• Tidak ada hasil yang ditemukan

Critical Review Jurnal Sistem Transporta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Critical Review Jurnal Sistem Transporta"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Critical Review Jurnal Sistem Transportasi: Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” dengan tepat waktu. Penyusunan makalah Evaluasi 1 Sistem Transportasi ini bertujuan untuk mereview sebuah jurnal yang berjudul “Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” dan menganalisa permasalahan yang ada di jurnal.

Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini dari awal sampai selesai. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen-dosen mata kuliah Sistem Transportasi :

1. Bapak Ir. Sardjito, MT

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun pembahasan materi. Melalui makalah ini penulis berharap dapat memberikan manfaat kepada penulis sendiri serta kepada pembaca mengenai persoalan-persoalan yang terkait dengan pembiayaan pembangunan. Pada akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik.

Surabaya, 19 Februari 2017

(3)

REVIEW

Judul Jurnal : Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta

Nama Jurnal : e-jurnal Matriks Teknik Sipil

Penulis : Dedy Ismail Hartono, Budi Yulianto, Amirotul M.H.M3 Tahun Terbit : December 2016

Jumlah Halaman : 9 halaman

A.Pendahuluan

Dalam mengantisipasi permasalahan lalu lintas di Kota Surakarta, maka Pemerintah Kota Surakarta mencanangkan visi misi Solo menuju kota dengan transportasi yang berkelanjutan. Salah satu program kerjanya adalah merevitalisasi angkutan umum perkotaan menjadi berbasis Bus Rapid Transit (BRT) yaitu Batik Solo Trans (BST). Sistem contra flow diperlukan karena BST Koridor satu yang hanya satu arah kurang efektif menurut Purnomo dkk (2013) dalam penelitian mengenai evaluasi kinerja Batik Solo Trans koridor 1.

Bus Rapid Transit adalah suatu moda dengan roda karet yang mempunyai transit yang cepat dan yang dikombinasikan station (halte), kendaraan, pelayanan, jalan dan elemen Intelligent Transportation System (ITS) dalam satu sistem yang terintegrasi dengan identitas yang kuat. Contra–flow bus lanes adalah lajur khusus yang dicanangkan bagi bus untuk melintas aecara berlawanan arah terhadap lalu lintas umum lainnya. Pada umumnya Contra–flow bus lanes ditempatkan pada jalan-jalan satu arah dengan menggunakan pemisah khusus kerb. Namun pada beberapa tempat terkadang pemisah lajur ini hanya menggunakan garis putih putus-putus sebagai pemisah. Sama halnya dengan Contra–flow bus lanes lajur khusus bus ini juga diperuntukkan bagi kendaraan-kendaraan non-bus yang mempunyai tingkat okupansi yang tinggi seperti taksi, angkut ataupun kendaraan emergensi

B.Metode Penelitian 1. Lokasi Penelitian

(4)

Tiga Sriwedari, Simpang Empat Ngapeman, Simpang Empat Pasar Pon dan Simpang Empat Nonongan. Terdapat 4 Rencana yang dianalisis pada kajian ini :

 BST melaju pada jalur sisi utara kereta api dengan Parkir on street 0º

 BST melaju pada lajur kereta api dengan Parkir on street 0º dihilangkan

 BST melaju pada jalur sisi utara kereta api dengan Parkir on street 0º

 BST melaju pada lajur kereta api dengan parkir on street 0º dihilangkan

2. Tahap Penelitian  Tahap persiapan

Tahap persiapan dilakukan survei pendahuluan pada beberapa titik simpang dan ruas jalan, sehingga didapatkan jam sibuk pagi dan jam sibuk siang.

 Pengambilan data

Pengambilan data dilakukan setelah didapatkan data jam sibuk pagi dan jam sibuk siang. Ruas jalan yang di survei adalah Jalan Brigjend Slamet Riyadi dari Simpang Empat Gendengan sampai dengan Bundaran Gladak dan Persimpangan yang di survei meliputi Simpang Empat Gendengan, Simpang Tiga Sriwedari, Simpang Empat Ngapeman, Simpang Empat Pasar Pon dan

Hasil dari analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1 Rekapitulasi Hasil Perhitungan

(5)

diaplikasika karena bertentangan dengan undang-undang. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2007 pasal 35 ayat 2 “Jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperuntukan bagi pengoperasian kereta api” sehingga Rencana 2 dan Rencana 4 tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sehingga pilihan optimal terdapat pada Rencana 3 dengan total skor 190 dengan skenario lajur contra flow BST dengan parkir on street dihilangkan. Solusi terbaik adalah Rencana 3 yaitu dengan menghilangkan parkir on street hal ini sesuai dengan Perda Surakarta No.5 Tahun 2011 bahwa setiap pusat perbelanjaan dan toko modern wajib menyediakan fasilitas parkir kendaraan bermotor dan tidak bermotor yang memadai di dalam area bangunan dengan luasan untuk satu unit kendaraan roda empat untuk setiap 60 m².

C.Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis maka tingkat pelayanan simpang dibagi menjadi dua, yaitu layak dan tidak layak, untuk tingkat pelayanan A,B,C dan D masuk dalam kategori layak, untuk D dan F masuk dalam kategori tidak layak, dengan perincian sebagai berikut :

1. Kondisi Lalu Lintas Eksisting

Kondisi lalu lintas eksisting memiliki skor pelayanan ruas jalan 150 yang berarti memiliki tingkat pelayanan lebih dari cukup, dengan rincian untuk Jam sibuk pagi tingkat pelayanan yang masuk kategori layak sebanyak 12 ruas jalan dan tidak layak sebanyak 3 ruas jalan. Untuk Jam Sibuk Siang tingkat pelayanan yang masuk kategori layak sebanyak 14 ruas jalan dan tidak layak sebanyak 1 ruas jalan. Untuk simpang memiliki skor 47 yang berarti memiliki tingkat pelayanan yang lebih dari cukup, dengan rincian untuk jam sibuk pagi yang memperoleh tingkat pelayanan yang masuk kategori layak sebanyak 4 simpang dan tidak layak sebanyak 1 simpang. Untuk jam sibuk siang yang masuk kategori layak sebanyak 4 simpang dan tidak layak sebanyak 1 simpang.

2. Kondisi Lalu Rencana Contra Flow

(6)

jam sibuk siang yang masuk kategori layak sebanyak 2 simpang dan tidak layak sebanyak 3 simpang.

(7)

CRITICAL REVIEW

Jurnal ”Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” merupakan jurnal yang diangkat untuk mengkaji salah satu rekomendasi dari jurnal yang berjudul “Evaluasi Kinerja Batik Solo Trans (Studi Kasus: Koridor I Kartasura-Palur, Surakarta)” tentang penambahan sistem contra flow (berlawanan arah) pada 1 lajur dari total 4 lajur Jl. Slamet Riyadi sehingga waktu tempuh menjadi lebih cepat.

Gambar 1. Peta Jalur Contraflow

(8)

Metro Jaya pada Jalan Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta ruas Semanggi--Cawang mulai tanggal 1 Mei 2012.

Pada jurnal ”Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” tidak dijelaskan gambaran umum/kondisi eksisting Jl. Slamet Riyadi Surakarta, sehingga sulit untuk orang – orang umum selain peneliti untuk menggambarkan keadaan eksisting Jl. Slamet Riyadi. Dikarenakan jurnal digunakan tidak hanya untuk orang – orang yang berada pada daerah Surakarta sekitar ataupun peneliti saja, namun semua orang dari berbagai daerah juga akan membutuhkan jurnal yang ditulis oleh peneliti sebagai referensi penelitian lainnya.

Dalam metodelogi penelitiannya, terdapat tabel – tabel skor, namun pembobotan skor – skor yang terdapat pada tabel tersebut tidak dijelaskan diperoleh menggunakan metode yang jelas. Sehingga, membuat orang yang membaca mempertanyakan ke-valid-an skor – skor tersebut. Akan lebih baik jika, peneliti menuliskan metode untuk mendapatkan skor – skor jalan yang dipaparkan dalam tabel – tabel di jurnal. Didalam jurnal Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” dijelaskan tentang rumus LoS (Level of Service) yaitu (V/C), dalam perhitungan LoS, jika total LoS lebih dari 0.8 maka jalan tersebut dikatakan padat dan dapat menimbulkan potensi kemacetan. Namun, didalam jurnal ”Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” hanya sekedar memberi penjelasan tentang rumus tersebut tanpa menjelaskan berapa LoS dari Jl. Slamet Riyadi sehingga untuk memperkirakan tingkat pelayanan dari jalan – jalan yang disebutkan dalam jurnal. Jadi, pembaca jurnal untuk mengetahui bisa atau tidaknya jalan tersebut untuk ditambahkan sistem contraflow masih samar – samar.

(9)

Simulasi dibutuhkan karena didalam skenario yang dapat diterapkan dijelaskan bahwa BST dapat melaju di jalur parkir on street 0o, yang

artinya jalur parkir on street tersebut paralel atau separuh dari jalur parkir on street digunakan untuk sistem contraflow BST ini. Dengan 2 jalur digunakan untuk parkir on street dan sistem contraflow dengan sisi lainnya digunakan untuk rel kereta api wisata yang ada disana menyebabkan tersisa satu lajur untuk kendaraan. Namun, jika pada skenario BST melaju pada lajur rel kereta api, hal ini akan bertentangan dengan UU yang ada serta kereta api yang melintasi jalan tersebut merupakan kereta api wisata yang dapat berjalan dua arah pada lajur tersebut. Tentu skenario ini tidak akan dapat dilakukan untuk mengatasi masalah – masalah BST yang diselesaikan dengan sistem contraflow. Hal ini yang menyebabkan pentingnya simulasi dilaksanakan untuk rencana yang dijelaskan dalam jurnal ini.

(10)

LESSON LEARNED

Lesson learned yang dapat diambil dari critical review jurnal yang berjudul Kajian Sistem Contraflow Bus Lanes di Jalan Brigjend Slamet Riyadi Surakarta” ini adalah sebagai berikut;

a. Sistem contraflow adalah sistem pengaturan lalu lintas yang mengubah arah normal arus kendaraan pada suatu jalan raya. Sistem ini dapat diterapkan untuk berbagai keperluan seperti evakuasi darurat, pemeliharaan jalan, atau pengatasan kemacetan. Seperti contoh, pada jalan satu arah, sistem contraflow digunakan untuk mengubah pengaturan jalan tersebut menjadi jalan dua arah untuk beberapa hal yang memiliki faktor – faktor tersendiri seperti kemacetan.

b. Untuk menghitung tingkat pelayanan suatu jalan atau untuk mengukur kepadatan jalan tersebut dapat menggunakan rumus LoS (Level of Service) yaitu V/C. Hal ini digunakan untuk menganalisa tingkat kemacetan suatu jalan tersebut, standar dari LoS yaitu 0,8. Jika suatu jalan tersebut LoS melebihi dari 0,8 maka jalan tersebut dapat dikategorikan jalanan dengan volume kendaraan yang padat sehingga berpotensi untuk menyebabkan kemacetan, begitu juga sebaliknya.

Gambar

Tabel 3.1 Rekapitulasi Hasil Perhitungan
Gambar 1. Peta Jalur Contraflow

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi jalan memiliki tingkat pelayanan pada jam puncak pagi diruas jalan tingkat sedang terdapat di jalan Ki mangunsarkoro ruas A dan jalan Sumpah Pemuda dengan nilai rasio

Ruas jalan Teuku Umar hampir di sepanjang hari mengalami kepadatan lalu lintas, dari perhitungan v/c pada waktu- waktu penelitian, terlihat tingkat pelayanan jalan pada pagi dan

Adapun yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah faktor dan model bangkitan pergerakan pada jam sibuk sekolah (pagi dan siang) serta analisis lalu lintas kendaraan

Dengan kecepatan tempuh kendaraan sebesar 17,78 km/jam dan besarnya derajat kejenuhan adalah 0,85, maka tingkat pelayanan jalan pada lalu lintas di segmen ruas Jalan

Sebanyak 22 ruas jalan di Perkotaan Purwokerto memiliki tingkat pelayanan jalan kelas B yang berarti arus lalu lintas stabil dan kecepatan kendaraan masih dapat diatur sesuai

Arus Lalu Lintas Jam Puncak Pagi Pendekat Timur (Jalan Bunga Coklat) .... Arus Lalu Lintas Jam Puncak Pagi Pendekat Utara

Dari alternatif manajemen lalu-lintas hasil analisis perencanaan dan tingkat pelayanan pada kondisi jam puncak menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2003, dua ruas jalan yang

Survey arus lalu lintas meliputi pencacahan lalu lintas dan kecepatan tempuh rata- rata di ruas jalan pada jam puncak , yaitu : pagi , siang , dan sore hari serta di dilakukan juga