Peran Komisi Nasional Perlindungan Anak Terhadap Anak Korban Perceraian

92 

Teks penuh

(1)

TERHADAP ANAK KORBAN PERCERAIAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :

Muhammad Abrar Zulsabrian NIM: 1111044100058

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ( A H W A L S Y A K H S H I Y Y A H )

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1437 H/ 2015 M. xi + 66 halaman + 9 halaman lampiran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran komisi nasional perlindungan anak akibat dari korban perceraian. Hal tersebut tidak jarang menjadikan anak sebagai korban dari perceraian kedua orang tuanya. Ketika hal tersebut terjadi peran serta dari lembaga-lembaga terkait yang memiliki wewenang terhadap perlindungan anak sangat diperlukan guna memberikan dan menjaga hak-hak anak yang harusnya didapatkan dari orang tuanya. Serta mengembalikan hak-hak anak ketika masih bersama kedua orang tuanya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Peneliti menggunakan metode penelitian ini karena peneliti ingin mengeksplorasi peran Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam menghadapi anak korban perceraian. Sumber data diperoleh melalui studi kepustakaan yang didukung dengan wawancara kepada pihak Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak yang terpisah dari kedua orang tuanya sudah tentu hilang hak-hak anak ini, seorang anak berhak mendapatkan perawatan, perlindungan, pendidikan, dan perhatian sebagaimana yang ditegaskan oleh hukum positif dan hukum Islam (KHI). Di sinilah bagaimana peran Komnas PA mengembalikan hak-hak anak tersebut sebagai mana mestinya ketika masih bersama kedua orang tuanya. Hak-hak tersebut, melekat pada anak, bukan pada orangtua atau siapapun. Komnas PA berupaya, agar anak mendapatkan hak-haknya tersebut, terutama dari kedua orang tuanya.

(6)

vi

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. Yang dengan rahmat dan hidayah-Nya selalu memberikan kekuatan iman dan Islam, sehingga setelah melalui proses yang panjang, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy).

Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw, yang telah membawa dan menyempurnakan agama Islam sebagai penyelamat umat manusia di muka bumi ini.

Dalam menyelesaikan penelitian ini, tentunya tidak terlepas dari beberapa pihak terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan motivasi, saran dan kritik yang membangun. Maka, sudah barang tentu menjadikan suatu kewajiban bagi penulis untuk menghaturkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Asep Saepudin Jahar, MA serta staf-stafnya.

(7)

vii

dalam penyusunan penelitian ini.

4. Afwan Faizin, MA dosen pembimbing akademik, terimakasih atas nasihat dan arahannya.

5. Salam hormat beriring doa penulis haturkan kepada kedua pelita yang selalu menerangi tiap langkah dalam hidup ini, ayahanda tercinta Heriansyah S.E dan ibu Sari Rezeki Arani S.H, terimakasih atas doa dan limpahan kasih sayangnya. 6. Kaka tercinta Zikriana Novitia terimakasih atas dukungan yang diberikan selama

ini.

7. Adik tercinta Putri Bazlina Aprilia, hadirnya ananda menjadi semangat dan motivasi dalam hidup ini.

8. Aisyaturridho Hasan , terimakasih atas dukungan yang diberikan dan tak bosan memberikan motivasi dalam setiap goresan tinta dalam penelitian ini.

9. Teman-teman seperjuangan, M. Syaikhoni, Ahmad firdaus, M. Nazir, M. Fathinnudin, Faris Jamal Trianto, Fachry Alfian, Rifky Fajrin, Nabila al Halabi, Arisa dan seluruh teman-teman Peradilan Agama A/B, tetap semangat dan teruslah menggapai cita-cita kalian.

10.Keluarga Besar CABUTIF (Campuran Budaya dan Otomotif) yang telah memberikan bantuan semangat dan doa selama ini.

(8)

viii

haturkan banyak terimakasih semoga kebaikan kalian menjadi amal sholeh dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT.

Akhirnya kepada Allah swt jualah penulis serahkan segalanya serta panjatkan doa dan semoga amal kebaikan mereka diterima oleh-Nya. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya serta bagi para pembaca pada umumnya serta menjadi amal baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jakarta, 4 januari 2016

(9)

viii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

B. Identifikasi masalah... . 7

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

E. Review Studi Terdahulu ... 9

F. Metode Penellitian ... 11

G. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN DAN PERCERAIAN A. Pengertian Perkawinan ... 13

B. Pengertian Perceraian ... 17

C. Pengertian Hak Asuh Anak ... 24

D. Hak-hak Anak dalam Keluarga ... 29

BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG KOMNAS PA A. Profil Komnas Perlindungan Anak ... 34

B. Susunan Pengurus Komnas Pelindungan Anak ... 36

C. Tujuan Berdirinya Komnas Perlindungan Anak ... 37

BAB IV HAK ANAK DALAM HUKUM ISLAM, UU. NO. 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DAN PERAN KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK A. Hak Anak Dalam Hukum Islam ... 41

B. Hak Anak Dalam Kompilasi Hukum Islam ... 49

C. Hak Anak Dalam UU. 23 Tahun 2002 ... 51

D. Peran Komnas PA Terhadap Anak Korban Perceraian ... 56

(10)

ix

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran-saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 68

LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Surat Mohon Kesediaan Pembimbing Skripsi ... 70

2. Surat Permohonan Data/Wawancara Ke Komnas PA ... 71

3. Hasil Wawancara dengan Komnas PA ... 72

(11)

1 A. Latar Belakang Masalah

Nikah adalah salah satu sendi pokok pergaulan bermasyarakat. Oleh karena itu agama memerintahkan kepada umatnya untuk melangsungkan pernikahan bagi yang sudah mampu, sehingga malapetaka yang diakibatkan oleh perbuatan terlarang dapat dihindari.1

Perkawinan bertujuan agar setiap pasangan suami istri dapat meraih kebahagiaan dengan pengembangan potensi mawaddah dan rahmah. Yang dapat melaksanakan tugas kekhalifahan dalam pengabdian kepada Allah SWT, yang darinya lahir fungsi-fungsi yang harus diemban oleh keluarganya. Diadakannya akad nikah adalah dengan niat untuk selama-lamanya hingga suami istri meninggal dunia, karena yang diinginkan oleh Islam adalah langgengnya kehidupan perkawinan. Suami istri bersama-sama dapat mewujudkan rumah tangga tempat berlindung, menikmati naungan kasih sayang dan dapat memelihara anak-anaknya hidup dalam pertumbuhan yang baik agar anak-anak itu bisa menjadi generasi yang berkualitas.2

1

Djedjen Zainuddin & Mundzier Suparta, Pendidikan Agama Islam Fikih, ( Semarang : Pt.Karya Toha Putra, 2008 ), h. 66.

2

(12)

Terhadap persoalan seputar hukum nikah, ulama fiqih berbeda pendapat dalam menetukan kedudukan hukumnya. Secara umum ada pendapat tentang hukum nikah seperti sunnah menurut kelompok jumhur dan wajib menurut golongan Zahiriyah. Kelompok pengikut mazhab Malikiah yang belakangan memerinci kedudukan hukum nikah berdasarkan kondisi, yaitu hukum wajib untuk sebagian orang dan sunnah untuk sebagian yang lainya dan dapat juga berhukum mubah bahkan haram, tergantung pada keadaan masing-masing sesuai kemampuan menghindarkan diri dari perbuatan tercela.3

Konteks hukum keluarga dan pembaharuan hukum Islam terdapat perbedaan dalam beberapa istilah, hal ini menjadi sangat penting, karena kesalah pahaman terhadap pengertian hukum, Syariat dan Fikih akan berimplikasi pada perkembangan Hukum Islam dalam konteks perubahan masyarakat. Syariat sebagai suatu sumber hakiki Hukum Islam merupakan perangkat baku yang harus menjadi acuan dan tidak dapat dirubah oleh manusia, sehingga setiap tingkah laku manusia, dari dulu sampai sekarang, dapat diakomodasinya oleh Syariat. Sementara Fikih merupakan suatu interpretasi para ulama terhadap Syariat untuk perbuatan tertentu, dengan mengunakan dalil-dalil terperinci, sehingga Fikih menjadi sangat acceptable dengan perubahan dan modifikasi. Ketika menyamakan istilah Fikih dan Syariat, maka sebetulnya telah mengabungkan dua aspek yang berbeda dan telah mengabsolutkan Fikih yang sebetulnya merupakan produk manusia

3

(13)

biasa. Impilkasinya, Fikih yang diambil melalui metode Istimbat hukum atau Istihat dan digunakan sebagai suatu jawaban atas permasalahan sosial umat Islam sepanjang keberadaan mereka, akan menjadi kaku dan berhenti pada produk-produk terdahulu. Hukum Islam akhirnya tidak mampu menjawab permasalahan masyarakat kontenporer atau bahkan hukum Islam menjadi tidak relevan dengan pengembangan zaman. Dengan pembedaan inilah konteks pembaharuan hukum keluarga dimungkinkan untuk dilakukan, karena beberapa peraturan Fikih yang mengatur hukum keluarga justru dapat ditinjau ulang untuk kepentingan perkembangan zaman.4

Ayat-ayat di dalam Al-Quran yang memerintahkan kaum muslimin untuk menjadi umat yang pandai, umat yang lebih tinggi pengetahuanya dari pada umat atau bangsa lain, dan untuk menjadi umat yang harus cakap dan cerdas mengurus dan mengatur urusan dunia dan akhiratnya. Perintah itu tidaklah hanya diperuntukan bagi kaum laki-laki saja, tetapi kaum perempuan pun termasuk di dalamnya. Sementara itu banyak ayat-ayat Al-quran dan hadits-hadits Rasulullah yang meletakan ilmu pengetahuan pada tingkat yang tinggi.

Allah menjadikan makhluknya berpasang-pasangan, menjadikan manusia laki-laki dan perempuan,menjadikan hewan jantan betina begitu pula dengan tumbuh-tumbuhan dan lainya. Hikmahnya adalah supaya manusia itu hidup berpasang-pasangan, hidup suami istri, membangun

4

Ahmad Tholabi Kharlie & Asep Syarifuddin Hidayat, Hukum Keluarga Di

Dunia Islam Kontemporer, ( Jakarta : Lembaga Penelitian Uin Syarif Hidayatullah Jakarta,

(14)

rumah tangga yang damai dan teratur. Untuk itu haruslah diadakannya ikatan dan pertalian yang kokoh yang tak mungkin putus dan di putuskan, ialah ikatan akad nikah atau ijab kabul perkawinan.

Islam sangat menganjurkan pernikahan dalam rangka mewujudkan tatanan keluarga yang tenang, damai, tentram, dan penuh kasih sayang. Di samping itu, pernikahan salah satu sarana untuk melahirkan generasi yang baik bahkan Rasulullah saw menegaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan. Dengan adanya pernikahan sebagaimana diatur oleh agama, maka anak-anak dan keturunan akan terpelihara dengan baik, baik yang berkaitan dengan nasab dalam arti asal usul seseorang, maupun terpelihara di dalam arti jasmani dan rohaninya. Salah satu harapan adanya pernikahan juga untuk memperoleh keturunan yang baik, salih dan salihah. Dengan demikian, pernikahan dalam Islam mempunyai hikmah dan manfaat yang sangat besar, baik bagi kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bahkan agama, bangsa dan negara serta kelangsungan umat manusia.5

Konsekuensi dari adanya pernikahan yaitu timbulnya hadhanah atau pemeliharaan atau hak asuh anak yang dibebankan kepada orang tua yang telah mempunyai anak. Hadhanah yang timbul ini harus dijalankan sesuai dengan kewajiban yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Hadhanah sering diartikan pemeliharaan anak oleh ibu dalam

5Asrorun Ni’am Sholeh, Fatwa-Fatwa Masalah Pernikahan Di Dalam Keluarga

(15)

pendidikan sejak lahir sampai sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak.

Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib, sebab mengabaikanya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil kepada bahaya kebinasaan. Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil, karena ia membutuhkan pengawasan, penjagaan, pelaksanaan urusannya, dan orang yang mendidiknya. Dalam kaitan ini, terutama ibunyalah yang berkewajiban melakukan Hadhanah. Rasulullah Saw., bersabda, yang artinya : engkaulah ( ibu ) yang berhak terhadap anaknya.6

Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan seperangkat hak yang menjamin derajat sebagai manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut sebagai hak asasi manusia, yaitu hak yang diperoleh sejak kelahiranya sebagai manusia yang merupakan karunia sang pencipta. Karena setiap manusia diciptakan kedudukanya sederajat dengan hak-hak yang sama, maka prinsip persamaan dan kesederajatan merupakan hal utama dalam interaksi sosial. Namun kenyataanya menunjukan bahwa manusia selalu hidup dalam komunitas sosial.

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia yang seutuhnya. Anak sebagai penerus keturunan yang terlahir dari perkawinan yang sah kedudukan anak yang sah. Anak merupakan persoalan yang selalu

6

(16)

menjadi perhatian berbagai elemen di masyarakat, bagaimana kedudukan dan hak dalam keluarga dan bagaimana seharusnya ia diperlakukan oleh orang tuanya, bahkan juga dalam kehidupan masyarakat dan negara melakukan kebijakan dalam mengayomi anak. Anak sebagai generasi penerus dan pengola masa depan hal ini harus dipersiapkan sejak dini melalui proses pemenuhan hak-hak yakni hak untuk tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajarnya sesuai dengan martabat manusia, serta mendapatkan perlindungan.

Anak yang diartikan sebagai keturunan, anak juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil. Selain itu, anak pada hakekatnya seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.7

Prinsip-prinsip tersebut juga terdapat di dalam ketentuan Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang dibentuk oleh pemerintah agar hak-hak anak dapat diimplementasikan di indonesia. Kepedulian pemerintah indonesia terhadap harkat dan martabat anak sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 1979 ketika membuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesehjateraan Anak dan sampai sekarang, kesejahteraan dan pemenuhan hak anak masih jauh dari yang diharapkan.

7

(17)

Setiap anak yang lahir pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan fitrah. Namun, dalam beberapa kesempatan perseteruan yang dihasilkan dari orang tuanya menjadikan anak sebagai korban. Ketika anak menjadi korban di situlah peran serta lembaga yang berkaitan dengan pemerhati anak sangat dinanti untuk melindungi hak-hak anak tersebut dan menjaganya agar tidak menjadi trauma. Maka oleh sebab itu peneliti mengambil judul skripsi ini “Peran Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Pa) Terhadap Anak Akibat Korban Perceraian”

B. Identifikasi Masalah

Untuk mengetahui permasalahan yang ada dalam latar belakang yang telah dijelaskan, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

a. Apa hak-hak yang harus didapatkan oleh seorang anak menurut Hukum Islam dan Hukum Positif KHI dan UU. No. 23 Tahun 2002?

b. Bagaimana peran Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap anak-anak yang menjadi korban perceraian?

c. Bagaimana pandangan Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap anak korban perceraian?

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

(18)

Perlindungan Anak Terhadap Anak Korban Perceraian yang terletak di jalan TB Simatupang No. 33 Jakarta Timur, serta data yang peneliti fokuskan dalam kurun waktu 2014.

2. Perumusan Masalah

Beberapa kasus perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama menunjukan bahwa setelah kasus tersebut diputuskan serta dimenangkan oleh salah satu pihak terkadang ada pihak-pihak yang tidak menerima hasil keputusan tersebut. Salah satu contohnya adalah kasus hak asuh anak akibat dari perceraian. Hal tersebut tidak jarang menjadikan anak sebagai korban dari perceraian kedua orang tuanya. Ketika hal tersebut terjadi peran serta dari lembaga-lembaga terkait yang memiliki wewenang terhadap perlindungan anak sangat diperlukan guna memberikan dan menjaga hak-hak anak yang harusnya didapatkan dari orang tuanya.

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

a. Apa hak-hak yang harus didapatkan oleh seorang anak menurut Hukum Islam dan Hukum Positif (KHI dan UU. No. 23 Tahun 2002)?

(19)

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui peran dari Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap anak korban perceraian.

b. Untuk mengetahui Hak-hak seseorang anak yang terdapat dalam Hukum Islam dan Hukum Positif.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan kebermanfaatan dalam menambah kajian tentang peran Komnas Perlindungan Anak terhadap anak korban perceraian.

b. Manfaat Praktis

Dalam konteks praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi hasil perbaikan yang lebih baik bagi pelaksanaan perlindungan anak korban perceraian oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak.

E. Review Studi Terdahulu

(20)

1. Penelitian yang berjudul “Peran Komisi Perlindungan Anak Dalam

Mengatasi Kekerasan Seksual Terhadap Anak” tahun 2014,di dalam

penelitian yang diteliti adalah membahas mengenai peran Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS PA) terhadap anak korban kekerasan seksual, tidak membahas mengenai hak-hak anak korban perceraian yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

2. Penelitian yang berjudul “Kinerja Komisi Nasional Perlindungan Anak Dalam Menanggulangi Perdagangan Anak di Indonesia”

tahun 2009, di dalam penelitian yang diteliti adalah membatasi pada kasus perdagangan anak yang terjadi di Indonesia.

3. Penelitian yang brjudul “Peranan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap Perlindungan Hak Asuh Anak Akibat

Perceraian” tahun 2008 di dalam penelitian yang diteliti adalah

membatasi pada hak asuh anak dan lembaga yang dijadikan tempat penelitian adalah KPAI.

Dari penelitian – penelitian di atas, peneliti melihat bahwa belum ada penelitian tentang peran Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam menghadapi anak korban perceraian. Maka dari itu, isu tentang peran lembaga tersebut terhadap anak korban perceraian menjadi menarik untuk diteliti.

F. Metode Penelitian

(21)

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menurut Creswell (2007) merupakan metode – metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang –oleh sejumlah individu atau sekelompok orang- dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan.

Metode ini digunakan untuk mengeksplorasi peran Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam menghadapi anak korban perceraian.

2. Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Wawancara, merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan instrumen tanya jawab untuk mendapatkan tanggapan dari responden atau key infroman yang di teliti, wawancara ini harus dilakukan secara mendalam antara peneliti dengan responden.

b. Studi Dokumen, merupakan metode pengumpulan data dan informasi dari bahan dokumentasi, tulisan ilmiah maupun berbagai sumber tulisan lainnya.

3. Metode Anilisis Data

(22)

Dalam hal teknis penelitian, peneliti mengacu pada buku pedoman Penelitian skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Islam Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012.

G. Sistematika Penelitian

Untuk memudahkan dalam penelitian ini, peneliti membagi pembahasan dalam 5 bab, yaitu :

Bab I Merupakan bab Pendahuluan dalam membuka memuat latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, review studi terdahulu dan sistematika Penelitian.

Bab II Merupakan landasan teori yang mencakup pengertian perkawinan, pengertian perceraian, pengertian hak asuh anak, serta pengertian hak-hak anak.

Bab III merupakan eksistensi Komisi Nasional Perlindungan Anak, profil serta susunan pengurus Komisi Nasional Perlindungan Anak, dan tujuan berdirinya Komisi Nasional Perlindungan Anak.

(23)
(24)

13

TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN DAN PERCERAIAN A. Pengertian Perkawinan

Nikah menurut bahasa ialah berkumpul atau menindas1. Sedangkan menurut para ahli Ushul nikah yaitu, setubuh dan menurut arti majazi adalah akad yang dengan akad ini menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita demikian menurut golongan Hanafi, sedangkan menurut golongan Syafiiyah nikah itu sendiri sama demikian dengan golongan Hanafi dan arti

majazi ilah setubuh.2 Berdasarkan hal ini para ulama mengartikan

perkawinan dengan makna suatu hubungan biologis. Wahbah al-Zuhaily mengartikan perkawinan dengan akad yang membolehkan terjadinya

al-istimta (persetubuhan) dengan seorang wanita, atau melakukan wath’ dan

berkumpul selama wanita tersebut bukan wanita yang diharamkan baik dengan sebab keturunan, atau sepersusuan.3 Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqih berbahasa Arab disebut dengan dua kata, yaitu Nikah

dan Zawaj. Kedua kata ini yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari orang

Arab dan banyak terdapat dalam Al-Quran dan hadits Nabi. Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam Al-Quran dengan arti kawin, seperti dalam QS. An-Nisa’[4] : 3.

1

Al-Misbah al_Munawir 2

Abd Ar-Rahman Al-Jaziri, Al-Fiqh Al-Mazahib Al-Abgrba’ah, Jilid IV, h. 1 3

(25)

Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap

(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja,, atau budak-budak yang kamu miliki. yang

demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa [4]: 3)

Meskipun ada dua kemungkinan arti dari kata na-ka-ha itu namun mana di antara dua kemungkinan tersebut yang mengandung arti sebenarnya terdapat beda pendapat di antara ulama. Golongan ulama Syafi’iyah

berpendapat bahwa kata nikah itu berarti akad di dalam arti yang sebenarnya dapatnya berarti juga untuk hubungan kelamin, namun dalam arti tidak sebenarnya. Sebaliknya, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kata nikah itu mengandung arti secara hakiki untuk hubungan kelamin. Bila berarti juga untuk lainya seperti untuk akad adalah dalam arti majazi yang memerlukan penjelasan untuk maksud tersebut. Ulama golongan Hanabilah berpendapat bahwa penunjukan kata nikah untuk dua kemungkinan tersebut adalah dalam arti sebenarnya.4

Menurut jumhur Ulama rukun perkawinan ada lima dan masing-masing rukun itu memeiliki syarat-syarat tertentu. Untuk memudahkan

4

(26)

pembahasan maka uraian rukun perkawinan akan disamakan dengan uraian syarat-syarat dari rukun tersebut.5

1) Calon suami, syarat-syaratnya: 1. Beragama Islam.

2. Laki-laki. 3. Jelas orangnya.

4. Dapat memebrikan persetujuan. 5. Tidak terdapat halangan perkawinan. 2) Calon istri, syarat-syaratnya:

1. Beragama, meskipun Yahudi atau Nasrani. 2. Perempuan.

3. Jelas orangnya.

4. Dapat diminta persetujuanya.

5. Tidak terdapat halangan perkawinan. 3) Wali nikah, syarat-syaratnya:

1. Laki-laki. 2. Dewasa.

3. Mempunyai hak perwalian.

4. Tidak terdapat halangan perwalianya. 4) Saksi nikah.

1. Minimal dua orang laki-laki. 2. Hadir dalam ijab qabul.

5

(27)

3. Dapat mengerti maksud akad. 4. Islam.

5. Dewasa.

5) Ijab qabul, syarat-syaratnya:

1. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali.

2. Adanya pernyataan penerima dari calon memepelai. 3. Memakai kata-kata nikah, tazwij atau terjemahan dari

kedua kalimat tersebut.

4. Antara ijab dan qabul bersambungan. 5. Antara ijab dan qabul jelas maksudnya.

6. Orang yang terkait dengan ijab dan qabul tidak sedang ihram haji atau umrah.

7. Majelis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimum empat orang yaitu calon mempelai atau wakil-wakilnya, wali dari mempelai wanita dan dua orang saksi.6

Kendatipun didalam hal-hal tertentu, seperti posisi wali dan saksi masih ikhtilaf dikalangan ulama, namun mayoritas sepakat dengan rukun yang lima ini.

Menurut hukum perdata itu sendiri pengertian perkawinan adalah suatu hubungan hukum antara seorang pria dengan wanita utnuk hidup bersama dengan kekal yang diakui oleh negara. Terdapat perbedaan konsepsi perkawinan antara BW dan UU perkawinan. BW menganut

6

(28)

konsepsi perkawinan perdata, artinya menurut BW suatu perkawinan itu adalah sah apabila telah dilangsungkan berdasarkan ketentuan undang dan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh undang-undang. Hal sedemikian sesuai dengan perumusan pasal 26 BW yang berbunyi “Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam

hubungan-hubungan perdata”. Sedangkan konsepsi perkawinan menurut undang-undang perkawinan pada pokoknya adalah: Ikatan lahir batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa.7

Perkawinan adalah sunatullah, hukum alam di dunia. Perkawinan dilakukan oleh manusia, hewan, bahkan oleh tumbuh-tumbuhan, karenanya menurut para sarjana ilmu alam mengatakan bahwa segala sesuatu kebanyakan terdiri dari dua pasangan. Misalnya, air yang kita minum,listrik, ada positif dan negatifnya dan sebagainya. Apa yang telah dinyatakan oleh para sarjana ilmu alam tersebut adalah sesuai dengan firman Allah QS Adz-Dzaariyaat [51] : 49)

Artinya :“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya

kamu mengingat kebesaran Allah”. (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 49)

7

(29)

Tujuan perkawinan adalah merupakan tujuan syariat yang dibawa Rasulullah Saw, yaitu penataan hal ihwal manusia di dalam kehidupan duniawi dan ukhrowi. Dengan pengamatan sepintas lalu, pada batang tubuh ajaran fikih, dapat dilihat adanya empat garis dari penataan itu yakni: a).

Rub al-ibadat, yang menata hubungan manusia selaku mahkluk dengan

khaliknya b). Rub al-muamalat, yang menata hubungan manusia dalam lalu lintas pergaulanya dengan sesamanya untuk memenuhi hajat hidupnya sehari-hari. c). Rub al-munakahat, yaitu yang menata hubungan manusia di dalam dalam lingkunganya keluarga dan d). Rub al jinayat, yang menata pengamananya dalam suatu tertib pergaulan yang menjamin ketentramannya.8 Perkawinan juga brtujuan untuk menata keluarga sebagai subjek untuk membiasakan pengalaman – pengalaman ajaran agama. Fungsi keluarga adalah menjadi pelaksanaan pendidikan yang paling menetukan. Sebab keluarga salah satu di antara lembaga pendidikan informal, ibu-bapak yang di kenal mula pertama oleh putra-putrinya dengan segala perlakuan yang di terima dan dirasakannya, dapat menjadi dasar pertumbuhan pribadi/kepribadian sang putra-putri itu sendiri.9

Menurut pasal 1 Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang peria dewasa dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membangun keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha

8

Ali Yafie, Pandangan Islam Terhadap Kependudukan Dan Keluarga

Berencana, (Jakarta: Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama Dan BKBN

1982), h. 1. 9

(30)

Esa.10 Jadi menurut undang-undang perkawinan, apabila ada perkawinan yang dilakukan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, berarti perkawinan sama dengan perikatan. Yang dinamakan perkawinan apabila yang terikat itu dua orang pria atau dua orang wanita saja, demikian juga tidaklah merupakan perkawinan bila dilakukan antara banyak pria dan banyak wanita. Dan tentulah juga mungkin tidak merupakan perkawinan kalau sekiranya ikatan lahir batin itu tidak bahagia, atau perkawinan itu tidak kekal dan tidak berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Wirjono Prodjodikoro peraturan yang dugunakan untuk mengatur perkawinan inilah yang menimbulkan pengertian perkawinan.11

Pasal 26 KUH Perdata menyimpulkan, adapun undang-undang hanya memandang perkawinan dalam hubungan-hubungan perdata. Undang-undang hanya mengenal perkawinan perdata yaitu perkawinan yang dilakukan dihadapan seorang pegawai catatan sipil.12

Perjanjian perkawinan di atur dalam pasal 29 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yang menetapkan :

a. Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan , kedua pihak

atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian kawin yang disahkan oleh pegawai pencatatan perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.

b. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bila mana melanggar

batas-batas hukum agama dan kesusilaan.

c. Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

10

Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 1 Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan 11

Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Sumur, Bandung, 1974, h. 7

12

(31)

d. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.

B. Pengertian Perceraian

Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan, saat kedua bela pihak tak ingin melanjutkan kehidpuan pernikahanya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan, dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata cerai diartikan dengan pisah atau putus hubungan sebagai suami istri.13 Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, dijelaskan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan.

Secara bahasa , talak artinya melepaskan ikatan dan membebaskan. Sedangkan menurut istilah para ulama mengemukakan rumusan yang berbeda tentang arti talak ini. Menurut Al-Jaziri dalam kitabnya al-fiqh „ala al-Madzahib al-Arb’ah mengemukakan.14

Artinya: “ talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan atau bisa juga disebut mengurangi pelepasan ikatannya dengan mengunakan kata-kata

tertentu”

13

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, h. 163.

14

(32)

Sedangkan perceraian dalam bahasa arab adalah talak, dimana kata

talak berasal dari kata

-

-

yang artinya lepas dari ikatan,

berpisah, menceraikan, pembebasan.15

Menurut Sayyid Sabiq talak terambil dari kata “ithlaq” yang menurut bahasa artinya melepaskan atau meninggalkan. Sedangkan menurut syara’ talak yitu:

Menurut bahasa talak adalah:

Talak diambil dari kata “ithlaq” yang menurut bahasa artinya “melepaskan atau meninggalkan”. Menurut istilah syara’ talak yaitu :

Artinya :“Melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri”.

Untuk Dasar hukum perceraian itu sendiri memang tidak terdapat dalam Al-quran yang menyuruh atau melarang eksistensi perceraian itu, namun isinya hanya sekedar mengatur bila talak terjadi. Dalam hal perceraian itu sendiri terdapat dasar-dasar perceraian dapat kita lihat dari beberapa ayat Al-quran atau hadis, yaitu: Al-Baqarah [2] : 232

15

Ahmad Warson Munawir, Almunawir Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), Cet 14 h. 861.

16

(33)



Artinya:“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak

mengetahui”. Kawin lagi dengan bekas suami atau dengan laki-laki yang

lain. (QS. Al-Baqarah Ayat [2] : 232)

Artinya:“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah Mengadakan sesudah itu sesuatu

(34)

Hadits Abu Dawud dan Ibnu Majah

Talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya. Ini terjadi dalam talak bain, sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami dari tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi hilang hak dalam talak raj’i.

Secara harfiyah talak itu berarti lepas dan bebas. Dihubungkanya kata talak dalam arti ini dengan putusnya perkawinan antara suami dan istri sudah lepas hubunganya atau masing-masing sudah bebas. Dalam mengemukakan arti talak secara terminologis kelihatanya ulama mengemukakan rumusan yang berbeda namun esensinya sama.18

Ditinjau dari segi waktu yang dijatuhkannya talak itu, maka talak dibagi menjadi tiga macam, sebagai berikut :

1. Talak sunni, yaitu talak yang dijatuhkan sesuai dengan tuntunan sunnah. Di katakan talak sunni jika memenuhi empat syarat :

a. Istri yang ditalak sudah pernah digauli, bila tidak dijatuhkan terhadapa istir yang belum pernah digauli, tidak termasuk talak.

17

Abi Daud Sulaiman Bin As-As Sajastani, Sunan Abi Daud, (Daarul Fikr, 1994), h. 500.

18

(35)

b. Istri dapat segera melakukan iddah suci dari haid. Menurut ulama Syafiiyah, perhitungan iddh bagi wanita berhaid ialah 3 kali suci, bukan 3 kali haid. Talak terhadap istri yang telah lepas haid atau belum pernah haid, atau sedang hamil, atau talak karena suami meminta tebusan, atau ketika istri dalam haid, semuanya tidak termasuk talak suami.

c. Tahalaq itu dijatuhkan ketika istri dalam keadaan suci, maupun di akhir suci, kendati beberapa saat lalu datang haid.

d. Suami tidak pernah menggauli istri selama masa suci dimana talak itu di jatuhkan. Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika istri dalam keadaan suci dari haid tetapi pernah di gauli, tidak termasuk talak suami.

- Talak Bid’i, yaitu talak yang dijatuhkan tidak sesuai atau bertentangan dengan tuntunan sunnah, tidak memenuhi syarat-syarat talak sunni. Termasuk talak bid’i ialah :

a. Talak yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu haid, baik di permulaan haid maupun di pertengahanya.

b. Talak yang dijatuhkan terhadap istri dalam keadaan suci pernah digauli oleh suaminya dalam keadaan suci dimaksud.

(36)

a. Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belom pernah digauli.

b. Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah haid, atau istri yang telah lepas haid.

c. Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang hamil.19

Talak adakalanya wajib, kadang haram, mubah, dan kadang-kadang dihukumi sunnah. Talak wajib, misalnya talak dari hakam perkara syiqaq, yakni perselisihan suami istri yang sudah tidak dapat didamaikan lagi, dan kedua pihak memandang perceraian sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan persengketaan mereka. Termasuk wajib ialah talak dari orang yang melakukan ila, tehadap istrinya setelah lewat waktu empat bulan.

Adapun talak yang diharamkan, yaitu talak yang tidak diperlukan. Talak ini dihukumi haram karena akan merugikan suami dan istri serta tidak ada manfaatnya. Talak mubah terjadi hanya apabila diperlukan, misalnya karena istri sangat jelek, pergaulanya jelek, atau tidak dapat di harapkan adanya kebaikan dari pihak istri.

Talak mandub atau talak sunnah, yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang sudah keterlaluan dalam melanggar perintah-perintah allah, misalnya meninggalkan sholat atau kelakuannya sudah tidak dapat diperbaiki lagi atau istri sudah tidak menjaga kesopananya. Talak adalah hak suami, karena dialah yang telah berminat melangsungkan perkawinan,

19

(37)

dialah yang berkewajiban memberi nafkah dalam idah. Di samping itu, laki-laki harus memberi mut’ah dan nafkah idah. Di samping itu, laki-laki-laki adalah

orang yang lebih sabar terhadap sesuatu yang tidak akan tergesa-gesa menajtuhkan talak apabila marah atau ada kesukaran yang menimpanya. Sebaliknya, kaum perempuan itu lebih cepat marah, kurang tabah sehingga ia sering cepat-cepat minta cerai hanya karena ada sebab yang sebenarnya sepele atau tidak masuk akal. Karena itulah, maka kaum perempuan tidak diberi hak untuk menjatuhkan talak.20

C. Pengertian Hak Asuh Anak

Anak adalah tidak saja sebagai rahmat, tetapi anak juga sebagai amanah dari Allah swt. Sebagai bagian tak terpisahkan oleh rahmat itu, Allah menanamkan perasaan kasih sayang orang tua pada anaknya. Setiap orang tua didalam hatinya tertanam perasaan mengasihi dan menyayangi anaknya. Perasaan tersebut Allah tanamkan dalam hati para orang tuanya sebagai bekal dan dorongan dalam mendidik, memelihara, melindungi dan memperhatikan kemaslahatan anak-anak mereka sehingga semua hak anak dapat terpenuhi dengan baik serta terhindar dari setiap tindak kekerasaan dan diskriminasi. Terlepas dari rahmat dan amanah Allah swt, maka anak memeliki kedudukan, dan fungsi yang strategis bagi masa depan bangsa, yakni bukan saja sebagai penerus tetapi juga sebagai pemilik masa depan.

Anak sebagai pemilik masa depan memiliki hak menetukan nasibnya sendiri berdasarkan dari bimbimgan kedua orang tuanya dan pendidikan

20

(38)

yang dipersiapkan oleh orang tua, masyarakat dan negara. Pada hakekatnya dalam diri orang tua Allah swt menanamkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap anaknya, perasaan cinta dan kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan anak baik jasmani maupun rohani, serta melindungi anak dari setiap tindak kekerasan dan diskriminasi yang dimana akan mempengaruhi baik pada tumbuh kembang sang anak sehingga anak memiliki mental yang kuat dan tangguh utnuk meraih keberhasilan dan kesuksesan di kemudian hari di dalam hidup sang anak.

(39)

Artinya : isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan

menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Q.S.

Al-Baqarah: 223)

Para Ulama Fikih mendefinisikan hadhanah yaitu melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, atau yang sudah besar tapi belum mumayyiz, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikanya, menjaganya dari sesuatu yang menyakitinya dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawab.

Hadhonah berbeda maksudnya dengan pendidikan. Dalam hadhonah terkandung pengertian pemeliharaan jasmani dan rohani, di samping terkandunng pengertian tersebut terkandung juga pengertian pendidikan terhadap anak. Pendidik mungkin terdiri dari keluarga si anak dan ia merupakan perkerja profesional, sedangkan hadhanah dilaksanakan dan dilakukan oleh keluarga si anak, kecuali jika tidak mempunyai keluarga serta ia bukan profesional dilakukan oleh setiap ibu, serta anggota kerabat yang lain. Hadhanah merupakan hak dari hadhin, sedangkan pendidikan belum tentu merupakan hak dari pendidik21.

21

(40)

Untuk kepentingan anak dan pemeliharaanya diperlukan syarat-syarat bagi hadhonah dan hadhin. Syarat-syarat-syarat itu ialah:

1. Tidak terkait dengan sesuatu perekerjaan yang menyebabkan ia tidak melakukan hadhanah denga baik, seperti hadhonah terikat dengan perkerjaan yang berjauahan tempatnya dengan tempat sie anak, atau hampir seluruh waktunya dihabiskan unutk berkerja.

2. Hendaklah ia orang yang mukalaf, yaitu telah baligh, berakal dan tidak terganggu ingatanya. Hadhanah adalah suatu perkrjaan yang penuh dengan tanggung jawab, sedangkan orang yang bukan mukallaf adalah orang yang tidak dapat mempertanggung jawabkan perbuatan. 3. Hendaklah mempunyai kemampuan melakukan hadhanah.

4. Hendaklah dapat menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak, terutama yang berhubungan dengan budi pekerti. Orang yang dapat merusak budi pekerti anak, seperti zina, pencuri, tidaklah pantas melakukan hadhanah.

(41)

6. Hadhonah hendaklah orang yang tidak membenci sang anak. Jika hadhinah orang membenci sang anak dikhawatirkan anak berada dalam proses kesengsaraan.22

Undang-undang tidak secara khusus membicarakan pemeliharaan anak sebagai akibat putusnya perkawinan, apa lagi dengan mengunakan nama hadhanah. Namun UU secara umum dalam pasal 5 sebagai berikut:

Pasal 45

1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak mereka

sebaik-baiknya.

2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku

sampai anak anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban nama berlaku terus meskipun perkawinan antara keduanya orang tua putus.

Pasal 46

1) Anak wajib menghormati orang tua dan menanti kehendak mereka

yang baik.

2) Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuanya,

orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas bila mereka itu memerlukan bantuanya.

Pasal 47

1) Anak yang belum mencapai umur 18 ( delapan belas ) tahun atau

belom pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak di cabut dari kekuasaanya.

2) Orang tua memwakili anak tersebut mengenai segala perbuatan

hukum di dalam dan diluar pengadilan.

Pasal 48

Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau mengadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur delapan belas tahun atau belum pernak melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinhya.

Pasal 49

22

(42)

1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat di cabut kekuasaanya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan pengadilan dalam hal-hal:

a. Ia sanagat melalaikan kewajibanya terhadap anaknya.

b. Ia berkelakuan buruk sekali.

2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaanya, mereka masih

berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

Hadhanah sebagai salah satu akibat putusnya perkawinan diatur secara panjang lebar oleh KHI dan mentrinya hampir keseluruhanya mengambil dari fiqih menurut jumhur ulama, khususnya syafiiyah dengan rumusan berikut:

Pasal 158

Mut’ah sunnah diberikan oleh bekas suami tanpa syarat tersebut pasal 158.

Pasal 160

Besarnya mut’ah disesuaikan dengan kepatutan suami.23

Dari pasal-pasal yang membahas tentang akibat perceraian,dapat di simpulkan akibat putusnya perkawinan anak mendapatkan hak dan kewajiban dari atau kepada kedua orang tua sebagaimana pasal dinatas.

D. Hak-hak Anak Di dalam Keluarga

Fungsi sosial budaya keluarga adalah mengembangkan potensi seluruh anggota keluarga sebagai makhluk sosial dan berperilaku dalam kesepakatan masyarakat. Pengembangan kepribadian saling menghormati, bertoleransi, kemampuan hidup bersama dalam keberagaman, peka terhadap

23

(43)

kebutuhan sosial, memahami hak dan kewajiban serta menjadi bagian dari pemegang tatanilai masyarakat.

Keluarga adalah masyarakat terkecil, artinya bagaimana tatanan kehidupan keluarga berkembang akan mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat. Ada banyak anak yang saat ini hidup di jalanan, mengikuti norma-norma yang berlaku dijalan. Kehidupan sosial dan budaya yang berkembang dipelajari adalah tata nilai jalanan, di jalan yang ada adalah aturan lalu lintas dan karena mereka merasa tidak berlalu lintas tidak merasa dikenai aturan, padahal mereka sudah mengambil hak pejalan kaki dan mengambil hak pengendara merasa aman di jalan. Kehidupan di jalan tidak dikenal aturan terstruktur seperti dirumah, kehidupan sangat bebas sehinga sulit sekali membuat anak jalanan masuk ke panti asuhan karena di panti mereka harus mentaati aturan sosial. Mereka tidak mengenal batas waktu, anak-anak berkeliaran dari sejak bangun tidur sampai orang-orang lain sudah tidur. Pada sisi lain fungsi sosial budaya keluarga juga tidak berfungsi karena memaksa anak untuk menikah dalam usia sangat muda sehingga tingkat perceraian sangat tinggi yang akhirnya menjebak anak menjadi (anak yang ditelantarkan). Resiko pernikahan dini lain yang mengerikan adalah tingginya tingkat kematian ibu dan balita.

(44)

asasi anak diperlakukan berbeda dari orang dewasa karena anak sejak masih dalam kandungan lahir, tumbuh, dan berkembang sampai menjadi orang dewasa masih dalam keadaan tergantung pada keluarga dan lingkungannya, belum mandiri dan memerlukan perlakuan khusus baik dalam gizi, kesehatan, pendidikan, pengetahuan, agama, keterampilan, pekerjaan, keamanan, bebas dari rasa ketakutan, bebas dari kekhawatiran maupun kesejahteraannya24. Perlakuan khusus tersebut berupa perlindungan hukum dalam mendapatkan hak sipil, hak politik dan ekonomi, hak sosial maupun hak budaya yang lebih baik sehingga begitu anak tersebut menjadi dewasa, ia akan lebih mengerti dan memahami hak-hak yang dimilikinya serta akan mengaplikasikan hak-haknya tersebut sesuai dengan ketentuan hukum yang telah ditetapkan. Dengan demikian, anak yang telah dewasa tersebut akan menjadi tiang dan fondasi yang sangat kuat, baik bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara25.

Anak agar bisa menjadi generasi penerus keluarga dan bangsa yang kuat, maka hak-hak mereka haruslah dilindungi oleh pihak-pihak yang memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan perlindungan anak seperti orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa dan juga negara. Kerangka konseptual,

24

Abdussalam, Hukum Perlindungan Anak, (Jakarta : 2007, Restu Agung), h. 1. 25

(45)

a. Menurut pasal 1 konvensi hak anak, anak adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 Tahun, kecuali berdasarkan UU. Yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.

b. Pasal 1 Angka 1 UU. No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan anak mengatakan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18 Tahun dan belum pernah kawin.

c. Pasal 1 Angka 5 UU. No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia menyatakan anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18 Tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.

d. Pasal 1 angka 5 UU. No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan tindak Pidana perdagangan orang yang menyatakan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun, termasuk anak yang ada dalam kandungan.

e. Anak adalah tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita bangsa, mereka memiliki peran strategis dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Anak

(46)

disejahterakan. Karenanya, segala bentuk tindakkan kekerasan terhadap anak perlu dicegah dan diatasi.

g. Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya.15 h. Anak jalanan adalah seseorang yang berumur di bawah 18 tahun yang

menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan guna mendapatkan uang atau mempertahankan hidupnya.26

i. Anak jalanan adalah yang berusia di bawah 18 tahun yang sebagian besar waktu dan aktivitasnya dihabiskan di jalanan.27

j. Anak Jalanan adalah anak yang sebagian waktunya berada dijalanan atau tempat umum minimal 4 (empat) jam sehari (dalam kurun waktu satu bulan yang lalu). (Pasal 1 Angka 23 Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat). Anak jalanan adalah laki-laki atau perempuan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan hidup dijalanan dan di tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, stasiun, dan taman kota.28

(47)

36 A. Profil Komnas Perlindungan Anak

Sebelum menjelaskan profil Komisi Nasional Perlindungan Anak penulis ingin terlebih dahulu menjelaskan apa komisi itu sendiri. Komisi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia itu sendiri adalah sekelompok orang yang ditunjuk atau diberi wewenang oleh pemerintah untuk menjalankan sebuah tugas tertentu.1 Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa anak adalah pewaris dan pembentuk masa depan bangsa. Oleh karena itu, pemajuan,pemenuhan dan penjamin perlindungan hak anak, serta untuk memegang hak teguh non diskriminasi, kepentingan terbaik untuk anak itu sendiri. Melindungi kelangsungan anak hidup dan tumbuh seorang orang, serta untuk menghormati pandangan dan pendapat anak dalam setiap hal yang menyangkut dirinya. Ini merupakan syarat mutlak dalam upaya perlindungan anak yang harus efektif untuk membentuk karakteristik seorang anak.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (disingkat Komnas PA) adalah organisasi di Indonesia dengan tujuan memantau, memajukan, dan melindungi hak anak, serta mencegah berbagai kemungkinan pelanggaran hak anak yang dilakukan oleh Negara, perorangan, atau lembaga. Komnas PA didirikan pada tanggal 26 Oktober 1998 di Jakarta. Pencanangan

1

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Akses Pada: http://artikata.com/arti-335802-komisi.html Tanggal 20 oktober 2015. Pukul 17.45 WIB

(48)

Gerakan Nasional Perlindungan Anak 23 Juli 1987 merupakan kebijakan negara untuk menjadikan upaya perlindungan terhadap anak sebagai sebuah gerakan bersama, dimana keluarga dan masyarakat menjadi basis utama dan terdepan demi terjaminnya kualitas perlindungan dan kesejahteraan anak anak-anak Indonesia. Hal ini ditindaklanjuti dengan kebijakan pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 81/HUK/1997 tentang Pembentukan Lembaga Perlindungan Anak Pusat yang tidak lain menjadi cikal bakal lahirnya sebuah Komisi khusus yang mengurus upaya perlindungan dan peningkatan kesejahteraan anak secara independen.

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta prakarsa Departemen Sosial RI, Tokoh Masyarakat, Perguruan Tinggi, Organisasi Non-Pemerintah dan Pemerintah, Media Massa dan kalangan Profesi serta dukungan Badan Dunia urusan anak-anak (UNICEF) melalui Forum Nasional Perlindungan Anak yang Pertama (I) tanggal 26 Oktober 1998, dibentuklah Komisi Nasional Perlindungan Anak yang selanjutnya disebut KOMNAS ANAK sebagai wahana masyarakat yang independen guna ikut memperkuat mekanisme nasional dan internasional dalam mewujudkan situasi dan kondisi yang kondusif bagi pemantauan, pemajuan dan perlindungan hak anak dan solusi bagi permasalahan anak yang timbul2

Forum Nasional Perlindungan Anak (Forum Nasional), merupakan badan pemegang kekuasaan tertinggi dan pengambil keputusan tertinggi

2

(49)

dalam Komisi Nasional Perlindungan Anak, diselenggarakan berdasarkan ketentuan dan aturan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta aturan lainnya yang ditetapkan dalam pertemuan Forum Nasional Perlindungan Anak. Forum Nasional Perlindungan Anak diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

B. Susunan Pengurus Komnas Perlindungan Anak

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komisi Nasional), dengan anggota sebanyak 11-21 orang yang dipilih oleh Forum Nasional. Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak saat ini adalah Arist Merdeka Sirait, sedangkan Seto Mulyadi sebagai Ketua Dewan Konsultatif Nasional. Adapun susunan struktur dari Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai berikut :

DEWAN KONSULTATIF NASIONAL/DEWAN PEMBINA

Ketua : Dr. Seto Mulyadi

DEWAN KOMISIONER

Ketua Umum : Arist Merdeka Sirait

Sekretaris Jenderal : Syamsul Ridwan

Ketua Komisi Penggalangan Dana : Henni Hermanoe Ketua Komisi Advokasi dan Reformasi Hukum : Wanda Hamidah Ketua Komisi Pemantauan Hak anak, Kajian dan analisis standar pelayanan sosial anak : Beny Sujanto

(50)

DEWAN KOMISIONER WILAYAH

Wilayah Sumatera Utara : Amsal Amri

Wilayah NTT, NTB dan Bali : H. Badaruddin Noor

Wilayah Kalimantan : RA. Setio Hidayati

Wilayah Sulawesi : Fendy E.W.

Parengkuan

Wilayah Maluku dan Papua : Gunawan Mansur

C. Tujuan Berdirinya Komnas Perlindungan Anak

Untuk mengatasi sering terjadinya permasalahan hak anak yang membutuhkan perhatian yang sangat serius untuk di tanggani dari semua elemen yang terkait dengan permasalahan hak anak ini sendiri, dibentuk lah pada tanggal 28 Oktober 1998 sebuah lembaga swadaya masyarakat yakni Komisi Nasional Perlindungan Anak. Dengan dibentuknya Komisi Nasional Perlindungan Anak ini, forum nasional memberikan mandat kepada KOMNAS PA untuk melaksanakan serangkaian kegiatan perlindungan anak termasuk juga memperkuat mekanisme nasional untuk mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik3 Ada pun tujuan berdirinya Komisi Nasional Perlindungan Anak ini sebagai berikut:

1. Terwujudnya kondisi perlindungan anak yang optimum dalam mewujudkan anak yang handal, berkualitas dan berwawasan menuju masyarakat yang sejahtera dan mandiri.

3

(51)

2. Melindungi anak dari setiap orang dan/atau lembaga yang melanggar hak anak, serta mengupayakan pemberdayaan keluarga dan masyarakat agar mampu mencegah terjadinya pelanggaran hak anak.

3. Mewujudkan tatanan kehidupan yang mampu memajukan dan melindungi anak dan hak-haknya serta mencegah pelanggaran terhadap anak sendiri.

4. Meningkatkan upaya perlindungan anak melalui peningkatan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan masyarakat serta meningkatkan kualitas lingkungan yang memberi peluang, dukungan dan kebebasan terhadap mekanisme perlindungan anak.

5. Melakukan pemantauan dan pengembangan perlindungan anak. 6. Melakukan advokasi dan pendampingan pelaksanaan hak-hak anak. 7. Menerima pengaduan pelanggaran hak-hak anak.

8. Melakukan kajian strategis terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan terbaik bagi anak.

9. Melakukan koordinasi antar lembaga, baik tingkat regional, nasional maupun international.

10. Memberikan pelayanan bantuan hukum untuk beracara di pengadilan mewakili kepentingan anak

11. Melakukan rujukan untuk pemulihan dan penyatuan kembali anak.

12. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, pengenalan dan penyebarluasan informasi tentang hak anak.

(52)

14. Melakukan kajian hukum dan kebijakan regional dan nasional yang tidak memihak pada kepentingan terbaik anak.

15. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebjijakan.

16. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan berkaitan dengan anak.

17. Menyebasluaskan, publikasi dan sosialisasi tentang hak-hak anak dan situasi anak di Indonesia.

18. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan pemajuan dan kemajuan, dan perlindungan hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait.

19. Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternatif kemajuan perlindungan anak di tingkat nasional.

20. Melakukan perlindungan khusus4

4

(53)

BAB IV

HAK ANAK DALAM HUKUM ISLAM, UU. NO. 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DAN PERAN KOMNAS

PERLINDUNGAN ANAK A. Hak Anak Dalam Hukum Islam

Setelah anak lahir, Islam telah memeberi ketetapan bagi orang tua atau yang bertanggung jawab agar menegakkan hak-haknya karena hal itu akan memeberikan pengaruh positif pada proses tumbuh kembang seorang anak itu nanti. Dimasa kanak-kanak merupakan masa dimana pertama kalinya kehidupan manusia di alam dunia ini, yang berawal dari sejak lahirnya dan berakhirnya pada saat ia mencapai umur dewasa atau akhil baliq. Oleh karenya pada masa itu merupakan masa yang sangat vital untuk arah yang sangat vital bagi kehidupan manusia di dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia itu sendiri.

Oleh kerena itu, orang tua sangat dituntut untuk dapat memahami karakter dari anaknya pada masa perkembangannya, memenuhi hak-hak anaknya dan kemudian mengusahakan suatu lingkungan pendidikan yang dapat memupuk seluruh aspek perkembanganya secara optimal.

1. Hak untuk hidup

Islam melarang keras pembunuhan yang terjadi pada anak dengan alasan apapun, baik itu karena kemiskinan, ancaman kemiskinan atau gairah yang berlebihan akan suatu kehormatan. Pada zaman jahiliyah beberapa anak perempuan dikubur secara hidup-hidup karena

(54)

kemiskinan atau untuk melindungi keluarganya dari akibat perilaku yang buruk dan memalukan.1 Di dalam ayat-ayat Al Quran Allah mengecam perbuatan mereka dan menetapkannya sebagai dosa besar, lebih lagi bahwasanya Allah menegaskan bahwa Dialah yang akan memeberikan rezeki kepada anak-anak maupun orang tuanya.

Menurut pandangan Quraish Shihab, karena sedemikian murkanya Allah terhadapat pembunuhan atas anak yang tidak berdosa, sehingga Allah menjelaskan dengan pristiwa-pristiwa kiamat dan Al Quran menguraikanya dengan sebuah pertanyaan ؟تلتـق بنذ ي أب karena dosa apakah dia (anak perempuan) dibunuh (dikuburkan hidup-hidup)”. (QS. Al-Tawakir [81] : 9) ayat ini tidak mempersoalkan siapa yang membunuh, untuk mengisyaratkan akan kemurkaan Allah sehinga pelaku tidak wajar untuk di ajak berdialog dengan Allah.2

2. Hak waris

Salah satu perintah Allah kepada orang tua adalah memberi warisan kepada anak-anaknya. Firman Allah Swt.



Rahim Umran & M. Hasyim, Islam Dan Keluarga Berencana, (Jakarta : Lentera, 1997) h. 36.

2

(55)



Artinya: “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.

An-Nisa [4] : 11)

Di sisi lain, Rasulullah Saw membatasi jumlah wasiat harta hanya sepertiga dari harta dengan tujuan agar kehidupan anak-anak kelak lebih terjamin dengan bekal harta yang cukup. Tentunya bekal harta ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang sangat bermanfat bagi hidup anaknya dimana untuk menjamin masa depan anak walaupun oarang tuanya sudah tidak ada lagi.

(56)

Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Saw.. Bersabda jika bayi bersuara

maka berhak mendapatkan warisan” (HR. Abu Dawud)3

Seorang anak belum mampu untuk mengurusi hartanya sendiri, maka kepengurusan harta benda anak tersebut tentunya diserahkan kepada ayah atau walinya. Hal tersebut dilakukan hingga anak itu dewasa atau sudah memiliki kemampuan untuk mengelola harta bendanya sendiri.

3. Hak nasab dan nama yang baik

Penetapan nasab merupakan salah satu hak seseorang anak yang terpenting dan merupakan sesuatu yang banyak memeberikan dampak terhadap kepribadian masa depan anak.4

Penetapan nasab mempunyai dampak yang sangat besar terhadap individu, keluarga dan masyarakat sehingga setiap individu berkewajiban untuk merefleksikannya dalam masyarakat dengan demikian diharapkan anggota masyarakat nasabnya menjadi jelas. Karena pemusnahan nasab akan menjadikan seseorang rendah di mata orang lain dan kemungkinan akan dicaci maki karena tidak jelas asal usulnya. Selain itu dengan tidak jelasnya nasab tersebut di khawatirkan akan terjadi perkawinan dengan mahram. Untuk itulah islam mengharamkan untuk menisbatkan seseorang terhadap orang lain yang bukan ayahmya dan diharamkan untuk memusnahkan nasab dari pihak sang ayah. Oleh karena itu akan dapat menimbulkan fitnah dan

3

Kitab Jamiul Ahadis, (Mesir: Mesir 3 Hijriyah). No. 12265

4

(57)

mafsadah yang besar serta merupakan penghancuran terhadap sendi-sendi keluarga.

4. Hak perlindungan duniawi dan ukhrawi

Pada abad ke 14 Allah Swt sudah mempringatkan agar tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah, tidak hanya lemah dari segi materi atau hal-hal keduniaan tapi juga tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah iman. Firman Allah Swt..

seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka

mengucapkan Perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa [4] : 9)

Pada ayat tersebut tidak hanya terbatas pada kelemahan fisik atau jasmani dikarenakan kekurangan gizi, kesehatanya yang kurang terjamin atau cacat tubuh. Akan tetapi juga dapat di pahami dengan kekurangan harta benda atau kemiskinan sehingga anak tidak dapat memperoleh pendidikan yang maksimal atau tidak memperoleh tempat hidup yang layak sehingga kehidupan anak tersebutmenjadi terlantar dan mengantarkannya menjadi anak yang hidup di jalan dan menjadi beban masyarakat.

(58)

sendiri mendorong umatnya untuk memilik keturunan dengan melakukan perkawinan yang resmi dan islam juga menganjurkan supaya agar memperbanyak keturunan dan memakruhkan pembatasanya. Bahkan kita bisa mendapatkan al-Quran menilai anak itu

sebagai hiasan hidup di dunia. Allah berfirman yang artinya “ harta dan

anak – anak adalah perhiasan kehidupan dunia’5. Anak juga akan menjadi penolong orang tua di saat butuh dan keperluan mendesak. Imam Ali Zainal abidin as salah satu kebahagiaan bagi seorang pria ialah disaat memiliki anak yang membantu mereka.

Anak juga akan mewarisi sifat-sifat yang ada dari kedua orang tuanya, dimana melalui seorang anak lah orang tua menurunkan sifatnya sendiri, pemikiran dan moral mereka dalam proses berlangsung pewarisan aspek sepiritual bagi eksistensi mereka. Dapat disimpulkan bahwa islam sebagaimana al-Quran dan sunnah dengan arti yang lebih luas yaitu ucapan dan prilaku serta sikap para imam terdahulu membahas pentingnya mendidik seorang anak. Dengan kata lain memperhatikan anak-anak dari ketiadaan menuju keberadaan hingga kehidupan terus berlangsung dari generasi sampai allah mewariskan kepada penghuninya. Adapun sebagai berikut:

a. Dipilihkan ( calon ) ibunya

Seorang anak sebelom lahir kedunia memiliki hak lain dari ayahnya yaitu dia harus memilihkan seorang ibu yang soleh bagi

5

(59)

anaknya kelak nanti ketika sudah lahir karena bakal calon akan ditipkan kepadanya. Sains juga mengatakan bahwa sifat bawaan secara fisik dan spritual akan berpindah melalui proses reproduksi. Termasuk hal yang penting hendaklah seorang calon istrinya yang memeliki nasab yang baik. Islam juga mewasiatkan seorang ayah agar memilih ibu anak-anaknya dari golongan orang yang beragama dan beriman sebagai filter yang aman dimana untuk mencegah munculnya hal-hal yang tidak dininginkan6

b. Hak anak setelah dilahirkan

Hak hidup, seorang anak baik laki-laki maupun perempuan memilik hak hidup. Oleh karenanya ini syariat sama sekali tidak membolehkan kedua orang tua untuk memadamkan buah hatinya, baik hatinya, baik dengan atau dibunuh atau di aborsi. Islam telah mengecam keras kebiasaan mengubur anak hidup-hidup yang sempat menyebar di zaman Jahiliyah. Al-quran menanyakan dengan penentangan dan ancaman apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apakah mereka dibunuh? al-quran menganggap bahwa hal itu adalah kejahatan dalam terpaksa.

Perlu kita jelaskan di sini bahwa imam Ja’far telah membalikan pandangan diskriminatif yang mengungulkan kaum laki-laki dari pada perempuan selaras dengan pandangan religius

6

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...