• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan partai golkar pasca orde baru 9studi pebandingan pola kepemimpinan akbar tandjung (periode 1999-2004 dan Muhammad jusuf Kalla (periode 2004-2009) dalam partai golkar)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kepemimpinan partai golkar pasca orde baru 9studi pebandingan pola kepemimpinan akbar tandjung (periode 1999-2004 dan Muhammad jusuf Kalla (periode 2004-2009) dalam partai golkar)"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Perbandingan Pola Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar)

Skripsi

Diajukan dalam Rangka Memenuhi Persyaratan

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Oleh:

Nurcholifah

NIM: 107033201647

PRODI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

iii

Nurcholifah, “KEPEMIMPINAN PARTAI GOLKAR PASCA ORDE BARU

(Studi Perbandingan Pola Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar)

Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pembahasan pada kepemimpinan mantan ketua Partai Golkar Akbar Tandjung yang menjadi ketua umum Partai Golkar periode 1999-2004 dan Muhammad Jusuf Kalla yang menjadi ketua umum Partai Golkar periode 2004-2009. Hal ini penulis lakukan agar pembahasan menjadi fokus dan tidak melebar ke periode yang lebih lama lagi karena keterbatasan penulis.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan hasil wawancara sebagai sumber primer. Adapun sumber sekunder penulis peroleh dari berbagai literatur, baik dari buku, majalah, maupun artikel yang ada di internet. Wawancara dilakukan dengan kedua tokoh tersebut, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara). Hal ini penulis lakukan agar wawancara tidak melebar ke hal-hal di luar pembahasan dan menjadi fokus pada inti permasalahan yang ingin dianalisa dalam skripsi ini.

(6)

v

yang telah memberikan kasih sayang dan karunia tiada terhingga kepada penulis.

Shalawat serta salam selalu tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad

SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi iniyang berjudul

“Kepemimpinan Partai Golkar Pasca Orde Baru: Studi Perbandingan Pola

Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf

Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar”.

Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu hingga proses penyusunan skripsi ini selesai.

Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak di antaranya:

1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Ali Munhanif Ph.D. selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak M. Zaki Mubarak, M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu

Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, yang selalu memberikan kontribusi dalam segala hal.

4. Bapak A. Bakir Ihsan, M. Si. selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu di antara kesibukannya dan selalu memberikan

pengarahan serta masukan yang berarti dalam penulisan karya ini.

5. Bapak Idris Thaha, M. Si. dan Bapak Ali Munhanif Ph.D. selaku Dewan

(7)

vi surat menyuratnya.

7. Bapak Dr. Ir Akbar Tandjung dan Muhammad Jusuf Kalla selaku mantan

Ketua Umum Partai Golkar yang sudah meluangkan waktunya untuk

wawancara dan pemberian buku terkait Partai Golkar, semoga bermanfaat

bagi penulis.

8. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Akbar Institute, Kalla

Grup, Freedom Institute dan The Indonesia Institute, terima kasih telah

meminjamkan dan memberikan buku semoga menambah wawasan dan

bermanfaat serta berguna dalam penyelesaian Skripsi ini.

9. Ayahanda dan ibunda tercinta, yang selalu memberikan kasih sayang baik

lahir maupun bathin, dukungan, doa yang tak henti-hentinya kalian

curahkan, sehingga penulis dalam menjalani perkuliahan mampu

menyelesaikan skripsi ini.

10.Kakakku tersayang, Nurjoko SH dan Marwan Kusuma Wijaya terima

kasih sudah memberikan semangat untuk adeknya dalam menyelesaikan

penulisan karya ini.

11.Imam Baihaqi (Ibeq) terima kasih yang selalu setia dan tidak pernah letih

memberikan semangat dan dukungan serta perhatian yang luar biasa,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Kehadiranmu bagaikan

buku yang tak pernah selesai penulis baca. Thanks for everything.

12.Teman-teman Kost ku “Gayo Building dan Maus Village” yaitu Neneng

terima kasih atas kebersamaannya, yang selalu bersama-sama dalam suka

(8)

vii

13.Teman-temann UIN Yogyakarta terima kasih atas kesetiaan dalam

berjuang, diskusi, dukungan kepada penulis selama berlangsungnya

penulisan karya ini yaitu Mas Anaiza Utama Al-Ishaqi, Mas Rozali, Mas

Irfan, Mas Djul, Mas Ully dan teman-teman lainnya yang tak bisa penulis

sebutkan satu persatu namanya.

14.Kawan-kawan 2005, 2006 dan 2007 yaitu Siti, Abas, Siha, Lupih, Deni,

Irvan in the gank, Ipul, Iwan, Muklas, Ones, Fikri, Beni, Ipank, Nadya,

Putri kalian semua adalah teman-teman yang memberi nuansa hidup

selama di kelas. Ka Rifat, Ka Rahmat, Ka Dedy, Ka Rina, Ka Hadi, Ka

Rio, Ka Amin yang selalu memberikan input dan output selama kuliah.

Eko Indrayadi, Lina Sumaya, Mutia, Jula dan yang tak bisa penulis

sebutkan satu persatu dukungan, serta canda dan tawanya kepada penulis

selama ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan yang perlu

disempurnakan. Untuk itu kritik serta saran yang membangun sangat penulis

harapkan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis serta

pembaca.

Jakarta, 8 Desember 2011

(9)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR ISTILAH ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Masalah ... 7

D. Metodologi Penelitian ... 8

E. Sistematika Penelitian ... 9

BAB II TEORI KEPEMIMPINAN A. Pengertian Kepemimpinan ... 13

B. Teori dan Gaya Kepemimpinan ... 17

BAB III SEJARAH PARTAI GOLKAR DAN PROFIL AKBAR

TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI

(10)

ix

A. Sejarah Partai Golkar ... 30

1. Partai Golkar sebelum Reformasi ... 30

2. Partai Golkar setelah Reformasi ... 33

B. Profil Akbar Tandjung ... 36

1. Masa Kecil dan Remaja Akbar Tandjung ... 36

2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Akbar Tandjung ... 37

3. Karir Politik Akbar Tandjung di Partai Golkar ... 38

C. Profil Jusuf Kalla ... 39

1. Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla ... 39

2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Jusuf Kalla ... 40

3. Karir Politik Jusuf Kalla di Partai Golkar ... 42

BAB IV ANALISIS KOMPARATIF KEPEMIMPINAN AKBAR TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI GOLKAR A. Kepemimpinan Politik Akbar Tandjung ... 44

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Paternalistik ... 44

2. Akbar Tandjung sang Penyelamat Partai Golkar ... 48

3. Kiat-Kiat Akbar Tandjung dalam Memimpin Partai Golkar .... 50

B. Kepemimpinan Politik Jusuf Kalla ... 53

(11)

x

2. Jusuf Kalla Sosok Progresif ... 59

3. Kiat-kiat Jusuf Kalla dalam Memimpin Partai Golkar ... 61

C. Pengaruh Kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla ... 62

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 64

B. Saran dan Kritik ... 66

(12)

xi

Birokrasi Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah

karena telah berpegang kepada hirarki dan jenjang jabatan.

Demokratis Bersifat demokratis: gagasan atau pandangan hidup yang

mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang

sama bagi semua warga negara.

Eksekutif Kekuasaan yang menjalankan Undang-undang.

Interpretasi Pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoritis terhadap sesuatu.

Kharismatik Keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar

biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan

pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya.

Konstelasi keadaan, tatanan.

Konstitusi Segala ketentuan dan aturan tentang ketatanegaraan (Undang-undang

Dasar, dan sebagainya).

Konvensi Konferensi tokoh masyarakat atau partai politik dengan tujuan

khusus (memilih calon untuk pemilihan anggota DPR, dan

sebagainya).

Legislatif Kekuasaan yang membuat Undang-undang.

Moderat Berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah.

Orde Baru Sistem (pemerintahan dan sebagainya) yang dimulai sejak

diangkatnya Soeharto menjadi Presiden RI pada tahun 1965 sampai

(13)

xii

(orang dan sebagainya) di perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan

tertentu.

Orientasi Peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dan sebagainya)

yang tepat dan benar

Otoritas Kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga di masyarakat

yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya.

Reformasi Perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau

agama) di suatu masyarakat atau negara.

Responsif Bersifat merespon, menanggapi.

(14)

1

A. Latar Belakang Masalah

Dalam beberapa kali pentas pemilihan umum secara demokratis sejak

1999, Partai Golkar menjadi salah satu partai yang sangat diperhitungkan. Hal

ini, khususnya bisa dilihat dari fakta bahwa Partai Golkar selalu masuk tiga

besar pada setiap proses pemilihan umum. Prestasi tersebut dicapai melalui

perjuangan dan strategi-strategi para elit partai untuk tetap menjadikan

sebagai partai besar sekaligus partai yang dominan.

Banyak pengamat memandang bahwa, kesuksesan Partai Golkar dalam

mempertahankan posisinya sebagai partai yang dominan, tidak hanya

ditopang oleh kecanggihan strategi-taktik, tapi juga ditopang oleh

kepemimpinan partai yang efektif, efisien dan kuat. Setidaknya jika dilihat

dari segi lainnya, partai ini dalam menguasai pemerintahan. Banyaknya elit

Partai Golkar yang menempati posisi penting yang berada di pemerintahan,

menjadi bukti nyata pernyataan tersebut. Kekuatan organisasi Golkar dan

kecanggihan elit partai penguasa dibuktikan dengan fakta bahwa Partai

Golkar telah dan pernah menjadi the rulling party.

Skripsi ini bermaksud menjelaskan tentang taktik dan strategi Partai

Golkar dalam upaya mempertahankan dirinya dalam pemilu pasca 1998.

(15)

partai. Dengan memfokuskan diri pada profil kepemimpinan partai pada

periode Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla.

Pasca lengsernya Orde Baru yang di bawah rezim Soeharto pada tahun

1998, Golkar menghadapi tekanan-tekanan politik yang sangat keras dari

berbagai kelompok masyarakat. Bahkan, ketika roda reformasi bergulir, isu

dan tekanan terhadap pembubaran Partai Golkar begitu kuat karena kaum

reformis memasukkan Partai Golkar dalam satu pilar dengan Soeharto dan

ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).1

Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang menuntut Partai

Golkar dibubarkan. Partai Golkar dianggap bertanggung jawab terhadap

carut-marutnya kondisi bangsa Indonesia, terutama kondisi ekonomi. Selain

itu, Partai Golkar juga menjadi mesin politik Orde Baru, sehingga hampir di

semua sektor pemerintahan dikuasai oleh para petinggi Golkar. Tuntutan agar

Partai Golkar dibubarkan ditandai dengan maraknya aksi dan pembakaran

gedung-gedung Golkar, menjadikan Partai Golkar berada di ujung tanduk.

Di tengah situasi banyaknya elemen masyarakat dan mahasiswa yang

menuntut Partai Golkar dibubarkan, Partai Golkar dituntut bekerja ekstra

keras dari kader-kadernya,2 terlebih lagi para tokoh sentralnya, agar Golkar

tetap bertahan dan jangan sampai dibubarkan, serta tetap menjadi partai besar

serta memiliki kader yang solid.3 Di titik yang paling kritis antara dibubarkan

atau tidak, muncullah tokoh Golkar, yaitu Akbar Tandjung dengan membawa

1

Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur: Esai Kearifan Pemimpin, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2008), h. 65-66.

2

Denny J.A, Jalan Panjang Reformasi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006), h. 226. 3

(16)

jargon “Golkar Baru”. Sehingga Partai Golkar bisa diselamatkan oleh Akbar

Tandjung.4

Di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung dengan idiom “Golkar

Baru“ akhirnya Partai Golkar bisa dibawa keluar dari kemelut. Sebagai

langkah politik awal, Akbar Tandjung menjadikan Partai Golkar lebih

demokratis dan terbuka dengan dibuktikan pada penjaringan capres-wapres di

internal Partai Golkar pada pemilu 2004. Partai Golkar membuat konvensi

internal partai. Akbar Tandjung mampu mencitrakan Partai Golkar sebagai

partai baru yang tidak mempunyai relasi politik dengan Orde Baru.

Selain tetap bertahan di panggung politik Indonesia, Partai Golkar juga

bisa diterima oleh masyarakat. Hal ini, membuka kran demokratisasi di

internal Partai Golkar. Akbar Tandjung selaku ketua umum, berupaya keras

untuk menanamkan motivasi kepada para pengurus dan kader-kader partai

agar tidak patah semangat dalam menghadapi berbagai tekanan politik.5

Bahkan Akbar Tandjung sering berkunjung ke daerah-daerah dalam rangka

konsolidasi Partai Golkar.

Banyak pengamat politik yang memprediksi di bawah kepemimpinan

Akbar Tandjung, Partai Golkar tidak akan mampu bertahan hidup (survive).6

Hal ini berkaitan dengan anggapan masyarakat, bahwa Partai Golkar

merupakan kekuatan politik pendukung utama rezim Orde Baru. Meskipun

kalah pada pemilu 1999, dengan kepiawaian Akbar Tandjung, Partai Golkar

4

Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur, h. 66.

5

Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur, h. 121. 6

(17)

mampu dengan cepat berintrospeksi dan berkonsolidasi yang akhirnya

memenangkan kembali pemilihan umum 2004.

Pasca kepemimpinan Akbar Tandjung di Partai Golkar selama satu

periode 1999-2004, nahkoda Partai Golkar digantikan oleh Jusuf Kalla pada

Munas VII melalui kongres Golkar di Bali 28-30 Nopember 2004.7 Gaya

kepemimpinan Jusuf Kalla tentu sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan

Akbar Tandjung. Akbar adalah seorang politisi tulen, sedangkan Jusuf Kalla

adalah pengusaha. Keluarganya adalah pengusaha yang tumbuh dari bawah

dan hidup dengan penuh kesulitan. Darah dan adat Bugis sangat kuat melekat

dalam diri Jusuf Kalla. Dalam pergaulan dikenal hangat, berbicara terbuka

dan tidak jarang sebagaimana kebiasaan orang Sulawesi Selatan, eksplosif.

Dalam kepemimpinan, Jusuf Kalla lebih mengutamakan hal-hal yang

sifatnya teknis, karena latar belakang yang dimilikinya adalah pengusaha.

Namun, sebagai salah satu syarat untuk menjadi pemimpin, kemampuan yang

lebih dibutuhkan adalah kemampuan untuk mensinergikan

kekekuatan-kekuatan di bawah kepemimpinannya itu supaya dapat melangkah seirama

dan sejalan. Setiap kali beliau ditanya mengenai sesuatu, beliau dengan jelas

menjawab dan mengatakan tentang penyelesaiannya yang begitu gamblang,

sampai masuk ke dalam level teknis.

Gaya kepemimpinan Jusuf Kalla yang cenderung pragmatis bukan

berarti tanpa resiko. Bahkan pendahulunya Akbar Tandjung sempat

mengkritik gaya kepemimpinan Jusuf Kalla di Partai Golkar yang

7 Slamet Hariyanto, “ Pemerintah Dicurigai Intervensi Kongres Parpol,” artikel diakses

(18)

disampaikan, ketika menjawab ujian doktoral di Program Pasca Sarjana

Universitas Gajah Mada.8 Kritik Akbar Tandjung terhadap gaya

kepemimpinan Jusuf Kalla adalah sebagai berikut:

“Kepemimpinan Jusuf Kalla yang hanya berorientasi pada kekuasaan jangka pendek tanpa memperhatikan tiga hal penting dalam memimpin partai yaitu memperkuat kelembagaan partai, intensitas konsolidasi partai dan rekrutmen untuk mencari kader-kader terbaik.

“Itulah bedanya kepemimpinan partai di bawah saudagar dengan kepemimpinan partai oleh politisi pejuang. Saya ini politisi pejuang yang tentunya mempunyai cita-cita untuk membesarkan partai,” kata Akbar Tandjung sambil menambahkan saudagar yang memimpin partai juga cenderung berpikir singkat menganggap implikasi dari

langkah yang diambil belakangan”.9

Seorang pemimpin mempunyai gaya kepemimpinannya

masing-masing. Begitu pula dengan gaya Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla, gaya

kepemimpinan melekat pada diri seseorang yang dibentuk dari proses panjang

berdasarkan lingkungan tempat ia lahir dan dibesarkan, latar belakang

keluarga, pendidikan, lingkungan teman, lingkungan kerja, nilai-nilai yang

diemban, serta pengaruh-pengaruh lainnya.10

Pemimpin merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah

organisasi. Pemimpin atau kepemimpinan merupakan kekuatan penggerak

organisasi.11 Arah dan tujuan organisasi, amat sangat dipengaruhi oleh gaya

8

Dalam sidang terbuka yang dihadiri tiga Menteri Kabinet, yaitu Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Perekonomian Boediono, Menteri Hukum dan Ham Andi Matalatta. Selain dihadiri oleh Menteri, juga dihadiri oleh Ketua Umum yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua BPK Anwar Nasution, dan Sekjen PDIP Pramono Anung.

9“Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla,”

Sinar harapan 1 September 2007, h. 2.

10 Mar’ie Muhammad, “

Gaya Kepemimpinan SBY-JK” Majalah Bisnis Indonesia, 11 Oktober 2004, h. 17.

11

(19)

kepemimpinan. Pemimpin memegang kendali yang cukup signifikan dalam

setiap kebijakan yang hendak dikeluarkan tentang suatu permasalahan.

Dari latar belakang di atas, penulis mempunyai ketertarikan untuk

melakukan penelitian dan pengkajian terhadap gaya kepemimpinan dua tokoh

tersebut dalam membawa Partai Golkar, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf

Kalla. Karena pada saat itu, di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung dan

Jusuf Kalla Partai Golkar merupakan partai yang sangat berpengaruh dalam

dinamika politik nasional.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, agar skripsi ini lebih terarah, maka

penulis dalam pembahasannya akan membatasi pada seputar kepemimpinan

Partai Golkar pasca Orde Baru dalam kepemimpinan Akbar Tandjung

(1999-2004) dan Jusuf Kalla (2004-2009).

Adapun pertanyaan yang dapat dirumuskan dan menjadi fokus

permasalahan pada skripsi ini adalah:

1. Apa perbedaan dan persamaan pola kepemimpinan Akbar Tandjung

dan Jusuf Kalla dalam memimpin Partai Golkar pasca Orde Baru?

2. Bagaimana pengaruh pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf

(20)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sebagaimana layaknya penulisan karya tulis, tentu saja skripsi ini juga

memiliki tujuan-tujuan yang nyata dalam upaya dan proses penulisannya.

Adapun yang dituju dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang kepemimpinan Akbar

Tandjung dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.

2. Untuk mengetahui pola kepemimpinan partai yang cocok dalam

konteks kepartaian dalam masa demokratisasi di Indonesia.

3. Untuk memenuhi persyaratan akademik bagi penulis dalam

menyelesaikan studi tingkat Sarjana Program Strata 1 (S1) di

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Politik dengan gelar Sarjana Sosial

(S. Sos).

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang politik, khususnya

mengenai partai politik dalam hal ini kepemimpinan Akbar Tandjung

dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.

2. Sebagai tambahan wacana politik untuk turut serta membangun

perpolitikan nasional sebagai warga negara yang memiliki kesadaran

politik.

3. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan diterapkan

untuk menjawab permasalahan serupa yang tumbuh dan berkembang

(21)

D. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif,12

yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu

penulis menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang

diteliti, serta mengkaji dan menelaah lebih jauh tentang pola

kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar

pasca Orde Baru.

2. Teknik pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini adalah pertama,

dokumentasi yang meliputi bahan kajian dalam bentuk karya tulis baik

dalam bentuk buku, artikel, jurnal, makalah seminar, buku,

dokumen-dokumen Partai Golkar maupun data yang berasal dari media masa.

Kedua, wawancara yaitu proses tanya jawab dalam penelitian yang

berlangsung,13 di mana dua atau lebih bertatap muka, menggali secara

langsung informasi atau keterangan dari beberapa narasumber yang

memahami pola-pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla

dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.

3. Teknik analisis data

Sedangkan tekhnik analisis merupakan salah satu tekhnik dalam

penelitian dengan melakukan analisa-analisa dari data-data yang didapat.

Analisa ini bertujuan untuk menjelaskan sedetail mungkin dengan hal-hal

12

Syamsir Salam dan Jaenal Aripin, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 30.

13

(22)

yang berkaitan tentang pola kepemimpinan Partai Golkar pasca Orde

Baru.14 Maka analisis yang akan digunakan adalah deskriptif analisis,

yaitu upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, menggali

data dan informasi mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi

satuan yang dapat dikelola,15 dengan tujuan mencari gambaran yang

sistematis, faktual, aktual mengenai fakta-fakta dan kegiatan-kegiatan

yang terkait dengan pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla

dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.

4. Teknik penulisan

Adapun pedoman penulisan skripsi ini merujuk pada buku

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang

diterbitkan oleh CeQDA (Center For Quality Development and

Anssurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

2007.

E. Sistematika Penulisan

Dalam rangka untuk mempermudah penulisan laporan penelitian ini,

penulis membagi pembahasan ke dalam lima bab. Masing-masing bab terdiri

dari sub-bab sebagaimana berikut:

Bab I adalah Pendahuluan. Dalam bab ini dibahas tentang latar

belakang masalah, mengapa penulis memutuskan untuk membahas tentang

gaya kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Agar pembahasan

tidak meluas, penulis perlu melakukan batasan masalah terhadap tema

14

Lisa Horrison, Metodologi Penelitian Penelitian, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 86. 15

(23)

penelitian yang dilanjutkan dengan perumusan masalah. Lalu diikuti oleh

tujuan dan manfaat kegunaan. Kemudian dibahas tentang metodologi yang

digunakan dalam penulisan hasil penelitian ini. Sedangkan yang terakhir

adalah sistematika penulisan.

Bab II membahas tentang Teori Kepemimpinan. Pada bab ini penulis

menguraikan tentang pengertian kepemimpinan, teori-teori yang terkait

dengan kepemimpinan, serta gaya-gaya yang ada dalam teori kepemimpinan.

Bab III adalah Sejarah Partai Gokar dan Profil Akbar Tandjung dan

Yusuf Kalla. Dalam bab ini diuraikan tentang sejarah Partai Golkar, Partai

Golkar sebelum reformasi, Partai Golkar setelah reformasi. Dilanjutkan

dengan pembahasan mengenai profil Akbar Tandjung, yang didalamnya

dibahas tentang masa kecil dan remaja, latar belakang pendidikan dan

pengalaman organisasi, serta karir politik di Partai Golkar. Pembahasan

berikutnya berkenaan dengan profil Jusuf Kalla, yang membahas tentang

masa kecil dan remaja, latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi,

serta karir politik di Partai Golkar.

Bab IV merupakan analisis hasil penelitian. Dalam bab ini penulis

membahas tentang kepemimpinan politik Akbar Tandjung, yang di dalamnya

diuraikan tentang gaya kepemimpinan demokratis dan paternalistik, Akbar

Tandjung sang penyelemat Partai Golkar, dan kiat-kiat Akbar Tandjung

dalam memimpin Partai Golkar. Dilanjutkan dengan pembahasnya mengenai

kepemimpinan politik Jusuf Kalla. Dalam sub bab ini, akan dianalisis tentang

gaya kepemimpinan yang demokratis dan egaliter, Jusuf Kalla sosok

progresif, kiat-kiat Jusuf Kalla dalam memimpin Partai Golkar. Berikutnya

(24)

Bab V merupakan Penutup. Dalam bab ini akan dibuat kesimpulan

dari hasil pembahasan dan analisis temuan penelitian disertai dengan saran

(25)

12

LANDASAN TEORI

Kepemimpinan memiliki peran penting dalam membawa eksistensi sebuah

organisasi, sehingga boleh dikatakan bahwa 50% kesuksesan organisasi

ditentukan oleh pemimpin. Oleh sebab itu, studi terhadap kepemimpinan menjadi

fokus tersendiri pula. Pemimpin pada awalnya lahir secara alami, yaitu melalui

seleksi alam (the survival of the fittest). Siapa yang lolos dan mampu bertahan

dalam seleksi tersebut, maka ia akan bertahan hidup dan menjadi pilihan-pilihan

untuk menjadi pemimpin. Namun, pada saat ini pemimpin sudah banyak

dilahirkan melalui latihan. Terlepas dari itu semua, konsep-konsep maupun

paradigma kepemimpinan terus berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan

zaman.1

Seorang pemimpin haruslah memiliki visi dan misi yang jelas sebagai

sebuah pijakan dalam melangkah. Untuk itu, gagasan dan visi seorang pemimpin

menentukan arah bagi perjalanan organisasi yang dipimpinnya. Dengan visi, maka

tujuan, orientasi dan pengembangan organisasi dapat ditetapkan. Sehingga

menjadi terpola dan sistematis.

Herman Musakabe memberikan beberapa substansi pokok yang perlu ada

dalam sebuah visi sebagai berikut: pertama, visi adalah arah ke mana organisasi

dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Kedua, visi

1

(26)

adalah pandangan ke masa depan yang mampu memberi inspirasi kepada para

pemimpin dan memberi motivasi kepada orang-orang yang dipimpin untuk

mencapai tujuan organisasi atau tujuan yang ditentukan oleh pemimpin. Ketiga,

visi harus realistis, yakni mampu menjembatani masa kini dengan masa depan

lebih baik yang dapat dicapai sesuai dengan kondisi sosial (ekonomi, politik, dan

budaya) masyarakat yang berlaku. Keempat, visi mengandung harapan-harapan

bagi orang-orang yang dipimpin. Visi adalah impian seorang pemimpin yang

harus diubah menjadi kenyataan.2

Kepemimpinan masa depan harus mampu melakukan otokritik dan

merespon berbagai persoalan masyarakat. Untuk itu, kekritisan seorang pemimpin

haruslah menjadi bagian penting dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Kepemimpinan kritis akan melihat segala sesuatu itu secara obyektif terhadap

organisasinya sendiri maupun terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. Selain

itu, kepemimpinan kritis menempatkan keadilan dalam membuat kebijakan.

Dibawah ini, penulis hendak mengelaborasi sedikit tentang beberapa teori

kepemimpinan sebagai alat analisa dalam pembahasan penelitian untuk tugas

akhir.

A. Pengertian kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan tema yang selalu menarik. Ia selalu

memiliki corak dan warna tersendiri sesuai dengan tuntutan kebutuhan situasi

dan kondisi masanya. Kepemimpinan merupakan fenomena kemasyarakatan

2

Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati di Tengah Krisis dan Reformasi,

(27)

dan kebangsaan, yang berpengaruh terhadap perkembangan proses kenegaraan.

Hal ini dikarenakan, kepemimpinan menjadi salah satu fungsi yang dapat

mendorong terwujudnya cita-cita, tujuan, dan aspirasi nasional.3

Terminologi kepemimpinan muncul sebagai konsekuensi logis dari

perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki

ketergantungan sosial, begitu tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya.

Kepemimpinan merupakan gejala sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Model Kepemimpinan selalu melahirkan berbagai varian. Terbukti

kepemimpinan bangsa ini selalu berbeda antara satu dengan masa yang lain.4

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan diartikan

sebagai perihal pemimpin; cara memimpin. Sedangkan memimpin itu sendiri

memiliki makna: 1. Mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dan

sebagainya); 2. Memenangkan paling banyak; 3. Memegang tangan seseorang

sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya; 4.

Memandu; membimbing; 5. Melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya)

supaya dapat mengerjakan sendiri.5

Kepemimpinan yang berkualitas merupakan kunci utama keberhasilan.

Kualitas kepemimpinan yang diharapkan tidak hanya meliputi kualitas fisik,

intelektual semata, melainkan juga kualitas ekonomi. Berbagai pengalaman

hidup dan perubahan memungkinkan wacana kepemimpinan selalu hadir dalam

3

Muladi dan Adi Sujatno, Traktat Etis Kepemimpinan Nasional, (Jakarta: RM Books, 2008), h. ix.

4

Muladi dan Sujatno, Traktat Etis Kepemimpinan Nasional, h. x. 5

(28)

bentuknya yang sangat beragam. Mulai dari model kepemimpinan kharismatik,

tradisional, paternalistik, hingga model kepemimpinan birokrasi.

Pengertian tentang kepemimpinan banyak dikemukakan oleh para ahli,

namun pada umumnya hanya terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang

memandang kepemimpinan sebagai “ilmu” dan kepemimpinan sebagai “seni”.

1. Kepemimpinan sebagai Ilmu

Kepemimpinan sebagai ilmu, yang menitikberatkan kepemimpinan

pada proses belajar dan latihan. Kepemimpinan ini akan berlangsung efektif,

bilamana berada di tangan orang-orang berpengalaman atau terlatih dalam

memimpin. Dengan belajar dari pengalaman, seseorang akan menjadi

terampil dalam melaksanakan kepemimpinan.6

)

Kepemimpinan adalah suatu ilmu terencana yang dinamis melalui

suatu periode waktu dalam situasi yang di dalamnya pemimpin

menggunakan perilaku atau gaya kepemimpinan yang khusus dan sarana

sertaprasaranakepemimpinanuntukmemimpindengan menggerakkan atau

mempengaruhi bawahan, guna melaksanakan tugas pekerjaan ke arah

(dalamupaya pencapaian) tujuan yang menguntungkan bagi pemimpindan

bawahan,sertalingkungansosialdimanamerekaada atau hidup.7

2. Kepemimpinan sebagai Seni)

Kepemimpinan sebagai seni sangat tergantung dan dipengaruhi oleh

faktor bakat. Tidak semua orang mempunyai bakat kepemimpinan yang

6

Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati: Di Tengah Krisis dan Reformasi, (Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004), h. 8.

7

(29)

sama, setiap orang mempunyai bakat kepemimpinan yang berbeda secara

kuantitas dan kualitas.8 Orang yang melaksanakan kepemimpinan secara

efektif, berarti orang tersebut memiliki bakat kepemimpinan yang

kualitasnya baik.

Kepemimpinan ialah seni mempengaruhi dan menggerakkan orang

untuk bekerja secara terkoordinasi, sehingga setiap orang tergerak

mengerjakan pekerjaannya serta menyelesaikan tugasnya dengan baik

berdasarkan program yang telah dicanangkan dalam kinerja keorganisasian

secaramenyeluruh.

Kepemimpinan ialah seni merangkum dan menyampaikan perintah,

yang olehnya orang yang dipimpin tergerak dan bergerak melaksanakan

tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Kepemimpinan ialah seni

membuat peta keinginan tentang masa depan organisasi, dan kemampuan

menerjemahkanpeta tersebut menjadisuatukerangkakeinginanyangnyata,

sertakekuatanatau kuasamenggunakansegalasumberuntuk melaksanakan

petatersebutmenjadiprodukyangberdaya-guna.

Kepemimpinan ialah seni mendaya-gunakan sumber-sumber daya:

manusia, alam, teknologi, infrastruktur, dan sebagainya dalam upaya

mempertahankan optimalisasi kerja yang tinggi sehingga menciptakan hasil

yang bernilai lebih yang semakin besar yang membawa sukses kerja dalam

organisasi.9

8

H. Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993), h. 40.

9

(30)

Dari berbagai definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa

kepemimpinan adalah cara atau jalan untuk mengarahkan individu atau

kelompok ke arah yang lebih baik, sesuai dengan kesepakatan dan tujuan

yang diinginkan.

B.Teori dan Gaya Kepemimpinan 1. Teori Kepemimpinan

Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi

kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory).

Dikemukakan, setiap anggota masyarakat menempati status posisi tertentu.

Demikian juga dengan individu, diharapkan memainkan peran tertentu.

Dengan demikian, kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek

dalam diferensiasi peran. Ini berarti, bahwa kepemimpinan dapat

dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota

kelompoknya.

Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia super

lebih daripada yang lain, kuat, dan gigih. Para pemimpin juga merupakan

manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi

merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai.

Berangkat dari pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan

suatu organisasi. Karena seorang pemimpin harus mempunyai visi yang

berawal dari mimpi, untuk kemudian mewujudkannya menjadi kenyataan.10

10

(31)

Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja

organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin,

suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah.11

Dalam sejarah peradaban manusia, gerak hidup dan dinamika

organisasi tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara

organisasi. Bahkan, dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari

sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. Orang-orang ini

adalah perintis, pelopor, dan ahli organisasi. Sekelompok orang istimewa

inilah yang disebut pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan seorang

merupakan kunci dari manajemen. Dalam skripsi ini, penulis memberikan

sedikit gambaran tentang teori-teori kepemimpinan, diantaranya:

1. Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)

Studi mengenai sifat atau ciri untuk mengidentifikasi karakteristik

fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai

pemimpin alami. Studi tentang sifat atau ciri telah dilakukan, namun sifat

atau ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten

dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat

atau ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat atau

ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku

atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat atau ciri

dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin. 12

11

Maryono Abdul Ghofur, Dasar-dasar Manajemen Organisasi, (Surabaya: Sinar Emas, 2007), h. 12-17.

12

(32)

2. Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)

Selama tiga dekade, tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku

pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada aspek perilaku. Studi

mengenai perilaku kepemimpinan, menggunakan kuesioner untuk

mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan hubungan. Beberapa

studi telah dilakukan untuk melihat, bagaimana perilaku tersebut

dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti

kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan

eksperimen laboratorium atau lapangan, untuk menyelidiki bagaimana

perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika

kita cermati, penemuan dari teori perilaku ini, bahwa para pemimpin

yang penuh perhatian mempunyai banyak bawahan yang puas. 13

3. Teori Kontingensi (Contigensy Theory)

Teori kontingensi berasumsi bahwa, berbagai pola perilaku

pemimpin atau ciri dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas

kepemimpinan. Pada umumnya, pemimpin memotivasi para pengikut

dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi dari

berbagai upaya. Bila para pengikut percaya, hasil dapat diperoleh dengan

usaha yang serius, akan mendapatkan hasil yang baik. Aspek-aspek

situasi seperti sifat tegas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut

13

(33)

menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk

memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut. 14

2. Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan mengandung pengertian sebagai suatu

perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut

kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya,

membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.15 Dan gaya kepemimpinan

merupakan hasil interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang

dipimpinnya di dalam kondisi yang mempengaruhinya.16

Gaya kepemimpinan adalah pendekatan yang dipakai pemimpin

untuk memimpin, dalam arti mempengaruhi dan menggerakkan yang

dipimpin untuk bekerja secara aktif guna mencapai tujuan organisasi. Gaya

kepemimpinan apa pun yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. Yang

menentukan, seberapa besar pengaruh pemimpin terhadap pengikutnya.17

Adapun gaya-gaya kepemimpinan, diantaranya:18

1. Gaya Otoriter

Kepemimpinan tipe ini, menempatkan kekuasaan pada seseorang

atau sekelompok kecil orang, yang bertindak sebagai penguasa.19 Bahwa,

14

Subanto Zaini, Leadership in Action, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011), h. 66-68.

15

Davis dan Newstrom, Leadership And Manajemen, (Havard Univesity press, 1995), h. 61-19.

16

H. Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993), h. 139.

17

Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati: Di Tengah Krisis Kepercayaan, (Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004), h. 10.

18

Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 190.

19

(34)

gaya otoriter mengandung hal negatif. Gaya otoriter itu menindas,

mempengaruhi pengikut dengan cara memaksa, dan memaksa semua

orang bekerja tanpa kompromi. Biasanya pemimpin otoriter selalu

mengabaikan bawahannya dalam proses pengambilan keputusan.20

Pemimpin yang otoriter selalu mengatakan; “kantor saya” atau

“pegawai saya”, ungkapan itu menyatakan seluruh organisasi adalah

milik pemimpin. Anggota organisasi menjadi manusia penurut atau

pengekor. Sehingga, organisasi menjadi statis, karena pemimpin tidak

menyukai perubahan.

2. Gaya Demokratis

Kepemimpinan tipe ini, menempatkan faktor manusia sebagai

faktor utama dan terpenting dalam sebuah organisasi. Bahwa

kepemimpinan yang ideal yang demokratis, karena mengandung unsur

positif. Dalam kepemimpinan ini, setiap individu sebagai manusia yang

diakui dan dihargai eksistensinya dalam mengembangkan organisasi.

Kepemimpinan demokratis selalu bersifat aktif, dinamis dan

terarah. Aktif dalam menggerakkan dan memotivasi. Dinamis dalam

mengembangkan dan memajukan organisasi. Terarah pada tujuan

bersama yang jelas, melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang relevan

secara efektif.21

20

Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Kepemimpinan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 25.

21

(35)

Menurut Siagian, sebagaimana yang dikutip oleh Alfan Alfian,

gaya demokratis ini beberapa ciri, yaitu:

a. Memiliki pandangan, betapapun besarnya sumber daya dan

dana yang tersedia bagi organisasi, kesemuanya itu pada

dirinya tidak berarti apa-apa kecuali digunakan oleh manusia

dalam organisasi demi pencapaian tujuan dan berbagai sasaran

organisasi.

b. Dalam organisasi hendaknya tidak mentolelir semua kegiatan

dilakukan sendiri oleh pemimpin dan hendaknya

mengusahakan adanya pendelegasian wewenang yang praktis

dan realistis tanpa kehilangan kendali organisasional.

c. Para bawahan dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib

sendiri melalui peran sertanya dalam proses pengambilan

keputusan.

d. Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan

sebagai makhluk politik, ekonomi, sosial dan sebagai individu

dengan karakteristik dan jati diri yang khas yang mempunyai

kebutuhan yang kompleks.

e. Usaha memperoleh pengakuan yang tulus dari para bawahan

atas kepemimpinan orang yang bersangkutan didasarkan

kepada pembuktian memimpin organisasi dengan efektif.22

22

(36)

3. Gaya Paternalistik

Paternalistik (paternalism) adalah suatu paham yang

mengagungkan hierarki keluarga. Sehingga, orangtua harus dihormati

dan ditaati oleh anaknya dan orangtua memberikan tanggung jawab

untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Paternalisme sangat

lekat dalam penggunaan bahasa, seperti bahasa Jawa, di mana harus

disesuaikan dengan usia, dan pangkat seseorang.23

4. Gaya Egaliter

Egaliter berarti sederajat. Pemimpin egaliter tidak terlalu “jaim

dan pemimpin ini tidak takut bahwa popularitasnya akan turun. Karena

pemimpin sepeti ini, selalu merakyat dan bisa berkomunikasi dengan

rakyat secara apa adanya.

Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat

diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini:

1. Teori Genetis (Keturunan) - Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader

are born and not made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya

dibuat). Para penganut aliran teori ini, bahwa seorang pemimpin akan

menjadi pemimpin, karena ia telah dilahirkan dengan bakat

kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang

ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin.24

Dalam ranah demokrasi, teori ini kurang mendapatkan apresiasi. Hal ini

karena dengan mengandalkan keturunan, seseorang yang bukan dari

23

Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, h. 207. 24

(37)

keturunan pemimpin atau tokoh politik misalnya, akan sangat sulit untuk

mendapatkan posisi sebagai pemimpin. Namun kenyataannya, di

Indonesia masih terdapat sebagian masyarakat yang mempercayai

tentang genetika (keturunan) yang bisa diperoleh seseorang dari orang

tuanya. Sehingga hal ini memunculkan apa yang disebut dengan politik

dinasti, yaitu kepemimpinan dalam partai politik atau organisasi politik

yang terus-menerus dipegang oleh satu garis keturunan (keluarga) saja.

2. Teori Sosial - Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa pemimpin itu dibuat

atau dididik bukannya kodrati. Jadi teori ini merupakan kebalikan inti

teori genetika. Para penganut teori ini berpendapat, bahwa setiap orang

bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan, pengalaman dan

memiliki kesempatan yang cukup untuk membuktikan kemampuannya.25

3. Teori Ekologis - Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung

kebenaran. Maka, muncullah aliran teori ketiga. Teori ekologis ini, bahwa

seseorang akan berhasil menjadi pemimpin yang baik, apabila ia telah memiliki

bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui

pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk

dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi positif dari kedua

teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling

mendekati kebenaran.

Dari ketiga aliran teori tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan

kekurangan masing-masing. Evolusi teori aliran kepemimpinan tentu saja

sangat bergantung kepada individu yang bersangkutan. Menurut hemat penulis,

25

(38)

meskipun seseorang memiliki bakat dan ditunjang dengan lingkungan yang

memadai, tanpa ada komitmen yang kuat yang berasal dari individu yang

bersangkutan, maka sangat sulit mengharapkan lahirnya seorang pemimpin.

3. Tipologi Kepemimpinan

Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang

beberapa tipe kepemimpinan. Sarlito memberikan uraian yang cukup jelas

mengenai tipologi kepemimpinan yang berkembang dari ketiga gaya

kepemimpinan di atas. Tipologi tersebut di antaranya adalah sebagian

berikut:26

a. Tipe Otokratis.Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang

memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: menganggap organisasi

sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan

organisasi; menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; tidak mau

menerima kritik, saran dan pendapat; terlalu tergantung kepada

kekuasaan formalnya; dalam tindakan penggerakkannya sering

mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan

bersifat menghukum.

b. Tipe Militeristis. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah

seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut: dalam

menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;

dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan

jabatannya; senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; menuntut

26

(39)

disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; sukar menerima kritikan

dari bawahannya; menggemari upacara-upacara untuk berbagai

keadaan.

c. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai

pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai

berikut: menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;

bersikap terlalu melindungi; jarang memberikan kesempatan kepada

bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan

kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang

memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan

daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.

d. Tipe Kharismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil

menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki

karisma. Pada umumnya, pemimpin ini mempunyai daya tarik dan

pengikut yang jumlahnya besar. Meskipun, para pengikutnya tidak

dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.

Hal ini disebabkan, kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab

seseorang menjadi pemimpin yang kharismatik. Maka sering dikatakan

bahwa pemimpin yang demikian, diberkahi dengan kekuatan ghaib

(supra natural powers).

Salah satu tokoh sosiologi politik yang membicarakan tentang

kepemimpinan kharismatik adalah Max Weber. Istilah kharisma akan

(40)

seseorang, yang karenanya dia terpisah dari orang biasa. Mutu seperti

itu, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengikut yang setia kepada

pemimpin yang memiliki kharisma dan komitmen terhadap

aturan-aturan yang ada atau moral yang dianutnya.27

Menurut Max Weber kepemimpinan yang diadopsi dari pengembangan

otoritas dalam masyarakat, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:28

1) Pemimpin dengan otoritas kharismatik memiliki kesadaran misi dan

panggilan yang terwujud dalam ide dan memanggil orang untuk ikut

serta dalam misinya.

2) Otoritas kharismatik dijalankan bersama pengikut setia. Mereka

dipilih karena kualitas kharismatik pribadi.

3) Kharisma itu bersifat “ekstra-legal”, mengabaikan struktur dan

aturan formal pemimpin kharismatik hanya mengenal inner

determination dan inner restraint.

4) Relasi dalam komunitas bersfiat personal. Karena pemimpin

muncul dalam situasi krisis, otoritas ini tidak stabil. Ia bisa berakhir

dan mengalami trans formasi ke arah otoritas tradisional/legal.

5) Kharisma pada dasarnya bersifat anti ekonomi, walaupun komunitas

kharismatik memerlukan uang.

27

Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, Penterjemah Robert M. Z. Lawang, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), Jilid 1, h. 229.

28Ayup Rano, “Kepemimpinan Kharismatik: Tinjauan Etis

-Teologis atas Kepemimpinan

Soekarno”, artikel diakses dari

http://books.google.co.id/books?id=-xkAxs7KPNwC&pg=PA51&lpg=PA51&dq=kepemimpinan+max+weber&source=bl&ots=rNi9x

(41)

Sehingga Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dikatakan

sebagai kriteria untuk menjadi pemimpin kharisma. Pemimpin kharisma

didasarkan pada watak atau sifat pribadinya yang memberikan contoh

atau yang bersifat pahlawan.29

e. Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan, telah

membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratis yang paling tepat

untuk organisasi modern. Hal ini dikarenakan, tipe kepemimpinan ini

memiliki karakteristik sebagai berikut: dalam proses penggerakan

bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah

makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan

kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan

pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan

bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan

kerjasama dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan

yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang

kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan

yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu

berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan

berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai

pemimpin.30

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin tidak hanya

dilahirkan, melainkan bisa juga diciptakan melalui berbagai pelatihan,

29

(42)

pengalaman hidup, serta cara-cara lain yang dimungkinkan untuk menciptakan

pemimpin-pemimpin andal. Selain itu, dalam kepemimpinan, baik dalam

lingkup organisasi, partai politik maupun perkumpulan-perkumpulan lainnya,

diperlukan kriteria-kriteria yang hendaknya dimiliki oleh seorang pemimpin.

Meskipun dalam ranah demokrasi setiap orang berhak untuk memimpin dan

dipimpin, namun dalam praktiknya, ada prasyarat yang harus dipenuhi bagi

(43)

30

SEJARAH PARTAI GOLKAR DAN PROFIL AKBAR TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI GOKAR

Dalam bab ini penulis akan menguraikan secara ringkas tentang

sejarah Partai Golkar, disertai dengan profil 2 (dua) mantan ketua umum

Partai Golkar, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Sejarah Partai Golkar

penting untuk dibahas, meskipun sekilas, karena menurut penulis hal ini untuk

mendapatkan benang merah (link match) antara Partai Golkar itu sendiri

dengan beberapa pemimpinnya, yang dalam pembahasan ini difokuskan pada

dua orang, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla.

Selain itu, karakter atau gaya kepemimpinan dua mantan ketua umum

Partai Golkar tersebut dapat dikatakan memberikan warna tersendiri bagi

Partai Golkar. Pengalaman masing-masing mantan ketua umum Partai Golkar

tersebut, sedikit banyak memberikan pengaruh dalam menahkodai Partai

Politik yang cukup diperthitungkan di tanah air.

A. Sejarah Partai Golkar

1. Partai Golkar sebelum Reformasi

Sejarah Golongan Karya (Golkar) sama tuanya dengan sejarah

Orde baru. Soeharto menjadi tokoh sentral di Golkar dalam membesarkan

dan menstabilkan dinamika politik di tubuh Golkar. Golkar menjadi salah

(44)

menjadi kendaraan politik Soeharto selama menjadi presiden. Bahkan,

Golkar menjadi partai nomor satu dan selalu unggul diantara partai-partai

lain. Selama kepemimpinan Soeharto nyaris tidak terdengar riak dalam

tubuh orsospol (organisasi sosial politik) berlambang beringin tersebut.

Selama Orde Baru, Partai Golkar berhasil membangun rezim politik yang

kuat.

Golkar berawal dari Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber

Golkar) yang dideklarasikan pada tanggal 20 Oktober 1964.1 Dalam

perkembangannya, Sekber Golkar berubah menjadi Golongan Karya yang

merupakan organisasi peserta pemilu, memang patut diacungkan jempol.

Hal ini dikarenakan, banyaknya organisasi yang bergabung dalam tubuh

Golkar, namun dinamika politik yang terjadi berjalan lancar tanpa ada

masalah. dan organisasi-organisasi itu dikelompokkan menjadi tujuh

Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu: Sentral Organisasi Sosialis

Karyawan Indonesia (Soksi), Kelompok Organisasi Serbaguna Gotong

Royong (Kosgoro), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR),

Kino Profesi, Kino Ormas Hankam, GAKARI, dan Kino Gerakan

Pembangunan.

Memasuki era Orde Baru seluruh sistem berubah, semua kekuasaan

berada dalam genggaman Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai

presiden. Selama berkuasa Soeharto menggunakan tiga pilar kekuatan,

yaitu ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) militer yang

1

(45)

sekarang menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), birokrasi dan Golkar,

ketiga hal itu, menjadi penyangga kekuasaannya.2 Di era Orde Baru,

Soeharto telah berhasil membangun kekuasaannya melalui peran Golkar

yang memiliki dukungan massa fanatik sangat besar, hingga partai ini

mampu meraih banyak dukungan pada setiap pemilu. Ada beberapa

interpretasi, menyangkut kemenangan Golkar dalam setiap Pemilu.

sebagian orang setuju, bahwa peranan ABRI dan birokrasi sangat

instrumental dalam kemenangan Golkar. Bahkan Ali Moertopo dalam

bukunya mengakui hal ini:

“Beberapa kalangan berpandangan bahwa kemenangan Golkar

terjadi karena beberapa faktor tersebut: tersedianya dana, dukungan pejabat, terutama dari ABRI, pembentukan Korpri di dalam berbagai kementrian, lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan, dan juga karena berbagai macam intimidasi. Semua ini

tentu saja memberikan sumbangan pada kemenangan Golkar…”3

Di Era Orde Baru, Golkar menjadi ujung tombak dalam

membangun visi Indonesia, dengan tahapan-tahapan yang jelas dan

terarah, baik melalui tahap Pelita (Pembangunan Lima Tahun), maupun

PJP (Pembangunan Jangka Panjang).4

Sebenarnya, Golkar diciptakan selama Orde Baru, karena tidak ada

satupun dari partai-partai politik yang ada, bisa mewakili kepentingan

2

Dawam Raharjo, Angkatan Bersenjata Sebagai Kekuatan Politik, (Jakarta: Prisma, ), h. 109-123.

3

Ali Moertopo, Strategi Politik Nasional, (Jakarta: CSIS, 1974), h. 82-83. 4

(46)

militer.5 Dan juga pada era Orde Baru, Golkar benar-benar dalam kontrol

Soeharto.

2. Partai Golkar sesudah Reformasi

Setelah Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden.

merupakan titik awal reformasi yang selama ini disuarakan oleh

Mahasiswa dan segenap rakyat Indonesia. Saat itulah, Golkar mengalami

berbagai hujatan, karena jatuhnya Soeharto adalah jatuhnya Golkar juga.

Dalam sentimen publik, Golkar dianggap sebagai penopang kekuasaan

Soeharto. “Terror” terhadap Golkar bukan saja datang dalam bentuk unjuk

rasa, namun terror yang bersifat fisik mereka dapatkan, seperti di Brebes

Jawa Tengah sekelompok masa bentrok dengan kader Golkar yang sedang

melakukan apel, di Tegal pembersihan terhadap simbol-simbol Golkar pun

dilakukan.

Anggapan bahwa era reformasi merupakan runtuhnya dominasi

Golkar ditandai dengan hilangnya dukungan formal dari birokrasi dan

ABRI dan hancurnya citra Orde Baru. Sebagaimana dipahami, opini yang

berkembang di masyarakat bahwa Golkar sering ditampilkan sebagai

partai yang penuh dengan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), alat

kekuasaan, pemain utama “yang bertanggung jawab” terhadap terjadinya

masalah yang dialami bangsa, sulit lenyap begitu saja.6

5

Leo Suryadinata, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik, (Jakarta: LP3ES, 1992), h. 139.

6

(47)

Pada saat itu, muncullah gerakan reformis yang membuat Golkar

menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Di awal reformasi, Partai

Golkar mengalami perubahan yang signifikan, perubahan ini lebih kepada

pengembangan organisasi, dan manajemen yang disesuaikan oleh

perubahan zaman. Meskipun pada akhirnya Golkar berubah menjadi

sebuah partai yang resmi pada tahun 1999, yaitu Partai Golongan Karya.

Hal ini terbukti, dalam pemilu 1999, Golkar menduduki posisi kedua

setelah PDIP, sehingga banyak kadernya yang menduduki kursi

pemerintahan di awal era reformasi.

Dalam perkembangannya, Golkar menjadi sebuah partai yang

mandiri, bergerak dalam sistem yang sudah mapan. Walaupun banyak

sekali tantangan yang dihadapi Golkar, tetapi Golkar menjadikan partai

politik yang solid, dalam menghadapi konflik, baik internal maupun

eksternal. Partai Golkar mampu bangkit dari keterpurukan rezim Orde

Baru.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Heriyandi Roni,7

sebagaimana yang dikutip oleh Akbar Tandjung, menyebutkan bahwa

perubahan politik 1998 berimplikasi positif terhadap Golkar terutama

dalam bidang pengambilan keputusan. Perubahan signifikan dimulai pada

Munaslub 1998, di mana pemilihan ketua umum dilakukan secara

demokratis. Demikian pula posisi Ketua Dewan Pembina yang di masa

lalu memiliki kekuatan yang sangat menentukan telah ditiadakan.

7

(48)

Perubahan ini dilakukan karena Golkar dihadapkan pada tekanan dan

tuntutan masyarakat agar Golkar dibubarkan.

Salah satu terobosan yang ada di dalam Partai Golkar adalah

diadakannya konvensi untuk menjaring calon presiden dan wakil presiden

yang akan diusung dalam pemilihan umum 2004. Prakarsa ini muncul saat

Partai Golkar berada di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung. Sekilas

menilik terobosan Partai Golkar dengan diadakannya konvensi yang

dilaksanakan melalui tiga tahap. Pertama, tahap penjaringan yang terdiri

dari pengusulan bakal calon oleh DPD, Provinsi, ormas tingkat pusat, atau

perorangan dengan dukungan 500 dukungan surat penyataan. Kedua,

sosialisasi bakal calon ke minimal tujuh provinsi. Konvensi tingkat

kabupaten/kota dengan memilih 5 nama, dan selanjutnya diajukan ke

provinsi. Konvensi tingkat provinsi menetapkan 5 nama. Penapatan bakal

calon oleh DPD Provinsi. Ketiga, tahap pemilihan dan penetapan, yang

terdiri dari penetapan nominasi di pusat dengan terlebih dahulu melewati

proses konvensi di tingkat provinsi.8

Perjuangan Partai Golkar pada masa sesudah era reformasi

memang tidak semudah saat masih berada di era Orde Baru. Untuk itu,

siapapun pemimpin yang berhasil membawa Partai Golkar melewati

masa-masa sulit tersebut, tentu bukanlah pemimpin sembarangan. Pemimpin

tersebut dapat dikatakan sebagai pemimpin yang memiliki integritas dan

8

(49)

komitmen yang tinggi dalam memperjuangkan dan mengangkat nama baik

Partai Golkar di kancah perpolitikan Indonesia.

B. Profil Akbar Tandjung

1. Masa Kecil dan Remaja Akbar Tandjung

Nama lengkap Akbar Tandjung adalah Djandji Akbar Zahiruddin

Tandjung, yang lahir pada tanggal 14 Agustus 1945, di Sibolga, Sumatera

Utara. Akbar merupakan anak yang berasal dari keluarga besar. Akbar

anak yang ke-13 dari 16 bersaudara. Keluarga Akbar memiliki berlatar

belakang agama yang kuat. Pada masa kecilnya, Akbar tinggal di Sorkam

diasuh oleh tantenya , karena orang tua Akbar membuka usaha di Sibolga.9

Masa kecil Akbar Tandjung menyukai berenang bersama teman

sebayanya. Ia suka berenang di dekat desanya. Selain itu, Akbar juga

menyukai durian, ketika musim durian tiba, Akbar bersama

teman-temannya menunggu durian itu jatuh, kemudian ia mengejarnya. Hal itu,

dilakukan sampai ia kelas tiga Sekolah Rakyat Muhammadiyah.

Pengalaman masa kecil Akbar selalu banyak kenangan manis bersama

teman-temannya. Disisi itu, Akbar hoby membaca buku hingga remaja. Ia

anak yang cerdas.10

9

Majalah Biografi Politik, “Akbar Tandjung; Faktor Penentu Pemilhan Presiden 2009”,

Vo. 1, No. 1, Februari 2008, h. 81-82

10

(50)

2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Akbar Tandjung

Riwayat pendidikan Akbar Tandjung cukup memiliki warna

tersendiri. Setelah melalui masa kecil dan masuk Sekolah Rakyat (SR)

Muhammadiyah di Sorkam, anak ke-13 dari 16 bersaudara ini pun pindah

ke Medan. Di Medan, ia menamatkan pendidika dasarnya di SR Nasrani.

Sempat pula setahun duduk di bangku SMP di Ibukota Provinsi Sumatera

Utara itu.

Pindah ke Jakarta, ia masuk kelas dua SMP Perguruan Cikini, dan

kemudian berlanjut ke SMA Kanisius. Selanjutnya, ia memilih kuliah di

Fakultas Teknik Universitas Indonesia jurusan teknik elektro.11 Akbar

sudah mulai menyukai dunia politik, ketika kuliah di Universitas

Indonesia. Pergulatan politik Akbar, tidak hanya di dalam kampus, tetapi

di luar kampus. Ia aktif dalam gerakan mahasiswa yakni Kesatuan Aksi

Mahasiswa Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arif Rahman

Hakim. Selama aktif di kampus, Akbar mempunyai modal politik yang

kuat untuk menjadi ketua senat mahasiswa. Akhirnya tahun 1967, ia

menjadi ketua senat mahasiswa Fakultas Teknik. Disisi itu, dia aktif

sebagai Dewan Mahasiswa dan Majelis Permusyawaratan Universitas

Indonesia.

Selain itu, kegiatan di luar kampus Akbar terpilih menjadi Ketua

Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta. Tahun 1972,

11Majalah Biografi Politik, “

(51)

Akbar menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam

(PB HMI). Dan aktivitasnya tidak hanya disitu saja, tahun 1973 ia juga

ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Sebagai

Ketua Umum KNPI, Akbar juga mendirikan Angkatan Muda Pembaruan

Indonesia (AMPI) dan tahun 1978, ia menjadi Ketua Angkatan Muda

Pembaharuan Indonesia. Kemudian, tahun 1983, Akbar menjabat sebagai

Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar. Sehingga, kiprah Akbar

dalam aktivitas organisasinya membuat langkahnya semakin maju.

3. Karir Politik Akbar Tandjung di Partai Golkar

Karir politik Akbar Tandjung berawal dari bawah. Sehingga tidak

heran, jika banyak pengamat yang menyatakan bahwa Akbar Tandjung

bukanlah politisi sembarangan. Pengalaman yang dimiliki Akbar Tandjung

dalam berorganisasi tidak perlu dipertanyakan lagi.

Berdasarkan penelusuran penulis, karir Akbar Tandjung dalam

dunia aktivits dimulai dari masa-masa kuliah.12 Pengalamannya cukup

kaya, dari aktivitas di kampus hingga pengalaman di pemerintahan. Di

Dewan Perwakilan Rakyat, tahun 1977-1988 Akbar menjadi anggota FKP

DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Dan di perwakilan ia sebagai

Wakil Sekretaris FKP DPR RI periode 1982-1983. Kemudian tahun

1987-1992, Akbar di percaya untuk menduduki Sektretaris MPR RI sekaligus

Anggota Badan Pekerja MPR RI. Setelah pemilu tahun 1992, ia kembali

12

(52)

menjadi Sekretaris MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI. Kemudian

Akbar terpilih menjadi Wakil Ketua FKP MPR RI, Wakil Ketua PAH II

Badan Pekerja MPR RI periode 1997-1998. Dan tahun 1998 sampai

sekarang, Akbar menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI.

Disamping karir politik Akbar di dalam pemerintahan. Pengalaman

Akbar dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat, tahun

2002-2003 Akbar dipercaya menjadi President of AIPO (Asean Inter

Parliamentary Organization) dan President of PUOICM (Parliamentary

Union of OIC Members) periode 2003-2004.

C. Profil Jusuf Kalla

1. Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla

Nama lengkap Jusuf Kalla adalah Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla,

sering disingkat menjadi JK. Lahir di Wetampone, Sulawesi Selatan pada

tanggal 25 Mei 1942. Pada masa kecilnya, Jusuf Kalla dipanggil Ucu. Ia

anak ke-2 dari 17 bersaudara.13 Pada masa kecil Jusuf Kalla dapat

dikatakan masa yang menyulitkan, karena kondisi waktu itu sedang kacau

datangnya DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia). Akhirnya ia dan

13

Gambar

gambaran mengenai kepemimpinan Jusuf Kalla. Salah satu contoh mengenai

Referensi

Dokumen terkait