PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD MENGGUNAKAN METODE RESITASI DAN METODE INKUIRI PADA MATERI STATISTIKA DI SMK T.A 2014/2015.

Teks penuh

(1)

Oleh : Intan Kurniati NIM 4111111010

Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis mengucapkan kehadirat ALLAH SWT

yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayah – Nya sehingga peneliti dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa

Yang Diajar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Menggunakan

Metode Resitasi Dan Metode Inkuiri Pada Materi Statistika Di SMK T. A.

2014/2015”, yang disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan pada jurusan Pendidikan Matematika, Program Studi Pendidikan

Matematika S-1.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan dapat

diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu

penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam–dalamnya kepada

semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini, antara

lain:

1. Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, selaku Rektor Universitas Negeri

Medan.

2. Prof. Drs. Motlan , M.Sc, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.

3. Bapak Prof. Dr. Herbert Sipahutar, M.S., M.Sc, Selaku Pembantu Dekan I

Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan.

4. Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, sebagai Ketua Jurusan Pendidikan

(4)

v

5. Bapak Dr. KMS. M. Amin Fauzi, M. Pd, selaku Pembimbing Skripsi

peneliti yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberi arahan,

bimbingan, dan berbagi ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd, sebagai dosen Penasehat Akademik

(PA) yang selalu membantu penulis dan memberikan arahan serta

dukungan terhadap penulis.

7. Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, Bapak Drs. Togi, M.Pd dan Bapak Dr. Abil

Mansyur, M.Si, sebagai Dosen Penguji yang telah banyak memberikan

saran dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen beserta Staff Pegawai Jurusan Pendidikan

Matematika.

9. Bapak Drs.Sukardi, sebagai Kepala Sekolah SMK-TI Ar-Rahman yang

telah mengijinkan peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah

tersebut.

10.Bapak M. Daliani, S.Pd, M.Si dan Bapak Nurwan, S.Pd sebagai guru

bidang studi matematika di SMK-TI Ar-Rahman yang telah banyak

membantu penulis dalam melakukan penelitian ini.

11.Peserta didik kelas X TKJ 1 dan X TKJ 3 SMK-TI Ar-Rahman atas

kerjasama dan kesediannya dalam membantu penelitian ini.

12.Teristimewa peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada

kedua orang tua tercinta Ayahanda Buang Hamid dan Ibunda Tumini

(5)

untuk setiap tetes keringat dan air mata yang telah menetes, untuk kasih

sayang yang tak pernah berkurang, untuk harapan yang tak pernah pudar,

doa yang tak pernah berhenti, yang selalu membanggakan tak peduli

berapa kali mengecewakan, dan terima kasih untuk perjuangan dan

pengorbanan yang telah dilakukan untuk penulis selama ini.

13.Untuk kakakku tersayang Desi Purnama Sari, S.Pd untuk dukungan yang

begitu besar, untuk bimbingan, bantuan yang tak terhingga, perhatian juga

sayang yang begitu besar, dan juga terima kasih untuk pelajaran hidup

yang begitu berharga.

14.Untuk kedua abangku Tri Sugiono dan Fadli Rahmadi untuk nasehat,

semangat dan doa yang diberikan. dan juga untuk adekku tersayang Nur

Aini Agustina untuk pengertian, kesabaran dan kasih sayangnya.

15.Untuk teman-teman seperjuangan yang sama-sama di rantau orang yang

telah penulis anggap sebagai saudara sendiri Eli Darmika, Riana, Yuli

Purnama Sari, Indah Multzam, Juni Novita Sari, Fira, Aiga, Kak Vira, Kak

Kiki, Kak Hanum, untuk support dan tawa canda yang telah dilewati

bersama. Cinta kalian luar biasa.

16.Kepada seluruh sahabat matematika Dik-C 2011 yang sangat luar biasa,

terima kasih untuk perjuangan bersama yang berat tapi terasa

menyenangkan, untuk petualangan bersama yang telah kita lewati, untuk

(6)

vii

17.Khusus kepada sahabat-sahabat tercinta, 5 orang asing yang memutuskan

untuk bersama dan mencintai layaknya saudara, Bg Acin, Mbak Poppy,

Mbak Eka, Mbak Dila, dan Mbak Kia.

18.Kepada kawan petualangan Bg Fajar, Bg Didi, Bg Jo, Bg Yo, Bg Mail,

Kak Chairina, Chrisna dan banyak lagi yang telah mengajarkan penulis

untuk melihat banyak hal indah.

19.Kepada kawan-kawan PPLT SMAN 2 Perbaungan yang pernah menjadi

bagian cerita indah dalam hidup penulis. 20 orang luar biasa yang

berkenalan dalam waktu singkat tetapi mengukir kenangan sepanjang

hayat.

20.Kepada seluruh teman-teman matematika stambuk 2011 yang pernah

berbagi cerita dan membekaskan kenangan.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara

langsung maupun tidak langsung, yang tidak tercantum dalam ucapan ini. Semoga

dukungan dan bantuan yang telah diberikan dirahmati oleh Allah SWT. Akhir

kata dengan kerendahan hati penulis mempersembahkan karya yang sederhana ini

semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi bahan masukan dalam dunia

pendidikan.

Medan, Agustus 2015

Penulis,

(7)

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE STAD MENGGUNAKAN METODE RESITASI DAN METODE INKUIRI PADA MATERI

STATISTIKA DI SMK T. A. 2014/2015

Intan Kurniati (NIM 4111111010) ABSTRAK

Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian adalah populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK TI Ar-Rahman Medan yang terdiri dari 6 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling dengan mengambil 2 kelas dari 6 kelas secara acak yaitu kelas X TKJ-I dan kelas X TKJ-III yang masing-masing berjumlah 36 dan 30 siswa. Dimana kelas X TKJ-I sebagai kelas eksperimen 2 dan kelas X TKJ-III sebagai kelas eksperimen 1.

Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata postes kelas eksperimen 1 adalah 66 dengan standar deviasi 14,94 dan nilai rata-rata selisih postes kelas eksperimen 2 adalah 47,11 dengan standar deviasi 16,37. Hasil uji t pihak kanan dengan dk = 64 dan  = 0,05, diperoleh thitung = 4,8554 dan ttabel = 1,670 sehingga thitung > ttabel maka Ha diterima, dengan demikian diperoleh bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan metode inkuiri lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan metode resitasi pada pokok bahasan statistika kelas X TKJ SMK TI Ar- Rahman Medan. Sedangkan untuk pola jawaban siswa yang diajar dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode resitasi.

Adapun kendala yang dihadapi guru yaitu dalam pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri yaitu, Siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga terjadi keributan ketika akan dibentuk kelompok, siswa belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan lembar aktivitas siswa, sehingga dalam pengerjaan LAS siswa banyak bertanya pada guru, siswa tidak membaca langkah-langkah pengerjaan pada LAS, siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran inkuiri sehingga lebih banyak bertanya kepada guru, dan siswa masih malu-malu dalam mengungkapkan pendapat ketika presentasi.

(8)

viii

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan ... i

Riwayat Hidup ... ii

Abstrak ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi... viii

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

Daftar Lampiran ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah... 1

1.2.Identifikasi Masalah ... 13

1.3.Batasan Masalah ... 13

1.4.Rumusan Masalah ... 14

1.5.Tujuan Penelitian ... 14

1.6.Manfaat Penelitian ... 14

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Belajar ... 16

2.1.1. Belajar dan Problematikanya ... 16

2.1.2. Prinsip-prinsip Belajar ... 19

2.1.3. Faktor-faktor Dalam Belajar ... 20

2.2 Mengajar dan Antisipasi Didaktis ... 22

2.2.1. Pengertian Mengajar ... 22

2.2.2. Prinsip-prinsip Mengajar ... 24

2.2.3. Kendala-kendala Yang Dihadapi Guru Dalam Mengajar Dan Solusinya ... 26

2.2.4. Mengajar Matematika ... 27

(9)

2.4 Model Pembelajaran Kooperatif ... 31

2.4.1. Definisi Pembelajaran Kooperatif ... 31

2.4.2. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif ... 32

2.4.3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ... 32

2.4.4. Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ... 34

2.5 Metode Resitasi ... 35

2.5.1. Pengertian Metode Resitasi ... 35

2.5.2. Penerapan Metode Resitasi ... 37

2.5.3. Kelebihan Dan Kekurangan Metode Resitasi ... 39

2.6 Metode Inkuiri ... 40

2.6.1. Pengertian Metode Inkuiri ... 40

2.6.2. Prinsip-prinsip Penggunaan Metode Inkuiri ... 41

2.6.3. Cara Pelaksanaan Metode Inkuiri ... 42

2.6.4. Penerapan Metode Inkuiri... 43

2.7 Pola Jawaban ... 46

2.8 Bahan Ajar ... 47

2.8.1. Materi Statistika ... 47

2.8.2. Penyajian Materi Statistika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ... 50

2.9 Kerangka Konseptual... 52

2.10 Penelitian Yang Relevan... 53

2.11 Hipotesis Penelitian ... 54

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ... 55

3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 55

3.2.1. Populasi Penelitian... 55

3.2.2. Sampel Penelitian ... 56

3.3 Variabel Penelitian... 56

(10)

x

3.5 Desain Penelitian ... 57

3.6 Prosedur Penelitian ... 57

3.7 Alat Pengumpul Data ... 59

3.7.1. Tes... 59

3.7.2. Wawancara ... 59

3.8 Teknik Analisis data ... 60

3.8.1. Uji Normalitas ... 60

3.8.2. Uji Homogenitas ... 62

3.8.3. Uji Hipotesis ... 63

3.8.4. Pola Jawaban Siswa ... 66

3.8.5. Analisis Kendala Yang Dihadapi Guru ... 67

3.8.6. Pengolahan Data Hasil Wawancara ... 68

3.8.7. Menghitung Ketuntasan Belajar Siswa ... 68

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 69

4.1.1. Pelaksanaan Pretes ... 69

4.1.1.1. Uji Normalitas Data Pretes ... 70

4.1.1.2. Uji Homogenitas Data Pretes ... 70

4.1.2. Perlakuan ... 71

4.1.3. Pelaksanaan Postes ... 71

4.1.3.1. Uji Normalitas Data Postes ... 72

4.1.3.2. Uji Homogenitas Data Postes ... 72

4.1.3.3. Uji Hipotesis Untuk Postes ... 73

4.2. Pola Jawaban Siswa ... 74

4.3. Kendala Dalam Proses Pembelajaran ... 85

4.3.1. Kendala yang dihadap guru dalam pembelajaran di kelas eksperimen 1 ... 85

4.3.2. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran di kelas eksperimen 2 ... 86

(11)

4.5. Kelemahan Dalam Penelitian ... 91

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 92

5.2. Saran ... 93

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Fase-fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ... 33

Tabel 3.1 Desain Penelitian... 57

Tabel 3.2 Pola Jawaban Siswa ... 66

Tabel 4.1 Data Pretes Kelas Eksperimen 1 ... 69

Tabel 4.2 Data Pretes Kelas Eksperimen 2 ... 70

Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Uji Normalitas Data Pretes ... 70

Tabel 4.4 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Data Pretes ... 71

Tabel 4.5 Data Postes Kelas Eksperimen 1 ... 71

Tabel 4.6 Data Postes Kelas Eksperimen 2 ... 72

Tabel 4.7 Ringkasan Hasil Uji Normalitas Data Postes ... 72

Tabel 4.8 Ringkasan HasilUji Homogenitas Data Postes ... 73

Tabel 4.9 Ringkasan Perhitungan Uji Hipotesis Data Postes ... 74

Tabel 4.10 Kriteria Pola Jawaban Siswa ... 74

Tabel 4.11 Ringkasan Pola Jawaban Siswa ... 84

Tabel 4.12 Kelebihan dan Kekurangan Metode Inkuiri ... 88

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Hubungan antara guru, siswa, dan materi pelajaran... 3

Gambar 1.2 Ilustrasi masalah pertama ... 4

Gambar 1.3 Ilustrasi masalah kedua ... 5

Gambar 1.4 Ilustrasi masalah ketiga ... 6

Gambar 2.1 Hubungan antara guru, siswa, dan materi pelajaran... 29

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ... 52

Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian ... 59

Gambar 4.1 Contoh pola jawaban lengkap soal no. 1 ... 76

Gambar 4.2 Contoh pola jawaban tidak lengkap soal no. 1 ... 76

Gambar 4.3 Contoh jawaban yang tidak memiliki pola soal no. 1 ... 77

Gambar 4.4 Contoh pola jawaban lengkap soal no. 2 ... 78

Gambar 4.5 Contoh pola jawaban tidak lengkap soal no. 2 ... 78

Gambar 4.6 Contoh jawaban yang tidak memiliki pola soal no. 2 ... 78

Gambar 4.7 Contoh pola jawaban lengkap soal no. 3 ... 79

Gambar 4.8 Contoh pola jawaban tidak lengkap soal no. 3 ... 79

Gambar 4.9 Contoh jawaban yang tidak memiliki pola soal no. 3 ... 80

Gambar 4.10 Contoh pola jawaban lengkap soal no. 4 ... 81

Gambar 4.11 Contoh pola jawaban tidak lengkap soal no. 4 ... 81

Gambar 4.12 Contoh jawaban yang tidak memiliki pola soal no. 4 ... 81

Gambar 4.13 Contoh pola jawaban lengkap soal no. 5 ... 82

Gambar 4.14 Contoh pola jawaban tidak lengkap soal no. 5 ... 83

Gambar 4.15 Contoh jawaban yang tidak memiliki pola soal no. 5 ... 83

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen 1 .. 98

Lampiran 2. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) I Kelas Eksperimen 1 ... 122

Lampiran 3. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) II Kelas Eksperimen 1 ... 130

Lampiran 4. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) III Kelas Eksperimen 1 .... 133

Lampiran 5. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) IV Kelas Eksperimen 1 .... 138

Lampiran 6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen 2 . 142 Lampiran 7. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) I Kelas Eksperimen 2 ... 162

Lampiran 8. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) II Kelas Eksperimen 2 .... 165

Lampiran 9. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) III Kelas Eksperimen 2 ... 168

Lampiran 10. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) IV Kelas Eksperimen 2 . 170 Lampiran 11. Soal Pretest ... 172

Lampiran 12. Alternatif Penyelesaian Pretest ... 174

Lampiran 13 Pedoman Penskoran Pretest ... 176

Lampiran 14 Kisi-kisi Soal Pretest ... 179

Lampiran 15 Lembar Validitas Soal Pretest ... 180

Lampiran 16 Soal Posttest ... 190

Lampiran 17 Alternatif Penyelesaian Posttest ... 192

Lampiran 18 Pedoman Penskoran Posttest ... 195

Lampiran 19 Kisi-kisi Soal Posttest ... 199

Lampiran 20 Lembar Validitas Soal Posttest ... 200

Lampiran 21 Pedoman Wawancara ... 210

Lampiran 22 Perhitungan Rata-rata Dan Standar Deviasi ... 211

Lampiran 23 Perhitungan Normalitas Data... 221

Lampiran 24 Uji Homogenitas Data Pretes-Postest ... 230

Lampiran 25 Uji Hipotesis ... 233

Lampiran 26 Pola Jawaban Siswa Dan Ketuntasan Belajar... 235

Lampiran 27 Hasil Wawancara Dengan Siswa Kelas Resitasi ... 239

Lampiran 28 Dokumentasi Penelitian ... 240

(15)

Lampiran 30 Tabel Wilayah Luas di Bawah Kurva Normal 0 ke z ... 248

Lampiran 31 Daftar Nilai Persentil Untuk Distribusi t ... 249

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sejalan dengan kemajuan jaman, tentunya pengetahuan semakin

berkembang. Supaya suatu negara bisa lebih maju, maka negara tersebut perlu

memiliki manusia-manusia yang melek teknologi. Untuk keperluan ini tentunya

mereka perlu belajar matematika sekolah terlebih dahulu karena matematika

memegang peranan yang sangat penting bagi perkembangan teknologi itu sendiri.

Tanpa bantuan matematika tidak mungkin terjadi perkembangan teknologi seperti

sekarang ini.

Matematika sekolah mempunyai peranan yang sangat penting baik bagi

siswa supaya punya bekal pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola

pikirnya, warga negara pada umumnya supaya dapat hidup layak, untuk kemajuan

negaranya, dan untuk matematika itu sendiri dalam rangka melestarikan dan

mengembangkannya.

Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan

yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan

terhadap contoh-contoh diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu

konsep. Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan,

terkaan, atau kecenderungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan

yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (generalisasi). Di dalam proses

penalarannya dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun tentu

kesemuanya itu harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa,

sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran

matematika di sekolah.

Mengingat pentingnya matematika dan pembelajaran matematika dalam

kehidupan sehari-hari dan untuk menyiapkan diri dalam menghadapi

perkembangan jaman yang semakin pesat, maka diharapkan pembelajaran

(17)

siswa bahkan ditakuti oleh siswa.

Seperti yang dikutip dari koran sindo

(http://www.koran-sindo.com/node/343563) yang terbit senin, 13 November 2013, berdasarkan data

TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), pembelajaran

matematika di Indonesia berada di peringkat bawah. Hal tersebut dikarenakan

metode pembelajaran kelas-kelas di Indonesia monoton dan membuat bosan.

Metode pembelajaran selama ini masih menerapkan metode pembelajaran

konvensional dimana siswa lebih banyak menerima semua informasi dari guru

melalui ceramah. Selain pembelajaran yang monoton dan membosankan,

kurangnya pemahaman konsep pada siswa menyebabkan siswa merasa

matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipelajari.

Dalam proses pembelajaran yang diterapkan saat ini kebanyakan masih

belum menunjukkan hasil yang memuaskan, kebanyakan siswa masih berperan

hanya sebagai penerima informasi, dan hal ini berdampak negatif terhadap daya

serap siswa yang ternyata masih tetap lemah. Di samping itu, masih ada kenyataan

yang menunjukkan bahwa pendidikan kita dewasa ini lebih memaksakan kepada peserta didik, dan lebih melaksanakan informasi tekstual dari pada

mengembangkan kemampuan membudayakan belajar dan membangun individu

belajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan pengendali dari aktivitas

siswa dalam belajarnya. Cara seperti ini, akan menghambat kreativitas siswa

dalam melakukan kegiatan matematika sehingga kegiatan pembelajaran dan

evaluasi menjadi kurang efektif, kurang efisien, kurang menantang, dan kurang

dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk itu seorang guru harus

menerapkan berbagai macam metode, strategi, pendekatan, maupun model-model

pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.

Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses

penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima

pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah

komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan

adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya

(18)

3

Seperti yang dikutip dari Wulandari (dalam

http://ulanzz-andromeda.blogspot.com/2012/01/didactical-design-research.html) dua aspek

mendasar dalam pembelajaran matematika sebagaimana dikemukakan oleh

Suryadi yaitu hubungan siswa-materi dan hubungan guru-siswa ternyata dapat

menciptakan suatu situasi didaktis maupun pedagogis yang tidak sederhana

bahkan seringkali terjadi sangat kompleks. Hubungan Guru-Siswa-Materi

digambarkan oleh Kansanen sebagai sebuah segitiga didaktik yang

menggambarkan hubungan didaktis (HD) antara siswa dan materi, serta hubungan

pedagogis (HP) antara guru dan siswa. Ilustrasi segitiga didaktik dari Kansanen

tersebut belum memuat hubungan guru-materi dalam konteks pembelajaran.

Dalam pandangan Suryadi, dkk (2011), hubungan didaktis dan pedagogis

tidak bisa dipandang secara parsial melainkan perlu dipahami secara utuh karena

pada kenyataannya kedua hubungan tersebut dapat terjadi secara bersamaan.

Dengan demikian, seorang guru pada saat merancang sebuah situasi didaktis,

sekaligus juga perlu memikirkan prediksi respons siswa atas situasi tersebut serta

antisipasinya sehingga tercipta situasi didaktis baru. Antisipasi tersebut tidak

hanya menyangkut hubungan siswa-materi, akan tetapi juga hubungan guru-siswa baik secara individu maupun kelompok atau kelas. Atas dasar hal tersebut, maka

pada segitiga didaktis Kansanen perlu ditambahkan suatu hubungan antisipatif

guru-materi yang selanjutnya bisa disebut sebagai Antisipasi Didaktis dan

Pedagogis (ADP) sebagaimana diilustrasikan pada gambar segitiga didaktis

Kansanen yang dimodifikasi berikut ini

(19)

HD : Hubungan Didaktis

HP : Hubungan Pedagogis

ADP : Antisipasi Didaktis dan Pedagogis

Untuk menggambarkan penjelasan di atas dalam situasi nyata, berikut

akan diilustrasikan sebuah kasus pembelajaran matematika di SMP dengan materi

ajar faktorisasi. Berdasarkan skenario yang dirancang guru, pembelajaran diawali

sajian masalah sebagai berikut. Tersedia tiga gelas masing-masing berisi uang Rp.

1000,00 dan tiga gelas lainnya masing-masing berisi uang Rp. 5000,00. Siswa

diminta menemukan sedikitnya tiga cara untuk menentukan nilai total uang yang

ada dalam gelas. Untuk membantu proses berpikir siswa, guru menyajikan

ilustrasi berupa gambar 1.2 yang cukup terstruktur sehingga situasi didaktis yang

dirancang mampu mendorong proses berpikir kearah yang diharapkan.

Gambar 1.2 Ilustrasi Masalah Pertama

Dengan bantuan ilustrasi ini, guru memperkirakan akan ada tiga macam

respon siswa yaitu: (1) 1000 + 1000 + 1000 + 5000 + 5000 + 5000, (2) 3 × 1000 +

3 × 5000, dan (3) 3(1000 + 5000) atau 3 × (6000). Walaupun ketiga macam

respon yang diperkirakan ternyata semuanya muncul, akan tetapi siswa ternyata

memiliki pikiran berbeda dengan perkiraan guru yaitu 6000 + 6000 + 6000 atau 3

× 6000. Prediksi yang diajukan guru tentu saja dipengaruhi materi yang diajarkan

yaitu faktorisasi, sehingga dapat dipahami apabila respon yang diharapkan juga

dikaitkan dengan konsep faktorisasi suku aljabar.Adanya perbedaan antara

perkiraan guru terhadap respon siswa dengan respon dari siswa itu sendiri,

seringkali terjadi dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, keberadaan

respon siswa terahir, walaupun tidak terlalu relevan, tidak perlu dipandang

sebagai masalah. Walaupun guru tetap menghargai setiap respon siswa termasuk

yang kurang relevan bahkan mungkin salah, akan tetapi dia perlu memilih respon

(20)

5

Pada kasus pembelajaran ini, guru mencoba memanfaatkan tiga macam

respon sebagaimana yang diperkirakan semula. Melalui diskusi kelas, selanjutnya

diajukan sejumlah pertanyaan sehingga siswa berusaha menjelaskan hubungan

antara ketiga representasi matematis tersebut. Berdasarkan penjelasan yang

dikemukakan siswa, faktor 3 pada representasikedua diperoleh dari banyaknya

angka 1000 dan 5000 yaitu masing-masing tiga buah. Karena masing-masing suku

pada representasi kedua mengandung faktor yang sama yaitu 3, maka representasi

tersebut dapat disederhanakan menjadi representasi ketiga. Hasil diskusi ini

sekilas menunjukkan adanya pemahaman siswa mengenai konsep faktorisasi suku

aljabar. Namun demikian, dari masalah serupa yang diajukan berikutnya oleh

guru, ternyata masih ada sejumlah siswa yang masih menggunakan representasi

pertama untuk memperoleh nilai total uang yang ada dalam gelas. Masalah

tersebut adalah sebagai berikut. Tersedia dua gelas masing-masing berisi uang Rp.

1000,00 dan dua gelas lainnya masing-masing berisi uang Rp. 5000,00. Siswa

diminta menemukan dua cara untuk menentukan nilai total uang yang ada dalam

gelas. Seperti pada soal pertama,guru menyajikan ilustrasi (Gambar 1.3) yang

serupa seperti gambar sebelumnya.

Gambar 1.3 Ilustrasi Masalah kedua

Melalui penyajian soal kedua ini, guru mengharapkan akan muncul dua

macam representasi yaitu: (1) 2 × 1000 + 2 × 5000, dan (2) 2 × (1000 + 5000)

atau 2 × 6000. Namun demikian, dari respon yang diberikan siswa ternyata tidak

hanya kedua representasi tersebut yang muncul, akan tetapi masih ada sejumlah

siswa yang menggunakan representasi pertama seperti pada soal sebelumnya

untuk menentukan nilai total uang yang ada dalam gelas. Ini menunjukkan bahwa

situasi didaktis yang dirancang guru tidak serta merta bisa membuat siswa belajar.

Untuk membantu proses berpikir siswa agar lebih fokus pada

penggunaan faktor suku aljabar sekaligus memperkenalkan konsep variabel,

(21)

masing-besarnya. Selain itu, terdapat tiga buah gelas lainnya yang masing-masing berisi

uang yang besarnya sama akan tetapi juga tidak diketahui berapa besarnya. Jika

banyaknyauang pada kelompok gelas pertama dan kedua tidak sama, berapakah

nilai total uang yang ada dalam enam gelas tersebut? Temukan tiga cara berbeda

untuk menentukan nilai total uang yang ada dalam gelas. Untuk membantu proses

berpikir siswa, guru menyediakan ilustrasi berupa gambar gelas yang tidak terlihat

isinya disusun dalam dua kelompok (Gambar 1.4).

Gambar 1.4 Ilustrasi Masalah Ketiga

Untuk soal ketiga ini, terdapat tiga kemungkinan yang diperkirakan guru

akan muncul sebagai respon siswa yaitu: (1) x + x + x + y + y +y, (2) 3x+ 3y, dan

(3) 3(x + y). Dari respon siswa yang teramati, ternyata penggunaan variabel

sebagaimana yang diperkiraan guru tidak langsung muncul. Respon yang muncul

dari sebagian besar siswa adalah representasi model kedua tetapi tidak

menggunakan variabel, melainkan dengan cara sebagai berikut:

(1) 3 × banyaknya uang dalam gelas putih + 3 × banyaknya uang dalam gelas

hitam.

(2) 3 + 3

Walaupun respon atas masalah terahir ini tidak sepenuhnya sesuai

dengan prediksi guru, akan tetapi melalui diskusi kelas dengan cara: (1)

mengaitkan respon terakhir ini dengan representasi matematis yang diperoleh

pada soal pertama dan kedua, dan (2) mempertanyakan kemungkinan penggantian

kalimat panjang pada representasi pertama atau lambang gelas pada representasi

kedua dengan huruf tertentu misalnya a, b, c atau x, y, z, maka pada akhirnya

siswa bisa memahami bahwa solusi atas masalah yang diajukan bisa

(22)

7

Setelah siswa diperkenalkan dengan konsep variabel, selanjutnya guru

menyajikan soal keempat yaitu sebagai berikut. Terdapat a buah gelas yang

masing masing berisi uang sebesar x rupiah, dan terdapat a buah gelas yang

masing-masing berisi uang sebesar y rupiah. Tentukan dua cara menghitung total

nilai uang yang ada dalam seluruh gelas. Walaupun masih ada siswa yang belum

memahami inti materi yang dipelajari melalui aktivitas belajar sebagaimana yang

sudah dijelaskan, akan tetapi melalui interaktivitas yang diciptakan guru, pada

ahirnya mereka bisa sampai pada representasi matematis yang diharapkan yaitu:

(1) ax + ay dan (2) a(x+ y).

Ichal (dalam

http://ichaledutech.blogspot.com/2013/03/pengertian-belajar-pengertian.html) mengemukakan kunci pokok pembelajaran ada pada guru

(pengajar), tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif

sedang siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang

sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh

keaktifan guru sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu

hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang

aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah,

maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut

keaktifan guru dan siswa.

Melihat hal tersebut, maka perlu diadakan suatu perubahan dalam

pembelajaran matematika yang tidak monoton, artinya pembelajaran tidak hanya

mengandalkan guru untuk mentransfer semua informasi yang dibutuhkan siswa,

tetapi juga melibatkan siswa secara aktif untuk mencari dan menemukan sendiri

konsep matematika itu sendiri.

Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru harus memiliki metode

mengajar yang dapat memotivasi siswa. Khususnya dalam pembelajaran

matematika, banyak siswa yang merasa kesulitan menghadapi soal-soal yang

membutuhkan ketelitian dan kemampuan dalam mengimplementasikan

rumus-rumus yang ditentukan. Fenomena ini terjadi hampir pada setiap kelas

matematika. Hal ini juga terjadi pada materi statistika yang membutuhkan

ketelitian dan kemampuan dalam mengimplementasikan rumus-rumus yang

(23)

disebabkan karena siswa hanya mendapatkan pengetahuan sebatas yang diberikan

guru dan kurang berlatih dalam mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan

statistika di rumah.

Padahal statistika merupakan salah satu cabang ilmu yang penting untuk

dipelajari karena memiliki banyak manfaat dalam kehidupan. Seperti yang

dikemukakan Wulansarisumihadi (2009) statistika banyak diterapkan dalam

berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi

maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang

bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga digunakan dalam pemerintahan

untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur

yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah

prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan

umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di

bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun

kecerdasan buatan.

Berdasarkan hasil observasi ke SMK TI Ar Rahman Medan melalui wawancara dengan salah seorang guru matematika yaitu bapak M. Daliani

diketahui bahwa hasil belajar matematika siswa kelas XI di SMK TI Ar Rahman

Medan yang belajar statistika pada tahun sebelumnya masih sangat rendah. Dari

semua siswa, yang mencapai ketuntasan hasil belajar hanya 40%, berarti ada 60%

lagi yang belum tuntas.

Selain hasil belajar yang masih rendah, kemampuan siswa dalam

menyelesaikan soal-soal berbentuk cerita juga sangat rendah. Menurut bapak

Daliani siswa bisa menerapkan rumus tetapi kesulitan dalam menyelesaikan

soal-soal berbentuk cerita. Hal ini menandakan bahwa tingkat kemampuan kognitif

siswa masih pada tingkat pemahaman. Padahal untuk tingkat sekolah menengah

atas seharusnya siswa sudah menguasai sekurang-kurangnya sampai tingkat

analisis.

Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya metode pembelajaran yang

dilakukan guru dan juga metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru.

(24)

9

yang menuntut siswa untuk aktif. Selain itu, guru masih menerapkan metode

pembelajaran konvensional, dimana guru masih memberikan semua informasi

kepada siswa dan tugas siswa hanya menerima informasi yang diberikan guru. Hal

ini tentu menyebabkan kemampuan analisis siswa kurang berkembang.

Menurut Bapak Daliani, beliau pernah menerapkan metode inkuiri dan

juga metode resitasi dalam pembelajaran matematika ketika K-13 masih

dilaksanakan di sekolah tersebut dan hasil yang diperoleh ternyata hasil belajar

siswa meningkat. Akan tetapi penggunaan metode ceramah kembali diterapkan

karena kurikulum kembali berubah menjadi KTSP dan guru merasa kesulitan

dalam mengontrol waktu pembelajaran.

Tidak semua metode pembelajaran dapat diterapkan dalam suatu materi

pelajaran matematika. Untuk itu seorang guru harus dapat menentukan metode

yang sesuai dengan materi yang diajarkan sehingga tujuan pembelajaran dapat

benar-benar tercapai. Sayangnya kebanyakan guru masih menerapkan metode

yang sama untuk setiap materi pelajaran matematika. Hal inilah yang

menyebabkan masih belum tercapainya tujuan pembelajaran matematika itu

sendiri. Masalah ini juga terjadi di SMK Ar-Rahman, dimana guru masih menerapkan metode yang sama untuk setiap materi pelajaran matematika.

Pernah diterapkannya metode inkuiri dan metode resitasi pada

pembelajaran matematika merupakan hal yang baik dalam perkembangan

pembelajaran di sekolah tersebut. Akan tetapi untuk materi statistika belum tentu

kedua metode tersebut sesuai. Walaupun kedua metode tersebut pernah diterapkan

dan diperoleh hasil bahwa hasil belajar siswa meningkat, tetapi guru tidak

mengetahui mana metode yang lebih baik digunakan dalam pembelajaran

statistika.

Pada proses pembelajaran yang dilakukan di SMK Ar-Rahman, siswa

hanya berperan sebagai informasi dan solusi dari masalah datang dari guru, maka

proses penyelesaian pemecahan masalah sangat tergantung dari guru itu sendiri

tidak terbentuk dari jawaban siswa yang bervariasi. Sehingga penyelesaian

masalah yang diberikan sangat terbatas, karena yang berpikir hanya guru itu

sendiri dan tidak melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Guru kurang

(25)

dari soal yang dibuat guru akibatnya jawaban siswa belum bervariasi dan kurang

sistematis.

Proses jawaban yang dibuat siswa sangat penting di dalam proses

pembelajaran. Agar jawaban yang dibuat siswa lebih bervariasi dan sistematis

maka guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengaktifkan

siswa menjawab soal lebih sistematis. Dengan memberi soal-soal kontekstual

pembelajaran lebih bermakna dan siswa lebih mudah memahami maksud dari soal

yang diberikan karena soal yang diberikan dihubungkan secara nyata terhadap

konteks kehidupan sehari-hari siswa.

Ketika siswa merasa kesulitan, biasanya siswa menjadi bosan dan malas

mempelajari mata pelajaran matematika. Keadaan ini akan menghambat

penyampaian materi pelajaran. Hal ini akan berdampak pada rendahnya nilai

matematika siswa dan pencapaian tujuan belajar.

Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan konsep scaffolding.

Menurut Trianto (2009: 39):

Scaffolding sebagai pemberian bantuan kepada anak selama tahap-tahap awal perkembangannya dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah anak dapat melakukannya.

Selain menggunakan konsep scaffolding, pembelajaran secara

berkelompok juga dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan yang

dihadapinya dalam pembelajaran matematika. Vygostky dalam Trianto (2009 39)

menyatakan bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam

percakapan dan kerjasama antar-individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi

itu terserap ke dalam individu tersebut.

Dengan belajar berkelompok, siswa yang mampu, dapat mengajari

temannya yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Model pembelajaran

yang dapat digunakan untuk pembelajaran secara berkelompok ini salah satunya

adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement

(26)

11

Trianto (2009:68) dalam bukunya Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, Implementasinya pada Kurikulum Tingkat satuan

Pendidikan (KTSP) menyatakan:

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok-kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.

Adapun fase-fase pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Trianto

(2009:71) adalah:

1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, 2) Menyajikan/ menyampaikan informasi, 3) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar, 4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar, 5) Evaluasi, 6) Memberikan penghargaan.

Oleh karena itu, sebagai calon guru, peneliti ingin melakukan penelitian

yang dapat membantu guru dan siswa dalam mempermudah proses belajar

mengajar matematika. Dalam proses mengajar, guru dapat menerapkan beberapa

metode yang dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran.

Yamin (2013:8) mengatakan:

Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional, metode instruksional berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metode instruksional sesuai digunakan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas peneliti

merasa perlu untuk mengadakan suatu penelitian yaitu menggunakan metode

inkuiri dan resitasi (pemberian tugas) untuk meningkatkan hasil belajar siswa

Djamarah dan Aswan Zain (2006:85) mengatakan bahwa “metode

resitasi (pemberian tugas) adalah metode penyajian bahan dimana guru

memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar”.

Pemberian tugas dalam belajar sangat penting peranannya dalam

pencapaian hasil belajar. Pemberian tugas kepada siswa lebih banyak mengacu

kepada pengembangan sikap mandiri, karena dalam proses kegiatan tersebut lebih

(27)

informasi sendiri, mengelola, mempergunakan serta mengkomunikasikan apa

yang ia peroleh tersebut.

Metode pemberian tugas sering diartikan sebagai pekerjaan rumah, akan

tetapi sebenarnya metode pemberian tugas mempunyai ruang lingkup yang lebih

luas dibandingkan dengan pekerjaan rumah. Metode resitasi atau pemberian tugas

merupakan metode mengajar yang menuntut agar siswa dapat berperan aktif

dalam kegiatan belajar mengajar sehingga ia mampu menyelesaikan tugas-tugas

yang diberikan oleh guru untuk dikerjakan di luar jam pelajaran.

Trianto (2009:166) menyatakan bahwa

Strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Menurut Jacobsen (dalam Yamin, 2013:73) penerapan metode inkuiri

akan menghasilkan peserta didik yang mampu memecahkan masalah-masalah dan

membangun hipotesis-hipotesis yang akan mereka jawab dengan data hasil

penelitian mereka. Langkah pertama dalam merencanakan aktivitas-aktivitas

inkuiri adalah mengidentifikasi masalah. Langkah kedua dalam metode inkuiri

adalah mengumpulkan data. Langkah ketiga adalah analisis data, analisis data ini

adalah menguji hipotesis diterima atau tidak. Jika hipotesis mereka tidak diterima,

mereka perlu memperbaiki lagi proses dan tindakannya.

Dalam pembelajaran inkuiri/ penemuan, siswa didorong untuk belajar

sebagian besar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan

prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Dalam metode inkuiri siswa membangun sendiri

pengetahuannya, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi mencari

dan membangun sendiri pengetahuannya melalui pemecahan masalah-masalah

yang diberikan. Dengan belajar melalui metode inkuiri, pemahaman konsep yang

didapat siswa menjadi lebih bermakna karena siswa menemukan sendiri konsep

dari pembelajaran tersebut. Dalam hal ini dapat terlihat bahwa metode inkuiri

lebih baik daripada metode resitasi.

Baik metode inkuiri maupun metode resitasi menuntut keaktifan siswa

(28)

13

pembelajaran tidak hanya berpusat kepada guru, melainkan juga berpusat pada

siswa. Oleh sebab itu penggunaan metode inkuiri dan metode resitasi diharapkan

mampu mengubah model pembelajaran yang monoton menjadi pembelajaran

yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Dari uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian eksperimen

untuk melihat metode pembelajaran yang lebih cocok digunakan untuk materi

statistika. Adapun judul penelitian yang akan penulis lakukan adalah “Perbedaan

Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Menggunakan Metode Resitasi dan Metode Inkuiri pada Materi Statistika SMK Medan T. A. 2014/2015”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas,

diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut:

1. Hasil belajar matematika siswa masih rendah dan belum sesuai dengan yang

diharapkan.

2. Aktivitas siswa selama ini cenderung pasif.

3. Siswa masih mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan rumus-rumus statistika dalam pembelajaran matematika.

4. Metode yang digunakan oleh guru masih monoton dan kurang mengajak

siswa untuk aktif dalam pembelajaran.

5. Guru masih menerapkan metode pembelajaran yang sama untuk setiap materi

pelajaran matematika.

6. Guru tidak mengetahui metode mana yang lebih baik digunakan dalam

pembelajaran stattistika antara metode inkuiri atau metode resitasi.

1.3. Batasan Masalah

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik dan terarah maka

masalah dalam penelitian ini dibatasi yaitu perbedaan hasil belajar matematika

siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

menggunakan metode resitasi dan metode inkuiri di kelas X SMK TI Ar-Rahman

(29)

Adapun yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model

pembelajaran kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode inkuiri

lebih baik dibandingkan dengan yang diajar menggunakan metode resitasi di

kelas X SMK TI Ar-Rahman Medan?

2. Bagaimana pola jawaban siswa yang diajar dengan model pembelajaran

kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode resitasi dan metode

inkuiri di kelas X SMK TI Ar-Rahman Medan?

3. Apa kendala yang dihadapi guru saat mengajar dengan model pembelajaran

kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode resitasi dan inkuiri

dalam proses pembelajaran?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan

model pembelajaran kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode

inkuiri lebih baik dibandingkan dengan yang diajar menggunakan metode resitasi di kelas X SMK TI Ar-Rahman Medan.

2. Untuk mengetahui bagaimana pola jawaban siswa yang diajar dengan model

pembelajaran kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode resitasi

dan metode inkuiri di kelas X SMK TI Ar-Rahman Medan.

3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru saat mengajar dengan model

pembelajaran kooperatif learning tipe STAD menggunakan metode resitasi

dan inkuiri dalam proses pembelajaran.

1.6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi siswa, melalui model pembelajaran kooperatif learning tipe STAD yang

menggunakan metode pembelajaran inkuiri dan metode resitasi ini dapat

membantu siswa meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan

(30)

15

2. Bagi pendidik, dapat memperluas wawasan pengetahuan mengenai model dan

metode pengajaran dalam membantu siswa guna meningkatkan hasil belajar

peserta didik.

3. Bagi sekolah, menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan

inovasi pembelajaran matematika disekolah.

4. Bagi peneliti, sebagai bahan informasi sekaligus sebagai bahan pegangan bagi

peneliti dalam menjalankan tugas pengajaran sebagai calon tenaga pengajar di

masa yang akan datang.

5. Secara teoritis hasil penelitian sebagai referensi bagi peneliti lainnya yang

bermaksud mengadakan penelitian pada permasalahan yang sama atau

(31)

92 kesimpulan sebagai berikut :

1. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode inkuiri

lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode

resitasi pada pokok bahasan statistika kelas X TKJ SMK TI Ar-Rahman

Medan dengan rata-rata hasil postes kelas eksperimen 1 memperoleh nilai

rata-rata 66 dengan jumlah siswa yang tuntas yaitu 15 siswa, sedangkan

hasil postes kelas eksperimen 2 memperoleh nilai rata-rata postes 47,11

dengan jumlah siswa yang tuntas yaitu 9 siswa.

2. Pola jawaban siswa yang diajar menggunakan metode inkuiri lebih baik

daripada pola jawaban siswa yang diajar dengan menggunakan metode

resitasi. Dapat dilihat dari presentasi pola jawaban lengkap yang diperoleh

kelas eksperimen 1 untuk soal no 1 sebesar 80 % sedangkan kelas

eksperimen 2 sebesar 58,33%, untuk soal no 2 kelas eksperimen 1

memperoleh presentasi pola jawaban lengkap sebesar 73,33% sedangkan

kelas eksperimen 2 sebesar 38,89%, untuk soal no 3 kelas eksperimen 1

memperoleh presentasi pola jawaban lengkap sebesar 70% sedangkan

kelas eksperimen 2 sebesar 19,44%, untuk soal no 4 kelas eksperimen 1

memperoleh presentasi pola jawaban lengkap sebesar 76,67% sedangkan

kelas eksperimen 2 sebesar 77,78%, dan untuk soal no 5 kelas eksperimen

1 memperoleh presentasi pola jawaban lengkap sebesar 10% sedangkan

kelas eksperimen 2 sebesar 5,56%.

3. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran dengan menggunakan

model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan metode inkuiri adalah:  Siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe

STAD sehingga terjadi keributan ketika akan dibentuk kelompok.

Banyak siswa yang memilih-milih anggota kelompoknya dan tidak

(32)

93

 Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan lembar

aktivitas siswa, sehingga dalam pengerjaan LAS siswa banyak bertanya pada guru.

 Siswa tidak membaca langkah-langkah pengerjaan pada LAS, siswa

hanya terpaku pada soal di LAS sehingga guru harus mengarahkan

lebih keras agar siswa mau membaca langkah-langkah pengerjaan

LAS.

 Siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran inkuiri sehingga lebih banyak bertanya kepada guru. Untuk itu guru harus membimbing

siswa agar dapat menemukan konsep yang benar. Hal ini menyebabkan

guru sedikit kerepotan dalam mengontrol kelas.

 Siswa masih malu-malu dalam mengungkapkan pendapat ketika

presentasi.

4. Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi kendala yang

dihadapi guru tidak jauh berbeda dengan kendala yang dihadapi pada kelas

yang menggunakan metode inkuiri hanya saja pada kelas yang

menggunakan metode pembelajaran resitasi guru kesulitan untuk

mengontrol pengerjaan tugas yang diberikan kepada siswa terutama tugas

yang diberikan di rumah (pekerjaan rumah).

5.2 Saran

1. Kepada guru mata pelajaran matematika pada materi statistika dapat

menggunakan metode pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan

pendalaman konsep siswa terhadap materi statistika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Kepada peneliti selanjutnya agar memberikan pengarahan terlebih dahulu

sebelum pembelajaran dimulai kepada setiap kelompok untuk saling

berdiskusi, mengeluarkan pendapat, tukar pikiran serta menyatukan

pikiran-pikiran atau ide setiap anggota kelompok untuk menyelesaikan

(33)

3. Kepada peneliti selanjutnya agar lebih memotivasi siswa agar tidak

malu-malu dalam melakukan presentasi serta membantu kelompok yang

mengalami kesulitan dalam melakukan presentasi dan memotivasi siswa

untuk berani mengelaurkan pendapat dan bertanya dengan memberikan

penghargaan berupa pujian kepada siswa yang berani mengeluarkan

pendapat dan bertanya.

4. Kepada guru ataupun peneliti selanjutnya sebaiknya terlebih dahulu

mengarahkan siswa untuk membaca langkah-langkah pada lembar

kegiatan siswa sehingga pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang

diharapkan.

5. Kepada guru dan peneliti selanjutnya agar meminta siswa secara acak

untuk menuliskan pekerjaan rumahnya di depan kelas tanpa melihat hasil

pekerjaannya sehingga dapat meminimalisir kemungkinan siswa untuk

mencontek.

6. Kepada peneliti selanjutnya untuk menyiapkan lembar observasi ataupun

video terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat

diketahui dengan benar bahwa pembelajaran yang dilakukan sudah baik

Figur

Gambar 1.1. Hubungan antara guru, siswa dan materi pembelajaran

Gambar 1.1.

Hubungan antara guru, siswa dan materi pembelajaran p.18
Gambar 1.2 Ilustrasi Masalah Pertama

Gambar 1.2

Ilustrasi Masalah Pertama p.19
Gambar 1.3 Ilustrasi Masalah kedua

Gambar 1.3

Ilustrasi Masalah kedua p.20
Gambar 1.4 Ilustrasi Masalah Ketiga

Gambar 1.4

Ilustrasi Masalah Ketiga p.21

Referensi

Memperbarui...