• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS KOMPARATIF KEPEMIMPINAN AKBAR

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Paternalistik

Saat seseorang terjun ke dunia politik, ia harus siap menanggung segala konsekuensi yang mengikutinya. Tak terkecuali berbagai konflik atau perselisihan, baik di internal partai politik yang diikuti maupun dengan lawan politik yang berlainan interest (kepentingan) yang ingin diwujudkan. Hal ini mengingat partai politik memiliki visi dan misi serta platform yang berbeda. Kalaupun ada kesamaan dalam hal ideologi maupun asas, masing-masing partai tetap ingin mempertahankan cirinya masing-masing.

Partai Golkar, salah satu partai yang ada di Indonesia, adalah partai lama yang sudah ada sejak zaman Orde Baru. Eksistensi partai ini cukup mewarnai perpolitikan di Indonesia, bahkan sempat menjadi penguasa di bawah rezim Soeharto. Akbar Tandjung, salah satu tokoh Partai Golkar, menyadari betul keberadaan partainya yang banyak menghadapi rintangan untuk tetap bertahan dalam memperjuangkan visi partai.

Saat penulis menanyakan tentang motivasi Akbar Tandjung untuk menjadi ketua umum Partai Golkar, beliau menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan pilihan hati nuraninya. Karena latar belakangnya di dunia aktivitis,

maka menjadi pengurus partai politik adalah salah satu cara yang bisa ditempuh oleh para aktivitis yang ingin memperjuangkan aspirasi rakyat dengan terjun langsung di dalam kehidupan politik. Menjadi anggota dewan maupun pejabat eksekutif adalah bagian dari peran politik yang harus diambil oleh mereka yang peduli terhadap rakyat. Tanpa terlibat langsung, sangat sulit untuk menyampaikan keinginan dan aspirasi masyarakat banyak. Sebagaimana yang diungkapkan beliau kepada penulis:

“Jika ada pertanyaan tentang motivasi saya menjadi ketua umum Partai Golkar, saya bisa menjawab bahwa hal tersebut sudah merupakan insting aktivis atau politisi. Karena dengan berada di tengah-tengah lapangan, baik di legislatif maupun eksekutif, perjuangan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat lebih terbuka, jika dibandingkan dengan berada di luarnya. Kalau dulu ketika mahasiswa saya berusaha memperjuangkan aspirasi masyarakat dengan turun ke jalan atau demonstrasi, maka sekarang jalurnya adalah melalui sistem itu sendiri. Menjadi ketua partai politik, bisa saya artikan sebagai salah satu cara

untuk berjuang.”1

Lebih lanjut Akbar Tandjung memberikan penjelasan tentang perannya sebagai ketua umum Partai Golkar. Pada posisi ini, menurutnya pikiran dan tenaga yang dibutuhkan lebih besar jika dibandingkan saat masih menjadi pengurus harian atau pengurus departemen tertentu dalam partai. Untuk itu dirinya menyatakan bahwa diperlukan startegi-strategi khusus dalam menyelamatkan Partai Golkar dari citra buruk yang terlanjur ada di benak masyarakat. Salah satunya adalah dengan cara memberikan gagasan baru dalam hidup berdemokrasi. Misalnya dengan adanya konvensi di dalam Partai Golkar. Meskipun cara ini cukup lama dan melelahkan, menurutnya hal

1

Wawancara pribadi dengan Akbar Tandjung bertempat di kantor Akbar Tandjung Institute, Jakarta 22 September 2011 pukul 11.15 WIB

tersebut tidak menjadi alasan untuk menaikkan citra Partai Golkar di tengah- tengah masyarakat. Seperti yang dituturkan Akbar Tandjung kepada penulis:

“Jadi ketua umum itu perlu tenaga dan pikiran yang lebih. Berbeda kalau kita masih menjabat pengurus harian atau departemen tertentu, seperti departemen kaderisasi misalnya. Apalagi menjadi ketua umum Partai Golkar, yang sudah terlanjur mendapat stigma negatif di masyarakat karena dianggap sebagai warisan dari Orde Baru yang otoriter. Di sini saya berusaha untuk memperjuangkan bagaimana bisa menaikkan citra Partai Golkar, agar mendapat tempat lagi di hati masyarakat. Salah satu strategi yang saya tempuh adalah dengan membuat suatu terobosan (breaktrough) dalam hidup berdemokrasi. Konvensi adalah wujud riilnya. Ini memang melelahkan, membutuhan banyak biaya, serta perlu waktu yang tidak sebentar. Tapi konsekuensi

tersebut harus diambil, mengingat kondisi yang ada. Slogan “Golkar

Baru” harus benar-benar terimplementasikan, bukan hanya sekedar bualan semata. Nanti kalau tidak ada realisasinya, maka anggapan bahwa politisi hanya sekedar berkata tanpa berbuat akan semakin

mengakar di benak masyarakat.”2

Meskipun hasil konvensi tersebut tidak memenangkan pemilihan umum tahun 2004, apresiasi terhadap terobosan Partai Golkar patut diberikan. Mengingat kultur partai politik yang belum begitu transparan dalam mekanisme pengkaderan dan pencalonan, maka Partai Golkar memberikan angin segar bagi demokratisasi di Indonesia. Hasil dari konvensi yang dilakukan Partai Golkar tersebut, oleh Harmoko dinilai positif. Setidaknya Partai Golkar mendapatkan porsi publikasi yang cukup banyak. Media massa mau tidak mau harus memberi perhatian terhadap semua tahapan konvensi yang berjalan.3

2

Wawancara pribadi dengan Akbar Tandjung bertempat di kantor Akbar Tandjung Institute, Jakarta 22 September 2011 pukul 11.15 WIB

3

Harmoko, Quo Vadis Golkar: Mencari Presiden Pilihan Rakyat, (Jakarta: Kintamani Publishing, 2009), h. 201.

Saat penulis menanyakan tentang strategi atau kiat yang dipakai oleh Akbar Tandjung dalam memimpin sebuah oraganisasi besar seperti Partai Golkar, ia menjelaskan bahwa dengan jelas tentang kiat-kiat tersebut. Salah satunya adalah dengan tetap menjaga keharmonisan dan keutuhan organisasi dengan meminimalisir konflik antar anggota. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini jawaban yang diberikan kepada penulis:

“Ini yang menarik. Dinamika yang terjadi di tubuh Partai Golkar membutuhkan kemampuan dan kapasitas yang luar biasanya dari pemimpin atau ketua umumnya. Ketika saya menjadi ketua umum Partai Golkar, saya berusaha untuk menjaga keharmonisan antar kader partai dengan mengedepankan persatuan dan keutuhan partai. Saya berusaha meminimalisir konflik di dalam tubuh partai, dengan tetap mempertahankan daya kritis. Selain itu, untuk kasus-kasus tertentu, saya tidak segan-segan untuk meminta masukan atau nasihat dari dewan Pembina partai maupun dari tokoh-tokoh senior partai. Dengan demikian, apa yang menjadi keputusan saya dalam organisasi, saya peroleh tidak saja berasal dari pemikiran saya pribadi, melainkan juga hasil dari sharing atau konsultasi dengan pihak-pihak yang lebih berpengalaman.”4

Lebih lanjut, penulis mencari tahu tentang aktivitas Akbar Tandjung dalam rangka untuk menjaga keharmonisan kader-kader yang ada di daerah. Dari jawaban yang diberikan, Akbar Tandjung mengaku bahwa dirinya berusaha untuk menyempatkan diri melakukan kunjungan ke pengurus- pengurus di daerah untuk menyerap aspirasi mereka. Selain itu, kunjungan ke daerah dilakukan untuk mengetahui problematika kader-kader yang ada di daerah. Seperti yang diungkapkan kepada penulis:

“Untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan partai, saya juga sering

melakukan kunjungan-kunjungan ke pengurus-pengurus pronvinsi

4

Wawancara pribadi dengan Akbar Tandjung bertempat di kantor Akbar Tandjung Institute, Jakarta 22 September 2011 pukul 11.15 WIB

maupun kabupaten/kota, bahkan sampai ke tingkat kecamatan dan kelurahan, untuk mendapatkan informasi yang akurat. Jadi tidak hanya berdasarkan masukan dari laporan-laporan saja. Dengan mengunjungi kader-kader yang ada di daerah, saya bisa mendengar aspirasi dan permasalahan yang mereka hadapi serta mendapatkan solusi terhadap

problematika yang ada.”5

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bagaimana Akbar Tandjung memimpin Partai Golkar. Dengan tetap menjaga keharmonisan dan keutuhan organisasi, serta meminimalisir konflik yang ada, dan tetap menjaga komunikasi dengan para tokoh yang sudah senior, maka apa yang dilakukan oleh Akbar Tandjung tersebut dapat dikategorikan kepada gaya kepemimpinan yang paternalistik.

Dokumen terkait