METODOLOGI PERCOBAAN
6. Waktu hancur tablet (Desintegrasi)
Dari pengujian kerapuhan (friabilitas) tablet dengan alat Friabilator Roche, diperoleh data sebagai berikut :
Berat 20 tablet (W1) = 5,7g
Berat 20 tablet setelah pengujian (W2) =
4 g
Fribilitas (F) = W1 – W2 x 100% = 5,7 g – 4 g x 100% = 29,82 %
W1 5,7 g
6. Waktu hancur tablet (Desintegrasi)
6 Tablet yang diuji, waktu hancurnya sebagai berikut :
Data hasil penentuan kurva kalibrasi
C
Maka didapat nilai :
a = 0,0156
b = 0,0687
r = 0,999
y = 0,0156 + 0,0687 x
penetapan kadar disolusi
mediumdisolusi = 900 ml
kadarterdisolusi = x . medium
.factorpengenceran
% terdisolusi
¿kadarterdisolusisebenarnya kadardiketa h ui x 100
Factor koreksi
¿volumedipipet
volumedisoluixkadarterdisolusimenitsebelumnya
Menit ke-5
x
¿0,766−0,0156
0,0687 =10,9228 µ g /ml s
kadarterdisolusi = 10,9228 µg/ml x 900ml x 5
= 49152,6 µg = 49,15 mg
% terdisolusi ¿49,15 mg
150mg x 100 =32,76
Menit ke-10
x
¿0,418−0,0156
0,0687 =5,857 µ g /ml
kadarterdisolusi = 5,857 µg/ml x 900 ml x 5
= 26356,5 µg = 26,35 mg
Faktorkoreksi ¿ 5 ml
900 mlx 49,15 mg=0,273 mg
Kadar sebenarnya = 26,35 mg + 0,273 mg = 26,623
mg
% terdisolusi = 26,623 mg
150 mg x 100 =17,755
Menit ke-15
x
¿0,462−0,0156
0,0687 =6,4978 µ g /ml
kadarterdisolusi = 6,4978 µg/ml x 900 ml x 25
= 146160,5 µg = 146,16 mg
Faktorkoreksi ¿ 5 ml
900 mlx 26,623mg=0,148 mg
Kadar sebenarnya =146,16 mg + 0,148 mg = 146,308
mg
% kadarterdisolusi ¿146,308 mg
150 mg x 100 =97,539
Menit ke-30
x
¿0,237−0,0156
0,0687 =3,2227 µ g/ml
kadarterdisolusi = 3,2227 µg/ml x 900 ml x 25
= 72510,75 µg = 72,51 mg
Faktorkoreksi ¿ 5 ml
900 mx 146,308 = 0,813 mg
Kadar sebenarnya = 72,51 mg + 0,813 mg = 73,323 mg
% terdisolusi ¿73,323 mg
150 mg x 100 =48,882
Menit ke-45
x ¿0,312−0,0156
0,0687 =4,3144 µ g/ml
kadarterdisolusi = 4,3144 µg/ml x 900 ml x 5
= 19414,8 µg = 19,41 mg
Faktorkoreksi ¿ 5 ml
900 mx 73,323 = 0,407 mg
Kadar sebenarnya = 19,41 mg + 0,407 mg = 19,817 mg
% terdisolusi ¿19,817 mg
150 mg x 100 =13,211
Menit ke-60
x
¿0,307−0,0156
0,0687 =4,2416 µ g /ml
kadarterdisolusi = 4,2416 µg/ml x 900 ml x 5
= 19087,2 µg = 19,08 mg
Faktorkoreksi ¿ 5 ml
900 mx 19,817 = 0,110 mg
Kadar sebenarnya = 19,08 mg + 0,110 mg = 19,19 mg
% terdisolusi ¿19,19 mg
150 mg x 100 =12,793
Kurva % terdisolusi
Efisiensi disolusi
N
o
Luas Daerah Has
il
I
½ (5x32,76) 81,
9
II
½ {(32,76 + 17,755)(5)}
12
III
½ {(17,755 + 97,539)(5)} 28
IV
½ {(97,539+ 48,882) (15)}
10
½ {( 48,882+ 13,211)
V (15)} 46
VI
½ {( 13,211+ 12,793) (15)}
195
,03
∑ 295
2,611
Luas daerah persegi = 60 x 100 = 6000
ED60 = ∑ luas daerah = 2952,611 x 100% = 37,588%
Luas daerah persegi 6000
Penetapan Kadar
Data hasil penentuan kurva kalibrasi
C (µg/ml) A
(Absorban)
2
4
6
8
10
12
0,163
0,278
0,411
0,544
0,659
0,796
Perolehan serapan pada λmax = 257 adalah 0,365
Panjang gelombang maksimum paracetamol = 257nm dengan absorban 0,365
Dengan menggunakan kalkulator, maka diperoleh nilai:
a = 0,03106
b = 0,06344
r = 0,9997
y = 0,03106 + 0,06344x
Mencari konsentrasi
y = a + bx
x = y- a/b
x = 0,365 – 0,3106 / 0,06344
= 5,2638 µg/ml = 5,263 x 10ˉ³ mg/ml
Persentase kadar parasetamol dalam tablet
5,263 x 10ˉ³ mg/ml x 250 ml x 100/10 x 100/10 = 131,575 mg
% kadar = kadar/kadar awal x 100 %
= 131,575 mg /125 mg x 100 % = 105,26 %
1.2. Pembahasan
Pembuatan granul
Pasta mucilago amyli yang digunakan dalam pembuatan granul berfungsi sebagai pengikat, yang bekerja mengikat serbuk agar terbentuk granul dan membuat massa cetak menjadi kohesif.
Mucilago amily 2% dibuat dengan cara mendispersikan amylum sebanyak 2 gram dengan air sama banyak (air dingin 2ml) lalu ditambahkan air panas ad 100ml didihkan diatas penangas air ad mendidih dan terbentuk masa bening, mucilago yang terbentuk dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam campuran zat aktif dan exsipien fase dalam lainnya ad terbentuk seperti pasta dan dapat dikepal.
Setelah didapat masa yang bagus dan bisa dikepal, hitung jumlah mucilago amily yang terpakai dengan cara menimbang mucilago sebelum dipakai (253,6 gram), lalu hitung berat mucilago setelah dipakai (202,7 gram) untuk mengetahui jumlah yang terpakai kurangi berat awal dan berat akhir, maka didapat mucilago yang terpakai sebanyak 50,9 gram.
Evaluasi Granul
Evaluasi granul pertama dilakukan dengan menguji kerapatan atau densiti granul menggunakan alat tap volumeter, pada evaluasi ini ditentukan densiti
nyata, densiti mampat serta densiti benar dari granul paracetamol, data tersebut dapat digunakan untuk menghitung faktor hauner, kopresibilitas dan porositas granul untuk menetukan densiti nyata dan densiti mampat menggunakan alat tap volumeter. Densiti nyata yaitu bobot jenis tanpa hentakan sedangkan density nampak bobot jenis setelah hentakan. Density benar dihitungn dengan menggunakan piknometer prinsipnya adalah menimbang piknometer kosong, piknometer berisi 1 gram sampel, piknometer berisi parafin dan piknometer berisi sampel dan parafin lalu dimasukkan datanya kedalam persamaan untuk menetukan density benar.
Selanjutnya pengukuran kecepatan aliran serbuk dan penentuan sudut longsor dilakukan dengan menggunakan alat corong yang telah dimodifikasi, disini serbuk granul dimasukkan kedalam corong lalu hitung waktu yang diwaktukan serbuk unntuk mengalir dengan bebas.
Dari data yang diperoleh, diketahui bahwa kompresibilitas yang nilainya 7,1437 % tergolong baik karena standar kompresibilitas yang baik adalah
<20%.
Pencetakan Tablet
Bahan campuran granul (fase dalam) dan fase luar dimasukkan kedalam corong. Kemusian mesin dijalankan pencetakan tablet dimulai. Tablet yang sudah jadi ditampung dibuat tablet sebanyak 100 tablet. Tetapi tablet yang dihasilkan atau yang siap dicetak pada praktikum ini tidak sampai 100 tablet, hal ini terjadi karena kurangnya masa granul pada evaluasi granul dilakukan sehingga tablet yang dicetak kurang jumlah tablet yang di dapat adalah 70 tablet.
Bobot tablet
Keseragaman bobot tablet juga harus diperiksa dan harus memenuhi persyaratan farmakope. Berat rata-rata ditentukan dengan menimbang 20 tablet satu per satu. Farmakope Indonesia menyatakan bahwa tidak lebih 2 tablet mempunyai penyimpangan lebih besar dari kolom A dan tidak boleh ada 1 tablet yang mempunyai penyimpangan lebih besar dari kolom B yang tertera pada Farmakope Indonesia tersebut. Dari data penimbangan dapat ditentukan rata-rata berat tablet dan besarnya standar deviasinya.
Ukuran tablet
Diameter dan ketebalan tablet harus memenuhi persyaratan farmakope, yaitu diameter dari tablet tidak boleh melebihi 3x dan tidak kurang dari 1⅓ dari tebalnya.
Kerapuhan tablet
Pengujian kerapuhan juga menunjukkan, semua tablet mempunyai kerapuhan yang sangat tinggi dan tidak memenuhi syarat tablet yang baik. Batas kerapuhan yang diizinkan menurut Lachman ≤0,8% dan menurut Roche ≤1%.
Tablet yang terlalu rapuh dikhawatirkan akan mempunyai penampilan yang tidak baik lagi saat sampai ketangan konsumen karena adanya pengaruh tekanan dan gesekan pada saat pendistribusian atau selama penyimpanan di gudang.
Uji disintegrasi
Menurut farmakope waktu hancur yang memenuhi persyaratan yaitu tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut. Waktu hancur ini akan mempengaruhi bioavailabilitas obat tersebut didalam tubuh.
Waktu hancur yang terlalu lama mungkin disebabkan oleh penambahan bahan pengikat yang berlebihan atau tekanan yang terlalu besar pada saat pencetakan.
Uji disolusi
Dari profil disolusi tablet yang didapatkan, ternyata tablet yang dicetak sangat lambat melarut didalam cairan disolusi. Lambatnya disolusi tablet ini mungkin disebabkan karena jumlah bahan pengikat yang tidak tepat atau tekanan yang sangat besar pada saat pencetakaan.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
1. Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, pengembang, pengikat, pelicin, pembasah atau zat lain yang cocok. (F.I. III 1975). Dan menurut F.I. IV 1995 tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metoda pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.
2. Komposisi tablet terdiri dari bahan berkhasiat, bahan pengisi, bahan penghancur dalam, bahan pengikat, bahan pembasah (jika perlu), bahan penyerap/adsorben (jika perlu), bahan penghancur luar, bahan pelincir, korigensia (jika perlu).
3. cara pembuatan tablet terdiri dari kempa cetak langsung, granulasi basah, granulasi kering, granulasi dasar, dan cara-cara khusus. Metoda yang dilakukan dalam pratikum ini adalah cara granulasi basah.
4. Evaluasi yang dilakukan pada tablet meliputi : a. Evaluasi granul
Bulk density granul.
Kadar air granul.
Sudut longsor granul.
Kecepatan aliran granul.
Ukuran partikel granul.
b. Evaluasi tablet jadi
Bobot tablet.
Ukuran tablet.
Kerapuhan tablet.
Kekerasan tablet.
Disentigrasi.
Disolusi.
5. Hasil evaluasi yang dilakukan terhadap granul adalah sebagai berikut :
Bj nyata = 0,7214g/ml.
Bj mampat = 0,7769g/ml.
Bj benar = 1,2975 g/ml.
Faktor Hausner = 1,0769
% kompresibelitas = 7,1437%
Porositas = 44,1%
Sudut longsor 1 = 0,6756
Sudut longsor 2 = 0,5228
Sudut longsor 3 = 0,6174
Kecepatan aliran 1 = 5,7549g/detik.
Kecepatan aliran 2 = 3,6794g/detik.
Kecepatan aliran 3 = 5,8550g/detik.
6. Hasil evaluasi yang dilakukan terhadap tablet adalah sebagai berikut :
Bobot tablet rata-rata = 0,2927 g.
Ketebalan tablet rata-rata = 0,385cm.
Diameter tablet rata-rata = 0,7cm.
Friabilitas = 29,82%.
Waktu hancur tablet = 10,10 detik.
ED = 37,588 %
% Kadar = 105,26 %
7.2. Saran
1. Sebaiknya sebelum pelaksanaan pratikum pahami prosedur kerja agar tidak terjadi keselahan kerja.
2. Berhati-hatilah dalam hal penimbangan bahan yang akan digunakan.
3. Pada pembuatan granul, jumlah bahan pengikat yang ditambahkan harus tepat karena akan mempengaruhi hasil tablet yang akan dicetak.
4. Pada pengeringan granul, suhu dan waktu pengeringan diatur sedemikian rupa sehingga granul tidak terlalu kering.
5. Pada pencetakan tablet, tekanan yang diberikan diusahakan seragam untuk tiap tablet, agar kekerasannya juga sama. Tekanan tidak boleh terlalu keras atau terlalu lunak.
DAFTAR PUSTAKA
Firmansyah, Drs. 1991. Formulasi Tablet. Padang : UNAND
Halim, Auzal. 1991. Teknologi Partikel. Padang : UNAND
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat.Jakarta : UI-Press
Ben, Elfi Sahlan. 1997. Diktat Praktikum Teknologi Tablet. Padang : UNAND
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta
LAMPIRAN
GAMBAT PEMBUATAN TABLET 1. PEMBUATAN GRANUL
Sebelum dikeringkan Setelah dikeringkan