LAMPIRAN
TRANSKRIP WAWANCARA 1 Tanggal: 23 OKTOBER 2020 Medium: Zoom
K: Kezia // E: Ezra
(Sesi Pertama)
K: Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Kezia Priscilla, saya adalah mahasiswi UMN yang sedang melakukan penelitian untuk skripsi saya. Boleh responden memperkenalkan diri terlebih dahulu nama, umur, kesibukan sekarang apa?
E: Oh iya, nama saya Ezra Manuhutu, saya adalah mahasiswa musik di Los Angeles.
Kesibukan saya belajar aja, kelas online di LA. Jadi saya sekarang stay di Los Angeles untuk berkuliah disini
K: Umurnya sekarang berapa?
E: Oh iya, umur saya 22.
K: Oke, jadi pada penelitian kali ini saya ingin memberikan pengaruh dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Nanti saya akan memberikan dua jenis berita kepada Anda dan nanti setelah itu setelah Anda baca, lalu saya akan memberikan beberapa pertanyaan tentang pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Jadi, untuk itu wawancara ini akan dibagi akan menjadi dibagi menjadi dua sesi. Di sesi pertama Anda akan membaca berita pertama. Kasus bunuh diri yang saya ambil adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Sulli eks f(X) pada 14 Oktober 2019. Sebelumnya tahu tentang kasus ini nggak?
E: Udah pernah denger, tapi belum.. Eh udah sempat denger, tapi tidak secara detail maksudnya.
K: Oke. Tadi saya sudah kirim email isinya berita satu, boleh dibaca dahulu, kalau sudah selesai bilang.
*responden membaca berita satu*
E: Iya udah
K: Oke. Emailnya jangan ditutup dulu karena nanti saya akan menanyakan beberapa pertanyaan yang terkait dengan berita itu, jadi siapa tahu Anda harus baca lagi, jadi tidak ribet.
E: Oke.
K: Nah sekarang saya akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Anda diharapkan menjawabnya secara jujur sesuai dengan berita yang anda baca yaitu berita pertama ini.
E: Iya
K: Jadi pertanyaan pertama, setelah Anda membaca berita satu tadi, menurut Anda bagaimana sosok pribadi Sulli yang digambarkan dalam berita. Jadi, bagaimana berita ini menggambarkan karakter Sulli seperti apa.
E: Mmm.., dia kayaknya masa kecilnya ga terlalu.. Mmm gimana ya…
K: Yang tergambar dalam berita
E: Mmm.., kayaknya dia itu seorang yang … apa ya…
K: Kalau misalnya tidak tergambar dengan jelas juga tidak apa-apa sih.
E: Mmm.., mungkin gampang depresian gitu kali ya.., mungkin karna dia terkenal gitu, terus banyak tekanan di industrinya mungkin. Mungkin juga, banyak pelecehan-pelecehan gitu, karna dia cewe kan. Cuma gua gatau juga sih.., mungkin. Mungkin ada kayak tekanan- tekanan dari industri musiknya yang membuat dia tidak bebas.
K: Berarti menurut Anda, pribadi yang tergambar dalam berita, Sulli itu orang yang mudah depresian?
E: Mudah depresian iya..,
K: Itu yang tergambar dari dalam berita ya..
E: Iya, sangat ditekankan di industri musik. Jadi ditekanin banget di industri musik, ga dibebasin gitu, dikekang di industri musik. Nah dia tidak suka itu. Gitu loh menurut gua.
K: Ada lagi?
E: Kayaknya udah sih. Segitu dulu.
K: Lalu, menurut Anda, menurut pemahaman Anda, setelah Anda membaca berita satu ini apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
E: Mungkin dia udah enggak kuat lagi untuk melanjutkan tekanan itu, tekanan yang gua udah bilang itu tadi. Gak ada solusinya juga, jadi satu-satunya solusi mungkin cuma yang
mengakhiri hidupnya sendiri gitu.
K: Mengapa setelah Anda membaca berita satu ini, Anda berkesimpulan bahwa Sulli itu bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan industri musik?
E: Mmm., soalnya banyak musisi juga.., eh dia itu musisi gak sih?
K: Iya
E: Ya, banyak musisi-musisi yang lain juga yang bunuh diri dengan alasan yang sama gitu loh. Contohnya kayak Chester Bennington, Linkin Park dia juga kayak depresi gitu. Terus kayak ada rapper juga, dia juga bunuh diri karna tuntutan industri, dia gak kuat. Michael Jackson juga bisa dibilang depresi, ya karna tekanan dari labelnya juga. Sama sih. Jadi gua berkesimpulan untuk Sulli juga kayak gitu.
K: Oh itu kan kalau Anda setelah melihat kasus-kasus lain.
E: Iya
K: Kalau yang dari tergambar dari berita yang Anda baca sendiri gimana? Apa sih hal dalam berita yang membuat Anda “Oh dia itu bunuh diri karna ga kuat dari tekanan industrinya”.
Ada gak hal dalam berita?
E: Mmm., apa ya, mungkin… mungkin dari SM Entertainment-nya ini, mungkin dia kayak terlalu mengekang dia, terlalu mengekang si Sulli ini. Ya mungkin.. Dia gak kuat dan ya udah dia bunuh diri.
K: Oke pertanyaan selanjutnya, tadi kan Anda bilang kalau Sulli itu bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan industri musik. Lalu, berdasarkan jawaban Anda tadi, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli?
E: Menggambarkan pribadi Sulli… mmm…
K: Iya, jadi ini menurut Anda, setelah Anda membaca tadi berita satu, pribadi Sulli itu kayak gimana sih? Orangnya kayak gimana? Karakternya..
E: Mungkin dia tidak suka diatur-atur. Mungkin dia tuh pingin berdiri sendiri as an artist.
Sendiri aja gitu. Terus.., mungkin dia bisa jadi introvert. Dia kan selalu tampil di depan publik, dan dia terus lama-lama depresi juga karna dia introvert, karna dia pingin sendiri kan.
Nah sedangkan pekerjaan dia dituntut untuk selalu ada di depan publik gitu. Jadi ya mungkin, seperti itu.
K: Berarti menurut Anda, pribadi Sulli itu tidak mau diatur, maksudnya pingin berdiri sendiri…
E: Pingin berdiri sendiri gitu, tidak mau ada yang atur, tidak mau ada label yang ngatur dia.
Bukan label ya, maksudnya entertainment.
K: Iya.., dan mungkin dia introvert?
E: Introvert iya. Soalnya banyak kejadian bunuh diri yang memang gitu.., memang dia introvert. Cuma mungkin dia dipaksa, mungkin dia setiap hari di depan publik, jadi kapan sendirinya? “Gua butuh waktu sendiri, kok ada-ada terus job”. Jadi the only way to escape is suicide, maybe.
K: Tadi kan Anda bilang, tidak suka diatur atau label yang mengatur, atau mungkin dia itu introvert. Lalu, apa sih hal dalam berita yang membuat Anda menggambarkan pribadi Sulli itu kayak gitu? Jadi misalnya kalimat mana yang membuat Anda berkesimpulan bahwa “Oh Sulli itu kayaknya orangnya introvert deh atau dia tidak mau diatur”?
E: Dia melakukan bunuh dirinya sendiri ya? Dia melukai pergelangan tangannya sendiri kan?
K: Iya.., yang tergambar dari berita aja yang membuat Anda berpikir “Iya ya dia introvert atau…”
E: “Kecerobohan di rumah” tuh mungkin. “Namun klaim bunuh diri Sulli dibantah
agensinya, SM Entertainment. Kala itu sang artis dikatakan kecerobohan di rumah”. Dia itu sendirian di rumah kan. Biasanya kan kalau ada masalah manggil temen, nah ini dia cuma sendiri-sendiri aja gitu. Menurut gua kayak gitu sih.
K: Kalau yang tidak suka diatur atau label yang mengatur?
E: Mmm., mmm mungkin, SM Entertainment yang tidak memberikan statement kali ya.
“Namun hingga saat ini, SM Entertainment, agensi yang menaungi bintang Real itu belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai kematian sang artis”.
K: Mengapa dari kalimat itu Anda menyimpulkan bahwa Sulli itu pribadinya tidak suka diatur?
E: Mmm.., mungkin.., karna..,
K: Atau mungkin Anda hanya karna melihat kasus lain saja gitu?
E: Mungkin gua karna hanya melihat kasus lain saja sih.., karna banyak yang bermasalah dengan labelnya gitu. Nah terus ini SM Entertainment, ya gitulah, belum ngasih statement,
mungkin dia masih mikir dulu kata-kata statementnya maybe, biar gak dituduh sebagai penyebab bunuh diri Sulli.
K: Berarti…, kalau saya tanya lagi ya, maksudnya kalau yang bener-bener dari berita yang Anda baca aja gitu. Itu kayak gimana sih? Anda juga pernah tahu nih kasus-kasus lain, musisi-musisi lain yang bunuh diri. Nah kalu sekarang, dari berita yang Anda baca saja, pure benar-benar dari berita yang Anda baca saja, pribadi Sulli tuh kayak gimana sih? Jangan melihat dari kasus lain gitu.
E: Oke oke mmm..
K: Tadi kan Anda sudah jawab Sulli itu introvert. Harusnya manggil teman-teman ke rumah.
Lalu ada pribadi lain gak? Kepribadian atau karakter lain melihat dari berita ini.
E: Depresi aja sih. Dia depresi sampai bunuh diri tuh, ya udah, depresinya udah akut berarti.
Depresi berulang kali, yang gaktau cara menyembuhkannya gitu. Ya gitu pokonya.
K: Ada lagi?
E: Kayaknya udah sih, kalau menurut berita ini ya
K: Oke. Kalau yang depresi itu, Anda dalam berita dari kalimat yang mana?
E: Yang ini “seorang pejabat kepolisian mengatakan jika keputusan ekstrem dilakukan Sulli diduga karena depresi.” paragraf kedua.
K: Ada lagi? Hal dalam berita yang membuat Anda berkesimpulan “Sulli itu orangnya depresi”
E: Oke oke, ini ada. "Aku merasa spekulasi netizen (usaha bunuh diri) itu bukan tanpa dasar.
Ketidakstabilan mental Sulli sudah terdengar seperti dia (melewati banyak hal sulit) mudah depresi hingga ingin bunuh diri," ujar netizen kala itu.”
K: Kenapa dari kalimat itu Anda menyimpulkan bahwa Sulli depresi?
E: Karena.. Mentalnya mungkin tidak stabil ya
K: Berarti dari kalimat “Ketidakstabilan mental Sulli” ?
E: Iya kalimat itu menggambarkan bahwa Sulli mudah depresi.
K: Anda kan bilang, dalam berita satu ini pribadi Sulli itu introvert dan depresi. Menurut Anda apakah semua orang, secara umum yang ingin bunuh diri memiliki pribadi tersebut?
Jadi sekarang kita lihatnya secara umum orang yang ingin bunuh diri, pribadinya kayak gitu juga gak sih, introvert dan depresi?
E: Rata-rata seperti itu ya. Iya kayak yang contoh-contoh sudah gua sebutin tadi itu.., kayak Chester Bennington, Michael Jackson, emang mmm.., karna depresi dan juga apa tadi.., kok gua lupa sih.. Introvert. Nah karna depresi dan introvert.
Tapi mungkin ada alasan yang lain juga, mungkin percintaan mungkin. Ini untuk orang yang biasa, ya bukan selebriti, biasanya karna percintaan, pekerjaan juga yang stress, ditolak dimana-mana.., lalu, di bully juga bisa, kayak teman saya waktu SMA. Ada juga seperti itu.
K: Oke, berarti dari kasus-kasus yang Anda lihat, tadi kayak musisi, atau yang bukan musisi, Anda itu melihat bahwa rata-rata orang yang pengen bunuh diri itu pribadinya introvert dan depresi. Anda menyetujui itu?
E: Rata-rata seperti itu.
K: Lalu pertanyaan selanjutnya, Tadi kan ada jawab bahwa Suli itu bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan industrinya, lalu menurut Anda apakah alasan bunuh diri Sulli tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri dan jelaskan mengapa?
E: Mmm., layak sih. Karna ya pasti stress juga dipaksa-paksa tampil di depan publik-publik gitu atau ya pasti stres juga kan. Dia tuh nggak bisa bikin dia itu nggak terkenal lagi gitu loh.
Dia pingin hidup free gitu mungkin, hilang dari tekanan-tekanan, dia pingin hidup normal bukan selebritis. Tapi dia tidak bisa kan, dia sudah terlanjur jadi penyanyi atau selebritis. Jadi tidak bisa hidup normal. Dia kalau pergi ke tempat publik tuh orang-orang tahu, karna
terkenal gitu. Dia gabisa kayak kita gitu, gabisa kayak gua gitu, jalan biasa gitu gabisa kan.
Nah menurut gua mungkin dia pengen keluar dari situasi gitu, cuma gabisa. Mungkin dia gabisa, kecuali dia pindah ke mana gitu, cuma gamungkin juga kan, ya gitu dah.
K: Berarti menurut Anda.., eh maaf sebentar, tadi kan Anda bilang, Sulli itu bunuh diri karena tidak kuat dengan tekanan industrinya, dari SM Entertainment. Itu dari berita, itu dari kalimat yang mana, Anda menyimpulkan seperti itu? Bahwa Sulli bunuh diri karna tekanan SM Entertainment.
E: Mmm…
K: Atau itu hanya kemungkinan saja? Anda hanya.. Mengira-ngira?
E: Kemungkinan saja sih. Tapi bisa sih...
K: Kalau hanya melihat dari berita ini saja, Anda melihat Sulli bunuh dirinya karna apa? Dari ya Anda baca.
E: Yang SM Entertainment itu kan?
K: Mmm.., tadi kan Anda jawab bahwa Sulli itu bunuh diri karna tekanan SM Entertainment, lalu..
E: Itu kan yang “Namun klaim bunuh diri Sulli dibantah agensinya, SM Entertainment. Kala itu sang artis dikatakan kecerobohan di rumah.” Ya terus itu kan dibantah agensinya, terus
“tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai kematian sang artis”. Mungkin ya disitu sih. Cuma emang ga terlalu kuat untuk menuduh bahwa SM Entertainment menjadi penyebab dia bunuh diri, cuman kalau tergambar dari paragrafnya sih disitu.
K: Oke balik lagi.., berarti tadi menurut Anda alasan bunuh diri Sulli itu layak karena Sulli itu mengalami stres dan dia sebagai musisi ingin hidup normal.
Lalu pertanyaan selanjutnya, seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang Anda rasakan dan mengapa Anda merasa seperti itu?
E: Seandainya saya menjadi Sulli.., mmm.., Ya depresi aja sih. Deplesi tapi… susah juga sih, karna gua bukan Sulli.
K: Iya maksudnya, apabila Anda mengalami hal yang sama seperti Sulli, apa yang Anda rasakan? Atau apa Anda yang dilakukan?
E: Yang dilakukan sih.., pasti mencari kesibukan lain. Mengalihkan fokus saya ke hobby saya yang lain kalau misalnya gua mungkin bisa main game atau main musik. Kalo yang dirasakan ya kesel aja paling, depresi. Ya kesel aja. Cuma gua harus belajar untuk menerima itu semua gitu, karna ya.., udah dari awal banget lu milih untuk menjadi selebriti, jadi masa lu mau berhenti gitu aja sih.
K: Oke.., jadi yang akan Anda rasakan, Anda akan merasa depresi dan kesal, tapi Anda ingin mencari kesibukan lain untuk mengalihkan depresi itu..
E: Terus ya bersyukur aja sebagai artis, kayak selebritis gitu, dapet banyak uang lah pasti dan lain-lain.
K: Ada lagi?
E: Sepertinya sudah.
K: Tadikan Anda jawab Anda merasa kesal, tapi Anda akan mencari kesibukan lain dan mengalihkannya ke hobi lain, belajar untuk menerima karna sudah terlanjur masuk ke dunia itu, jadi bersyukur aja karna sudah jadi artis. Jadi menurut Anda, bisa saja tidak melakukan bunuh diri?
E: Oh iya bisa aja, kalau lebih bersyukur, bisa menerima apa yang terjadi, mungkin bisa aja dia tidak bunuh diri. Terus take a break aja.
K: Di berita ini, Anda bilang bahwa Sulli itu bunuh diri karna tidak kuat dengan tekanan SM Entertainment. Menurut Anda, kalau Anda jadi Sulli, Anda bisa mengendalikan masalah itu gak?
E: Kalau gua jadi Sulli, harusnya bisa handle sih, ya gausah di entertainment itu lagi aja, atau take a break dulu, terus cari entertainment lain.
K: Oke. Tadi kan Anda bilang bahwa pribadi Sulli yang tergambar dari berita ini adalah dia itu introvert dan depresi. Lalu sekarang pertanyaan saya, perasaan apa yang timbul dalam hati Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli? Jadi misalnya Anda bertemu dengan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli, perasaan apa yang muncul dalam hati Anda.
E: Gua pasti akan nolong dia sih..
K: Kalo menolong kan lebih ke aksi, kalau perasaan yang muncul apa?
E: Oh kalo perasaan yang muncul, takut sih sebenernya. Takut dia ngapa-ngapain ke gua gitu loh. Kalo misalnya gua lagi ngobrol nih sama dia nih, gua takut dia tuh kayak ada niat buruk sama gua gitu loh. Takutnya dia mukul atau apalah, karna kekesalan dia kan. Gua takut aja sih.
K: Ada lagi?
E: Udah sih kalo perasaan sih paling.. Lebih ke berjaga-jaga mungkin.
K: Tadi kan Anda bilang pribadi Sulli itu depresi dan introvert, apakah pandangan Anda tentang Sulli itu mempengaruhi perasaan Anda tadi? Maksudnya mempengaruhi sehingga Anda jadi merasa takut. Mempengaruhi ga?
E: Apa-apa gimana?
K: Tadi kan Anda bilang pribadi Sulli itu depresi dan introvert, apakah pandangan Anda tentang Sulli itu mempengaruhi perasaan Anda tadi, perasaan takut tadi? Atau tidak mempengaruhi?
E: Mempengaruhi lah.
K: Mengapa?
E: Dia kan introvert… bentar-bentar gimana..
K: Jadi kan Anda melihat bahwa Sulli itu orangnya depresi dan introvert, jadi Anda merasa takut. Nah apakah ada pengaruh kayak gitu atau enggak? Atau “enggak, saya merasa takut bukan karena pandangan itu” ada pengaruh itu gak?
E: Ohh..,ya mungkin karna dia introvert dia memiliki rencana terselubung yang tidak dikasih tahu ke orang-orang mungkin. Ya who knows.
K: Berarti mempengaruhi ya..
E: Iya
K: Lalu.., tadi Anda bilang bahwa Anda jadi merasa takut terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli, apa hal dalam berita yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut? Jadi misalnya Anda membaca kalimat ini, terus Anda jadi “Oh gua merasa takut deh sama orang kayak gini..”. Apa hal dalam berita?
E: Yang membuat gua takut sih, “dia melukai pergelangan tangannya sendiri” kan itu kan udah aneh kan… udah takut gua.
K: Kenapa dari kalimat “Sulli melukai pergelangan tangan sendiri” membuat Anda jadi merasa takut?
E: Takutnya dia melakukan hal yang sama ke gua, takutnya. Gua berperasaan “wah aneh ya ni orang”, takutnya dia bisa melakukan hal yang sama ke gua.
K: Ada hal lain ga yang membuat Anda merasa takut terhadap orang seperti Sulli?
E: Gak sih, cuma takut gua diapa-apain aja sih. Kayak gitu doang.
K: Mmm, berarti Anda merasa takut terhadap orang yang kayak Sulli dari kalimat “Ia melukai pergelangan tangan sampai menjalani perawatan di UGD Rumah Sakit.”
E: Masalahnya berhubungan dengan nyawa sih.., cuma itu yang gua takut sih. Kalo soal yang lain-lainnya kayaknya gak sih.
K: Tadi kan Anda bilang Anda merasa takut terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli, apakah ada hal lain ga di luar berita yang mempengaruhi perasaan Anda tersebut? Perasaan takut tadi?
E: Gaada sih. Cuma takut kalau berhubungan dengan nyawa, udah gitu aja. Gua malah pingin ngebantu, menyelesaikan masalah itu bersama-sama, gua lebih ke gitu sih.
K: Sebenarnya itu akan menjadi jawaban di pertanyaan saya selanjutnya sih, jadi sekarang pertanyaan saya selanjutnya, setelah Anda membaca berita satu ini, bagaimana Anda akan bersikap terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
E: Ya yang tadi sih, membantu, menyelesaikan masalah-masalah yang ada gitu. Terus mungkin keep privacy dia kali ya, jangan sampai orang-orang tahu apa masalah dia apa. Ya terus abis gitu, mungkin mengalihkan dia ke hal yang lain, ke hobinya dia gitu. Jadi misalnya main game bareng, atau main musik bareng. Mengalihkan fokusnya dia gitu.
K: Ada lagi?
E: Udah sih.
K: Apakah... tadi kan Anda bilang pribadi Sulli itu introvert dan depresi, lalu Anda merasa takut dengan orang yang kayak gini. Apakah pandangan pribadi tadi dan perasaan takut itu mempengaruhi sikap Anda terhadap orang yang kayak Sulli?
E: Ohh iya.., gua akan jaga jarak dengan orang yang serupa kayak gitu.
K: Tapi Anda ingin membantu?
E: Iya, gua pengen membantu tapi, di satu sisi takut juga sih, cuma sebisa mungkin membantu dia sih.
K: Jadi sebenarnya, Anda itu merasa takut tapi Anda tetap ingin membantu dia untuk menyelesaikan masalah?
E: Iya..
K: Pertanyaan selanjutnya, tadi kan Anda bilang Anda ingin membantu, ingin menyelesaikan masalahnya dia. Lalu keep privacy masalahnya dia dan mengalihkan dia ke hal lain. Apa hal dalam berita yang Anda ingin bersikap seperti itu? Yang membuat Anda memutuskan, “Gua ingin membantu, menyelesaikan masalahnya, keep privacy”.
E: Iya karena depresi sih…
K: Berarti karena kalimat bahwa Sulli itu depresi?
E: Iya.., dari kalimat “Seorang pejabat kepolisian mengatakan jika keputusan ekstrem dilakukan Sulli diduga karena depresi.” Ya pastinya gua mau membantu orang-orang depresilah. Pastinya. Udah sih dari kalimat itu saja.
K: Oke berarti, setelah Anda membaca kalimat berita yang mengatakan bahwa “keputusan ekstrem dilakukan Sulli diduga karena depresi.”, Anda jadi ingin membantu orang yang kaya gitu yah?
E: Iya
K: Lalu pertanyaan selanjutnya ini sampai terakhir, dijawabnya secara umum, jadi jawabnya in general, tidak hanya pada Sulli saja berdasarkan gambaran pribadi, perasaan dan sikap Anda yang tadi sudah katakan.
Pertanyaannya adalah, menurut Anda, bagaimana seharusnya tindakan pihak rumah sakit atau kesehatan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli? Dan jelaskan mengapa?
E: Waduh karna saya bukan dokter.., jadi menurut saya aja ya.., menurut saya harus di keep privacy, tidak ada paparazi.
K: Kalau untuk in general? Kan paparazi itu lebih untuk selebriti ya.. Kalau secara umum, orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri harus di treat seperti apa?
E: Mmm.., mungkin.., apa ya.., kan itu lebih tugas dokter ya..
K: Oh maksud saya, bukan yang mendetail tugas dokternya harus apa.., lebih ke perlakuan, gimana orang kayak Sulli ini harus diperlakukan?
E: Mungkin.. Kayak yang tadi gua omongin kali ya. Jangan sampai ada orang yang tahu, terus mengalihkan fokusnya ke hobi yang dia seneng. Ya udah sih paling.
K: Mengapa menurut Anda pihak rumah sakit atau kesehatan harus memperlakukan kayak gitu?
E: Mmm., ya supaya perasaan dia senang kembali, mood dia balik lagi. Dan itu bisa menjadi awal yang bagus untuk penyembuhan mental dia.
K: Pertanyaan terakhir, bagaimana seharusnya lingkungan kerja memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
E: Lingkungan kerja.. Mmm.., jangan dibully, lalu, jangan apa ya.., jangan maksa-maksa dia untuk melakukan hal yang tidak dia suka. Misalnya dia gamau diajak hangout, nah itu jangan dipaksa. Kalau dia lagi pengen sendiri, ya jangan diajak ngobrol. Ya harus respect aja.
K: Mengapa menurut Anda orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri itu harus di treat kayak gitu di lingkungan pekerjaan? Seperti jangan di bully, jangan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang dia tidak suka.., mengapa menurut anda harus seperti itu?
E: Ya kalo dipaksa dia pasti marah lah, mood dia pasti bakal jadi jelek, bakal jadi kesel, makin lebih pengen bunuh diri lagi gitu. Jangan jadi pusat perhatian di lingkungan lu “wah ini nih yang mau bunuh diri”, jangan kayak gitu.
K: Karena..?
E: Karna bakal bikin dia makin depresi lagi lah, makin dekat dengan ajalnya.
K: Oke sesi satu sudah selesai, mungkin kita break dulu ya 5-10 menitan. Nanti di sesi dua saya akan memberikan berita dua, lalu saya akan menanyakan pertanyaan yang sama.
E: Oke
K: Ini saya matikan dulu ya recordnya.
(Sesi Kedua)
K: Jadi sekarang akan mulai di sesi dua. Mungkin saya akan ngulangin dulu tujuan dari penelitian saya ini. Saya ingin membandingkan pengaruh dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda sebagai pembaca tentang orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Tadi kan di sesi satu, Anda sudah membaca berita satu. Sekarang Anda akan membaca berita dua. Kasus bunuh diri yang diambil masih sama yaitu kasus bunuh diri Sulli eks f(X) pada 14 Oktober 2019.
Boleh dicheck emailnya, saya sudah kirim berita kedua.
E: Oke oke
K: Mungkin ini beritanya agak lebih panjang, jadi dibaca aja pelan-pelan, kalau sudah selesai bilang aja.
E: Oke
*responden membaca berita dua*
E: Oke udah
K: Udah selesai baca berita kedua?
E: Udah
K: Oke berarti sekarang, saya akan memberikan beberapa pertanyaan, sebenarnya pertanyaan masih sama dengan yang di sesi satu tadi, yaitu pertanyaan tentang pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Anda diharapkan menjawabnya secara jujur sesuai dengan berita yang anda baca yaitu berita pertama ini.
Pertama-tama, bagaimana sosok pribadi Sulli yang digambarkan dalam berita. Jadi bukan menurut Anda tapi yang tergambar dari dalam berita. Orangnya gimana, karakternya kayak gimana.
E: Mmm .. mungkin dia..,gampang depresian karna dia gak kuat mendapat komentar pedas dari publik.
K: Berarti pribadinya mudah depresi ya.., lalu?
E: Mmm, kalau introvert mungkin engga ya, karna kan ternyata dia banyak teman tapi ditinggalkan. Jadi mungkin apa ya.., mmm.., gak bisa jaga teman mungkin? Tidak bisa berteman dengan baik mungkin, selalu gagal berteman.
K: Oke berarti menurut Anda, berita ini menggambarkan pribadi Sulli itu mudah depresian dan tidak bisa berteman dengan baik.
E: Ya
K: Menurut Anda setelah Anda membaca berita dua, apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
E: Menurut gua karna, karna depresi itu pastinya, lalu Ia berpura-pura menjadi sosok yang ceria padahal dia depresi. Jadi mungkin dia dipaksa untuk berpura-pura menjadi sosok yang ceria dan dia gak suka itu. Dia sebenarnya depresi, cuman dipaksa untuk menjadi sosok yang senang di depan publik lah.. Kayak gitu.
K: Berarti menurut Anda, penyebab Sulli bunuh diri karna dia mengalami depresi dan dia dipaksa menjadi sosok yang ceria, itu menurut Anda yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
E: Iya.., karna pasti stres lah, dia gak bisa melakukan apa yang dia pengen, lalu dipaksa-paksa untuk menjadi sosok yang selalu senang padahal dia sedang depresi. Sakit gitu rasanya, gimana gitu menurut gua..
K: Berdasarkan jawaban Anda, tadi kan Anda bilang bahwa Sulli itu bunuh diri karna depresi dan dipaksa menjadi sosok yang ceria, harus berpura-pura. Berdasarkan hal tersebut,
bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli? Jadi ini menurut Anda, setelah Anda membaca berita dua ini, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli?
E: Menurut gua, dia tidak cocok di dunia entertainment.
K: Berarti pribadinya kayak gimana ya kalau tidak cocok di dunia entertainment?
E: Oh iya.., dia lebih.. Bisa dibilang mungkin dia introvert sih karna dia tidak bisa berada di depan publik, dan tidak bisa menerima ocehan-ocehan netizen. Terus pastinya mudah depresi, dikit-dikit depresi.
K: Berarti pribadinya mudah depresian ya?
E: Iya sih
K: Ada lagi?
E: Mungkin pribadi yang positifnya, dia tidak berpuas kali ya. Dia tidak hanya menekuni satu bidang, tapi dia dari film ke grup musik. Dia tidak puas di satu bidang.
K: Ada lagi?
E: Udah sih..
K: Tadi jawaban Anda, Anda menggambarkan pribadi Sulli itu, pribadi yang tidak cocok di dunia entertainment karena dia itu introvert, dia gak bisa di depan publik, tidak bisa
menerima ocehan publik, lalu mudah depresian dan tidak berpuas di satu bidang. Lalu apa hal dalam berita yang membuat Anda menggambarkan pribadi Sulli seperti itu?
E: Kalau mudah depresian sih pastinya karna dia tidak bisa menerima komentar dari publik, terus langsung depresi. Itu menurut gua udah depresi sih, karna selebriti yang lain bisa saja menerima ocehan netizen menurut gua.
Kalau yang tidak berpuas di satu bidang, dia kan mengawali kariernya di akting dalam drama Tv SBS, The Balada Seodong. Setelah itu dia gak puas di film doang, lalu dia beralih ke musik lalu ke grup musik lalu mengeluarkan single, lalu booming, gitu sih.
K: Oke, kalau yang menurut Anda dia tidak cocok di di dunia entertainment karna dia introvert dari penjelasan yang mana?
E: Ya itu dia gak kuat sama komentar dari publik, terus takut mengenakan pakaian yang dianggap tak pantas, jadi kayak takut di judge mungkin sama orang-orang.
K: Mengapa dari kalimat-kalimat itu membuat Anda berpikiran bahwa “Sulli itu tidak cocok di dunia entertainment, introvert, dan mudah depresian”
E: Mmm., karna kan biasanya yang introvert kan sukanya di rumah aja, kalo misalnya diejek dikit gitu trs dia jadi kayak pundung gitu kan, mungkin sama kayak Sulli.
K: Lalu pertanyaan selanjutnya, tadikan Anda bilang pribadi Sulli itu mudah depresian, introvert, dia juga tidak berpuas di satu bidang, dan tidak cocok di dunia entertainment, kalau sekarang, secara umumnya, apakah orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri memiliki pribadi seperti itu? Cuma mungkin yang bisa kita ambil, karna kita lihat secara umum, kita ambilnya yang introvert dan mudah depresian. Karna kan yang tidak cocok di dunia entertainment dan tidak berpuas di satu bidang kan, itu kan lebih ke Sulli sebagai selebriti.
Nah kalo introvert dan mudah depresian, apakah menurut Anda orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri memiliki pribadi seperti itu juga?
E: Rata-rata iya sih, karna suka mendekam diri di rumah sendiri. Menyimpan dendamnya tuh, disimpan di dalam hati aja gitu, ga dikeluarin gitu. Akibat terburuknya sih ya ini bunuh diri, tidak tahu harus bagaimana menghadapinya gimana, terus dia udah ga kuat yaudah dia melakukannya itu sendiri.
K: Berarti menurut Anda orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri memiliki pribadi kayak gitu ya? Introvert dan mudah depresian.
E: Iya
K: Tadi kan Anda bilang bahwa penyebab Sulli bunuh diri karna dia mengalami depresi dan dia dipaksa untuk menjadi sosok yang pura-pura ceria. Menurut Anda apakah alasan bunuh diri Sulli tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri?
E: Mmm, menurut gua layak karna depresi, udah depresi terus dipaksa untuk melakukan hal yang dia tidak suka. Terus ya, kalau misalnya terus-terus kayak gitu, ya , dia gak tahan juga kan pasti kan. Dia pengen keluar dari semua itu, tapi tidak bisa karna udah terlanjur jadi artis.
Nah satu-satunya cara untuk keluar dari itu semua adalah bunuh diri sih, menurut gua.
K: Kalau boleh tanya lagi, menurut Anda apa sih yang menyebabkan Sulli depresi dari berita ini?
E: Dia ditinggalkan teman-temannya, tidak kuat dengan komentar netizen, dan dipaksa menjadi sosok yang selalu senang.
K: Berarti menurut Anda kan Sulli depresi karna ditinggalkan teman-temannya, tidak kuat dengan komentar netizen, dan dipaksa menjadi sosok yang selalu senang, nah menurut Anda alasan tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri?
E: Iya layak
K: Oke, seandainya Anda menjadi Sulli apa yang Anda rasakan dan mengapa Anda merasa seperti itu. Kalau Anda di posisi Sulli, apa yang Anda rasakan atau lakukan?
E: Kalau rasakan sih.., gua bakal nyesel masuk dunia entertainment, gua bakal nyesel aja gitu, karna itu bukan gua banget. Terus kalo yang akan gua lakukan, ya mungkin bersyukur aja sama apa yang udah ada, terus sebisa mungkin menjauhkan pikiran negatif dengan cara melakukan hal yang lu suka. Kalau dia suka main game misalnya ya main game. Ya mencoba untuk mengalihkan masalah itu, terus lebih bersyukur aja. Ya udah sih.
K: Berarti kalau dari jawaban Anda, kalau Anda menjadi Sulli, Anda akan merasa menyesal masuk dunia entertainment tapi Anda tetap bersyukur terhadap yang sudah ada, menjauhkan pikiran negatif dan mengalihkan ke hal-hal lain. Apakah menurut Anda, jadi sebenarnya Sulli bisa gak sih untuk tidak bunuh diri?
E: Mmm., sebenarnya bisalah pasti. Dia bisa aja, mungkin.., take a break dulu. Istirahat dulu sejenak dari dunia entertainment, terus ya mengalihkan ke hobi dia. Tapi ya dia tidak
melakukannya.
K: Dari berita ini, Anda bilang bahwa Sulli itu melakukan bunuh diri karna dia depresi, lalu depresinya karna dia ditinggalkan teman-temannya, komentar publik, dipaksa untuk menjadi sosok yang ceria, menurut Anda, kalau Anda ada di posisi Sulli, Anda bisa mengendalikan alasan bunuh diri itu gak?
E: Kalau jadi dia.., bisa sih. Harus bisa. Kayak bodo amat aja sama orang-orang, mau ngomong A, mau ngomong B, bodo amat gitu gua kalo soal yang netizen. Kalau soal yang kesepian, ya kalo kesepian ke keluarga lu, ke orang tua lu, ke sodara lu, ya tinggal dateng ke mereka aja. Terus kalo pura-pura jadi sosok yang ceria, ya lu harus keluar dari
entertainmentnya, bilang aja lu gamau melakukan ini daripada dipaksa melakukan hal yang tidak sesuai dengan dia.
K: Oke jadi menurut Anda, dari alasan bunuh diri yang tertulis dalam berita, sebenarnya Sulli bisa saja tidak bunuh diri, dan menurut Anda kalau Anda di posisi Sulli, Anda bisa meng- handle alasan bunuh diri tadi.
E: Iya bisa.
K: Oke pertanyaan selanjutnya, tadi kan Anda bilang pribadi Sulli itu introvert, tidak cocok di dunia entertainment lalu mudah depresian dan positifnya dia tidak berpuas di satu bidang.
Lalu berdasarkan gambaran pribadi tadi, perasaan apa yang timbul dalam hati Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
E: Gua pasti bakal takut aja sih, takut dia ngapa-ngapin ke gua aja sih.
K: Ada hal lain?
E: Jaga jarak aja kali
K: Oh kalo itu berarti lebih ke actionnnya ya., karna Anda takut, Anda jadi jaga jarak.
E: Oh iya itu actionnya, kalo perasaannya sih ya takut aja sih.
K: Pandangan pribadi tadi yang tentang Sulli itu, mempengaruhi atau tidak ke perasaan Anda? Tadi kan Anda berpandangan bahwa Sulli itu introvert, mudah depresian, nah itu mempengaruhi gak ke perasaan Anda tadi?
E: Ya pasti, mempengaruhi, karna introvert kan gaada yang tahu apa isi hati dia. Dia menyimpan dendamnya di dalam hati aja, tidak dikeluarkan, jadi gaada yang tahu.
K: Tadikan Anda bilang Anda merasa takut terhadap orang memiliki kecenderungan bunuh diri, apa hal dalam berita yang membuat Anda memiliki perasaan seperti itu? Setelah Anda membaca kalimat ini misalnya, lalu Anda jadi merasa takut, itu dari kalimat mana?
E: Mengakhiri dengan cara gantung diri sih, di paragraf satu, di kalimat awal-awal.
K: Ada lagi?
E: Udah sih
K: Berarti Anda merasa takut terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli karna Anda melihat bahwa Ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri?
E: Iya, dengan cara yang seram.
K: Kenapa dari kalimat itu, Anda jadi merasa takut?
E: Karna berhubungan dengan nyawa aja sih, takut diapa-apain nyawa gua, takut dia melampiaskan kekesalannya itu ke gua.
K: Apakah ada hal lain yang mempengaruhi perasaan Anda tersebut di luar berita?
E: Tidak ada sih, ya paling introvert, ya melakukan tindaka-tindakan yang aneh. Kalau dia melakukan tindakan yang aneh, perasaan gua jadi aneh.
K: Aneh yang kayak gimana?
E: Yang aneh kayak… kayak diem-diem aja, kayak menyayat pergelangan tangan sendiri, ya melakukan hal-hal yang aneh kayak gitu aja, yang menjurus ke arah bunuh diri. Kalo
menyayat tangan kan artinya dia pengen darahnya cepat abis, pengen cepat mati, yang menjurus ke situ.
K: Ada lagi?
E: Udah sih paling.
K: Tadi kan Anda berpendapat bahwa pribadi Sulli yang tergambar dalam berita adalah dia introvert, mudah depresian, tapi positifnya dia tidak berpuas di satu bidang. Lalu Anda akan merasa takut dengan orang seperti ini. Lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimana Anda akan bersikap terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
E: Actionnya pasti bakal ngebantu, sebisa mungkin menjaga privacy dia, biar orang-orang tidak tahu tentang masalah dia, mmm apalagi ya.., ya ngajak untuk melakukan hobi dia misalnya main game aja atau main musik aja, biar masalah-masalah itu terdistrack, ya..
melakukan apa yang dia senang aja.
K: Ada lagi?
E: Udah sih paling. Tapi harus tetap jaga jarak juga sih, harus berhati-hati tetep. Sedia payung sebelum hujan.
K: Berarti menurut Anda pribadi tadi yang bilang introvert, mudah depresian, lalu, perasaan Anda, Anda merasa takut, itu mempengaruhi sikap Anda?
E: Iya mempengaruhi.
K: Jadi walaupun Anda merasa takut, Anda tetap ingin bantu, tapi tetap jaga jarak?
E: Iya tetap jaga jarak.
K: Tadi kan Anda bilang akan bersikap akan membantu, menjaga privacy dia, ngajak dia untuk melakukan hal lain ke hobi yang dia sukai, apa hal dalam berita yang membuat Anda ingin bersikap seperti itu?
E: Mungkin di kalimat “Aku bisa merasakan pandangan orang-orang kepadaku. Dan itu membuatku takut,”. Nah mungkin dari situ. Sama “Hal seperti itu bisa membuatku merasa kesepian di dunia ini, dan aku merasa ditinggalkan. Bahkan orang-orang di sekitarku meninggalkanku, yang membuatku semakin depresi.”.
K: Mengapa dari dua kalimat itu, membuat Anda ingin bersikap seperti yang Anda tadi sudah jelaskan?
E: Yang membantu itu kan?
K: Iya..
E: Kalau dari kalimat yang pertama itu, ya gua pengen dia jauh dari publik aja gitu.
Dilindungi privacy nya gitu, privacy nya dilindungi, dijauhkan dari ocehan-ocehan netizen, djauhkan dari publik, intinya kayak gitu.
Nah kalo yang kedua, ya dia butuh teman kan pastinya. Dia butuh teman yang selalu support dia. Nah disitulah gua datang untuk mengajak melakukan apa yang dia suka atau hobi dia.
Itu cara gua ngebantu dia.
K: Oke berarti dari kalimat “Aku bisa merasakan pandangan orang-orang kepadaku. Dan itu membuatku takut,”, membuat Anda ingin menjauhkan dia dari publik. Lalu kalo dari kalimat yang “Hal seperti itu bisa membuatku merasa kesepian di dunia ini, dan aku merasa
ditinggalkan. Bahkan orang-orang di sekitarku meninggalkanku, yang membuatku semakin depresi.”, itu membuat Anda ingin bersikap ingin membantu, mengajak dia melakukan hal lain.
E: Iya
K: Lalu pertanyaan selanjutnya ini sampai terakhir, dijawabnya secara umum, jadi jawabnya in general, tidak hanya pada Sulli saja berdasarkan gambaran pribadi, perasaan dan sikap Anda yang tadi sudah katakan.
Pertanyaannya adalah, menurut Anda, bagaimana seharusnya tindakan pihak rumah sakit atau kesehatan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli? Dan jelaskan mengapa?
E: Mmm., ya jaga privacy dia aja, ya mungkin hampir sih kayak tadi, mungkin mengizinkan dia untuk melakukan yang dia inginkan. Ya udah sih itu aja. Itu akan menjadi awal yang baik untuk menyembuhkan dia dari depresi.
K: Lalu pertanyaan terakhir, menurut Anda bagaimana seharusnya lingkungan pekerjaan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
E: Mmm.., dia jangan jadi pusat perhatian “Nih si ini lagi depresi nih, lagi banyak masalah nih”, kalau kayak gitu menurut gua bikin dia jadi makin depresi, dan makin cepat bunuh dirinya, makin cepat melakukan tindakan bunuh diri. Terus ya lu harus respect aja sama orang-orang kayak gitu, jangan diganggu kalo lagi ada masalah. Biarkan dia sendiri kalau lagi ada masalah. Mungkin kalau dia pingin curhat, ya diladenin lah.
K: Mengapa menurut Anda orang yang seperti Sulli harus diperlakukan seperti itu di
lingkungan pekerjaan dia? Harus respect, jangan diganggu, biarkan dia sendiri kalau lagi ada masalah, lalu dia mau jadi tempat curhat harus diladenin, kenapa menurut Anda harus kayak gitu?
E: Ya karna dia butuh sendiri,, mungkin karna dia introvert kan, karna kecenderungannya dia introvert, jadi dia butuh waktu untuk menyendiri, ga ngobrol, pengen sendiri aja, gak pingin diganggu.
K: Kalau mau curhat harus diladenin, kenapa harus diperlakukan seperti itu?
E: Kalau curhat kan biar mengeluarkan isi hati, unek-unek yang ada dalam dia. Ketika kita mengeluarkan unek-unek itu, lu akan ngerasa plong atau lega gitu. Jadi dia merasa lebih tenang menghadapi cobaan yang ada.
K: Oke sudah selesai sesi kedua wawancaranya. Saya izin kalau ada pertanyaan tambahan, nanti saya boleh kontak lagi ya.
E: Boleh.
K: Oke saya matikan ya recordnya.
WAWANCARA TAMBAHAN Tanggal: 13 November 2020 Medium: Zoom
K: Kezia // E: Ezra
K: Selamat pagi, saya ingin menanyakan beberapa hal terkait wawancara kemarin, beberapa pertanyaan yang saya belum dapat jawabannya dari wawancara yang kemarin. Mungkin saya mengulang terlebih dahulu, tujuan dari penelitian saya adalah saya ingin membandingkan dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda sebagai pembaca tentang orang yang
memiliki kecenderungan bunuh diri.
Jadi boleh dibuka emailnya yang berita satu. Mau dibaca dulu aja?
E: Boleh deh
*Responden membaca berita satu*
E: Sudah
K: Kalau sudah, saya ingin bertanya menurut pemahaman Anda, setelah membaca berita satu ini, apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri? Berdasarkan berita ini?
E: Mmm, berdasarkan berita ini karena depresi. Terus karena bunuh diri…
K: Iya, yang menyebabkan dia bunuh diri?
E: Iya depresi aja
K: Yang membuat Anda menyimpulkan Sulli bunuh diir karena depresi dari paragraf yang mana?
E: Dari paragraf dua, “Seorang pejabat kepolisian mengatakan jika keputusan ekstrem dilakukan Sulli diduga karena depresi.” karena itu sih.
K: Ada lagi atau udah?
E: Udah sih
K: Berarti dari paragraf dua, Anda menyimpulkan Sulli bunuh diri karena depresi.
E: Iya
K: Lalu pertanyaan selanjutnya, tadi kan Anda jawab Sulli itu bunuh diri karena depresi, menurut Anda, apakah alasan bunuh diri tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri dan jelaskan mengapa?
E: Layak sih, karna … mmm apa ya.., ya karna sudah stress aja, sudah gak kuat menjalani kehidupan-kehidupan selanjutnya. Jadi dia memilih untuk bunuh diri. Menurut gua sih gitu.
K: Berarti menurut Anda, alasan depresi itu layak untuk menjadi alasan bunuh diri karena ya dia udah mengalami stress dan sudah tidak kuat menjalani kehidupan, jadi dia memutuskan untuk bunuh diri.
Lalu, ini kan Sulli bunuh diri karena depresi, seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang akan Anda rasakan atau lakukan, dan jelaskan mengapa Anda merasa dan melakukan hal tersebut?
E: Kalau saya jadi Sulli, …
K: Iya yang Anda rasakan, misalnya Anda mengalami hal yang membuat Anda depresi, lalu apa yang akan Anda rasakan dan lakukan, dan jelaskan mengapa?
E: Kalau saya mengalami hal yang sama, mungkin saya akan keluar dari masalah itu, dari depresi itu, dari sumber depresi itu. Gua bakal, keluar gitulah pokonya. Kalau di sini, mungkin ya yang bikin dia depresi itu SM Entertainment-nya. Nah gua akan keluar dari SM Entertainment-nya. Gua sebisa mungkin akan menjauh dari sumber depresi tersebut.
K: Kalau yang Anda rasakan?
E: Ya sama sih, yang dirasakan pasti sama..
K: Sama maksudnya depresi juga?
E: Iya depresi juga
K: Lalu, tadi kan alasan bunuh diri dari berita ini karena depresi, seandainya Anda menjadi Sulli, apakah alasan bunuh diri tersebut dapat Anda kendalikan? Menurut Anda?
E: Mmm, harusnya bisa yah, ya kayak tadi gitu sih. Harus keluar dari sumber depresinya.
Kalau lu udah keluar dari situ, bisa dikendalikan, dan ga bakal terjadi bunuh diri.
K: Lalu.., sebentar. Sepertinya dari berita satu, sudah sih itu saja pertanyaan yang belum terjawab. Lalu boleh dibuka email yang berita dua. Boleh dibaca dulu aja.
E: Oke
*Responden membaca berita dua *
E: Sudah
K: Oke sebentar. Jadi pada wawancara sebelumnya saya menanyakan, berdasarkan berita ini, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli. Lalu, jawaban Anda itu adalah Sulli itu orang yang tidak cocok di dunia entertainment, karena dia introvert, tidak bisa di depan publik, tidak bisa menerima ocehan netizen dan mudah depresian. Tapi positifnya, dia tidak puas hanya di satu bidang saja. Dia mau belajar bidang lain.
Lalu yang mau saya tanyakan adalah, dari paragraf mana yang membuat Anda menilai bahwa Sulli itu introvert?
E: Mmm, di paragraf yang “Dibalik ketenaran Sulli ia mengaku alami ketakutan hingga depresi, hal itu berkaitan dengan komentar pedas dari publik dengan status selebriti. Bahkan ia pernah merasa takut untuk mengenakan pakaian yang dianggap tak pantas.”
K: Ada lagi?
E: Mmm, sudah sih.
K: Berarti dari paragraf delapan ya, yang “Dibalik ketenaran Sulli..”. Mengapa dari paragraf ini, Anda menilai bahwa Sulli itu orangnya introvert?
E: Ya dia, mmm.., dia gak nyaman aja gitu, dapet komentar pedas dari fans-fansnya atau dari orang-orang gitu ya. Terus dia takut juga mengenakan pakaian yang terbuka di depan orang- orang. Jadi ya menurut gua dia introvert.
K: Mmm, berarti dari kalimat ini Anda menilai Sulli itu introvert karena dia tidak nyaman dengan komentar publik, lalu dari yang kalimat…
E: Terus , dia ngomong juga, di paragraf setelahnya, “Aku bisa merasakan pandangan orang- orang kepadaku. Dan itu membuatku takut,”. Dari situ dia sudah takut dari publik. Jadi gua menyimpulkan bahwa dia introvert. Paragraf delapan dan bawahnya sih. Sembilan.
K: Kalau yang takut mengenakan pakaian yang tidak pantas juga?
E: Mmm, menurut gua iya. Masih dikategorikan introvert kalau menurut gua.
K: Ada lagi?
E: Sudah
K: Mmm sebentar. Sudah sih, dari berita dua juga sudah. Mohon maaf ada pertanyaan tambahan. Lalu kalau ada pertanyaan tambahan lagi boleh hubungi lagi ya.
E: Oke siap.
K: Terima kasih.
E: Sama-sama
Dokumentasi
TRANSKRIP WAWANCARA 2 Tanggal: 27 OKTOBER 2020 Medium: Zoom
K: Kezia // R: Roveri
(Sesi Pertama)
K: Sebelumnya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu ya. Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Kezia Priscilla Goerandhi, saya adalah mahasiswi jurnalistik dari UMN yang sedang melakukan penelitian untuk skripsi saya. Sebelumnya boleh memperkenalkan diri terlebih dahulu nama, umur, kesibukan sekarang apa?
R: Perkenalkan, nama saya Roveri Boris Hutahaean, sekarang lagi jadi mahasiswa di salah satu perguruan negeri tinggi negeri yang ada di Bandung. Umur 22 tahun. Kesibukan ya mahasiswa akhir aja, lagi mengerjakan tugas akhir juga.
K: Okee. Jadi pada penelitian ini saya hendak membandingkan pengaruh dua jenis berita bunuh diri terhadap pandangan Anda tentang orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Untuk itu, nanti wawancara ini terbagi menjadi dua sesi. Di sesi pertama, Anda akan
membaca berita yang pertama. Kasus bunuh diri yang saya ambil dalam penelitian ini adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Sulli eks f(X) pada 14 Oktober 2019. Sebelumnya Anda tahu gak tentang kasus ini nggak?
R: Tidak tahu sama sekali
K: Oke. Boleh dicheck emailnya, saya akan mengirimkan berita pertama. Di email yang ditulis di google form. Boleh dibaca dulu, kalau sudah selesai baca, kabari aja.
R: Oke sabar ya Mbak.
K: Iya gapapa
R: Ooh tahu deng kez, ini yang penyanyi di girlband kan?
K: Iya
R: Ohh iya tahu.
*responden membaca berita pertama*
R: Udah
K: Udah?
R: Udah
K: Emailnya tetap dibuka aja, soalnya nantikan saya akan tanya tentang berita itu, takutnya butuh untuk baca lagi.
R: Ya.
K: Nah sekarang saya akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Anda diharapkan menjawabnya dengan jujur sesuai dengan berita yang anda baca yaitu berita pertama ini. Terus kalau
misalnya emang gaada jawabannya, jawab aja gaada. Kalau gak ngerti, boleh ditanyakan saja.
R: He eh
K: Oke, jadi pertanyaan pertama, setelah Anda membaca berita satu tadi, menurut Anda bagaimana berita ini menggambarkan sosok pribadi Sulli? Jadi, bagaimana berita ini menggambarkan pribadi Sulli, karakter Sulli itu seperti apa sih
R: Hmm.. berita ini menggambarkan pribadi Sulli langsung dari apa yang Ia dapat dari narasumber berita itu sendiri kan, langsung dari polisi atau netizen-netizen yang tahu tetnang berita ini. Kalau dia (Sulli) itu depresi. Jelas tertulis bahwa tahun-tahun sebelum dia bunuh diri, yang diperkirakan katanya bunuh diri, dia (Sulli) itu sudah depresi. Di berita ini ga dijelasin sih kepribadian lain. Cuman yang orang yang dari 2015 merasakan depresi.
K: Oke, berarti setelah Anda membaca berita ini, Anda melihat berita ini menggambarkan bahwa Sulli adalah pribadi orang yang mengalami depresi.
R: Ya.
K: Oke, lalu, setelah Anda membaca berita satu ini apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
R: Yang menyebabkan bunuh diri, sebenarnya masih menjadi ini ya.., hal yang rancu ya.., soalnya sebenarnya dia nulisnya , Sulli bunuh diri jelas-jelas karna depresi. Karna polisi ngomongnya gitu, secara jelas polisi ngomongnya gitu. Tapi, dia di kalimat lain ada
sanggahan di berita ini, bahwa itu bukan bunuh diri, tapi tidak dijelaskan lebih lanjut. Berita ini nulis itu, karna dia dapet bahasan dari agencynya si Sulli. Jadi ya rada membingungkan juga sih sebenernya.
K: Mmm, berarti masih rancu tapi yang tertulis dalam berita ini dugaannya depresi.
R: Ya benar
K: Oke, tadi kan Anda bilang bahwa berita ini menulis Sulli itu bunuh diri karna depresi, walaupun kurang penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan penjelasan Anda, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli? Jadi kalau tadi kan yang pertama, berita ini menggambarkan pribadi Sulli. Nah kalau dari Anda sendiri, setelah membaca berita ini, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli?
R: Karna emang dari awal… karna emang kan jujur gatau orangnya gimana, ga ngikutin kepribadian Sulli aslinya, emang cuman membaca berita ini, ya ga mendapat lebih apa pun tentang kepribadiannya. Yang saya tahu, dia seseorang yang sudah depresi sejak tahun 2016, sehingga itu yang menyebabkan katanya dia bunuh diri gitu pada tahun 2019. Jadi cuman dapet tentang itu aja, ga ada kepribadian lain.
K: Okee, sudah depresi sejak lama ya
R: He eh
K: Tadikan Anda bilang kurang penjelasan, Anda hanya tahu, Sulli adalah orang yang telah mengalami depresi sejak lama. Apa sih hal dalam berita yang membuat Anda
menggambarkan pribadi Sulli seperti itu? Kalimat mana gitu misalnya?
R: Kalimat … kalimat inti dari berita ini sih udah ngejelasin kalo emang bunuh dirinya karna depresi. Dan gaada bantahan lain atau tambahan lain, alasan dia bunuh dirinya di luar depresi.
Jadi ya udah pasti ini. Berita ini langsung ngomong, ini Sulli bunuh diri karna depresi.
K: Berarti kalimatnya yang… paragraf kedua bukan? “Seorang pejabat kepolisian mengatakan…”?
R: Ya benar
K: Selain kalimat itu, ada lagi ga yang mana?
R: Kalimat akhir pastinya. Yang ada kata depresinya aja. Yang kalimat akhir, penutup berita.
("Aku merasa spekulasi netizen (usaha bunuh diri) itu bukan tanpa dasar. Ketidakstabilan mental Sulli sudah terdengar seperti dia (melewati banyak hal sulit) mudah depresi hingga ingin bunuh diri," ujar netizen kala itu.)
K: Jadi karena Anda membaca kalimat yang menyebutkan bahwa Sulli depresi, jadi Anda menyebutkan bahwa Sulli adalah pribadi orang yang sudah mengalami depresi sejak lama.
R: Ya
K: Mmm lalu, pribadi Sulli itu adalah orang yang mengalami depresi. Lalu menurut Anda sekarang secara lebih umum, bukan Sulli aja, apakah semua orang yang memiliki
kecenderungan bunuh diri memiliki kepribadian tersebut?
R: Kalau dari yang saya tahu, iya sih. Semua orang yang ingin bunuh diri awalnya karna depresi, tapi alasan dari setiap orang mengapa dia depresi itu berbeda-beda. Jadi ya
kebanyakan karna itu. Kalau sebutannya bunuh diri, pasti ada masalah di pribadinya. Yang jatuhnya yang pasti depresi sih secara umum, tapi alasannya yang berbeda-beda. Kalau yang di berita ini kan gak tahu alasannya apa.
K: Oke. Lalu pertanyaan selanjutnya, berartikan dari berita satu ini, Sulli itu bunuh diri dugaannya karna depresi, nah menurut Anda apakah alasan bunuh diri tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri?
R: Kalau dibawa ke faktor lain nih, misalnya faktor agama atau faktor apalah.. Faktor kemanusiaan. Sebenarnya apa yang dikatakan dari bunuh diri, kalo pribadi saya sih, gaada alasan, gaada alasan untuk bunuh diri. Gaada alasan untuk kita melewati keputusan Tuhan terlebih dahulu gitu. Kalau dari pandangan saya, soalnya untuk masalah bunuh diri nih.
Walaupun saya belum pernah merasakan, seperti yang saya bilang, ga pernah juga ingin mencoba hal seperti tersebut, tapi saya kira dari setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Jadi kan ini permasalahan bunuh diri ini kan, biasanyakan karna depresi nih. Nah sebenarnya depresi ini bisalah untuk disembuhkan dulu daripada langsung bunuh diri aja. Jadi bunuh diri bukan suatu hal yang tidak bisa saya terima sih di kehidupan ini.
K: Berarti kan Anda menjawabnya tidak layak ya. Berarti, bagaimana seharusnya Sulli bersikap? Dan mengapa Sulli harus bersikap seperti itu?
R: Kan kita tahu nih, kalau kita ambil masalahnya Sulli karna dia depresi. Kalau untuk untuk masalah bersikap, ini sebenarnya beda-beda pandangan ya setiap orang. Tapi kalau untuk saya, secara umum cara dia harusnya bersikap harusnya dia bisa lebih sabar lagi, lebih tenang lagi, dia mencari hal-hal yang membuat dia bisa melupakan depresi itu sendiri. Dia mencari hal-hal atau orang , ya antara kegiatan, hal-hal atau orang sehingga dia bisa melupakan depresinya dia sendiri gitu. Jadikan depresi ini kan istilahnya, beban lama yang dipendam dari lama gitu. Jadi dia harus mencari biar itu gak dipikirin lagi sih. Dan tiap orang biasanya jawabannya berbeda-beda. Kalau Sulli karna saya tidak dekat dengan orangnya, jadi saya gak tahu dia gimana.
K: Oke.., mengapa harus bersikap kayak gitu?
R: Ya harus kayak gitu, seperti yang tadi saya bilang ,biar antisipasi ke bunuh diri itu hilang.
Biar yang katanya menjadi alasan dia bunuh diri itu tidak diingat-ingat lagi, biar dia tidak depresi lagi, biar dia lebih tenang dan mau lah menjalani hidupnya ke depan.
K: Oke, lalu pertanyaan selanjutnya. Seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang akan Anda rasakan atau lakukan? Dan merasa atau melakukan itu?
R: Seandainya menjadi Sulli itu.., pas depresinya ya?
K: Iya, misalnya Anda ada di posisi Sulli nih, mengalami depresi, apa yang akan rasakan atau lakukan.
R: Pertama berarti apa yang saya rasakan ya, pasti gimana ya.. Sebenarnya bahasa kasarnya, mempertanyakan hidup ini apa. Jadi kayak malas hiduplah istilahnya. Jadi malas hidup, ke masalah segininya, sampai bisa jadi saya down banget. Tapi untuk menanggulangi hal
tersebut, saya pasti akan jalur biar saya gak berpikiran, biar saya ga mentok-mentok aja nih di depresi saya ini. Saya sih pasti lebih ke cerita, berdoa, mendekatkan diri ke Tuhan sesuai ajaran agama saya, dan juga cerita ke orang-orang terdekat aja sih. Biar saya merasa nyaman, biar orang lain juga membantu saya aja sih. Soalnya untuk masalah depresi ini saya kira gak bisa dijalani sendiri, tapi harus dijalani dan dibantu oleh beberapa orang untuk
menghilangkan depresi ini.
K: Oke. Lalu, tadikan Anda kan bilang Sulli itu bunuh diri dugaannya karna depresi.
Seandainya Anda menjadi Sulli, apakah alasan bunuh diri tersebut dapat Anda kendalikan?
R: Mmm, kalau jawaban saya sekarang sih, saya percaya dapat mengendalikan. Karna memang saya sendiri memiliki keyakinan bahwa bunuh diri itu suatu hal yang salah.
Seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapa pun, udah dari konsep pemikiran saya, bunuh diri bukanlah jalan akhir.
K: Oke. Selanjutnya, tadikan Anda bilang Sulli itu adalah orang yang berkepribadian mengalami depresi, lalu sekarang, berdasarkan Anda baca satu, perasaan apa yang timbul dalam hati Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
Perasaan apa..? Misalnya kalo lu nih punya temen yang kayak Sulli, pribadinya tuh emang mengalami depresi sejak lama, nah perasaan apa yang timbul dalam hati Anda?
R: Yang pastinya sih perasaan iba ya. Perasaan iba dan juga sedih. Itu aja sih, iba dan sedih aja. Tapi di sisi lain, selain perasaan iba dan sedih, eh ini gatau perasaan atau bukan, pengen memberikan bantuan sih. Jadi ada juga perasaan mau juga kepada orang-orang seperti ini, istilahnya ditolong sama orang-orang terdekatnya. Ya walaupun ga kenal ya, pengenlah bantu orang istilahnya gimana sih biar dia ga depresi.
K: Berarti pandangan Anda, tadi kan Anda menggambarkan pribadi Sulli itu depresi,
mempengaruhi perasaan Anda terhadap yang memiliki kecenderungan bunuh diri tadi? Atau gimana pun pribadinya, tetap merasa iba dan sedih?
R: Tunggu kez, tadi putus kez.., bisa diulang ga?
K: Kan tadi Anda menggambarkan pribadi Sulli itu orang yang mengalami depresi sejak lama, lalu perasaan yang muncul dalam hati Anda terhadap orang yang kayak gini tuh rasa iba dan sedih. Apakah pandangan pribadi tersebut mempengaruhi perasaan Anda atau tidak?
R: Kalau bilang mempengaruhi… mmm.. Mempengaruhi tidak mempengaruhi sih. Tidak mempengaruhinya sih karna subjek dari berita ini sebenarnya. Subjek dari berita ini emang saya gak tau nih orangnya nih. Orangnya gak tau siapa, yaudah saya baca aja. Walaupun ada juga perasaan “kenapa sih harus bunuh diri?” karna konsep bunuh diri tidak saya terima dalam kehidupan. Ya mungkin saya akan sangat-sangat iba mungkin kepada orang-orang yang saya kenal, setidaknya saya kenal saya pernah bicaralah, setidaknya ada rasa iba.
K: Oke. Mmm, Anda kan bilang Anda akan merasa iba dan sedih, apa hal dalam berita yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut? Misalnya setelah Anda membaca kalimat yang mana?
R: Kalo dalam berita yang menjelaskan ini, ini sih, kayak, dia kan bilang, dia diduga melakukan bunuh diri, terus ada di kalimat sebenarnya sebelumnya pada tahun 2016 ada kabar kalo Sulli emang melakukan pernah melakukan usaha juga di tahun 2016.
Maksud saya, kenapa yang membuat saya sedih itu, dalam waktu tiga tahun itu, tidak adakah orang-orang terdekatnya atau dari Sulli-nya sendiri untuk menghilangkan perasaan
depresinya itu. Soalnya seharusnya orang-orang terdekatnya sudah tahu gitu. Tahun 2016 dia sudah merasakan, mungkin dari situ dimulailah membangun hubungan yang baik, biar dia tidak melakukan bunuh diri. Jadi biar pada 2019 akhirnya ini tidak terjadi. Itu sih.
K: Oke.., apakah hal lain diluar berita yang mempengaruhi perasaan Anda tersebut terhadap perasaan kasihan dan sedih tadi, di luar berita?
R: Di luar berita.., tidak ada sama sekali.
K: Gaada ya.. Lalu, pertanyaan selanjutnya.., tadi Anda sudah sempat menyinggung sih. Jadi Anda kan sudah tahu Sulli itu orang yang sudah mengalami depresi sejak lama, lalu Anda merasa iba dan sedih terhadap dia. Sekarang pertanyaan selanjutnya, berdasarkan gambaran dari berita, bagaimana Anda bersikap terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri? Lebih ke action-nya gitu, apa?
R: Kembali lagi, kalo untuk action secara langsung, kalo subjeknya gak saya kenal, saya tidak melakukan apa pun. Saya tidak akan melakukan apa pun, karna kalo kayak gini-gini kan gak tahu orangnya. Jadi ga akan melakukan apa pun aja. Tapi, kalau di …, kalau dibilang, ini termasuk juga ga, kalo ada berita kayak gini, saya gak mau menyebarluaskan gitu ke orang- orang terdekat saya. Itu action bukan?
K: Ooh, iya itu action juga, tapi yang saya tanyakan itu, kalo Anda nih, ada orang yang Anda kenal, orang itu memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli, nah bagaimana Anda akan bersikap?
R: Oh iya maaf ya maaf.. Kalo bersikap ya pasti, seperti yang saya bilang. Kalau saya emang memiliki kemampuan, dan sangat dekat dengan dia, ya, saya dekati sih. Saya gali cerita, apa
yang membuat dia depresi. Baru, ya.., saya bantu. Saya temukan jalan keluarnya gimana.
Tapi, kalau tidak mampu pun saya menemukan jalan keluarnya, saya akan mulai
menceritakannya ke orang-orang yang ahli tentang masalah-masalah kepribadian kayak gini sih. Itu kan udah menyangkut orang terdekat saya kan, pasti akan saya bantu. Kalau saya pun gak bisa, saya akan minta bantuan orang lain.
K: Okee.., lalu, apa hal dalam berita yang membuat Anda ingin bersikap seperti itu?
R: Balik lagi.., jawabannya sama sih kayak pertanyaan dua sebelumnya, pertanyaan yang
“apa yang membuat saya iba dan sedih”, ya itu jawabannya. Soalnya udah empat tahun, kenapa ga sembuh-sembuh.
K: Lalu pertanyaan selanjutnya ini, dijawabnya secara lebih umum, gak hanya tertuju ke Sulli. Jadi in general, berdasarkan gambaran pribadi, perasaan dan sikap yang tadi Anda sudah jawab. Menurut Anda, bagaimana seharusnya tindakan pihak rumah sakit/kesehatan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli dan mengapa?
R: Pihak apa kez?
K: Pihak rumah sakit atau kesehatan, jadi gimana sih orang yang punya kecenderungan bunuh diri kayak Sulli harus di “treat” gitu dari rumah sakit? Atau dari pihak kesehatan?
R: Dari rumah sakit, nge-treat-nya.., sebenarnya gak bisa dari pihak rumah sakit. Yang nge- treat harus orang psikologi harusnya. Ini maksud pertanyaannya sebelum dia mati kan?
K: Iya iya.., orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri, orang dari pihak rumah sakit atau kesehatan gimana harus memperlakukan?
R: Pihak kesehatan ya.., iya., ya harus datengin orang yang tahu masalah ini, kayak orang yang tahu tentang psikolog lah istilahnya, orang yang tahu masalah tentang kepribadian. Biar tahu juga jalan keluarnya. Karna yang saya tahu, saya baca atau saya lihat di berita, pihak kesehatan tuh seharusnya ini adalah suatu pekerjaan dia. Biar orang itu lolos dari
keinginannya untuk bunuh diri. Itu aja sih secara umum.
K: Mmm.. lebih ke gimana pihak rumah sakit harus memperlakukan orang yang kayak Sulli.
Memperlakukannya tuh harus gimana. Kan dia tuh orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri nih. Nah, gimana sih harus diperlakukan?
R: Ya.., diperlakukan.., sepemikiran saya, dilakukan seperti, menjamah dia agar dia mau cerita, agar dia bisa stress release. Jadi ya itu sih. Terus, etika dari bidang kesehatan sih.
Tidak menggembor-gemborkan keluar, walaupun dia mungkin orang besar. Perasaan- perasaan kayak gini orang pengennya di keep oleh lingkungan yang kecil.
K: Kenapa menurut Anda harus diperlakukan seperti itu?
R: Harus diperlakukan seperti itu.., karna ya.., dengan melakukan treat yang seperti itu, saya yakin sih perasaan-perasaan depresinya ini, sebelum dia ingin bunuh diri, pasti ya hilangkan.
Tujuannya kan ingin menyelamatkan satu nyawa, biar dia tidak bunuh diri.
K: Oke, ada lagi?
R: Cukup.
K: Selanjutnya, menurut Anda, bagaimana seharusnya lingkungan pekerjaan memperlakukan orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli dan mengapa? Kalau tadi dari lingkungan rumah sakit atau kesehatan, sekarang lingkungan pekerjaannya nih, gimana sih harus memperlakukan orang yang seperti Sulli, menurut Anda.
R: Lebih kurang sebenernya sama-sama aja sih, yang harus dilakukan ya.., nge-treat dia, ada disekitar dia. Hal sederhana, ya menjadi teman sekitar dia lah. Menjadi teman cerita atau temen untuk menghilangkan depresinya ini. Terus jangan menjauh dan merasa aneh kalau ada orang yang ingin bunuh diri. Soalnya itu adalah hal yang wajar, kalau ada orang yang ingin bunuh diri. Ya orang-orang ini jangan merasa “apasih orang ini udahlah jauhin aja”.
Nanti malah ikut sedih. Jangan ada perasaan kayak gitu. Malah dari orang-orang disekitarnya nih, dilingkungan pekerjaanya nih tadi, berarti kan dia hidupnya sehari setengahnya bersama mereka nih, biar lingkungannya lebih aman aja.
K: Berarti menurut Anda, orang yang seperti Sulli itu harus diperlakukan itu agar lebih…
untuk lebih menghilangkan depresinya dan supaya lebih aman?
R: Iya, lebih aman juga.
K: Oke.., sesi pertama sudah selesai.Saya matikan dulu ya recordnya.
(Sesi Kedua)
K: Udah ada recording disana?
R: Udah
K: Oke sekarang kita akan mulai sesi kedua. Udah dikirim ke email sih beritanya boleh dicheck. Beritanya agak lebih panjang, jadi baca pelan-pelan aja. Nanti setelah itu saya akan menanyakan pertanyaan yang sama. Masuk ga emailnya?
R: Masuk masuk, sabar..
K: Oke
R: Oke dibaca dulu yaa.
*Responden membaca berita 2*
R: Udah
K: Oke kalau sudah baca. Saya akan menanyakan beberapa pertanyaan sama kayak tadi, terkait dengan pandangan Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Diharapkan Anda menjawabnya dengan jujur, kalau tidak ada jawabannya, jawab tidak ada.
Kalau ada yang tidak dimengerti boleh ditanyakan. Dan dijawabnya sesuai dengan berita yang Anda baca.
R: Oke
K: Pertanyaan pertama, berdasarkan berita kedua, menurut Anda, bagaimana berita ini menggambarkan sosok pribadi Sulli?
R: Mmm, di berita ini yang saya dapet sih, sosok pribadi Sulli ini, dari penjelasan awal karier kelihatan gitu orangnya mau berusaha, mau lebih baik lagi, pertama. Tangguh untuk
mengejar impiannya di dunia entertainment Korea. Kedua, orangnya.., yang saya dapet hampir sama kayak berita sebelumnya, bahwa dia ini.., disini kan lebih jelas alasan bunuh dirinya. Didapet kalau dia ini gabisa ngatur emosinya, dia menanggapi hal atau omongan orang luar, dia menganggap itu sebagai hal yang dapat mengganggu kehidupan dia. Jadi dia lebih cepat takut dan depresi.
K: Berarti setelah Anda membaca berita ini, berita ini tuh menggambarkan pribadi Sulli yang tadi yah. Dia orang yang mau berusaha lebih baik, dia tangguh dalam mengejar kariernya.
Tapi dia juga orang yang tidak dapat mengatur emosi dalam menghadapi komentar dari publik gitu ya.
Lalu setelah Anda membaca berita kedua, menurut pemahaman Anda, apa yang menyebabkan Sulli bunuh diri?
R: Yang menyebabkan jelas ya, di judul alami depresi jadi Idol Korea. Jelas di paragraf pertamanya tuh berkata tentang karna komentar sih, komentar publik yang tidak bisa dia olah di kepribadiannya sendiri gitu. Biar dia jatuhnya tidak depresi itusih.
K: Ada lagi? Atau udah?
R: Sudah
K: Lalu, Anda kan bilang berarti Sulli itu bunuh diri karna depresi dari komentar publik yang tidak bisa dia olah. Berdasarkan jawaban Anda, bagaimana Anda menggambarkan pribadi Sulli?
R: Menurut saya, dari berita tersebut ya itu sih, tidak bisa.., Dia kayak langsung terima mentah-mentah apa yang diomongin gitu dari publik. Dia terima mentah-mentah yang malah ngebuat perasaan … Dia tidak bisa ngatur perasaan dia yang membuat dia jadi depresi. Gitu aja sih.
K: Apa hal dalam berita yang membuat Anda menggambarkan pribadi Sulli seperti itu?
R: Mmm yang itu, yang secara jelas dia… berita ini menulis yang asalnya keluar dari omongan Sulli sendiri. “Aku bisa merasakan pandangan orang-orang kepadaku” sampai ke yang bawahnya “Dia menambahkan” itu. Dari situ. Dapet kesimpulannya dari situ.
K: Kenapa dari baca kalimat itu, Anda berkesimpulan bahwa Sulli itu langsung menerima mentah-mentah yang dikatakan orang, lalu tidak bisa mengatur emosi.
R: Yang ini sih..ya dia langsung… Kan dari berita ini nulisnya langsung dri omongan Sulli nya kan. “Dia merasa pandangan orang-orang dan itu membuat aku takut”. Ya dari kalimat itusih, kelihatan bahwa dia, dia membaca atau mendengar pandangan orang lain terhadap dia, tapi dia langsung takut, dia langsung terserang ke pribadinya sendiri kalo susah nih liat pandangan orang kayak gini jadi gitulah. Ngerti tapi kan kez?
K: Berarti dari kalimat “Dia merasakan pandangan orang-orang dan membuatku takut” Anda menyimpulkan pribadi Sulli itu, ya itu, dia langsung takut dengan omongan orang, dia langsung terserang dengan omongan orang.
R: Benar sekali.
K: Oke lanjut, Anda kan tadi menggambarkan pribadi Sulli itu dia orang yang langsung menerima mentah-mentah apa yang dikatakan publik dan tidak bisa mengatur emosi.
Menurut Anda, apakah semua orang yang ingin bunuh diri pribadi seperti itu?
R: Mmm, secara umum dibagian tidak mengatur emosi, iya. Seperti itu. Karna awal dari sebelum dia bunuh diri, dia pasti punya masalahkan. Dia mikir-mikir mau bunuh diri aja itukan permainan emosi. Berarti dia tidak bisa mengatur emosinya sendiri. Menjadi hal yang lebih positif harusnya, tapi ini menjadi negatif. Makanya dia bunuh diri.
K: Oke. Lalu, Anda mengatakan dari berita ini, Anda menangkap bahwa Sulli itu bunuh diri karna depresi dari komentar publik. Menurut Anda, apakah alasan bunuh diri tersebut layak untuk dijadikan alasan bunuh diri dan jelaskan mengapa?
R: Mmm.,, ga layak sih. Soalnya bunuh diri kan bukan suatu jalan akhir gitu. Sebenarnya tiap masalah tetep ada jalan keluar. Jawaban saya sama seperti di berita sebelumnya.
K: Oke. Pertanyaan selanjutnya, seandainya Anda menjadi Sulli, apa yang Anda rasakan dan lakukan? Dan mengapa Anda merasa dan melakukan hal tersebut?
R: Kalau saya sendiri sih kalau jadi Sulli kan katanya orang-orang ninggalin dia dan komentar publik yang bikin menyerang. Kalau saya sih lebih legowo ya, lebih nerima
omongan dari luar, pandangan orang luar. Karna yang tahu siapa kita itu kan sebenernya kita sendiri dan orang-orang terdekat kita sih. Jadi gausah terlalu termakan dari omongan orang lain yang cuma bisa lihat kita dari sosial media doang, tidak tahu kehidupan asli kita kayak gimana.
Kayaknya ada yang belum kejawab ya, apa lagi pertanyaannya sih kez. Tadi perasaan ada dua pertanyaannya.
K: Apa yang Anda rasakan dan lakukan. Dan jelaskan mengapa? Yang Anda rasakan kan sudah lebih legowo karna yang tahu siapa kita itu orang terdekat kita. Mungkin apa yang akan Anda lakukan yang belum.
R: Yang saya lakukan, ya itu sih, sebenernya kalau pandangan publik, pengennya sih bodo amat sih rasanya. Jadi kalo ada berita sekilas ya gausah terlalu dipikirin. Tapi, itu jadi bahan evaluasi aja. Lalu kita olah omongan publik ini biar ga ganggu perasaan kita. Soalnya balik lagi tadi dari awal kalimat, gak sepenuhnya dia komen tentang gitu, tahu tentang kehidupan kita. Terus ya, cari orang-orang terdekat sih. Cari kesibukan lain.. Tapi dia udah sibuk ya. Ya cari kesibukan lain, orang-orang terdekat, biar bisa gak hanya… Dan ini sih, yang paling, cari orang-orang yang gak ngasih tahu kita “wah ini ada omongan nih, ada omongan orang lain ke lu”. Jadi ya, cari orang-orang yang gausah ngomong gitu, orang pengennya ketemu orang seneng-seneng, dia malah bahas berita kita gitu.
K: Oke. Sesuai jawaban Anda, seandainya Anda menjadi Sulli, apakah alasan bunuh diri tersebut dapat dikendalikan?
R: Mmm., seharusnya ya dapat dikendalikan. Tapi, ya itu, seharusnya usaha masing-masing.
Kalau saya yang merasakan, kalau saya ada di posisi itu, ya saya kendalikannya dengan cari teman atau kegiatan biar saya lupa sama hal-hal kehidupan kepribadian saya.
K: Oke, lalu selanjutnya. Tadi kan Anda menggambarkan pribadi Sulli itu dia langsung menerima mentah-mentah orang.., eh apa yang dikatakan orang. Lalu dia juga tidak bisa mengatur emosi. Nah sekarang, melalui berita ini, perasaan apa yang timbul dalam hati Anda terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli?
R: Perasaan yang muncul.., kesel sih. Kesel karna alasannya seperti itu. Sebenernya saya sebagai manusia juga tidak bisa itu masalah yang terlalu sederhana, tapi, kalo dipikiran saya itu sederhana sebenernya. Masalah hal tentang publik. Maksudnyakan dia ini, seorang entertain ya, seharusnya dia sudah tahu kehidupan entertain itu bisa dinilai, bisa dilihat oleh orang lain. Jadi harusnya dia sudah tahu. Kan dia juga punya teman yang banyak, sebenarnya
gak hanya dia doang yang dinyinyirin orang lain. Sebenernya dia bisa lihat gimana artis-artis lain atau bahkan teman di idol grupnya menghadapi.
K: Berarti Anda bilang Anda merasa kesal ya terhadap orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri seperti Sulli. Apa sih hal dalam berita yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut. Yang membuat Anda “gua kesel sama orang yang kayak gini”.
R: Yang ini sih, yang dia nulis omongan dari Sullinya sendiri tentang alasan dia depresi itu dari hal-hal yang seperti ini. “Aku bisa merasakan pandangan orang lain” , “Merasa dijauhi orang disekitarku”.
K: Mengapa dari kalimat itu, Anda memiliki perasaan kesal?
R: Ya karna balik lagi ke dua pertanyaan sebelumnya.., karna.. Eh ini benar gak sih kez jadi bahas omongannya si Sulli?
K: Iya gapapa, kan ini kan tertulis dalam berita.
R: Oh iya., ya itu, yang membuat kesal, yang saya pandang sih sebenarnya dari dia tidak memikirkan terlebih dahulu. Walaupun diatasnya ditulis dia sudah jadi artis sejak kecil. Tapi seiring bertambah usia, harusnya dia tahu.., apa sih, hal-hal apa saja yang bisa ngerusak di dunia entertain ini. Dan bagaimana harusnya dia mengolahnya, soalnya kan kayaknya setiap artis mengalami ini terus. Ada omongan dari pihak luar, pihak luarnya itu orang yang gak kenal dia.
K: Sorry berarti tadi hal dalam beritanya itu dari kalimat “Aku bisa merasakan pandangan orang-orang kepadaku. Dan itu membuatku takut,”?
R: Sampai bawahnya juga. Pokonya yang masih omongan dia juga. Yang “Dia menambahkan” sampai “Semakin depresi”
K: Oh oke oke. Apakah ada hal lain diluar berita yang membuat Anda merasa kesal terhadap orang yang seperti Sulli?
R: Ada, di paragraf selanjutnya…
K: Masih dalam berita ini ya?
R: Bener kan? Bener ga sih?
K: Kalau masih ada boleh, kalimat yang mana lagi.
R: Tadi pertayaannya apa kez? Gak fokus gua