TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM
CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY
“
WATER ACCESS SANITATION AND
HYGIENE”
PT AQUA GOLDEN MISSISSIPPI CITEREUP
YULI DWI ANGGRAENI
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Tingkat Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility“Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dan karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
YULI DWI ANGGRAENI. Tingkat Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup. Dibimbing oleh TITIK SUMARTI.
Program Water Access Sanitation and Hygiene (WASH) merupakan program CSR PT Aqua Golden Mississippi yang bertujuan memberikan penyediaan sarana dan prasarana air bersih, memfasilitasi kelembagaan pengguna air, dan membangun perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Penelitian ini bertujuan: mengidentifikasi karakteristik individu peserta program WASH, mengkaji tingkat pengetahuan peserta program dan hubungannya dengan karakateristik individu peserta program WASH, mengkaji tingkat partisipasi peserta program dan hubungannya dengan karakteristik individu peserta program WASH, dan mengkaji tingkat keberhasilan program WASH dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan dan tingkat partisipasi peserta program WASH. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif menggunakan kuesioner serta panduan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas individu peserta program berumur produktif menengah, laki-laki, berstatus menikah, berpendidikan rendah, bekerja sebagai buruh industri dan berpengalaman kelompok sedang. Tingkat pengetahuan, tingkat partisipasi peserta program, dan tingkat keberhasilan program WASH masih rendah.
Kata kunci: CSR, karakteristik individu, pengetahuan, partisipasi, tingkat keberhasilan
ABSTRACT
YULI DWI ANGGRAENI. The Success Rate of the Corporate Social Responsibility Program “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup. Supervised by TITIK SUMARTI
Water Access Sanitation and Hygiene (WASH) is a CSR program from PT Aqua Golden Mississippi which aims to provide a supply of clean water infrastructure, facilitating institutional water users, and build a clean and healthy life style communities. The purpose of this study is: to identify individual characteristics from WASH participant program, to examine the public knowledge and the relationship with individual characteristics, to examine the public participation and the relationship with individual characteristics, and to examine the success rate and the relationship with public knowledge and public participation. The research is carried out by quantitative and qualitative methods using questionnaries and in-depth interview. The results show that the majority of individuals have the characteristics, the productive middle age, male, married, less educated, working as laborers and middle experienced with the group. Level of participant’s knowledge, participation and success rate program still low.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM
CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY
“
WATER ACCESS SANITATION AND
HYGIENE”
PT AQUA GOLDEN MISSISSIPPI CITEREUP
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013
Judul Skripsi : Tingkat Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup
Nama : Yuli Dwi Anggraeni NIM : I34090013
Disetujui oleh
Dr Ir Titik Sumarti, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 sampai April 2013 ini ialah kajian Corporate Social Responsibility (CSR), dengan judul Tingkat Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Titik Sumarti, MS selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Heri Yunarso dari Departemen CSR PT Aqua Golden Mississippi Citereup, pihak pemerintah Desa Cicadas, dan seluruh warga Desa Cicadas, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, kakak, dan seluruh keluarga, serta teman-teman IPB terutama teman-teman SKPM 46, atas doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 4
Manfaat Penelitian 4
TINJAUAN PUSTAKA 5
Corporate Social Responsibility 5
Karakteristik Individu 9
Pengetahuan 10
Partisipasi 11
Kerangka Pemikiran 15
Hipotesis Penelitian 17
Definisi Operasional 18
METODE 21
Lokasi dan Waktu 21
Teknik Pengumpulan Data 21
Teknik Pengolahan dan Analisis Data 22
DESA CICADAS 23
Karakteristik Geografis 23
Karakteristik Penduduk 24
Karakteristik Ekonomi 25
Karakteristik Sosial 25
Struktur Kebudayaan Masyarakat 26
PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY 29
Program Corporate Social Responsibility PT Aqua Golden Mississippi 29 Program Akses Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan atau Water Access
Sanitation and Hygiene (WASH) 31
KARAKTERISTIK INDIVIDU PESERTA PROGRAM CSR WASH PT AGM
CITEREUP 39
Umur 39
Status Pernikahan 40
Tingkat Pendidikan 40
Jenis Pekerjaan 40
Pengalaman Berkelompok 41
TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA PROGRAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU PESERTA PROGRAM CSR WASH
PT AGM CITEREUP 43
Tingkat Pengetahuan Peserta Program CSR WASH PT AGM Citereup dilihat dari Pengetahuannya terhadap Program CSR WASH 43 Hubungan Karakteristik Individu Peserta Program dengan Tingkat Pengetahuan
Peserta Program CSR WASH PT AGM Citereup 47
TINGKAT PARTISIPASI PESERTA PROGRAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU PESERTA PROGRAM CSR WASH
PT AGM CITEREUP 55
Tingkat Partisipasi Program CSR WASH PT AGM Citereup 57 Hubungan Karakteristik Individu Peserta Program dengan Tingkat Partisipasi
Peserta Program CSR WASH PT AGM Citereup 58
TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PARTISIPASI PROGRAM CSR
WASH PT AGM CITEREUP 67
Tingkat Keberhasilan Program CSR WASH PT AGM Citereup 71 Hubungan Tingkat Pengetahuan Peserta Program dan Tingkat Keberhasilan
Program CSR WASH PT AGM Citereup 72
Hubungan Tingkat Partisipasi Peserta Program dengan Tingkat Keberhasilan
Program CSR WASH PT AGM Citereup 73
SIMPULAN DAN SARAN 75
Simpulan 75
Saran 75
DAFTAR PUSTAKA 77
DAFTAR TABEL
1 Indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan program CSR pada
tahun 2007 7
2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Cicadas menurut jenis
kelamin pada tahun 2011 24
3 Jumlah dan persentase kategori umur masyarakat Desa Cicadas berdasarkan interval usia pada tahun 2011 24 4 Jumlah dan persentase agama masyarakat Desa Cicadas pada
tahun 2011 24
5 Jumlah dan persentase mata pencaharian masyarakat Desa Cicadas
pada tahun 2011 25
6 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut golongan
umur pada tahun 2013 37
7 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut jenis
kelamin pada tahun 2013 37
8 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut status
pernikahan pada tahun 2013 38
9 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut tingkat
pendidikan pada tahun 2013 38
10 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut jenis
pekerjaan pada tahun 2013 39
11 Jumlah dan persentase sebaran peserta program menurut pengalaman berkelompok pada tahun 2013 39 12 Jumlah dan persentase peserta program menurut konsep CSR yang
diketahuinya pada tahun 2013 41
13 Jumlah dan persentase peserta program menurut pelaksana program CSR yang diketahuinya pada tahun 2013 42 14 Jumlah dan persentase peserta program menurut program WASH
yang diketahuinya pada tahun 2013 42
15 Jumlah dan persentase peserta program menurut tujuan program
yang diketahuinya pada tahun 2013 43
16 Jumlah dan persentase peserta program menurut sasaran program
yang diketahuinya pada tahun 2013 44
17 Jumlah dan persentase peserta program menurut manfaat program
yang diketahuinya pada tahun 2013 44
18 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat pengetahuannya dalam program CSR WASH PT AGM Citereup
19 Jumlah dan persentase peserta program menurut umur dan tingkat pengetahuan peseta program CSR WASH PT AGM Citereup pada
tahun 2013 46
20 Jumlah dan persentase peserta program menurut jenis kelamin dan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 47
21 Jumlah dan persentase peserta program menurut status pernikahan dan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup pada tahun 2013
48
22 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH
PT AGM Citereup pada tahun 2013 49
23 Jumlah dan persentase peserta program menurut jenis pekerjaan dan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 50
24 Jumlah dan persentase peserta program menurut pengalaman berkelompok dan tingkat pengetahuan peserta program CSR
WASH PT AGM Citereup pada tahun 2013 51
25 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat partisipasinya pada tahap perencanaan program CSR WASH PT
AGM Citereup pada tahun 2013 53
26 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat partisipasinya pada tahap pelaksanaan program CSR WASH PT
AGM Citereup pada tahun 2013 54
27 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat partisipasinya pada tahap evaluasi program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 55
28 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat partisipasinya dalam program CSR WASH PT AGM Citereup
pada tahun 2013 56
29 Jumlah dan persentase peserta program menurut umur dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup pada
tahun 2013 57
30 Jumlah dan persentase peserta program menurut jenis kelamin dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 58
31 Jumlah dan persentase peserta program menurut status pernikahan dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 59
32 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat pendidikan dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH
33 Jumlah dan persentase peserta program menurut jenis pekerjaan dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup pada tahun 2013 61
34 Jumlah dan persentase peserta program menurut pengalaman berkelompok dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH
PT AGM Citereup pada tahun 2013 62
35 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM Citereup menurut peningkatan aksesnya terhadap air bersih pada
tahun 2013 65
35 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM Citereup menurut kemandirian masyarakat melalui penurunan
biaya listrik pada tahun 2013 66
37 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM Citereup menurut kemampuannya untuk berhemat pada tahun
2013 67
38 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM Citereup menurut penurunan demo warga kepada perusahaan dan aksi-aksi anarkis masyarakat terhadap perusahaan pada tahun 2013 67 39 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup menurut kemudahan masyarakat untuk berinteraksi atau menyampaikan pendapat kepada perusahaan pada tahun 2013 68 40 Jumlah dan persentase peserta program CSR WASH PT AGM
Citereup melalui kemampuannya untuk hidup bersih dan sehat
pada tahun 2013 69
41 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup pada tahun
2013 69
42 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat pengetahuan peserta program dan tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup pada tahun 2013 70 43 Jumlah dan persentase peserta program menurut tingkat
pengetahuan peserta program dan tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup pada tahun 2013 71
DAFTAR GAMBAR
1 Tangga Partisipasi Arnstein 14
2 Kerangka Pemikiran Tingkat Keberhasilan Program CSR Water Access Sanitation and Hygiene PT Aqua Golden Mississippi 16 3 Luas wilayah Desa Cicadas menurut Penggunaan Lahan pada
DAFTAR LAMPIRAN
1 Peta lokasi penelitian 77
2 Alur waktu penelitian 78
3 Kerangka sampling dan sampel penelitian 79
4 Hasil pengolahan data 80
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Secara umum pengelolaan sumber daya alam di Indonesia sampai saat ini lebih didasarkan pada upaya memenuhi kebutuhan investasi dalam rangka pemulihan kondisi ekonomi (Azheri 2011). Kebijakan ini mendeskripsikan bahwa pengelolaan sumber daya alam lebih dipandang dan dipahami dalam konteks economics sense dan belum mengarah pada ecological and sustainable sense (Sentosa 1999 dalam Azheri 2011). Pada tahun 1973, konsep pembangunan berbasis lingkungan yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GHBN) tidak memberikan dampak positif terhadap pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, tetapi justru malah dijadikan “barang/produk permainan” oleh para pelaku usaha dibidang eksploitasi SDA karena mereka dekat dengan pusat kekuasaan. Akibat “praktek kecurangan” tersebut, maka otomatis akan semakin mempersulit upaya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pemanfaatan atau pengelolaan potensi sumber daya alam. Hal tersebutpun semakin menghalangi penegakan hukum yang berlaku karena para pelaku usaha yang melakukan “permainan” dalam pemanfaatan sumber daya alam tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan pusat kekuasaan (Azheri 2011).
Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah Indonesia mulai berbenah diri dan mengeluarkan regulasinya melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM) sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 dan Undang-Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995. Dalam UUPM dan UUPT terdapat regulasi yang mengatur CSR. Melalui regulasi tersebut, perusahaan dipandang bukan lagi sebagai entitas yang mementingkan diri sendiri (selfish), aliensi dan atau ekslusivitas dari lingkungan masyarakat, melainkan sebuah entitas badan hukum (rech persoon) yang wajib melakukan adaptasi sosio kultural dengan lingkungan dimana ia berada, serta dapat dimintai pertanggungjawaban layaknya subyek hukum pada umumnya (Azheri 2011). Meskipun ada perbedaan penekanan dari pengertian dan rumusan CSR antara UUPM dan UUPT, namun keduanya telah mengubah paradigma CSR dari kesukarelaan (voluntary) menjadi suatu keharusan (mandatory).
2
Suatu perusahaan tidak bisa hidup, beroperasi, dan bertahan serta memperoleh keuntungan tanpa bantuan dari berbagai pihak.1
Program CSR WASH yang dilaksanakan oleh PT AGM Citereup ialah berupa pengadaan sarana air bersih dan penyehatan lingkungan di wilayah RW 04 dan RW 13 Desa Cicadas. Program tersebut bertujuan untuk memberikan penyediaan sarana dan prasarana air bersih, memfasilitasi kelembagaan pengguna
Adapun pihak-pihak yang terlibat (stakeholders) bukan hanya perusahaan dan pemerintah saja, tetapi juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tentunya masyarakat yang ada di lingkungan perusahaan itu sendiri. Tanpa adanya sinergi yang erat antar stakeholders, maka lingkungan hidup yang lestari akan sulit untuk diwujudkan. Dalam prakteknya, suatu program CSR harus mampu melakukan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup di sekitar perusahaan berupa modal fisik seperti lahan, air, dan sebagainya yang menunjang proses produksi suatu perusahaan dan kehidupan masyarakat sekitar perusahaan itu sendiri.
PT Aqua Golden Mississippi atau PT AGM adalah salah satu produsen pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1973. Aqua berasal dari sumber mata air pegunungan pilihan yang diproses secara terpadu dengan teknologi yang menghasilkan kualitas air putih terbaik. Aqua kini telah mengoperasikan 16 pabrik dan 15 Distribution Center (DC) yang tersebar diseluruh Indonesia serta menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan AMDK yang berada di Brunei dan Malaysia. Aqua juga bertanggung jawab terhadap kelestarian sumber mata air dengan secara aktif melibatkan berbagai pihak secara bersama-sama untuk berperan serta menjaga dan melindungi lingkungan. Wujud dari ajakan ini adalah terselenggaranya berbagai kegiatan perusahaan yang dikenal dengan payung “AQUA Lestari” sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang dikenal dengan nama Corporate Social Responsibility (CSR).
Aqua Lestari merupakan salah satu payung dari berbagai kegiatan yang menjadi wujud pelaksanaan tanggung jawab sosial PT Aqua Golden Mississippi. Terdapat lima program yang menjadi fokus utama pelaksanaan program CSR, yaitu: (1) konservasi, (2) akses air bersih dan penyehatan lingkungan atau water access sanitation and hygiene (WASH), (3) waste management, (4) pertanian organik, (5) pendidikan keselamatan transportasi. Program-program tersebut dirancang oleh Aqua untuk bisa berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan, meningkatkan dampak positif dan mengurangi dampak negatif perusahaan, serta mengurangi tekanan dari masyarakat maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Aqua selalu berupaya untuk melibatkan semua pihak didalam pengimplementasian program-program CSR nya.
Berdasarkan kelima program CSR Aqua tersebut, beberapa telah dilaksanakan di Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Desa Cicadas merupakan desa yang secara geografis berdekatan dengan PT AGM Citereup. Oleh karena itu, desa tersebut dijadikan desa binaan CSR PT AGM Citereup karena desa tersebut berada dalam “Ring 1” PT AGM Citereup. Terdapat dua program yang sejauh ini telah dilaksanakan oleh CSR PT AGM Citereup, diantaranya ialah Water Access Sanitation and Hygiene (WASH) dan Konservasi.
1
3 air, serta membangun perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat di sekitar PT AGM Citereup. Kurangnya kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat dan kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan air bersih ketika musim kemarau menjadi alasan yang kuat bagi PT AGM Citereup untuk melaksanakan program WASH di wilayah tersebut. Berdasarkan perspektif PT AGM Citereup, program WASH sudah dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat tidak lagi meminta air bersih ke perusahaan yang memiliki sumur bor dan kebutuhan mereka akan air bersih sudah dapat terpenuhi. Secara keseluruhan, penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan utama penelitian yakni sejauh mana tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup dan sejauh mana tingkat pengetahuan dan partisipasi masyarakat terhadap program menentukan tingkat keberhasilan tersebut.
Perumusan Masalah
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan wujud tanggungjawab sosial perusahaan terhadap sosial dan lingkungannya. Corporate Social Responsibility (CSR) juga menjadi unsur penting bagi perusahaan dalam menjamin keberlanjutan bisnisnya, maupun bagi pemangku kepentingan lain sebagai bentuk tanggungjawab atas sebuah dampak operasional. Setiap perusahaan memiliki cara pandangnya masing-masing dalam mengimplementasikan program CSR nya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan suatu program CSR. Oleh karena itu perlu dikaji karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup (umur, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pengalaman berkelompok).
Implementasi CSR tidak hanya memberikan manfaat bagi pihak penerima bantuan dalam hal ini masyarakat, tetapi juga bagi perusahaan. Corporate Social Responsibility (CSR) memandang masyarakat sebagai bagian dari proses produksi. Perusahaan bertanggungjawab untuk menjamin kesehatan lingkungan dan kualitas hidup mereka. Tanpa masyarakat, maka mustahil bagi perusahaan untuk terus ‘eksis’ dalam menjalankan produksinya. Masyarakat sebagai peserta sekaligus penerima manfaat program tentu memiliki pengetahuannya masing-masing tentang program yang telah diimplementasikan di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu perlu dikaji tingkat pengetahuan peserta program terhadap program CSR WASH PT AGM dan hubungannya dengan karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup.
Perusahaan sudah seharusnya melibatkan masyarakat dalam pengimplementasian program CSR nya. Program CSR akan terlaksana dengan baik apabila masyarakat benar-benar turut berperan aktif didalamnya. Proses pelibatan masyarakat tersebut akan mampu menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap program yang telah diimplementasikan. Oleh karena itu perlu dikaji tingkat partisipasi peserta program pada program CSR WASH PT AGM dan hubungannya dengan karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup.
4
sendiri. Keberhasilan suatu program CSR pun ditentukan oleh beragam faktor, internal (dalam perusahaan) dan eksternal (dari luar perusahaan, antara lain masyarakat sekitar). Oleh karena itu perlu dikaji tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup (umur, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pengalaman berkelompok)
2. Mengkaji tingkat pengetahuan peserta program terhadap program CSR WASH PT AGM dan hubungannya dengan karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup
3. Mengkaji tingkat partisipasi peserta program pada program CSR WASH PT AGM dan hubungannya dengan karakateristik individu peserta program CSR PT AGM Citereup
4. Mengkaji tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup dan hubungannya dengan tingkat pengetahuan dan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut:
1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan kajian untuk penelitian selanjutnya mengenai tingkat keberhasilan program CSR
2. Bagi non-akademisi dan masyarakat luas, dapat menjadikan pengetahuan kepada masyarakat dan dapat bermanfaat dalam pelaksanaan program CSR 3. Bagi perusahaan khususnya PT AGM Citereup, sebagai sarana evaluasi
mengenai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan untuk bahan masukan bagi pelaksanaan program selanjutnya
TINJAUAN PUSTAKA
Corporate Social Responsibility
Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) mulai bergema pada tahun 1950-an. Menurut Hadi dalam Ardianto dan Machfudz (2011) pada era 1970-an hingga 1980-an tuntutan CSR adalah untuk perlindungan lingkungan hidup akibat polusi, perlindungan konsumen, pemerataan kesempatan, naiknya harga minya dan inflasi. Seringkali program CSR berjalan lambat, hanya bisa cepat setelah pemerintah dan opini publik memaksa. Namun seiring berjalannya waktu, tanggungjawab sosial perusahaan menjadi salah satu inovasi yang mulai diterapkan oleh berbagai perusahaan dalam menjaga eksistensinya. Seiring perkembangan zaman, tanggungjawab sosial perusahaan di era Tahun 1990-an sampai sekarang mulai tampak adanya kepedulian terhadap masyarakat. Hal tersebut didukung dengan adanya regulasi pemerintah berupa perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai acuan pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan di Indonesia.
Tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa dikenal CSR merupakan komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersama dengan para pihak yang terkait, utamanya masyarakat disekelilingnya dan di lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadu dengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan (Budimanta dan Rudito 2002). Menurut Wibisono (2007) CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi sosial dan lingkungan (tripple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Implementasi CSR didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada tiga pencapaian yang bermanfaat secara ekonomi, lingkungan, dan sosial (triple bottom lines). Aspek ekonomi meliputi kesejahtaraan atau kemakmuran ekonomi (economic prosperity), lingkungan meliputi peningkatan kualitas lingkungan (environmental quality), dan untuk aspek sosial meliputi keadilan sosial (social justice).
6
jawab kepada lingkungan. Hubungan masyarakat dengan lingkungan adalah hubungan yang sebab akibat, dimana jika merawat lingkungan, maka lingkunganpun akan memberikan manfaat kepada kita, begitu juga sebaliknya. People (masyarakat) menyadari bahwa masyarakat sekitar perusahaan merupakan salah satu stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sekitar sangat diperlukan bagi keberadaannya, kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan, maka perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar mungkin kepada masyarakat.
Bagi perusahaan CSR tidak terpisahkan dari bisnis. Menurut Wibisono (2007) setidaknya terdapat tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon CSR agar sejalan dengan jaminan keberlanjutan operasinal perusahaan yaitu:
1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat
2. Kalangan bisnis dan masayrakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat
3. Kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindarkan konflik sosial
Pada prinsipnya CSR merupakan komitmen perusahaan terhadap kepentingan para stakeholders dalam arti luas dari pada sekedar kepentingan perusahaan belaka. Meskipun secara moral adalah baik suatu perusahaan mengejar keuntungan, bukan berarti perusahaan dibenarkan mencapai keuntungan tersebut dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan pihak lain yang terkait. Secara sederhana definisi stakeholders adalah kelompok-kelompok yang mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh organisasi tersebut sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya (Tanari dalam Rahmatullah dan Kurniati 2011). Jika dilakukan pemetaan, stakeholders dalam entitas perusahaan terbagi kedalam tujuh jenis, diantaranya: pelanggan, masyarakat, karyawan, pemegang saham, lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah.
7 Tabel 1 Indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan program CSR pada
tahun 2007
Indikator Internal Indikator Eksternal Ukuran
perselisihan atau konflik atau potensi konflik antara perusahaan dengan masyarakat dengan harapan terwujudnya hubungan yang harmonis dan kondusif.
b. Asset
Aset perusahaan yang terdiri dari pemilik atau pimpinan perusahaan, karyawan, pabrik dan fasilitas pendukungnya terjaga dan terpelihara dengan aman.
c. Operational
Seluruh kegiatan perusahaan berjalan aman
dan lancar.
Indikator Ekonomi
a. Tingkat pertambahan kualitas sarana dan prasarana umum b. Tingkat peningkatan
kemandirian
masyarakat secara ekonomis
c. Tingkat peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan
Ukuran Sekunder
a. Tingkat penyaluran dan kolektibilitas
(umumnya untuk PKBL BUMN)
b.Tingkat compliance pada aturan yang berlaku
Indikator Sosial
a. Frekuensi terjadinya gejolak atau konflik sosial
b. Tingkat kualitas hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat
c. Tingkat kepuasan masyarakat
(dilakukan dengan survey masyarakat) Sumber: Wibisono (2007)
Menurut Wibisono (2007) terdapat empat tahapan yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam melaksanakan programCSR, yaitu:
1. Tahap Perencanaan
8
dan CSR Manual Building (memberikan petunjuk pelaksanaan CSR bagi konsumen perusahaan melalui perencanaan).
2. Tahap Implementasi
Tahap ini terdapat beberapa poin yang harus diperhatikan seperti pengorganisasian, penyusunan untuk menempatkan orang sesuai dengan jenis tugas, pengarahan, pengawasan, pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana, serta penilaian untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Tahap implementasi terdiri dari tiga langkah utama yaitu sosialisasi, pelaksanaan dan internalisasi.
3. Tahap Evaluasi
Tahapini perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR.
4. Pelaporan
Pelaporan perlu dilakukan untuk membangun sistem informasi, baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.
Menurut Budimanta et al. (2008) berdasarkan konsep partisipasi dan pembangunan berkelanjutan maka indikator-indikator keberhasilan program dapat dilihat dari sisi korporat maupun sisi penerima/mitra. Beberapa indikator keberhasilan tersebut adalah: (a) terlaksananya aktivitas CSR sesuai dengan pedoman implementasi, (b) terwujudnya goodwill serta citra positif stakeholders, (c) tingkat partisipasi program, (d) tingkat kemandirian masyarakat dan (e) keberlanjutan program.
9 Karakteristik Individu
Menurut Pangestu (1995) terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap program, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang mencakup karakteristik individu yang dapat mempengaruhi individu tersebut untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Karakteristik individu mencakup umur, tingkat pendidikan, jumlah beban keluarga, jumlah pendapatan, dan pengalaman berkelompok. Faktor eksternal yaitu faktor yang meliputi hubungan yang terjalin antara pihak pengelola proyek dengan sasaran dapat mempengaruhi partisipasi. Selain itu, menurut Murray dan Lappin yang dikutip Matrizal dalam Wicaksono (2010), faktor lain yang mempengaruhi partisipasi seseorang adalah lama tinggal. Semakin lama tinggal di suatu tempat, semakin besar rasa memiliki dan perasaan dirinya sebagai bagian dari lingkungannya, sehingga timbul keinginan untuk selalu menjaga dan memelihara lingkungan dimana dia tinggal.
Silaen dalam Wicaksono (2010) menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang maka penerimaannya terhadap hal-hal baru semakin rendah. Hal ini karena orang yang masuk dalam golongan tua cenderung selalu bertahan dengan nilai-nilai lama sehingga diperkirakan sulit menerima hal-hal yang bersifat baru. Tamarli dalam Febriana (2008) juga menyatakan bahwa umur merupakan faktor yang mempengaruhi partisipasi. Semakin tua seseorang, relatif berkurang kemampuan fisiknya dan keadaan tersebut akan mempengaruhi partisipasi sosialnya.
Tingkat pendidikan mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap sesuatu hal yang baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah baginya untuk menerima hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Jumlah beban keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi anggota, yang dinyatakan dalam besarnya jumlah jiwa yang ditanggung oleh anggota dalam keluarga. Semakin besar jumlah beban keluarga menyebabkan waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan akan berkurang karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga (Ajiswarman dalam Wicaksono 2010).
10
Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo 2003). Menurut Notoatmodjo (2007), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya ialah:
a. Tingkat pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka seseorang tersebut akan lebih mudah dalam menerima hal-hal baru sehingga akan lebih mudah pula menyelesaikanhal-hal baru tersebut.
b. Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih baik banyak akan memberikan pengetahuan yang jelas.
c. Budaya
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi-informasi baru akan disaring, kira-kira sesuai tidaknya dengan kebudayaan yang ada dalam agama yang dianut.
d. Pengalaman
Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, artinya, pendidikan yang tinggi, pengalaman akan luas sedang umur bertambah tua.
e. Sosial Ekonomi
Tingkatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup disesuaikan dengan penghasilan yang ada, sehingga menuntut pengetahuan yang dimiliki akan dipergunakan semaksimal mungkin, begitupun dalam mencari bantuan ke sarana kesehatan yang ada, mereka sesuaikan dengan pendapatan keluarga.
f. Umur
Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa (Nursalam 2003).
11 mereka tanpa ada yang tahu dan juga kekhawatiran bahwasannya ada yang akan memprotes mereka (Ulfiyatin 2010). Hal tersebut secara tidak langsung tentu akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap keberhasilan program CSR yang diimplementasikan oleh perusahaan.
Partisipasi
Partisipasi merupakan kunci bagi suatu pembangunan. Banyak program-program pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat, namun terdapat kritik dimana program pembangunan yang telah dibuat hanya sekedar paket pelaksana, bersifat top down, dan bersifat semu. Hal-hal tersebut menyebabkan masyarakat tidak merasa memiliki program, hasilnya tidak relevan dengan masyarakat, nilai terapannya kurang, dan kurang menjamin keberlanjutan program. Perubahan dalam pembangunan perlu dilakukan dengan menerapkan partisipasi secara keseluruhan.
Definisi partisipasi menurut Cohen dan Uphoff (1977) adalah keterlibatan aktif masayarakat dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi. Slamet dalam Sumodiningrat (1999) mengartikan partisipasi masyarakat sebagai keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan, baik itu pada prosesnya maupun dalam menikmati hasil pembangunan. Menurut Sajogyo (1998) partisipasi adalah peluang untuk ikut menentukan kebijaksanaan pembangunan serta peluang ikut menilai hasil pembangunan. Pengertian partisipasi lainnya didefinisikan oleh Nasdian (2006) yaitu proses aktif dimana inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri, dibimbing oleh cara berpikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat melakukan kontrol secara efektif. Partisipasi komunitas dalam pengembangan masyarakat adalah suatu proses bertingkat dari pendistribusian kekuasaan pada komunitas sehingga mereka memperoleh kontrol lebih besar pada hidup mereka sendiri (Nasdian 2006).
Cohen dan Uphoff (1977) membagi partisipasi ke dalam beberapa tahapan, sebagai berikut:
1. Tahap pengambilan keputusan, yang diwujudkan melalui keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat. Tahap pengambilan keputusan yang dimaksud adalah perencanaan suatu kegiatan.
2. Tahap pelaksanaan, yang merupakan tahap terpenting dalam pembangunan, karena inti dari pembangunan adalah pelaksanaannya. Wujud nyata partisipasi pada tahap ini digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi dalam bentuk sumbangan pemikiran, bentuk sumbangan materi, dan bentuk tindakan sebagai anggota program.
3. Tahap menikmati hasil, yang dapat dijadikan indikator keberhasilan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan program. Selain itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subyek pembangunan, maka semakin besar manfaat program dirasakan, berarti program tersebut berhasil mengenai sasaran.
12
Menurut Asia Development Bank (ADB) seperti dikutip Soegijoko dalam Huraerah (2008), tingkatan partisipasi (dari yang terendah sampai tertinggi) adalah sebagai berikut:
1. Berbagi informasi bersama (sosialisasi)
Pemerintah hanya menyebarluaskan informasi tentang program yang akan direncanakan atau sekadar memberikan informasi mengenai keputusan yang dibuat dan mengajak warga untuk melaksanakan keputusan tersebut. 2. Mendapatkan umpan balik (konsultasi)
Pemerintah meminta saran dan kritik dari masyarakat sebelum suatu keputusan ditetapkan.
3. Pembuatan keputusan bersama (kolaborasi)
Masyarakat bukan sebagai penggagas kolaborasi tetapi masyarakat dilibatkan untuk merancang dan mengmbil keputusan bersama sehingaa peran masyarakat secara signifikan dapat mempengaruhi hasil atau keputusan.
4. Pemberdayaan (kendali)
Masyarakat memiliki kekuasaan adalam mengawasi secara langsung keputusan yang sudah diambil dan menolak pelaksanaan keputusan yang bertentangan dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan prosedur dan indikator kinerja yang mereka tetapkan bersama.
Arnstein (1969) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat (citizen participation is citizen power) yaitu mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat atau pemerintah. Arnstein juga menjelaskan ada delapan tangga atau tingkatan partisipasi masyarakat, yaitu:
1. Manipulation (Manipulasi)
Dengan mengatasnamakan partisipasi, masyarakat diikutkan sebagai ‘stempel karet’ dalam badan penasihat.Tujuannya adalah untuk dipakai sebagai formalitas semata dan untuk dimanfaatkan dukungannya.Tingkat ini bukanlah tingkat partisipasi masyarakat yang murni, karena telah diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi oleh penguasa.
2. Therapy (Terapi)
Pada tingkat terapi atau pengobatan ini, pemegang kekuasaan sama dengan ahli kesehatan jiwa. Mereka menganggap ketidakberdayaan sebagai penyakit mental.Dengan berpura-pura mengikutsertakan masyarakat dalam suatu perencanaan, mereka sebenarnya menganggap masyarakat sebagai sekelompok orang yang memerlukan pengobatan.Meskipun masyarakat dilibatkan dalam berbagai kegiatan namun pada dasarnya kegiatan tersebut bertujuan untuk menghilangkan lukanya dan bukannya menemukan penyebab luka.
3. Informing (Menginformasikan)
13 kesempatan untuk mempengaruhi program. Komunikasi satu arah ini biasanya dengan menggunakan media pemberitahuan, pamflet, dan poster. 4. Concultation (Konsultasi)
Meminta pendapat masyarakat merupakan suatu langkah logis menuju partisipasi penuh. Namun konsultasi ini masih merupakan partisipasi semu karena tidak ada jaminan bahwa pendapat mereka akan diperhatikan. Cara yang sering digunakan dalam tingkat ini adalah jajak pendapat, pertemuan warga dan dengar pendapat. Jika pemegang kekuasaan membatasi usulan masyrakat, maka kegiatan tersebut hanyalah partisipasi palsu. Masyarakat pada dasarnya hanya dianggap sebagai abstraksi statistik, karena partisipasi mereka diukur dari frekuensi kehadiran dalam pertemuan, seberapa banyak brosur yang dibawa pulang dan juga seberapa banyak dari kuesioner dijawab. Dengan demikian, pemegang kekuasaan telah memiliki bukti bahwa mereka telah mengikuti rangkaian pelibatan masyarakat. 5. Placation (Menenangkan)
Pada tingkat ini masyarakat sudah memiliki beberapa pengaruh meskipun dalam beberapa hal pengaruh tersebut tidak memiliki jaminan akan diperhatikan. Masyarakat memang diperbolehkan untuk memberikan masukan atau mengusulkan rencana akan tetapi pemegang kekuasaanlah yang berwenang untuk menentukan. Salah satu strateginya adalah dengan memilih masyarakat miskin yang layak untuk dimasukkan ke dalam suatu lembaga. Jika mereka tidak bertanggung jawab dan jika pemegang kekuasaan memiliki mayoritas kursi, maka mereka akan dengan mudah dikalahkan dan diakali.
6. Partnership (Kemitraan)
Pada tingkatan ini kekuasaan disalurkan melalui negosiasi antara pemegang kekuasaan dan masyarakat. Mereka sepakat untuk sama-sama memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Aturan ditentukan melalui mekanisme take and give, sehingga diharapkan tidak mengalami perubahan secara sepihak. Kemitraan dapat berjalan efektif bila dalam masyarakat ada kekuasaan yang terorganisir, pemimpin bertanggungjawab, masyarakat mampu membayar honor yang cukup bagi pemimpinnya serta adanya sumber dana untuk menyewa teknisi, pengacara dan organisator masyarakat. Dengan demikian masyarakat benar-benar memiliki posisi tawar menawar yang tinggi sehingga akan mampu mempengaruhi suatu perencanaan.
7. Delegated Power (Kekuasaan didelegasikan)
Negosiasi antara masyarakat dengan pejabat pemerintah bisa mengakibatkan terjadinya dominasi kewenangan pada masyarakat terhadap rencana atau program tertentu. Pada tingkat ini masyarakat menduduki mayoritas kursi, sehingga memiliki kekuasaan dalam menentukan suatu keputusan. Selain itu masyarakat juga memegang peranan penting dalam menjamin akuntabilitas program tersebut. Untuk mengatasi perbedaan, pemegang kekuasaan tidak perlu meresponnya akan tetapi dengan mengadakan proses tawar menawar.
8. Citizen Control (Kontrol warga negara)
14
mereka, bertanggung jawab penuh terhadap kebijakan dan aspek-aspek manajerial dan bisa mengadakan negosiasi apabila ada pihak ketiga yang akan mengadakan perubahan. Dengan demikian, masyarakat dapat berhubungan langsung dengan sumber-sumber dana untuk memperoleh bantuan atau pinjaman tanpa melewati pihak ketiga.
Berdasarkan kedelapan tangga tersebut, Arnstein (1969) mengelompokkannya lagi menjadi tiga tingkat berdasarkan pembagian kekuasaan, yaitu: (1) Non-partispasi, (2) Tokenisme, dan (3) Kekuatan warga negara (Citizen Power). Tangga pertama (Manipulation) dan kedua (Therapy) termasuk dalam tingkatan non-partisipasi atau tidak ada partisipasi.Tangga ketiga (Informing), keempat (Concultation), dan kelima (Placation) termasuk ke dalam tingkat tokenisme atau sekedar justifikasi agar masyarakat mengiyakan.Selanjutnya pada tangga keenam (Partnership), ketujuh (Delegated Power), kedelapan (Citizen Control) termasuk ke dalam tingkat citizen power dimana masyarakat telah memiliki keuasaan.Tangga partisipasi Arnstein dapat dilihat pada Gambar 1.
Menurut Pangestu (1995) terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap program, diantaranya ialah:
1. Faktor internal, yaitu faktor yang mencakup karakteristik individu yang dapat mempengaruhi individu tersebut untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Karakteristik individu mencakup umur, tingkat pendidikan, jumlah beban keluarga, jumlah pendapatan, dan pengalaman berkelompok. 2. Faktor eksternal, yaitu faktor yang meliputi hubungan yang terjalin antara
pihak pengelola proyek dengan sasaran dapat mempengaruhi partisipasi. Sasaran akan dengan sukarela terlibat dalam suatu proyek jika sambutan pihak pengelola positif dan menguntungkan mereka. Selain itu, bila didukung dengan pelayanan pengelolaan yang positif dan tepat dibutuhkan oleh sasaran, maka sasaran tidak akan ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.
Citizen Control
Delegated Power
Partnership
Placation
Concultation
Informing
Therapy
Manipulation
Kekuatan warga negara (Citizen Power)
Tokenisme
Non-Partisipasi
15
Kerangka Pemikiran
Bagi perusahaan, CSR tidak terpisahkan dari bisnis. Menurut Wibisono (2007) CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi sosial dan lingkungan (tripple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Bentuk aktualisasi CSR suatu perusahaan dapat diwujudkan melalui program yang berbasis masyarakat. Program tersebut diharapkan mampu menciptakan kemandirian komunitas lokal untuk menata sosial ekonomi mereka sendiri. WASH adalah salah satu program CSR PT AGM yang berada dibawah payung besar Aqua Lestari. Program tersebut bertujuan untuk memberikan penyediaan sarana dan prasarana air bersih, memfasilitasi kelembagaan pengguna air, serta membangun perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat di sekitar PT AGM Citereup.
Peranan masyarakat dalam pelaksanaan suatu program CSR menjadi hal yang penting demi tercapainya tujuan program. Setiap peserta program memiliki karakteristik individunya masing-masing. Karakteristik individu merupakan faktor internal dari peserta program itu sendiri. Karakteristik individu peserta program meliputi umur, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pengalaman berkelompok.
Saat ini masyarakat semakin sadar bahwa perusahaan juga memiliki peranan penting dalam melestarikan lingkungan sekitar. Tingkat pengetahuan peserta program tentang program CSR WASH diduga mempengaruhi tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup. Pengetahuan peserta program dapat dilihat dari seberapa tahu masyarakat terhadap program CSR WASH PT AGM. Terdapat enam indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta program tentang program CSR WASH PT AGM diataranya ialah: (1) pengetahuan tentang konsep CSR, (2) pengetahuan tentang pelaksana program, (3) pengetahuan tentang program WASH, (4) pengetahuan tentang tujuan program, (5) pengetahuan tentang sasaran program dan (6) pengetahuan tentang manfaat program. Selain itu, tingkat pengetahuan peserta program diduga dipengaruhi oleh karakteristik peserta program CSR WASH PT AGM Citereup.
16
peserta program diduga dipengaruhi oleh karakteristik peserta program CSR WASH PT AGM Citereup.
Setiap perusahaan yang melaksanakan program CSR di dalam kegatan produksinya, tentu memiliki tujuan agar program yang mereka terapkan dapat berhasil. Terdapat dua faktor yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program CSR, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal menjadi fokus dalam penelitian ini. Ukuran keberhasilan suatu program CSR WASH PT AGM Citereup dilihat dari enam indikator, yaitu: (1)peningkatan sarana dan prasarana umum, (2) peningkatan kemandirian masyarakat, (3) peningkatan kualitas hidup masyarakat, (4) minimnya gejolak atau konflik sosial, (5) hubungan sosial masyarakat dengan perusahaan terjalin positif dan (6) adanya kepuasan dari masyarakat.
Keterangan:
: berhubungan
Gambar 2 Kerangka Pemikiran Tingkat Keberhasilan Program Corporate Social Responsibility “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup
Tingkat Partisipasi Peserta Program pada
program CSR WASH PT AGM Citereup: -Non-partisipasi -Tokenisme -Citizen Power
Tingkat Keberhasilan Program CSR WASH PT AGM Citereup: 1. Peningkatan sarana dan prasarana umum 2. Peningkatan kemandirian masyarakat 3. Peningkatan kualitas hidup masyarakat 4. Minimnya gejolak atau konflik sosial 5. Hubungan sosial masyarakat dengan
perusahaan terjalin positif
6. Adanya kepuasan dari masyarakat Tingkat Pengetahuan Peserta
Program terhadap Program CSR WASH PT AGM Citereup: 1. CSR
2. Pelaksana Program 3. Program WASH 4. Tujuan Program 5. Sasaran Program 6. Manfaat Program Karakteristik Individu:
1. Umur
2. Jenis Kelamin 3. Status Pernikahan 4. Tingkat Pendidikan 5. Jenis Pekerjaan
17 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang dapat ditarik dari penelitian ini diantaranya:
1. Umur peserta program berhubungan positif dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
2. Jenis kelamin peserta program berhubungan dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
3. Status pernikahan peserta program berhubungan positif dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
4. Tingkat pendidikan peserta program berhubungan positif dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
5. Jenis pekerjaan peserta program berhubungan positif dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
6. Pengalaman berkelompok peserta program berhubungan positif dengan tingkat pengetahuan peserta program CSR WASH PT AGM Citereup 7. Umur peserta program berhubungan positif dengan tingkat partisipasi
peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
8. Jenis kelamin peserta program berhubungan dengan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
9. Status pernikahan peserta program berhubungan positif dengan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
10. Tingkat pendidikan peserta program berhubungan positif dengan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
11. Jenis pekerjaan peserta program berhubungan positif dengan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
12. Pengalaman berkelompok peserta program berhubungan positif dengan tingkat partisipasi peserta program CSR WASH PT AGM Citereup
13. Tingkat pengetahuan peserta program terhadap program CSR berhubungan positif dengan tingkat keberhasilan program CSR WASH PT AGM Citereup
18
Definisi Operasional
1. Karakteristik Individu
Variabel Definisi Operasional Indikator Jenis Data
Umur
Lama hidup responden dari sejak
lahir hingga pada saat diwawancarai perempuan dengan
laki-laki secara biologis sejak lahir
Perempuan = 1 Laki-laki = 2
Nominal
Status Pernikahan
Ikatan sosial atau
ikatan sekolah formal yang
pernah diikuti responden
Tidak
Sekolah/Tamat SD = 1 (rendah)
Aktivitas utama yang
dilakukan oleh dalam mengikuti suatu
19 2. Tingkat Pengetahuan Peserta Program
Variabel Definisi Operasional Indikator Jenis Data
Segala sesuatu yang diketahui oleh masyarakat yang berhubungan dengan program CSR WASH PT AGM Citereup
Terbagi atas: 1. CSR
2. Pelaksana Program 3. Program WASH 4. Tujuan Program 5. Sasaran Program 6. Manfaat Program
Skor total
6-3. Tingkat Partisipasi Peserta Program
Tingkat partisipasi masyarakat adalah tingkatan partisipasi yang dicapai masyarakat dalam tangga partisipasi Arnstein (1969) dalam program CSR, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Partisipasi ini dikategorikan menjadi tinggi, sedang dan rendah untuk ketiga aspek program CSR apabila berada pada kriteria dibawah ini.
Non-partisipasi Skor dari masing-masing tangga partisipasi adalah 1 dimana terdapat 8
tangga partisipasi dari 3 tahapan partisipasi masyarakat. Sehingga, skor keseluruhan tangga partisipasi adalah 8x3=24.Jawaban “Ya” diberi skor 2 dan “Tidak” diberi skor 1. Skor minimum untuk tingkat partisipasi masyarakat adalah 24x1=24 dan skor maksimumnya adalah 24x2=48 Setelah skor minimum dan maksimum diketahui, maka jarak intervalnya adalah (48-24)/3=8. Dengan demikian dapat diketahui tingkat partisipasi masyarakat adalah:
20
4. Tingkat Keberhasilan Program
Variabel Definisi Operasional Indikator Jenis Data
Tingkat Keberhasilan
Program
Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur suatu tingkatan keberhasilan program CSR. Terbagi atas:
1.Akses terhadap air bersih 2.Penurunan biaya listrik
3.Kemampuan untuk
berhemat
4.Penurunan demo dan aksi-aksi anarkis kepada perusahaan
5.Kemudahan untuk
berinteraksi atau menyampaikan pendapat
kepada perusahaan
6.Kemampuan untuk hidup bersih dan sehat
Skor total 12-18 = 1 (rendah) Skor total 18.1-24 = 2 (tinggi)
METODE
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang mengkaji tingkat keberhasilan program Corporate Social Responsibility “Water Access Sanitation and Hygiene” PT Aqua Golden Mississippi Citereup. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survei kepada responden. Penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang lengkap (Singarimbun dan Sofian 1989). Sementara pendekatan kualitatif dilakukan melalui metode studi kasus. Pendekatan kualitatif diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara mendalam kepada informan.
Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan di RW 04 dan 13 Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kurangnya kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat dan kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan air bersih ketika musim kemarau menjadi alasan yang kuat bagi PT AGM Citereup untuk melaksanakan program WASH di wilayah tersebut. Pemilihan lokasi dilakukan dengan cara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Cicadas merupakan salah satu desa yang secara geografis berdekatan dengan PT AGM Citereup dan menjadi wilayah binaan PT AGM Citereup melalui program WASH. Waktu penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2.
Teknik Pengumpulan Data
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga penerima manfaat langsung program CSR PT AGM Citereup di Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah rumah tangga di RW 04 dan 13 Desa Cicadas yang menerima manfaat langsung program CSR WASH PT AGM Citereup pada tahun 2010. Sampel yang di ambil di RW 04 adalah RT 01 dan 04, sedangkan untuk di RW 13 adalah RT 03 dan 05 dengan alasan empat RT tersebut adalah wilayah yang terkena program CSR WASH PT AGM Citereup dan juga karena letaknya yang berdekatan. Unit analisanya adalah individu peserta program CSR WASH PT AGM di RW 04 dan 13 Desa Cicadas.
Sampel diambil dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak sederhana atau Simple Random Sampling. Responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 60 orang yang menjadi penerima manfaat langsung program CSR WASH PT AGM Citereup di RW 04 dan 13. Pendekatan kualitatif diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara mendalam kepada informan. Informan dipilih secara purposive atau sengaja. Informan dalam penelitian ini adalah Bapak HRY selaku Community Development Officer PT AGM Citereup dan Bapak NRD selaku sekretaris pemerintahan Desa Cicadas.
22
mendalam dengan informan yang dipilih. Wawancara diarahkan dengan panduan pertanyaan wawancara mendalam.
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer berupa data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari kuesioner, wawancara mendalam, serta observasi langsung. Data sekunder sebagai data pendukung diperoleh melalui studi literatur berupa dokumen-dokumen yang terkait dengan data-data bentuk program CSR yang dilaksanakan oleh PTAGM Citereup dan data demografi penduduk.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
DESA CICADAS
Pada bab ini dipaparkan mengenai profil Desa Cicadas yang akan dibagi menjadi sub bab. Sub bab tersebut diantaranya ialah karakteristik geografis, karakteristik penduduk, karakteristik ekonomi, karakteristik sosial, dan struktur kebudayaan masyarakat.
Karakteristik Geografis
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cicadas. Desa Cicadas merupakan salah satu desa binaan PT Aqua Golden Mississippi Citereup yang terletak di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor yang menjadi sasaran prngimplementasian program WASH. Desa Cicadas berjarak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kecamatan Gunung Putri, 15 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, dan 150 km dari pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Desa Cicadas memiliki 17 Rukun Warga (RW), 68 Rukun Tetangga (RT), dan 5 Dusun.Desa ini juga berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu:
1. Sebelah Utara : Desa Wanaherang 2. Sebelah Selatan : Desa Klapanunggal 3. Sebelah Timur : Kali Cileungsi 4. Sebelah Barat : Desa Bojong Nangka
Luas wilayah Desa Cicadas ialah 665.486 Ha yang terdiri dari jalan, bangunan umum, pemukiman dan lain-lain. Wilayah Desa Cicadas 48 persen digunakan untuk wilayah industri yang terdiri dari 20 unit industri beskala besar, 52 unit industri berskala sedang, dan 28 unit industri berskala kecil. Keberadaaan industri di Desa Cicadas menyebabkan pasokan air ke wilayah tempat tinggal warga semakin berkurang, karena sebagian besar industri memanfaatkan sumberdaya air di desa tersebut untuk keperluan produksinya. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 3
Sumber : Profil dan potensi Desa Cicadas (2011)
Gambar 3 Luas wilayah Desa Cicadas menurut penggunaan lahan pada tahun 2011
0% 5%
12%
48% 9%
24%
1%1% Luas (Ha)
Jalan
24
Karakteristik Penduduk
Berdasarkan Data Demografi Desa Cicadas pada tahun 2011, penduduk Desa Cicadas terdiri dari 8871 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk laki-laki relatif lebih banyak dibandingkan perempuan. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel 2
Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Cicadas menurut jenis kelamin pada tahun 2011
Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Laki-laki 8.916 53.11
Perempuan 7.870 46.89
Total 16.786 100.0
Sumber : Profil dan potensi Desa Cicadas (2011)
Tabel 3 menggambarkan bahwa mayoritas penduduk Desa Cicadas berada pada usia produktif muda dan lainnya berada pada usia produktif menengah dan produktif tua.
Tabel 3 Jumlah dan persentase kategoriumur masyarakat Desa Cicadas berdasarkan interval usia pada tahun 2011
Kategori Usia berdasarkan Interval Usia Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Produktif Muda (<35 tahun) 12.444 74.14
Produktif Menengah (35-50 tahun) 3091 18.42
Produktif Tua (>50 tahun) 1174 7.44
Sumber : Profil dan potensi Desa Cicadas (2011)
Jumlah penduduk yang demikian banyaknya menyebabkan kebutuhan masyarakat Desa Cicadas akan air bersih semakin tinggi. Jumlah penduduk produktif muda yang cenderung lebih banyak dibandingkan lainnya, menyebabkan semakin tingginya jumlah pasokan air bersih yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti untuk keperluan mencuci baju/seragam sekolah anak-anak dan lainnya.
Mayoritas penduduk Desa Cicadas menganut agama Islam, sedangkan sebagian kecil penduduk menganut agama Budha dari total keseluruhan penduduk dan lainnya menganut agama Katolik, Protestan, dan Hindu, lihat Tabel 4
Tabel 4 Jumlah dan persentase agama masyarakat Desa Cicadas pada tahun 2011
Agama Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Islam 16.564 98.67
Khatolik 58 0.34
Protestan 104 0.61
Budha 27 0.16
Hindu 33 0.19
25 Karakteristik Ekonomi
Karakteristik ekonomi desa Cicadas dapat dilihat pada jumlah dan persentase mata pencaharian masyarakatnya. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Cicadas ialah wiraswasta (perdagangan). Meskipun di wilayah desa Cicadas terdapat ratusan unit industri, namun hanya sedikit masyarakat yang bekerja menjadi buruh industri. Sedangkan yang lainnya bermata pencaharian PNS, jasa, hansip, ARI, polisi ataupun sudah pensiun. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel 5
Tabel 5 Jumlah dan persentase mata pencaharian masyarakat Desa Cicadas pada tahun 2011
Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)
PNS 68 15.04
ABRI 6 1.3
Swasta 105 23.2
Wiraswasta (Perdagangan) 134 29.6
Polisi 3 0.6
Hansip 12 2.6
Pensiunan 107 23.6
Jasa 17 3.7
Total 452 100.0
Sumber : Profil dan potensi Desa Cicadas (2011)
Karakteristik Sosial
Wilayah Desa Cicadas meski sebagian besar digunakan sebagai lahan industri, bukan berarti penduduknya bermatapencaharian sebagai buruh pabrik, melainkan mayoritas dari mereka berprofesi sebagai wiraswasta. Selain itu, mayoritas masyarakat Desa Cicadas hanyalah tamatan Sekolah Dasar (SD) (Bapak NRD, sekretaris pemerintahan Desa Cicadas). Artinya, tingkat pendidikan masyarakat Desa Cicadas ialah rendah. Hal tersebut dikarenakan dulunya sebagian besar dari masyarakat lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan agama ke pondok pesantren dibandingkan harus melanjutkan pendidikan formal. Untuk pelapisan sosial masyarakat Desa Cicadas tidak terlalu tampak.Saat ini, jumlah masyarakat pendatang di Desa Cicadas sudah hampir menyetarai jumlah masyarakat aslinya. Peningkatan jumlah pendatang ini juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya ketersediaan air sebelumnya di Desa Cicadas. Pemenuhan masyarakat akan air bersih mereka peroleh dari sumur bor yang mereka buat dirumahnya masig-masing.
26
Struktur Kebudayaan Masyarakat
Masyarakat Desa Cicadas mayoritas berbudaya sunda. Budaya sunda tersebut terlihat dari bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat asli Desa Cicadas. Namun saat ini, budaya tersebut sudah tidak terlalu kental digunakan oleh masyarakatnya. Pengaruh budaya campuran yang dibawa oleh masyarakat pendatang membuat hampir seluruh masyarakat Desa Cicadas menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan sehari-hari. Tempat tinggal mereka sudah bergaya modern dan hanya sebagian kecil dari masyarakat desa yang masih mempertahankan rumah aslinya.
Islam adalah agama yang mayoritas dipeluk oleh masyarakat Desa Cicadas. Tapi bukan berarti mereka memiliki aturan yang sama dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Ada sebagian kecil dari masyarakat yang masih mempertahankan budaya keislaman dari pondok pesantrennya pada zaman dahulu. Seperti anti menggunakan speaker dan teknologi apapun dirumahnya masing-masing ataupun menggunakan pengeras suara untuk masjid.
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu alasan PT AGM dalam merencanakan pengimplementasian program Akses Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan atau Water Access Sanitation and Hygiene (WASH) di Desa Cicadas. Terbukti dengan masih terdapatnya tempat pembuangan air limbah rumah tangga ditempat terbuka, banyaknya sampah yang berserakan di jalan sekitar tempat tinggal mereka, dan minimnya saluran air/selokan. Hal ini dipertegas oleh Bapak HRY, Community Development Officer PT AGM:
“...penduduk Cicadas itu sebenernya bisa bedain mana bersih dan enggak bersih, mana sehat dan ngga sehat mbak, tapi untuk menerapkannya itu ogah-ogahan. Kubangan air limbah rumah tangga dimana-mana, kan jadi bau, nggak sehat, dan sangat nggak indah dilihat...” -Bapak HRY.
Banyaknya industri yang beroperasi diwilayah Desa Cicadas membuat desa ini mengalami pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi di Desa Cicadas dapat dikatakan tinggi. Hal tersebut dapat terlihat pada saluran-saluran air yang tercemar oleh limbah pabrik dan debu yang sangat tebal di sekitar jalan utama desa. Pencemaran lingkungan ini akan menjadi ancaman bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan Desa Cicadas.
Ikhtisar
27 Agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Desa Cicadas ialah Islam yaitu sebanyak 98,67 persen dari total masyarakat secara keseluruhan. Meskipun mayoritas lahan digunakan sebagai wilayah industri, bukan berarti mayoritas masyarakat bekerja sebagai karyawan swasta ataupun buruh pabrik, melainkan sebagai wiraswasta (perdagangan). Hal tersebut dikarenakan mayoritas penduduk yang bekerja di sektor swasta adalah warga pendatang.
PROGRAM
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
Pada bagian ini dipaparkan mengenai program CSR PT Aqua Golden Mississippi. Seluruh program-program CSR PT AGM berada dibawah payung besar “Aqua Lestari” dan dibagi menjadi lima program. Kemudian lebih lanjut akan dijelaskan mengenai program WASH sebagai salah satu program yang telah diimplementasikan di Desa Cicadas.
Program Corporate Social Responsibility PT Aqua Golden Mississippi
Aqua adalah sebua diproduksi oleh Aqua Golden Mississippi (PT AGM) di yang menggunakan salah satu sumber daya alam yaitu air sebagai bahan baku utama dalam menjalankan kegiatan usahanya, PT AGM turut serta berperan dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut selaras dengan konsep tripple bottom line dimana PT AGM tidak hanya mementingkan keuntungan ekonomi saja, tetapi juga pencapaian pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. PT AGM menjaga sumber alam dengan tidak mengambil lebih dari apa yang diberikan oleh alam.
Visi PT AGM adalah Aqua telah menjadi bagian dari keluarga sehat Indonesia selama 40 tahun. Sebagai pelopor AMDK, kini Aqua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup sehat masyarakat Indonesia. Dulu dan kini, Aqua tetap dan selalu menjadi yang terbesar dan terdepan di Indonesia. Volume penjualan Aqua merupakan volume penjualan terbesar di dunia untuk kategori air mineral. Sedangkan, misi PT AGM adalah Aqua selalu ingin melakukan program untuk menyehatkan konsumen Indonesia.
PT AGM bertanggung jawab terhadap kelestarian sumber mata air dengan mengajak peran serta masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama melindungi lingkungan alam sekitar. Kegiatan PT AGM bersama masyarakat setempat dalam menjalankan program sosial dan lingkungan hidup bertujuan untuk melestarikan sumber daya air dan memberdayakan masyarakat. PT AGM juga ikut berperan serta pada penurunan emisi CO2 . Kegiatan yang dilakukan adalah dengan menghitung tingkat emisi CO2, mulai dari pengiriman bahan baku supplier, jenis bahan baku, proses produksi, pengiriman dari pabrik hingga ke konsumen, penyimpanan produk di gudang, dan yang terakhir adalah tingkat daur ulang di tempat pembuangan akhir. Bentuk kepedulian dan tanggung jawab PT AGM dalam menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat diwujudkan melalui program-program CSR yang berada di bawah payung besar “Aqua Lestari”.
Program CSR-Aqua Lestari
30
terdapat empat pilar yang terdapat pada Aqua Lestari, yaitu pelestarian air dan lingkungan, praktik perusahaan ramah lingkungan, pengelolaan distribusi produk, dan pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Berikut penjelasan singkat mengenai empat pilar Aqua Lestari:
1. Pelestarian Air dan Lingkungan
Program-program pelestarian air dan lingkungan berbasis pada pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Hal ini dilakukan dengan menjalankan program konservasi yang meliputi penanaman pohon di daerah hulu dan sekitar pabrik, pembuatan biopori dan sumur resapan, serta penginisiasi program kali bersih di daerah pemukiman. Program pertanian berkelanjutan juga dilakukan di daerah daerah pertanian untuk mengurangi perilaku penggunaan pupuk maupun pestisida kimia, serta menerapkan konsep hemat air dalam pengelolaan lahan. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) merupakan komitmen jangka panjang dan memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan terkait.
2. Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan
Praktik perusahaan ramah lingkungan adalah komitmen AQUA Group untuk menjalankan operasi bisnisnya dengan mengedepankann nilai-nilai hak asasi manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, kualitas dan kepatuhan pada peraturan serta perundang-undangan yang berlaku. Emisi gas rumah kaca merupakan penyebab perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan kualitas hidup manusia. AQUA Group melakukan berbagai inovasi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan kinerja operasionalnya. Untuk mencapai target penurunan emisi beberapa inisiatif dilakukan, yaitu antara lain mengurangi berat dari material kemasan dan melakukan penghematan listrik antara lain merancang ulang proses, mengkonversi dan mengganti peralatan, serta mendorong perubahan perilaku individu.
3. Pengelolaan Distribusi Produk
AQUA Group menyadari bahwa distribusi produk juga perlu dikelola dengan baik sehingga tidak berkembang menjadi suatu resiko yang besar bagi lingkungan dan masyarakat ke depannnya. Pengelolaan distribusi produk AQUA Group dimulai dengan sejumlah langkah seperti menjalankan program pendidikan keselamatan transportasi (safety driving) bagi supir pengantar (transporter) dan karyawan, berkontribusi pada perawatan jalan, serta mengkaji peluang penggunaan model transportasi alternatif kereta api untuk mengangkut produk dari pabrik-pabrik di Sukabumi ke Jakarta.
4. Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat