BPBD KOTA CILEGON
4.4 Analisis Hasil Penelitian
4.4.3 Wujud Perilaku (Performane)
Peran yang diwujudkan oleh aktor, meninjau perwujudan peran ini dengan memperkenalkan istilah permukaan (front), yaitu untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu yang diekspresikan secara khusus agar orang lain mengetahui dengan jelas peran si pelaku (actor). Dengan demikian, Pusdalops Kota Cilegon merupakan satuan tugas yang ada di BPBD Kota Cilegon yang berperan sebagai pengelola informasi kebencanaan dan pengendali koordinasi antar intansi terkait kebencanaan, stakeholder dan masyarakat. Sehingga peran dan wujud perilaku yang ditunjukkan oleh Pusdalops Kota Cilegon disini sangat penting.
Dalam wujud perilaku terdapat dua sub dimensi yang terdiri dari peran dan pelaporan, sehingga kerentanan dan dampak bencana yang dikhawatirkan pun dapat dicegah dan diminimalisir sebelum bencana
tersebut benar-benar terjadi. Pertama, mengenai dimensi wujud perilaku (performance), peneliti mengajukan pertanyaan yang paling mendasar yaitu apa peran Pusdalops Kota Cilegon. Berikut jawaban yang diungkapkan oleh Manajer Pusdalops:
“Peran Pusdalops Kota Cilegon itu sebagai pengelola informasi
kebencanaan sekaligus pengendali koordinasi antara pemerintah, lembaga, dunia usaha dan masyarakat. Pengelolaan informasi tersebut dilakukan setiap hari oleh Pusdalops di Rupusdalops, sedangkan koordinasi dilakukan pada saat terjadi bencana dan pasca bencana dengan instansi kebencanaan terkait sesuai dengan data yang ada dan yang dibutuhkan oleh masyrakat. Pada saat terjadi bencana, personil Pusdalops juga ikut turun ke lokasi bencana untuk membantu masyarakat melakukan evakuasi korban dan penyelamatan, kaji cepat data, bantuan logistik termasuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait kebencanaan tadi.”
(Wawancara dengan I1.1, 13 Ferbuari 2017, Pukul 9.15 WIB, di BPBD Kota Cilegon)
Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh I1.1 dapat disimpulkan bahwa peran Pusdalops Kota Cilegon yaitu sebagai pengelola informasi kebencanaan dan sebagai pengendali koordinasi. Peran Pusdalops Kota Cilegon sebagai pengelola informasi kebencanaan merupakan kegiatan harian yaitu melakukan pemantauan kondisi geografis Kota Cilegon melalui monitor di Rupusdalops (Crisis Centre) Kota Cilegon. Sedangkan, peran Pusdalops Kota sebagai pengendali koordinasi hanya dilakukan pada saat terjadi bencana dan pasca bencana dengan instansi-instansi terkait kebencanaan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak dari bencana tersebut. Selain itu, peran Pusdalops Kota Cilegon pada saat terjadi bencana juga turun ke lokasi
bencana untuk melakukan evakuasi korban, penyelamatan, kaji cepat data serta memberi bantuan logistik.
Hal senada juga diungkapkan oleh I1.2:
“Peran Pusdalops Kota Cilegon itu untuk menganalisa kejadian bencana di Kota Cilegon pada tahap pra bencana, pada saat terjadi bencana Pusdalops juga mengelola data kejadian dan aktivasi tanggap darurat yaitu evakuasi korban, harta bencana, peyediaan logistik dan peralatan penanggulangan bencana serta menjalin koordinasi dengan dinas-dinas kebencanaan terkait pada saat terjadi bencana dan pasca bencana untuk dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksinya. Jadi, pusatnya informasi dan komunikasi kebencanaan ada di Pusdalops Kota Cilegon berbasis
data.” (Wawancara dengan I1.2, 13 Februari 2017, Pukul 11.15 WIB, di Posko Pusdalops BPBD Kota Cilegon)
Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh I1.1 dapat disimpulkan bahwa peran Pusdalops Kota Cilegon yaitu menganalisa kejadian bencana pada tahap pra bencana, pada saat terjadi bencana dan pasca bencana yang berbasis data. Pada tahap pra bencana, Pusdalops Kota Cilegon menganalisa kejadian bencana di Rupusdalops (Crisis Centre). Pada saat terjadi bencana, Pusdalops Kota Cilegon mengelola kejadian bencana dengan melakukan kaji cepat data dan aktivasi tanggap darurat. Pusdalops Kota Cilegon juga menjalin koordinasi dengan instansi-instansi kebencanaan pada saat terjadi bencana dan pasca bencana untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Hal ini dipekuat dengan pernyataan yang diungkapkan oleh I7.1 sebagai berikut:
“Peran pusdalops itu ada tiga yaitu pra bencana, saat bencana
dan kegiatan, seperti desa/kelurahan tanggap bencana (DESTANA). Pusdalops ini mendampingi destana untuk persiapan ketika terjadi bencana. Pada saat bencana, jelas Pusdalops turun tangan seperti pada banjir kemarin di merak, itu Pusdalops yang turun tangan, kita bunyi kan saja frekuensi ini, mereka pasti selalu siap. Kalau pasca bencana yang menyalurkan bantuan itu BPDB. Dinas-dinas tersebut menyalurkan bantuannya lewat BPBD, nanti
yang menyalurkan lagi Pusdalops.” (Wawancara dengan I7.1, 10 Maret 2017, Pukul 16.55 WIB, di Kampus Untirta Cilegon)
Dari pendapat yang disampaikan oleh I7.1 dapat disimpulkan bahwa Pusdalops Kota Cilegon memainkan perannya yaitu pada pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Peran Pusdalops Kota Cilegon pada pra bencana melakukan pemantauan secara rutin di Rupusdalops dan membuat program dan kegiatan seperti desa tangguh bencana (DESTANA). Pada saat terjadi bencana, peran Pusdalops yaitu membantu masyarakat langsung ke lokasi bencana. Sedangkan untuk pasca bencana, Pusdalops mengkoordinasikan instansi terkait kebencanaan untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi sesuai dengan tupoksi masing-masing.
Namun, dalan hal melakukan kegiatan pra bencana, saat bencana dan pasca bencana, juga terdapat kendala yang dikeluhkan. Peneliti mencoba menanyakan mengenai kendala apa yang ditemukan Pusdalops Kota Cilegon dalam pengelolan informasi kebencanaan. Berikut jawaban yang diungkapkan I1.1 selaku Manajer Pusdalops:
“Kendala dalam pengelolaan informasi yaitu lebih kepada sarana dan prasarana yang tidak memadai. Kita tahu dalam melakukan akitivitas pemantauan kita memerlukan alat seperti monitor, namun untuk saat ini monitor yang dimiliki pusdalops mengalami
kerusakan, hanya 1 yang berfungsi dari 3 monitor yang dimiliki.”
(Wawancara dengan I1.1, 13 Ferbuari 2017, Pukul 9.20 WIB, di BPBD Kota Cilegon)
Dari pernyataan yang disampaikan oleh I1.1 dapat disimpulkan bahwa kendala yang dialami Pusdalops Kota Cilegon yaitu pada saat melakukan akitivitas pemantauan di Rupusdalops (Crisis Centre) karena terkendala peralatan yang tidak berfungsi salah satunya monitor yang merupakan alat yang cukup penting dalam melakukan pengelolan informasi kebencanaan. Senada dengan yang dikatakan oleh I7.1 bahwa:
“Semua alat dimiliki Pusdalops tapi keadaannya tidak berfungsi.
DVB mati jadi untuk saat ini tidak bisa broadcast ke instansi-instansi, kayak kemarin kejadian di Cilegon ada gempa 10 km kedalamnya, kecil 3,5 SR. DVB Pusdalops mati. Jadi untuk sarana pengelolaan informasi kebencanaan dibilang punya ya punya Pusdalops itu, tapi semuanya rusak.” (Wawancara dengan I7.1, 10 Maret 2017, Pukul 17.00 WIB, di Kampus Untirta Cilegon)
Dari jawaban yang disampaikan oleh I7.1 dapat disimpulkan bahwa kendala yang ditemukan oleh Pusdalops Kota Cilegon yaitu rusakya sarana dan prasarana yang dimiliki Pusdalops Kota Cilegon seperti tidak berfungsinya DVB (Digital Video Broadcats) yang merupakan sarana untuk mendisemeniasikan peringatan dini kepada stakeholder, instansi terkait kebencanaan, relawan-relawan dan masyarakat. Pendapat lain dikatakan oleh staf operator Pusdalops Kota Cilegon sebagai berikut:
“Kendala dalam pengumpulan informasi yaitu monitoring.
Monitor yang dimilki pusdalops hanya 3, dimana 2 tidak berfungsi. Sementara, monitoring sangat penting dalam pengelolaan informasi kebencanaan untuk mendeteksi kejadian bencana yang akan terjadi di Kota Cilegon. Hambatannya ada diperalatan, yaitu monitor mati. Namun, kendala ketika terjadi bencana yaitu saat melakukan koordinasi, karena kita melalui via telpon, masalah pertama tidak ada sinyal, masalah kedua pulsanya (namanya dilapangan tahu-tahu pulsa habis bingung belinya), ketiga
dengan I1.2, 13 Februari 2017, Pukul 11.20 WIB, di Posko Pusdalops BPBD Kota Cilegon)
Dari pernyataan yang disampaikan oleh I1.2 dapat disimpulkan bahwa kendala yang dialami Pusdalops Kota Cilegon tidak hanya pada pra bencana yakni pada saat pengumpulan informasi kebencanaan seperti tidak berfungsinya monitor. Kendala lain juga ditemukan Pusdalops Kota Cilegon pada saat terjadi bencana yaitu terhambatnya kooordinasi yang dijalankan oleh Pusdalops Kota Cilegon. Kendala tersebut diantarannya tidak terdapat sinyal jika berada di lokasi yang sulit terjangkau atau bahkan kehabisan pulsa karena Pusdalops Kota Cilegn melakukan koordinasi melalui via telepon, selain itu jaringan komunikasi radio juga terkadang suka error.
Kemudian, terkait dengan peran Pusdalops peneliti juga mempertanyakan mengenai jaringan komunikasi apa saja yang dipakai Pusdalops Kota Cilegon dalam mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat dan instansi kebencanaan. Berikut upaya yang telah dilakukan oleh BPBD dan Pusdalops Kota Cilegon untuk mendesiminasikan peringatan kepada masyarakat berupa himbauan atau pemberitaan Early Warning melalui 5 stasiun radio, yaitu:
a. PT. Radio 2Threefour Mediatama Communication (SAM Radio 96,9 MHz);
b. PT. Radio Swara Kukila Kenari (Banten Radio Frekwensi 95,3 MHz);
c. PT. Radio Top Persada (Top FM Cilegon Frekwensi 91,8 MHz); d. PT. Radio Khatulistiwa Sentra Senada (Kis FM Frekwensi 90,2
MHz);
Kemudian, himbauan juga dilakukan melalui media cetak dan media elektronik, dengan rincian sebagai berikut:
a. Media Cetak dilaksanakan pada 4 media massa lokal yaitu: Radar Banten, Kabar Banten, Banten Pos dan Banten Raya. Selain itu dilakukan sosialisasi melalui Leafleat, Stiker, Benner, dan Plang Himbauan/Larangan.
b. Media Elektronik dilaksanakan pada 4 media online yaitu: Banten News, Local 1 News, Sebelasnews, dan Berita Cilegon.
Seperti yang dijelaskan oleh I1.1:
“Pada pra bencana, jaringan komunikasi yang dipakai untuk mendesiminasikan informasi kebencanaan lewat WhatsApp Group, karena semua instansi kebencanaan, stakeholder dan masyarakat tergabung disitu. Kita share data dan informasi yang dianalisis oleh Pusdalops secara rutin setiap harinya. Selain itu kita juga kerja sama dengan beberapa radio untuk memberikan himbauan kepada masyarakat Kota Cilegon terkait kebencanaan. Pada saat terjadi bencana atau tanggap darurat, jaringan komunikasi yang dipakai by phone aja kita mendiseminasikannya, baik ke masyarakat maupun instansi, agar lebih cepat penanganan penanggulangan bencananya. Kemudian pasca bencana, kita juga bekerja sama dengan media cetak dan media elektronik, segala bentuk bencana di Kota Cilegon seperti banjir, kegagalan teknologi, longsor, pohon tumbang selalu diberitakan agar masyarakat tahu informasi tersebut dan mengetahui titik-titik
rawan bencana di Kota Cilegon.” (Wawancara dengan I1.1, 13 Ferbuari 2017, Pukul 9.25 WIB, di BPBD Kota Cilegon)
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa jaringan komunikasi yang digunakan Pusdalops Kota Cilegon pada pra bencana untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat yaitu himbauan melalui radio-radio lokal serta melalui WhatsApp Group. Kemudian pada saat terjadi bencana jaringan komunikasi yang digunakan yaitu melalui via telepon agar bencana bisa cepat ditanggulangi.
Sedangkan untuk pasca bencana Pusdalops Kota Cilegon telah bekerjasama dengan media cetak dan media elektronik.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Mitigasi Bencana dan Human Factor Fakultas Teknik Untirta menyatakan bahwa:
“Mendiseminasikannya pakai WhatsApp, HT, Radio Komunikasi, pakai amatir radio. Kalau internet Cilegon belum aktif. Ada media sosial, koran, banyak kerjasama dengan media elektronik maupun cetak. Kalau Koran itu pasca. Pakai HT tapi tidak semua kecamatan punya HT. DVB yang dimiliki Pusdalops mati. Jadi, untuk saat ini tidak bisa broadcast ke instansi-instansi terkait kebencanaan dan stakeholder.” (Wawancara dengan I7.1, 10 Maret 2017, Pukul 17.05 WIB, di Kampus Untirta Cilegon)
Berdasarkan pernyataan di atas yang disampaikan oleh I7.1 dapat disimpulkan bahwa jaringan komunikasi yang dipakai Pusdalops Kota Cilegon dalam mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat yaitu melalui WhatsApp, Handy Talk dan radio komunikasi. Selain itu, Pusdalops Kota Cilegon mneggunakan jaringan komunikasi yaitu media cetak dan media elektronik untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat.
Sebagai tindak konfirmasi, peneliti juga menanyakan hak serupa kepada masyarakat. Berikut pendapat yang diberikan oleh I5.3:
“Enggak tahu pakai apa. katanya sih ada himbauan tentang kebencanaan melalui radio, tapi kan orang zaman sekarang udah jarang dengerin radio, yang ada malah itungannya televisi kan, elektroniknya.” (Wawancara dengan I5.3, 20 Februari 2017, Pukul 14.25 WIB, di Link. Dermaga Malang, Kelurahan Gerem)
Berdasarkan pernyataan di atas yang disampaikan oleh I5.3 dapat disimpulkan bahwa masyarakat belum mengetahui jaringan komunikasi yang dipakai Pusdalops Kota Cilegon dalam mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat. Dan berpendapat bahwa di zaman modern ini, radio bukan jaringan komunikasi yang efektif untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat.
Namun, masyarakat yang terkena banjir di Link. Sawah Kelurahan Tamansari menyatakan pendapat yang berbeda sebagai berikut:
“
Yang saya tahu, BPBD Kota Cilegon bekerjasama dengan radio-radio lokal kayak SAM Radio, Mandiri FM, suka ada pemberitahuan tentang bencana gitu. Selain itu, yang saya tahu juga mereka bekerja sama dengan media eletronik tinggal buka berita online cilegon itu berita bencana ada semua, dikoran-koran juga ada beritanya.” (Wawancara dengan I5.4, 3 April 017, Pukul 16.22 WIB, di Link. Sawah, Kelurahan Tamansari)Berdasarkan pernyataan di atas yang disampaikan oleh I5.4 dapat disimpulkan bahwa masyarakat telah mengetahui jaringan komunikasi yang dipakai Pusdalops Kota Cilegon dalam mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat yaitu radio, media elektronik dan media cetak. Kemudian, masyarakat lainnya mengatakan bahwa:
“
Kalau disini ngasih tahu masyarakatnya pakai speaker masjid buat ngasih tahu kalau ada bencana atau ada masyarakat dilingkungan kita yang kena bencana. Pakai telpon juga biasanyabuat ngehubungin pak RT, pak Lurah.” (Wawancara dengan I5.5, 4 April 2017, Pukul 8.50 WIB, di Link. Watulawang, Kelurahan Gerem)
Pernyataan yang serupa juga dilontarkan oleh Kodim 0623 Cilegon:
“Kalau jaringan komunikasi yang digunakan kepada masyarakat, kita menggunakan sarana HP, WhatsApp Group kelurahan / BPBD, gitu kan. Untuk langsung ke masyarakat menggunakan himbauan dengan menggunakan sarana yang ada seperti pengeras
suara di masjid atau mushola.” (Wawancara dengan I3.1, 23 Februari 2017, Pukul 10.15 WIB, di Kodim 0623 Cilegon)
Berdasarkan kedua pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa jaringan komunikasi yang dipakai untuk mendiseminasikan peringaatan dini kepada masyarakat selain menggunakan telepon dan WhatsApp Group juga menggunakan alat pengeras suara (speaker) masjid. Hal ini diperkuat dengan penyataan oleh I5.1:
“Kalau masuk ke siaga bencana (tanggap darurat), pertama dari
speaker masjid, terus dari telepon, misal ada hujan deras. Masyarakat yang tinggal diatas, menginformasikan kepada
masyarakat yang dibawah, “hati-hati yang dibawah air debit tinggi dari atas. Itu bisa dari hp atau speaker masjid. Dari whats App juga, karena ketua PRB kan tinggalnya juga diatas, pak kurtubi itu. Jadi langsung di share di WhatsApp. Kalau mati listrik alternatifnya pakai kentongan, ada kode-kodenya, kalau dibunyikannya cepat tandanya udah bahaya, namun warga belum tahu, itu akan kita sosialisasikan. Karena kita sekarang masih pakai hp, lagian kalau kentongan belum tentu terdengar dari atas ke bawah, soalnya jarak dari kampung ke atas itu jauh, sekitar 2 km lebih, jadi otomatis kentongan juga tidak akan terdengar.
Rencananya sih akan diadakan penggunaan HT.” (Wawancara dengan I5.1, 1 Maret 2017, Pukul 16.35 WIB, di Kelurahan Gerem) Berdasarkan jawaban yang disampaikan oleh I5.1 dapat disimpulkan bahwa jaringan komunikasi yang dipakai untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat pada saat tanggap darurat atau terjadi bencana yaitu menggunakan telepon dan WhatsApp. Selain itu juga memanfaatkan sarana yang ada di masyarakat berupa pengeras suara di
masjid dan mushola. Sedangkan apabila kondisinya sedang mengalami mati listrik, maka alternatif yang digunakan yaitu kentongan. Hal tersebut dibenarkan oleh staf operator Pusdalops Kota Cilegon yang menyatakan bahwa:
”Untuk menyebarkan informasi saat ini Pusdalops memakai
jaringan komunikasi melalui WhatsApp Group dan telepon mendiseminasikan peringatan dini untuk masyarakat dan instansi kebencanaan, DVB dan Sirine kan masih tidak berfungsi. Jadi untuk sementara masih menggunakan pesan berantai saja melalui WhatsApp dan telepon, karena keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki Pusdalops Kota Cilegon dalam mendistribusikan
peringatan dini kepada masyarakat.” (Wawancara dengan I1.2, 13 Februari 2017, Pukul 11.30 WIB, di Posko Pusdalops BPBD Kota Cilegon)
Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh I2.5:
“Dulu pembentukan crisis centre waktu rame-ramenya tsunami, tujuannya untuk memberikan mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat, saya tidak tahu jalan apa tidak. Cuma sampai saat ini, belum ada peringatan dini yang disampaikan atau dikeluarkan oleh Pusdalops Kota Cilegon dari Rupusdalops (Crisis Centre) mungkin karena belum ada bencana yang benar-benar dampaknya besar sekali. .Untuk jaringan komunikasi yang dipakai saat ini hanya melalui telepon dan WhatsApp Group.”
(Wawancara dengan I2.5, 16 Februari 2017, Pukul 11.25 WIB, di Kantor Pemadam Kebakaran Kota Cilegon)
Berdasarkan pernyataan di atas yang disampikan oleh I2.5, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini belum ada bentuk peringatan dini yang keluar dari Rupusdalops (Crisis Centre) Tetapi, komunikasi terkait kebencanaan tetap dijalankan mengunakan telepon dan WhatsApp Group.
Pernyataan lain juga disampaikan oleh Pihak Kepolisian Polres Cilegon:
“Saya pikir dibeberapa tempat sudah disiapkan alarm, namanya
Early Warning System (sistem peringatan dini), untuk lokasinya dimana saja bisa tanyakan langsung ke BPBD Kota Cilegon, ya. Untuk instansi informasi diberikan lewat WhatsApp Group maupun twitter, instagram, FB, polres sudah memiliki semua medsos itu, jadi masyarakat bisa tag akun polres cilegon terkait kebencanaan di Kota Cilegon. Ada satu lagi yang penting dalam menindaklanjuti terkait kebencanaan yaitu Polda Banten telah
melaunching namanya itu “Banten Bersatu” yang dibisa diunggah
dari Playstore. Tanggal 23 Januari 2017. Karena terkait kebencanaan itu penting ya. Ini merupakan sarana komunikasi dengan masyarakat dan bentuk komunikasi yang dijalan antara pemerintah dengan masyarakat. Kalo mau memberi laporan
tinggal tekan “darurat”. Kalo informasinya palsu, bisa dideteksi.”
(Wawancara dengan I4.1, 28 Februari 2017, Pukul 12.55 WIB, di Polres Cilegon)
Berdasarkan jawaban di atas yang disampaikan oleh I3.1 dapat disimpulkan bahwa jaringan komunikasi yang dipakai Pusdalops Kota Cilegon untuk mendiseminasikan peringatan dini kepada masyarakat yaitu melalui WhatsApp dan beberapa alarm dititik rawan bencana. Sementara Polres Cilegon sendiri telah memiliki akun media sosial di Twitter, Instagram maupun Facebook untuk mempermudah masyarakat melaporkan kejadian bencana yang mereka alami. Selain itu pihak kepolisian juga telah melaunching “Banten Bersatu” yang merupakan
terobosan baru dari Polda Banten dalam menindaklanjuti terkait kebencanaan.
Masih mengenai dimensi wujud perilaku (performance), peneliti mengajukan pertanyaan yaitu bagaimana Pusdalops Kota Cilegon
menyikapi SOP yang tumpang tindih dengan bidang tanggap darurat BPBD Kota Cilegon. Berikut jawaban yang diberikan oleh Manajer Pusdalops:
“Karena untuk saat ini Pusdalops Kota Cilegon belum mempunyai SOP sendiri. Jadi, sementara kita pakai tanggap darurat, menyikapiya dengan tanggap darurat. Tapi menurut saya, SOP khusus diperlukan agar mengefektifkan ketika operasi bencana dan pengumpulan data.” (Wawancara dengan I1.1, 13 Ferbuari 2017, Pukul 9.30 WIB, di BPBD Kota Cilegon)
Berdasarkan jawaban di atas yang disampaikan oleh I1.1 dapat disimpulkan bahwa untuk saat ini Pusdalops Kota Cilegon pada saat terjadi bencana atau tanggap darurat, prosedur yang digunakan masih memakai prosedur bagian tanggap darurat BPBD Kota Cilegon. Tapi menurut beliau perlu adanya SOP tersendiri untuk mengefektifkan peran Pusdalops dalam mengelola informasi kebencanaan maupun menjalin koordinasi dengan instansi kebencanaan serta masyarakat agar berjalan lebih efektif.
Pendapat lainnya justru berbeda, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Mitigasi Bencana dan Human Factor Fakultas Teknik Untirta:
“Ada SOP pusdalops tapi belum di kaji ulang. Ada di lemari warna orange, saya sudah dikasih tahu, bappeda yang ngasih tahu, bukan BPBD. Pak sabri orang Bappeda yang ngasih tahu. Dulu Pusdalops dibawah Kesbanglinmas, sekarang pindah ke BPBD jadi BPBD ketimpa tugas banyak, belum sampai untuk mengkaji SOP. SOP-nya jelas dan rinci, dokumennya ada, hanya
saja belum dikaji ulang.” (Wawancara dengan I7.1, 10 Maret 2017, Pukul 17.10 WIB, di Kampus Untirta Cilegon)
Berdasarkan pernyataan di atas oleh I7.1 dapat disimpulkan bahwa SOP Pusdalops Kota Cilegon sebenarnya sudah ada tetapi belum dikaji ulang oleh BPBD Kota Cilegon. Karena BPBD Kota Cilegon baru berdiri sekitar 2 tahun sehingga masih banyak program dan kegiatan yang harus disosialisasikan dan belum sampai untuk melakukan kaji ulang mengenai SOP Pusdalops.
Kedua, yaitu mengenai pelaporan kejadian bencana yang dilakukan Pusdalops Kota Cilegon apakah sudah tersistematif. Pelaporan pada Pusdalops ini dimaksudkan sebagai media aliran data dan informasi serta pertanggungjawaban baik secara lisan maupun secara tertulis. Berikut hal yang disampaikan oleh Manajer Pusdalops I1.1 :
“Pelaporan dilaksanakan dengan cara sistematis. Untuk membuat
laporan kejadian bencana dihimpun oleh operator pusdalops kota cilegon yang sedang piket di Rupusdalops kemudian mencatatnya di dalam log book harian mereka. Selanjutnya, laporan harian tersebut ditandatangani oleh ketua regu. Laporan harian ini kemudian diserahkan kepada saya selaku Manajer Pusdalops untuk diteruskan lagi ke Kepala BPBD Kota Cilegon. Catatan harian operator Pusdalops ini berisi rangkuman atau rekapitulasi dari log book yang disusun dalam format baku yang sudah
ditentukan.” (Wawancara dengan I1.1, 13 Ferbuari 2017, Pukul 9.35 WIB, di BPBD Kota Cilegon)
Dari pendapat yang disampikan oleh I1.1 dapat disimpulkan bahwa pelaporan yang dihimpun oleh Pusdalops Kota Cilegon telah tersistematif. Mulai dari melakukan pemantauan, kemudian mencatatnya dalam log book harian, kemudian laporan tersebut diserahkan kepada Manajer Pusdalops Kota Cilegon yang sebelumnya telah di tandatangani oleh petugas piket,
sampai dengan laporan tersebut diteruskan kepada Kepala BPBD Kota Cilegon. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh I1.2:
“Pelaporan kejadian bencana sudah tersistematif. Pertama,
laporan kami peroleh dari hasil pantauan atau ada laporan dari masyarakat. Kalau laporan tersebut bersumber dari masyarakat, Pusdalops melakukan assessment dengan dinas-dinas terkait yang