(Studi Perbandingan Pola Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar)
Skripsi
Diajukan dalam Rangka Memenuhi Persyaratan
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Oleh:
Nurcholifah
NIM: 107033201647
PRODI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iii
Nurcholifah, “KEPEMIMPINAN PARTAI GOLKAR PASCA ORDE BARU
(Studi Perbandingan Pola Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar)
Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pembahasan pada kepemimpinan mantan ketua Partai Golkar Akbar Tandjung yang menjadi ketua umum Partai Golkar periode 1999-2004 dan Muhammad Jusuf Kalla yang menjadi ketua umum Partai Golkar periode 2004-2009. Hal ini penulis lakukan agar pembahasan menjadi fokus dan tidak melebar ke periode yang lebih lama lagi karena keterbatasan penulis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan hasil wawancara sebagai sumber primer. Adapun sumber sekunder penulis peroleh dari berbagai literatur, baik dari buku, majalah, maupun artikel yang ada di internet. Wawancara dilakukan dengan kedua tokoh tersebut, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara). Hal ini penulis lakukan agar wawancara tidak melebar ke hal-hal di luar pembahasan dan menjadi fokus pada inti permasalahan yang ingin dianalisa dalam skripsi ini.
v
yang telah memberikan kasih sayang dan karunia tiada terhingga kepada penulis.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad
SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi iniyang berjudul
“Kepemimpinan Partai Golkar Pasca Orde Baru: Studi Perbandingan Pola
Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf
Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar”.
Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu hingga proses penyusunan skripsi ini selesai.
Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak di antaranya:
1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Ali Munhanif Ph.D. selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak M. Zaki Mubarak, M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, yang selalu memberikan kontribusi dalam segala hal.
4. Bapak A. Bakir Ihsan, M. Si. selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu di antara kesibukannya dan selalu memberikan
pengarahan serta masukan yang berarti dalam penulisan karya ini.
5. Bapak Idris Thaha, M. Si. dan Bapak Ali Munhanif Ph.D. selaku Dewan
vi surat menyuratnya.
7. Bapak Dr. Ir Akbar Tandjung dan Muhammad Jusuf Kalla selaku mantan
Ketua Umum Partai Golkar yang sudah meluangkan waktunya untuk
wawancara dan pemberian buku terkait Partai Golkar, semoga bermanfaat
bagi penulis.
8. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Akbar Institute, Kalla
Grup, Freedom Institute dan The Indonesia Institute, terima kasih telah
meminjamkan dan memberikan buku semoga menambah wawasan dan
bermanfaat serta berguna dalam penyelesaian Skripsi ini.
9. Ayahanda dan ibunda tercinta, yang selalu memberikan kasih sayang baik
lahir maupun bathin, dukungan, doa yang tak henti-hentinya kalian
curahkan, sehingga penulis dalam menjalani perkuliahan mampu
menyelesaikan skripsi ini.
10.Kakakku tersayang, Nurjoko SH dan Marwan Kusuma Wijaya terima
kasih sudah memberikan semangat untuk adeknya dalam menyelesaikan
penulisan karya ini.
11.Imam Baihaqi (Ibeq) terima kasih yang selalu setia dan tidak pernah letih
memberikan semangat dan dukungan serta perhatian yang luar biasa,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Kehadiranmu bagaikan
buku yang tak pernah selesai penulis baca. Thanks for everything.
12.Teman-teman Kost ku “Gayo Building dan Maus Village” yaitu Neneng
terima kasih atas kebersamaannya, yang selalu bersama-sama dalam suka
vii
13.Teman-temann UIN Yogyakarta terima kasih atas kesetiaan dalam
berjuang, diskusi, dukungan kepada penulis selama berlangsungnya
penulisan karya ini yaitu Mas Anaiza Utama Al-Ishaqi, Mas Rozali, Mas
Irfan, Mas Djul, Mas Ully dan teman-teman lainnya yang tak bisa penulis
sebutkan satu persatu namanya.
14.Kawan-kawan 2005, 2006 dan 2007 yaitu Siti, Abas, Siha, Lupih, Deni,
Irvan in the gank, Ipul, Iwan, Muklas, Ones, Fikri, Beni, Ipank, Nadya,
Putri kalian semua adalah teman-teman yang memberi nuansa hidup
selama di kelas. Ka Rifat, Ka Rahmat, Ka Dedy, Ka Rina, Ka Hadi, Ka
Rio, Ka Amin yang selalu memberikan input dan output selama kuliah.
Eko Indrayadi, Lina Sumaya, Mutia, Jula dan yang tak bisa penulis
sebutkan satu persatu dukungan, serta canda dan tawanya kepada penulis
selama ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan yang perlu
disempurnakan. Untuk itu kritik serta saran yang membangun sangat penulis
harapkan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis serta
pembaca.
Jakarta, 8 Desember 2011
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR ISTILAH ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Masalah ... 7
D. Metodologi Penelitian ... 8
E. Sistematika Penelitian ... 9
BAB II TEORI KEPEMIMPINAN A. Pengertian Kepemimpinan ... 13
B. Teori dan Gaya Kepemimpinan ... 17
BAB III SEJARAH PARTAI GOLKAR DAN PROFIL AKBAR
TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI
ix
A. Sejarah Partai Golkar ... 30
1. Partai Golkar sebelum Reformasi ... 30
2. Partai Golkar setelah Reformasi ... 33
B. Profil Akbar Tandjung ... 36
1. Masa Kecil dan Remaja Akbar Tandjung ... 36
2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Akbar Tandjung ... 37
3. Karir Politik Akbar Tandjung di Partai Golkar ... 38
C. Profil Jusuf Kalla ... 39
1. Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla ... 39
2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Jusuf Kalla ... 40
3. Karir Politik Jusuf Kalla di Partai Golkar ... 42
BAB IV ANALISIS KOMPARATIF KEPEMIMPINAN AKBAR TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI GOLKAR A. Kepemimpinan Politik Akbar Tandjung ... 44
1. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Paternalistik ... 44
2. Akbar Tandjung sang Penyelamat Partai Golkar ... 48
3. Kiat-Kiat Akbar Tandjung dalam Memimpin Partai Golkar .... 50
B. Kepemimpinan Politik Jusuf Kalla ... 53
x
2. Jusuf Kalla Sosok Progresif ... 59
3. Kiat-kiat Jusuf Kalla dalam Memimpin Partai Golkar ... 61
C. Pengaruh Kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla ... 62
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 64
B. Saran dan Kritik ... 66
xi
Birokrasi Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah
karena telah berpegang kepada hirarki dan jenjang jabatan.
Demokratis Bersifat demokratis: gagasan atau pandangan hidup yang
mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang
sama bagi semua warga negara.
Eksekutif Kekuasaan yang menjalankan Undang-undang.
Interpretasi Pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoritis terhadap sesuatu.
Kharismatik Keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar
biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan
pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya.
Konstelasi keadaan, tatanan.
Konstitusi Segala ketentuan dan aturan tentang ketatanegaraan (Undang-undang
Dasar, dan sebagainya).
Konvensi Konferensi tokoh masyarakat atau partai politik dengan tujuan
khusus (memilih calon untuk pemilihan anggota DPR, dan
sebagainya).
Legislatif Kekuasaan yang membuat Undang-undang.
Moderat Berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah.
Orde Baru Sistem (pemerintahan dan sebagainya) yang dimulai sejak
diangkatnya Soeharto menjadi Presiden RI pada tahun 1965 sampai
xii
(orang dan sebagainya) di perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan
tertentu.
Orientasi Peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dan sebagainya)
yang tepat dan benar
Otoritas Kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga di masyarakat
yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya.
Reformasi Perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau
agama) di suatu masyarakat atau negara.
Responsif Bersifat merespon, menanggapi.
1
A. Latar Belakang Masalah
Dalam beberapa kali pentas pemilihan umum secara demokratis sejak
1999, Partai Golkar menjadi salah satu partai yang sangat diperhitungkan. Hal
ini, khususnya bisa dilihat dari fakta bahwa Partai Golkar selalu masuk tiga
besar pada setiap proses pemilihan umum. Prestasi tersebut dicapai melalui
perjuangan dan strategi-strategi para elit partai untuk tetap menjadikan
sebagai partai besar sekaligus partai yang dominan.
Banyak pengamat memandang bahwa, kesuksesan Partai Golkar dalam
mempertahankan posisinya sebagai partai yang dominan, tidak hanya
ditopang oleh kecanggihan strategi-taktik, tapi juga ditopang oleh
kepemimpinan partai yang efektif, efisien dan kuat. Setidaknya jika dilihat
dari segi lainnya, partai ini dalam menguasai pemerintahan. Banyaknya elit
Partai Golkar yang menempati posisi penting yang berada di pemerintahan,
menjadi bukti nyata pernyataan tersebut. Kekuatan organisasi Golkar dan
kecanggihan elit partai penguasa dibuktikan dengan fakta bahwa Partai
Golkar telah dan pernah menjadi the rulling party.
Skripsi ini bermaksud menjelaskan tentang taktik dan strategi Partai
Golkar dalam upaya mempertahankan dirinya dalam pemilu pasca 1998.
partai. Dengan memfokuskan diri pada profil kepemimpinan partai pada
periode Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla.
Pasca lengsernya Orde Baru yang di bawah rezim Soeharto pada tahun
1998, Golkar menghadapi tekanan-tekanan politik yang sangat keras dari
berbagai kelompok masyarakat. Bahkan, ketika roda reformasi bergulir, isu
dan tekanan terhadap pembubaran Partai Golkar begitu kuat karena kaum
reformis memasukkan Partai Golkar dalam satu pilar dengan Soeharto dan
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).1
Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang menuntut Partai
Golkar dibubarkan. Partai Golkar dianggap bertanggung jawab terhadap
carut-marutnya kondisi bangsa Indonesia, terutama kondisi ekonomi. Selain
itu, Partai Golkar juga menjadi mesin politik Orde Baru, sehingga hampir di
semua sektor pemerintahan dikuasai oleh para petinggi Golkar. Tuntutan agar
Partai Golkar dibubarkan ditandai dengan maraknya aksi dan pembakaran
gedung-gedung Golkar, menjadikan Partai Golkar berada di ujung tanduk.
Di tengah situasi banyaknya elemen masyarakat dan mahasiswa yang
menuntut Partai Golkar dibubarkan, Partai Golkar dituntut bekerja ekstra
keras dari kader-kadernya,2 terlebih lagi para tokoh sentralnya, agar Golkar
tetap bertahan dan jangan sampai dibubarkan, serta tetap menjadi partai besar
serta memiliki kader yang solid.3 Di titik yang paling kritis antara dibubarkan
atau tidak, muncullah tokoh Golkar, yaitu Akbar Tandjung dengan membawa
1
Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur: Esai Kearifan Pemimpin, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2008), h. 65-66.
2
Denny J.A, Jalan Panjang Reformasi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006), h. 226. 3
jargon “Golkar Baru”. Sehingga Partai Golkar bisa diselamatkan oleh Akbar
Tandjung.4
Di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung dengan idiom “Golkar
Baru“ akhirnya Partai Golkar bisa dibawa keluar dari kemelut. Sebagai
langkah politik awal, Akbar Tandjung menjadikan Partai Golkar lebih
demokratis dan terbuka dengan dibuktikan pada penjaringan capres-wapres di
internal Partai Golkar pada pemilu 2004. Partai Golkar membuat konvensi
internal partai. Akbar Tandjung mampu mencitrakan Partai Golkar sebagai
partai baru yang tidak mempunyai relasi politik dengan Orde Baru.
Selain tetap bertahan di panggung politik Indonesia, Partai Golkar juga
bisa diterima oleh masyarakat. Hal ini, membuka kran demokratisasi di
internal Partai Golkar. Akbar Tandjung selaku ketua umum, berupaya keras
untuk menanamkan motivasi kepada para pengurus dan kader-kader partai
agar tidak patah semangat dalam menghadapi berbagai tekanan politik.5
Bahkan Akbar Tandjung sering berkunjung ke daerah-daerah dalam rangka
konsolidasi Partai Golkar.
Banyak pengamat politik yang memprediksi di bawah kepemimpinan
Akbar Tandjung, Partai Golkar tidak akan mampu bertahan hidup (survive).6
Hal ini berkaitan dengan anggapan masyarakat, bahwa Partai Golkar
merupakan kekuatan politik pendukung utama rezim Orde Baru. Meskipun
kalah pada pemilu 1999, dengan kepiawaian Akbar Tandjung, Partai Golkar
4
Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur, h. 66.
5
Sukardi Rinakit, Tuhan Tidak Tidur, h. 121. 6
mampu dengan cepat berintrospeksi dan berkonsolidasi yang akhirnya
memenangkan kembali pemilihan umum 2004.
Pasca kepemimpinan Akbar Tandjung di Partai Golkar selama satu
periode 1999-2004, nahkoda Partai Golkar digantikan oleh Jusuf Kalla pada
Munas VII melalui kongres Golkar di Bali 28-30 Nopember 2004.7 Gaya
kepemimpinan Jusuf Kalla tentu sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan
Akbar Tandjung. Akbar adalah seorang politisi tulen, sedangkan Jusuf Kalla
adalah pengusaha. Keluarganya adalah pengusaha yang tumbuh dari bawah
dan hidup dengan penuh kesulitan. Darah dan adat Bugis sangat kuat melekat
dalam diri Jusuf Kalla. Dalam pergaulan dikenal hangat, berbicara terbuka
dan tidak jarang sebagaimana kebiasaan orang Sulawesi Selatan, eksplosif.
Dalam kepemimpinan, Jusuf Kalla lebih mengutamakan hal-hal yang
sifatnya teknis, karena latar belakang yang dimilikinya adalah pengusaha.
Namun, sebagai salah satu syarat untuk menjadi pemimpin, kemampuan yang
lebih dibutuhkan adalah kemampuan untuk mensinergikan
kekekuatan-kekuatan di bawah kepemimpinannya itu supaya dapat melangkah seirama
dan sejalan. Setiap kali beliau ditanya mengenai sesuatu, beliau dengan jelas
menjawab dan mengatakan tentang penyelesaiannya yang begitu gamblang,
sampai masuk ke dalam level teknis.
Gaya kepemimpinan Jusuf Kalla yang cenderung pragmatis bukan
berarti tanpa resiko. Bahkan pendahulunya Akbar Tandjung sempat
mengkritik gaya kepemimpinan Jusuf Kalla di Partai Golkar yang
7 Slamet Hariyanto, “ Pemerintah Dicurigai Intervensi Kongres Parpol,” artikel diakses
disampaikan, ketika menjawab ujian doktoral di Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada.8 Kritik Akbar Tandjung terhadap gaya
kepemimpinan Jusuf Kalla adalah sebagai berikut:
“Kepemimpinan Jusuf Kalla yang hanya berorientasi pada kekuasaan jangka pendek tanpa memperhatikan tiga hal penting dalam memimpin partai yaitu memperkuat kelembagaan partai, intensitas konsolidasi partai dan rekrutmen untuk mencari kader-kader terbaik.
“Itulah bedanya kepemimpinan partai di bawah saudagar dengan kepemimpinan partai oleh politisi pejuang. Saya ini politisi pejuang yang tentunya mempunyai cita-cita untuk membesarkan partai,” kata Akbar Tandjung sambil menambahkan saudagar yang memimpin partai juga cenderung berpikir singkat menganggap implikasi dari
langkah yang diambil belakangan”.9
Seorang pemimpin mempunyai gaya kepemimpinannya
masing-masing. Begitu pula dengan gaya Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla, gaya
kepemimpinan melekat pada diri seseorang yang dibentuk dari proses panjang
berdasarkan lingkungan tempat ia lahir dan dibesarkan, latar belakang
keluarga, pendidikan, lingkungan teman, lingkungan kerja, nilai-nilai yang
diemban, serta pengaruh-pengaruh lainnya.10
Pemimpin merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah
organisasi. Pemimpin atau kepemimpinan merupakan kekuatan penggerak
organisasi.11 Arah dan tujuan organisasi, amat sangat dipengaruhi oleh gaya
8
Dalam sidang terbuka yang dihadiri tiga Menteri Kabinet, yaitu Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Perekonomian Boediono, Menteri Hukum dan Ham Andi Matalatta. Selain dihadiri oleh Menteri, juga dihadiri oleh Ketua Umum yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua BPK Anwar Nasution, dan Sekjen PDIP Pramono Anung.
9“Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla,”
Sinar harapan 1 September 2007, h. 2.
10 Mar’ie Muhammad, “
Gaya Kepemimpinan SBY-JK” Majalah Bisnis Indonesia, 11 Oktober 2004, h. 17.
11
kepemimpinan. Pemimpin memegang kendali yang cukup signifikan dalam
setiap kebijakan yang hendak dikeluarkan tentang suatu permasalahan.
Dari latar belakang di atas, penulis mempunyai ketertarikan untuk
melakukan penelitian dan pengkajian terhadap gaya kepemimpinan dua tokoh
tersebut dalam membawa Partai Golkar, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf
Kalla. Karena pada saat itu, di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung dan
Jusuf Kalla Partai Golkar merupakan partai yang sangat berpengaruh dalam
dinamika politik nasional.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, agar skripsi ini lebih terarah, maka
penulis dalam pembahasannya akan membatasi pada seputar kepemimpinan
Partai Golkar pasca Orde Baru dalam kepemimpinan Akbar Tandjung
(1999-2004) dan Jusuf Kalla (2004-2009).
Adapun pertanyaan yang dapat dirumuskan dan menjadi fokus
permasalahan pada skripsi ini adalah:
1. Apa perbedaan dan persamaan pola kepemimpinan Akbar Tandjung
dan Jusuf Kalla dalam memimpin Partai Golkar pasca Orde Baru?
2. Bagaimana pengaruh pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sebagaimana layaknya penulisan karya tulis, tentu saja skripsi ini juga
memiliki tujuan-tujuan yang nyata dalam upaya dan proses penulisannya.
Adapun yang dituju dalam penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang kepemimpinan Akbar
Tandjung dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.
2. Untuk mengetahui pola kepemimpinan partai yang cocok dalam
konteks kepartaian dalam masa demokratisasi di Indonesia.
3. Untuk memenuhi persyaratan akademik bagi penulis dalam
menyelesaikan studi tingkat Sarjana Program Strata 1 (S1) di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Politik dengan gelar Sarjana Sosial
(S. Sos).
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang politik, khususnya
mengenai partai politik dalam hal ini kepemimpinan Akbar Tandjung
dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.
2. Sebagai tambahan wacana politik untuk turut serta membangun
perpolitikan nasional sebagai warga negara yang memiliki kesadaran
politik.
3. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan diterapkan
untuk menjawab permasalahan serupa yang tumbuh dan berkembang
D. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif,12
yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu
penulis menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang
diteliti, serta mengkaji dan menelaah lebih jauh tentang pola
kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar
pasca Orde Baru.
2. Teknik pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini adalah pertama,
dokumentasi yang meliputi bahan kajian dalam bentuk karya tulis baik
dalam bentuk buku, artikel, jurnal, makalah seminar, buku,
dokumen-dokumen Partai Golkar maupun data yang berasal dari media masa.
Kedua, wawancara yaitu proses tanya jawab dalam penelitian yang
berlangsung,13 di mana dua atau lebih bertatap muka, menggali secara
langsung informasi atau keterangan dari beberapa narasumber yang
memahami pola-pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla
dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.
3. Teknik analisis data
Sedangkan tekhnik analisis merupakan salah satu tekhnik dalam
penelitian dengan melakukan analisa-analisa dari data-data yang didapat.
Analisa ini bertujuan untuk menjelaskan sedetail mungkin dengan hal-hal
12
Syamsir Salam dan Jaenal Aripin, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 30.
13
yang berkaitan tentang pola kepemimpinan Partai Golkar pasca Orde
Baru.14 Maka analisis yang akan digunakan adalah deskriptif analisis,
yaitu upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, menggali
data dan informasi mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi
satuan yang dapat dikelola,15 dengan tujuan mencari gambaran yang
sistematis, faktual, aktual mengenai fakta-fakta dan kegiatan-kegiatan
yang terkait dengan pola kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla
dalam Partai Golkar pasca Orde Baru.
4. Teknik penulisan
Adapun pedoman penulisan skripsi ini merujuk pada buku
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang
diterbitkan oleh CeQDA (Center For Quality Development and
Anssurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2007.
E. Sistematika Penulisan
Dalam rangka untuk mempermudah penulisan laporan penelitian ini,
penulis membagi pembahasan ke dalam lima bab. Masing-masing bab terdiri
dari sub-bab sebagaimana berikut:
Bab I adalah Pendahuluan. Dalam bab ini dibahas tentang latar
belakang masalah, mengapa penulis memutuskan untuk membahas tentang
gaya kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Agar pembahasan
tidak meluas, penulis perlu melakukan batasan masalah terhadap tema
14
Lisa Horrison, Metodologi Penelitian Penelitian, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 86. 15
penelitian yang dilanjutkan dengan perumusan masalah. Lalu diikuti oleh
tujuan dan manfaat kegunaan. Kemudian dibahas tentang metodologi yang
digunakan dalam penulisan hasil penelitian ini. Sedangkan yang terakhir
adalah sistematika penulisan.
Bab II membahas tentang Teori Kepemimpinan. Pada bab ini penulis
menguraikan tentang pengertian kepemimpinan, teori-teori yang terkait
dengan kepemimpinan, serta gaya-gaya yang ada dalam teori kepemimpinan.
Bab III adalah Sejarah Partai Gokar dan Profil Akbar Tandjung dan
Yusuf Kalla. Dalam bab ini diuraikan tentang sejarah Partai Golkar, Partai
Golkar sebelum reformasi, Partai Golkar setelah reformasi. Dilanjutkan
dengan pembahasan mengenai profil Akbar Tandjung, yang didalamnya
dibahas tentang masa kecil dan remaja, latar belakang pendidikan dan
pengalaman organisasi, serta karir politik di Partai Golkar. Pembahasan
berikutnya berkenaan dengan profil Jusuf Kalla, yang membahas tentang
masa kecil dan remaja, latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi,
serta karir politik di Partai Golkar.
Bab IV merupakan analisis hasil penelitian. Dalam bab ini penulis
membahas tentang kepemimpinan politik Akbar Tandjung, yang di dalamnya
diuraikan tentang gaya kepemimpinan demokratis dan paternalistik, Akbar
Tandjung sang penyelemat Partai Golkar, dan kiat-kiat Akbar Tandjung
dalam memimpin Partai Golkar. Dilanjutkan dengan pembahasnya mengenai
kepemimpinan politik Jusuf Kalla. Dalam sub bab ini, akan dianalisis tentang
gaya kepemimpinan yang demokratis dan egaliter, Jusuf Kalla sosok
progresif, kiat-kiat Jusuf Kalla dalam memimpin Partai Golkar. Berikutnya
Bab V merupakan Penutup. Dalam bab ini akan dibuat kesimpulan
dari hasil pembahasan dan analisis temuan penelitian disertai dengan saran
12
LANDASAN TEORI
Kepemimpinan memiliki peran penting dalam membawa eksistensi sebuah
organisasi, sehingga boleh dikatakan bahwa 50% kesuksesan organisasi
ditentukan oleh pemimpin. Oleh sebab itu, studi terhadap kepemimpinan menjadi
fokus tersendiri pula. Pemimpin pada awalnya lahir secara alami, yaitu melalui
seleksi alam (the survival of the fittest). Siapa yang lolos dan mampu bertahan
dalam seleksi tersebut, maka ia akan bertahan hidup dan menjadi pilihan-pilihan
untuk menjadi pemimpin. Namun, pada saat ini pemimpin sudah banyak
dilahirkan melalui latihan. Terlepas dari itu semua, konsep-konsep maupun
paradigma kepemimpinan terus berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan
zaman.1
Seorang pemimpin haruslah memiliki visi dan misi yang jelas sebagai
sebuah pijakan dalam melangkah. Untuk itu, gagasan dan visi seorang pemimpin
menentukan arah bagi perjalanan organisasi yang dipimpinnya. Dengan visi, maka
tujuan, orientasi dan pengembangan organisasi dapat ditetapkan. Sehingga
menjadi terpola dan sistematis.
Herman Musakabe memberikan beberapa substansi pokok yang perlu ada
dalam sebuah visi sebagai berikut: pertama, visi adalah arah ke mana organisasi
dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Kedua, visi
1
adalah pandangan ke masa depan yang mampu memberi inspirasi kepada para
pemimpin dan memberi motivasi kepada orang-orang yang dipimpin untuk
mencapai tujuan organisasi atau tujuan yang ditentukan oleh pemimpin. Ketiga,
visi harus realistis, yakni mampu menjembatani masa kini dengan masa depan
lebih baik yang dapat dicapai sesuai dengan kondisi sosial (ekonomi, politik, dan
budaya) masyarakat yang berlaku. Keempat, visi mengandung harapan-harapan
bagi orang-orang yang dipimpin. Visi adalah impian seorang pemimpin yang
harus diubah menjadi kenyataan.2
Kepemimpinan masa depan harus mampu melakukan otokritik dan
merespon berbagai persoalan masyarakat. Untuk itu, kekritisan seorang pemimpin
haruslah menjadi bagian penting dalam menjalankan roda kepemimpinan.
Kepemimpinan kritis akan melihat segala sesuatu itu secara obyektif terhadap
organisasinya sendiri maupun terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. Selain
itu, kepemimpinan kritis menempatkan keadilan dalam membuat kebijakan.
Dibawah ini, penulis hendak mengelaborasi sedikit tentang beberapa teori
kepemimpinan sebagai alat analisa dalam pembahasan penelitian untuk tugas
akhir.
A. Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan tema yang selalu menarik. Ia selalu
memiliki corak dan warna tersendiri sesuai dengan tuntutan kebutuhan situasi
dan kondisi masanya. Kepemimpinan merupakan fenomena kemasyarakatan
2
Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati di Tengah Krisis dan Reformasi,
dan kebangsaan, yang berpengaruh terhadap perkembangan proses kenegaraan.
Hal ini dikarenakan, kepemimpinan menjadi salah satu fungsi yang dapat
mendorong terwujudnya cita-cita, tujuan, dan aspirasi nasional.3
Terminologi kepemimpinan muncul sebagai konsekuensi logis dari
perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki
ketergantungan sosial, begitu tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya.
Kepemimpinan merupakan gejala sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Model Kepemimpinan selalu melahirkan berbagai varian. Terbukti
kepemimpinan bangsa ini selalu berbeda antara satu dengan masa yang lain.4
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan diartikan
sebagai perihal pemimpin; cara memimpin. Sedangkan memimpin itu sendiri
memiliki makna: 1. Mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dan
sebagainya); 2. Memenangkan paling banyak; 3. Memegang tangan seseorang
sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya; 4.
Memandu; membimbing; 5. Melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya)
supaya dapat mengerjakan sendiri.5
Kepemimpinan yang berkualitas merupakan kunci utama keberhasilan.
Kualitas kepemimpinan yang diharapkan tidak hanya meliputi kualitas fisik,
intelektual semata, melainkan juga kualitas ekonomi. Berbagai pengalaman
hidup dan perubahan memungkinkan wacana kepemimpinan selalu hadir dalam
3
Muladi dan Adi Sujatno, Traktat Etis Kepemimpinan Nasional, (Jakarta: RM Books, 2008), h. ix.
4
Muladi dan Sujatno, Traktat Etis Kepemimpinan Nasional, h. x. 5
bentuknya yang sangat beragam. Mulai dari model kepemimpinan kharismatik,
tradisional, paternalistik, hingga model kepemimpinan birokrasi.
Pengertian tentang kepemimpinan banyak dikemukakan oleh para ahli,
namun pada umumnya hanya terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang
memandang kepemimpinan sebagai “ilmu” dan kepemimpinan sebagai “seni”.
1. Kepemimpinan sebagai Ilmu
Kepemimpinan sebagai ilmu, yang menitikberatkan kepemimpinan
pada proses belajar dan latihan. Kepemimpinan ini akan berlangsung efektif,
bilamana berada di tangan orang-orang berpengalaman atau terlatih dalam
memimpin. Dengan belajar dari pengalaman, seseorang akan menjadi
terampil dalam melaksanakan kepemimpinan.6
)
Kepemimpinan adalah suatu ilmu terencana yang dinamis melalui
suatu periode waktu dalam situasi yang di dalamnya pemimpin
menggunakan perilaku atau gaya kepemimpinan yang khusus dan sarana
sertaprasaranakepemimpinanuntukmemimpindengan menggerakkan atau
mempengaruhi bawahan, guna melaksanakan tugas pekerjaan ke arah
(dalamupaya pencapaian) tujuan yang menguntungkan bagi pemimpindan
bawahan,sertalingkungansosialdimanamerekaada atau hidup.7
2. Kepemimpinan sebagai Seni)
Kepemimpinan sebagai seni sangat tergantung dan dipengaruhi oleh
faktor bakat. Tidak semua orang mempunyai bakat kepemimpinan yang
6
Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati: Di Tengah Krisis dan Reformasi, (Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004), h. 8.
7
sama, setiap orang mempunyai bakat kepemimpinan yang berbeda secara
kuantitas dan kualitas.8 Orang yang melaksanakan kepemimpinan secara
efektif, berarti orang tersebut memiliki bakat kepemimpinan yang
kualitasnya baik.
Kepemimpinan ialah seni mempengaruhi dan menggerakkan orang
untuk bekerja secara terkoordinasi, sehingga setiap orang tergerak
mengerjakan pekerjaannya serta menyelesaikan tugasnya dengan baik
berdasarkan program yang telah dicanangkan dalam kinerja keorganisasian
secaramenyeluruh.
Kepemimpinan ialah seni merangkum dan menyampaikan perintah,
yang olehnya orang yang dipimpin tergerak dan bergerak melaksanakan
tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Kepemimpinan ialah seni
membuat peta keinginan tentang masa depan organisasi, dan kemampuan
menerjemahkanpeta tersebut menjadisuatukerangkakeinginanyangnyata,
sertakekuatanatau kuasamenggunakansegalasumberuntuk melaksanakan
petatersebutmenjadiprodukyangberdaya-guna.
Kepemimpinan ialah seni mendaya-gunakan sumber-sumber daya:
manusia, alam, teknologi, infrastruktur, dan sebagainya dalam upaya
mempertahankan optimalisasi kerja yang tinggi sehingga menciptakan hasil
yang bernilai lebih yang semakin besar yang membawa sukses kerja dalam
organisasi.9
8
H. Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993), h. 40.
9
Dari berbagai definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan adalah cara atau jalan untuk mengarahkan individu atau
kelompok ke arah yang lebih baik, sesuai dengan kesepakatan dan tujuan
yang diinginkan.
B.Teori dan Gaya Kepemimpinan 1. Teori Kepemimpinan
Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi
kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory).
Dikemukakan, setiap anggota masyarakat menempati status posisi tertentu.
Demikian juga dengan individu, diharapkan memainkan peran tertentu.
Dengan demikian, kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek
dalam diferensiasi peran. Ini berarti, bahwa kepemimpinan dapat
dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota
kelompoknya.
Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia super
lebih daripada yang lain, kuat, dan gigih. Para pemimpin juga merupakan
manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi
merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai.
Berangkat dari pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan
suatu organisasi. Karena seorang pemimpin harus mempunyai visi yang
berawal dari mimpi, untuk kemudian mewujudkannya menjadi kenyataan.10
10
Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja
organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin,
suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah.11
Dalam sejarah peradaban manusia, gerak hidup dan dinamika
organisasi tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara
organisasi. Bahkan, dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari
sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. Orang-orang ini
adalah perintis, pelopor, dan ahli organisasi. Sekelompok orang istimewa
inilah yang disebut pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan seorang
merupakan kunci dari manajemen. Dalam skripsi ini, penulis memberikan
sedikit gambaran tentang teori-teori kepemimpinan, diantaranya:
1. Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)
Studi mengenai sifat atau ciri untuk mengidentifikasi karakteristik
fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai
pemimpin alami. Studi tentang sifat atau ciri telah dilakukan, namun sifat
atau ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten
dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat
atau ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat atau
ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku
atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat atau ciri
dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin. 12
11
Maryono Abdul Ghofur, Dasar-dasar Manajemen Organisasi, (Surabaya: Sinar Emas, 2007), h. 12-17.
12
2. Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Selama tiga dekade, tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku
pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada aspek perilaku. Studi
mengenai perilaku kepemimpinan, menggunakan kuesioner untuk
mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan hubungan. Beberapa
studi telah dilakukan untuk melihat, bagaimana perilaku tersebut
dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti
kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan
eksperimen laboratorium atau lapangan, untuk menyelidiki bagaimana
perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika
kita cermati, penemuan dari teori perilaku ini, bahwa para pemimpin
yang penuh perhatian mempunyai banyak bawahan yang puas. 13
3. Teori Kontingensi (Contigensy Theory)
Teori kontingensi berasumsi bahwa, berbagai pola perilaku
pemimpin atau ciri dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas
kepemimpinan. Pada umumnya, pemimpin memotivasi para pengikut
dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi dari
berbagai upaya. Bila para pengikut percaya, hasil dapat diperoleh dengan
usaha yang serius, akan mendapatkan hasil yang baik. Aspek-aspek
situasi seperti sifat tegas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut
13
menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk
memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut. 14
2. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan mengandung pengertian sebagai suatu
perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut
kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya,
membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.15 Dan gaya kepemimpinan
merupakan hasil interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang
dipimpinnya di dalam kondisi yang mempengaruhinya.16
Gaya kepemimpinan adalah pendekatan yang dipakai pemimpin
untuk memimpin, dalam arti mempengaruhi dan menggerakkan yang
dipimpin untuk bekerja secara aktif guna mencapai tujuan organisasi. Gaya
kepemimpinan apa pun yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. Yang
menentukan, seberapa besar pengaruh pemimpin terhadap pengikutnya.17
Adapun gaya-gaya kepemimpinan, diantaranya:18
1. Gaya Otoriter
Kepemimpinan tipe ini, menempatkan kekuasaan pada seseorang
atau sekelompok kecil orang, yang bertindak sebagai penguasa.19 Bahwa,
14
Subanto Zaini, Leadership in Action, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011), h. 66-68.
15
Davis dan Newstrom, Leadership And Manajemen, (Havard Univesity press, 1995), h. 61-19.
16
H. Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993), h. 139.
17
Herman Musakabe, Mencari Kepemimpinan Sejati: Di Tengah Krisis Kepercayaan, (Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004), h. 10.
18
Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 190.
19
gaya otoriter mengandung hal negatif. Gaya otoriter itu menindas,
mempengaruhi pengikut dengan cara memaksa, dan memaksa semua
orang bekerja tanpa kompromi. Biasanya pemimpin otoriter selalu
mengabaikan bawahannya dalam proses pengambilan keputusan.20
Pemimpin yang otoriter selalu mengatakan; “kantor saya” atau
“pegawai saya”, ungkapan itu menyatakan seluruh organisasi adalah
milik pemimpin. Anggota organisasi menjadi manusia penurut atau
pengekor. Sehingga, organisasi menjadi statis, karena pemimpin tidak
menyukai perubahan.
2. Gaya Demokratis
Kepemimpinan tipe ini, menempatkan faktor manusia sebagai
faktor utama dan terpenting dalam sebuah organisasi. Bahwa
kepemimpinan yang ideal yang demokratis, karena mengandung unsur
positif. Dalam kepemimpinan ini, setiap individu sebagai manusia yang
diakui dan dihargai eksistensinya dalam mengembangkan organisasi.
Kepemimpinan demokratis selalu bersifat aktif, dinamis dan
terarah. Aktif dalam menggerakkan dan memotivasi. Dinamis dalam
mengembangkan dan memajukan organisasi. Terarah pada tujuan
bersama yang jelas, melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang relevan
secara efektif.21
20
Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Kepemimpinan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 25.
21
Menurut Siagian, sebagaimana yang dikutip oleh Alfan Alfian,
gaya demokratis ini beberapa ciri, yaitu:
a. Memiliki pandangan, betapapun besarnya sumber daya dan
dana yang tersedia bagi organisasi, kesemuanya itu pada
dirinya tidak berarti apa-apa kecuali digunakan oleh manusia
dalam organisasi demi pencapaian tujuan dan berbagai sasaran
organisasi.
b. Dalam organisasi hendaknya tidak mentolelir semua kegiatan
dilakukan sendiri oleh pemimpin dan hendaknya
mengusahakan adanya pendelegasian wewenang yang praktis
dan realistis tanpa kehilangan kendali organisasional.
c. Para bawahan dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib
sendiri melalui peran sertanya dalam proses pengambilan
keputusan.
d. Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan
sebagai makhluk politik, ekonomi, sosial dan sebagai individu
dengan karakteristik dan jati diri yang khas yang mempunyai
kebutuhan yang kompleks.
e. Usaha memperoleh pengakuan yang tulus dari para bawahan
atas kepemimpinan orang yang bersangkutan didasarkan
kepada pembuktian memimpin organisasi dengan efektif.22
22
3. Gaya Paternalistik
Paternalistik (paternalism) adalah suatu paham yang
mengagungkan hierarki keluarga. Sehingga, orangtua harus dihormati
dan ditaati oleh anaknya dan orangtua memberikan tanggung jawab
untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Paternalisme sangat
lekat dalam penggunaan bahasa, seperti bahasa Jawa, di mana harus
disesuaikan dengan usia, dan pangkat seseorang.23
4. Gaya Egaliter
Egaliter berarti sederajat. Pemimpin egaliter tidak terlalu “jaim”
dan pemimpin ini tidak takut bahwa popularitasnya akan turun. Karena
pemimpin sepeti ini, selalu merakyat dan bisa berkomunikasi dengan
rakyat secara apa adanya.
Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat
diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini:
1. Teori Genetis (Keturunan) - Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader
are born and not made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya
dibuat). Para penganut aliran teori ini, bahwa seorang pemimpin akan
menjadi pemimpin, karena ia telah dilahirkan dengan bakat
kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang
ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin.24
Dalam ranah demokrasi, teori ini kurang mendapatkan apresiasi. Hal ini
karena dengan mengandalkan keturunan, seseorang yang bukan dari
23
Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, h. 207. 24
keturunan pemimpin atau tokoh politik misalnya, akan sangat sulit untuk
mendapatkan posisi sebagai pemimpin. Namun kenyataannya, di
Indonesia masih terdapat sebagian masyarakat yang mempercayai
tentang genetika (keturunan) yang bisa diperoleh seseorang dari orang
tuanya. Sehingga hal ini memunculkan apa yang disebut dengan politik
dinasti, yaitu kepemimpinan dalam partai politik atau organisasi politik
yang terus-menerus dipegang oleh satu garis keturunan (keluarga) saja.
2. Teori Sosial - Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa pemimpin itu dibuat
atau dididik bukannya kodrati. Jadi teori ini merupakan kebalikan inti
teori genetika. Para penganut teori ini berpendapat, bahwa setiap orang
bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan, pengalaman dan
memiliki kesempatan yang cukup untuk membuktikan kemampuannya.25
3. Teori Ekologis - Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung
kebenaran. Maka, muncullah aliran teori ketiga. Teori ekologis ini, bahwa
seseorang akan berhasil menjadi pemimpin yang baik, apabila ia telah memiliki
bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk
dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi positif dari kedua
teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling
mendekati kebenaran.
Dari ketiga aliran teori tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Evolusi teori aliran kepemimpinan tentu saja
sangat bergantung kepada individu yang bersangkutan. Menurut hemat penulis,
25
meskipun seseorang memiliki bakat dan ditunjang dengan lingkungan yang
memadai, tanpa ada komitmen yang kuat yang berasal dari individu yang
bersangkutan, maka sangat sulit mengharapkan lahirnya seorang pemimpin.
3. Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang
beberapa tipe kepemimpinan. Sarlito memberikan uraian yang cukup jelas
mengenai tipologi kepemimpinan yang berkembang dari ketiga gaya
kepemimpinan di atas. Tipologi tersebut di antaranya adalah sebagian
berikut:26
a. Tipe Otokratis.Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang
memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: menganggap organisasi
sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan
organisasi; menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; tidak mau
menerima kritik, saran dan pendapat; terlalu tergantung kepada
kekuasaan formalnya; dalam tindakan penggerakkannya sering
mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan
bersifat menghukum.
b. Tipe Militeristis. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah
seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut: dalam
menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;
dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan
jabatannya; senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; menuntut
26
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; sukar menerima kritikan
dari bawahannya; menggemari upacara-upacara untuk berbagai
keadaan.
c. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai
pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai
berikut: menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
bersikap terlalu melindungi; jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan
kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan
daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.
d. Tipe Kharismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil
menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki
karisma. Pada umumnya, pemimpin ini mempunyai daya tarik dan
pengikut yang jumlahnya besar. Meskipun, para pengikutnya tidak
dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.
Hal ini disebabkan, kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab
seseorang menjadi pemimpin yang kharismatik. Maka sering dikatakan
bahwa pemimpin yang demikian, diberkahi dengan kekuatan ghaib
(supra natural powers).
Salah satu tokoh sosiologi politik yang membicarakan tentang
kepemimpinan kharismatik adalah Max Weber. Istilah kharisma akan
seseorang, yang karenanya dia terpisah dari orang biasa. Mutu seperti
itu, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengikut yang setia kepada
pemimpin yang memiliki kharisma dan komitmen terhadap
aturan-aturan yang ada atau moral yang dianutnya.27
Menurut Max Weber kepemimpinan yang diadopsi dari pengembangan
otoritas dalam masyarakat, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:28
1) Pemimpin dengan otoritas kharismatik memiliki kesadaran misi dan
panggilan yang terwujud dalam ide dan memanggil orang untuk ikut
serta dalam misinya.
2) Otoritas kharismatik dijalankan bersama pengikut setia. Mereka
dipilih karena kualitas kharismatik pribadi.
3) Kharisma itu bersifat “ekstra-legal”, mengabaikan struktur dan
aturan formal pemimpin kharismatik hanya mengenal inner
determination dan inner restraint.
4) Relasi dalam komunitas bersfiat personal. Karena pemimpin
muncul dalam situasi krisis, otoritas ini tidak stabil. Ia bisa berakhir
dan mengalami trans formasi ke arah otoritas tradisional/legal.
5) Kharisma pada dasarnya bersifat anti ekonomi, walaupun komunitas
kharismatik memerlukan uang.
27
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, Penterjemah Robert M. Z. Lawang, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), Jilid 1, h. 229.
28Ayup Rano, “Kepemimpinan Kharismatik: Tinjauan Etis
-Teologis atas Kepemimpinan
Soekarno”, artikel diakses dari
http://books.google.co.id/books?id=-xkAxs7KPNwC&pg=PA51&lpg=PA51&dq=kepemimpinan+max+weber&source=bl&ots=rNi9x
Sehingga Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dikatakan
sebagai kriteria untuk menjadi pemimpin kharisma. Pemimpin kharisma
didasarkan pada watak atau sifat pribadinya yang memberikan contoh
atau yang bersifat pahlawan.29
e. Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan, telah
membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratis yang paling tepat
untuk organisasi modern. Hal ini dikarenakan, tipe kepemimpinan ini
memiliki karakteristik sebagai berikut: dalam proses penggerakan
bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah
makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan
pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan
bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan
kerjasama dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan
yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang
kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan
yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu
berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan
berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.30
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin tidak hanya
dilahirkan, melainkan bisa juga diciptakan melalui berbagai pelatihan,
29
pengalaman hidup, serta cara-cara lain yang dimungkinkan untuk menciptakan
pemimpin-pemimpin andal. Selain itu, dalam kepemimpinan, baik dalam
lingkup organisasi, partai politik maupun perkumpulan-perkumpulan lainnya,
diperlukan kriteria-kriteria yang hendaknya dimiliki oleh seorang pemimpin.
Meskipun dalam ranah demokrasi setiap orang berhak untuk memimpin dan
dipimpin, namun dalam praktiknya, ada prasyarat yang harus dipenuhi bagi
30
SEJARAH PARTAI GOLKAR DAN PROFIL AKBAR TANDJUNG DAN JUSUF KALLA DALAM PARTAI GOKAR
Dalam bab ini penulis akan menguraikan secara ringkas tentang
sejarah Partai Golkar, disertai dengan profil 2 (dua) mantan ketua umum
Partai Golkar, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Sejarah Partai Golkar
penting untuk dibahas, meskipun sekilas, karena menurut penulis hal ini untuk
mendapatkan benang merah (link match) antara Partai Golkar itu sendiri
dengan beberapa pemimpinnya, yang dalam pembahasan ini difokuskan pada
dua orang, yaitu Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla.
Selain itu, karakter atau gaya kepemimpinan dua mantan ketua umum
Partai Golkar tersebut dapat dikatakan memberikan warna tersendiri bagi
Partai Golkar. Pengalaman masing-masing mantan ketua umum Partai Golkar
tersebut, sedikit banyak memberikan pengaruh dalam menahkodai Partai
Politik yang cukup diperthitungkan di tanah air.
A. Sejarah Partai Golkar
1. Partai Golkar sebelum Reformasi
Sejarah Golongan Karya (Golkar) sama tuanya dengan sejarah
Orde baru. Soeharto menjadi tokoh sentral di Golkar dalam membesarkan
dan menstabilkan dinamika politik di tubuh Golkar. Golkar menjadi salah
menjadi kendaraan politik Soeharto selama menjadi presiden. Bahkan,
Golkar menjadi partai nomor satu dan selalu unggul diantara partai-partai
lain. Selama kepemimpinan Soeharto nyaris tidak terdengar riak dalam
tubuh orsospol (organisasi sosial politik) berlambang beringin tersebut.
Selama Orde Baru, Partai Golkar berhasil membangun rezim politik yang
kuat.
Golkar berawal dari Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber
Golkar) yang dideklarasikan pada tanggal 20 Oktober 1964.1 Dalam
perkembangannya, Sekber Golkar berubah menjadi Golongan Karya yang
merupakan organisasi peserta pemilu, memang patut diacungkan jempol.
Hal ini dikarenakan, banyaknya organisasi yang bergabung dalam tubuh
Golkar, namun dinamika politik yang terjadi berjalan lancar tanpa ada
masalah. dan organisasi-organisasi itu dikelompokkan menjadi tujuh
Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu: Sentral Organisasi Sosialis
Karyawan Indonesia (Soksi), Kelompok Organisasi Serbaguna Gotong
Royong (Kosgoro), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR),
Kino Profesi, Kino Ormas Hankam, GAKARI, dan Kino Gerakan
Pembangunan.
Memasuki era Orde Baru seluruh sistem berubah, semua kekuasaan
berada dalam genggaman Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai
presiden. Selama berkuasa Soeharto menggunakan tiga pilar kekuatan,
yaitu ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) militer yang
1
sekarang menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), birokrasi dan Golkar,
ketiga hal itu, menjadi penyangga kekuasaannya.2 Di era Orde Baru,
Soeharto telah berhasil membangun kekuasaannya melalui peran Golkar
yang memiliki dukungan massa fanatik sangat besar, hingga partai ini
mampu meraih banyak dukungan pada setiap pemilu. Ada beberapa
interpretasi, menyangkut kemenangan Golkar dalam setiap Pemilu.
sebagian orang setuju, bahwa peranan ABRI dan birokrasi sangat
instrumental dalam kemenangan Golkar. Bahkan Ali Moertopo dalam
bukunya mengakui hal ini:
“Beberapa kalangan berpandangan bahwa kemenangan Golkar
terjadi karena beberapa faktor tersebut: tersedianya dana, dukungan pejabat, terutama dari ABRI, pembentukan Korpri di dalam berbagai kementrian, lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan, dan juga karena berbagai macam intimidasi. Semua ini
tentu saja memberikan sumbangan pada kemenangan Golkar…”3
Di Era Orde Baru, Golkar menjadi ujung tombak dalam
membangun visi Indonesia, dengan tahapan-tahapan yang jelas dan
terarah, baik melalui tahap Pelita (Pembangunan Lima Tahun), maupun
PJP (Pembangunan Jangka Panjang).4
Sebenarnya, Golkar diciptakan selama Orde Baru, karena tidak ada
satupun dari partai-partai politik yang ada, bisa mewakili kepentingan
2
Dawam Raharjo, Angkatan Bersenjata Sebagai Kekuatan Politik, (Jakarta: Prisma, ), h. 109-123.
3
Ali Moertopo, Strategi Politik Nasional, (Jakarta: CSIS, 1974), h. 82-83. 4
militer.5 Dan juga pada era Orde Baru, Golkar benar-benar dalam kontrol
Soeharto.
2. Partai Golkar sesudah Reformasi
Setelah Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden.
merupakan titik awal reformasi yang selama ini disuarakan oleh
Mahasiswa dan segenap rakyat Indonesia. Saat itulah, Golkar mengalami
berbagai hujatan, karena jatuhnya Soeharto adalah jatuhnya Golkar juga.
Dalam sentimen publik, Golkar dianggap sebagai penopang kekuasaan
Soeharto. “Terror” terhadap Golkar bukan saja datang dalam bentuk unjuk
rasa, namun terror yang bersifat fisik mereka dapatkan, seperti di Brebes
Jawa Tengah sekelompok masa bentrok dengan kader Golkar yang sedang
melakukan apel, di Tegal pembersihan terhadap simbol-simbol Golkar pun
dilakukan.
Anggapan bahwa era reformasi merupakan runtuhnya dominasi
Golkar ditandai dengan hilangnya dukungan formal dari birokrasi dan
ABRI dan hancurnya citra Orde Baru. Sebagaimana dipahami, opini yang
berkembang di masyarakat bahwa Golkar sering ditampilkan sebagai
partai yang penuh dengan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), alat
kekuasaan, pemain utama “yang bertanggung jawab” terhadap terjadinya
masalah yang dialami bangsa, sulit lenyap begitu saja.6
5
Leo Suryadinata, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik, (Jakarta: LP3ES, 1992), h. 139.
6
Pada saat itu, muncullah gerakan reformis yang membuat Golkar
menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Di awal reformasi, Partai
Golkar mengalami perubahan yang signifikan, perubahan ini lebih kepada
pengembangan organisasi, dan manajemen yang disesuaikan oleh
perubahan zaman. Meskipun pada akhirnya Golkar berubah menjadi
sebuah partai yang resmi pada tahun 1999, yaitu Partai Golongan Karya.
Hal ini terbukti, dalam pemilu 1999, Golkar menduduki posisi kedua
setelah PDIP, sehingga banyak kadernya yang menduduki kursi
pemerintahan di awal era reformasi.
Dalam perkembangannya, Golkar menjadi sebuah partai yang
mandiri, bergerak dalam sistem yang sudah mapan. Walaupun banyak
sekali tantangan yang dihadapi Golkar, tetapi Golkar menjadikan partai
politik yang solid, dalam menghadapi konflik, baik internal maupun
eksternal. Partai Golkar mampu bangkit dari keterpurukan rezim Orde
Baru.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Heriyandi Roni,7
sebagaimana yang dikutip oleh Akbar Tandjung, menyebutkan bahwa
perubahan politik 1998 berimplikasi positif terhadap Golkar terutama
dalam bidang pengambilan keputusan. Perubahan signifikan dimulai pada
Munaslub 1998, di mana pemilihan ketua umum dilakukan secara
demokratis. Demikian pula posisi Ketua Dewan Pembina yang di masa
lalu memiliki kekuatan yang sangat menentukan telah ditiadakan.
7
Perubahan ini dilakukan karena Golkar dihadapkan pada tekanan dan
tuntutan masyarakat agar Golkar dibubarkan.
Salah satu terobosan yang ada di dalam Partai Golkar adalah
diadakannya konvensi untuk menjaring calon presiden dan wakil presiden
yang akan diusung dalam pemilihan umum 2004. Prakarsa ini muncul saat
Partai Golkar berada di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung. Sekilas
menilik terobosan Partai Golkar dengan diadakannya konvensi yang
dilaksanakan melalui tiga tahap. Pertama, tahap penjaringan yang terdiri
dari pengusulan bakal calon oleh DPD, Provinsi, ormas tingkat pusat, atau
perorangan dengan dukungan 500 dukungan surat penyataan. Kedua,
sosialisasi bakal calon ke minimal tujuh provinsi. Konvensi tingkat
kabupaten/kota dengan memilih 5 nama, dan selanjutnya diajukan ke
provinsi. Konvensi tingkat provinsi menetapkan 5 nama. Penapatan bakal
calon oleh DPD Provinsi. Ketiga, tahap pemilihan dan penetapan, yang
terdiri dari penetapan nominasi di pusat dengan terlebih dahulu melewati
proses konvensi di tingkat provinsi.8
Perjuangan Partai Golkar pada masa sesudah era reformasi
memang tidak semudah saat masih berada di era Orde Baru. Untuk itu,
siapapun pemimpin yang berhasil membawa Partai Golkar melewati
masa-masa sulit tersebut, tentu bukanlah pemimpin sembarangan. Pemimpin
tersebut dapat dikatakan sebagai pemimpin yang memiliki integritas dan
8
komitmen yang tinggi dalam memperjuangkan dan mengangkat nama baik
Partai Golkar di kancah perpolitikan Indonesia.
B. Profil Akbar Tandjung
1. Masa Kecil dan Remaja Akbar Tandjung
Nama lengkap Akbar Tandjung adalah Djandji Akbar Zahiruddin
Tandjung, yang lahir pada tanggal 14 Agustus 1945, di Sibolga, Sumatera
Utara. Akbar merupakan anak yang berasal dari keluarga besar. Akbar
anak yang ke-13 dari 16 bersaudara. Keluarga Akbar memiliki berlatar
belakang agama yang kuat. Pada masa kecilnya, Akbar tinggal di Sorkam
diasuh oleh tantenya , karena orang tua Akbar membuka usaha di Sibolga.9
Masa kecil Akbar Tandjung menyukai berenang bersama teman
sebayanya. Ia suka berenang di dekat desanya. Selain itu, Akbar juga
menyukai durian, ketika musim durian tiba, Akbar bersama
teman-temannya menunggu durian itu jatuh, kemudian ia mengejarnya. Hal itu,
dilakukan sampai ia kelas tiga Sekolah Rakyat Muhammadiyah.
Pengalaman masa kecil Akbar selalu banyak kenangan manis bersama
teman-temannya. Disisi itu, Akbar hoby membaca buku hingga remaja. Ia
anak yang cerdas.10
9
Majalah Biografi Politik, “Akbar Tandjung; Faktor Penentu Pemilhan Presiden 2009”,
Vo. 1, No. 1, Februari 2008, h. 81-82
10
2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Organisasi Akbar Tandjung
Riwayat pendidikan Akbar Tandjung cukup memiliki warna
tersendiri. Setelah melalui masa kecil dan masuk Sekolah Rakyat (SR)
Muhammadiyah di Sorkam, anak ke-13 dari 16 bersaudara ini pun pindah
ke Medan. Di Medan, ia menamatkan pendidika dasarnya di SR Nasrani.
Sempat pula setahun duduk di bangku SMP di Ibukota Provinsi Sumatera
Utara itu.
Pindah ke Jakarta, ia masuk kelas dua SMP Perguruan Cikini, dan
kemudian berlanjut ke SMA Kanisius. Selanjutnya, ia memilih kuliah di
Fakultas Teknik Universitas Indonesia jurusan teknik elektro.11 Akbar
sudah mulai menyukai dunia politik, ketika kuliah di Universitas
Indonesia. Pergulatan politik Akbar, tidak hanya di dalam kampus, tetapi
di luar kampus. Ia aktif dalam gerakan mahasiswa yakni Kesatuan Aksi
Mahasiswa Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arif Rahman
Hakim. Selama aktif di kampus, Akbar mempunyai modal politik yang
kuat untuk menjadi ketua senat mahasiswa. Akhirnya tahun 1967, ia
menjadi ketua senat mahasiswa Fakultas Teknik. Disisi itu, dia aktif
sebagai Dewan Mahasiswa dan Majelis Permusyawaratan Universitas
Indonesia.
Selain itu, kegiatan di luar kampus Akbar terpilih menjadi Ketua
Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta. Tahun 1972,
11Majalah Biografi Politik, “
Akbar menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam
(PB HMI). Dan aktivitasnya tidak hanya disitu saja, tahun 1973 ia juga
ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Sebagai
Ketua Umum KNPI, Akbar juga mendirikan Angkatan Muda Pembaruan
Indonesia (AMPI) dan tahun 1978, ia menjadi Ketua Angkatan Muda
Pembaharuan Indonesia. Kemudian, tahun 1983, Akbar menjabat sebagai
Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar. Sehingga, kiprah Akbar
dalam aktivitas organisasinya membuat langkahnya semakin maju.
3. Karir Politik Akbar Tandjung di Partai Golkar
Karir politik Akbar Tandjung berawal dari bawah. Sehingga tidak
heran, jika banyak pengamat yang menyatakan bahwa Akbar Tandjung
bukanlah politisi sembarangan. Pengalaman yang dimiliki Akbar Tandjung
dalam berorganisasi tidak perlu dipertanyakan lagi.
Berdasarkan penelusuran penulis, karir Akbar Tandjung dalam
dunia aktivits dimulai dari masa-masa kuliah.12 Pengalamannya cukup
kaya, dari aktivitas di kampus hingga pengalaman di pemerintahan. Di
Dewan Perwakilan Rakyat, tahun 1977-1988 Akbar menjadi anggota FKP
DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Dan di perwakilan ia sebagai
Wakil Sekretaris FKP DPR RI periode 1982-1983. Kemudian tahun
1987-1992, Akbar di percaya untuk menduduki Sektretaris MPR RI sekaligus
Anggota Badan Pekerja MPR RI. Setelah pemilu tahun 1992, ia kembali
12
menjadi Sekretaris MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI. Kemudian
Akbar terpilih menjadi Wakil Ketua FKP MPR RI, Wakil Ketua PAH II
Badan Pekerja MPR RI periode 1997-1998. Dan tahun 1998 sampai
sekarang, Akbar menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI.
Disamping karir politik Akbar di dalam pemerintahan. Pengalaman
Akbar dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat, tahun
2002-2003 Akbar dipercaya menjadi President of AIPO (Asean Inter
Parliamentary Organization) dan President of PUOICM (Parliamentary
Union of OIC Members) periode 2003-2004.
C. Profil Jusuf Kalla
1. Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla
Nama lengkap Jusuf Kalla adalah Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla,
sering disingkat menjadi JK. Lahir di Wetampone, Sulawesi Selatan pada
tanggal 25 Mei 1942. Pada masa kecilnya, Jusuf Kalla dipanggil Ucu. Ia
anak ke-2 dari 17 bersaudara.13 Pada masa kecil Jusuf Kalla dapat
dikatakan masa yang menyulitkan, karena kondisi waktu itu sedang kacau
datangnya DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia). Akhirnya ia dan
13