BAB IV ANALISIS KOMPARATIF KEPEMIMPINAN AKBAR
B. Kepemimpinan Politik Jusuf Kalla
1. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Egaliter
Sosok Jusuf Kalla bisa dikatakan merupakan sosok yang cukup fenomenal di dalam dunia perpolitikan Indonesia. Terlebih saat Jusuf Kalla menjadi wakil presiden Republik Indonesia periode 2004-2009, mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Permulaan fenomena pasangan ini dimulai saat
14
Biografi Politik, h. 30. 15
memenangi pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung untuk pertamakalinya di Indonesia. Meskipun tidak diusung oleh partai yang membesarkannya, yaitu Partai Golkar, pada putaran kedua pasangan yang lebih dikenal dengan inisial SBY-JK ini mengungguli pasangan lainnya, yaitu Megawati-Hasyim Muzadi.
Saat menjadi wakil presiden, Jusuf Kalla dikenal dengan statement- statement-nya yang spontan, lugas, berani, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Hal ini ditambah lagi dengan terpilihnya Jusuf Kalla menjadi ketua umum Partai Golkar, mengalahkan Akbar Tandjung pada Munas Partai Golkar di Bali. Kehadiran sosok Jusuf Kalla memberikan warna baru dalam pemerintahan dan perpolitikan di Indonesia.
Saat penulis menanyakan tentang latar belakang Jusuf Kalla menjadi ketua umum Partai Golkar, ia menjelaskan bahwa hal tersebut sudah menjadi keinginannya sejak dulu saat memutuskan untuk bergabung dengan Golkar (sebelum menjadi Partai). Keberadaan Jusuf Kalla di Partai Golkar tidak muncul secara mendadak, yang oleh banyak pengamat politik disebut sebagai
“kader instan”. Ia merintis karir politiknya mulai dari bawah, saat menjadi
pengurus organisasi kepemudaan Golkar di Sulawesi 40 tahun yang lalu. Selain itu, menurutnya, desakan dari para kader di daerah-daerah agar dirinya maju mencalonkan diri sebagai ketua umum Partai Golkar, juga turut memotivasi tercapainya keinginan tersebut. Dengan mendengarkan aspirasi tersebut, Jusuf Kalla merasa bahwa dirinya mencalokan diri bukan dengan
modal nekat atau hanya karena mengikuti syahwat politik semata. Ditambah lagi dengan sistem presidensial semi parlementer yang dipakai di Indonesia, kekuasaan eksekutif tidak akan efektif tanpa adanya kekuasaan di legislatif. Sehingga hal ini menjadi salah satu pemicu beberapa anggota legislatif atau eksekutif yang merangkap menjadi ketua partai. Seperti halnya Jusuf Kalla, ia merasa bahwa kebijakan yang akan diambilnya tidak akan bisa berjalan tanpa ada dukungan dari legislatif. Untuk itu, ia merasa perlu menjadi ketua partai Golkar agar dapat mendukung program-program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah. Seperti yang disampaikan kepada penulis:
Sebagai kader Partai Golkar dan pengurus dah hamper 40 tahun di Makassar, mulai pemilihan pemuda tahun 64, cita-citanya menjadi ketua partai. Sebagai wapres tahun 2004, daerah-daerah minta saya untuk menjadi ketua dan meminta saya untuk membawa Golkar menjadi partai sekutu pemerintah, agar pemerintah ini berjalan. Karena tanpa ada dukungan dari partai, yang memiliki peran yang signifikan di legislatif, semua kebijakan dan program pemerintah tidak akan jalan.16
Mengenai motivasi Jusuf Kalla menjadi ketua umum Partai Golkar, salah satunya juga dipicu oleh kultur partai Golkar itu sendiri yang memiliki kultur pembangunan atau kultur pemerintahan. Sehingga, meskipun partai Golkar bukan pemenang pemilu legislatif maupun eksekutif, partai tersebut selalu mendukung kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dengna tetap mempertahankan sikap kritis. Mengutip salah satu ceramah Jusuf Kalla di
16
Wawancara pribadi dengan Jusuf Kalla, Kantor Kalla Group, Jakarta, tanggal 10 September 2011 Pukul 10.15 WIB
depan peserta Kursus Reguler Angkatan 37 Lemhanas di Jakarta, 26 Juli 2005, ia mengatakan dengan lugas:
Kenapa saya menjadi Ketua Umum Partai Golkar? Pertimbangannya sederhana; tanpa suatu stabilitas politik, sulit sekali kita membuat suatu kebijakan ekonomi yang baik. Tapi, ada satu hal yang sangat penting. Kultur Golkar itu kultur pembangunan atau kultur pemerintahan. Berbeda dengan kultur PDIP. Kultur PDIP itu kultur oposisi. Pada saat Ibu Mega memerintah, orang-orang PDIP merasa tetap (sebagai partai) oposisi. (mereka) tetap saja mengkritik pemerintah, walaupun pemerintahannya orang PDIP. Sebaliknya Golkar, walaupun tidak mempunyai peranan penting dalam
pemerintahan, tetap saja bersahabat dengan pemerintah”17
Saat membicarakan Parti Golkar, masyarakat tidak bisa melepaskan peran partai yang dulunya merupakan golongan kekaryaan ini sebelum era reformasi. Golkar pada masa itu merupakan golongan yang sangat dominan dalam pemerintahan. Hal ini dapat dimengerti, mengingat Golkar merupakan kendaraan Soeharto dalam melanggengkan kekuasaannya. Hampir semua birokrasi di Indonesia merupakan anggota Golkar, sehingga sangat sulit menyaingi keberadaan Golkar pada masa itu.
Namun keadaan tersebut berubah setelah terjadi reformasi pada tahun 1998 dengan pengunduran diri Soeharto dan digantikan oleh Habibie. Sejak saat itu, Partai Golkar menjadi sorotan banyak pihak. Sebagian kalangan menginginkan agar Golkar dibubarkan, karena sudah tidak sesuai dengan semangat reformasi, mengingat Golkar adalah warisan dari Orde Baru. Sebagian yang lain menginginkan agar Golkar tidak perkenankan untuk mengikuti pemilihan umum.
17
Tomi Lebang, Berbeka Seribu Akal Pemerintahan dengan Logika; Sari Pati Pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006, h. 4
Maka, berdasarkan kesepakatan para politisi Golkar, akhirnya Golkar menjadi partai politik, bukan lagi golongan kekaryaan sebagaimana pada era Orde Baru. Di sini Partai Golkar mendapat tantangan untuk membuktikan bahwa Partai Golkar sudah berubah, bahwa Partai Golkar bukan lagi Golkar seperti pada masa Orde Baru.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jusuf Kalla:
Politik sangat berubah. Orde baru sangat sentralistik, otoriter, sehingga golkar menjadi partai utama yang mendukung dan didukung oleh partai dalam rangka untuk menjalankan pemerintahan. Sangat dominan sekali. Setelah orde baru, setelah reformasi, demokrasi lebih terbuka, lebih liberal. Dan tiga partai muncul kemudian 48 partai pada tahun 1999. Sehingga terjadilah persaingan yang ketat antar partai-partai sehingga Golkar harus mampu bersaing. Multi partai. Di sini Golkar berubah menjadi partai politik. 18
Saat penulis menanyakan tentang alasan berubahnya Golkar menjadi partai politik, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa hal tersebut sudah menjadi keharusan. Jika Golkar ingin tetap bertahan di tengah-tengah arus reformasi, maka Golkar harus merubah dirinya mengikuti organisasi politik, seperti partai-partai yang lainnya. Jusuf Kalla menjelaskan bahwa ada tiga fungsi partai politik dalam ranah demokrasi, di antaranya yaitu: menjalankan pemerintahan jika berada di eksekutif, menjalankan fungsi legislatif jika menjadi anggota DPR, dan yang ketiga adalah bagaimana sebuah partai politik memberikan andil dan peran dalam masyarakat. Seperti yang diungkapkan Jusuf Kalla kepada penulis:
18
Wawancara pribadi dengan Jusuf Kalla, Kantor Kalla Group, Jakarta, tanggal 10 September 2011 Pukul 10.15 WIB
Tugas partai ada tiga: pertama menjalankan pemerintahan kalau menjadi partai pemerintah, waktu itu golkar selalu punya menteri di pemerintahan. Calon presiden dari golkar. Keduanya, bagaimana peranan partai di DPR agar dapat menjalankan atau misi politik nasional dan juga misi partai. Sebuah partai di DPR, legislatif. Yang ketiga, bagaimana peranan partai di masyarakat.19
Berkenaan dengan anggapan banyak kalangan yang menyatakan bahwa sebagai seorang ketua umum partai yang cukup disegani di Indonesia, Jusuf Kalla terlalu tegas dan blak-blakkan dalam menyikapi suatu permasalahan, hal ini menurutnya adalah suatu keharusan. Karena selama ini beliau menganggap kebanyakan politisi terlalu berbelit-belit dalam memberikan tanggapan atau sikap terhadap suatu permasalahan. Jusuf Kalla berusaha untuk mengubah citra itu, dengan selalu terus terang dan langsung ke pokok permasalahan. Seperti yang diungkapkan:
“Itu sudah menjadi ciri saya. Saya tidak bisa bertele-tele dalam memberikan tanggapan atau keputusan terhadap suatu masalah. Kalau memang bisa langsung diselesaikan, kenapa berlama-lama, muter- muter dulu ke mana-mana. Itu tidak efektif, membuang-buang waktu dan tenaga. Langsung saja ke pokok permasalahan, solusinya apa, lakukan! Jangan diputar-putar dulu.”20
Apa yang disampaikan oleh Jusuf Kalla tersebut di atas, mungkin terpengaruh oleh lingkungan pengusaha, di mana beliau banyak menghabiskan waktu. Diperlukan keputusan yang jitu dan cepat dalam menyikapi suatu permasalahan. Sebagaimana idiom yang dikenal dalam dunia usaha Time is Money, maka momen sangat menentukan dan berarti.
19
Wawancara pribadi dengan Jusuf Kalla, Kantor Kalla Group, Jakarta, tanggal 10 September 2011 Pukul 10.15 WIB
20
Wawancara pribadi dengan Jusuf Kalla, Kantor Kalla Group, Jakarta, tanggal 10 September 2011 Pukul 10.15 WIB
Kepemimpinan menurut Jusuf Kalla adalah seni untuk mempengaruhi orang lain mengerjakan sesuatu yang baik dan mempersatukan banyak pendapat. Selain itu, pemimpin menurutnya juga harus mau mengerjakan pekerjaan yang populer dan yang tidak populer. Kalau hanya mau mengerjakan yang disukai saja, maka ia bukan seorang pemimpin melainkan seorang koordinator.21
2. Jusuf Kalla Sosok Progresif
Saat menjadi wakil presiden periode 2004-209 sekaligus ketua Partai Golkar, Jusuf Kalla dikenal sebagai seorang pemimpin yang tanggap akan keadaan. Tidak banyak pertimbangan, action first, think later (bertindak dulu, berpikir nanti). Berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, yang membutuhkan keputusan segera, langsung dieksekusi oleh Jusuf Kalla. Suasana seperti ini seringkali terjadi tanpa sepengetahuan SBY, selaku presiden. Sehingga, di kalangan para pengamat seringkali muncul istilah
“matahari kembar”, yang menganalogikan Jusuf Kalla tak ubahnya seorang presiden, sama dengan SBY. Karena begitu banyak kebijakan yang diambil langsung oleh Jusuf Kalla.
Mungkin masyarakat saat ini merindukan sosok pemimpin seperti Jusuf Kalla, yang selalu bicara apa adanya, tanpa harus berbelit-belit. Pemimpin yang lugas, cekatan dalam mengambil keputusan, efisien, adalah gambaran mengenai kepemimpinan Jusuf Kalla. Salah satu contoh mengenai
21
Hamzah Farihin, “Pemimpin Harus Mampu Pengaruhi Orang Lain”, dalam Berita UIN, No.
progresifitas Jusuf Kalla adalah dalam masalah naskah pidato resmi wakil presiden. Menurutnya, naskah-naskah itu isinya hanya sekedar copy dan paste
saja dari pidato-pidato sebelumnya. Lebih rinci ia menjelaskan, di setiap naskah pidato, apa pun forum dan pendengarnya, kata krisis multidimensi selalu ada. Juga kata globalisasi.22
Sisi lain dari progresivitas Jusuf Kalla adalah alasan yang dikemukakannya saat menolak pelaksanaan konvensi Partai Golkar. Menurutnya, konvensi hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan pikiran, yang hasilnya pun belum tentu memuaskan. Selain itu, dalam pelaksanaan konvensi juga akan mengizinkan masuknya berbagai golongan yang belum terukur kapasitas dan kapabilitasnya.23
Dari beberapa bukti yang telah penulis paparkan di atas, penulis mengambil kesimpulan, bahwa sisi progresif dari Jusuf Kalla terletak pada pemikirannya tentang efektivitas dan efisiensi dalam organisasi, termasuk salah satunya dengan ketidaksetujuannya dengan pelaksanaan konvensi. Meskipun ada indikator-indikator lain yang menyebutkan seseorang progresif atau tidak, karena keterbatasan penulis, hanya beberapa indikator tersebut di atas saja yang dapat penulis kemukakan.
22
Wisnu Nugroho, Pak Kalla dan Presidennya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), Cet. Ke-2, h. 12.
23
3. Kiat-kiat Jusuf Kalla dalam Memimpin Partai Golkar
Sebagai seorang pemimpin dari sebuah partai politik yang besar, Jusuf Kalla dituntut untuk terus membawa Partai Golkar ke arah perubahan yang lebih baik. Meskipun stigma dari masyarakat sebagai partai Orde Baru susah untuk dihilangkan, namun eksistensi Partai Golkar dalam mewarnai perpolitikan di Indonesia terus berlanjut. Hal ini tentu tidak terlepas dari proses kaderisasi yang ada di Partai Golkar itu sendiri.
Penulis berusaha untuk mencari tahu bagaimana proses kaderisasi di Partai Golkar kepada Jusuf Kalla. Beliau menjelaskan bahwa kaderisasi di Partai Golkar berlangsung dari bawah. Hal ini berarti bahwa kader-kader yang ada di Partai Golkar bukanlah mereka yang sudah menjadi figur atau tokoh kemudian tiba-tiba masuk di Partai Golkar dan mendapatkan kedudukan yang diinginkannya. Setiap kader yang ingin mendapatkan posisi yang diinginkan harus berjuang dari bawah. Dengan kata lain, kaderisasi partai Golkar bukan
merupakan “kader jenggot”, atau kader titipan yang berasal dari mereka yang sudah menduduki posisi pemimpin atau pengurus. Seperti yang dijelaskan oleh Jusuf Kalla kepada penulis:
Kaderisasi di dalam Golkar itu dari bawah. Pola rekruitmen ada dua, berdasarkan fungsinya, hal ini antara lain berasal dari organsiasi kepemudaan seperti AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar), dari organisasi kewanitaan, mahasiswa, organisasi-organisasi sayap seperti Kosgoro dan lain sebagainya. Pola yang kedua adalah dari wilayah, daerah-daerah maupun anggota DPR. Maksudnya adalah proses kaderisasi ini merupakan jenjang yang harus diikuti oleh setiap kader dari bawah, mulai dari pengurus tingkat kelurahan, kecamatan,
kabupaten/kota, provinsi, baru kemudian berkiprah di tingkat nasional. Dengan demikian, maka proses kadirisasi akan terus berlanjut dan berjenjang, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing kader. Kalau tidak begitu, maka akan terjadi kecemburuan antar kader dan proses kaderisasi akan berlangsung tidak kontinyu dan amburadul. 24
Sebagai sebuah partai yang tidak baru, proses kaderisasi di dalam Partai Golkar sudah berlangsung cukup lama dan stabil. Berbeda dengan partai-partai baru yang membutuhkan pola rekruitmen dan pengkaderan yang harus terus dipelihara, dalam Partai Golkar proses tersebut sudah mapan.
C. Pengaruh Kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla
Berdasarkan kajian yang telah penulis lakukan, baik melalui penelusuran literatur maupun wawancara dengan nara sumber, ada beberapa benang merah yang dapat ditarik dari pembahasan ini. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa masing- masing individu memiliki karakter maupun ciri-ciri tersendiri, dalam hal memimpin suatu organisasi atau partai politik, komitmen dan integritas tidak dapat diabaikan begitu saja. Demikian juga dengan gaya kepemimpinan, satu pemimpin dengan pemimpin lainnya sangat mungkin untuk berbeda.
Dalam menahdokai Partai Golkar, Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla menurut hemat penulis, masing-masing memberikan warna tersendiri. Pada masa kepemimpinan Akbar Tandjung, harus diakui bahwa Partai Golkar berhasil keluar dari krisis politik pada era transisi di masa reformasi. Berbagai strategi dan terobosan
24
Wawancara pribadi dengan Jusuf Kalla, Kantor Kalla Group, Jakarta, tanggal 10 September 2011 Pukul 10.15 WIB
yang ada pada masa kepemimpinannya, membuat Partai Golkar tetap bertahan dan memberikan sumbangsih terhadap Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari perubahan yang terjadi di Partai Golkar itu sendiri, di mana sebelumnya Golkar dianggap sebagai alat penguasa dalam melanggengkan kekuasaan, antikritik, eksklusif, menjadi partai yang demokratis, terbuka, dan mendengar kritik yang ada.
Hasil kerja keras Akbar Tandjung saat menjadi ketua umum Partai Golkar dapat dilihat dari keberhasilan Golkar dalam memenangkan pemilu legislatif 2004, meskipun jumlah suara yang diperoleh menurun. Ini adalah sebuah prestasi tersendiri, mengingat buruknya citra Golkar di mata masyarakat. Selain itu, masih dipercayanya beberapa kader Golkar untuk mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan, juga bisa dijadikan ukuran bagaimana Partai Golkar tetap bertahan di tengah-tengah kecaman dan desakan dari banyak kalangan untuk bubar.
Sedangkan dalam era kepemimpinan Jusuf Kalla, bisa dikatakan Partai Golkar sudah melewati masa-masa kritis menuju masa-masa konsolidasi. Citra Golkar yang buruk sedikit demi sedikit bisa dikikis dengan gaya kepemimpinan Jusuf Kalla yang progresif, jujur, dan blak-blakan. Meskipun merangkap menjadi wakil presiden, Jusuf Kalla mampu untuk meluangkan waktu menjalankan roda organisasi di Partai Golkar.
64
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah penulis lakukan, dapat disimpulkan bahwa persamaan kepemimpinan antara Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung dalam tubuh Partai Golkar antara lain adalah kedua mantan ketua umum tersebut berjuang mempertahankan nama baik Partai Golkar di tengah-tengah kondisi masyarakat yang memberikan stigma buruk terhadap partai berlambang pohon beringin tersebut. Kondisi Partai Golkar pasca reformasi membutuhkan seorang pemimpin yang luar biasa dalam mengendalikan organisasi.
Adapun perbedaan gaya kepemimpinan antara keduanya adalah dalam menjalankan roda organisasi, terletak pada gaya kepemimpinan. Kepemimpinan Akbar Tandjung di dalam Partai Golkar lebih cenderung bersifat paternalistik. Hal ini terlihat dari bagaimana Akbar Tandjung mengambil keputusan mengenai kebijakan Partai Golkar yang mengutamakan keselarasan antar sesama pengurus dengan banyak melibatkan para senior untuk mendapatkan pengarahan.
Partai Golkar di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung mampu bertahan di tengah-tengah tuntutan reformasi, termasuk tuntutan sebagian kalangan yang menginginkan pembubaran Partai Golkar. Selain itu, di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung, Partai Golkar masih mendapatkan tempat dalam
memperjuangkan aspirasi rakyat lewat pemerintahan dengan menempatkan beberapa kader Partai Golkar dalam kabinet.
Adapun gaya kepemimpinan Jusuf Kalla saat memimpin Partai Golkar cenderung bersifat demokratis. Menilik latar belakang Jusuf Kalla sebagai pengusaha, tidak mengherankan jika kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Jusuf Kalla bersifat efisien, lugas, dan terus terang. Beberapa hal ini yang menjadikan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla memperoleh simpati dari masyarakat sebagai partai yang demokratis dan membela kepentingan rakyat banyak.
Pengaruh kepemimpinan kedua tokoh tersebut di dalam tubuh partai Golkar antara lain sebagai berikut: pada masa kepemimpinan Akbar Tandjung, harus diakui bahwa Partai Golkar berhasil keluar dari krisis politik pada era transisi di masa reformasi. Berbagai strategi dan terobosan yang ada pada masa kepemimpinannya, membuat Partai Golkar tetap bertahan dan memberikan sumbangsih terhadap Indonesia. Sedangkan dalam era kepemimpinan Jusuf Kalla, bisa dikatakan Partai Golkar sudah melewati masa-masa kritis menuju masa-masa konsolidasi. Citra Golkar yang buruk sedikit demi sedikit bisa dikikis dengan gaya kepemimpinan Jusuf Kalla yang progresif, jujur, dan blak-blakan. Serta berani mengambil resiko atas kebijakannya,demi kebaikan rakyatnya. Meskipun merangkap menjadi wakil presiden, Jusuf Kalla mampu untuk meluangkan waktu menjalankan roda organisasi di Partai Golkar.
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan antara lain adalah: 1. Perlunya penelitian lebih lanjut, untuk mendapatkan gambaran yang
lebih komprehensif mengenai kepemimpinan Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla di Partai Golkar.
2. Perbedaan gaya kepemimpinan antara satu pemimpin dengan pemimpin lainnya, hendaknya tidak menjadikan perpecahan di dalam suatu organisasi. Dengan demikian, tujuan dan cita-cita organisasi yang sudah disepakati bersama dapat terwujud.
67
Alfian, Alfan, Menjadi Pemimpin Politik: Perbicangan Kepemimpinan dan Kekuasaan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
A, Denny J., Jalan Panjang Reformasi, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006 Davis dan Newstrom, Leadership And Manajemen, Havard Univesity Press, 1995 Ecip, S. Sinansari dan M.Rusman Madjulekka, Percikan Pemikiran M. Jusuf Kalla:
Mari ke Timur, Jakarta: Toko Gunung Agung, 2000
Farihah, Ipah, Buku Panduan Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006
Ghofur, Maryono Abdul, Dasar-dasar Manajemen Organisasi, Surabaya: Sinar Emas, 2007
Harmoko, Quo Vadis Golkar: Mencari Presiden Pilihan Rakyat, Jakarta: Kintamani Publishing, 2009
Horrison, Lisa, Metodologi Penelitian Penelitian, Jakarta: Kencana, 2007
Hunneryager, S. G. & I. L. Heckman, Kepemimpinan, Semarang: Dahara Prize, 1992 Johnson, Doyle Paul, Teori sosiologi Klasik Dan Modern, Penterjemah Robert M. Z.
Lawang, Jakarta: PT Gramedia, 1996, Jilid 1
Kartodirdjo, Sartono, Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial, (Jakarta: LP3ES, 1984 Lebang, Tomi, Berbeka Seribu Akal Pemerintahan dengan Logika; Sari Pati Pidato
Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006 Moertopo, Ali, Strategi Politik Nasional, Jakarta: CSIS, 1974
Muladi dan Adi Sujatno, Traktat Etis Kepemimpinan Nasional, Jakarta: RM Books, 2008
Musakabe, Herman, Mencari Kepemimpinan Sejati: Di Tengah Krisis dan Reformasi, Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004
Nawawi, H. Hadari, Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1993
Nugroho, Wisnu, Pak Kalla dan Presidennya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011, Cet. Ke-2
Kholid Novianto, et.al., Memenangkan Hati Rakyat: Akbar Tandjung dan Partai Golkar dalam masa Transisi, Jakarta: Benda Press, 2003, Cet. Ke-1
Pahmi Sy, Politik Pencitraan, Jakarta: Gaung Persada Press, 2010
Pusat Bahasa, Kamus Besar, Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007, Cet. Ke-tiga
Rahayu, Iin Tri dan Tristiadi Ardi Ardani, Observasi & Wawancara, Malang: Bayumedia Publishing, 2004
Raharjo, Dawam, Angkatan Bersenjata Sebagai Kekuatan Politik, Jakarta: Prisma, 1998
Rahman, Aulia A., Citra Khalayak Tentang Golkar, Jakarta: Pusat Studi Agama dan Peradaban, 2006
Rinakit, Sukardi, Tuhan Tidak Tidur: Esai Kearifan Pemimpin, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2008
Salam, Syamsir dan Jaenal Aripin, Metodelogi Penelitian Sosial, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006
Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Sosial, Jakarta: Balai Pustaka, 2005
Siagian, Sondang P., Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta: Rineka Cipta, 2003 Suryadinata, Leo, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik, Jakarta: LP3ES,
1992
Tandjung, Akbar, The Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tomatala, Y., Kepemimpinanyang Dinamis. (Yogyakarta: UGM Press, 1987 Zaini, Subanto, Leadership In Action, Jakarta: Elex Media komputindo, 2011
Media Massa:
“Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla,” Sinar harapan 1 September 2007
Hamzah Farihin, “Pemimpin Harus Mampu Pengaruhi Orang Lain”, dalam Berita UIN, No. 117/Th. VIII/September/2011
Mar’ie Muhammad, “Gaya Kepemimpinan SBY-JK” Majalah Bisnis Indonesia, 11
Oktober 2004
Majalah Biografi Politik, “Akbar Tandjung; Faktor Penentu Pemilihan Presiden 2009”, Vo. 1, No. 1, Februari 2008
“Manuver Politik JK”, dalam Majalah Biografi Politik, Edisi Khusus Pilpres 2009
“M. Jusuf Kalla, Negarawan yang Religius”, Majalah Tokoh Indonesia, Volume 4
Internet:
http://www.madinask.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2562:p ak-harto-dan-golkar&catid. Diakses hari Rabu, 22 juni 2011.