• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksplorasi Cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Eksplorasi Cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

EKSPLORASI CENDAWAN ENTOMOPHTHORALES DAN

NEMATODA PADA TRIPS DAN KUTUDAUN PADA

TANAMAN MAWAR DAN KRISAN

DI BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

KABUPATEN CIANJUR

PRASASTI DWI PHRAMESWANI

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

ABSTRACT

PRASASTI DWI PHRAMESWANI. Exploration of Entomophthoralean Fungus and Nematode on Trips and Aphid on Roses and Chrysanthemum in Indonesian Ornamental Crops Research Institute. Under the direction of RULY ANWAR.

(3)

ABSTRAK

PRASASTI DWI PHRAMESWANI. Eksplorasi Cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur. Dibimbing oleh RULY ANWAR.

Mawar dan krisan merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi di Indonesia. Trips dan kutudaun adalah hama yang sering menye-rang tanaman hias tersebut. Cendawan Entomophthorales dan nematoda yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati terhadap trips dan kutudaun belum banyak dilaporkan di Indonesia. Eksplorasi cendawan Entomophthorales dan ne-matoda dalam mengendalikan trips dan kutudaun dilakukan pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Penelitian dimulai pada bulan Maret 2012 sampai bulan Juni 2012. Sampel trips dan kutudaun diambil dari 3 blok pada masing-masing pertanaman. Sepuluh tanaman sampel diambil se-cara acak dari setiap blok. Sampel trips diambil dari 1 bunga pada tiap tanaman sampel. Trips dan kutudaun yang diperoleh, dimasukkan ke botol bervolume 30 ml yang telah berisi alkohol 70% untuk pengamatan lebih lanjut. Sampel trips dan kutudaun dibuat preparat menggunakan larutan lactophenol cotton blue. Ko-nidia primer, konidia sekunder dan hyphal bodies ditemukan menginfeksi trips,

sedangkan pada kutudaun ditemukan konidia primer, konidiofor, dan hyphal

bodies. Populasi trips pada dua jenis tanaman tersebut tidak berbeda nyata.

Ting-kat infeksi cendawan Entomophthorales pada trips dan kutudaun menunjukkan perbedaan yang nyata. Nematoda juga ditemukan menginfeksi beberapa trips yang diamati. Tingkat infeksi nematoda pada trips di tanaman mawar lebih tinggi daripada di tanaman krisan.

(4)

EKSPLORASI CENDAWAN ENTOMOPHTHORALES DAN

NEMATODA PADA TRIPS DAN KUTUDAUN PADA

TANAMAN MAWAR DAN KRISAN

DI BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

KABUPATEN CIANJUR

PRASASTI DWI PHRAMESWANI

A34080031

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(5)

Judul Skripsi : Eksplorasi Cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur

Nama Mahasiswa : Prasasti Dwi Phrameswani

NIM : A34080031

Tanggal lulus:

Disetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Ruly Anwar, MSi. NIP 19641224 199103 1 003

Diketahui, Ketua Departemen

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Jakarta pada 1 Juni 1990 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak H. Sarofdin, SE, MM dan Ibu Hj. Ida Rosiani. Penu-lis menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan atas di SMAN 71 Jakarta (2005-2008). Selama SMA, penulis merupakan salah satu anggota Palang Merah Rema-ja (PMR). Penulis juga merupakan salah satu anggota kontingen Olimpiade Ki-mia dari SMAN 71 Jakarta. Pada tahun 2008, penulis lulus dari SMAN 71 Jakarta dan diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB. Selama masa kuliah, penulis pernah meng-ikuti organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (2009-2010) sebagai anggota Departemen Sport and Art dan ke-tua kontingen IPB Art Contest (IAC) Fakultas Pertanian tahun 2010. Penulis juga sering mengikuti berbagai kepanitian, seperti panitia Open House Asrama Tingkat Persiapan Bersama (TPB) tahun 2009, Seminar Nasional IBEMPI (Ikatan BEM Pertanian Indonesia) dan Bina Desa tahun 2010, Komisi Disiplin pada Masa Per-kenalan Fakultas (MPF) Pertanian IPB tahun 2010, panitia Masa PerPer-kenalan De-partemen (MPD) Proteksi Tanaman, panitia Migrarotia DeDe-partemen Proteksi Ta-naman tahun 2010 dan 2011, dll. Penulis pernah mengikuti kegiatan Youth for

Climate Camp pada tahun 2011 yang di selenggarakan oleh Dewan Nasional

(7)

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya penu-lis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Eksplorasi cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur”. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2012 sampai Juni 2012.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Ruly Anwar, MSi. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ilmu pengetahuan, saran, dan motivasi. Dr. Ir. Giyanto, MSi. selaku dosen penguji tamu yang telah mem-berikan saran dan motivasi. Prof. Dr. Ir. Meity Suradji Sinaga, MSi. selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan saran dan arahan. Selain itu, pe-nulis juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua pepe-nulis, kakak dan adik penulis (Awwaliyah, Akhmad Shohib, dan M. Said Hannaf), keluarga besar Sartani dan Harun, dan teman-teman Laboratorium Patologi Serangga (Ovie, Tia, Leli, Rizki P, Kak Ayu, Anggi, dan Kak Indri). Pak Yiyin Nasihin selaku Kepala Kebun Percobaan (KP) Cipanas, Pak Yus selaku kepala KP Segunung, Pak Djatnika, Pak Tedi, Pak Arlan, Pak H. Yusuf, dan karyawan Balithi lainnya. Teman-teman Proteksi Tanaman IPB angkatan 45 (Cut Putri, Fitri, Nuuri, Nisa, Ochi, Rita, Fildzah, Ciptadi, Riska DO, Dila, Yuke, Sylvi, Kak Andrix, dll). Ratih, Arini, Ika Fajriah, Arum, Fitridina, Bambang, Hafiz, Rafika, Pitaloka, Kak Dhina, Kak Asti dan teman-teman Pondok Nuansa Sakinah 1 serta pihak-pihak lain yang telah berperan dalam mendukung serta membantu pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan tugas akhir ini yang tidak dapat penulis sebutkan.

Tanaman mawar dan krisan merupakan tanaman hias yang banyak dimi-nati masyarakat. Hama trips dan kutudaun menjadi masalah dalam pertumbuhan mawar dan krisan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas bunga yang dihasilkan. Beberapa dasawarsa terakhir, penggunaan cendawan Entomoph-thorales dan nematoda entomopatogen banyak dikembangkan sebagai pengendali-an hayati untuk mengurpengendali-angi dampak dari pengendalipengendali-an kimiawi. Penggunapengendali-an agens hayati tersebut telah banyak dilaporkan di luar negeri, bahwa dapat me-ngendalikan hama trips dan kutudaun. Agens pengendalian hayati inilah yang coba penulis eksplorasi terhadap trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur.

Penulis berharap laporan tugas akhir ini dapat bermanfaat baik bagi pe-nulis maupun bagi pembaca pada umumnya. Atas segala kesalahan, pepe-nulis me-mohon kebijaksanaan dari semua pihak untuk memaafkannya.

.

Bogor, Oktober 2012

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 4

Tanaman Mawar ... 4

Tanaman Krisan ... 4

Trips ... 6

Karakteristik Trips dan Gejala Serangan ... 6

Kutudaun ... 8

Karakteristik Kutudaun dan Gejala Serangan ... 8

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi perkembangan Trips dan Kutudaun... 9

Pengendalian Hama Trips dan Kutudaun ... 10

Pengendalian dengan kultur Teknis dan Kimiawi ... 10

Pengendalian Hayati ... 11

Cendawan Entomophthorales ... 12

Taksonomi Cendawan Entomophthorales ... 12

Biologi dan Ekologi Cendawan Entomophthorales ... 13

Cendawan Entomophthorales pada Trips ... 15

Cendawan Entomophthorales pada Kutudaun ... 16

Nematoda Entomopatogen ... 17

Nematoda Thripinema spp. ... 18

BAHAN DAN METODE ... 20

Tempat dan Waktu ... 20

Bahan dan Alat ... 20

Pengambilan Sampel Trips dan Pengamatan Populasi Trips ... 20

Pengambilan Sampel Kutudaun ... 21

Pembuatan Preparat Trips dan Kutudaun ... 21

Identifikasi Stadia Cendawan Entomophthorales ... 21

Perhitungan Tingkat Infeksi Cendawan Entomophthorales ... 22

Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 22

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

Karakteristik Umum Lokasi ... 23

Gambaran Umum Tanaman Mawar dan Krisan di Balithi ... 23

Pengamatan Populasi Trips ... 25

Cendawan Entomophthorales pada Trips ... 28

(9)

Cendawan Entomophthorales pada Kutudaun ... 36

Infeksi Cendawan Entomophthorales pada Kutudaun di Tanaman Mawar dan Krisan ... 37

Infeksi Nematoda pada Trips ... 41

KESIMPULAN DAN SARAN ... 44

Kesimpulan ... 44

Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Kelimpahan populasi trips pada tanaman mawar dan krisan di

Balai tanaman Hias Kabupaten Cianjur ... 32 2 Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales pada trips di tanaman

mawar dan krisan di Balai Tanaman Hias Kabupaten Cianjur ... 32 3 Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales pada kutudaun di tanam-

an mawar dan krisan di Balai Tanaman Hias Kabupaten Cianjur ... 40 4 Tingkat infeksi nematoda pada trips di tanaman mawar dan krisan

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Cendawan Entomophthorales pada N. Parvispora ... 15

2 Kondisi rumah lindung pertanaman krisan di KP Segunung Balithi. ... 26

3 Kondisi pertanaman mawar di KP Segunung Balithi ... 26

4 Gejala serangan trips ketika mawar masih kuncup, berupa bercak kecokelatan dan mahkota bunga yang menggulung saat mekar ... 27

5 Bunga krisan di Balithi ... 28

6 Trips sehat pada pengamatan ... 29

7 Hyphal bodies berbentuk bulat pada abdomen trips ... 29

8 Hyphal bodies berbentuk batang pada abdomen trips ... 30

9 Infeksi konidia sekunder pada beberapa bagian tubuh trips ... 30

10 Konidia primer yang menginfeksi beberapa trips ... 31

11 Proporsi fase cendawan yang menginfeksi trips pada tanaman mawar dan krisandi Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur ... 35

12 Cendawan Entomophthorales yang menginfeksi kutudaun di tanaman mawar dan krisan ... 37

13 Proporsi fase cendawan yang menginfeksi kutudaun pada tanaman ma- war dan krisandi Balai Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur .. 39

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Populasi trips pada tanaman mawar di Balai Penelitian Tanaman Hias

Kabupaten Cianjur ... 50 2 Populasi trips pada tanaman krisan di Balai penelitian Tanaman Hias

Kabupaten Cianjur ... 50 3 Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales dan nematoda pada trips

di tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias

Kabupaten Cianjur ... 51 4 Kutudaun yang menyerang pertanaman mawar dan krisan di Balithi ... 54 5 Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales dan nematoda pada kutu-

daun di tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias

Kabupaten Cianjur ... 55 6 Hasil uji-t populasi trips pada tanaman mawar dan krisan di Balai

Penelitian Tanaman Hias Kabupaten Cianjur ... 56 7 Hasil uji-t tingkat infeksi cendawan Entomophthorales terhadap trips

pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias

Kabupaten Cianjur ... 57 8 Hasil uji-t tingkat infeksi cendawan Entomophthorales terhadap

kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanam-

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bisnis tanaman hias dewasa ini cukup potensial di Indonesia. James Lum-banraja (Ketua Bidang Produksi Asosiasi bunga Indonesia/Asbindo) menyatakan bahwa permintaan tanaman hias tahun 2012 diperkirakan mengalami peningkatan hingga 100% dari tahun 2011. Prakiraan tersebut berdasar pada kondisi dua tahun terakhir, bisnis florikultura dalam negeri pada tahun 2011 lebih baik dari tahun 2010. Membaiknya usaha florikultura dalam negeri tersebut jika dilihat dari per-mintaan, karena semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terutama dunia properti terhadap kawasan yang ramah lingkungan (Saputra 2012).

Tanaman mawar dan krisan merupakan jenis tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi di Indonesia. Data produktivitas tanaman krisan per tahun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 17.58 tangkai/m2 pada 2010, meningkat menjadi 34.85 tangkai/m2 pada tahun 2011. Data produktivitas tanaman mawar per tahun juga mengalami peningkatan dari 14.13 tangkai/m2 pada 2010 menjadi 22.33 tangkai/m2 pada tahun 2011 (BPS 2012).

Balai penelitian tanaman hias (Balithi) terletak di Kabupaten Cianjur, Ja-wa Barat. Berbagai tanaman hias tropis maupun subtropis dikembangkan dan di-teliti di Balithi. Tanaman mawar dan krisan merupakan tanaman hias subtropis yang sering mendapat perhatian dan perlakuan khusus dalam upaya perlindungan dari hama dan penyakit tanaman. Hama trips dan kutudaun merupakan hama yang sering menyerang kedua jenis tanaman tersebut dan menjadi penghambat da-lam kegiatan penelitian serta pengembangan tanaman (Tedi 23 April 2012, komu-nikasi pribadi).

(14)

cendawan Entomophthorales dan nematoda. Musuh alami tersebut diharapkan ada serta menginfeksi trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balithi.

Cendawan entomopatogen yang telah dilaporkan sampai dengan saat ini berjumlah ± 35 genus dengan lebih dari 400 spesies. Sekitar 1800 asosiasi antara cendawan dan serangga yang berbeda telah didokumentasikan (Jankevica 2004).

Neozygites spp. (Neozygitaceae) dan Verticillium spp. (Hypocreaceae)

merupa-kan cendawan entomopatogen yang dapat menyebabmerupa-kan kematian pada hama dan mengendalikan populasinya di lapangan (Morse dan Hoddle 2006).

Butt dan Brownbrigde (1997) melaporkan bahwa cendawan ordo Ento-mophthorales dapat digunakan untuk mengendalikan trips. Cendawan tersebut se-cara bertahap akan menyebar dalam populasi trips, sehingga dapat menginfeksi sampai mematikan trips. Montserrat et al. (1997) melaporkan bahwa trips

Frankiniella occidentalis (Thysanoptera: Thripidae) yang menyerang tanaman

mentimun dalam rumah kaca di Spanyol terinfeksi oleh cendawan Neozygites

parvispora (Zygomycotina: Entomophthorales). Trips yang terinfeksi oleh

cenda-wan N. parvispora pada pertanaman mentimun banyak yang mengalami

kemati-an. Konidia primer dan kapillikonidia N. parvispora ditemukan pada bangkai trips yang terinfeksi cendawan tersebut. Siagian (2012) melaporkan bahwa hama trips yang menyerang tanaman mawar di Taman Bunga Nusantara telah terinfeksi oleh cendawan entomopatogen, meskipun rata-rata persentase trips yang terinfeksi kurang dari 2.8%.

Cendawan entomopatogen juga dapat menginfeksi dan menyebabkan ke-matian pada kutudaun. Hasil survei terhadap cendawan entomopatogen pada ku-tudaun di Afrika Selatan, dari tahun 1995 sampai 1998 dihasilkan bahwa 8 spesies cendawan menginfeksi dan menyebabkan kematian pada kutudaun, 6 cendawan dari Ordo Entomophthorales dan 2 dari Ordo Hyphomycetes (Hatting et al. 1999). Cendawan Entomophthorales memiliki inang yang lebih spesifik dan berpotensi dalam membatasi tingkat infeksi serangga hama (Wilding 1981). Cendawan En-tomophthorales yang diketahui dapat menginfeksi dan mematikan kutudaun, ya-itu Pandora neoaphidis, Conidiobolus thromboides, C. obscurus, C. coronatus,

(15)

Nematoda entomopatogen diketahui dapat mengendalikan trips.

Nemato-da Thripinema dilaporkan sebagai genus yang menjadi parasit pada berbagai trips

yang menjadi hama pada berbagai jenis tanaman (Khuong et al. 2003). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Arthurs dan Heinz (2002), nematoda

Thripinema nicklewoodi ditemukan sebagai musuh alami yang dominan

mengin-feksi F. occidentalis yang terdapat pada kuncup bunga tanaman anyelir, krisan, dan mawar di California.

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi cendawan Entomophthorales dan nematoda yang menginfeksi trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias dan mengetahui tingkat infeksi Entomophthora-les pada trips dan kutudaun tersebut di lapangan.

Manfaat penelitian

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Mawar

Mawar adalah tanaman dari kelas Dicotyledonae dengan ordo Rosanales, famili Rosaceae dan memiliki genus Rosa. Tanaman mawar disebut sebagai

Queen Of Flowers” karena kecantikan bentuknya, serta dapat bermanfaat

seba-gai obat dan essens parfum dan minuman. Tanaman mawar mempunyai banyak varietas dengan bentuk, ukuran dan warna bunga beragam (Rimando 2001). Tanaman mawar sering dijadikan tanaman hias pot maupun tanaman hias di taman atau halaman terbuka, bunga potong dan dekorasi ruangan.

Mawar merupakan tanaman yang memperhatikan beberapa aspek dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Iklim merupakan salah satu faktor yang ha-rus diperhatikan. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan mawar berkisar an-tara 1500 sampai 3000 mm/tahun, intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan se-kitar 5 sampai 6 jam per hari. Tanaman mawar akan lebih sering berbunga dan memiliki batang yang kokoh di daerah yang cukup sinar matahari.

Mawar memiliki daya adaptasi yang cukup luas terhadap lingkungan tum-buhnya. Tanaman mawar dapat ditanam di daerah subtropis, maupun di daerah tropis. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan mawar yaitu antara 18 dan 26 °C dengan kelembaban udara antara 70 dan 80 % (Rukmana 1995). Mawar me-miliki dua jenis pembungaan, yaitu mawar berbunga terus menerus sepanjang ta-hun (recurrent flowering) dan mawar yang tidak berbunga terus menerus (non

recurrent flowering) (Darliah 1995). Mawar termasuk jenis bunga sempurna

de-ngan benang sari dan putik terdapat pada dasar bunga. Bunga mawar ada yang tersusun tunggal dan ada yang tersusun menyerupai payung. Berdasarkan mah-kota bunga, mawar dibedakan atas mawar berbunga tunggal, berbunga semi ganda dan berbunga ganda (Darliah 1995).

Tanaman Krisan

(17)

Asteraceae, dengan genus Chrysanthemum (Rimando 2001). Chrysanthemum da-lam bahasa Yunani berasal dari kata Chrysos yang berarti emas, dan anthemon

yang berarti bunga. Spesies alami krisan sebagian besar berasal dari daratan Asia Timur. Budidaya krisan pertama dilakukan di China 3000 tahun SM. Seorang Botanis Swedia, Karl Linnaeus pada tahun 1753 mengintroduksi krisan ke negara-negara barat (Djatnika et al. 2008).

Krisan merupakan bunga potong komersial yang mudah dibudidayakan dan dikembangakan, dapat berbunga sesuai jadwal panen yang ditentukan, serta memiliki masa hidup yang paling panjang dibandingkan bunga potong lain. Da-erah sentra produsen krisan di Indonesia, antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), dan Brastagi (Sumatera Utara) (Djatnika et al. 2008).

Spesies dalam genus Chrysanthemum yang paling popular adalah C.

indicum dan C. morifolium yang telah dihibridisasikan menjadi Dendrathema

grandiflora. Tanaman krisan di Indonesia mulai dikomersialkan dan

dikembang-kan pada awal 1990. Di tanah air, tanaman ini banyak ditanam lebih dari 600 m dpl. Suhu udara terbaik yang diperlukan untuk tanaman krisan di daerah tropis se-perti di Indonesia adalah antara 20 dan 26 °C. Beberapa varietas krisan yang umum di pasaran, yaitu C. morifolium, C. leucanthemum, C. sperbum, C.

frutescens, dan C. indicum (Djatnika et al. 2008).

(18)

Trips

Trips merupakan serangga dari ordo Thysanoptera yang memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil 1 sampai 2 mm, berwarna cokelat atau hitam (Pracaya 2007). Kata Thysanoptera berasal dari bahasa Yunani, yaitu thysanos (rumbai-rumbai) dan ptera (sayap). Trips merupakan serangga fitofag, mikofag, atau pre-dator yang memiliki kisaran habitat luas, pada daerah tropik, subtropik, dan daerah temperate (Bournier 1983 dalam Ananthakrishnan 1993). Morse dan Hoddle (2006) melaporkan bahwa spesies trips yang tersebar di seluruh dunia ber-jumlah ± 8000 spesies dan lebih dari 5500 spesies telah dideskripsikan.

Serangga ordo Thysanoptera ini dibagi menjadi 2 subordo, yaitu subordo Terebrantia dan subordo Tubulifera. Subordo Terebrantia terdiri dari 7 famili, sedangkan subordo Tubulifera hanya terdiri dari 1 famili (Mound dan Kibby 1998). Famili yang termasuk dalam subbordo Terebrantia yaitu, Merothripidaae, Aeolothripidae, Fauriellidae, Adiheterothripidae, Heterothripidae, Thripidae, dan Uzelothripidae. Famili Phaleothripidae merupakan satu-satunya famili dalam sub-ordo Tubulifera (Mound dan Kibby 1998).

Karakteristik Trips dan Gejala Serangan

Trips mengalami metamorfosis paurometabola, namun memliki fase ber-pupa seperti metamorfosis holometabola. Siklus hidup diawali oleh telur, 2 instar larva yang aktif makan, kemudian 2 atau 3 instar serangga yang tidak aktif makan (prapupa dan 1 atau 2 instar berpupa), dan terakhir imago (dewasa) (Mound dan Kibby 1998). Trips dapat berkembangbiak secara partenogensis maupun melalui pembuahan (Indiati 2004). Trips betina dihasilkan dari telur yang didahului pro-ses pembuahan, sementara trips jantan tidak dihasilkan dari propro-ses pembuahan. Telur trips diletakan secara berkelompok dalam jumlah yang besar. Keberadaan telur trips dapat diketahui jika di tempat itu terdapat bekas tusukan trips atau di sekitarnya terdapat pembengkakan jaringan (Lewis 1973).

(19)

tahap setelah trips mengalami ganti kulit dari instar kedua, dimana mulai ter-bentuknya embelan sayap dan gerak trips mulai tidak aktif. Pada fase pupa em-belan sayap akan semakin terbentuk sempurna, tetapi bulu sayap yang berupa rumbai-rumbai belum terbentuk dan warna trips menjadi cokelat muda (Lewis 1973). Imago trips muncul setelah pupa dan ditandai dengan berkembangnya or-gan secara sempurna. Pada kondisi optimum, trips memerlukan waktu sekitar 15 hari dalam 1 siklus hidupnya dan serangga dewasa dapat hidup selama 20 hari dengan menghasilkan telur sebanyak 40 sampai 50 butir (Lewis 1973).

Tanaman yang terserang berat oleh trips, pada daunnya akan memperlihat-kan bercak warna putih, kuncup serta tunas amemperlihat-kan menimbulmemperlihat-kan gejala menggu-lung. Gejala yang timbul pada bagian bunga berupa bercak cokelat atau keperak-an. Hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bagian kuncup yang terserang dapat kerdil dan akhirnya mati. Kerusakan secara tidak langsung yang dapat ditimbulkan oleh trips adalah menjadi vektor pada penyakit yang dise-babkan oleh virus. Trips sebagai vektor dapat menyedise-babkan tanaman inang me-nguning dan mati. Udara yang kering akan memperparah serangan trips, sehingga tanaman lebih cepat kehilangan kelembabannya (Lewis 1997).

Trips menjadi salah satu hama penting, terutama jika menyerang tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti tanaman hias, hortikultura, tanaman buah dan sayuran (Mound dan Kibby 1998). Beberapa spesies trips yang dilaporkan Siagi-an (2012) menyerSiagi-ang tSiagi-anamSiagi-an mawar di TamSiagi-an Bunga NusSiagi-antara adalah Thrips parvispinus, Frankliniella intonsa, Thrips palmi, Scirtothrips dorsalis,

Microcephalothrips abdominalis, Megalurothrips usitatus, dan 2 spesies lainnya

yang belum diketahui.

(20)

Kutudaun

Kutudaun tergolong dalam ordo Hemiptera, superfamili Aphidoidea, dan famili Aphididae. Kata Aphididae berasal dari bahasa Yunani yang berarti meng-hisap cairan, hal ini sesuai dengan kebiasaan hama yang mengmeng-hisap cairan tanam-an untuk maktanam-antanam-annya. Perkembtanam-angbiaktanam-an kutudaun umumnya terjadi secara par-tenogenesis. Telur kutudaun akan menetas di dalam tubuh kutudaun betina (ovo-vivipar). Kutudaun juga dapat berkembangbiak secara seksual, dimana ketu-runan yang dihasilkan membentuk jantan dan betina dengan telur yang menetas di luar tubuh (ovipar) (Pracaya 2007).

Macrosiphum rosaae merupakan kutudaun yang sebagian besar

menye-rang tanaman mawar di Balithi (Djatnika 2012 Februari 27, komunikasi pribadi).

M. rosae memiliki tubuh yang kecil dengan panjang ± 0.6 mm dan berwarna

hi-jau. Hama ini umumnya menyerang bagian pucuk atau daun-daun muda dan se-ring juga ditemukan pada tangkai bunga (Lukito 2007).

Macrosiphoniella sanborni adalah kutudaun yang banyak ditemukan

me-nyerang tanaman krisan. Kutu ini berwarna merah bata sampai kehitaman de-ngan tungkai dan antena yang panjang. Macrosiphoniella sanborni menghisap ca-iran tanaman, sehingga menyebabkan layu pada tanaman atau bunga krisan. Se-rangan kutu daun tersebut dapat menurunkan kualitas bunga, bahkan seSe-rangan yang berat dapat menyebabkan tanaman gagal berbunga (Maryam 1987).

Karakteristik Kutudaun dan Gejala Serangan

Perkembangan kutudaun di daerah tropis sangat subur, terutama pada awal musim kemarau. Kutudaun memiliki metamorfosis paurometabola (Pracaya 2007). Nimfa instar I memiliki panjang berkisar antara 0.6 sampai 0.7 mm, nimfa instar II 0.8 sampai 0.9 mm dan nimfa instar III 0.9 sampai 1.2 mm. Nimfa instar I sampai instar III memiliki warna yang lebih muda dibandingkan dengan kutuda-un dewasa (Pracaya 2007).

(21)

sanborni memiliki femur dan tibia berwarna gelap panjang, memiliki 6 ruas ante-na (Maryam 1987).

Kutudaun merusak tanaman dengan cara menghisap cairan, sehingga ta-naman menjadi layu bahkan terjadi malformasi dan kualitas bunga menurun atau dapat menyebabkan tanaman gagal berbunga. Kutudaun banyak ditemukan pada pucuk tanaman dan menyebabkan tertutupnya daun-daun oleh embun madu. Hal tersebut dapat memicu timbulnya embun jelaga (Pracaya 2007).

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Perkembangan Trips dan Kutudaun

Temperatur, diapause, cuaca, ketersediaan makanan, dan pemuliaan ta-naman terus sepanjang tahun mempengaruhi laju perkembangan generasi serang-ga setiap tahun (Lewis 1973). Trips, kutudaun dan hampir seluruh serangserang-ga me-rupakan polikiotermal, karena suhu tubuhnya bervariasi (dapat berubah sewaktu-waktu) menyesuaikan suhu lingkungannya. Kemampuan tersebut menjadi suatu kelebihan dalam mempengaruhi berbagai aktivitas serangga, seperti tumbuh dan berkembang serta berbagai aktivitas lainnya yang dipengaruhi oleh temperatur (Speight et al. 1999). Panjang hari (fotoperiod) selama 24 jam menjadi salah satu faktor iklim yang mempengaruhi perkembangan serangga secara tidak langsung, akan tetapi faktor tersebut lebih banyak berpengaruh di daerah yang mempunyai iklim musiman. Fotoperiod yang sesuai dapat mempengaruhi serangga dalam menentukan waktu efisien yang menguntungkan untuk tumbuh dan berkembang (Lewis 1973).

(22)

yang relatif kecil memungkinkan untuk berpindah dari 1 tanaman ke tanaman yang lain dengan bantuan angin. Perpindahan yang terjadi tidak hanya perpindahan lokal, tapi juga dapat terjadi migrasi yang sangat jauh hingga ribuan mil (Lewis 1973).

Pengendalian Hama Trips dan Kutudaun

Pengendalian dengan Kultur Teknis dan Kimiawi

Pengendalian dengan kultur teknis dan kimiawi yang dapat dilakukan, ya-itu eradikasi (pemusnahan) langsung terhadap hama, media pembawanya atau tempat persembunyiannya, pemusnahan atau pembersihan gulma yang menjadi tempat persembunyian atau sebagai inang alternatif, penggunaan varietas resisten dan perlindungan (proteksi) tanaman dapat menggunakan pestisida/insektisida yang telah terdaftar penggunaannya (Suhardi 2007).

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan membuang sisa pertanaman yang berada di lapangan untuk menghindari ketersediaan habitat bagi trips dan kutudaun. Penggunaan mulsa plastik perak efektif untuk mengendalikan trips pada beberapa jenis tanaman, karena dapat meningkatkan suhu mikro tanah dan tanaman (Pracaya 2007).

(23)

Pengendalian Hayati

Penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama dilapangan mengalami berbagai dilema terkait dengan efeknya terhadap organisme dan lingkungan sekitar, karena dewasa ini masyarakat menginginkan produk tanaman yang ber-kualitas, ekonomis, serta aman untuk dikonsumsi. Steinkraus dan Slaymaker (1991) melaporkan bahwa penggunaan pestisida dapat mengurangi populasi ku-tudaun, demikian juga mempengaruhi penyebaran dan perkembangan epizootik. Penggunaan agens hayati dapat diterapkan sebagai pengendalian hama dan pe-nyakit dalam aplikasi budidaya tanaman yang sehat (Karlina 2011).

Pengendalian hayati terhadap trips yang telah dilaporkan yaitu mengguna-kan predator, parasitoid dan patogen (Morse dan Hoddle2006). Tungau Phytosei-dae (Neoseiulus spp.) adalah predator yang umum digunakan untuk mengendali-kan trips. Pengendalian menggunamengendali-kan Parasitoid yang menyerang telur trips (mi-salnya, Mymaridae: Megaphragma spp.) dan parasitoid larva trips (Eulophidae:

Ceranisus spp.) (Morse dan Hoddle 2006). Pengendalian hayati pada trips yang

banyak diteliti saati ini ialah menggunakan cendawan entomopatogen (Butt dan Brownbridge 1997). Cendawan dari kelas Zygomycetes, Ascomycetes, Fungi

Imperfecti, dan Basidiomycetes dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada

pertanaman (Whipps dan Lumsden 1988). Cendawan entomopatogen menyebab-kan kematian pada hama dan dapat mengendalimenyebab-kan populasinya di lapangan (mi-salnya Neozygitaceae: Neozygites spp. and Hypocreaceae: Verticillium spp.) (Morse dan Hoddle2006). Cendawan entomopatogen yang telah dilaporkan sam-pai saat ini ada sekitar 35 genus dengan lebih dari 400 spesies. Sekitar 1800 aso-siasi antara cendawan dan serangga yang berbeda telah didokumentasikan (Jankevica 2004).

(24)

da-lam ordo Entomophthorales dan 2 spesies lainnnya dari ordo Hyphomycetes. Cendawan entomopatogen pada kutudaun yang termasuk dalam ordo Entomophthorales, yaitu Pandora neoaphidis, Conidiobolus thromboides, C.

obscurus, C. coronatus, Entomophthora planchoniana, dan Neozygites fresenii.

Dua spesies Hyphomycetes yang dilaporkan sebagai agens hayati kutuda-un yaitu, Beauveria bassiana dan Verticillium lecanii. Cendawan P. neoaphidis,

C. thromboides, C. obscurus, dan E. planchoniana dianggap sebagai laporan

per-tama dari Afrika Selatan mengenai cendawan entomopatogen yang menginfeksi kutudaun. Hasil survei tersebut dicatat selama dua musim panas dan dua musim dingin di Afrika Selatan (Hatting et al. 1999).

Cendawan Entomophthorales

Taksonomi Cendawan Entomophtorales

Cendawan entomopatogen dari ordo Entomophthorales (Zygomycetes) merupakan salah satu cendawan yang diketahui efektif dalam mengendalikan se-rangga hama. Cendawan Entomophthorales memiliki 5 famili, yaitu Ancylista-ceae, CompletoriaAncylista-ceae, EntomophthoraAncylista-ceae, Meristacraceae dan Neozygitaceae (Keller dan Petrini 2005). Famili yang menjadi cendawan patogenik pada arthro-poda diketahui berasal dari famili Ancylistaceae (genus Conidiobolus), Ento-mophthoracae (12 genus) dan 2 genus dari Neozygitaceae. Cendawan entomopa-togen dari famili Meristacraceae hanya dari spesies Meristacrum mikoi yang me-rupakan patogen larva famili Tabanidae (Diptera) (Keller dan Wegensteiner 2007).

Cendawan Entomophthorales yang telah teridentifikasi sebanyak 223 spe-sies pada Januari 2006. Spespe-sies yang teridentifikasi tersebut, 195 diantaranya me-rupakan famili Entomophthoraceae, 17 spesies termasuk kedalam famili Neozy-gitaceae dan 10 spesies termasuk spesies Ancylistaceae. Genus Conidiobolus dari famili Ancylistaceae merupakan cendawan saprofitik (Keller dan Wegensteiner 2007).

(25)

patogenik pada Arachnida, 7 spesies ditemukan pada Acari dan 2 spesies pada Phalangiidae. Sebagian besar spesies (34% atau sekitar 68 spesies) ditemukan pada Diptera dan 23% pada Homoptera, serta kurang dari 10% ditemukan pada inang lainnya, seperti Trichoptera, Collembola, Dictyoptera (Blattaria) dan Rhap-hidoptera (Keller dan Wegensteiner 2007).

Biologi dan Ekologi Cendawan Entomophthorales

Dewasa ini, minat terhadap Entomophthorales semakin meningkat teruta-ma karena berpotensial untuk mengendalikan hateruta-ma. Cendawan Entomophthora-les memiliki bentuk yang beragam dengan struktur yang jelas. Struktur yang da-pat ditemukan yaitu, protoplas, badan hifa (hyphal bodies), spora istirahat (resting

spores), konidiofor, konidia primer, konidia sekunder, sistidia dan rhizoid.

Struk-tur tersebut yang sebagian besar dipelajari pada siklus hidup dan perilaku bagian inti cendawan (Keller dan Wegensteiner 2007).

Entomophthorales pada dasarnya memiliki siklus aseksual (konidia) dan siklus seksual (resting spore). Siklus aseksual melibatkan lebih banyak struktur daripada siklus seksual, sehingga hal tersebut menjadi alasan mengapa Ento-mophthorales diklasifikasikan berdasarkan siklus aseksual. Siklus aseksual me-mungkinkan cendawan Entomophthorales berkembang dan menyebar pada popu-lasi inangnya, sementara itu resting spores memungkinkan cendawan untuk berta-han pada kondisi yang buruk, seperti musim dingin, kekeringan atau tidak terse-dianya inang (Keller dan Wegensteiner 2007).

Hyphal bodies merupakan fase perkembangan vegetatif yang hampir

dite-mukan pada semua spesies cendawan Entomophthorales. Hyphal bodies berkem-bang dari protoplas dan merupakan proses awal yang terjadi pada inang yang ter-infeksi. Dinding sel akan mengekspresikan hyphal bodies dalam berbagai bentuk yang spesifik. Bentuk hyphal bodies yang spesifik tersebut menjadi ciri penting dalam menggolongkan cendawan Entomophthorales (Keller 2007).

(26)

per-kembangannya akan membentuk tabung kecambah untuk menembus kutikula se-rangga inang, kemudian membentuk konidia primer (primary conidia) dari bagian ujung konidiofor. Konidia primer yang dihasilkan pada konidiofor tidak berca-bang memiliki 2 atau lebih nukleus, sedangkan yang dihasilkan oleh konidiofor bercabang memiliki 1 nukleus. Bentuk dan ukuran Konidia primer merupakan kriteria penting dalam identifikasi jenis cendawan Entomophthorales (Keller 1987).

Konidia sekunder merupakan struktur yang infeksius dari cendawan Ento-mophthorales. Konidia ini dihasilkan dari tabung kapiler langsing yang dibentuk pada konidia primer. Apabila terjadi kontak antara konidia dan serangga inang, maka konidia akan membentuk tabung kecambah (germ tube). Selanjutnya, cen-dawan akan melakukan invasi pada haemosol serangga, sehingga terjadi infeksi (Keller 1987). Ben-Ze’ev dan Kenneth (1982 di dalam Keller 2007) mengelom -pokkan secondary conidia (konida sekunder) ke dalam lima tipe. Tipe I,

secondary conidia dihasilkan satu per satu kemudian dikeluarkan. Tipe ini dibagi

lagi menjadi dua, yaitu Tipe Ia mempunyai bentuk yang sama dengan konidia pri-mer. Tipe ini merupakan tipe normal yang dimiliki hampir semua jenis cendawan Entomophthorales. Tipe Ib mempunyai bentuk yang berbeda dengan konidia pri-mer. Tipe Ib ini terdapat pada Erynia, Furia, Pandora, dan beberapa jenis

Entomophaga (Keller & Eilenberg 1993 di dalam Keller 2007). Secondary

conidia pada Tipe II disebut capilliconidia. Capilliconidia dihasilkan secara satu

per satu dari tabung kapiler langsing yang muncul pada konidia primer dan dile-paskan secara pasif. Tipe ini ditemukan pada Zoophthora, Neozygites,

Orthomyces, dan Eryniopsis lampyridarum.

Secondary conidia Tipe III disebut dengan nama microconidia. Bentuk

microconidia menyerupai konidia primer, tetapi lebih kecil. Tipe ini banyak

dite-mukan pada beberapa jenis Conidiobolus. Tipe IV disebut dengan nama

microspores. Tipe ini tidak ditemukan pada jenis cendawan entomopatogen. Tipe

V dikenal dengan istilah aquatic secondary conidia, tetra-radiate propagules,

tetra-radiate conidia, branched, stellate atau coronate conidia. Konidia sekunder

(27)

Spora istirahat (resting spores)merupakan struktur bertahan cendawan En-tomophthorales dengan dinding sel ganda dan berukuran tebal. Resting spores

berfungsi untuk bertahan hidup pada kondisi yang kurang menguntungkan.

Resting spores dibentuk secara aseksual dari suatu hyphal bodies (azygospores)

atau secara seksual dari konjugasi dua hyphal bodies (zygospores). Sebagian be-sar bentuk resting spores adalah bulat dan hialin. Beberapa resting spores ada yang dikelilingi oleh episporium. Resting spores secara spesifik hanya dapat dite-mukan pada genus Neozygites. Resting spores pada Neozygites berwarna coklat gelap sampai hitam, berbentuk bola atau elips, berstruktur halus, dan mempunyai dua inti (Keller 2007).

Cendawan Entomophtorales pada Trips

Trips yang terinfeksi cendawan entomopatogen akan tetap berada pada da-un dan dapat diamati dari adanya debu keputihan pada permukaan tubuh thrips (Montserrat et al. 1997). Pengamatan N. parvispora yang menginfeksi trips terli-hat adanya konidia primer berukuran (10.8 x 9.0 sampai 12.6 x 10.8) μm yang berbentuk bulat serta memiliki papila. Konidia sekunder memiliki bentuk dan ukuran yang sama dengan konidia primer. Kapillikonidia berbentuk seperti

almond dan berukuran (10.8 x 7.5 sampai 16.2 x 9.9) μm (Montserrat etal. 1997).

N. cucumeriformis juga merupakan spesies Neozygites yang diketahui

mengin-feksi serangga dari ordo Thysanoptera (Keller 2007).

(28)

Famili Neozygitaceae secara umum memiliki hyphal bodies berbentuk bulatatau batang dengan atau tanpa dinding sel. Hyphal bodies memiliki nukleus dengan ukuran 3 sampai 5 μm. Konidiofornya berbentuk tidak bercabang.

Primary conidia tidak memiliki membran luar dan memencar secara paksa dengan

papilar eversion. Ada 2 tipe konidia sekunder yang dimiliki Cendawan

Ento-mophthorales dari famili Neozygitaceae, yaitu berbentuk seperti konidia primer dan berbentuk kapillikonidia. Resting spores biasanya zygospora yang terbentuk dari konjugasi 2 hyphal bodies dengan 1 nukleus pada masing-masing gametangi-umnya. Resting spores berbentuk bulat atau lonjong, berwarna coklat sampai ke-hitaman, kadang-kadang ditemukan juga yang hialin dengan episporium datar (rata) atau memiliki ornamen (Keller 2007).

Cendawan Entomophtorales pada Kutudaun

Kutudaun Nasonovia ribisnigri (Hemiptera: Aphididae) pada tanaman se-lada di Argentina dilaporkan telah terinfeksi oleh cendawan Entomophthorales,

Pandora neoaphidis (Scorsetti et al. 2010). Kutudaun yang telah dideteksi

ter-infeksi oleh P. neoaphidis berjumlah 2171 (12%) dari total 17 058 sampel. Kutu-daun tersebut menyerang pertanaman selama pengambilan sampel, tetapi serangan kutudaun yang terjadi pada awal periode pengambilan sampel lebih sedikit. Kutu-daun yang mati karena terinfeksi P. neoaphidis memiliki ciri yang khas, yaitu tu-buh berwarna putih dan dilekatkan pada permukaan daun oleh rhizoid cendawan. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan pada jumlah kepadatan infeksi kutudaun di bagian pinggir lapangan dengan di bagian tengah lapangan (Scorsetti et al. 2010).

Kutudaun pada kapas, Aphis gossypii merupakan hama penting pada kapas (Gossypium hirsutum L.) di Amerika pada tahun 1991 dan telah dido-kumentasikan sebagai hama pada kapas di banyak wilayah di dunia. Kutudaun menjadi hama yang sulit dan mahal untuk dikendalikan karena perkembangan resistensinya terhadap insektisida (Steinkraus dan Slaymaker 1991). Steinkraus et al. (1991) mengidentifikasi epizootik yang disebabkan oleh Neozygites fresenii

(29)

ento-mopatogen sebagai pengendali biologi terbatas pada kondisi lingkungan yang spe-sifik, terutama pada kelembaban yang tinggi. N. fresenii dilaporkan menyebabkan epizootik selama musim panas di Arkansas pada kapas yang tidak diirigasi dan tidak terdapat hujan sejak sebulan sebelum pengamatan. Hal ini menjadi penting untuk memahami, mengapa N. fresenii dapat menyebabkan epizootik selama musim kering, ketika banyak cendawan lainnya pada Entomophthorales memerlu-kan lingkungan yang sejuk dan kondisi basah (Steinkraus dan Slaymaker 1991).

Nematoda Entomopatogen

Nematoda (Nema: benang, Oid: seperti) merupakan binatang yang bentuk-nya seperti benang. Nematoda juga sering disebut elworm (cacing), threadworm

(cacing berbentuk seperti benang), atau roundworm (cacing bulat). Berdasarkan habitatnya, nematoda terdiri atas nematoda parasit tanaman (± 10% dari total nematoda yang ada di dunia), parasit pada manusia dan vertebrata (± 15%), nema-toda yang hidup di laut (± 50%), dan yang lain (pemakan bateri dan jamur, serta predator dan omnivora) sekitar 25% (Mulyadi 2009).

(30)

Allanto-nematidae merupakan nematoda parasit serangga yang memiliki nilai penting lebih tinggi dari famili lainnya.

Famili Allantonematidae memiliki siklus hidup bebas yang sangat pendek. Nematoda betina akan menginfeksi inang setelah kawin menggunakan stiletnya yang kuat dengan panjang stilet sekitar 15 μm. Nematoda betina yang telah memarasit serangga akan bertubuh gemuk, berbentuk bulat atau oval menyerupai gelendong atau kantung. Rongga tubuh nematoda betina sebagian besar diisi oleh organ reproduksi (Khuong et al. 2003).

Ada 2 subfamili yang termasuk kedalam famili Allantonematidae, yaitu Allantonematinae dan Contortylenchinae. Genus nematoda yang terdapat pada fa-mili Allantonematidae adalah Bradynema, Thripinema, Howardula,

Allan-tonema, Metaparasitylenchus, Protylenchus, Sulphuretylenchus,

Parasity-lenchoides, Proparasitylenchus, Neoparasitylenchus, Spilotylenchus, Bovienema,

Contortylenchus, dan Aphelenchulus. Genus Thripinema dilaporkan sebagai

ge-nus yang menjadi parasit pada berbagai trips yang menjadi hama pada berbagai jenis tanaman (Khuong et al. 2003).

Nematoda Thripinema spp.

Arthurs dan Heinz (2006) melaporkan bahwa nematoda parasit

Thripinema nicklewoodi merupakan agens hayati western flowers thrips (WFT)

yang menyerang tanaman krisan. Frankliniella occidentalis (Thysanoptera: Thri-pidae) pada 2002 menjadi hama penting pada berbagai tanaman hias di California. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Arthurs dan Heinz (2002) di lapangan terhadap tanaman anyelir, krisan, dan mawar ditemukan Thripinema nicklewoodi

sebagai musuh alami dominan yang menginfeksi F. occidentalis yang terdapat pada kuncup bunga. Nematoda Thripinema nicklewoodi (Tylenchida: Allantone-matidae) secara alami menginfeksi Western Flowers Thrips (Frankliniella

occidentalis). Asosiasi nematoda ini terhadap trips tidak menyebabkan kematian,

tetapi pada serangga betina yang diserang, dapat menyebabkan penurunan jumlah embrio bahkan menyebabkan kemandulan.

(31)

melimpah di lapangan, karena di temukan lebih dari 50% pada sampel imago betina WFT dan mewakili 88.3% dari seluruh musuh alami trips yang telah di-dokumentasikan.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa penularan T. nicklewoodi yang berlangsung selama 9 generasi Phaseolus vulgaris L., dapat menginfeksi sampai 83% imago trips. Pupa betina F. occidentalis dilaporkan paling banyak terinfeksi oleh T.nicklewoodi (54%) dan imago jantan paling sedikit terinfeksi oleh T.

nicklewoodi (4.4%). Laporan tersebut merupakan laporan pertama T. nicklewoodi

yang dapat menginfeksi trips jantan (Arthurs et al. 2003). Faktor yang mendu-kung keberhasilan nematoda ini adalah mampu menjangkau inang yang berada pada bagian tanaman yang sering menjadi penghalang untuk masuknya musuh alami Arthropoda. Nematoda T. nicklewoodi memiliki perilaku samar dan tingkat kompatibilitas yang tinggi dengan insektisida yang diterapkan untuk hama lain pada tanaman hias (Mason dan Heinz 2002).

(32)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Pengambilan sampel trips dan kutudaun pada tanaman mawar dan krisan dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Identifikasi cendawan Entomophthorales yang menginfeksi trips dan kutudaun dilakukan di Laboratorium Patologi Serang-ga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2012 sampai dengan bulan Ju-ni 2012.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah larutan

lactophenol-cotton blue, alkohol 70%, dan pewarna kuku bening. Alat yang digunakan adalah

pinset, kuas, pipet tetes, baki putih, tisu, kertas label, preparat slide beserta kaca penutup, botol bervolume 30 ml, dan mikroskop cahaya.

Pengambilan Sampel Trips dan Pengamatan Populasi Trips

Tanaman hias yang digunakan pada penelitian ini adalah mawar (Rosa

(33)

Pengambilan Sampel Kutudaun

Sampel kutudaun diambil dari 3 blok pada masing-masing pertanaman ma-war dan krisan, kemudian kutudaun diambil pada tanaman yang terserang dalam 3 blok tersebut (minimal 100 kutudaun per blok). Kutudaun yang diperoleh pada tiap blok dimasukan ke botol bervolume 30 ml yang telah berisi alkohol 70%. Pada awalnya eksplorasi cendawan pada penelitian ini hanya dilakukan pada trips, tetapi saat pengambilan sampel trips pertama di lapangan, ditemukan juga adanya kutudaun pada tanaman mawar dan krisan. Pengambilan sampel kutudaun dilaku-kan sebanyak 4 kali dengan waktu pengambilan sampel seminggu sekali. Sampel kutudaun pada tanaman krisan ditemukan pada pengamatan 1 sampai 4, sedang-kan kutudaun pada tanaman mawar hanya ditemusedang-kan pada pengamatan 1 dan 2. Identifikasi lebih lanjut terhadap kutudaun hanya dapat dilakukan dari sampel yang diperoleh pada pengamatan 1 dan 2.

Pembuatan Preparat Trips dan Kutudaun

Sampel trips dan kutu daun yang telah diperoleh dari lapangan, di bawa ke Labaratorium Patologi Serangga untuk penelitian lebih lanjut. Sampel trips dan kutudaun dibuat preparat slide dengan jumlah 10 individu sejenis per preparat yang ditata secara diagonal. Pembuatan preparat dilakukan menggunakan

lactophenol cotton blue. Trips atau kutudaun yang telah ditata di atas kaca

prepa-rat ditekan sedikit bagian abdomen agar keluar cairan tubuhnya, sehingga mem-permudah pengamatan. Preparat selanjutnya ditutup dengan kaca penutup, ke-mudian preparat diberi label yang berisi nomor tanaman sampel, lokasi pengam-bilan sampel, dan tanggal pengampengam-bilan sampel. Sehari setelah preparat trips atau kutudaun dibuat, pewarna kuku bening dioleskan pada bagian pinggir kaca penu-tup agar preparat tidak mudah rusak.

Identifikasi Stadia Cendawan Entomophthorales

(34)

Steinkraus et al. (1995) menjadi 6, yaitu serangga sehat, terinfeksi primary

conidia dan conidiophore, secondary conidia, resting spores, hypal bodies, dan

saprophytic fungi.

Perhitungan Tingkat Infeksi Cendawan Entomophthorales

Tingkat infeksi cendawan entomophthorales pada trips dan kutu daun (%) =

∑trips atau kutudaun yang terinfeksi

∑ populasi trips atau kutudaun pada tanaman sampel

Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Data kelimpahan populasi trips, tingkat infeksi cendawan Entomophthora-les pada trips, dan tingkat infeksi cendawan EntomophthoraEntomophthora-les pada kutu daun dianalisis dengan uji-t pada taraf nyata 5% menggunakan program minitab versi 14.

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Umum Lokasi

Balai Penelitian Tanaman Hias merupakan unit pelaksana teknis bidang penelitian dan pengembangan tanaman hias, di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian. Balai penelitian tanaman hias teletak di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan memiliki luas wilayah ± 106 060 m2. Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) terletak pada ketinggian ± 1 100 m dpl. Balithi yang terletak di Kabupaten Cianjur terdapat di dua lokasi, yaitu Kebun percobaan (KP) Segunung dan KP Cipanas. KP Segunung terletak di 06°.45.20 LS dan 107°.02.53 BT, sedangkan KP Cipanas terletak di 06°.43.58 LS dan 107°.02.17 BT.

Temperatur rata-rata di daerah Pacet, pada bulan Maret 2012 yaitu 20.7 °C dan pada bulan April 2012 yaitu 20.9 °C. Curah hujan pada bulan Maret 2012 di daerah pacet sebesar 216.0 mm dan pada bulan April 2012 yaitu 479.0 mm. Data tersebut diperoleh dari Stasiun Klimatologi Dramaga, Bogor.

Gambaran Umum Tanaman Mawar dan Krisan di Balithi

(36)

pengolahan media tanam, penanaman, penyulaman, penyiangan, pemupukan, pe-nyiraman, pemangkasan, serta pengendalian hama dan penyakit.

Tanah untuk lahan mawar diolah sedalam ± 30 cm dengan jarak tanam (20 x 30) cm. Perbanyakan tanaman mawar dilakukan dengan teknik okulasi atau stek. Pemupukan yang diaplikasikan terdiri atas pupuk dasar dan pupuk susulan. Pupuk dasar yang digunakan yaitu pupuk kandang, kompos bambu, dan sekam mentah dengan perbandingan 2:1:1. Pupuk susulan diberikan 2 minggu sekali, yaitu berupa pupuk kandang. Penyiraman tanaman mawar dilakukan sekali dalam sehari atau tergantung kondisi cuaca dan lingkungan. Kegiatan pemangkasan yang dilakukan terdiri dari 3 jenis, yaitu pemangkasan ringan, sedang, dan berat.

Pemangkasan ringan (30%) dilakukan dengan membuang tunas kecil dari tanaman mawar. Pemangkasan sedang (50%) dilakukan dengan memangkas cabang-cabang atau pucuk. Pemangkasan ringan dan sedang ini bertujuan untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru yang produktif. Pemangkasan berat (75 sampai 80%) dilakukan pada batang yang sudah tua dengan memotong batang sampai 20 cm dari atas tanah untuk meremajakan kembali tanaman dan mem-buang bagian tanaman yang terserang penyakit dan sulit ditanggulangi dengan pestisida.

Tanaman krisan yang dibudidayakan di Balithi memiliki beberapa varietas, yaitu Puspita Nusantara, Puspita Kencana, Sakulanta, Dewi Ratih, Fuji, dan Snow

White. Varietas krisan yang diamati pada penelitian ini hanya varietas Snow

White. Budidaya tanaman krisan yang dilakukan di Balithi yaitu, pembibitan,

pengolahan media tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pengendalian hama penyakit. Teknik pembibitan dilakukan di bak pembibitan dan penyemaian kultur jaringan. Jarak tanam indukan atau perbanyakan dengan kultur jaringan yaitu ± (2x3) cm. Bak yang digunakan untuk pembibitan memilliki ketebalan ± 7 sampai 10 cm (populasi bibit dalam 1 bak ± 62 tanaman). Bibit yang berasal dari kultur jaringan dapat dipindahkan ke lapangan pada 3 sampai 4 minggu setelah tanam, sedangkan bibit yang berasal dari stek pucuk pada 10 sampai 11 hari setelah tanam sudah dapat dipindahkan ke lapangan.

(37)

bulan sekali). Pupuk lanjutan yang digunakan adalah pupuk urea 1.5 g/m2 dan KNO3 6 g/m2. Pemupukan lanjutan terakhir dilakukan pada saat tanaman berumur 8 minggu dengan menggunakan urea 1.5 g/m2, KNO3 6 g/m2, dan SP 36 sebanyak 6 g/m2. Penanaman krisan dilakukan dengan membuat jarak tanam terlebih dahulu sekitar (10 x 80) cm. Pemberian Furadan 3G dilakukan pada tiap lubang tanam sebanyak 5 sampai 10 butir/lubang untuk mencegah organisme pengganggu tanaman. Pemeliharaan tanaman krisan, meliputi pemberian jaring penegak tanaman, penyiraman, dan pemberian hari panjang. Faktor kelembaban perlu diperhatikan pada tanaman krisan, karena tanaman ini tidak tahan terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan sehari sekali atau melihat kondisi lingkungan pertanaman. Pemberian hari panjang sudah dimulai pada awal penanaman di la-pangan sampai tanaman mencapai tinggi standar untuk bunga potong yaitu 50 sampai 55 cm.

Pengamatan Populasi Trips

Kelimpahan populasi trips berdasarkan 8 kali pengamatan rata-rata lebih tinggi pada tanaman krisan daripada tanaman mawar, terutama pada tanggal 22 Maret 2012, 10 April 2012 dan 13 April 2012 (Tabel 1). Populasi trips yang berbeda nyata terjadi pada tanggal 10 April 2012, karena sehari sebelum amatan terjadi hujan lebat dan pada tanggal 13 April terjadi hujan pada saat peng-amatan. Curah hujan dapat mempengaruhi populasi trips, karena dapat membu-nuh larva dan menekan penyebaran trips (Lewis 1973). Hujan tidak mempe-ngaruhi populasi trips pada tanaman krisan. Kondisi pertanaman krisan di dalam rumah lindung yang tertutup dan tanaman mawar di rumah lindung yang terbuka diduga menjadi sebabnya (Gambar 2).

(38)

tersebut mempengaruhi ketersediaan inang dan makanan bagi trips, karena trips biasanya makan di bagian dalam kuncup bunga atau daun yang baru berkembang (Mound dan Kibby 1998).

Gambar 2 Kondisi rumah lindung pertanaman krisan di KP Segunung Balithi

Gambar 3 Kondisi pertanaman mawar di KP Segunung Balithi pada (a) awal Maret 2012 dan (b) pertengahan April 2012

Populasi trips di tanaman mawar dan krisan pada tanggal 16 April dan 19 April tidak berbeda nyata. Populasi trips pada tanaman mawar di KP Segunung lebih sedikit daripada populasi trips di KP Cipanas. Hal ini diduga karena penga-ruh pemberian pupuk susulan, berupa pupuk kandang setiap 2 minggu sekali pada tanaman mawar di KP Cipanas. Berdasarkan laporan Cloyd (2010) kondisi lahan yang mengandung nitrogen lebih banyak akan lebih disukai trips, karena mengan-dung banyak asam amino dan protein yang sangat dibutuhkan bagi trips betina. Produksi telur trips akan meningkat setelah trips betina dewasa makan tanaman yang mengandung banyak asam amino.

[image:38.595.101.514.29.842.2]
(39)

Tindakan pemanenan juga dapat mempengaruhi populasi trips di lapangan. Bunga mawar yang terdapat di Balithi tidak dipanen, karena tanaman mawar ter-sebut dibudidayakan sebagai hasil penelitian dan pemuliaan. Bunga krisan aktif diproduksi terutama saat ada permintaan dari suatu perusahaan atau menjelang hari besar, seperti memperingati kemerdekaan Indonesia dan hari kasih sayang. Tanaman krisan dipanen seminggu sekali atau lebih sesuai dengan permintaan pa-sar.

Populasi trips pada tanaman krisan menurun pada tanggal 5 April (Tabel 1). Hal tersebut dipengaruhi oleh kegiatan panen pada pengamatan sebelumnya dan aplikasi pestisida. Populasi trips mengalami penurunan dikarenakan banyak bunga yang telah dipanen, sehingga habitat dan makanan trips berkurang. Penga-ruh pemanenan juga terlihat pada 3 pengamatan terakhir (13 April, 16April, dan 19 April). Pengendalian hama yang dilakukan pada tanaman mawar dan krisan hanya pengendalian kimiawi menggunakan insektisida. Insektisida dengan bahan aktif yang sama secara rutin diaplikasikan seminggu sekali pada tanaman mawar dan krisan. Tanaman krisan yang akan dipanen tidak jarang diaplikasikan insekti-sida 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Hal ini dapat menyebabkan hama trips re-sisten terhadap insektisida yang diaplikasikan.

Gambar 4 Gejala serangan trips ketika mawar masih kuncup, berupa bercak kecokelatan dan mahkota bunga yang menggulung saat mekar

[image:39.595.269.394.484.650.2]
(40)

yang memiliki rata-rata populasi trips lebih tinggi, dengan bunga yang diamati se-luruhnya berwarna putih (Gambar 5). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang di-lakukan Siagian (2012) pada uji perangkap likat, trips lebih banyak terperangkap pada perangkap berwarna putih. Menurut Chu et al. (2006), warna biru dan putih lebih disukai F. intonsa dibandingkan dengan warna kuning.

Gambar 5 Bunga krisan di Balithi: (a) Trips pada bunga krisan, (b) gejala serangan trips pada bunga krisan

Cendawan Entomophthorales pada Trips

Eksplorasi cendawan Entomophthorales pada trips diamati dari 240 prepa-rat (2400 trips) yang terdiri dari: 120 prepaprepa-rat trips pada tanaman mawar dan 120 preparat trips lainnya pada tanaman krisan. Pengamatan cendawan yang meng-infeksi trips dibagi menjadi 6 kategori menurut klasifikasi yang dilaporkan Steinkraus et al. (1995), yaitu, secondary conidia (konidia sekunder), hyphal

bodies (badan hifa), primary conidia (konidia primer) dan conidiophore, resting

spores (spora istirahat), dan kategori saprophytic fungi (cendawan saprofit) serta

serangga sehat. Berdasarkan pengamatan preparat sampel trips pada kedua jenis tanaman tersebut, fase cendawan yang ditemukan adalah secondary conidia,

hyphal bodies, dan primary conidia.

Cendawan Entomophthorales yang banyak menginfeksi arthropoda kecil, terutama tungau, Collembola, trips, dan kutu daun adalah genus Neozygites (Ento-mophthorales: Neozygitaceae) (Keller 1997). Spesies cendawan Neozygites,

[image:40.595.232.421.206.374.2]
(41)
[image:41.595.244.378.230.413.2] [image:41.595.235.393.570.719.2]

menginfeksi trips (Butt et al. 2001). Penelitian yang dilakukan Montserrat et al. (1997) pada pertanaman mentimun di Spanyol, menemukan bangkai trips yang terinfeksi cendawan N. parvispora akan tetap berada pada daun dan dapat diamati dari adanya debu keputihan pada permukaan tubuh trips. Berdasarkan hasil peng-amatan, trips yang sehat tidak terdapat fase cendawan yang menginfeksi tubuhnya (Gambar 6).

Gambar 6 Trips sehat pada pengamatan

Hyphal bodies (badan hifa) merupakan fase cendawan Entomophthorales

yang paling banyak ditemukan pada sampel trips yang terinfeksi. Bentuk hyphal

bodies menjadi ciri penting dalam menggolongkan cendawan Entomophthorales.

(Keller 1997). Hyphal bodies yang ditemukan pada trips berbentuk bulat (Gam-bar 7) dan batang (Gam(Gam-bar 8).

(42)
[image:42.595.233.392.84.223.2]

Gambar 8 Hyphal bodies berbentuk batang pada abdomen trips

Identifikasi tipe dan bentuk kondia sekunder pada cendawan ordo Ento-mophthorales merupakan kriteria yang penting untuk mengklasifikasikan genus cendawan. Ada 2 tipe konidia sekunder yang biasanya terbentuk dari cendawan

Neozygites, yaitu tipe Ia dan tipe II. Hasil pengamatan terhadap konidia sekunder

yang menginfeksi trips di tanaman mawar dan krisan menunjukkan ciri konidia sekuder tipe II atau kapillikonidia (Gambar 9).

Gambar 9 Infeksi konidia sekunder pada beberapa bagian tubuh trips: (a) tungkai, (b) abdomen, (c) antena, (d) toraks, dan (e) sayap.

d

a c

[image:42.595.109.516.311.773.2]
(43)

Konidia sekunder dihasilkan satu-persatu dari tabung kapiler langsing yang muncul dari konidia primer, dan kapilikonidia dilepaskan secara pasif (Keller 1997).

Konidia primer ditemukan pada beberapa trips yang diamati. Konidia pri-mer berbentuk menyerupai pir dengan papila memotong pada satu sisinya (Gam-bar 10). Konidia primer terbentuk secara aktif dari bagian ujung konidiofor. Konidia primer (primary conidia) yang dihasilkan pada konidiofor yang tidak ber-

Gambar 10 Konidia primer yang menginfeksi beberapa trips

cabang mengandung dua atau lebih nukleus, sedangkan yang dihasilkan oleh konidiofor bercabang mendandung satu nukleus (Keller 1997).

Pengamatan stadia cendawan pada sampel trips di tanaman mawar maupun krisan tidak menemukan adanya resting spores (Spora istirahat). Hal ini dikarena-kan stadia resting spores merupakan struktur bertahan yang dimiliki cendawan Entomophthorales saat tidak ada inang atau lingkungan yang ekstrim, seperti ke-keringan atau musim dingin. Resting spores memiliki struktur dinding yang tebal untuk beradaptasi dan bertahan pada kondisi yang tidak menguntungkan. Resting

spores dibentuk dari hyphal bodies (azygospores) atau konjugasi dari 2 hyphal

bodies (zygospores). Resting spores yang ditemukan pada cendawan genus

Neozygites berwarna coklat gelap hampir hitam, berbentuk bulat atau elips (Keller

(44)
[image:44.842.72.775.132.224.2]

Tabel 1 Kelimpahan populasi trips pada tanaman mawar dan krisan di Balai Tanaman Hias Kabupaten Cianjur (jumlah trips/30 bunga) Jenis

tanaman

Waktu Pengamatan a

15/03/2012 19/03/2012 22/03/2012 5/04/2012 10/04/2012 13/04/2012 16/04/2012 19/04/2012 Mawar 96.3 ± 49.9a 100 ± 33.1a 95.3 ± 15.9a 129.0 ± 27.0a 111.7 ± 22.7a 119.67 ± 6.43a 144.3 ±37.3a 132 ± 40.7a Krisan 56.7 ± 13.3a 100.7 ± 20.5a 200.7 ± 39.7a 186.3 ± 21.6a 302.0 ± 16.5b 263.0 ± 41.9 b 190.0 ±62.6a 191.0 ± 40.6a

P-Value 0.315 0.978 0.051 0.064 0.001 0.028 0.357 0.174

a

Angka selajur yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Tabel 2 Tingkat infeksi cendawan Entomophthorales padatrips di tanaman mawar dan krisan di Balai Tanaman Hias Kabupaten Cianjur (%) Jenis

tanaman

Waktu Pengamatan a

15/03/2012 19/03/2012 22/03/2012 05/04/2012 10/04/2012 13/04/2012 16/04/2012 19/04/2012 Mawar 5.4 ± 4.1a 5.3 ± 4.2a 14.5 ± 7.5a 21.3 ± 7.0a 11.3 ± 6.4a 48.7 ± 23.2a 64.0 ± 2.0a 60.0 ± 9.2a

Krisan 44.7 ± 11.4b 59.3 ± 11.7b 51.3 ± 3.1b 46.0 ± 5.3b 36.7 ± 21.9a 24.0 ± 10.0a 31.3 ± 5.03b 40.0 ± 3.5b

P-Value 0.006 0.002 0.001 0.008 0.127 0.166 0.000 0.024

a

Angka selajur yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

[image:44.842.67.777.277.370.2]
(45)

Infeksi Cendawan Entomophtorales pada Trips di Tanaman Mawar dan Krisan

Infeksi cendawan Entomophthorales ditemukan pada trips di tanaman ma-war dan krisan di Balithi. Berdasarkan hasil pengamatan, tingkat infeksi cenda-wan Entomophthorales pada trips berbeda nyata pada 6 pengamatan, yaitu pada pengamatan 15 Maret, 19 Maret, 22 Maret, 5 April, 16 April, dan 19 April. Ke-limpahan populasi trips berbeda nyata terjadi antara tanaman mawar dan krisan pada tanggal 10 April dan 13 April (Tabel 1). Hal sebaliknya, tingkat infeksi cen-dawan Entomphthorales tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada tanggal tersebut (Tabel 2).

Rata-rata infeksi cendawan pada 10 April lebih rendah dibandingkan in-feksi pada pengamatan sebelumnya. Hujan deras sehari sebelum pengamatan di-duga mempengaruhi tingkat infeksi cendawan Entomophthorales pada trips di ta-naman mawar, namun belum dapat ditentukan faktor yang menyebabkan menu-runnya infeksi cendawan Entomophthorales pada trips di tanaman krisan pada tanggal tersebut. Menurut Steinkraus et al. (1995), curah hujan juga dapat mem-pengaruhi infeksi cendawan Entomophthorales. Hujan deras dapat menyebabkan tersapunya hama dan cendawan yang terdapat pada hama. Aplikasi insektisida di tanaman krisan pada 2 hari sebelum pengamatan ke-6 (13 April), juga ber-pengaruh terhadap berkurangnya tingkat infeksi cendawan Entomophthorales.

Stadia cendawan Entomophthorales yang banyak menginfeksi trips adalah

hyphal bodies. Rata-rata trips pada tanaman mawar yang terinfeksi hyphal bodies

(46)

Persentase infeksi konidia sekunder yang menginfeksi trips lebih tinggi da-ripada infeksi konidia primer. Rata-rata konidia sekunder yang menginfeksi trips di bunga mawar lebih besar daripada konidia sekunder yang menginfeksi trips di bunga krisan. Hal tersebut terlihat pada gambar 11a, dimana persentase rata-rata kondia sekunder yang menginfeksi trips di bunga mawar sebesar 4.60%, sedang-kan pada trips di bunga krisan sebesar 1.08%. Persentase konidia sekunder pada trips di bunga mawar tertinggi terdapat pada tanggal 5 April 2012, yaitu sebesar 8.00% dan terendah pada tanggal 15 Maret 2012, dimana tidak ada konidia sekunder yang ditemukan menginfeksi sampel trips. Persentase konidia sekunder tertinggi pada trips di bunga krisan pada tanggal 5 April 2012, yaitu sebesar 2% dan terendah pada tanggal 13 April 2012, dimana tidak ada konidia sekunder yang menginfeksi trips pada tanaman krisan (Gambar 11b).

(47)
(48)

Cendawan Entomophthorales pada Kutudaun

Pengamatan preparat kutudaun untuk mengetahui infeksi cendawan Ento-mophthorales dilakukan pada 120 preparat (1200 kutudaun), dimana 60 preparat berasal dari kutudaun pada tanaman mawar dan 60 preparat lainnya merupakan kutudaun pada tanaman krisan. Cendawan yang diamati juga dibagi menjadi 6 kategori menurut klasifikasi yang dilaporkan Steinkraus et al. (1995), yaitu,

secondary conidia (konidia sekunder), hyphal bodies (badan hifa), primary

conidia (konidia primer) dan conidiophore, resting spore, dan kategori

saprophytic fungi (cendawan saprofit) serta serangga sehat. Berdasarkan kategori

tersebut, fase cendawan yang ditemukan pada kutudaun pada tanaman krisan dan mawar adalah konidia primer, konidiofor dan hyphal bodies.

Cendawan Entomopatogen yang menginfeksi kutudaun, menurut Keller (2007) adalah cendawan ordo Entomophthorales. Cendawan tersebut secara spe-sifik menginfeksi arthropoda kecil, termasuk kutudaun. Berdasarkan kunci identi-fikasi (Keller 2007), cendawan yang menginfeksi kutudaun tersebut diduga meru-pakan famili Entomophthoraceae, Subfamili Erynioideae. Kondia cendawan Ery-nioideae dibentuk pada konidiofor yang bercabang (Gambar 12a). Konidiofor yang bercabang pada cendawan Entomophthoraceae yang menginfeksi kutudaun menjadi ciri khas genus Zoophthora dan genus Pandora (Keller 2007).

Konidia primer yang ditemukan pada kutudaun di tanaman mawar dan krisan berbentuk bulat telur (Gambar 12b). Apabila dilihat dari ciri tersebut, koni-dia primer mengarah pada genus Pandora. Papila yang terdapat pada konidia pri-mer tidak terlihat jelas bentuknya, sehingga sulit dibedakan apakah cendawan ter-sebut lebih mengarah pada genus Zoophthora atau Pandora. Papila pada konidia primer Zoophthora berbentuk kerucut yang ditandai dengan adanya tonjolan dari

hyphal bodies. Papila pada konidia primer Pandora lebih mulus dan terhubung

dengan hyphal bodies. Hyphal bodies cendawan Erynioideae yang menginfeksi kutudaun ini berbentuk seperti hifa dan tidak beraturan (irregular) (Gambar 12c). Konidia sekunder Erynioideae berbentuk menyerupai konidia primer atau berben-tuk bulat.

(49)
[image:49.595.113.523.84.232.2]

Gambar 12 Cendawan Entomophthorales yang menginfeksi kutudaun di tanaman mawar dan krisan: (a) konidiofor bercabang, (b) konidia primer, (c)

hyphal bodies yang tidak beraturan

Infeksi Cendawan Entomophtorales pada Kutudaun di Tanaman Mawar dan Krisan

Pengamatan dan pengambilan sampel kutudaun di tanaman mawar dilaku-kan pada lahan mawar di KP Segunung dan pada kutudaun di tanaman krisan di-lakukan pada tanaman indukan di KP Segunung, tepat disamping lahan bunga kri-san. Pengambilan sampel kutudaun pada tanaman mawar dan krisan hanya dila-kukan seminggu sekali selama 4 kali pengamatan. Pada awalnya, hanya hama trips yang menjadi konsentrasi eksplorasi cendawan Entomophthorales pada pene-litian ini, tetapi saat pengamatan pertama trips di lapangan, hama kutudaun juga terlihat menyerang kedua jenis tanaman hias tersebut. Serangga inang dalam eksplorasi cendawan Entomophthorales akhirnya diperluas menjadi 2, yaitu trips dan kutudaun.

Populasi kutudaun pada kedua jenis tanaman tidak dihitung, karena hanya ingin mencari informasi awal mengenai keberadaan cendawan Entomophthorales yang menginfeksi kutudaun pada tanaman hias. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil kutudaun yang terdapat dalam 3 blok tanaman sampel (mini-mal 100 kutudaun per blok). Keberadaan kutudaun di lapangan ditemukan pada tanaman mawar pada pengamatan ke-1 (22 Maret 2012) dan ke-2 (29 Maret 2012), sedangkan kutudaun pada tanaman krisan ditemukan pada 4 minggu peng-amatan (22 Maert, 29 Maret, 5 April, dan 13 April). Sampel kutudaun yang

(50)

Gambar

Gambar 3  Kondisi pertanaman mawar di KP Segunung Balithi pada (a) awal
Gambar 4  Gejala serangan trips ketika mawar masih kuncup, berupa bercak
Gambar 5  Bunga krisan di Balithi: (a) Trips pada bunga krisan, (b) gejala
Gambar 6  Trips sehat pada pengamatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan Meningkatkan Motivasi Belajar Tematik Tema Peristiwa Standar Kompetensi Bahasa Indonesia melalui Belajar Kelompok pada Siswa Kelas I SD Negeri

sudah membuatku belajar banyak hal tentang kehidupan dunia maupun akhirat.. Pengaruh Tingkat Pendapatan Dan Latar Belakang Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap

Pada sistem yang dikembangkan, terdapat empat pengguna yang akan mengakses, yaitu Administrator, Kepala Kantor, Kepala Seksi pemeriksaan, Supervisor (Tim Fungsional

Based on from the researches above and supported by this research, the researcher concludes that there is a slightly significant difference of the comparison

Persembahan ini terdiri dari kombinasi 3 lagu rampai tradisional iaitu lagu melayu asli Damak, Selendang Mak Inang dan Joget Pokok Pisang yang mempamerkan gerak geri tari melayu yang

What are the translation techniques applied in the translation of English novel Coco Simon’s Cupcake Diaries 2: Mia in the Mix into its translation in bahasa Indonesia

Sementara keunggulan dari usaha Rainbow Crunchy ini adalah belum adanya pesaing di Palembang dengan varian rasa coklat buah yang berbeda-beda.. Usaha ini menawarkan

bahwa untuk memenuhi ketentuan Pasal 181 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terahir dengan