• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK KESADARAN MEREK KOSMETIK HALALTERHADAP NIAT PEMBELIAN ULANG: EFEK MEDIASI PERSEPSI KUALITAS DAN LOYALITAS MEREK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DAMPAK KESADARAN MEREK KOSMETIK HALALTERHADAP NIAT PEMBELIAN ULANG: EFEK MEDIASI PERSEPSI KUALITAS DAN LOYALITAS MEREK"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

CONSUMER PURCHASE INTENTION: THE MEDIATING EFFECT OF PERCEIVED QUALITY AND BRAND LOYALTY

Oleh :

DIGNA FIERDA SAPUTRI 20120410361

PRODI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

(2)
(3)
(4)

produsen untuk memperoleh kepercayaan konsumen terhadap produk seiring banyak beredarnya kosmetik palsu di pasaran. Banyak cara yang dilakukan dalam upaya pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya dengan mencari informasi yang terdapat pada atribut produk. Atribut yang dimaksud sebagai media informasi konsumen untuk memperoleh kepercayaan terhadap produk secara lahir bathin adalah halal. Kebutuhan akan jaminan halal pada kosmetik menjadi penting khususnya di Indonesia yang sebagian besar merupakan umat muslim. Konsep halal dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah banyak dikenal dan diterapkan khususnya umat islam. Halal diperuntungkan bagi segala sesuatu yang baik dan bersih yang dimakan atau dikonsumsi oleh manusia menurut syariat Islam.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa: 1) kesadaran merek berpengaruh signifikan terhadap persepsi kualitas, 2) kesadaran merek berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek, 3) persepsi kualitas berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang, 4) kesadaran merek tidak berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang, 5) loyalitas merek berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang, 6) persepsi kualitas memediasi antara kesadaran merek dengan niat pembelian ulang, 7) loyalitas merek memediasi antara kesadaran merek dengan niat pembelian ulang

(5)

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

INTISARI ... viii

ABSTRAK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah Penelitian ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

BAB II LANDASAN TEORI ... 11

A. Landasan Teori 1. Kesadaran Merek ... 11

(6)

D. Model Penelitian ... 29

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

A. Paradigma Penelitian ... 31

B. Obyek dan Subyek Penelitian ... 31

C. Jenis Data ... 32

D. Teknik Pengambilan Sampel ... 32

E. Teknik Pengumpulan Data ... 33

F. Identifikasi Variabel ... 33

G. Devinisi Operasional Variabel Penelitian ... 34

H. Uji Kualitas Instrumen dan Data ... 37

I. Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

A. Gambaran Umum Obyek dan Subyek Penelitian ... 41

B. Uji Kualitas Instrumen Data ... 44

C. Hasil Uji Hipotesis ... 50

D. Pembahasan ... 61

BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 67

A. Simpulan ... 67

B. Saran ... 68

C. Keterbatasan Penelitian ... 69

(7)

A. Latar Belakang

Kebutuhan manusia merupakan suatu keadaan akan sebagian dari pemuasan

dasar yang dirasakan atau disadari. Setiap orang memiliki kebutuhan yang

berbeda-beda, terlebih untuk tampil menarik dengan menggunakan berbagai

varian kosmetik. Kosmetik merupakan salah satu produk yang ditawarkan untuk

memenuhi kebutuhan skunder dan keinginan konsumen, agar tampil lebih cantik

dan menarik. Konsumen harus selektif dalam memilih merek kosmetik yang

sesuai dengan kebutuhannya.

Disadari atau tidak, dalam sehari-hari kehidupan wanita tidak bisa terlepas

dari kosmetik, produk perawatan tubuh ini digunakan oleh sebagian besar wanita

mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Oleh karena itu, banyak

perusahaan yang berusaha memenuhi kebutuhan akan kosmetik dengan berbagai

macam inovasi produk. Inovasi produk kosmetik dilakukan oleh produsen untuk

memperoleh kepercayaan konsumen terhadap produk seiring banyak beredarnya

kosmetik palsu di pasaran.

Banyak cara yang dilakukan dalam upaya pemilihan produk yang sesuai

dengan kebutuhan. Salah satunya dengan mencari informasi yang terdapat pada

atribut produk. Melalui atribut produk konsumen dapat memperoleh jawaban

apakah produk yang akan dibeli sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan

(8)

Atribut yang dimaksud sebagai media informasi konsumen untuk

memperoleh kepercayaan terhadap produk secara lahir batin adalah label halal.

Produk kosmetik yang beredar dipasaran nyatanya masih banyak yang belum

mencantumkan label halal dalam kemasan produknya. Padahal kebutuhan akan

jaminan halal pada kosmetik menjadi penting khususnya di Indonesia yang

sebagian besar merupakan umat muslim. Konsep halal dalam kehidupan

masyarkat Indonesia telah banyak dikenal dan terapkan khususnya umat Islam.

Halal diperuntungkan bagi segala sesuatu yang baik dan bersih yang dimakan atau

dikonsumsi oleh manusia menurut syari’at islam.

Dalam Al-qur’an surat Al-Nahl ayat 114 dijelaskan “Maka makanlah yang halal baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah

nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. Dalam ayat tersebut

Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk hanya memakan

(mengkonsumsi) makanan halal. Jika diterapkan dalam konsteks sekarang, ayat

tersebut berlaku tidak terbatas hanya pada makanan, tetapi juga produk-produk

lain yang bisa di konsumsi oleh manusia, termasuk kosmetik.

Kosmetik yang tidak halal berarti dalam proses pembuatannya menggunakan

zat-zat yang diharamkan secara Islam. Bagi umat Islam yang menyadari hal

tersebut akan menciptakan perasaan tidak tenang dan keraguan saat

menggunakannya, apalagi saat beribadah sholat. Selain keraguan yang timbul

akibat kesalahan pemilihan kosmetik masalah-masalah kesehatan juga menjadi

(9)

Masalah-masalah yang timbul akibat efek samping dari kesalahan pemilihan

kosmetik membuat konsumen melakukan banyak pertimbangan sebelum

membeli. Kosmetik mengandung daftar panjang bahan kimia. Sebagian besar

diantaranya sintesis dan berbahan dasar minyak bumi, yang dapat memicu

masalah-masalah kesehatan seperti iritasi kulit hingga yang paling berat seperti

kanker (health.detik.com). Sikap yang lebih teliti terhadap label produk dapat

membantu konsumen menemukan kosmetik yang paling sehat dan aman di

pasaran.

Di Indonesia penggunaan label halal sangatlah mudah ditemukan, pada

produk makanan umumnya. Suatu produk yang tidak jelas bahan baku dan cara

pengolahannya dapat saja “ditempeli” tulisan halal (dengan tulisan arab), maka

seolah-olah produk tersebut telah halal dikonsumsi. Konsumen yang kurang

memiliki pengetahuan tentang label halal akan beranggapan bahwa label halal

yang tercantum pada produk yang dibelinya adalah label halal yang sah. Padahal

penentuan label halal pada suatu produk, tidak bisa hanya asal tempel, harus

dilakukan berdasrkan ketentuan-ketentuan syaria’at Islam yang melibatkan pakar dari berbagai ilmu, baik agama maupun ilmu-ilmu lain yang mendukung.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga yang kompeten untuk

melakukan penjaminan kehalalan produk. Dalam kerjanya peran MUI dibantu

oleh LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika

Majelis Ulama Indonesia). Lembaga ini dibentuk untuk membantu Majelis Ulama

Indonesia dalam menentukan kebijaksanaan, merumuskan ketentuan-ketentuan,

(10)

kosmetika sesuai dengan ajaran Islam. Lembaga inilah yang sebenarnya

berwenang memberi sertifikat halal kepada perusahaan yang akan mencantumkan

label halal.

Dengan adanya LPPOM-MUI seolah memberikan angin segar bagi

masyarakat muslim Indonesia dalam memperoleh produk halal. Pemberian label

halal pada suatu produk, sedikit banyak akan mengurangi keraguan konsumen

akan kehalalan produk yang dibeli.

Disinilah konsumen diharapkan bisa teliti sebelum membeli. dalam

pembelian produk kosmetik konsumen sebaiknya menggunakan proses keputusan

yang luas dengan tingkat keterlibatan tinggi. Salah memilih kosmetik akan

berakibat pada kesehatan konsumen, terutama kesehatan kulit yang efeknya bisa

sampai jangka panjang.

Salah satu hak konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk (barang dan

jasa) adalah memperoleh informasi yang benar untuk produk yang akan

dikonsumsinya. Informasi bisa diperoleh konsumen melalui iklan maupun label

yang tertera dalam kemasan produk. Cara yang paling mudah dilakukan untuk

memilih produk halal adalah dengan melihat ada tidaknya label halal pada

kemasannya. Produsen yang akan mencantumkan label halal harus memiliki

sertifikat halal lebih dahulu.

Konsumen harus lebih selektif terhadap kehalalan sutu produk, terutama pada

konsumen wanita yang setiap harinya selalu mengkonsumsi kosmetik untuk

(11)

produk kosmetik yang dinyatakan halal cenderung lebih aman dan terhindar dari

kandungan zat berbahaya.

Kosmetik halal menjadi jawaban bagi wanita Islam yang ingin tampil cantik

namun tidak melanggar ajaran agama. Halal, adalah sebutan bagi benda atau

perbuatan yang sesuai dengan ajaran islam. PT. Paragon Technology Innovation

adalah salah satu perusahaan yang memproduksi kosmetik. Produknya diproduksi

dalam tiga merek, yaitu Puteri, Zahra dan Wardah. Puteri dikhususkan untuk

segmen salon kecantikan, sedangkan Zahra didistribusikan melalui Multi Level

Marketing (MLM). Disamping itu, produk-produk Wardah memiliki sertifikat

halal dari LP POM MUI. Mengusung label kosmetik “halal” awalnya membuat ruang gerak Wardah sangat terbatas. Namun dengan terobosan pemasaran yang

konsisten dan terintegrasi, kini Wardah tumbuh menjadi kosmetik halal terbesar di

dunia.

Fenomena pada konsumen kosmetik di Indonesia, dimana masyarakat

Muslim hampir sepenuhnya bergantung pada produk kosmetik yang dibuat oleh

non-Muslim. Dengan demikian, isu bahan halal dalam produk kosmetik

menghadapi tantangan serius. Menyadari terdapat banyaknya bahan yang menjadi

titik kritis pencemaran bahan haram dalam kosmetika, maka PT. Paragon

Technology Innovation (PTI) mengembangkan kosmetik Wardah yang merupakan

pelopor kosmetik halal di Indonesia pada tahun 1995. Pengembangan produk

yang dilakukan oleh PTI telah berhasil merebut perhatian dari segmen wanita

Muslim. Hal ini perlu bagi pemasar untuk meningkatkan keyakinan konsumen

(12)

Wardah adalah merek kosmetik yang mengandung bahan baku yang aman

dan halal, diciptakan untuk kenyamanan dan ketenangan kulit wanita. Wardah

memiliki banyak produk yaitu; perawatan kulit, perwatan tubuh, make up, dan

produk untuk Umroh dan Haji. Selain itu, Wardah juga memiliki brand

ambassador yang terkenal seperti Dewi Sandra, Dian Pelangi, dan Ineke

Koesherawati. Pada tahun 2014 Wardah membuktikkan kredibilitasnya dengan

mendapatkan gelar top brand. Ketekunan perusahaan dan loyalitas pelanggan

Wardah lah yang mampu membuat Wardah menjadi seperti saat ini. Hal ini

membuktikan bahwa loyalitas konsumen terhadap Wardah sangat besar.

Wardah merupakan perusahaan kosmetik Indonesia, seluruh produknya yang

berjumlah 200 macam telah mendapat sertifikasi halal, yang dikeluarkan oleh

Majelis Ulama Indonesia. Penjualan yang dimulai sejak 1995 melalui door to

door ini kemudian telah berkembang menjadi 1500 outlet yang tersebar di

Departement Store dan Pusat perbelanjaan lengkap dengan konsultan

kecantikannya (www.wardahbeauty.com).

Wardah melakukan berbagai macam promosi untuk mendapatkan konsumen

yang lebih banyak lagi dengan berbagai cara. Selain promosi secara langsung

dengan mengajak konsumennya mencoba produk-produknya, sekarang Wardah

juga berpromosi dengan cara membuat situs web dan toko online. Di situs

web-nya, Wardah menjelaskan produk apa saja yang diproduksiweb-nya, produk-produk

terbaru, diskon-diskon, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Wardah,

prestasi-prestasi yang telah dicapai Wardah, dan masih banyak lagi. Di toko onlinenya,

(13)

Singapore, Hongkong, Taiwan dan UEA. Dengan cara membuat toko online,

Wardah semakin mudah mendapat banyak konsumen dari Indonesia bahkan luar

negeri dan tentunya sangat menguntungkan bagi konsumen yang sibuk karena

tidak sempat membeli produknya secara langsung.

Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli produk, tentunya konsumen

memiliki kesadaran merek yang tinggi terhadap produk tersebut. Kesadaran merek

menurut Aaker (1996) adalah kekuatan keberadaan sebuah merek dalam pikiran

pelanggan. Kekuatan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan pelanggan mengenal

dan mengingat sebuah merek. Saat pengambilan keputusan pembelian konsumen

dilakukan, kesadaran merek memegang peran penting. Pelanggan cenderung

membeli merek yang sudah dikenal karena mereka merasa aman dengan sesuatu

yang dikenal dan beranggapan merek yang sudah dikenal kemungkinan bisa

dihandalkan, dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Berdasarkan studi

pendahuluan yang dilakukan terhadap konsumen kosmetik Wardah, konsumen

sadar akan keberadaan kosmetik wardah sebagai kosmetik yang halal dan

berkualitas baik. Banyak konsumen tersebut mengetahui Wardah sebagai

kosmetik halal dari media iklan di televisi. Setelah konsumen memiliki kesadaran

merek yang tinggi dan memutuskan untuk melakukan pembelian, tentunya akan

muncul persepsi konsumen terhadap kualitas produk yang dibelinya.

Persepsi kualitas yang positif pada pikiran konsumen sangat penting dan

memberikan keuntungan bagi perusahaan, dengan mendapat persepsi yang positif

perusahaan akan lebih mudah mengembangkan mereknya dan melakukan

(14)

antar konsumen lainnya. Persepsi konsumen mengenai keseluruhan kualitas suatu

produk mampu mempengaruhi konsumen di dalam melakukan keputusan

pembelian. Jika konsumen memiliki persepsi yang positif terhadap Wardah,

konsumen tidak ragu untuk melakukan word of mouth kepada rekan-rekannya.

Dengan begitu, Wardah mendapat keuntungan yaitu mendapat lebih banyak

konsumen.

Menurut Assael (1995) loyalitas merek didasarkan atas perilaku konsisten

pelanggan untuk membeli sebuah merek sebagai bentuk proses pembelajaran

pelanggan atas kemampuan merek memenuhi kebutuhannya. Loyalitas pelanggan

diawali dari tahap kognitif, menuju ke tahap afektif, dan berkembang ke tahap

konatif. Pada tahap pertama (kognitif) loyalitas masih rendah, pada tahap ini

adalah konsumen yang baru memakai produk Wardah. Sedangkan pada tahap

afektif konsumen sudah memiliki rasa suka terhadap merek, dan melakukan

pembelian ulang kosmetik merek Wardah. Dan akhirnya pada tahap konatif

konsumen bersedia menyarankan orang lain untuk menggunakan merek yang

sama. Konsumen yang loyal tentu akan menunjukkan sikap dengan terus

melakukan pembelian merek yang sama.

Minat beli ulang dipengaruhi oleh sikap konsumen terhadap merek. Menurut

Kotler (2013) minat beli ulang adalah tindakan dari konsumen untuk mau

membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi

konsumen dalam melakukan minat beli ulang suatu produk atau jasa, biasanya

konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk yang sudah

(15)

minat beli konsumen dipengaruhi oleh sikap konsumen terhadap suatu merek

tertentu yang didasari baik oleh perasaan positif dan negatif, semakin baik atau

semakin positif sikap terhadap merek akan mampu membangun minat beli ulang.

Dengan pembelian yang berulang kali terhadap satu atau lebih merek dan merek

tersebut memuaskan maka kemungkinan besar pembeli tersebut akan

menunjukkan suatu proses minat beli ulang yang rutin.

Merek yang diteliti pada penelitian ini adalah merek Wardah karena Wardah

memiliki prestasi-prestasi yang sangat bagus dan tidak menutup kemungkinan

Wardah memiliki persepsi kualitas yang bagus juga. Wardah juga bersaing ketat

dengan merek-merek kosmetik lainnya. Yang menarik dan menjadi poin

tambahan untuk Wardah adalah Wardah menggunakan bahan-bahan yang halal

untuk membuat produknya berbeda dengan kosmetik-kosmetik lainnya yang

masih ragu mengatakan bahwa bahan-bahannya halal atau masih diragukan ke

halalannya. Pada dasarnya Wardah diproduksi bagi para wanita muslim.

Dari uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji dan

meneliti “Dampak Kesadran Merek Kosmetik Halal Terhadap Niat pembelian

Ulang Konsumen: Efek Mediasi Persepsi Kualitas dan Loyalitas Merek”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa rumusan

massalah yang terdapat pada peneliti ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah kesadaran merek berpengaruh pada persepsi kualitas?

(16)

3. Apakah persepsi kualitas berpengaruh pada niat pembelian ulang?

4. Apakah kesadaran merek berpengaruh pada niat pembelian ulang?

5. Apakah loyalitas merek berpengaruh pada niat pembelian ulang?

6. Apakah persepsi kualitas akan memediasi antara kesadaran merek dan niat

pembelian ulang?

7. Apakah loyalitas merek akan memediasi antara kesadaran merek dan niat

pembelian ulang?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan terhadap konsumen kosmetik Wardah di

Yogyakarta ini mempunyai tujuan sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh kesadaran merek terhadap persepsi kualitas.

2. Menganalisis pengaruh kesadaran merek terhadap loyalitas merek.

3. Menganalisis pengaruh persepsi kualitas terhadap niat pembelian ulang.

4. Menganalisis pengaruh kesadaran merek terhadap niat pembelian ulang.

5. Menganalisis pengaruh loyalitas merek terhadap niat pembelian ulang.

6. Menganalisis efek mediasi dari persepsi kualitas terhadap kesadaran merek

dan niat pembelian ulang.

7. Menganalisis efek mediasi dari loyalitas merek terhadap kesadaran merek dan

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1) Kesadaran Merek (Brand Awareness)

Menurut Aaker (1996) kesadaran merek (Brand Awareness) adalah

kekuatan keberadaan sebuah merek dalam pikiran pelanggan. Kekuatan

tersebut ditunjukkan oleh kemampuan pelanggan mengenal dan mengingat

sebuah merek. Kesadaran merek sangat berpengaruh terhadap ekuitas merek.

Selain itu kesadaran merek akan mempengaruhi persepsi dan tingkah laku

seorang konsumen. Apabila kesadaran konsumen terhadap merek rendah, maka

dapat dipastikan bahwa ekuitas mereknya rendah. Menurut Durianto, et al

(2004) brand awareness (kesadaran merek), menunjukkan kesanggupan

konsumen (atau calon pembeli) dalam mengingat kembali (recognize) atau

mengenali (recall) bahwa suatu merek merupakan suatu bagian dari kategori

produk tertentu.

Definisi-definisi para ahli mengenai brand awareness dapat ditarik simpulan

bahwa brand awareness merupakan tujuan umum komunikasi pemasaran,

adanya brand awareness yang tinggi diharapkan kapanpun kebutuhan kategori

muncul, brand tersebut akan dimunculkan kembali dari ingatan yang

selanjutnya dijadikan pertimbangan berbagai alternatif dalam pengambilan

keputusan. Brand awareness menunjukkan pengetahuan konsumen terhadap

(18)

Peran kesadaran merek dalam ekuitas merek tergantung pada tingkatan akan

pencapaian kesadaran di benak konsumen. Tingkatan kesadaran merek dibagi

menjadi empat kelompok, yaitu:

1) Tidak menyadari merek (unware of brand): merupakan tingkatan merek

yang paling rendah dimana konsumen tidak menyadari akan eksistensi

suatu merek.

2) Pengenalan merek (brand recognition): merupakan tingkat minimal dari

kesadaran merek yang merupakan pengenalan merek dengan bantuan,

misalnya dengan bantuan daftar merek, daftar gambar, atau cap merek.

Merek yang masuk dalam ingatan konsumen disebut brand recognition.

3) Pengingatan kembali merek (brand recall): mencerminkan merek-merek

apa saja yang diingat konsumen setelah menyebutkan merek yang pertama

kali disebut. Dimana merek-merek yang disebutkan kedua, ketiga dan

seterusnya merupakan merek yang menempati brand recall dalam benak

konsumen.

4) Puncak pikiran (top of mind): yaitu merek yang pertama kali disebutkan

oleh konsumen secara spontan atau yang pertama kali dalam benak

konsumen. Dengan kata lain merek tersebut merupakan merek utama dari

berbagai merek yang ada dalam benak konsumen.

Saat pengambilan keputusan pembelian konsumen dilakukan, kesadaran

merek memegang peran penting. Merek menjadi bagian dari consideration set

sehingga memungkinkan preferensi pelanggan untuk memilih merek tersebut.

(19)

merasa aman dengan sesuatu yang dikenal dan beranggapan merek yang sudah

dikenal kemungkinan bisa dihandalkan, dan kualitas yang bisa

dipertanggungjawabkan.

2) Persepsi Kualitas (Perceived Quality)

Persepsi kualitas menurut Astuti dan Cahyadi (2007) adalah persepsi

pelanggan atas atribut yang dianggap penting baginya. Menurut Durianto

(2004) persepsi kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan

kualitas suatu produk atu jasa layanan berkenaan dengan maksud yang

diharapkan. Persepsi kualitas mempunyai peranan yang penting dalam

membangun suatu merek. Secara umum persepsi kualitas dapat menghasilkan

nilai-nilai sebagai berikut: (1) alasan untuk membeli, (2) diferensiasi atau

posisi harga premium, (3) perluasan saluran distribusi, (4) perluasan merek.

Kesan kualitas bersifat obyektif. Persepsi kualitas yang positif dapat

dibangun melalui upaya mengidentifikasi dimensi kualitas yang dianggap

penting oleh pelanggan (segmen pasar yang dituju), dan membangun persepsi

kualitas pada dimensi penting pada merek tersebut (Aaker, 1996). Persepsi

kualitas yang positif dipikiran pelanggan dapat memberikan berbagai

keuntungan bagi pengembangan merek, misalnya menciptakan positioning

yang jelas membuka peluang bagi perluasan merek.

Persepsi kualitas hampir selalu menjadi pertimbangan pada setiap pilihan

konsumen. Kualitas dapat di komunikasikan secara langsung dengan

demonstrasi atau argument bahwa sebuah atribut produk lebih unggu dibanding

(20)

Dimensi persepsi kualitas dibagi menjadi tujuh (Durianto, 2004):

1) Kinerja: melibatkan berbagai karakteristik operasional utama. Karena

faktor kepentingan pelanggan berbeda satu sama lain, sering kali

pelanggan mempunyai sikap yang berbeda dalam menilai atribut kinerja.

2) Pelayanan: mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan pada

produk tersebut.

3) Ketahanan: mencerminkan umur ekonomis dari produk tersebut.

4) Keandalan: konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu

pembelian ke pembelian berikutnya.

5) Krakteristik produk: bagian-bagian tambahan dari produk (feature)

6) Kesesuaian dengan spesifikasi: merupakan pandangan mengenai kualitas

proses manufaktur (tidak ada cacat produk) sesuai dengan spesifikasi yang

telah ditentukan dan teruji.

7) Hasil: mengarah pada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam

dimensi sebelumnya.

3) Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merek merupakan satu ukuran keberkaitan seorang konsumen

pada sebuah merek (Aaker, 1996 dalam Yuniarti, 2015). Hal ini mencerminkan

bahwa seorang konsumen yang loyal terhadap suatu merek tidak akan dengan

mudah memindahkan pembeliannya ke merek lain, apapun yang terjadi dengan

merek tersebut. Loyalitas merek merupakan ukuran keberkaitan konsumen

pada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang seorang

(21)

tersebut ditemukan perubahan, baik menyangkut harga maupun atribut lain

(Durianto, 2001 dalam Yuniarti, 2015).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa loyalitas merek

merupakan sikap positif dan kelekatan seorang konsumen pada sebuah merek,

yaitu konsumen memilih untuk membeli merek tertentu dibandingkan merek

lain dalam satu kategori produk secara konsisten (Yuniarti, 2015). Konsumen

yang loyal umumnya akan setia pada merek tersebut dalam hal pembelian

ulang walaupun dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan merek lain. Bila

loyalitas pelanggan terhadap suatu merek meningkat, kerentanan kelompok

pelanggan tersebut dari ancaman dan serangan merek produk pesaing dapat

dikurangi.

Schiffman dan Kanuk, 2004 (dalam Yuniarti, 2015) menyatakan bahwa

loyalitas merek terbagi dalam dua dimensi, yaitu:

1) Attitudinal Loyalty (pengukuran sikap), attiudional loyalty ini meliputi tiga

bagian berikut:

a) Cognitive loyalty. Loyalitas ini merupakan representasi dari hal-hal

yang dipercayai oleh konsumen. Dimensi kognitif berisikan persepsi,

kepercayaan, dan stereotype seorang konsumen mengenai suatu merek.

b) Affective loyalty. Loyalitas ini didasarkan pada perasaan dan komitmen

konsumen terhadap suatu merek. Konsumen memiliki kedekatan

emosional terhadap merek tersebut. Loyalitas afektif ini merupakan

(22)

c) Conative loyalty/behavioral intent. Loyalitas konatif ini merupakan

batas antara attitudinal loyalty dan behavioral loyalty, yang

dipresentasikan melalui kecenderungan perilaku konsumen untuk

menggunakan merek yang sama pada masa yang akan datang.

2) Behavioral loyalty (pengukuran perilaku). Behavioral loyalty (pengukuran

perilaku) meliputi action loyalty, yaitu tingkah laku membeli ulang suatu

merek oleh seorang konsumen terhadap kategori produk tertentu. Tingkah

laku loyal tercermin melalui frekuensi dan konsistensi pembelian suatu

merek.

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur loyalitas pelanggan

terhadap suatu merek produk (Astuti dan Cahyadi, 2007) yaitu:

1. Komitmen pelanggan. Meliputi kemungkinan pelanggan untuk terus

menggunakan merek tersebut tanpa terpengaruh oleh promosi yang

dilakukan pesaing.

2. Rekomendasi pelanggan kepada pihak lain agar ikut menggunakan merek

tersebut.

3. Harga optimum. Meliputi kemungkinan pelanggan untuk bersedia

membeli suatu merek produk dengan harga yang lebih tinggi dari merek

yang lain.

Terdapat beberapa tingkatan loyalitas (Aaker, 1997 dalam Yuniarti,

2015), yaitu:

1) Switcher (berpindah-pindah) adalah tingkatan loyalitas paling dasar.

(23)

yang lain mengindikasikan bahwa mereka tidak loyal, semua merek

dianggap memadai. Dalam hal ini merek memegang peranan kecil dalam

keputusan pembelian. Ciri yang paling tampak dari jenis pelanggan ini

adalah mereka memebeli suatu produk karena harganya murah dan banyak

konsumen lain yang membeli merek tersebut.

2) Habitual Buyer (pembeli yang bersifat kebiasaan) adalah pembeli yang

tidak mengalami ketidakpuasan dalam mengkonsumsi suatu merek

produk. Tidak ada alasan yang kuat baginya untuk membeli merek produk

lain atau berpindah merek, terutama jika peralihan itu membutuhkan

usaha, biaya, atau pengorbanan lain. Jadi pembeli ini dalam membeli suatu

merek karena alasan kebiasaan.

3) Satisfied Buyer (pembeli yang puas dengan biaya peralihan) adalah

kategori pembeli yang puas dengan merek yang dikonsumsi. Namun

pembeli ini dapat saja berpindah merek dengan menanggung biaya

peralihan (switching cost), seperti waktu, biaya atau resiko yang timbul

akibat tindakan peralihan merek tersebut untuk menarik minat pembeli.

Kategori ini, pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus

ditanggung pembeli dengan menawarkan berbagai manfaat sebagai

kompensasi.

4) Liking The Brand (Menyukai merek) adalah kategori pembeli yang

sungguh-sungguh menyukai merek tersebut. Rasa asosiasi yang berkaitan

(24)

sebelumnya, atau persepsi kualitas yang tinggi dan mereka menganggap

merek sebagai sahabat.

5) Committed Buyer (pembeli yang berkomitmen) adalah kategori pembeli

yang setia. Pembeli ini mempunyai kebanggan dalam menggunakan suatu

merek. merek tersebut bahkan menjadi sangat penting baik dari segi fungsi

maupun sebagai ekspresi siapa sebenarnya penggunanya. Ciri yang tampak

pada kategori ini adalah tindakan pembeli untuk merekomendasikan dan

mempromosikan merek yang digunakan kepada orang lain.

Loyalitas merek dapat diartikan sebagai pembelian berulang yang

terus-menerus dari merek produk yang sama selama kurun waktu tertentu. Pada

pendekatan perilaku, loyalitas terhadap merek produk dpat diukur melalui

berikut ini:

1) Proporsi frekuensi pembelian suatu merek produk dibandingkan dengan

jumlah pembelian selama periode waktu tertentu.

2) Tindakan yang dilakukan ketik mendapatkan merek produk yang dicari

tidak tersedia ditempat pembelian.

Berdasarkan proporsi pembelian (proportion-of-purchase method),

(25)

Tabel 2.1

Klasifikasi Loyalitas Merek Berdasarkan Metode Proporsi Pembelian No. Klasifikasi Urutan loyalitas

merek Sumber: (Sumawan, 2004; Dwiastuti dkk, 2012 dalam Yuniarti, 2015)

Apabila proporsi pembelian terhadap suatu merek produk terhadap total

pembelian dalam kurun waktu tertentu sebesar lebih dari 50%, dikategorikan

loyal.

4) Niat Pembelian Ulang (Consumer Purchase Intention)

Niat (intentions) dapat digambarkan sebagai suatu situasi seseorang

(26)

memprediksi perilaku atau tindakan tersebut. Repurchace Intentions

merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap obyek ketika

seorang konsumen memperoleh respon positif atas tindakan masa lalu, dari situ

akan terjadi penguatan, dengan dimilikinya pemikiran positif atas apa yang

diterimanya memungkinkan individu untuk melakukan pembelian secara

berulang, Kotler (2013).

Minat beli ulang (repurchase intention) merupakan suatu komitmen

konsumen yang terbentuk setelah konsumen melakukan pembelian suatu

produk atau jasa. Komitmen ini timbul karena kesan positif konsumen terhadap

suatu merek, dan konsumen merasa puas terhadap pembelian tersebut (Hicks et

al, 2005 dalam Setyaningsih, 2014). Minat pembelian ulang adalah keinginan

dan tindakan konsumen untuk membeli ulang suatu produk, Karena danya

kepuasan yang diterima sesuai dengan yang diinginkan dari suatu produk.

Merek yang sudah melekat dalam hati pelanggan akan menyebabkan pelanggan

melanjutkan pembelian atau pembelian ulang.

Terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi minat pembelian ulang

yaitu variabel kinerja yang menguntungkan, variabel sikap yang

menguntungkan, variabel minat dan pembelian ulang. Dapat dikatakan bahwa

repurchase intention adalah kecenderungan perilaku membeli dari konsumen

pada suatu produk barang dan jasa yang dilakukan secara berulang dalam

jangka waktu tertentu dan secara aktif menyukai dan mempunyai sikap positif

terhadap suatu produk barang atau jasa, didasarkan pada pengalaman yang

(27)

Posisi pasar suatu produk terbentuk karena adanya konsumen yang mau

membeli produk tersebut dan sebagian besar konsumen tersebut kemudian

membeli lagi produk tersebut. Pembelian produk baru selalu dimulai dengan

pembelian pertama, yaitu kemauan untuk melakukan pembelian pertama kali

dengan niat mencoba produk baru tersebut (Kurniawati, 2009). Pada

kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali diawali dan

dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan (stimuli) dari luar dirinya, baik berupa

rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari lingkungannya. Rangsangan

tersebut kemudian diproses dalam diri sesuai dengan karakteristik pribadinya

sebelum akhirnya diambil keputusan pembelian. Karakteristik pribadi

konsumen yang dipergunakan untuk memproses rangsangan tersebut sangat

komplek, dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk membeli.

Niat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan pemikiran yang

membentuk suatu persepsi. Niat pembelian ini menciptakan suatu motivasi

yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu keinginan yang sangat

kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi

kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada dibenaknya. Suatu

produk dikatakan telah dikonsumsi oleh konsumen apabila produk tersebut

telah diputuskan oleh konsumen untuk dibeli. Keputusan untuk membeli

dipengaruhi oleh nilai produk yang dievaluasi. Bila manfaat yang dirasakan

lebih besar dibanding pengorbanan untuk mendapatkannya, maka dorongan

(28)

dibandingkan pengorbanan maka biasanya pembeli akan menolak untuk

membeli dan umumnya beralih mengevaluasi produk lain yang sejenis.

B. Penelitian Terdahulu

Pada dasarnya penelitian ini dirujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Chi et

al. (2009). Dalam penelitiannya, Chi menggunakan tiga elemen ekuitas merek

yaitu kesadaran merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek. Alat analisi yang

digunakan menggunakan regresi berganda untuk melihat dampak kesadaran

merek terhadap niat pembelian ulang dengan persepsi kualitas dan loyalitas merek

sebagai variabel mediasi. Penelitian ini juga melihat bagaimana dampak

kesadaran merek terhadap niat pembelian ulang melalui efek mediasi persepsi

kualitas dan loyalitas merek pada kosmetik merek Wardah.

Penelitian mengenai niat pembelian ulang juga telah dilakukan oleh Ariyan

(2005) yang menghubungkan konsep Brand Awareness dan kepercayaan

konsumen atas merek terhadap keputusan pembelian ulang minuman Aqua di kota

Padang dengan teknik analisis regresi linier berganda, dan penelitian yang

dilakukan oleh Wibisaputra (2011) yang berjudul analisis faktor-faktor yang

mempengaruhi niat pembelian ulang gas elpiji 3kg di kota Semarang dengan

teknik analisis regresi linear berganda.

Selain penelitian dari Chi (2009), Ariyan (2005) dan Wibisaputra (2011) ada

beberapa penelitian menggunakan ekuitas merek sebagai variabelnya yang

berpengaruh terhadap keputusan pembelian maupun niat pembelian ulang.

(29)

Berikut adalah penelitian-penelitian yang menghubungkan ekuitas merek dengan

keputusan pembelian maupun niat pembelian ulang:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No Nama & Tahun Metode Hasil

1 Ariyan, 2005 Teknik analisis regresi linear berganda

2 Astuti & Cahyadi, 2007 Teknik analisis regresi linear berganda

3 Chi et al., 2009 Teknik analisis regresi berganda 4 Fatimah, 2012 Teknik analisis regresi

berganda

(30)

No Nama & Tahun Metode Hasil

6 Naufal, 2014 Teknik analisis regresi berganda 7 Syarifuddin, 2012 Teknik analisis linear

berganda

8 Wibisaputra, 2011 Teknik analisis regresi linear berganda

9 Yudistira, 2012 Teknik analisis regresi linear berganda

Penelitian ini menggunakan tiga dimensi ekuitas merek diukur langsung ke

consumer purchase intention. Pada penelitian ini ditambahkan variabel pemediasi

yaitu mediasi antara persepsi kualitas dan loyalitas merek. Penambahan

berdasarkan pertimbangan bahwa persepsi kualitas dan loyalitas merek menjadi

penting bagi pelanggan dalam niat beli konsumen. Jadi untuk hubungan variabel

(31)

1. Hubungan kesadaran merek terhadap persepsi kualitas

Kesadaran merek (Brand Awareness) adalah kekuatan keberadaan sebuah

merek dalam pikiran pelanggan. Kekuatan tersebut ditunjukkan oleh

kemampuan pelanggan mengenal dan mengingat sebuah merek. Persepsi

Kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas suatu

produk atau jasa layanan brekenaan dengan maksud yang diharapkan

(Durianto, 2004)

Menurut Astuti dan Cahyadi, kesadaran merek akan mempengaruhi persepsi

dan tingkah laku seorang konsumen. Semakin tinggi kasadaran merek yang

dimiliki oleh konsumen, maka semakin tinggi pula persepsi kualitas yang

dirasakan oleh konsumen tersebut.

H1 : kesadaran merek berpengaruh positif pada persepsi kualitas. 2. Hubungan kesadaran merek terhadap loyalitas merek

Kesadaran merek dapat membantu mengkaitkan merek dengan asosiasi yang

diharapkan oleh perusahaan, menciptakan hubungan pelanggan pada merek,

dan menunjukkan komitmen kepada pelanggannya. Tingkat kesadaran merek

berkisar dari tingkat recognize the brand yaitu pelanggan dapat mengenal

suatu merek, sampai pada tingkat dimana merek menjadi dominan brand

recalled, merek sebagai satu-satunya yang diingat dan menjadi identitas

kategori produk. Ada beberapa tingkatan loyalitas konsumen terhadap merek

salah satunya loyalitas kognitif yaitu tahap pengetahuan langsung ataupun

tidak langsung konsumen terhadap merek, manfaat dan dilanjutkan ke

(32)

(Yuniarti, 2015). Pada tingkatan ini, kesadaran merek berpengaruh terhadap

loyalitas merek namun masih rendah.

H2 : kesadaran merek berpengaruh positif terhadap loyalitas merek. 3. Hubungan persepsi kualitas terhadap niat pembelian ulang

Persepsi kualitas menurut Astuti dan Cahyadi (2007) adalah persepsi

pelanggan yang dianggap penting baginya. Persepsi pelanggan memiliki

penilaian yang berbeda-beda antara masing-masing pelanggan. Pelanggan

yang memiliki persepsi kualitas bagus terhadap suatu merek akan membuat

pelanggan membeli merek tersebut secara berulang-ulang. Dalam penelitian

yang dilakukan oleh Diana (2006), persepsi kualitas yang dirasakan oleh

konsumen akan berpengaruh terhadap kesediaan konsumen tersebut untuk

membeli sebuah produk. Ini menunjukkan semakin tinggi nilai yang dirasakan

oleh konsumen, maka akan semakin tinggi pula kesediaan konsumen tersebut

untuk akhirnya membeli.

H3 : persepsi kualitas berpengaruh pada niat pembelian ulang. 4. Hubungan kesadaran merek terhadap niat pembelian ulang

Jika perusahaan dapat membangun merek yang kuat dipikiran pelanggan

dengan strategi yang kuat maka perusahaan tersebut akan memiliki nilai

tambah kepada pelanggan yang di sebutkan merek tersebut memiliki

kesadaran merek, oleh karena itu pengingatan kembali sangat penting terhadap

keputusan pembelian pada konsumen karena konsumen akan cenderung

memilih yang biasa mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran

(33)

Membangun kesadaran merek biasanya dilakukan dalam periode waktu yang

lama karena penghafalan bisa berhasil dengan repetisi dan penguatan.

Menurut Astuti dan Cahyadi (2007), saat pengambilan keputusan pembelian

dilakukan, kesadaran merek memiliki peranan yang sangat penting.

H4 : kesadaran merek berpengaruh pada niat pembelian ulang. 5. Hubungan loyalitas merek terhadap niat pembelian ulang

Pengaruh utama dari penjualan adalah konsumen yang puas. Seseorang

pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak akan dengan mudah

memindahkan pembeliannya ke merek lain, maka hal tersebut dapat

menunjukkan loyalitas terhadap merek tersebut rendah. Menurut Wirastomo

dalam Fatimah (2012), hasil yang ditemukan menyatakan bahwa tingkat brand

loyalty yang tinggi yaitu berupa komitmen yang kuat dari pelanggan terhadap

merek dapat menciptakan rasa percaya diri yang besar pada pelanggan saat

mengambil keputusan pembelian. Hal ini disebabkan karena pelanggan merasa

memiliki ikatan yang besar bahwa keputusannya membeli merek tersebut

adalah keputusan yang tepat. Aaker dalam Fatimah (2012) menyatakan bahwa

tingkat loyalitas merek yang tinggi terhadap merek dapat menciptakan rasa

percaya diri yang besar pada pelanggan saat pengambilan keputusan

pembelian.

(34)

6. Hubungan mediasi persepsi kualitas antara kesadaran merek terhadap niat

pembelian ulang.

Sebelum melakukan pembelian ulang, konsumen tentu memiliki kesadaran

merek yang tinggi. Kesadaran merek yang tinggi akan membuat persepsi

pelanggan yang positif terhadap merek tersebut. Persepsi kualitas yang

dirasakan oleh konsumen akan berpengaruh terhadap kesediaan konsumen

untuk membeli sebuah produk (dalam Diana, 2006). Dengan adanya persepsi

kualitas yang tinggi maka pelanggan akan memiliki minat untuk

menggunakan atau membeli kembali (Li dan Lee 2001 dalam Puspitasari,

2006)

H6 : persepsi kualitas akan memediasi antara kesadaran merek dan niat pembelian ulang

7. Hubungan mediasi loyalitas merek antara kesadaran merek dan niat pembelian

ulang

Kesadaran merek yang tinggi akan menstimulasi konsumen untuk melakukan

pembelian terhadap suatu merek. Semakin tinggi kesadaran merek yang

dimiliki konsumen, maka konsumen tidak akan ragu untuk mengambil

keputusan untuk membeli. Perilaku pembelian ulang didasarkan oleh sikap

loyal yang dimiliki konsumen. Semakin loyal konsumen, maka semakin tinggi

niat pembelian ulang yang akan dilakukan oleh konsumen. Loyalitas merek

menunjukkan adanya suatu pembelian ulang dari konsumen (Hadi dan

(35)

H7 : loyalitas merek akan memediasi antara kesadaran merek dan niat pembelian ulang

D. Model Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis dampak kesadaran merek terhadap

niat pembelian ulang konsumen dengan efek mediasi persepsi kualitas dan

loyalitas merek. Pada model analisis ini, elemen ekuitas merek yang digunakan

adalah kesadaran merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek. Model penelitian

terdiri dari beberapa variabel. Variabel yang digunakan dalam penelitian dapat

diklasifikasikan menjadi: (1) variabel independen (bebas), (2) variabel dependen

(terikat), (3) variabel mediasi. Secara skematis, model kerangka konseptual dalam

penelitian ini terlihat pada Gambar 2.1

H6

Gambar 2.1: Model Penelitian Dampak Kesadaran Merek terhadap Niat Pembelian Ulang melalui Efek Mediasi Persepsi Kualitas dan Loyalitas

(36)

Berdasarkan Gambar 2.1 terdapat tiga variabel yaitu variabel independen,

variabel dependen dan variabel mediasi. Pada model penelitian ini, peneliti akan

mengukur bagaimana hubungan antara kesadaran merek dengan persepsi kualitas,

kesadaran merek dengan loyalitas merek, kesadaran merek dengan niat pembelian

ulang, persepsi kualitas dengan niat pembelian ulang, loyalitas merek dengan niat

pembelian ulang, efek mediasi antara kesadaran merek dengan niat pembelian

ulang melalui persepsi kualitas dan efek mediasi kesadaran merek dengan niat

(37)

A. Paradigma Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dapat

diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism,

digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data

menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik,

dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Analisis data yang

digunakan adalah bersifat sebab dan akibat (kausal), sehingga dari penelitian ada

variabel independen dan dependen. Dari variabel tersebut selanjutnya dicari

seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap dependen (Sugiyono,

2009).

B. Obyek dan Subyek Penelitian

1. Obyek Penelitian

Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah kosmetik merek

Wardah.

2. Subyek Penelitian

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen kosmetik

(38)

C. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data

yang dikumpulkan langsung oleh peneliti untuk tujuan spesifik dan menjawab

permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini, data primer dikumpulkan dengan

menyebarkan kuesioner kepada responden untuk memperoleh informasi dari

responden.

D. Teknik Pengambilan Sampel

Pada penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah non probability

sampling. Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak

memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk

dipilih menjadi sampel. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah

purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan/kriteria

tertentu (Sugiyono, 2009). Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini

antara lain:

1. Konsumen yang berusia 17 tahun keatas, karena dianggap sudah dapat

mengambil keputusan sendiri.

2. Pernah melakukan pembelian kosmetik merek Wardah minimal 2 kali,

karena untuk mengetahui apakah konsumen memiliki niat untuk

melakukan pembelian kembali kosmetik merek Wardah.

Menurut Roscoe dalam Sekaran (2003) besarnya sampel penelitian ditentukan

sebanyak 25 kali variabel penelitian, sehingga jumlah sampel penelitian ini

(39)

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan memberikan

kuesioner secara langsung kepada responden yang menggunakan kosmetik merek

Wardah. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden

untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009). Jenis kuesioner yang digunakan adalah close

ended dengan skala likert. Close ended yaitu kuesioner yang berisi pertanyaan

yang sudah disediakan jawabannya oleh peneliti.

F. Identifikasi Variabel

Variabel penelitian dalam penelitian ini meliputi:

1. Variabel Bebas (Independen)

Variabel bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependen)

(Sugiyono, 2009). Jika terdapat variabel bebas, variabel terikat juga hadir,

dan dengan setiap unit kenaikan dalam variabel bebas terdapat pula kenaikan

atau penurunan dalam variabel terikat. Dengan kata lain, varian variabel

terikat ditentukan oleh variabel bebas (Sekaran, 2003). Dalam penelitian ini,

kesadaran merek sebagai variabel bebas (independent).

2. Variabel Terikat (Dependen)

Variabel terikat (dependen) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (independen) (Sugiyono,

(40)

yang memengaruhinya), adalah mungkin untuk menemukan jawaban atau

solusi atas masalah (Sekaran,2003). Dalam penelitian ini, niat pembelian

ulang konsumen berlaku sebagai variabel terikat (dependen).

3. Variabel Mediasi

Variabel moderator mediasi adalah variabel yang mengemuka antara waktu

variabel bebas mulai bekerja memegaruhi variabel terikat, dan waktu

pengaruh variabel bebas terasa pada variabel terikat. Variabel mediasi

mengemuka sebagai sebuah fungsi variabel bebas yang berlaku dalam

situasi apa pun serta membantu mengkonsepkan dan menjelaskan pengaruh

variabel bebas terhadap variabel terikat (Sekaran, 2003). Dalam penelitian

ini, persepsi kualitas dan loyalitas merek berlaku sebagai variabel

moderator.

G. Definisi Opersional

Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi

tentang bagaimana caranya mengukur variabel. Menurut Sekaran (2003), definisi

operasional adalah definisi sebuah ide dalam istilah yang bisa diukur dengan

mengurangi tingkat abstraksinya melalui penggambaran dimensi dan elemennya.

(41)

Tabel 3.1

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Indikator Sumber

(42)
(43)

H. Uji Kualitas Instrumen dan Data

Sebelum melakukan analisis data, langkah awal dalam menganalisis data

penelitian adalah dengan melakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap

daftar pertanyaan atau kuesioner yang diajukan dengan tujuan untuk mengetahui

sampai sejauh mana kuesioner dapat menjadi alat pengukur yang valid dan

reliabel dalam mengukur suatu gejala yang ada. Adapun penjelasan secara

lengkap mengenai langkah-langkah dalam analisis adalah sebagai berikut:

1. Uji Validitas

Uji validitas merupakan pengujian yang menunjukkan sejauhmana alat ukur

yang digunakan mampu mengukur apa yang kita ukur dan bukan mengukur

yang lain. Dalam penelitian ini uji validitas yang digunakan adalah uji validitas

untuk validitas konstruk (construct validity). Uji validitas diukur dengan

analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui keterkaitan

antara variabel independen dan variabel dependen. Item pertanyaan dikatakan

valid jika signifikan (α) < 5% atau < 0,05 (Rahmawati Dkk, 2012). Indikator

pertanyaan akan dinyatakan valid dari output SPSS Statistic pada tabel

correlation dengan melihat sig. (2-tailed). Pengujian validitas instrument diolah

menggunakan program software SPSS Statistic 15.

Variabel Definisi Indikator Sumber

(44)

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas merupakan pengujian yang menunjukkan sejauhmana

stabilitas dan konsistensi dari alat ukur yang digunakan, sehingga memberikan

hasil yang relatif konsisten jika pengukuran tersebut diulangi. Dalam

penelitian, pengujian kualitas data yang sering dilakukan adalah uji reliabilitas

untuk reliabilitas konsistensi internal, dimana konsep ini menekankan pada

konsistensi butir-butir pertanyaan dalam suatu instrument (Rahmawati Dkk,

2012). Indikator pertanyaan dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha > 0,6

(Rahmawati Dkk, 2012). Pengujian reliabilitas diolah menggunakan program

software SPSS Statistic 15.

I. Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis

1. Metode Analisis Data

Regresi linear berganda adalah analisis regresi antara satu variabel terikat

dan dua atau lebih variabel bebas (Ghozali, 2011). Analisis regresi linear

berganda diolah menggunakan program software SPSS Statistic 15.

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara

variabel bebas terhadap variabel terikat. Ketepatan fungsi regresi sampel

dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dengan Goodness of Fitnya. Secara

statistik setidaknya dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik

F, dan nilai statistik t. perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik

apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho

(45)

dalam daerah dimana Ho diterima (Ghozali, 2011). Dalam penelitian ini, uji

statistik yang digunakan yaitu uji koefisien determinasi (R2) dan uji statistik t

(uji parsial).

a. Uji t (Uji Parsial)

Pembuktian hipotesis secara parsial dilakukan dengan uji t yaitu uji yang

digunakan untuk menguji kebermaknaan koefisien regresi secara parsial

diantara variabel terikat terhadap variabel bebas (Ghozali, 2011). Adapun

langkah-langkah dalam pengujian secara parsial adalah sebagai berikut

(Ghozali, 2011):

Menentukan Hipotesis

Ho : b1 = 0

Artinya, semua variabel independent bukan merupakan penjelas yang

signifikan terhadap variabel dependent.

H1 : b1≠ 0

Artinya, semua variabel independent merupakan penjelas yang signifikan

terhadap variabel dependent

b. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinan (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh

kemampuan variasi variabel independen menerangkan variasi variabel

dependen, Ghozali (2011). Nilai R2 yang semakin mendekati 1, berarti

variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang

(46)

c. Uji Variabel Mediasi

Variabel mediasi disebut dengan variabel intervening atau variabel antara.

Menurut Baron dan Kenny (1986) dalam Ghozali (2011) suatu variabel

disebut mediator jika variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan

antara variabel independen dan varibel dependen. Jika variabel independen

tidak lagi mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen setelah

mengontrol variabel mediator, maka dinyatakan terjadi perfect atau

complete mediation. Jika pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen berkurang tetapi masih berbeda dari 0, setelah mengontrol

variabel mediator, maka dinyatakan terjadi partial mediation

(47)

1. Gambaran Obyek Penelitian

Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah kosmetik merek Wardah.

Wardah diciptakan oleh PT Paragon Technology and Innovation yang berdiri

sejak tanggal 28 Februari 1985 dengan nama awal PT Pusaka Tradisi Ibu.

Perusahaan ini baru berganti nama menjadi PT Paragon Technology and

Innovation pada tahun 2011. Perusahaan ini didirikan oleh pasangan suami istri

Drs. H. Subakat Hadi, M.Sc dan Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. Perusahaan

ini dimulai dengan sederhana namun sudah diusahakan dengan tata cara yang

baik. PT Pusaka Tradisi Ibu (PTI) pada awal berdirinya hanya memproduksi

perawatan rambut. Pada tahun 1987, perusahaan ini mengeluarkan produk

perawatan rambut dengan merek Ega yang dipasarkan ke salon-salon. Kemudian

lahir produk Putri yang sampai sekarang masih diproduksi.

Tahun 1985-1990, PT Pusaka Tradisi Ibu mengalami perkembangan pesat.

Mulai dari Jabodetabek, produknya mulai menyebar dan bersaing langsung

dengan produk lama yang telah eksis. Mulai tahun 1990, produk salonnya dapat

bersaing dengan produk eksis. Survey CIC (2002) menyebutkan bahwa Hair

Tonic Putri adalah hair tonic yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Sedangkan produk perawatan rambut lainnya selalu masuk 10 besar. Seiring

dengan perkembangan perusahaan, pada bulan Desember 1990, PT Pusaka

(48)

Tangerang. Pendirian pabrik yang baru ini bertujuan untuk menambah kapasitas

produksi yang terus meningkat.

Pada tahun 1995, PTI mulai mengembangkan merek Wardah. Namun,

belum bisa berjalan dengan baik karena rekanan manajemen yang kurang baik.

PTI kembali mencoba mengembangkan Wardah pada tahun 1996 dengan tetap

bekerja sama dengan agen dalam pemasarannya. Sejak itu penjualannya mulai

menanjak dan PT Pusaka Tradisi Ibu memasuki pasar tata rias (decorative).

Ketika krisis ekonomi 1998, banyak perusahaan sejenis yang tutup. Daya

beli masyarakat anjlok sementara harga bahan baku naik sampai empat kali

lipat. PTI mengambil reaksi cepat menyikapi krisis tersebut di saat

pesaing-pesaing lain tidak berproduksi. Setelah melewati masa krisis selama empat

bulan, PTI justru mengembangkan pasar. Pada tahun 1999-2003, PTI

mengalami perkembangan kedua. Penjualan merek Wardah pada masa tersebut

melonjak pesat. PTI mulai memodernisasi perusahaan pada tahun 2002-2003.

Perusahaan ini mulai masuk ke pasar umum yang memerlukan perubahan dari

segi internal. Selain itu, juga melalui program promosi dan membina tim

promosi.

Pada tahun 2005, PTI sudah menerapkan Good Manufacturing Practice

(GMP) dan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Sampai sekarang,

di Indonesia baru 80 pabrik dari keseluruhan 760 pabrik yang sudah

menerapkan CPKB. Selain itu, PTI menjadi percontohan pelaksanaan CPKB

(49)

memiliki 26 Distribution Centre (DC) hampir di seluruh wilayah Indonesia. Saat

ini perusahaan ini telah memiliki DC di Malaysia.

2. Profil Responden atau Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini dalah konsumen kosmetik Wardah. Data yang

digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuesioner secara

langsung kepada konsumen Wardah. Jumlah kuesioner yang diberikan kepada

responden disebarkan sebanyak 100 kuesioner. Adapun rekapitulasi penyebaran

kuesioner dapat dilihat dari Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1

Rincian Penyebaran Kuesioner

No. Dasar Klasifikasi Jumlah

1 Kuesioner yang disebar 100 kuesioner

2 Kuesioner yang kembali 100 kuesioner

3 Kuesioner yang tidak kembali 0 kuesioner

4 Kuesioner yang tidak memenuhi syarat 0 kuesioner

5 Kuesioner yang dapat di olah 100 kuesioner

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Berdasarkan keterangan dari Tabel 4.1 diatas diketahui bahwa kuesioner

yang diberikan kepada kosumen Wardah sebanyak 100 kuesioner, hal tersebut

menyimpulkan bahwa kuesioner yang kembali sesuai dengan kuesioner yang

disebar.

3. Karakteristik Responden

Responden diklasifikasikan berdasarkan karakteristik usia dan pekerjaan.

Berikut deskripsi data konsumen Wardah. berdasarkan karakteristik yang telah

(50)

Tabel 4.2

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Tabel 4.2 menunjukkan presentase terbesar untuk usia responden adalah usia

17-25 tahun sebesar 60 responden atau 60%, presentase terbesar untuk

pekerjaan adalah pelajar/mahasiswa sebesar 60 responden atau 60%.

B. Uji Kualitas Instrumen Data

Sebelum melakukan analisis data, langkah awal dalam menganalisis data

penelitian adalah dengan melakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap

daftar pertanyaan atau kuesioner yang diajukan. Pada penyebaran kuesioner

formal, responden diberikan 25 pertanyaan yang mewakili setiap variabel. Hasil

data diuji dengan validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS Versi 15.

1. Uji validitas

Uji validitas merupakan pengujian yang menunjukkan sejauhmana alat

ukur yang digunakan mampu mengukur apa yang kita ukur dan bukan

(51)

uji validitas konstruk (construct validity) yang menunjukkan seberapa baik

hasil yang diperoleh dari penggunaan ukuran cocok dengan teori yang

mendasari desain tes (Rahmawati et al, 2012). Uji validitas dalam penelitian

ini menggunakan alpha < 0,05 atau 5%. Uji validitas dalam penelitian ini

dihitung dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 15. Kriteria

pengukuran yang digunakan adalah:

a. Apabila alpha > sig. (2-tailed), maka kesimpulannya item kuesioner

tersebut tidak valid

b. Apabila alpha < sig. (2-tailed), maka kesimpulannya item kuesioner

tersebut valid.

Untuk tingkat validitas dilakukan uji signifikansi dengan membandingkan

nilai alpha dengan nilai sig. (2-tailed). Dari kriteria diatas hasil uji

validitas dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini:

(52)

Variabel Item

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari Tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa masing-masing item

pertanyaan memiliki sig. (2-tailed) < 0,05 dan bernilai positif. Dengan

demikian butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid. Sehingga semua item

pertanyaan memenuhi syarat atau dapat digunakan untuk penelitian

selanjutnya dan mampu mewakili variabel yang diteliti.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas merupakan pengujian yang menunjukkan sejauhmana

stabilitas dan konsistensi dari alat ukur yang digunakan, sehingga memberikan

hasil yang relatif konsisten jika pengukuran tersebut diulangi. Dalam

penelitian ini, pengujian kualitas data yang sering dilakukan adalah uji

reliabilitas untuk reliabilitas konsistensi internal, dimana konsep ini

menekankan pada konsistensi butir-butir pertanyaan dalam suatu instrumen

(Rahmawati et al, 2012). Indikator pertanyaan dikatakan reliabel jika nilai

cronbach alpha > 0,6 (Rahmawati et al, 2012). Berdasarkan perhitungan

(53)

Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas

No Variabel Cronbach alpha Keterangan

1 Kesadaran merek 0,751 Reliabel

2 Persepsi kualitas 0,892 Reliabel

3 Loyalitas merek 0,920 Reliabel

4 Niat pembelian ulang 0,924 Reliabel

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Hasil pengujian reliabilitas pada Tabel 4.4 merupakan nilai Cronbach Alpha

pada variabel nilai kesadaran merek sebesar 0,751, variabel nilai persepsi

kualitas sebesar 0,892, variabel loyalitas merek 0,920, dan variabel niat

pembelian ulang sebesar 0,924, yang masing-masing nilai variabel lebih besar

atau sama dengan 0,6. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan

bahwa keseluruhan instrumen penelitian tersebut reliabel sehingga dapat

digunakan dalam penelitian ini.

3. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk menjelaskan sejauh mana responden

dapat memberikan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

Kategori yang diajukan sebagai berikut:

Tabel 4.5

Kategori Tingkat Jawaban

Kategori Batas

Rendah 1 – 2,33

Sedang 2,34 – 3,67

Tinggi 3,68 – 5

untuk mengetahui mean dari masing-masing indikator yang diajukan dalam

(54)

Tabel 4.6

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Pada tabel 4.6 menjelaskan statistik deskriptif responden dalam

memberikan penilaian terhadap variabel kesadaran merek. variabel nilai

kesadaran merek menunjukkan jumlah rata-rata 3,80 dengan skor minimum

ada diangka 1 dan maksimum ada diangka 5, hal ini menunjukkan bahwa nilai

kesadaran merek yang dirasakan konsumen adalah tinggi.

Tabel 4.7

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Pada Tabel 4.7 menjelaskan statistik deskriptif responden dalam

memberikan penilaian terhadap variabel persepsi kualitas. Variabel persepsi

kualitas menunjukkan jumlah rata-rata 3,74 dengan skor minimum dan

diangka 1 dan maksimum ada diangka 5, hal ini menunjukkan bahwa persepsi

(55)

Tabel 4.8

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Pada Tabel 4.8 menjelaskan statistik deskriptif dalam memberikan

penilaian terhadap variabel loyalitas merek. variabel loyalitas merek

menunjukkan jumlah rata-rata 3,21 dengan skor minimum ada di angka 1 dan

skor maksimum ada diangka 5, hal ini menunjukkan bahwa nilai loyalitas

merek yang dirasakan konsumen adalah sedang

Tabel 4.9

Statistik Deskriptif Variabel Niat Pembelian Ulang

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Tabel 4.9 menjelaskan statistik deskriptif responden dalam memberikan

penilaian terhadap variabel niat pembelian ulang. Variabel niat pembelian

ulang menunjukkan jumlah rata-rata 3,61 dengan skor minimum ada diangka 1

dan maksimum ada diangka 5, hal ini menunjukkan bahwa nilai niat

(56)

C. Hasil Uji Hipotesis

1. Analisis Regresi Linear Berganda

Uji hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis regresi

linear berganda. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

pengaruh antara kesadaran merek terhadap niat pembelian ulang melalui

efek mediasi persepsi kualitas dan loyalitas merek. Dalam penelitian ini,

variabel independen adalah kesadaran merek (X1), sedangkan variabel

mediasi dalam penelitian ini adalah persepsi kualitas (M1) dan loyalitas

merek (M2), dan variabel dependen adalah niat pembelian ulang

konsumen (Y). Pengolahan data dilakukan dengan program SPSS

(Statistic Package for Social Sciences) 15.0. hasil analisis regresi linear

berganda dapat dilihat dalam Tabel 4.10 adalah sebagai berikut:

a. Pengaruh kesadaran merek terhadap persepsi kualitas

Tabel 4.10

Hasil Analisis Uji Regresi Kesadaran Merek Terhadap Persepsi Kualitas

(57)

juga akan meningkat, dengan signifikansi sebesar 0,000 kurang dari

alpha 0,05. Sehingga kesadaran merek terhadap persepsi kualitas

berpengaruh secara positif dan signifikan.

b. Pengaruh kesadaran merek terhadap loyalitas merek

Tabel 4.11

Hasil Analisis Uji Regresi Kesadaran Merek Terhadap Loyalitas Merek

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients T Sig.

B Std. Error Beta B Std. Error

1 (Constant) 2.010 2.447 .822 .413

KM .615 .106 .505 5.789 .000

R2 : 0,437 Adj. R2 : 0,431 N : 100

Variabel Dependen : Loyalitas Merek

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Berdasarkan Tabel 4.11 hasil analisis regresi sederhana diatas, nilai

koefisien beta sebesar 0,505 artinya ketika kesadaran merek meningkat

maka loyalitas merek juga akan meningkat, dengan signifikansi

sebesar 0,000 kurang dari alpha 0,05. Sehingga KM terhadap LM

berpengaruh secara signifikan dan positif.

c. Pengaruh kesadaran merek, persepsi kualitas dan loyalitas merek

Gambar

Tabel 2.1
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1: Model Penelitian Dampak Kesadaran Merek terhadap Niat
Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa kesadaran merek berpengaruh signifikan terhadap persepsi kualitas, persepsi kualitas tidak mempunyai

Pengaruh Perceived Value terhadap keputusan membeli sepeda motor Yamaha Matik dapat dilihat dari kepercayaan konsumen terhadap perusahaan produsen sepeda motor Yamaha Matik

Terdapat lima tahap proses pembelian konsumen seperti yang dikemukakan oleh Ferrell dan Hartline (2010:154) yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi

Pada penelitian lainnya, dilakukan oleh Oladepo dan Abimbola (2015) yang berjudul “The Influence of Brand Image and Promotional Mix On Consumer Buying Decision-A Study

4) Kepuasan secara signifikan memediasi hubungan antara persepsi risiko dengan kepercayaan konsumen untuk produk hijau merek The Face Shop. Dengan kata lain bahwa persepsi

J.CO Donuts &amp; Coffee dikalangan konsumen terkait dengan variabel- variabel yang dapat mempengaruhi niat pembelian seperti yang sudah di jelaskan diawal,

Dikarenakan adanya permasalahan yang sudah dijelaskan diatas maka diadakan penelitian penyebab dari masalah yang dialami J.CO Donuts &amp; Coffee dikalangan konsumen

Hipotesis 2 : Kesadaran Merek, Loyalitas Merek, Dan Kualitas Yang Dirasakan secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap niat pembelian konsumen pada