BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kota Bandung merupakan salah satu kota besar yang termasuk 5 (lima) kota
besar yang ada di Indonesia. Kelebihan kota Bandung dibandingkan kota – kota
lainnya adalah banyak memiliki potensi yang sekaligus menjadi identitas kota,
misalnya kawasan Cihampelas dengan sentra penjualan jeans, kawasan Kebon
Kalapa yang merupakan sentra penjualan pakayan dan juga salah satunya
adalah Kawasan Cibaduyut yang dikenal sebagai kawasan sentra industri
kerajinan sepatu dan lain- lain.
Dalam konteks pertumbuhan kota, Kawasan Cibaduyut merupakan segitiga
pertumbuhan wilayah kota bersama dengan Kawasan Pusat kota Tegalega dan
Pasar Induk Carigin dengan Terminal Leuwi Panjang sebagai titik tumbuh
kawasan. Perkembangan Kawasan Cibaduyut mengakibatkan banyaknya
wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak datang dan berbelanja
ataupun sekedar melancong.
Kurangnya penataan kawasan yang dirancang secara menarik sebagai objek
wisata belanja yang patut dikunjungi di Bandung khususnya menyebabkan
kawasan tersebut mendapat nilai yang kurang baik sebagai lokasi wisata
belanja. Permasalahan – permasalahan yang ada mengakibatkan menurunnya
potensi dan kualitas ruang kawasan yang ditambah dengan kurang tersedianya
Oleh karena itu perlu dirancang suatu wadah yang ditata tidak hanya mengatasi
permasalahan yang ada tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan
kualitas ruang pada kawasan tersebut. Adapun poin – poin yang ingin
diterapkan pada kawasan ini adalah:
• Membangun citra dan image baru kawasan tersebut bagi pertumbuhan kota Bandung.
• Menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari atraksi wisata kota dan menjadi sarana rekreasi pelepas kesibukan.
• Mempertegas orientasi kawasan demi kelancaran aksesibilitas dan peningkatan akivitas kawasan.
• Meningkatkan kualitas ruang sehingga tercipta suatu kawasan yang sesuai dengan harapan.
Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan Perencanaan dan Perancangan
sebuah komunitas komersil berupa Shoes Center yang khusus menjual sepatu
produk Cibaduyut di Kawasan tersebut yang diharapkan dapat menjadi
alternative dalam upaya menghidupkan serta daya tarik kawasan tersebut,
Sehingga dapat sedikit memecahkan konsentrasi publik di Kawasan Kota yang
sudah terlalu padat dengan berbagai kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat.
1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud
Adapun maksud dan tujuan perancangan dari proyek Cibaduyut Shoes Center
ini adalah sebagai berikut:
- Shopping Center sebagai tempat berkumpulnya para pekerja dan pelaku pengrajin sepatu yang ada di kawasan Cibaduyut
- Sebagai sarana untuk pengadaan acara-acara fashion (seperti peragaan produk, peluncuran produk, pagelaran fashion week).
- memicu kreatifitas dan inofasi perkembangan industri fashion dikalangan pengrajin sepatu Bandung.
- melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap berbagai produk-produk sepatu lokal.
- mewadahi dan membuka lapangan kerja untuk industri sepatulokal
- sebagai salah satu tempat wisata belanja, edukasi dan rekreasi di Bandung.
1.2.2 Tujuan
Bagi masyarakat / konsumen:
- Bagi para konsumen fashion khususnya sepatu yang berada di kota Bandung dan sekitarnya.
- Ditujukan bagi anak muda kota Bandung yang membutuhkan referensi akan perkembangan industri sepatu lokal.
- Dapat menjadi barometer perkembangan industri kerajinan sepatu yang ada di Indonesia khususnya di Bandung.
Bagi pengrajin dan pengusaha :
- Mempunyai tempat kerja yang layak
- Dari hasil kreatifitas para pengrajin ini mereka mempunyai tempat pameran karya-karya mereka.
1.3 Masalah Perancangan
Dapat mewujudkan satu buah kawasan yang mampu menaungi berbagai
aktifitas perdagangan serta wisata secara baik. Adapun fungsinya tersebut
berupa fasilitas komersil terpadu yang juga terdapat fungsi – fungsi bangunan
berupa gallery / work shop, tempat peragaan kerajinan, dan terdapat juga
fasilitas penunjang rekreasi berupa cafe, restoran dan pengelola. Pendekatan
desain ini bertema yang edukatif dan rekreatif pada kawasan Cibaduyut.
Adapun poin – poin yang perlu diperhatikan antara lain:
- Merancang sebuah lingkungan binaan yaitu berupa lingkungan komersil yang khusus menjual sepatu pada kawasan pengrajin sepatu di daerah
Cibaduyut.
- Selain sebagai tempat untuk menjual juga sebagai tempat pameran sepatu, dan bengkel kerja / menjadi salah satu daya tarik pengunjung
- Suasana dan karakter ditampilkan sesuai dengan ciri komunitas, pada penataan ruang, fasade, sirkulasi dan ruang publik.
1.4 Pendekatan
pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah
perencanaan dan perancangan kasus Cibaduyut Shoes Center adalah dengan
metode :
- studi literatur atau pustaka
metode ini dilakukan berdasarkan pada pengumpulan data-data untuk
mendapatkan landasan yang mengacu pada kaidah-kaidah yang sesuai dengan
kasus proyek dan memperkuat fakta secara ilmiah
- survey lapangan
metode ini berupa pengamatan langsung tentang karakteristik dan
permasalahan yang ada pada kawasan dan pengamatan mengenai kondisi
1.5 Lingkup dan batasan
lingkup dan batasan perencanaan proyek ini terbatas pada perancangan
Cibaduyut Shoes Center yang meliputi :
- Seluruh aspek fisik yang berhubungan dengan perancangan seperti
lingkungan tapak, massa bangunan, dan pembentukan ruang
- Data mengenai statistik terbaru penduduk kota bandung khususnya
kecamatan Bojongloa Kidul berupa industri kecil mengengah
1.6 Kerangka berpikir
Lat ar belakang
Cibaduyut Shoes Cent er
M aksud dan Tujuan
M asalah Perancangan
Pengum pulan dat a
Lingkup dan Bat asan Analisa Pendekat an
Pendekat an Konsep Desain Tema
Pendekat an Rancangan
1.7 Sistematika Laporan
Sistematika laporan meliputi:
Bab I. Pendahuluan
menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi dasar perumusan
perancangan yang meliputi: latar belakang,kerangka berpikirdan sistematika
laporan.
Bab II. Deskripsi Proyek
menjelaskan informasi umumproyek berupa lokasi, luas lahan, peraturan
GSB, KDB, KLB, luas dan tinggi bangunan pemilik, sumber dana,
kelengkapan fasilitas, program kegiatan, kebuutuhan ruang, dan juga studi
banding proyek sejenis.
Bab III. Elaborasi Tema
menjelaskan tentang pengertian, interpretasi tema, keterkaitan tema dengan
judul proyek dan studi banding tema.
Bab IV. Analisa
Menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan proyek seperti analisa tapak,
analisa ruang, analisa struktur, dan analisa utilitas.
Bab V. Konsep Perancangan
berisikan konsep-konsep dari rencana proyek meliputi konsep ruang luar,
konsep ruang dalam, konsep penerapan tema.
Bab VI. Hasil Perancangan
KECAMATAN BOJONGLOA KIDUL
BAB II. DESKRIPSI PROYEK
II. 1 Umum
Lokasi : Jalan Cibaduyut Raya no. 20, Gg Pak Kasub, kelurahan
Cibaduyut, kec. Bojongloa kidul ,kota Bandung
Luas lahan : 23,790 m² = 2,37 Ha
GSB : 2 meter
KDB : 60 %
KLB : 1,5
Sumber dana : Fiktif
Sifat Proyek : Fiktif
II. 1.1 Lokasi
Gambar 4. 2. 1 Lokasi Makro
Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan
dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,
dengan batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Kecamatan Astana Anyar.
2. Sebelah Timur : Kecamatan Astana Anyar.
4. Sebelah Utara :Kecamatan Bojongloa Kaler dan Kecamatan Babakan
Ciparay.
Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar
5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah
Kec.Bojongloa Kidul.
Kriteria Pemilihan Site
• Daerah yang menjadi tujan rencana pengembangan kawasan pariwisata dan rekreasi.
• Tetap mempertahankan keberadaan jalan Cibaduyut sebagai kawasan wisata / shopping street.
• Faktor ekonomis / harga jual lahan. • Faktor efisiensi pembebasan lahan.
Sekilas mengenai Cibaduyut
Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar
5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung itu memang sejak lama dikenal
sebagai pusat sepatu di daerah Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah
Kec.Bojongloa Kidul tersebut, pengunjung bisa menemukan beranekaragam
barang yang terbuat dari kulit. Tak hanya sepatu, tetapi juga sandal, tas,
dompet, hingga barang lainnya. Cibaduyut, bahkan, sudah terkenal hingga ke
luar negeri.
Potensi industry kecil dan menengah sepatu Cibaduyut sampai dengan tahun
2006 tercatat 828 Unit Usaha, menyerap tenaga kerja 3.498 orang dengan
investasi yang tertanam mencapai Rp. 14.507.168.000, bahan baku 6.293.400
feet sq, dan kapasitas produksi 2.982.600 pasang.
Industri sepatu Cibaduyut bermula pada tahun 1920-an dan dirintis oleh
beberapa warga setempat yang sehari-harinya bekerja pada sebuah pabrik
sepatu di Kota Bandung. Setelah pesanan semakin banyak, mereka kemudian
merekrut pekerja dari tetangga sekitar rumah. Akhirnya, keterampilan mereka
terus menyebar secara turun temurun. Warga sekitar pun ikut membuka usaha
yang sama pada tahun 1940, sebelum Jepang menjajah nIndonesia. Saat itu,
jumlah pengrajin sepatu Cibaduyut mencapai 89 orang.
Satu dekade berikutnya, jumlah pengrajin terus bertambah dan tidak sedikit di
antaranya yang menjadi pengusaha sepatu skala kecil. Pada masa ini, mulai
sentra sepatu Cibaduyut mulai terbentuk dengan jumlah usaha sekitar 250 unit.
Di saat itu pula, para pengrajin dan pengusaha mulai merasakan peningkatan
kebutuhan pengadaan bahan baku kulit yang harus diimpor dari luar negeri.
Para pelaku usaha di Cibaduyut membentuk sebuah wadah bernama
Gabungan Pengusaha Sepatu Desa Bojongloa (GPSB) guna mempermudah
berganti nama menjadi Koperasi Perkulitan dan Sepatu Indonesia (KOPSI)
dengan jumlah anggota mencapai 120 pengusaha/pengrajin.
Pada tahun 1977/1978, sentra industri sepatu Cibaduyut mulai mendapat
perhatian dari pemerintah pusat, melalui Departemen Perindustrian dan
Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan, Ekonomi, dan Sosial (LP3ES).
Perhatian itu ditunjukkan berupa pembangunan Unit Pelayanan Teknis (UPT).
Pada 1989, dibangun wartel di UPT agar pengrajin lebih mudah berkomunikasi
dengan pemasok bahan baku dan memperlancar pemesan dari luar kota dan
luar provinsi. Untuk membantu pelayanan distribusi, pada tahun 1990-an,
Departemen Perdagangan bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia. Lewat
jalur ini, pengrajin dan pengusaha mendapat kemudahan dalam pengiriman
pesanan sepatu ke luar daerah. Di masa ini, wilayah kerja pengrajin kemudian
meluas sampai ke Desa Sukamenak dan Desa Cangkuang, wilayah Kab.
Bandung.
Setelah terbentuk otonomi daerah pada 2001 , Kanwil Depperindag
menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan aset pada Pemprov Jabar,
termasuk UPT. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jabar Nomor 33 Tahun 2003,
UPT pun berubah nama menjadi Instalasi Pengembangan Industri Kecil
Menengah (IKM) Persepatuan. Dengan perkembangan yang terus terjadi,
berbagai industri pendukung seperti showroom/outlet, pusat perdagangan, toko
penjual bahan, dan toko pendukung lain juga tumbuh di kawasan ini.
Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian
Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu
Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613
tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini, diperkirakan mencapai Rp
Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit show room/outlet,
4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri
shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri
kemasan, dan lima unit industri sol karet.
II. 2 Peraturan Perancangan Fungsi Komersil
aBerikut adalah peraturan tentang perancangan bangunan fungsi komersil
adalah sebagai berikut
Menurut Maitland (1987) terdapat 3 bentuk umum mal dengan keuntungan dan
kerugian tersendiri:
• Open (retail dengan Mal terbuka) adalah mal tanpa pelingkup.
Keuntungannya kesan luas dan perencanaan teknis yang mudah
sehingga biaya lebih murah, kerugiannya berupa kendala Climatic control
(pengaruh terhadap kenyamanan) dan kesan pewadahan kurang.
Gambar II. 2 a.Type Open
• Enclosed (retail dengan mal tertutup) adalah mal dengan pelingkup.
Keuntungannnya berupa kenyamanan climatic control, kerugiannya
biayamahal serta kurang luas.
• Integrited (retail dengan mal terpadu), adalah penggabungan mal terbuka dan tertutup. Biasanya berupa mal tertutup dengan akhiran yang
terbuka. Munculnya bentukan ini merupakan antisipasi terhadap
keborosan energi untuk climatic control serta mahalnya pembuatan dan
perawatan mal tertutup. Mal ini juga bertujuan mengonsetrasikan daya
tarik pengunjung pola mal tertutu
Gambar II. 2 c. Type Integrited
Pola parkir dan penataan retail adalah sebagai berikut:
Gambar II. 2 d system parkir multy decked
Gambar II. 2 f. Mal dan retail dalam dua lantai dengan parkir rata tiap lantai
II. 3 Program kegiatan
berdasarkan pelaku kegiatan, maka keggiatan yang dilakukan antara lain:
1. Kegiatan pengunjung antara lain: • Berbelanja.
• Melihat barang yang dipamerkan. • Jalan - jalan .
• Belajar membuat kerajinan kulit . • Dan lain - lain.
2. kegiatan pengelola:
• Mengelola dan mengatur jalannya operasional Cibaduyut Shoes Center.
• Melayani kebutuhan konsumen.
• Persiapan peralatan dan tempat sebelum kegiatan pertunjukan atau lainnya.
• Memberikan informasi singkat pada pengunjung. • Mengadakan publikasi.
• Penyelenggaraan kegiatan penunjang. 3. Kegiatan service:
• Membersihkan setiap ruangan .
• Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan - peralatan yang ada didalamnya.
II.4 Kebutuhan Ruang
Berikut tabel kebutuhan ruang dan persyaratannya :
- berada si
sekeliling site
- genset, pompa
dan T. sampah
- berada si sudut
- zona service
- dibafer dengan
vegetasi
II. 5 Studi Banding Proyek sejenis II. 5 .1 CIHAMPELAS WALK
Nama proyek : Cihampelas Walk
Lokasi : Jl. Cihampelas no 160 Bandung
Developer : PT. Karya Abadi Simarga
Arsitek Firm : BIRANO (Biro Arsitektur Achmad Noe’man)
Arsitek : Fauzan Noe’man, B. FA., B.Arch., IAI
Site Area : 3,5 hektar
Building Area : 24,900 m²
Open Space Area : 8.400 m²
Gambar II. 5 .1a massa bangunan, pedestrian, sirkulasi Ciwalk
CiWalk menggabungkan bangunan mal tiga lantai yang diapit beberapa blok
150 gerai, antara lain 13 kafe, 8 restoran, 27 foodcourt, department store,
bioskop dan playground
CX Cihampelas Walk Extention yang terdiri dari butik hotel dan skywalk Hotel
Butik dengan desain yang unik menyerupai sayap kupu-kupu bernuansa
modern tambahan gerai toko fashion beserta Café dan Restoran. Hotel yang
sedang dibangun adalah butik hotel dengan standar bintang 4 dengan jumlah
kamar sebanyak 128 kamar di kompleks Cihampelas Walk inipun akan
dibangun Sky Walk
Gambar II. 5 .2 a zoning massa bangunan Ciwalk
II. 5 .2 Zoning
Ciwalk sendiri menerapkan konsep Open mall design, Open mall sendiri ialah
mal terbuka yaitu mal tanpa pelingkup dengan tema walk sehingga penerapan
jalur pedestrian pada site sangat dominan. Hal ini didukung oleh kondisi lahan
yang berkontur sehingga tema dari Ciwalk dapat tercapai dengan baik.
Anchor tenant ditempatkan pada bagian belakang bangunan mal, hal ini
dimaksudkan agar sirkulasi para pengunjung dapat mengelilingi bangunan
secara maksimal
GambarII. 5 .3 a zona sirkulasi pedestrian di Ciwalk
II. 5 .3 Sirkulasi
Karena ciwalk dibangun dengan tema walk maka konsep sirkulasinya sangat
terasa ketika kita berada di didalam site ini. banyak terdapat jalur pedestrian
yang tidak simetris dan berkelok - kelok yang diterapkan pada lahan yang
berkontur secara maksimal pada sitenya sehingga para pengunjung dapat
leluasa berkeliling site dari satu retail ke retail yang lain. Dan kemudian juga
ditambahkan dengan adanya sky walk yang menghubungkan antar
massa-massa bangunan diatas lantai dasar pada sehingga menambah keberadaan
jalur sirkulasi pada site.
Gambar II. 5 .4a Penataan vegetasi di Ciwalk
II. 5 .4 Vegetasi
Vegetasi yang terdapat pada site cukup banyak, baik vegetasi sebagai
perindang site maupun hanya sekedar vegetasi penghias site, pada
perancangan awal pun keberadaan pohon-pohon besar dan yang terdapat
pada site tetap dipertahankan kemudian ditambahkan dengan taman-taman
kecil dan sehingga menambah kekayan vegetasi pada site. Hal ini sangat erat
kaitannya faktor iklim mikro dan tema walk pada perancangan awalnya
Foto II. 5 .4 b : kondisi penataan vegetasi di Ciwalk
GambarII. 5 .5 a keadaan sirkulasi kendaraan di Ciwalk
II. 5 .5 Sirkulasi kendaraan dan parkir
Sirkulasi utama jalur kendaraan pada site titempatkan pada bagian timur site
baik akses masuk maupun keluar, sedangkan untuk akses service terdapat di
sebelah barat site masuk kedalam site menikuti sisi timur site menuju bangunan
parkiran, pada awalnya parkir ditempatkan di ruang terbuka namum ada
penambahan projek Ex Ciwalk maka seluruh fungsi dimasukkan ke dalam
gedung parkir baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Parkiran yang
terdapat di mal ciwalk juga cukup memadai dengan desain dinding yang terbuka
sehingga kita tetap berasa nyaman walau berada di tempat parkir cukup lama,
BAB III. ELABORASI TEMA
III.1 pengertian tema
Tema : EDUKASI dan REKREASI
III.1.1 Edukasi
Edukatif atau edukasi atau pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi
individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi
mengenai obyek - obyek tertentu dan spesifik.
Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu
mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah
diperolehnya. Namun Pendidikan sendiri terbagi atas 2 bagian yaitu pendidikan
formal dan pendidikan non formal. Sedangkan konsep edukasi yang hendak
diterapkan pada perancangan bangunan Cibaduyut Shoes Center ini adalah
pendidikan yang non formal
Pengertian edukasi non formal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan
nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal
setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh
Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan.
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang
memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,
sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi
peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan
keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian
profesional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,
pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan
perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan
kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta
pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus,
lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain
sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik.
Satuan penyelenggara pendidikan non formal antara lain:
• Kelompok bermain (KB) • Taman penitipan anak (TPA) • Lembaga kursus
• Sanggar
• Lembaga pelatihan • Kelompok belajar
• Pusat kegiatan belajar masyarakat • Majelis taklim
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk
mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,
III.1.2 Rekreasi
Ada beberapa pendapat tentang rekreasi antara lain:
- Aktifitas diwaktu senggang, terutama itujukan untuk kepuasan pribadi
(Gold, 1980)
- Penyegaran kembali kekuatan dan semangat setelah bekerja keras,
berupa hiburan, permainan (William, 1958)
- Kebutuhan manusia untuk memulihkan dan meningkatkan kondisi
jasmani, rohani atau keduanyamelalui kegiatan yang dilakukan pada
waktu luang serta memberikan kesenangan dan kepuasan bagi
pelakunya (Doel, 1967)
- Kegiatan diwaktu luang,termasuk kegiatan olahraga, menikmati
pemandangan informal dan juga kesenian (Dixei, 1974).
- Segala pemuasan yang dilakukan dalam waktu senggang yang berbeda
dengan kegiatan sehari-hari (Baud Bovy, 1977).
- Partisipasi kedalam aktifitas yang dirasakan sebagai rekreasi oleh
pelaku, dan merupakan pengalaman yang berupa psiko-fisiologis.
Merupakan pilihan sendiri dilakukan dalam waktu luang dan tidak
terpaksa (Van Doren, 1979).
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
rekreasi merupakan satu aktifitas diluar mencari nafkah yang berbeda dengan
kegiatan sehari-hari dalam arti hanya dilakukan sesekali. Aktifitas ini merupakan
kegiatan yang mwenggembirakan pelakunya serta berkaitan dngan tersedianya
III.1.3 Tujuan Rekreasi
jika ditinjau lebih jauh maka rekreasi terdapat tujuan-tujuan lain yang lebih
bermakna dibandingkan sekedar mengisi waktu luang. Tujuan tersebut antara
lain:
- Menciptakan dan membina hubungan antar manusia.
- Mengenal dan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup.
- Membina, memngembangkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya
bangsa.
- Membentuk kepribadian.
- Mendapatkan kesenangan dan kepuasan.
- Memupuk dan mengembangkan ketrampilan dan kreatifitas.
- Memulihkan dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
III. 1. 4 Jenis kegiatan rekreasi
Berdasarkan bentuknya, kegiatan rekreasi secara umum dapat dibedakan
menjadi rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Pada rekreasi aktif, pelaku terlibat
langsung dengan obyek rekreasi, misalnya mendaki gunung, bertamasya ditepi
pantai atau bermain tenis. Sedangkan pada rekreasi pasif, keterlibatan langsung
ini tidak terjadi.
Pelaku menikmati kegiatan-kegiatan tersebut secara pasif, misalnya dengan
menonton pertunjukan, mengunjungi galeri atau museum atau sekedar
jalan-jalan, dan “window shopping”. Pada rekreasi pasif unsur hiburan lebih
menonjol. Disini ada pihak yang menghibur dan dihibur.
Sedangkan berdasarkan sifatnya, pengalamanrekreasi bisa didapatkan dari
berbagai macam kegiatan (Gold, 1982) . yaitu:
- Rekreasi fisik
Pengalaman rekreasi didapat dari aktifitas fisik , misalnya berolah raga
- Rekreasi sosial
Termasuk didalamnya interaksi sosial sebagai pengalaman utama
aktifitas.
- Rekreasi kognitif
Antara lain berupa aktifitas budaya, pendidikan.
- Rekreasi lingkungan
Menggunakan sumber daya alam seperti pohon, pemandangan, sebagai
fokus kegiatan.
III.1.5 Kebutuhan rekreasi
Kebutuhan rekreasi pada masyarakat berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi
oleh faktor tingkat usia. Pada masing-masing tingkat usia arti rekreasi itu sendiri
berbeda-beda, demikian pula cara mereka memenuhi kebutuhan mereka
tersebut. Misalnya pada:
1. Anak-anak
Anak-anak memperoleh kegembiraan hanya dengan mengaktifkan
tubuhnya. Rekreasi bagi anak-anak adalah bermain. Dengan bermain
ia dapat melepaskan diri dari ketegangan fisik. Rekreasi yang bersifat
aktif ini akan dapat menolong anak-anak tumbuh dan
mengembangkan kematangannya dan melalui sarana bermain sang
anak akan menyadari kemampuan dan juga keterbatasannya.
2. Remaja
Bagi remaja rekreasi merupakan kegiatan dimana mereka dapat
menemukan dinamika, mengembangkan kreatifitas, kehidupan yang
penuh petualangan dan semangat. Mereka tertarik pada aktifitas fisik
3. Dewasa
Dibandingkan dengan remaja atau anak-anak yang sedang dalam
masa pertumbuhan, kaum dewasa cenderung tidak aktif. Semakin
bertambahnya usia, mereka lebih suka menyalurkan kepuasan
rekreasi melalui program-program televise, bioskop, buku-buku dan
majalah. Jenis-jenis rekreasi yang mereka minati umumnya lebih
bersifat pasif berupa hiburan.
Untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, ada beberapa hal yang diperlukan
tergantung pada orientasinya. Misalnya untuk rekreasi yang berhubungan
dengan pemakaian sumber-sumber alam, misalnya pantai dan pegunungan,
maka kepuasan yang didapat tergantung pada kualitas tempat tersebut serta
kemudahan pencapaiannya.
Sedangkan untuk rekreasi yang membutuhkan sarana. Maka tingkat kepuasan
tergantung pada kelengkapan sarana tersebut. ada pula rekreasi yang
kepuasannya tidak tergantung pada lokasi maupun kelengkapan fasilitas,
melainkan pada efektifitas pengguna waktu luang tersebut.
III.1.6 Fasilitas Rekreasi
fasilitas rekreasi merupakan pengolahan lingkungan menjadi sarana untuk
mewadahi kegiatan rekreasi bagi masyarakat. dengan adanya sarana ini
diharapkan kebutuhan rekreasi akan terpenuhi dan masyarakat akan
mendapatkan kepuasan. Jika kita lihat sebelumnya ada beberapa orientasi cara
pemenuhan kebutuhan rekreasi, yaitu dengan menekankan pada lokasi, aktifitas
atau pemanfaatan waktu luang. sehingga fasilitas rekreasi pun bisa dalam
bentuk :
- Sumber - sumber alam, seperti pantai, gunung.
- Fasilitas fisik, seperti gelanggang olah raga.
ada pula yang membedakan fasilitas rekreasi dalam bentuk :
- Usaha rekreasi yang bertitik tolak pada pengertian outdoor recreation.
- Hiburan umum dapat interpretasikan sebagai indoor recreation atau in-
entertainment.
III. 2 Interpretasi Tema Tema : Edukasi dan rekreasi
Maksud penerapan tema edukasi dan rekreasi pada perancangan Cibaduyut
Shoes Center disini dimaksudkan agar perancangan ini dapat mewadahi suatu
kegiatan rekreasi berupa kegiatan berbelanja produk - produk kulit khas
Cibaduyut misalnya sepatu, jaket, tas dan lain-lain yang dikemas dengan
konsep edukasi. Tujuannnya adalah untuk menambah minat dan daya tarik
pengunjung terhadap produk – produk yang diproduksi di lokasi ini.
Penerapan konsep edukasi rekreasi di dalam perancangan ini terdapat pada,
penerapan gubahan massa bangunan, konsep gubahan massa yang
menampilkan proses aktifitas yang terjadi didalam bangunan jika dilihat dari luar
bangunan, fungsi – fungsi bangunan yang mewadahi aktifitas edukasi dan
rekreasi serta penerapan konsep perancangan yang mengacu pada tema yang
diangkat.
Penerapan tema pada massa bangunan :
Edukasi :
- Museum.
- Gallery Eksibisi.
- Unit pelatihan.
-
Rekreasi :
- Retail sedang.
- Retail kecil.
- Café dan food court sebagai pendukung.
- Penerapan tema pada bentukan massa bangunan.
- Penerapan tema dari material bahan bangunan yang dipakai.
- Bukaan-bukaan pada massa bangunan.
- Jalur – jalur sirkulasi.
- Ruang terbuka yang mewadahi aktifitas rekreasi maupun edukasi.
Berdasarkan Tipologi Bangunan Rekreasi Aktif Komersil di Jakarta menurut Linda Y,
bahwa karakter Bangunan Rekreasi adalah :
KRITERIA BAGIAN UTAMA KETERANGAN
1. Pengolahan tapak A. Pemilihan tema Umumnya denga pemanfaatan
potensi tapak dan di sesuaikan pada
perkembangan wadah rekreasi tiap
kurun waktu.
B. Pola Sirkulasi Menuntut DINAMIS dengan
mengkombinasikan pola-pola yang
ada dan menuntut adanya suatu
aliran, sehingga memberikan
pengarahan yang jelas bagi
pengunjung.
2. Pengolahan
Bangunan
A. Pemilihan tema Wadah rekreasi menjadi wadah
sesuai dengan kondisi lingkungan
sekitar tapak
B. Pengolahan
Ruang
Menciptakan ruang-ruang intim,
santai dan sesuai dengan sifat
rekreasi.
C. Kegiatan Penerapan pada pengolahan ruang
yang sesuai hirarkinya (utama,
pendukung)
D. Bentuk Ruang DINAMIS, pengunjung merasa
nyaman dan informasi, yang
menghilangkan rasa tegang dan
formil dalam kegiatan rutin.
E. Penyediaan
Fasilitas dan Kegiatan
Selalu mengalami pembaharuan
dengan memperhatikan keunikan dan
imajinasi yang berkaitan dengan
Bab IV. ANALISIS
IV. 2 Analisis kondisi lingkungan IV. 2. 1 Lokasi
KE CAM ATAN BO J O NG L O A KIDUL
Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan
dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,
dengan batas wilayah sebagai berikut :
Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar
5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah
Kec.Bojongloa Kidul
Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian
Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu
Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613
tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini diperkirakan mencapai
Rp 14,7 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 5 juta pasang / tahun.
Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit showroom/outlet,
4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri
shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri
Lokasi : Ja
Luas lahan : 2
GSB : 2
KDB : 6
KLB : 1
4. 2. 2 Kriteria Pemilih • Daerah yang m
dan rekreasi. • Tetap mempert
wisata / shoppin
• Faktor ekonomis • Faktor efisiensi • Aksebilitas yang
menjadi tujan rencana pengembangan kaw
rtahankan keberadaan jalan Cibaduyut s
ping street.
is / harga jual lahan.
si pembebasan lahan.
ng lancar, tidak mengakibatkan kemacetan
awasan pariwisata
sebagai kawasan
Loka
si
U
IV. 2. 3 Batas – batas • Barat : • Timur : • Utara : • Selatan :
Fungsi bangunan s
- 75 % Toko sepatu
- 10 % Toko bahan
- 5 % fashion
- 5% lain-lain
s site
Area persawahan dan kolam ikan.
Area persawahan dan pemukiman pe
Gang pak kasub, pemukiman penduduk.
Area persawahan dan pemukiman pen
sekitar site :
tu
n sepatu
enduduk.
k.
Aksebilitas
jalan cibaduyut merupakan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan jalan
Soekarno-Hatta dengan jalan tol Padalarang – Cileunyi letakmya berada di
bagian selatan kota Bandung, tidak jauh dari lokasi terminal Bus Lewi Panjang
(700m) sehingga lokasi site ini menjadi sangat strategis.pencapaian bisa
menggunakan kendaraan umum (angkot, taxi, kendaraan pribadi, bus dll)
Ekologi
vegetasi yang terdapat di site sangat kurang terutama untuk jenis pohon-pohon
besar/ tanaman perindang, karena pada kawasan ini udara sangat panas
disiang hari, sebagian site hanya ditumbuhi rumput rumput karena daerah
tersebut merupakan bekas area persawahan tidak jauh dari site, pada bagian
barat dan bagian selatan juga terdapat area persawahan
IV. 2. 4 Analisa work shop yang ada di cibaduyut :
1. Marista Work shop
Work shop ini memiliki Jumlah karyawan 10 orang dipimpin 1 orang bos,
pembagian pekerjaan yaitu 2:1:1 yaitu 2 orang mengerjakan sol, 1 orang
mengerjakan muka sepatu dan 1 orang pekerja lagi mengerjakan finishing.
Pekerjaan dilakukan selama 6 hari kerja masuk pukul 08.00 samapai selesai
pukul 17.00 sore hari, sedangkan istirahat pada pukul 12.00 siang sampai pukul
13.00 dalam 1 hari kerja workshop ini dapat menyelesaikan rata-rata 3 lusin
sepatu.
Bahan baku berupa kulit hewan, dasar sepatu,dan aksesoris yang diperoleh dari
toko - toko distributor yang ada di jalan Cibaduyut, sedangkan untuk bentuk
merek dipesan pada tempat percetakan atau sablon.
Ukuran ruangan workshop 60 m2 antara lain: • Ruang sol
• Ruang administrasi
Proses pekerjaan :
persiapan bahan baku dasar sepatu (sol) dan muka sepatu (kulit) persiapan
pola desain berdasarkan ukuran pola desain digambarkan pada bahan kulit,
kemudian dipotong setelah dipotong pola tadi dijahit sesuai bentuk proses
pengeleman bahan kulit (muka) ke bahan sol (dasar) setelah dilem sepau di
press menggunakan alat setelah lem kering dipasang aksesoris dan tali sepatu
spatu dibersihkan dari lem dan kotoran proses pengepakan dan disimpan.
Gambar proses pekerjaan sepatu
2. Pak Doris Work shop
Work shop ini memiliki Jumlah 12 karyawan tetap dan beberapa karyawan lepas
,tidak jauh berbeda dengan pembuatan sepatu, yang membedakan hanyalah
pembuatan sandal gunung ini mereka tidak menggunakan bahan baku kulit.
Bahan baku hanyalah sol dasar sepatu, tali sendal yang dipesan dari pabrik dan
Ukuran ruangan workshop 70 m², terdiri dari 3 buah kamar yaitu: • Ruang sol.
• Ruang jahit.
• Ruang finishing, gudang pengepakan. Proses pekerjaan :
1. Persiapan bahan baku dasar sandal.
2. Persiapan tali – tali sandal.
3. Tali – tali sandal dijahit dengan bantuan mal ukuran sandal.
4. Setelah tali-tali selesai dijahit, direkatkan pada sol atas dan dilem.
5. Setelah dilem, sandal setengah jadi dilem lagi dengan sol paling dasar.
6. Hasil lem di press.
7. Sendal dibersihkan dari lem dan kotor, dan sol digurinda biar halus.
8. pengepakan.
3. PD. Murah Jaya
Work shop ini sebenarya juga memproduksi sepatu kulit, namun hanya untuk
orderan, mereka juga memproduksi tas sekolah. Jumlah karyawan yang bekerja
ditempat ini berjumlah 4 orang. 2 orang mengerjakan pekerjaan menjahit, 1
orang mengerjakan pemotongan pola pada bahan, dan 1 orang lagi
mengerjakan pemasangan aksesoris dan finishing, dalam 1 hari tempat ini
mampu memproduksi rata-rata 2 lusin tas sekolah
Ukuran ruangan work shop 63 m², terdiri dari 1 buah kamar yang disekat
menjadi 2 bagian yaitu: • Ruang sol. • Ruang jahit. • Ruang finishing. Proses pekerjaan :
1. Persiapan bahan dan penggambaran pola.
2. Bahan dipotong berdasarkan pola.
3. Setelah dipotong pola kemudian dijahit.
4. Selesai dijahit, bahan tas setengah jadi dipasangi aksesoris seperti resleting,
5. Kemudian tas diperiksa dan dikemas. Tas siap dipasarkan
IV. 3 Kesimpulan potensi site :
• Kondisi kontur tanah pada site cenderung datar.
• Akses ke site cukup mudah / dekat dengan jalan Soekarno - Hatta dan jalan tol Padalarang – Cileunyi (site diapit oleh 2 buah jalan Arteri
Primer) .
• Lokasi dekat dengan terminal Leuwi Panjang.
• Lokasi merupakan tujuan wisata yang sudah dikenal masyarakat luas.
kelemahan site:
• Merupakan daerah rawan banjir pada musim hujan. • Kurangnya vegetasi sebagai perindang.
• Pada siang udara terasa sangat panas.
• Penataan trotoar yang kurang baik bagi pedestrian. • Penataan parkir yang kurang baik.
• Luas badan jalan yang sempit.
• Suasana jalan yang macet ketika waktu sore hari (jam pulang kerja) dan pada akhir pekan.
• Lokasi merupakan bekas area persawahan, sehingga perlu ditimbun lagi
BAB V. KONSEP RANCANGAN
V.1. Konsep Dasar
Konsep dasar penataan gubahan masa dalam site dapat digambarkan dalam
Diagram V.1 konsep penataan massa bangunan didalam site
V.1.1 Konsep Gubahan Massa
gambar V.1.1 gubahan masa dalam site
Dalam site terdapat 3 zona massa bangunan :
Edukasi :
- Museum
- Gallery dan exhibition
- Unit pelatihan kerajinan kulit Rekreasi :
- Retail besar dan workshop - Retail besar
- Pengelola - Mushola - Café - Foodcourt
V.1.2 Konsep Sirkulasi Kendaraan
gambarV.1.2 pola sirkulasi kendaraan
Konsep sirkulasi kendaraan yang diterapkan dalam site adalah kejelasan dari
entrance utama kemudian kemudahan dalam pencapaian ke area parkir, zona
jalur kendaraan umum dan servis dipisah sehingga zona-nya masing - masing
fungsi menjadi teratur, untuk area parkir bus sendiri dipisahkan dengan parkir
umum dikarenakan factor kemudahan. Adapun fungsi parkir tersebut antara lain:
- Parkir umum - Parkir motor - Parkir bus
- Parkir service sampah, pengelola, museum dan loading dock
V.1.3 Konsep Sirkulasi Pedestrian
Gambar V.1.3 pola sirkulasi pedestrian
konsep jalur sirkulasi dan ruang terbuka
4 buah plasa sebagai pusat orientasi massa :
- plasa penarik massa ke site
plasa ini dirancang tujuannya untuk menarik pengunjung yang berada di
jalan Cibaduyut agar masuk ke site.
- plasa penerima
plasa ini dirancang untuk menerima pengunjung yang datang dari plasa
penari yang berada di depan .
plasa ini dirancang sebagai pusat orientasi ruang terbuka yang ada di
dalam site, plasa ini juga nantinya menjadi pusat kegiatan ruang terbuka
yang ada d dalam site seperti bazaar, pameran di out door, dan lain-lain.
- plasa belakang
plasa ini dirancang menjadi pusat orientasi massa bangunan yang
berada di bagian belakang terutama massa bangunan food court dan
café dan juga sebagai pengantar ke area parkir.
terdapat jalur –jalur pedestrian yang menghubungkan plasa satu dengan plasa
yang lain terdapat jalur sirkulasi yamh menghubungkan masa bangunan baik
di jalan terbuka maupun pada coridor bangunan.
V.1.4 Konsep Penataan Vegetasi
gambarV.1.4 penataan vegetasi dalam site
konsep vegetasi
beberapa konsep penataan vegetasi pada site :
- vegetasi sebagai pengarah
- vegetasi sebagai elemen estetis di dalam site
V.1.5 Konsep Penataan Massa Bangunan Fungsi bangunan dan program ruang
FUNGSI MASSA
Unit pelatihan - Lobby
- R. Penelola
- R. Briffing
- R. pelatihan Kulit
- R. pekerjaan Sol
Retail sedang - Retail
Musholla - Tempat Wudhu - Tempat shollat
162 m²
Service Pengelola - Lobby
- R. Administrasi
- R. Pegawai
- R. Arsip
- R. Rapat
- Gudang
- Toilet
324 m²
Mekanikal Elektrikal
- R. genset
- R. Pompa
64 m²
Total luas lahan terbangun 5.480,8045 m²
V.1.6 Konsep Penataan Ruang luar dan dalam
gambarV.1.6 a eksterior galeri dan eksibisi
V.1.5 Konsep Utilitas
a. Listrik
b. Air Bersih.
c. Air Kotor / Greywater
Unit -unit list rik
PLN M et eran M DP DP
GENSET
Pre-t reat m ent filt er Soil box Plant er
Pengairan t am an/ air t anah, sum ur resapan
Riol Kot a
Ruang Shaft / Pipa Sept ik Tank
Shaft Sprinkler
Unit -unit Ruang
PDAM M et eran Bak Penam pungan Shaft
BAB IV. ANALISIS
IV. 2 Analisis kondisi lingkungan IV. 2. 1 Lokasi
KE CAM ATAN BO J O NG L O A KIDUL
Gambar IV. 2. 1 Lokasi makro
Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan
dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,
dengan batas wilayah sebagai berikut :
Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar
5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah
Kec.Bojongloa Kidul
Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian
Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu
Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613
tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini diperkirakan mencapai
Rp 14,7 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 5 juta pasang / tahun.
Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit showroom/outlet,
4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri
shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri
Lokasi : Ja
Luas lahan : 2
GSB : 2
KDB : 6
KLB : 1
4. 2. 2 Kriteria Pemilih • Daerah yang m
dan rekreasi. • Tetap mempert
wisata / shoppin
• Faktor ekonomis • Faktor efisiensi • Aksebilitas yang
menjadi tujan rencana pengembangan kaw
rtahankan keberadaan jalan Cibaduyut s
ping street.
is / harga jual lahan.
si pembebasan lahan.
ng lancar, tidak mengakibatkan kemacetan
awasan pariwisata
sebagai kawasan
Loka
si
U
IV. 2. 3 Batas – batas • Barat : • Timur : • Utara : • Selatan :
Fungsi bangunan s
- 75 % Toko sepatu
- 10 % Toko bahan
- 5 % fashion.
Gambar 4. 2. 2 b analisa lokasi
s site
Area persawahan dan kolam ikan.
Area persawahan dan pemukiman pe
Gang pak kasub, pemukiman penduduk.
Area persawahan dan pemukiman pen
sekitar site :
tu.
n sepatu.
enduduk.
k.
- 5% lain-lain.
Aksebilitas
jalan cibaduyut merupakan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan jalan
Soekarno-Hatta dengan jalan tol Padalarang – Cileunyi letakmya berada di
bagian selatan kota Bandung, tidak jauh dari lokasi terminal Bus Lewi Panjang
(700m) sehingga lokasi site ini menjadi sangat strategis.pencapaian bisa
menggunakan kendaraan umum (angkot, taxi, kendaraan pribadi, bus dll)
Ekologi
vegetasi yang terdapat di site sangat kurang terutama untuk jenis pohon-pohon
besar/ tanaman perindang, karena pada kawasan ini udara sangat panas
disiang hari, sebagian site hanya ditumbuhi rumput rumput karena daerah
tersebut merupakan bekas area persawahan tidak jauh dari site, pada bagian
barat dan bagian selatan juga terdapat area persawahan
IV. 2. 4 Analisa work shop yang ada di cibaduyut :
1. Marista Work shop
Work shop ini memiliki Jumlah karyawan 10 orang dipimpin 1 orang bos,
pembagian pekerjaan yaitu 2:1:1 yaitu 2 orang mengerjakan sol, 1 orang
mengerjakan muka sepatu dan 1 orang pekerja lagi mengerjakan finishing.
Pekerjaan dilakukan selama 6 hari kerja masuk pukul 08.00 samapai selesai
pukul 17.00 sore hari, sedangkan istirahat pada pukul 12.00 siang sampai pukul
13.00 dalam 1 hari kerja workshop ini dapat menyelesaikan rata-rata 3 lusin
sepatu.
Bahan baku berupa kulit hewan, dasar sepatu,dan aksesoris yang diperoleh dari
toko - toko distributor yang ada di jalan Cibaduyut, sedangkan untuk bentuk
merek dipesan pada tempat percetakan atau sablon.
• Ruang sol
• Ruang administrasi
• Ruang jahit, finishing dan gudang Proses pekerjaan :
persiapan bahan baku dasar sepatu (sol) dan muka sepatu (kulit) persiapan
pola desain berdasarkan ukuran pola desain digambarkan pada bahan kulit,
kemudian dipotong setelah dipotong pola tadi dijahit sesuai bentuk proses
pengeleman bahan kulit (muka) ke bahan sol (dasar) setelah dilem sepau di
press menggunakan alat setelah lem kering dipasang aksesoris dan tali sepatu
spatu dibersihkan dari lem dan kotoran proses pengepakan dan disimpan.
Gambar IV. 2. 4 proses pekerjaan sepatu marista work hop
2. Pak Doris Work shop
Work shop ini memiliki Jumlah 12 karyawan tetap dan beberapa karyawan lepas
,tidak jauh berbeda dengan pembuatan sepatu, yang membedakan hanyalah
Bahan baku hanyalah sol dasar sepatu, tali sendal yang dipesan dari pabrik dan
aksesoris sendal.
Ukuran ruangan workshop 70 m², terdiri dari 3 buah kamar yaitu: • Ruang sol.
• Ruang jahit.
• Ruang finishing, gudang pengepakan. Proses pekerjaan :
1. Persiapan bahan baku dasar sandal.
2. Persiapan tali – tali sandal.
3. Tali – tali sandal dijahit dengan bantuan mal ukuran sandal.
4. Setelah tali-tali selesai dijahit, direkatkan pada sol atas dan dilem.
5. Setelah dilem, sandal setengah jadi dilem lagi dengan sol paling dasar.
6. Hasil lem di press.
7. Sendal dibersihkan dari lem dan kotor, dan sol digurinda biar halus.
8. pengepakan.
3. PD. Murah Jaya
Work shop ini sebenarya juga memproduksi sepatu kulit, namun hanya untuk
orderan, mereka juga memproduksi tas sekolah. Jumlah karyawan yang bekerja
ditempat ini berjumlah 4 orang. 2 orang mengerjakan pekerjaan menjahit, 1
orang mengerjakan pemotongan pola pada bahan, dan 1 orang lagi
mengerjakan pemasangan aksesoris dan finishing, dalam 1 hari tempat ini
mampu memproduksi rata-rata 2 lusin tas sekolah
Ukuran ruangan work shop 63 m², terdiri dari 1 buah kamar yang disekat
menjadi 2 bagian yaitu: • Ruang sol. • Ruang jahit. • Ruang finishing. Proses pekerjaan :
1. Persiapan bahan dan penggambaran pola.
2. Bahan dipotong berdasarkan pola.
3. Setelah dipotong pola kemudian dijahit.
4. Selesai dijahit, bahan tas setengah jadi dipasangi aksesoris seperti resleting,
5. Kemudian tas diperiksa dan dikemas. Tas siap dipasarkan
IV. 3 Kesimpulan potensi site :
• Kondisi kontur tanah pada site cenderung datar.
• Akses ke site cukup mudah / dekat dengan jalan Soekarno - Hatta dan jalan tol Padalarang – Cileunyi (site diapit oleh 2 buah jalan Arteri
Primer) .
• Lokasi dekat dengan terminal Leuwi Panjang.
• Lokasi merupakan tujuan wisata yang sudah dikenal masyarakat luas.
kelemahan site:
• Merupakan daerah rawan banjir pada musim hujan. • Kurangnya vegetasi sebagai perindang.
• Pada siang udara terasa sangat panas.
• Penataan trotoar yang kurang baik bagi pedestrian. • Penataan parkir yang kurang baik.
• Luas badan jalan yang sempit.
• Suasana jalan yang macet ketika waktu sore hari (jam pulang kerja) dan pada akhir pekan.
• Lokasi merupakan bekas area persawahan, sehingga perlu ditimbun lagi.
Pomerolus Tualaka (10410703) iv
Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er
UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA
DAFTAR ISI
Sari……….. i
Prakata……….. ii
Daftar isi……… iii
Daftar lampiran……… viii
BAB 1. PENDAHULUAN………. 1
1.1 Latar Belakang……… 1
1.2 Maksud dan Tujuan……… 2
1.2.1 Maksud……….. 2
1.2.2 Tujuan………. 3
1.3 Masalah Perancangan……… 3
1.4 Pendekatan………. 4
1.5 Lingkup dan batasan……….. 4 1.6 Kerangka berpikir………. 5
1.7 Sistematika Laporan……… 6
BAB 2. DESKRIPSI PROYEK………. 7
Pomerolus Tualaka (10410703) v
Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er
UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA
2. 1.1 Lokasi ………. 7
2. 2 Peraturan Perancangan Fungsi Komersil……….. 11
2. 3 Program kegiatan………. 15
2.4 Kebutuhan Ruang………. 16
2. 5 Studi Banding Proyek sejenis……… 19
2.5.1 CIHAMPELAS WALK……….. 19
2.5.2 Zoning……….. 21
2.5.3 Sirkulasi ……….. 22
2.5.4 Vegetasi ………. 23
2.5.5 Sirkulasi kendaraan dan parkir ……… 24
BAB 3. ELABORASI TEMA………... 26
3.1 pengertian tema……… 26
3.1.1 Edukasi……… 26
3.1.2 Rekreasi………. 28
3.1.3 Tujuan Rekreasi……… 29
3.1.4 Jenis kegiatan rekreasi………. 29
3.1.5 Kebutuhan rekreasi……….. 30
3.1.6 Fasilitas Rekreasi……….. 31
Pomerolus Tualaka (10410703) vi
5.1.2 Konsep Sirkulasi Kendaraan……… 47
5.1.3 Konsep Sirkulasi Pedestrian……… 48
5.1.4 Konsep Penataan Vegetasi ……… 49
5.1.5 Konsep Penataan Massa Bangunan……….. 50
5.1.6 Konsep Penataan Ruang luar dan dalam………. 52
Pomerolus Tualaka (10410703) vii
Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er
UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA
Gambar II. 2 e mal dan retail dalam satu lantai dengan parkir rata samping
12
Gambar II. 2 f. Mal dan retail dalam dua lantai dengan parkir rata tiap lantai
13
Gambar II. 2 g. Mal dan retail dalam kawasan CBD menjadi tiga lantai dengan parkir basement
13
Gambar II. 5 .1a massa bangunan, pedestrian, sirkulasi Ciwalk 19
Gambar II. 5 .1b zoning massa bangunan Ciwalk 20
Foto II. 5 .2 b kondisi penataan retail dan coridor di Ciwalk 21
GambarII.5.3 a zona sirkulasi pedestrian di Ciwalk 22
Foto II. 5 .3b plaza dan jalur pedestrian yang ada Ciwalk 22
Gambar II. 5 .4a Penataan vegetasi di Ciwalk 23
Foto II. 5 .4 b : penataan vegetasi yang ada Ciwalk 23
GambarII. 5 .5 a keadaan sirkulasi kendaraan di Ciwalk 24
Foto II. 5 .5b kondisi jalur sirkulasi kendaraan di Ciwalk 25
Gambar IV. 2.1 Lokasi makro 36
Gambar IV. 2. 1 b peta Lokasi 37
Gambar 4. 2. 2 peta block plann 38
Gambar 4. 2. 2 b analisa lokasi 39
Gambar IV. 2. 4 proses pekerjaan sepatu marista work hop 41
Gambar IV. 2. 4 b proses pekerjaan sandal Pak Doris 42
GambarIV. 2. 4 c proses pekerjaan tas PD. Murah jaya 46
gambar V.1.1 gubahan masa dalam site 47
gambarV.1.2 pola sirkulasi kendaraan 48
Gambar V.1.3 pola sirkulasi pedestrian 49
gambarV.1.4 penataan vegetasi dalam site 52
Pomerolus Tualaka (10410703) viii
Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er
UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA
Pomerolus Tualaka (10410703) 1
Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er
UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA
DAFTAR PUSTAKA
Neufrt . ernst. “Data Arsitek” Edisi Kedua. Penerbit Erlangga. Grasindo. Jakarta. 2004
Universitas Gajah Mada, “pusat Perdagangan”, studi khasus Pusat Perdagangan di Yogyakarta.
Indonesia Design, 2006“Magasine”, vol 3, no.12,
Beddington, Nadine, “Design For Shopping Centers”, Butterworth Scientific, London, 1982
Ching, Francis D. K., 1999, Arsitektur :” Bentuk, Ruang dan Susunannya” (terjemahan), Erlangga, Jakarta
Marliana, Endy, 2008, “Panduan Perancangan Bangunan Komersial” , Yogyakarta: PT.
Andy offset.
Http://en.wikipedia.org/wiki/Fashion.
Http://en.wikipedia.org/wiki/Ready-to-wear