KOLEKTIF (LMK) DALAM PERSPEKTIF UUHC A. Royalti Sebagai Hak Ekonomi Atas Lagu dan Musik
B. Tugas Dan Wewenang LMK Sebagai Lembaga Pengelola Royalti Atas Lagu dan Musik Yang Dimuat Dalam Layanan Musik Digital dan Musik Yang Dimuat Dalam Layanan Musik Digital
Keberadaan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) diatur dalam Pasal 1, Pasal 87 sampai dengan pasal 91 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 22 diatur bahwa Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) adalah institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba, yang diberi kuasa oleh Pencipta, pemegang hak cipta, dan / atau pemilik hak terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti.
Dalam konteks hubungan hukum antara LMK dengan pencipta lagu, pemegang hak cipta lagu maupun hak terkait, yaitu pemberian kuasa dari pencipta lagu maupun pemegang hak cipta kepada LMK untuk menarik, menghimpun dan mendistribusikan
royalti berkaitan dengan penggunaan karya cipta lagu secara komersial, landasan hukumnya adalah perjanjian.124
Kelaziman dalam hukum perjanjian di Indonesia, ranahnya adalah perdata.
Dalam membuat perjanjian tertulis (kontrak) para pihak bebas menentukan isi kontraknya, berdasarkan pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata dapat diketahui bahwa kontrak yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Pasal 1338 KUH Perdata ini mencerminkan keberadaan asas kebebasan berkontrak. Para pihak sepakat untuk mengatur klausula-klausula tertentu dalam perjanjian, landasannya adalah kesepakatan para pihak atau kesepakatan individu- individu yang mengikatkan diri, itu berarti dalam perjanjian yang disepakatai oleh para pihak sekurang-kurangnya dalam hubungan perdata tersebut sudah tercermin keberadaan dari asas kebebasan berkontrak dan asas konsensualisme.125
Pencipta lagu, penulis lagu, ahli waris dan publisher semua menjadi anggota LMK. Ketika pencipta bergabung atau masuk dalam sebuah LMK, maka secara administrasi seorang pencipta akan menyerahkan surat perjanjian berupa pengalihan, sebuah mandat atau lisensi untuk dilakukan pengadministrasian atas pengelolaan haknya. Dengan berbekal surat tersebut yang juga mewakili repertoar dari LMK di Negara lain, LMK tersebut memiliki hak untuk mengeluarkan lisensi bagi mereka yang bertujuan untuk memanfaatkan karya-karya cipta yang dilisensikan kepadanya. Lisensi
124 Ni Ketut Supasti Dharmawana, I Made Sarjanab, Konstruksi Perjanjian Lembaga Manajemen Kolektif Dengan Pencipta : Kajian Asas Hukum Perjanjian vs Campur Tangan Negara, Universitas Udayana, Hal. 3
125Ibid, Hal. 2
tersebut dapat berupa Blanket License126 yaitu lisensi yang menjangkau seluruh repertoar LMK atau mungkin Ad hoc License untuk pengguna.127 Hal ini tentunya juga dapat diberlakukan untuk penggunaan lagu dan musik yang dimuat dalam medium digital karena mengingat LMK memiliki kewenangan sebagai pengelola royalti berdasarkan kuasa pencipta.
Pasal 87 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 mengatur bagaimana hubungan antara Pencipta/Pemegang Hak Cipta atau Pemilik Hak Terkait, Lembaga Manajemen Kolektif, dan Pengguna.
Pasal 87
1. Untuk mendapatkan hak ekonomi setiap Pencipta, Pemegang Hak Cipta, pemilik Hak Terkait menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif agar dapat menarik imbalan yang wajar dari pengguna yang memanfaatkan Hak Cipta dan Hak Terkait dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial.
2. Pengguna Hak Cipta dan Hak Terkait yang memanfaatkan Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membayar Royalti kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait, melalui Lembaga Manajemen Kolektif.
3. Pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membuat perjanjian dengan Lembaga Manajemen Kolektif yang berisi kewajiban untuk membayar Royalti atas Hak Cipta dan Hak Terkait yang digunakan.
4. Tidak dianggap sebagai pelanggaran Undang-Undang ini, pemanfaatan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait secara komersial oleh pengguna sepanjang pengguna telah melakukan dan memenuhi kewajiban sesuai perjanjian dengan Lembaga Manajemen Kolektif.
126 Lisensi yang memberikan izin kepada pihak yang akan mempergunakan lagu untuk dapat memutar dan memainkan seluruh karya music yang diadministrasikan oleh LMK selama masih dalam jangka waktu lisensi.
127 Muhammad Rafiqi Ramadhan dan Brian Amy Prasetyo, Peran Lembaga Manajemen Kolektif dalam Pengelolaan Hak Ekonomi Pencipta Terkait Usaha Karoeke Ditinjau dar UU No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, Fakultas Hukum UI, 2015, hal. 10
LMK wajib mengajukan permohonan izin operasional kepada menteri agar dapat mengumpulkan, dan mendistribusikan royalti. Dalam Pasal 88 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 diatur mengenai bagaimana sebuah Lembaga Manajemen Kolektif harus memiliki ijin dari Menteri untuk dapat beroperasi:
Pasal 88 UUHC
1. Lembaga Manajemen Kolektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat wajib mengajukan Permohonan izin operasional kepada Menteri.
2. Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat:
a. berbentuk badan hukum Indonesia yang bersifat nirlaba;
b. mendapat kuasa dari Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait untuk menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti;
c. memiliki pemberi kuasa sebagai anggota paling sedikit 200 (dua ratus) orang Pencipta untuk Lembaga Manajemen Kolektif bidang lagu dan/atau musik yang mewakili kepentingan pencipta dan paling sedikit 50 (lima puluh) orang untuk Lembaga Manajemen Kolektif yang mewakili pemilik Hak Terkait dan/atau objek Hak Cipta lainnya;
d. bertujuan untuk menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti;
dan
e. mampu menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait.
3. Lembaga Manajemen Kolektif yang tidak memiliki izin operasional dari Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti.
Jika kita melihat kedua pasal tersebut di atas, kelihatannya pasal-pasal tersebut sudah cukup baik, sampai kemudian muncul kata “nasional” pada Pasal 89 ayat (1) yang kemudian menghilang lagi pada ayat (2), (3), dan (4).
Pasal 89
1) Untuk pengelolaan Royalti Hak Cipta bidang lagu dan/atau musik dibentuk 2 (dua) Lembaga Manajemen Kolektif nasional yang masing- masing merepresentasikan keterwakilan sebagai berikut:
a. kepentingan Pencipta; dan
b. kepentingan pemilik Hak Terkait.
2) Kedua Lembaga Manajemen Kolektif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki kewenangan untuk menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti dari Pengguna yang bersifat komersial.
3) Untuk melakukan penghimpunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kedua Lembaga Manajemen Kolektif wajib melakukan koordinasi dan menetapkan besaran Royalti yang menjadi hak masing-masing Lembaga Manajemen Kolektif dimaksud sesuai dengan kelaziman dalam praktik berdasarkan keadilan.
4) Ketentuan mengenai pedoman penetapan besaran Royalti ditetapkan oleh Lembaga Manajemen Kolektif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan disahkan oleh Menteri.
Pengertian terkait dengan LMKN tidak dapat ditemukan baik didalam Undang- Undang No. 28 Tahun 2014 maupun Permenkumham No. 29 tahun 2014. Berdasarkan pasal 89 ayat (1) tersebut, undang-undang juga memberikan kepada LMKN untuk dapat menarik, menghimpun dan mendistribusikan royalti dari pengguna yang bersifat komersil atas kepentingan pencipta. Akibatnya akan timbul permasalahan baru yaitu adanya kemungkinan benturan kewenangan memungut royalti kepada pengguna lagu dan musik antara LMK dan LMKN. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka terbitlah Permenkumham No. 29 Tahun 2014.128
Keberadaan Permenkumham ini juga tidak serta merta memberikan kejelasan tentang kedudukan kedua lembaga ini seperti dalam pasal 5 Permenkumham No. 29 Tahun 2014.
Pasal 5
1) Untuk pengelolaan Royalti Hak Cipta bidang lagu dan/atau musik dibentuk LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait.
2) LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki kewenangan untuk menarik,
128 Ibid
menghimpun, dan mendistribusikan Royalti dari Pengguna yang bersifat komersial.
3) Dalam menghimpun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait wajib melakukan koordinasi dan menetapkan besaran Royalti yang menjadi hak masing- masing LMK dimaksud sesuai dengan kelaziman dalam praktik berdasarkan keadilan.
4) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait dapat mendelegasikan kewenangannya kepada LMK sejenis yang berada di bawah koordinasinya
Ketentuan ini juga menjelaskan bahwa LMKN mempunyai wewenang menghimpun dan mendistribusikan royalti. Dengan demikian, baik LMK maupun LMKn, kedua-duanya oleh Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 diberikan kewenangan untuk memungut royalti dari pengguna. Jika tafsir ini benar, maka tujuan menyederhanakan proses pemungutan royalti kepada pengguna menjadi tidak tercapai.
Situasi ini memiliki potensi konflik yang cukup besar. 129
Pasal 6 Permenkumham No. 29 Tahun 2014 menjabarkan tugas LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait yang memiliki tugas sebagai berikut:
a. menyusun kode etik LMK di bidang lagu dan/ atau musik;
b. melakukan pengawasan terhadap LMK di bidang lagu dan/ atau music c. memberikan rekomendasi kepada menteri untuk menjatuhkan sanksi
atas pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pengurus LMK
d. memberikan rekomendasi kepada menteri terkait dengan perizinan LMK di bidang lagu dan/ atau musik yang berada di bawah koordinasinya
e. menetapkan sistem dan tata cara penghitungan pembayaran royalti oleh pengguna kepada LMK;
f. menetapkan tata cara pendistribusian royalti dan besaran Royalti untuk pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak Terkait;
129 Agus Sardjono, Loc.Cit hal. 56
g. melakukan mediasi atas sengketa hak cipta dan hak Terkait; dan h.
memberikan laporan kinerja dan laporan keuangan kepada Menteri.
Jika merujuk pada pasal tesebut maka dapat disimpulkan bahwa LMKN hanya sebagai regulator, koordinator, dan kontroler dari LMK-LMK khususnya di bidang lagu dan musik. Untuk memberikan kewenangan kepada LMKN memungut royalti dari pengguna harus terlebih dahulu dinyatakan di dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 bahwa LMKN adalah organisasi yang dibentuk oleh LMK-LMK yang bergabung ke dalam LMKN dalam rangka menyederhanakan proses pemungutan royalti secara bersama-sama dari para pengguna (users). Mengingat basis kewenangan LMK dalam memungut royalti dari para pengguna adalah adanya surat kuasa dari para pencipta dan/atau para pemilik hak terkait, makadengan demikian, harus ada kuasa substitusi terlebih dahulu dari LMK kepada LMK.130
Memanfaatkan pengaturan yang sudah ada, LMK memberikan solusi dari masalah yang berkaitan dengan hak cipta dalam bentuk membantu memastikan bahwa pemilik hak menerima pembayaran atas penggunaan karyanya. LMK ditunjuk oleh pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengurus hak ciptanya. Hal-hal yang diurus oleh LMK diantaranya yaitu pengesahan hak-hak pemungutan royalti dan pelaksanaan hak untuk dan atas nama pemegang hak cipta.
Adapun Ketentuan LMK dalam mengelola royalti yaitu:
130 Agus Sardjono (Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas hukum Universitas Indonesia )PROBLEM HUKUM REGULASI LMK & LMKN SEBAGAI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, Op.cit Hal. 52
1. LMK pencipta wajib saling bekerja sama dan melakukan koordinasi untuk mengoptimalisasi efisiensi dan efektifitas penarikan dan penghimpunan royalty
2. Lembaga-lembaga manajemen kolektif hak terkait wajib saling bekerjas ama dan melakukan koordinasi untuk mengoptimalisasi efisiensi dan efektifitas penarikan dan penghimpunan royalti
3. Lembaga-lembaga manajemen kolektif pencipta/hak terkait menetukan Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) pencipta/hak terkait
4. Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) pencipta/hak terkait ditetapkan berdasarkan kesepakatan dari lembaga- lemabaga manajemen kolektif
LMK wajib melakukan koordinasi dan menetapkan besaran royalti yang menjadi hak masing-masing LMK dimaksud sesuai dengan kelaziman dalam praktik berdasarkan keadilan (Pasal 89 ayat (3) Undang-Undang No. 28 Tahun 2014). Saat ini besaran royalti ditetapkan oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 6 huruf e Peremenkumham No. 29 Tahun 2018 yang menyebutkan bahwa LMK Nasional Pencipta dan LMK Nasional Hak Terkait memiliki tugas menetapkan sistem dan tata cara penarikan royalti.
Adapun tata cara penarikan royalti yaitu:
1. Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) melakukan kontrak lisensi
2. Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) melaporkan kontrak lisensi kepada LMKN
3. Penagihan di laksanakan oleh Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) menggunakan surat tagihan pembayaran royalti (invoice)
4. Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) mengeluarkan nomor surat tagihan pembayaran royalty
5. Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) mengirimkan invoice dengan logo LMK dan LMK
6. Waktu pembayaran royalti oleh pengguna dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan setelah invoice dikirim
7. Apabila pengguna terlambat membayar maka pengguna tersebut akan dikenakan denda sebesar 0.05% per hari dari jumlah tagihan
8. Waktu pembayaran royalti tahunan oleh pengguna dapat dilakukan bertahap maksimal 3 (tiga) kali dalam 1 (satu) tahun
9. LMKN pencipta/hak terkait, melalui Koordinator Pelaksana Penarikan dan Penghimpunan Royalti (KP3R) mengeluarkan sertifikasi bagi pengguna yang telah melaksanakan kewajiban pembayaran royalti.
LMK hanya dapat menggunakan dana operasional paling banyak 20% (dua puluh persen) dari jumlah keseluruhan royalti yang dikumpulkan setiap tahunnya. Pada 5 (lima) tahun pertama sejak berdirinya LMK berdasarkan undang-undang ini, LMK
dapat menggunakan dana operasional paling banyak 30% (tiga puluh persen) dari jumlah keseluruhan royalti yang dikumpulkan setiap tahunnya. (Pasal 91 Undang- Undang No. 28 Tahun 2014).
Salah satu LMK di Indonesia, yaitu Wahana Musik Indonesia (WAMI).WAMI adalah suatu badan usaha yang bergerak dibidang Collective Management Organization (CMO) atau Lembaga Manajemen Kolektif pengelola eksploitasi karya cipta lagu terutama untuk royalti atas hak mengumumkan (performing rights).WAMI tidak menjalankan penerbitan pemasaran atau eksploitasi komersial dari lagu-lagu, lingkup pekerjaan WAMI adalah hanya mengelola hak pengumuman lagu-lagu/karya cipta musik dari pemberi kuasa.WAMI berdiri pada 15 September 2006 dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM pada 5 Januari 2007. Awal berdirinya WAMI, bentuk badan hukumnya yaitu PT, namun pada April 2015 menjadi badan hukum nirlaba sesuai dengan amanat Undang-Undang Hak Cipta setelah didaftarkan pada Menteri Hukum dan HAM dan telah mendapatkan izin operasional.131
WAMI merupakan salah satu LMK yang telah mendapatkan royalti dari salah satu layanan musik digital. Menurut informasi yang dimuat dalam situs resmi WAMI yaitu www.wami.id, pada bulan April 2017 lalu WAMI telah mendistribusikan royalti atas hak mengumumkan (performing rights) atas layanan digital. Distribusi royalti digital di April 2017 diperoleh dari layanan iTunes (periode 2013-2015) dan SonyJive.
131 Christina Sidauruk, Kedudukan Hukum Lembaga Manajemen Kolektif Sebagai Pengumpul Royalti Menurut UUHC, Skripsi, Fakultas Hukun Universitas Bandar Lampung, 2016, hal. 28
Jumlah total royalti yang didistribusikan kepada komposer anggota WAMI dan penerbit musik (music publisher) berjumlah sekitar Rp. 1,2 Milyar.
Dalam pengelolaan royalti atas lagu dan musik yang dimuat dalam layanan musik digital, WAMI hanya bertugas meng claim atas royalty Hak Mengumumkan / Layanan Musik Digital dan mendistribusikan pada pencipta yang terdaftar di WAMI.
Mekanisme pendistribusian royalti yaitu berdasarkan laporan penggunaan lagu dari para yang di kirim ke WAMI akan divalidasi dan meng klaim ke layanan musik digital tersebut berdasarkan data lagu yang di daftarkan oleh para anggota nya. Setelah royalty di bayarkan oleh pihak layanan musik digital per 6 Bulan WAMI akan mendistribusikannya royalty tersebut setelah dikurangi biaya operasional ke para pencipta yang lagunya digunakan oleh para layanan musik digital.132
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa meskipun dengan ketiadaan regulasi dan tarif yang ditetapkan oleh LMKN, LMK tetap dapat mengelola royalti atas layanan music digital. Hal ini mengingat bahwa adanya hubungan hokum antara pencipta, pengguna hak cipta dan LMK. Setiap LMK memiliki hubungan dengan LMK dan major label di berbagai negara sehingga dapat menjembatani pencipta dengan pengguna ciptaannya yaitu layanan music digital.
Sampai saat ini LMKN sebagai lembaga yang menetapkan tariff royalti hingga saat ini belum mengeluarkan tarif royalti musik yang berlaku secara nasional untuk layanan musik digital dan masih dalam proses penyusunan sehingga belum ditetapkan
132 Hasil wawancara dengan Harry S. Wibowo pihak licensing LMK WAMI melalui surat elektronik
secara pasti berapa nilai royalti bagi para musisi dan pencipta lagu sebagai pemegang hak cipta.133 Royalti atas layanan music digital yang diterima LMK belum optimal, bisa dikatakan masih 75%.134
Tarif royalti yang digunakan oleh LMK saat ini ialah tarif yang telah ditetapkan oleh masing-masing layanan musik digital. Royalti tersebut dibagikan kepada para pencipta lagu Indonesia maupun pencipta lagu asing hanya satu kali dalam setahun.
Sebelum dibagikan hasil collecting (hasil pendapatan dari pengguna) selama satu tahun dihitung per 1 Januari sampai dengan per 31 Desember, kemudian diproses secara administrasi. Sekitar lima bulan kemudian hasilnya siap untuk didistribusikan. Jadi para pencipta lagu tadi sudah dapat menerima royaltinya pada pertengahan tahun berikutnya.135
Semua LMK yang mengadakan kerja sama timbal balik antara negara berada di bawah naungan salah satu atau lebih induk organisasi pemungut royalti di dunia, yaitu the International Confederation of Societies of Authors and Composers (CISAC) yang berpusat di Paris, the International Federation of Reproduction Rights Organizations (IFPRO), dan the Bureau Internationl des Societies Gerant les Droits D’Enregistrement et les Reproduction Mecanique (BIEM). Dari ketiga induk organisasi terbesar pemungut royalti ini, CISAC merupakan organisasi terbesar dan mempunyai peran
133 Musisi Vs Layanan Streaming http://misaelandpartners.com/musisi-vs-layanan-streaming- musik/, di akese tanggal 3 November 2018
134 Hasil wawancara dengan Harry S. Wibowo pihak licensing LMK WAMI melalui surat elektronik
135 Arif Fitrawan, Perlindungan Hukum Terhadap Hak Untuk Mendapatkan Royalti Atas Hak Cipta Karya Lagu di Kota Makassar (Suatu Kajian Sosiologis), Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Hasanudin, 2015, hal. 65
yang lebih luas. CISAC berperan terhadap peningkatan pengakuan dan perlindungan hak-hak pencipta. CISAC didirikan pada tahun 1926 dan merupakn organisasi non- pemerintah dan bersifat non-profit.
Adapun perincian royalti yang didistribusikan kepada para pencipta lagu Indonesia maupun asing sesuai dengan peraturan yang telah disepakati secara international sebagai anggota dari The Internasional Confederation of Authors and Composers Societies (CISAC) yaitu hasil collecting (pendapatan dari users) tersebut dikurangi biaya operasional LMK sebesar 30% dan sisanya sebesar 70% seluruhnya didistribusikan kepada para Pencipta lagu Indonesia maupun asing, sebagai hak yang diperoleh para pencipta lagu.136
Berdasarkan uraian di atas, tugas dari LMK dalam pengelolaan royalti atas lagu dan musik yang dimuat dalam layanan musik digital adalah sebagai berikut:
1. Posisinya adalah mewakili para pencipta dalam melakukan bargaining atau mengikat kerjasama dengan penguna karya cipta (user). Pengguna yang dimaksud adalah perusahaan layanan musik digital
2. Membantu mengawasi penggunaa karya cipta lagu dan musik yang dimuat dalam sebuah layanan layanan musik digital yang belum memiliki izin 3. Memastikan agar setiap pengeksploitasian ciptaan lagu dan musik oleh
pihak lain senantiasa dilandasi lisensi pemakaian lagu atau musik
136 Ibid
Sesuai dengan kontribusinya ini, LMK memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk:
1. Memberikan lisensi penggunaan lagu atau musik kepada pengguna (user) dalam hal ini ialah perusahaan layanan musik digital.
2. Meminta daftar lagu-lagu yang dipergunakan oleh penerima lisensi 3. Memungut royalti dari pengguna (user)
4. Mendistribusikan royalti kepada para pencipta lagu yang diwikilinya berdasarkan sistem yang adil
LMK wajib melakukan audit keuangan dan audit kinerja yang dilaksanakan oleh akuntan publik paling sedikit 1 (satu) tahun sekali dan diumumkan hasilnya kepada masyarakat melalui media cetak nasional dan media elektronik. Menteri melaksanakan evaluasi terhadap LMK paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.137
Akibat hukum dalam hal pengguna tidak membayar royalti atas pemanfaatan suatu karya cipta lagu dan musik kepada LMK yang telah memberikan izin resmi/lisensi maka LMK dalam penyelesaiannya dilakukan seperti yang telah tercantum dalam isi perjanjian. Seperti yang dilakukan salah satu LMK yaitu Karya Cipta Indonesia berupa sistem sosialisasi door to door. Sistem sosialisasi tersebut dilakukan dengan mengirimkan surat kepada pengguna. Macam-macam surat tersebut diberikan secara bertahap jika pihak pengguna tetap tidak menghiraukan. Surat-surat tersebut dibagi menjadi:138
137 Ibid, hlm.34
138 Yosepa Santy Dewi, Etty Susilowati, Siti Mahmudah, Op.Cit, hal.13
1. Intruduction Letter (surat pemberitahuan) yang berisi pengenalan ciptaan lagu dan musik tersebut dilindungi oleh undangiundang
2. Reminder Letter (surat pengingat) yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa pengguna mempunyai kewajiban yang dasr hukumnya terdapat dalam UUHC dan jika tetap melanggar maka akan berakibat hokum.
3. Warning Letter (surat peringatan) yang diberikan jka pengguna membangkang atau tidak menghiraukan surat yang telah diberikan oleh LMK.
Apabila pengguna tetap tidak menghiraukan suat-surat tersebut, UUHC mengatur mengenai penyelesaian sengketa bahwa apabila terjadi sengketa hak cipta, penyelesaian dapat dilakukan melaui alternative penyelesaian sengketa, arbitrase atau pengadilan. Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan niaga. 139
Pendapatan musisi Indonesia dapat dikatakan masih kecil mengingat para pengguna layanan musik spotify yang lebih senang mendengarkan musik-musik barat dibandingkan musik Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan chart “Global Top 50".
139 Ibid
Gambar No. 6 : Global Top 50 Chart Spotify
Sumber : Aplikasi layanan music spotify
Berdasarkan hasil penelusuran tersebut 50 lagu paling top yang diputar di Indonesia didominasi oleh lagu barat. Bahkan lagu Indonesia tidak masuk dalam kategori tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana abu-abunya keuntungan yang didapat dari layanan musik digital bagi para musisi Indonesia. Oleh karena itu Lembaga
Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) secepatnya menetapkan mekanisme dan regulasi tarif royalti untuk musik yang dimuat dalam layanan musik digital.
Dalam menjalankan tugasnya memungut dan mendistribusikan royalti atas pemanfaatan lagu atau musik oleh layanan music igital sebagai pengguna (user), LMK dalam hal ini harus melaksanakanannya berdasarkan standart operasional prosedur yang telah dibentuk oleh masing-masing LMK. Jika LMKN dan LMK saling bersinergi dalam menetapkan tarif serta mekanisme pendistribusian royalti atas lagu dan musik yang dimuat dalam layanan musik digital barulah pencipta dapat merasa lega karena mendapatkan kepastian dan keadilan atas citptaannya tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN