• Tidak ada hasil yang ditemukan

Y.B. Mangunwijaya (1929-1999)

BAB II TOKOH DAN KARYA

B. Arsitektur Timur (Asia)

4. Y.B. Mangunwijaya (1929-1999)

Gambar 31

Masjid Muhammad Suharto, Sarajevo, Bosnia(1995)

Gambar 32

Masjid Syekh Yusuf, Cape Town, Afrika Selatan(1995)

4. Y.B. Mangunwijaya (1929-1999)

TEKNIK GAMBAR DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI ISLAM

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniawan, budayawan, arsitek, penulis, dan aktivis.

Kang ingaran urip mono mung,  Jumbuhing badan wadhag lan ba-tinѐ, pepindhanѐ wadhan lan isinѐ… Jeneng wadhan yѐn tanpa isi, alah dѐnѐ aranѐ wadhah,tanpa tanja tan ana pigunanѐ. Semono uga isi tanpa wadhah,  yekti barang mokal…  Tumrap urip kang utama,  tertamtu ambutuhakѐ wadhah lan isinѐ, Kang utama karo-karonѐ.”

“Yang disebut hidup (sejati) tak lain, adalah leburnya tubuh,  jasmani dengan batinnya. Ibarat bejana danisinya…Disebut bejana bila tiada isi, Tak ada artinya disebut bejana, Sia-sia tak ada gunanya.  Demikian juga isi tanpa bejana,  sungguh hal yang mustahil…  Demi hidup yang baik,  Tentulah dibutuhkan bejana dan isi yang baik (atau: sebaiknyalah) kedua- duanya.”(Dialog Sang Hyang Bhatara Wairocono dengan Sang Kunjorokarno & Purnowijoyo)(http:// iplbi.or.id/ 2016/ 03/ sajak- wastu-mangunwijaya)

Kutipan tersebut berasal dari “Serat Dewa Ruci”, sajak indah nenek moyang yang sangat mengilhami Dipl. Ing. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr (1929-1999) atau yang biasa dipanggil Romo Mangun dalam melakoni, merefleksikan, dan berkarya selama hidupnya. Menurut Romo Mangun, agar menjadi badan manusiawi yang sempurna, manusia harus menjadi roh (Mangunwijaya, 2013: 15). Perkataan J.B. Metz pun melengkapi dialog yang menjadi refleksi Romo Mangun tersebut: “Agar menjadi roh manusiawi yang sempurna, ia (manusia) harus menjadi badan”. Semua itu memiliki inti bahwa pada dasarnya manusia merupakan kesatuan tunggal hakiki: rohani- jasmani. Bukan dualisme jasmani dan rohani.

Permukiman Tepi Kali Code atau lazim disebut Kampung Kali Code, Yogyakarta pada awalnya merupakan permukiman liar dan kumuh di tepi kali yang dihuni oleh orang-orang yang termarginalkan, bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat yang terdiri atas gelandangan, kriminal, dan prostitusi. Hingga akhirnya pada tahun 1980, pemerintah pun merencanakan

Tokoh dan Karya

  Romo Mangun merupakan salah satu orang yang berdiri di depan untuk menentang rencana pemerintah. Beliau meyakini bahwa menggusur warga bukanlah solusi yang tepat atas persoalan yang terjadi. Konsep utamanya adalah menghadirkan rumah yang tidak hanya sehat jasmani, tetapi juga secara psikis. Pembangunan kampung dengan gotong royong, yang merupakan akar dari falsafah Pancasila. Masyarakat bekerja sama mulai dari membangun, mewarnai bersama bangunannya, hingga merawat Kampungnya. Material bahan bangunan tersebut adalah yang akrab dengan rakyat, seperti bambu sebagai tiang, gedeg (anyaman bambu) sebagai tembok, serta seng sebagai atap dipilih untuk mengisi bangunan.

Romo Mangun menampilkan perbagai gejala arsitektur secara holistis bukan hanya tentang keterampilan teknis yang bersifat praktis, ataupun tentang estetis serta fungsional belaka melainkan pula mencerminkan jiwa, mental, serta sikap budaya pembuat dan pemiliknya yang murni mengangkat hakikat dan martabat alam.Karya bangun Mangunwijaya tumbuh dari suatu keakraban dengan alam setempat, dengan penyampaian yang wajar tapi sarat pesan. Keinginan Mangunwijaya menghadirkan sebuah substansi untuk mendorong hadirnya arsitekur nusantara terlihat dari penjiwaannya terhadap arsitektur rumah-rumah tradisional dan juga candi di Indonesia”. Gaya arsitektur nusantara tersebut telah kita lihat bersama diterapkan dalam permukiman Kali Code.

Konsistensi tersebut dapat dikatakan tercipta sejak karya Romo Mangun yang pertama. Yaitu Gereja Santa Maria Assumpta, Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1968:

“Sebagian orang memaknai bentuk bangunan Gereja Santa Maria Assumpta, Klaten ini sebagai ‘burung yang sedang membentangkan sayap’. Sebagian lagi juga melihat symbol-simbol pohon kehidupan pada relief din-ding luarnya. Lebih jauh lagi ternyata kolom yang berada di tengah adalah bagian dari saka guru (simbol jawa). Di dalamnya sangat banyak komponen bangunan dengan berbagai makna. Bangunan ini sungguh kaya dari segi bentuk dan pemaknaannya” (Napitupulu, 2013)

TEKNIK GAMBAR DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI ISLAM

arsitektur nusantara sebagai kearifan lokal, keselarasan rancangan dengan martabat alam, dan dialog kemanunggalan rohani-jasmani arsitektur yang berasal dari sosio-kultural manusia itu sendiri yang sarat dengan makna serta pesan. Dari ciri-ciri karya arsitektural yang koheren dengan tulisan dan pandangannya di bidang arsitektur: Wastu Citra. Sehingga, bisa ditarik ke-simpulan pembelajaran teori desain arsitektur Romo Mangun.

  Dalam bab terakhir “Wastu Citra” (1988) yang berjudul “Mencari Kembali Makna Arsitektur”, Romo Mangun secara tegas menyatakan ketidakberpihakan dia pada terminologi istilah ‘Arsitektur’ yang memiliki makna terbatas pada teknis statika bangunan belaka. Romo Mangun cenderung setuju dengan kebijaksanaan nenek moyang yang menyebut ‘Arsitektur’ sebagai Vasthu/ Wastu. Vasthu/ Wastu memilki makna yang jauh lebih luas. Ada aspek pembangunan rohani-jasmani yang berfalsafahkan trans-formasi: pengubahan radikal keadaan manusia.

Vasthu/ Wastu yang benar tersebut dapat terwujud sesuai dengan dua prinsip perancangan: Guna dan Citra. ‘Guna’ di sini dapat dikatakan mencakup prinsip firmitas dan utilitas yang dicetuskan oleh Vitruvius. Bahwa ‘Guna’ tidak hanya berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tetapi le bih dari itu punya Daya yang menyebabkan manusia bisa hidup lebih me-ningkat. Semua itu bertalian dengan ‘Citra’, yang dapat dikatakan mencakup prinsip venustas, bahkan lebih dari sekedar estetika belaka. Citra menunjuk pada suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang. Terkait dengan Citra ini, Romo Mangun memberikan suatu penekanan:

“Citra yang menunjuk kepada sesuatu yang memberi makna, yang mampu membuat kita melihat beyond atau di balik ‘yang hanyadisini’, me-ngatasi hal-hal wadaq materialistik belaka atau ekonomik kalkulabel belaka, dan sebagainya. Arti, makna, kesejatian, citra, semua itu mencakup estetika, namun juga kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, yang bukan seerba kebetulan atau kesemerawutan, melainkan suatu kosmos teratur lagi harmonis”

Tokoh dan Karya

arsitektur adalah simbol dari sebuah kosmos. Suatu hal yang sangat dekat dengan falsafah Jawa kuna: Ajrih-asih. Bahwa menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan mengangkat martabat alam. Sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi. Kedua, arsitektur adalah cermin dari sebuah sikap hidup. Sikap hidup ini dilatarbelakangi oleh orientasi diri yang berdasarkan pada kecerlangan kebenaran. Kebenaran bahwa manusia merupakan keesaan dari jasmani-rohani yang menjadi pembuka tulisan ini. Contohnya adalah ke sadaran tentang jiwa bangsa- negara yang terejawantahkan dalam arsitektur vernakular. Ketiga, arsitektur membutuhkan suatu ekspresi yang mandiri. Tidak hanya berbicara mengenai feminim dan maskulin atau statis dan dinamis (dalam bahasa Romo Mangun: Arjuna dan Rahwana atau Kemantapan dan Gerak), tetapi terutama pada pengungkapan keadaan diri.

.

Gambar 34

Permukiman Tepi Kali Code disebut Kampung Kali Code, Yogyakarta (1980).

Gambar 35

TEKNIK GAMBAR DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI ISLAM

Gambar 36

Gereja Katolik St. Pius X, Blora(1969).

Dokumen terkait