S
ehari sebelumnya, saya, orang tua, serta adik saya yang kala itu sedang di Bandung untuk menghadiri wisuda saya, bersama-sama menginap di rumah om saya di Bekasi. Ortu dan adik saya akan pulang ke Balikpapan hari Kamis melalui bandara Soekarno-Hatta, jadi sekalian menemani saya wawancara hari Rabu-nya.Wawancara akan diadakan di Kantor Kedubes Jepang di Thamrin mulai pukul 08.00. Berbekal pengalaman buruk pernah terlambat datang wawancara di suatu gedung lain di daerah Thamrin (juga karena berangkat dari Bekasi pukul 05.45), dan langsung menyebabkan saya tidak lolos wawancara tersebut, kali ini saya tidak mau lagi fail wawancara karena datang terlambat. Nggak banget! Apalagi ini hal yang sudah saya impikan sejak lama.
Maka, pagi itu saya, om saya yang mengantar dengan mobil, ortu dan adik saya sebagai cheerleader, bersama-sama berangkat pukul 05.15. Dan tahu tidak, Sodara-sodara, pukul 06.00 saya udah sampai di Thamrin! Sepi bangeett! Berangkat 05.15, jam 06.00 udah sampai. Padahal, dulu berangkat 05.45, sampai jam 08.30! Beda banger. Dasar Jakarta, macetnya gak bisa ditebak! Beruntung saya bukan orang Jakarta.
nge-gym di situ. Sambil menunggu, kami pun sarapan dengan bekal yang dibawa dari rumah. Saya mengulang-ulang lagi hafalan cheatsheet saya. Sekitar pukul 07.30 kami memutuskan ke sebelah, ke gedung Kedubes Jepang.
Alhamdulillah, sudah ada beberapa orang yang menunggu pintu dibuka. Sekitar jam 08.00, peserta wawancara dipersilakan masuk, sedangkan om, ortu, serta adik saya berencana menunggu di McD Sarinah yang buka 24 jam.
Untuk shift pagi ini, ada 7 orang yang akan diwawancara. Pertama-tama, kami diajak ke perpustakaan bagian pendidikan. Di situ, kami dibagikan beberapa rangkap dokumen yang harus kita kumpulkan kembali ke Kedubes jika dinyatakan lolos wawancara. Setelah itu, kami diajak masuk ke bagian kantor melalui pintu berlapis 2 yang cuma bisa dimasukin oleh mereka yang memiliki kartu dengan chip khusus. Benar-benar ketat, ya, pengamanannya.
Kami dipersilakan menunggu di sebuah ruang tunggu. Rupanya ruangan itu berbagi dengan musola. Di bagian kiri ruangan terdapat beberapa sofa, dan di sebelah kanannya merupakan musola yang diberi batasan berupa partisi. Di situ kami dijelaskan bahwa wawancara akan dilakukan antara 20-30 menit tiap orang. Saya mendapat urutan ke-3. Sembari menunggu giliran, saya pun menyempatkan salat Dhuha untuk menenangkan hati dan supaya diberikan kelancaran dalam menjawab pertanyaan kelak.
Dari obrolan dengan sesama peserta wawancara, ketahuanlah ternyata saya yang paling muda. Yang lainnya pada udah
kerja, dan ada beberapa yang sudah pernah sekolah di Jepang sebelumnya, maka bisa dipastikan bahasa Jepangnya lumayan lancar semua. Saya minder banget deh kala itu. Pokoknya, di dalam hati, saya terus berdoa mohon diberikan yang terbaik saja sama Allah. Apa pun hasilnya, saya cuma minta sama Allah supaya tidak gagap saat menjawab pertanyaan nanti.
Tibalah giliran saya. Tiap langkah menuju ruangan sama beratnya dengan angkat barbel, dan tiap hela nafas sama sesaknya dengan mendaki gunung (lebay doang sih ini). Tiba di ruangan, saya mengetuk pintu dan dibukakan oleh mas-mas Jepang yang ramah banget. Saya pun dipersilakan duduk. Ruangan wawancaranya ternyata kecil banget. Di dalamnya ada sebuah meja besar dengan 6 buah kursi yang mengelilingi; 1 untuk saya, 5 lainnya untuk pewawancara di hadapan saya. Saya sebenarnya bingung: gimana bisa meja sebesar ini dimasukin melalui pintu yang sempit itu, ya? (intermezzo). Saat saya masuk, salah seorang pewawancara tidak ada. Yang ada hanya 2 orang bapak orang Indonesia, seorang bapak orang Jepang yang sudah cukup tua, dan seorang lagi mas-mas Jepang tadi.
Pertanyaan pertama (saya lupa siapa yang menanyakan),
“Good Morning. Nadine, right? So, please tell us about yourself, Nadine.”
Alhamdulillah, pertanyaan pertama sesuai dugaan, dan jawaban pun mengalir sesuai hafalan saya. Ditambah acting dikit-dikit, biar ga terlihat kayak menghafal banget.
Berkat pertanyaan pertama yang bisa dijawab dengan lancar, perlahan-lahan rasa gugup ini hilang dan saya mulai merasa percaya diri. Berikutnya, saya diminta menjelaskan seputar rencana tesis saya. Saya pun membagikan handout yang sudah saya buat dan menjelaskan sesuai bagan di handout tersebut. Pertanyaan-pertanyaannya yang masih saya ingat antara lain:
» Kenapa kamu pikir riset ini penting dan harus dilakukan?
» Apa keuntungannya bagi Jepang dan Indonesia? » Apakah bisa mempererat kerja sama antara Jepang
dan Indonesia?
Alhamdulillah, saya tidak terlalu dibantai saat menjelaskan tentang tesis ini. Tapi salah satu bapak yang dari Indonesia agak galak dan jutek saat menanyakannya, sementara 2 orang Jepang bahasa Inggrisnya sangat susah dicerna.
Setelah itu, 2 orang Jepang menanyakan hal seputar Jepang dan budaya Jepang apa saja yang sudah saya ketahui. Alhamdulillah, walaupun bahasa Inggris mereka agak susah didengar, pertanyaannya ga susah-susah, jadi bisa saya jawab dengan lancar. Setelah saya cerita-cerita tentang ketertarikan saya terhadap Jepang, eh malah jadi ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak tersebut.Lalu saya juga disuruh mempraktikkan kemampuan bahasa Jepang saya. Waktu itu, saya cuma menceritakan hal-hal yang saya alami waktu jalan-jalan ke Jepang tahun 2011 lalu. Ternyata, mereka berempat ramah-ramah aja kok, dan bahkan kami sempat tertawa-tawa. Alhamdulillah, secara keseluruhan, saya merasa wawancara ini berlangsung dengan sangat baik dan lancar. Saya pun
keluar ruangan dengan langkah kaki jauh lebih ringan. Begitu sampai di ruang tunggu dan bertemu peserta wawancara lainnya, mereka bilang saya wawancaranya lama banget. Benar saja, ternyata saya menghabiskan waktu lebih dari 30 menit, sementara orang-orang sebelum saya kalau tidak salah hanya 20 menit.
Berdasarkan nasihat dari seseorang, jika dalam suatu wawancara kamu diwawancara dalam waktu yang lama, it’s
a good sign. Artinya, pewawancara tertarik denganmu dan
ingin menggali seperti apa kamu lebih jauh lagi. Jika kamu diwawancara sebentar, sebaliknya, mungkin pewawancara sudah tidak tertarik denganmu dan sudah tidak tahu mau bertanya apa lagi. Sekarang, saya sudah mengalami keduanya. Wawancara terdahulu (bukan wawancara Monbusho) yang saya ceritakan di atas gagal gara-gara saya terlambat datang. Saat wawancara, hal pertama yang dibahas pewawancaranya adalah “Nadine tadi datang terlambat ya?”. Bapak itu nanyanya santai aja sih, tapi dia langsung menceramahi saya mengenai keterlambatan tersebut. Benar saja, wawancara saya singkat banget! Cuma 30 menit, sementara orang-orang lain sejam sampai satu setengah jam. Saya pun tidak lolos dalam wawancara tersebut.
Sementara itu, yang terjadi di wawancara Monbusho ini sebaliknya. Saya diwawancara cukup lama dan Alhamdulillah, pada tanggal 31 Juli 2012, saya mendapat pengumuman bahwa saya lolos seleksi wawancara, yang artinya saya lolos Primary