BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tenaga kesehatan menempati posisi di dalam masyarakat dalam pemikiran dan pelaksanaan program-program pembangunan di bidang kesehatan, oleh karena itu perlu diarahkan dan dibina agar dapat berperan serta secara aktif dan ikut mengawasi dalam pembangunan kesehatan tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan di atas, dalam menciptakan tenaga kesehatan yang mampu melaksanakan proses pembangunan kesehatan tersebut maka kegiatan perkuliahan yang dominan dengan materi dirasakan belum cukup. Oleh karena itu, Praktikum Kesehatan Masyarakat merupakan bagian yang mutlak untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di kampus.
Kegiatan Praktikum Kesehatan Masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhamadiyah Bengkulu. Pada dasarnya kegiatan ini merupakan kegiatan belajar lapangan yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktis kepada para mahasiswa dalam menggunakan metode yang relevan. Praktikum Kesehatan Masyarakat adalah upaya pemahaman untuk memperoleh sikap dan kemampuan profesional Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) di bidang yang diminatinya.
Upaya perbaikan gizi masyarakat sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat. Antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makan, perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi serta kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi (Kemkes, 2012).
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bidang Kesehatan 2010-2014 telah ditetapkan salah satu sasaran pembangunan yang akan dicapai adalah menurunkan prevalensi gizi kurang setinggi-tingginya 15% dan menurunkan prevalensi balita pendek menjadi setinggi-tingginya 32%. Untuk mencapai sasaran RPKMN tersebut, dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi
Masyarakat telah ditetapkan 8 indikator kinerja, yaitu salah satunya; Persentase ibu hamil mendapatkan tablet Fe (Kemkes, 2010).
Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi yaitu sebesar 40,1%. Keadaan ini mengindikasikan anemia gizi besi pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah dikembangkan sejak tahun 1975 melalui distribusi Tablet Tambah Darah (TTD). TTD merupakan suplementasi gizi mikro khususnya zat besi dan folat yang diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah kejadian anemia gizi besi selama kehamilan. Penelitian terakhir membuktikan bahwa pemberian tablet Fe di Indonesia dapat menurunkan kematian neonatal sekitar 20% (RKPGM, 2013).
Secara nasional cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe tahun 2012 sebesar 85%. Data tersebut mencapai target program tahun 2012 sebesar 90%. Koordinasi dan kegiatan yang terintegrasi dengan lintas program masih perlu di tingkatkan agar cakupan dapat meningkat karena pemberian tablet Fe merupakan salah satu
Jika kita bandingkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang pada tahun 2010 s/d 2012 untuk tingkat capaian cakupan ibu hamil mendapat Fe dengan Target Kegiatan Pembinaan Gizi, maka akan didapatkan hasil bahwa nilai capaian selama 3 tahun tersebut adalah kurang dari target (KemKes, 2010).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan PKM tentang Indikator Kinerja Persentase Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe di Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang dari tanggal 3 Februari sampai dengan 3 Maret 2014.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum:
Mengetahui implementasi manajemen bumil mendapat 90 tablet Fe di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang.
1.2.2 Tujuan Khusus:
a. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
b. Mengidentifikasi prioritas masalah yang ada di Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
c. Mengidentifikasi dampak yang timbul oleh masalah yang ada di Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang d. Mengidentifikasi prioritas pemecahan masalah yang ada di Bidang Bina
Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang e. Mengidentifkasi perencanaan/rincian pemecahan masalah yang ada di
Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
f. Memberikan masukan yang bermanfaat untuk peningkatan kinerja di Bidang Bina Upaya Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Mahasiswa
2. Dapat mengetahui kondisi dan suasana kerja di yang ada di Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
1.3.2 Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan sumbangan pemikiran bagi lingkungan akademik dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan tentang Persentase Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe.
1.3.3 Bagi Dinas Kesehatan
Memberikan sumbangan pemikiran bagi lingkungan akademik dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan tentang Persentase Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe.
1.3.4 Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
1. Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat dapat menjadi salah satu bahan referensi bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu
2. Sebagai masukan dan data dasar bagi peneliti lain untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.
1.4 Ruang Lingkup
1.4.1. Lingkup Lokasi
Praktikum Kesehatan Masyarakat ini dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang Bidang Bina Upaya Kesehatan Masyarakat,
khususnya pada seksi Gizi.
1. Identifikasi masalah di unit Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
2. Prioritas masalah di unit Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang 3. Identifikasi penyebab masalah di unit Gizi Dinas Kesehatan
Kabupaten Kepahiang
4. Alternatif pemecahan masalah di unit Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
5. Prioritas alternatif pemecahan masalah di unit Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
1.4.3. Lingkup Waktu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ibu Hamil
Kehamilan merupakan suatu proses alami pada wanita. Selama masa kehamilan berbagai kebutuhan dalam tubuh wanita, diantaranya energi dan zat gizi meningkat. Dengan adanya pertumbuhan janin, tubuh wanita akan melakukan berbagai
penyesuaian, disamping upaya memenuhi kebutuhan dengan cara menambah konsumsi (Kardjati, 1991).
Gizi ibu hamil mempengaruhi pertumbuhan janin. Perubahan fisiologis pada ibu mempunyai dampak besar terhadap diet ibu dan kebutuhan gizi, karena selama kehamilan, ibu harus memenuhi kebutuhan janin yang sangat pesat, dan agar keluaran kehamilannya berhasil baik dan sempurna.
dimana secara signifikan berhubungan dengan outcome kehamilan (Adair & Bisgrove, 1991).
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolism tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.
2.2 Tablet Fe
Tablet Zat besi (Fe) adalah suatu tablet mineral yang sangat dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah merah adalah zat besi. Secara alamiah zat besi diperoleh dari makanan. Kekurangan zat besi dalam menu makanan sehari-hari dapat menimbulkan penyakit anemia gizi atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah.
Tablet ini sangat diperlukan oleh ibu hamil. Sudah selayaknya seorang ibu hamil akan mendapatkan minimal 60 tablet Fe selama kehamilannya dan diberikan secara gratis.
Pada beberapa orang pemberian tablet zat besi dapat menimbulkan gejala-gejala seperti mual, nyeri di daerah lambung, kadang terjadi diare dan sulit buang air besar (DepKes, 1999), pusing bau logam (Hartono, 2000). Selain itu setelah
mengkonsumsi tablet tersebut, tinja akan berwarna hitam, namun hal ini tidak membahayakan. Frekuensi efek samping tablet zat besi ini tergantung pada dosis zat besi dalam pil, nukan pada bentuk campurannya. Semakin tinggi dosis yang
diberikan, maka kemungkinan efek samping semakin besar. Menurut Wirakusumah (1999), tablet zat besi yang diminum dalam keadaan perut terisi akan mengurangi efek samping yang ditimbulkan tetapi hal ini dapat menurunkan tingkat
penyerapannya.
Asupan zat besi selain dari makanan adalah melalui suplemen tablet zat besi. Sumpelen ini biasanya diberikan pada golongan rawan kurang zat besi yaitu balita, anak sekolah, wanita usia subur dan ibu hamil. Pemberian suplemen tablet zat besi pada golongan tersebut dilakukan karena kebutuhan akan zat besi yang sangat besar, sedangkan asupan dari makan saja tidak dapat mencukupi kebutuhan tersebut (Pusdiknakes, 2003).
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadu menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebanyak 30-40 mg. disamping itu kehamlan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi makin anemis (Manuaba, 1998).
setiap kehamilan menguras persdiaan Fe tubuh dan akhirnya akan menimbulkan anemia pada kehamilan (Manuaba, 1998).
BAB III
ANALISA SITUASI UMUM
3.1 Data Umum Organisasi
Berdasarkan Perda No 05 Tahun 2008 tentang Dinas Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepahiang, maka untuk mengoperasionalkan Dinas Kesehatan perlu tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, yang telah ditetapkan dengan Keputusan Bupati Kepahiang No.30 Tahun 2008 sebagai revisi Keputusan Bupati Kepahiang No.312 Tahun 2007. Untuk dapat menjalankan tugas yang telah dibebankan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang memiliki struktur organisasi sebagaimana dapat dilihat pada lampiran.
Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah “Mewujudkan masyarakat Kepahiang sehat mandiri dan berkeadilan”. Sedangkan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah sebagai implementasi dari visi maka disusun Misi sebagai berikut:
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kepahiang melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani
2. Melindungi kesehatan masyarakat Kepahiang dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik
Dalam mencapai Visi dan Misi yang telah ditetapkan perlu dirumuskan ke dalam bentuk yang lebih terarah dan operasional, yaitu penetapan tujuan organisasi. Tujuan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah “Terselenggaranya
Sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah: 1. Meningkatnya kualitas lingkungan
2. Terciptanya keberdayaan individu, keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan
3. Tersedianya dan meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas 4. Meningkatnya derajat gizi masyarakat
5. Tersedianya tenaga, pembiayaan dan perbekalan kesehatan yang memadai Tugas pokok Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah melaksanakan kewenangan desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang kesehatan. Sedangkan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang adalah:
1. Menyusun kebijakan teknis di bidang kesehatan
2. Memberikan perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas Kabupaten/Kota di bidang kesehatan
3. Pembinaan teknis di bidang Kesehatan
4. Pembinaan unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan 5. Pelaksanaan urusan tata usaha Dinas Kesehatan
3.2 Ketenagaan
Sumber daya manusia kesehatan keseluruhan yang ada di Kabupaten Kepahiang pada tahun 2012 sebanyak 583 orang, PNS 446, PTT 173 orang (PTT Pusat 93 orang; tenaga dokter 13 orang dan tenaga bidan 80 orang), dan PTT Daerah 44 orang. Khusus untuk tenaga kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang sebanyak 76 orang.
3.3 Sarana Kesehatan
5 unit, Praktik Dokter 17 unit, Praktek Bidan 31 unit yang memiliki izin, Balai Pengobatan 1 unit, Klinik 1 unit.
BAB IV
ANALISA SITUASI KHUSUS
4.1 Bina Kesehatan Masyarakat
Gambar 4.1.1
STRUKTUR ORGANISASI
BIDANG BINA KESEHATAN MASYARAKAT
4.2 Program/Kegiatan Perbaikan Gizi Masyarakat
Tujuan meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi dan anak balita. Kegiatan yang dilakukan :
a. Peningkatan pendidikan gizi
b. Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi, kurang Vitamin A dan kekurangan zat gizi mikro lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan tahun 2012 bersumber dana APBD yaitu pemberian PMT dan Vitamin.
c. Penanggulangan gizi lebih d. Peningkatan surveilens gizi
KABID BINA KESEHATAN MASYARAKAT SEKSI
PROMOSI & UKBM GIZI MASYARAKATSEKSI KIA & KBSEKSI
PENGELOLA
PROGRAM GIZI PROGRAM KBPENGELOLA PENGELOLA
PROGRAM GIZI PROGRAM IBUPENGELOLA
e. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi yang bersumber dari dana APBD tahun 2012
4.3 Indikator Kinerja
Tabel 4.6.1
Indikator Kinerja dan Target Kegiatan Pembinaan Gizi
Tahun 2010-2014
No Indikator Kinerja Target (%)
2010 2011 2012 2013 2014
1 Persentase balita ditimbang berat badannya (% D/S) 65 70 75 80 85 2 Balita gizi buruk mendapat perawatan 100 100 100 100 100 3 Persentase balita 6-59 bulan mendapat kapsul
Vitamin A
75 78 80 83 85
4 Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif
65 67 70 75 80
5 Cakupan rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium
84 86 90 93 95
6 Persentase ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 84 86 90 93 95 7 Persentase kabupaten/kota melaksanakan serveilans
gizi
100 100 100 100 100
8 Persentase penyediaan buffer stock makanan pendamping ASI untuk daerah bencana
100 100 100 100 100
BAB V
5.1 Pengertian Masalah
Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang aktual terjadi (observed). Idealnya, semua permasalahan yang timbul harus dicarikan jalan keluarnya. Namun, karena keterbatasan sumber daya, dana, dan waktu menyebabkan tidak semua permasalahan dapat dipecahkan sekaligus. Untuk itu perlu ditentukan masalah yang menjadi prioritas. Setelah pada tahap awal merumuskan masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah yang harus dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada secara kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang cukup. 5.2 Indikator Masalah
Ukuran indikator dari masalah adalah kinerja akan dinilai baik jika persentase hasil yang didapat sesuai dengan target.
5.3 Identifikasi Masalah
Sebelum melakukan sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat, diperlukan analisa tentang situasi yang akan berkaitan dengan kejadian tersbebut. Masalah yang paling penting adalah melakukan identifikasi dengan analisis masalah, yang menjadi fokus utama dalam sebuah kegiatan. Sebelum memulai investigasi masalah, perlu dikumpulkan fakta-fakta untuk membatasi kegiatan tersebut.
Identifikasi masalah merupakan kegiatan merinci rumusan masalah yang bersifat umum menjadi bagian-bagian (dimensi) sampai pada unsur-unsurnya (indikator) secara konkret dan operasional. Permasalahan yang muncul dari sebuah situasi dapat berupa wujud benda/barabf, proses ataupun fungsi. Deskripsi khusus dari permasalahan itu digambarkan oleh unsur-unsur, ciri-cirinya hingga sifat-sifatnya. Lebih lanjut, identifikasi masalah dirumuskan ke dalam golongan atau berunsur sama, kategori dan oleh klasifikasi-klasifikasi.
Sumber data (Primer/Sekunder) yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah dapat diperoleh dari:
c. Dan Opini
Untuk menentukan penyebab masalah ada beberapa komponen yang
dipertimbangkan, yaitu; man, material, machine, method, maintenance, dan money. Di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, pada tahun 2012 ada 3 indikator kinerja Bina Gizi yang tidak mencapai target atau dianggap sebagai sebuah masalah yang meski mencapai target capaian namun belum mengatasi tuntas masalah yang ada. Hal ini dapat dilihat dari target capaian yang dihasilkan. Berikut gambaran dari ketiga masalah tersebut:
a.
Persentase balita ditimbang berat badannya (% D/S)Persentase balita yang ditimbang berat badannya tidak mencapai target selama beberapa tahun.
b.
Balita gizi buruk mendapat perawatanPersentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan adalah 100%, hanya saja kegiatan perawatan ini terbatas selama 4 bulan (120 hari) saja, hingga target tercapai secara kuantitas, namun belum tercapai dalam kualitas. Dalam artian, bahwa sebagian anak-anak penderita gizi buruk yang mendpat perawatan hanya mencapai status gizi kurang dari status gizi buruk sebelumnya.
c.
Persentase ibu hamil mendapat 90 tablet FePersentase ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe selama periode tahun 2010 sampai dengan 2012 berturut-turut belum mencapai target yang telah ditetapkan dalam surveilans gizi.
5.4 Prioritas Masalah
Pada poin 5.3 telah dirumuskan masalah yang terdapat pada tiga dari tujuh program kesehatan dasar di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang. Karena keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan waktu, maka dari semua masalah yang telah dirumuskan, perlu ditetapkan masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan.
Ada banyak metode/cara untuk menentukan prioritas masalah. Dalam laporan PKM ini penulis memilih untuk menggunakan metode PAHO.
Metode PAHO menggunakan skor pada setiap variabel penilaian, dengan menggunakan skor 1-10, dan penilaiannya lebih luas dibadingkan dengan matriks, yaitu :
- Magnitude
Adalah mengukur besaran kejadian, misal untuk kasus penyakit menular maka kita bisa menggunakan Angka total kesakitan (Prevalence Rate), BUKAN menggunakan Incidens Rate (kasus baru). Makin besar kasusnya makin besar skor yang diberikan.
- Severity
Adalah tingkat keparahan, artinya kita melihat dari kasus tersebut : (a) Banyak menimbulkan kematian atau tidak (b) Penyebarannya cepat apa tidak (c) Sebarannya luas apa tidak. Makin tinggi tingkat keparahannya maka skor makin besar.
- Vulnerability
Adalah tingkat kerentanan, disini dilihat dari sudut kemampuan kita untuk menanganinya, ketersediaan teknologinya dsb. Makin tersedianya ahli, peralatan dan teknologi maka skor makin besar, dan makin sulit ditangani skornya rendah.
- Community / Political Concern
daerah dalam menyikapi kasus yang sedang terjadi. Makin tinggi tingkat perhatiannya maka makin tinggi skornya.
Penilaian dengan metode PAHO dilakukan oleh Tim (beberapa orang) dan dibutuhkan ahli untuk menyatukan persepsi dari semua tim penilai, karena kalau tidak maka akan banyak terjadi bias dalam penilaian.
Setelah masing-masing anggota memberikan penilaian maka diambil rata-rata, bila ada anggota tim yang menilai ekstrim maka nilai ekstrim tersebut dibuang, tidak masuk dalam rata-rata, selanjutnya nilai rata-rata tersebut dibulatkan. Misal : untuk menilai magnitude kasus kejadian demam berdarah dengue (DBD) di suatu wilayah, anggota 1 memberi nilai 7, anggota 2 memberi nilai 8, anggota 3 memberi nilai 7, anggota 4 memberi nilai 3, maka angka 3 tidak kita pakai dalam menghitung rata-rata, jadi nilai hanya diambil rata-rata dari 3 orang anggota yang memberi nilai 7,8,7.
Setelah semua variabel diberi penilaian, maka masing-masing kasus kita hitung skor totalnya dengan cara : M x S x V x C.
Tabel berikut ini membantu kita untuk menentukan prioritas masalah, Total skor merupakan perkalian M x S x V x C.
Gambar 5.4.1
Setelah total skor dihitung, maka kita ranking dari skor terbesar (ranking 1) ke skor terendah dan ranking tersebut merupakan urutan prioritas masalah yang harus ditangani.
Berikut penentuan prioritas masalah menurut metode PAHO: Tabel 5.4.1
Jumlah 1030 247 3400
Masing-masing kriteria diberi skor 1-10, → Semakin tinggi skor, semakin besar masalah
Dari hasil di atas diperoleh bahwa skor tertinggi ada pada masalah tidak tercapainya cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe.
Setelah penentuan ranking prioritas masalah, maka nilai tertinggi kita analisa AKAR PENYEBAB MASALAHNYA dengan metode Problem Tree.
Gambar 5.4.2
Berikut penentuan akar masalah gizi di Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang dengan menggunakan metode Problem Tree:
Gambar 5.4.3
Penentuan Akar Penyebab Masalah
Penyebab tidak langsung menjadi penyebab Kematian
Rendahnya cakupan (laporan)
Bumil tidak mendapat 90
Fe
Bumil mendapat tablet Fe, tapi tidak terdata oleh petugas
lapangan Bumil mendapat tablet
Fe, tapi terdata 2 kali (KIA & Gizi). Lebih dari
target.
Gambar 5.4.4
Penentuan Akar Penyebab Masalah Penunjukan/Rekruitmen
petugas lapangan
Kematian
Rendahnya cakupan (laporan)
Bumil tidak mendapat 90
Fe
Bumil mendapat tablet Fe, tapi tidak terdata oleh petugas
lapangan Bumil mendapat tablet
Fe, tapi terdata 2 kali (KIA & Gizi). Lebih dari
target.
Bumil kurang kesadaran untuk mengikuti Posyandu & Kurang
Pengetahuan Petugas yang kurang
kompeten/proaktif
5.5 Penjabaran
Menurut WHO jumlah perempuan anemia dengan tingkat tertinggi untuk wilayah South East Asian Region (SEAR) ada pada negara India, Indonesia, Bangladesh, Nepal dan Bhutan. Untuk Negara Nepal, India, dan Indonesia terjadi karena kurangnya petugas kesehatan yang terampil (WHO, 2003).
Rendahnya cakupan pemberian Fe mungkin disebabkan belum optimalnya koordinasi dengan lintas program terkait khususnya kegiatan Antenatal Care (ANC).
Analisis cakupan Fe dan Cakupan ANC menunjukkan adalah kesenjangan yang besar (missed opportunity) antara cakupan ANC dengan cakupan Fe. Terdapat 8 propinsi yang cakupan ANC dilaporkan diatas 80% tetapi cakupan Fe dibawah 80%. Terdapat 15 propinsi dengan cakupan ANC diatas 80 %, tetapi hanya 7 propinsi dengan cakupan Fe diatas 80%. Artinya, cakupan Fe di propinsi tersebut dapat ditingkatkan dengan meningkatkan intergrasi pelayanan gizi dan pelayanan kesehatan ibu (RAPGM 2010-2014, 2011).
Jika ditinjau dari permasalahan yang ada pada pohon masalah, penyebab utama tidak tercapainya target pemberian tablet Fe pada ibu hamil di Kabupaten Kepahiang adalah kurang terampilnya petugas kesehatan, terutama petugas gizi sebagai
penanggung jawab lapangan. KIE yang proaktif, kerjasama dan komunikasi yang terarah antara petugas gizi lapangan dengan petugas KIA atau pun petugas gizi lapangan dengan sasaran menjadi penyebab utama tidak tercapainya target bumil yang mendapatkan 90 tablet Fe di Kabupaten Kepahiang.
Penyebab lain yang dapat ditimbulkan dari penyebab utama di atas adalah kurang Penunjukan/Rekruitmen
mengikuti posyandu. Namun hal ini tidak dapat dikatakan semata-mata karena satu pihak, pihak yang lebih bertanggung jawab (petugas kesehatan) terutama petugas kesehatan yang terdekat dengan sasaran harusnya bisa lebih aktif dalam
mengkomunikasikan, menginformasikan, dan mengedukasi sasaran agar terbuka wawasan dan kesadaran oleh sasaran itu sendiri untuk selalu mengikuti Posyandu dan kegiatan kesehatan lainnya yang dilaksanakan di wilayahnya.
Penyebab lain yang tidak kalah penting adalah akses masyarakat/ibu hamil dalam menjangkau sarana dan prasarana kesehatan (Posyandu) yang sulit di jangkau karena hamper sebagian besar penduduk Kabupaten Kepahiang adalah petani.
Tidak tercapainya target bumil yang mendapatkan 90 tablet Fe di Kabupaten Kepahiang terjadi selama beberapa tahun berturut-turut. Berikut data pencapaian bumil yang mendapatkan 90 tablet Fe tahun 2010 s/d tahun 2012 jika kita bandingkan dengan target yang harus dicapai :
Tabel 5.5.1
Indikator, Cakupan dan Target Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe Di Kabupaten Kepahiang
No Indikator Cakupan Target Cakupan Target Cakupan Target
2010 2011 2012
1 Cakupan ibu hamil mendapat Fe 90
79,14% 84% 57,32% 86% 60,95% 90%
Sumber : Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang Tahun 2012
5.6 Dampak yang Timbul Dari Masalah Utama
terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi, bila tidak dipenuhi masukan zat beli lama kelamaan timbul gejala anemia disertai penurunan kadar Hb. Kadar normal haemoglobin dalam darah yaitu pada ibu hamil 11 gr% (DepKes, 1992).
Seorang wanita hamil menderita anemia gizi besi kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang mempunyai persediaan zat besi sedikit atau todak mempunyai persediaan zat besi sama sekali di dalam tubuhnya walaupun tidak menderita anemia. Jika setelah lahir bayi tersebut tidak mendapatkan azupan zat besi yang mencukupi, bayi akan berisiko menderita anemia.
Anemia berat yang tidak diobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum. Selain itu, anemia pada ibu hamil juga dapat mengakibatkan daya tahan ibu menjadi rendah terhadap infeksi dan kurang mampu mentolerir perdarahan ketika melahirkan.
Anemia gizi besi pada wanita hamil mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu, peningkatan angka kesakitan dan kematian janin dan peningkatan resiko bayi dengan berat badan lahir rendah.
BAB VI
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
6.1 Pengertian Pemecahan Masalah
masalah, mengurangi atau menghilangkan masalah atau mencegah masalah tersebut terjadi.
6.2 Alternatif Pemecahan Masalah
Tabel 5.6.1
Alternatif Pemecahan Masalah
What Why How When Who Where
Man Petugas yang
kurang
kompeten
Rekruitmen yang baik dan
benar
-Awal tahun sebelum kegiatan
dilaksanakan -Membutuhkan
waktu yang cukup
lama
Petugas gizi Setempat
Man Kader yang
kurang
kompeten
Berikan pelatihan - Sesegera mungkin - Mebutuhkan waktu
yang cukup lama
Kader
Posyandu
Setempat
Man Ibu hamil yang
datang kurang
-Kerjasama dengan kepala desa untuk
pendataan
-Kerjasama dengan kader
untuk mengajak ibu-ibu
lebih aktif
-Memberikan konseling
untuk meningkatkan
kesadaran ibu hamil -Memberikan konseling
untuk meningkatkan
-Cross check laporan dari masing-masing petugas
(Gizi dan KIA)
petugas
kesehatan
lainnya,
terutama KIA
-Berkala setiap setelah kegiatan
Methode Metode lama
perlu diperbaiki
-Meningkatkan “hubungan” antara
petugas KIA dan Gizi
lapangan. Baik lisan
mau pun tulisan
-Saat kegiatan berjalan dan
6.3 Prioritas Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah rendahnya cakupan 90 tablet Fe, seharusnya bukan hanya semata-mata diintervensi dengan “memberi” dan “menerima”. Lebih dari itu ada hal yang tidak nampak atau secara tidak langsung yang lebih mendasari penyebab masalah tersebut seperti yang telah dijelaskan pada poin 6.2 di atas. Namun, mengingat keterbatasan berbagai macam sumber daya, maka untuk menyelesaikan masalah tersebut, harus ditentukan prioritas solusi pemecahan masalah.
Dalam beberapa alternatif pemecahan masalah tersebut, ada 1 alternatif yang dapat kita jadikan prioritas pemecahan masalah jika menimbang dari input yang ada. Yaitu dengan melakukan cross check laporan dari masing-masing petugas, terutama antara Gizi dan KIA. Hal ini dapat dinilai dari:
1. Man : Petugas yang sudah ada saat ini
2. Money : Tidak memerlukan dana tambahan, karena dana sebelumnya sudah
6. How : Evaluasi/cross check masing-masing laporan petugas KIA dan Gizi
6.4 Perencanaan/Rincian Prioritas Pemecahan Masalah
Rencana Operasional atau planning of action adalah suatu dokumen penyusunan rencana pelaksanaan program kesehatan yang disusun berdasarkan kegiatan-kegiatan dengan memperhitungkan hal-hal yang telah ditetapkan dalam proses sebelumnya serta semua potensi sumber daya yang ada. Berikut rencana pemecahan masalah :
Tabel 6.4.1
Perencanaan Pemecahan Masalah
Kegiatan Tujuan Sasaran Biaya Waktu Tempat PJ Ket
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari hasil ulasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Ada 8 Indikator Kinerja Kegiatan Pembinaan Gizi Tahun 2010-2014, 3 indikator di antaranya adalah Persentase balita ditimbang berat badannya (% D/S), Balita gizi buruk mendapat perawatan, dan Persentase Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe yang teridentifikasi sebagai masalah utama.
b. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe menjadi prioritas utama masalah karena terjadi dalam tahun yang berturut-turut.
d. Dari 5 alternatif pemecahan masalah, dapat diambil 1 solusi yang dijadikan prioritas pemecahan masalah, yaitu meningkatkan kerjasama antara petugas KIA dan Gizi dalam evaluasi pelaporan.
e. Penyusunan rencana pelaksanaan pemecahan masalah tersebut dengan
memperhitungkan hal-hal yang telah ditetapkan dalam proses sebelumnya serta semua potensi sumber daya yang ada.
7.2 Saran
Saran yang dapat diberikan penulis jika dilihat dari permasalahan yang dibahas dalam laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat ini adalah agar petugas-petugas kesehatan yang berada di bawah kendali Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang meningkatkan kerjasama dengan berbagai jenis profesi kesehatan. Karena semua profesi kesehatan idealnya mempunyai tujuan yang satu.
DAFTAR PUSTAKA
- Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, 2012
- Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, 2012 - Petunjuk Pelaksanaan Surveilans Gizi, 2013
- Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat (RAPGM) Tahun 2010-2014 - Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat, 2013
- Google dalam http//:jurnalmediagizipangan.files.wordpress.com
- Peran Tenaga Kesehatan, Google dalam
http://yudipermana.wordpress.com/2008/11/25/peran-tenaga-kesehatan-mencapai-ipm-80-tahun-2010, 2008
- Google dalam http//: www.puskesmas-rumbiojaya
- Google dalam http//: ml.scribd.com