Nurdiansyah Abstrak
Penelitian ini menganalisis pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added
(EVA) terhadap Perubahan Harga Saham pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan adalah perusahaan perbankan yang aktif di perdagangan Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009, selalu mempublikasi laporan keuangan setiap tahunnya dan perusahaan yang termasuk perusahaan perbankan dengan aset terbesar.
Penelitian ini menggunakan metode deskriftif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Dimana data yang dijadikan sampel adalah laporan keuangan neraca, laporan laba/rugi dan statistik harga saham perbankan periode 2006 sampai 2009. Penelitian ini menggunakan variabel dependen Perubahan Harga Saham, sedangkan variabel independennya adalah Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added
(EVA).
Berdasarkan penelitian bahwa earning per share dan economic value added secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan pengujian secara partial earning per share tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan perbankan. Dan pengujian secara partial mengenai pengaruh variabel economic value added dapat disimpulkan bahwa economic value added tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Keywords: Perubahan Harga Saham, Earning Per Share (EPS), dan Economic Value Added
reports every year and the company included the biggest banking company by assets.
This research is using descriptive analysis method with quantitative approach. Sample of data is reports balance sheet, profit / loss and share price of banking statistics for 2006 to 2009. This research using the dependent variable stock price changes, while the independent variable is earning per share (EPS) and economic value added (EVA).
Based on the research that earnings per share and economic value added simultaneously does not significantly influence change of stocks price on five banking companies which are listed in Indonesia Stock Exchange. Based on the partial testing earnings per share did not have significant influence on change of stock price in the banking companies. And partial test of the influence of variable economic value added can concluded that economic value added has no significant effect on stock price movements on five banking companies listed in Indonesia Stock Exchange
kelebihan dana. Investasi pada pasar modal termasuk dalam kategori investasi yang likuiditasnya tinggi serta convertible (mudah dikonversikan) sehingga penting bagi emiten untuk memperhatikan kepentingan pemilik modal yaitu dengan memaksimalkan nilai perusahaan.Karena nilai perusahaan merupakan ukuran keberhasilan atas fungsi-fungsi keuangan.
Bertolak dari kejadian kerisi global yang terjadi pada tahun 2008 tepatnya awal bulan oktober luar bisa melanda hampir seluruh dunia,berimbas pada anjloknya harga saham pada perdagangan di lantai bursa efek Indonesia. Lantai Bursa Efek Indonesia yang sempat suspensi (Penghentian perdagangan saham sementara) selama 3 hari (Tanggal 8, 9 dan 10 Oktober 2008) menyebabkan banyak investor-investor asing yang meninggalkan lantai bursa efek Indonesia. Dan berakibat pada harga saham di Indonesia makin merosot tajam dan harga tukar rupiah terhadap mata uang asing yang makin terpuruk pada saat itu. (www.kompas.com: 2008)
Perubahan harga saham atau capital gain (loss) adalah jumlah dimana harga jual aset yang melebihi atau kurang dari harga pembelian awal.Sebuah capital gain direalisasikan merupakan investasi yang telah dijual di keuntungan.Dan capital loss adalah kebalikan dari capital gain. (www.investorwords.com)
Menurut Muhammad Samsul (2006,332), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain faktor internal (lingkungan mikro) dan faktor eksternal (ligkungan makro). Faktor internal dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan, pengumuman pendanaan (financing announcements), pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director announcements), pengumuman pengambilalihan diversifikasi, pengumumaninvestasi (investment annuncements), pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), dan pengumuman laporan keuangan perusahaan. Sedangkan faktor
negeri.
Laba per lembar saham (EPS) adalah jumlah pendapatan yang di peroleh dalam suatu periode untuk setiap lembar saham yang berdar (Zaki Baridwan, 2005: 443). Besar kecilnya laba per saham (EPS) ini dipengaruhi oleh perubahan variabel-variabelnya. Setiap perubahan laba bersih maupun jumlah lembar saham biasa yang beredar dapat mengakibatkan perubahan laba per saham. Tjiptono dan Hendy (2001) menyatakan semakin tinggi nilai EPS akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Dengan meningkatnya laba maka harga saham cenderung naik, sedangkan ketika laba menurun maka harga saham ikut juga turun. Bagi investor informasi tentang EPS menjadi kebutuhan yang sangat mendasar dalam kebutuhan pengambilan keputusan, informasi tersebut dapat mengurangi ketidakpastian dan resiko yang mungkin terjadi, sehingga keputusan yang diambil diharapkan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu
gaincapital.
Konsep EVA yang dikembangkan G. Bennet Stewart dan Joel Stern pada bukunya The Quest for Value membantu para manajer untuk mengukur sejauh mana pekerjaan dan keputusan mereka dapat menambah atau menurunkan kekayaan pemegang saham. Nilai tambah ekonomis yang lebih populer dengan sebutan EVA ini diyakini mampu mengidentifikasi aktivitas mana saja yang dapat menciptakan nilai melampaui biaya modal (cost of capital) perusahaan, dan mana yang tidak.Logikanya adalah, emiten yang berhasil membukukan EVA positif, mampu menghasilkan laba bersih yang bagus.Dalam hal ini, EVA diakui dapat memberi nilai tambah bagi para pemegang saham (shareholders). (www.swa.co.id)
merupakan cara pemegang saham menentukan seberapa besar laba yang mereka inginkan. (id.wikipedia.org)
Dengan penerapan konsep EVA manajer keuangan dipaksa untuk dapat menggabungkan dua prinsip dasar keuangan dalam perusahaan yaitu mereka harus memaksimumkan kekayaan pemegang saham dan sekaligus meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari sejauh mana investor berharap laba dimasa depan melebihi dari biaya modal. Menurut definisi, peningkatan EVA secara terus–menerus akan membawa peningkatan nilai pasar bagi perusahaan. Pendekatan ini terbukti efektif pada seluruh jenis organisasi, dari perusahaan mulai tumbuh sampai dengan perusahaan yang berubah haluan. (www.investorwords.com)
Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka inti permasalahan yang hendak dibahas adalah:
1. Bagaimana pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara simultan pada perusahaan perbankan.
2. Bagaimana pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara parsial pada perusahaan pe erbankan
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara simultan pada perusahaan perbankan?
2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara parsial pada perusahaan perbankan?
Perhitungan laba perlembar saham (EPS) menurut Eduardus Tandelilin adalah:
Dapat disimpulkan EPS adalah Jumlah pendapatkan atau keuntungan bersih dikurangi saham biasa untuk setiap lembar saham yang berdar saat menjalankan operasinya dalam suatu periode. Laba merupakan alat ukur utama kesuksesan suatu perusahaan, karena itu para pemodal seringkali memusatkan perhatian pada besarnya earnings per share (EPS) dalam melakukan analisis saham. Semakin tinggi nilai EPS tentu saja menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham
Economic Value Added (EVA) adalah keuntungan operasional setelah pajak dikurangi biaya modal atau EVA merupakan pengukuran pendapatan sisa yang mengurangkan biaya modal terhadap laba operasi. Dengan demikian
Economic Value Added (EVA) ditentukan oleh dua hal yaitu laba bersih operasi setelah pajak yang menggambarkan hasil penciptaan value
dalam perusahaan dan tingkat biaya modal yang diartikan sebagai pengorbanan yang dikeluarkan dalam penciptaan value tersebut.
EVA dapat dihitung menggunakan langkah-langkah seperti berikut:
1. Menghitung NOPAT ( Net Operating After Tax)
Definisi :
Laba usaha adalah laba operasi perusahaan dari suatu current operating yang merupakan laba sebelum bunga. Pajak yang digunakan dalam perhitungan Economic Value Added (EVA) adalah pengorbanan yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam penciptaan nilai tersebut.
2. Menghitung Invested Capital
invested capital dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Total hutang dan ekuitas menunjukkan beberapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang. Pinjaman jangka pandek tanpa bunga merupakan pinjaman yang digunakan perusahaan yang pelunasan maupun pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, dan atas pinjaman itu tidak dikenai bunga, seperti hutang usaha, hutang pajak, biaya yang masih harus dibayar, dan lain-lain.
3. Menghitung WACC (Weighted Average Cost of Capital)
Tingkat biaya penggunaan modal yang harus diperhitungkan oleh perusahaan adalah tingkat biaya penggunaan modal perusahaan secara keseluruhan. Karena biaya dari masing-masing sumber dana berbeda-beda. Maka, untuk menetapkan modal perusahaan secara keseluruhan perlu menghitung biaya tertimbang
(weighted average) dari berbagai macam sumber
dana tersebut. Weighted
Average Cost of Capital (WACC) atau biaya modal rata-rata tertimbang perusahan adalah merupakan gabungan biaya-biaya individual yang tertimbang dengan presentase pembiayaan
Rumus biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) adalah:
Dimana:
D = Tingkat Modal Rd = Cost Of Debt Tax= Tingkat Pajak
E = Tingkat Modal dan Equitas Re = Cost Of Equity
Dalam menghitung WACC suatu perusahaan harus mengetahui sebagai berikut :
Dalam menghitung WACC suatu perusahaan harus mengetahui sebagai berikut :
nilai pasar)
• Biaya hutang
• Biaya ekuitas
• Tingkat pajak
• Jika perusahaan memiliki beberapa sumber pembiayaan hutang masing-masing dengan tingkat berbeda, biaya hutang yang digunakan dengan WACC adalah suatu rata-rata tertimbang.
4. Menghitung Capital Charges
Rumus :
5. Menghitung Economic Value Added (EVA)
Rumus :
Dimana:
NOPAT= Net Operating Profit After Tax
WAAC = Modal rata-rata tertimbang
invested capital = total modal yang diinvestasikan
Ada tiga kemungkina hasil yang diperoleh dari perhitungan EVA yang digunakan dalam menilai kinerja perusahaan yaitu:
1. Jika nilai EVA > 0 (positif) artinya bahwa tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan lebih tinggi
perusahaan itu dan menandakan bahwa manajemen telah menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Jika nilai EVA = 0, artinya bahwa perusahaan berada pada posisi break-even point (titik impas) karena semua laba digunakan untuk membayar kewajiban kepada investor.
3. Jika nilai EVA < 0 (negatif) artinya bahwa tidak terjadi proses nilai tambah dalam perusahaan menandakan laba yang tidak bisa memenuhi harapan para investor. Nilai perusahaan berkurang
(destroy value) akibat tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang dituntut.
Dapat disimpulkan capital gain/capital loss adalah pendapatan karena apresiasi harga sekuritas akibat dari harga penjualan lebih besar atau lebih kecil dari pada harga pembelian. Besarnya capitalgain/capitalloss dapat dihitung dengan mencari persentase perubahan dengan menggunakan persamaan yaitu:
Dimana:
Pt = harga saham pada periode t Pt = harga saham pada periode t-l
3. OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Objek penelitian digunakan untuk mendapatkan data sesuai tujuan dan kegunaan tertentu. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Earning per share (EPS), Economic value added (EVA) dan perubahan harga saham.
. . : ..
∗ - Q .
R ) . . % S ) T?
diambil kesimpulannya, artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numeric (angka), dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti
Operasionalisasi variabel diperlukan dalam menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam suatu penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar.
1. Variabel Bebas / Independent (variabel X)
Variabel bebas yang diteliti dalam penelitian ini ada dua, pertama (X1) adalah
earning per share (EPS) dan kedua (X2) adalah
economic value added (EVA).
a. Earning per share (EPS) (X1)
b. Economic value added (X2)
2. Variabel tergantung / Dependent (Variabel Y)
Variabel tergantung adalah variabel yang memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Menurut Sugiyono
Dalam hal ini variabel terikatnya adalah harga saham dengan indikator perubahan harga saham penutupan pada saat pengumuman laporan keuangan selama waktu pengamatan.
Sampel yang diambil penulis sesuai dengan teknik sampling purposive. Yaitu dengan kriteria:
1.Perusahaan Listing di bursa efek selama 10 tahun terakhir.
2. Mempublikasikan Laporan keuangan setiap tahunnya.
3. Lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar.
3. Bank Mandiri (Persero) Tbk 4. Bank Negara Indonesia Tbk
5. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
4. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Earning per share (X1) - EPS perbankan tahun 2005
• Bank BCA = Rp.291.81
• Bank Niaga = Rp.60.07
• Bank Mandiri = Rp.29.90
• Bank BNI = Rp.106.52
• Bank BRI = Rp.473.69
- EPS perbankan tahun 2006
• Bank BCA = Rp. 344.16
• Bank Niaga = Rp. 54.15
• Bank Mandiri = Rp. 119.08
• Bank BNI = Rp. 145.00
• Bank BRI = Rp. 355.62
- EPS perbankan tahun 2007
• Bank BCA = Rp.365.51
• Bank Niaga = Rp.54.15
• Bank Mandiri = Rp.209.78
• Bank BNI = Rp.63.63
• Bank BRI = Rp.403.64
- EPS perbankan tahun 2008
• Bank BRI = Rp.609.50
4.2 Economic Value Added (EVA) (X2) - EVA perbankan tahun 2005 (dalam jutaan rupiah)
• Bank BCA = Rp.3,524,626.57
• Bank Niaga = Rp.654,820.44
• Bank Mandiri = Rp.1,433,241.08
• Bank BNI = Rp.1,705,089.33
• Bank BRI = Rp.3,422,775.25
-EVA perbankan tahun 2006 (dalam jutaan rupiah)
• Bank BCA = Rp. 4,314,885.46
• Bank Niaga = Rp. 955,652.87
• Bank Mandiri = Rp.4,304,340.64
• Bank BNI = Rp. 2,242,469.63
• Bank BRI = Rp.4,120,732.15
-EVA perbankan tahun 2007 (dalam jutaan rupiah)
• Bank BCA = Rp.4,450,433.59
• Bank Niaga = Rp.1,736,191.89
• Bank Mandiri = Rp.4,848,909.47
• Bank BNI = Rp.1,242,789.85
• Bank BRI = Rp.4,159,185.32
-EVA perbankan tahun 2008 (dalam jutaan rupiah)
• Bank BCA = Rp. 5,664,172.03
• Bank Niaga = Rp. 1,278,437.52
• Bank Mandiri = Rp. 5,563,726.64
• Bank BNI = Rp. 1,629,369.54
• Bank BRI = Rp. 4,971,601.44
-EVA perbankan tahun 2009 (dalam jutaan rupiah)
• Bank BCA = Rp. 6,340,147.16
• Bank Niaga = Rp. 1,964,416.10
• Bank Mandiri = Rp. 7,321,076.31
• Bank BNI = Rp. 2,917,500.68 Economic Value Added Terhadap Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Perbankan (r1)
Melalui hasil pengolahan data maka dapat dibentuk model prediksi variabel earning per share dan economic value added terhadap perubahan harga saham sebagai berikut.
∆∆∆∆ Harga Saham = 9,007 + 0,015 EPS + 0,0000035 EVA
Berdasarkan persamaan prediksi diatas, maka dapat diinterpretasikan koefisien regressi dari masing-masing variabel independen sebagai berikut:
• Setiap kenaikan earning per share sebesar satu rupiah diprediksi akan menaikkan harga saham perusahaan sebesar 0,015% dengan asumsi economic value added
perusahaan tidak mengalami perubahan.
• Setiap kenaikan economic value added
harga saham perusahaan apabila earning per share dan economic value added sama dengan nol
4.5 Pengaruh Earning Per Share Terhadap Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Perbankan (r2)
Hubungan antara earning per share dengan perubahan harga saham ketika economic value added tidak berubah adalah sebesar 0,102 dengan arah positif. Artinya earning per share
memiliki hubungan yang sangat lemah/sangat rendah dengan perubahan harga saham ketika
economic value added tidak mengalami perubahan. Arah positif menggambarkan bahwa ketika earning per share meningkat, sementara
economic value added tidak berubah maka akan meningkiatkan perubahan harga saham perusahaan. Kemudian besar pengaruh earning per share terhadap perubahan harga saham perusahaan ketika economic value added
perusahaan tetap adalah (0,102)2 × 100% = 1,0%.
4.6 Pengaruh Economic Value Added Terhadap Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Perbankan (r3)
Hubungan antara economic value added dengan perubahan harga saham ketika earning per share
tidak berubah adalah sebesar 0,188 dengan arah positif. Artinya economic value added memiliki hubungan yang sangat lemah/rendah dengan perubahan harga saham ketika earning per share
tidak mengalami perubahan. Arah positif menggambarkan bahwa ketika economic value added meningkat, sementara earning per share
tidak berubah maka perubahan harga saham perusahaan akan meningkat. Kemudian besar pengaruh economic value added terhadap perubahan harga saham perusahaan ketika
earning per share perusahaan tetap adalah (0,188)2× 100% = 3,5%.
Berdasarkan hasil perhitungan besar pengaruh/kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap perubahan harga saham dapat diketahui bahwa diantara kedua variabel bebas,
economic value added memiliki pengaruh yang
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh earning per share dan
economic value added terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Secara simultan earning per share dan
economic value added tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia. Earning per share dan
economic value added secara simultan hanya memberikan pengaruh sebesar 4,2% terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia.
perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia. Earning per share secara parsial hanya memberikan pengaruh sebesar 1,0% terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Tidak signifikansi Earnings Per Share terhadap Perubahan Harga saham perusahaan perbankan ini disebabkan karena krisis global pada tahun 2008 yang terjadi di seluruh dunia. Akibat dari krisis global tersebut memicu sentimen negatif pasar yang mengakibatkan penarikan dana besar-besaran yang dilakukan oleh para investor dan berimbas pada penurunan harga saham perusahaan-perusahaan perbanakan walaupun kenyataannya pada tahun tersebut kinerja dan prospek perusahaan-perusahaan perbankan bagus yang diindikasikan oleh kenaikan jumlah
Earning Per Share di beberapa perusahaan tetapi hal tersebut tidak bisa membendung kuatnya sentimen negatif pasar yang semakin parah. Nilai earning per share di perusahaan perbankan masih kurang menarik minat investor, dikarenakan nilai saham perusahaan perbankan yang cukup tinggi tidak diimbangi dengan pembagian laba per lembar saham dan gigunakannya metode lain untuk menilai harga sahan perusahaan perbankan.
Economic value added juga secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia. Economic value added hanya memberikan pengaruh sebesar 3,5% terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan dengan aset terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh EVA yang tidak signifikan terhadap Perubahan harga saham perusahaan perbankan. Perbadaan yang terjadi antara apa yang teah dicetuskan oleh pencetus EVA dengan kenyataan yang terjadi di pasar modal Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Karena harga saham di pasar modal lebih cenderung terbentuk karena sentiment pasar,
lingkup perusahaan.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas yang menunjukkan bahwa EPS dan EVA memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap perubahan harga saham, maka saran yang peneliti sampaikan adalah sebagai berikut:
Bagi Perusahaan:
1. Kepada para investor hendaknya jangan hanya berpedoman pada EPS dalam melakukan pembelian saham suatu perusahaan, tetapi juga harus memperhatikan faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang. 2. EVA merupakan pengukur ninerja yang
dapat mengukur nilai tambah yang dihasilkan oleh perusahaan kepada investor. Agar dapat di implimentasikan secara utuh, EVA harus menjadi salah satu falsafah hidup dan bagian dari perusahaan. Karena itu Eva perlu dimasyarakatkan keseluruh perusahaan dengan dukungan penuh dari manajemen puncak. Dan manajemen dapat lebih transparan dalam menyampaikan laporan perusahaannya
3. Melihat harga saham yang fluktuatif, disarankan agar perusahaan dapat memperbaiki performa harga sahamnya dimasa mendatang dam meningkatkan manajemen, teknologi dan daya saing
Bagi Investor:
kekurangan-kekurangan yang ada dalam penelitian ini.
6. DAFTAR PUSTAKA
Amin Wijaya Tunggal. 2005. Memahami Konsep EVA (Economic Value Added) dan Value Based Manajement (VBM) Teori,soal,dan Kasus. Jakarta: Havarindo.
Andi Supangat. 2007. Statistika dalam Kajian Deskriftif, Inferensi, dan Nonparametrik. Jakarta: Kencana
Anita Ardiani. 2007. “Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Perubahan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.
Brigham, Eugene F. and Joel F. Houston. 2009.
Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Salemba Empat: Jakarta.
Brimingham, Eugene F. & Philips R. Davies. 2010. Intermediet Financial Management.
Mason : Cengage Learning
Eduardus Tandelilin, MBA. CWM, Prof. Dr. 2010. Portofolio dan Analisis Investasi Teori dan Aplikasi Edisi Pertama. Yogyakarta: Kanisius
Gujarati, Damodar. 2003. Basic Econometrics Fourth Edition. Singapore: McGraw Hill International Edition.
Hansen, Don R & Maryanne M. Mowen. 2005.
Management Accounting Terjemahan Dewi F. Edisi 7. Jakarta: Salemba Empat
Husein Umar, 2005. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Jogiyanto Hartono, M..B.A., Ak., Prof. Dr. 2008.
Teori Portofolio dan Analisis Investasi Edisi Kelima. Yogyakarta: BPFE
Jakarta: Erlangga
Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt, and Terry D. Warfield, 2005, Intermediate Accounting, United State of America: John Wiley & Sons,Inc.
Masyhuri dan M. Zainudin. 2009. Metode Penelitian : Pendekatan Praktis dan Aplikatif.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Riyanto Bambang, 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta: BPFE Robert, N Anthony & Vijay Govindarajan. 2005.
Sistem Pengendalian Manajemen. Salemba Empat .Jakarta
Stewart G. Bennet,1991. The Quest For Value – A Guide For Senior Manager, New York: Harper Collins.
Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta CV. Sugiyono.2005. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta CV.
Tangkilisan S Nogi, Hessel. 2003. Manajemen Keuangan. Mengelola Kredit Berbasis Good Corporate Governance, Yogyakarta: Ballairung & Co.
Tjiptono Darmadji dan Hendy M Fakhruddin. 2001. Pasar Modal di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.
Ucok Saut Timbul, S.E. 2009. Analisis Pengaruh EVA, ROA, ROE, dan Persentase Kepemilikan Modal Saham Asing Terhadap Harga Saham Perbankan Di BEI. Skripsi. Universitas Gunadarama.
BPFE.
iv
Exchange. The sample used is banking company which actively in Indonesia Stock Exchange trading of year 2000-2009, is always publishing financial reports every year and the company included the biggest banking company by assets.
This research is using descriptive analysis method with quantitative approach. Sample of data is reports balance sheet, profit / loss and share price of banking statistics for 2006 to 2009. This research using the dependent variable stock price changes, while the independent variable is earning per share (EPS) and economic value added (EVA).
Based on the research that earnings per share and economic value added simultaneously does not significantly influence change of stocks price on five banking companies which are listed in Indonesia Stock Exchange. Based on the partial testing earnings per share did not have significant influence on change of stock price in the banking companies. And partial test of the influence of variable economic value added can concluded that economic value added has no significant effect on stock price movements on five banking companies listed in Indonesia Stock Exchange
v
Penelitian ini menganalisis pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) terhadap Perubahan Harga Saham pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan adalah perusahaan perbankan yang aktif di perdagangan Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009, selalu mempublikasi laporan keuangan setiap tahunnya dan perusahaan yang termasuk perusahaan perbankan dengan aset terbesar.
Penelitian ini menggunakan metode deskriftif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Dimana data yang dijadikan sampel adalah laporan keuangan neraca, laporan laba/rugi dan statistik harga saham perbankan periode 2006 sampai 2009. Penelitian ini menggunakan variabel dependen Perubahan Harga Saham, sedangkan variabel independennya adalah Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added
(EVA).
Berdasarkan penelitian bahwa earning per share dan economic value added
secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan pengujian secara partial earning per share tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan perbankan. Dan pengujian secara partial mengenai pengaruh variabel economic value added dapat disimpulkan bahwa
economic value added tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham pada lima perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Keywords: Perubahan Harga Saham, Earning Per Share (EPS), dan
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Penelitian
Pasar modal merupakan salah satu sarana untuk mengatasi permasalahan
liquiditas perusahaan sekaligus sebagai salah satu sarana investasi bagi
pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana. Investasi pada pasar modal termasuk
dalam kategori investasi yang likuiditasnya tinggi serta convertible (mudah
dikonversikan) sehingga penting bagi emiten untuk memperhatikan kepentingan
pemilik modal yaitu dengan memaksimalkan nilai perusahaan.Karena nilai
perusahaan merupakan ukuran keberhasilan atas fungsi-fungsi keuangan.
Bertolak dari kejadian kerisi global yang terjadi pada tahun 2008 tepatnya
awal bulan oktober luar bisa melanda hampir seluruh dunia,berimbas pada
anjloknya harga saham pada perdagangan di lantai bursa efek Indonesia. Lantai
Bursa Efek Indonesia yang sempat suspensi (Penghentian perdagangan saham
sementara) selama 3 hari (Tanggal 8, 9 dan 10 Oktober 2008) menyebabkan
banyak investor-investor asing yang meninggalkan lantai bursa efek Indonesia.
Dan berakibat pada harga saham di Indonesia makin merosot tajam dan harga
tukar rupiah terhadap mata uang asing yang makin terpuruk pada saat itu.
(www.kompas.com: 2008)
Krisis ini dimulai dari hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi yaitu
tidak layak mendapat kredit. Di Amerika Serikat (AS), setiap orang yang akan
mendapatkan kredit dari bank harus mempunyai credit score dengan jejak rekam
baik yang dikeluarkan oleh semacam lembaga independen. Lalu terjadi perubahan
penilaian dari tim ekonomi Bush, yaitu mengijinkan bank untuk memberikan
kredit kepada orang yang tidak masuk kategori layak kedit yang disebut subprime.
Selanjutnya dikenal umum sebagai subprime mortgage. Tentu bunganya lebih
tinggi, karena resiko gagal cicilannya (repaymentdefault) juga lebih besar.
Terlalu canggihnya financial engineering di AS, kredit kelas kacangan ini pun
dibuat menjadi semacam produk sekuritas dimana subprime mortgage ini
dijadikan underlying asset-nya. Hasilnya berupa produk derivatif, nama kerennya
Backed Securities untuk surat hutang. Setelah menjadi ”surat berharga”, lalu
diberi nilai oleh lembaga pemeringkat. Resmilah subprime mortgage ini, menjadi
surat hutang yang bisa diperdagangkan di pasar NYSE bahkan secara global. Lalu
resikonya sejauh harga rumah naik terus, maka backed securities tersebut
aman-aman sajalah. Karena dimana-mana harga properti umumnya naik terus, termasuk
di Indonesia. Sangat menjanjikan sebagai media investasi global dan sehingga
patut ditransasikan dalam jumlah besar-besaran. Para raksasa keuangan, Bank,
hedge fund ataupun investor besar yang memborong dan melakukan "mix and
match" backed securities ini pun mengalami kerugian besar sekali bahkan
beberapa langsung menyatakan diri bangkrut. Ditambah lagi masalah "credit
default swap" (asuransi yg menjamin jika terjadi default pada surat berharga
subprime mortgage) yang nilai klaimnya besar sekali, sehingga banyak
asuransi seperti AIG, Wachovia, dan Washington Mutual pun ikut mengalami
kerugian. Bangkrutnya beberapa raksasa finansial dan asuransi dunia, tentu sangat
mencemaskan pasar keuangan global, lambat laun mengkikis kepercayaan
sehingga menimbulkan rasa takut di pasar modal. Seiring dengan itu, krisis kredit
macet semakin tidak terkendali lagi dan mulai merembet ke berbagai sektor di AS,
Eropa dan Jepang. Wall Street sebagai raksasa bursa saham terbesar di dunia
mulai goyah, lalu pelan tapi pasti menuju kehancuran dibarengi kepanikan pasar
yg irrasional luar biasa. Long bearish trend pun dimulai yang diikuti seluruh pasar
modal dunia. Sebelumnya, beberapa upaya konvensional dilakukan oleh The Fed
seperti menurunkan suku bunga bartahap sampai hanya 1%, bahkan zero percent
regime pun diberlakukan di AS. Namun upaya The Fed ternyata masih belum
menolong ekonomi yang semakin lemah. Maka krisis ekonomi globalpun dimulai,
Wall Steet mengalami penurunan tajam dalam 7 hari berturut-turut sampai 20
januari 2009 masih berkutat di bottom level nya sekitar 8000 an, sekalipun
program dana talangan ”bail-out” senilai USD 900 milyar sudah dikucurkan.
(http://wisdomarket.blogspot.com/2009/01/krisis-ekonomi-2008-mengapa-bisa.html)
Para pemodal tertarik untuk menginvestasikan dananya karena investasi
dalam bentuk saham menjanjikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi diperoleh
dari deviden dan capital gain. Akan tetapi investasi dalam bentuk saham juga
mempunyai risiko yang tinggi sesuai dengan prinsip investasi yaitu low risk low
return, high risk high return. Untuk mengurangi risiko dibutuhkan informasi laba
Perubahan harga saham atau capital gain (loss) adalah jumlah dimana
harga jual aset yang melebihi atau kurang dari harga pembelian awal.Sebuah
capital gain direalisasikan merupakan investasi yang telah dijual di
keuntungan.Dan capital loss adalah kebalikan dari capital gain.
(www.investorwords.com)
Menurut Muhammad Samsul (2006,332), ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain
faktor internal (lingkungan mikro) dan faktor eksternal (ligkungan makro). Faktor
internal dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain pengumuman tentang
pemasaran, produksi, penjualan, pengumuman pendanaan (financing
announcements), pengumuman badan direksi manajemen (management-board of
director announcements), pengumuman pengambilalihan diversifikasi,
pengumumaninvestasi (investment annuncements), pengumuman ketenagakerjaan
(labour announcements), dan pengumuman laporan keuangan perusahaan.
Sedangkan faktor eksternal dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain
pengumuman dari pemerintah, pengumuman hukum (legalannouncements),
pengumuman industri sekuritas (securitiesannouncements), gejolak politik dan
berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri.
Analisa investor dalam melakukan perdagangan saham dimulai dengan
melakukan analisis terhadap perubahan harga saham bertujuan untuk dapat
memperoleh capital gain yang besar. Ini dilakukan oleh investor yang membeli
saham hanya untuk mendapatkan kentungan dari capital gain dari pembelian
Analisis terhadap sebuah perubahan harga saham perusahaan dapat
dilakukan dengan menganalisis informasi keuangan perusahaan tersebut.Analisis
terhadap informasi keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti
analisis keuangan, analisis teknikal dan analisis fundamental
(id.wikipedia.org/wiki/Analisis_fundamental).
Analisis fundamental adalah metode analisis faktor-faktor ekonomi yang
yang mempengaruhi perusahaan dalam upaya untuk memprediksi perkembangan
perusahaan dimasa yang akan datanng (Thian Hin: 2008; 53). Analisis
fundamental pada fundamental ekonomi suatu perusahaan yang menitik beratkan
pada rasio finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.dan kejadian - kejadian
yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan
perusahaan. (id.wikipedia.org)
Salah cara melakukan analisis fundamental adalah dengan menganalisis
kondisi keuangan dari informasi keuangan perusahan. Para investor mengukur
kinerja perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber
daya yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan. Kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dalam kegiatan operasinya merupakan fokus utama dalam
penilaian kinerja perusahaan karena laba merupakan indikator kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban kepada para penyandang dana dan juga
merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek
perusahaan di masa yang akan datang, karena nilai perusahaan merupakan ukuran
dipengaruhi beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Agar tujuan dapat
dicapai, maka diusahakan agar sumber daya dimanfaatkan secara efektif dan
efisien. Sering digunakannya informasi profitabilitas perusahaan yang berasal dari
laporan keuangan sebagai indikator utama untuk landasan dalam pengambilan
keputusan berinvestasi, dan rasio profitabilitas dapat menunjukkan keberhasilan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (Anggoro: 2008)
Salah datu informasi yang didapat dari laporan keuangan perusahaan
adalah informasi profitabilitas perusahaan, informasi tersebut dapat dihitung
dengan beberapa cara yaitu return on investment (ROI), return on assets (ROA),
debt equity ratio (DER), earning per share (EPS), net profit margin (NPM) dan
economic value added (EVA) (www.investorwords.com).
Laba per lembar saham (EPS) adalah jumlah pendapatan yang di peroleh
dalam suatu periode untuk setiap lembar saham yang berdar (Zaki Baridwan,
2005: 443). Besar kecilnya laba per saham (EPS) ini dipengaruhi oleh perubahan
variabel-variabelnya. Setiap perubahan laba bersih maupun jumlah lembar saham
biasa yang beredar dapat mengakibatkan perubahan laba per saham. Tjiptono dan
Hendy (2001) menyatakan semakin tinggi nilai EPS akan menggembirakan
pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang
saham. Dengan meningkatnya laba maka harga saham cenderung naik, sedangkan
ketika laba menurun maka harga saham ikut juga turun. Bagi investor informasi
tentang EPS menjadi kebutuhan yang sangat mendasar dalam kebutuhan
resiko yang mungkin terjadi, sehingga keputusan yang diambil diharapkan akan
sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu gaincapital.
Berikut data EPS dan Harga saham perusahaan perbankan yang memiliki
total asset terbesar di Indonesia selama tahun 2007 sampai dengan 2009, disajikan
dalam table 1.1.
Tabel 1.1
Harga Saham dan EPS Perusahaan Perbankan
N
Dari data atau informasi yang diperoleh pada table 1.1 tersebut dapat di
lihat dari data di atas saham perbankan yang berfluktuatif data menunjukan terjadi
penurunan harga saham dari lima perusahaan perbankan di Indonesia yang listing
di Bursa Efek tahun 2008 merupakan dampak dari krisis ekonomi global,
penurunan terbesar terjadi pada saham Bank BNI sebesar 190% dan terkecil pada
saham Bank BRI sebesar 62%.
Perubahan EPS pada perusahaan perbankan mengalami perubahan setiap
tahunnya baik kenaikan atau penurunan berdampak pada harga saham. EPS Tahun
2008 di Bank Danamon, Bank Mandiri, dan Bank BRI yang naik tetapi tidak di
imbangi dengan harga sahamnya mengalami perubahan negative atau EPS Bank
Danamon Tahun 2009 yang turun harga sahamnya mengalami perubahan positive.
Hal ini tidak sesuai dengan Pendapat Tjiptono dan Hendry yang menyatakan
Semakin tinggi EPS maka harga saham cenderung naik atau semakin rendah EPS
maka harga saham cenderung turun.
Selain menggunakan EPS untuk menganalisa informasi keuangan
perusahaan dapat juga menggunakan EVA sebagai metode analisa fundamental
terhadap informasi keuangan perusahaan. Informasi keuangan yang akan
menggambarkan kinerja dari sebuah perusahaan, kinerja keuangan tersebut
merupakan dampak keputuasan terus-menerus dari manajemen. Penggunaan EVA
dinilai oleh investor dan pemegang saham lebih tepat dari pada menggunakan
rasio keuangan lainya. (id.wikipedia.org)
Konsep EVA yang dikembangkan G. Bennet Stewart dan Joel Stern pada
mana pekerjaan dan keputusan mereka dapat menambah atau menurunkan
kekayaan pemegang saham. Nilai tambah ekonomis yang lebih populer dengan
sebutan EVA ini diyakini mampu mengidentifikasi aktivitas mana saja yang dapat
menciptakan nilai melampaui biaya modal (cost of capital) perusahaan, dan mana
yang tidak.Logikanya adalah, emiten yang berhasil membukukan EVA positif,
mampu menghasilkan laba bersih yang bagus.Dalam hal ini, EVA diakui dapat
memberi nilai tambah bagi para pemegang saham (shareholders).
(www.swa.co.id)
Berdasarkan akuntansi konvensional, banyak perusahaan yang terlihat
menguntungkan padahal kenyataanya tidak demikian.Analisis EVA dapat
memperkecil risiko manipulasi laporan keuangan oleh manajemen. EVA
memperbaiki kesalahan ini dengan cara eksplisit mengakui bahwa pada saat para
menajer menggunakan modal, mereka harus membayarnya, seperti upah. Dengan
memperhitungkan seluruh biaya modal, termasuk biaya ekuitas, EVA menunjukan
jumlah kekayaan berupa uang yang diciptakan atau di habiskan oleh perusahaan
dalam setiap periode pelaporan. Dengan kata lain, EVA merupakan cara
pemegang saham menentukan seberapa besar laba yang mereka inginkan.
(id.wikipedia.org)
Dengan penerapan konsep EVA manajer keuangan dipaksa untuk dapat
menggabungkan dua prinsip dasar keuangan dalam perusahaan yaitu mereka harus
memaksimumkan kekayaan pemegang saham dan sekaligus meningkatkan nilai
perusahaan yang dapat dilihat dari sejauh mana investor berharap laba dimasa
terus–menerus akan membawa peningkatan nilai pasar bagi perusahaan.
Pendekatan ini terbukti efektif pada seluruh jenis organisasi, dari perusahaan
mulai tumbuh sampai dengan perusahaan yang berubah haluan.
(www.investorwords.com)
Hal ini karena tingkat EVA bukanlah yang terpenting, kinerja saat ini
sudah tercermin dalam harga saham, ini merupakan perbaikan berkelanjutan dari
EVA yang selanjutnya akan memberi peningkatan kekayaan para pemegang
saham. Keunggulan lain dari EVA adalah bahwa secara konseptual cukup
sederhana dan mudah dijelaskan pada para manajer yang tidak memiliki dasar
keuangan sekalipun hanya saja dalam perhitungannya agak rumit karena harus
menghitung terlebih dahulu beberapa rumus yang belum tentu tercantum dalam
laporan keuangan. (www.investorwords.com)
Mayoritas perusahaan menggunakan sejumlah ukuran kinerja yang tidak
seragam pada masing-masing unitnya, misalnya bagian produksi mengalisis
produk individu atau lini bisnis berdasarkan margin kotor atau arus
kasnya.Sedangkan departemen keuangan biasanya menganalisis investasi modal
dalam bentuk nilai sekarang (net present value). Ketidakseragaman ini sering
memunculkan kebingungan dalam membandingkan kinerja perusahaan secara
keseluruhan, konsep EVA dapat dijadikan salah satu solusinya, karena EVA
menggunakan suatu ukuran keuangan tunggal yang menghubungkan seluruh
pengambilan keputusan dengan fokus umum. (James L. Gran: 2006)
EVA dalam perusahaan perbankan yang selalu berubah juga dapat
menggunakan ukuran suatu nilai keuangan tunggal dapat mempengaruhi
permintaan saham berakibat pada perubahan harga saham perusahaan
tersebut.Lebih jauh lagi James L. Grant (2006) berpendapat nilai EVA positive
dapat mengakibatkan permintaan saham mengalami tren yang positive juga
berakibat pada kenaikan harga saham perusahaan tersebut.
Berikut data EVA dan Harga saham perusahaan perbankan yang memiliki
total asset terbesar di Indonesia selama tahun 2007 sampai dengan 2009, disajikan
dalam table 1.2.
Tabel 1.2
EVA dan Harga Saham Perusahaan Perbankan
Nama Perusahaan EVA Harga Saham
Indonesia (Persero) Tbk
2008 6,884,248.99 2008 4575
62%
2009 7,540,011.25 2009 7650
40%
Sumber www.idx.co.id (Data sudah diolah)
Dari data yang diperoleh pada tabel 1.2 tersebutdapat di lihat dari data di
atas nilai EVA dan saham perbankan.Nilai EVA dari perusahaan perbankan yang
positive tiap tahunnya tetapi tidak dapat menjadikan harga saham mengalami tren
yang positive. Di tahun 2008 seluruh saham perbankan pada tabel 1.2 mengalami
penurunan harga saham sedangkan nilai EVA-nya positive atau pun yang terjadi
pada BCA dan Bank Danamon EVA-nya mengalami tren negative tetapi harga
sahamya mengalami peningkaan ini tidah sesuai dengan pendapat James L. Grant
yang berpendapat nilai EVA positive dapat mengakibatkan permintaan saham
mengalami tren yang positive juga berakibat pada kenaikan harga saham
perusahaan tersebut.
Dalam penelitian yang dilakukan Mohamad Abdul Azis (2005)
menunjukkan bahwa besarnya koefisien determinasi (R2) adalah 0,326 atau
32,6%. Sedangkan uji parsial menunjukkan bahwa EPS (Earning Per Share)
diperoleh t hitung 2,337 dengan signifikansi 0,033, hal ini berarti variabel EPS
berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan
makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ. Pertumbuhan penjualan diperoleh t
hitung 0,884 dengan signifikansi 0,390, hal ini berarti variabel pertumbuhan
penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada
variabel pertumbuhan penjualan terhadap perubahan harga saham disebabkan
karena laba yang diperoleh perusahaan tidak digunakan untuk pembagian deviden,
melainkan digunakan untuk pengembangan usaha.
Dan dalam penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Handoko hasil
pengujian diperoleh nilai F sebesar 3,521 dan nilai Sig sebesar 0,061, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa nilai F hitung signifikan pada taraf 10%. Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa secara serentak variabel EVA, ROE, ROA dan
EPS berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham pada taraf 10%. Ini
berarti menerima hipotesis pertama yang menyatakan bahwa Economic Value
Added, ROE, ROA, dan EPS berpengaruh terhadap perubahan harga saham
kategori LQ 45. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa diantara variabel
independen hanya variable EPS yang signifikan pada taraf 10%, yang artinya EPS
berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham. Sedangkan variable
yang lain yaitu EVA, ROE, ROA tidak ada yang signifikan pada taraf 5% ataupun
pada taraf 10%, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel EVA,
ROE, ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham.
Dari fenomena yang terjadipada pengaruh Earning per Share dan
Economic Value Added terhadap perubahan harga saham pada perusahaan
perbankan yang tidah sesuai dengan teori. Atas dasar fenomena yang terjadi serta
teori, maka penelitian ini mengambil judul “EARNING PER SHARE (EPS)
DAN ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) BERPENGARUH TERHADAP
PERUBAHAN HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERBANKAN SURVEY
1.1Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
1.1.1 Identifiksasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas, masalah yang dapat penulis identifikasi adalah sebagai
berikut:
1. Krisis ekonomi dunia yang terjadi tahun 2008 awal bulan oktober,
berdampak pada anjloknya harga saham pada perdagangan di lantai bursa
efek Indonesia dam membuat laintai bursa mengalami suspen selama tiga
hari.Hal ini terbukti dengan adanya penurunan harga saham perbankan
sampai dengan 190% yang terjadi pada harga saham Bank BNI dan
penurunan harga sahan terkecil pada saham Bank BRI sebesar 62%.
2. Harga saham perbankan yang sempat mengalami penurunan pada tahun
2008 di tahun 2009 mengalami kenaikan ini merupakan pemulihan dampak
krisis ekonomi global tahun 2009 seperti saham BNI yang naik sebesar
66% atau Bank Mandiri naik sebesar 57% sampai kenaikan terendah yang
terjadi pada Bank Danamon sebesar 32%.
3. Pendapat Tjiptono dan hendri yang menyatakan semakin tinggi EPS makan
harga saham juga akan naik atau semakin rendah EPS maka harga
sahamnya pun rendah. Dari tabel 1.1 EPS Bank Danamon, Bank Mandiri
dan Bank BRI yang naik di tahun 2008 tetapi harga saham bank tersebut
turun atau EPS tahun 2009 Bank Danamon yang turun tetapi harga
sahamnya naik.
4. Nilai EVA dari perusahaan perbankan yang positive tiap tahunnya tetapi tidak dapat menjadikan harga saham mengalami tren yang positive. Di tahun 2008 seluruh saham perbankan mengalami penurunan harga saham
Bank Danamon EVA-nya mengalami tren negative tetapi harga sahamya mengalami peningkaan ini tidah sesuai dengan pendapat James Grant yang
berpendapat nilai EVA positive dapat mengakibatkan permintaan saham mengalami tren yang positive juga berakibat pada kenaikan harga saham perusahaan tersebut.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka inti
permasalahan yang hendak dibahas adalah:
1. Bagaimana pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value
Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara simultan pada
perusahaan perbankan.
2. Bagaimana pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Economic Value
Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara parsial pada
perusahaan perbankan.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dan data
yang relevan mengenaianalisis Earnings per Share (EPS) dan Economic Value
Added (EVA) dapat mempengaruhi perubahan harga saham pada perusahaan
1.3.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Apakah ada pengaruh Earning Per Share (EPS) dan
Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara simultan pada perusahaan perbankan?
2. Untuk mengetahui Apakah ada pengaruh Earning Per Share (EPS) dan
Economic Value Added (EVA) terhadap perubahan harga saham secara parsial pada perusahaan perbankan?
1.4Kegunaan penelitian
Kegunaan penelitian menerangkan manfaat penulisan karya ilmiah ini
yang untuk dipergunakan dengan tujuan penulisan dari segi berbagai bidang dan
kebutuhan, seperti dibawah ini:
1.4.1Kegunaan akademis
Adapun kegunaan penelitian yang dilaksanakan dalam penyusunan
penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Pengembangan Ilmu
Untuk memperkaya ilmu pengetahuan, sehingga mahasiswa dapat
mengembangkan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan
judul yang diangkat oleh penulis.
2. Penulis
Untuk menambah pemahaman dan pengetahuan tentang investasi
terutama tentang penyebab perubahan harga saham.
Sebagai bahan referensi bagi peneitian selanjutnya yang tertarik
melakukan penelitian tentang mengenai Earnings per Share (EPS)
Economic Value Added (EVA),dan perubahan harga saham.
1.4.2Kegunaan Praktis
1. Bagi Manajemen Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak
manajemenperusahaan yang dapat digunakan sebagai masukan atau dasar
untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang dapat dilihat dari rasio
keuangan yang baik menunjukkan prospek bagus bagi perusahaan di masa
yang akan datang yang dapat menarik investor untuk menanamkan modal
di perusahaan sehingga dimungkinkan dapat menambah modal untuk
usaha pengembangan perusahaan dan sebagai bahan informasi dalam
pengambilan keputusan.
2. Bagi Investor
Hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
pengaruh laporan keuangan terhadap perubahan harga saham yang
diperdagangkan di pasar modal, sehingga dapat dijadikan sebagai
pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta dapat dipergunakan
sebagai salah satu alat untuk memilih atau menentukan perusahaan mana
yang mempunyai rasio keuangan yang baik dan meramalkan harga-harga
saham perusahaan perbankan di BEI sehingga akan mengurangi resiko
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
1.5.1 Lokasi Penelitian
Dalam penyusunan penelitian ini, penulis melakukan penelitian pada Bursa Efek
Indonesiayang berlokasi di Gd. Bursa Efek IndonesiaJl. Jend. Sudirman Kav
52-53Jakarta Selatan
1.5.2 Waktu Penelitian
Adapun Waktu yang digunakan dalam penelitian ini di mulai pada bulan
Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.
Tabel 1.3
Waktu Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
Tahap Prosedur Oktober Bulan
2010
1.Membuat outline dan proposal skripsi
2. Mengambil formulir penyusunan skripsi
2. Meminta surat pengantar ke perusahaan
3. Penyempurnaan laporan skripsi
19
2.1Kajian Pustaka
Pada Bagian ini penulis akan membahas mengenai pengertian dan
pemahaman Earnings Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) dengan
menganalisa data-data maupun teori yang telah dikumpulkan oleh penulis yang
berhubungan dengan judul skripsi “Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA) Berpengaruh Terhadap Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Perbankan Survey di Bursa Efek Indonesia”.
2.1.1 Pasar Modal
2.1.1.1Pengertian Pasar Modal
Pengertian pasar modal menurut Eduardus Tandelilin yang dijabarkan dalam
buku ”Portofolio dan Investasi” adalah:
“Pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak
yang membutuhkan dana dengan cara menjualbelikan sekuritas”
(2010:26)
Sedangkan pengertian pasar modal menurut Jugianto Hartono dalam buku
“Tempat dimana perusahaan yang membutuhkan dana menjual surat
berharganya untuk mendapatkan tambahan modal”
(2008:29)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan pasar modal adalah tempat pertemuan
pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang kelebihan dana dengan cara
memperjualbelikan surat berharga atau sekuritas. Dana yang didapat merupakan dana
masyarakat dan orang yang memberikan dana tersebut yang disebut investor.
2.1.1.2Instrumen Pasar Modal
Pasar modal merupakan pasar bagi instrumen finansial jangka panjang (lebih
dari satu tahun temponya) yang dimaksud instrumen pasar modal yaitu surat berharga
(sekuritas) yang di perdagangkan di bursa.
Instrumen pasar modal menurut Eduardus Tandelilin adalah:
“Instrumen pasar modal (sekuritas) adalah efek atau surat berharga yaitu:
1. Saham biasa 2. Sahan preferen 3. Bukti right
4. Waran 5. Obligasi
6. Obligasi konversi 7. Kontrak berjangka 8. Kontrak Opsi 9. Reksa dana”
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa jenis-jenis sekuritas meliputi:
1. Saham biasa adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan
suatu perusahaan.Pemegang saham biasa bisa memiliki hak klaim atas
penghasilan dan aktiva perusahaan.
2. Saham preferen adalah ekuitas yang menyatakan kepemilikan,
membayar deviden dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo. Disisi
lain, saham preferen juga serupa dengan obligasi karena merupakan
sekuritas yang menghasilkan pendapatan tetap dari deviden tetapnya.
3. Bukti right adalah sekuritas yang memberikan hak kepada pemegang
saham lama untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga yang
telah di tetapkan selama periode tertentu. Bukti right di terbitkan
melalui melalui penawaran umum terbatas (right issue).
4. Waran adalah hak untuk membeli saham pada waktu dan harga yang
telah ditentukan sebelumnya. Waran biasanya dijual bersamaan
dengan sekuritas lain seperti obligasi atau saham.
5. Obligasi adalah sekuritas yang memuat janji untuk memberikan
pembayaran tetap menurut jadwal yang telah ditetapkan. Penerbit
obligasi mempunyai kewajiban kepada pemegannya untuk membayar
bunga secara reguler sesuai jadwal yang telah ditetapkan serta
6. Obligasi konversi adalah obligasi yang dapat di tukat dengan saham
biasa. Dalam obligasi konversi di cantumkan persyaratan untuk
melakukan konversi.
7. Kontrak berjangka adalah perjanjian yang di buat hari ini yang
mengharuskan adanya transaksi di masa yang akan datang.
8. Kontrak opsi adalah suatu perjanjian yang memberi pemiliknya hak,
bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu asset tertentu
pada waktu tertentu selama waktu tertentu.
9. Reksa dana adalah sekumpulan sekuritas yang dikelola oleh
perusahaan investasi dan di beli oleh investor.
2.1.1.3Jenis Pasar Modal
Jenis pasar modal menurut Muhammad Samsul adalah:
“Pengertian pasar modal dapat dikategorikan menjadi 4 pasar yaitu, 1. Pasar pertama (perdana).
2. Pasar kedua (sekunder). 3. Pasar ketiga.
4. Pasar keempat.”
(2006:46)
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa jenis pasar modal meliputi:
1. Pasar kertama (perdana) adalah tempat atau sarana bagi perusahaan yang
untuk pertama kali menawarkan saham atau obligasi kepada masyarakat
bertemu dengan penjamin emisi atau pun agen penjual untuk melakukan
pembelian saham atau obligasi.
2. Pasar kedua (sekunder) adalah tempat atau sarana transaksi jual-beli bursa
efek antarinvestor dan harga dibentuk oleh investor melalui perantara
efek.
3. Pasar ketiga adalah sarana transaksi jual beli efek antara market maker
serta investor dan harga dibentuk oleh market maker. Investor dapat
memilih market maker yang member harga terbaik dan para market maker
akan bersaing dalam menentukan harga saham, karena satu jenis saham di
pasarkan oleh lebih dari satu market maker.
4. Pasar keempat adalah sarana transaksi jual-beli antar investor jual dan
investor beli tanpa melalui perantara efek. Transaksi dilakukan secara
tatap muka antara investorbeli dan investor jual untuk saham atas
pembawa.
2.1.2 Investasi
Sudah menjadi naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
berbagai cara ditempuh agar mereka memperoleh pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan sehingga kesejahteraan mereka meningkat. Seiring dengan perkembangan
zaman, kemajuan teknologi dan tuntutan akan kesejahteraan hidup lebih baik, cara
manusia memenuhi kebutuhan hidupnya semakin berkembang. Mereka tidak hanya
Dewasa ini investasi sudah merupakan gaya hidup yang mencirikan manusia modern.
Ada beberapa pendapat mengenai investasi, diantaranya adalah:
Menurut Eduardus Tandelilin menyatakan perihal investasi sebagai berikut:
“Komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainya yang dilakukan
pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa datang”
(2010:2)
Sedangkan definisi investasi menurut Jogianto Hartono adalah:
“Penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi
yang efisien selama periode waktu tertentu”
(2008:5)
Dari definisi infestasi diatas dapat disimpulkan investasi adalah komitmen
atau penundaan penggunaan sumber daya yang dilakukan pada saat ini dengan tujuan
memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. Investasi bias dikaitkan dengan
berbagai aktifitas seperti menginvestasikan sejumlah dana asset real maupun asset
financial.
Dalam dunia yang sebenarnya hamper semua investasi mengandung unsure
ketidak pastian, pemodal tidak dapat mengetahui dengan pasti hasil yang akan di
peroleh dari investasi yang dilakukan. Dalam keadaan semacam itu dapat dikatakan
bahawa pemodal menghadapi resiko investasi atas setiap keputusan yang dibuatnya.
Yang bias dilakukan hanya memperkirakan tingkat keuntungan yang diharapkan dari
investasinya dan seberapa jauh kemungkinan terjadinya penyimpangan dari hasil
Dua unsur yang melekat pada setiap modal yang diinvestasikan adalah return
(pengembalian) dan risk (resiko). Return (pengembalian) merupakan estimasi dari
pengembalian asset yang ditanam dalam periode tertentu berbentuk deviden dan
capital gain. Risk (resiko) investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan return
aktual yang berbeda dan return yang diharapkan akan diterima oleh investor atas
investasi yang dilakukan.
Menurut Eduardus Tandelilin menyatakan bahwa:
“Antara risk dan return terdapat hubungan yang bersifat searah dan
linier. Semakin besar return yang diharapkan (expected return) semakin besar
pula peluang risk (resiko) yang akan terjadi, deikian pula sebaliknya”.
(2010:11)
Adapun sumber resiko yang dapat mempengaruhi besarnya resiko suatu
investasi antara lain berupa:
1) Interest rate risk
Yaitu risiko yang berasal dari perubahan tingkat suku bunga.
2) Market risk
Yaitu risiko yang diakibatkan adanya variabilitas pengambilan yang
disebabkan oleh perubahan pasar secara keseluruhan.
3) Inflation risk
4) Business risk
Yaitu risiko yang diakibatkan adanya perubahan peraturan dalam pasar
keuangan yang akan menyebabkan berubahnya siklus bisnis pada suatu
perusahaan, misalnya karakteristik perusahaan dan operasinya.
5) Financial risk
Yaitu resiko yang timbul dari penggunaan dana luar (hutang) untuk
menjalankan operasi perusahaan.
6) Liquidity risk
Yaitu resiko yang berasal dari kondisi likuiditas perusahaan.
7) Country risk
Yaitu resiko dikarenakan adanya perubahan kebijakan pemerintah, kondisi
politik serta kondisi ekonomi secara luas pada suatu negara.
8) Exchange rate risk
Yaitu risiko karena adanya perubahan nilai tukar mata uang.
Investasi pada dasarnya terdiri dari dua jenis, yaitu investasi pada riil asset
dan investasi pada financial asset. Investasi pada riil asset berarti menanamkan
investasi pada barang seperti mesin, gedung, dan tanah. Sedangkan investasi pada
financial asset berarti investasi pada sekuritas, baik sekuritas di pasar uang maupun
pasar modal.
Setiap investor memiliki motif dan tujuan tertentu ingin dicapainya melalui
keputusan investasi yang diambil. Secara umum motif berinvestasi investor adalah
khususnya di pasar modal diantaranya adalah motif keamanan, pendapatan, spekulasi
dan pertumbuhan.
2.1.3 Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sumber penting untuk memperoleh informasi
menenai posisi keuangan dan hasil-hasil yang dicapai perusahaan yang bersangkutan.
Pada hakikatnya laporan keuangan adalah dari proses akuntansi yang dapat
diguanakan untuk mengkomunikasikan data keuangan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan baik
keputusan ekonomi maupun informasi substansial. Yang disampaikan laporan
keuangan adalah mengenai kekuatan financial dan kinerja saat ini suatu perusahaan.
Definisi laporan keungan menurut Zaki Baridwan adalah:
“Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan,
ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku
yang bersangkutan”
(2006: 17)
Sedangkan definisi laporan keuangan menurut Kieso, Weygandt dan Warfield
adalah:
“Financial statements are the principal means throught which a company
communicates its financial information to those outside it”
Jadi dapat disimpulkan laporan keuangan adalah sarana utama atau ringkasan
proses pencatatan, transaksi-transaksi keuangan perusahaan mengkomunikasikan
informasi keuangan terhadap masyarakat yang terjadi selama tahun buku yang
bersangkutan.
Laporan keuangan yang lengkap menurut PSAK No.01 paragraf 07 terdiri dari
lima laporan utama yang menggambarkan sumber kekayaan (assets), kewajiban
(liabilities), profitabilitas dan transaksi-transaksi yang menyebabkan arus kas.
Laporan keuangan tersebut meliputi:
1. Neraca adalah laporan keuangan yang menunjukan keadaan keuangan
suatu unit usaha pada tanggal tertentu. Keadaan keuangan ini di tunjukan
dengan jumlah harta yang dimiliki dan jumlah kewajiban perusahaan.
Dalam neraca jumlah aktiva atau harta akan sama besar dengan pasiva,
dimana pasiva terdiri dari dua yaitu hutang dan modal. Bila disusun dalam
bentuk persamaan makan akan seperti rumus di bawah ini:
Sumber: Zaki Baridwan (2006: 19)
Dalam pengertian aktiva, selain barang-barang dan hak-hak yang dimiliki
di dalamnya termasuk juga biaya-biaya yang belum dibebankan dalam
periode yang bersangkutan, tetapi akan dibebankan pada periode-periode