• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur

Responden BPKD

2. Wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur

Dari hasil wawancara dengan 2 (dua) responden BPK Perwakilan Propinsi Kalimantan Timur diperoleh data bahwa :

Prasa “dapat” bukan keharusan dilakukan tetapi bisa dilakukan a.

tergantung dari kondisi;

Penghapusan secara mutlak adalah dengan menghapus hak tagih b.

negara/daerah;

Penghapusan secara bersyarat adalah dengan menghapuskan c.

piutang negara/daerah dari pembukuan pemerintah pusat/daerah tanpa menghapuskan hak tagih negara/daerah;

Piutang negara/daerah yang cara penyelesaiannya diatur d.

tersendiri dalam undang-undang.

Terhadap piutang Kejaksaan yang berasal dari uang pengganti yang diputus inkracht berdasarkan UU No 3 Tahun 1971, sebetulnya berdasarkan aturan dapat dihapuskan, hal ini dimungkinkan dengan merujuk kepada Pasal 37 UU No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, prasa “dapat” dalam pasal tersebut mengindikasikan bahwa semua piutang negara bisa dihapuskan melalui mekanisme tersendiri, dan sepanjang tidak ada undang-undang lain yang mengaturnya. Sepanjang pengetahuan responden sampai saat ini belum ada perundang-undangan yang mengatur secara khusus tersendiri. Sehingga responden berkesimpulan bahwa ketentuan Pasal 37 Ayat (1) UU No 1 Tahun 2004 dapat diberlakukan dengan catatan tetap harus ada penyelesaian dari jaksa selaku eksekutor melalui putusan pengadilan. Dengan demikian responden setuju dengan adanya Surat Jaksa Agung RI Nomor: B-012/Cu.2/01/2003 tgl 18 Januari 2013 yang ditujukan kepada Para Kepala Kejaksaan Tinggi seluruh Indonesia tentang Pedoman Penyelesaian Kebijakan Akuntansi atas Piutang Negara Uang Pengganti yang inkracht berdasarkan UU No 3 Tahun 1971, yang sudah tidak mampu membayar uang pengganti karena tidak lagi mempunyai harta/jatuh miskin. Alasan responden karena hal ini dimungkinkan oleh aturan perundang-undangan yang ada, sebagaimana dikatakan diatas, dan yang terpenting mekanismenya harus jelas disertai dengan data dukung yang memungkinkan untuk diambil kebijakan penghapusan pembukuan, disamping alasan kemanusiaan lainnya terhadap terpidana yang sudah tidak mungkin lagi dipaksakan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara. Responden juga berpendapat bahwa terhadap penghapusbukuan uang pengganti tersebut tidak menghilangkan hak tagih negara, jadi hak tagih negara masih ada sepanjang dikemudian hari sipenanggung piutang mempunyai harta lagi dan dianggap mampu maka dapat ditagihkan kembali. Adapun mekanisme tentang pengahapusan piutang tersebut maka merujuk pada PP Nomormor 14 Tahun 2005

tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara yang melibatkan Instansi KUPN (kantor Urusan Piutang Negara), dimana dalam salah satu pasalnya ditentukan tentang adanya ketentuan yang menyatakan tentang adanya istilah hapus buku dan hapus tagih terhadap piutang negara/daerah.

Sehubungan dengan adanya ketidak sinkronan/perbedaan pandangan mengenai cara pandang antara BPK selaku auditor dan Kejaksaan terhadap piutang Kejaksaan yang berasal dari uang pengganti yang diputus berdasarkan UU Korupsi No 31 Th 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah oleh UU No 20 Th 2001, yang sampai akhirnya piutang Dinas Kejaksaan mencapai ± Rp. 9.666.836.276.102.68,- responden berpendapat bahwa apabila uang pengganti diganti dengan hukuman badan dan telah selesai dijalani oleh terpidana, maka hal tersebut dapat dinyatakan selesai menurut ranah hukum pidana. Tetapi berbeda penyelesaiannya dari ranah hukum administrasi negara. Proses penyelesaiannya adalah melalui mekanisme hukum administrasi negara yang tetap dilaksanakan oleh pejabat tata usaha negara sesuai Pasal 62 ayat (1) dan Pasal 63 ayat (1) UU No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Selain itu uang pengganti yang dijalani dengan diganti hukuman badan tidak dapat dicatat dalam daftar kerugian negara sebagai angsuran/pelunasan. Proses penagihan kerugian negara dalam penyelesaian ranah hukum administrasi negara harus tetap berjalan, apabila sama sekali tidak dapat dilaksanakan maka dapat diselesaikan melalui mekanisme penghapusan. Pelaksanaan hukuman badan sebagai pengganti hukuman uang pengganti dapat sebagai salah satu pertimbangan penyelesaian kerugian negara dalam ranah hukum administrasi negara. Terhadap kendala yang dihadapin JPN dalam penyelesaian uang pengganti yang masih menjadi temuan BPK, responden berasumsi bahwa :

Terpidana sebagai pelaku TPK, namun hasil korupsi tidak hanya a.

Sehingga uang pengganti yang diputuskan oleh pengadilan tidak sebanding dengan harta kekayaan yang dimiliki;

Harta terpidana yang disita, karena proses pengadilan yang b.

panjang sampai adanya putusan inkracht pada saat dilelang nilainya susut sangat besar dari nilai awal aset;

Kesulitan dalam penyelesaian uang pengganti karena aset yang c.

disita kemudian dilelang tidak terdokumentasi dengan baik; Lambatnya proses eksekusi putusan pengadilan;

d.

Penyalahgunaan kewenangan oleh oknum-oknum tertentu atas e.

harta terpidana. Saran responden:

Optimalisasi penyelesaian tunggakan uang pengganti dengan a.

penelusuran aset-aset terpidana, apabila tidak dapat terselesaikan maka pertimbangan tidak dapat tertagih atas tunggakan uang pengganti dapat dipertanggungjawabkan kebenaran formil dan materiil sebagai dasar usulan penghapusan piutang negara; Apabila diperlukan dapat dibuat undang-undang tersendiri yang b.

mengatur tentang pelaksanaan putusan pengadilan atas perkara korupsi yang di dalamnya antara lain mengatur tentang ketentuan umum dan tata cara penyelesaian uang pengganti, serta adanya pengaturan lebih lanjut atas mekanisme penyelesaian piutang uang pengganti atas perkara TPK;

Ke depan

c. database atas putusan hukuman uang pengganti, aset

yang disita serta hasil lelang aset sitaan dapat lebih update dan mutakhir serta adanya sinkronisasi atas database tersebut.

3. Wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Timur

Dari hasil wawancara dengan responden BPK Perwakilan Propinsi Jawa Timur, diperoleh data, bahwa sebelum dikeluarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor: Per-20/A/JA/07/2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Uang Pengganti yang diputus

berdasarkan UU No 3 tahun 1971, Mahkamah Agung RI pernah mengeluarkan SEMA No 4 tahun 1988 tentang eksekusi terhadap hukuman pembayaran uang pengganti yang salah satunya menyebutkan bahwa apabila seandainya dalam pelaksanaan kali ini jumlah barang-barang yang dimiliki oleh terpidana sudah tidak mencukupi lagi, sisanya apabila masih akan ditagihkan oleh kejaksaan pada lain kesempatan harus diajukan melalui gugatan perdata di pengadilan.

Namun kendala yang dihadapi oleh pihak Kejaksaan /JPN untuk dapat melaksanakan ketentuan tersebut antara lain :

Terpidana maupun ahli warisnya sudah tidak ada barang-barang a.

yang dapat disita untuk membayar uang pengganti, sekalipun sudah diupayakan secara optimal;

Harta benda yang diperoleh dari korupsi oleh terpidana banyak b.

yang dipindahtangankan kepada orang lain dengan maksud untuk menghindari penyitaan atau pengembalian kepada negara; Jika ada harta benda para terpidana, kebanyakan tidak mencukupi c.

jumlah uang pengganti yang harus dibayarkan kepada negara. Sehingga hal tersebut masih menjadi tunggakan bagi kejaksaan sehubungan dengan uang pengganti yang diputus berdasarkan UU No 3 tahun 1971. Untuk dapat mengatasi hal tersebut perlu adanya suatu peraturan berupa undang-undang yang mengatur secara tegas sehubungan dengan hal tersebut. Jika berdasarkan pada tujuan upaya pengembalian kerugian keuangan negara maka ketentuan tersebut memang akan dimanfaatkan oleh terpidana dengan menjalani pidana subsidairnya tanpa perlu melaksanakan kewajiban membayar uang pengganti. Namun perlu kiranya penyidik pada saat melakukan proses penyidikan untuk memaksimalkan proses penelusuran aset milik tersangka yang diperoleh sesuai dengan besarnya hasil yang dikorupsi oleh terpidana sehingga tujuan utama pengembalian kerugian keuangan negara tetap dapat dilaksanakan.

Adapun saran responden:

Pedoman dalam pengawasan dan pelaksanaan putusan a.

pembayaran uang pengganti sebaiknya diatur dalam tingkat undang-undang sehingga mempunyai dasar hukum yang jelas dan kuat;

Harus adanya pengawasan sita jaminan didalam eksekusi pidana b.

pembayaran uang pengganti agar sampai ke kas negara, baik sesudah pelelangan harta benda terpidana maupun sebelum pelelangan dan kerjasama antar instansi terkait sangat diperlukan untuk menemukan aset para koruptor.