HUKUM PERDATA TENTANG
PERSETUDJUAN 2 TERTENTU
t
\
Oleh
M r W irjo n o Prodjodikoro Ketua Mahkamah Agung
di Indonesia
?
' , E R B IT A N V O R K IN K — V A N H O E V E Afc H O K U t i Jb a n d u n g — ’s-g r a v e n h a g e
n Peng Ruantfj Batja
if 6 CCI »S 3 // /*?
f 4 sf? ’ mu . Q
M <5FP ?Q0íl V /^ 2 -
* ? SFP ?or / / / ^ /
% % V
HUKUM p e r d a t a t e n t a n g. PERSETUDJUAN2 T ^ ^ E N T U V>-
Dikeluarkan dari koleksi Perpustakaan UI
Rp. 3 0 .
n
i I
HUKUM PERDATA TENTANG
PERSETUDJUAN 2 TERTENTU
Oleh
M r W irjono Prodjodikoro Ketua Mahkamah Agung
di Indonesia
PENERBITAN
V O R K IN K— VAN HOEVE BANDUNG — ’s-GRAVENHAGE
1954
f
Hak 'pengarang dilindungi oleh undang-undang.
FAK. HUKUM dan PENG. NiASJ.
T a n g g a l ....tb... - 12 ...t...¿ A
K A T A P E N D A H U L U A N
Buku ini adalah landjutan dari rangkaian buku-buku, jang te
lah saja tulis perihal Hukum Perdata, jang berlaku di Indonesia pada waktu sekarang. Buku-buku itu adalah sebagai berikut : 1 . Asas-asas Hukum Perdata.
2. Hukum AtjaraJPerdata di Indonesia.
3 . Asas-asas Hukum Perdata Internasional.
4. Asas-asas Hukum Perdjandjian.
5. Perbuatan melanggar Hukum, dipandang dari sudut Hukum Perdata.
6 . Hukum Perdata tentang Hak-Jhak atas Benda.
Maksud saja ta’ lain ta’ bukan ialah untuk menjadjikan kepada chalajak ramai pada umumnja, dan kepada para-maha-siswa dari fa- kultet Hukum dan fakultet Ekonomi, para Hakim, para Pengatjara dan para Notaris pada chususnja, suatu kupasan sederhana dalam bahasa Indonesia dari bagian Hukum Perdata, jang sekiranja dibu
tuhkan oleh mereka.
Sudah barang tentu, buku ini adalah djauh dari sempurna dan ada banjak kekurangan. Ini berhubung dengan kurang ketjakapan serta waktu saja jang terluang. Mudah-mudahan sadja kekurangan- kekurangan ini akan diisi oleh para ahli-hukum lain jang lebih tja- kap dan lebih mempunjai waktu jang terluang pada masa kesibukan Negara dan masjarakat Indonesia dalam melakukan segala matjam
pembangunan, jang sama urgent semuanja.
W . P.
5
B A G I A N I
P E M B U K A A N
Jang saja maksudkan dengan perkataan „persetudiuan” dalam buku ini, ialah suatu pengertian, jang dalam perundang-undangan Hindia- Belanda dulu dinamakan „overeenkomsten * j a i t u suatu kata-sepakat antara dua pihak atau lebih"mengenai harta-benda kekajaan mereka, r(
jang bertudjuan mengikat kedua belah pihak. — Ada perkataan lain jang mungkin oleh setengah orang diper
gunakan untuk pengertian jang saja maksudkan ini, jaitu perkataan
„perdjandjian”.
Menurut hemat saja, kata „perdjandjian” adalah lebih tepat terpakai untuk pengertian jang lebih luas dari pada hal kata-sepakat tadi.
„Perdjandjian” saja artikan sebagai suatu perhubungan-hukum • mengenai harta-benda kekajaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berdjandji atau dianggap berdjandji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain ber
hak menuntut pelaksanaan djandji itu.
Sebagian amat besar dari „perdjandjian-,perdjandjian” ini jber- suniber pada, suatu kata-sepakat, suatu „persefudjuan” antara ke
dua belah pihak, akan tetapi ada sebagian jang bersumber pada suatu perbuatan ta’ melanggar hukum dari salah suatu pihak, jaitu perbuatan tertentu jang meskipun bersifat sebelah atau unilateral, toh oleh undang2 ditetapkan mengakibatkah diantara pihak pembuat perbuatan itu dan pihak lain suatu perhubungan-hukum, jang me
menuhi sjarat2 pengertian „perdjandjian” jang saja sebutkan tadi.
Kini kedua belah pihak oleh undang2* dianggap berdjandji hal se
suatu.
Burgerlijk Wetboek Indonesia menjebutkan dua tjontoh dari perdjandjian semat jam ini, jaitu dalam pasal 1354 hal mengurus ke
pentingan orang lain dengan suka-rela (zaakwaameming), dan dalam pasal 1359 hal pembajaran jang tidak dimestikan (onverschul- digde betaling).
Supaja tiada salah paham, perlu mula-mula dikemukakan, bahwa, kalau saja berhubung dengan ini, memakai istilah „Hukum Perdjan
djian”, maka ini bukanlah pengertian „Verbintenissenrecht” , jang sebagian terbesar termuat dalam Buku III Burgerlijk Wetboek dan dalam Wetboek van Koophandel.
Istilah „Hukum Perdjandjian” dalam pandangan saja, berarti lebih luas, oleh karena meliputi djuga Hukum Adat, dan lebih sempit, oleh karena hanja meliputi „verbintenis”, jang bersumber pada per-
7
H U K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N ~ T E R T E N T U
>
setudjuan (overeenkomsten) dan pada suatu perbuatan t a ’m elan ggar Hukum (rechtmatige daad), d jadi tidak meliputi „verbintenis uit de wet alleen” (= p erik atan jan g bersumber pada undang-undang s a d ja ), seperti pasal-pasal dari Burgerlijk W etboek mengenai pem akai-pem a- kai pekarangan, jang sekali merupakan orang-orang tetangga, „bu- renrecht” (pasal-pasal 625-672) dan djuga tidak meliputi „verbintenis uit onrechtmatige daad” ( = perikatan ja n g bersum ber p ad a suatu perbuatan melanggar Hukum ). D ua m atjam perikatan (verbintenis- sen” ) ini .tidak mengandung anasir „d jan dji” . O ran g tidak dapat dikatakan berdjandji hal sesuatu, apabila suatu kew adjiban dibeban
kan kepadanja oleh undang-undang belaka atau, dalam hal perbuat- an-melanggar-Hukum (pasal 1365 B. W . ) setjara bertentangan langsung dengan kemauannja.
Buku ini bermaksud hanja mengupas hal persetudju<in-persetu
djuan tertentu (bepaalde overeenkomsten), artin ja tidaklah akan saja kupas setjara langsung asas-asas Hukum Perdjandjian, jan g terutama dalam Burgerlijk Wetboek Buku H I titel2 I, n , H I dan IV mengenai perdjandjian pada umumnja. H a l ja n g belakangan ini saja kupas dalam buku lain dari tangan saja, jaitu ja n g berkepala
„Asas-asas Hukum Perdjandjian” . .
Peraturan-peraturan-Hukum jan g berlaku di Indonesia tentang persetudjuan-persetudjuan tertentu ini, dapat dibagi dalam dua bagian, jaitu jang satu masuk lingkungan Hukum A d a t dan ja n g am masuk lingkungan Hukum Burgerlijk W etboek dan W etboek van Koophandel. (B.W . dan W .v .K .).
Hukum Adat pada hakekatnja h an ja berlaku bagi o r a n g - o r a n g
Indonesia-asli, sedang Hukum B.W . dan W .v.K. pada hakekatnja ha
nja berlaku bagi orang-orang W arga n e g ara Indonesia ja n g t>eraS Eropah, Tionghoa, A rab dan lain-lain bangsa Tim ur Asing.
Dikotajkota besar, terutama diibukota D jakarta, ja n g m enga^
dung banjak anasir-anasir internasional djuga, am at s e r i n g k a l i
persetudjuan-pefS&iudjuan diadakan antara orang-orang ja n g takluk pada Hukum B.W. dan W .v.K., atau antara mereka disatu pihak dan orang-orang Indonesia-asli dilain pihak dalam suatu suasana (ste er;
jang dalam tudjuannja menjenderung pada berlakunja Hukum B .w . dan W.v.K.
Keadaan jang tersebut belakangan ini, sangat didorong oleh ke- njataan, bahwa dimasa sekarang amat banjak didirikan Perseroan
Terbatas (Naamloze Vennootschappen) oleh orang2 Indonesia-as b dengan akibat, bahwa bagi mereka, sepandjang mengenai perbuatan - hukum dari perseroan* itu, djuga berlakulah penuh Hukum B .W . dan
di;sebabkan oleh kenjataan pula, bahw a perseroan2 terbatas 1 ^ 1 ri 311 ^epat menurut peraturan dari 'W . v. K. m e n g e n a i
Naamloze Vennootschappen, maka dari itu para pendiri dari Perse- roan-perseroan Terbatas itu dapat dianggap bermaksud untuk ten- 8
P E M B U K A A N
tang hal perseroan ini, menaklukkan diri pada Hukum B.W . dan W . v. K.
Dengan kenjataan2 ini semua dapat dipersoalkan, apakah dian- tara orang2 dagang Indonesia-asli diibukota Djakarta, jan g meng
adakan persetudjuan-persetudjuan sematjam jang seringkali terdjadi antara orang-orang bangsa Asing disatu pihak dan orang-orang Indonesia-asli dilain pihak, tidak djuga harus dianggap berlaku Hukum B.W. dan W.v.K.
Dalam hal ini dapat dipersoalkan pula, apakah kini Hukum Adat sudah berubah sehingga udjudnja tentang persetudjuan-persetudjuan tertentu itu mendekati pada Hukum B.W. dan W.v.K.
Kalau ini sudah mungkin dapat dikatakan, maka sekiranja, un
tuk kepastian-hukum dapat dipertimbangkan, apakah bagian Hukum Perdata ini dapat dikodipisir, jaitu dimasukkan dalam peraturan-un- dang-undang setjara jang tidak memperkosa Hukum Adat didaerah- daerah pedalaman.
Systeem B.W. dan W.v.K. tentang persetudjuan-persetudjuan tertentu adalah demikian, bahwa B.W. Buku III titel-titel I, H, IIL dan IV selaku peraturan-umum berlaku bagi segala matjam persetu- djuan, sedang kemudian B.W. Buku m selandjutnja dan W.v.K.
memuat beberapa titel, jang mengatur pelbagai persetudjuan chusus, seperti dari B.W. Buku IH titel V mengenai djual-.beli, titel V I me
ngenai tukar-menukar, titel V II mengenai sewa-menjewa, begitu seterusnja, dan dari W.v.K. Buku I titel III mengenai perseroan-da- gang, titel I V mengenai pekerdjaan makelar dan lain-lain, titel V mengenai commissionnair dan lain-lain, titel V I mengenai wissel, begitu seterusnja.
Perhubungan antara peraturan-umum dari B.W. Buku m titel2 I — I V disatu pihak dan peraturan-peraturan chusus tersebut diatas, ialah, bahwa kalau oleh kedua belah pihak dalam suatu persetudjuan*
sebagai maksud mereka disebutkan salah suatu persetudjuan chusus tersebut, nmka peraturan chusus itu dianggap berlaku meskipun ba- i rangkali dalam peraturan-umum djuga pasal jang mengatur hal itu setjara lain. Ini adalah principe, jang mengatakan, bahwa suatu per- I aturan-chusus selalu menjampingkan peraturan-umum, (lex speciali- ^
derogat legi generali).
Perhubungan sematjam ini antara peraturan-umum dan peratur- an-chusus adalah ada, apabila peraturan-chusus ini mengandung anasir-anasir jang semua termuat dalam peraturan-umum itu, dan selain dari pada itu, masih mengandung satu atau lebih anasir lain, jang tidak termuat dalam peraturan-umum itu.
Misalnja pasal 1444 B.W. mengandung peraturan-umum tentang pertanggungan-djawab atas hilangnja suatu barang tertentu, jang m end j adi object suatu persetudjuan, jaitu kalau barang itu hilang diluar salalinja pihak jang berwadjib menjerahkan barang itu pada waktu sebelum barang itu diserahkan, maka persetudjuan seluruhnja
9
H U K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N2 T E R T E N T U
d il^ p a ^ a n ^ p n n A a r^^nj'^’ lain d ju ga terlepas dari ikatan2 ja n g B W mpntr j an‘,a Persetudjuan itu. Sebaliknja, p asal 1460 S a b f , SUatU Pe^ u r a n -c h u s u s tentang djual.beli, jaitu pembeli adai Jang didjual dan belum diserahkan kepada si L S k i h a i h a h S r salahnj a si Pendjual, m aka ini tidak i r o w bahwa persetudjuan djual-beli seluruhnja gugur, m elain- belian* vf 1 a ak tetap berwadjib untuk m em bajar harga-,pem
belian dan barang jan g hilang itu.
1444^BU^r 1460 B .W . ja n g tidak term uat dalam pasal diual-hpli * ’ a a Pasa^ 1460 chusus mengenai persetudjuan umuirLnja> pasa* -*-444 hanja mengenai persetudjuan pada menjadikan1 ^ Urg®rljjk W etb°ek djuga memungkinkan p ara pihak atur d i l t ^ B W w J^ n'? erSetUdjUan jang sam a sekali tidak di"
dinan r>o + a • *’ * a^au undang-undang lain. U ntuk persetu- s e p e n S JUan ^ ,berlakulah B -W - Buku m titel-titel I — I V diuan-npip+i * ■ u_pengetah^an"Hukuiii Belanda menam akan persetu- JU^n . sematjam ini „onbenoemde overeenkomsten”
Dengan tidak disebutkan dalam u n d a n g -u n d a n g ).
mengandung ana! - 1 emimgkinan besar, bahw a suatu persetudjuan tertentu dan ha <h ^ ' anasir JanS sebagian masuk suatu persetudjuan nja diatur ehu<?n ™ asuk Persetudjuan tertentu lain, dua-dua- koop). ° ’ misalnj a persetudjuan sewa-beli (h u u r- d i^ g g a p ^ e r la k i^ m T h 131 ?.ertf n3aan, Hukum m anakah ja n g harus dua-duan-ja atau hnt ! 1 1 atau Hukum sew a-m enjew a atau hania ba°ian ^ ? suatu dari dua Hukum tadi, melainkan I — i v ) & 110111111 dari Hukum -Perdjandjian (B .W . Buku I H titel2 tadi dianggap berlaku ialah salah suatu dari dua Hukum mak ^ . ukuin djual-beli sadja atau Hukum sewa-m enjewa sadja, ' rV ^ ^en^u tidak akan memuaskan, oleh karena bentuk sewa-bell 1111 justru diambil, oleh karena salah suatu dari dua Hukum tadi anggap tidak tjukup untuk m enggambarkan maksud para pihak setjara tepat.
Kalau jang dianggap berlaku ialah dua-duanja Hukum tadi ber
sama maka ini djuga susah untuk dilaksanakan, oleh karena dari uUa Hukum tadi ada hal-hal jan g bertentangan satu sama lain, seper, M 0rpindahnj'a hak-eigendom dari si pendjual kepada si pembeli, d jual ¿nUrut Hukum djual-beli, hak-eigendom dari barang ja n g di- danja1 sedPUldah ketan^an si Pembeli> kalau sudah diserahkan kepa- barang ia menurut Hukum sewa-menjewa, hak-eigendom dari jang mem'pwroi1SeWa dan diserahkan itu, tetap berada ditangan pihak
Maka dari ^tu ,Pibak pendj'ual*
kan, ialah hania mJ.njelesaikan soal 1111 Jan^ a£ak memuas- J Jang diatas disebutkan terbelakang, jaitu kalau
P E M B U K A A N
persetudjuan sewa-beli itu dianggap sebagai suatu persetudjuan jan g sama sekali tidak diatur dalam undang-undang, dengan akibat, bahwa berlakulah bagian-umum dari Hukum-Perdjandjian (B .W . Buku H t titel-titel I — I V ), ditambah dengan segala sesuatu jan g disetudjui oleh kedua belah pihak. Dalam hal ini jan g penting ialaii maksud sebenarnya dari kedua belah pihak, dengan tidak mengikat diri pada kata-kata apapun djuga jang terpakai dalam Hukum djual-beli dan dalam Hukum sewa-menjewa masing-masing.
Di Negeri Belanda Burgerlijk Wetboek memuat peraturan chusus tentang huurkoop ini, jaitu dalam pasal-pasal 1576h — 1576x. Menu
rut pasal 1576h itu, huurkoop adalah suatu djual-beli setjara menitjil uang-harga-pembelian dengan ketentuan, bahwa hak-eigendom atas barang jang didjual tidak berpindah ketangan si, pembeli dengan
penjerahan belaka dari barang itu kepada si pembeli.
Bukanlah maksud buku ini untuk mengupas segala persetudjuan tertentu jang teratur dalam undang-undang dan dalam Hukum Adat.
Berhubung dengan kenjataan, bahwa Undang-undang Dasar Sementara dari Republik Indonesia dalam pasal 102 memperbedakan Hukum Dagang dari pada Hukum Perdata pada umumnja, maka ada baiknja, apabila saja dalam buku ini memperbatasi diri pada pengu
pasan persetudjuan2 jang termuat dalam B.W. Buku m sadja, ditambah dengan peraturan Hukum Adat jang mengenai persetudju- an-persetudjuan itu atau jang mengenai lain-lain persetudjuan, jang mirip dengan jang diatur dalam B.W. itu.
Djadi -tidaklah saja kupas persetudjuan-persetudjuan jang ter
muat dalam Wetboek van Koophandel, sedang persetudjuan2 jang diatur dalam undang-undang lain (bukan B.W. dan bukan W .v.K .) akan saja bitjarakan sekedar ada hubungan dengan persetudjuan2 jang diatur dalam B.W. Buku III.
11
B A G I A N n
D J U A L -B E L I
m a t a - u a n g l T^ nana sudah ada Peredaran uang berupa merupakan «simtn + m bajaran ja n g sah, persetudjuan djual-beli para anggauta m a l S k a t 11^ ^ P&Hng diadakan diantara milikm'a ^ rek° nomian> seorang pendjual m elepaskan hak«.
untuk memenuh^^Ph! ^ ng’ ° leh karena d ianggap kuran g perlu memenuhi * kebutuilan"Perekonomian, sedang si pembeli ingin ' atas barang itu* ^ erekonom^annJa setjara m endapat hak-milik mian darf aPabila dianggap, bahw a tudjuan-perekono- dari «n va JUf iaIah memindahkan hak-milik atas suatu- baran g dan seorang tertentu kepada seorang lain.
agaimanakah djual-beli ini berw udjud menurut Hukum ? kah-lak 1101 ada*a *1 ranS’kaian peraturan-peraturan mengenai ting- diuan U Oran^ 'orang sebagai anggauta suatu m asjarakat dan bertu- mengadakan tata-tertib diantara para anggauta m asjarakat itu.
suat ri - J*an^ menegaskan, bilamana dianggap terdjadi dah U ,^ua^"be^ dan 'bilamana tudjuan-perekonomian, jaitu pemin-
ak"miIik:. terlaksana> dan -bagaimana udjud hak-hak dan ke- J1 an ewadjiban dari kedua belah pihak pada waktu sebelum dan sesudah terdjadi djual-beli itu.
H „ k , f ^ an ^ ukum jan g “ engatur hal djual-beli ini masuk bagian, kini luas’ .Jaitu Kukum -Perdjandjian, dan perdjandjian benda Vot, - 1 311 sebaS’a^ suatu perhubungan-hukum mengenai harta, diane-ean a^ ara; dua pihak, dalam satu pihak berdjan dji atau melakukan sesuatu' haikan xnclak.ukan sesuatu hal atau akan tidak naan djandji itu ’ S PJhak lain berhak menuntut pelaksa- kewadjiban2=d ^ =^ S ^ Uv ^ ^ i al~beli ialah rangkaian hak-hak dan SaHng » « « a “ “ « « . j aitu Si
^ahwT^raT.tr-rfT takan daIam pasaI 1457 dan pasa>
l i 5 8 -mengikat diri un+ni^ v! sua*u persetudjuan, dimana suatu pihak pihak lain untuk b e r w a adjib menJerahkan suatu barang, dan antara mereka berdua n ine”1'baJar harga (p rijs ) jan g dimufakati kan. bahwa p e n je ra h a n n S ndjutnj’a Pasal 1475 B .W . mengata- dracht) barang oleh pend' 8V5 rj: adal ah penjerahan (over- pihak pembeli. **ua earah kekuasaan dan pemegangan 12
D JU A L -B E L I
Pasal2 ini adalah tiruan dari pasal2 1493, 1494 dan 1511 B.W.
di Negeri Belanda. Dan disana para ahli-hukum tidak semufakat da
lam menafsirkan pasal2 ini.
A d a jang berpendapat, bahwa perkataan „penjerahan” kini ha- nja berarti penjerahan belaka dari tangan si pendjual ketangan si pembeli (diantaranja Hofmann dalam bukunja „Het Nederlandsch Verbintenissenrecht” bagian II tjetakan ke II halaman 38), dan ada jang berpendapat, bahwa perkataan „penjerahan” kini meliputi dju- ga penjerahan hak-milik, (diantaranja Asser-Kamp!huisen dalam bu
kunja „Verbintenissenrecht” bagian III halaman 12-15 dan Van Brakel dalam bukunja „Leerboek van het Nederlandsch Verbintenis
senrecht” bagian II tjetakan ke II halaman 9-10). Tetapi Hofmann c.s. achirnja djuga berpendapat, bahwa si pendjual djuga berwadjib untuk menjerahkan hak-milik atas barang jang diserahkan itu.
Hanja sadja kewadjiban ini tidak diambil dari pasal2 1493 dan 1511, melainkan dari bagian lain dari Hukum dengan mengingat tudjuan jang sesungguhnja dari djual-beli.
Pasal 584 B.W. menjebutkan beberapa tjara memindahkan hak- milik, diantaranja djuga disebut penjerahan barang sebagai akibat dari suatu persetudjuan atau perbuatan-hukum jang bermaksud me
mindahkan hak-milik atas suatu barang dari tangan seorang keta
ngan seorang lain.
Berhubung dengan pasal ini, maka penetapan pengertian djual- beli dalam pasal 1457. B.W., jang menjebutkan sebagai anasir dari djual-beli hanja kewadjiban pendjual untuk menjerahkan barang, adalah berarti, bahwa dengan adanja persetudjuan djual-beli ini, ba
rang jang bersangkutan belum pindah' hak-miliknja kepada si pem
beli.
Pemindahan hak-milik ini baru akan terdjadi, apabila barangnja sudah diserahkan ketangan si pembeli. Djadi selama penjerahan itu belum terdjadi, maka hak-milik atas barang itu tetap berada dita- ngan si pendjual. Ini ditegaskan lagi dalam pasal 1459 B.W.
Dalam hal ini, oleh para ahli-hukum Belanda dikatakan, bahwa persetudjuan djual-beli hanja mempunjai s-ifat „obligatoir” ( = meng
ikat), tidak djuga mempunjai „zakelijke werking” , artinja tidak ber~
daja langsung mengenai kedudukan barangnja.
Ini adalah simpangan dari sumbemja B.W. Belanda, jaitu Code Civil Perantjis, jang dalam pasal 1583 mengatakan, bahwa hak-milik atas barang jang didjual adalaih sudah berpindah ketangan pembeli pada waktu persetudjuan djual-beli diadakan.
Perintjian pengertian dalam sifat „obligatoir” dan daja „zake- lijk” ini sama sekali tidak perlu dalam Hukum Adat di Indonesia.
Menurut Hukum Adat ini, jang dinamakan djual-beli itu bukanlah persetudjuan belaka jang berada diantara kedua belah pihak, me
lainkan suatu penjerahan barang oleh si pendjual kepada si pembeli dengan maksud memindahkan hak-milik atas barang itu dan dengan
13
sjarat pembajaran harga tertentu berupa uang oleh pembeli kepada pendjual.
Dengan ini, dalam Hukum Adat orang tidak perlu mengambil pusing, apakah persetudjuan djual-beli hanja mempunjai sifat mengi
kat atau „obligatoir” sadja ataukah djuga berdaja mengenai kedu
dukan benda atau „zakelijk”.
Tentunja djuga dalam Hukum Adat harus ada suatu persetu
djuan antara kedua belah pihak berupa kata m ufakat tentang m ak
sud untuk memindahkan hak-milik dari tangan pendjual ketangan pembeli dan pembajaran uang-harga-pembelian oleh pembeli kepada pendjual. Tetapi persetudjuan ini hanja bersifat 'pendahuluan u n t u k
suatu perbuatan-hukum tertentu, jaitu pendjualan berupa penjerahan barang tadi.
Selama penjerahan barang itu belum terdjadi, m aka beluin ada djual-beli dan pada hakekatnja belum ada pengikatan apa2 dari ke?
dua belah pihak.
Pengertian djual-beli dalam Hukum A d a t ini sesuai dengan tjara berpikir dari orang2 Indonesia-asli, jan g lebih bersifat menga sendiri setjara njata (konkreet, belevend, participerend d e n k e n ) ,
dari pada tjara berpikir orang2 Barat jang lebih bersifat memerin J hal sesuatu melulu dalam pikiran dengan tiada suatu k e n j a t a a n ( a
stract, analiserend denken).
Bahwa didalam Hukum Adat djuga dirasakan lajak n ja ada P81^ 1 katan kedua belah pihak atau salah seorang dari mereka pada w a u belum ada penjerahan barang itu, terbukti dengan adanja kelazinrian pemberian suatu pandjer berupa uang atau barang oleh pembeli e pada pendjual pada waktu baru ada persetudjuan belaka dianta mereka. Dengan adanja pemberian pandjer ini, jan g sudah merupa*
kan hal njata jang dapat dilihat (konkreet), maka kedua belah pi merasa terikat, jaitu si pendjual untuk menjerahkan baran g dan si pembeli untuk membajar uang-harga-pembelian.
Tetapi masih ada perbedaan besar antara Hukum A d a t dan B.W . tentang sanctie atau hukuman dalam hal para pihak atau salah
s e o r a n g dari mereka, tidak memenuhi djandji masing2.
Dalam H ukum A Hat si pendjual jang tidak memenuhi diand.ji menjerahkan barang, harus mengembalikan pandier. sedang pembeli j&ng kemudian tidak mau menerima barang jang didjandjikan
it u, tidak dapat menerima kembali pandjer, dan pandjer ini tetap mendjadi milik si pendjual. Kalau pendjual sudah m enjerah
kan barangnja kepada si pembeli, maka djual-beli sudah terlaksana, dan si pembeli berwadjib membajar uang-harga-pembelian kepa a pendjual dengan diperhitungkan uang-pandjer tadi. D jadi si pendjua pada hakekatnja tidak dapat meminta kembali barang jan g telah di
serahkan itu, melainkan ia hanja dapat menuntut pembajaran uang- pembelian dari si pembeli.
Saja katakan „pada hakekatnja” , sebab udjud Hukum A d a t ti HUKUM PE RDATA T E N T A N G P E R S E T U D J U A N - T E R T E N T U
14
D J U A L -B E L I
daklah bersifat kaku seperti udjud Hukum undang2. A d a kalanja rasa-keadilan akan lebih dipenuhi, apabila barang jan g telah dise
rahkan itu, dikembalikan kepada si pendjual dari pada apabila uang- pembelian dihajarkan oleh pembeli kepada pendjual. Untuk memuas
kan rasa-keadilan setjara ini, Hukum Adat tidak menghalang-halangi.
Misalnja kalau dalam persetudjuan djual-beli ini ada sedikit-banjak anasir penipuan dari pihak pembeli, maka mungkin sekali pendjualan dapat dikatakan batal dengan akibat, bahwa keadaan harus dikem
balikan seperti semula, jaitu barang berada ditangan si pendjual.
Lain sifatnja dari pada pandjer ini adalah apa jan g dalam pasal 1464 B.W. dinamakan „handgift” ( = pemberian uang dengan ta
ngan) atau „godspenning” ( — mata-uang Tuhan), jan g mungkin diberikan oleh pembeli kepada pendjual pada waktu djual-beli dise- tudjui oleh kedua belah pihak. Kalau pemberian ini terdjadi, maka, menurut pasal 1464 B.W., kedua belah pihak tidak dapat memba
talkan djual-beli, si pembeli dengan membiarkan uang itu ditangan pendjual, si pendjual dengan membajar kembali uang itu. Dengan ini ditegaskan, bahwa pemberian „handgift” ini sama sekali tidak berarti, ketjuali hanja sekedar selaku membuktikan adanja djual-
beli itu.
Pembentuk B.W. (di Negeri Belanda) rupa-rupanja menganggap perlu memuat pasal ini, oleh karena sumbernja B.W., jaitu Code Civil dari Perantjis, dalam pasal 1590 menganggap pemberian hand
gift itu ada daja jang di-ingkari oleh pasal 1464 B.W . ini. ^ Kalau dalam hal pemberian „handgift” persetudjuan djual-beli dilaksanakan seperti jang dimaksudkan, maka biasanja uang jang dibajar dulu itu, diperhitungkan, artinja dipotong dari djumlah har- ga-pembelian.
Kedua belah pihak leluasa untuk menentukan lain dari pada hal harus diperhitungkan ini dan djuga dapat menjimpang dari jang di
tentukan oleh pasal 1464 B.W. tadi.
Subject persetudjuan djual-beli^
Dalam djual-beli ada dua subject, jaitu si pendjual dan si pem
beli, jang masing2 mempunjai pelbagai kewadjiban dan pelbagai hak.
Maka mereka masing2 dalam beberapa hal merupakan pihak-ber- wadjib dan dalam hal2 lain merupakan pihak-berhak. Ini berhubung dengan sifat timbal-balik dari persetudjuan djual-beli (wederkerig-
overeenkomst).
Subject jang berupa orang manusia, harus memenuhi sjarat umum untuk dapat melakukan suatu perbuatan-hukum setjara sah, jaitu harus sudah dewasa, sehat pikirannja dan tidak oleh peraturan- hukum dilarang atau diperbatasi dalam hal melakukan perbuatan- hukum jang sah, seperti misalnja peraturan-pailit, peraturan tentang
15
EUKTJM P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N2 T E R T E N T U
orang perempuan berkawin menurut B .W . (pasal 108 dan pasal 109) dan sebagainja.
Untuk orang-orang jan g belum dewasa, harus bertindak oran g- tua atau walinja, untuk orang-orang ja n g tidak sehat pikirannja, harus bertindak seorang pengawasnja, dalam hal „cúratele” seorang ourator, untuk orang jan g berada dalam pailit, harus bertindak curatomja djuga, jaitu Dewan H a rta Peninggalan (W e e sk a m e r), sedang seorang berkawin jan g takluk pada B .W ., harus dibantu atau diberi kuasa oleh suaminja.
Disamping peraturan jan g bersifat umum ini, B .W . dalam pasal2 1467 1470 memuat peraturan istimewa mengenai djual-beli.
Pasal 1467 B.W . m elarang djual-beli diantara suami dan isteri.
Larangan jnj, seperti djuga. larangan menghibahkan, b a ra n g diantara suami dan isteri (pasal 1678 a ja t 1 B .W .), h an ja berlaku dalam hal diantara suami dan isteri ada perdjandjian-kawin (huwelijkse voor- waarden), jan g mengakibatkan pisah-kaja (scheiding van goederen).
Larangan-larangan ini dianggap perlu berhubung dengan pasal 149 B.W. jan g menentukan, b ah w a perhubungan mengenai harta-benda jang sedjak semula berada diantara suami-isteri berupa pisah -kaja itu tidak boleh diubah, m isalnja tidak boleh didjadikan tjam p u r- kaja (gemeenschap van goederen).
K alau larangan djual-beli dan menghibahkan diantara suami dan isteri ini tidak ada, m aka ada kechawatiran, bahw a dengan t ja ra djual-beli atau menghibahkan ini praltfis perihubungan pisah-kaja, akan mendjadi perhubungan tjam pur-kaja.
D ari larangan djual-beli diantara suami dan isteri ini, pasal 1467 B.W. menjebutkan tiga m atjam keketjualian, ja n g sebetulnja bukan keketjualian, oleh karena mengenai pemenuhan kew adjiban belaka, jaitu ke-1 apabila suami atau isteri m enjerahkan kepada ja n g lain hak-milik atas barang, jan g sudah semestinja menurut Hukum , ke-2, apabila, perijerahan barang itu, jan g dilakukan oleh suami kepada isteri, mempunjai persébaban jan g sah (wettige oorzaak ), seperti misalnja barang jang diperoleh suami dengan m empergunakan uang- cimrmí ^ an ke_3, aPabila si isteri m enjerahkan kepada si pada walrh^h 1 un?uk menSgantikan uang ja n g ia s a n g g u p k a n
pada waktu belum kawin, akan memberikan kepada suami.
s u a m i ' akibat dan pelanggaran larangan djual-beli diantara dan isten ini, ada dua pendapat. Jang satu m e n g h e n d a k i
Pembatalan-mutlak (absolute nietigheid) dari djual-beli ja n g terdjadi TJemhüf? S6.tiap '°rang dapat men^emukakan dan mempergunakan an 26) ^ ltU (Asser_KainPhuisen halaman 48 dan Hofm ann halam - lak (relatiev*^ .p®Pdapat Jan8’ lain menghendaki pem batalan-ta’mut- boleh diminft *gkeid) sedemikian rupa, bahw a pembatalan h an ja (schuldpicioT^ j 6 . suami atau isteri atau oleh seorang-berpiutang (Hoge Raad Bpbmri m®r®ka’ Jari£ dirugikan oleh djual-beli itu
elanda dalam putusannja tanggal 8-6-1932, term uat 16
DJUAL-BEL1
dalam „Periodiek Woordenboek” no. 13240, dan Land-Star Busman halaman 33).
Hukum Adat tidak memerlukan larangan djual-beli atau peng
hibahan diantara suami dan isteri, oleh karena Hukum Adat tidak mengenal larangan mengubah keadaan pisah-kaja mendjadi tjampur- kaja seperti B.W. Dalam Hukum Adat pada hakekatnja selalu ada pisah-kaja ketjuali misalnja dalam hal gonogini di Djawa-Tengah dan Djawa-Timur, jaitu barang-barang jang diperoleh dan/atau dipertahankan dengan kerdja-sama diantara suami dan isteri.
Pasal-pasal 1468, 1469 dan 1470 B.W. mengandung larangan bagi tiga matjam subject untuk membeli barang sesuatu «berhubung de
ngan kechawatiran, bahwa mereka, mengingat hubungannja dengan barang itu, akan tjurang, apabila larangan itu tidak ada.
Pasal 1468 menjebutkan para Hakim, Djaksa, Panitera, penga- tjara, Djurusita dan Notaris sebagai orang-orang jang tidak diperbo
lehkan mendjadi pemilik dari hak-hak dan piutang2, jan g mendjadi perkara dimuka Pengadilan, dimana mereka bekerdja.
Pasal 1469 menjebutkan para Pegawai, jang bertugas menjeleng- garakan atau menjaksikan suatu pendjualan, sebagai orang-orang jang dilarang ikut membeli barang-barang jang didjual itu, baik se- tjara langsung maupun dengan perantaraan orang lain, ketjuali kalau ada idzin istimewa dari Pemerintah Pusat.
Pasal 1470 menjebutkan seorang kuasa (lasthebber), jang diwa- • djibkan mendjual barang untuk orang lain, dan seorang pengurus
barang milik N egara atau milik Badan-badan Pemerintah (bewind- voerder), sebagai orang-orang jang dilarang membeli barang-barang itu Pengurus barang-barang jan g tersebut belakangan ini, dimung
kinkan mendapat idzin istimewa dari Pemerintah Pusat untuk mem
beli barang-barang itu.
Akibat dari pelanggaran larangan2 ini ialah, bahwa dalam hal pasal-pasal 1468 dan 1469 dan dalam hal pasal 1470 mengenai Pengurus barang2 milik Negara dan lain-lain, ada pembatalan-mut.lak (absolute nietigheid), oleh karena larangan2 ini diadakanT untuk ketertiban umum. Dalam hal pasal 1470 mengenai seorang kuasa (lasthebber), hanja ada ipembatalan-ta’mutlak (relatieve nietigheid), oleh karena hal ini sebetulnja hanja mengenai perhubungan-prive antara jang memberi kuasa dan jan g diberi kuasa, djadi hanja jang memberi kuasa (lastgever) sadja dapat menuntut pembatalan.
Timbul pertanjaan : apakah hakekat-hakekat peraturan2 dari pasal-pasal 1468, 1469 dan 1470 B.W. tidak dapat dianggap berlaku djuga dalam Hukum Adat, jaitu diantara orang-orang Indonesia-asli, jang tentunja tidak takluk pada B.W. ?
Menurut hemat saja, Hukum Adat tidak mengandung halangan untuk mengambil pasal-pasal tersebut dari B.W . sebagai pedoman.
17.
Object persetudjucm djual-beli -
Kalau subject dari djual-beli adalali si pendjual dan si p * jaitu anasir-anasir jan g bertindak, ja n g aktif, m ak a o jec djual-beli adalah baranaJang oleh m ereka d idjual atau cLibei.
Pasal 1457 B.W . memakai istilah „zaak” ( — b a ra n g benci ) tuk menentukan, apa jan g dapat m endjadi object djual-be i. an nunit pasal 499 B.W . „zaak” adalah baran g atau hak ja n g +;^aic miliki. Ini berarti, 'bahwa jan g dapat didjual dan d ib e i i u, ..u hanja barang jang dimiliki, melainkan d ju g a suatu h a a .a s barang jang bukan hak-milik, seperti m isaln ja h ak- p
hak-opstal (lihat pasal 724 dan pasal 712 B .W .)- -hohwa Pada umumnja oleh pasal 1332 B .W . sudah dik a a an, ^ at hanja benda jang berada d a l a m perdagangan (in de an e -u an >
mendjadi object suatu persetudjuan, term asuk tentunja pers
djual-beli. . , , -henda2
Pasal ini lazimnja ditafsirkan sedemikian rupa,^ sebagai jang diperuntukkan guna kepentingan umum, harus geba- barang-barang „diluar perdagangan” (buiten de !han e a -jang gai tjontoh disebutkan baran g-baran g t a ’bergerak mili - ® ¿,-gjaji- dimaksudkan dalam pasal3 521 dan 523 B .W ., jaitu ^ ja ^ a g a i raya, pantai2, sungai2, pulau2 dalam sungai, pelabuhan
pembangunan jan g diperlukan untuk pertahanan N e g a ra . a g ar Pasal 1333 B .W . menjebutkan suatu sja ra t lag i b a g i • ^ ^ a ru s dapat mendjadi object suatu persetudjuan, jaitu ben a ja t 1 tertentu, paling sedikit tentang djenisnja. M enurut pasa zaken ), B.W., barang-barang jan g seketika belum ada ada”
dapat mendjadi object suatu persetudjuan. Istilah ,, p e n d ju a l dapat berarti mutlak (absoluut) seperti h aln ja seorang ^ padi jang baru akan ditanam pada tahun depan. D ju g a se d ju a la h arti ta’mutlak (relatief) seperti halnja seorang m endjua masih beras, jang sudah, berwudjud beras, tetapi pada w a k u ^ _ elldjual.
mendjadi milik orang, lain dan akan djatuh ditangan si P la jak, Mengingat sjarat „tertentu” dari object djual-beli, ada ¿jual- apabila pasal 1472 B.W . mengatakan, iba!hwa kalau pada w a . j ^ g l i beli terdjadi, barangnja sudah musnah sama sekali, ma"ka 3 gnah, adalah batal, sedang kalau ¡barangnja h an ja sebagian sa d ja a^.au maka si pembeli dapat memilih antara pembatalan djual-be i penerimaan bagian barang jang masih ada dengan p em bajaran s gian dari harga jang sudah didjandjikan.
Tentang tjara menentukan barang jan g didjual, B .W . ^ a*aITJg]j sal-pasal 1460, 1461 dan 1462 memperbedakan tig a m a t ja m d i ^ - y — ^ berhubung dengan penentuan risiko terhadap m usnahnja b a ra n g 3 ° didjual itu, jaitu ke-1 , : pendjualan baran g jan g sudah terang 1 - tukan udjudnja (specieskoop), ke-2 : pendjualan baran g ja n g ^ ditentukan djenisnja (genuskoop) dan ke-3 : pendjualan b a ran g 3a
H U K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E 1 U D J U A N * T E R T E N T U
18
d j u a l-b e l i
berwudjud suatu kumpulan barang tertentu (koop bij de hoop).
Menurut pasal-pasal 1460 dan 1462, dalam lial „specieskoop”
dan koop bij de hoop” risiko atas musnahnja barang semendjak ter- djadinja persetudjuan djual-beli, diletakkan pada pundak si pembeli, meskipun barang itu belum diserahkan kepadanja, sedang dalam hal o-enuskoop” menurut pasal 1461 risiko ini diletakkan pada pundak pembeli, apabila barang-barang jang dibeli itu, sudah ditimbang, di- hitung atau diukur.
Artinja : dalam hal pendjualan species dan pendjualan sekum
pulan barang-barang, si pembeli tidak dapat menuntut ganti-kerugian dan harus tetap membajar imig-harga-pembelian. Peraturan ini hampir oleh umum dianggap tidak adil, oleh karena si pembeli, jang djuga tidak dapat dipertanggung-djawabkan atas musnahnja barang,
toh harus rugi. . .
Maka dari itu, peraturan mi lazimnja ditafsirkan setjara sesempit mungkin. Misalnja kalau barang jang dibeli itu, kemu
dian diambil oleh Negara setjara memilikinja (onteigening) atau setjara lain, maka peraturan ini dianggap tidak berlaku, oleh karena barang tidak dapat dikatakan musnah, meskipun perkataan „mus
nah” sebetulnja tidak dipakai dalam pasal 1460 B.W.
Dan lagi menurut pasal 1235 ajat 1 B.W., seorang pihak-berwa- djib (kini si pendjual) harus memelihara barang jang harus diserah
kan „als een goed huisvader” , jaitu harus setjara sangat berhati-hati, tidak boleh setjara serampangan.
Dan masih ada pasal 1445.B.W., jang mengatakan, bahwa apabila suatu barang jang harus diserahkan, adalah musnah dilsar salahnja pihak-berwadjib, maka ia berwadjib untuk menjerahkan kepada plhak-berhak segala hak-hak dan tuntutan2 tentang ganti-kerugian mengenai soal jang bersangkutan. Kalau si pendjual sebagai gantl- kerugian dari musnahnja barang harus menerima uang-harga-pem- belian dari pembeli, maka hak ini harus diserahkan djuga kepada si pembeli, atau dengan lain perkataan : si pembeli dibebaskan dari pembajaran uang-harga-pembelian.
Pada achimja dapat dikatakan, bahwa para pihak dapat bermu- fakat untuk menjimpang dari peraturan perletakan risiko diatas pundak si pembeli ini. (lihat Asser Kamphuisen halaman 32-33, Van Brakel halaman 11 dan Hpfmann 'halaman 13).
Sjarat „tertentu” jang oleh pasal 1333 B.W. ditetapkan bagi object segala persetudjuan, dalam praktek perihal djual-beli tidak selalu dipenuhi dan sering diartikan sebagai „dapat ditentukan” (be- paalbaar). Tidak djarang terdengar, bahwa suatu perusahaan didjual.
Ini tidak dapat diartikan sebagai pendjualan segala barang2 dan per- kakas-perkakas jang terpakai dan terbikin dalam perusahaan itu, se
demikian rupa bahwa pendjualan ini sebetulnja adalah sedjumlah pendjualan dari masing-masing barang itu.
Kalau seandainja sebagian dari barang-barang itu sudah dise- 19
d a m tUdlk^eP^ d3' ^ beli dan ^ in -la in bagian belum, pertama itu si pendjual sudah a tf? tangr b a ra n g -b a ra n g ja n g (leveringsplicht) Kini L memenuhi kew adjiban m enjerahkan dari perusahaan* mnt a 1 penjerakan harus meliputi sem ua b a ran g 2
¿ewadjiban pendiual & t t &U a ?a baranS‘"baran g tidak diserahkan, i C T J S 7 tUk -“ b a h k a n , adalah belum dipenuhi.
Pendju^anZ r Z l T * perusahaa* berarti lebih dari pada terbikin dalam n dan perkakas-perkakas ja n g terpakai dan hutang-hutang- i a m ^ i * 1* D ju g a turut diserahkan piutang2 dan
P m h p T tf- 2 ^ m6lekat pada P ^ u s a h a a n itu.
suatu warisan (Verkoorf ^ S6’kedar persam aan dengan pendjualan 1 5 3 7 .1 5 3 9 1 ^ (J erko° P van een erfenis) ja n g diatur dalam pasal2 hak-hak rinn 1,’ daPa,t diartikan sebagai pendjualan segala
Pasal S s S B W T
^
J“ », “ elekat pada ta risan itu. Menurut dari wari<?n *•+ *’ . aIau si ‘Pendjual sudah k etelan djur memetik buah B.W. si Dp^rnh r u mi llarus diperhitungkan, dan m enurut pasal 1539 diual 7in+„T. narus mengganti b iaja ja n g telah d ib a ja r oleh si pen- diuea dnn + ^ ^ P e r t a h a n k a n hak-hak dari w arisan itu. S e k iran ja ini Perusahaan per*akukan sebagai pedoman dalam pendjualan suatu suatJ^taPl masih ada fak tor lain J'ang terselip dalam pendjualan ialah ?6f Usahaan- JajlS sangat penting dalam pendjualan perusahaan , Dahwa harus sekali diserahkan apa ja n g dinamakan „go od w ill”perusahaan tertentu itu.
bah w1 P0mbeU ^ atu perusahaan terutam a melihat pada .kenjataan, namn3^ 01*1183^ 3'3'11 ^an^ akan dibeli itu, iberdjalan baik dan sudah ter- sebetnln?ata masJarakat* Pelandjutan keadaan ja n g baik inilah, ja n g itu. Da
t
mendorong si pembeli untuk m engam bil oper perusahaan dian menr?‘ea^ aaii ba*k akan diganggu, apabila si pen d jual kemu*jane- inma ^ 311 ag* ,P frusahaan sem atjam itu disamping perusahaan PwuaahaaA ,akibat’ bahw a akan ada persaingan a n ta ra dua
dalam hal ini m p n + ltU dapat dikatakan, b a h w a kedju djuran perusahaan baru itu ahwa si Pendjual tidak akan mendirikan seorang t a W b ^ S e ^ i? 111!? ’1 dalam Pendjualan suatu praktek dari berarti pendjualan ala t-a / t PendJualan ini tidak terutam a kan menundjuk terutama * Perkakas dari seorang tab ib itu, m elain- jang diperiksa dan r i i n w ' 1*? »a pelandJutan keadaan djum lah oran g3 Praktek-dokter in? * * ° leh tebib itu* M ak a da^ hal pendjualan ini harus tidak hpyr*n^ + r i *^nS. Pen*ing ialah, b ah w a tabib-pendjual didjalankan. dikota, dim ana praktek itu sem ula
Mengingat ini l-
tjam ini sebetulnia^mpi^ dikatakan, b ahw a pendjualan2 sema- jan g dimaksudkan oleh^R w ih suatu persetudjuan djual-beli t^ampuraji (gemene-dp « « 1 ' melainkan merupakan y ersetudjum i^
s e contracten) j ang sebagian tidak m erupakan H U K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N z T E R T E N T U .
20
D J U A L -B E L I
persstudjuan djual-beli dan maka dari itu untuk bagian itu tidak takluk sepenuhnja pada peraturan2 dari B.W. jang chusus diadakan
untuk persetudjuan djual-beli.
Maka jang penting harus diperhatikan dalam pendjualan2 sema- tjam ini, iala'h : maksud dan tudjuan sebenarnja dari kedua belah pihak, dan lagi faktor kedjudjuranlah jang dalam hal ini mengambil peranan jang amat penting.
Harga-pem belian ( p r ijs)
Dengan penjerahan barang, si pendjual berhak atas pembajaran harga-pembelian, jang harus berupa uang. Kalau harga-pembelian ini berwudjud barang, bukan uang, maka tidak ada suatu djual-beli, me
lainkan suatu tukar-menukar (ru il).
Kini uang harus diartikan sebagai uang jang berlaku ditempat djual-beli dilaksanakan. M aka uang dari N egara Asing tidak merupa
kan uang melainkan barang, jang dapat dibeli seperti lain3 barang.
Pasal 1465 ajat 1 B.W. menentukan, bahwa harga-pembelian ini harus ditetapkan oleh kedua belah .pihak. Ini hanja berarti, bahwa tidak diperbolehkan, apabila salah suatu pihak sadja jang berhak menentukan harga-pembelian ini. Djadi harus ada kata-sepakat antara kedua belah pihak tentang harga-pembelian. Ini tidak berarti, bahwa selalu harus sedjak semula sudah ada harga-pembelian terten
tu, jang dimufakati oleh kedua belah pihak. Tjukuplah, apabila harga itu ditetapkan kemudian, asal tjara menetapkannja dimufakati oleh kedua belah pihak dan tidak salah suatu pihak dapat sewenang- wenang menetapkannja. Misalnja dapatlah sebagai harga-pembelian ditetapkan harga-pasar pada waktu penjerahan barang akan dilaku
kan.
A ja t 2 dari pasal 1465 B.W. memperbolehkan penetapan harga- pembelian itu oleh seorang ketiga, sedang ajat 3 menentukan, bahwa apabila seorang ketiga itu tidak mau atau tidak dapat menetapkan harga-pembelian, maka harus dianggap tidak terdjadi suatu djual- beli.
Kalau sudah terdjadi ditetapkan suatu harga-pembelian tertentu, baik oleh kedua belah pihak maupun oleh seorang ketiga, maka per
setudjuan djual-beli dapat dianggap terdjadi. Tidak perlu dihiraukan, apakah harga-pembelian itu menurut ukuran umum adalah sangat tinggi atau sangat rendah. Tentunja ini djuga ada batasnja. Kalau misalnja sebuah rumah didjual dengan harga satu rupiah, maka ada
lah lajak, apabila penjerahan rumah itu tidak dianggap sebagai suatu pendjualan, melainkan sebagai suatu penghibahan (schenking) dan harus diperhatikan peraturan tentang hibah, seperti misalnja harus
ada akta-notaris.
Biaja
Tiap-tiap djual-beli memerlukan pengeluaran biaja, seperti 21
HU K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N - T E R T E N T U
misalnja pembelian zegel untuk surat-djual-beli atau upah-notaris jang disuruh membikin surat itu. Menurut pasal 1466 B .W ., b ia ja itu harus dipikul oleh si pembeli, ketjuali kalau tja ra lain disetudjui oleh kedua belah pihak.
Djual-beli setjara pertjobaan ( op proef)
Pasal 1463 B.W . menjebutkan djual-beli setjara pertjobaan, jaitu suatu djual-beli, dalam mana ditentukan, bahw a b a ran g ja n g dibeli, harus ditjoba dulu oleh si pembeli, m isalnja djual-beli seekor kuda atau suatu mobil. Djual-beli sematjam ini oleh pasal 1463 B .W . diang
gap sebagai suatu djual-beli b ersiarat „opschortend” , jaitu dengan sjarat jang harus dipenuhi a gar perdjandjian mulai dapat dilaksana- kan.
Penentuan pasal ini ada gunanja, oleh karena kalau p a s a l ini tidak ada, masih dapat diragu-ragukan, apakah djual-beli s e m a t j a m
ini tidak dapat dianggap sebagai djual-beli ja n g b e rsja ra t „ontbin- dend”, jaitu dengan sjarat, jan g kalau dipenuhi, m e n g a k i b a t k a n
gugurnja perdjandjian. ' _
Maka tergantunglah dari pendapat si pembeli p ad a ia m entjoba barang, apakah djual-beli akan dilandjutkan atau tidak djadi. D an selama si pembeli belum menentukan pendapatnja tentang b aran g itu, djual-beli dapat dilaksanakan.
Tetapi persetudjuan djual-beli sudah terdjadi, h an ja dengan sjarat. D jadi dalam hal ini bukan baru ada suatu penaw aran ba ra n g oleh si bakal-pendjual kepada si bakal-pembeli (bindend aaiibod).
Kalau baru ada penawaran, m aka si bakal-pembeli leluasa untuk me
nolak pembelian dengan alasan, b ah w a ia tidak mem punjai uang tjukup untuk membeli. Alasan menolak baran g dalam hal djual-beli setjara pertjobaan harus terletak pada pendapat tentang baik atau djeleknja barang jan g dibeli. D jadi kalau ibarangnja tern jata baik, djual-beli harus dilandjutkan. Tetapi tetap si pembelilah ja n g leluasa menetapkan pendapat, apakah baran gn ja adalah baik a au i
D ju a l-b e li dengan tjo n to h (k o o p op m o n s te r) ^
D j ual-belTsetjara ini tidak disebut-sebut dalam B.W ., akan tetapi dalam praktek sering terdjadi, jaitu, apabila pada waktu djual-beli terdjadi, si pembeli belum lihat baran g tertentu jan g akan dibeli, m e
lainkan ditundjukkan sadja kepadanja suatu tjontoh dari ja n g akan dibeli, seperti misalnja beras atau tjita. D alam hal ini si pembeli m e
nerima tjontoh itu dan kemudian, kalau baran g-baran g ja n g dibeli, diserahkan kepadanja, maka oleh si pembeli baran g-baran g itu ditjo- tjokkan dengan tjontoh jan g ia pegang. K alau sudah tjotjok, d jual- beli terus dilandjutkan, kalau tidak, tidak.
Kesulitan dapat timbul, apabila tjontohnja hilang, djadi tidak mungkin ada pentjotjokkan dengan tjontoh, m aka dapat dipersoalkan,
22
D J U A L -B E L I
siapakah jang bertanggung-djawab atas hilangnja tjontoh itu. Kesu
litan djuga sering timbul, apabila si pembeli menganggap, bahwa barang jang diserahkan, tidak tjotjok dengan tjontoh, sedang si pen«
djual bilang : sudah tjotjok. Siapakah jang harus membuktikan kebenaran pendapatnja.
Kesulitan-kesulitan ini dapat dihindarkan, kalau para pihak semula sudah menegaskan maksud jang sebenarnja dari persetudju- annja. Kalau penegasan tidak ada, maka keputusan dan kedjudjuran- lah jang bagi Hakim mendjadi ukuran untuk menentukan, apa jang harus dianggap disetudjui oleh kedua belah pihak.
Pendjualan barang m ilik orang lain
' Tentang haFini pasal 1471 B.W. menentukan, bahwa djual-beli dari barang imilik orang lain dari pada si pendjual, adalah batal (nietig), sedang kalau si pembeli tidak tahu, bahwa si pendjual ada
lah bukan pemilik barang itu, maka ini dapat merupakan alasan bagi si pembeli untuk menuntut ganti-kerugian dari si pendjual.
Pasal ini, kalau dilihat sepintas lalu sadja, harus ditafsirkan sedemikian rupa, bahwa pembatalan djual-beli ini adalah pembatalan mutlak (absolute nietigheid), artinja : setiap orang dapat menuntut pembatalan itu, djuga si pendjual sendiri. Tetapi penafsiran ini hanja dapat disetudjui, apabila memang menurut systeem B. W . tid ak m ungkin ada pendjualan barang, jang bukan milik si pendjual. Dan ternjata systeem B.W. bukanlah demikian adanja.
Diatas sudah dikatakan, bahwa mungkin ada pendjualan barang jang pada waktu itu belum m endjadi m ilik si pendjual, tetapi si pen- djual berniat akan memiliki barang itu, kalau tiba saatnja baginja untuk menjerahkan (levering) barang itu.
Dan lagi pasal 1474 B.W. menentukan kewadjiban dari pendju- al untuk menanggung si pembeli, bahwa pembeli tidak akan dirugikan apabila barang jang didjual itu kemudian misalnja disita oleh si pe
milik sedjati dari barang itu. Maka adanja kewadjiban ini dari si pendjual, hanja masuk akal, apabila B.W. menganggap adanja ke
mungkinan, bahwa ada terdjadi pendjualan barang jan g sebetulnja adalah milik orang lain daripada si pendjual.
Mengingat ini, maka lajak ada pendapat jang kuat dan jan g di
anut oleh kebanjakan ahli-hukum, bahwa pembatalan kini harus ditafsirkan sebagai pembatalan ta’mutlak (relatief) dalam arti, bah
wa pembatalan hanja dapat dituntut oleh si pembeli, dan bahwa, kalau si pembeli tidak minta pembatalan ini, djual-beli tetap sah.
Bahwa si pembeli tidak tahu, bahwa barang jan g dibeli itu sebetulnja bukan milik si pendjual, adalah lain soal, dan tidak perlu mengakibatkan, bahwa djual-beli harus dianggap batal.
Dan lagi, pasal 1471 B.W. ini tidak dapat dipergunakan terhadap djual-beli barang jang hanja ditetapkan djemsnja (genuskoop) dan jang masih harus ditimbang atau diukur atau dihitung, oleh karena
pada waktu djual-beli terdjadi, belum dapat ditentukan b a ra n g mana jang didjual dan harus diserahkan.
Kalau dalam hal tertentu jan g terdjadi, b aran g ja n g adalah bukan milik si pendjual dan si pembeli tidak menuntu F1 batalan djual-beli, sehingga djual-beli tetap saii, mi 1 a * emjiik bahwa si pembeli akan mendapat hak-milik atas ba ran g 1 u. a sedjati leluasa untuk menuntut pengakuan hak-m iliknja a as j itu. Sebab persetudjuan djual-beli hanja 'berarti, ba h w a si p m_
berwadjib menjerahkan hak-milik atas suatu ¡barang kepa a ^ g.
beli. Kalau kemudian ternjata barang jan g didjual itu, bu an
pendjual dengan akibat, bahw a ia tidak dapat m enjerahkannja ^a_
si pembeli, maka ini hanja berarti, bahw a si pendjual ada a 1 t lam memenuhi kewadjiban menjerahkan baran g itu, dan ia +etap tuntut memberi ganti-kerugian. Tetapi persetudjuan d jua -< e g u^_
sah dan mempunjai akibat-akibat-hukum ja n g ditentukan o e gerlijk Wetboek.
Dalam hal ini Hukum A d at adalah lebih spepel lagi.
ternjata barang jang didjual adalah bukan milik si pendjua , tidak selalu harus diputuskan oleh Hakim, bahw a b aran g itu ]ieI11 kepada pemilik sedjati. K alau si pembeli adalah sangat djudjur, ka ada 'kemungkinan ia harus diperlindungi setjara tetap menu ^ barang jan g dibeli itu, sedang pemilik sedjatilah ja n g harus men
pat ganti-kerugian dari si pendjual. g
Kedjudjuran dari si pembeli ini dju ga dalam sys eem ^ mengambil peranan, tetapi hanja dalam djual-beli b a ran g ^ _
(roerend goed). Pasal 1977 B .W . memperlindungi pembeii ja n g j
djur itu dengan menentukan, bahw a tentang b a ran g - aran v,a ra n o
„bezit geldt als volkomen titel” , artinja : seorajig pemega bergerak Jang setjara djudjur mengira, b a h w - b =
miliknja, diperlindungi sedemikian rupa, bal :P
barang itu tidak mungkin mendapatkan kem a i ® . diserah Kalau pembeli barang bergerak itu, sebelum baran g itu dise ah.
kan kepadanja, mengetahui bahw a baran g jan g ^ e >, , , bukan milik si pendjual, m aka ia sebaiknja. memin a pem
djual-beli itu, oleh karena, kalau kemudian baran g 1 u o lsera ^ kepadanja, ia tidak dapat dibilang orang pemegang d ju d ju r (bezitter te goeder trouw ) dan maka dari itu ia tidak akan diperlindungi oleh pasal 1977 B.W .
Kewadjibari-Tcemnrljihnv>. si pendjual „rori-nhan5 Bagian2 d iH t itiT V “b a b W R W . , jan g be rk e p a la . „ K e w a d j i _ _ ^ si pendjual” , mulai dengan suatu pasal jan g keliru tempatnja, :) u pasal 1473. Meskipun pasal itu menjebut "kewadjiban dari si Pe >
antuk setjara tegas (duidelijk) menjatakan, apa jan g ia sanggup H U K U M P E R D A T A T E N T A N G P E R S E T U D J U A N2 T E R T E N T U
24
D J UAL-BEL1
tetapi sebenarnja inti dari pasal ini terletak pada kalimat jan g ber
ikut jaitu bahwa kalau dalam persetudjuan djual-beli, ada djandji2 jang tidak terang dan ragu2, (dubbelzinnig), maka semua itu harus ditafsirkan setjara merugikan si pendjual, untuk keuntungan si pem
beli.
Maka sebetulnja pasal 1473 B.W. ini mengandung tjara penafsir
an suatu persetudjuan, jang menjimmng dari pasal 1349 B .W. jan g mengatakan, bahwa dalam hal keragu-raguan, suatu persetudjuan harus ditafsirkan setjara merugikan pihak-berhak, dan menguntung
kan pihak-berwadjib. Sedang dalam persetudjuan djual-beli si pendjual merupakan pihak-berhak dan pihak-berwadjib djuga.
Sebagai alasan pembentuk undang- untuk simpangan ini oleh para ahli hukum di Negeri Belanda dianggap, bahwa pembentuk undang2 menganggap, bahwa biasanja kata2 dari persetudjuan djual-beli dibentuk oleh si pendjual.
Oleh karena dalam praktek ternjata, bahwa tidak kurang sering terdjadi, suatu pembentukan kata2 itu oleh si pembeli, maka adalah merata suatu pendapat dinegeri Belanda, bahwa pasal 1473 ini .dalam praktek tidak memuaskan dan maka dari itu hanja sejogjanja harus dilaksanakan, kalau memang betul2 perlu (ultimum remedium), arti- nja, kalau lain2 tjara menafsirkan kata2 persetudjuan djual-beli su
dah tidak dapat dipergunakan dan meskipun begitu, kata2 itu masih belum terang sadja. Malahan Prof. Meijers dalam suatu tjatatan dari Putusan Hoge Raad Belanda tanggal 2-1-1936, termuat dalam ma- djalaih Nederlandsch Juristenblad 1936, 416, menulis, bahwa kalau seorang Hakim memberi suatu penafsiran dari kata-kata persetudju
an djual-beli dengan tidak mempergunakan pasal 1473 B.W . (pasal 1509 B.W. Belanda), maka seorang Hakim itu tidak mungkin dapat dipersalahkan.
Oleh karena pasal 1473 B.W. ini harus dianggap sebagai suatu tjara penafsiran belaka, djadi tidak dianggap sebagai penundjukan suatu 'kewadjiban dari si pendjual, untuk menegaskan maksudnja, maka tidak mungkin ada kelalaian dari „kewadjiban” ini (wanpres- tatie), jang dapat merupakan suatu alasan bagi si pembeli untuk meminta ganti-kerugian. Sanctie dari „kewadjiban” ini terletak dalam kalimat ke-2 dari pasal 1473 B.W., jaitu bahwa kata-kata-persetudju
an djual-beli jang masih belum terang, harus ditafsirkan setjara merugikan si pendjual.
Oleh pasal 147^ B.W. disebutkan dua kewadjiban-pokok (hoofd- verplichtingen) dari pendjual, jaitu ke-(Puntuk rnwjerahkan barang object-djual-beli, dan ke-g untuk menanggung si pembeli (vrijwarhig).
Kewadjiban menjerahkan barang
Penjerahan barang ini oleh pasal 1475 B.W . ditegaskan sebagai 25
penjerahan „dalam kekuasaan dan pemegangan si pembeli” (over- dracht van het goed in de macht en het bezit van de koper).
Dari penegasan ini adalah terang, bahwa jan g dimaksudkan oleh B.W. dengan „penjerahan barang” ini ialah penjerahan 'pemegangan barang setjara njata (feitelijke in bezitstelling).
Diatas sudah dikemukakan, bahwa maksud dari persetudjuan djual-beli ialah memindahkan hak-milik atas suatu barang dari si pendjual ketangan si pembeli. A d a kemungkinan pemindahan hak- milik ini sudah terdjadi, misalnja dalam hal djual-beli tanah sudah dibikin suatu akta-pemindahan-nama (overschrijvingsacte) dimuka Kepala Kantor Kadaster, tetapi kenjataannja ialah, bahwa si pembeli masih belum dapat menguasai tanah itu, oleh karena ditempati oleh seorang ketiga tanpa hak..
Dalam hal ini si pendjual belum dapat dikatakan telah m e m e n u h i
kewadjiban menjerahkan kekuasaan dan pemegangan barang kepada si pembeli. Maka sipembeli masih berhak menuntut pemenuhan ke
wadjiban itu. Tegasnja, dalam hal ini si pembeli tjukup menegor si pendiual untuk memenuhi kewadjiban menjerahkan barang, dan sl pendjuallah jang berwadjib berusaha untuk mengusir seorang ketiga itu dari tanah jang telah didjual itu.
Oleh karena pengusiran ini dalam praktek seringkali amat sukar terlaksananja, maka dalam hal djual-beli tanah atau rumah sema- tjam ini, jaitu pendjualan oleh A kepada B sedang tanahnja ditem
pati oleh C, mula-mula sudah dipersoalkan antara A dan B, siapakah jang berwadjib akan mengusir si C. Dengan lain perkataan : semula sudah ditegaskan diantara A dan B, apakah pendjualan tanah (r u mah) ini berarti pendjualan tanah (rum ah) „kosong” , atau tidak.
Dalam hal „kosong” si pendjuallah jang harus berusaha mengosong
kan tanah (rumah) itu, dan sebelum ini terdjadi, harga belum di
hajar, sedang dalam hal „tidak kosong” harga dibajar seketika dan si pembelilah jang diharuskan berusalia sendiri mengusir si C.
Mudah, dapat dimengerti, bahwa dalam hal pendjualan „kosong”
djumlah harga-pendjualan adalah lebih tinggi dari pada dalam hal pendjualan „tidak kosong” .
Oleh karena pasal 1475 B.W . hanja menjebutkan kewadjiban si pendjual untuk menjerahkan kekuasaan dan pemegangan barang ke
pada pembeli, dan B.W. selandjutnja tidak menjebutkan dengan tegas, bahwa si pendjual djuga berwadjib menjerahkan hak-milik atas b a rang itu kepada pembeli, timbul adanja dua pendapat jan g berten
tangan satu sama lain, jaitu jang satu m ^ g an gg a p kewadjiban pen
djual untuk ^e n je rah k a n hak-milik in r tidak ada, dan jan g lain menghendaki adanja kewadjiban itu.
Berlainan pendapat ini praktis berkisar pada suatu p e n d j u a l a n
tanah, jang penguasaan dan pemegangannja telah diambil oper oleh si pembeli, djadi tidak ada seorang ketiga C jang menempati tanah
HUKUM PE RDATA T E N T A N G P E R S E T U D J U A N - T E R T E N T U
26