Medium: Zoom
K: Kezia // E: Ezra
K: Selamat pagi, saya ingin menanyakan beberapa hal terkait wawancara kemarin, beberapa pertanyaan yang saya belum dapat jawabannya dari wawancara yang kemarin. Mungkin saya mengulang terlebih dahulu, tujuan dari penelitian saya adalah saya ingin membandingkan dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda sebagai pembaca tentang orang yang
memiliki kecenderungan bunuh diri.
Jadi boleh dibuka emailnya yang berita satu. Mau dibaca dulu aja?
E: Boleh deh
*Responden membaca berita satu*
E: Sudah
K: Kalau sudah, saya ingin bertanya menurut pemahaman Anda, setelah membaca berita satu ini, apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri? Berdasarkan berita ini?
E: Mmm, berdasarkan berita ini karena depresi. Terus karena bunuh diri…
K: Iya, yang menyebabkan dia bunuh diri?
E: Iya depresi aja
K: Yang membuat Anda menyimpulkan Sulli bunuh diir karena depresi dari paragraf yang mana?
E: Dari paragraf dua, “Seorang pejabat kepolisian mengatakan jika keputusan ekstrem dilakukan Sulli diduga karena depresi.” karena itu sih.
K: Ada lagi atau udah?
E: Udah sih
K: Berarti dari paragraf dua, Anda menyimpulkan Sulli bunuh diri karena depresi.
E: Iya
K: Lalu pertanyaan selanjutnya, tadi kan Anda jawab Sulli itu bunuh diri karena depresi, menurut Anda, apakah alasan bunuh diri tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri dan jelaskan mengapa?
E: Layak sih, karna … mmm apa ya.., ya karna sudah stress aja, sudah gak kuat menjalani kehidupan-kehidupan selanjutnya. Jadi dia memilih untuk bunuh diri. Menurut gua sih gitu.
K: Berarti menurut Anda, alasan depresi itu layak untuk menjadi alasan bunuh diri karena ya dia udah mengalami stress dan sudah tidak kuat menjalani kehidupan, jadi dia memutuskan untuk bunuh diri.
Lalu, ini kan Sulli bunuh diri karena depresi, seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang akan Anda rasakan atau lakukan, dan jelaskan mengapa Anda merasa dan melakukan hal tersebut?
E: Kalau saya jadi Sulli, …
K: Iya yang Anda rasakan, misalnya Anda mengalami hal yang membuat Anda depresi, lalu apa yang akan Anda rasakan dan lakukan, dan jelaskan mengapa?
E: Kalau saya mengalami hal yang sama, mungkin saya akan keluar dari masalah itu, dari depresi itu, dari sumber depresi itu. Gua bakal, keluar gitulah pokonya. Kalau di sini, mungkin ya yang bikin dia depresi itu SM Entertainment-nya. Nah gua akan keluar dari SM Entertainment-nya. Gua sebisa mungkin akan menjauh dari sumber depresi tersebut.
K: Kalau yang Anda rasakan?
E: Ya sama sih, yang dirasakan pasti sama..
K: Sama maksudnya depresi juga?
E: Iya depresi juga
K: Lalu, tadi kan alasan bunuh diri dari berita ini karena depresi, seandainya Anda menjadi Sulli, apakah alasan bunuh diri tersebut dapat Anda kendalikan? Menurut Anda?
E: Mmm, harusnya bisa yah, ya kayak tadi gitu sih. Harus keluar dari sumber depresinya.
Kalau lu udah keluar dari situ, bisa dikendalikan, dan ga bakal terjadi bunuh diri.
K: Lalu.., sebentar. Sepertinya dari berita satu, sudah sih itu saja pertanyaan yang belum terjawab. Lalu boleh dibuka email yang berita dua. Boleh dibaca dulu aja.
E: Oke
*Responden membaca berita dua *
E: Sudah
K: Oke sebentar. Jadi pada wawancara sebelumnya saya menanyakan, berdasarkan berita ini, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli. Lalu, jawaban Anda itu adalah Sulli itu orang yang tidak cocok di dunia entertainment, karena dia introvert, tidak bisa di depan publik, tidak bisa menerima ocehan netizen dan mudah depresian. Tapi positifnya, dia tidak puas hanya di satu bidang saja. Dia mau belajar bidang lain.
Lalu yang mau saya tanyakan adalah, dari paragraf mana yang membuat Anda menilai bahwa Sulli itu introvert?
E: Mmm, di paragraf yang “Dibalik ketenaran Sulli ia mengaku alami ketakutan hingga depresi, hal itu berkaitan dengan komentar pedas dari publik dengan status selebriti. Bahkan ia pernah merasa takut untuk mengenakan pakaian yang dianggap tak pantas.”
K: Ada lagi?
E: Mmm, sudah sih.
K: Berarti dari paragraf delapan ya, yang “Dibalik ketenaran Sulli..”. Mengapa dari paragraf ini, Anda menilai bahwa Sulli itu orangnya introvert?
E: Ya dia, mmm.., dia gak nyaman aja gitu, dapet komentar pedas dari fans-fansnya atau dari orang gitu ya. Terus dia takut juga mengenakan pakaian yang terbuka di depan orang-orang. Jadi ya menurut gua dia introvert.
K: Mmm, berarti dari kalimat ini Anda menilai Sulli itu introvert karena dia tidak nyaman dengan komentar publik, lalu dari yang kalimat…
E: Terus , dia ngomong juga, di paragraf setelahnya, “Aku bisa merasakan pandangan orang-orang kepadaku. Dan itu membuatku takut,”. Dari situ dia sudah takut dari publik. Jadi gua menyimpulkan bahwa dia introvert. Paragraf delapan dan bawahnya sih. Sembilan.
K: Kalau yang takut mengenakan pakaian yang tidak pantas juga?
E: Mmm, menurut gua iya. Masih dikategorikan introvert kalau menurut gua.
K: Ada lagi?
E: Sudah
K: Mmm sebentar. Sudah sih, dari berita dua juga sudah. Mohon maaf ada pertanyaan tambahan. Lalu kalau ada pertanyaan tambahan lagi boleh hubungi lagi ya.
E: Oke siap.
K: Terima kasih.
E: Sama-sama
Dokumentasi
TRANSKRIP WAWANCARA 2 Tanggal: 27 OKTOBER 2020 Medium: Zoom
K: Kezia // R: Roveri
(Sesi Pertama)
K: Sebelumnya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu ya. Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Kezia Priscilla Goerandhi, saya adalah mahasiswi jurnalistik dari UMN yang sedang melakukan penelitian untuk skripsi saya. Sebelumnya boleh memperkenalkan diri terlebih dahulu nama, umur, kesibukan sekarang apa?
R: Perkenalkan, nama saya Roveri Boris Hutahaean, sekarang lagi jadi mahasiswa di salah satu perguruan negeri tinggi negeri yang ada di Bandung. Umur 22 tahun. Kesibukan ya mahasiswa akhir aja, lagi mengerjakan tugas akhir juga.
K: Okee. Jadi pada penelitian ini saya hendak membandingkan pengaruh dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda tentang orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Untuk itu, nanti wawancara ini terbagi menjadi dua sesi. Di sesi pertama, Anda akan
membaca berita yang pertama. Kasus bunuh diri yang saya ambil dalam penelitian ini adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Sulli eks f(X) pada 14 Oktober 2019. Sebelumnya Anda tahu gak tentang kasus ini nggak?
R: Tidak tahu sama sekali
K: Oke. Boleh dicheck emailnya, saya akan mengirimkan berita pertama. Di email yang ditulis di google form. Boleh dibaca dulu, kalau sudah selesai baca, kabari aja.
R: Oke sabar ya Mbak.
K: Iya gapapa
R: Ooh tahu deng kez, ini yang penyanyi di girlband kan?
K: Iya
R: Ohh iya tahu.
*responden membaca berita pertama*
R: Udah
K: Udah?
R: Udah
K: Emailnya tetap dibuka aja, soalnya nantikan saya akan tanya tentang berita itu, takutnya butuh untuk baca lagi.
R: Ya.
K: Nah sekarang saya akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Anda diharapkan menjawabnya dengan jujur sesuai dengan berita yang anda baca yaitu berita pertama ini. Terus kalau
misalnya emang gaada jawabannya, jawab aja gaada. Kalau gak ngerti, boleh ditanyakan saja.
R: He eh
K: Oke, jadi pertanyaan pertama, setelah Anda membaca berita satu tadi, menurut Anda bagaimana berita ini menggambarkan sosok pribadi Sulli? Jadi, bagaimana berita ini menggambarkan pribadi Sulli, karakter Sulli itu seperti apa sih
R: Hmm.. berita ini menggambarkan pribadi Sulli langsung dari apa yang Ia dapat dari narasumber berita itu sendiri kan, langsung dari polisi atau netizen-netizen yang tahu tetnang berita ini. Kalau dia (Sulli) itu depresi. Jelas tertulis bahwa tahun-tahun sebelum dia bunuh diri, yang diperkirakan katanya bunuh diri, dia (Sulli) itu sudah depresi. Di berita ini ga dijelasin sih kepribadian lain. Cuman yang orang yang dari 2015 merasakan depresi.
K: Oke, berarti setelah Anda membaca berita ini, Anda melihat berita ini menggambarkan bahwa Sulli adalah pribadi orang yang mengalami depresi.
R: Ya.
K: Oke, lalu, setelah Anda membaca berita satu ini apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
R: Yang menyebabkan bunuh diri, sebenarnya masih menjadi ini ya.., hal yang rancu ya.., soalnya sebenarnya dia nulisnya , Sulli bunuh diri jelas-jelas karna depresi. Karna polisi ngomongnya gitu, secara jelas polisi ngomongnya gitu. Tapi, dia di kalimat lain ada
sanggahan di berita ini, bahwa itu bukan bunuh diri, tapi tidak dijelaskan lebih lanjut. Berita ini nulis itu, karna dia dapet bahasan dari agencynya si Sulli. Jadi ya rada membingungkan juga sih sebenernya.
K: Mmm, berarti masih rancu tapi yang tertulis dalam berita ini dugaannya depresi.
R: Ya benar
K: Oke, tadi kan Anda bilang bahwa berita ini menulis Sulli itu bunuh diri karna depresi, walaupun kurang penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan penjelasan Anda, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli? Jadi kalau tadi kan yang pertama, berita ini menggambarkan pribadi Sulli. Nah kalau dari Anda sendiri, setelah membaca berita ini, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli?
R: Karna emang dari awal… karna emang kan jujur gatau orangnya gimana, ga ngikutin kepribadian Sulli aslinya, emang cuman membaca berita ini, ya ga mendapat lebih apa pun tentang kepribadiannya. Yang saya tahu, dia seseorang yang sudah depresi sejak tahun 2016, sehingga itu yang menyebabkan katanya dia bunuh diri gitu pada tahun 2019. Jadi cuman dapet tentang itu aja, ga ada kepribadian lain.
K: Okee, sudah depresi sejak lama ya
R: He eh
K: Tadikan Anda bilang kurang penjelasan, Anda hanya tahu, Sulli adalah orang yang telah mengalami depresi sejak lama. Apa sih hal dalam berita yang membuat Anda
menggambarkan pribadi Sulli seperti itu? Kalimat mana gitu misalnya?
R: Kalimat … kalimat inti dari berita ini sih udah ngejelasin kalo emang bunuh dirinya karna depresi. Dan gaada bantahan lain atau tambahan lain, alasan dia bunuh dirinya di luar depresi.
Jadi ya udah pasti ini. Berita ini langsung ngomong, ini Sulli bunuh diri karna depresi.
K: Berarti kalimatnya yang… paragraf kedua bukan? “Seorang pejabat kepolisian mengatakan…”?
R: Ya benar
K: Selain kalimat itu, ada lagi ga yang mana?
R: Kalimat akhir pastinya. Yang ada kata depresinya aja. Yang kalimat akhir, penutup berita.
("Aku merasa spekulasi netizen (usaha bunuh diri) itu bukan tanpa dasar. Ketidakstabilan mental Sulli sudah terdengar seperti dia (melewati banyak hal sulit) mudah depresi hingga ingin bunuh diri," ujar netizen kala itu.)
K: Jadi karena Anda membaca kalimat yang menyebutkan bahwa Sulli depresi, jadi Anda menyebutkan bahwa Sulli adalah pribadi orang yang sudah mengalami depresi sejak lama.
R: Ya
K: Mmm lalu, pribadi Sulli itu adalah orang yang mengalami depresi. Lalu menurut Anda sekarang secara lebih umum, bukan Sulli aja, apakah semua orang yang memiliki
kecenderungan bunuh diri memiliki kepribadian tersebut?
R: Kalau dari yang saya tahu, iya sih. Semua orang yang ingin bunuh diri awalnya karna depresi, tapi alasan dari setiap orang mengapa dia depresi itu berbeda-beda. Jadi ya
kebanyakan karna itu. Kalau sebutannya bunuh diri, pasti ada masalah di pribadinya. Yang jatuhnya yang pasti depresi sih secara umum, tapi alasannya yang berbeda-beda. Kalau yang di berita ini kan gak tahu alasannya apa.
K: Oke. Lalu pertanyaan selanjutnya, berartikan dari berita satu ini, Sulli itu bunuh diri dugaannya karna depresi, nah menurut Anda apakah alasan bunuh diri tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri?
R: Kalau dibawa ke faktor lain nih, misalnya faktor agama atau faktor apalah.. Faktor kemanusiaan. Sebenarnya apa yang dikatakan dari bunuh diri, kalo pribadi saya sih, gaada alasan, gaada alasan untuk bunuh diri. Gaada alasan untuk kita melewati keputusan Tuhan terlebih dahulu gitu. Kalau dari pandangan saya, soalnya untuk masalah bunuh diri nih.
Walaupun saya belum pernah merasakan, seperti yang saya bilang, ga pernah juga ingin mencoba hal seperti tersebut, tapi saya kira dari setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Jadi kan ini permasalahan bunuh diri ini kan, biasanyakan karna depresi nih. Nah sebenarnya depresi ini bisalah untuk disembuhkan dulu daripada langsung bunuh diri aja. Jadi bunuh diri bukan suatu hal yang tidak bisa saya terima sih di kehidupan ini.
K: Berarti kan Anda menjawabnya tidak layak ya. Berarti, bagaimana seharusnya Sulli bersikap? Dan mengapa Sulli harus bersikap seperti itu?
R: Kan kita tahu nih, kalau kita ambil masalahnya Sulli karna dia depresi. Kalau untuk untuk masalah bersikap, ini sebenarnya beda-beda pandangan ya setiap orang. Tapi kalau untuk saya, secara umum cara dia harusnya bersikap harusnya dia bisa lebih sabar lagi, lebih tenang lagi, dia mencari hal-hal yang membuat dia bisa melupakan depresi itu sendiri. Dia mencari hal-hal atau orang , ya antara kegiatan, hal-hal atau orang sehingga dia bisa melupakan depresinya dia sendiri gitu. Jadikan depresi ini kan istilahnya, beban lama yang dipendam dari lama gitu. Jadi dia harus mencari biar itu gak dipikirin lagi sih. Dan tiap orang biasanya jawabannya berbeda-beda. Kalau Sulli karna saya tidak dekat dengan orangnya, jadi saya gak tahu dia gimana.
K: Oke.., mengapa harus bersikap kayak gitu?
R: Ya harus kayak gitu, seperti yang tadi saya bilang ,biar antisipasi ke bunuh diri itu hilang.
Biar yang katanya menjadi alasan dia bunuh diri itu tidak diingat-ingat lagi, biar dia tidak depresi lagi, biar dia lebih tenang dan mau lah menjalani hidupnya ke depan.
K: Oke, lalu pertanyaan selanjutnya. Seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang akan Anda rasakan atau lakukan? Dan merasa atau melakukan itu?
R: Seandainya menjadi Sulli itu.., pas depresinya ya?
K: Iya, misalnya Anda ada di posisi Sulli nih, mengalami depresi, apa yang akan rasakan atau lakukan.
R: Pertama berarti apa yang saya rasakan ya, pasti gimana ya.. Sebenarnya bahasa kasarnya, mempertanyakan hidup ini apa. Jadi kayak malas hiduplah istilahnya. Jadi malas hidup, ke masalah segininya, sampai bisa jadi saya down banget. Tapi untuk menanggulangi hal
tersebut, saya pasti akan jalur biar saya gak berpikiran, biar saya ga mentok-mentok aja nih di depresi saya ini. Saya sih pasti lebih ke cerita, berdoa, mendekatkan diri ke Tuhan sesuai ajaran agama saya, dan juga cerita ke orang-orang terdekat aja sih. Biar saya merasa nyaman, biar orang lain juga membantu saya aja sih. Soalnya untuk masalah depresi ini saya kira gak bisa dijalani sendiri, tapi harus dijalani dan dibantu oleh beberapa orang untuk
menghilangkan depresi ini.
K: Oke. Lalu, tadikan Anda kan bilang Sulli itu bunuh diri dugaannya karna depresi.
Seandainya Anda menjadi Sulli, apakah alasan bunuh diri tersebut dapat Anda kendalikan?
R: Mmm, kalau jawaban saya sekarang sih, saya percaya dapat mengendalikan. Karna memang saya sendiri memiliki keyakinan bahwa bunuh diri itu suatu hal yang salah.
Seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapa pun, udah dari konsep pemikiran saya, bunuh diri bukanlah jalan akhir.
K: Oke. Selanjutnya, tadikan Anda bilang Sulli itu adalah orang yang berkepribadian mengalami depresi, lalu sekarang, berdasarkan Anda baca satu, perasaan apa yang timbul dalam hati Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
Perasaan apa..? Misalnya kalo lu nih punya temen yang kayak Sulli, pribadinya tuh emang mengalami depresi sejak lama, nah perasaan apa yang timbul dalam hati Anda?
R: Yang pastinya sih perasaan iba ya. Perasaan iba dan juga sedih. Itu aja sih, iba dan sedih aja. Tapi di sisi lain, selain perasaan iba dan sedih, eh ini gatau perasaan atau bukan, pengen memberikan bantuan sih. Jadi ada juga perasaan mau juga kepada orang-orang seperti ini, istilahnya ditolong sama orang-orang terdekatnya. Ya walaupun ga kenal ya, pengenlah bantu orang istilahnya gimana sih biar dia ga depresi.
K: Berarti pandangan Anda, tadi kan Anda menggambarkan pribadi Sulli itu depresi,
mempengaruhi perasaan Anda terhadap yang memiliki kecenderungan bunuh diri tadi? Atau gimana pun pribadinya, tetap merasa iba dan sedih?
R: Tunggu kez, tadi putus kez.., bisa diulang ga?
K: Kan tadi Anda menggambarkan pribadi Sulli itu orang yang mengalami depresi sejak lama, lalu perasaan yang muncul dalam hati Anda terhadap orang yang kayak gini tuh rasa iba dan sedih. Apakah pandangan pribadi tersebut mempengaruhi perasaan Anda atau tidak?
R: Kalau bilang mempengaruhi… mmm.. Mempengaruhi tidak mempengaruhi sih. Tidak mempengaruhinya sih karna subjek dari berita ini sebenarnya. Subjek dari berita ini emang saya gak tau nih orangnya nih. Orangnya gak tau siapa, yaudah saya baca aja. Walaupun ada juga perasaan “kenapa sih harus bunuh diri?” karna konsep bunuh diri tidak saya terima dalam kehidupan. Ya mungkin saya akan sangat-sangat iba mungkin kepada orang-orang yang saya kenal, setidaknya saya kenal saya pernah bicaralah, setidaknya ada rasa iba.
K: Oke. Mmm, Anda kan bilang Anda akan merasa iba dan sedih, apa hal dalam berita yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut? Misalnya setelah Anda membaca kalimat yang mana?
R: Kalo dalam berita yang menjelaskan ini, ini sih, kayak, dia kan bilang, dia diduga melakukan bunuh diri, terus ada di kalimat sebenarnya sebelumnya pada tahun 2016 ada kabar kalo Sulli emang melakukan pernah melakukan usaha juga di tahun 2016.
Maksud saya, kenapa yang membuat saya sedih itu, dalam waktu tiga tahun itu, tidak adakah orang-orang terdekatnya atau dari Sulli-nya sendiri untuk menghilangkan perasaan
depresinya itu. Soalnya seharusnya orang-orang terdekatnya sudah tahu gitu. Tahun 2016 dia sudah merasakan, mungkin dari situ dimulailah membangun hubungan yang baik, biar dia tidak melakukan bunuh diri. Jadi biar pada 2019 akhirnya ini tidak terjadi. Itu sih.
K: Oke.., apakah hal lain diluar berita yang mempengaruhi perasaan Anda tersebut terhadap perasaan kasihan dan sedih tadi, di luar berita?
R: Di luar berita.., tidak ada sama sekali.
K: Gaada ya.. Lalu, pertanyaan selanjutnya.., tadi Anda sudah sempat menyinggung sih. Jadi Anda kan sudah tahu Sulli itu orang yang sudah mengalami depresi sejak lama, lalu Anda merasa iba dan sedih terhadap dia. Sekarang pertanyaan selanjutnya, berdasarkan gambaran dari berita, bagaimana Anda bersikap terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri? Lebih ke action-nya gitu, apa?
R: Kembali lagi, kalo untuk action secara langsung, kalo subjeknya gak saya kenal, saya tidak melakukan apa pun. Saya tidak akan melakukan apa pun, karna kalo kayak gini-gini kan gak tahu orangnya. Jadi ga akan melakukan apa pun aja. Tapi, kalau di …, kalau dibilang, ini termasuk juga ga, kalo ada berita kayak gini, saya gak mau menyebarluaskan gitu ke orang-orang terdekat saya. Itu action bukan?
K: Ooh, iya itu action juga, tapi yang saya tanyakan itu, kalo Anda nih, ada orang yang Anda kenal, orang itu memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli, nah bagaimana Anda akan bersikap?
R: Oh iya maaf ya maaf.. Kalo bersikap ya pasti, seperti yang saya bilang. Kalau saya emang memiliki kemampuan, dan sangat dekat dengan dia, ya, saya dekati sih. Saya gali cerita, apa
yang membuat dia depresi. Baru, ya.., saya bantu. Saya temukan jalan keluarnya gimana.
Tapi, kalau tidak mampu pun saya menemukan jalan keluarnya, saya akan mulai
menceritakannya ke orang-orang yang ahli tentang masalah-masalah kepribadian kayak gini sih. Itu kan udah menyangkut orang terdekat saya kan, pasti akan saya bantu. Kalau saya pun gak bisa, saya akan minta bantuan orang lain.
K: Okee.., lalu, apa hal dalam berita yang membuat Anda ingin bersikap seperti itu?
R: Balik lagi.., jawabannya sama sih kayak pertanyaan dua sebelumnya, pertanyaan yang
“apa yang membuat saya iba dan sedih”, ya itu jawabannya. Soalnya udah empat tahun, kenapa ga sembuh-sembuh.
K: Lalu pertanyaan selanjutnya ini, dijawabnya secara lebih umum, gak hanya tertuju ke Sulli. Jadi in general, berdasarkan gambaran pribadi, perasaan dan sikap yang tadi Anda sudah jawab. Menurut Anda, bagaimana seharusnya tindakan pihak rumah sakit/kesehatan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli dan mengapa?
R: Pihak apa kez?
K: Pihak rumah sakit atau kesehatan, jadi gimana sih orang yang punya kecenderungan bunuh diri kayak Sulli harus di “treat” gitu dari rumah sakit? Atau dari pihak kesehatan?
R: Dari rumah sakit, treat-nya.., sebenarnya gak bisa dari pihak rumah sakit. Yang nge-treat harus orang psikologi harusnya. Ini maksud pertanyaannya sebelum dia mati kan?
R: Dari rumah sakit, treat-nya.., sebenarnya gak bisa dari pihak rumah sakit. Yang nge-treat harus orang psikologi harusnya. Ini maksud pertanyaannya sebelum dia mati kan?