• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cibaduyut Shoes Center "Edukatif Dan Rekreatif"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Cibaduyut Shoes Center "Edukatif Dan Rekreatif""

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kota Bandung merupakan salah satu kota besar yang termasuk 5 (lima) kota

besar yang ada di Indonesia. Kelebihan kota Bandung dibandingkan kota – kota

lainnya adalah banyak memiliki potensi yang sekaligus menjadi identitas kota,

misalnya kawasan Cihampelas dengan sentra penjualan jeans, kawasan Kebon

Kalapa yang merupakan sentra penjualan pakayan dan juga salah satunya

adalah Kawasan Cibaduyut yang dikenal sebagai kawasan sentra industri

kerajinan sepatu dan lain- lain.

Dalam konteks pertumbuhan kota, Kawasan Cibaduyut merupakan segitiga

pertumbuhan wilayah kota bersama dengan Kawasan Pusat kota Tegalega dan

Pasar Induk Carigin dengan Terminal Leuwi Panjang sebagai titik tumbuh

kawasan. Perkembangan Kawasan Cibaduyut mengakibatkan banyaknya

wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak datang dan berbelanja

ataupun sekedar melancong.

Kurangnya penataan kawasan yang dirancang secara menarik sebagai objek

wisata belanja yang patut dikunjungi di Bandung khususnya menyebabkan

kawasan tersebut mendapat nilai yang kurang baik sebagai lokasi wisata

belanja. Permasalahan – permasalahan yang ada mengakibatkan menurunnya

potensi dan kualitas ruang kawasan yang ditambah dengan kurang tersedianya

(2)

Oleh karena itu perlu dirancang suatu wadah yang ditata tidak hanya mengatasi

permasalahan yang ada tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan

kualitas ruang pada kawasan tersebut. Adapun poin – poin yang ingin

diterapkan pada kawasan ini adalah:

• Membangun citra dan image baru kawasan tersebut bagi pertumbuhan kota Bandung.

• Menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari atraksi wisata kota dan menjadi sarana rekreasi pelepas kesibukan.

• Mempertegas orientasi kawasan demi kelancaran aksesibilitas dan peningkatan akivitas kawasan.

• Meningkatkan kualitas ruang sehingga tercipta suatu kawasan yang sesuai dengan harapan.

Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan Perencanaan dan Perancangan

sebuah komunitas komersil berupa Shoes Center yang khusus menjual sepatu

produk Cibaduyut di Kawasan tersebut yang diharapkan dapat menjadi

alternative dalam upaya menghidupkan serta daya tarik kawasan tersebut,

Sehingga dapat sedikit memecahkan konsentrasi publik di Kawasan Kota yang

sudah terlalu padat dengan berbagai kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan

masyarakat.

1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud

Adapun maksud dan tujuan perancangan dari proyek Cibaduyut Shoes Center

ini adalah sebagai berikut:

- Shopping Center sebagai tempat berkumpulnya para pekerja dan pelaku pengrajin sepatu yang ada di kawasan Cibaduyut

(3)

- Sebagai sarana untuk pengadaan acara-acara fashion (seperti peragaan produk, peluncuran produk, pagelaran fashion week).

- memicu kreatifitas dan inofasi perkembangan industri fashion dikalangan pengrajin sepatu Bandung.

- melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap berbagai produk-produk sepatu lokal.

- mewadahi dan membuka lapangan kerja untuk industri sepatulokal

- sebagai salah satu tempat wisata belanja, edukasi dan rekreasi di Bandung.

1.2.2 Tujuan

Bagi masyarakat / konsumen:

- Bagi para konsumen fashion khususnya sepatu yang berada di kota Bandung dan sekitarnya.

- Ditujukan bagi anak muda kota Bandung yang membutuhkan referensi akan perkembangan industri sepatu lokal.

- Dapat menjadi barometer perkembangan industri kerajinan sepatu yang ada di Indonesia khususnya di Bandung.

Bagi pengrajin dan pengusaha :

- Mempunyai tempat kerja yang layak

- Dari hasil kreatifitas para pengrajin ini mereka mempunyai tempat pameran karya-karya mereka.

(4)

1.3 Masalah Perancangan

Dapat mewujudkan satu buah kawasan yang mampu menaungi berbagai

aktifitas perdagangan serta wisata secara baik. Adapun fungsinya tersebut

berupa fasilitas komersil terpadu yang juga terdapat fungsi – fungsi bangunan

berupa gallery / work shop, tempat peragaan kerajinan, dan terdapat juga

fasilitas penunjang rekreasi berupa cafe, restoran dan pengelola. Pendekatan

desain ini bertema yang edukatif dan rekreatif pada kawasan Cibaduyut.

Adapun poin – poin yang perlu diperhatikan antara lain:

- Merancang sebuah lingkungan binaan yaitu berupa lingkungan komersil yang khusus menjual sepatu pada kawasan pengrajin sepatu di daerah

Cibaduyut.

- Selain sebagai tempat untuk menjual juga sebagai tempat pameran sepatu, dan bengkel kerja / menjadi salah satu daya tarik pengunjung

- Suasana dan karakter ditampilkan sesuai dengan ciri komunitas, pada penataan ruang, fasade, sirkulasi dan ruang publik.

1.4 Pendekatan

pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah

perencanaan dan perancangan kasus Cibaduyut Shoes Center adalah dengan

metode :

- studi literatur atau pustaka

metode ini dilakukan berdasarkan pada pengumpulan data-data untuk

mendapatkan landasan yang mengacu pada kaidah-kaidah yang sesuai dengan

kasus proyek dan memperkuat fakta secara ilmiah

- survey lapangan

metode ini berupa pengamatan langsung tentang karakteristik dan

permasalahan yang ada pada kawasan dan pengamatan mengenai kondisi

(5)

1.5 Lingkup dan batasan

lingkup dan batasan perencanaan proyek ini terbatas pada perancangan

Cibaduyut Shoes Center yang meliputi :

- Seluruh aspek fisik yang berhubungan dengan perancangan seperti

lingkungan tapak, massa bangunan, dan pembentukan ruang

- Data mengenai statistik terbaru penduduk kota bandung khususnya

kecamatan Bojongloa Kidul berupa industri kecil mengengah

(6)

1.6 Kerangka berpikir

Lat ar belakang

Cibaduyut Shoes Cent er

M aksud dan Tujuan

M asalah Perancangan

Pengum pulan dat a

Lingkup dan Bat asan Analisa Pendekat an

Pendekat an Konsep Desain Tema

Pendekat an Rancangan

(7)

1.7 Sistematika Laporan

Sistematika laporan meliputi:

Bab I. Pendahuluan

menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi dasar perumusan

perancangan yang meliputi: latar belakang,kerangka berpikirdan sistematika

laporan.

Bab II. Deskripsi Proyek

menjelaskan informasi umumproyek berupa lokasi, luas lahan, peraturan

GSB, KDB, KLB, luas dan tinggi bangunan pemilik, sumber dana,

kelengkapan fasilitas, program kegiatan, kebuutuhan ruang, dan juga studi

banding proyek sejenis.

Bab III. Elaborasi Tema

menjelaskan tentang pengertian, interpretasi tema, keterkaitan tema dengan

judul proyek dan studi banding tema.

Bab IV. Analisa

Menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan proyek seperti analisa tapak,

analisa ruang, analisa struktur, dan analisa utilitas.

Bab V. Konsep Perancangan

berisikan konsep-konsep dari rencana proyek meliputi konsep ruang luar,

konsep ruang dalam, konsep penerapan tema.

Bab VI. Hasil Perancangan

(8)

KECAMATAN BOJONGLOA KIDUL

BAB II. DESKRIPSI PROYEK

II. 1 Umum

Lokasi : Jalan Cibaduyut Raya no. 20, Gg Pak Kasub, kelurahan

Cibaduyut, kec. Bojongloa kidul ,kota Bandung

Luas lahan : 23,790 m² = 2,37 Ha

GSB : 2 meter

KDB : 60 %

KLB : 1,5

Sumber dana : Fiktif

Sifat Proyek : Fiktif

II. 1.1 Lokasi

Gambar 4. 2. 1 Lokasi Makro

Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan

dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,

dengan batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Kecamatan Astana Anyar.

2. Sebelah Timur : Kecamatan Astana Anyar.

(9)

4. Sebelah Utara :Kecamatan Bojongloa Kaler dan Kecamatan Babakan

Ciparay.

Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar

5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah

Kec.Bojongloa Kidul.

Kriteria Pemilihan Site

• Daerah yang menjadi tujan rencana pengembangan kawasan pariwisata dan rekreasi.

• Tetap mempertahankan keberadaan jalan Cibaduyut sebagai kawasan wisata / shopping street.

• Faktor ekonomis / harga jual lahan. • Faktor efisiensi pembebasan lahan.

(10)

Sekilas mengenai Cibaduyut

Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar

5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung itu memang sejak lama dikenal

sebagai pusat sepatu di daerah Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah

Kec.Bojongloa Kidul tersebut, pengunjung bisa menemukan beranekaragam

barang yang terbuat dari kulit. Tak hanya sepatu, tetapi juga sandal, tas,

dompet, hingga barang lainnya. Cibaduyut, bahkan, sudah terkenal hingga ke

luar negeri.

Potensi industry kecil dan menengah sepatu Cibaduyut sampai dengan tahun

2006 tercatat 828 Unit Usaha, menyerap tenaga kerja 3.498 orang dengan

investasi yang tertanam mencapai Rp. 14.507.168.000, bahan baku 6.293.400

feet sq, dan kapasitas produksi 2.982.600 pasang.

Industri sepatu Cibaduyut bermula pada tahun 1920-an dan dirintis oleh

beberapa warga setempat yang sehari-harinya bekerja pada sebuah pabrik

sepatu di Kota Bandung. Setelah pesanan semakin banyak, mereka kemudian

merekrut pekerja dari tetangga sekitar rumah. Akhirnya, keterampilan mereka

terus menyebar secara turun temurun. Warga sekitar pun ikut membuka usaha

yang sama pada tahun 1940, sebelum Jepang menjajah nIndonesia. Saat itu,

jumlah pengrajin sepatu Cibaduyut mencapai 89 orang.

Satu dekade berikutnya, jumlah pengrajin terus bertambah dan tidak sedikit di

antaranya yang menjadi pengusaha sepatu skala kecil. Pada masa ini, mulai

sentra sepatu Cibaduyut mulai terbentuk dengan jumlah usaha sekitar 250 unit.

Di saat itu pula, para pengrajin dan pengusaha mulai merasakan peningkatan

kebutuhan pengadaan bahan baku kulit yang harus diimpor dari luar negeri.

Para pelaku usaha di Cibaduyut membentuk sebuah wadah bernama

Gabungan Pengusaha Sepatu Desa Bojongloa (GPSB) guna mempermudah

(11)

berganti nama menjadi Koperasi Perkulitan dan Sepatu Indonesia (KOPSI)

dengan jumlah anggota mencapai 120 pengusaha/pengrajin.

Pada tahun 1977/1978, sentra industri sepatu Cibaduyut mulai mendapat

perhatian dari pemerintah pusat, melalui Departemen Perindustrian dan

Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan, Ekonomi, dan Sosial (LP3ES).

Perhatian itu ditunjukkan berupa pembangunan Unit Pelayanan Teknis (UPT).

Pada 1989, dibangun wartel di UPT agar pengrajin lebih mudah berkomunikasi

dengan pemasok bahan baku dan memperlancar pemesan dari luar kota dan

luar provinsi. Untuk membantu pelayanan distribusi, pada tahun 1990-an,

Departemen Perdagangan bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia. Lewat

jalur ini, pengrajin dan pengusaha mendapat kemudahan dalam pengiriman

pesanan sepatu ke luar daerah. Di masa ini, wilayah kerja pengrajin kemudian

meluas sampai ke Desa Sukamenak dan Desa Cangkuang, wilayah Kab.

Bandung.

Setelah terbentuk otonomi daerah pada 2001 , Kanwil Depperindag

menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan aset pada Pemprov Jabar,

termasuk UPT. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jabar Nomor 33 Tahun 2003,

UPT pun berubah nama menjadi Instalasi Pengembangan Industri Kecil

Menengah (IKM) Persepatuan. Dengan perkembangan yang terus terjadi,

berbagai industri pendukung seperti showroom/outlet, pusat perdagangan, toko

penjual bahan, dan toko pendukung lain juga tumbuh di kawasan ini.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian

Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu

Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613

tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini, diperkirakan mencapai Rp

(12)

Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit show room/outlet,

4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri

shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri

kemasan, dan lima unit industri sol karet.

II. 2 Peraturan Perancangan Fungsi Komersil

aBerikut adalah peraturan tentang perancangan bangunan fungsi komersil

adalah sebagai berikut

Menurut Maitland (1987) terdapat 3 bentuk umum mal dengan keuntungan dan

kerugian tersendiri:

Open (retail dengan Mal terbuka) adalah mal tanpa pelingkup.

Keuntungannya kesan luas dan perencanaan teknis yang mudah

sehingga biaya lebih murah, kerugiannya berupa kendala Climatic control

(pengaruh terhadap kenyamanan) dan kesan pewadahan kurang.

Gambar II. 2 a.Type Open

Enclosed (retail dengan mal tertutup) adalah mal dengan pelingkup.

Keuntungannnya berupa kenyamanan climatic control, kerugiannya

biayamahal serta kurang luas.

(13)

Integrited (retail dengan mal terpadu), adalah penggabungan mal terbuka dan tertutup. Biasanya berupa mal tertutup dengan akhiran yang

terbuka. Munculnya bentukan ini merupakan antisipasi terhadap

keborosan energi untuk climatic control serta mahalnya pembuatan dan

perawatan mal tertutup. Mal ini juga bertujuan mengonsetrasikan daya

tarik pengunjung pola mal tertutu

Gambar II. 2 c. Type Integrited

Pola parkir dan penataan retail adalah sebagai berikut:

Gambar II. 2 d system parkir multy decked

(14)

Gambar II. 2 f. Mal dan retail dalam dua lantai dengan parkir rata tiap lantai

(15)
(16)

II. 3 Program kegiatan

berdasarkan pelaku kegiatan, maka keggiatan yang dilakukan antara lain:

1. Kegiatan pengunjung antara lain: • Berbelanja.

• Melihat barang yang dipamerkan. • Jalan - jalan .

• Belajar membuat kerajinan kulit . • Dan lain - lain.

2. kegiatan pengelola:

• Mengelola dan mengatur jalannya operasional Cibaduyut Shoes Center.

• Melayani kebutuhan konsumen.

• Persiapan peralatan dan tempat sebelum kegiatan pertunjukan atau lainnya.

• Memberikan informasi singkat pada pengunjung. • Mengadakan publikasi.

• Penyelenggaraan kegiatan penunjang. 3. Kegiatan service:

• Membersihkan setiap ruangan .

• Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan - peralatan yang ada didalamnya.

(17)

II.4 Kebutuhan Ruang

Berikut tabel kebutuhan ruang dan persyaratannya :

(18)
(19)

- berada si

sekeliling site

- genset, pompa

dan T. sampah

- berada si sudut

- zona service

- dibafer dengan

vegetasi

(20)

II. 5 Studi Banding Proyek sejenis II. 5 .1 CIHAMPELAS WALK

Nama proyek : Cihampelas Walk

Lokasi : Jl. Cihampelas no 160 Bandung

Developer : PT. Karya Abadi Simarga

Arsitek Firm : BIRANO (Biro Arsitektur Achmad Noe’man)

Arsitek : Fauzan Noe’man, B. FA., B.Arch., IAI

Site Area : 3,5 hektar

Building Area : 24,900 m²

Open Space Area : 8.400 m²

Gambar II. 5 .1a massa bangunan, pedestrian, sirkulasi Ciwalk

CiWalk menggabungkan bangunan mal tiga lantai yang diapit beberapa blok

(21)

150 gerai, antara lain 13 kafe, 8 restoran, 27 foodcourt, department store,

bioskop dan playground

CX Cihampelas Walk Extention yang terdiri dari butik hotel dan skywalk Hotel

Butik dengan desain yang unik menyerupai sayap kupu-kupu bernuansa

modern tambahan gerai toko fashion beserta Café dan Restoran. Hotel yang

sedang dibangun adalah butik hotel dengan standar bintang 4 dengan jumlah

kamar sebanyak 128 kamar di kompleks Cihampelas Walk inipun akan

dibangun Sky Walk

(22)

Gambar II. 5 .2 a zoning massa bangunan Ciwalk

II. 5 .2 Zoning

Ciwalk sendiri menerapkan konsep Open mall design, Open mall sendiri ialah

mal terbuka yaitu mal tanpa pelingkup dengan tema walk sehingga penerapan

jalur pedestrian pada site sangat dominan. Hal ini didukung oleh kondisi lahan

yang berkontur sehingga tema dari Ciwalk dapat tercapai dengan baik.

Anchor tenant ditempatkan pada bagian belakang bangunan mal, hal ini

dimaksudkan agar sirkulasi para pengunjung dapat mengelilingi bangunan

secara maksimal

(23)

GambarII. 5 .3 a zona sirkulasi pedestrian di Ciwalk

II. 5 .3 Sirkulasi

Karena ciwalk dibangun dengan tema walk maka konsep sirkulasinya sangat

terasa ketika kita berada di didalam site ini. banyak terdapat jalur pedestrian

yang tidak simetris dan berkelok - kelok yang diterapkan pada lahan yang

berkontur secara maksimal pada sitenya sehingga para pengunjung dapat

leluasa berkeliling site dari satu retail ke retail yang lain. Dan kemudian juga

ditambahkan dengan adanya sky walk yang menghubungkan antar

massa-massa bangunan diatas lantai dasar pada sehingga menambah keberadaan

jalur sirkulasi pada site.

(24)

Gambar II. 5 .4a Penataan vegetasi di Ciwalk

II. 5 .4 Vegetasi

Vegetasi yang terdapat pada site cukup banyak, baik vegetasi sebagai

perindang site maupun hanya sekedar vegetasi penghias site, pada

perancangan awal pun keberadaan pohon-pohon besar dan yang terdapat

pada site tetap dipertahankan kemudian ditambahkan dengan taman-taman

kecil dan sehingga menambah kekayan vegetasi pada site. Hal ini sangat erat

kaitannya faktor iklim mikro dan tema walk pada perancangan awalnya

Foto II. 5 .4 b : kondisi penataan vegetasi di Ciwalk

(25)

GambarII. 5 .5 a keadaan sirkulasi kendaraan di Ciwalk

II. 5 .5 Sirkulasi kendaraan dan parkir

Sirkulasi utama jalur kendaraan pada site titempatkan pada bagian timur site

baik akses masuk maupun keluar, sedangkan untuk akses service terdapat di

sebelah barat site masuk kedalam site menikuti sisi timur site menuju bangunan

parkiran, pada awalnya parkir ditempatkan di ruang terbuka namum ada

penambahan projek Ex Ciwalk maka seluruh fungsi dimasukkan ke dalam

gedung parkir baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Parkiran yang

terdapat di mal ciwalk juga cukup memadai dengan desain dinding yang terbuka

sehingga kita tetap berasa nyaman walau berada di tempat parkir cukup lama,

(26)
(27)

BAB III. ELABORASI TEMA

III.1 pengertian tema

Tema : EDUKASI dan REKREASI

III.1.1 Edukasi

Edukatif atau edukasi atau pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi

individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi

mengenai obyek - obyek tertentu dan spesifik.

Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu

mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah

diperolehnya. Namun Pendidikan sendiri terbagi atas 2 bagian yaitu pendidikan

formal dan pendidikan non formal. Sedangkan konsep edukasi yang hendak

diterapkan pada perancangan bangunan Cibaduyut Shoes Center ini adalah

pendidikan yang non formal

Pengertian edukasi non formal

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang

dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan

nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal

setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh

Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional

pendidikan.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang

memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,

(28)

sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi

peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan

keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian

profesional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,

pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan

perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan

kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta

pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta

didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus,

lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain

sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan

kemampuan peserta didik.

Satuan penyelenggara pendidikan non formal antara lain:

• Kelompok bermain (KB) • Taman penitipan anak (TPA) • Lembaga kursus

• Sanggar

• Lembaga pelatihan • Kelompok belajar

• Pusat kegiatan belajar masyarakat • Majelis taklim

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal

pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk

mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,

(29)

III.1.2 Rekreasi

Ada beberapa pendapat tentang rekreasi antara lain:

- Aktifitas diwaktu senggang, terutama itujukan untuk kepuasan pribadi

(Gold, 1980)

- Penyegaran kembali kekuatan dan semangat setelah bekerja keras,

berupa hiburan, permainan (William, 1958)

- Kebutuhan manusia untuk memulihkan dan meningkatkan kondisi

jasmani, rohani atau keduanyamelalui kegiatan yang dilakukan pada

waktu luang serta memberikan kesenangan dan kepuasan bagi

pelakunya (Doel, 1967)

- Kegiatan diwaktu luang,termasuk kegiatan olahraga, menikmati

pemandangan informal dan juga kesenian (Dixei, 1974).

- Segala pemuasan yang dilakukan dalam waktu senggang yang berbeda

dengan kegiatan sehari-hari (Baud Bovy, 1977).

- Partisipasi kedalam aktifitas yang dirasakan sebagai rekreasi oleh

pelaku, dan merupakan pengalaman yang berupa psiko-fisiologis.

Merupakan pilihan sendiri dilakukan dalam waktu luang dan tidak

terpaksa (Van Doren, 1979).

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

rekreasi merupakan satu aktifitas diluar mencari nafkah yang berbeda dengan

kegiatan sehari-hari dalam arti hanya dilakukan sesekali. Aktifitas ini merupakan

kegiatan yang mwenggembirakan pelakunya serta berkaitan dngan tersedianya

(30)

III.1.3 Tujuan Rekreasi

jika ditinjau lebih jauh maka rekreasi terdapat tujuan-tujuan lain yang lebih

bermakna dibandingkan sekedar mengisi waktu luang. Tujuan tersebut antara

lain:

- Menciptakan dan membina hubungan antar manusia.

- Mengenal dan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup.

- Membina, memngembangkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya

bangsa.

- Membentuk kepribadian.

- Mendapatkan kesenangan dan kepuasan.

- Memupuk dan mengembangkan ketrampilan dan kreatifitas.

- Memulihkan dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.

III. 1. 4 Jenis kegiatan rekreasi

Berdasarkan bentuknya, kegiatan rekreasi secara umum dapat dibedakan

menjadi rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Pada rekreasi aktif, pelaku terlibat

langsung dengan obyek rekreasi, misalnya mendaki gunung, bertamasya ditepi

pantai atau bermain tenis. Sedangkan pada rekreasi pasif, keterlibatan langsung

ini tidak terjadi.

Pelaku menikmati kegiatan-kegiatan tersebut secara pasif, misalnya dengan

menonton pertunjukan, mengunjungi galeri atau museum atau sekedar

jalan-jalan, dan “window shopping”. Pada rekreasi pasif unsur hiburan lebih

menonjol. Disini ada pihak yang menghibur dan dihibur.

Sedangkan berdasarkan sifatnya, pengalamanrekreasi bisa didapatkan dari

berbagai macam kegiatan (Gold, 1982) . yaitu:

- Rekreasi fisik

Pengalaman rekreasi didapat dari aktifitas fisik , misalnya berolah raga

(31)

- Rekreasi sosial

Termasuk didalamnya interaksi sosial sebagai pengalaman utama

aktifitas.

- Rekreasi kognitif

Antara lain berupa aktifitas budaya, pendidikan.

- Rekreasi lingkungan

Menggunakan sumber daya alam seperti pohon, pemandangan, sebagai

fokus kegiatan.

III.1.5 Kebutuhan rekreasi

Kebutuhan rekreasi pada masyarakat berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi

oleh faktor tingkat usia. Pada masing-masing tingkat usia arti rekreasi itu sendiri

berbeda-beda, demikian pula cara mereka memenuhi kebutuhan mereka

tersebut. Misalnya pada:

1. Anak-anak

Anak-anak memperoleh kegembiraan hanya dengan mengaktifkan

tubuhnya. Rekreasi bagi anak-anak adalah bermain. Dengan bermain

ia dapat melepaskan diri dari ketegangan fisik. Rekreasi yang bersifat

aktif ini akan dapat menolong anak-anak tumbuh dan

mengembangkan kematangannya dan melalui sarana bermain sang

anak akan menyadari kemampuan dan juga keterbatasannya.

2. Remaja

Bagi remaja rekreasi merupakan kegiatan dimana mereka dapat

menemukan dinamika, mengembangkan kreatifitas, kehidupan yang

penuh petualangan dan semangat. Mereka tertarik pada aktifitas fisik

(32)

3. Dewasa

Dibandingkan dengan remaja atau anak-anak yang sedang dalam

masa pertumbuhan, kaum dewasa cenderung tidak aktif. Semakin

bertambahnya usia, mereka lebih suka menyalurkan kepuasan

rekreasi melalui program-program televise, bioskop, buku-buku dan

majalah. Jenis-jenis rekreasi yang mereka minati umumnya lebih

bersifat pasif berupa hiburan.

Untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, ada beberapa hal yang diperlukan

tergantung pada orientasinya. Misalnya untuk rekreasi yang berhubungan

dengan pemakaian sumber-sumber alam, misalnya pantai dan pegunungan,

maka kepuasan yang didapat tergantung pada kualitas tempat tersebut serta

kemudahan pencapaiannya.

Sedangkan untuk rekreasi yang membutuhkan sarana. Maka tingkat kepuasan

tergantung pada kelengkapan sarana tersebut. ada pula rekreasi yang

kepuasannya tidak tergantung pada lokasi maupun kelengkapan fasilitas,

melainkan pada efektifitas pengguna waktu luang tersebut.

III.1.6 Fasilitas Rekreasi

fasilitas rekreasi merupakan pengolahan lingkungan menjadi sarana untuk

mewadahi kegiatan rekreasi bagi masyarakat. dengan adanya sarana ini

diharapkan kebutuhan rekreasi akan terpenuhi dan masyarakat akan

mendapatkan kepuasan. Jika kita lihat sebelumnya ada beberapa orientasi cara

pemenuhan kebutuhan rekreasi, yaitu dengan menekankan pada lokasi, aktifitas

atau pemanfaatan waktu luang. sehingga fasilitas rekreasi pun bisa dalam

bentuk :

- Sumber - sumber alam, seperti pantai, gunung.

- Fasilitas fisik, seperti gelanggang olah raga.

(33)

ada pula yang membedakan fasilitas rekreasi dalam bentuk :

- Usaha rekreasi yang bertitik tolak pada pengertian outdoor recreation.

- Hiburan umum dapat interpretasikan sebagai indoor recreation atau in-

entertainment.

III. 2 Interpretasi Tema Tema : Edukasi dan rekreasi

Maksud penerapan tema edukasi dan rekreasi pada perancangan Cibaduyut

Shoes Center disini dimaksudkan agar perancangan ini dapat mewadahi suatu

kegiatan rekreasi berupa kegiatan berbelanja produk - produk kulit khas

Cibaduyut misalnya sepatu, jaket, tas dan lain-lain yang dikemas dengan

konsep edukasi. Tujuannnya adalah untuk menambah minat dan daya tarik

pengunjung terhadap produk – produk yang diproduksi di lokasi ini.

Penerapan konsep edukasi rekreasi di dalam perancangan ini terdapat pada,

penerapan gubahan massa bangunan, konsep gubahan massa yang

menampilkan proses aktifitas yang terjadi didalam bangunan jika dilihat dari luar

bangunan, fungsi – fungsi bangunan yang mewadahi aktifitas edukasi dan

rekreasi serta penerapan konsep perancangan yang mengacu pada tema yang

diangkat.

Penerapan tema pada massa bangunan :

Edukasi :

- Museum.

- Gallery Eksibisi.

- Unit pelatihan.

-

Rekreasi :

(34)

- Retail sedang.

- Retail kecil.

- Café dan food court sebagai pendukung.

- Penerapan tema pada bentukan massa bangunan.

- Penerapan tema dari material bahan bangunan yang dipakai.

- Bukaan-bukaan pada massa bangunan.

- Jalur – jalur sirkulasi.

- Ruang terbuka yang mewadahi aktifitas rekreasi maupun edukasi.

Berdasarkan Tipologi Bangunan Rekreasi Aktif Komersil di Jakarta menurut Linda Y,

bahwa karakter Bangunan Rekreasi adalah :

KRITERIA BAGIAN UTAMA KETERANGAN

1. Pengolahan tapak A. Pemilihan tema Umumnya denga pemanfaatan

potensi tapak dan di sesuaikan pada

perkembangan wadah rekreasi tiap

kurun waktu.

B. Pola Sirkulasi Menuntut DINAMIS dengan

mengkombinasikan pola-pola yang

ada dan menuntut adanya suatu

aliran, sehingga memberikan

pengarahan yang jelas bagi

pengunjung.

2. Pengolahan

Bangunan

A. Pemilihan tema Wadah rekreasi menjadi wadah

(35)

sesuai dengan kondisi lingkungan

sekitar tapak

B. Pengolahan

Ruang

Menciptakan ruang-ruang intim,

santai dan sesuai dengan sifat

rekreasi.

C. Kegiatan Penerapan pada pengolahan ruang

yang sesuai hirarkinya (utama,

pendukung)

D. Bentuk Ruang DINAMIS, pengunjung merasa

nyaman dan informasi, yang

menghilangkan rasa tegang dan

formil dalam kegiatan rutin.

E. Penyediaan

Fasilitas dan Kegiatan

Selalu mengalami pembaharuan

dengan memperhatikan keunikan dan

imajinasi yang berkaitan dengan

(36)

Bab IV. ANALISIS

(37)

IV. 2 Analisis kondisi lingkungan IV. 2. 1 Lokasi

KE CAM ATAN BO J O NG L O A KIDUL

Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan

dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,

dengan batas wilayah sebagai berikut :

Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar

5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah

Kec.Bojongloa Kidul

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian

Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu

Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613

tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini diperkirakan mencapai

Rp 14,7 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 5 juta pasang / tahun.

Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit showroom/outlet,

4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri

shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri

(38)

Lokasi : Ja

Luas lahan : 2

GSB : 2

KDB : 6

KLB : 1

4. 2. 2 Kriteria Pemilih • Daerah yang m

dan rekreasi. • Tetap mempert

wisata / shoppin

• Faktor ekonomis • Faktor efisiensi • Aksebilitas yang

menjadi tujan rencana pengembangan kaw

rtahankan keberadaan jalan Cibaduyut s

ping street.

is / harga jual lahan.

si pembebasan lahan.

ng lancar, tidak mengakibatkan kemacetan

awasan pariwisata

sebagai kawasan

(39)

Loka

si

U

(40)

IV. 2. 3 Batas – batas • Barat : • Timur : • Utara : • Selatan :

Fungsi bangunan s

- 75 % Toko sepatu

- 10 % Toko bahan

- 5 % fashion

- 5% lain-lain

s site

Area persawahan dan kolam ikan.

Area persawahan dan pemukiman pe

Gang pak kasub, pemukiman penduduk.

Area persawahan dan pemukiman pen

sekitar site :

tu

n sepatu

enduduk.

k.

(41)

Aksebilitas

jalan cibaduyut merupakan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan jalan

Soekarno-Hatta dengan jalan tol Padalarang – Cileunyi letakmya berada di

bagian selatan kota Bandung, tidak jauh dari lokasi terminal Bus Lewi Panjang

(700m) sehingga lokasi site ini menjadi sangat strategis.pencapaian bisa

menggunakan kendaraan umum (angkot, taxi, kendaraan pribadi, bus dll)

Ekologi

vegetasi yang terdapat di site sangat kurang terutama untuk jenis pohon-pohon

besar/ tanaman perindang, karena pada kawasan ini udara sangat panas

disiang hari, sebagian site hanya ditumbuhi rumput rumput karena daerah

tersebut merupakan bekas area persawahan tidak jauh dari site, pada bagian

barat dan bagian selatan juga terdapat area persawahan

IV. 2. 4 Analisa work shop yang ada di cibaduyut :

1. Marista Work shop

Work shop ini memiliki Jumlah karyawan 10 orang dipimpin 1 orang bos,

pembagian pekerjaan yaitu 2:1:1 yaitu 2 orang mengerjakan sol, 1 orang

mengerjakan muka sepatu dan 1 orang pekerja lagi mengerjakan finishing.

Pekerjaan dilakukan selama 6 hari kerja masuk pukul 08.00 samapai selesai

pukul 17.00 sore hari, sedangkan istirahat pada pukul 12.00 siang sampai pukul

13.00 dalam 1 hari kerja workshop ini dapat menyelesaikan rata-rata 3 lusin

sepatu.

Bahan baku berupa kulit hewan, dasar sepatu,dan aksesoris yang diperoleh dari

toko - toko distributor yang ada di jalan Cibaduyut, sedangkan untuk bentuk

merek dipesan pada tempat percetakan atau sablon.

Ukuran ruangan workshop 60 m2 antara lain: • Ruang sol

• Ruang administrasi

(42)

Proses pekerjaan :

persiapan bahan baku dasar sepatu (sol) dan muka sepatu (kulit) persiapan

pola desain berdasarkan ukuran pola desain digambarkan pada bahan kulit,

kemudian dipotong setelah dipotong pola tadi dijahit sesuai bentuk proses

pengeleman bahan kulit (muka) ke bahan sol (dasar) setelah dilem sepau di

press menggunakan alat setelah lem kering dipasang aksesoris dan tali sepatu

spatu dibersihkan dari lem dan kotoran proses pengepakan dan disimpan.

Gambar proses pekerjaan sepatu

2. Pak Doris Work shop

Work shop ini memiliki Jumlah 12 karyawan tetap dan beberapa karyawan lepas

,tidak jauh berbeda dengan pembuatan sepatu, yang membedakan hanyalah

pembuatan sandal gunung ini mereka tidak menggunakan bahan baku kulit.

Bahan baku hanyalah sol dasar sepatu, tali sendal yang dipesan dari pabrik dan

(43)

Ukuran ruangan workshop 70 m², terdiri dari 3 buah kamar yaitu: • Ruang sol.

• Ruang jahit.

• Ruang finishing, gudang pengepakan. Proses pekerjaan :

1. Persiapan bahan baku dasar sandal.

2. Persiapan tali – tali sandal.

3. Tali – tali sandal dijahit dengan bantuan mal ukuran sandal.

4. Setelah tali-tali selesai dijahit, direkatkan pada sol atas dan dilem.

5. Setelah dilem, sandal setengah jadi dilem lagi dengan sol paling dasar.

6. Hasil lem di press.

7. Sendal dibersihkan dari lem dan kotor, dan sol digurinda biar halus.

8. pengepakan.

(44)

3. PD. Murah Jaya

Work shop ini sebenarya juga memproduksi sepatu kulit, namun hanya untuk

orderan, mereka juga memproduksi tas sekolah. Jumlah karyawan yang bekerja

ditempat ini berjumlah 4 orang. 2 orang mengerjakan pekerjaan menjahit, 1

orang mengerjakan pemotongan pola pada bahan, dan 1 orang lagi

mengerjakan pemasangan aksesoris dan finishing, dalam 1 hari tempat ini

mampu memproduksi rata-rata 2 lusin tas sekolah

Ukuran ruangan work shop 63 m², terdiri dari 1 buah kamar yang disekat

menjadi 2 bagian yaitu: • Ruang sol. • Ruang jahit. • Ruang finishing. Proses pekerjaan :

1. Persiapan bahan dan penggambaran pola.

2. Bahan dipotong berdasarkan pola.

3. Setelah dipotong pola kemudian dijahit.

4. Selesai dijahit, bahan tas setengah jadi dipasangi aksesoris seperti resleting,

5. Kemudian tas diperiksa dan dikemas. Tas siap dipasarkan

(45)

IV. 3 Kesimpulan potensi site :

• Kondisi kontur tanah pada site cenderung datar.

• Akses ke site cukup mudah / dekat dengan jalan Soekarno - Hatta dan jalan tol Padalarang – Cileunyi (site diapit oleh 2 buah jalan Arteri

Primer) .

• Lokasi dekat dengan terminal Leuwi Panjang.

• Lokasi merupakan tujuan wisata yang sudah dikenal masyarakat luas.

kelemahan site:

• Merupakan daerah rawan banjir pada musim hujan. • Kurangnya vegetasi sebagai perindang.

• Pada siang udara terasa sangat panas.

• Penataan trotoar yang kurang baik bagi pedestrian. • Penataan parkir yang kurang baik.

• Luas badan jalan yang sempit.

• Suasana jalan yang macet ketika waktu sore hari (jam pulang kerja) dan pada akhir pekan.

• Lokasi merupakan bekas area persawahan, sehingga perlu ditimbun lagi

(46)

BAB V. KONSEP RANCANGAN

V.1. Konsep Dasar

Konsep dasar penataan gubahan masa dalam site dapat digambarkan dalam

(47)

Diagram V.1 konsep penataan massa bangunan didalam site

V.1.1 Konsep Gubahan Massa

gambar V.1.1 gubahan masa dalam site

Dalam site terdapat 3 zona massa bangunan :

Edukasi :

- Museum

- Gallery dan exhibition

- Unit pelatihan kerajinan kulit Rekreasi :

- Retail besar dan workshop - Retail besar

(48)

- Pengelola - Mushola - Café - Foodcourt

V.1.2 Konsep Sirkulasi Kendaraan

gambarV.1.2 pola sirkulasi kendaraan

Konsep sirkulasi kendaraan yang diterapkan dalam site adalah kejelasan dari

entrance utama kemudian kemudahan dalam pencapaian ke area parkir, zona

jalur kendaraan umum dan servis dipisah sehingga zona-nya masing - masing

fungsi menjadi teratur, untuk area parkir bus sendiri dipisahkan dengan parkir

umum dikarenakan factor kemudahan. Adapun fungsi parkir tersebut antara lain:

(49)

- Parkir umum - Parkir motor - Parkir bus

- Parkir service sampah, pengelola, museum dan loading dock

V.1.3 Konsep Sirkulasi Pedestrian

Gambar V.1.3 pola sirkulasi pedestrian

konsep jalur sirkulasi dan ruang terbuka

4 buah plasa sebagai pusat orientasi massa :

- plasa penarik massa ke site

plasa ini dirancang tujuannya untuk menarik pengunjung yang berada di

jalan Cibaduyut agar masuk ke site.

- plasa penerima

plasa ini dirancang untuk menerima pengunjung yang datang dari plasa

penari yang berada di depan .

(50)

plasa ini dirancang sebagai pusat orientasi ruang terbuka yang ada di

dalam site, plasa ini juga nantinya menjadi pusat kegiatan ruang terbuka

yang ada d dalam site seperti bazaar, pameran di out door, dan lain-lain.

- plasa belakang

plasa ini dirancang menjadi pusat orientasi massa bangunan yang

berada di bagian belakang terutama massa bangunan food court dan

café dan juga sebagai pengantar ke area parkir.

terdapat jalur –jalur pedestrian yang menghubungkan plasa satu dengan plasa

yang lain terdapat jalur sirkulasi yamh menghubungkan masa bangunan baik

di jalan terbuka maupun pada coridor bangunan.

V.1.4 Konsep Penataan Vegetasi

gambarV.1.4 penataan vegetasi dalam site

konsep vegetasi

beberapa konsep penataan vegetasi pada site :

- vegetasi sebagai pengarah

(51)

- vegetasi sebagai elemen estetis di dalam site

V.1.5 Konsep Penataan Massa Bangunan Fungsi bangunan dan program ruang

FUNGSI MASSA

Unit pelatihan - Lobby

- R. Penelola

(52)

- R. Briffing

- R. pelatihan Kulit

- R. pekerjaan Sol

Retail sedang - Retail

(53)

Musholla - Tempat Wudhu - Tempat shollat

162 m²

Service Pengelola - Lobby

- R. Administrasi

- R. Pegawai

- R. Arsip

- R. Rapat

- Gudang

- Toilet

324 m²

Mekanikal Elektrikal

- R. genset

- R. Pompa

64 m²

Total luas lahan terbangun 5.480,8045 m²

(54)

V.1.6 Konsep Penataan Ruang luar dan dalam

gambarV.1.6 a eksterior galeri dan eksibisi

(55)
(56)

V.1.5 Konsep Utilitas

a. Listrik

b. Air Bersih.

c. Air Kotor / Greywater

Unit -unit list rik

PLN M et eran M DP DP

GENSET

Pre-t reat m ent filt er Soil box Plant er

Pengairan t am an/ air t anah, sum ur resapan

Riol Kot a

Ruang Shaft / Pipa Sept ik Tank

Shaft Sprinkler

Unit -unit Ruang

PDAM M et eran Bak Penam pungan Shaft

(57)

BAB IV. ANALISIS

(58)

IV. 2 Analisis kondisi lingkungan IV. 2. 1 Lokasi

KE CAM ATAN BO J O NG L O A KIDUL

Gambar IV. 2. 1 Lokasi makro

Secara geografis wilayah kecamatan Bojongloa Kidul terletak disebelah selatan

dari pusat Bandung Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 590,75 Ha,

dengan batas wilayah sebagai berikut :

Letak geografis kawasan Cibaduyut. seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar

5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung. Di kawasan yang termasuk wilayah

Kec.Bojongloa Kidul

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian

Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu

Cibaduyut pada 2008 mencapai 867 unit usaha yang menyerap sekitar 3.613

tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini diperkirakan mencapai

Rp 14,7 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 5 juta pasang / tahun.

Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit showroom/outlet,

4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri

shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri

(59)

Lokasi : Ja

Luas lahan : 2

GSB : 2

KDB : 6

KLB : 1

4. 2. 2 Kriteria Pemilih • Daerah yang m

dan rekreasi. • Tetap mempert

wisata / shoppin

• Faktor ekonomis • Faktor efisiensi • Aksebilitas yang

menjadi tujan rencana pengembangan kaw

rtahankan keberadaan jalan Cibaduyut s

ping street.

is / harga jual lahan.

si pembebasan lahan.

ng lancar, tidak mengakibatkan kemacetan

awasan pariwisata

sebagai kawasan

(60)

Loka

si

U

(61)

IV. 2. 3 Batas – batas • Barat : • Timur : • Utara : • Selatan :

Fungsi bangunan s

- 75 % Toko sepatu

- 10 % Toko bahan

- 5 % fashion.

Gambar 4. 2. 2 b analisa lokasi

s site

Area persawahan dan kolam ikan.

Area persawahan dan pemukiman pe

Gang pak kasub, pemukiman penduduk.

Area persawahan dan pemukiman pen

sekitar site :

tu.

n sepatu.

enduduk.

k.

(62)

- 5% lain-lain.

Aksebilitas

jalan cibaduyut merupakan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan jalan

Soekarno-Hatta dengan jalan tol Padalarang – Cileunyi letakmya berada di

bagian selatan kota Bandung, tidak jauh dari lokasi terminal Bus Lewi Panjang

(700m) sehingga lokasi site ini menjadi sangat strategis.pencapaian bisa

menggunakan kendaraan umum (angkot, taxi, kendaraan pribadi, bus dll)

Ekologi

vegetasi yang terdapat di site sangat kurang terutama untuk jenis pohon-pohon

besar/ tanaman perindang, karena pada kawasan ini udara sangat panas

disiang hari, sebagian site hanya ditumbuhi rumput rumput karena daerah

tersebut merupakan bekas area persawahan tidak jauh dari site, pada bagian

barat dan bagian selatan juga terdapat area persawahan

IV. 2. 4 Analisa work shop yang ada di cibaduyut :

1. Marista Work shop

Work shop ini memiliki Jumlah karyawan 10 orang dipimpin 1 orang bos,

pembagian pekerjaan yaitu 2:1:1 yaitu 2 orang mengerjakan sol, 1 orang

mengerjakan muka sepatu dan 1 orang pekerja lagi mengerjakan finishing.

Pekerjaan dilakukan selama 6 hari kerja masuk pukul 08.00 samapai selesai

pukul 17.00 sore hari, sedangkan istirahat pada pukul 12.00 siang sampai pukul

13.00 dalam 1 hari kerja workshop ini dapat menyelesaikan rata-rata 3 lusin

sepatu.

Bahan baku berupa kulit hewan, dasar sepatu,dan aksesoris yang diperoleh dari

toko - toko distributor yang ada di jalan Cibaduyut, sedangkan untuk bentuk

merek dipesan pada tempat percetakan atau sablon.

(63)

• Ruang sol

• Ruang administrasi

• Ruang jahit, finishing dan gudang Proses pekerjaan :

persiapan bahan baku dasar sepatu (sol) dan muka sepatu (kulit) persiapan

pola desain berdasarkan ukuran pola desain digambarkan pada bahan kulit,

kemudian dipotong setelah dipotong pola tadi dijahit sesuai bentuk proses

pengeleman bahan kulit (muka) ke bahan sol (dasar) setelah dilem sepau di

press menggunakan alat setelah lem kering dipasang aksesoris dan tali sepatu

spatu dibersihkan dari lem dan kotoran proses pengepakan dan disimpan.

Gambar IV. 2. 4 proses pekerjaan sepatu marista work hop

2. Pak Doris Work shop

Work shop ini memiliki Jumlah 12 karyawan tetap dan beberapa karyawan lepas

,tidak jauh berbeda dengan pembuatan sepatu, yang membedakan hanyalah

(64)

Bahan baku hanyalah sol dasar sepatu, tali sendal yang dipesan dari pabrik dan

aksesoris sendal.

Ukuran ruangan workshop 70 m², terdiri dari 3 buah kamar yaitu: • Ruang sol.

• Ruang jahit.

• Ruang finishing, gudang pengepakan. Proses pekerjaan :

1. Persiapan bahan baku dasar sandal.

2. Persiapan tali – tali sandal.

3. Tali – tali sandal dijahit dengan bantuan mal ukuran sandal.

4. Setelah tali-tali selesai dijahit, direkatkan pada sol atas dan dilem.

5. Setelah dilem, sandal setengah jadi dilem lagi dengan sol paling dasar.

6. Hasil lem di press.

7. Sendal dibersihkan dari lem dan kotor, dan sol digurinda biar halus.

8. pengepakan.

(65)

3. PD. Murah Jaya

Work shop ini sebenarya juga memproduksi sepatu kulit, namun hanya untuk

orderan, mereka juga memproduksi tas sekolah. Jumlah karyawan yang bekerja

ditempat ini berjumlah 4 orang. 2 orang mengerjakan pekerjaan menjahit, 1

orang mengerjakan pemotongan pola pada bahan, dan 1 orang lagi

mengerjakan pemasangan aksesoris dan finishing, dalam 1 hari tempat ini

mampu memproduksi rata-rata 2 lusin tas sekolah

Ukuran ruangan work shop 63 m², terdiri dari 1 buah kamar yang disekat

menjadi 2 bagian yaitu: • Ruang sol. • Ruang jahit. • Ruang finishing. Proses pekerjaan :

1. Persiapan bahan dan penggambaran pola.

2. Bahan dipotong berdasarkan pola.

3. Setelah dipotong pola kemudian dijahit.

4. Selesai dijahit, bahan tas setengah jadi dipasangi aksesoris seperti resleting,

5. Kemudian tas diperiksa dan dikemas. Tas siap dipasarkan

(66)

IV. 3 Kesimpulan potensi site :

• Kondisi kontur tanah pada site cenderung datar.

• Akses ke site cukup mudah / dekat dengan jalan Soekarno - Hatta dan jalan tol Padalarang – Cileunyi (site diapit oleh 2 buah jalan Arteri

Primer) .

• Lokasi dekat dengan terminal Leuwi Panjang.

• Lokasi merupakan tujuan wisata yang sudah dikenal masyarakat luas.

kelemahan site:

• Merupakan daerah rawan banjir pada musim hujan. • Kurangnya vegetasi sebagai perindang.

• Pada siang udara terasa sangat panas.

• Penataan trotoar yang kurang baik bagi pedestrian. • Penataan parkir yang kurang baik.

• Luas badan jalan yang sempit.

• Suasana jalan yang macet ketika waktu sore hari (jam pulang kerja) dan pada akhir pekan.

• Lokasi merupakan bekas area persawahan, sehingga perlu ditimbun lagi.

(67)

Pomerolus Tualaka (10410703) iv

Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er

UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA

DAFTAR ISI

Sari……….. i

Prakata……….. ii

Daftar isi……… iii

Daftar lampiran……… viii

BAB 1. PENDAHULUAN………. 1

1.1 Latar Belakang……… 1

1.2 Maksud dan Tujuan……… 2

1.2.1 Maksud……….. 2

1.2.2 Tujuan………. 3

1.3 Masalah Perancangan……… 3

1.4 Pendekatan………. 4

1.5 Lingkup dan batasan……….. 4 1.6 Kerangka berpikir………. 5

1.7 Sistematika Laporan……… 6

BAB 2. DESKRIPSI PROYEK………. 7

(68)

Pomerolus Tualaka (10410703) v

Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er

UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA

2. 1.1 Lokasi ………. 7

2. 2 Peraturan Perancangan Fungsi Komersil……….. 11

2. 3 Program kegiatan………. 15

2.4 Kebutuhan Ruang………. 16

2. 5 Studi Banding Proyek sejenis……… 19

2.5.1 CIHAMPELAS WALK……….. 19

2.5.2 Zoning……….. 21

2.5.3 Sirkulasi ……….. 22

2.5.4 Vegetasi ………. 23

2.5.5 Sirkulasi kendaraan dan parkir ……… 24

BAB 3. ELABORASI TEMA………... 26

3.1 pengertian tema……… 26

3.1.1 Edukasi……… 26

3.1.2 Rekreasi………. 28

3.1.3 Tujuan Rekreasi……… 29

3.1.4 Jenis kegiatan rekreasi………. 29

3.1.5 Kebutuhan rekreasi……….. 30

3.1.6 Fasilitas Rekreasi……….. 31

(69)

Pomerolus Tualaka (10410703) vi

5.1.2 Konsep Sirkulasi Kendaraan……… 47

5.1.3 Konsep Sirkulasi Pedestrian……… 48

5.1.4 Konsep Penataan Vegetasi ……… 49

5.1.5 Konsep Penataan Massa Bangunan……….. 50

5.1.6 Konsep Penataan Ruang luar dan dalam………. 52

(70)

Pomerolus Tualaka (10410703) vii

Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er

UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA

Gambar II. 2 e mal dan retail dalam satu lantai dengan parkir rata samping

12

Gambar II. 2 f. Mal dan retail dalam dua lantai dengan parkir rata tiap lantai

13

Gambar II. 2 g. Mal dan retail dalam kawasan CBD menjadi tiga lantai dengan parkir basement

13

Gambar II. 5 .1a massa bangunan, pedestrian, sirkulasi Ciwalk 19

Gambar II. 5 .1b zoning massa bangunan Ciwalk 20

Foto II. 5 .2 b kondisi penataan retail dan coridor di Ciwalk 21

GambarII.5.3 a zona sirkulasi pedestrian di Ciwalk 22

Foto II. 5 .3b plaza dan jalur pedestrian yang ada Ciwalk 22

Gambar II. 5 .4a Penataan vegetasi di Ciwalk 23

Foto II. 5 .4 b : penataan vegetasi yang ada Ciwalk 23

GambarII. 5 .5 a keadaan sirkulasi kendaraan di Ciwalk 24

Foto II. 5 .5b kondisi jalur sirkulasi kendaraan di Ciwalk 25

Gambar IV. 2.1 Lokasi makro 36

Gambar IV. 2. 1 b peta Lokasi 37

Gambar 4. 2. 2 peta block plann 38

Gambar 4. 2. 2 b analisa lokasi 39

Gambar IV. 2. 4 proses pekerjaan sepatu marista work hop 41

Gambar IV. 2. 4 b proses pekerjaan sandal Pak Doris 42

GambarIV. 2. 4 c proses pekerjaan tas PD. Murah jaya 46

gambar V.1.1 gubahan masa dalam site 47

gambarV.1.2 pola sirkulasi kendaraan 48

Gambar V.1.3 pola sirkulasi pedestrian 49

gambarV.1.4 penataan vegetasi dalam site 52

(71)

Pomerolus Tualaka (10410703) viii

Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er

UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA

(72)

Pomerolus Tualaka (10410703) 1

Jurusan Arsit ekt ur, Fakult as Teknik dan Ilm u Kom put er

UNIVERSITAS KOM PUTER INDONESIA

DAFTAR PUSTAKA

Neufrt . ernst. “Data Arsitek” Edisi Kedua. Penerbit Erlangga. Grasindo. Jakarta. 2004

Universitas Gajah Mada, “pusat Perdagangan”, studi khasus Pusat Perdagangan di Yogyakarta.

Indonesia Design, 2006“Magasine”, vol 3, no.12,

Beddington, Nadine, “Design For Shopping Centers”, Butterworth Scientific, London, 1982

Ching, Francis D. K., 1999, Arsitektur :” Bentuk, Ruang dan Susunannya” (terjemahan), Erlangga, Jakarta

Marliana, Endy, 2008, “Panduan Perancangan Bangunan Komersial” , Yogyakarta: PT.

Andy offset.

Http://en.wikipedia.org/wiki/Fashion.

Http://en.wikipedia.org/wiki/Ready-to-wear

Gambar

Gambar kerja, maket,
Gambar II. 2  d  system parkir multy decked
Gambar II. 2  f. Mal dan retail dalam dua lantai dengan parkir rata tiap lantai
Tabel persyaratan perencanaan pusat perbelanjaan menurut SNI
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga pendekatan perencanaan kontekstual lingkungan kawasan bukit candi Ratu Boko, menjadi kata penting di dalam perencanaan dan perancangan ruang dalam bangunan

Pada tahap tersebut, kawasan Ubalan Kediri dibagi menjadi tiga zona berdasarkan jenis habitus yang mendominasi, yaitu zona I (didominasi pohon besar dengan

Dalam merencanakan alternatif trase transportasi massal koridor Surabaya timur dengan Surabaya barat, wilayah kota Surabaya dibagi menjadi tiga bagian kawasan yaitu

handphone, namun sekarang sudah menjadi satu lantai. Alnect ini terkenal dengan ramainya karena promosi-promosi yang sering dilakukannya. Untuk dapat bersaing dengan maraknya

Pada tahap tersebut, kawasan Ubalan Kediri dibagi menjadi tiga zona berdasarkan jenis habitus yang mendominasi, yaitu zona I (didominasi pohon besar dengan

 Ketiga-tiga kawasan geoforest park tersebut menjadi tarikan utama kepada para pelancong yang berkunjung ke Langkawi.  Dengan sokongan daripada penduduk tempatan dan bantuan

Salah satu dari indikator utama yang seharusnya menjadi “lampu kuning” bagi kawasan dalam memasuki AEC 2015 adalah dengan tercatatnya perekonomian tiga negara utama

Dalam hal ini, karakteristik pengguna kendaraan yang memanfaatkan fasilitas parkir dipilih menjadi tiga golongan seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel 2.5 Lebar