BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada menusia atau hewan.
Bahan obat jarang diberikan sendiri-sendiri, tetapi lebih sering merupakan suatu formulasi yang dikombinasi dengan satu atau lebih zat bukan obat yang bermanfaat untuk kegunaan farmasi yang bermacam-macam dan khusus.
Apabila pemakaian obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka bentuk kapsul dan tablet yang paling sering digunakan. Keduanya efektif, memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam penanganan, pengenalan dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang farmasetika bentuk sediaan padat pada umumnya lebih stabil daripada bentuk cair, sehingga bentuk sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil.
Setap produk farmasi disamping mengandung zat aktif juga mengandung zat tambahan farmasetik, bahan pembantu seperti pengisi, pengental, pembawa, surfaktan, penghancur pada tablet zat penstabil, zat pemberi rasa, zat pewarna, dan zat pemanis
Formula harus sedemikian rupa sehingga komponen secara fisika dan kimia terpadu termasuk pula unsur teraupetik yang aktif, bahan penolong dalam farmasi, bahan kemasannya. Zat khasiat harus dilepaskan dalam bentuk sediaanya dan dalam jumlah sebenarnya dan kadar dalam tubuh sesuai dengan yang direncanakan.
Dalam merancang bentuk sediaan farmasi disamping efek farmasetik, keadaan pasien juga diperhatikan, untuk pasien yang biasa menggunakan obat sendiri disediakan berbagai jenis sediaan.Untuk pemakaian oral digunakan seperti tablet, kapsul, dan sediaan cair. Pada kenyataannya sediaan yang padat dan kering lebih disukai karena memberikan kenyamanan dalam penanganan serta pemakaian oleh pasien.
Banyak penelitian mengenai Farmaceutical availability telah dilakukan dengan tablet sebagai bentuk sediaan yang paling umum. Setelah ditelan, tablet akan pecah (desintegrasi) dilambung dan menjadi banyak granul kecil, yang terdiri dari zat aktif tercampur zat-zat pembantu (gom, gelatin dan sebagainya)
1.2. Teori 1.2.1. Tablet
Tablet adalah sediaan padat, kompak dibuat secara kempa cetak dalam tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, pengembang, pengikat, pelicin, pembasah atau zat lain yang cocok. (F.I III 1975)
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metoda pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (F.I. IV 1995).
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet – tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya, dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang lazim digunakan.
Disamping itu tablet juga merupakan sediaan yang paling praktis dan murah untuk pengguna karena kemajuan perindustriaanya. Walau bagaimanapun, tidak semua bahan obat menmpunyai sifat-sifat yang dapat memenuhi berbagai keperluan untuk menghasilkan tablet yang memuaskan. Lazimnya ramuan lain perlu ditambahkan dalam formulasinya. Bahkan digunakan berbagai ragam bahan lain yang perlu ditambahkan disamping bahan berkhasiatnya. Bahan-bahan ini selalu berupa cairan yang inert secara farmakologi untuk meningkatkan ketegaran tablet, bahan pengikat untuk penggabungan partikel-partikel sewaktu dimampatkan dan mencegah pecahnya tablet sewaktu pemprosesan dan pengemasan tetapi daya ikatannya harus mengalami modifikasi apabila terkena cairan saluran makanan yang dapat melepaskan bahan obat. Bahan penghancur juga diperlukan untuk memastikan bahwa tablet tersebut pecah setelah ditelan, bahan pelincir ditambahkan untuk mencegah tablet tidak melekat pada mesin cetakan atau acuan sewaktu pemampatan atau pencetakan.
Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam beberapa ukuran, bentuk dan penandaan permukan tergantung pada desain cetakan. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan, umumnya hewan besar.
Jenis-jenis tablet
Macam-macam jenis tablet adalah sebagai berikut :
Tablet kompresi
Yaitu tablet kompresi dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya kedalam bahan obatnya, diberi tambahan sejumlah bahan pembantu antara lain pengencer atau pengisi, pengikat, penghancur, zat pelincir, bahan tambahan lain.
Tablet kompresi ganda
Yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau tablet didalam tablet, lapisan dalamnya menjadi inti dan lapisan luarnya disebut kulit. Tablet berlapis dibuat dengan cara memasukkan satu campuran obat kedalam cetakan dan ditekan, demikian pula campuran obat sebagai lapisan berikutnya dimasukkan kedalam cetakan yang sama dan ditekan lagi, untuk membentuk dua atau tiga lapisan tergantung pada jumlah obat yang ditambahkan secara terpisah dalam satu tablet berlapis.
Tablet salut gula
Tablet kompresi ini mungkin diberi lapisan gula berwarna dan mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai begitu ditelan. Gunanya bermacam-macam, melindungi obat dari udara dan kelembapan serta memberi rasa atau untuk menghindarkan gangguan dalam pemakaiannya akibat rasa atau bau bahan obat.
Tablet diwarnai coklat
Yaitu lapisan coklat merupakan hal yang penting dalam sejarah karena diwaktu itu hanya coklat yang dipakai untuk menyalut dan mewarnai tablet. Sekarang ini coklat telah digantikan oleh bahan pewarna lain.
Tablet salut selaput
Tablet kompresi ini disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet. Biasanya lapisan ini bewarna, kelebihannya dari penyalutan dengan gula ialah lebih tahan lama, lebih sedikit
bahan, waktu yang lebih sedikit untuk penggunaannya. Selaput ini pecah dalam saluran lambung usus.
Tablet salut enterik
Adalah tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur dilambung tapi diusus. Dengan demikian membiarkan supaya tablet pindah melewati lambung dan hancur serta diabsorpsi diusus.
Tablet sub lingual atau bukal
Yaitu tablet yang disisipkan dipipi dan dibawah lidah biasanya berbentuk datar, tablet oral yang direncakan larut dalam kantung pipi atau dibawah lidah untuk diabsorpsi melalui mukosa oral. Cara ini berguna untuk penyerapan obat yang dirusak oleh cairan lambung dan atau sedikit sekali diabsorpsi oleh saluran pencernaan.
Tablet kunyah
Tablet kunyah lembut segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut, menghasilkan dasar seperti krim dari manitol yang berasa dan bewarna khusus.
Tablet effervescent
Yaitu tablet berbuih dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam efervesen atau bahan-bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air.
Tablet triturat
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan atau dibuat dengan kompresi, dan biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras.
Tablet hipodermik
Yaitu tablet untuk dimasukkan dibawah kulit, merupakan tablet triturat, asalnya dimaksudkan untuk digunakan oleh dokter dalam membuat larutan parenteral secara mendadak.
Tablet pembagi
Yaitu tablet untuk membuat resep lebih tepat bila disebut tablet campuran, karena para ahli farmasi memakai tablet ini untuk pencampuran dan tidak pernah diberikan kepada pasien sebagai tablet itu sendiri.
Tablet dengan penglepasan terkendali
Yaitu tablet dan kapsul yang penglepasan obatnya secara terkendali.
Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah kedalam lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak bergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan.
Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, digunkan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Jenis tablet ini sekarang sudah jarang digunakan. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah melarut atau melarut sempurna dalam air, dulu umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi hipodermik. Diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya pada tablet nitrogliserin diberikan secara sublingual.
Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi dan tablet sublingual digunkan dengan cara meletakkan tablet dibawah lidah, sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. Tablet efervesen yang larut, dibuat dengan cara dikempa selain zat aktif, juga mengandung campuran asam dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida.
1.2.2. Farmasetika tablet
Sifat-sifat
Disamping sifat fisika dan kimia dari obat yang akan diformulasi, desain fisik yang sebenarnya, proses pabrikasi, serta uji kimia lengkap atas tablet dapat memberikan efek yang berarti pada kemanjuran dari obat yang akan diberikan.
Tablet harus merupakan produk yang menarik yang mempunyai identitas sendiriserta bebas dari serpihan, keretakan, pelunturan atau pemucatan, kontaminasi, dan lain-lain. Tablet harus sanggup manahan goncangan mekanik selama produksi, pengepakan, serta harus mempunyai kestabilan kimiadan fisika untuk mempertahankan kelengkapan fisiknya sepanjang waktu. Dari segi lain tablet harus dapat melepas zat berkhasiat kedalam tubuh dengan cara yang dapat diramalkan serta tetap dapat diulang. Harus stabil secara kimia
sehingga tidak memungkinkan terjadi kemungkinan pemalsuan atau penurunan mutu zat berkhasiat. Desain tablet yang hanya mementingkan efek pengobatannya, dapat menghasilkan produk yang secar fisik tidak memadai. Desain tablet yang hanya mementingkan aspek fisik akan menghasilkan tablet yang efek terapinya terbatas dan bervariasi.
Tujuan desain dan pabrikasi tablet kempa adalah untuk memberikan obat melalui mulut dalam bentuk yang memadai, dalam jumlah yang tepat pada atau melalui waktu yang tepat, ditempat yang diingini yang juga mempunyai integritas kimia yang dilindungi.
Disamping sifat kimia dan fisika dari obat yang akan diformulasi, desain fisik yang sebenarnya, proses pabrikasi, serta uji kimia lengkap atas tablet dapat memberikan efek yang berarti pada kemanjuran dari obat yang akan diberikan. Tablet (1) harus merupakan produk menarik yang mempunyai identitasnya sendiri serta bebas dari serpihan, keretakan, pelunturan/pemucatan, kontaminasi, dan lain-lain. (2) Harus sanggup menahan guncangan mekanik selama produksi, pengempakan, serta (3) harus mempunyai kestabilan kimia dan fisika untuk mempertahankan kelengkapan fisiknya sepanjang waktu. Sekarang ahli farmasi mengetahui bahwa beberapa sifat fisik tablet dapat mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan dan stres serta bahwa stabilitas fisika itu dalam beberapa keadaan dapat saja lebih mempengaruhi bioavalabailitas daripada stabilitas kimia.
1.2.3. Desain dan Formulasi Tablet
Tablet oral yang konvensional disamping zat aktif biasanya terdiri dari salah satu atau lebih zat-zat berikut yang berfungsi sebagai :
Pengisi
Pengikat
Penghancur
Pelincir.
Tablet tertentu mungkin memerlukan suatu pemacu aliran. Yang lain mungkin memerlukan zat warna, zat perasa dan pemanis pada tablet kunyah. Semua zat tersebut disebut bahan pembantu.
Bahan Pengisi
Pengisi diperlukan bila dosis obat tidak cukup untuk membuat bulk. Pada obat yang berdosis cukup tinggi bahan pengisi tidak diperlukan. Pengisi dapat juga ditambah karena
alasan kedua yaitu memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran. Bahan pengisi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1. Harus non toksik dan dapat memenuhi peraturan-peraturan dari negara dimana produk akan dipasarkan.
2. Harus tersedia dalam jumlah yang cukup disemua negara tempat produk itu dibuat.
3. Harganya harus cukup murah.
4. Tidak boleh saling berkontraindikasi atau karena komponen dalam tiap bagian dari populasi.
5. Secara fisiologis harus inert/netral.
6. Harus stabil secara fisik dan kimia, baik dalam kombinasi dengan berbagai obat atau komponen tablet lain.
7. Harus bebas dari segala jenis mikroba.
8. Harus color compatible.
9. Bila obat itu termasuk sebagai makanan, pengisi, dan bahan pembantu lainnya harus mendapat persetujuan sebagai bahan aditif pada makanan.
10. Tidak boleh mengganggu bioavailabilitas obat.
Beberapa dari bahan tersebut berada dalam bentuk hidrat (kalsium posfat dan kalsium fosfat berbasa dua). Bahan – bahan yang berbentuk hidrat ini mengandung ikatan air sebagai air kristal, ikatan air ini tidak boleh terlepas pada penyimpanan.
Laktosa juga merupakan bahan pengisi yang paling banyak digunkan karena tidak bereaksi pada hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat ataupun anhidrat. Umumnya formulasi yang memakai laktosa menunjukkan laju penglepasan obat yang baik, granulnya cepat kering dan waktu hancurnya tidak terlalu peka terhadap perubahan pada kekerasan tablet. Harganya murah, tetapi mungkin mengalami perubahan warna bila ada zat basa amina garam alkali.
Laktosa spray-dried merupakan salah satu bahan pengisi yang digunakan untuk pencetakan langsung setelah dicampur dengan bahan aktif, dan mungkin suatu zat penghancur dan zat pelincir.
Tepung yang diperoleh dari jagung, gandum, atau kentang kadang-kadang digunakan sebagai pengisi tablet. Kualitas tepung dari USP mempunyai 4 sifat pengaliran dan sifat kompresi serta mempunyai kelembapan yang tinggi antara 11-14%. Jenis tepung kering khusus yang mempunyai tingkat kelembapan standar 2-4% juga ada.
Tablet kunyah sering mengandung sukrosa, manitol atau sorbitol sebagai bahan pengisi. Jika kandungan zat aktif kecil, sifat tablet secara keseluruhan ditentukan oleh bahan
pengisi yang besar jumlahnya. Karena masalah ketersediaan hayati obat hidrofobik yang kelarutannya dalam air kecil maka digunakan bahan pengisi yang larut air.
Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet kempa serta menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam larutan. Bahan pengikat yang umum meliputi gom akasia, gelatin, sukrosa, povidon, metil selulosa, karboksi metil selulosa dan pasta pati terhidrolisis. Bahan pengikat kering yang paling efektif adalah selulosa mikrokristal, yang umumnya digunakan dalam membuat tablet kempa langsung.
Bahan pengikat dan perekat
Kedua zat ini ditambahkan dalam bentuk kering atau cairan selama granulasi basah untuk membentuk granul atau menaikkan kekompakan kohesi bagi tablet yang dicetak langsung. Akasia dan tragakan adalah gum alam, dan digunakan dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 10-25 %, tunggal atau dikombinasi. Kelemahan gum ini yaitu komposisi dan penampilannya yang berbeda-beda tergantung pada sumbernya, dan biasanya banyak terkontaminasi oleh bakteri.
Gelatin suatu protein alam, kadang-kadang digunakan bersama-sama dengan akasia. Gelatin lebih konsisten daripada gum alam, lebih mudah dipersiapkan kedalam bentuk larutan, dan tablet yang terbentuk kerasnya sama dengan bila memakai akasia atau tragakan.
Pasta kenji merupakan bahan pembuat granul yang paling banyak dipakai. Dibuat dengan mendispersikan kanji kedalam air, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu tertentu.
Bahan Penghancur
Bahan penghancur ditambahkan untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika berkontak dengan cairan saluran pencernaan. Dapat berfungsi menarik air kedalam tablet, mengembang dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian. Kanji USP dan jenis-jenis lain adalah jenis-jenis bahan penghancur yang paling umum dipakai.
Biasanya digunakan dengan konsentrasi 5-20 % dari berat tablet.
Bahan penghancur, pelekat dan pelicin
Ketiga jenis bahan ini dibicarakan bersama karena fungsinya yang tumpang tindih.
Suatu bahan anti lekat juga memiliki sifat-sifat pelincir dan pelicin. Perbedaan ketiganya
sebagai berikut : suatu pelincir diharapkan dapat mengurangi gesekan antara dinding tablet dengan dinding die, pada saat tablet ditekan keluar. Anti lekat bertujuan untuk mengurangi lekat atau adhesi bubuk atau granul pada permukaan punch atau dinding die. Pelicin ditujukan untuk memacu aliran serbuk atau granul dengan jalan mengurangi gesekan diantara partikel-partkel.
Bahan-bahan yang digunakan sebagai pelicin atau pemacu aliran adalah jenis talk konsentrasi 5 %, tepung jagung konsentrasi 5-10% ataukoloid-koloid silika seperti Cab-O-Sil, siloid, atau aerosil dalam konsentrasi 0,25-3%.
Zat warna, pemberi rasa dan pemanis
Ada dua macam warna yang sudah digunakan dalam pembuatan tablet yaitu FD dan C serta zat warna D dan C- yang digunakan dalam bentuk larutan, yang merupakan jenis warna untuk bahan pembuat granul dan zat warna ini berbentuk cairan.
Zat pemberi rasa biasanya dibatasi pada tablet kunyah atau tablet lainnya yang ditujukan untuk larut didalam mulut. Pada umumnya zat pemberi rasa yang larut dalam air jarang dipakai dalam pembuatan tablet oleh karena stabilitasnya yang kurang baik.
1.3. Tinjauan Pustaka
Komposisi umum dari sediaan tablet terdiri dari :
Bahan Berkhasiat / bahan obat
Bahan pengisi
Bahan pengikat
Bahan penghancur / bahan pengembang
Bahan pelicin
Absorben (jika perlu)
Bahan basah (jika perlu)
Lubrikan dan koringensia
Untuk membuat suatu tablet harus diperhatikan sifat zat khasiat serta sifat dari bahan pembantu yang digunakan. Belakangan ini pemilihan bahan pembantu untuk tablet hanya berdasarkan pada penemuan bahan yang tidak mempunyai keaktifan secara fisiologis, yang agak inert dan dapat diperoleh dalam jumlah yang banyak, harganya murah, serta dapat dikendalikan dan didesain untuk memberikan ciri-ciri yang diperlukan oleh produksi sebuah tablet.
Pada dasarnya ada 2 (dua) metode pembuatan tablet / perakitan tablet yaitu :
1. Cara kering
- Cetak langsung - Prekopressi / slugging
2. Cara basah
- Granulasi basah - Granulasi dasar
Cara kering disebut juga dengan granulasi kering, sedangkan cara basah disebut juga dengan granulasi basah. Granulasi basah adalah cara yang paling umum dilakukan, pada cara ini digunakan larutan bahan pengikat dalam air seperti : Carbpxymethyl Celulosa Natrium (Na.
CMC), Gom arab, gelatin, pasta pati dan lainnnya yang sesuai dengan sifat bahan berkhasiat yang digunakan untuk pembuatan tablet. Adapun tahap-tahap pengerjaan granulasi basah adalah penimbangan bahan, pencampuran bahan, granulasi, pengayakan, masa basah, pengeringan pada suhu 50-60°C, pengayakan massa kering, lubrikan dan pencetakan.
1.3.1. Granulasi tablet
sifat – sifat dasar : hal – hal yang menyebabkan tablet menjadi bentuk sediaan yang populer seperti : kekompakan, stabilitas kimia dan kemujarabannya, terutama ditentukan oleh kualitas granulasinya. Pada dasarnya tiap bahan yang akan dibuat tablet harus memiliki dua karakteristik : kemampuan mengalir dan dapat dicetak. Kedua sifat ini diperlukan bagi mesin cetak. Bentuk fisik yang ideal adalah bulatan karena dengan bentuk ini kontak antara permukaan bahan serta kontak dengan dinding mesin paling minim. Sayangnya kebanyakan bahan tidaklah begitu mudah untuk dibuat bulat, namun demikaian bentuk kebulat-bulatan dapat meningkatkan kemampuan mengalir. Karena itu granulasi adalah proses yang bertujuan untuk meningkatkan aliran serbuk dengan jalan membentuknya menjadi bulatan-bulatan atau agregat-agregat dalam bentuk beraturan yang disebut granul.
Sifat-sifat granulasi,
Banyak sekali variabel-variabel formulasi dan proses yang dapat mempengaruhi langkah- langkah pada pembuatan granul, semua variabel tersebut dapat mempengaruhi karakter dari granul yang dihasilkan. Karena itu sekarang telah dikembangkan metode-metode untuk mengukur karakter-karakter tertentu dalam upaya memantau kesesuaian granul yang akan dipakai dalam membuat tablet.
- ukuran dan bentuk partikel, ukuran partikel granul dapat mempengaruhi berat rata- rata tablet, variasi berat tablet, waktu hancur, kerenyahan granul, daya mengalir
- Luas permukaan, pengukuran luas permukaan berbagai serbuk obat yang telah dihaluskan penting bagi obat-obat yang kelarutannya dalam air terbatas. Ukuran partikel dan terutama luas permukaan dapat mempengaruhi kecepatan melarut.
- Kerapatan, kerapatan granul dapat mempengaruhi kompresibilitas, porositas, kelarutan dan sifat-sifat lainnya.
- Kekuatan dan keregasan, granul adalah gumpalan partikel yang saling mengikat dengan kekuatan tertentu. Kekuatan granul basah tergantung pada tegangan permukaan cairan dan gaya kapiler. Kekuatan granul dan keregasannya sangat penting karena dapat mempengaruhi distribusi ukuran partikel yang akan mempengaruhi kompresibilitas menjadi ikatan kohesi tablet.
- Sifat-sifat mengalir suatu bahan dihasilkan dari banyak gaya. Partikel-partikel padat akan saling tarik-menarik dan gaya yang akan bekerja antara partikel bila mereka berhubungan terutama gaya permukaan. Ada beberapa gaya yang dapat bekerja diantara partikel-partikel padat :
1. Gaya geseken/friksi
2. Gaya tegangan permukaan.
3. Gaya mekanik yan gdisebabkan oleh saling menguncinya partikel yang bentuknya tidak teratur.
4. Gaya elektrostatik.
5. Gaya kohesi atau van derwaals.
- Kecepatan aliran hopper, kecepatan aliran ini dipakai sebagai metode untuk menetapkan kemampuan mengalir.
- Pengompakan, proses konsolidasi dan pengompakan serbuk atau granul menjadi tablet adalah kompleks.
Granulasi kering
Granulasi kering dilakukan dengan cara menekan massa granul pada tekanan tinggi sehingga menjadi tablet besar yang tidak berbentuk baik, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. Keuntungan granulasi kering adalah tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi. Granulasi kering dapat juga dilakukan dengan meletakkan massa serbuk diantara mesin rol yang dijalankan secara hidrolik untuk menghasilkan massa padat yang tipis, selanjutnya diayak atau digiling hingga diperoleh dengan ukuran yang diinginkan.
Granulasi basah
Granulasi basah merupakan cara yang paling umum dan banyak dilakukan karena hampir semua jenis bahan obat/aktif dapat diproses secara granulasi basah, karena kebanyakan bahan aktif tidak memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang baik. Langkah- langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut :
1. Menimbang dan mencampur bahan-bahan
Bahan aktif, pengisi dan penghancur yang diperlukan dalam formula tablet ditimbang sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk membuat sejumlah tablet yang akan diproduksi dan dicampur dan diaduk baik, biasanya dengan menggunakan mesin pencampur serbuk atau mixer. Diantara pengisi yang digunakan adalah laktosa, kaolin, manitol, amylum, gula bubuk dan kalsium posfat.
2. Pembuatan granulasi basah
Supaya campuran serbuk mengalir bebas dan merata dari hopper kedalam cetakan, mengisinya dengan tepat dan merata, biasanya perlu mengubah campuran serbuk menjadi granula yang bebas mengalir didlam cetakan disebut granulasi. Hal ini dapat dilakukan secara baik dengan menambahkan cairan pengikat atau perekat kedalam campuran serbuk, melewatkan adonan yang lembab melalui ayakan, granul yang dihasilkan melalui pengayakan ini dikeringkan, lalu diayak lagi. Unsur pengikat dalam tablet juga membantu merekatkan granul satu dan yang lainnya, menjaga kesatuan tablet setelah dikompresi.
3. Penyaringan adonan lembab menjadi pelet atau granul.
Pada umumnya granulasi basah ditekan melalui ayakan no.6 atau 8. hal ini yaitu flidization disalurkan kedalam fluit bed driers. Dibuat granul dengan menekankan pada alat yang berlubang-lubang. Setelah semua bahan berubah menjadi granul, kemudian ditebarkan diatas selembar kertas yang lebar dan dalam nampan yang dangkal dan dikeringkan.
4. Pengeringan granul
Kebanyakan granul dikeringkan dalam kabinet pengering dengan sistem sirkulasi udara dan pengendalian temperatur. Diantara metode terbaru untuk pengeringan sekarang yaitu fluidization disalurkan kedalam fluid bed driers. Granul dikeringkan dalam keadaan tertutup dan diputar sambil dialirkan udara yang hangat.
5. Penyaringan kering
Setelah dikeringkan, granul dilewatkan melalui ayakan dengan lubang lebih kecil daripada yang biasa dipakai untuk pengayakan granulasi asli. Seberapa jauh ukuran granul dihaluskan, tergantung pada ukuran punch yang akan dipakai dan tablet yang akan diproduksi.
6. Lubrikan atau pelinciran
Setelah pengayakan kering, biasanya bahan pelincir kering ditambahkan kedalam granul. Sehingga setiap granul dilapisi oleh bahan pelincir, dapat juga dilapisi debu ketika granul menyebar melalui lubang kecil ayakan atau pencampuran dalam pengadukan serbuk.
7. Pencetakan tablet
Ada beberapa macam mesin pembuat tablet yang dikempa, masing-masing berbeda kapasitas produksinya, tapi dasar kerjanya sama. Cara kerjanya memasukkan granul kedalam ruang cetakan dan dikempa oleh kedua gerakan punch atas atau bawah.
Cara granulasi basah merupakan proses memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dari proses lain:
1. Kohesifitas dan kompresibilitas dari campuran serbuk dapat ditingkatkan/diperbaiki dengan menambahkan bahan pengikat yang akan menyelubungi setiap partikel sehingga akan merekat satu sama lain, bentuk agglomeat atau selama proses pengempaan, granul akan mengalami patah dengan permukaan yang licin dan memperbaiki kompresibilitas.
Dibutuhkan daya kompresi yang rendah untuk mencetak tablet.
2. Bahan obat dengan dosis tinggi dan memiliki sifat alir kurang baik dipersiapkan dengan granulasi basah untuk mendapatkan sifat alir yang baik dan daya kohesi untuk pengompakan. Jumlah bahan pengikat yang dibutuhkan untuk memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas lebih sedikit dibandingkan jumlah bahan pengikat kering yang dibutuhkan daripada cara cetak langsung.
3. Bahan obat dalam dosis kecil dan zat warna terdistribusi dengan baik dan homogen apabila didalam larutan pengikat. Pada cetak langsung homogenitas dan distribusi zat warna merupakan masalah yang sulit diatasi.
4. Granulasi basah mencegah terjadinya proses segresi komponen dari campuran serbuk yang homogen selama proses karena komponen dari setiap granul tetap setelah penambahan pengikat.
5. Kecepatan disolusi bahan obat yang hidropobik dapat diperbaiki dengan memilih bahan pengikat dan pelarut yang tepat pada granulasi basah.
1.3.2. Evaluasi granul
1.3.2.1. Penentuan kecepatan aliran serbuk, sudut longsor, kadar air serbuk
Suatu bulk ada analoginya dengan cairan non-Newton yang memperlihatkan aliran plastis dan kadang-kadang aliran dilatan, partikel-partikelnya dipengaruhi oleh gaya tarik menarik sampai derajat bermacam-macam. Oleh karena itu serbuk dapat mengalir bebas dan mampat.
Newmann telak mendiskusikan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran dari serbuk.
Terutama yang jelas adalah ukuran partikel, bentuk porositas dan kerapatan dan pola permukaan.
Serbuk atau granulat yang mengalir lemah menimbulkan banyak kesukaran pada industry farmasi. Unit-unit pertabletan seperti diketahui tergantung dari beberapa sifat garnul. Jika ukuran granulat mengecil, maka variasi bobot dalam tabletan menurun. Variasi bobot minimum diperoleh dengan granulat menyusut terus, maka mereka akan mengalir kurang bebas dan variasi bobot tablet bertambah. Distribusi ukuran partikel mempengaruhi aliran internal dan segregasi dan granulasi.
Gaya fiksi di dalam serbuk lepas dapat diukur dengan sudut diam ( ) ini merupakan sudut maksimum yang mungkin terjadi antara permukaan suatu tumpukan itu, ia akan meluncur ke bawah melewati sisi-sisinya. Akan terjadi saling bergeseran di antara partikel serbuk, sehingga menghasilkan suatu permukaan pada suatu sudut ( ), yang berada dalam keseimbangan dengan gaya gravitasi. Tangen dari sudut diam ini sama dengan koefisien fiksi antara partikel-partikel, tan ( ) = u
Untuk memperbaiki sifat alir, bahan yang diberi istilah glidants sering ditambahkan pada granulat serbuk.Contoh glidants yang umum dipakai adalah magnesium staerat kanji dan talk.
Dengan menggunakan recording powder flowmetri yang mengukur bobot serbuk yang mengalir persatuan waktu melalui lobang hoppler, gold dan kawan-kawannya
mendapatkannya bahwa konsentrasi ini merupakan suatu penurunan kecepatan alir biasanya terjadi. Tidak didapatkan adanya korelasi antara kecepatan alir dan sudut diam.
Untuk menentukan sifat aliran serbuk, dapat digunakan parameter sperti berikut : 1. Sudut istirahat ( sudut miring = Agle of repose = Boschung swinkie )
Cara kerja : Van suatu corong dengan diameter yang cukup besar, diisi dengan material ( sebelumnya corong ditutup dengan jari ). Kemudian jari dilepaskan dan mulut corong dan material dibiarkan mengaliir bebas ke atas kertas grafik. Dari tinggi kerucut material n dan diameter dasar r
Tangen alfa dinamakan juga koefisien gesekan h, jadi prinsip pengukuran ini adalah dari material yang bergerak menjadi suatu sistem pulva, pada keadaan diam
2. Sudut gerak (sudut angkat=abrutswinkel)
Prinsipnya : dari material yang berada dalam keadaan diam menjadi system pulva yang bergerak. Ada 3 metoda yang dapat digunakan untuk mengukur sudut ini :
1. Material terdapat dalam suatu wadah yang berbentuk silinder, dengan mengangkat dinding silinder akan terbentuk sudut gerak
2. Material terletak pada wadah datar dan terisi kemudian secara hati-hati wadah diangkat sampai pada saat material mulai tumpah
3. Material terdapat dalam wadah silinder yang tertutup, mula-mula dengan permukaan datar, kemudian silinder secara hati-hati diputar sampai pada saat material bergerak keluar (tumpah )
Secara terakhir, bertambah kecil sudut ini bertambah baik sifat aliran material, tetapi di dalam hal ini antara sudut istirahat dan susut gerak , tingkat pemadatan material pada posisi awal juga akan mempengaruhi hasil pengukuran. Boleh dikatakan bahwa kedua metoda ini mempunyai prinsip yang sama. Dikatakan bahwa bila :
o Sudut yang didapat besar dari 30 derajat, material mempunyai sifat aliran yang jelek o Sudut yang lebih kecil dari 30 derajat, sifat aliran material baik
Tentu saja di adalm praktek tidak akan dijumpai bentuk-bentuk sudut ideal dan kadang-kadang hasil yang diperoleh tidak menunjukkan pengulangan. Mekanisme hancurnya suatu tablet sudah banyak diteliti orang dan para peneliti ini telah mencoba untuk menerangkan apa sebenarnya yang menyebabkan tablet dapat pecah. Ada beberapa teori yang dikembangkan yaitu :
a. Tablet pecah disebabkan daya pengembangan dari zat penghancur
b. Tekanan pengembangan
c. Daya kapilaritas
d. Panas pembasahan
e. Daya tolak menolak antar partikel
f. Karena terbentuknya gas dan lain sebagainya
Sampai sekarang tidak ada konstitusi umum yang dapat diberikan, apa sebab sebenarnya suatu tablet dapat hancur. Tetapi suatu hal yang tidak diragukan lagi adalah bahwa penyerapan air oleh massa tablet adalah langkah awal dari setiap proses desintegrasi.
Proses penyerapan air ini juga penting pada proses pembuatan pasta atau sediaan-sediaan setengah padat lainnya
1.3.2.2. Ukuran partikel dan Bulk Density a. Ukuran Partikel
Pengukuran besar partikle adalah penentuan dari besar dan distribusi besar partikel dalam suatu media pembawa. Dalam hal ini, baik fase terdispersi maupun fase pendispersi dapat dibagi atas 3 sistem yaitu padat, gas, dan bentuk cair
Pengukuran besar partikel yang dilakukan terhadap zat padat sebagai fase terdispersi dn cair atau gas sebagai fase pendispersi
Persoalan statistik akan menggambarkan pengaruh dari jumlah dan besar sampel, sedangkan dengan cara dan alat apa sampel itu diambil dari sistem itu merupakan persoalan teknis
Beberapa metoda pengukuran yang digunakan : 1. Garis tengah martin (dM )
Adalah panjang jarak yang membelah partikel menjadi dua bidang yang sama luasnya 2. Garis tengah ferred (dfer )
Adalah panjang jarak maksimal dari tengah-tengah pada bidang proyeksi yang tegak lurus pada arah pengukuran
3. Garis tengah partikel dengan volume yang equivalent dengan suatu bola, artinya partikel dianggap mempunyai volume sama dengan suatu bola (df )
Untuk analisa besar dan distribusi besar partikle ada dua metode yang dapat digunakan :
Analisa perhitungan (Zaehlverfahren)
Yang diukur parameter fisika dari masing masing partikel
Analisa jumlah (Mangenverfahren)
Pada analisa ini yang ditentukan adalah berat total dari fraksi-fraksi besar partikel, dan bukan jumlah partikel dari masing-masing fraksi
b. Bulk Density
Bobot jenis serbuk dinyatakan dengan bulk density, sedangkan bobot jenis murni dan bobot jenis granul dapat dinyatakan sebagai bobot jenis partikel. Bulk density dapat dibedakan antara :
Bulk density untapped
Dari sejumlah material yang diketahui beratnya ditimbang 100 g, dimasukkan hati- hati kedalam gelas ukur 200 ml, permukaan serbuk diratakan dengan brush, sehingga volume dapat langsung dibaca. Dari berat dan volume dapat dicari bulk density untapped
Bulk density tapped
Melalui mekanis penggoyangan atau penhentakan dari material dalam gelas ukur pada keadaan Schuttvolum adalah mugkin untuk memberikan energi kepada masing-masing partikel-partikel, dimana energi ini digunakan untuk mengatasi gaya gesekan antar partikel sehingga dengan demikian terjadilah keadaan orientasi partikel yang cukup tinggi. Alat yang dapat digunakan adalah tap volumeter (stampvolumeter)
1.3.3. Mesin pengempa tablet
Tablet dibuat dengan jalan mengempa adonan yang mengandung satu atau beberapa obat dengan bahan pengisi pada mesin stempel yang disebut pencetak/penekan. Mesin pengempa tablet atau pencetak tablet dirancang dengan komponen-komponen dasar sebagai berikut :
1. Hopper, untuk menahan/tempat menyimpan dan memasukkan granula yang akan dikempa
2. Die, yang menentukan ukuran dan bentuk tablet.
3. Punch, untuk mengempa granulat yang terdapat didalam die.
4. Jalur cam, untuk mengatur gerakan punch.
5. Suatu mekanisme pengisian untuk menggerakkan atau memindahkan granul dari hopper kedalam die.
1.3.4. Cara Pembuatan
Tablet dibuat dengan tiga cara umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa.
Kompresi langsung
Beberapa granul bahan kimia seperti kalium klorida, kalium iodida, amonium klorida dan metenamin, memiliki sifat mudah mengalir sebagaiman juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering. Dahulu jumlah bahan obat yang dapat dijadikan tablet tanpa melalui granulasi lebih dahulu sangat sedikit. Pada waktu sekarang ini penggunaan pengencer yang dikeringkan dengan penyemprotan, meluas pada formula- formula tablet tertentu daripada dengan serbuk pengisi biasa, kualitas yang diinginkan untuk tablet dengan kopresi langsung dan sejumlah produk lainnya sekarang banyak diproduksi dengan cara ini.
Pembuatan tablet dengan kecepatan tinggi memerlukan eksperimen yang memungkinkan pengempaan langsung tanpa tahap granulasi terlebih dahulu. Eksipien ini terdiri dari zat berbentuk fisik khusus seperti laktosa, sukrosa, dekstrosa, atau selulosa yang mempunyai sifat aliran dan kemampuan kempa yang diinginkan. Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal, laktosa anhidrat, laktosa semprot kering, sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa bentuk pati termodifikasi.
Kempa langsung menghindari banyak masalah yang timbul pada granulasi basah dan granulasi kering. Walaupun demikian sifat fisik masing-masing bahan pengisi merupakan hal kritis, perubahan sedikit dapat mengubah sifat alir dan kempa sehingga menjadi tidak sesuai untuk di kempa langsung.
1.2.8. Penyalutan
Pemberian salut pada tablet yang merupakan langkah tambahan dalam proses pembuatan, menaikan biaya produksi, dengan demikian keputusan untuk menyalut tablet biasanya didasarkan atas salah satu atau beberapa tujua berikut ini
2. Untuk menutupi rasa, bau, atau warna obat.
3. Untuk memberikan perlindungan fisik dan kimia pada obat.
4. Untuk mengendalikan pelepasan obat dari tablet.
5. Untuk melindungi obat dari suasana dalam lambung, dengan menyalutnya dengan salut enterik tahan asam.
6. Untuk menggabungkan obat lain atau membantu formula dalam penyalutan untuk menghindari tidak tercampurnya obat secara kimia, atau untuk menjamin terselenggaranya penglepasan obat secara berurutan.
7. Untuk memperbaiki penampilan obat dengan menggunakan warna khusus dan pencetakan kontras.
1.3.4.1. Proses-proses penyalutan tablet
Penyalutan gula
Proses penyalutan gula terdiri dari beberapa tahap yang lamanya berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. Langkah-langkah pembuatannya :
1. Penyalutan lapisan penutup (seal coating).
Tujuannya untuk melindungi inti tablet dari masuknya cairan penyalut karena zat aktif memang rusak jika kontak terlalu lama dengan cairan penyalut. Tanpa lapisan penutup, tablet-tablet yang terlalu lembab menyerap air berlebihan, sehingga menjadi lunak atau pecah dan mempengaruhi stabilitas fisika dan kimia dari produk akhir. Shellac merupakan penutup yang efektif tetapi pada waktu desintegrasi dan waktu larut tablet cenderung bertambah bila tablet menua karena polimerisasi shellac. Suatu derivat protein jagung yang larut dalam alkohol, yaitu zein juga efektif sebagai zat penutup.
2. Pelapisan dasar (Sub coating)
Pelapisan dasar digunakan untuk membulatkan tepi tablet dan meningkatkan ukuran tablet. Penyalutan gula dapat meningkatkan berat tablet 50-100%. Tahap pelapisan dasar terdiri dari pemakaian larutan pengikat yang lekat, diikuti dengan penaburan bubuk lapisan dasar secara bergantian, disusul oleh pengeringan. Lapisan dasar dipakai berturut-turut dengan cara yang sama sampai tepi tablet tertutup dan
hilang, dan ketebalan yang dinginkan tercapai. Unutk proses penyemprotan, suatu suspensi pelapis dasar yang mengandung pengikat dan bubuk yang tidak dapat larut disemprotkan secara berselang waktu ketumpukan tablet.
3. Pelapisan sirup (Smothing/coloring)
Tujuannya adalah untuk menutupi dan mengisi cacat pada permukaan tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan dasar, dan untuk memberikan warna yang diinginkan bagi tablet. Pewarna encer dapat ditambahkan pada tahap ini untuk memberikan warna dasar yang mempermudah keseragaman pewarnaan pada tahap- tahap selanjutnya. Umumnya pewarna tidak ditambahkan sampai tablet tadi cukup halus, pemakaian yang telalu dini pada tablet yang kasar akan menghasilkan penampilan tablet yang berbintik – bintik pada pelapisan akhir.
4. Pengilatan (Polishing)
Penyalutan gula ini diperoleh kilat yang diinginkan. Dengan memakai bubuk lilin secara hati-hati ataupun dengan memakai larutan yang hangat dari lilin-lilin ini didalam nafta atau pelarut lain yang mudah menguap dan sesuai.
Penyalut lapis tipis
1. Metoda panci tuang
Komposisi penyalut yang dipakai pada metode panci tuang sebelumnya biasanya terlalu kental untuk disemprotkan dengan efektif. Metode ini cukup lambat dan sangat tergantung keterampilan serta tekhnik dari operator untuk mengimbangi tahap pembuatan produk yang dapat diterima. Penyalut lapisan tipis yang menggunakan air sebagai bahan dasar tidak cocok dengan metode ini karena dapat menimbulkan erosi sampai ketidakstabilan produk yang disebabkan tingginya tingkat kelembaban.
2. Metode panci semprot
Penyemprotan memberikan banyak kegunaan pada proses tersebut dan memungkinkan pengawasan otomatis dari pemakaian cairan.
Variabel proses penyalutan lapisan tipis menggunakan cara panci penyemprot adalah:
Variabel panci
- Rancangan panci/pengaturan pergerakan cairan
- Kecepatan
- Muatan panci.
Variabel udara
- Kualitas udara
- Temperatur
- Kecepatan aliran udara/volume/keseimbangan.
Variabel penyemprot
- Laju penyemprotan
- Derajat atomisasi
- Pola penyemprotan
- Jarak mulut pipa penyemprot ke permukaan tumpukan tablet
1.3.5. Evaluasi Tablet
Untuk mendisain tablet serta lanjutannya memantau kualitas produk obat, evaluasi secara kuantiatif serta penetapan sifat fisika, kimia dan bioavailabilitas tablet harus dibuat.
Ketiga kelas sifat diatas memiliki profil stabilitas yang nyata, tetapi profil stabilitas itu dapat saling berpengaruh, misalnya kerusakan kimia atau interaksi antara komponen-komponen tablet akan mempengaruhi sifat fisika tablet dan sangat mempengaruhi bioavailabilitas dari sistem tablet itu.
a. Penampilan umum
Penampilan umum suatu tablet, identitas visualnya serta seluruh keelokannya sangat penting bagi penerimaan konsumen. Mengontrol penampilan umum tablet, melibatkan pengukuran sejumlah kelengkapan seperti ukuran tablet, bentuk, warna, ada tidaknya bau, rasa, bentuk pemukaan, konsistensi dan cacat fisik serta kemudian untuk membaca tanda- tanda pengenal.
b. Ukuran dan bentuk
Ukuran dan bentuk tablet dapat dituliskan, dipantau dan dikontrol. Ketebalan tablet adalah salah satunya variabel dimensi yang behubungan dengan proses. Pada beban kempa yang konstan, ketebalan tablet bervariasi dengan berubahnya pengisian die, dengan distribusi ukuran partikel serta kepadatan campuran partikel yang dikempa dan dengan berat tablet, sementara pada keadaan pengisian die yang konstan, ketebalan tablet bervariasi dengan berubahnya beban kompresi.
c. Sifat organoletis
Adanya bau dari suatu batch tablet dapat menunjukan adanya masalah kestabilan, misalnya ada bau cuka pada tablet aspirin yang rusak : tetapi bau juga dapat merupakan ciri yang khas pada produk tertentu, (vitamin umumnya berbau khas) pada bahan penambah lain, (zat perasa/flavor mempunyai bau yang enak) atau pada bentuk sediaan tertentu (tablet salut selaput biasanya berbau khas). Derajat kecacatan suatu tablet seperti serpihan, keretakan, kontaminasi, oleh benda padat asing (seperti rambut, tetesan minyak, dan kotoran), tekstur permukaan (halus atau kasar), serta penampilan (mengkilap atau kusam) dan mempunyai spesifikasi tanpa kerusakan, akan tetapi teknik inspeksi secara visual untuk mendeteksi dan mengevaluasi karakter tadi sangat subjektif secara alamiah.
d. Kekerasan dan kerenyahan
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas kerenyahan agar dapat bertahan terhadap berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan, dan pengapalan.
e. Kandungan obat dan pelepasan
Sebuah tablet yang kuat secara fisik dapat saja tidak memberikan efek yang diharakan. Untuk mengevaluasi kemanjuran suatu tablet, jumlah obat dalam tablet harus dipantau pada setiap tablet , begitu juga kemampuan tablet untuk melepaskan zat atau obat yang dibutuhkan harus dipastikan atau diketahui.
f. Variasi berat
Pada tablet yang didesain mengandung sejumlah obat didalam sejumlah formula, berat tablet yang dibuat harus secara rutin diukur untuk membantu memastikan bahwa setiap tablet mengandung sejumlah obat yang tepat.
g. Desintegrasi
Bagi tablet, langkah penting utama sebelum melarut adalah pecahnya tablet menjadi partikel-partikel kecil atau granul. Langkah ini disebut desintegrasi.
h. Disolusi
Pemikiran awal dilakukannya uji disolusi tablet didasarkan pada kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi partikel-partikel kecil sehingga daerah permukaan media pelarut menjadi lebih luas, dan akan berhubungan dengan tersedianya obat didalam cairan tubuh.
Namun sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk hancur dibawah kondisi yang ditetapkan, dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan berukuran mesh -10.
Keuntungan dan Kelemahan Sediaan Tablet Keuntungan : ( lachman III, hal 645-646 ).
Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh yang mempunyai kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan paling rendah.
Tablet merupakan bentuk sediaan yang biaya pembuatannya paling rendah.
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan kompak.
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yan gpaling mudah dan murah untuk dikemas dan dikirim.
Pemberian tanda pengenal produk pada tabet paling mudah dan murah, tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi.
Tablet bisa dijadikan produk dan profil pelepasan khusus, seperti pelepasan diusus atau produk lepas lambat.
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran.
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang baik.
Kelemahan : ( Lachman, hal 646-646).
Beberapa obat tidak dapat dikempa jadi padat atau kompak, tergantung keadaan amorfnya, flokulasi atau Bj rendah.
Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosis tinggi, absorpsi optimum tinggi melalui saluran cerna, sukar atau tidak mungkin diformulasi dan dipabrikasi dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan bioavailabilitas yang cukup.
Obat yang rasanya pahit, bau tidak enak, obat yang peka terhadap oksigen, kelembaban udara perlu pengapsulan/penyelubungan dulu sebelum di kempa.
Keseragaman bobot dan keseragaman kandungan tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot, jika zat aktif merupakan bagian terbesar dari tablet dan jika uji keseragaman bobot dianggap cukup mewakili keseragaman kandungan. Keragaman bobot bukan merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman kandungan jika zat aktif merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet bersalut gula. Oleh karena itu umumnya tablet bersalut dan tablet yang mengandung zat aktif 50 mg atau kurang, dan bobot zat aktif lebih kecil dari 50 % bobot sediaan.
Waktu hancur dan disolusi. Waktu hancur adalah hal yang penting untuk tablet yang diberikan melalui mulut, kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan beberapa jenis tablet lepas lambat. Untuk obat yang kelarutan dalam air terbatas, disolusi akan lebih berarti daripada waktu hancur. Dalam banyak hal, kecepatan disolusi dapat dikorelasikan dengan ketersediaan hayati zat aktif. Tetapi uji tersebut terutama berguna sebagai alat untuk tapis pendahuluan formulasi dan sebagai prosedur pengawasan mutu secara rutin.
BAB II MONOGRAFI
2.1. Zat Aktif Parasetamol
C8H9NO2
BM 151,16
Mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2 , dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.
Identifikasi
1. Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan diatas pengering yang cocok dan dispersikan dalam kalium bromida P menunjukan maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada Parasetamol BPFI.
2. Spektrum serapan ultraviolet larutan (1 dalam 200.000) dalam campuran asam klorida 0,1 N dalam metanol P (1 dalam 100), menunjukan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama seperti pada Parasetamol BPFI.
3. Memenuhi uji Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis<281>, gunakan larutan 1 mg per ml dalam metanol P dan fase gerak diklormetana P-metanol P (4:1)
Penetapan kadar
Larutan baku. Timbang seksama sejumlah parasetamol BPFI, larutkan dalam air hingga kadar lebih kurang 12 ug per ml.
Larutan uji. Timbang seksama kurang lebih 120 mg, masukkan dalam labu ukur 500 ml, larutkan dalam 10 ml metanol P, encerkan dengan air sampai tanda. Masukkan 5,0 ml larutan kedalam labu ukur 100 ml, encerkan dengan air sampai tanda dan campur. Ukur serapan larutan uji dan larutan baku pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 244 nm, terhadap air sebagai blangko. Hitung jumlah dalam mg, C8H9NO2, dengan rumus :
10C (Au) As
C adalah kadar parasetamol BPFI dalam um per ml larutan baku: Au dan As berturut-turut, adalah serapan larutan uji dan larutan baku.
Wadah dan penyimpanan. Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
2.2. Zat Tambahan
Laktosa ( Farmakope Indonesia edisi IV hal 489) Rumus molekul : C12H22O11H20
Berat Molekul : 342,30
Pemerian : Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih cream, tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil diudara tetapi mudah menyerap bau.
Kelarutan :Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter.
Identifikasi : A. Jika dipanaskan, meleleh, mengembang, kemudian terbakar ; terjadi bau gula terbakar, sisa arang menggunduk. B. Pasa 5 ml larutan jenuh tambahkan 5 ml larutan natrium hidroksida encerP, panaskan;
terjadi warna kuning kecoklatan, diginkan tambahkan beberapa tetes larutan kalium tembaga (III) tartraP, terbentuk endapan merah tembaga (I) oksida.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ pengisi.
Na CMC
Pemerian. Warna putih sampai kuning pucat bubuk atau granul (higroskopik) tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa mucillaginos (seperti kertas)
Kelarutan. Larut dalam air (pada semua temperature), memberikan larutan jernih,praktis tidak larut dalam pelarut organik
Amylum
Pemerian : Serbuk hablur sangat halus, putih dan putih kelabu berkilat mudah melekat pada kulit dan bebas butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam hampir semua pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ sebagai pengikat (mucilago amyli) Sisa pemijaran : Tidak lebih dari 15 % pengeringan pada suhu 100°-105°
Suhu pengeringan: Tidak lebih dari 0,6 % (metode II)
Mg. Stearat (Farmakope Indonesia edisi Iv hal 515)
Pemerian : Serbuk hablur, putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, etanol 95 % dan eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ lubrikan/ pelicin.
Talkum
Pemerian : Serbuk hablur sanagt halus, putih, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam hampir semua pelarut.
Identifikasi : Campurkan 500 mg dengan lebih kurang 200 mg natrium karbonat anhidrat P, pindahkan ke dalam krus nikel, panaskan, hingga melebur sempurna, dinginkan, tambahkan 20ml, didihkan, saring ; sisa adalah
silika. Pada filtrasi tambahan lebih kurang 2 g amonium klorida P. Dan 5 ml amonia encer P jika terjadi endapan saring, tambahkan larutan natrium fosfat P; terjadi endapan hablur putih amonium magnesium fosfat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan/ sebagai gudan dan lubrikan.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam etanol dan eter.
BAB III
TINJAUAN FARMAKOLOGI
3.1. Farmakodinamik
Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek antiinflamasinya sangat lemah, oleh karena itu parasetamol tidak digunakan sebagai anti reumatik.
Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini, demikian juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asam basa.
3.2. Farmakokinetika
Paracetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh antar 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruhan cairan tubuh. Dalam plasma 25% paracetamol terikat pada protein plasma. Dimetabolisme oleh enzim mikroson hati.Sebagian acetaminofen (80%) dikonjugasi oleh glukoronat dan sebagian kecil lainnya adalah dengan asam sulfat. Selain itu juga dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan
mathermoglobinemia dan haemolisis eritrosit. Obat ini disekresi melalui ginjal, sebagian kecil paracetamol (30%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi
3.3. Indikasi
Di Indonesia, penggunaan paracetamol sebagai analgesik dan antipiretik telah menggantikan penggunaan salisitat sebagai analgetik. Paracetamol sebaiknya tdak digunakan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan neuropati analgetik. Jika dosis besar atau terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
3.4 Kontra Indikasi
Disfungsi ginjal atau hati dan hipersensitif
3.4. Efek samping
Reaksi alergi terhadap derivat para amino fenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritem dan utikaridan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa
BAB IV
METODOLOGI PERCOBAAN
4.1. Alat dan Bahan yang Digunakan 4.1.1. Alat yang digunakan
Lumpang dan stamfer
Kertas perkamen
Timbangan digital analitik
Labu ukur
Kertas saring
Gelas ukur
Beaker glass
Ayakan mess 16
Mesin cetak tablet
Stopwatch
Corong
Piknometer
Kertas grafik
Tap volumeter
Jangka sorong
Friabilator
Spektrofotometri UV
Alat uji disolusi
4.1.2. Bahan yang digunakan
Serbuk paracetamol
Serbuk Na.CMC
Amylum
Laktosa
Talkum
Larutan NAOH 0,1 N
Dapar pospat
Aquadest
Mg stearat
Gliserin
BAB V
TINJAUAN FORMULASI 5.1. Preformulasi
5.1.1. Monografi
1. Paracetamol (Farmakope Indonesia IV, P.649) (BNF 61, 2011)
Nama kimia : Acetaminophen-N-acetylpaminophenol (4- hydroxiphenyl)
acetamide.
BM : 151,16
Kemurnian : Acetaminophen mengandung tidak kurang dari 98 % dan tidak lebih dari 101,0 % C6H9NO2 dihitung terhadap zat anhidrat
Organoleptis : Warna serbuk putih, tidak berbau, agak pahit.
Titik lebur : 169°C-170,5°C
Bobot jenis : Pada suhu 21°C 1,293
Ukuran Partikel : 2-6 nm
Sifat Alir : Jelek karena memiliki kelarutan buruk dan permeabilitas rendah.
Kelarutan : Dalam air 1:70, dalam aseton 1:13, dalam air mendidih 1:20, dalam etanol 1:7.
Koefisien partisi : 0,31 : 0,49 : 0,89
Farmakodinamik : Efek analgetik paracetamol serupa dengan saunlat yaitu menghilangkan nyeri ringan hingga
sedang, keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral seperti saunlat.
Farmakokinetik : Paracetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu setengah jam dan masa paruh plasma 1-3 jam (FKUI Farmakologi dan Terapi hal 238).
2. Laktosa ( Farmakope Indonesia edisi IV hal 489)
Rumus molekul : C12H22O11H20
Berat Molekul : 342,30
Pemerian : Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih cream, tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil diudara tetapi mudah menyerap bau.
Kelarutan :Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam airmendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ pengisi.
2. Pasta Na CMC
Pemerian : Serbuk atau butiran putih atau putih gading, tidak berbau atau hampir tidak berbau, higroskopis.
Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi koloid tidak larut etanol (95%) P, dalam eter P, dan dalam pelarut organik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Khasiat : Zat tambahan.
3. Amylum
Pemerian : Serbuk hablur sangat halus, putih dan putih kelabu berkilat mudah melekat pada kulit dan bebas butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam hampir semua pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ sebagai pengikat (mucilago amyli)
Sisa pemijaran : Tidak lebih dari 15 % pengeringan pada suhu 100°- 105°
Suhu pengeringan : Tidak lebih dari 0,6 % (metode II).
4. Mg. Stearat (Farmakope Indonesia edisi Iv hal 515)
Pemerian : Serbuk hablur, putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, etanol 95 % dan eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan/ lubrikan/ pelicin.
5. Talkum
Pemerian : Serbuk hablur sanagt halus, putih, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan/ sebagai gudan dan lubrikan.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam etanol dan eter.
5.1.2. Formula Standar(FORNAS EDISI II hal 3)
Komposisi Tiap tablet mengandung :
Acetaminophenum 500 mg
Zat tambahan yang cocok Secukupnya
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Dosis :1 sampai 4 kali sehari 1 tablet.
5.1.3. Formula yang Beredar
BODREX (Tempo Scan Pacific)
Komposisi : Paracetamol 600 mg, kofein 50 mg,
Indikasi : Meringankan sakit kepala, pusing, pening berat, sakit gigi, dan menurunkan demam.
Kontraindikasi: Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat, penderita hipersensitif.
Dosis : Dewasa : sehari 3-4 kali 1 tablet, anak ( 6-12thn) sehari 3-4 kali ½ -1 tablet.
Kemasan : FB 2 blister x 10 tablet.
AFIDOL (Aflat)
Komposisi : Paracetamol 500 mg/tablet; 120 mg/5 ml syrup.
Indikasi : Mengatasi nyeri ringan pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid, dan sakit pada otot, menurunkan demam setelah imunisasi.
Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap paracetamol, gangguan fungsi hati.
Efek Samping : Dosis besar dapat menyebabkan keusakan fungsi hati.
Dosis : Tablet anak 1-5 tahun : ¼ - ½ tablet, tiap 4-6 jam, anak 6-12 tahun : ½ - 1 tablet, tiap 4-6 jam, anak 13 tahun-dewasa : 1-2 tablet, tiap 4-6 jam. Sirup anak dibawah 1 tahun ;1/2 -1 sendok teh, tiap 4-6 jam, anak 1-5 tahun : 1-2 sendok teh, tiap 4-6 jam, anak 6-12 tahun : 2-4 sendok teh, tiap 4-6 jam.
Kemasan : Box (10 strip @ 10 tab) HET Rp.22.727,-
5.1.4. Formula yang Direncanakan
Fase dalam
o Paracetamol 125 mg
o Laktosa qs
o Amylum 10%
o Pasta Na CMC 2% qs
Fase luar
o Amylum 5%
o Talkum 2%
o Mg. Stearat 1%
Berat tablet 250/tablet, dibuat 100 tablet.
5.1.5. Alasan Pengambilan Bahan
Paracetamol
Paracetamol merupakan zat aktif yang berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik, paracetamol dipilih karena hanya ada satu bentuk senyawa atau struktur kimia paracetamol, ekonomis, harga terjangkau dan mudah didapat dipasaran, dosis yang digunakan pada pasien dewasa adalah 300mg-1000mg/
hari.
Laktosa
Laktosa digunakan sebagai bahan pengisi, digunakan laktosa karena menunjukkan laju pelepasan obat yang baik, mudah dikeringkan dan relatif tidak sensitif tehadap variasi kekerasan tablet.
Pasta Na CMC
Sebagai bahan pengikat, agar serbuk dapat dibentuk menjadi granul dan membentuk masa cetak yang kohesif
Amylum
Disini amylum digunakan sebagai bahan pengisi, pengikat dan penghancur, sebagai bahan pengikat amylum dibuat pasta (mucilago amyli) dengan tujuan tablet yang dihasilkan lunak dan rapuh.
Mg. Stearat
Digunakan sebagai pelicin (lubrikan) yaitu mereduksi fraksi antara bagian dalam dinding die dan tepi tablet pada proses pengeluaran tablet.
Talkum
Digunakan sebagai lubrikan dan gudan (memperbaiki karakteristik aliran granul sekaligus aliran granul dan hopper keruang die) sebagai penghancur luar. Konsentrasi sebagai gudan + lubrikan (1-10).
5.1.6. Perhitungan
Fase Dalam
o Paracetamol 125 mg : 125 mg/250 mg X 100% = 50%
o Laktosa qs : 100-(50+10+0,4+5+2+1) = 31,6%
o Amylum 10% : 10%
o Pasta Na CMC qs : 2/100 X 20 = 0,4%
Fase Luar
o Amylum :5% = 5%
o Talkum :2% = 2%
o Mg. Stearat :1% = 1%
100%
Maka jumlah yang akan ditimbang adalah :
Paracetamol :50/100 X 250 mg = 125 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 125 mg X 100= 12.500
mg
Laktosa :31,6/100 X 250 mg = 79 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 79 mg X 100= 7.900
mg
Amylum :10/100 X 250 mg = 25 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 25 mg X 100= 2.500 mg
Pasta Na CMC2% :0,4/100 X 250 mg = 1 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 1 mg X 100 = 100 mg
Amylum :5/100 X 250 mg = 12,5 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 12,5 mg X 100= 1.250
mg
Talkum :2/100 X250 mg = 5 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 4 mg X 100 = 500 mg
Mg. Stearat 1/100 X 250 mg = 2,5 mg/tablet
Untuk 100 tablet = 2,5 mg X 100= 250 mg
5.1.7. Penimbangan
a) Untuk fase dalam :
Timbang paracetamol sebanyak 12.500 mg diatas perkamen.
Timbang laktosa sebanyak 7.900 mg diatas perkamen
Timbang amylum sebanyak 2.500 mg diatas perkamen
Untuk pasta Na CMC 2% = Timbang pasta Na CMC 2 gram lalu buat pasta Na CMC sebanyak 100ml dengan aquadest.
b) Untuk fase luar :
Timbang amylum sebanyak 1.250 mg diatas perkamen
Timbang talkum sebanyak 500mg diatas perkamen
Timbang Mg. Stearat sebanyak 250 mg diatas perkamen
5.1.8. Cara Kerja
A. Pembuatan Granul
Timbang bahan-bahan fase dalam (paracetamol, laktosa, amylum dan amylum untuk membuat mucilago amylum).
Buat larutan pasta Na CMC 2%
Timbang Na CMC 5 gram, kemudian kembangkan dalam air panas 20 kalinya, biarkan sampai mengembang. Kemudian gerus homogen, kemudian ad kan dengan air panas sampai 100 ml.
Timbang berat pasta beserta wadahnya.
Lakukan pembuatan granulasi basah dengan cara : ke dalam lumpang
masukkan fase dalam yang terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan lain, gerus homogen. Kemudian ditambahkan pasta sedikit demi sedikit sampai terbentuk adonan yang bisa dikepal.
Di timbang berat pasta beserta wadahnya kembali sehingga dapat dihitung jumlah pengikat yang digunakan.
Adonan tersebut kemudian dimasukkan kedalam alat granulator, tampung granul, kemudian keringkan di lemari pengeringan pada suhu 50 - 60º C selama 8-12 jam.Setelah dikeringkan granul di ayak kembali melalui ayakan mesh 16 dan ditimbang.
Laukukan evaluasi granul
B. Evaluasi Granul
Bulk Density (Alat Tap Volumetri)
Timbang 100 gram serbuk (W) yang telah dikeringkan, dimasukkan ke dalam gelas ukur dan permukaan atas serbuk diratakan dan volumenya dapat dibaca (Vo). Dengan demikian bobot jenis murni dapat ditentukan (Do). Gelas ukur dijalankan dan terjadi hentakan dan buatlah hentakan sebanyak 1250 kali dan dibaca volume serbuk (A), kemudian dilakukan penghentakan kedua kalinya sebanyak 1250 kali dan dibaca volume serbuk (B). Bila selisih pembacaan kedua (B) dengan (A) tidak melebihi dari 2 cm3 maka A adalah volume mampat (Vt). Maka dengan demikian bobot jenis mampat dapat dihitung (Dt).
Setelah selesai praktikum maka dapat dihitung :