• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH ILMU RESEP TABLET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH ILMU RESEP TABLET"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ILMU RESEP

TABLET

DISUSUN OLEH :

Achmad riandi

Fiarti k.

Noris Arya Saputra

Riski Ayu Kencana

zahrotunnisa

SMK FARMASI BHAKTI KENCANA

BOGOR

2010 - 2011

(2)

1. Tablet (Menurut FI III)

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok. 2. Tablet (Menurut FI IV)

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.

B. PENGGOLONGAN

Penggolongan pada tablet dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu : 1. Berdasarkan Metode Pembuatannya

dikenal dua jenis tablet yaitu tablet cetak dan tablet kempa.

a. Tablet Cetak yaitu tablet yang dibuat dengan cara mencetak biasanya lebih lunak dibandingkan dengan cara kompresi, sebab tekanan pada cara mencetak lebih lemah.

b. Tablet Kempa yitu table yang dibuat dnga segala tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasnya ke dalam bahan obatnya diberi tambahan sejumlah bahan pembantu antara lain : pengisi, pengikt, pelincir, penghancur, bahan tambahan ain seperti zat warna dan zat pemberi rasa.

2. Berdasarkan Jenis Bahan Peyalut a. Tablet bersalut gula

Sediaan tablet salut gula ini ditujukan pembuatannya untuk memberikan rasa manis,melapisi rasa dan bau kurang enak pada sediaan dan juga melindungi bahan yang sensitif terhadap oksidasi.

(3)

Tahap pembuatan salut gula: 1. Penyalutan dasar (subcoating)

Apabila tablet mengandung zat yang higroskopis, gunakan salut penutup terlebih dahulu agar air dr subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet 2. Melicinkan (smoothing)

Proses pembasahan berganti-ganti dgn sirop pelicin & pengeringan dr salut dasar tablet mjd bulat & licin

3. Pewarnaan (coloring)

Memberi zat warna yang dicampur pd sirup pelicin 4. Penyelesaian (finishing)

Pengeringan salut sirupyang terakhir. Panci penyalut diputar perlahan-lahan dgn tangan sehingga terbentuk hasil akhir yang licin

5. Pengilapan (polishing)

Pelapisan tipis dgn menggunakan lapis tipis malam yang mengandung lilin shg mengkilap.

b. Tablet bersalut kempa

Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri atas laktosa, kalsium fosfat, dan zat lain yang cocok. Mula-mula dibuat tablet inti, kemudian dicetak lagi bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis.

c. Tablet bersalut selaput (film-coated tablet)

Disalut dengan hidroksi propil metil selulosa, metil selulosa, hidroksi propil selulosa, Na-CMC, dan campuran selulosa asetat ftalat dengan PEG yang tidak mengandung air atau mengandung air.

d. Tablet bersalut enteric (enteric-coated tablet)

Yakni jika obat dapat rusak atau menjadi tidak aktif akibat cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung, maka diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung.

e. Tablet lepas lambat, atau tablet dengan efek diperpanjang

Dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tetap tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan.

(4)

3. Berdasarkan Pemakaian

a. Tablet biasanya / tablet telan. Digukanakn per-oral dengan cara ditelan, pecah di lambung.

b. Tablet kunyah. Bentuknya seperti tablet biasa, cara pakainya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan.

c. Tablet isap.

d. Tablet effervescent.

e. Tablet implant, Bulat atau oval, steril dimasukan secara implantasi dalam kulit badan.

f. Tablet hipodermik. Tablet yang mudah larut dalam air. Dilarutkan dalam aqua pro injeksi, digunakan sebagi injeksi untuk disuntikan dibawah kulit.

g. Tablet bukal. Digunakan dengan cara dimasukan diantara pipi dan gusi dalam rongga mulut.

h. Tablet subliingul. Digunakan dengan jalan dimasukan dibawah lidah. Absorpsi terjadi melalui mukosa mulut masuk peredaran darah.

i. Tablet vagina (ovula). Berbentuk oval digunakan sebagai anti infeksi. 4. Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh:

Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian : a. Bekerja lokal

tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. Ovula pengobatanpada infeksi di vagina

b. Bekerja sistemik

per oral. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : a) Yangbekerja short acting (jangka pendek)

dalam satu hari memerlukan beberapakali menelan tablet. b) Yangbekerja long acting (jangka panjang )

Dalam satu hari cukup menelan satu tablet. Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi :

1) Delayed action tablet ( DAT )

Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut :

(5)

Sebelum dicetak, granulgranul dibagi dalambeberapa ke lompok.

Kelompok pertama tidak diapa-apakan, kelompok keduadisalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat, kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua,demikian seterusnya, tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerjaobat yang dikehendaki. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan danbaru dicetak.

2) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjaditablet inti (core tablet ). Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnyadimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru.

C. KOMPONEN TABLET

1. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope

2. Bahan Tambahan Maksud bahan tambahan adalah untuk memperbaiki sifat-sifatbahan yang akan ditablet.

Macam bahan tambahan a. Bahan Pengisi (diluent) b. Bahan Pengikat (binder)

c. Bahan Penghancur (disintegrant) d. Bahan Pelicin (lubricant)

e. Zat pewarna (coloring agent) f. Glidant dan Antiadherent

g. Pemanis (flavoring agent)(khususnya untuk tablet kunyah)

1) Bahan Pengisi (Filler)

(6)

 Bahan pengisi diperlukan apabila dosis obat tidak cukup untukmembuat bulk. Berat tablet berkisar 120 ² 700 mg.

 Memperbaiki sifat alir dan berfungsi sebagai bahan pengikatsehingga dapat dikempa atau memacu aliran

Syarat-syarat bahan pengisi :

 Harus Non Toksik

 Secara fisiologis harus inert/netral

 Stabil secara fisik dan kimia, baik dalam kombinasi denganberbagai obat atau komponen tablet lain

 Color compatible (tidak mengganggu warna)

 Tidak mengganggu bioavailabilitas obat Pengisi dibedakan :

 Bahan pengisi yang tidak larut Contoh : Calcium sulfat, Calcium

carbonat, Dibasic calcium phosphat,Tribasic calcium phosphat, Amylum, dll

 Bahan pengisi yang larutContoh : Lactose, Sucrose, Manitol, Sorbitol, dll Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan pengisi :

 Beberapa bahan pengisi dapat mengurangi bioavailabilitas

obatnya.Contoh : Produk Tetrasiklin dengan garam kalsium sebagai pengisi,bioavailabilitasnya berkurang hingga separuh dari produk standart

 Bahan pengisi juga dapat menyebabkan tak tersatukan secara kimia. Contoh : interaksi antara gugus amin tertentu dengan pengisi laktosa menyebabkan brown effect (tablet menjadi coklat/memucat)

 Bahan pengisi yang bersifat absorbent, misalnya bentonit dan kaolin,tidak boleh digunakan untuk produk-produk dengan dosis kecil sepertiglikosida jantung, alkaloid dan produk-produk estrogen sintetik.

2) Bahan Pengikat (binder)

Bahan pengikat memegang peranan yang sangat penting dalam pembuatangranul. Bahan ini akan menentukan :

(7)

 Keseragaman ukuran granul  Kekerasan tablet  Waktu hancur  Dissolusi  Compressibility  Density granul

 Kemungkinan terjadinya peristiwa migrasi bahan obat

Bahan pengikat ditambahkan, baik dalam bentuk kering maupun

cairan dalamproses granulasi basah atau menaikkan kekompakan kohesi bagi tablet cetaklangsung. Namun demikian, bahan pengikat akan lebih efektif bila digunakandalam bentuk larutan yang digunakan dalam granulasi basah.Contoh komposisi bahan pengikat :

 Amylum : 5 ²10 % b/v pasta dalam air

 Gelatine : 2 ²10 % dalam air atau 2% dlm mucilago amyli

 PVP (poly vinyl pyrrolidone) : 2 % dalam air atau alcohol

 Methyl Celluloce : 2 ²10 % dalam air

 Starch paste (pasta kanji) :10 ² 20 %

3) Bahan Penghancur (Disintegrant)

 merupakan bahan ataucampuran bahan yang dapat menyebabkan tablet hancur ketikatablet kontak dengan cairan saluran pencernaan.

 Dapat berfungsi menarik air ke dalam tablet, mengembang danmenyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian.

 Fragmen-fragmen tablet tsb akan sangat menentukan

kelarutanselanjutnya dari obat dan tercapainya bioavailabilitas yangdiharapkan

Cara penambahan bahan penghancur :

 Sebelum granulasi (internal addition)

 Setelah granulasi (eksternal addition)

(8)

Contoh bahan-bahan penghancur : 1. Kanji (amylum)

Merupakan jenis bahan penghancur yang paling umum

digunakan,harganya juga paling murah. Konsentrasi 5 ² 20 % dari berat tabletAmyl jagung (maize starch), Amyl kentang (corn starch), Amyl beras,Amyl gandum, dllModifikasi Amylum (Sta ² Rx1500) dpt digunakan sebagai Bhnpengikat, bahan penghancur, bahan pelincin (lubricant).

2. Microcry stalin Cellulose Contoh : Avicel PH101dan PH102

Digunakan dalam keadaan kering (untuk granulasi kering atau cetaklangsung)

3. E x p l o t a b ( SodiumStarch Glycolate/ SSG)

merupakan cross-linked starch yang sangat baik digunakan untuk obat-obat yang tidak larut, misalnya antasida, dicalcium

phosphat,dexamethasone, dll

4. Kombinasi asam Asam sitrat, asam tartrat maupun asam fumarat, bersama-sama dengansodium bicarbonate, apabila kontak dengan air menghasilkan gas CO2 yang dapat menyebabkan tablet hancur tablet effervescent.

4) Bahan Pelincir (lubricants)

merupakan bahan atau campuran bahan yangberfungsi untuk :

 Memudahkan tablet didorong keluar dari die

 Mencegah tablet melekat pada punch

 Mencegah gesekan antara punch dan die

 Memperbaiki kecepatan alir (flow rate) granul

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penggunaan lubricant :

 Ukuran partikel lubricant (umumnya : 80 ²100 mesh)

 Lama waktu pencampuran, karena dapat menyebabkan kenaikanwaktu hancur dan menurunkan kadar dissolusi obat(Max. 5 menit)

(9)

 Contoh bahan ² bahan pelincir : Talk kadar sampai dengan 5 %

Metalic (Mg, As, Ca) Stearat Max1% PEG jarang digunakan

5) Pewarna (Coloring Agent) Fungsi bahan pewarna :

 Sebagai bahan Estetik

 Untuk membedakan produk yang satu dengan yang lain selamamasa produksi

 Untuk identifikasi obat ² obat tertentu

Pemakaian pewarna yang larut max. 0,05 % (sesuai dengan Undang Undangatau peratuaran tentang penggunaan pewarna dalam sediaan obat) Penambahan pewarna, biasanya diberikan pada saat proses granulasi basah.

 Problem : migrasi warna pada saat pengeringan granul (warna tidak rata)Cara pengatasan :

- Penambahan 5 ²10 % CMC

- Pemanasan granul pada temperatur rendah

- Pengadukan granul selama proses pengeringan (mesin FBD). 6) Glidan

adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan

mengalirnya serbuk,umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Misalnya Silikapirogenik koloidal .f.

Bahan penyalut (coating agent).

3. Adjuvans

 Bahan pewarna (colour) dan lak

berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan

(10)

berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin), biasanya digunakan untuk tablet yang

penggunaannyalama di mulut. Misalnya macam-macam minyak atsiri.

D. CPOB

Cara pembuartan obat yang baik(CPOB) adalah pedoman dasar dalam pembuatan obat yang menyangkut seluruh aspek dalam produksi dan pengendalian mutu, meliputi seluruh rangkaian pembuatan obat yang bertujuan untuk menjamin agar produk obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaanya.

Yang dimaksud dengan pengawasan dan pengendalian yang menyeluruh yaitu pengawasan yang dilakukan sejak pengadaan bahan awal, proses pembuatan obat shingga menjad obat jadi termasuk jga pengawasan

terhadap bangunan, peralatan yang digunakan, personalia uyang membuat obat,higinre dan sanitasi.

Aspek – aspek cpob adalah : 1. Personalia

2. Bangunan dan lingkungan kerja 3. Sanitasi 4. Peralatan 5. Bahan awal 6. Produksi 7. Pengawasan mutu 8. Dokumentasi 9. Inspeksi diri

10. Penangana terhadap hasil pengamatan, keluhan dan penilaian kembali obat jadi.

(11)

CARA PEMBUATAN TABLET

Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk, tidak dapat langsungdicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet, karena akan ambyar dan mudah pecah

tabletny a. Ca mp uran serbuk itu harus diubah me njadi granu l-granul, y aitu ku mpulan 10 serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi

Tujuan granulasi adalah sebagai berikut :

1. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet.

2. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. Makin banyak udaranya, tablet makin mudahpecah.

3. pada saat dicetak, tidak mudah melekat pada stempel ( punch) dan mu dah lepas dari matris (die)

Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiranserbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifatalirnya (free-flowing ).

Cara pembuatnnan tablet dibagi menjadi 3 cara :

granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Tujuan

granulasi basah dan kering adalahuntuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa.

Granulasi basah, Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat, zat

pengisi dan zat penghancur sampai ho mogeny lalu dibasahi dengan larutan bahan

pengikat, bila perlu dita mbah bahan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam almari

(12)

pengeringpada suhu 400 - 500C ( tidak lebih dari 600C ) . Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin /lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. Cara granulasi basah

menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lamadibanding cara granulasi kering.

Granulasi kering / slugging / pre compression

Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat , zat pengisi dan zat penghancur , bilaperlu ditambahkan zat pengikat,

zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen, laludikempa cetak pada tekanan tinggi, sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan

ukuranpartikel yang diinginkan. Akhirny a dike mpa cetak lagi ses uai ukuran tablet y angdiinginkan.

Keuntungan

tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering iniserta penggunaan alatnya lebih sederhana.

Kerugian

menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah.

Cetak/kempa langsung dilakukan apabila:

1. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak.

2. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing ) 3. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing.

Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosamikrokristal, laktosa anhidrat, laktosa semprot-kering, sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. Misalnya tablet Hexamin, tablet

(13)

E. MACAM-MACAM KERUSAKAN PADA PEMBUATAN TABLET

1. Binding

kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat padadinding ruang cetakan.

2. Sticking / picking

pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan

permukaan punch tidak licin, pencetak masih ada lemaknya, zat pelicin kurang, massanya basah.

3. Whiskering

terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan,

terjadi pelelehanzat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi

. Akibatnya pada penyimpanan dalambotol-botol, sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk.

4. Spliting/caping

Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah.Caping : membelahnya tablet di bagian atasnyaPenyebabnya adalah :a. Daya pengikat dalam massa tablet kurang.b. Massa tablet terlalu banyak fines, terlalu banyak mengandung udara sehingga setelahdicetak udara akan keluar.c. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar, sehingga udara yangberada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak.d. Formulanya tidak sesuaie. Die dan punch tidak rata

5. Motling

terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet.

6. Crumbling

tablet menjadi retak dan rapuh. Penyebabnya adalah kurang tekanan padapencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang

(14)

F. Syarat - Syarat Tablet Menurut FI. ed.III dan FI. ed. IV

 Keseragaman Bobot

Timbang 20 tablet, dihitung bobot rata rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang menyimpang dari bobot rata rata lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak boleh 1 tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata rata lebih dari harga dalam kolom B. Jika perlu dapat digunakan 10 tablet dan tidak ada 1 tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata rata yang ditetapkan dalam kolom A dan B.

 Keseragaman Ukuran

Menggunakan 20 tablet, ukur diameter dan ketebalanya menggunakan jangka sorong. Hitung rata – rata dan SD nya. Persyaratan kecuali

dinyatakan lain, diameter tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 4/3 kali tebal tablet. Tebal tablet pada umumnya tidak lebih besar dari 50% diameter.

 Keseragaman Sediaan

Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metode, yaitu keseragaman bobot atau kandungan. Persyaratan

keseragaman bobot dilakukan terhadap tablet yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih dari bobot satuan sediaan .

Keseragaman bobot bukan merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet bersalut gula.

Oleh karena itu, umumnya farmakope persyartan tablet bersalut dan tablenyang mengandung zat aktif 50 mg atau kurang dan bobot zat aktif lebih kecil dari 50% bobot sediaan, harus memenuhi syarat uji

keseragaman kandungan yang pengujiannya dilakukan pada setiap tablet . (FI edisi IV)

(15)

Uji waktu hancur menggunakan alat disintegrator tester menggunakan 6 tablet. Persyaratan dalam Farmakope Indonesia jilid 3 : kecuali dinyatakan lain semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari dari 60 menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput.

 Uji kekerasan tablet

Kekerasan tablet dan ketebalannya berhubungan dengan isi die dan gaya kompresi yang diberikan. Bila tekanan ditambahkan, maka kekerasan tablet meningkat sedangkan ketebalan tablet berkurang. Selain itu metode granulasi juga menentukan kekerasan tablet. Umumnya kekuatan tablet berkisar 4 – 8 kg, bobot tersebut dianggap sebagai batas minimum untuk menghasilkan tablet yang memuaskan. Alat yang digunakan untuk uji ini adalah hardness tester, alat ini diharapkan dapat mengukur berat yang diperlukan untuk memecahkan tablet.

 KEREGASAN

kedua batch yang dievaluasi berbeda dalam hal keregasan. hal ini

disebabkan oleh perbedaan kadar air dalam granul. jika kadar air rendah akan menghasilkan tablet yang kurang kompak, sehingga menghasilkan tablet yag mudah retak. selain itu keregasan juga di pengaruhi oleh kekerasan tablet. tetapi semua hasil pengukuran masih dalam batas yang di persyaratkan

 PENGEMASAN

Tablet disimpan dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk dan

terlindung dari cahaya wadah yang digunakan harus menggunakan etike. Dalam etiket wadah atau kemasan tablet harus disebutkan :

1. nama tablet atau nama zat berkhasiat ,

2. jumlah zat atau zat – zat yang berkhasiat dalam tiap tablet.

Referensi

Dokumen terkait

Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa yang khusus disediakan

Dalam ekuilibrium pasar yang terdiri dari perusahaan yang memaksimumkan keuntungan pada industri dengan produk homogen, semakin rendah biaya marginal (marginal cost)

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa Kelima variabel berpengaruh terhadap variabel (Y) yaitu kualitas pekerjaan. Kualitas bata ringan lebih bagus digunakan pada pasangan

Mengacu pada kecenderungan hasil terbaik dalam hal berat minyak nilam yang diperoleh maka P5 cenderung menjadi metode pengeringan yang terbaik yakni dengan penjemuran

Kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh

Representasi bromance dari segi dialog antara Raditya Dika dan Pandu Winoto, peneliti menemukan empat scene yang menunjukan kedekatan persahabatan mereka seperti Pandu

Konsep Fisika “kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak mengalir secara spontan dalam arah sebaliknya” 2) Hukum II

Meski tergolong gulma dengan tingkat reproduksi tinggi, pada kawasan penelitian spesies ini hanya ditemukan pada plot 1 dan plot 4, rendahnya kehadiran spesies ini