• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah Jelajah

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 36-40)

Tingkat perjumpaan harimau cenderung terlihat merata dimasing-masing lokasi kamera. Hasil dari camera trap menunjukan lokasi kamera K07, K20 dan K22 memiliki tingkat perjumpaan harimau yang tinggi dengan nilai masing-masing 3,85, 3,79, dan 3,19. Lokasi kamera K07 dan K20 terletak pada tipe hutan sub pegunungan, hanya K22 yang terletak di hutan perbukitan. Hasil ini berbeda dengan yang telah dilakukan oleh Endri (2006) dan Gunawan (2006) yang menyatakan bahwa tingkat perjumpaan harimau paling tinggi yaitu pada hutan dataran rendah lalu hutan perbukitan dan yang terakhir hutan sub

pegunungan. Keduanya merupakan lokasi kamera terluar dan terjauh pembentuk polygon yang hanya didatangi oleh Damar. Sedangkan lokasi kamera K22 merupakan lokasi kamera yang terletak di jalur ex logging dan hanya didatangi oleh Meranti.

Tipe hutan perbukitan dan hutan sub pegunungan yang mendominasi kawasan hutan Batang hari merupakan hutan primer yang masih alami. Kondisi kawasan hutan yang belum terganggu masih dapat memenuhi kebutuhan dari satwa mangsa yang menjadi kunci keberadaan harimau. Karena apabila kualitas habitat menurun, cenderung mengurangi kepadatan suatu jenis pada wilayah tertentu (Meijaard et al, 2005). Menurunnya kelimpahan satwa mangsa tentunya akan mempengaruhi dinamika populasi harimau di suatu wilayah (Karanth & Stith, 1999). Kawasan hutan Batang hari yang memiliki tipe hutan perbukitan yang tidak terlalu curam dan bergelombang, memudahkan pergerakan harimau dalam mengikuti pergerakan satwa mangsa. Kondisi topografi yang datar dan bergelombang cenderung disukai oleh harimau (Seidensticker et al., 1999). Sedangkan tipe hutan sub pegunungan yang ada di kawasan hutan batang hari memiliki topografi yang curam dan terjal. Banyak ditemukan tebing-tebing batu karang yang menjadi tempat istirahat bagi kambing gunung. Walaupun dengan topografi yang curam dan terjal, pada bagian punggung tebing batu masih dapat ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau. Kondisi topografi terebut sebenarnya kurang baik bagi harimau. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hutajulu (2007) di Suaka Margasatwa Rimbang Baling.pernah ditemukan harimau mati karena jatuh terperosok ke jurang saat mengejar mangsa.

Tingkat perjumpaan harimau terendah terletak pada lokasi kamera K 06 dan K 08 yaitu dengan nilai sama 1,25 foto/100 hari. Hal ini dikuti dengan rendahnya tingkat pertemuan satwa mangsa di lokasi tersebut. Satwa mangsa yang terdapat di kedua lokasi tersebut adalah beruang, kijang, dan landak. Harimau membutuhkan mangsa untuk dapat bertahan hidup, jika pada suatu lokasi dimana tingkat perjumpaan mangsa berkurang, harimau cenderung untuk berpindah dan mencari lokasi dimana terdapat kelimpahan mangsa yang cukup. Sumber makanan yang jumlahnya sedikit akan menyebabkan rendahnya kepadatan herbivora yang kemudian dapat menentukan pola keberadaan karnivora besar.

Pada dasarnya setiap tipe hutan yang mampu menyediakan kebutuhan hidup harimau (air, mangsa yang cukup, dan cover ), maka diperkirakan terdapat

tingkat perjumpaan harimau walaupun pada tingkat yang paling rendah. Hal ini dikarenakan harimau merupakan satwa yang aktif dalam pergerakan hariannya, baik untuk berburu, patroli maupun aktivitas lainnya sehingga memerlukan wilayah jelajah yang luas. Smith (1997) menyatakan bahwa wilayah jelajah rata-rata seekor harimau adalah 33 kilometer. Seperti diketahui bahwa luas wilayah jelajah erat kaitannya dengan keberadaan mangsa, pada tingkat kepadatan mangsa yang rendah maka wilayah jelajah harimau akan menjadi lebih luas. (Sriyanto & Rustiadi, 1997). Untuk mengetahui jarak jelajah hariantiidak dapat menggunakan teknologi perangkap kamera. Dibutuhkan teknologi yang lebih maju seperrti radio telemetri untuk mengetahui secara pasti jarak jelajah dari individu harimau.

5.2.5 Perilaku

5.2.5.1 Pola Aktifitas Harimau

Menurut Tilson (1997), harimau umumnya memulai berburu pada sore hari. Pada waktu-waktu tertentu, beberapa jenis satwa mangsa sudah mengurangi pergerakan hariannya. Harimau memangsa jenis-jenis yang melakukan aktivitas pada siang hari, seperti babi hutan, beruk dan kijang dan pada malam hari melakukan pemangsaan terhadap rusa dan pelanduk. Pada hutan perbukitan harimau banyak menghabiskan waktu pada malam hari menjelang pagi hari karena untuk menghindari gangguan yang disebabkan oleh manusia disekitar daerah ini. Karanth & Sunquist (1995) menyatakan bahwa harimau memerlukan makanan tiga kali lebih banyak daripada macan dahan.

Harimau yang ada di hutan sub pegunungan lebih banyak menghabiskan waktunya pada siang hari. Walaupun dengan kepadatan satwa mangsa yang tidak terlalu tinggi, namun pada daerah ini masih terdapat kambing hutan dan babi hutan yang memiliki biomassa besar. Oleh sebab itu, dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencari mangsa yang juga berhubungan dengan kepadatan satwa mangsa pada suatu lokasi (Hutajulu, 2007). Perubahan pola aktivitas harian harimau sumatera juga kemungkinan disebabkan oleh tekanan dari manusia yang banyak beraktivitas di dalam kawasan dan di pinggir kawasan sehingga menyebabkan perubahan kualitas habitat dan menurunnya kelimpahan satwa mangsa utama.

5.2.5.2 Mengasuh Anak

Pada lokasi penelitian ditemukan perilaku membesarkan anak oleh harimau. Berdasarkan foto dari perangkap kamera, harimau betina dewasa bernama gumanti sedang bersama dua ekor harimau muda lainnya yang diduga adalah anaknya. Salah satu anak dari gumanti kemudian tertangkap oleh perangkap kamera beberapa kali sedang melakukan pergerakan harian. Tilson dan Jackson (2004) menyatakan bahwa saat umur 6 bulan, anak harimau secara lambat belajar berburu dan membunuh mangsa. Lebih lanjut Tilson dan Jackson (1994) menyatakan bahwa pada umur 18 bulan, anak jantan akan pergi untuk mencari wilayah teritorialnya sendiri. Anak betina cenderung tinggal lebih lama dengan induknya. Dalam membesarkan anaknya pejantan tidak ambil bagian karena diduga kan membahayakan anak-anaknya.

Tilson dan Jackson (1994) menyatakan bahwa pada umumnya betina muda meninggalkan wilayah territorial induknya ketika induknya estrus kembali dan bersikap lebih agresif, namun terkadang induknya memperbolehkan salh satu dari anak betinanya untuk mendirikan wilayahnya sendiri dalam wilayah teritorialnya (wilayah territorial si induk). Anak betina tersebut kemungkinan kawin dengan bapaknya setelah dewasa. Setelah semua anaknya sudah dewasa, induk akan mengusir semua anak-anaknya dari wilayah teritorinya. Selama hidup harimau betina kemungkinan kawin dengan beberapa pejantan, karena struktur social pada perkawinannya yaitu poligami, satu jantan dengan banyak betina (Smith, 1994).

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 36-40)

Dokumen terkait