• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yesus Mengusir Setan esus Mengusir Setan esus Mengusir Setan esus Mengusir Setan esus Mengusir Setan

Y

Y

Y

Yesus Mengusir Setanesus Mengusir Setanesus Mengusir Setanesus Mengusir Setanesus Mengusir Setan

Sejak Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia mengutamakan meng-ajar di rumah ibadat. Kali ini tampaknya bersama keempat murid-Nya, Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di Kaper-naum. Kota Kapernaum tidak jauh dari danau Galilea.

1:21-22 “Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”

“Kapernaum”––Jika kita menyimak dalam kitab Matius 4:13,

9:1, kemungkinan besar Yesus telah pindah dari Nazaret ke Kapernaum. Dalam kitab Matius 9:1 dicatat “kota-Nya sendiri,” yang dimaksud ialah kota Kapernaum, demikian juga rumah Petrus berada di sana (lih. 1:29). Kemudian Kapernaum dijadikan Yesus sebagai pusat pelayanan-Nya.

“Rumah ibadat”––adalah tempat untuk beribadah, berdoa

dan mengajar, bahkan juga tempat mengurus perkara kese-harian. Orang Yahudi mempunyai rumah ibadat mereka sendiri, sedangkan di Yerusalem terdapat mahkamah agama, tempat itu bagaikan tempat pengadilan tertinggi mereka. Hal ini menyatakan bahwa sekalipun bangsa Yahudi berada di bawah pemerintahan Kaisar Roma, namun dalam hal tertentu mereka diberikan hak otonom untuk mengatur bangsanya sendiri.

Ketika masuk ke dalam rumah ibadat, Yesus mulai meng-ajar, tetapi ketika orang banyak mendengarkannya, mereka menjadi takjub. Pada satu sisi dikatakan bahwa Yesus sebagai orang yang berkuasa. Sedangkan pada sisi yang lain Yesus tidak seperti ahli-ahli Taurat, karena Yesus mengajar dengan

wibawa-Nya. Sesungguhnya apakah wibawa-Nya tampak secara lahiriah, ataukah karena isi khotbah-Nya? Kami mengira kedua-duanya. Karena Yesus adalah manusia sem-purna, Dia tidak berdosa, khotbah-Nya memberikan kesan yang berbeda bagi manusia. Tetapi menurut kami yang lebih penting adalah isi khotbah-Nya. Bagaimana ahli-ahli Taurat mengajar? Pertama, mereka mengajar dengan mengulang-ulang, tidak meyakinkan, dan ajaran mereka tidak dapat menaklukkan orang lain. Kedua, mereka tidak mempunyai kuasa dan wibawa rohani. Tetapi Yesus tidak demikian.

Bukankah takjub itu merupakan gejala yang baik? Belum tentu. Kata “takjub” dalam ayat 6:2 mempunyai arti tidak percaya, orang banyak itu hanya takjub secara lahiriah saja. Tetapi kadangkala takjub juga dapat membuat orang yang mendengarkan Injil menjadi percaya (bdk. 1:27; 2:12), mes-kipun tidak selalu demikian. Menurut catatan Lukas, ketika Yesus mulai bekerja, Yesus mengabarkan Injil lebih dahulu kepada orang-orang di kampung-Nya di Nazaret. Setelah mendengarkannya, mereka takjub, tetapi mereka tidak ber-sedia percaya dan menerima-Nya, bahkan mereka mengusir-Nya. Yesus memberikan hak istimewa dan kesempatan per-tama bagi mereka untuk mendengar Injil, tetapi mereka menolak-Nya. Sebab itu, Yesus tidak pernah lagi mengabar-kan Injil kepada mereka di Nazaret. Leon Morris mengata-kan: “Rejection can be final.”

1:23-24 “Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seo-rang yang kerasukan roh jahat. Oseo-rang itu berteriak: ‘Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.’”

Menurut pengamatan kami, selama tiga setengah tahun Yesus bekerja, Iblis juga bekerja dengan giatnya. Tetapi setelah para rasul mulai bekerja, gangguan dari Iblis tidak sehebat sebelumnya, orang yang dirasuk setan pun tidak begitu banyak. Tetapi bagaimana pun juga, ketika kita sedang bekerja bagi Tuhan, di situlah si Iblis mencoba mengganggu kita, bahkan berusaha untuk menghancurkan pekerjaan kita. Sebab itu, hendaknya kita waspada.

Orang yang kerasukan setan itu “berteriak,” tampaknya Iblis tahu bahwa Yesus akan menghadapinya. Maka ia lebih dahulu berteriak, ia adalah “setan yang banyak mulut,” karena itu ia banyak bicara:

1. Yesus, orang Nazaret––Hal ini menunjukkan bahwa ia mengetahui yang berdiri di hadapannya adalah Yesus dari Nazaret, Anak Allah (bdk. Mat. 4:3, 6). 2. Apa urusan Kamu dengan kami––Artinya ialah aku adalah aku, Engkau adalah Engkau. Apa urusan-Mu dengan aku? Janganlah mengganggu aku (bdk. Yoh. 2:4).

3. Engkau datang hendak membinasakan kami––Kita tahu pekerjaan Yesus di bumi ada empat macam: berkhotbah, mengajar, menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Kedatangan Yesus adalah untuk membinasakan perbuatan Iblis (bdk. 1Yoh. 3:8). Hal ini diketahui oleh Iblis. Bagaimanakah Yesus membinasakan pekerjaan Iblis? Menurut saya, Ia membasmi pekerjaan Iblis dalam empat hal: Pertama, mengusir setan, yaitu ketika di dunia, Ia banyak mengusir setan. Kedua, melalui kayu salib, Yesus mati dan bangkit kembali, dan mengalahkan kuasa maut yaitu Iblis. Ketiga, melalui karunia

yang dianugerahkan kepada para rasul pada zaman itu dan termasuk kepada hamba-hamba Tuhan pada saat ini, atas nama Yesus mereka mengusir setan. Keempat, suatu hari nanti Yesus akan datang kembali, dan akan membinasakan Iblis untuk selama-lamanya (bdk. Why. 20:10)

4. Aku tahu siapa Engkau, Yang Kudus dari Allah–– Iblis mengetahui tentang hal ini dengan jelas. Amat disayangkan, hari ini banyak orang tidak menya-dari bahwa Yesus adalah Yang Kudus menya-dari Allah. Demikian juga orang-orang Yahudi. Kata “menge-tahui” bersifat negatif, tahu tetapi tidak percaya; berbeda dengan Petrus yang tahu, namun percaya (bdk. Yoh. 6:69). Iblis percaya adanya Allah, tetapi mereka gemetar menghadapi-Nya, karena mereka tidak sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Yesus, sebaliknya mereka berkonfrontasi dengan Allah, sebab itu mereka menjadi gemetar (bdk. Yak. 2:19). Di sini kita melihat, untuk pertama kalinya Yesus berkhotbah di rumah ibadat, segeralah Iblis berkonfrontasi dengan-Nya.

1:25 “Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: ‘Diam, keluarlah dari padanya!’”

“Yesus menghardiknya”––kata “menghardik” dalam bahasa

Yunani, epitimavw (epitimao), sedangkan timavw (timao) arti-nya menghormati. Menghardik dan menghormati mem-punyai arti yang berlawanan. Sebab itu, ketika Alkitab mencatat epitimavw, seolah-olah di balik itu ada Iblis yang sedang bekerja. Dalam ayat 4:39, kata “menghardik” juga menggunakan kata epitimavw. Ketika Yesus sedang berlayar

ke Gerasa untuk menyelamatkan orang yang kerasukan, maka tampak pekerjaan Iblis dengan mendatangkan badai di danau. Demikian juga pada pasal 8:33 kata “menghardik” juga menggunakan kata epitimavw, sebab itu, Yesus pun menyebut Petrus sebagai Iblis, dan menghardiknya.

Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari

padanya”––dikatakan demikian karena Iblis telah banyak

berbicara, dan Yesus juga memerintahkannya untuk keluar dari tubuh orang yang kerasukan. Apakah setan itu keluar dari orang tersebut? Setan itu keluar. Di sini Markus menca-tat Yesus pertama kali melakukan mukjizat di rumah ibadat, (sedangkan dalam Injil Yohanes, mukjizat yang pertama ialah air berubah menjadi anggur).

Dalam Injil Markus banyak dicatat mukjizat yang dila-kukan Yesus, antara lain mengusir setan dan menyem-buhkan orang sakit. Hari ini ada sebagian orang tidak percaya pada mukjizat, mereka mengira pertobatan orang berdosa adalah mukjizat. Baik di Indonesia, maupun di daratan RRC, di sana banyak terdapat mukjizat, di sana pula banyak orang yang tertarik dan percaya. Karena Yesus tidak ingin melaku-kan mukjizatnya dengan terang-terangan, maka pekerjaan yang terutama ialah mengajar. Hanya sangat disayangkan, Markus tidak banyak mencatat pengajaran Yesus, kecuali dalam tiga pengajaran yang penting: Perumpamaan ten-tang penabur (psl. 4); tenten-tang Anak Manusia yang harus mengalami penderitaan (psl. 8, 9 dan 10); dan tentang akhir zaman (psl. 13).

1:26-28 “Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincang-kannya, katanya: ‘Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata

dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.’ Lalu tersebarlah dengan cepat kabar ten-tang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.”

“Sambil menjerit dengan suara nyaring”––Ini merupakan suatu

perilaku ketakutan dan perlawanan, yang menandakan bahwa Iblis tidak rela keluar dari tubuh orang tersebut. Meskipun ia kemudian keluar juga. Lalu bagaimana reaksi dari orang banyak? Mereka menjadi “takjub.” Kata ini mempunyai arti yang sama dengan yang digunakan pada ayat 22. Kemudian mereka saling memperbincangkan dengan berkata: “Apa ini?

Suatu ajaran baru?”––Yang artinya dulu belum pernah terjadi

peristiwa semacam ini. Demikian juga ahli Taurat belum pernah melakukan mukjizat seperti ini. Kata “baru” adalah kainovV (kainos). Kata “baru” dalam bahasa Yunani ada dua; yang pertama neovV (neos), yang menunjukkan waktu yang lebih dahulu atau kemudian, bukan dimaksud dengan kualitas yang baru, seperti halnya tahun baru, yang kualitasnya sama dengan tahun lama, hanya saja yang mana lebih dahulu atau kemudian. Kata yang lain ialah kainovV (kainos), yaitu menunjukkan kualitas yang baru, seperti halnya PB; demikian juga manusia baru atau lahir baru yang merupakan pekerjaan Allah yang memberikan hidup yang baru pada orang yang percaya. Yang dimaksud dengan “langit dan bumi baru” dalam kitab Wahyu juga menyatakan keadaan yang baru, yaitu Yerusalem baru yang berkualitas baru dari Allah. Maka kata “ajaran baru” adalah kainovV, ajaran baru dari Allah. Puji Tuhan, setelah mereka mendengar pengajaran Yesus, mereka mempunyai paradigma baru, dan juga menunjukkan bahwa Yesus berkuasa mengusir setan. Dalam ayat 2:12 disebutkan takjub, lalu mereka memuliakan Tuhan, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat.” Dalam Injil Lukas dikatakan:

wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar” (Luk. 4:36). Yesus melakukan

muk-jizat untuk memuliakan Allah, karena orang banyak menge-tahui hal ini adalah perbuatan Allah, maka mereka mulai percaya kepada-Nya. Akibatnya, pekerjaan dan nama Yesus tersebar luas di daerah Galilea.