PENGHORMATAN DALAM ISLAM PERSPEKTIF HADIS
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud)
Penulis:
Ahmad Qurtubi
NIM. 106034001216
JURUSAN TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ABSTRAK
“Islam sebagai agama terbesar di dunia memuliki peran penting dalam menjaga moral manusia. Ia diharapkan mampu memberikan peran aktif dalam memajukan peradaban dunia. Muhammad sebagai pembawanya hanya mengatakan bahwa ia meninggalkan dua hal bagi umatnya, yakni alquran dan hadis. Di sisi lain sejarah hidupnya menjadi bagian penting dari pembentukan sejarah peradaban manusia. Peradaban yang bersih dan terhormat. Penghormatan yang saat ini menjadi problematika menjadikan Islam memiliki jawaban tersendiri dalam memberi solusi terhadapnya. Dan hadis yang menjadi gambaran kehidupan Nabi menjadi penting untuk diketahui karena telah memberi jawaban solutif terhadap penghormatan itu. Karena memang penghormatan yang berlebih bukan hal baru pada saat ini, akan merupakan adat Timur, yang membudidaya pada masyarakat kita. Sehingga bentuk kontekstualisasi hadis adalah kemutlakan pilihan dalam era yang berbeda ini, yakni era yang lebih modern dengan budaya yang berbeda, istilah yang berbeda, dan sistem hukum yang berbeda. Atau bahkan definisi penghormatan yang berbeda.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak kita jumpai dalam suatu pertemuan, manakala ada seorang kaya masuk mereka ramai-ramai berdiri memberi penghormatan. Sementara kalau si miskin, tak satupun yang berdiri. Yang demikian itu tentu akan menimbulkan perasaan iri hati terhadap yang kaya dan seluruh hadirin dalam majlis itu. Terjadinya perasaan iri hati dan dengki diantara sesama muslim salah satu penyebabnya adalah diskriminasi penghormatan.
Ketika masyarakat menjadikan posisi sosial seseorang sebagai standar penghormatan maka yang terjadi adalah timbulnya klasifikasi sosial atau pengkotak-kotakan masyarakat menurut kedudukannya. Bila ia seorang kaya maka penghormatannya lebih tinggi dari pada si miskin. Sehingga terjadilah apa yang disebut kesenjangan sosial / ketidak-adilan sosial.
Fenomena inilah yang membuat sulitnya komunikasi dengan orang yang lebih tinggi kedudukan sosialnya. Disamping itu timbul pula istilah atasan dan bawahan, padahal atasan bawahan itu adalah istilah yang artificial (palsu) karena kitalah yang membuat-buatnya.
Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan orang lain. Hal inilah yang menjadi kegelisahan tersendiri bagi saya dan merasa perlu menuangkannya menjadi bacaan yang diharapkan bisa membuka kembali respon Muhammad dalam bentuk skripsi yang berjudul “Penghormatan dalam Islam perspektif hadis”.
iii
rasa terima kasih secara khusus. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan menjadi amal tersendiri untuk mengumpulkan kita bersama seluruh umat Muhammad di sisi Allah nanti. Amin. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa terimakasih kepada orang-orang yang tidak penulis sebutkan namanya, penulis perlu menyampaikan terima kasih secara khusus kepada:
a. Bpk. Prof. Zaenun Kamal selaku Dekan baru di fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan Bpk. Dr. M. Amin Nurdin yang telah digantikannya.
b. Bpk Dr. Bustamin MA, selaku Ketua Jurusan sekaligus orang yang selalu memotivasi kami untuk segera menyelesaikan skripsi kami. jazakumullah khairan katsîra.
c. Bpk Rifqi Muhammad Fatih yang telah sabar membimbing al-Faqîr, ana dapat banyak ilmu dari antum.
لاز ﷲا ﺮﻴﻐﻟ نﺎﻛﺎﻣو
,
ﻞﺼّﺗاو داز ﻪّﻠِﻟ نﺎﻛﺎﻣ
ﻞﺼﻔﻧاو
d. Ayah ummi tercinta H.Jamhuri dan Ma’anih yang selalu memarahiku, tapi kuyakin semua itu kau lakukan agar anakmu yang satu ini berhasil.
e. Terima kasih juga untuk para guru-guru yang telah membimbing al-Faqir sampai sekarang ini dan sudi kiranya untuk meminjamkan kitab-kitabnya, KH.Muhammad Zakwan, KH.Abdul Muhit, KH.Usman Syarif, KH. Ali Hasan, KH. Ahmad Kosasih, KH. Ahmad Faisal Asmawi, KH.Agus Subhan dan para Asâtiz lainnya.
h. Kawan-kawan yang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam, para alumni latihan kader I 2007, Irdi, Bara, Euis, Syamsul dll, dan juga adik-adik TH yang selama kami menjabat sebagai Pres TH selalu membantu dalam kegiatan-kegiatan yang kami jalankan, al-Makhsûs: Dika, Arma, Pipit, Bibah, Jarwo, Usep, Dwi, Fuad, dan para senior HMI komisariat Ushuluddin yang telah mendidik kami menjadi seorang patriot sejati: Fajar, Mu’amar, Fikri, Su’udi, TB, Syafa’at, Iwenk, Fitroh dan yang lain. i. Kawan-kawan TH angkatan 2006-2007 semuanya, wa bil khusus: Haikal
(paling uzur), Zami (Thanks atas tumpangannya pas motor ane ilang, eh ikut ilang juga dah motor ente), Irfan (paling khoir), Enju (paling kesel ane ama ente, masa skripsi dikata khutbah), encin (salut ane ma ente 2 semester 30 mata kuliah), Falaq (thanks udah mau jadi wakil ane).
Selanjutnya, penulis tak lupa untuk menyadari bahwa tulisan ini pastilah ada kekurangan disana-sini. Untuk itu, kiranya saran, kritikan dan berbagai sambutan yang konstruktif masih sangat penulis butuhkan guna kesempurnaan tulisan dan pengetahuan penulis.
Akhirnya, penulis berharap tulisan ini akan bermanfaat dan tidak hanya sekedar jadi tuntutan kuliah ataupun etalase hiasan dinding belaka.
v
PEDOMAN TRANSLITERASI1
Huruf Arab Konsonan
Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب B be
ت T te
ث Ts te dan es
ج J Je
ح H h dengan garis bawah
خ Kh ka dan ha
د D da
ذ Dz De dan zet
ر R Er
ز Z Zet
س S Es
ش Sy es dan ye
ص S es dengan garis bawah
ض D de dengan garis bawah
ط T te dengan garis bawah
ظ Z zet dengan garis bawah
ع ‘ koma terbalik keatas, menghadap ke kanan
غ Gh ge dan ha
ف F Ef
1 Pedoman ini disesuaikan dengan pedoman akademik fakultas Ushuluddin dan Filsafat
ق Q Ki
ك K Ka
ل L El
م M Em
ن N En
و W We
ـﻫ H Ha
ء ‘ Apostrof
ي Y Ye
Vokal
Vokal dalam bahasa Arab, seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal alih aksaranya adalah sebai beeriku:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
______َ a fathah
___ ِ◌___ i kasrah
______ُ u dammah
Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﻱ__ َ◌__ ai a dan i
ﻭ ____َ au a dan u
Vokal Panjang (Madd)
Ketentuan alih aksara vokal panjang (Madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, adalah sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
vii
ﻲــ î i dengan topi di atas
ﻮـــ û u dengan topi di atas
Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu alif dan lam, dialih aksarakan menjadi huruf /l/ , baik diikuti oleh huruf syamsyiah maupun qamariyah. Contoh: al-rijâl bukan ar-rijâl, al-dîwân bukan ad-dîwân.
Syaddah (Tashdid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kaata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya yang secaraa lisan berbunyi ad-daruurah, tidak ditulis “ad-darûrah”, melainkan “al-darûrah”, demikian seterusnya.
Ta Marbûtah
Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan manjadi huruf /h/ (lihat contoh 1 di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbûtah tersebut diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Akan tetapi, jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti oleh kata benda (isim), maka huruf tersebutdialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).
Contoh:
no Kata Arab Alih aksara
1 ﺔﻘﻳﺮﻃ tarîqah
2 ﺔﻴﻣﻼﺳﻹا ﺔﻌﻣﺎﺠﻟا al-jâmî ah al-islâmiyyah
Huruf Kapital
Meskipun dalam tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf capital tersebut juga digunakan, dengan memiliki ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain yang menuliskan kalimat, huruf awal nama tempat nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf capital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid al-Ghazâli bukan Abû Hamid Al-Ghazâli, al-Kindi bukan Al-Kindi.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... III
KATA PENGANTAR ... IV
PEDOMAN TRANSLITERASI ... VII
DAFTAR ISI ... XI
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Identifikasi Masalah ... 6
C.Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7
D.Metodologi Penelitian ... 8
E.Kajian Pustaka ... 9
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
G.Sistematika Penulisan ... 11
BAB II : MEMAHAMI PENGHORMATAN ... 14
A.Pengertian Penghormatan ... 14
B.Penghormatan Terhadap Manusia Dalam Pandangan Islam ... 16
C.Bentuk-bentuk Perilaku Penghormatan ... 25
1. Mencium Tangan ... 25
2. Inhinâ (Menundukan Badan) ... 27
3. Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang ... 29
BAB III : HADIS-HADIS TENTANG PENGHORMATAN ... 31
ix
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis ... 31
2. Pendapat Ulama Tentang Mencium Tangan ... 40
3. Analisa Hadis Mencium Tangan ... 44
B.Inhina (Menundukan Badan) ... 47
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis ... 47
2. Pendapat Ulama Tentang Inhina ... 49
3. Analisa Hadis Inhina ... 51
C.Berdiri Menyambut Kedatangan Seseorang ... 54
1. Teks Hadis, Asbabul Wurud Hadis, dan Kualitas Hadis ... 54
2. Pendapat Ulama Tentang Berdiri Menyambut Seseorang ... 64
3. Analisa Hadis Berdiri Menyambut Seseorang ... 68
BAB V : PENUTUP ... 72
A.Kesimpulan ... 72
B.Saran ... 74
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu kewajiban antara satu muslim dengan muslim yang lainnya adalah untuk saling menghormati dan memberikan penghormatan, di antara bentuk penghormatan yang dilakukan umat muslim di Indonesia ini adalah mencium tangan, menundukan kepala, dan berdiri ketika seorang datang.
Beberapa hadis yang mungkin digunakan sebagai dalilnya adalah sebagai berikut:
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﻮُﺑَأ
ٍﺮْﻜَﺑ
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ُﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ُﻦْﺑ
َﺲﻳِرْدِإ
ٌرَﺪْﻨُﻏَو
ﻮُﺑَأَو
َﺔَﻣﺎَﺳُأ
ْﻦَﻋ
َﺔَﺒْﻌُﺷ
ْﻦَﻋ
وِﺮْﻤَﻋ
ِﻦْﺑ
َةﱠﺮُﻣ
ْﻦَﻋ
ِﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ِﻦْﺑ
َﺔَﻤَﻠَﺳ
ْﻦَﻋ
َناَﻮْﻔَﺻ
ِﻦْﺑ
ٍلﺎﱠﺴَﻋ
:
ﱠنَأ
ﺎًﻣْﻮَـﻗ
ْﻦِﻣ
ِدﻮُﻬَـﻴْﻟا
اﻮُﻠﱠـﺒَـﻗ
َﺪَﻳ
ﱢِﱯﱠﻨﻟا
ﻰﱠﻠَﺻ
ُﻪﱠﻠﻟا
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢﱠﻠَﺳَو
ِﻪْﻴَﻠْﺟِرَو
1F 2Telah menceritakan kepada kami Abû Bakar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idrîs dan Ghundar dan Abû Usâmah, dari Syu'bah, dari 'Amru bin Murrah, dari ‘Abdullah bin Salamah dari Safwân bin 'Assâl, bahwa sekelompok orang Yahudi mencium tangan dan kedua kaki Nabi saw."
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ٌﺪْﻳَﻮُﺳ
ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ
ُﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ
ُﺔَﻠَﻈْﻨَﺣ
ُﻦْﺑ
ِﺪْﻴَـﺒُﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ْﻦَﻋ
ِﺲَﻧَأ
ِﻦْﺑ
ٍﻚِﻟﺎَﻣ
لﺎَﻗ
:
َلﺎَﻗ
ٌﻞُﺟَر
ﺎَﻳ
َلﻮُﺳَر
ِﻪﱠﻠﻟا
ُﻞُﺟﱠﺮﻟا
ﺎﱠﻨِﻣ
ﻰَﻘْﻠَـﻳ
ُﻩﺎَﺧَأ
ْوَأ
ُﻪَﻘﻳِﺪَﺻ
ِﲏَﺤْﻨَـﻳَأ
ُﻪَﻟ
َلﺎَﻗ
َﻻ
َلﺎَﻗ
ُﻪُﻣِﺰَﺘْﻠَـﻴَـﻓَأ
ُﻪُﻠﱢـﺒَﻘُـﻳَو
َلﺎَﻗ
َﻻ
َلﺎَﻗ
ُﺬُﺧْﺄَﻴَـﻓَأ
ِﻩِﺪَﻴِﺑ
ُﻪُﺤِﻓﺎَﺼُﻳَو
َلﺎَﻗ
ْﻢَﻌَـﻧ
2F 3Telah menceritakan kepada kami Suwaid, telah memberitakan kepada kami Handzolah bin ‘Ubaidillah, dari Anas bin Mâlik (ia berkata): telah berkata seorang laki-laki: wahai Rasulullah saw apabila seorang laki-laki diantara kami bertemu dengan saudaranya atau kerabatnya apakah kami harus menunduk kepadanya, Rasul menjawab: “Tidak”, apakah kami harus memeluk dan menciumnya, Rasul menjawab: “Tidak”, apakah kita harus mengambil tangannya dan berjabat dengannya, Rasul menjawab:”Ya”.
2 Abû ‘Abdillâh Muhammad Ibn Yazîd al-Qazwinî Ibn Mâjah, Sunan Ibnu Mâjah
(Semarang:Thoha Putera) j.2, hal. 1220, Kitâb al-Adab Bâb ar-Rojulu Yuqobbilu Yada ar-Rojuli. 3 Al-Tirmidzî, al-Jâmi’us Sahih wa huwa Sunan al-Tirmidzî, (Semarang:Thoha Putera),
ْﻦَﻋ ُﻞﻴِﺋاَﺮْﺳِإ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ َﺮَﻤُﻋ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﺜُﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ َﻻﺎَﻗ ٍرﺎﱠﺸَﺑ ُﻦْﺑاَو ﱟﻲِﻠَﻋ ُﻦْﺑ ُﻦَﺴَْﳊا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ َﲔِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟا ﱢمُأ ْﻦَﻋ َﺔَﺤْﻠَﻃ ِﺖْﻨِﺑ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ وٍﺮْﻤَﻋ ِﻦْﺑ ِلﺎَﻬْـﻨِﻤْﻟا ْﻦَﻋ ٍﺐﻴِﺒَﺣ ِﻦْﺑ َةَﺮَﺴْﻴَﻣ
ْﺖَﻟﺎَﻗ ﺎَﻬﱠـﻧَأ ﺎَﻬْـﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر
:
ﺎًﺜﻳِﺪَﺣ ُﻦَﺴَْﳊا َلﺎَﻗَو ّﻻَدَو ﺎًﻳْﺪَََو ﺎًﺘََْ َﻪَﺒْﺷَأ َنﺎََ اًﺪَﺣَأ ُﺖْﻳَأَر ﺎَﻣ
َﺔَﻤِﻃﺎَﻓ ْﻦِﻣ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَﺮِﺑ ﱠلﱠﺪﻟاَو َيْﺪَْﳍاَو َﺖْﻤﱠﺴﻟا ُﻦَﺴَْﳊا ْﺮَُْﺬَﻳ َْﱂَو ﺎًﻣ َﻼَََو
ِﻪِﺴِﻠَْﳎ ِﰲ ﺎَﻬَﺴَﻠْﺟَأَو ﺎَﻬَﻠﱠـﺒَـﻗَو ﺎََِﺪَﻴِﺑ َﺬَﺧَﺄَﻓ ﺎَﻬْـﻴَﻟِإ َمﺎَﻗ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﺖَﻠَﺧَد اَذِإ ْﺖَﻧﺎََ ﺎَﻬَﻬْﺟَو ُﻪﱠﻠﻟا َمﱠﺮََ
ﺎَﻬِﺴِﻠَْﳎ ِﰲ ُﻪْﺘَﺴَﻠْﺟَأَو ُﻪْﺘَﻠﱠـﺒَﻘَـﻓ ِﻩِﺪَﻴِﺑ ْتَﺬَﺧَﺄَﻓ ِﻪْﻴَﻟِإ ْﺖَﻣﺎَﻗ ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ َﻞَﺧَد اَذِإ َنﺎَََو
3F 4Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Ali dan Ibn Basysyâr (keduanya berkata); telah menceritakan kepada kami ‘Utsmân bin Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Isrâ'îl dari Maisarah bin Habîb, dari Al-Minhal bin Amru, dari 'Âisyah binti Thalhah, dari Ummul Mukminin 'Âisyah ra (ia berkata,: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang mirip dalam kesopanan, ketenangan, kesabaran dalam memberi petunjuk, dan Al-Hasan tidak pernah menyebutkan 'ketenangan, kesabaran dalam memberi petunjuk - seperti Rasulullah saw selain dari pada Fatimah -semoga Allah memuliakan wajahnya-. Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya."
Beberapa penghormatan yang saya sebutkan di atas menyebabkan adanya perbedaan pendapat tentang bagaimana pengormatan yang seharusnya dilakukan oleh dua orang muslim ketika bertemu, karena dikhawatirkan terjadi penghormatan yang berlebih, telah disebutkan beberapa hadis dari Nabi Muhammad saw, yang diantaranya:
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﱡيِﺪْﻴَﻤُْﳊا
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ُنﺎَﻴْﻔُﺳ
َلﺎَﻗ
ُﺖْﻌََِ
ﱠيِﺮَْﱡﺰﻟا
ُلﻮُﻘَـﻳ
ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ
ُﺪْﻴَـﺒُﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ُﻦْﺑ
ِﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ْﻦَﻋ
ِﻦْﺑا
ٍسﺎﱠﺒَﻋ
َﻊََِ
َﺮَﻤُﻋ
َﻲِﺿَر
ُﻪﱠﻠﻟا
ُﻪْﻨَﻋ
ُلﻮُﻘَـﻳ
ﻰَﻠَﻋ
َِﱪْﻨِﻤْﻟا
ُﺖْﻌََِ
ﱠِﱯﱠﻨﻟا
ﻰﱠﻠَﺻ
ُﻪﱠﻠﻟا
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢﱠﻠَﺳَو
ُلﻮُﻘَـﻳ
َﻻ
ِﱐوُﺮْﻄُﺗ
ﺎَﻤََ
ْتَﺮْﻃَأ
ىَرﺎَﺼﱠﻨﻟا
َﻦْﺑا
ََﱘْﺮَﻣ
ﺎَﱠﳕِﺈَﻓ
ﺎَﻧَأ
ُﻩُﺪْﺒَﻋ
اﻮُﻟﻮُﻘَـﻓ
ُﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ُﻪُﻟﻮُﺳَرَو
4F 5Telah menceritakan kapada kami Al-Humaidiy, telah menceritakan kepada kami Sufyân (bahwa ia telah berkata), aku telah mendengar
4Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud,(Darr Al-Fikr), j.4, hal.355, Kitâb al-Adab Bâb Ma Jâa
fi al-Qiyâm.
3
Zuhriy berkata: telah memberitakan kepadaku ‘Ubaidillah ibn ‘Abdillah, Dari Ibn ‘Abbâs mendengar ‘Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan ‘Îsa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Kekhawatiran Nabi tentang sikap yang berlebih ini juga pernah diucapkan dalam sebuah hadis:
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﱡﻲِﻠَﻋ
ُﻦْﺑ
ٍﺪﱠﻤَُﳏ
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﻮُﺑَأ
َﺔَﻣﺎَﺳُأ
ْﻦَﻋ
ٍفْﻮَﻋ
ْﻦَﻋ
ِدﺎَﻳِز
ِﻦْﺑ
ِْﲔَﺼُْﳊا
ْﻦَﻋ
ِﰊَأ
ِﺔَﻴِﻟﺎَﻌْﻟا
ْﻦَﻋ
ِﻦْﺑا
ٍسﺎﱠﺒَﻋ
َلﺎَﻗ
:
َلﺎَﻗ
ُلﻮُﺳَر
ِﻪﱠﻠﻟا
ﻰﱠﻠَﺻ
ُﻪﱠﻠﻟا
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢﱠﻠَﺳَو
َلﺎَﻗ
ﺎَﻳ
ﺎَﻬﱡـﻳَأ
ُسﺎﱠﻨﻟا
ْﻢَُﺎﱠﻳِإ
ﱠﻮُﻠُﻐْﻟاَو
ِﰲ
ِﻦﻳﱢﺪﻟا
ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ
َﻚَﻠََْأ
ْﻦَﻣ
َنﺎََ
ْﻢُﻜَﻠْـﺒَـﻗ
ﱡﻮُﻠُﻐْﻟا
ِﰲ
ِﻦﻳﱢﺪﻟا
5F 6Artinya : Meriwayatkan kepada kami 'Ali bin Muhammad meriwayatkan kepada kami Abû Usâmah dari 'Auf dari Ziyâd ibn al-Husaini dari Abi al-'Âliyah dari Abbâs (dia berkata): telah bersabda Rasulullah saw “Jauhilah sikap berlebih-lebihan di dalam Agama, karena orang-orang sebelum kalian hancur binasa karena sikap berlebihan di dalam Agama”
Hadis riwayat Ibnu Mâjah mengindikasikan bahwa jangan berlebihan di dalam Agama, dikarenakan Nabi saw telah menggambarkan orang-orang sebelum sahabat telah hancur binasa disebabkan sikap berlebihan. Walaupun hal tersebut dilakukan terhadap seseorang yang dianggap mulia di sisi Allah swt.
Sebagian orang menganggap bahwa tidak boleh memberikan penghormatan yang berlebihan, karena boleh jadi penghormatannya tersebut menyerupai penghormatannya kepada Allah swt, Komentar ini adalah penggalan dari pendapat Raja ‘Abdullah tentang penolakan dan ajakan untuk tidak mencium tangan kepada orang lain kecuali orang tua, karena hal tersebut (mencium tangan) juga menyebabkan ketundukan, yang merupakan pelanggaran pada hukum Tuhan. Ketundukan yang tepat tidak pada satu pun kecuali Tuhan. Riyadh, 12 September
6 Abî Abdillah Muhammad bin Yazîd bin al-Qazwînî (selanjutnya dikenal sebagai Ibnu
2005 11:28. 6F
7 Namun sebagian berpendapat bahwa penghormatan antar manusia boleh dilakukan dengan cara apapun, sesuai dengan urf (kebiasaan) disetiap masing-masing Negara. Dan juga boleh melakukan penghormatan dengan cara-cara tertentu, sesuai dengan kredibilitas seseorang yang dihormati.
Contoh tentang hadis berdiri ketika seorang datang: Hadis riwayat al-Tirmidzî.
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ُدﻮُﻤَْﳏ
ُﻦْﺑ
َن َﻼْﻴَﻏ
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ُﺔَﺼﻴِﺒَﻗ
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ُنﺎَﻴْﻔُﺳ
ْﻦَﻋ
ِﺐﻴِﺒَﺣ
ِﻦْﺑ
ِﺪﻴِﻬﱠﺸﻟا
ْﻦَﻋ
ِﰊَأ
ٍﺰَﻠِْﳎ
َلﺎَﻗ
:
َجَﺮَﺧ
ُﺔَﻳِوﺎَﻌُﻣ
َمﺎَﻘَـﻓ
ُﺪْﺒَﻋ
ِﻪﱠﻠﻟا
ُﻦْﺑ
ِْﲑَـﺑﱡﺰﻟا
ُﻦْﺑاَو
َناَﻮْﻔَﺻ
َﲔِﺣ
ُﻩْوَأَر
َلﺎَﻘَـﻓ
ﺎَﺴِﻠْﺟا
ُﺖْﻌََِ
َلﻮُﺳَر
ِﻪﱠﻠﻟا
ﻰﱠﻠَﺻ
ُﻪﱠﻠﻟا
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢﱠﻠَﺳَو
ُلﻮُﻘَـﻳ
"
ْﻦَﻣ
ﱠﺐَﺣَأ
ْنَأ
َﻞُﺜَْﳝ
ُﻪَﻟ
ُلﺎَﺟﱢﺮﻟا
ﺎًﻣﺎَﻴِﻗ
ْأﱠﻮَـﺒَﺘَﻴْﻠَـﻓ
ُﻩَﺪَﻌْﻘَﻣ
ْﻦِﻣ
ِرﺎﱠﻨﻟا
"
7F 8Artinya : "Meriwayatkan kepada kami Mahmûd Ibn Ghoilân Meriwayatkan kepada kami Qobîsah Meriwayatkan kepada kami Sufyân dari Habib ibn Syahîd dari Abî Mijlaz (dia berkata): Suatu ketika Mu'âwiyah hendak keluar dari majelis, maka bangun 'Abdulllah ibn az-Zuhair dan Ibn Safwân untuk memberikan penghormatan, namun ketika Mu'âwiyah melihatnya (maka ia berkata) : duduklah kalian berdua, aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Siapa suka dihormati manusia dengan berdiri, maka hendaknya ia mendiami tempat duduknya di Neraka".
Sementara hadis riwayat Abû Dâud menyatakan seperti berikut:
َﺮَﻤُﻋ ُﻦْﺑ ُﺺْﻔَﺣ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
,
ُﺔَﺒْﻌُﺷ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
,
َﻢﻴَِاَﺮْـﺑِإ ِﻦْﺑ ِﺪْﻌَﺳ ْﻦَﻋ
,
ﱢيِرْﺪُْﳋا ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﰊَأ ْﻦَﻋ
, "
ٍﺪْﻌَﺳ ِﻢْﻜُﺣ ﻰَﻠَﻋ اﻮُﻟَﺰَـﻧ ﺎﱠﻤَﻟ َﺔَﻈْﻳَﺮُـﻗ َﻞََْأ ﱠنَأ
,
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا ِﻪْﻴَﻟِإ َﻞَﺳْرَأ
,
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻘَـﻓ
,
َﺮَﻤْﻗَأ ٍرﺎَِﲪ ﻰَﻠَﻋ َءﺎَﺠَﻓ
َﻢﱠﻠَﺳَو
:
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَر َﱃِإ َﺪَﻌَـﻗ ﱠﱴَﺣ َءﺎَﺠَﻓ
,
ْﻢَُِْﲑَﺧ َﱃِإ ْوَأ ْﻢَُِﺪﱢﻴَﺳ َﱃِإ اﻮُﻣﻮُﻗ
َﻢﱠﻠَﺳَو
".
8F 9Artinya : Meriwayatkan Hafs bin ‘Umar, Menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahîm, dari Abî Umâmah bin Sahl bin
7Didownload pada 11 April 2011 02:19 dengan alamat website:
8Abî Dâud Sulaimân bin Al-Asy'at bin Ishâq As-Sijistânî, Sunan Abî Dâud, juz 4,
hal.358.
9 Abî Dâud Sulaimân bin Al-Asy'at bin Ishâq As-Sijistânî, Sunan Abî Dâud, juz 4,
5
Hunaif, dari Abî Sa’îd al-Khudriy: Sesungguhnya Bani Quraizah diputuskan sebuah hukum oleh Sa’ad, Nabi pun mengirim utusan kepadanya, tibalah Sa’ad dengan mengendarai keledai berwarna putih,, bersabda Nabi saw "Berdirilah pemimpin kalian.”
Kedua hadis di atas terkesan mukhtalif, Hadis pertama secara tekstual mengandung pengertian, bahwa seorang muslim yang suka penghormatan dengan berdiri, maka ia menghadapi ancaman masuk Neraka. Namun dalam hadis kedua Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk membantu Sa’ad ra pemimpin para shahabat Ansar yang baru saja tiba mengendarai himâr (keledai).
"Berdirilah untuk pemimpin kalian.”
Keberadaan hadis-hadis di atas tidak terlepas dari kebudayaan dan kebiasaan para sahabat Nabi saw pada waktu itu apabila mereka setelah bepergian jauh untuk misi berdakwah, sesampainya mereka berjumpa dengan Rasulullah mereka melepas kerinduaannya dengan menciumi tangan dan kakinya Rasulullah.9F
10
Adapun yang menjadi konsentrasi saya dalam pembahasan skripsi ini adalah al-Khidmah fil Islâm (penghormatan di dalam Islam) yang meliputi mencium tangan, menundukan badan, berdiri menyambut seseorang yang datang. Hal ini dikarenakan terdapat sebagian orang yang beranggapan bahwa tidak boleh mencium tangan, menundukan kepala, dan berdiri menyambut seseorang datang
Oleh karena itu penghormatan di dalam Islam menurut penulis sangat penting untuk di kaji, sehingga mendapat gambaran utuh tentang etika menghormati yang sesuai dengan ajaran Islam yaitu dengan melihat hadis-hadis Nabi saw. Tidak hanya sekedar melihat dari kebolehan ataupun pelarangan dalam estetika penghormatan. Lebih dari pada itu perlu juga melihat asbab al- wurud al-
hadis 10F
11 Dengan lain ungkapan, ketika kita ingin menggali pesan moral dari suatu hadis, perlu memperhatikan konteks historitas, kepada siapa hadis itu disampaikan Nabi saw, dalam kondisi sosio-kultural yang bagaimana Nabi saw waktu itu menyampaikannya. Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya seseorang akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami makna suatu hadis, bahkan ia dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru. Untuk itu agar penulis juga tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan suatu hadis, akan juga mengkaitkan dengan konteks kekinian.
Dari uraian di atas maka penelitian dengan judul "Penghormatan Dalam Islam Perspektif Hadis (Mencium Tangan, Menundukan Badan, dan Berdiri
Menyambut Kedatangan Seseorang) ". Layak dilakukan. B. Identifikasi Masalah
Dari hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang tersebut dapat dilihat bahwa mengingat di Negara kita banyak sekali Organisasi Islam yang dalam beberapa hal ada perbedaan pandangan, maka tidak mengeherankan apabila sering kita jumpai antara satu Organisasi dengan lainnya saling menggunjing dalam masalah Furû’iyah.
Berdasarkan uraian di atas maka saya melakuan identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tradisi penghormatan sebelum Islam? 2. Bagaimana tradisi penghormatan masa Rasulullah? 3. Apa saja bentuk-bentuk penghormatan?
11Asbab al-Wurûd al-hadîs,merupakan konteks sosiologis yang menyebabkan suatu hadis
7
4. Bagaimana konsep penghormatan dalam Islam?
5. Bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang penghormatan? 6. Bagaimana hadis berbicara tentang penghormatan?
7. Bagaimana pandangan Ulama tentang penghormatan, dan bentuk-bentuk penghormatan?
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berangkat dari penjelasan diatas, maka diperlukanlah suatu rumusan masalah guna menjaga agar penelitian ini fokus pada pembahasan dan lebih terarah.
Adapun penelitian ini memiliki beberapa batasan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana Islam memandang penghormatan dan apa saja bentuk-bentuk
penghormatan dalam Islam?
2. Bagaimana hadis berbicara tentang penghormatan serta mengindentifikasi beberapa masalah yang berkaitan dengan penghormatan dalam Islam, dengan meneliti teks hadis yang dijadikan dalil-dalil pembolehan atau pelarangan hal-hal tersebut yang ada dalam al-Kutub al-Tis’ah?
3. Bagaimana pandangan Ulama tentang penghormatan dan bentuk-bentuk penghormatan?
Untuk itu penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana pemahaman terhadap hadis-hadis tentang penghormatan sesama manusia”
D. Metodologi Penelitian
kitab-kitab hadis untuk dijadikan sumber data dalam pencarian hadis-hadis mengenai penghormatan. saya juga menelusuri karya-karya yang erat hubungannya dengan masalah penghormatan, serta kitab-kitab syarah hadis yang memuat tentang penghormatan untuk selanjutnya dapat difahami maksud dari makna hadis tersebut.
2. Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriktif-analitis yaitu sebuah metode yang menguraikan terlebih dahulu permasalahan yang akan di kaji sebagai gambaran awal, setelah itu dianalisa. Hal yang pertama adalah mengumpulkan hadis-hadis yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Setelah itu dikelompokan hadis-hadis yang mempunyai tema yang sama dengan tema penulisan skripsi ini. Dalam hal ini penulis memaparkan semua hadis-hadis yang bersangkutan dengan tema tersebut tanpa melakukan intervensi, melainkan menuliskan apa adanya. Metode penulisan skripsi ini menggunakan buku Pedoman Akademik Tafsir Hadis Tahun 2006-2007 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta.
9
Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi dengan judul al-Mu’jam al-Mufahros li alfazil hadis an-Nabawi, kamus hadis ini hanya merujuk kepada sembilan kitab hadis al-Kutub al-Tis’ah.11F
12contoh: ketika mencari kalimat at-Taqbîl maka yang harus kita lakukan adalah mengetahui akar kata dari at-Taqbîl itu sendiri, yaitu Qobbala yaitu Fi’il al-Mâdi karena kita akan kesulitan mencari jika menggunakan fi’il al-Mudâri’, ketika sudah mengetahui akar kata dari kalimat yang akan dicari, maka kita tinggal mencari kalimat tersebut di kamus ini dengan mengikuti huruf abjad bahasa Arab, yaitu huruf Qof dan yang selanjutnya huruf Ba dan Ya, dengan begitu sangat mudah bagi kita mencari hadis dengan menggunakan hadis ini. Dan setelah teks-teks hadis ditemukan maka penelitian bisa dilanjutkan kepada kualitas hadis dan pemahaman dari hadis tersebut mulai dari per-kata sampai dari maksud kandungan hadis tersebut.
E. Kajian Pustaka
Penulis menemukan dalam beberapa sumber buku yang menulis tentang masalah seputar adab seseorang ketika berjumpa, diantara buku-buku tersebut adalah:
1) Ibnu al-Muqri, ar-Rukhsah Fî Taqbîli al-Yad. Buku ini secara keseluruhan berisikan hadis-hadis tentang cium tangan, dan buku ini banyak mendapatkan kritikan diantaranya hadis-hadis di dalam buku ini banyak yang diragukan kualitasnya.
2) Âdabu Al-Musâfahah. Buku ini dikarang oleh salah satu Ulama Indonesia yaitu Muhamad Nuruddin al-Banjar al-Makkî yang telah lama belajar
dengan Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (al-Musnid ad-Dunia), buku ini membahas tentang adab seseorang ketika bertemu, ketiga hal yang saya angkat dalam penulisan ini ada di dalam buku tersebut, akan tetapi dalam buku ini tidak menyebutkan ikhtlaf para ulama tentang menghukumi ketiga hal yang saya angkat dalam penulisan ini.
3) Al-Firqoh an-Najiyyah, buku ini dikarang oleh Jamil Zainu yang telah diterjemahkan oleh Golongan Salafy menjadi “Jalan Golongan Yang Selamat”12F
13 . Buku ini adalah salah satu buku yang kontradiksi dengan buku Muhammad Nuruddin al-Banjar al-Makkî yaitu Âdabu Al-Musâfahah.
F. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dari penelitian ini, sebagaimana yang telah saya sebutkan pada pembatasan dan rumusan adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penghormatan yang ada di dalam Islam.
2. Untuk mengetahui hadis-hadis Nabi yang berbicara seputar penghormatan dalam Islam.
3. Untuk mengetahui pandangan Ulama tentang penghormatan dan bentuk-bentuk penghormatan.
Adapun kegunaan dari penelitian ini Secara akademik adalah:
1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih pemikiran dalam pemikiran Islam khusunya dalam bidang hadis tentang penghormatan di dalam Islam yang meliputi mencium tangan,
13 Lihat :
11
menundukan badan, dan berdiri menyambut seorang datang yang saat ini menjadi sebuah hal yang wajib.
2. Sebagai syarat memperoleh gelar Strata-1 bidang Theologi Islam pada program studi Tafsir-Hadis di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Adapun kegunaan dari penelitian ini Secara non akademik adalah:
1. Agar saya dan para pembaca skripsi ini mendapat gambaran utuh tentang penghormatan dan bentuk-bentuk penghormatan.
G. Sistematika Penulisan
Agar penulisan ini lebih sitematis dalam pengurainnya, maka penulisan skripsi ini akan di bagi kepada beberapa bab, yaitu :
Pada bab dua ada tiga sub-bab. Pertama, saya akan membahas tentang pengertian penghormatan secara umum. Kedua, menggambarkan penghormatan tersebut dalam pandangan as-sunnah, hal ini dikarenakan tiga hal yang penulis angkat pada penelitian ini amat erat kaitannnya dengan penghormatan. Lalu pada sub-bab ketiga, saya akan mendefinisikan tiga hal yang menjadi pembahasan, hal ini dikarenakan memberi gambaran awal tentang makna sesungguhnya dari pembahasan saya.
Pada bab tiga ada tiga sub-bab. Pertama, berisikan teks-teks hadis yang didapat dari al-Kutub al-Sittah melalui kitab mu’jam al-mufahros li alfâzi al-hadîs dengan asbabul wurud hadis tersebut yang didapat melalui kitab syarh hadis yang disertai juga akan kualitas hadis tersebut, karena kualitas ke-sahih-an sebuah hadis merupakan hal yang sangat penting, terutama hadis-hadis yang bertentangan dengan hadis, atau dalil lain yang lebih kuat. Pada bab kedua berisi pendapat para ulama hadis tentang tiga hal yang menjadi pembasan pada skripsi ini, hal ini guna memberikan kejelasan tentang alasan-alasan pembolehan dan pelarangan. Sedangkan bab ketiga adalah analisa hadis guna memperjelas pemahaman dari hadis-hadis tersebut.
BAB II
MEMAHAMI PENGHORMATAN
A. Pengertian Penghormatan
Istilah penghormatan dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu
ditinjau dari segi etimologis dan terminologis. Penghormatan secara etimologis
dalam bahasa Arab, penghormatan ﻡﺍﺮﺘﺣﻻﺍ adalah penghargaan ﺭﺎﺒﺘﻋﻻﺍ, kalimat
tersebut berakarkan Tsulâtsi Mujarrad yang berwazankan Fa’ala-Yaf’ulu yaitu
Harama-yahrumu-haraman, dan menjadi Rubâi ﺎًﻣﺍَﺮِﺘْﺣِﺍ - ﻡ ِﺮﺘﺤَﻳ - ﻡ َﺮﺘْﺣِﺍ.13F
14 Dan bentuk
mashdarnya adalah ﺎﻣﺍﺮﺘﺣﺍ Seperti contoh:
ُﻪَﺘَﻣْﺮُﺣ ﻰَﻋَﺭ : ُﻪَﻣَﺮَﺘْﺣِﺍ :
Menghormatinya : menjaga kehormatannya
Dalam istilah bahasa Arab yang lain, yang juga sering digunakan untuk kalimat penghormatan adalah ﺔّﻴﺤّﺘﻟﺍ yang berakar pada kata ﻲ ْﺤُﻳ - ّﻲﺣ,14F
15
penggunaan kalimat ﺔّﻴﺤّﺘﻟﺍ juga digunakan dalam firman Allah swt :
Artinya : "Apabila kamu dihormati dengan suatu tahiyah, maka balaslah tahiyah itu ,dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah ,memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86).15F
16
Secara terminologis atau istilah penghormatan diartikan sebagai suatu proses, cara, perbuatan menghormati terhadap seseorang yang patut dihormati.
14 Ahmad Warson Munawir,al-Munawir,(Surabaya : Pustaka Progressif), hal.257. 15 Lihat Lisânul ‘Arab, Jilid 14. hal. 214, dan Ahmad Warson Munawir,al-Munawir ,
hal.316.
Dalam kamus bahasa Indonesia kata penghormatan berasal dari kata hormat dan mendapatkan tambahan peng dan an menjadi penghormatan, ada beberapa istilah/sinonim dari kata penghormatan:
1. Pemuliaan : perihal membuat (menjadikan) sesuatu hal lebih bermutu atau lebih unggul.
2. Pengakuan : proses, cara, perbuatan mengaku atau mengakui. 3. Penakziman : menghormati; memuliakan.
4. Pengakuan : proses, cara, perbuatan mengaku atau mengakui
5. Penghargaan : tanda (berupa bintang dsb) yg diberikan kpd seseorang untuk menghargai jasanya (karyanya dsb);
Hemat saya adalah bahwa satu muslim dengan muslim yang lainnya adalah harus saling harga menghargai karena sikap tersebut harus dimiliki oleh setiap muslim sebagai wujud dari Al-Akhlak al- Karîmah.
Tentang kedudukan akhlak mulia telah dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abû Dardâ bahwa Rasûlullâh saw bersabda :
ْﻦَﻋ َﺔَﻜْﻴَﻠُﻣ ِﰊَأ ِﻦْﺑا ْﻦَﻋ ٍرﺎَﻨﻳِد ُﻦْﺑ وُﺮْﻤَﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ُنﺎَﻴْﻔُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ َﺮَﻤُﻋ ِﰊَأ ُﻦْﺑا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ٍﻚَﻠَْﳑ ِﻦْﺑ ﻰَﻠْﻌَـﻳ
ِءاَدْرﱠﺪﻟا ِﰊَأ ْﻦَﻋ ِءاَدْرﱠﺪﻟا ﱢمُأ ْﻦَﻋ
ٌءْﻲَﺷ ﺎَﻣ َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱠِﱯﱠﻨﻟا ﱠنَأ
َءيِﺬَﺒْﻟا َﺶِﺣﺎَﻔْﻟا ُﺾِﻐْﺒُﻴَﻟ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإَو ٍﻦَﺴَﺣ ٍﻖُﻠُﺧ ْﻦِﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟا َمْﻮَـﻳ ِﻦِﻣْﺆُﻤْﻟا ِناَﺰﻴِﻣ ِﰲ ُﻞَﻘْـﺛَأ
16F
17
Telah meriwayatkan kepada kami Ibn Abî ‘Umar, telah meriwayatkan kepada kami Sufyân, telah meriwayatkan kepada kami ‘Amr bin Dînâr, dari Abî Mulaikah, dari Ya’la bin Mamlak, dari sahabat Abî Dardâ : bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : “Tidak ada sedikitpun yang lebih berat ditimbangan seorang mu`min pada hari kiamat nanti dari akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berkata keji dan jelek”. (HR. At-Turmudzî : dan beliau berkata hadis ini hasan shahih).
17 Al-Tirmidzî, Sunan, Bâb Mâ Jâ-a Fî Husnil Kholqi, (Semarang : Thoha Putra), Juz 3,
15
Akhlak adalah gabungan dari berbagai macam keutamaan dan tradisi, yang karenanya bangsa-bangsa ini dapat hidup sebagaimana hidupnya tubuh kita dengan adanya organ-organ dan perangkat-perangkatnya. Maka jika gabungan sifat itu berpenyakit dan bercerai-berai, maka akan terlihat sesuatu yang tidak menyenangkan di jalan-jalan umum maupun khusus.17F
18
Manusia adalah makhluk sosial,18F
19 yang memerlukan interaksi yang disebut interaksi sosial. Dalam interaksi sosial itu, setiap orang memerlukan penghargaan dan pengakuan dari sesamanya. Tidak ada orang yang memilih cara hidup untuk dikucilkan dan dibenci manusia. Sekalipun dalam kenyataannya kemudian ada manusia yang dikucilkan dan direndahkan di mata hukum dan moral, disebabkan oleh perbuatan buruknya yang terbongkar. Kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa penghormatan manusia kepada kita amatlah mahal, sehingga perlu dipertahankan dengan kesungguhan hati dan dedikasi yang kuat. Memang kadar hakiki dan perbuatan baik dan buruk kita, Allah lah yang secara tepat Maha Tahu tentang kualitas dan nilai diri kita, namun secara hablu minan nâs pun kita harus mencoba mendekati kualitas kepribadian dan sikap yang terbaik.
B. Penghormatan Terhadap Manusia Dalam Pandangan Islam
Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah swt agar tidak mencintai ataupun membenci siapapun kecuali karena Allah swt. Hal ini karena seharusnya ia tidak mencintai apa pun selain yang dicintainya oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
18 Qiqi Yuliati Zakiyah. Kuliah-kuliah Akhlak. (Bandung : Sega Ars 2010). hal.122 19 Sifat utama dari manusia dalam golongan tipe ini adalah besar kebutuhannya akan
Begitu juga, ia tidak membenci apa pun selain yang dibenci Allah swt dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, jika Allah dan Rasulnya mencintai sesuatu, ia juga mencintainya. Dan jika Allah swt dan Rasul-Nya membenci sesuatu, ia juga membencinya.19F
20 Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
ِﻪﱠﻠِﻟ ﻰَﻄْﻋَأَو ِﻪﱠﻠِﻟ َﺾَﻐْـﺑَأَو ِﻪﱠﻠِﻟ ﱠﺐَﺣَأ ْﻦَﻣ َلﺎَﻗ ُﻪﱠﻧَأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَر ْﻦَﻋ
َنﺎَﳝِْﻹا َﻞَﻤْﻜَﺘْﺳا ْﺪَﻘَـﻓ ِﻪﱠﻠِﻟ َﻊَﻨَﻣَو
(
دواد ﻮﺑأ ﻩاور
)
20
F
21
Artinya : dari Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abû Dâwud).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka seorang Muslim mencintai dan memiliki loyalitas kepada semua hamba Allah yang saleh. Begitu juga manusia jahat yang menentang Allah swt dan Rasulullah saw, tidak disukai dan ditentang oleh setiap Muslim.
Dengan demikian penulis membagi empat alasan manusia dihormati : 1.Manusia dihormati karena ia manusia.
Manusia akan senantiasa dihormati akan hak-haknya selagi ia masih hidup hingga ia dikuburkan, sekalipun ia miskin, berakhlak buruk, bodoh, tidak beragama dan berstatus rendah di tengah masyarakatnya. Tetapi penghormatan itu diberikan karena kesadaran manusia yang tahu akan kewajibannya terhadap sesamanya, Allah berfirman :
20 Abu Bakr al-Jazairi, Mengenal Etika & Akhlak Islam, (PT.Lentera Basritama 1998),
hal.133.
21 Hadis ini driwayatkan oleh Abu Dâwud : Telah menceritakan kepada kami Muammal
17
Artinya :“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia ( karena sombong ) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman : 18 ).21F
22
Secara umum manusia dihormati oleh sesamanya karena ia manusia. Seseorang dihormati karena ia manusia, jika tidak diikuti oleh kualitas-kualitas yang berikutnya berupa harta, ilmu, keturunan dan agama, tentu penghormatan itu tidak setinggi penghormatan manusia yang diberikan kepada orang yang berilmu dan beragama.
Adapun sangsi yang akan didapat oleh orang-orang yang menjatuhkan harkat dan martabat manusia yang lainnya, dan balasan orang-orang yang selalu menjaga kehormatan sesamanya, hal ini tergambar dalam hadis Nabi Muhammad saw.
ُﻦْﺑ َﲕَْﳛ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ُﺚْﻴﱠﻠﻟا ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ ََﱘْﺮَﻣ ِﰊَأ ُﻦْﺑا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ِحﺎﱠﺒﱠﺼﻟا ُﻦْﺑ ُﻖَﺤْﺳِإ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ٍﻞْﻬَﺳ َﻦْﺑ َﺔَﺤْﻠَﻃ ﺎَﺑَأَو ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ َﻦْﺑ َﺮِﺑﺎَﺟ ُﺖْﻌََِ ُلﻮُﻘَـﻳ ٍﲑِﺸَﺑ َﻦْﺑ َﻞﻴِﻌََِْإ َﻊََِ ُﻪﱠﻧَأ ٍﻢْﻴَﻠُﺳ
ِن َﻻﻮُﻘَـﻳ ﱠيِرﺎَﺼْﻧَْﻷا
:
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ
ِﰲ ﺎًﻤِﻠْﺴُﻣ ًأَﺮْﻣا ُلُﺬَْﳜ ٍئِﺮْﻣا ْﻦِﻣ ﺎَﻣ
ٍﻊِﺿْﻮَﻣ
ﱠﻻِإ ِﻪِﺿْﺮِﻋ ْﻦِﻣ ِﻪﻴِﻓ ُﺺَﻘَـﺘْﻨُـﻳَو ُﻪُﺘَﻣْﺮُﺣ ِﻪﻴِﻓ ُﻚَﻬَـﺘْﻨُـﺗ
ُﻪَﺗَﺮْﺼُﻧ ِﻪﻴِﻓ ﱡﺐُِﳛ ٍﻦِﻃْﻮَﻣ ِﰲ ُﻪﱠﻠﻟا ُﻪَﻟَﺬَﺧ
ْﻦِﻣ ﺎَﻣَو
ِﻪِﺿْﺮِﻋ ْﻦِﻣ ِﻪﻴِﻓ ُﺺَﻘَـﺘْﻨُـﻳ ٍﻊِﺿْﻮَﻣ ِﰲ ﺎًﻤِﻠْﺴُﻣ ُﺮُﺼْﻨَـﻳ ٍئِﺮْﻣا
ﱠﻻِإ ِﻪِﺘَﻣْﺮُﺣ ْﻦِﻣ ِﻪﻴِﻓ ُﻚَﻬَـﺘْﻨُـﻳَو
ٍﻦِﻃْﻮَﻣ ِﰲ ُﻪﱠﻠﻟا ُﻩَﺮَﺼَﻧ
.
ُﻪَﺗَﺮْﺼُﻧ ﱡﺐُِﳛ
22F 23Telah meriwayatkan kepada kami Ishaq bin Al-Sabah, telah meriwayatkan kepada kami Ibn Abî Maryam, telah mengabarkan kepada kami Al-Laits (ia berkata): menceritakan kepadaku Yahya bin Sulaim bahwa ia mendengar Isma’îl bin Basyîr berkata: aku mendengar Jâbir bin ‘Abdillah dan Talhah Al-Ansâriy mereka berdua berkata: Telah bersabda Rasulullah saw : “Tidaklah seseorang menelantarkan seorang mukmin
22 Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta-Office/Indonesia), hal.655. 23 Hadis ini diriwayatkan oleh Abû Dâwud, Sunan, Bâb Man Radda 'an Muslim Ghîbah,
pada suatu tempat yang kehormatannya terampas dan harga dirinya terlecehkan, melainkan Allah akan menelantarkannya pada suatu tempat dimana ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim yang berada pada suatu tempat yang kehormatannya terampas dan harga dirinya terlecehkan di dalamnya, melainkan Allah akan menolongnya pada suatu tempat dimana ia sangat mengharapkan pertolongan-Nya.” (HR. Abu Daud)
Dengan demikian tanpa status sosial pun sudah selayaknya manusia mendapatkan penghormatan dari manusia yang lainnya, namun bukan saja penghormatan yang hanya diharapkan, pada dasarnya memberikan penghormatan terlebih dahulu yang lebih penting.
2. Manusia dihormati karena kedermawanannya.
Tentang bagaimana dan mengapa manusia yang dermawan dihormati lebih daripada orang-orang yang pelit dapat kita pahami secara kontekstual.
َلﺎَﻗ ٍﺪﱠﻤَُﳏ ُﻦْﺑ ُﺮْﺸِﺑ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ و ح ﱢيِﺮَْﱡﺰﻟا ْﻦَﻋ ُﺲُﻧﻮُﻳ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ ِﻪﱠﻠﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ ُناَﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ِﻦْﺑا ْﻦَﻋ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ُﺪْﻴَـﺒُﻋ ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ ُﻩَﻮَْﳓ ﱢيِﺮَْﱡﺰﻟا ْﻦَﻋ ٌﺮَﻤْﻌَﻣَو ُﺲُﻧﻮُﻳ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ ِﻪﱠﻠﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ
ِسﺎﱠﻨﻟا َدَﻮْﺟَأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َنﺎََ َلﺎَﻗ ٍسﺎﱠﺒَﻋ
ِمَﻼﱠﺴﻟاَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُ ﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲا ُلْﻮُﺳَر َنﺎََ
ِسﺎﱠﻨﻟا َدَﻮْﺟَأ
23
F 24
Telah menceritakan kepada kami 'Abdân, telah bercerita kepada kami 'Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Yûnus dan Ma’mar, dari Al-Zuhriy berkata, telah bercerita kepadaku 'Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu 'Abbâs ra berkata; "Nabi saw adalah manusia paling dermawan".
Rasulullah telah menjadi teladan seluruh pengikutnya, digambarkan dalam hadis di atas bahwa selain Rasulullah orang selalu menganjurkan untuk bershodaqoh, beliau juga mengajarkan lewat perbuatannya menjadi orang yang dermawan24 F
25 Da'wah al- Hâl.
24 Diriwayatkan oleh al-Bukhâri didalam Kitab Sahih Al-Bukhârî Bâb Bid’u al-Wahyu,
hal.8.
25 Bukan Rasulullâh yang mengikrarkan dirinya menjadi orang yang dermawan, akan
19
Pujian dan penghormatan terhadap orang yang dermawan juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw terhadap para sahabatnya, di antaranya yang termaktub dalam satu hadis Nabi Muhammad saw.
ِﲏَﺛﱠﺪَ
ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ
:
َلﺎَﻗ ٍصﺎﱠﻗَو ِﰊَأ ِﻦْﺑ ِﺪْﻌَﺳ ْﻦَﻋ
.
ﺎَﻬُﻠَﺻْوَأَو ﺎّﻔََ ٍﺶْﻳَﺮُـﻗ ُدَﻮْﺟَأ ِﺐِﻠﱠﻄُﻤْﻟا ِﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ُسﺎﱠﺒَﻌْﻟا اَﺬََ ِسﺎﱠﺒَﻌْﻠِﻟ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا
25F 26
Artinya : Telah menceritakan kepada kai ‘Ali bin ‘Abdullah, menceritakan kepadaku Muhammad bin Talhah al-Taimiy (dari kota Madinah), menceritakana kepadaku Abû Suhail bin Mâlik, dari Sa’îd bin al-Musayyab, dari Sa'd bin Abû Waqâs berkata; Rasulullah saw berkata kepada Al 'Abbâs: "Inilah Al Abbâs bin Abd Al-Muththalib orang Quraisy yang paling dermawan dan paling menjaga hubungan."
Manusia bukan hanya membutuhkan harta tetapi juga bahkan mencintainya dan selalu menginginkannya. Andaikan manusia diberikan kepadanya satu lembah emas, maka ia akan mencari satu lembah lagi sebagai tambahan. Pada gilirannya manusia ada yang berhasil meraih kekayaan yang banyak berupa harta itu. Dengan hartanya ia bisa menikmati kehidupan dan memberikan kenikmatan pada sebagian orang-orang.
َﻊََِ ُﻪﱠﻧَأ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ِﻦْﺑ َقﺎَﺤْﺳِإ ْﻦَﻋ ٍﻚِﻟﺎَﻣ ﻰَﻠَﻋ ُتْأَﺮَـﻗ َلﺎَﻗ َﲕَْﳛ ُﻦْﺑ َﲕَْﳛ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ
ُلﻮُﻘَـﻳ ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر ٍﻚِﻟﺎَﻣ َﻦْﺑ َﺲَﻧَأ
:
َنﺎَََو ًﻻﺎَﻣ ِﺔَﻨﻳِﺪَﻤْﻟﺎِﺑ ِرﺎَﺼْﻧَْﻷا َﺮَـﺜََْأ َﺔَﺤْﻠَﻃ ﻮُﺑَأ َنﺎََ
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َنﺎَََو ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟا َﺔَﻠِﺒْﻘَـﺘْﺴُﻣ ْﺖَﻧﺎَََو َءﺎَﺣُﺮْـﻴَـﺑ ِﻪْﻴَﻟِإ ِﻪِﻟاَﻮْﻣَأ ﱠﺐَﺣَأ
{
َنﻮﱡﺒُِﲢ ﺎﱠِﳑ اﻮُﻘِﻔْﻨُـﺗ ﱠﱴَﺣ ﱠِﱪْﻟا اﻮُﻟﺎَﻨَـﺗ ْﻦَﻟ
}
ْﺖَﻟَﺰَـﻧ ﺎﱠﻤَﻠَـﻓ ٍﺐﱢﻴَﻃ ﺎَﻬﻴِﻓ ٍءﺎَﻣ ْﻦِﻣ ُبَﺮْﺸَﻳَو ﺎَﻬُﻠُﺧْﺪَﻳ
َﱃﺎَﻌَـﺗ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ﺎَﻳ َلﺎَﻘَـﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَر َﱃِإ َﺔَﺤْﻠَﻃ ﻮُﺑَأ َمﺎَﻗ
{
َنﻮﱡﺒُِﲢ ﺎﱠِﳑ اﻮُﻘِﻔْﻨُـﺗ ﱠﱴَﺣ ﱠِﱪْﻟا اﻮُﻟﺎَﻨَـﺗ ْﻦَﻟ
}
ِﻪِﺑﺎَﺘَِ ِﰲ ُلﻮُﻘَـﻳ
َءﺎَﺣُﺮْـﻴَـﺑ ﱠَﱄِإ ِﱄاَﻮْﻣَأ ﱠﺐَﺣَأ ﱠنِإَو
ٍﺦَﺑ َلﺎَﻘَـﻓ َﺖْﺌِﺷ ُﺚْﻴَﺣ ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ﺎَﻳ ﺎَﻬْﻌَﻀَﻓ ِﻪﱠﻠﻟا َﺪْﻨِﻋ ﺎَََﺮْﺧُذَو ﺎََﱠﺮِﺑ ﻮُﺟْرَأ ِﻪﱠﻠِﻟ ٌﺔَﻗَﺪَﺻ ﺎَﻬﱠـﻧِإَو
َلﺎَﻗ َﲔِﺑَﺮْـﻗَْﻷا ِﰲ ﺎَﻬَﻠَﻌَْﲡ ْنَأ ىَرَأَو ﺎَﻬﻴِﻓ َﺖْﻠُـﻗ ﺎَﻣ ُﺖْﻌََِ ْﺪَﻗ ٌﺢِﺋاَر ٌلﺎَﻣ َﻚِﻟَذ ٌﺢِﺋاَر ٌلﺎَﻣ َﻚِﻟَذ
ِﻪﱢﻤَﻋ ِﲏَﺑَو ِﻪِﺑِرﺎَﻗَأ ِﰲ َﺔَﺤْﻠَﻃ ﻮُﺑَأ ﺎَﻬَﻤَﺴَﻘَـﻓ ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ﺎَﻳ ُﻞَﻌْـﻓَأ
26
F 27
Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Yahya (ia berkata), akau membacakan kepada Mâlik, dari Ishâq bin ‘Abdullâh, bahwa ia mendengar dari Anas bin Mâlik ra : diceritakan bahwa Abu Tholhah adalah salah satu sahabat yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah adalah Abû Talhah, dan harta yang paling dicintainya adalah Bairuha' (ladang berikut sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah saw senantiasa mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Ketika turun firman Allah Ta'âla (QS Alu 'Imrân: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", Abu Talhah mendatangi Rasulullah saw lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'âla telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah kapanpun baginda mau". Maka Rasulullah saw bersabda: "Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu ucapkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu sadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Talhah berkata: "Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Talhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya".
Sehingga wajar orang yang berharta lebih dihormati daripada yang miskin. Namun penghormatan manusia dikarenakan kekayaan sifatnya tidak lama, hanya selama harta itu ada bersamanya. Sementara manusia tidak berkuasa sama sekali akan hartanya di masa depan, apakah masih juga kaya ataukan kemudian jatuh miskin.
3. Manusia dihormati karena ilmunya.
Banyak sekali jabatan, kedudukan, dan fungsi yang dapat diperoleh seseorang karena ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Seseorang karena ilmunya diberikan suatu jabatan, dan karena jabatan itu kemudian ia memperoleh
21
penghormatan dari manusia. Kita bisa membandingkan bagaimana sikap manusia terhadap seorang Profesor Doktor dibanding terhadap seorang Sarjana, tentu saja Doktor itu yang mendapatkan penghargaan lebih. Bahkan dengan orang-orang kaya pun, orang-orang yang berilmu lebih dihormati keberadaannya. Sebabnya orang-orang yang berilmu itu berfungsi menjaga, sedangkan orang-orang berharta berfungsi yang dijaga. Firman Allah swt:
Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.27F
28
Berkata Al-Qurtubi tentang ayat ini: bahwasannya yang akan Allah muliakan nanti di akhirat adalah orang yang berilmu dan beriman, bukan orang-orang yang seharinya hanya berdzikir saja. Sabda Nabi Muhammad saw:
ُﻦْﺑ ُﺪﻴِﻟَﻮْﻟا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ٍءﺎَﺟَر ُﻦْﺑ ُﺔَﻤَﻠَﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱡ ِﱐﺎَﻌْـﻨﱠﺼﻟا ﻰَﻠْﻋَْﻷا ِﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ﻮُﺑَأ ُﻢِﺳﺎَﻘْﻟا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ٍﻞﻴَِﲨ
ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَﺮِﻟ َﺮَُِذ
:
َلﺎَﻗ ﱢﻲِﻠَِﺎَﺒْﻟا َﺔَﻣﺎَﻣُأ ِﰊَأ ْﻦَﻋ
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻘَـﻓ ٌِﱂﺎَﻋ ُﺮَﺧ ْﻵاَو ٌﺪِﺑﺎَﻋ ﺎَُﳘُﺪَﺣَأ ِن َﻼُﺟَر َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا
ﱠنِإ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ ﱠُﰒ ْﻢَُﺎَﻧْدَأ ﻰَﻠَﻋ ﻲِﻠْﻀَﻔََ ِﺪِﺑﺎَﻌْﻟا ﻰَﻠَﻋ ِِﱂﺎَﻌْﻟا ُﻞْﻀَﻓ
ﻰَﻠَﻋ َنﻮﱡﻠَﺼُﻴَﻟ َتﻮُْﳊا ﱠﱴَﺣَو ﺎََِﺮْﺤُﺟ ِﰲ َﺔَﻠْﻤﱠﻨﻟا ﱠﱴَﺣ َﲔِﺿَرَْﻷاَو ِتاَﻮَﻤﱠﺴﻟا َﻞََْأَو ُﻪَﺘَﻜِﺋ َﻼَﻣَو َﻪﱠﻠﻟا
.
َﺮْـﻴَْﳋا ِسﺎﱠﻨﻟا ِﻢﱢﻠَﻌُﻣ
28F 29Artinya : menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abd al-A’la al-San’âniy, menceritakam kepada kami Salamah bin Rajâ, menceritakan kepada kami al-Walîd bin Jamîl, menceritakan kepada kami al-Qâsim Abû ‘Abdurrahman, dari Abû Umâmah Al Bahîlî ia berkata; "Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah saw, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah saw bersabda: "Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, " kemudian beliau melanjutkan
28 QS. Al-Mujâdalah: 11.
29 Al-Tirmidzî, Sunan, Bâb Mâ Jâ-a fi Fadhlil Fiqhi 'alal 'ibâdah, hadis no. 2826
sabdanya: "Sesungguhnya Allah, Malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
Orang-orang ahli ilmu dihormati menurut Mushtofa Bisri dikarenakan mereka sangat mencintai masyarakatnya, dan seperti mewakafkan dirinya untuk mereka, ulama yang termasuk sepreti mereka adalah ulama yang "yanzhurû mâ ilal ummah bi 'ainir rahmah" melihat umat dengan mata kasih sayang. Memberikan pelajaran kepada yang bodoh membantu yang lemah, menghibur yang menderita, dan seterusnya.29F
30
Kehancuran pun akan tiba ketika sebuah kaum sudah tidak lagi menghormati orang yang berilmu, dikarenakan mereka sudah melakukan hal sebaliknya menghormati seorang bukan lagi karena ilmunya. Sebagaimana yang disabdakan nabi Muhammad saw.
ِﻦْﺑ ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ َﻢُﺘْﺳُر ُﻦْﺑ ُناَﻮْﻔَﺻ ِﲎَﺛﱠﺪَﺣ ُﺔﱠﻴِﻘَﺑ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ َنوُرﺎََ ُﻦْﺑ ُﺪﻳِﺰَﻳ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ
َةَﺮَﺴْﻴَﻣ
ِﺐْﻳَﺮُﻌْﻟا َﺮَﺸْﻌَﻣ ﺎَﻳ ُﺮَﻤُﻋ َلﺎَﻘَـﻓ َﺮَﻤُﻋ ِﻦَﻣَز ِﰲ ِءﺎَﻨِﺒْﻟا ِﰲ ُسﺎﱠﻨﻟا َلَوﺎَﻄَﺗ َلﺎَﻗ ﱢيِراﱠﺪﻟا ٍﻢﻴَِﲤ ْﻦَﻋ
ْﻦَﻤَﻓ ٍﺔَﻋﺎَﻄِﺑ ﱠﻻِإ َةَرﺎَﻣِإ َﻻَو ٍةَرﺎَﻣِﺈِﺑ ﱠﻻِإ َﺔَﻋﺎََﲨ َﻻَو ٍﺔَﻋﺎَﻤَِﲜ ﱠﻻِإ َم َﻼْﺳِإ َﻻ ُﻪﱠﻧِإ َضْرَْﻷا َضْرَْﻷا
ُﻪَﻟ ﺎًََﻼََ َنﺎََ ٍﻪْﻘِﻓ ِْﲑَﻏ ﻰَﻠَﻋ ُﻪُﻣْﻮَـﻗ ُﻩَدﱠﻮَﺳ ْﻦَﻣَو ْﻢَُﳍَو ُﻪَﻟ ًةﺎَﻴَﺣ َنﺎََ ِﻪْﻘِﻔْﻟا ﻰَﻠَﻋ ُﻪُﻣْﻮَـﻗ ُﻩَدﱠﻮَﺳ
ْﻢَُﳍَو
30 F 31Artinya : Telah mengabarkan kepada kami Yazîd bin Hârûn, mengabarkan kepada kami Baqiyyah, menceritakan kepadaku Safwâb bin Rustam, dari ‘Abdirrahman bin Maysarah, dari Tamîm Ad-Dâri ra ia berkata: "Orang-orang berlomba-lomba mempertinggi bangunan pada zaman 'Umar, lalu 'Umar berkata: 'Wahai masyarakat Arab ingatlah, ingatlah, sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama'ah, dan tidak ada jama'ah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada (gunanya) kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Siapa yang dihormati kaumnya karena ilmu, hal demikian membawa kebaikan untuk kehidupan dirinya dan masyarakatnya, dan Siapa yang dihormati oleh kaumnya bukan karena ilmu, maka ia hancur (begitu juga dengan) kaumnya' ".
30 Mushthofa Bisri, Membuka Pintu Langit, (PT Kompas Media Nusantara 2007)
hal.20-21.
23
4. Manusia dihormati karena akhlaknya.
Selanjutnya kita juga mengamati bahwa orang-orang yang berakhlak mulia lebih dihormati manusia ketimbang orang yang tidak berakhlak. Lebih dari itu di masyarakat kita menyaksikan bahwa orang-orang yang berakhlak dan memberikan manfaat yang banyak bagi manusia lebih dihormati manusia dari orang-orang yang sekedar berilmu saja. Nabi Muhammad telah bersabda:
ٍقوُﺮْﺴَﻣ ْﻦَﻋ ٌﻖﻴِﻘَﺷ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ُﺶَﻤْﻋَْﻷا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ِﰊَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ٍﺺْﻔَﺣ ُﻦْﺑ ُﺮَﻤُﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﺎَﻨُـﺛﱢﺪَُﳛ وٍﺮْﻤَﻋ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ َﻊَﻣ ﺎًﺳﻮُﻠُﺟ ﺎﱠﻨَُ َلﺎَﻗ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر ْﻦُﻜَﻳ َْﱂ َلﺎَﻗ ْذِإ
ﺎًﻗ َﻼْﺧَأ ْﻢُﻜُﻨِﺳﺎَﺣَأ ْﻢََُرﺎَﻴِﺧ ﱠنِإ ُلﻮُﻘَـﻳ َنﺎََ ُﻪﱠﻧِإَو ﺎًﺸﱢﺤَﻔَـﺘُﻣ َﻻَو ﺎًﺸِﺣﺎَﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو
31
F 32
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafs, telah menceritakan kepada kami Abî (Ayahku), telah menceritakan kepada kami al-A’masy (ia berkata), telah menceritakan kepadaku Syaqîq, dari Masrûq (ia berkata), kami sedang duduk berbincang-bincang bersama ‘Abdillah bin ‘Amr tiba-tiba bercerita kepada kami: bahwa Rasulullah saw adalah orang yang tidak pernah berbuat keji dan tidak pula menyuruh berbuat keji, dan ia bersabda: “sesungguhnya sebai-baiknya kalian adalah yang paling mulia akhlaknya”.
Sahabat 'Ali r.a pernah berkata:
Ákhlak yang baik terkandung dalam tiga hal : menjauhi segala yang diharamkan, mencari yang halal dan menyenangkan anggota keluarga32F
33.
Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berakhlak mulia dalam setiap bagian kehidupannya memiliki peranan dalam menjaga kedamaian dan pebaikan di tengah kehidupan secara umum. Sehingga sosok orang-orang yang berakhlak menjadi tumpuan harapan akan kebaikan dan perbaikan.
32Al-Bukhâri, Sahih Al-Bukhâri, Kitâb al-Adâb Bâb Lam Yakun an-Nabi fâhisan walâ Mutafahhisan, (Darr al-Fikr)
Rasulullah juga tak henti-hentinya setiap sholat memohon agar diberikan akhlak yang terbaik dan agar terhindar dari akhlak yang jelek.
َلﺎَﻗ ﱡﻲِﻣَﺮْﻀَْﳊا َﺪﻳِﺰَﻳ ُﻦْﺑ ُﺢْﻳَﺮُﺷ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﻦْﺑ َنﺎَﻤْﺜُﻋ ُﻦْﺑ وُﺮْﻤَﻋ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ
ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ
ِرِﺪَﻜْﻨُﻤْﻟا ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ َلﺎَﻗ َةَﺰَْﲪ ِﰊَأ ُﻦْﺑ ُﺐْﻴَﻌُﺷ
ﱡِﱯﱠﻨﻟا َنﺎََ َلﺎَﻗ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ِﻦْﺑ ِﺮِﺑﺎَﺟ ْﻦَﻋ
ِﻪﱠﻠِﻟ ِﰐﺎََﳑَو َيﺎَﻴَْﳏَو ﻲِﻜُﺴُﻧَو ِﰐ َﻼَﺻ ﱠنِإ َلﺎَﻗ ﱠُﰒ َﺮﱠـﺒََ َة َﻼﱠﺼﻟا َﺢَﺘْﻔَـﺘْﺳا اَذِإ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ
ِلﺎَﻤْﻋَْﻷا ِﻦَﺴْﺣَِﻷ ِﱐِﺪَْا ﱠﻢُﻬﱠﻠﻟا َﲔِﻤِﻠْﺴُﻤْﻟا ْﻦِﻣ ﺎَﻧَأَو ُتْﺮِﻣُأ َﻚِﻟَﺬِﺑَو ُﻪَﻟ َﻚﻳِﺮَﺷ َﻻ َﲔِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ﱢبَر
ﻲِﻘَﻳ َﻻ ِق َﻼْﺧَْﻷا َﺊﱢﻴَﺳَو ِلﺎَﻤْﻋَْﻷا َﺊﱢﻴَﺳ ِﲏِﻗَو َﺖْﻧَأ ﱠﻻِإ ﺎَﻬِﻨَﺴْﺣَِﻷ يِﺪْﻬَـﻳ َﻻ ِق َﻼْﺧَْﻷا ِﻦَﺴْﺣَأَو
.
َﺖْﻧَأ ﱠﻻِإ ﺎَﻬَـﺌﱢﻴَﺳ
33F34
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Utsmân bin Sa'îd dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yazîd Al-Hadhrami dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Syu'aib bin Abû Hamzah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jâbir bin Abdullâh dia berkata; "Bila Rasulullah saw memulai shalat maka beliau bertakbir, kemudian mengucapkan - doa yang artinya- Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, yang tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk kaum muslimin. Ya Allah, tunjukkan saya kepada perbuatan yang terbaik dan kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang bisa menunjukkan kepada yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari perbuatan jelek dan akhlak yang jelek, karena tidak ada yang bisa menjagaku dari kejelekan kecuali Engkau '."
C. Bentuk-bentuk Perilaku Penghormatan
Sebagaimana yang telah saya paparkan, bahwa ada beberapa alasan manusia dihormati, sehingga ketika ada subjek penghormatan tersebut, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bentuk penghormatan tersebut, inilah yang menjadi pembahasan pada skripsi ini.
1. Mencium Tangan
Islam memberikan tuntutan yang jelas dan lengkap sekali perihal mencium ini. Rasulullah, melalui sunnahnya, telah memberikan contoh dan teladan yang lengkap sekali seputar perbuatan mencium ini. Sehingga hal ini berlaku pada
25
kehidupan manusia walaupun sering dianggap miring dan ditangkap negative, hal ini tetap mempunyai ibadah. Sebagai manusia yang normal, tentu setiap orang pernah mencium suami/istri, anak, atau bagian tubuh manusia, entah itu kening, mulut, tangan, kaki, kepala, pipi, atau bagian tubuh lainnya. Bahkan mungkin ada di antara kita yang pernah mencium mayat. Kalaupun seseorang belum pernah melakukannya, setidaknya ia pernah melihat orang lain melakukannya. Kita pun mungkin digayuti oleh pertanyaan ini: apakah seluruh tindakan itu dibenarkan syari'at?
Mencium tangan adalah adat yang banyak dilakukan oleh berbagai bangsa. Bukan hanya kebiasaan bangsa Indonesia saja. Bangsa Arab, India, dan lainnya, juga sering kita dapati melakukan cium tangan.
Bahkan di masa lalu, orang-orang di belahan Barat biasa mencium tangan wanita yang dalam adat istiadat mereka, tindakan itu merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan buat para wanita. Selain juga harus membuka topi. Bertemu wanita tanpa mencium tangan dan membuka topi, dianggap sebagai sikap kurang ajar. Malah, tradisi cium tangan itu konon tidak terlalu merata di negeri kita. Teman-teman yang berasal dari Batak, Manado, Timur bilang bahwa tradisi itu tidak mereka miliki.
Istilah mencium tangan dalam bahasa Arab mempunyai dua makna yaitu secara etimologis dan secara termiologis. Secara etimologis, mencium (al-Qublah), adalah mengecup (al-Latsmah). Plural atau bentuk jamaknya adalah at-taqbîl dan kata kerjanya qobbala-yuqobbilu-at-taqbîlan.34F
35 dan kalimat tersebut bisa kita temukan di dalam hadis Nabi.
35 Lihat Lisânul ‘Arab, Jilid 11,Ibnu Manzhûr, (Beirut:Libanon)1999 M-1419 H, hal. 25,
ﱠِﱯﱠﺼﻟاَو َةَأْﺮَﻤْﻟا َﻞﱠﺒَـﻗ ْﺪَﻗَو
35F
36
Artinya : Seseorang mencium isteri dan anak.
Sedangkan secara terminologis atau istilah , mencium tangan bisa diartikan mengecup tangan dengan menggunakan bibir pada atas atau telapak tangan sebagai bentuk ungkapan rasa hormat dan rasa kasih sayang.36F
37
Nabi Muhammad saw selalu menggunakan tangan kanannya untuk beribadah, makan, minum, dan menggunakan tangan kirinya untuk melakukan hal yang kurang bersih.37F
38
“ beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita,” kata ‘Aisyah, “jika menerima baiat mereka beliau menerimanya secara lisan.38F
39
Dalam kedua tangan Nabi diletakan kunci-kunci kekayaan bumi. Abu Hurairah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah berkata, “aku diutus dengan jawâmi’ul kalim,39F
40 aku dibantu dengan timbulnya rasa takut di hati musuh, 40F 41
ketika aku sedang tidur dibawakan kepadaku kunci-kunci kekayaan bumi41F 42
yang kemudian diletakan di tanganku.42 F
43
36 Al-Bukhâri , Al-Adab Al-Mufrad, Bâb Taqbîlul Rijli, (Lebanon : Dar al-Kutub
Al-‘Ilmiyah 2008), hal.244.
37 Shalahudin Fatih al-Hijazi, Fiqh Mencium, (Jakarta : Pustaka Group). hal.9. 38 Lihat Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir. Majma’ al-Zawâid, Jilid 7. hal. 33.
39 Lihat, Muslim, Sahîh, Bâb Kaifiyati Bai’ati al-Nisâ, ( Beirut : Dar al-Fikr) Jilid 6,
hal.29.
40Jawâmi’ul Kalim adalah kemampuan untuk menyampaikan kebenaran secara jelas dan
singkat. Setelah Qur’ân, ungkapan yangpaling singkat, jelas dan lengkap adalah hadis dari Nabi Muhammad saw. (lihat : Shalahudin Fatih al-Hijazi, Fiqh Mencium, (Jakarta : Pustaka Group). hal.17)
41 Rasa takut yang ditimbulkan oleh Allah swt dalam hati musuh sehingga mereka
mengalami kekalahan ebelum peperangan.
42 Ibn Hajar menjelaskan di dalam Fathul Bâri bahwa makna kunci yang paling kuat dari
seluruh pendapat para ‘ulama’ adalah Al-Qur’an Al-Karîm, dan ada pendapat lain yang dikatakan oleh Nabi saw dan diwariskan kepada ummatnya.
43 Al-Bukhâri, Sahîh, teks arabnya sebagai berikut :
ُﺖﻴِﺗُأ ْذِإ َﺔَﺣِرﺎَﺒْﻟا ٌﻢِﺋﺎَﻧ ﺎَﻧَأ ﺎَﻤَﻨْـﻴَـﺑَو ِﺐْﻋﱡﺮﻟﺎِﺑ ُتْﺮِﺼُﻧَو ِﻢِﻠَﻜْﻟا َﺢﻴِﺗﺎَﻔَﻣ ُﺖﻴِﻄْﻋُأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ
يِﺪَﻳ ِﰲ ْﺖَﻌِﺿُو ﱠﱴَﺣ ِضْرَْﻷا ِﻦِﺋاَﺰَﺧ ِﺢﻴِﺗﺎَﻔَِﲟ
27
Para sahabat tahu keberkahan tangan Nabi, mereka juga tahu kedua tang