• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendugaan Cadangan Karbon Pada Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun di IUPHHK PT.Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendugaan Cadangan Karbon Pada Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun di IUPHHK PT.Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian di Lapangan dan Laboratorium

Tanaman EucalyptusIND umur 5 Proses pelepasan kulit batang yang dila tahun yang sudah di tebang kukan secara manual

Penampakan daun Eucalyptus IND 61 Penimbangan berat basah bagian batang umur 5 tahun

(2)

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian di Lapangan dan Laboratorium (lanjutan)

Proses pengambilan sampel sebanyak Potongan sampel batang @300 gram 300 gram

Sampel batang, ranting dan daun yang Pengukurankadar abu di laboratorium Siap di kirim ke laboratorium IPB, Bogor

(3)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun

Tabel 1. Tally sheet diameter setinggi dada (dbh), tinggi total dan tinggi bebas cabang

Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun pada plot I

No

Pohon

Tinggi Total (m)

Diemeter Setinggi Dada (dbh)

(cm)

Tinggi Bebas Cabang (m)

1 21,10 17,83 16,35

2 20,95 16,62 16,20

3 20,55 17,35 14,50

4 11,70 7,80 7,87

5 20,70 18,02 16,89

6 17,86 6,78 10,23

7 20,75 15,47 17,50

8 21,90 16,68 15,30

9 20,10 13,53 18,50

10 19,70 13,78 17,10

11 18,50 11,14 13,68

12 19,38 10,82 16,24

13 17,78 13,82 14,75

14 17,60 13,08 15,20

15 8, 56 5,89 5,60

16 17,10 10,00 14,80

17 19,53 12,80 16,45

(4)

19 19,10 10,80 16,57

20 22,10 16,80 17,60

21 17,62 12,80 14,80

22 21,30 15,10 19,15

23 17,30 11,00 14,78

24 20,37 7,00 18,35

25 16,66 12,60 13,50

26 14,50 6,10 10,98

(5)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (lanjutan)

Tabel 2. Tally sheet berat basah total batang, berat basah daun dan berat basah cabang

Eucalyptus IND 61umur 5 tahun pada plot I

Pohon ke-

(6)

25 55,1 30,1 21,5 106,7 4,6 5,1

27 94,4 64,5 59,5 218,4 6,5 3,8

(7)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (lanjutan)

Tabel 3. Tally sheet diameter setinggi dada (dbh), tinggi total dan tinggi bebas cabang

(8)

19 15,70 5,60 11,40

20 22,30 12,6 19,32

21 20,70 14,8 17,30

22 21,10 16,6 18,65

23 21,70 14,9 17,90

(9)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (lanjutan)

Tabel 4. Tally sheet berat basah total batang, berat basah daun dan berat basah cabang

Eucalyptus IND 61umur 5 tahun pada plot II

Pohon ke-

(10)

23 53,4 32,1 16,8 102,3 10,2 9,7

24 75,9 54,3 34,7 164,9 6,9 8,1

(11)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (lanjutan)

Tabel 5. Tally sheet diameter setinggi dada (dbh), tinggi total dan tinggi bebas cabang

(12)

21 20,55 12,4 17,50

22 16,29 9,7 13,97

23 22,30 14,3 18,66

24 20,60 14,2 16,42

25 14,50 4,8 10,33

26 23,30 16,2 19,21

27 22,21 16,7 18,80

28 18,90 9,6 15,92

29 21,30 15 17,63

30 20,29 12,6 17,90

(13)

Lampiran 2. Data Inventarisasi Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (lanjutan)

Tabel 6. Tally sheet berat basah total batang, berat basah daun dan berat basah cabang

Eucalyptus IND 61umur 5 tahun pada plot II

Pohon ke-

(14)
(15)

Lampiran 3. Data analisis laboratorium tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun Data analisis laboratorium bagian batang pada plot I

NO KODE B.CAWAN

Data analisis laboratorium bagian batang pada plot II

NO

Data analisis laboratorium bagian batang pada plot III

(16)

Lampiran 3. Data analisis laboratorium tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun (lanjutan)

Data analisis laboratorium bagian ranting dan daun pada plot I, II dan III

KODE B.CAWAN B.SAMPLE B.BKT %K.A B.Z.T %Z.T B.ABU %ABU %FC (BKT)gr (BKU)gr (BKT)gr (BKT)gr (BKT)gr RANTING 23.8628 2.0655 25.8464 4.1289 24.6578 59.9214 23.9060 2.1779 37.9008 RANTING 23.5887 2.0806 25.5713 4.9430 24.4171 58.2165 23.6622 3.7073 38.0763 RANTING 25.8944 2.0337 27.8346 4.8191 26.6461 61.2566 25.9323 1.9534 36.7900 DAUN 24.2472 2.0355 26.1806 5.2809 24.7321 74.9198 24.3219 3.8637 21.2165 DAUN 25.5357 2.0211 27.4062 8.0513 26.0116 74.5576 25.6087 3.9027 21.5397 DAUN 27.3452 2.0423 29.2351 8.0639 27.8163 75.0728 27.4122 3.5452 21.3821

Keterangan :

BKT : Berat Kering Tanur BKU : Berat Kering Udara ZT : Zat Terbang

KA : Kadar Air

(17)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon Data perhitungan total biomassa petak contoh I

No.

Tegakan D (cm) D^2 β0 β1 x D β2 x D^2

W (Biomassa) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

(18)

21 12,80 163,84 476,238 -871,795 438,272 42,7148 22 15,10 228,01 476,238 -1028,45 609,9268 57,71885 23 11,00 121 476,238 -749,199 323,675 50,714 24 7,00 49 476,238 -476,763 131,075 130,55 25 12,60 158,76 476,238 -858,173 424,683 42,7476 26 6,10 37,21 476,238 -415,465 99,53675 160,3099 27 16,30 265,69 476,238 -1110,18 710,7208 76,78205

(19)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon (lanjuntan)

Data perhitungan total biomassa petak contoh II

(20)

21 14,8 219,04 476,238 -1008,01 585,932 54,1568 22 16,6 275,56 476,238 -1130,61 737,123 82,7516 23 14,9 222,01 476,238 -1014,82 593,8768 55,29065 24 17,8 316,84 476,238 -1212,34 847,547 111,4448

(21)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon (lanjutan)

Data perhitungan total biomassa petak contoh III

(22)

21 12,4 153,76 476,238 -844,552 411,308 42,9944 22 9,7 94,09 476,238 -660,657 251,6908 67,27145 23 14,3 204,49 476,238 -973,959 547,0108 49,29005 24 14,2 201,64 476,238 -967,148 539,387 48,4772 25 4,8 23,04 476,238 -326,923 61,632 210,9468 26 16,2 262,44 476,238 -1103,37 702,027 74,8992 27 16,7 278,89 476,238 -1137,42 746,0308 84,84845 28 9,6 92,16 476,238 -653,846 246,528 68,9196 29 15 225 476,238 -1021,64 601,875 56,478 30 12,6 158,76 476,238 -858,173 424,683 42,7476 31 10,7 114,49 476,238 -728,766 306,2608 53,73245

(23)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon (lanjutan)

Data perhitungan total massa karbon petak contoh I

(24)

21 12,80 163,84 258,712 -481,8816 240,8448 17,6752 22 15,10 228,01 258,712 -568,4697 335,1747 25,417 23 11,00 121 258,712 -414,117 177,87 22,465 24 7,00 49 258,712 -263,529 72,03 67,213 25 12,60 158,76 258,712 -474,3522 233,3772 17,737 26 6,10 37,21 258,712 -229,6467 54,6987 83,764 27 16,30 265,69 258,712 -613,6461 390,5643 35,6302

(25)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon (lanjutan)

Data perhitungan total massa karbon petak contoh II

(26)

21 14,8 219,04 258,712 -557,1756 321,9888 23,5252 22 16,6 275,56 258,712 -624,9402 405,0732 38,845 23 14,9 222,01 258,712 -560,9403 326,3547 24,1264 24 17,8 316,84 258,712 -670,1166 465,7548 54,3502

(27)

Lampiran 4. Data Perhitungan Potensi Biomassa dan Total Massa Karbon (lanjutan)

Data perhitungan total massa karbon petak contoh III

(28)

21 12,4 153,76 258,712 -466,8228 226,0272 17,9164 22 9,7 94,09 258,712 -365,1759 138,3123 31,8484 23 14,3 204,49 258,712 -538,3521 300,6003 20,9602 24 14,2 201,64 258,712 -534,5874 296,4108 20,5354 25 4,8 23,04 258,712 -180,7056 33,8688 111,8752 26 16,2 262,44 258,712 -609,8814 385,7868 34,6174 27 16,7 278,89 258,712 -628,7049 409,9683 39,9754 28 9,6 92,16 258,712 -361,4112 135,4752 32,776 29 15 225 258,712 -564,705 330,75 24,757 30 12,6 158,76 258,712 -474,3522 233,3772 17,737 31 10,7 114,49 258,712 -402,8229 168,3003 24,1894

(29)
(30)
(31)
(32)

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, H 2008. Global Warming. Nuansa. Bandung.

Australian Greenhouse Office. 1999.National Carbon Accounting System. Methods for Estimating Woody Biomass.Technical Report No. 3. Commonwealth ofAustralia.

Brown, Sandra. 1997.Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forests: a Primer.(FAO Forestry Paper - 134).FAO. Rome.

Dahlan. 2005. Estimasi Karbon Tegakan Acacia Mangium Wild Menggunakan Citra Landsat ETM + dan Spot-5 : Studi Kasus di BKPH Parung Panjang KPH Bogor.Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.Fahutan IPB. Bogor.

Direktorat PSMK Kemendikbud RI. 2013. Buku Teks Bahan Ajar Siswa Teknik Inventarisasi dan Pemetaan Hutan.Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian Kemendikbud. Jakarta.

FWI/GFW.2003. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Bogor. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D,C. Global Forest Watch.Edisi 3. Hairiah, K dan S, Rahayu, 2007.Pengukuran Karbon Tersimpan Di Berbagai

Macam Penggunaan Lahan.World Agroforestry Centre. Bogor.

Hairiah K, Ekadinata A, Sari RR, Rahayu S. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon: dari tingkat lahan ke bentang lahan,Petunjuk praktis.Edisi kedua. Bogor. World Agroforestry Centre.ICRAF SEA Regional Office.University of Brawijaya (UB). Malang.

Haygreen, JG dan JL, Bowyer.1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar. Hadikusumo SA. Penerjemah; Prawirohatmodjo S, Editor. Gadjah Mada. Yogyakarta.

Hilmi, E. 2003.Model pendugaan kandungan karbon pada pohon kelompok jenis Rhizophora spp. Bruguiera spp dalam tegakan hutan mangrove di Indragiri Hilir Riau.Disertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

(33)

Hutasoit, A. 2014.Pendugaan cadangan karbon pada tegakan kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) umur 10 tahun di Perkebunan Kelapa Sawit PT.Putri Hijau Kabupaten Langkat.[Skripsi].Universitas Sumatera Utara. Medan.

Jenkins, David J. A. 2003. National-Scale Biomass Estimation for United State Tree Species. USA. Forest Science 49 (1): 12-35.

Latifah, S dan N, Sulistyono. 2011. Potensi simpanan karbon pada hutan tanaman industri eucalyptus hybrid dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global di Sumatera Utara. Hibah Penelitian Bersaing. Medan.

Liese, W. 1992.The Structure of bamboo in relation to its properties and utilization.Bamboo and its use. International Symposium On Industrial Use Of Bamboo. Beijing. China.

MacDicken, K,G. 2004.A Guide to Monitoring Carbon Storage in Forestry and Agroforestry Projects.Winrock International. Arlington, VA, USA, 87pp. Manuri, S, C, A, S, Putra, dan A, D Saputra. 2011. Teknik Pendugaan Cadangan

Karbon. Dinas Kehutanan Sumsel. Palembang.

Mangunjaya, F, M. 2008. Bertahan di Bumi.Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Masripatin, N, dkk.2010. Cadangan Karbon pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis

Tanaman di Indonesia.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.

Mudiyarso, D; Rosalina, U; Hairiah, K; Muslihat, L; Suryadiputra, I.N.N; Jaya, A. 2004. Petunjuk Lapangan: Pendugaan Cadangan Karbon Pada Lahan Gambut, Proyek Climate Change, Forest and Peatlands in Indonesia, Wetlands International-Indonesia Programmed an Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia.

Muhdi. 2012. Meminimalkan Kehilangan Cadangan Massa Karbon Melalui Pemanenan Kayu Ramah Lingkungan di Hutan Alam Tropika Kalimantan Timur. Departemen Ilmu Kehutanan USU. Medan.

Onrizal. 2004. Model Penduga Biomassa dan Karbon Tegakan Hutan Kerangas di Taman Nasional Danau Sentarum. Kalimantan Barat [tesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

(34)

Parresol, B, R. 1999. Assessing Tree and Strand Biomass: Review With Examples and Critical Comparisons. For, Sei, 45(4):573-593,

Pratama, Titis. 2012. Pemetaan Potensi Simpanan Karbon Hutan Tanaman Industri Eucalyptus grandis di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sektor Aek Nauli. Jurnal. Program Studi Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Purwitasari, Hania. 2011. Model Persamaan Allometrik Biomassa dan Massa Karbon Pohon Akasi Mangium (Acacia mangium Willd.) (Studi Kasus pada HTI Akasia mangium di BKPH Parung Panjang, KPH Bogor, Perum Perhutani Unit III, Jawa Barat dan Banten). Skripsi. Departemen Manajemen Hutan Fahutan IPB. Bogor.

Rochmayanto, dkk. 2014. Cadangan Karbon Pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia (Seri 2). Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Soedomo, M. 2001. Pencemaran Udara. Penerbit ITB. Bandung.

Suprihatno, B. Rasoel, H., dan Bintal, A. 2012. Analisis Biomassa dan Cadangan Karbon Tanaman Bambu Belangke (Gigantochloa pruriens).Journal of Enviromental Science 6(1)

Susandi, A. 2004.The Impact of International Greenhouse Gas Emissions Reduction on Indonesia Report on Earth System Science. Max Plank Institute for Meteorology. Jerman.

Sutaryo, Dandun. 2009. Penghitungan Biomassa.Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon.Wetlands International Indonesia Programme. Bogor. Indonesia.

(35)

18

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele, Sumatera Utara. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan dua tahap kegiatan, yaitu tahap pertama inventarisasi hutan dan pengambilan sampel di lapangan dan tahap kedua menganalisis karbon dilakukan di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 - Februari 2016.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: Pita diameter, Aluminium foil, timbangan (neraca Ohaus), parang, kamera digital, alat tulis, tally sheet, tali rafia, kantong plastik, label nama, kalkulator, Microsof excel 2010 dan Software SPSS 0.16. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan sistem destructive atau dengan melakukan penebangan terhadap pohon. Dalam pendugaan cadangan karbonnya digunakan persamaan allometrik. Persamaan allometrik yang spesifik lokal, dapat ditentukan sehingga upaya survey untuk pendugaan karbon menjadi lebih cepat, akurat dan lebih murah.

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil pengukuran di lapangan (diameter (dbh),

(36)

tinggi total, dan berat basah total tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun ) dan hasil uji laboratorium (kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, dan kadar karbon).

Data sekunder adalah biomassa dan massakarbon pada tanaman Eucalyptus sp yang telah ada sebelumnya, baik data yang dikeluarkan oleh instansi terkait, penelitian sebelumnya maupun literatur pendukung serta peta lokasi penelitian.

Penentuan Petak Ukur

Pengukuran parameter tegakan yang penting dilakukan pada setiap petak contoh penelitian (PCP) dengan metode jalur berpetak. Bentuk plot yang umum dipakai dalam pengukuran kandungan karbon adalah bujur sangkar atau persegi panjang (Sutaryo, 2009).

Petak Contoh Penelitian (PCP) yang dibuat adalah sebanyak 3 plot karena dalam keperluan pemantauan diperlukan petak atau plot berjumlah tiga plot dipilih untuk setiap zone dimana pengamatan/pengukuran diameter pohon dilakukan (Murdiarso dkk, 2004).

(37)

Inventarisasi Tegakan

Dalam kegiatan inventarisasi dilakukan pengukuran secara keseluruhan terhadap tegakan per plot nya. Adapun parameter yang diukur adalah sebagai berikut :

1. Diameter, merupakan garis lurus yang menghubungkan dua titik di tepi batang dan melalui sumbu batang. Diameter yang diukur adalah Dbh (Diameter Setinggi Dada) atau diukur 1,3 m dari permukaan tanah.

2. Tinggi total, yaitu jarak terpendek dari titik puncak tegakan dengan titik proyeksinya pada bidang datar.

3. Tinggi bebas cabang, yaitu jarak terpendek dari titik sebelum cabang pertama dengan titik proyeksinya pada bidang datar.

4. Berat basah tegakan, yaitu hasil penjumlahan semua berat basah dari bagian tegakan.

100 m

100 m

50 m Jalan Utama

Gambar 1. Pembuatan plot contoh dilapangan

5 m

40 m

I

III

(38)

Pemilihan dan Pengambilan Pohon Sampel

Setelah dilakukan kegiatan inventarisasi pada setiap plot, tahap selanjutnya adalah pemilihan dan pengambilan pohon sampel yang dilakukan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Pemilihan pohon sampel pada setiap plot dengan kriteria sehat dan memiliki ukuran diameter rata-rata yang dianggap mewakili pohon yang ada dalam plot contoh penelitian. Jumlah pohon sampel yang ditebang adalah sebanyak 20 pohon, dimana setiap plot diambil 3 pohon untuk pohon sampel. Jumlah pohon sampel dihitung berdasarkan luasan petak contoh, jarak tanam, jumlah populasi per plot dan intensitas samplingnya. Penebangan pohon sampel dilakukan sesuai dengan sistem penebangan di IUPHHK-HT PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele, karena pengambilan contoh sampel tepat dilakukan pada saat penebangan. Memisahkan bagian-bagian fraksi pohon, yaitu batang, ranting dan daun. Batang dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian pangkal, tengah, dan ujung batang. Batang dipisahkan dari organ pohon lain, tanpa pengelupasan kulit. Daun dipangkas terlebih dahulu menggunakan gunting guna memisahkan dari ranting setelah pohon rebah. Kumpulkan seluruh daun di dalam terpal besar sebelum ditimbang. 2. Penimbangan Biomassa, penimbangan dilakukan untuk mengetahui berat basah total (BBT). Penimbangan dilakukan setelah setiap fraksi dipisahkan, jika tidak memungkinkan penimbangan 1 kali, maka lakukan penimbangan secara bertahap, khususnya untuk fraksi yang memiliki volume yang besar. Penimbangan dimulai dari fraksi batang, ranting dan daun.

(39)

a) Batang

Pada setiap potongan batang yang telah dibagi-bagi di atas, ambil sampel pada ujung awal dari tiap potongan dimulai dari empulur sampai kulit luarnya atau kira-kira setara dengan 300 gram. Ditimbang dengan timbangan, lalu masukkan ke dalam plastik ukuran ¼ kg.

b) Ranting

Diambil sampel pada ranting sebanyak 300 gram. Timbang dengan timbangan, lalu masukkan ke dalam plastik ukuran ¼ kg.

c) Daun

Diambil sampel pada daun sebanyak 300 gram. Timbang dengan timbangan, lalu masukkan ke dalam plastik 2 kg.

Prosedur Penelitian di Laboratorium 1. Berat Jenis Kayu

Contoh uji berat jenis kayu berukuran 2cm x 2cm x 2cm. Pengukuran berat jenis kayu dilakukan dengan tahapan kerja sebagai berikut :

a. Menimbang contoh uji dalam keadaan basah untuk mendapatkan berat awal b. Mengukur volume contoh uji : contoh uji dicelupkan dalam parafin, lalu dimasukkan kedalam tabung erlenmeyer yang berisi air sampai contoh uji berada di bawah permukaan air. Berdasarkan hukum Archimedes volume sampel adalah besarnya volume air yang dipindahkan oleh contoh uji

(40)

2. Kadar Air Kayu

Contoh uji kadar air dari batang utama dan ranting yang berdiameter > 5 cm dibuat dengan ukuran 2cm x 2cm x 2cm. Sedangkan contoh uji dari bagian daun seberat ± 300 g.

Cara pengukuran kadar air contoh uji adalah sebagai berikut : a. Contoh uji ditimbang berat basahnya

b. Contoh uji dikeringkan dalam tanur 103 ± 2 °C sampai tercapai berat konstan, kemudian dimasukkan kedalam desikator dan ditimbang berat keringnya

c. Penurunan berat contoh uji yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanur ialah kadar air contoh uji

3. Kadar Zat Terbang

Prosedur penentuan kadar zat terbang menggunakan American Society for Testing Material (ASTM) D 5832-98. Prosedurnya adalah sebagai berikut :

a. Sampel dari tiap bagian pohon berkayu dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebesar batang korek api, sedangkan sampel bagian daun dicincang.

b. Sampel kemudian dioven pada suhu 80 °C selama 48 jam.

c. Sampel kering digiling menjadi serbuk dengan mesin penggiling (willey mill). d. Serbuk hasil gilingan disaring dengan alat penyaring (mesh screen) berukuran 40-60 mesh.

e. Serbuk dengan ukuran 40-60 mesh dari contoh uji sebanyak ± 2 gr, dimasukkan kedalam cawan porselen, kemudian cawan ditutup rapat dengan penutupnya dan ditimbang dengan alat timbang.

(41)

g. Selisih berat awal dan berat akhir yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering contoh uji merupakan kadar zat terbang.

4. Kadar Abu

Prosedur penentuan kadar abu menggunakan American Society for Testing Material (ASTM) D 2866-94. Prosedurnya adalah sebagai berikut :

a. Sisa contoh uji dari penentuan kadar zat terbang dimasukkan ke dalam tanur listrik bersuhu 900 °C selama 6 jam.

b. Selanjutnya didinginkan didalam desikator dan kemudian ditimbang untuk mencari berat akhirnya.

c. Berat akhir (abu) yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanur contoh uji merupakan kadar abu contoh uji.

5. Kadar Karbon

Penentuan kadar karbon contoh uji dari tiap-tiap bagian pohon menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-3730-1995, dimana kadar karbon contoh uji merupakan hasil pengurangan 100% terhadap kadar zat terbang dan kadar abu. Pengolahan Data

Kadar air

Nilai kadar air dari contoh uji didapat dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

BKT BKT B

KA= o

(Haygreen & Bowyer, 1996 dalam Purwitasari 2011)

Dimana :

KA = Kadar air

(42)

BKT = Berat kering tanur (oven) dari contoh uji Kadar zat terbang

Kadar zat yang mudah menguap dinyatakan dalam persen berat dengan rumus sebagai berikut :

Kadar = − (ASTM, 1990dalam Purwitasari 2011) Dimana :

A = Berat kering tanur pada suhu 105 oC

B = Berat contoh uji dikurangi berat berat cawan dan sisa contoh uji berat cawan dan sisa contoh uji pada suhu 950 oC

Kadar abu

Besarnya kadar abu dihitung dengan rumus sebagai berikut :

%

Penentuan kadar karbon terikat (fixed carbon) ditentukan berdasarkan rumus berikut ini:

Kadar karbon terikat arang = 100%-kadar zat terbang arang-kadar abu Berat kering/Biomassa

Berat kering total bagian-bagian pohon dihitung dengan rumus :



(43)

Dimana :

BK = Berat kering/biomassa (Kg) BB = Berat basah (Kg)

KA = Kadar air (%)

Berat kering total merupakan penjumlahan berat kering total bagian tanaman Eucalyptus IND 61 yang terdiri dari berat kering batang,rantingdan daun.

Model allometrik biomassa dan massa karbon Eucalyptus IND 61

Model persamaan allometrik untuk penaksiran biomassa atau massa karbon dari bagian-bagian tanaman menggunakan satu atau lebih peubah dimensi berikut : Fungsi hubungan ini dibangun melalui persamaan regresi sederhana. Model persamaan yang digunakan adalah :

- Model penduga biomassa yang hanya terdiri dari satu peubah saja : W = aDb dan W = a + bD

- Model penduga biomassa yang terdiri dari dua peubah bebas : W = aDb1Hb2 dan W = a + b1D + b2H

- Model penduga massa karbonnya : C = aDb dan C = a + bD

- Model penduga massa karbon dari dua peubah bebas : C = aDb1Hb2 dan C = a +b1D + b2H

(44)

Analisis Data

Adapun untuk mengetahui perbedaan kadar karbon rata-rata setiap bagian pohon yaitu pada bagian batang, ranting dan daundigunakan uji t dengan rumus sebagai berikut :

thitung=

�� �� √�⁄

Keterangan :

�̅= nilai tengah dari beda dua contoh Sd= Simpangan baku dari beda dua contoh

n = banyaknya pasangan contoh

Dalam pangambilan keputusan dapat diambil kesimpulan untuk menyimpulkan Ho diterima atau ditolak dengan cara sebagai berikut :

- H0 diterima (H1 ditolak) apabila P>0,05 : menunjukkan tidak adanya perbedaan kadar karbon pada bagian batang, ranting dan daun.

(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun

Karakteristik tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun yang terpilih ditentukan berdasarkan kondisi tegakan dimana kondisi tegakan harus dalam keadaan sehat dan memiliki ukuran diameter rata-rata yang dianggap mewakili pohon yang ada dalam plot contoh penelitian. Inventarisasi Eucalyptus IND 61 di lapangan dilakukan dengan cara random sampling. Tujuan dari kegiatan inventarisasi ini adalah untuk mendapatkan potensi kandungan biomassa dan massa karbon pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun di IUPHHK PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara yang ditanami jenis Eucalyptus IND 61seluas ± 2,5 ha dengan intensitas sampling (IS) sebesar 2,5% dan jumlah plot sebanyak 3 plot masing-masing berukuran 40 m x 5 m. Masing-masing plot diambil 3 tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun dimana pengambilan sampel Eucalyptus IND 61 menggunakan metode destructive sampling sehingga diperoleh 9 sampel tebang yang diteliti dimana batang, ranting dan daun dipisahkan dan masing-masing bagian dibuat menjadi 3 ulangan.

(46)

Tabel 1. Hasil inventarisasi Eucalyptus IND 61 di IUPHHK PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara

No. Plot Total Pohon/Plot

1 27

2 24

3 31

Total 82

Rata-rata 27

(47)

Berat Basah Tanaman Contoh

Berdasarkan hasil pengukuran berat komponen penyusun Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun dalam kondisi segar yang meliputi batang, ranting dan daun diperoleh rata-rata berat basah keseluruhan 184,67 kg per tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun.

Tabel 2. Berat Basah Tanaman Contoh Eucalyptus IND 61umur 5 tahun

(48)

Gambar 2. Grafik hubungan antara tinggi, tinggi bebas cabang, dbh dan berat basah total per plot

Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa berat basah masing-masing tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun dan masing-masing bagiannya berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh komposisi penyusun tiap bagian tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun tersebut. Pada bagian batang lebih banyak diisi oleh selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif dibandingkan dengan ranting dan daun.

Berat basah tertinggi tertinggi terdapat pada tegakan Eucalyptus 1 (satu) dengan diameter 17,83 cm yaitu sebesar 239,5 kg. Sedangkan berat basah terendah terdapat pada tegakan Eucalyptus 3 (tiga) dengan diameter 11,4 cm yaitu sebesar 117,4 kg. Bagian-bagian tanaman dari tegakan Eucalyptus IND 61umur 5 tahun, berat basah tertinggi terdapat pada batang, kemudian ranting dan daun dapat terlihat jelas di dalam gambar 2.

Kadar Air Tanaman Contoh

Dalam proses pertumbuhannya tanaman memerlukan air yang berfungsi sebagai proses pengangkutan hara dan mineral ke seluruh bagian tubuh tanaman. Kadar air merupakan persentase jumlah air yang terkandung dalam suatu tanaman.

(49)

Kadar air merupakan berat air yang dinyatakan dalam persen air terhadap berat kering tanur (BKT). Contoh uji yang digunakan di dalam penelitian ini adalah contoh uji yang berada dalam keadaan basah. Hal ini dikarenakan pada saat contoh uji dalam keadaan basah, maka dapat terlihat kadar air yang terkandung di dalam contoh uji yang akan diteliti tersebut. Hasil pengujian kadar air pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun disajikan pada Tabel 3 dan divisualisasikan melalui grafik yang terdapat pada Grafik 2.

Tabel 3. Kadar air (%) pada setiap bagian tanaman pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun berdasarkan petak contoh penelitian

No. Plot Ulangan Kadar Air (%)

Batang Ranting Daun

1 126,98 120,85 103,15 1 2 134,09 120,85 103,15 3 143,70 120,85 103,15 4 143,80 113,98 112,68 2 5 141,43 113,98 112,68 6 156,72 113,98 112,68 7 151,22 115,15 91,84 3 8 148,41 115,15 91,84 9 156,52 115,15 91,84

Total 1302,87 1049,94 923,01

(50)

Gambar 3. Grafik kadar air pada bagian batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa terdapat variasi kadar air berdasarkan bagian tegakan. Bagian batang Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun merupakan bagian tegakan yang paling tinggi kadar airnya, yakni berkisar antara 126,98% - 156,72% sedangkan kadar air terkecil terdapat pada bagian daun yaitu berikisar antara 91,84% - 112,68%.

Tingginya kadar air batang Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun didukung oleh sel parenkim yang terdapat pada Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun, sekitar 50-60% parenkim dan serat 40% (Liese, 1980).

Kadar Zat Terbang Tanaman Contoh

Kadar zat terbang menunjukkan kandungan zat-zat yang mudah menguap dan hilang pada pemanasan 9500C yang tersusun dari senyawa alifatik, terpena dan fenolik. Rata-rata kadar zat terbang pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kadar zat terbang bagian tanaman pada tegakan Eucalyptus IND 61umur 5 tahun berdasarkan petak contoh penelitian

No. Plot Sampel Tebang

(51)

1

Gambar 4. Grafik kadar zat terbang pada batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

Berdasarkan hasil analisis di laboratorium yang disajikan pada Tabel 4, kadar zat terbang terbesar terdapat pada bagian daun yaitu sebesar 75,07% sedangkan kadar zat terbang terkecil terdapat pada bagian tanaman yaitu batang yaitu sebesar 45,43%. Menurut Hilmi (2003), kadar zat terbang tertinggi yang ditemukan terdapat pada bagian daun diakibatkan karena daun tersusun atas klorofil a dan klorofil b dengan bobot molekul tinggi sehingga meningkatkan kadar abu pada proses karbonisasi.

(52)

Kadar Abu Tanaman Contoh

Abu merupakan zat-zat anorganik yang tersisa setelah air dan materi organic telah habis pada pemanasan suhu tinggi. Kadar abu merupakan jumlah oksida–oksida logam yang tersisa pada pemanasan tinggi, yang terdiri dari mineral–mineral terikat kuat pada arang seperti kalsium, kalium dan magnesium.

Abu dapat ditelusuri karena adanya senyawa yang tidak terbakar yang mengandung unsur–unsur seperti kalsium (Ca), Kalium (K), Magnesium (Mg), Mangan (Mn) dan silica (Haygreen dan Bowyer, 1982). Hasil perhitungan kadar abu pada tegakan Eucalyptus IND 61umur 5 tahun disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kadar abu setiap bagian tanaman pada tegakan Eucalyptus IND 61umur 5 tahun berdasarkan petak contoh penelitian

No. Plot Sampel Tebang

(53)

Gambar 5. Grafik kadar abu pada bagian batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar abu terbesar terdapat pada daun sebesar 3,76% sedangkan nilai rata-rata kadar abu terkecil terdapat pada batang yakni sebesar 1,43% dimana hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Suprihatno, et al (2012) yang memperoleh kadar abu terendah pada batang yakni sebesar 2,9%.Persentase nilai kadar abu tertinggi terdapat pada daun dikarenakan daun mengandung lebih banyak bahan anorganik dibandingkan bagian yang lain dan daun sebagai bagian yang melakukan fotosintesis serta xylem mengangkut air dan mineral menuju daun.

Kadar Karbon Tanaman Contoh

(54)

Tabel 6. Kadar karbon setiap bagian tanaman pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun berdasarkan petak contoh penelitian

No. Plot Sampel Tebang

Kadar Karbon (%)

Gambar 6. Grafik kadar karbon pada bagian batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

Berdasarkan Tabel 6, dapat terlihat jelas bahwa kadar karbon rata-rata pada bagian tanaman dari tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun tertinggi terdapat pada bagian batang yaitu sebesar 49,69%, sedangkan kadar karbon rata-rata terendah terdapat pada bada bagian daun yaitu sebesar 21,37%. Besarnya

(55)

kadar karbon tergantung pada kadar abu dan kadar zat terbang dimana semakin tinggi kadar zat terbang dan kadar abu maka kadar karbon juga semakin rendah atau berbanding terbalik.

Tingginya kadar karbon pada bagian batang karena batang memiliki zat penyusun kayu yang lebih banyak dan pada saat penyebaran hasil proses fotosintesis, batang mampu menyimpan lebih banyak polisakarida dibanding dengan bagian tanaman lainnya. Karbohidrat atau polisakarida dalam tumbuh-tumbuhan mempengaruhi besarnya kadar karbon yang tersimpan di dalam jaringan tumbuhan karena polisakarida dalam tumbuh-tumbuhan mengandung 50% karbon, 44% oksigen dan 6% hidrogen (Sitompul dan Bambang, 1995).

Tegakan Eucalyptus IND 61 secara umum tersusun oleh selulosa, lignin dan bahan ekstraktif yang sebagian besar disusun dari unsur karbon.Kadar karbon pada bagian batang penting dalan menduga potensi karbon tegakan dan banyak digunakan sebagai dasar perhitungan dalam pendugaan karbon.

(56)

Selain itu, pada penelitian ini dilakukan juga pengujian beda nyata kadar karbon yang disajikan pada tabel 7, 8 dan 9. Berdasarkan Suharjo (2008) maka didapatlah hasil uji beda seperti yang disajikan dalam tabel.

Tabel 7. Hasil uji beda kadar karbon pada batang dan daun Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun berdasarkan uji-t menggunakan software SPSS 16.0

Bagian batang dan daun tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun masing-masing memiliki banyak data sejumlah 9 dengan rata-rata bagian batang 49,69 dengan simpangan baku 2,14 dan rata-rata bagian daun 21,38 dengan simpangan baku 0,13. Selanjutnya dari hasil uji beda diatas, tampak bahwa nilai t hitung = 39,53 dengan derajat bebas sebesar 16. Hal ini memberikan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,00 yang mengandung makna bahwa perbedaan hasil uji beda kadar karbon bagian batang dan daun berbeda nyata, dimana P<0,05 pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 8. Hasil uji beda kadar karbon pada batang dan ranting Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun berdasarkan uji-t menggunakan software SPSS 16.0

(57)

(2-tailed) sebesar 0,00 yang mengandung makna bahwa perbedaan hasil uji beda kadar karbon bagian batang dan ranting berbeda nyata, dimana P<0,05 pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 9. Hasil uji beda kadar karbon pada ranting dan daun Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun berdasarkan uji-t menggunakan software SPSS 16.0

Bagian batang dan daun tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun masing-masing memiliki banyak data sejumlah 9 dengan rata-rata bagian ranting 37,58 dengan simpangan baku 0,60 dan rata-rata bagian daun 21,38 dengan simpangan baku 0,13. Selanjutnya dari hasil uji beda diatas, tampak bahwa nilai t hitung = 78,70 dengan derajat bebas sebesar 16. Hal ini memberikan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,00 yang mengandung makna bahwa perbedaan hasil uji beda kadar karbon bagian batang dan daun berbeda nyata, dimana P<0,05 pada selang kepercayaan 95%.

(58)
(59)

Analisis Biomassa dan Massa Karbon Tanaman Contoh Biomassa

Biomassa adalah jumlah total bahan organik hidup di atas permukaan tanah pada pohon yang dinyatakan dalam berat kering oven per unit luas jumlah karbon yang disimpan di dalam pohon atau hutan dapat dihitung jika diketahui jumlah biomassa atau jaringan hidup tumbuhan di hutan tersebut dan memberlakukan suatu faktor konversi (Brown, 1997). Menurut Jenkins, et al (2003), biomassa dapat digunakan sebagai dasar dalam perhitungan kegiatan pengelolaan hutan, karena hutan dianggap sebagai sumber dan sink karbon, Potensi biomassa suatu hutan dipengaruhi oleh faktor iklim seperti curah hujan, umur tegakan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi dan struktur tegakan.

Jumlah biomassa setiap bagian tanaman pada tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun disajkan dalam Tabel 10.

(60)

Rataan 70,45 3,16 3,32 76,93

Gambar 7. Grafik total biomassa pada bagian batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

(61)

Massa Karbon

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan massa karbon pada setiap bagian tegakan. Massa karbon terbesar terdapat pada batang sebesar 35,35 kg dan yang terendah terdapat pada bagian daun yaitu sebesar 0,71 kg,Berikut kandungan massa karbon yang terdapat pada setiap bagian tanaman Eucalyptus IND 61umur 5 tahun yang disajikan pada Tabel 11.

Tabel 10. Kandungan massa karbon pada setiap bagian tanaman Eucalyptus IND 61umur 5 tahun berdasarkan petak contoh penelitian

No,Plot Sampel

Tebang

Massa Karbon (kg) Total Massa

Karbon (kg/btg)

Batang Ranting Daun

1 51,13 0,65 0,31 52,09 1 2 46,65 0,46 0,31 47,43 3 47,17 1,83 0,59 49,60 4 39,59 1,05 0,71 41,35 2 5 19,59 1,81 0,98 22,39 6 32,59 1,23 0,82 34,64 7 42,03 0,84 1,00 43,87 3 8 19,46 1,62 0,88 21,96 9 19,97 1,20 0,78 21,95

(62)

Gambar 8. Grafik massa karbon pada batang, ranting dan daun di setiap plot penelitian

Berdasarkan Tabel 11, massa karbon pada batang erat kaitannya dengan potensi biomassa batang dibandingkan dengan bagian tanaman lainnya. Merujuk pada data kadar air yang terdapat pada Tabel 3, dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi kadar air akan menghasilkan persentasi biomassa yang semakin rendah atau dengan kata lain kadar air berbanding terbalik dengan persentasi biomassa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erwinsyah (2009) pada distribusi kadar air dan biomassa komponen tanaman kelapa sawit yang menyatakan bahwa semakin tinggi posisi batang maka kadar air akan semakin meningkat, sedangkan kandungan biomassa semakin menurun dengan menguji analisis statistik dimana faktor kedalaman batang memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan faktor ketinggian batang.

Model Allometrik

Model allometrik merupakan model yang menghubungkan dimensi-dimensi dari tanaman dengan nilai biomassa tanaman. Setiap tanaman yang berbeda akan memiliki pola yang berbeda untuk membentuk model allometrik ini. Pengambilan sampel Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun yang dilakukan secara

(63)
(64)

Tabel 11. Model allometrik untuk menduga biomassa setiap bagian tanaman dan total biomassa dari setiap bagian tegakan Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun

Bagian Model Allometrik S P R-Sq (%)

Batang

(65)

R-Sq = Koefisien Determinasi S = Standard Error

D = Diameter Setinggi Dada (Dbh) (cm) P = Signifikansi

Persamaan terpilih tersebut selanjutnya dibandingkan dengan persamaan -persamaan lain yang menggunakan beberapa variabel bebas yang berbeda. Model terbaik dari suatu persamaan yang menggunakan suatu variabel bebas tertentu akan dipilih untuk menduga biomassa dan massa karbon Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun. Model allometrik kandungan karbon dibangun untuk melakukan penaksiran besar kandungan karbon setiap bagian tanaman dan total kandungan karbon dari setiap bagian Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun. Model ini menghubungkan antara kandungan karbon batang, ranting dan daun dengan diameter setinggi dada (Dbh), tinggi total (H) dan tinggi bebas cabang (Hbc).

(66)

Tabel 12. Model allometrik untuk menduga kandungan karbon setiap bagian tanamandan total biomassa dari setiap bagian tegakan Eucalyptus IND 61

(67)

R-Sq = Koefisien Determinasi S = Standard Error

D = Diameter Setinggi Dada (Dbh) (cm) P = Signifikansi

Dari persamaan allometrik yang telah dibuat pada Tabel 13, diketahui bahwa hubungan antara W (biomassa) dan D(diameter) memiliki tingkat yang lebih baik dibandingkan dengan hubungan allometrik antara W dengan D dan H. Pemilihan model allometrik terbaik dilakukan dengan menguji beberapa model. Berdasarkan kriteria statistik, model allometrik C = a+bD adalah model yang terpilih untuk massa karbondaun, dapat dilihat pada Tabel 13 bahwa C=258,712-37,647D+1,474D2memiliki performansi paling baik yang menghasilkan standard error (s) yaitu 5,29197, signifikansi 0,025 dan R-Square yaitu 91,5%. Bervariasinya nilai uji statistika (signifikansi, standard error dan R-square) pada biomassa dan massa karbon di setiap bagian pohon disebabkan oleh beberapa ulangan sampel memiliki besar diameter yang berbanding terbalik dengan jumlah biomassa yang dimana pada dasarnya hubungan antara diameter dan biomassa tersebut harus berbanding lurus.

(68)

membentuk sebuah garis lurus. Oleh karena itu syarat data sisaan yang menyebar terpenuhi secara normal.

W = 476,238-68,109D+2,675D2

Gambar 9. Visualisasi plot uji kenormalan sisaan model allometrik terpilih biomassa

Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun

(69)

Gambar 10. Visualisasi plot uji kenormalan sisaan model allometrik terpilih massa karbon Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun

Potensi Biomassa dan Cadangan Karbon Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun (ton/ha)

Berdasarkan model allometrik yang terpilih pada penelitian ini, maka dapat dikelola dan dihitung berdasarkan dimensi tanaman hasil inventarisasi seperti diameter (dbh) untuk mendapatkan data potensi biomassa dan cadangan karbon pada Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara. Setelah hasil perhitungan untuk biomassa dan cadangan karbon dalam satuan kilogram diperoleh, maka hasil yang diperoleh dikonversi dalam satuan ton/ha. Data hasil perhitungan potensi biomassa dan massa karbon dapat dilihat pada lampiran 4.

Tabel 13. Potensi biomassa dan massa karbon tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara

Plot

Total biomassa Total biomassa Total massa karbon Total massa karbon

(70)
(71)

Bila dibandingkan dengan potensi cadangan karbon pada beberapa jenis tanaman yang tersaji pada tabel 16, dapat dilihat bahwa kemampuan menyerap karbonnya tidak jauh berbeda dari tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun di PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara.

Tabel 14. Potensi cadangan karbon pada beberapa jenis tanaman

No Tanaman Cadangan Karbon

(ton C/ ha) Sumber

1 Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

umur 10 tahun 42,21 Hutasoit (2014)

2 Eucalyptus pellita umur 5 tahun 184,098 Rahayu dkk (2013 )

3 Eucalyptus IND 33 umur 4 tahun 52,72 Hutabarat (2011)

4 Akasia (Acacia mangium) pada

berbagai kelas diameter 25,418 Purwitasari (2011)

5 Eucalyptus hybrid umur 3 tahun 18,181 Latifah (2011)

6 Eucalyptus grandis umur 4 tahun 8,5053 Pratama (2012)

(72)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Kandungan karbon pada setiap bagian tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun yaitu pada batang sebesar 49,69%, pada ranting sebesar 37,58% dan pada daun sebesar 21,37%.

2. Persamaan allometrik yang berhasil dibangun biomassa tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun yaitu W = 476,238-68,109D+2,675D2 sedangkan model penduga massa karbon pada tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun C = 258,712-37,647D+1,474D2

3. Potensi biomassa dan cadangan karbon pada tanaman Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun di PT.Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, Sumatera Utara adalah sebesar 100,21 ton/ha dan 47,08 ton/ha.

Saran

(73)

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Eucalyptus IND 61

Pohon Eucalyptus sp termasuk family Myrtaceae. Habitat asli dari jenis ini adalah hutan lembab di sepanjang tepi sungai, hutan hujan pada tanah yang subur dan diatas lantai lembah. Jenis Eucalyptus sp menghendaki iklim C dan D, ketinggian tempat sekitar 0 – 800 m dpl, curah hujan tahunan rata-rata 1000-3500 mm dengan temperatur maksimum sekitar 24-300 Celcius. Tumbuh baik pada lahan datar atau dengan kemiringan yang tidak curam, serta tumbuh pada tanah alluvial di tempat-tempat dekat air tetapi tidak tergenang air dan mengandung lempung. Musim berbunga dan berbuah jenis ini antara bulan Januari sampai Agustus (Boland dkk, 1989 dalam Latifah 2011).

PT. Toba Pulp Lestari adalah salah satu perusahaan kehutanan di Sumatera yang mengembangkan budidaya Eucalyptus sp sebagai salah satu tanaman pokok perusahaan. Pengembangan Eucalyptus sp dilakukan dengan cara menyilangkan jenis-jenis Eucalyptus sp yang dapat diharapkan sebagai jawaban atas kekurangan kebutuhan kayu. Saat ini hasil persilangan yang memiliki keunggulan dan banyak dibibitkan di nursery PT. Toba Pulp Lestari adalah hasil persilangan antara Eucalyptus grandis dengan Eucalyptus urophylla yaitu IND 47, IND 61 dan IND 60. Penelitian ini menggunakan Eucalyptus IND 61 sebagai bahan penelitian yang dimana klon ini merupakan turunan atau klon hibrid dari Eucalyptus grandis dengan Eucalyptus urophylla.

Gambaran Umum PT.Toba Pulp Lestari, Tbk

(74)

industristrategis penghasil devisa diantara 5.935 unit pabrik sejenis yang terdapat di dunia dengan kapasitas produksi terpasang 210.459.000 ton pulp per tahun. Dari jumlah tersebut diatas 5.258 unit terdapat di Asia.

Lokasi pabrik terletak di Desa Sosorladang, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Indonesia ini berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang dioperasikan berdasarkan surat keputusan bersama Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT dan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.SK/681/M/BPPT/XI/1986 dan No. KEP-43/MNKLH/11/1986 tertanggal 13 November 1986 berdasarkan surat keputusan Menteri Investasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal No,07/V/1990, status perusahaan ini telah berubah dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDL) menjadi Penanaman Modal Asing (PMA).Saham perusahaan ini telah dijual di Bursa Saham Jakarta dan Surabaya sejak 1992 dan di New York Stock Exchange (NYSE).

(75)

dan Padang Sidempuan yang termasuk dalam delapan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Penelitian ini dilaksanakan di sektor Tele yang dimana sektor Tele merupakan sektor terbesar dari seluruh sektor yang terdapat pada PT.Toba Pulp Lestari dan memiliki suhu yang rendah. Sektor Tele terletak pada 02°15’00” – 02°50’00” LU dan 98°20’00” – 98°50’00” BT, meliputi Kabupaten Samosir

(Kecamatan Harian Boho), Kabupaten Pak-pak Barat (Kecamatan Salak dan

Kerajaan) dan Kabupaten Dairi (Kecamatan Sumbul, Parbuluan dan Sidikalang).

Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi rata-rata iklim dan/atau keragaman iklim dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain sebagai akibat dari aktivitas manusia. Perubahan iklim merupakan fenomena global yang terjadi akibat terjadinya pemanasan global karena meningkatnya kosentrasi gas rumah kaca di atmosfir sehingga suhu rata-rata di permukaan bumi meningkat. Perubahan iklim tersebut ditandai dengan mencairnya es di daerah kutub, naiknya permukaan laut serta berubahnya pola curah hujan sehingga memberikan dampak yang sangat besar bagi seluruh makhluk hidup di berbagai belahan dunia (Susandi, 2004).

(76)

lain-lain. Dalam jangka panjang, CFCs inilah yang sangat membahayakan. Disamping mengakibatkan efek rumah kaca (green house effect), juga bersifat menghancurkan lapisan ozon di stratosfir yang berfungsi menahan sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari (Alikodra, 2008).

Kenaikan suhu bumi kini menjadi fokus perhatian dunia. Inilah yang sering kita sebut sebagai pemanasan global atau global warming. Meningkatnya pemanasan global ini sungguh sangat memprihatinkan masa depan bumi. Jika pemanasan global tidak dapat diatasi. Gelombang panas pun akan mengacaukan iklim dan menimbulkan badai dahsyat yang akan memrakporandakan bangunan di berbagai kota. Masalah global warming ini mulai diangkat ke permukaan pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro tahun 1992 dan kini terus menjadi perhatian dunia. Namun negara-negara yang mempunyai perhatian besar pada pemanasan global ini belum melakukan aksi bersama dan bahkan saling mempersalahkan. Negara-negara berkembang mempermasalahkan emisi karbondioksida yang berasal dari pabrik dan kendaraan di negara maju. Sementara negara-negara maju mempermasalahkan negara-negara berkembang yang tidak memperhatikan lingkungan dan merusak hutan. Hutan yang dianggap paru-paru dunia ditebang semena-mena untuk tujuan ekonomi semata (Mangunjaya, 2008).

(77)

jumlah pohon dan tanaman yang menggunakan karbon dioksida dalam fotosintesis yang dapat berfungsi sebagai rosotan (sinks) karbon, suatu proses yang disebut sebagai penyerapan (sequestration) (FWI, 2003).

Dengan meningkatnya emisi dan berkurangnya penyerapan, tingkat gas rumah kaca di atmosfer kini menjadi lebih tinggi ketimbang yang pernah terjadi di dalam catatan sejarah. Kenaikan suhu itu mungkin tidak terlihat terlalu tinggi, tetapi di negara tertentu seperti Indonesia, kenaikan itu dapat memberikan dampak yang parah dan terutama pada penduduk yang paling miskin. Seperti apa persisnya yang akan terjadi sulit diperkirakan. Iklim global merupakan suatu sistem yang rumit dan pemanasan global akan berinteraksi dengan berbagai pengaruh lainnya, tetapi tampaknya di Indonesia perubahan ini akan makin memperparah berbagai masalah iklim yang sudah ada. Kita sudah begitu rentan terhadap begitu banyak ancaman yang berkaitan dengan iklim seperti banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan. Kini semua itu dapat bertambah sering dan bertambah parah (Soedomo, 2001).

Pandugaan Emisi Karbon

(78)

disimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomasa) pada suatu lahan dapat menggambarkan banyaknya CO di atmosfer yang diserap oleh tanaman (Hairiah dkk, 2007).

Karbon merupakan salah satu unsur alam yang memiliki lambang “C” dengan nilai atom sebesar 12. Karbon juga merupakan salah satu unsur utama pembentuk bahan organik termasuk makhluk hidup. Hampir setengah dari organisme hidup merupakan karbon. Karenanya secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di atmosfir. Karbon tersimpan dalam daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik mati ataupun sedimen seperti fosil tumbuhan dan hewan. Sebagian besar jumlah karbon yang berasal dari makhluk hidup bersumber dari hutan. Seiring terjadinya kerusakan hutan, maka pelepasan karbon ke atmosfir juga terjadi sebanyak tingkat kerusakan hutan yang terjadi (Manuri, 2011).

(79)

Upaya pendugaan karbon untuk keperluan perdagangan karbon menggunakan mekanisme REDD+, perlu diterapkan dengan tingkat keakurasian dan ketepatan yang sebaik-baiknya, namun juga perlu mempertimbangkan kompensasi biaya yang ditimbulkan. Untuk itu juga disarankan agar inventarisasi karbon tersebut dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan lainnya secara paralel, seperti potensi tegakan hutan, biodiversiti maupun data lainnya terkait dengan sistem pengelolaan hutan, sehingga dana yang digunakan menjadi lebih efektif (MacDicken, 2004).

Biomassa

Biomassa adalah jumlah total bahan organik hidup di atas permukaan tanah pada pohon yang dinyatakan dalam berat kering oven per unit luas jumlah karbon, yang disimpan di dalam pohon atau hutan dapat dihitung jika diketahui jumlah biomassa atau jaringan hidup tumbuhan di hutan tersebut dan memberlakukan suatu faktor konversi. Pengertian biomassa ditinjau dari asal kata bio dan massa, sehingga biomassa tanaman adalah massa dari bagian hidup tanaman. Bio mengandung pengertian bagian dari makhluk hidup. Massa mengandung pengertian yang sama dengan yang terdapat dalam fisika yaitu parameter kepadatan dari suatu benda atau zat yang memberikan unsur percepatannya bila suatu gaya diberikan. Dengan demikian biomassa tanaman adalah bahan hidup yang dihasilkan tanaman yang bebas dari pengaruh gravitasi, sehingga nilainya tidak sama dengan berat yang tergantung kepada tempat penimbangan dan berhubungan dengan gaya gravitasi (Brown, 1997).

Tumbuhan akan mengurangi karbon di atmosfer (CO2) melalui proses

(80)

karbon tersebut tersikluskan kembali ke atmosfer, karbon tersebut akan menempati salah satu dari sejumlah kantong karbon. Semua komponen penyusun vegetasi baik pohon, semak, liana dan epifit merupakan bagian dari biomassa atas permukaan. Di bawah permukaan tanah, akar tumbuhan juga merupakan penyimpan karbon selain tanah itu sendiri. Pada tanah gambut, jumlah simpanan karbon mungkin lebih besar dibandingkan dengan simpanan karbon yang ada di atas permukaan. Karbon juga masih tersimpan pada bahan organik mati dan produk-produk berbasis biomassa seperti produk kayu baik ketika masih dipergunakan maupun sudah berada di tempat penimbunan. Karbon dapat tersimpan dalam kantong karbon dalam periode yang lama atau hanya sebentar. Peningkatan jumlah karbon yang tersimpan dalam carbon pool ini mewakili jumlah karbon yang terserap dari atmosfer. Dalam inventarisasi karbon hutan, carbon pool yang diperhitungkan setidaknya ada 4 kantong karbon. Keempat kantong karbon tersebut adalah biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organik mati dan karbon organik tanah.

• Biomassa atas permukaan adalah semua material hidup di atas permukaan.Termasuk bagian dari kantong karbon ini adalah batang, tunggul, cabang, kulit kayu, biji dan daun dari vegetasi baik dari strata pohon maupun dari strata tumbuhan bawah di lantai hutan.

(81)

• Bahan organik mati meliputi kayu mati dan serasah. Serasah dinyatakan sebagai semua bahan organik mati dengan diameter yang lebih kecil dari diameter yang telah ditetapkan dengan berbagai tingkat dekomposisi yang terletak di permukaan tanah. Kayu mati adalah semua bahan organik mati yang tidak tercakup dalam serasah baik yang masih tegak maupun yang roboh di tanah, akar mati, dan tunggul dengan diameter lebih besar dari diameter yang telah ditetapkan.

• Karbon organik tanah mencakup karbon pada tanah mineral dan tanah organik termasuk gambut.

(Sutaryo, 2009).

Terdapat 4 cara utama untuk menghitung biomassa yaitu sampling dengan pemanenan (Destructive sampling) secara in situ; (ii) sampling tanpa pemanenan (Non-destructive sampling) dengan data pendataan hutan secara in situ; (iii) pendugaan melalui penginderaan jauh; dan (iv) pembuatan model. Untuk masing- masing metode di atas, persamaan allometrik digunakan untuk mengekstrapolasi cuplikan data ke area yang lebih luas. Penggunaan persamaan allometrik standard yang telah dipublikasikan sering dilakukan, tetapi karena koefisien persamaan allometrik ini bervariasi untuk setiap lokasi dan spesies, penggunaan persamaan standard ini dapat mengakibatkan galat yang signifikan dalam mengestimasikan biomassa suatu vegetasi (Australian, 1999).

(82)

pada tegakannya dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan di hutan alam karena daurnya lebih pendek (Balitbang Kehutanan, 2010 dalam Latifah 2011).

Cadangan karbon cenderung semakin besar dengan meningkatnya umur tanaman. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan karbon adalah iklim, topografi, karakteristik tanah, spesies, komposisi umur pohon, laju pertumbuhan pohon dan kualitas tempat tumbuh. Tingkat serapan karbon yang tinggi umumnya terjadi pada lokasi lahan dengan kesuburan yang tinggi dan tingkat curah hujan cukup, dan pada tanaman yang cepat tumbuh, walaupun tingkat dekomposisi juga cukup tinggi pada lokasi tersebut. Pengelolaan hutan yang baik seperti pengaturan penjarangan dan rotasi pohon juga mempengaruhi tingkat serapan karbon. Sebaliknya tingkat penyerapan karbon yang rendah umumnya terjadi pada lokasi dengan tingkat curah hujan dan kesuburan tanah yang rendah (Dury dkk, 2002 dalam Latifah 2011).

Persamaan Allometrik Biomassa dan Massa Karbon

Metode allometrik merupakan metode pengukuran pertumbuhan tanamanyang dinyatakan dalam bentuk hubungan-hubungan eksponensial atau logaritma antar organ tanaman yang terjadi secara harmonis dan perubahan secara proporsional (Parresol, 1999).

(83)

persamaan allometrik dapat digunakan untuk menghubungkan antara diameter batang pohon dengan variabel yang lain seperti volume kayu, biomassa pohon, dan kandungan karbon pada tegakanhutan yang masih berdiri (standing stock).

Sebelum pembuatan model diperlukan parameter-parameter yang mendukung keberadaan model tersebut, yang menjadi kriteria adalah adanya korelasi yang tinggi antara parameter-parameter penciri. Dalam pembuatan model penduga biomassa digunakan satu atau dua peubah bebas (diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang, tinggi total dan tinggi tajuk) dalam bentuk linear dan non linear. Metode estimasi dilakukan dengan menggunakan asumsi-asumsi yang lazim digunakan untuk menaksir kandungan karbon vegetasi hutan. Menurut Brown et al (1984) bahwa kandungan karbon vegetasi pohon adalah 50% dari biomassa. Berdasarkan cara memperoleh data, Brown (1997) mengemukakan ada dua pendekatan yang digunakan untuk menduga biomassa dari pohon, yakni pertama berdasarkan penggunaan dugaan volume kulit sampai batang bebas cabang yang kemudian diubah menjadi kerapatan biomassa (ton/ha). Sedangkan pendekatan kedua secara langsung dengan menggunakan persamaan regresi biomassa.

(84)

Kittredge (1994) dalam Onrizal (2004) merumuskan metode allometrik dalam bentuk persamaan formulasi kuadrat sebagai berikut:

Y = aXb Keterangan:

Y = Variabel bergantung (biomassa)

X = Variabel bebas (diameter dan tinggi total pohon) a, b = Konstanta

Model yang digunakan untuk membangun model allometrik regresi linear berganda digunakan persamaan sebagai berikut:

Y = a + bX1+ cX2 + dX3

Keterangan:

Y = Biomassa

X1,X2,X3 = Parameter yang diukur

a, b, c = nilai estimasi

Proses menganalisis hubungan nilai dan biomassa dilakukan dengan menggunakan program software SPSS. Pemilihan model terbaik menggunakankriteria koefisien determinasi yang disesuaikan (R-square) dan Standard Error paling rendah. Semakin tinggi nilai koefisien determinasi yang terkoreksi (R-square), maka semakin besar peranan nilai peubah tersebut dalam menjelaskan nilaibiomassa dan massa karbon. Semakin rendah nilai Standard Error maka semakin akurat hasilpenaksiran yang diperoleh.

(85)
(86)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) seperti karbondioksida

(CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC),

perfluorokarbon (PFC) dan sulfur heksafluorida (SF6) di atmosfer sudah

menimbulkan dampak lingkungan dengan naiknya suhu udara di bumi. Konsentrasi

CO2 di atmosfer terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hutan memiliki

fungsi ekologis dalam menjaga iklim. Hal ini terkait dengan kemampuan tegakan

hutan untuk menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) dalam

proses fotosintesis. Semakin banyak CO2 yang diserap oleh tumbuhan dan disimpan

dalam bentuk biomassa karbon maka semakin besar pengaruh buruk efek rumah kaca

dapat dikendalikan.

(87)

Perdagangan karbon saat ini sedang intensif dibicarakan oleh masyarakat

dunia. Berbagai penelitian telah dilakukan dalam menduga kandungan karbon melalui

rumusan allometrik, sehingga dapat diketahui potensi cadangan karbon pada suatu

kawasan. Dengan persentase kawasan hutan yang dikelola untuk tujuan produksi hasil hutan melaluiIzin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan pembayaran jasa lingkunganmelalui Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL) ini merupakan pemanfaatan fungsi kawasan yang terbesar yaitu lebih dari 50 % maka hal ini menjadi salah satu peluang bagi hutan yang berstatus sebagai Hutan Tanaman Industri (HTI) seperti Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Toba Pulp

Lestari, Sektor Tele yang memiliki potensi untuk ikut ambil bagian namun untuk saat

belum diketahui potensi karbon yang tersimpan di dalamnya. Oleh sebab itu, perlu

dilakukan penelitian mengenai pendugaan kandungan karbon pada kawasan Hutan

Tanaman Industri (HTI) PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele tersebut. Penelitian ini

bertujuan untuk menduga besarnya potensi cadangan karbon pada kawasan Hutan

Tanaman Industri (HTI) PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele. Hasil penelitian ini

diharapkan diperoleh data besarnya potensi besaran karbon yang tersimpan pada

hutan tersebut.

(88)

Barat (Kecamatan Salak dan Kerajaan) dan Kabupaten Dairi (Kecamatan Sumbul, Parbuluan, dan Sidikalang).

Pembangunan HTI terutama dimaksudkan untuk merehabilitasi lahan-lahan dalam kawasan hutan tidak produktif. Di masa depan peran HTI untuk memasok kebutuhan kayu akan semakin penting, karena pasokan kayu dari hutan alam akan terus menurun. Kayu Eucalyptus sp telah menjadi salah satu spesies pohon yang penting dalam pembangunan HTI di Indonesia. Hingga saat ini, pohon Eucalyptus sp merupakan spesies yang paling banyak ditanam, terutama pada HTI di Sumatera. Spesies ini dikembangkan untuk HTI karena pertumbuhannya yang cepat dan mempunyai kemampuan tumbuh pada lahan marjinal.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis adanya perbedaan kadar karbon pada batang, ranting dan daun dari Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun di IUPHHK-HT PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele, Sumatera Utara.

2. Mendapatkan model allometrik pendugaan potensi cadangan karbon pada Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun di IUPHHK-HT PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele, Sumatera Utara.

(89)

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Sebagai informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan khususnya bagi peneliti terkait dan pembaca mengenai biomassa dan karbon tegakan Eucalyptus IND 61 pada umur 5 tahun di IUPHHK-HT PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele.

2. Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Sektor Tele merupakan perusahaan yang turut memberikan kontribusi dalam membantu penyerapan karbon pada isu pemanasan global.

Hipotesis

(90)

YOAN EVI FANIA : Pendugaan Cadangan Karbon Pada Tegakan Eucalyptus IND 61 Umur 5 Tahun di IUPHHK PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Tele, SumateraUtara. Dibimbing oleh MUHDI dan KANSIH SRI HARTINI.

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC),

perfluorokarbon (PFC) dan sulfur heksafluorida (SF6) di atmosfer sudah

menimbulkan dampak lingkungan dengan naiknya suhu udara di bumi. Hutan memiliki fungsi ekologis dalam menjaga iklim, hal ini terkait dengan kemampuan hutan untuk menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) dalam

proses fotosintesis.

Penelitian ini menggunakan Eucalyptus IND61 sebagai bahan penelitian yang dimana klon ini merupakan turunan atau klon hibrid dari Eucalyptus grandis dengan Eucalyptus urophylla.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menduga potensi biomassa dan massa karbon tegakan Eucalyptus IND 61umur 5 tahun; (2) menganalisis adanya perbedaan kadar karbon pada batang, ranting dan daun dari Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun; (3) mendapatkan model allometrik pendugaan potensi cadangan karbon pada Eucalyptus IND 61 umur 5 tahun. Pelaksaan penelitian dilakukan dengan dua tahap kegiatan, yaitu tahap pertama pengambilan data di lapanagan dan tahap kedua menganalisa biomassa dan karbon bagian-bagian tanaman dilakukan di laboratorium. Peubah yang diukur di lapangan adalah berat basah, sedangkan di laboratorium yang diukur adalah kadar air, kadar zat terbang, kadar abu dan kadar karbon.

(91)

ABSTRACT

YOAN EVI FANIA : Estimation Carbon Stocks of Eucalyptus IND 61 Age 5 Years Stand in IUPHHK PT. Toba Pulp Lestari, Tele District, Sumatera Utara. Supervised by MUHDI and KANSIH SRI HARTINI.

Increasing concentrations of greenhouse gases like carbon dioxide (CO2),methane (CH4),nitrous oxide (N2O), hydrofluorocarbons (HFC),perfluorocarbons (PFC)and sulfur hexafluoride (SF6) in the atmosphere already have environmental impacts caused by rising air temperature at the earth. Forests can absorb greenhouse gases by way of transforming CO2 from the air to deposit the carbon stored in trees.

This research use Eucalyptus IND 61 as material research which is this clon is derivative or hybrid clon from Eucalyptus grandis and Eucalyptus urophylla. The objective of this research are (1) estimating potency of biomass and carbon mass from Eucalyptus IND 61 age 5 years; (2) analyzing the differences in carbon content of stems, twigs and leaves from Eucalyptus IND 61 age 5 years; (3) getting the allometric model to estimating carbon stocks potential of Eucalyptus IND 61 age 5 years. The research was carried out in two stages, namely the first stage were to data in the field and the second stage was analyze of carbon biomass and plant in the laboratory. Parameters measured in the field was wet weight, whereas in the laboratory is measured moisture content, volatile matter content, ash content and carbon content.

The results of the case study on Eucalyptus IND 61 age 5 years stands, showed that there is a differences in carbon content of stems, twigs and leaves. The highest carbon mass is in the main stem of the tree, and the lowest is in the twigs. The best model allometric equations for estimating biomass and carbon mass of Eucalyptus IND 61 age 5 years was W=47.238-68.109D+2.675D2 and C=25.712-37.647D+1.474D2 (W=biomass; C=carbon mass; D=diameter), resulting in biomass and carbon mass of Eucalyptus IND 61 age 5 years 100.21 ton/ha and 47.08 ton/ha respectively.

(92)

PT. TOBA PULP LESTARI, SEKTOR TELE,

SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh :

Yoan Evi Fania

121201152

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(93)

PENDUGAAN CADANGAN KARBON PADA

TEGAKANEUCALYPTUS IND 61 UMUR 5 TAHUN di IUPHHK

PT. TOBA PULP LESTARI, SEKTOR TELE,

SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh :

Yoan Evi Fania

121201152/MANAJEMEN HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar

Tabel 1.                 Eucalyptus Tally sheet diameter setinggi dada (dbh), tinggi total dan tinggi bebas cabang  IND 61 umur 5 tahun pada plot I No Diemeter Setinggi Dada (dbh)
Tabel 2. Tally sheet                 Eucalyptus berat basah total batang, berat basah daun dan berat basah cabang  IND 61umur 5 tahun pada plot I Berat Basah Batang (kg) Berat Basah Berat Basah
Tabel 3. Tally sheet                Eucalyptus  diameter setinggi dada (dbh), tinggi total dan tinggi bebas cabang  IND 61umur 5 tahun pada plot II
Tabel 4. Tally sheet berat basah total batang, berat basah daun dan berat basah cabang                   Eucalyptus IND 61umur 5 tahun pada plot II
+7

Referensi

Dokumen terkait

• Be familiar with the main SDLC approaches—the traditional waterfall cycle, prototyping, rapid application development, phased development, and business process redesign.. •

Board of Members Decision on amandement of Article 5 on Working Language and Article 22 on Secretariat of.. the Statute of the AACC

5 Membuat/menulis karya pengabdian pada masyarakat yang tidak dipublikasikan, tiap karya 3 4.. Komponen Kegiatan Angka Kredit Maksimum 1 Menjadi anggota dalam suatu Panitia/Badan

Dengan ini diumumkan bahwa berdasarkan Ketetapan Panitia Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Demikian pengumuman ini

Jalan Jenderal Soedirman Pintu I, Senayan, Jakarta 10270 Telp. selesai Tempat :

Dengan ini diumumkan bahwa berdasarkan Ketetapan Panitia Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov.

Proses penyusunan substansi RUU tentang Pendidikan Tinggi melalui kajian dan evaluasi terhadap berbagai permasalahan pendidikan tinggi diantaranya: Kebijakan

kalau pake bahasa c untuk program alarm suara adzannya ya tinggal baca data jam dan menit dari DS trus uji nilai waktunya itu dengan fungsi syarat IF€ atau bisa dengan