• Tidak ada hasil yang ditemukan

YESUS WAFAT DI SALIB I Proses Yesus

Pasal I. YESUS DAN ISRAEL

PASAL 2 YESUS WAFAT DI SALIB I Proses Yesus

Para Pemimpin Yahudi Tidak Sependapat mengenai Yesus

595 Pribadi Yesus selalu saja memberi alasan untuk perbedaan pendapat di antara pemimpin religius Yerusalem; seorang Farisi bernama Nikodemus -- seorang terpandang -- dan Yosef Arimatea adalah pengikut?pengikut Yesus secara diam-diam. Malahan Yohanes dapat mengatakan bahwa -- bahkan hanya beberapa hari saja sebelum kesengsaraan-Nya -- "banyak di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya" (Yoh 12:42), walaupun masih sangat tidak sempurna. Itu tidak mengherankan, apabila kita perhatikan bahwa pada hari sesudah Pentekosta "sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya" (Kis 6:7) dan "beberapa orang dari golongan Farisi telah menjadi percaya" (Kis 15:5). Santo Yakobus dapat mengatakan kepada santo Paulus, bahwa "beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat" (Kis 21:20).

596 Para pemimpin religius tidak sependapat dalam hubungan dengan pertanyaan, bagaimana orang harus bersikap terhadap Yesus. Orang Farisi mengancam mereka yang mengakui Dia dengan pengucilan. Beberapa orang merasa khawatir: "Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita" (Yoh 11:48). Imam agung Kaifas mengajukan sebuah usul kepada mereka, dengan bernubuat: "Kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yoh 11:50). Majelis agung yang telah menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus sebagai penghujat Allah, tetapi telah kehilangan hak untuk melaksanakan hukuman mati, menyerahkan Yesus kepada orang-orang Roma dan menuduh Dia mengadakan pemberontakan, yang menempatkan Dia sejajar dengan Barabas, yang telah didakwa karena "pemberontakan" (Luk 23:19). Para imam kepala juga coba mendesak Pilatus melalui ancaman-ancaman politis supaya menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus.

Orang Yahudi secara Kolektif Tidak Bertanggung Jawab atas Kematian Yesus

597 Kalau memperhatikan proses pengadilan Yesus yang berbelit-belit, sebagaimana tampak jelas dalam ceritera-ceritera Injil, dan dosa pribadi dari orang-orang yang terlibat dalam proses itu (Yudas, Majelis Agung, Pilatus) yang hanya diketahui oleh Allah sendiri, maka kita tidak dapat meletakkan tanggung jawab mengenai pengadilan itu pada keseluruhan orang-orang Yahudi di Yerusalem, walaupun ada teriakan dari sekelompok orang yang direkayasa dan meskipun tuduhan semacam itu termuat dalam seruan para Rasul untuk bertobat sesudah Pentekosta. Yesus sendiri, ketika dari salib mengampuni mereka, dan kemudian Petrus, memaafkan baik orang-orang Yahudi di Yerusalem yang "tidak tahu", maupun para pemimpin mereka (Kis 3:17). Lebih lagi, kita tidak dapat melimpahkan tanggung jawab kepada orang-orang Yahudi lainnya dari zaman dan tempat-tempat lain, semata-mata didasarkan pada teriakan khalayak: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami" (Mat 27:25), suatu rumusan untuk mensahkan satu putusan pengadilan.

Karena itu Gereja menyatakan dalam Konsili Vatikan II: "Apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan kepada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang ... Orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab Suci" (NA 4).

Semua Orang Berdosa Turut Menyebabkan Kesengsaraan Kristus

598 Dalam magisterium imannya dan dalam kesaksian para kudusnya Gereja tidak pernah melupakan bahwa semua pendosa pun adalah "pen yebab dan pelaksana semua siksa yang Kristus derita" (Cat. R. 1,5,11). Karena Gereja sadar bahwa dosa-dosa kita menimpa Kristus sendiri, ia tidak ragu-ragu mempersalahkan warga Kristen atas penderitaan Kristus sementara mereka ini terlalu sering melimpahkan tanggung jawab han ya kepada orang Yahudi:

"Tanggung jawab ini terutama mengenai mereka, yang berkali-kali jatuh ke dalam dosa. Oleh karena dosa-dosa kita menghantar Kristus Tuhan kita kepada kematian di kayu salib, maka sesungguhnya, mereka yang bergelinding dalam dosa dan kebiasaan buruk, menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di muka umum (Ibr 6:6) -- satu kejahatan, yang nyatanya lebih berat lagi daripada kejahatan orang-orang Yahudi. Karena mereka ini, seperti yang dikatakan sang Rasul, `tidak menyalibkan Tuhan yang mulia, kalau sekiranya mereka mengenal -Nya’ (1 Kor 2:8). Tetapi kita mengatakan, kita mengenal Dia, walaupun demikian kita seolah-olah menganiaya-Nya waktu kita menyangkal-Nya dengan perbuatan kita" (Catech. R. 1,5,11).

"Setan bukanlah mereka yang menyalibkan-Nya, melainkan engkau, yang bersama mereka menyalibkan-Nya dan masih tetap menyalibkan-Nya, dengan berpuas diri dalam perbuatan jahat dan dalam dosa" (Fransiskus dari Assisi, admon. 5,3).

II. Kematian Yesus yang Menebus dalam Rencana Keselamatan Ilahi Yesus "Diserahkan sejalan dengan Keputusan Allah yang sudah Ditentukan"

599 Kematian Yesus yang sangat kejam tidak terjadi kebetulan, karena satu interaksi antara pelbagai faktor dan kondisi yang patut disesalkan. Itu termasuk misteri rencana Allah, sebagaimana santo Petrus sudah menjelaskannya dalam khotbah Pentekosta yang perta ma untuk orang Yahudi di

Yerusalem: Ia "diserahkan menurut maksud dan rencana Allah" (Kis 2:23). Cara tutur biblis ini tidak mengatakan bahwa mereka yang telah "menyerahkan" Yesus (Kis 3:13), hanya merupakan pelakon tidak bebas dari sebuah skenario yang telah ditentukan oleh Allah sebelumnya.

600 Bagi Allah semua saat adalah masa kini yang tengah berlangsung. Kalau Ia sudah "menentukan" sesuatu sebelumnya dalam rencana -Nya yang abadi, Ia turut memperhitungkan juga jawaban setup manusia atas rahmat-Nya: "Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israeli melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu" (Kis 4:27-28). Allah membiarkan perbuatan-perbuatan yang muncul dari kebutaan mereka itu, terjadi untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya.

"Yang Wafat untuk Dosa Kita sesuai dengan Kitab Suci"

601 Rencana ilahi untuk mendatangkan keselamatan melalui kematian keji "orang benar, hamba-Ku" (Yes 53:11), sudah dimaklumkan lebih dahulu dalam Kitab Suci, sebagai misteri penebusan yang mencakup segala sesuatu, artinya sebagai tebusan, yang membebaskan manusia d ari perhambaan dosa. Dalam sebuah pengakuan iman, yang tentangnya Ia berkata, bahwa Ia "telah menerimanya" sendiri (1 Kor 15:3), santo Paulus menga kui: "Kristus telah wafat untuk dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci " (ibid.). Wafat Yesus yang menebuskan terutama memenuhi nubuat mengenai hamba Allah yang menderita. Yesus sendiri menjelaskan arti kehidupan-Nya dan kematian-Nya dalam terang kata-kata hamba Allah ini. Setelah kebangkitan-Nya Ia memberi penjelasan tentang Kitab Suci ini kepada murid-murid Emaus dan sesudah itu kepada para Rasul sendiri.

Allah telah "Membuat-Nya menjadi Dosa karena Kita"

602 Karena itu Santo Petrus dapat merumuskan iman apostolik tentang rencana keselamatan ilahi sebagai berikut: "Kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu ... telah ditebus dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu maka Ia baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (1 Ptr 1:18 20). Dosa-dosa manusia yang menyusul dosa asal, dihukum dengan kematian. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal dalam rupa seorang hamba, dalam rupa kodrat manusia yang jatuh dan yang diserahkan kepada kematian karena dosa, Allah telah membuat Dia "yang tidak mengenal dosa, ... menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor 5:21).

603 Yesus tidak dibuang [oleh Allah], seakan akan Ia sendiri telah berdosa. Sebaliknya dalam cinta-Nya sebagai Penebus, yang selalu menghubungkan Dia dengan Bapa, Ia dengan sekian mesra menerima kita, yang hidup jauh dari Allah karena dosa-dosa kita, sehingga di kayu salib ia dapat mengatakan atas nama kita: "Eloi, Eloi lama sabakhtani, yang berarti, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mrk 15:34; Mzm 22:2). Karena dengan cara demikian Allah sudah membuat-Nya solider dengan kita, orang berdosa, maka "la tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi ... menyerahkan-anak-Nya bagi kita semua" (Rm 8:32), sehingga "kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-anak-Nya" (Rm 5:10).

Cinta Allah yang Menebus dan Mencakup Segala Sesuatu

604 Dengan menyerahkan Putera-Nya karena dosa kita, Allah menunjukkan bahwa rencana-Nya untuk kita adalah satu keputusan cinta yang penuh kebaikan dan mendahului setiap jasa dari pihak kita: "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yoh 4:10). "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Rm 5:8).

605 Cinta ini tidak mengecualikan seorang pun. Yesus mengatakannya pada akhir perumpamaan mengenai domba yang hilang: "Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki, supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat 18:14). Ia menegaskan bahwa Ia menyerahkan hidup-Nya "menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28). Ungkapan "untuk banyak orang" bukan menyempit, melainkan menempatkan seluruh umat manusia di hadapan pribadi Penebus satu satunya, yang menyerahkan Diri, untuk menyelamatkannya. Seturut teladan para Rasul, Gereja mengajarkan bahwa Yesus wafat untuk semua manusia tanpa kecuali: "Tidak ada seorang manusia, tidak pernah ada seorang manusia, dan tidak akan ada seorang manusia, yang baginya Ia tidak menderita" (Sinode Quiercy 853: DS 624).

III. Kristus telah Menyembahkan Diri kepada Bapa-Nya untuk Dosa Kita Seluruh Kehidupan Kristus Adalah Persembahan kepada Bapa

606 Putera Allah, yang "turun dari surga, bukan untuk melakukan kehendak [Nya] sendiri, melainkan untuk melakukan kehendak [Bapa] yang telah mengutus [Nya]" (Yoh 6:38), berkata, "ketika Ia masuk ke dunia: ... `Sesungguhnya, Aku datang; ... untuk melakukan kehendak Mu, ya Allah Ku... Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibr 10:5 10). Sudah sejak saat pertama penjelmaan-Nya menjadi manusia, Putera menghayati rencana keselamatan ilahi mengenai perutusan-Nya sebagai Penebus: "Makanan Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4:34). Pengurbanan Diri Yesus "untuk dosa seluruh dunia" (1 Yoh 2:2) adalah pernyataan persekutuan-Nya yang penuh cinta dengan Bapa-Nya: "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa Ku" (Yoh 10:17). "Dunia [hendaknya] tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada Ku" (Yoh 14:31).

607 Kerinduan untuk menghayati rencana kasih penebusan dari Bapa, menjiwai seluruh kehidupan Yesus, karena kesengsaraan-Nya yang menebuskan adalah alasan penjelmaan-Nya menjadi manusia: "Haruskah Kukatakan: `Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini" (Yoh 12:27). "Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada Ku?" (Yoh 18:11). Dan waktu bergantung di salib, la. mengatakan: "Aku haus" (Yoh 19:12) dan baru sesudah itu: "Sudah selesai" (Yoh 19:30).

608 Yohanes Pembaptis setuju membaptis Yesus sama seperti para pendosa. "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh 1:29). Dengan demikian ia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Hamba Allah, yang membiarkan Diri dihantar dengan diam ke tempat pembantaian dan menanggung dosa banyak orang, dan serentak pula domba Paska, lambang penebusan Israel pada Paska pertama. Seluruh kehidupan Kristus adalah ungkapan perutusan-Nya, "untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk 10:45).

Yesus Menghayati Cinta Bapa yang Menebus Itu dengan Sukarela

609 Karena Yesus menampung cinta Bapa-Nya terhadap manusia dalam hati manusiawi-Nya sendiri, "la menunjukkan cinta-Nya kepada mereka sampai kepada kesudahan-Nya" (Yoh 13:1), karena "tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya" (Yoh 15:13). Dengan demikian dalam kesengsaraan dan kematian-Nya kodrat manusiawi-Nya menjadi alat yang sukarela dan sempurna dari cinta ilahi-Nya, yang menghendaki keselamatan manusia. Karena cinta kepada Bapa-Nya dan kepada manusia, yang Bapa hendak selamatkan, Ia menerima kesengsaraan-Nya dan kematian-Nya dengan sukarela: "Tidak seorang pun mengambilnya dari pada Ku, tetapi Aku memberikannya menurut kehendak Ku sendiri" (Yoh 10:18). Karena itu Putera Allah menyongsong kematian dengan kebebasan penuh.

Dalam Perjamuan Akhir Yesus Mengantisipasi Penyerahan Kehidupan-Nya Secara Sukarela

610 "Pada malam waktu Ia diserahkan" (1 Kor 11:23) Yesus mengungkapkan secara meriah dalam perjamuan dengan kedua belas Rasu12 penyerahan Diri secara 766 sukarela. Pada malam sebelum sengsara-Nya, waktu Ia masih bebas, Yesus mengadakan perjamuan akhir dengan para murid-Nya sebagai peringatan akan penyerahan diri-Nya secara sukarela kepada Bapa-Nya demi keselamatan manusia: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu" (Luk 22:19); "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat 26:28).

611 Ekaristi, yang ditetapkan Yesus pada saat ini, menjadi "peringatan" (1 Kor 11:25) kurban-Nya. Ia menerima para Rasul masuk ke dalam penyerahan diri-Nya sendiri dan menghimbau mereka, supaya melanjutkannya. Dengan demikian, la mengangkat para Rasul-Nya sebagai imam-imam Perjanjian Baru: "Aku menguduskan diri Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" (Yoh 17:19).

Sakratulmaut di Getsemani

612 Piala Perjanjian Baru, yang Yesus sampaikan lebih dahulu dalam persembahan-Nya waktu perjamuan malam, diterima-Nya dalam sakratulmaut-Nya di Getsemani dari tangan Bapa-sakratulmaut-Nya, dengan menjadi "taat sampai mati" (Flp 2:8). Yesus berdoa: "Ya Bapa Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari-Ku" (Mat 26:39). Ia menyatakan sikap menolak kematian, yang dialami kodrat manusiawi-Nya. Sebagaimana kodrat kita, kodrat-Nya pun ditentukan untuk kehidupan abadi; tetapi berbeda dengan kodrat kita, kodrat-Nya bebas seutuhnya dari dosa, penyebab kematian; tetapi terutama is diterima dalam Pribadi ilahi, "Pencetus kehidupan" (Kis 3:15), "Yang Hidup" (Why 1:18)". Dengan kehendak manusiawi-Nya, Ia menyetujui bahwa kehendak Bapa terlaksana, dan dengan demikian menerima kematian sebagai kematian yang menebuskan, supaya "memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya pada kayu salib" (1 Ptr 2:24).

Kematian Kristus Adalah Kurban Tunggal dan Definitif

613 Kematian Kristus adalah kurban Paska, di mana "Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh 1:29) melaksanakan penebusan umat manusia secara definitif. Sekaligus Ia adalah kurban Perjanjian Baru, yang menempatkan kembali manusia dalam persekutuan dengan Allah, dengan mendamaikan manusia dengan Allah oleh "darah ... yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat 26:28),

614 Kurban Kristus ini unik; ismenyempumakandanmengakhiri segalakurban. Kurban itu pada tempat pertama sekali merupakan satu anugerah Allah Bapa sendiri: Bapa menyerahkan Putera-Nya, supaya mendamaikan kita dengan diri-Nya. Serentak pula merupakan kurban Putera Allah terjelma yang menyerahkan, secara bebas dan karena cinta dalam Roh Kudus, kehidupan-Nya kepada Bapa-Nya untuk menyilih ketidaktaatan kita.

Yesus Mengganti Ketidaktaatan Kita dengan Ketaatan-Nya

615 "Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar" (Rm 5:19). Oleh ketaatan-Nya sampai mati, Yesus menjadi Hamba Allah yang menderita, "yang sebagai ganti menyerahkan dirinya untuk kurban pemulihan". "la menanggung kejahatan banyak orang" dan demikian "membenarkan banyak orang" dengan "menanggung dosa mereka" (Yes 53:10 12). Yesus telah menebus dosa-dosa kita dan memberi pemulihan kepada Allah Bapa untuk kita".

Yesus Menyelesaikan Kurban-Nya di Salib

616 "Cinta sampai kepada kesudahannya" (Yoh 13:1) memberi nilai khusus kepada kurban Kristus dan mengakibatkan bahwa Ia menebus dan memperbaiki, mendamaikan dan menyilih. Pada waktu menyerahkan kehidupan-Nya untuk kita, Yesus mengenal kita semua dan mencintai kita semua "Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa kalau satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka s emua sudah mati" (2 Kor 5:14). Tidak seorang manusia, malahan orang kudus terbesar sekalipun, yang mampu menanggung dosa semua manusia dan menyerahkan diri sebagai kurban untuk semua. Tetapi berkat Pribadi Putera ilahi di dalam Kristus, yang melampaui semua pribadi manusiawi dan sekaligus merangkulnya dan membuat Kristus menjadi kepala seluruh umat manusia, maka kurban Kristus dapat menebus semua orang.

617 "Oleh kesengsaraan-Nya yang kudus pada kayu salib Ia memperoleh bagi kita pembenaran", demikian Konsili Trente mengajar (DS 1529) dan menekankan 1992 keunikan kurban Kristus sebagai "pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya" (Ibr 5:9). Dan Gereja menghormati salib, waktu ia menyanyi: "Salam, o salib suci, engkaulah harapan dunia ini satu satunya" (LM, Madah "Vexilla regis").

Keikutsertaan Kita dalam Kurban Kristus

618 Kematian di kayu salib adalah kurban yang satu kali untuk selamanya dipersembahkan Kristus, "pengantara antara Allah dan manusia" (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, "la seakan akan bersatu dengan tiap manusia" (GS 22,2) maka Ia memberikan "kemungkinan kepada semua orang, untuk bergabung dengan misteri Paska ini, atas cara yang diketahui Allah" (GS 22,5). Yesus mengajak murid murid-Nya, untuk "memanggul salibnya" dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena "Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya" (1Ptr 2:21). Ia ingin mengikutsertakan dalam kurban ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya`. Ini berlaku terutama untuk ibu-Nya, yang dalam misteri kesengsaraan-Nya yang menebuskan itu, dibawa masuk lebih dalam daripada setiap manusia yang lain.

"Tidak ada satu tangga lain untuk naik ke surga, selain salib" (Rosa dari Lima, Vita).

TEKS-TEKS SINGKAT

619 "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci " (1 Kor 15:3).

620 Keselamatan kita bersumber pada prakarsa cinta Allah terhadap kita, karena Ia "telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak -Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita " (1 Yoh 4:10). "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus. " (2 Kor 5:19).

621 Yesus menyerahkan Diri secara sukarela demi keselamatan kita. Dalam perjamuan akhir Ia menyatakan penyerahan Diri -Nya ini dan mengantisipasinya: "Inilah tubuh Ku yang diserahkan bagi kamu" (Luk 22:19).

622 Kristus menyelamatkan kita dengan "datang, untuk menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28), artinya untuk menunjukkan kepada mereka "cinta-Nya sampai kepada kesudahannya" (Yoh 13:1), supaya mereka "ditebus dari cara hidup [mereka] yang sia-sia yang [mereka] warisi dari nenek moyang [mereka]" (1 Ptr 1:18).

623 Yesus taat kepada Bapa-Nya dalam cinta "sampai mati di salib" (Flp 2:8). Dengan demikian Yesus memenuhi perutusan-Nya untuk membawa pendamaian sebagai Hamba Allah yang menderita, yang "membenarkan banyak orang" dengan memikul "kejahatan mereka" (Yes 53:11).