PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARANGUIDED INQUIRY DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

64 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARANGUIDED INQUIRY

DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

(Skripsi)

Oleh

ASIS BUDI SANTOSO

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)
(3)

ABSTRAK

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARANGUIDED INQUIRY

DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

Oleh

Asis Budi Santoso

Dewasa ini banyak dikembangkan model pembelajaran kooperatif dengan tujuan, siswa dapat dengan mudah menerima serta mengerti apa yang disampaikan guru. Upaya tersebut ternyata belum sepenuhnya menjadi solusi atas masalah yang ada. Model pembelajaran guided inquiryadalah salahsatu model yang masih kesulitan dalam mengimplementasikan tahapan inquiry dilapangan. Model ini harus menuntut kematangan dan kemandirian siswa dalam memahami materi yang diberikan. Untuk meminimalisir permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan pembelajaran dalam penerapan model pembelajaranguided inquiry.

(4)

Asis Budi Santoso mengajar dan menyampaikan materi yang sedang dipelajari. Pendekatan KPS merupakan pendekatan yang mengakomodir keterampilan proses sains siswa, dalam melakukan eksperimen yang dilakukan sebagai titik tolak bagaimana cara guru menyampaikan materi yang disampaikan.

Penerapan model pembelajaran guided inquiry pada kelas dengan pendekatan KGS, sebelum diterapkan model nilai rata-rata nya adalah 31,81 sedangkan setelah diterapkan model nilai rata-ratanya menjadi 78,67. Kelas dengan pendekatan KPS sebelum diterapkan model nilai rata-rata nya adalah 29,91, sedangkan setelah diterapkan model nilai Gain rata-ratanya menjadi 68,83. Dari data tersebut terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar fisika siswa SMA pada penerapan model pembelajaran guided inquiry dengan pendekatan KGS dan dengan pendekatan KPS. Kelas KGS n-Gain rata-rata 0,69, sedangkan untuk kelas KPS n-Gain rata-rata adalah 0,57.

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah: Nama : Asis Budi Santoso

NPM : 0713022021

Fakultas/Jurusan : FKIP/P MIPA Program Studi : Pendidikan Fisika

Alamat : Jl. Hi. Jauhari Wahid Perum. Griya Kencan Blok C No. 3 Kec. Rajabasa , Bandar Lampung

Menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Bandar Lampung, November 2012 Yang Menyatakan,

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Asis Budi Santoso dan dilahirkan di Sumber Alam Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat, pada tanggal 11 Maret 1989. Penulis merupakan putra ketiga dari empat bersaudara atas pasangan Bapak Dimyati dan Ibu Siti Amanah.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Sumber Alam Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2001. Pada tahun 2004, menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 2 Way Tenong (sekarang SMP Negeri 1 Air Hitam) Kabupaten Lampung Barat dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di MA Negeri I Metro Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2007. Pada tahun 2007, penulis tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

(7)

KBM Unila. Sedangkan untuk organisasi ekstra kampus penulis aktif dalam Ikatan Mahasiswa Lampung Barat (Ikam Lambar) menjadi ketua umum pada tahun 2010. Selain itu penulis pernah menjadi kepala departemen Kebijakan Publik KAMMI Kom. Unila tahun 2010-2011, dan menjadi kepala departemen kajian strategis KAMMI Daerah Lampung pada tahun 2012.

(8)

Motto

Allah SWT Tidak Akan Merubah Suatu Kaum

jika Kaum Tersebut Tidak Merubah Dirinya

Sendiri

Sebaik-baik Manusia Adalah yang Berguna Bagi

Orang Lain

Al Hadist

Barang Siapa Bersungguh Pasti Mendapatkannya

Bergerak Tuntaskan Perubahan

(9)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur kehadirat Alloh SWT atas nikmat yang telah diberikan, mudah-mudahan kenikamatan terus Engkau berikan. Serta sholawat kepada Nabi ku tercinta Muhammad SAW inspirator perjuangan dalam hidup yang mengajari banyak hal. Ku persembahkan karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada:

Mamak, Pakde, dan Ibu yang telah membesarkan, mendidik, dan selalu mendoakan serta mencurahkan kasih sayangnya dengan pengorbanan yang tulus ikhlas demi kebahagiaan dan keberhasilanku.

atas kemurahannya dan pengorbanan selama ini, serta keluarga besarku yang terus mendoakan dan menjadi penguat hati atas perjuangan keberhasilanku.

Para pendidik yang telah mendidikku semenjak aku terlahir, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga aku menempuh Perguruan Tinggi.(Jazzakallah) Semoga ilmu yang kalian berikan bermanfaat dan menjadi amal baik dan pemberat dihari pembalasan.

Bangsa dan Negara ini yang tengah dalam perjuangan menjadi Negara yang kuat, mudah-mudahan kelak saya dapat ikut serta berkontribusi.

(10)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Alloh Aza Wa Jalla yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang

Perbandingan Hasil Belajar Fisika Siswa SMA pada Penerapan Model PembelajaranGuided Inquirydengan Pendekatan Keterampilan Generik Sains dan Keterampilan Proses Sains

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan beserta jajaran dekanat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung;

2. Bapak Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung;

3. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung; 4. Bapak Dr. Agus Suyatna, M.Si., selaku pembimbing 1 atas kesedian dan

(11)

5. Bapak Drs. Nengah Maharta, M.Si., selaku pembibimng 2 dan dosen yangsangat luar biasa atas kesedian dan waktu ditengah kesibukannya yang sangat padat untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik baik selama perkuliahan maupun penyusunan skripsi;

6. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku pembahas atas kesediannya

memberikan bimbingan, saran, dan kritik baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi. Mudah-mudah sikap kritis dan loyalitas bapak bisa saya tiru dikemudian hari. Amien;

7. Seluruh dosen yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menyele-saikan studi terimakasih atas segala ilmu yang berguna, mudah-mudah ilmu yang sudah saya terima kelak menjadi amal baik di hari akhir. Amien; 8. Bapak selaku Kepala MA Negeri 1 Metro

Lampung Timur beserta jajaran yang telah memberikan izin penelitian dan dukungannya;

9. Ibu Dra. Umi Purwaningsih selaku guru mitra yang telah banyak membantu proses dilapangan, memberikan arahan, serta masukan ketika penelitian. Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat ya bu;

10. Mbok (mbah),Bapak (Bapak), ibu (Mamak), Pakde Darum dan Ibu

(terimakasih atas doanya yang tak henti-henti buat ku, mudah-mudahan kelak mas Asis bisa mengangakat derajat kalian semua didunia dan akhirat. Amin), Mas Kasan, Mbak Susti, Mbak Pitri, (terimaasih banyak atas kemurahannya selama ini mudah-mudahan Allah swt bisa membalas kebaikan kalian. Amien), adek ku dan ponakanku tersayang (Novi, Riroh, Kiki, Icha, Ghifar, dan Azam jadi anak yang baik dan pinter ya, tetep semangat

(12)

sepupu, dan semua saudara di mana pun sekarang berada (khususnya buat lek Ror, bik Tie, dan lek Parlan sekeluarga), dan

bantuannya. Mudah-mudahan sampai dengan hari akhir tidak ada fitnah dalam keluarga besar kita, menjadi penolong dalam dunia dan akhirat. Amien;

11. Sahabat kecil saya Surya, Iwan, dan Rokim (tetap lanjutkan mimpi kita kawan), Sahabat dan guru spiritual (gak perlu disebutkan namanya, gak baik kata orang), Tetangga dikampung Pak Hi. Hamid, Pak Hi. Roji, dan semua yang pernah membantu selama penyelesaian studi saya, terimakasih atas bantuannya.

12. Teman-teman seperjuangan (angkatan 2007 reguler): Rusli, Anang, Adit (khusus buat tiga orang didepan spesial banget), Yayuk, Erlida, Mukhi, Desta, Fera S, Siska, Dian, Agung, Shinta, Sari, Betha, Laili, Ike, Widhi, Maylisa, Ayu, Mega, Anis, Eti, Anggar, Yuda, Saiful, Fera R, Levi, Budi, Hendry, Made, Andri, Yeni, Adit, Iyus, Podzol, dan Ardian atas persahabatan dan kebersamaannya selama ini dan juga

temen-kalian semua;

13. Kakak tingkat angkatan 2004, 2005 (kak rio dan kawan-kawan), dan 2006 (kak afif dan kawan-kawan) serta adik tingkat angkatan 2008 (Bayu dan kawan), 2009, dan 2010 atas kebersamaannya dan segala bantuannya; 14. Teman-teman PPL SMA Negeri 3 Bandar Lampung : kak Indra, Rakhmat,

Angga, Ayu, Ica, Wahyu, Nadia, Tria, Aprita, Yani dan Dwi Astiti atas kebersamaan selama 3 bulan, pengalaman yang diperoleh menjadi berharga sebagai titik tolak menjadi pendidik yang baik;

(13)

Hadi P, Mubarok, Kak Sefrizal, Rasnal, Rasyim, Basrin, Jevri, Waskito, dan pengurus Akhwat juga tentunya) dan KAMMI Unila yang tak akan cukup apabila harus saya tulis satu persatu. Terimakasih atas ukhwah yang selama ini ane rasakan, semoga yang kita lakukan selama ini bukan upaya yang sia-sia, Allah SWT pasti membalas keihklasan antum semua dalam perjuangan yang penuh dengan tangis dan tawa selama ini;

16. Kawan-kawan UKMF FPPI FKIP Unila (khusus priode 08/09, kak Adi I dan kawan), BEM FKIP Unila (khusus priode 09/10, Kak Med dan kawan-kawan ), DPM U KBM Unila (periode 10/11, Rion, Eko, kak Mumu, kak Rosyid, Aris, Andi, Satriyo, Dian, Mbak Fitri, Mbak Ira, Mbak Ning, Liska, Mbak Eka, Bu Mery, Chandra, Ismi), dan Ikam Lambar (Usep dan kawan-kawan, tetap semangat untuk berkontribusi membangun daerah) atas

pengalaman berharga yang telah diberikan, semoga semangat kalian berlanjut sampai kita tua untuk membangun Bangsa secara nyata membawa negara ini menjadi Negara yang kuat, mandiri, dan sejahtera;

(14)

18. Seluruh pihak yang telah membantu dalam proses pengerjaan skripsi dan penyelesaian studi, rasa syukur penulis tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karna memiliki orang-orang yang bersedia untuk membantu penulis dalam menyelesaikan studi penulis haturkan terimakasih banyak.

Penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan semoga skripsi ini bermanfaat.

Bandar Lampung, November 2012 Penulis,

(15)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. KERANGKA TEORETIS A. Tinjauan Pustaka ... 7

1. Model PembelajaraInquiry... 7

2. Model PembelajaranGuided Inquiry... 10

3. Pendekatan Pembelajaran... 12

a. Pendekatan KGS... 13

b. Pendekatan KPS ... 16

(16)

B. Kerangka Pemikiran ... 22

C. Anggapan Dasar ... 25

D. Hipotesis ... 26

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 27

B. Populasi dan Sampel ... 27

C. Desain Penelitian ... 28

D. Data Penelitian ... 28

E. Prosedur Penelitian ... 29

1. Tahap Perencanaan ... 29

2. Tahap Pelaksanaan ... 29

F. Teknik Pengumpulan Data ... 31

G. Teknik Uji Instrumen... 31

a. Uji Validitas ... 32

b. Uji Reliabilitas ... 33

H. Teknik Analisis Data ... 34

1. Uji Normalitas ... 36

2. Uji Homogen Variansi ... 37

3. UjiPaired Sample T Test ... 37

4. UjiIndependent Sample T Test ... 39

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 42

(17)

2. Hasil Ujian Penelitian... 47 B. Pembahasan ... 58

1. Pengaruh Pendekatan KGS dalam Model Pembelajaran

Guided Inquiry... 59 2. Pengaruh Pendekatan KPS dalam Model Pembelajaran

Guided Inquiry... 61 3. Deskriptif Perbedaan Antara Kelas Dengan Penerapan ModelGuided

InquiryDengan Pendekatan KGS dan Dengan Pendekatan KPS.... 63

V. KESIMPULAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesimpulan ... 69 B. Saran ... 69

(18)

i

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1. Rancangan Tes Awal Tes Akhir ... 28

4.1. Hasil Uji Validitas Soal ... 48

4.2. Hasil Uji Reliabilitas Soal ... 49

4.3. Hasil Uji Penelitian ... 50

4.4. Hasil Uji Normalitas ... 50

4.5. Hasil UjiPaired Sample T TestKelas KGS ... 52

4.6. Hasil UjiPaired Sample T TestKelas KPS ... 54

4.7. Hasil UjiF... 56

(19)

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1. Kerangka Pemikiran... 23 4.1. Grafik Perbandingan Gain Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Pada Kelas

KGS... 61 4.2. Grafik Perbandingan Gain Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Pada Kelas

KPS ... 62 4.3. Grafik Perbandingan Peningkatan Gain Rata-rata Skor Pretest dan Postest

Pada Kelas KGS dan KPS ... 65 4.4. Grafik Perbandingan Peningkatan N-Gain Rata-rata Pada Kelas KGS dan

(20)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran sains merupakan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada siswa agar dapat mempelajari alam secara ilmiah. Pembelajaran sains disekolah seharusnya diarahkan dan dilatih agar siswa berpikir kritis dalam membuat konsep atau pun dalil melalui pengamatan dan percobaan. Namun, pada kenyataannya upaya tersebut menjadi tidak optimal dikarenakan model

pembelajaran yang digunakan tidak memupuk atau menumbuhkan antusiasme dalam proses belajar. Siswa tetap berfikir bahwa sains tetap saja menjadi pelajaran yang membosankan. Model-model yang digunakan pada pelajaran sainspun masih berkiblat pada pembelajaran konvensional. Guru tetap mejadi pusat perhatian dalam proses pembelajaran sehingga berdampak pada siswa yang tidak aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Bidang studi fisika adalah bagian dari ilmu sains yang merupakan ilmu tentang alam dalam makna terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Para fisikawan atau ahli fisika mempelajari perilaku dan sifat materi dalam bidang yang sangat beragam. Mulai dari partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu

(21)

2 konvensional maka siswa cenderung merasa bosan dan mudah jenuh dalam belajar. Siswa yang tidak terbiasa maka akan memilih sesuatu secara instan dan hanya menghafal rumus, tidak memahami substansi konsep yang

digunakan. Catatan bagi guru hari ini adalah agar mencari terobosan mencari metode pembelajaran yang relevan dengan tujuan membuat siswa proaktif. Siswa harus menjadi pusat perhatian dalam proses pembelajaran, dengan upaya tersebut siswa dapat memahami konsep-konsep di dalam fisika. Siswa dapat memahami serta menginternalisasi rumus-rumus yang cenderung menjadi masalah dalam mempelajari fisika, sehingga pada akhirnya hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat.

Dewasa ini banyak dikembangkan model pembelajaran agar siswa dapat dengan mudah menerima serta mengerti apa yang disampaikan guru, sehingga hasil belajar diharapkan akan meningkat. Metode pembelajaran yang sedang dikembangkan dalam bidang sains yang sampai sekarang masih tetap

(22)

3 belajar dan guru dalam pembelajaran dengan modelinquiryadalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan, namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.

Model pembelajaranguided inquirymerupakan model yang dikembangkan dari model pembelajaraninquiry.Guided inquiry(Inkuiri Terbimbing) adalah model pembelajaran inkuiri yang didalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas terhadap siswa. Sebagain besar perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah. Akan tetapi menurut Hurrahman (2008) masih terdapat kesulitan dalam mengimplementasi model ini dilapangan. Siswa dituntut memiliki kematangan dalam memahami materi yang diberikan, sehingga dibeberapa kondisi model ini tidak efektif digunakan. Pada kesempatan ini peneliti mencoba menerapkan modelGuided Inquirydengan menggunakan pendekatan Keterampilan Generik Sains (KGS) dan Keterampilan Proses Sains (KPS). Pendekatan tersebut digunakan sebagai kegiatan yang mengakomodir keterampilan siswa untuk perantara masuk dalam kegiatan Inquiry. Pendekatan KGS merupakan pendekatan yang mengakomodir keterampilan dasar siswa sebagai titik tolak bagaimana cara guru mengajar dan menyampaikan materi yang sedang dipelajari. Pendekatan KPS

(23)

4 dalam melakukan eksperimen yang dilakukan, sebagai titik tolak bagaimana cara guru menyampaikan materi yang disampaikan. Pendekatan KGS dan KPS dipandang perlu untuk digunakan agar dapat membangkitkan antusiasme siswa dalam belajar berdasarkan potensi keterampilan yang sebenarnya dimiliki oleh siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah terdapat peningkatan hasil belajar pada ranah Kognitif Fisika siswa SMA setelah diterapkan Model PembelajaranGuided Inquiry dengan pendekatan KGS?

2. Apakah terdapat peningkatan hasil belajar pada ranah Kognitif Fisika siswa SMA setelah diterapkan Model PembelajaranGuided Inquiry dengan pendekatan KPS?

3. Apakah terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar Fisika pada ranah Kognitif siswa SMA pada penerapan model pembelajaranGuided Inquiry dengan pendekatan KGS dengan pendekatan KPS?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan :

(24)

5 2. Mengetahui peningkatan hasil belajar pada ranah Kognitif Fisika siswa

SMA setelah diterapkan Model PembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KPS.

3. Mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar Fisika pada ranah Kognitif siswa SMA pada penerapan model pembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KGS danGuided Inquirydengan pendekatan KPS.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Dapat meningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses sains siswa dalam penerapan model pembelajaranGuided Inquiry

2. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan dasar sains siswa dalam penerapan model pembelajaranGuided Inquiry

3. Mengetahui pendekatan pembelajaran yang efektif pada penerapan model pembelajaranguided inquiry

E. Ruang Lingkup Penelitian

Agar penelitian ini terarah dan mencapai sasaran sebagaimana yang telah dirumuskan, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada :

(25)

6 2. Pendekatan KGS merupakan pendekatan yang beroriantasi pada

kemampuan generik siswa. Eksplorasi dan pengembangan kemampuan generik siswa dalam penerapan model pembelajaranGuided Inquiry. 3. Pendekatan KPS merupakan pendekatan yang beroriantasi pada

kemampuan proses yang dikembangkan dalam model pembelajaran Guided Inquiry.

4. Hasil belajar siswa yang diperoleh dari siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar yang diamati merupakan hasil belajar pada ranah kognitif.

5. Materi pembelajaran yang diberikan pada penelitian ini adalah Listrik Dinamis

(26)

II. KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Model Pembelajaran Inkuiri

Inquiryberasal dari bahasa inggris yang artinya penyelidikan, sedangkan secara istilahinquirydapat diartikan proses penyelidikan untuk mencari sebuah jawaban atau memecahkan sebuah masalah. Model pembelajaran inquiryjuga dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi siswa melakukan eksperimen sendiri, ingin melihat apa yang terjadi secara mandiri, mencari jawaban atas pertanyaan sendiri,

menghubungkan apa yang sudah ditemukan, serta membandingkan apa yang terjadi. Aktivitas berpusat pada proses yang dijalani oleh siswa, sehingga menuntut siswa untuk proaktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Inquiry menurut Roestiyah (2008)

Merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar didepan kelas. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut : guru membagi tugas meniliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok

mendapatkan tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan kerja kelompok dilaporkan ke siding pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang plenolah kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok.

(27)

8 Metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar

berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.

Proses belajar mengajar dengan modelInquirymenurut Putrayasa (2001) ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Menggunakan keterampilan proses;

2. Jawaban yang dicari siswa tidak diketahui terlebih dahulu; 3. Siswa berhasrat untuk menemukan pemecahan masalah; 4. Suatu masalah ditemukan dengan pemecahan siswa sendiri;

5. Hipotesis dirumuskan oleh siswa untuk membimbing percobaan atau eksperimen;

6. Para siswa mengusulkan cara-cara pengumpulan data dengan melakukan eksperimen, mengadakan pengamatan, membaca/ menggunakan sumber lain;

7. Siswa melakukan penelitian secara individu/ kelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut;

8. Siswa mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan.

Sedangkan Proses belajar menurutBrunerdalam Nasution (2010)

mengungkapkan bahwa

Proses belajar dapat dibedakan tiga fase atau episode, yakni (1) informasi, (2) tranformasi, dan (3) evaluasi.

Berdasarkan pada ciri-ciri model pembelajaran inkuiri di atas jelas bahwa

guru berusaha membimbing, melatih, dan membiasakan siswa untuk

terampil berpikir. Siswa dituntut untuk diarahkan mengalami keterlibatan

secara mental maupun secara fisik seperti terampil menggunakan alat,

terampil merangkai peralatan percobaan dan sebagainya. Pelatihan dan

pembiasaan siswa untuk terampil berpikir dan terampil secara fisik

tersebut merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(28)

9

proses ilmiah, sekaligus terbentuknya sikap ilmiah disamping penguasaan

konsep, prinsip, hukum dan teori.

Selain itu model pembelajaran inkuiri berbasis eksperimen menurut

Hurrahman (2008) memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan

sebagai berikut:

Keunggulan Model Inkuiri ini adalah:

a. Perhatian siswa akan terpusat sepenuhnya pada anak yang didemonstrasikan atau di-eksperimenkan;

b. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan keterampilan dalam berbuat;

c. Hal-hal yang menjadi teka-teki siswa dapat terjawab melelui eksperimen;

d. Menghindarkan kesalahan siswa dalam mengambil kesimpulan karena mereka mengamati secara langsung jalannya proses demonstrasi yang diadakan atau eksperimen.

Kelemahan Model Inkuiri adalah:

a. Persiapan dan pelaksanaannya memakan waktu yang cukup lama. b. Model ini tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan

yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.

c. Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya.

Model ini membuat siswa terpusat dengan meteri yang sedang dibahas,

memperkecil kesempatan siswa untuk bermain sendiri saat pelajaran dan

memberikan pengalaman belajar yang menarik dan bermakna bagi siswa.

ModelInquiryini juga dapat menghindarkan kebingungan siswa karena siswa dapat memperoleh jawaban bedasarkan kegiatan yang mereka

lakukan sendiri. Umumnya jika sesuatu diperoleh dari kegiatan sendiri

tingkat daya ingat akan lebih lama disimpan dalam memori siswa untuk

bekal pendidikan pada jenjang selanjutnya. Akan tetapi model tersebut

(29)

10

mengimplementasikan. Model ini menuntut kematangan pengetahuan

siswa sebelum tahapanInquiryditerapkan, selain itu juga harus didukung dengan fasilitas dan membutuhkan waktu yang relatif lama agar penerapan

model pembelajaran mendapatkan hasil yang baik.

2. Model PembelajaranGuided Inquiry

Secara bahasaGuidedmerupakan memandu atau membimbing, sedangkan secara istilahGuided proses membimbing untuk menghantarkan siswa memperoleh pengetahuan. Model pembelajaranGuided Inquiry

merupakan model pembelajaran yang meningkatkan analisis dan intuisi penyelidikan siswa dalam memecahkan masalah, sehingga menuntut siswa proaktif dalam proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai

pembimbing dan pengarah. dalam model ini guru juga menyiapkan kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar.

Roestiyah (2008) menjelaskan bahwa

Guru menyediakan petunjuk yang cukup luas kepada siswa, dan sebagian besar perencanaanya dibuat oleh guru dimana siswa

melakukan kegiatan percobaan atau penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan guru.

Amien (1997) menjelaskan bahwa pembelajaran yang menggunakan

model pembelajaranguided inquirysebagian besar perencanaannya dibuat

oleh guru dan siswa tidak merumuskan masalah. Petunjuk yang cukup

luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.

Tahapan-tahapan model pembelajaranguided inquiryyang akan

(30)

11

Pada tahap ini guru membawa situasi masalah dan menetukan

prosedur inkuiri kepada siswa. Permasalahan yang diajukan adalah

masalah yang sederhana yang dapat menimbulkan rasa penasaran. Hal

ini diperlukan untuk memberikan pengalaman kreasi pada siswa,

tetapi sebaiknya didasarkan pada ide-ide yang sederhana.

b. Tahap kedua Pengumpulan dan Verifikasi data

Pada tahap ini setelah diberikannya penyajian masalah, siswa

mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat dan

alami.

c. Tahap ketiga Melakukan eksperimen

Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen untuk mengeksplorasi

dan menguji secara langsung. Eksplorasi mengubah sesuatu untuk

mengetahui pengaruhnya, tidak selalu diarahkan oleh suatu teori atau

hipotesis. Pengujian secara langsung terjadi ketika siswa akan menguji

hipotesis atau teori. Pada tahap ini, guru berperan untuk

mengendalikan siswa bila terjadi kesalahan dalam menganalisis

variabel dalam penelitian. Peran guru lainnya pada tahap ini yaitu

memperluas inkuiri yang dilakukan siswa dengan cara memperluas

informasi yang telah diperoleh. Selama verifikasi boleh mengajukan

pertanyaan tentang objek, ciri, kondisi, dan peristiwa.

d. Tahap keempat Merumuskan Penjelasan

Pada tahap ini, guru mengajak siswa merumuskan penjelasan,

kemungkinan besar besar akan ditemukan siswa yang mendapatkan

kesulitan dalam informasi yang diperoleh dalam bentuk uraian

(31)

12

penjelasan yang tidak begitu mendetail.

e. Tahap kelima Mengadakan Analisis Terhadap Proses Inkuiri

Pada tahap ini, siswa diminta untuk menganalisis pola-pola

penemuan mereka. Tahap ini akan menjadi penting apabila kita

melaksanakan pendekatan belajar model inkuiri dan mencoba

memperbaikinya secara sistematis dan secara mandiri. Konflik

yang dialami siswa saat melihat suatu kejadian yang menurut

pandangannya tidak umum dapat menuntun partisipasi aktif dalam

penyelidikan secara alamiah.

3. Pendekatan Pembelajaran

Mengenai pendekatan pembelajaran Hamid (2011) menjelaskan bahwa : Pendekatan diartikan sebagai langkah-langkah pembelajaran yang masih bersifat filosofis, teoritis, dan aksiomatis. Ciri utama suatu pendekatan adalah: adanya basis filosofis (philosophical basis yang menelorkan prinsip dan atau hukum), basis psikologis (psychological basis yang menuju ke kemauan dan penggunaan proses pembelajaran yang menerapkan teori-teori perkembangan mental atau teori-teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli), dan basis pedagogis (pedagocical basis yang melahirkan seni mengajar dan mendidik).

Peneliti menilai bahwa pendekatan (approach)pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan sisiwa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan tersebut merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

(32)

13 Keterampilan generik sains menurut Brotosiswojo (2000) adalah kemampuan dasar (generik) yang dapat ditumbuhkan ketika siswa menjalani proses belajar ilmu sains yang bermanfaat sebagai bekal meniti karir dalam bidang yang lebih luas. Dalam kata lain

kemampuan generik sains adalah kemampuan dasar yang berorientasi pada pemahaman ilmiah siswa yang dapat membantu siswa dalam memahami fakta ilmiah dalam kehidupan.

Lebih lanjut Brotosiswojo (2000) mengemukakan delapan keterampilan generik sains yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran Fisika diantaranya:

a) Pengamatan

Pengamatan Langsung

Pengamatan langsung adalah mengamati objek yang diamati secara langsung. Aspek pendidikan penting yang diperoleh dari

melakukan pengamatan langsung adalah bersikap jujur terhadap hasil pengamatan kita. Aspek lainnya adalah kesadaran akan batas-batas ketelitian yang dapat diwujudkan.

Pengamatan Tak Langsung

(33)

14 b) Pemahaman tentang Skala Besaran

Ilmu fisika merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki cakupan paling luas. Dalam skala ruang ukuran, objek yang digarap

terentang dari yang sangat besar (jagat raya), sampai yang sangat kecil (quark). Maka perlu ditanamkansense of scale.Sense of scaledalam jumlah benda juga perlu ditanamkan pada pengajaran fisika. Karena banyak pembahasan ilmu fisika dilukiskan dalam ungkapan tulisan atau rumus, maka tanpa kesadaran tentangsense of scalesbahasan itu akan kurang dipahami makna konkretnya dalam alam ini.

c) Bahasa Simbolik

Banyak perilaku alam, khususnya perilaku yang dapat

diungkapkan secara kuantitatif, yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Sifat kuantitatif tersebut menyebabkan adanya keperluan untuk menggunakan bahasa yang kuantitatif juga.

d) Kerangka logika taat azas Matematika sebagai

yang memudahkan untuk menguji ketaat-azasan (self consistency). Ada keyakinan dalam ilmu fisika, berdasarkan pengalaman yang cukup panjang, bahwa aturan alam memiliki sifat taat-asas secara logika (logically self-consistent).

e) Inferensi Logika

Keyakinan akan peran logika dalam pengendalian hukum-hukum al

hukum alam yang sangat ampuh. Dari sebuah aturan yang diungkapkan dalam matematika, kita dapat menggali

konsekuensi-konsekuensi logis yang dilahirkan semata-mata lewat inferensi logika. Tanpa melihat bagaimana sesungguhnya makna konkretnya, langkah semacam itu sering dilakukan dalam ilmu fisika. Inferensi merupakan kemampuan generik yang ditujukan untuk membuat suatu generalisasi atau mengambil suatu kesimpulan. Kesimpulan yang ditarik dapat berupa penjelasan atau interpretasi dari hasil suatu observasi atau suatu kajian atau berupa kesimpulan terhadap persoalan baru sebagai akibat logis dari kesimpulan-kesimpulan atau teori-teori yang ada, tanpa melihat bagaimana makna konkret

sesungguhnya. f) Hukum Sebab Akibat

Seringkali ada kerancuan dalam menyimpulkan aturan yang akan dianggap sebagai hukum alam. Sebuah aturan dapat dinyatakan sebagai hukum sebab-akibat apabila ada

(34)

15 g) Pemodelan Matematika

Kemampuan generik ini meliputi kemampuan membuat grafik atau kemampuan mengubah grafik ke dalam bentuk kata-kata, kemampuan membuat tabel dan menyusun data kedalam tabel atau menguraikan data dari tabel ke dalam bentuk kata-kata, kemampuan membuat gambar atau diagram alir tentang suatu prosedur misalnya prosedur praktikum.

h) Membangun Konsep

Tidak semua gejala alam dapat dipahami dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Kadang-kadang harus dibangun sebuah konsep atau pengertian baru yang tidak ada padanannya dengan pengertian-pengertian yang sudah ada. Konsep baru tadi bukanlah semata-mata hanya cara pandang yang baru, tetapi juga punya manfaat.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan KGS merupakan pendekatan yang berorientasi pada keterampilan dasar. Siswa

dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman dasar yang terkandung dalam konsep materi yang disampaikan. Proses

pembelajaran pada pendekatan tersebut diarahkan pada penguasaan pemahaman konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Beberapa metode yang digunakan siswa dibimbing untuk memahami konsep yaitu dengan cara mengeksplorasi pengetahuan awal siswa untuk merangsang pemahaman konsep yang diawali dari pemahaman dasar siswa.

Penelitian di lapangan terdapat aspek keterampilan yang menjadi fokus dikembangkan dan digunakan pada pendekatan KGS untuk

mengeksplorasi keterampilan dasar adalah keterampilan pengamatan, keterampilan bahasa simbolik, keterampilan inferensi logika,

(35)

16 disampaikan dalam tinjauan pustaka digunakan dalam materi listrik dinamis.

b. Pendekatan KPS

Ilmu sains merupakan ilmu yang diporoleh dari proses ilmiah yang panjang sehingga mengahasilkan produk yang yang dapat dijelaskan dengan analitis berdasarkan prosedur empiris. Darmodjo (2003) mengatakan bahwa

Ilmu Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia (produk) yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Produk sains berupa pengetahuan tentang sains yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Proses ilmiah merupakan serangkaian produk empirik dan analitis. Prosedur empirik mencakup: pengamatan (observasi), klasifikasi dan pengukuran. Proses analitik mencakup : menyusun hipotesa, merancang serta melakukan eksperimen, menarik kesimpulan dan meramalkan.

Pemahaman terhadap sains seyogyanya tidak hanya memandang sains sebagai produk tetapi juga proses, karna merupakan bagian penting dalam pembuktian produk sains. Menurut Gagne (2003) bahwa

Pengetahuan tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip hanya dapat diperoleh siswa bila ia memiliki kemampuan kemampuan dasar tertentu yaitu keterampilan proses sains yang dibutuhkan untuk menggunakan dan memahami sains. Keterampilan-keterampilan proses sains itu ialah mengamati,

mengklasifikasikan, memerikan, berkomunikasi, mengukur, mengenal dan menggunakan hubungan ruang dan waktu, menarik kesimpulan, menyusun definisi operasional, merumuskan

hipotesis, mengendalikan variabel-variabel, menafsirkan data-data dan bereksperimen.

(36)

17 memahami sains. Berikut ini adalah aspek-aspek kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses sains menurut Conny Semiawan (1992) :

1. Mengamati merupakan kegiatan mengidentifikasi ciri-ciri objek tertentu dengan alat inderanya secara teliti, menggunakan fakta yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan, menggunakan alat atau bahan sebagai alat untuk mengamati objek dalam rangka pengumpulan data atau informasi.

2. Menafsirkanmeliputi kemampuan menjelaskan apa yang diamati dari objek tertentu, menghubung-hubungkan hasil pengamatan terhadap objek untuk menarik suatu kesimpulan, menemukan pola atau keteraturan dari suatu fenomena.

3. Mengklasifikasimerupakan kemampuan menentukan perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap suatu objek.

4. Memprediksimerupakan kemampuan memperkirakan sesuatu yang belum terjadi berdasarkan fakta yang menunjukan suatu

kecenderungan atau pola yang sudah ada.

5. Mengkomunikasikan merupakan kemampuan membaca grafik atau diagram, menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel atau diagram, menjelaskan hasil percobaan, menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas.

6. Membuat hipotesis adalah menyatakan hubungan antara dua variabel, mengajukan perkiraan penyebab sesuatu hal yang terjadi dengan mengungkapkan bagaimana cara melakukan pemecahan masalah.

7. Merancang penyelidikan meliputi kegiatan menentukan alat dan bahan yang diperlukan dalam penyelidikan, menentukan variabel kontrol dan variabel bebas, menentukan apa yang diamati, diukur atau ditulis, menentukan cara dan langkah kerja yang mengarah pada pencapaian kebenaran ilmiah dan menentukan cara mengolah data.

8. Menerapkan konsepatau prinsip meliputi kemampuan

menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki dan menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru.

9. Mengajukan pertanyaanmerupakan kemampuan mengajukan pertanyaan yang meminta penjelasan apa, mengapa, dan bagaimana menanyakan sesuatu hal yang berlatar belakang hipotesis.

(37)

18 mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan proses menuntut

keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses

mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi siswa, dengan proses mengalami maka pendidikan akan menjadi bagian integral dari diri siswa, bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri siswa dalam setiap proses pendidikan yang dialaminya.

Dalam penelitian aspek yang dikembangkan dan digunakan dalam pendekatan KPS dalam kegiatan belajar mengajar adalah mengamati, menafsirkan, menerapkan konsep, mengajukan pertanyaan, dan mengkomunikasikan. Sama halnya pada pendekatan sebelumnya aspek tersebut dipilih berdasarkan materi yang disampaikan, sehingga tidak semua keterampilan yang disampaikan pada tinjauan pustakan digunakan dalam materi listrik dinamis.

4. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil dari keaktifan dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah selama melewati proses belajar mengajar. Hasil belajar umumnya dapat diketahui dengan melakukan tes serta pengamatan guru terhadap siswa, sehingga guru dapat mengklasifikasikan ketuntasan belajar siswa.

(38)

19 hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari

perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.

Menurut Dimyati (1994) bahwa

Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil belajar siswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Adapun taksonomi atau klasifikasinya sebagai berikut :

1. Ranah kognitif meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan intelektual. Benyamin Bloom dalam (Syambasri, 2001; Usman, 2008) membagi ranah kognitif ke dalam enam jenjang kemampuan, terdiri atas:

a. Hafalan (C1): kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip dan prosedur atau istilah yang telah dipelajari tanpa harus memahami atau dapat menggunakannya.

b. Pemahaman (C2): kemampuan mengetahui tentang suatu hal dan dapat melihatnya dari beberapa segi. Pemahaman

memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep.

c. Penerapan (C3): kemampuan menggunakan prinsip, teori, hukum, aturan, maupun metode yang dipelajari pada situasi baru atau pada situasi kongkrit.

d. Analisis (C4): kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya.

e. Evaluasi (C5): Pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dapat dilihat dari segi tujuan, cara bekerja,

pemecahan, metode, materi berdasarkan kriteria tertentu.

f. Elaborasi (C6): Pemberian nilai/keputusan terhadap kreasi siswa dalam mengembangkan tugas belajar dalam memahami konsep. 2. Ranah afektif berhubungan dengan perhatian, sikap, penghargaan,

(39)

20 berikut:

a. Penerimaan (receiving), meliputi penerimaan secara pasif terhadap suatu masalah, situasi, gejala, nilai dan keyakinan. Contohnya mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasan materi yang diberikan oleh guru.

b. Jawaban (responding), meliputi keinginan dan kesenangan menanggapi atau merealisasikan sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Contohnya, menyerahkan laporan praktikum/ tugas tepat pada waktunya.

c. Penilaian (valuing), berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tertentu. Contohnya menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap alat-alat laboratorium yang dipakai waktu praktikum.

d. Organisasi (organization), meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi suatu sistem nilai. Contohnya menerima

pertanggungjawaban atas tingkah lakunya.

e. Karakteristik (characterization), keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola

kepribadian dan tingkah lakunya. Contohnya bersedia mengubah pendapat jika ditunjukkan bukti-bukti yang tidak mendukung pendapatnya.

3. Ranah psikomotorik, berhubungan dengan kemampuan yang berupa keterampilan fisik (motorik). Dave (dalam Usman, 2008: 36-37) mengklasifikasikan ranah psikomotorik ke dalam lima kategori sebagai berikut:

a. Peniruan (imitation), kemampuan ini terjadi ketika siswa

mengamati suatu gerakan kemudian memberikan respon serupa dengan yang diamati. Misalnya: kemampuan menyiapkan dan menyusun alat bahan yang diperlukan.

b. Manipulasi (manipulation), menekankan perkembangan

kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut

petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja. Misalnya: kemampuan menggunakan alat dan bahan dalam percobaan. c. Ketepatan (precision), kemampuan ini memerlukan kecermatan,

proporsi, dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum. Misalnya kemampuan

menyimpulkan percobaan.

(40)

21 e. Pengalamiahan (naturalization), menuntut tingkah laku yang

ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain

psikomotorik.

Hasil belajar pada penelitian yang dilakukan difokuskan untuk dianalisis peningkatannya serta menjadi tolak ukur membandingan pendekatan

pembelajaran KGS dan KPS pada modelguide inquiryyang efektif digunakan adalah hasil belajar pada ranah kognitif. Adapun jenjang kemampuan

meliputi:

a. Hafalan (C1): kemampuan menyatakan kembali konsep yang telah dipelajari tanpa harus memahami atau dapat menggunakannya. b. Pemahaman (C2): kemampuan menggunakan konsep dalam

memecahkan masalah.

c. Penerapan (C3): kemampuan menggabungkan hukum satu dan hukum yang lain dalam memcahkan masalah.

d. Analisis (C4): kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya.

B. Kerangka Pemikiran

(41)

22 kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai sobjek dalam proses pembelajaran, sedangkan guru dalam proses pembelajaran ini sebagai fasilitator dan pembimbing. Andie Sanjaya sarjana UPI Bandung juga menyampaikan prihal yang sama bahwa model

pembelajaranguided inquirydapat meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Andie model tersebut dapat menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah dari tahapaninquiryyang dijalani dalam proses tersebut. Hal ini disampaikan dalam Penerapan Model Guided Inquiry dan Modified Inquiry untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Penerapan model pembelajaranguided inquiryakan lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa jika pada penerapan model tersebut menggunakan pendekatan pembelajaran. Secara harfiah pendekatan

pembelajaran merupakan cara atau titik tolak guru untuk menjelaskan atau menyampaikan materi agar lebih mudah untuk dipahami. Pada kesempatan ini peneliti akan menggunakan pendekatan pembelajaran KGS dan KPS dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Selain untuk meningkatkan hasil belajar, juga pendekatan tersebut peniliti gunakan untuk membandingkan pendekatan pembelajaran mana yang lebih efektif untuk digunakan. Penerapan model pembelajaranguided inquirydengan pendekatan KGS digunakan pada kelas X1dan penerapan model pembelajaranguided inquirydengan

pendekatan KPS pada kelas X2.

Kerangka pemikiran dapat gambarkan seperti pada Gambar 2.1.

(42)

23

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Keterangan :

1

T : nilai pretest

2

T : nilai posttest

1

X : Kelas dengan penerapan Model pembelajaranguided inquirydengan

pendekatan KGS

2

X : Kelas dengan penerapan Model pembelajaranguided inquirydengan

pendekatan KPS

Sugiyono (2010: 110-111)

Pendekatan pembelajaran KGS yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

pendekatan pembelajaran yang melihat atau mengakomodir kemampuan dasar

sains siswa dalam tahapaninquiryyang dilakukan dalam model pembelajaran guided inquiry. Aspek keterampilan tersebut adalah keterampilan pengamatan,

bahasa simbolik, inferensi logika, pemodelan matematika, dan membangun

konsep. Keterampilan tersebut dinilai dapat membantu memahami siswa

dalam menjalani tahapaninquirydalam model pembelajaran yang digunakan. Gambar 2.1 menujukkan bahwa X1merupakan kelas yang menggunakan

(43)

24

dengan menganalisis peningkatan dari hasilpostest(T1) sebelum penerapan

model pembelajaran yang digunakan, dan memberikan memberikanpretest

(T2) setelah penerapan model pembelajaran yang digunakan.

Sedangkan pendekatan pembelajaran KPS merupakan upaya peneliti untuk

membantu siswa dalam memahami materi dengan mengakomodir

keterampilan proses sains siswa dalam tahapaninquirydalam model pembelajaranguided inquiry. Keterampilan yang dimaksud meliputi aspek

mengamati, aspek menafsirkan, aspek mengkomunikasikan, aspek

menerapkan konsep, dan aspek mengajukan pertanyaan. Keterampilan pada

pendektan KPS tersebut dinilai dapat membantu siswa dalam memahami

prosesinquirypada model yang digunakan. Seperti yang disampaikan Uswatun Khasanah sarjana UPI bandung dalam penelitiannya yang berjudul

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan

Keterampilan Proses Sains, bahwa pendekatan dalam model tersebut dapat

meningkatkan hasil belajar siswa. Gambar 2.1 menujukkan bahwa X2

merupakan kelas yang menggunakan modelguided inquirydengan

pendekatan KPS. Peningkatan dapat diketahui dengan menganalisis

peningkatan dari hasilpretest(T1) sebelum penerapan model pembelajaran

yang digunakan, dan memberikan memberikanpostest(T2) setelah penerapan

model pembelajaran yang digunakan.

(44)

25 signifikan sehingga diperoleh pendekatan yang lebih efektif untuk digunakan pada model pembelajaranguided inquiry.

Berdasarkan uraian yang disampaikan diatas, maka patut diduga bahwa metode pembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KGS lebih baik dibandingkan metode pembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KPS. Peneliti menganggap bahwa dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif keterampilan dasar dalam pendekatan KGS lebih dibutuhkan dalam prosesinquirydalam membantu memahami materi yang disampaikan.

C. Anggapan Dasar

Anggapan dasar penelitian berdasarkan tinjuan pustaka dan kerangka pikir bahwasanya masing-masing siswa dalam kelas yang dibandingkan memiliki kemampuan dasar yang sama, serta faktor-faktor lain diluar penelitian diabaikan.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teoritis yang sudah dipaparkan maka hipotesis penelitiannya adalah:

1. Terdapat peningkatan hasil belajar ranah kognitif pada kelas dengan penerapan model pembelajaranguided inquirydengan pendekatan KGS. 2. Terdapat peningkatan hasil belajar ranah kognitif pada kelas dengan

penerapan model pembelajaranguided inquirydengan pendekatan KPS. 3. Rata-rata n-Gain hasil belajar pada ranah kognitif kelas yang

(45)
(46)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 antara bulan januari Juni 2011 di MAN 1 Metro Kabupaten Lampung Timur. Pemilihan waktu tersebut berdasarkan pada materi yang diteliti yaitu materi listrik dinamis. Berdasarkan pengamatan serta analisis peneliti maka diputuskan untuk mengadakan penelitian pada waktu tersebut.

Pemilihan tempat penelitian ini berdasarkan pengalaman pribadi selama menjadi salah satu siswa disekolah tersebut, sehingga dapat diperkirakan kebutuhan yang diperlukan selama penilitian dapat terpenuhi disekolah tersebut.

B. Populasi dan Sampel

Pada penelitian ini populasi yang diambil merupakan seluruh siswa kelas X pada semester genap di MA Negeri 1 Metro Kabupaten Lampung Timur pada tahun pelajaran 2011/2012. Jumlah kelas X pada MA Negeri 1 Metro adalah 6 kelas, dengan nama X1, X2, X3, X4, X5, dan X6.Sedangkan untuk sampel

dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1dan X2MAN 1 Metro Lampung

Timur Tahun Pelajaran 2011/2012. Jumlah siswa untuk kelas X1terdiri dari16

siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan, sedangkan untuk kelas X2terdiri dari

17 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

(47)

28 Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Quasi-Experimentaldengan rancangan penelitianpretest-posttest design(Sudjana dan Ibrahim, 2001: 44). Desainquasi-experimentaladalah sebuah desain penelitian yang melakukan pengamatan atau observasi terhadap hubungan kausal antara munculnya suatu akibat (variabel terikat) dan suatu akibat (variabel bebas) melalui suatu upaya yang disengaja dilakukan peneliti dengan menggunakan kelompok-kelompok yang telah dibuat (intact group).

Rancangan eksperimen dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Rancangan Tes awal Tes akhir

Kelompok Pretest Ubahan Bebas Postest

Eksperimen 1 T1 X1 T2

Eksperimen 2 T1 X2 T2

Dimana T1 = Tes awal, T2 = Tes akhir, X1=Model pembelajaran

Pretesdigunakan untuk melihat kemampuan awal peserta didik yang berada dalam kelas ekperimen, dan selanjutnya hasil tersebut digunakan untuk indikator awal kemampuan peserta didik.Postestdigunakan untuk melihat hasil akhir kemampuan peserta didik setelah diperlakukan sesuai model yang dibandingkan dan selanjutnya hasilpostesttersebut dibandingkan.

D. Data Penelitian

Faktor yang diteliti pada penelitian ini adalah hasil belajar pada ranah

(48)

29

E. Prosedur Penelitian 1. Perencanaan Penelitian

Pada kegiatan perencanaan penelitian langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:

a. Menentukan sekolah tempat penelitian dilakukan b. Membuat izin penelitian

c. Menyusun satuan pembelajaran, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

d. Membuat instrument pengambilan data untuk masing-masing aspek yang diamati

e. Menentukan kelas eksperimen dan kelengkapan penelitian pada kels lainnya

2. Pelaksanaan Penelitian

Pada tahap pelaksanaan langkah yang dilakukan adalah :

Metode pembelajaranGuided Inquirydengan pendeketan KGS dan KPS a. Tahap pertama Penyajian Masalah

Pada tahap ini guru membawa situasi masalah dan menetukan

prosedur inkuiri kepada siswa. Permasalahan yang diajukan adalah

masalah yang sederhana yang dapat menimbulkan rasa penasaran.

Hal ini diperlukan untuk memberikan pengalaman kreasi pada

siswa, tetapi sebaiknya didasarkan pada ide-ide yang sederhana.

(49)

30

Pada tahap ini setelah diberikannya penyajian masalah, siswa

mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat dan

alami.

c. Tahap ketiga Melakukan eksperimen

Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen untuk mengeksplorasi

dan menguji secara langsung. Eksplorasi mengubah sesuatu untuk

mengetahui pengaruhnya, tidak selalu diarahkan oleh suatu teori

atau hipotesis. Pengujian secara langsung terjadi ketika siswa akan

menguji hipotesis atau teori. Pada tahap ini, guru berperan untuk

mengendalikan siswa bila terjadi kesalahan dalam menganalisis

variabel dalam penelitian. Peran guru lainnya pada tahap ini yaitu

memperluas inkuiri yang dilakukan siswa dengan cara memperluas

informasi yang telah diperoleh. Selama verifikasi boleh mengajukan

pertanyaan tentang objek, ciri, kondisi, dan peristiwa.

d. Tahap keempat Merumuskan penjelasan

Pada tahap ini, guru mengajak siswa merumuskan penjelasan,

kemungkinan besar besar akan ditemukan siswa yang

mendapatkan kesulitan dalam informasi yang diperoleh dalam

bentuk uraian penjelasan. Siswa-siswa yang demikian didorong untuk

dapat memberi penjelasan yang tidak begitu mendetail.

e. Tahap kelima Mengadakan analisis terhadap proses inkuiri

Pada tahap ini, siswa diminta untuk menganalisis pola-pola

penemuan mereka. Tahap ini akan menjadi penting apabila kita

melaksanakan pendekatan belajar model inkuiri dan mencoba

(50)

31

yang dialami siswa saat melihat suatu kejadian yang menurut

pandangannya tidak umum dapat menuntun partisipasi aktif dalam

penyelidikan secara alamiah.

F. Teknik Pengumpulan Data

Hasil dari penelitian ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif yang dihasilkan berupa data hasil belajar peserta pada ranah kognitif siswa. Sebelum melakukan pengambilan data dilakukan terlebih dahulu proses persiapan diantaranya adalah:

1) Membuat kisi-kisi

2) Membuat soal sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat

3) Meminta pertimbangan guru mitra untuk menghindari ketidak sesuaian antara kisi-kisi dan soal yang telah dibuat

4) Memperbaiki soal yang telah dibuat. Hal ini dimaksudkan agar data yang didapat dalam penelitian memiliki nilai kevalidan yang tinggi.

G. Teknik Uji Instrumen

(51)

32 1. Uji Validitas

Agar dapat diperoleh data yang valid, instrumen atau alat untuk

mengevaluasinya harus valid. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (ketepatan). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium.

Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasiproduct moment yang dikemukakan oleh Pearson, dengan rumus:

(Arikunto, 2010: 72) Dengan kriteria pengujian jika korelasi antara butir dengan skor total lebih dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid, atau sebaliknya jika korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyat

0,05 maka koefisien korelasi tersebut signifikan.

Item yang mempunyai kerelasi positif dengan kriterium (skor total) serta korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut

mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r = 0,3.

(Masrun dalam Sugiyono, 2009: 188).

(52)

33 lebih besar dibandingkan dengan 0,3 maka data merupakanconstruckyang kuat (valid).

2. Uji Reliabilitas

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Perhitungan untuk mencari harga reliabilitas instrumen didasarkan pada pendapat Arikunto (2010: 109) yang menyatakan bahwa untuk menghitung reliabilitas dapat digunakan rumusalpha, yaitu:

Dimana:

r11 = reliabilitas yang dicari

i2 = jumlah varians skor tiap-tiap item t2 = varians total

(Arikunto, 2010: 109)

Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan. Reliabilitas instrumen diperlukan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan pengukuran. Untuk mencapai hal tersebut, dilakukan uji reliabilitas dengan

menggunakan SPSS 17.0 dengan metode yang diukur berdasarkan skala 0 sampai 1.

(53)

34

1. engan 0,20 berarti kurang

reliabel. 2.

3. 4.

5. Nilai Alpha Cr reliabel.

Setelah instrumen valid dan reliabel, kemudian disebarkan pada sampel yang sesungguhnya. Skor total setiap siswa diperoleh dengan menjumlahkan skor setiap nomor soal.

H. Teknik Analisis Data

Data diambil merupakan data kuantitatif dari hasil belajar pada ranah aspek kognitif. Untuk menguji hipotesis yang diajukan, maka hasil belajar yang diperoleh dianalisis terlebih dahulu. Analisis hasil belajar dilakukan dengan menggunakan software SPSS 17. Pengumpulan data hasil belajar ranah kognitif diperoleh dari tes hasil belajar, dimana soal tes terlebih dihulu di uji kevalidan dan reliabiltasnya. Hasil belajar yang dimaksud berupa nilai yang diperoleh siswa setelah mengerjakan tes mengenai pembelajaran Arus Listrik yang telah dilaksanakan sebelumnya dalam bentuk pilihan jamak. Tes

(54)

35

pre pre post

S S

S S g

max

Keterangan:

= N gain

S

post= Skorpostest

pre

S

= Skorposttest

S

max = Skor maksimum

Kategori: Tinggi : 0,7 N-gain 1

Sedang : 0,3 N-gain< 0,7 Rendah :N-gain< 0,3

Meltzer (2002) dikutip oleh Marlangen (2010:34)

Untuk menganalisis hasil belajar fisika siswa digunakan skorpretestdan posttest. Peningkatan skor antara tes awal dan tes akhir dari variabel tersebut merupakan indikator adanya peningkatan ataupun penurunan hasil belajar pada pembelajaran fisika denganGuided Inquirydengan pendekatan KGS dan KPS.

Akan tetapi sebelum Analisis data tersebut dilakukan, sebelumnya dilakukan beberapa uji sebagai berikut :

(55)

36 1. Uji Normalitas

Pada tahapan ini pengujian dilakukan untuk menguji normalitas sampel antara ketiga kelompok yang berdistribusi normal atau tidak. Menurut Sudjana (2005: 466) terdiri atas dua rumusan hipotesis yaitu:

Ho : Populasi berdistribusi normal H1 : Populasi berdistribusi tidak normal

Bila nilai signifikansi yang didapat pada hasil analisis menggunakan one

0diterima dan H1ditolak 0ditolak dan H1

diterima. Untuk menguji hipotesis nol maka diperlukan tahapan sebagai berikut:

2) Untuk setiap bilangan baku ini dengan menggunakan daftar distribusi

normal baku, dihitung peluang F(Zi)= P(Z Zi).

3) Selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2, ....Znyang lebih kecil atau sama

dengan Zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S(Zi), maka:

S(

(

Z

I

)

4) Menghitung selisih F(Zi) S(Zi) untuk menentukan harga mutlaknya. 5) Mengambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak

(56)

37

6) Bila harga

L

O tersebut lebih kecil dari

F

tabel( nilai kritis uji Lilliefors)

pada tabel dengan n adalah ukuran sampel pada taraf nyata = 0,05 berarti data berasal dari distribusi normal dan sebaliknya.

2. Uji Homogenitas variansi

Homogenitas diuji dengan menggunakan ujiBarlett(Sudjana, 2005: 263) sebagai berikut:

X2= (ln 10)

(

1

)

log

2

I

i

S

n

B

Hipotesis statistik:

H0: 1

x

1 2

x

2 3

x

3

H1: paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku

Kriteria uji: Tolak H0jika X² X²( 1- )(k-1)dimana X²( 1- )(k-1)didapat dari

distribusi Chi Kuadrat dengan peluang (1- ), dk (k-1)dan = 0,05

3. UjiPaired Sample T Test

Paired Sample T Testdigunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang berpasangan

(berhubungan). Maksudnya di sini adalah sebuah sampel tetapi mengalami dua perlakuan yang berbeda. Rumus perhitnugan (Sugiyono, 2007) sebagai berikut :

=

+ 2

(57)

38

t

:

t

hitung

1

X : nilai rata-ratapost test

2

X : nilai rata-ratapretest

1

s : simpangan baku datapost test

2

s : simpangan baku datapretest

2 1

s

: varian datapost test

2 2

s

: varian datapretest

1

n : jumlah sampel datapost test

2

n : jumlah sampel dataprete

r : nilai r tabel

langkah-langkah pengujian sebagai dengan terlebih dahulu menentukan hipotesis terlebih dahulu yaitu :

Ho : Tidak ada perbedaan antara rata-rata nilai ulangan fisika sebelum tes dengan rata-rata nilai sesudah tes

Ha : Ada perbedaan antara rata-rata nilai ulangan fisika sebelum tes dengan rata-rata nilai sesudah tes.

Dengan menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikasi 0,05 atau 5 %, dari table diatas juga didapat nilai t hitung adalah -28,862. Sedangkan distribusi t diperoleh setengah dari nilai signifikasi (uji 2 sisi

(58)

39

table diperolah dari table dengan pengujian 2 sisi (0,025) sebesar 2,032. Dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

Ho diterima jika t tabel t hitung t tabel

Ho ditolak jika t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel

Berdasarkan signifikasi :

Ho diterima jika signifikasi > 0,05

Ho ditolak jika signifikasi < 0,05 4. Independent Sample T-test

Independent Simple T-test merupakan cara yang digunakan untuk membandingkan hasil belajar pada kedua metode yang digunakan dalam kelas eksperimen. Pada penelitian ini jika data tidak terdistribusi normal maka untuk menguji data dari dua sampel yang tidak berhubungan menggunakan Uji U Mann-Whitney. Adapun hipotesis yang akan diuji sebagai berikut :

O

H : Tidak ada perbedaan rata-rata hasil belalajar siswa pada

pembelajaran fisikaGuided Inquirydengan pendekatan KGS dan Guided Inquirydengan pendekatan KPS.

1

H : Rata-rata hasil belajar siswa Guided Inquirydengan pendekatan KGS

lebih tinggi dibandingkanGuided Inquirydengan pendekatan KPS.

(59)

40 Keterangan:

t

:

t

hitung

1

X : nilai rata-ratapost test

2

X : nilai rata-ratapretest

1

s : simpangan baku datapost test

2

s : simpangan baku datapretest

2 1

s

: varian datapost test

2 2

s

: varian datapretest

1

n : jumlah sampel datapost test

2

n : jumlah sampel datapretest

Kemudian t tabel dicari pada tabel distribusi t dengan = 5% : 2 = 2,5%

(uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-2. Setelah diperoleh besar

hitung

t

dan

t

tabelmaka dilakukan pengujian dengan kriteria pengujian

(60)

41 Kriteria pengujian

O

H

diterima jika -

t

tabel

t

hitung

t

tabel

O

H

ditolak jika-

t

hitung < -

t

tabelatau

t

hitung >

t

tabel

Berdasarkan nilai signifikansi atau nilai probabilitas:

Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka

H

O

diterima.

Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka

H

O ditolak.

(61)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang diamati dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif fisika siswa SMA setelah diterapkan model pembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KGS.

2. Terdapat peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif fisika siswa SMA setelah diterapkan model pembelajaranGuided Inquirydengan pendekatan KPS.

3. Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar fisika pada ranah kognitif siswa SMA pada penerapan model pembelajaranGuided Inquirydengan

pendekatan KGS dan dengan pendekatan KPS.

B. Saran

Berdasarkan teori-teori yang melandasi operasional penelitian dan hasil pengamatan dan temuan selama proses penelitian dilaksanakan, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

(62)

70 2. Pembelajaran dengan modelGuided Inquirydengan pendekatan KPS

dapat dijadikan salah satu alternatif bagi guru-guru di sekolah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, akan tetapi guru harus memastikan siswa memahami konsep sebelum melalui proses inkuiri.

3. Pendekatan KGS lebih efektif digunakan dalam penerapan model pembelajaranGuided Inquirydari pada pendekatan KPS. Karena

pendekatan KGS lebih dapat membantu siswa dalam beradaptasi terhadap konsep-konsep yang diajarkan, selanjutnya pendekatan ini dapat

(63)

Judul Skripsi : PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARANGUIDED INQUIRY

DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

Nama Mahasiswa : Asis Budi Santoso Nomor Pokok Mahasiswa : 0713022021 Program Studi : Pendidikian Fisika

Jurusan : Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Dr. Agus Suyatna, M.Si. Drs. Nengah Maharta, M.Si.

NIP.19600821 198503 1 004 NIP.19551231 1983031 1 022

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

(64)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dr. Agus Suyatna, M.Si. ____________

Sekretaris : Drs. Nengah Maharta, M.Si ____________

Penguji

Bukan Pembimbing : Dr. Abdurrahman, M.Si. ____________

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Bujang Rahman, M.Si. NIP. 196003151985031003

Figur

Tabel 3.1 Rancangan Tes awal Tes akhir
Tabel 3 1 Rancangan Tes awal Tes akhir. View in document p.47
tabel( nilai kritis uji Lilliefors)
Lilliefors . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...