• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kandungan Protein dalam Ransum terhadap Karkas Entok (Cairina moschata)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Kandungan Protein dalam Ransum terhadap Karkas Entok (Cairina moschata)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KANDUNGAN PROTEIN DALAM

KARKAS

ENTOK

moschata)

I.A.K.

Balai

24-05-2000; 27-03-2001)

ABSTRACT

A Study was conducted to find out the effect of protein content on the carcass of muscovy ducks. One hundred and sixty DOD, consisted of 80 males and females, all DOD (0-3 weeks) were given starter layer. The treatments given growing period

old) consisted of two protein level (12 and 15 x 2 sexes (male and female), with 5 replicates each of 4 DOD was allocated randomly in litter cage of 1 x 1 m Iso caloric ration (2600 was given applied for all treatments. The finisher period

all muscovy duck was given some ration (12 protein and was applied for all treatments. The experimental design for this study was Randomized Block Design, fola factorial (2 x 2 ). The result showed that the male muscovy was significantly ( P ) higher than female in all parameters measured, except for the carcass persentage. Muscovy duck received with 15 protein were not significantly different than that which received 12 protein in a11 parameters measured, except breast weight (P and abdominal fat (P There was no interaction between protein ration and sex that affect all parameters measured, except male muscovy duck received 15 protein increased breast weight, but decreased abdominal fat.

Key words : muscovy duck, ration, carcass.

PENDAHULUAN

umum telah diketahui bahwa susunan yang sempurna dengan kandungan zat-zat nutrisi yang akan memberikan hasil opti- mal. Mengingat biaya merupakan biaya tertinggi, yaitu 60-70% dari komponen biaya duksi, maka diusahakan

mungkin agar hasil yang dicapai optimal. Dari zat-zat nutrisi yang diperlukan unggas, protein merupakan salah satu zat nutrisi yang nya relatif mahal. Berdasarkan alasan tersebut, maka pemberian protein yang tepat sesuai dengan yang

perlu diketahui agar dapat dibuat yang ekonomis dan diperoleh hasil yang optimal.

untuk entok tidak perlu mengandung energi yang seperti untuk ayam. Tingkat gi 2500 kkal cukup untuk menunjang pertumbuhan yang maksimal (Leclercq

Selanjutnya et (1986)

dasikan kandungan protein untuk entok pada periode grower (3-6 mingu) dan

-

pada periode finisher (di 6 minggu), bila kandungan energinya 2600 kkal EM/ kg.

Tujuan pemeliharaan entok adalah untuk produksi daging (Poultry International, 1982; Stevens Sauveur, di Taiwan di samping daging juga untuk produksi telur (Tai, karena entok adalah ternak unggas yang dapat

daging dalam waktu relatif singkat dibandingkan dengan ternak

Penelitian ini mempelajari kandungan protein yang berbeda pada

grower terhadap penampilan karkas entok jantan dan betina.

MATERI DAN METODA

Sebanyak 160 ekor anak entok yang terdiri 80 ekor jantan dan ekor betina 3 minggu digunakan materi penelitian. Anak entok

diperoleh dari hasil penetasan sebanyak 5 angkatan. Anak entok yang baru

dipelihara sampai umur 3 minggu. Pakan yang diberikan adalah pakan starter yang dipergunakan untuk ayam ras petelur. Pada umur 3 minggu setiap 4 ekor anak entok ditempatkan secara acak di dalam kandang litter yang masing-masing berukuran 1 x m

Perlakuan pakan yang diberikan adalah 2 level kandungan protein (15% 12%) pada

grower (3

-

6 minggu), yang diberikan pada entok jantan dan betina, dengan kandungan energi

dibuat sama, yaitu 2600 kkal

Selanjutnya pada periode finisher (umur 6

-

12 minggu) semua entok diberi pakan yang sama, yaitu

12% protein dan 2600 kkal

(2)

dapur, dan premix A. Komposisi entok 12 minggu. Pada penelitian dapat pada 1. sebanyak 2 ekor entok dari setiap satuan penelitian Rancangan yang digunakan adalah Acak dipotong untuk dianalisis karkas. Data dianalisis Kelompok dengan pola faktorial. Perbedaan dengan apabila berbeda nyata yang terdiri 5 angkatan dijadikan seba- dilanjutkan dengan uji Least Different gai kelompok. Penelitian dilakukan sampai dengan (LSD) ( Steel 1980).

1. Kandungan grower.

**) perhitungan Uraian

Protein Kasar Serat Kasar (% )

(%)

P (%)

Lysin (%) **) (%) **)

Energi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karkas, komponen karkas dan lemak abdomen. Pada 2 terlihat bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan dengan jenis kelamin terhadap bobot karkas dan persentase karkas. Rataan bobot dan persentase bobot karkas entok yang mendapat (15% protein) tidak berbeda nyata dibandingkan dengan yang mendapat (12% protein). Bobot karkas entok jantan lebih tinggi dibandingkan dengan betina (P Namun, persentase bobot karkasnya tidak berbeda nyata.

Rataan bobot komponen karkas (punggung, sayap dan pada entok yang mendapat

tidak berbeda nyata dibandingkan dengan yang mendapat Tidak terdapat interaksi yang nyata yang disebabkan oleh perlakuan yang diberikan terhadap bobot ketiga komponen karkas tersebut, akan tetapi pada pengamatan bobot dada terlihat ada interaksi yang nyata

demikian juga pada pengamatan bobot lemak abdomen interaksinya nyata seperti terlihat pada 3 4.

*) Laboratorium Balai Penelitian Ternak Ciawi,

Grower-15 Lab.*)

2608

Pada 3 tampak bahwa penu- kandungan protein dalam grower dari 15% menjadi menyebabkan penurunan bobot dada pada entok jantan, akan tetapi pada entok betina tidak demikian.

Berbeda dengan bobot dada, pada pengamatan bobot lemak abdomen terlihat yang

yaitu penurunan kamdungan protein dalam

grower dari 15% menjadi menyebabkan peningkatan bobot lemak abdomen pada jantan, sedangkan pada betina tidak demikian.

Grower-12 Lab.*)

2619

Kepala, leher dan kaki.

Tidak terdapat interaksi antara kandungan protein yang berbeda dalam grower dengan

kelamin terhadap bobot kepala, leher dan Rataan bobot kepala, leher dan kaki pada entok yang mendapat tidak berbeda nyata di- bandingkan dengan yang mendapat

(3)

Med. Pet. Vol. 24 No. 1

2. karkas, komponen karkas dan organ pada entok jantan dan betina yang mendapat yang berbeda.

Parameter

-

Karkas, Komponen karkas lemak abdomen

-

(g)

1) yang berbeda pada yang sama menunjukkan berbeda nyata (P

-

Sayap (g)

-

abdomen (g)

3. Pengaruh kandungan protein yang berbeda dalam grower terhadap bobot dada entok (gram).

kelamin Kandungan protein

12% 15%

Betina

4. Pengaruh kandungan protein yang berbeda dalam grower terhadap bobot lemak abdomen Betina

kelamin Kandungan protein

Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata J

I - I

(4)

Organ dalam rempela dan

Tidak terdapat interaksi antara kandungan protein yang berbeda dalam grower dengan jenis kelamin terhadap organ dalam rempela dan Rataan bobot rempela dan

panjang pada entok yang mendapat G- 15 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan

akan tetapi bobot rempela, serta panjang pada entok jantan lebih tinggi

dibandingkan dengan betina.

Hasil

pengamatan seperti yang pada

2 memperlihatkan bahwa entok jantan berbeda nyata dibandingkan dengan betina. Hal ini sejalan dengan pernyataan Leclercq Camille bahwa pada entok terdapat per- bedaan ukuran tubuh yang mencolok antara jantan dan betina. Pada umur 10 entok betina beratnya 60% dibandingkan dengan jantan. Hal juga ditemukan pada entok seperti telah

oleh et (1984); et dan

protein yang berbeda dalam grower, yaitu 15% dan tidak menyebab- kan perbedaan yang nyata terhadap semua para- meter yang diamati, kecuali pada bobot dada dan bobot lemak abdomen. Hal itu berarti kandungan protein 12% dalam grower untuk entok sudah mencukupi untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.

yang nyata pada pengamatan bobot dada menunjukkan bahwa per- kandungan protein dalam grower menyebabkan respon yang berbeda pada entok jantan dan betina 3). Daging bagian dada adalah yang paling dibanding pada bagian (Iskandar et Protein yang terdapat dalam akan untuk pem- bentukan daging. Pada entok betina peningkatan dalam grower dari 12% menjadi 15% tidak menyebabkan perbedaan terhadap bobot dada. Jadi berarti pada entok betina kandungan protein 12% dalam grower sudah cukup untuk pembentukan daging dada. Akan tetapi pada entok jantan tidak demikian. Peningkatan kan- protein dalam grower dari 12% menjadi 15% menyebabkan bobot dada lebih tinggi. Hal ini berarti kebutuhan protein pada entok jantan berbeda dengan bahwa kandungan protein dalam grower 12% masih belum mencukupi untuk daging dada yang optimal.

Hasil

pengamatan sejalan dengan pendapat Leclercq & bahwa

kandungan bagi entok jantan lebih tinggi dibandingkan dengan dengan betina. Leclercq Camille mendapatkan bahwa peningkatan protein dari menjadi menyebab- peningkatan bobot daging dada 13

-

16% demikian juga Wu Reddy et al. (1981) dan Pan et al. (1981) melaporkan bahwa kandungan lebih tinggi menghasilkan performans lebih

Pada pengamatan bobot lemak abdomen juga terlihat interaksi yang nyata yang disebab- kan perlakuan dan jenis kelamin 4).

Pada entok betina pemberian grower dengan kandungan protein yang berbeda, yaitu 15% dan menghasilkan bobot lemak abdomen yang sama. Sedangkan pada jantan pemberian

grower yang mengandung 12% protein kan lemak abdomen yang lebih

dibandingkan dengan yang mengandung 15% protein. Hal ini te rjadi karena pada entok jantan dengan kandungan 15% protein lebih men- cukupi kebutuhan, sedangkan dengan 12% protein belum mencukupi kebutuhan dan terjadi ketidakseimbangan antara energi dan protein, atau dengan perkataan lain terjadi kelebihan energi. Kelebihan energi ini akan di dalam tubuh dalam bentuk lemak abdomen. pada entok betina kandungan 12% protein sudah men- cukupi kebutuhan, atau dengan perkataan lain sudah tercapai keseirnbangan antara energi dan protein sehingga tidak te penimbunan lemak.

KESIMPULAN

Entok jantan lebih dibandingkan dengan betina. Peningkatan protein dari 12% menjadi 15% tidak menyebabkan perubahan performan karkas kecuali bobot dada dan lemak abdomen. Entok jantan yang mendapat 15% protein menyebab- kan peningkatan bobot dada lemak abdomen

Antawidjaja, T., I.A.K. D. Zainudin A. Habibie. Respon anak entok betina terhadap berbagai tingkat energi Seminar

dalam Pembangunan Desa Bidang Manajemen dan Produksi Petemakan. khusus. Sain Tek.

(5)

Med. Pet. Vol. 24 No. 1

I.A.K.

,

T. Antawidjaja, D. Zainudin A. Habibie. 1994. Respon anak entok jantan (Cairina terhadap berbagai tingkat

Prosiding Pengotahan Penelitian. Sub Balai Penelitian Ternak Unggaran.

S.

,

Desmayati, Z.

,

T. Antawidjaja, T. Murtisari A. Lasmini. 1993. Perbandingan Produk Berbagai Betina Afkir dan Entok. Peternakan. Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

: 1.20 -24.

1989. Development of Feeding Systems for Muscovy Ducks and some Implications for Integrated For The Degree of Master of Science. Asian Institute of Technology, Bangkok Thailand.

Leclercq, B. H. de Carville. 1986

.

Dietary Energy, Protein and Phosporus Requirement of Muscovy Ducks. Duck Production Science and World Practice. Farrel, D.J. and Stapleton, P. (Ed) University of New England. pp: 58 -59. Leclercq, B. H. de 1986 Growth and

Body Composition of Muscovy Ducks. Ducks Production Science and World Practice. Farrel, D.J. and Stapleton, (ed). University of New England. pp : 102

-

109.

Leclercq, B., J.C. B. Sauveur P. Stevens. 1986. Nutrition of Ducks. Feeding of Ruminant Livestock. Butterworths, Washington

Pan, C.M., C.I. Lin P.C. Chen. 1981. Studies on laying duck nutrition. 2. Protein and energy requirement of Tsaiya. Taiwan Livestock Res. 14 and Poultry Abstr. 9, no. 401 (1983). Poultry International. 1982. French Muscovy replaces

Ed. July. Publication, USA. Reddy,

K.M.,

P.V. Rao and V.R. Reddy. 1981 A study

on the protein and energy requirements of Khaki layer ducks. Indian Poult. 16,132-137.

Steel, R.G.D. H. Torrie. 1980. Principles and Procedures of Statistics. ed. Mc. Graw Hill, New York.

Stevens, P. B. Sauveur. 1986. Duck Production and management in France. In : Duck Production Science and World Practice. D.J. Farrel and P. Stapleton (Ed). University of New England,

Australia. pp. 248-257.

Tai, C. 1986. Duck Production in Taiwan. Duck Production Science and World Practice.

Gambar

Tabel 4. Pengaruh kandungan protein yang berbeda dalam ransum grower terhadap bobot lemak abdomen (gram)

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian Tepung Bawang Putih ( Alliun sativum l. ) Dalam Ransum Itik Peking Terhadap Bobot Karkas, Persentase Karkas, Bobot Potong Dan Bobot Lemak Abdominal Pada Umur 8

Hasil penelitian menunjukkan bahwa taraf zeolit dan protein ransum serta interaksi antara kedua faktor tidak berbeda nyata (P<0.05) terhadap jumlah hari mencapai bobot

Berdasarkan gambar 2, dapat dilihat bahwa pengaruh pemberian tepung bekicot dalam ransum terhadap kandungan lemak karkas itik dalam pemeliharaan intensif memberikan hasil

Penggantian sebagian ransum komersil dengan tepung daun Indigofera sp dalam pakan ayam broiler sampai level 32% tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lemak abdomen

Entok yang diberi ransum kontrol maupun yang diberi ransum perlakuan menghasilkan pertambahan bobot badan yang sama besarnya, jadi penggunaan tepung ampas tahu dalam ransum

Berdasarkan gambar 2, dapat dilihat bahwa pengaruh pemberian tepung bekicot dalam ransum terhadap kandungan lemak karkas itik dalam pemeliharaan intensif memberikan hasil

Rataan bobot wool terendah (52 mg/mm 2 ) dihasilkan dari domba yang mendapat ransum dengan sumber protein campuran bungkil kedelai + bungkl biji kapuk + urea (R4), sebaliknya

Penggunaan tepung kunyit 1–1,5% dalam ransum broiler ternyata mengurangi persentase lemak abdominal dan tidak mempengaruhi persentase bobot karkas dibandingkan broiler yang mengonsumsi