BAB II. KHARISMA KONGREGASI SUSTER MISI ABDI ROH KUDUS
2. Yesus dan Kaum Miskin Dalam Perjanjian Baru
Sejak awal hidupnya di depan umum Yesus menunjukan sikap seperti yang diperlihatkan Tuhan dalam Kitab Keluaran. Ia berpihak kepada mereka yang dianggap hilang, tidak layak oleh orang kaya, mereka yang tidak memiliki uang maupun kekuasaan, yang sakit dan tersingkir, masyarakat pinggiran dan yang tidak memenuhi kewajiban agamanya (Mat 11:4-5).
Yesus telah menunjukkan solidaritasnya bagi kaum miskin. Ia tidak dibesarkan di kenisah atau bersekolah khusus untuk menjadi nabi, namun Ia melewatkan masa kecilnya dengan orang-orang miskin dan sederhana. Ia tidak berkotbah seperti para ahli Taurat namun Ia membagi hidup-Nya dari apa yang
sudah dipelajari dari Bapa-Nya. Seringkali masyarakat menganggap kekayaan, pengetahuan, ketrampilan, keberhasilan dan kekuasaan sebagai suatu yang harus diusahakan, sebagai ukuran terhadap nilai seseorang. Yesus mengalaminya sendiri pada tubuh-Nya, apa artinya menjadi miskin dan hina, tergolong dengan mereka yang dianggap tidak dicintai Allah, dengan mereka yang dikucilkan dari arus utama masyarakat (Rehbein, 1990:27).
Yesus menyatakan diri-Nya solider dengan kaum miskin dan yang disingkirkan dari masyarakat. Bagaimana Ia dihina dan dihindari banyak orang ketika Ia harus menderita kesakitan dalam kesengsaraan-Nya menuju puncak Golgota. Yesus begitu menyamakan diri-Nya dengan orang kecil dan terabaikan, sehingga kemungkinan pengikiutsertaan dalam Kerajaan Allah tergantung bagaimana kita menemui Dia dalam saudara-saudari-Nya yang paling kecil (Mat 25:31-46).
Yesus menghendaki kita agar membagi hidup dengan orang-orang miskin. Orang miskin di dunia ini tidak sekian miskin sehingga kita tidak dapat belajar lagi sesuatu dari mereka. Kaum miskin memiliki sesuatu yang dapat ditawarkan kepada kita, walaupun mereka tidak memaksakannya kepada kita. Kita membuka diri kepada mereka dalam cinta dan bersedia untuk belajar dari mereka (Rehbein, 1990:31).
Dalam kenyataannya secara sederhana Yesus telah menyamakan dirinya dengan orang miskin dan sederhana. Dengan memiliki cinta yang dalam terhadap orang-orang miskin dan terlantar Yesus tunjukkan dengan kesediaan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang sakit, mengajar, memberi makan kepada mereka yang kelaparan, dan selalu memberikan waktu-Nya tanpa pamrih (Prior, 1993:32)
Melihat dan menelusuri latar belakang historis Yesus serta pantauan sekilas tentang kelompok-kelompok khusus yang menjadi alamat pewartaan Yesus kiranya dapat diambil satu kesimpulan bahwa arah dasaraiah gerakan Yesus tertuju kepada kelas-kelas rendahan dalam masyarakat-Nya. Pewartaan Yesus tertuju dan menarik kepada mereka yang secara ekonomi, politis dan religius termasuk kelompok marginal dalam masyarakat Palestina. Mereka semua merindukan dan membutuhkan suatu kehidupan yang lebih adil dan manusiawi (Hortensius, 1992:50).
C. Gambaran Orang Miskin Menurut SSpS 1. Gambaran Umum
a. Kaum Perempuan
Kaum perempuan adalah kelompok pertama yang konkrit; mereka diterlantarkan, diperas, dicabut hak-hak asasinya, dijadikan obyek-obyek seks, objek perdagangan dan tenaga kerja murah di perbagai negara. Penindasan dan perendahan nilai kaum perempuan merupakan gejala umum di banyak negara dan kebudayaan seperti: pembunuhan bayi perempuan, pengguguran yang diseleksi karena menginginkan anak laki-laki, pelacuran. Ada di banyak negara dan kebudayaan di mana perempuan memperoleh status sosial yang lebih tinggi, secara moral dan intelek mereka tetap dianggap sebagai warga kelas dua. Tanggung jawab untuk menegakkan, mempertahankan dan memajukan martabat kaum perempuan menuntut keterlibatan para suster Misi Abdi Roh Kudus (Komentar Kapitel Jenderal X, 1990:38)
b. Anak-anak dan Kaum Muda
Ribuan anak-anak di kota-kota besar di berbagai negara sangat menderita karena perampasan hak-hak mereka, dan mereka inilah yang menantang keterlibatan misioner para suster-suster Misi Abdi Roh Kudus. Pemeliharaan anak-anak terlantar sudah menjadi keprihatinan Kongregasi sejak awal. Pendidikan kaum muda tidak dapat disangkal, merupakan sasaran penting dalam mewartakan Kabar Gembira dan meneruskan nilai-nilai Kristiani. Dalam Kapitel Jenderal ke-X Tahun 1990 diprioritaskan untuk anak-anak orang miskin dan orang muda yang berkeliaran di jalan di berbagai kota tanpa arah dan rasa memiliki. Orang muda yang tidak lagi melihat arti hidup, yang menganggur dan tanpa harapan akan masa depan yang lebih baik, yang mencari kebahagiaannya dalam obat bius dan kejahatan (Komentar Kapitel Jenderal X, 1990:39)
c. Kaum Pinggiran
Setiap negara berbeda kelompok pinggiran yang sedang diprioritaskan, contoh kaum pinggiran adalah para pengungsi. Masalah pengungsi adalah masalah kita semua. Penderitaan yang hebat, ketakutan karena bahaya yang tak terelakan, kesengsaraan di kamp pengungsi merupakan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Untuk dapat menangani permasalahan ini dibutuhkan kerja sama dengan organisasi-organisasi Gerejawi dan pemerintah (Komentar Kapitel Jenderal X, 1990:40).
d. Keluarga
Masih begitu banyak keluarga yang mengalami keterbelakangan. Hal ini akan membawa pengaruh kepada keluarga itu sendiri yang mengakibatkan penyakit.
Kemiskinan dan kemelaratan, kebodohan dan buta huruf, keadaan perumahan yang tidak manusiawi, kekurangan gizi yang kronis. Keluarga bukan saja menjadi korban dari struktur yang tidak adil tetapi lebih menjadi korban dari sarana komunikasi modern yang mempromosikan seks, keuntungan, kekerasan dan kekuasaan sebagai nilai-nilai yang untuk dikejar. Dengan media dan teknologi yang semakin maju, orang akan dengan mudah menikmati suatu tontonan yang menunjukan bagaimana banyaknya hubungan di luar perkawinan, perceraian, aborsi, seks sebelum menikah dan hidup bersama sebagai satu hal yang wajar. Tanpa persiapan pernikahan yang kristiani, kehidupan keluarga dan kedudukan sebagai orang tua yang bertanggung jawab akan menjadi sumber dari banyak problem sosial (Komentar Kapitel Jenderal X, 1990:40)
e. Orang Sakit, Lanjut Usia dan Menghadapi Ajal
Sejak awal Kongregasi SSpS telah melihat pentingnya pemeliharaan bagi orang sakit dan lanjut usia sebagai sarana evangelisasi dan selalu melaksanakan perutusan dengan sungguh-sungguh (Konst. Art.103;111.2). Usaha untuk mendampingi dan membantu pada tahap akhir hidup serta pelayanan yang telah disumbangkan oleh perawat dan tenaga medis, menawarkan kepada SSpS suatu perspektif baru bagi karya misionernya (Komentar Kapitel Jenderal X, 1990:43).
Disentuh dan dipengaruhi oleh realitas dunia global sebagai suatu komunitas murid-murid Yesus dalam misi SSpS ditantang dan didesak untuk memberi tanggapan yang efektif terhadap kebutuhan dan keprihatinan jaman ini. Maka ada 3 prioritas yang ditekankan sejak Kapitel Jenderal ke-XII Tahun 2002 untuk 6 tahun kedepan yaitu:
1) Formasi yang Integral untuk Misi
Konteks misi jaman ini menuntut suatu formasi yang bersifat integral. Hal ini diresapi oleh spirtualitas Trinitaris yang berakar pada Sabda Allah dapat membantu sebagai SSpS untuk peka dan tanggap terhadap Roh. Formasi yang integral diharapkan memampukan setiap SSpS untuk berbagi hidup dan misi dalam komunitas-komunitas Internasional, multi budaya serta mengembangkan suatu pandangan yang lebih luas (Dokumen Kapitel Jenderal XII, 2002:57).
2) Komitmen terhadap Kaum Perempuan
Hal ini mengingatkan tujuan semula pendirian Kongregasi yaitu suatu panggilan yang kuat untuk memilih kaum perempuan sebagai prioritas. Sebagai perempuan profetis perlu memberi perhatian pada pemeliharaan kehidupan, terutama di mana kehidupan itu ada dalam bahaya: dalam situasi pinggiran, orang-orang yang dieksploitasi dan diperlakukan secara kejam khususnya kaum perempuan dan anak-anak serta pengrusakan dan manipulasi alam (Dokumen Kapitel Jenderal, 2002:59)
3) Solidaritas dengan orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS
HIV/AIDS telah menjadi penyakit yang dapat membunuh, mengancam hidup, tidak saja di seluruh benua Afrika tetapi di banyak tempat lain di dunia. Untuk itu diupayakan mengatur jaringan kerja kongregasi untuk saling menukar informasi dan strategi mengenai masalah HIV/AIDS, bekerja sebagai VIVAT melalui VIVAT Internasional-New York berpartisipasi dengan kelompok-kelompok lain yang mempunyai keprihatinan yang sama.