalam menjerahkan bar«* pada bali, misalnja menahan barangnja ditangannja lebih *aJ1*a musnah mestinja. Tetapi kalau dalam hal ini baran gnja toh a ^ meliputi selaku assuransi, maka penggantian ini harus diserah

jang menitipkan barang. g B ^ j ang

Ini seimua disebutkan oleh pasal-pasal 1708 dan 17 .^aii -sebetulnja tidak begitu perlu, oleh karena sudah dise ^ iumnj a>

pasal2 1444 dan 1445 B.W- mengenai persetudjuan pada ^ ^ Pada hakekatnja si penjimpan barang tidak diper o

makai atau mempergunakan barang jan g dititipkan itu. , .^n0.gap di­

ada, apabila ini setjara tegas diperbolehkan atau dapat 1 J’ B .W .).

perbolehkan oleh pihak jan g menitipkan baran g (pasal ^ perse- Dengan ini persetudjuan penitipan barang adalah berbeda ^ tudjuan memindjam barang (bruikleen), jan g diatur dalam

Buku m B.W . nabila

Tjontoh dari „penganggapan boleh dipakai” ini ialah a jang dititipkan itu adalah buku-buku batjaan jan g tentunja keberatan untuk dibatja oleh si penjimpan barang.

ian0-Kalau barangnja dititipkan setjara dibungkus dalam pe 1 3 gung-djawab atas kekurangan dalam udjud atau ^a-barang itu, jang terdjadi diluar kesalahannja. Sebaliknja, ka a rangnja menghasilkan sesuatu, hasilnja ini harus dikembalikan p

(pasal 1718 ajat 1 B .W .).

Kalau jang dititipkan itu adalah berupa uang-tunai (&e SCv!n . men), maka pasal 1714 ajat 2 B.W . mengatakan, uang-tunai itu na- rus dikembalikan sedjumlah jang sama, dengan tidak dipedulikan, apakah pada waktu itu nilai (koers) dari uang tertentu itu adaia i naik atau turun. Kalau si penjimpan, setelah ditegor, tidak le:kas mengembalikan uang-titipan itu, maka, menurut pasal 1718 ajat , ia wadjib memberi bunga sedjak waktu penegoran itu. Ini ad a berlainan dari pada peraturan umum, jan g menentukan pembajaran bunga itu sedjak waktu perkara-perdata dimadjukan dimuka H a im

/

disebabkan oleh karena uang itu dapat dipergunakan oleh J3ank dalam perusahaannja, maka sebetulnja penjimpanan uang de­

posito ini sebetulnja bukan penitipan uang melainkan suatu pemin- djaman u a n g (verbruikleen).

M enurut peraturan umum perihal persetudjuan, para ahliwaris dari si penjim pan b aran g melandjutkan kewadjiban2 dari si penjimpan itu. P asal 1717 B .W . melunakkan kewadjiban dari para ahliwaris ini, dengan m engatakan, apabila seorang ahliwaris mendjual barangnja tanpa mengetahui, bahw a barang itu adalah barang-titipan, maka ia hanja b e rw a d jib menjerahkan harga-pendjualan kepada jang meni­

tipkan ba ran g , d ja d i d ju g a apabila barang itu ternjata didjual setjara amat m urah. A k a n tetapi kalau uang-pendjualan itu belum dibajar oleh si pembeli, m aka para ahliwaris tjukup menjerahkan piutang- nja itu kepada pihak jan g menitipkan barang.

Kepada siapakah barang titipan pada achirnja harus dikemba­

likan ?

P e rta n ja an ini didjaw ab oleh pasal-pasal 1719 — 1723 B.W.

P a d a pokoknja, seperti djuga dikatakan oleh pasal 1719, barang nja tentunja harus dikembalikan kepada seorang' jang menitipkan barangnja. Seoran g ini tidak tentu si pemilik barang, melainkan mungkin d ju g a seorang pemakai, seperti misalnja seorang penjewa atau seoran g pemungut-hasil (vruchtgebruiker).

B erh ubun g dengan inilah sekiranja dalam pasal 1720 ajat 1 B.W.

ditentukan, si penjimpan tidak boleh menuntut pembuktian dari se­

orang ja n g menitipkan itu, bahwa ia adalah pemilik barang itu.

Tetapi, m enurut pasal 1720 ajat 2 , kalau seorang penjimpan mengetahui, b a h w a barang jan g dititipkan itu, adalah barang tjunan, dan ia m engetahui siapa pemiliknja sedjati, maka ia dapat menolak permintaan kembali, ja n g diadjukan oleh jang menitipkan barang.

Dan si penjim pan diwadjibkan memberi tahu kepada pemilik sedjati, bahwa seoran g ini dapat menerima kembali barangnja dalam wak u tertentu ja n g pantas. Kalau kesempatan untuk menerima kembali ini tidak dipergunakan, maka penjimpan dapat menjerahkan kembali barangnja kepada ja n g menitipkan.

P a sa l 1719 B .W . menentukan, barangnja djuga dapat dikembali­

kan kepada seorang jan g dikuasakan oleh pihak jang menitipkan barang, atau kepada seorang jan g memberi kuasa kepada jang me nitipkan baran g, untuk menitipkannja itu.

D alam praktek surat kuasa ini dapat berupa suatu tatida-mem- tipkan baran g, seperti misalnja suatu regu, jang oleh penjimpan di­

berikan kepada ja n g menitipkan barang, jaitu barang hanja dapat diambil dengan memperlihatkan tanda-penitipan tadi. D juga orang jang m enitipkan sendiri, harus memperlihatkan tanda itu oleh karena mungkin sekali si penjimpan adalah lupa akan orangnja jang me­

nitipkan barang, seperti misalnja pada tempat penitipan sepeda- sePeda oleh para penonton bioskop.

P E N I T I P A N B A R A N G

HUKUM P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N - T E R T E N T U

Kalau jang menitipkan barang, meninggal dunia, sebelum mene­

rima kembali barangnja, maka menurut pasal 1721 B.W ., barangnja hanja dapat diserahkan kembali kepada ahliwarisnja, djadi tidak misalnja kepada orang jan g dikuasakan oleh jan g meninggal dunia, sebab pemberian kuasa ini menurut pasal 1813 adalah gugur.

Dalam hal lebih dari seorang ahliwaris, m aka barangnja harus dikembalikan kepada segenap ahliwaris, atau kepada seorang dari mereka, jang ditundjuk oleh kawan-kawannja, atau apabila jang dititipkan adalah barang-barang jan g dapat dibagi-bagi (deelbaar) seperti uang atau beras, kepada m a s in g -m a s in g ahliwaris dapat diberi sebagian menurut ukuran-pembagian masing-masing.

Kalau seorang jan g menitipkan barang, berganti kedudukan- hukumnja, sehingga ia tidak berkuasa untuk menerima barangnja, seperti seorang perempuan jan g kemudian berkawin, atau seorang jang kemudian ditetapkan dibawah pengawasan curatele, maka penerimaan barang harus dilakukan oleh ja n g pada umumnja ditu­

gaskan mengurus harta-benda seorang iang menitipkan itu (pasal 1722 B.W .).

Sebaliknja, kalau barangnja dititipkan oleh seorang wali atau seorang curator, dan kemudian seorang ja n g mempunjai wali itu mondjadi dewasa, atau seorang curandus tidak lagi berada dibawah ua u pengawasan curatele, maka barangnja harus dikembalikan Kepada seorang itu sendiri (pasal 1723 B .W .).

Tempat pemberian kembali barang

ni menurut pasal 1724 B.W., adalah tempat ja n g ditentukan a am perdjandjian, atau, kalau tiada ketentuan, tempat dimana penjimpanan barang dilakukan. D jadi tidak seperti jan g dikatakan o eh pasal 1393 B.W., pada tempat, dimana persetudjuannja terdjadi.

ja 3 memikulkan biaja dari penjerahan kembali ini pada pihak

Dalam dokumen HUKUM PERDATA TENTANG PERSETUDJUAN2 TERTENTU (Halaman 115-120)