SEJARAH KEMUNCULAN DAN BENTUK-BENTUK CAGAR BUDAYA YANG MEMPRESENTASIKAN KEARIFAN LOKAL
3.1 Wilayah Persebaran
3.2.2. Warisan budaya yang berpotensi sebagai Cagar Budaya
Selain peninggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai benda Cagar Budaya, di Nagari Pariangan masih banyak terdapat benda peninggalan yang belum dapat dikategorikan sebagai Cagar Budaya. Meskipun peninggalan tersebut telah memenuhi syarat sebagai Cagar Budaya, namun masih terdapat berbagai kendala sehingga masih dikategorikan sebagai warisan budaya yang berpotensi sebagai Cagar Budaya. Benda-benda peninggalan tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Surau kaum
Menurut Azyumardi Azra (2002), sebelum agama islam masuk, surau telah menjadi institusi dalam struktur adat Minangkabau. Dalam sejarah Minangkabau, dipercaya bahwa surau besar pertama didirikan raja Adityawarman tahun 1356 M di kawasan Bukik Gombak.
Ketika Adityawarman menjadi Raja di Kerajaaan Pagaruyung, surau berfungsi sebagai pusat peribadatan Hindu-Budha, juga tempat pertemuan anak-anak muda untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan menempuh kehidupan. Surau bahkan, sebelum kedatangan islam, di Minangkabau telah mempunyai kedudukan penting dalam struktur masyarakat.
Fungsinya, lebih dari sekedar tempat kegiatan keagamaan, juga menurut ketentuan adat, surau berfungsi tempat berkumpulnya para remaja laki-laki dewasa yang belum kawin atau duda. Sebab, adat menentukan bahwa anak laki- laki tak punya kamar di rumah orang tua mereka, maka mereka bermalam di surau, kenyataan ini, menyebabkan surau menjadi tempat aman penting bagi pendewasaan generasi muda Minangkabau,mbaik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan praktis lainnya (Azyumardi Azra,2002).
Mulyani (1999:7) berpendapat, surau menurut pola adat Minangkabau yakni kepunyaan kaum atau Indu. Indu ialah bagian dari suku, dapat juga disamakan dengan klan. Surau adalah pelengkap rumah gadang (rumah adat).
Namun, tidak setiap rumah gadang memilikinya. Sebab, surau yang telah ada masih dapat menampung para pemuda untuk bermalam, para musafir dan pedagang bila melewati suatu desa dan kemalaman dalam perjalanannya. Dengan demikian, para pemuda yang tinggal dan bermalam di surau dapat mengetahui informasi yang terjadi di luar desa mereka, serta situasi kehidupan di rantau. Jadi, surau mempunyai multi fungsi, karena ia juga pusat informasi dan tempat terjadinya sosialisasi pemuda.
Di Nagari Pariangan sendiri, terdapat temuan tentang surau yang sangat unik. Yaitu terdapat 60 buah surau yang lokasinya antara satu dengan yang lainnya sangat berdekatan. Surau di Nagari Pariangan, pada saat sekarang ini digunakan oleh masyarakat sebagai tempat tinggal atau dijadikan sebagai rumah.
Surau tersebut umumnya didiami oleh pewaris salah satu suku atau kaum.
Misalnya surau kaum Piliang, didiami oleh keturunan yang bersuku Piliang juga.
Seperti yang disampaikan oleh informan penulis yaitu Tek Mar (40 tahun).
Beliau mengatakan:
“ambo tingga di surau Piliang, karano ambo basuku Piliang lo.
Dahulu amak ambo tingga disiko pulo. Setelah amak ambo maningga, ambo tatap mahunyi surau ko, karano hanyo ambo surang anak baliau. Surau di siko sabanyak 60 buah. Tapi banyak nan alah roboh, yang tingga sekitar 19 buah kini lai” (saya tinggal di surau Piliang, karena saya bersuku Piliang pula. Dahulu ibu saya tinggal disini pula. Setelah ibu saya meninggal, saya tetap menghuni surau ini, dikarenakan hanya saya satu-satunya anak beliau. Surau disini awalnya berjumlah 60 buah, namun sudah banyak yang roboh dan sekarang hanya tinggal sekitar 19 buah saja).
Jadi menurut informasi dari informan, surau di Nagari Pariangan umumnya sudah beralih fungsi yaitu dijadikan sebagai rumah oleh masyarakat sekitar. Surau tersebut juga digunakan sebagai tempat melaksanakan sholat tarawih pada saat bulan Ramadhan.
Gambar 8: Salah satu surau yang dijadikan sebagai rumah
2. Naskah Kuno ( Tambo)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) Tambo sama artinya dengan sejarah, babad, hikayat, riwayat kuno, uraian sejarah suatu daerah yang sering kali bercampur dengan dongeng, seperti tambo Minangkabau dan tambo Bengkulu.
Pada awalnya Tambo dituturkan secara oral, dikabakan (dikabarkan) dan didendangkan, makanya tradisi ini oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan bakaba. Tujuan utama dari cerita Tambo adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal-usul nenek moyang, adat dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu-kesatuan. Bersatu karena merasa seketurunan, seadat, dan senegeri, meski dimanapun mereka berada.
Menurut Datuak Sangguno Diradjo (1954), Tambo berasal dari bahasa sanskerta “tambay” yang artinya bermula. Disampaikan secara lisan, tapi setelah masuk agama Islam di Minangkabau, dan dikenalnya tradisi menulis dalam bahasa Arab, maka Tambo mengalami perubahan transmisi dari bentuk oral kebentuk tertulis. Tambo-tambo yang semula dikabarkan secara lisan, ditulis kedalam tulisan Arab Melayu.
Menurut A.A Navis (1984) tradisi bakaba tidak diketahui secara jelas kapan dimulai oleh masyarakat Minangkabau. Namun dari istilah “tambay”
berarti bermula dari bahasa sanskerta, maka diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak zaman Hindu Budha.
Di Nagari Pariangan, juga terdapat salah seorang warga yang masih menyimpan Tambo Minangkabau yaitu informan penulis yang bernama Angku Jamaludin Datuak Mangkuto (84 tahun). Beliau mengatakan bahwa:
“naskah iko ambo dapek dari mamak ambo sabalum baliau maningga. Isi dari naskah iko adolah tantang aturan-aturan adat di Minangkabau. Sarato ado pulo tantang sajarah dari niniak moyang urang Minang. (Naskah ini saya dapatkan dari paman (mamak) saya sebelum beliau meninggal. Isi dari naskah tersebut adalah tentang aturan-aturan adat Minangkabau. Serta adapula tentang sejarah nenek moyang orang Minangkabau).
Gambar 9: Naskah Tambo yang dibacakan oleh informan
Tambo tersebut dibacakan oleh informan dengan cara didendangkan dan berbentuk seperti pantun dengan bahasa Minangkabau klasik yang bertulisan Arab Melayu. Isi tambo tersebut salah satu baitnya berbunyi:
“Elok-eloklah engkau mamaliharo isi alam, isi nagari, sagalo anak kamanakan, pikia bana sungguah-sungguah supayo engkau jauah dari sumpah niniak”
(Baik-baiklah engkau memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar sungguh-sungguh supaya engkau jauh dari sumpah nenek moyang).
Kalimat pada Tambo tersebut mengajarkan tentang kasih sayang terhadap alam dan juga menyayangi kemenakan agar terhindar dari sumpah nenek moyang.
3. Lesung Batu
Gambar 10: Lesung batu di Jorong Pariangan
Puluhan lesung batu juga banyak ditemukan di Nagari Pariangan, lesung batu tersebut letaknya beserakan disekitar Rumah Gadang bahkan ada juga yang berada ditepi jalan dan didalam kolam. Uniknya semua lesung batu tersebut memiliki ukuran lobang yang hampir sama yaitu berkisar antara 23-25 cm. Tidak diketahui secara pasti tentang sejarah dari lesung batu tersebut. Penulis juga mewawancarai informan yang bernama Tek Ety (53 tahun) beliau sedang menggunakan lesung batu tersebut waktu diwawancarai. Beliau mengatakan bahwa:
“dulu wakatu kami SD lasuang ko wakatu bulan puaso rami dipakai untuak manumbuak bahan-bahan mambuek pabukoan, tapi itu dulu. Kini urang lah bablender, ndak paguno bana lasuang ko lai do. Tapi etek mamakai lasuang iko sakali sakali sajo. Untuak manumbuak bumbu contohnyo lingkueh. Karano lingkueh itu kareh. Jadi ndak bisa diblender do. (dahulu sewaktu kami masih SD, lesung ini waktu bulan puasa ramai dipakai menumbuk bahan-bahan untuk berbuka, tetapi itu dulu. Sekarang orang sudah pakai blender, lesung ini tidak terlalu berguna lagi. Tapi etek memakai lesung ini sekali-sekali saja. Untuk menumbuk bumbu dapur yaitu
lengkuwas. Karena lengkuwas itu keras. Jadi kalau pakai blender tidak bisa).
Penulis kemudian juga bertanya mengenai sejarah munculnya lesung batu tersebut kepada Tek Ety (53 tahun), dan beliau mengatakan bahwa:
“lasuang iko basuo lah mode iko juo dek ambo, lah ado se disiko.
Dulu siko dapua mah, jadi lasuang ko lataknyo ditapi dapua. Tiok-tiok rumah urang ado lasuang mah, dibiakan se baserak dek ndak ado guno nyo lai” (lesung ini sudah saya jumpai memang seperti ini, memang sudah berada disini. Dulu disini adalah dapur, jadi lesung ini letaknya samping dapur. Tiap-tiap rumah terdapat lesung, tapi dibiarkan beserakan karna sudah tak berguna lagi).
Keberadaan lesung batu di Nagari Pariangan sudah cukup lama dan telah digunakan oleh nenek moyang di Pariangan pada zaman dahulu sebagai alat untuk menumbuk bahan makanan keperluan sehari-hari. Alat yang digunakan sebagai penumbuknya disebut alu yang memiliki panjang sekitar 170 cm. Seiring perkembangan zaman, alat tradisional tersebut sudah mulai ditinggalkan dan masyarakat telah menggunakan alat yang lebih modern seperti kincir dan juga blender.
4. Rumah Gadang
Rumah Gadang merupakan rumah tradisional dari suku Minangkabau.
Menurut cerita tambo Minangkabau, rumah gadang pertama kali dibuat oleh Tanjtejo Gurhano saat diperintahkan oleh Datuak Maharajo Dirajo. Rumah Gadang di Nagari Pariangan berjumlah 62 buah rumah. Rumah Gadang tersebut dibangun diatas tiang atau panggung, mempunyai kolong dan atapnya lancip disebut gonjong. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, dari 62 buah
rumah tersebut, beberapa rumah sudah ada yang rusak dan ditinggal oleh pemiliknya.
Rumah Gadang di Minangkabau khususnya di Pariangan selain tempat tinggal, juga digunakan untuk bermusyarah suatu kaum. Menurut informan penulis, bapak Nasir (43 tahun) mengatakan bahwa:
“sabananyo rumah gadang tu dikatokan gadang bukan karano bantuaknyo. Malainkan karano fungsinyo, seperti nan dikatokan dek tambo Minangkabau. Rumah gadang basa batuah, tiang banamo kato hakikaik, pintunyo basamo dalia kiasannyo, banduanyo sambah manyambah, bajanjang naiak batanggo turun, dindiangnyo panutuik malu, biliaknyo aluang bunian” (sebenarnya rumah gadang (besar) itu dikatakan besar bukan karena ukurannya.
Melainkan karena fungsinya,seperti didalam tambo Minangkabau yang berbunyi: Rumah Gadang besar bertuah, tiangnya bernama kata hakikat, pintunya bernama dalil kiasan, bendulnya sembah menyembah, berjenjang naik bertangga turun, dindingnya penutup malu, biliknya alung bunian).
Rumah gadang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat di Nagari Pariangan. Setiap suku di Nagari Pariangan pasti memiliki Rumah Gadang. Rumah Gadang merupakan simbol bahwa suku tersebut berperan dalam kehidupan masyarakat.
5. Balai Saruang
Balai Saruang adalah salah satu balai yang terdapat di Jorong Pariangan.
Situs ini merupakan tempat terbuka dengan denah persegi panjang dengan panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Di Balai Saruang ini sama halnya dengan situs Makam Panjang, juga terdapat tempat duduk dari batu (kursi batu) yang berjumlah 8 buah, yakni 3 di sisi barat, 3 di sisi timur, 2 di selatan dan 1 di utara.
Balai ini merupakan tempat yang digunakan oleh Datuak Bandaro Kayo sebagai
tampuak tangkai alam Minangkabau dalam memutuskan perkara. Sebagaimana yang dijelaskan oleh informan yaitu Angku Jamaludin Dt. Mangkuto, beliau mengatakan bahwa:
“dibalai saruang ikolah rajo Pasumayan Koto Batu Yang dipertuan Bandaro Kayo duduak manyalasaian pakaro. Hukuman terakhir diputuskan disiko. Ndak dapek dibandiang lai. Ibaraiknyo disiko adolah Mahkamah Agungnyo urang Minangkabau dizaman dahulunyo”(di Balai Saruang inilah raja Pasumayan Koto BatuYang dipertuan Bandaro Kayo duduk menyelesaikan suatu perkara. Hukuman terakhir diputuskan disini. Tidak bisa dibanding lagi. Ibaratnya disini adalah Mahkamah Agungnya orang Minangkabau di zaman dahulunya).
Angku Bandaro Kayo merupakan seorang raja di Pasumayan Koto Batu (jauh sebelum kerajaan Pagaruyung), beliau berwewenang dalam memutuskan suatu perkara di Minangkabau. Dan dibantu oleh para pembantunya yang merupakan niniak mamak di Nagari Pariangan.
Gambar 11: Balai Saruang sebagai pengadilan tertinggi
6. Balai Katiak
Balai Katiak adalah satu tempat tahanan dan kurungan bagi tersangka dan terdakwa sebelum atau sesudah putusan yang dijatuhkan di Balai Saruang. Balai Katiak berarti balai yang kecil atau dalam bahasa Minangkabau sampik. Di Balai Katiak ini juga terdapat batu-batu yang tersusun seperti kursi dan masih tersusun rapi.
7. Balai Pasujian
Balai Pasujian dibuat sebagai tempat untuk memeriksa segala permasalahan yang terjadi. Disini pada dahulunya dilakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran undang-undang. Orang yang memeriksa disini adalah Datuak Rajo Api yang diberi kewenangan oleh Datuak Bandaro Kayo.
Adakalanya disini terjadi pembebasan karena tidak terbukti melakukan suatu kesalahan, adakalanya dibawa dulu ke Balai Katiak untuk dilakukan penyiksaan. Kemudian setelah itu baru dilaksanakan proses persidangan di Balai Saruang
8. Sawah Satampang Baniah
Sawah Satampang Baniah merupakan sawah yang pertama kali dibuka oleh Datuak Tantejo Gurhano di Nagari Pariangan. Dan menjadi bekal makanan pertama nenek moyang orang Minangkabau pada masa lampau. Namun saat
penulis melakukan penelitian, sawah ini sedang dijadikan ladang cabai oleh pengelola sawah tersebut.
9. Batu Tagak
Batu Tagak (Menhir) terletak di Jorong Sikaladi Nagari Pariangan. Fungsi batu ini pada zaman dahulu yaitu tempat menjatuhkan hukuman kepada seperti potong tangan. Batu Tagak memiliki tinggi 120 cm dan lebar sekitar 30 cm. Batu tersebut merupakan sebuah peninggalan megalitikum yaitu Menhir, namun bagi orang Minangkabau karena posisinya berdiri, maka disebut sebagai Batu Tagak (Batu Berdiri).
10. Pemandian air panas (aia angek)
Gambar 12: Pemandian air panas yang berada di Jorong Pariangan
Di Nagari Pariangan terdapat banyak sumber air panas. Salah satunya tempat pemandian yang dahulunya digunakan oleh raja-raja untuk mandi.
Sekarang tempat pemandian ini dibuka untuk umum, dan banyak wisatawan yang datang ke pemandian air panas ini. Konon di Nagari Pariangan inilah, sumber air panas yang terbesar di Sumatera Barat.
11. Perhiasan kuno
Perhiasan kuno peninggalan nenek moyang banyak terdapat di Nagari Pariangan. Salah satnya yaitu yang disebut cimaro. Cimaro merupakan perhiasan yang terbuat dari perunggu dan digunakan oleh pengantin perempuan pada zaman dahulu saat acara pernikahan.
Gambar 13: Cimaro yang didokumentasikan oleh informan
Namun keberadaan cimaro ini sangat dirahasiakan oleh pemiliknya.
Seperti yang dituturkan oleh Angku Jamaludin Datuak Mangkuto (84 tahun), beliau mengatakan bahwa:
“Nagari Minangkabau ko nagari kayo sabananyo, sabanyak tu perhiasan di Museum Nasional, indak satupun yang berasal dari
Minangkabau. Contohnyo urang Pariangan ko. Disiko masih banyak urang yang manyimpan perhiasan (Cimaro). Dan ndak ado yang nio manjuanyo do. Tapi ambo minta maaf, indak bisa maagiah tau sia pemiliknyo do namun ambo punyo foto nyo.
(Negeri Minangkabau ini sebenarnya negeri yang kaya, sebanyak itu perhiasan di Museum Nasional, tidak satupun yang berasal dari Minangkabau. Contohnya orang Pariangan ini, disini masih banyak orang yang menyimpan perhiasan (Cimaro). Dan tidak satupun yang mau menjualnya. Tetapi saya minta maaf, tidak bisa memberi tahu siapa pemiliknya namun saya mempunyai fotonya).
Teori Fungsional Kebudayaan yang dikemukakan oleh B.Malinowski dalam “Functional Theory Culture” mencoba mencari fungsi atau kegunaan setiap unsur dalam kebudayaan untuk keperluan masyarakat. Benda-benda peninggalan diatas merupakan hasil dari kebudayaan masyarakat Nagari Pariangan. Setiap benda-benda tersebut memiliki fungsi serta manfaat yang cukup besar dalam proses kehidupan bermasyarakat Nagari Pariangan pada zaman dahulu. Benda-benda tersebut sampai sekarang masih dapat dijumpai sebagai bukti dari kehidupan nenek moyang orang Minangkabau namun fungsi dari benda tersebut beralih menjadi objek wisata.