PERENCANAAN LANSKAP
KAWASAN EKOWISATA GAMBUT BANING
DI KOTA SINTANG KALIMANTAN BARAT
HERLINA KURNIAWATI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Gambut Baning di Kota Sintang Kalimantan Barat, adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip baik dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juli 2012
ABSTRACT
HERLINA KURNIAWATI. Landscape Planning of Baning Peatland Ecotourism Area at the City of Sintang, West Borneo. Under supervision of SITI NURISYAH and AFRA DONATHA NIMIA MAKALEW
Peatlands play an important role in maintaining the stability of the global ecosystem. Indonesia has the largest peatlands in tropical countries with an estimated 20.6 million ha, which is spread mainly in Sumatra, Kalimantan, and Papua, made Indonesia the fourth largest country in the world for peat reserves after Canada, Russia and the United States. The uniqueness of peatland ecosystems at Sintang City with a distinctive flora and fauna has potency for ecotourism objects and attractions, therefore this area would be developed as an ecotourism area. Study objective was to describe and analyze the ecological character of the area; to analyze the ecotourism potential of the area; to analyze public support for the city to the ecotourism development plan at the area; to analyze the support of city development plan to planned area; to plan an ecotourism landscape area of Baning peatlands in Sintang City based on ecological character, ecotourism potential, community support and its links with city development plan. Descriptive qualitative method was used to analyze ecological condition, ecotourism potency, and city development support, AHP method for analyze the community support to planned area, and SBE method for visual quality assessment. About 44,4% of the area is classified as good because still covered by the natural type of peat, 16% has the highest level of ecotourism objects and attractions, and has the highest value of visual quality. The city community and city development plan also support to develop area to be ecotourism area. Ecotourism landscape plan for area is base on balancing between ecological and social aspects. There are three ecotourism zone plan proposed which are limited zone as limited use area, semi-intencsive zone as semi-intensive use area, and intensive zone as highly use area. Limited zone may be develop as a preservation or protection area, semi-intensive zone as conservation and rehabilitation area, and intensive zone as a natural recreation and buffer area. Activities and facilities on the area were planned to sustain the ecotourism area.
RINGKASAN
HERLINA KURNIAWATI. Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Gambut Baning di Kota Sintang Kalimantan Barat. Dibimbing oleh SITI NURISYAH dan AFRA DONATHA NIMIA MAKALEW
Lahan gambut merupakan ekosistem alami penting dengan nilai tinggi untuk konservasi keanekaragaman hayati, pengaturan iklim, dan kesejahteraan manusia. Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia untuk cadangan gambut dengan luas diperkirakan sekitar 20,6 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kota Sintang yang terletak di Kalimantan Barat memiliki kawasan lahan gambut dengan luas 213 ha dan berada di tengah kota. Kawasan tersebut saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang dituangkan dalam RTRWK menjadi penting untuk diperhatikan bila dikaitkan dengan keberlanjutan kawasan lahan gambut ini di masa datang. Upaya mempertahankan keberlanjutan kawasan lahan gambut Kota Sintang dan sekaligus pemanfaatannya sebagai sumber informasi dan edukasi dapat dicapai dengan merencanakan pengembangan kawasan untuk kegiatan wisata dengan konsep ekowisata.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis karakter ekologis kawasan; potensi ekowisata kawasan; dukungan masyarakat kota terhadap rencana pengembangan ekowisata kawasan; keterkaitan RTRW Kota Sintang dengan rencana pengembangan ekowisata kawasan; merencanakan lanskap kawasan ekowisata gambut Baning di Kota Sintang berdasarkan karakter ekologis, potensi ekowisata, dukungan masyarakat kota dan keterkaitannya dengan rencana pengembangan kota.
Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif untuk mendapatkan deskripsi dan karakter ekologis kawasan rawa gambut, potensi objek dan daya tarik ekowisata berupa flora, fauna, dan habitat, dan untuk mengetahui dukungan RDTRK dengan rencana pengembangan kawasan, berupa penilaian terhadap isi RDTRK Sintang yaitu bentuk rencana pemanfaatan ruang kota. Metode Scenic Beauty Estimation (SBE) digunakan untuk menilai
kualitas pemandangan dalam kawasan. Metode Analytical Hierarchy Process
(AHP) digunakan untuk menilai dukungan masyarakat kota terhadap perencanaan kawasan.
dalam kawasan dibuat untuk mendukung konsep lanskap ekowisata yang telah dibuat. Kawasan gambut Baning dapat dikembangkan menjadi kawasan ekowisata berdasarkan tiga zona ekowisata, yaitu zona terbatas, semi-intensif, dan intensif. Zona terbatas dapat dikembangkan sebagai area preservasi atau perlindungan. Zona semi-intesif sebagai area konservasi dan rehabilitasi, dan zona intensif sebagai area rekreasi alam dan penyangga. Fasilitas yang akan dibangun adalah fasilitas yang mendukung aktivitas ekowisata dalam kawasan.
©
Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya
a. Pengutipan hanya diizinkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya
PERENCANAAN LANSKAP
KAWASAN EKOWISATA GAMBUT BANING
DI KOTA SINTANG KALIMANTAN BARAT
HERLINA KURNIAWATI
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Arsitektur Lanskap
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul : Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Gambut Baning di Kota Sintang Kalimantan Barat
Nama : Herlina Kurniawati NRP : A451090021 Program Studi : Arsitektur Lanskap
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA
Ketua . Dr. Ir. Afra D. N. Makalew, M.Sc. Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Arsitektur Lanskap
Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA.
Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
PRAKATA
Puji dan syukur dipersembahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Judul tesis ini adalah “Perencanaan Lanskap Ekowisata Kawasan Gambut Baning di Kota Sintang Kalimantan Barat”. Tesis ini merupakan syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan S2 dan memperoleh gelar Magister Sains dari Program Studi Arsitektur Lanskap, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyampaikan rasa hormat disertai penghargaan dan terima kasih kepada Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA. dan Dr. Ir. Afra D. N. Makalew, M.Sc. sebagai Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran sekaligus perhatian selama melaksanakan penelitian dan penyelesaian karya ilmiah ini. Terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Wahju Qamara Mugnisjah, M.Agr. yang telah bersedia menjadi Penguji Luar Komisi. Terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Arkanudin, M.Si. selaku rektor Universitas Kapuas Sintang, yang telah memberikan ijin tugas belajar di Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih kepada Ditjen DIKTI Kementerian Pendidikan Nasional, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis melalui Beasiswa Program Pascasarjana di Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat di Sintang, atas bantuan dan informasi yang telah diberikan selama penelitian dan penyusunan karya ilmiah ini. Terima kasih kepada seluruh staf dosen dan staf akademik Departemen Arsitektur Lanskap atas ilmu yang bermanfaat dan pelayanan yang baik selama penulis menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih kepada teman satu Angkatan ibu Sulistiowati, SP, Devy Sandra, SP, Nahda Kanara, SP, Sabhan, SP dan Joni, SP, untuk kebersamaan selama kuliah di Program Studi Arsitektur Lanskap, Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih kepada Nurhadiah, SP atas kebersamaan dan bantuannya. Terima kasih kepada teman-teman Program Studi Arsitektur Lanskap, Sekolah Pascasarjana IPB angkatan 2008, 2010, dan 2011 serta semua teman-teman yang telah membantu dan memotivasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Terima kasih terutama kepada seluruh keluarga tercinta, ibunda Hj. Mas Sulastri, abang Ridwan Kurniawan, SE, adik-adik Akhmad Dani Syuhada, ST dan Masita Syuhadawati, ST atas doa, motivasi dan pengertiannya.
Dalam penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk perbaikan pada masa yang akan datang. Akhir kata, semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pihak terkait dan semua pihak yang membutuhkan informasi.
Bogor, Juli 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Sintang, Kalimantan Barat, pada tanggal 27 Mei 1976 sebagai anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan H. Ade Mustafa, B.Sc (Almarhum) dan Hj. Mas Sulastri.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL………..….…… xiii
DAFTAR GAMBAR………..………..….. xiv
DAFTAR LAMPIRAN………...…….. xv
1 PENDAHULUAN Latar Belakang………..….…….…..…... 1 Lahan Gambut sebagai Lahan Basah……….……….. 11
Ekowisata……….…….. 13
Perencanaan Lanskap………….……… 15
Sistem Informasi Geografis (SIG)………...……….. 18
Scenic Beauty Estimation (SBE)………..…….……… 19
Analytical Hierarchy Process (AHP)………..…….…….. 21
3 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Biofisik Kota Sintang……….……….……… 25
Geografis dan Administrasi……… 25
Kondisi Umum Kawasan Gambut Baning Kota Sintang………..………..… 32
Kondisi Fisik Kawasan……… 32
Kondisi dan Potensi Ekowisata Kawasan……… 38
4 METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian………..………….… 41
Alat dan Bahan Penelitian……… 41
Tahapan Penelitian………..……..………. 43
Tahap I: Pengumpulan dan Pengklasifikasian Data…………..………... 43
Tahap II: Riset………..……… 45
Tahap III: Perencanaan Lanskap Kawasan………..…..…… 53
5 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakter Ekologis Kawasan Gambut……… 55
Potensi Ekowisata Kawasan Gambut………..……… 58
Potensi Objek dan Daya Tarik Ekowisata Kawasan Gambut……….……… 58
Kawasan Ekowisata Gambut……….…..……….………. 73
Penilaian Kriteria untuk Mencapai Tujuan………….………..….….…… 73
Penilaian Alternatif Berdasarkan Kriteria untuk Mencapai Tujuan….……… 75
Sintesis Alternatif Menurut Kriteria………...………… 76
Dukungan RDTR Kota Sintang Terhadap Keberlanjutan Kawasan…..……….. 77
Konsep Pengembangan Lanskap……….………...… 81
Lanskap..………...……… 82
Ruang Ekowisata………..………..…….…… 82
Sirkulasi Ekowisata……….…………. 83
Aktivitas Ekowisata……….. 85
Fasilitas Ekowisata……….………..…….……... 86
Rencana Lanskap……….………..……… 89
Rencana Ruang Integratif……….……….….………… 89
Rencana Lanskap……….…..…………. 92
6 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan………..……… 99
Saran………...………. 99
DAFTAR PUSTAKA……….……… 101
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Skala banding secara berpasangan (Saaty, 1993)... 23
2. Luas tiap bagian wilayah kota (BWK) dalam Kota Sintang ... 26
3. Kemiringan lereng dan luas lahan pada masing-masing kelurahan dan desa (Ha)...27
4. Data iklim Kabupaten Sintang tahun 1995-2009... 28
5. Luas penggunaan lahan kawasan Kota Sintang... 29
6. Jumlah penduduk Kota Sintang tahun 2009...30
7. Jumlah penduduk Kota Sintang menurut jenis kelamin tahun 2009... 30
8. Data kepadatan penduduk Kota Sintang tahun 2009...31
9. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku... 32
10. Jenis tutupan lahan di kawasan gambut Baning tahun 2010... 32
11. Sebaran ketebalan gambut dalam kawasan gambut Baning berdasarkan jenis tutupan lahan... 35
12. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian... 41
13. Jenis/informasi, kegunaan, dan sumber data penelitian... 43
14. Penilaian karakter ekologis kawasan gambut... 46
15. Kriteria penilaian potensi objek dan daya tarik ekowisata kawasan gambut... 48
16. Formulasi matriks pendapat individu... 51
17. Penilaian kesesuaian dan dukungan rencana pemanfaatan ruang dalam RDTRK Sintang terhadap keberlanjutan kawasan... 53
18. Hasil penilaian karakter ekologis kawasan gambut Baning... 55
19. Tingkat kealamian dan luasan area dalam kawasan gambut Baning... 56
20. Hasil penilaian potensi objek dan daya tarik ekowisata kawasan gambut Baning...59
21. Luasan area dalam kawasan gambut Baning berdasarkan potensi objek dan daya tarik ekowisata... 60
22. Potensi kualitas visual kawasan gambut Baning dan luasannya berdasarkan nilai SBE... 65
23. Tingkat potensi ekowisata kawasan gambut Baning dan luasannya... 65
24. Zonasi ekowisata kawasan gambut Baning dan luasannya... 70
25. Penilaian bobot dan prioritas pada tingkat kriteria...74
26. Penilaian bobot dan prioritas pada tingkat alternatif...76
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Alur dan kerangka pikir penelitian... 7 2. Batas administrasi Kota Sintang tingkat kelurahan dan desa... 25 3. Peta jenis penutupan lahan kawasan gambut Baning... 33 4. Kondisi penggunaan lahan eksisting di sekitar kawasan gambut Baning…. 34 5. Sebaran ketebalan gambut kawasan gambut Baning...36 6. Orientasi kota Sintang dan lokasi penelitian... 42 7. Lokasi penelitian dan kondisi eksisting kawasan gambut Baning...42 8. Alur tahapan penelitian...44 9. Struktur hierarki hubungan perbandingan berpasangan perencanaan
pengembangan ekowisata kawasan gambut Baning...50 10. Peta tingkat kealamian kawasan berdasarkan karakter ekologis...57 11. Peta potensi objek dan daya tarik ekowisata kawasan gambut Baning….... 61 12. Grafik nilai SBE kawasan gambut Baning...62 13. View dengan nilai kualitas visual tertinggi...63
14. View dengan nilai kualitas visual terendah...64 15. Potensi visual kawasan gambut Baning berdasarkan nilai SBE... 66 16. Peta zona ekowisata potensial kawasan gambut Baning... 67 17. Jalur akses menuju kawasan gambut Baning...68 18. Zonasi ekowisata kawasan gambut Baning... 72 19. Dukungan kebijakan dalam RDTRK Sintang untuk BWK B terhadap
keberlanjutan kawasan gambut Baning...80 20. Konsep ruang ekowisata kawasan gambut Baning...83 21. Konsep sirkulasi di kawasan ekowisata gambut Baning...85 22. Rencana blok ekowisata kawasan gambut Baning...90 23. Konsep tata ruang dan tata letak fasilitas ekowisata kawasan gambut
Baning………. 91
24. Rencana lanskap ekowisata kawasan gambut Baning... 93 25. Contoh papan interpretasi dalam kawasan……… 94 26. Contoh papan petunjuk (signage) dalam kawasan………95
27. Contoh boardwalk dan papan trek dalam kawasan……….. 96
28. Contoh bangunan pusat informasi, pusat pendidikan alam, dan pusat
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Kondisi gambut dalam kawasan gambut Baning... 107 2. Kondisi hidrologi dalam kawasan gambut Baning... 108 3. Daftar nama flora di kawasan gambut Baning... 109 4. Daftar nama fauna di kawasan gambut Baning... 115 5. Perhitungan nilai skor untuk tingkat kealamian kawasan gambut
Baning... 116 6. Penentuan nilai skor tingkat potensi objek dan daya tarik ekowisata
kawasan gambut Baning……….. 117 7. Penentuan skor tingkat dukungan kebijakan RDTRK Sintang terhadap
keberlanjutan kawasan gambut Baning………. 118 8. Nilai SBE masing-masing view lanskap pada kawasan gambut Baning….. 119
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lahan basah merupakan sumber daya alam hayati penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global. Salah satu tipe lahan basah adalah lahan gambut. Lahan gambut merupakan ekosistem lahan basah dengan ciri utama adanya penumpukan bahan organik yang berasal dari bahan tanaman mati dan membusuk di bawah kondisi jenuh air permanen (Barchia 2006) dan dicirikan dengan siklus materi yang tidak lengkap (Parish et al. 2008). Lahan gambut
memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global, merupakan ekosistem alami penting dengan nilai tinggi untuk konservasi keanekaragaman hayati, pengaturan iklim dan kesejahteraan manusia (Erwin 2009). Peranan gambut dalam menyimpan air dan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar telah banyak diketahui. Selain itu, gambut memiliki karakter ekologis yang unik dengan vegetasi dan satwa yang khas dan bersifat setempat. Kekhasan vegetasi dan fauna ini dikarenakan keragaman tipe gambut sebagai akibat perbedaan iklim dan biogeografi (Barchia 2006).
Indonesia yang terletak di daerah tropis merupakan negara terbesar ke empat di dunia untuk cadangan gambut setelah Kanada, Rusia, dan Amerika Serikat. Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, diperkirakan sekitar 20,6 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua (Barchia 2006). Luasan lahan gambut di Pulau Kalimantan sebesar 5,76 juta ha. Kalimantan Barat sebagai salah satu provinsi di Pulau Kalimantan memiliki luas lahan gambut sebesar 1,72 juta ha atau 29,9 % dari luas total lahan gambut Kalimantan (Wahyunto e. al. 2005).
Kota Sintang yang terletak di Kalimantan Barat memiliki kawasan lahan gambut yang cukup luas dan berada di tengah kota. Kawasan seluas 213 ha ini memiliki ekosistem yang unik dan jenis vegetasi serta satwa yang khas. Dengan keunikan ekosistemnya, kawasan ini dapat menjadi salah satu warisan dunia untuk sumber daya alam lahan gambut yang masih ada, mengingat semakin berkurangnya luas gambut di dunia. Di banyak negara dengan hutan gambut yang luas, terdapat kecenderungan yang menganggap lahan ini sebagai lahan yang tidak berharga sehingga harus dikonversi menjadi lahan yang lebih produktif (Rijksen dan Pearson 1991 diacu dalam Posa et al. 2011). Oleh karena
Hal ini juga menjadi penyebab hilang atau berkurangnya lahan gambut secara luas sampai saat ini.
Kawasan lahan gambut di Kota Sintang saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Kawasan ini hanya berfungsi sebagai ruang hijau kota saja meskipun sebenarnya memiliki potensi lain yang dapat dimanfaatkan. Sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya kawasan yang memiliki potensi sebagai ruang publik masyarakat kota ini dibiarkan terbengkalai dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan kawasan di masa datang. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan juga terlihat kurang menyadari arti penting kawasan bagi lanskap kota dan ekosistem kota. Pemanfaatan kawasan oleh masyarakat yang kurang memahami hal ini dapat mengancam kawasan yang kondisinya memang rentan.
Karena letak kawasan berada di tengah kota, kegiatan pembangunan dan pengembangan di Kota Sintang akan terus menekan keberadaan kawasan lahan gambut ini. Meningkatnya jumlah penduduk kota menyebabkan meningkatnya kebutuhan ruang untuk pemukiman, industri, dan perkantoran. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya tutupan vegetasi di wilayah perkotaan. Konversi lahan dan tata ruang yang tidak sesuai peruntukan merupakan awal dari kerusakan lingkungan yang perlu ditanggulangi sehingga daerah kota akan tetap menjadi daerah yang nyaman dan sehat.
Kegiatan pembangunan dan pengembangan dalam kota selalu mengacu pada suatu pedoman berupa Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK). Kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang dituangkan dalam RTRWK menjadi penting untuk diperhatikan bila dikaitkan dengan keberlanjutan kawasan lahan gambut ini di masa datang.
ekologis dan meminimalkan kerusakan ekosistemnya. Kegiatan ekowisata diharapkan mampu mempertahankan kondisi ekologis dan keunikan ekosistem kawasan sehingga kawasan dapat dikembangkan menjadi pusat pendidikan mengenai gambut dan percontohan konservasi kawasan gambut. Memberikan pendidikan kepada masyarakat dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati gambut dan ekosistemnya.
Perlindungan terhadap gambut utuh dan alami sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati serta akan mempertahankan kapasitas penyimpanan dan penyerapan karbon, juga fungsi ekosistem terkait lainnya. Pelestarian kawasan gambut akan menyumbang pada pengurangan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Upaya perlindungan gambut telah didukung oleh beberapa gerakan internasional, di antaranya, Ramsar Convention on Wetlands,
UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), dan CBD (Convention on Biological Diversity).
Pengembangan kawasan untuk ekowisata diharapkan dapat menarik ekowisatawan dari dalam dan luar negeri karena keunikannya tersebut. Keunikan dan kekhasan ekosistem yang dimiliki lahan gambut merupakan daya tarik untuk pengembangan ekowisata. Beberapa jenis flora dan fauna unik yang hanya terdapat di ekosistem gambut dapat menjadi daya tarik ekowisata yang menarik perhatian pengunjung. Keberadaan kawasan yang berada di tengah kota memberikan keuntungan dalam aksesibilitas yang mudah dicapai dan terjangkau. Bagi masyarakat kota, kawasan ini dapat menjadi tempat untuk berekreasi tanpa harus meninggalkan kota dan mengeluarkan biaya tambahan. Peran serta masyarakat yang aktif dalam upaya pelestarian kawasan gambut akan mempermudah dilakukannya tindakan pelestarian kawasan.
Tindakan pelestarian kawasan gambut di Kota Sintang dapat memberikan keuntungan terhadap lanskap Kota Sintang. Selain dapat berfungsi sebagai ruang terbuka hijau kota dan ruang publik masyarakat kota untuk kegiatan wisata, kawasan ini dapat menjadi penciri yang khas pada lanskap kota sehingga Kota Sintang menjadi lebih mudah dikenali. Menurut Konijnendijk (2007), ruang terbuka hijau kota dan hutan kota memegang peranan penting dalam menentukan budaya khas dan citra sebuah kota. Citra yang lebih baik dari sebuah kota membuat kota tersebut memiliki nilai yang lebih kompetitif sehingga akan memperluas pengaruh politik dan ekonominya.
Perumusan Masalah
Permasalahan utama dalam pemanfaatan kawasan gambut di Kota Sintang adalah belum optimalnya pemanfaatan terhadap kawasan tersebut, hal ini menyebabkan kondisi kawasan saat ini menjadi terbengkalai dan lebih rentan terhadap kerusakan serta penggunaan lahan non alami. Pemanfaatan suatu kawasan yang tidak optimal dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada kawasan tersebut, terutama kawasan yang secara ekologis bersifat rentan dan mudah terganggu.
Kerusakan pada kawasan dapat menyebabkan hilangnya identitas Kota Sintang yang merupakan kota dengan hutan gambut di tengah kota. Pemanfaataan kawasan gambut sebagai kawasan ekowisata merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan ekosistem kawasan. Menurut Gilbert (2003), ekowisata merupakan salah satu bentuk pendidikan lingkungan untuk mencapai keberlanjutan.
Beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan, adalah sebagai berikut. 1) Hutan gambut merupakan hutan khas pulau Kalimantan, usaha untuk
memelihara keberadaan hutan ini diharapkan dapat mempertahankan hutan yang menjadi ciri khas dan identitas lokal, khususnya untuk Kota Sintang. 2) Kawasan gambut Kota Sintang memiliki tingkat kepekaan ekologis tinggi,
sehingga perlu diketahui karakter ekologis kawasan agar kelestariannya tetap terjaga.
3) Pengembangan kawasan gambut untuk kegiatan ekowisata perlu didukung oleh ketersediaan objek dan daya tarik ekowisata.
5) Kawasan gambut berada di tengah kota, sehingga perlu diketahui arah kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan penggunaan lahan pada kawasan di sekitarnya untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan kawasan.
6) Kegiatan ekowisata dapat membantu menjaga lingkungannya tetap berkelanjutan dan mengurangi dampak merugikan dari kegiatan wisata yang dilakukan.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian adalah merencanakan lanskap untuk pengoptimalan pemanfaatan kawasan gambut di Kota Sintang dengan konsep ekowisata.
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) mendeskripsikan dan menganalisis karakter ekologis kawasan, 2) menganalisis potensi ekowisata kawasan,
3) menganalisis dukungan masyarakat kota terhadap rencana pengembangan ekowisata kawasan,
4) menganalisis dukungan RTRW Kota Sintang dengan rencana pengembangan ekowisata kawasan,
5) merencanakan lanskap kawasan ekowisata di kawasan gambut Baning di Kota Sintang.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat berikut: 1) bagi pemerintah daerah, sumbangan pemikiran berupa
a) sumber informasi dan acuan dalam penentuan kebijakan dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan kawasan lahan basah lainnya di Kota Sintang;
b) bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah Kota Sintang dalam pengembangan pariwisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah; 2) bagi masyarakat lokal, berupa
a) tersedianya ruang terbuka publik yang dapat menjadi sumber informasi dan pendidikan mengenai gambut;
3) bagi masyarakat peneliti, berupa
a) pengembangan penelitian dalam bidang pengelolaan sumber daya ekowisata kawasan gambut;
b) memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu arsitektur lanskap; c) dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan referensi untuk
penelitian selanjutnya; 4) keberlanjutan lanskap, berupa
a) menjaga identitas dan ciri khas lanskap hutan pulau Kalimantan, khususnya Kota Sintang;
b) dapat menjadi model pelestarian untuk kawasan yang rentan.
Kerangka Pemikiran
Ekowisata adalah kegiatan wisata yang sangat memperhatikan kelestarian dan pendidikan mengenai sumber daya yang dikembangkan. Perencanaan ekowisata haruslah memperhatikan keberlanjutan lingkungan secara ekologi, sosial, dan ekonomi yang merupakan aset dalam kegiatan wisata. Gambar 1 memperlihatkan kerangka dan alur pikir penelitian.
Ekosistem gambut lebih mudah mengalami penurunan kualitas jika dibandingkan dengan jenis ekosistem lainnya. Pemanfaatan dan pengelolaan yang tidak tepat dan kurang optimal akan menyebabkan keberlanjutan kawasan gambut terancam. Kawasan gambut Kota Sintang saat ini telah mengalami penurunan beberapa kualitas ekologis karena kondisinya yang terbengkalai, tidak terpelihara dan dimanfaatkan dengan cara yang kurang tepat. Pengembangan kawasan harus memperhatikan kondisi ekologisnya sehingga keunikan ekosistem kawasan dapat dipertahankan dan mungkin dapat diperbaiki. Ekosistem gambut yang berada di Kota Sintang merupakan ekosistem yang unik. Kawasan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan ekosistem lain baik secara fisik maupun kimianya sehingga memungkinkan ekosistem ini dihuni oleh spesies-spesies endemik, baik flora maupun fauna. Keunikan ekosistem kawasan gambut merupakan potensi objek dan daya tarik ekowisata.
bangunan, dan tempat parkir. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap RTRW Kota dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan. Dengan dmikian, dapat diketahui arah kebijakan pemerintah daerah mengenai penggunaan lahan di sekitar kawasan yang dapat mempengaruhi keberlanjutan kawasan. Demikian juga halnya dengan kondisi masyarakat kota yang berada di sekitar kawasan.
Kawasan Gambut Baning di Kota Sintang
Kondisi Ekologis Kawasan Gambut
Potensi Objek dan Daya Tarik Ekowisata
Potensi Visual Kawasan
Zona Optimalisasi Potensi Kawasan Ekowisata
Zonasi Ekowisata
Konsep Pengembangan Ekowisata
Kebijakan Penataan Ruang Kota (RTRW) untuk Penyesuaian Perencanaan Zona Kealamian Kawasan
Gambut
Rencana Lanskap Kawasan Ekowisata Gambut Baning di Kota Sintang
Dukungan Masyarakat
Pengendali perencanaan
Gambar 1 Alur dan kerangka pikir penelitian.
Batasan Istilah
Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang
Gambut adalah lahan basah yang ekosistemnya ditandai dengan akumulasi bahan organik (gambut) yang berasal dari bahan tanaman mati dan membusuk pada kondisi jenuh air (tergenang air) yang penggenangannya dapat bersifat musiman ataupun permanen dan ditumbuhi oleh tumbuhan (vegetasi) (Barchia 2006).
Lahan basah (wetlands) adalah wilayah-wilayah di m
deng sebagian atau seluruhnya terkadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal.
Lanskap adalah bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu, dapat
dinikmati oleh indera manusia, karakter tersebut menyatu dengan harmonis dan alami antara komponen-komponennya (Simonds dan Starke 2006).
Objek dan daya tarik wisata adalah potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata.
Perencanaan adalah menetapkan suatu tujuan setelah memperhatikan
pembatas internal dan pengaruh eksternal, memilih, serta menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut.
Perencanaan lanskap adalah penyesuaian antara lanskap dan program
yang akan dikembangkan untuk menjaga kelestarian ekosistem dan pemandangan lanskap sehingga mencapai penggunaan terbaik. Proses perencanaan yang baik harus merupakan suatu proses yang dinamis, saling terkait dan saling menunjang (Gold 1980).
Tools (alat) adalah seperangkat instrumen untuk mempermudah suatu
pekerjaan. Tools dalam penelitian ini berupa Sistem Informasi Geografis (SIG)
dengan software ArcView GIS 3.2, Analytical Hierarchy Process (AHP), dan
Scenic Beauty Estimation (SBE).
Wisata adalah suatu pergerakan temporal manusia menuju tempat selain
dari tempat biasa mereka tinggal dan bekerja, yang selama mereka tinggal di tujuan tersebut mereka melakukan kegiatan, dan diciptakan fasilitas untuk mengakomodasi kebutuhan mereka (Gunn 1994).
Zonasi adalah pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa
bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan.
Preservasi lanskap adalah usaha untuk melindungi lanskap yang
Konservasi lanskap adalah usaha untuk melestarikan lanskap secara alami yang dapat mengalami perkembangan dengan adanya aspirasi masyarakat.
Rehabilitasi lanskap adalah usaha untuk mengembalikan ekosistem suatu
TINJAUAN PUSTAKA
Lahan Gambut sebagai Lahan Basah
Lahan basah (wetlands) adalah wilayah-wilayah yang tanahnya jenuh deng sebagian atau seluruhnya terkadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah dapat tergolong ke dalam air tawar, payau, atau asin.
Gambut terbentuk oleh lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi langka udara (anaerob) akibat keadaan hidro-topografi berupa genangan, ayunan pasang surut, atau keadaan yang selalu basah telah mencegah aktivitas mikro-organisme yang diperlukan dalam perombakan. Dengan kata lain, pada kondisi ini laju penimbunan bahan organik lebih besar daripada mineralisasinya (Noor 2001).
Gambut merupakan ekosistem alami penting dengan nilai tinggi untuk konservasi keanekaragaman hayati, regulasi iklim, dan kesejahteraan manusia. Dinamika gambut sangat sensitif terhadap perubahan siklus hidrologi. Jika dilakukan drainase atau reklamasi, gambut berangsur-angsur akan menyusut dan mengalami subsiden/amblas, yaitu penurunan permukaan tanah. Kondisi ini disebabkan oleh proses pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Menurut Barchia (2006) laju subsiden juga sangat dipengaruhi oleh ketebalan gambut, pada gambut dalam laju subsiden akan lebih besar dari pada gambut sedang dan gambut dangkal.
Gambut dikategorikan sebagai freshwater wetlands yang terbentuk pada
kondisi palustrin. Widjaya-Adhi (1988) diacu dalam Barchia (2006) menjelaskan
karakteristik gambut, yaitu
1) mempunyai kandungan bahan organik tinggi (>85 persen); 2) mengandung C-organik 12-18 persen bergantung pada fraksi liat;
3) ketebalan gambut >40 cm jika kerapatan isinya >0.1 g/cm3 atau >60 cm jika kerapatan isinya 0,1 g/cm3;
5) berdasarkan kandungan serat, gambut dibedakan atas a) fibrik, kadar serat 2/3 volume dikategorikan sebagai bahan gambut yang dekomposisinya belum sempurna, b) saprik, tingkat dekomposisinya paling sempurna dan mengandung serat <1/3 volume, dan c) hemik, dikategorikan sebagai tingkat intermediet yang proses dekomposisinya berada antara fibrik dan saprik.
Gambut memiliki tingkat kemasaman tanah yang tinggi disebabkan oleh tingginya kandungan asam-asam fenolat yang dihasilkan dari dekomposisi bahan organik yang banyak mengandung lignin. Gambut sebagian besar bereaksi masam sampai sangat masam dengan pH <4.
Gambut tropik umumnya memiliki topografi berbentuk kubah (dome). Dari
pinggir ke arah tengah makin mendekati puncak kubah permukaan lahan makin meningkat dengan perbedaan tinggi kurang 1 m pada setiap jarak 1 km. Perbedaan tinggi permukaan gambut berhubungan dangan ketebalan gambut. Menurut Noor (2001), informasi perbedaan tinggi permukaan ini penting dalam perencanaan jaringan tata air atau drainase. Dengan demikian, kekeringan akibat pengaliran air yang berlebihan atau banjir pada musim hujan dapat dihindari. Kubah gambut biasanya dibiarkan sebagai reservoir yang berfungsi menyimpan air pada musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. Kerusakan atau penyusutan wilayah kubah gambut dapat menyebabkan kelangkaan air di wilayah sekitarnya. Faktor-faktor iklim yang penting di kawasan gambut tropik adalah curah hujan, suhu dan kelembaban.
Dalam konteks ekologi, ekosistem gambut mempunyai peranan sebagai wilayah penyangga (buffer zone) lingkungan. Hal ini terlihat pada fungsi gambut
dalam lingkup hidrologis, biogeokimia, dan ekologis. Dalam sistem hidrologis, ekosistem gambut selain sebagai daerah tampung air, juga penyeimbang sistem tata air wilayah (control water system). Kehilangan kesempatan mengkonservasi
air berarti juga dapat menimbulkan ancaman bagi kelestarian keanekaragaman hayati (Barchia 2006). Dijelaskan lebih lanjut bahwa eksploitasi gambut yang berlebihan dapat menurunkan kelembaban gambut dan drainase berlebihan dapat menimbulkan kering takbalik (irreversible drying) pada bahan gambut, dan
yang dikeringkan disertai pemadatan gambut akibat subsiden menyebabkan gambut menjadi rentan terhadap erosi permukaan.
Ekosistem gambut merupakan ekosistem yang rentan, yang cepat sekali rusak oleh perubahan yang sedikit saja. Hutan gambut dapat dikatakan sekali panen akan hilang sehingga dapat digolongkan menjadi sumber daya alam hayati (Reksowardoyo 1988 diacu dalam Barchia 2006).
Ekowisata
Wisata adalah suatu pergerakan temporal manusia menuju tempat selain dari tempat biasa mereka tinggal dan bekerja, yang selama mereka tinggal di tujuan tersebut mereka melakukan kegiatan, dan diciptakan fasilitas untuk mengakomodasi kebutuhan mereka (Gunn 1994). Sementara Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mendefinisikan kegiatan wisata sebagai kegiatan perjalanan seseorang untuk kesenangan (pleasure) minimal satu hari dan tidak
lebih dari satu tahun untuk wisatawan mancanegara dan enam bulan bagi wisatawan domestik. Menurut UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisataadalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Istilah ekowisata merupakan terjemahan dari istilah ecotourism yang timbul sebagai sikap atau kritik terhadap kegiatan pariwisata massal yang dianggap merusak lingkungan dan kebudayaan. Penggunaan istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan konsep pariwisata yang termasuk bukan pariwisata berskala besar serta mengikuti prinsip-prinsip berkelanjutan. Akar dari ekowisata terletak pada kegiatan wisata alam dan wisata ruang terbuka.
Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumber daya pariwisata. The International Ecotourism Society (2000) mengartikannya sebagai perjalanan wisata alam yang
bertanggung jawab dengan cara mengkonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal (responsible travel to natural areas that conserves the environment and improves the well-being of local people)
daerah; e) keragaman potensi wisata. Wearing dan Neill (1999) diacu dalam Gilbert (2003) menegaskan bahwa ekowisata adalah bagian dari pendidikan lingkungan, pembinaan sikap dan perilaku yang kondusif untuk menjaga lingkungan alami dan pemberdayaan masyarakat lokal, oleh karena itu, ekowisata merupakan industri yang berkelanjutan. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), pariwisata yang melibatkan perjalanan ke alam pada daerah yang relatif tidak terganggu dengan tujuan tertentu, yaitu mempelajari, mengagumi, dan menikmati pemandangan, tanaman dan juga hewan liar, serta berbagai aspek budaya yang ada (baik dari masa lalu dan masa kini yang ditemukan di daerah tersebut), didefinisikan sebagai ekowisata. Suatu jumlah optimal kegiatan pengunjung ramah lingkungan, tidak adanya dampak serius pada ekosistem dan masyarakat lokal, dan keterlibatan positif masyarakat lokal dalam menjaga keseimbangan ekologi adalah beberapa elemen kuncinya.
Dalam pengembangan ekowisata perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut (Direktorat Jenderal Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan 2001) 1) konservasi; 2) pendidikan; 3) ekonomi; 4) peran aktif masyarakat; 5) wisata.
From (2004) diacu dalam Damanik dan Weber (2006) menyusun tiga konsep dasar yang lebih operasional tentang ekowisata, yaitu sebagai berikut.
1) perjalanan outdoor dan di kawasan alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan,
2) wisata yang mengutamakan penggunaan fasilitas transportasi yang diciptakan dan dikelola masyarakat kawasan wisata itu, dan
3) perjalanan wisata yang menaruh perhatian besar pada lingkungan alam dan budaya lokal.
Ekowisata merupakan tipe wisata alternatif dari wisata massal sehingga memiliki segmen yang signifikan dalam pasar wisata. Selain kesadaran lingkungan yang berkembang sejak akhir tahun 1980, pengembangan bentuk wisata alternatif juga dapat dihubungkan dengan terlalu akrabnya konsumen dengan wisata masal dan sebagian menginginkan jenis-jenis liburan baru (Holden 2000).
Menurut Damanik dan Weber (2006), beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan ekowisata adalah sebagai berikut:
(2) seleksi kawasan wisata yang menawarkan keanekaragaman hayati (biodiversity);
(3) pengabaian produk dan jasa yang banyak mengonsumsi energi dan yang menimbulkan limbah (polusi, kongesti, dan lain-lain);
(4) penciptaan standarisasi dan sertifikasi produk wisata berbasis ekologi;
(5) pelatihan dan penguatan kesadaran lingkungan di kalangan warga masyarakat;
(6) pelibatan penduduk lokal dalam kegiatan penyediaan dan pengelolaan jasa wisata;
(7) pengembangan kolaborasi manajemen trans-sektoral dalam pengembangan ekowisata.
Perencanaan Lanskap
Lanskap sangat berkaitan dengan konsep ruang di alam. Ruang adalah wadah kehidupan manusia beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya meliputi bumi, air, dan ruang angkasa sebagai satu kesatuan. Konsep ruang mempunyai beberapa unsur yaitu (1) jarak, (2) lokasi, (3) bentuk, dan (4) ukuran. Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu karena pemanfaatan bumi dan segala kekayaannya membutuhkan organisasi/pengaturan ruang dan waktu. Unsur-unsur tersebut di atas secara bersama-sama menyusun unit tata ruang yang disebut wilayah.
Perencanaan lanskap merupakan suatu kegiatan yang melibatkan pemanfaatan alam (lingkungan) untuk kebutuhan manusia, dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan seni. Alam memiliki karakter khusus yang memerlukan penanganan yang berbeda dalam usaha pemanfaatannya. Perencanaan lanskap diperlukan untuk memelihara dan menjaga karakter alam sekaligus menjadikan alam tersebut memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Menurut Gold (1980), perencanaan lanskap adalah penyesuaian antara lanskap dan program yang akan dikembangkan untuk menjaga kelestarian ekosistem dan pemandangan lanskap sehingga mencapai penggunaan terbaik. Proses perencanaan yang baik harus merupakan suatu proses yang dinamis, saling terkait, dan saling menunjang.
(1) studi persiapan yang merupakan penilaian kelayakan kegiatan dilakukan, untuk melihat ada atau tidaknya potensi pengembangan;
(2) penentuan tujuan yang merupakan penentuan hasil yang diinginkan dari pengembangan;
(3) survei yang merupakan pengumpulan data, kuantitatif dan kualitatif untuk semua aspek yang relevan;
(4) analisis dan sintesis berupa analisis yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif, merupakan aktivitas utama yang tergantung pada ketersediaan data survei, mengidentifikasi peluang dan masalah atau batasan untuk pengembangan;
(5) rumusan kebijakan dan rencana yang merupakan kegiatan mempersiapkan dan mengevaluasi alternatif kebijakan dan garis besar rencana (atau skenario);
(6) rekomendasi yang berupa penyampaian rencana detil yang dibuat berdasarkan analisis dan sintesis, serta rumusan kebijakan dan rencana yang telah dipilih;
(7) pelaksanaan dan pemantauan, pelaksanaan dilakukan bila telah dipertimbangkan dari persiapan rencana, terutama dalam perumusan kebijakan dan rencana, serta pada rekomendasi sehingga rencana akhir menjadi realistik untuk dicapai dan dapat dilaksanakan; pemantauan dilakukan untuk memastikan bahwa tujuan dikerjakan, sesuai dengan jadwal pengembangan, dan tidak menimbulkan masalah ekonomi, lingkungan, atau sosial budaya.
Menurut Simonds dan Starke (2006), perencanaaan tapak umumnya mengikuti langkah-langkah berikut yang beberapa di antaranya dapat dilakukan secara bersamaan, yaitu pendefinisian maksud dan tujuan; pengumpulan informasi topografi; pengembangan program; pengumpulan data dan analisis; pengenalan tapak; pengorganisasian perlengkapan dan dokumen rencana acuan, persiapan studi lanjut; perbandingan analisis dengan studi perbaikan untuk mendapatkan konsep yang sesuai dan disetujui; pengembangan dari rencana pengembangan pendahuluan dan menghitung biaya; persiapan rencana pembangunan, spesifikasi, dan penawaran dokumen.
dampak yang ditimbulkan karena kegiatan ini, diperlukan perencanaan dan manajemen yang baik, dan terintegrasi dengan perencanaan pembangunan secara keseluruhan. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa terdapat beberapa alasan khusus perlunya suatu perencanaan wisata, yaitu sebagai berikut.
1) Pariwisata modern merupakan hal yang relatif baru di banyak daerah, dimana pemerintah dan swasta belum memiliki pengalaman yang cukup dalam penanganannya sehingga diperlukan perencanaan.
2) Pariwisata adalah kegiatan yang memiliki kompleksitas, multisektoral, serta terkait dengan sektor lain, untuk itu perlu koordinasi dan perencanaan yang lebih terpadu.
3) Pada umumnya kegiatan wisata adalah menjual produk dengan memberikan pengalaman pada pengunjung melalui berbagai fasilitas sehingga ada dampak sosial dan lingkungan yang harus diperhitungkan dalam perencanaan.
4) Kegiatan pariwisata membawa dampak ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu perlu optimalisasi kegiatan dan perencanaan yang terintegrasi.
5) Manfaat dan masalah sosial budaya yang muncul karena kegiatan pariwisata memerlukan penanganan berupa kebijakan untuk mengkonservasi objek-objek budaya yang berharga.
6) Pembangunan fasilitas dan atraksi untuk pariwisata menimbulkan dampak pada kondisi fisik lingkungan, dengan perencanaan diharapkan dapat meminimalkan degradasi lingkungan dan mengupayakan konservasi lingkungan.
7) Adanya slogan keberlanjutan sebagai isu global akan menentukan tipe keberlanjutan yang tepat dan tidak merusak dan menghambat pembangunan.
8) Perubahan tren pasar dan keadaan lainnya memerlukan fleksibilitas perencanaan.
9) Kegiatan wisata perlu keahlian tertentu dan tenaga kerja yang potensial, oleh karena itu, dalam perencanaan wisata perlu dibuat rencana pelatihan.
10) Perlu ada struktur organisasi, promosi, dan regulasi yang mengatur kegiatan wisata.
Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem informasi geografis (SIG)atau geographic information system (GIS)
adalah sistem komputer yang mempunyai kemampuan pemasukan, pengambilan, analisis data, dan penampilan data geografis yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan. SIG dirancang untuk secara efisien memasukkan, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis, dan menyajikan semua jenis informasi yang berorientasi geografis (ESRI 2002).
Pendekatan-pendekatan kelokasian atau lebih dikenal dengan istilah pendekatan keruangan/spasial sangat penting di dalam melakukan analisis-analisis fenomena yang terjadi di bumi ini, baik yang sifatnya fisik maupun yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti ekonomi, politik, lingkungan, dan budaya. Jika fenomena itu dapat ditangkap informasinya secara utuh berikut lokasi dan polanya, hal tersebut dapat membantu dalam menyelesaikan atau mencari solusi dari permasalahan yang terkait dengan muka bumi.
SIG adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra 1997). SIG adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geografis di bumi (georeference). Di samping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur
data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.
SIG dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sistem manual (analog) dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik, dan laporan survei lapangan.
SIG dapat dibagi ke dalam empat komponen utama, yaitu perangkat keras (digitizer, scanner, central procesing unit (CPU), hard-disk, dan lain-lain),
perangkat lunak organisasi (manajemen), dan pemakai (user). Kombinasi yang benar antara
keempat komponen utama ini akan menentukan kesuksesan suatu proyek pengembangan sistem informasi geografis.
Data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital, sehingga analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk peta, sedangkan data atribut merupakan data tabel yang berfungsi menjelaskan keberadaan berbagai objek sebagai data spasial.
Butler (1993) diacu dalam Bahaire dan Elliot (1999) menyatakan bahwa sistem informasi geografis mempunyai potensi-potensi dalam pemecahan masalah pariwisata, yaitu
1) dapat menginventarisasi secara sistem atas sumber daya pariwisata dan menganalisis tren pariwisata, dan
2) dapat digunakan untuk memonitor perkembangan aktivitas wisata, dengan pengintegrasian pariwisata, sosial budaya, lingkungan, dan data ekonomi.
Scenic Beauty Estimation (SBE)
Scenic beauty diartikan sebagai keindahan alami (natural beauty), estetik
lanskap (landscape aesthetics), atau sumber pemandangan (scenic resource)
untuk memecahkan kemonotonan (Daniel dan Boster 1976). Estetika digunakan sebagai dasar dalam kualitas visual. Dijelaskan lebih lanjut oleh Daniel dan Boster (1976) bahwa keindahan pemandangan lanskap merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting walaupun secara obyektif keindahan pemandangan sulit untuk diukur.
Scenic Beauty Estimation (SBE) yang dikembangkan oleh Daniel dan
Boster (1976) adalah model penilaian yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi psikofisik preferensi indah. Hal ini digunakan untuk mempelajari hubungan antara atribut biofisik lingkungan dan preferensi keindahan tanpa mempertimbangkan proses perantara yang mungkin mempengaruhi preferensi penilaian.
prinsip-prinsip formal desain, dan atribut psikologis lanskap untuk menyatakan persoalan teoritis dan empiris dalam estetika lanskap (Gobster dan Chenoweth 1989 diacu dalam Chiang et al. 2010). Perubahan penampilan lanskap dapat
dilihat dari proses biofisik dan pendapat manusia sangat penting sebagai indikator dari kualitas keindahan visual. Persepsi seseorang terhadap kualitas lanskap ditentukan oleh interaksi yang kuat antara variabel lanskap dan pengetahuan seseorang mengenai lanskap tersebut (Nasar 1988).
Keindahan pemandangan adalah suatu konsep yang interaktif karena sebagian besar ditentukan oleh penilaian manusia, karena kualitas estetika dari suatu ruang merupakan hasil dari kombinasi penampilan lanskap itu sendiri dengan proses psikologis (tanggapan, pemahaman, dan emosi) dari pengamat lanskap tersebut (Daniel dan Boster 1976). Pendugaan keindahan merupakan salah satu cara untuk menentukan kualitas suatu lanskap. Pendugaan keindahan lanskap menggunakan metode SBE meliputi 3 langkah, yaitu mempresentasikan lanskap dengan menggunakan slide foto, mempresentasikan silde terhadap responden, dan mengevaluasi penilaian slide dari responden.
Lanskap dipresentasikan dalam bentuk foto dengan melakukan pemotretan. Slide foto kemudian dipresentasikan kepada responden untuk memperoleh penilaian responden terhadap lanskap. Slide foto yang dipresentasikan disusun secara acak. Responden yang dipilih adalah mahasiswa karena mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang dianggap kritis dan peduli terhadap lingkungan, serta jumlah responden antara 20-30 sudah dianggap mewakili. Kuisioner dibagikan kepada responden dan selanjutnya diberikan penjelasan mengenai penilaian terhadap kondisi kawasan. Selama presentasi, slide diputar satu-persatu dengan durasi waktu penyajian 7-10 detik untuk masing-masing slide. Responden menilai setiap slide dengan skala 1-10 yang menggambarkan kualitas pemandangan dari paling rendah sampai paling tinggi (Daniel dan Boster 1976).
berdasarkan tabel. Dengan data ini selanjutnya dihitung nilai z rata-rata untuk setiap lanskap. Dari keseluruhan z untuk tiap titik ditentukan satu nilai z dari titik sebagai standar untuk penghitungan nilai SBE (Daniel dan Boster 1976). Dari nilai SBE untuk setiap lanskap yang diperoleh lalu ditentukan kualitas keindahannya, selanjutnya lanskap dapat dikelompokkan menjadi lanskap yang memiliki kualitas pemandangan tinggi, sedang, dan rendah.
Analytical Hierarchy Process (AHP)
Analytical hierarchy process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty
tahun 1970, seorang ahli matematika. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut ke dalam bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hierarki, memberi nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel, dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Metode ini dimaksudkan untuk mengorganisasikan informasi dan berbagai keputusan secara rasional (judgement) agar dapat memilih alternatif yang paling
disukai. Metode ini dimaksudkan untuk membantu masalah kualitatif yang kompleks dengan memakai perhitungan kuantitatif, melalui proses pengekspresian masalah dimaksud dalam kerangka berpikir yang terorganisasi, sehingga dimungkinkan dilakukannya proses pengambilan keputusan secara efektif. Metode ini memiliki keunggulan tertentu karena mampu menyederhanakan persoalan yang kompleks menjadi persoalan yang terstruktur sehingga mendorong dipercepatnya proses pengambilan keputusan terkait. Untuk mengolah data dengan metode AHP ini dapat dilakukan dengan aplikasi perangkat lunak CDP V3.04 dan Expert Choice (Eriyatno dan Sofyar 2007).
AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, yang dengannya pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan.
menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat (Saaty 1991). AHP membuat para pembuat keputusan untuk mendapatkan skala prioritas atau pertimbangan dari pengalaman, pandangan, intuisi, dan data asli. Dalam menjalankannya, AHP tidak hanya mendukung pembuat keputusan untuk menyusun kerumitan dan melatih penilaian, tetapi membuat pertimbangan subjektif dan objektif dalam menganalisis keputusan.
Beberapa ide dasar kerja dari AHP adalah sebagai berikut. 1) Penyusunan hierarki
Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya, yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi struktur hierarki.
2) Penilaian kriteria dan alternatif
Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1993), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat.
3) Penentuan prioritas
Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan, nilai-nilai perbandingan kemudian diolah untuk menentukan peringkat alternatif dari seluruh alternatif.
4) Konsistensi logis
Semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis, konsistensi memiliki dua makna, pertama adalah objek-objek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi, arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Tabel 1 Skala banding secara berpasangan (Saaty 1993) Tingkat
Kepentingan Definisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama
penting Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lain
Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen jika dibandingkan dengan elemen yang lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting daripada elemen yang lain
Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibandingkan dengan elemen yang lainnya
7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen lainnya
Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktik
9 Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen yang lainnya
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangakan yang berdekatan
Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara dua pilihan
KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
Kondisi Biofisik Kota Sintang
Geografis dan Administrasi
Secara geografis letak Kota Sintang berada pada 0o09’ LU–0o02’ LS dan 111o21’ BT–111o36’ BT. Peta administrasi Kota Sintang ditunjukkan pada Gambar 2. Batas-batas administrasi Kota Sintang adalah
1) Utara: Kecamatan Binjai Hulu dan Kelam Permai, 2) Timur: Kecamatan Dedai,
3) Selatan: Kecamatan Sungai Tebelian, 4) Barat: Kecamatan Tempunak.
Sumber: RDTRK Sintang 2007
Gambar 2 Batas administrasi Kota Sintang tingkat kelurahan dan desa
strategis untuk membentuk/membangun permukiman di sekitar pertemuan sungai-sungai tersebut.
Kota Sintang dengan luas 4.128,99 ha sebagai ibukota Kabupaten Sintang merupakan salah satu kota kecamatan yang berada di jalur pelayaran Sungai Kapuas. Kota ini dapat ditempuh melalui jalur sungai tersebut di samping juga dapat ditempuh melalui jalan darat sepanjang ± 395 km dari ibukota provinsi (Pontianak). Kota Sintang mencakup sebagian dari 6 wilayah kelurahan dan 1 wilayah desa dari 4 desa, 6 kelurahan, 2 desa IDT dan 143 dusun yang terdapat di wilayah Kecamatan Sintang.
Secara administratif Kota Sintang mencakup tujuh wilayah kelurahan/desa yaitu kelurahan Tanjungpuri, Kapuas Kanan Hulu, Kapuas Kanan Hilir, Kapuas Kiri Hulu, Kapuas Kiri Hilir, Ladang, dan desa Baning. Kota Sintang terdiri dari tiga Bagian Wilayah Kota (BWK) sesuai dengan pembagian karena adanya aliran sungai Kapuas dan sungai Melawi. BWK A seluas 1.700,11 ha merupakan bagian barat-selatan kota yang terdiri dari Kelurahan Kapuas Kanan Hulu dan Kapuas Kanan Hilir. BWK B seluas 1.874,70 ha merupakan bagian selatan-timur kota yang terdiri dari Kelurahan Tanjungpuri, Ladang, dan Desa Baning. BWK C yang luasnya 554,18 ha merupakan bagian utara kota terdiri dari Kelurahan Kapuas Kiri Hilir dan Kapuas Kiri Hulu. Tabel 2 menunjukkan luas masing-masing BWK yang dirinci per desa/kelurahan.
Tabel 2 Luas tiap bagian wilayah kota (BWK) dalam Kota Sintang
No Kelurahan/Desa (Ha) Luas Wilayah (%) Keterangan BWK A
Luas wilayah terdiri dari luas
darat dan perairan 1 Kapuas Kanan Hulu 1042,06 61,29
2 Kapuas Kanan Hilir 658,05 38,71
Sub Jumlah 1700,11 100,00
BWK B
1 Tanjung Puri 918,01 48,97
2 Ladang 152,47 8,13
3 Baning 804,22 42,90
Sub Jumlah 1874,70 100,00
BWK C
1 Kapuas Kiri Hulu 281,78 50,85 2 Kapuas Kiri Hilir 272,40 49,15
Sub Jumlah 554,18 100,00
Total Jumlah 4128,99
Topografi dan Kemiringan Lahan
Dilihat dari aspek topografi, Kota Sintang berada pada ketinggian antara 15 sampai 50 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan antara 0 – 15% (Tabel 3). Daerah-daerah terbangun yang mempunyai ketinggian diatas 30 meter umumnya terdapat di bagian tenggara kota sebelah timur dan tenggara kawasan gambut Baning. Sedangkan pada kawasan lainnya seperti sebagian besar kawasan utara kota di wilayah Kelurahan Kapuas Kanan Hulu dan bagian barat kota di Kelurahan Kapuas Kanan Hilir serta wilayah Kelurahan Kapuas Kiri Hilir dan Kapuas Kiri Hulu merupakan kawasan-kawasan yang relatif datar. Bagian kota di sebelah timur aliran Sungai Melawi umumnya memiliki topografi yang bergelombang sampai berbukit.
Tabel 3 Kemiringan lereng dan luas lahan pada masing-masing kelurahan dan Desa (Ha)
Kapuas Kanan Hulu Kapuas Kanan Hilir Tanjung Puri Ladang Baning Kota Kapuas Kiri Hulu Kapuas Kiri Hilir
1303
Sumber: Bappeda Kabupaten Sintang 2009
Hidroklimatologi
Sebagaimana umumnya Kabupaten Sintang, kondisi klimatologi Kota Sintang tergolong dalam tipe A menurut klasifikasi iklim Schmidt and Ferguson,
karena hampir tidak memiliki bulan kering dalam setahun.
Tabel 4 Data iklim Kabupaten Sintang tahun 1995 - 2009
Sumber : BMG Susilo Sintang 2010
Jenis Tanah
Tanah Kota Sintang umumnya berupa tanah aluvial, gambut, dan podsolik merah kuning. Sebaran pasti dan luas masing-masing jenis tanah ini belum diketahui secara jelas, tetapi secara umum tanah aluvial mendominasi semua wilayah yang dipengaruhi oleh pasang surut air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Tanah gambut mendominasi kawasan-kawasan berawa, sedangkan wilayah lainnya didominasi oleh tanah podsolik merah kuning seperti sebagian besar bagian timur dan tenggara kota.
Tanah aluvial merupakan jenis tanah dengan fisiografi dataran rendah, bahan induk dari batuan-batuan aluvial/endapan banjir. Tanah ini sedikit atau belum mengalami perkembangan profil, dangkal sampai dalam, berwarna kelabu sampai kekuningan dan kecoklatan, sering ber-glei dan bertotol kuning, coklat dan merah.
pertanian lahan kering atau perkebunan dengan usaha peningkatan kesuburan tanah dan usaha-usaha konservasi karena jenis tanah ini sangat peka terhadap erosi dan curah hujan yang tinggi.
Potensi Lanskap
Pola bentangan alam/lanskap Kota Sintang cukup menarik dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi elemen kuat estetika kota tanpa harus banyak merubah alamnya. Topografi dan kemiringan lahannya yang sangat variatif mampu menghindarkan kota ini dari kesan monoton yang membosankan. Yang menjadi permasalahan saat ini dari aspek lanskap ini adalah kurangnya perhatian masyarakat dalam hal pengembangan jenis-jenis vegetasi lokal, dan kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah setempat bahwa Sungai Kapuas dan Sungai Melawi merupakan unsur alami yang sangat potensial sebagai kosmetika kota.
Pola Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan dimensi ruang kegiatan manusia terhadap lingkungannya dalam rangka usaha memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan konsentrasi manusia di suatu tempat adalah akibat adanya kesempatan untuk hidup di tempat itu yang sesuai dengan profesi yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan.
Laporan pengamatan yang dilakukan Bappeda Kabupaten Sintang pada tahun 2006 menunjukkan penggunaan lahan Kota Sintang secara umum masih didominasi oleh tanah kosong, kebun campuran, semak belukar dan hutan, baru penggunaan lahan lainnya mengikuti seperti penggunaan lahan untuk kegiatan fasilitas sosial ekonomi, perumahan dan perkantoran (Tabel 5).
Tabel 5 Luas penggunaan lahan kawasan Kota Sintang
No. Jenis Penggunaan Lahan Ha Luas %
1. Perumahan 276,64 6,70
2. Fasilitas sosial ekonomi 379,87 9,20
3. Tanah kosong, perkebunan dan kebun campuran 784,51 19,00 4. Hutan, semak belukar, sungai/perairan 2.254,43 54,60
5. Penggunaan lahan lainnya 433,54 10,50
Jumlah 4.128,99 100,00
Kependudukan
Penduduk Kota Sintang pada tahun 2009 telah mencapai angka 48.666 jiwa, dengan kepadatan penduduk 2.907 jiwa/ha. Tabel 6 menunjukkan bahwa kelurahan Tanjung Puri dan Kapuas Kanan Hulu memiliki jumlah penduduk yang terbanyak. Hal itu terkait dengan banyaknya fasilitas kehidupan yang ada di kawasan tersebut. Selain itu, kelurahan Kapuas Kanan Hulu merupakan pusat perdagangan di Kota Sintang yang tentu saja menjadi daya tarik bagi penduduk untuk bermukim. Sedangkan kelurahan Tanjung Puri merupakan pusat pemerintahan.
Tabel 6 Jumlah penduduk kota Sintang tahun 2009
No. Nama kelurahan/desa Jumlah penduduk 1.
Kapuas Kanan Hulu Kapuas Kanan Hilir Kapuas Kiri Hilir Kapuas Kiri Hulu
11.143
Sumber: Kabupaten Sintang Dalam Angka 2010
Jumlah penduduk kota Sintang menurut jenis kelamin pada tahun 2009 di tampilkan pada Tabel 7. Jumlah penduduk kota menurut jenis kelamin menunjukkan jumlah yang berimbang antara penduduk laki-laki dan perempuan di tiap kelurahan.
Tabel 7 Jumlah penduduk kota Sintang menurut jenis kelamin tahun 2009
No. Desa/Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Tanjungpuri 5.378 5.765 11.143
Sumber: Kabupaten Sintang dalam Angka 2010
RT. Kepadatan penduduk tertinggi di Kelurahan Ladang karena kelurahan ini memiliki luas area yang lebih kecil dibandingkan kelurahan lain.
Tabel 8 Data kepadatan penduduk Kota Sintang tahun 2009
No. Desa/Kelurahan Luas (Km2) RT Penduduk Kepadatan Penduduk Per Km2 Per RT
1. Tanjungpuri 41,00 37 11248 272 301
2. Baning 9,00 22 5213 587 240
3. Ladang 5,00 10 4959 991 495
4. Kapuas Kanan Hulu 32,00 40 14264 440 352 5. Kapuas Kanan Hilir 19,50 16 5859 296 361 6. Kapuas Kiri Hilir 20,50 13 2669 132 208 7. Kapuas Kiri Hulu 25,00 14 4689 189 337
2009 152 152 48901 2907 2294
Sumber: Kabupaten Sintang dalam Angka 2010
Kondisi Ekonomi
Kemajuan ekonomi yang ditunjukkan oleh peningkatan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) atas harga berlaku dari tahun ke tahun belum menunjukkan perubahan yang nyata. Disamping karena terjadinya peningkatan produksi secara fisik, juga karena dipengaruhi oleh kenaikan harga dan inflasi. Untuk mengetahui laju pertumbuhan secara nyata, pengaruh inflasi harus dihilangkan. Oleh karena itu, PDRB diestimasi dengan menggunakan harga konstan sesuai dengan tingkat harga pada suatu tahun dasar yang telah ditetapkan. Dengan cara ini dapat diperkirakan laju pertumbuhan perekonomian setiap tahun atau selama periode tertentu.
Tabel 9 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku Listrik, gas & air bersih Bangunan
Perdagangan, hotel & restoran
Pengangkutan & komunikasi
Keuangan, persewaan & jasa perusahaan Jasa-jasa PDRB 1.009.599,73 1.127.288,67 1.214.610,83 1.362.001,15 1.528.336,48 Sumber: Kabupaten Sintang dalam Angka 2002-2006
Kondisi Umum Kawasan Gambut Baning di Kota Sintang
Kondisi Fisik Kawasan
Kawasan gambut Baning di Kota Sintang merupakan kawasan hutan konservasi yang memiliki ekosistem gambut, dengan bentuk topografi datar (<1%) pada dataran rendah dan tidak berbukit-bukit dengan bentukan lahan rawa belakang sungai meander. Kawasan ini berada pada ketinggian 19,45 – 24,30 meter dari permukaan laut, dan merupakan bagian dari tanah datar yang diapit oleh dua sungai besar, yaitu sungai Kapuas dan sungai Melawi.
Berdasarkan hasil survei lapangan dan pengumpulan data tahun 2010 yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kalimantan Barat, penutupan lahan di kawasan ini dibedakan menjadi 4 tipe klasifikasi penutupan lahan, yang terdiri dari hutan gambut primer, hutan sekunder, semak rawa/belukar, dan permukiman/tanah kosong (Tabel 10).
Tabel 10 Jenis tutupan lahan di kawasan gambut Baning tahun 2010
No. Jenis Tutupan Lahan Ha Luas %
1. 2. 3. 4.
Hutan gambut primer Hutan sekunder
Hutan primer gambut dan hutan sekunder, kondisi penutupan lahan hutannya masih baik. Penutupan dengan vegetasi semak dan belukar merupakan ciri vegetasi yang pernah terkena pengaruh kebakaran hutan dan lahan atau telah dipengaruhi oleh kegiatan masyarakat di sekitar kawasan. Peta jenis tutupan lahan kawasan disajikan pada Gambar 3.
Sumber: Hasil olahan data 2011
Gambar 3 Peta jenis penutupan lahan kawasan gambut Baning.
Sumber: RDTRK Sintang 2007, dokumentasi 2011
Gambar 4 Kondisi penggunaan lahan di sekitar kawasan gambut Baning.