Skripsi di: 1jukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Psikologi
O/e/1. NONI fl/JARLINI
100070020158
I ..
セセᄋᄋᄋMᄋセMMMMセ@/
キセセウセセセQMセᄋMᄋMM
____
ᄋZZセZZセセNO@
FAKUL TAS PSIKOLOGll
- UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat Memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)
Prof. Ha Yasun M.Si NIP. 130 51146
Oleh:
NONI MARLIN! NIM. 100070020158
Di Bawah Bimbingan
P1711
. 0
s\セュN@
M.SiOセ@
FAKULTAS PSIKOLOGll
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
Skripsi yan9 berjudul GAMBARAN HUBUNGAN INTERPERSONAL ANTAR ISTRI OALAM PERKAWINAN POLIGAMI telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negri Syarif HidayatulJ;;,h ,lakarta pada tanggal 18 september 2007. sripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Jakarta, 18 septernber 2007
Ketua M ryangkap Anggota,
PengLji I
Ora.Net NIP.150
1
Pemb :mbing I
i
Sidang Munaqasyah
Anggota:
Sekretaris meia gkap Anggota, /,,,.-:
Iセセ@
セ@
Ora. Zahro(un N" avah M.Si NIP. 150 238. 7
3
terletak pada keberanian menuangkan ide dan bertindak
sesuai perhitungan. Bukan pada perbedaan kemampuan atau
ide yang lebih baik
Often the difference between a successful person and the
failure
Is not that one has better abilities or ideas
But the courage one has to bet on one's ideas
To take a calculated risk-and to act
Seringkali perbedaan antara orang yang sukses dan y1Jng gagal Bukanlah bahwa ia memiliki kemampuan atau ide yang lebih baik
Tetapi bahwa seseorang itu memiliki keberanian untuk menuangkan ide Mengambil resiko yang telah diperhitungkan -dan berbuat
-B) September 2007 C) Noni Marlini
D) Gambaran Hubungan Interpersonal antar istri dalam perkawinan poligami
E) Xv+ 97
F) Bentuk pernikahan yang sering diperbincangkan dalam masyarakat salah satunya adalah poligami karena mengandung pandangan yang l<ontroversial. Poligami adalah ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu orang istri clalam waktu yang sama (Mulia, 2004)
Setiap perkawinan baik monogami maupun poligami tidak selalu
berjalan mulus tanpa menghadapi masalah perkawinan apapun. Suatu saat setiap perkawinan kemungkinan akan dihadapkan pada suatu masalah. Bentuk perkawinan poligami adalah suatu bentuk keluarga yang lebih besar, segala hak dan kewajiban dalam perkawinan harus dijalankan untuk dua keluarga atau lebih. Dengan ini diperkirakan bahwa masalah yang akan timbul dalam perkawinan akan lebih banyak . semua berebut untuk memperoleh kebutuhan hidup berkeluarga berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan nafkah lainnya. Problem psikologis lain yang mungkin rhuncul dalam keluarga poligami adalah bentuk konflik internal dalam keluarga, baik antara sesama istri, antara ibu tin dan anak tiri atau diantara anak-anak yang berlainan ibu.
Adanya fenomena perkawinan poligami yang ada di beberapa daerah di Indonesia seperti istri-istri yang dapat hidup rukun satu sama lain dalam rumah yang berbeda bahkan ada yang dalam satu rumah dan saling berbagi tugas, ada yang saling tidak mengenal, namun ada yang sering ribut satu sama lain. Banyak suami p•3laku poligami mengklaim bahwa keluarganya dalam keadaan baik-baik saja bahkan mereka mengatakan bahwa istri-istrinya dapat hidup rukun
berdampingan dan sating berbagi. Atas dasar inilah peneliti ingin membuktikan apakah benar bahwa terjadi hubunnan interpersonal yang baik antara istri-istri yang dipoligami.
pendekatan kualitatif. Karena yang digambarkan clengan data
cleskiptif. lnstrumen yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Sedangkan responden yang diambil adalah istri pertama, keclua, ketiga dan keempat dari perkawinan poligami. Peneliti melihat begitu banyak masalah yang terjadi antar istri dalam perkawinan poligami. Jumlah responden dalam penelitian ini aclalah 4 O!"ang yang tercliri dari 2 orang istri pertama, clan clua orang istri keclua.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa dimensi hubungan yang terjacli pacla keempat subjek diwamai oleh konflik dan ketegangan. Subjek mengakui aclanya konflik yang timbul dalam diri dan rumah tangganya. Seiring waktu mereka mulai dapat menyesuaikanJiri clan berhubungan baik clengan istri lain dari suaminya walaupun tetap saja sesekali timbul konflik.
Penulis menyarankan bagi istri yang dipoligami henclaknya menyesuaikan cliri dan menerima pemikahannya, clan clapat berhubu'gan baik clengan istri lain clari suaminya S•::>hingga tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rohrnah. Bagi suami yang melakukan poligami henclaknya memikirkan clan membicarakan
terlebih clahulu kepada istri terdahulu, clan memp.ertimbangkan baik clan buruknya ketika memilih keluarga yang lebih besar berbentuk poligami
karuniamu kepada hambamu yang lemah ini sehingga penulisan skripsi ini dapal lerselesaikan, walaupun masih banyak kekurangan dan banyak kendala dalam penyelesaiannya. Skripsi ini di lulis unluk memenuhi salah salu syaral unluk mendapalkan gelar Sarjana Psikologi.
Skripsi ini lidak akan dapal lerselesaikan bila lidai< mendapalkan bantuan dari banyak pihak, baik berupa maleri maupun non maleri, maka dari ilu penulis merasa berkewajiban unluk menghalurkan terima kasih kepad yang sedalam-dalamnya alas kebaikannya, semoga Allah SWT memberikan segala rahman dan rahiim-Nya bagi kila semua.
1. Pertama -lama, saya halurkan lerima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Abah dan Mamak saya yang dengan segala kelerbalasan selalu berusaha memberikan yang lerbaik bagi kami anak-anaknya. Saya menyadari sekuat dan sebanyak kebaikan yang saya berikan sepanjang umur saya lakkan dapal membalas kasih saying yanq lelah mereka limpahkan.
2. Kepada Dekan Fakullas Psikologi UIN Syarif Hidayatu/lah Jakarta, lbu Dra. Hj. Netty Hartali, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik, lbu Dra. Hj. Zahrolun Nihayah, M.Si. dan lbu Ora. Agustyawati, M. Phil. Sne, sebagai pembimbing akademik serta seluruh dosen pengajar dan slaf akademik Fakullas Psikologi alas bimbingan dan banluannya selama proses perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Prof. Hamdan Yasun, M.Si, sebagai pembimbing 1, alas bimbingan dan waktunya serta ilmunya hingga terwujudnya skripsi ini, dan Bapak Gazi Saloom, M.Si, sebagai pembimbing 2 yang lelat1 menyediakan waklunya pagi, siang dan malam hari agar penulis dapal berkonsullasi. 4. Kakak-kakakku lercinla, Aa Olah dan Teleh, Yu Lin dan K'Sup, Aa Budi
serta adikku lercinta Wahyu Ningsih, "makasih alas dukungan dan transferannya selama ini". Tidak lupa pada ponakan-ponakanku yang
selalu ngerepolin". Bual D'Naila yang pinter "ngga boleh nakal yaaa .. "
6. Terima kasihku luk a'Buya yang lelah memberiku semangal unluk lerus belajar dan selalu memberikan molivasi dan perhatian sejak pertama -berkenalan lerulama dalam penulisan skripsi ini. Pengalaman bersamamu beberapa tahun ini membualku belajar banyak hal dan membuatku
semakin yakin bahwa Allah akan memberikan kita yang lerbaik bila kita ikhlas, lawakkal, tetap dan terus berusaha keras untuk menggapai cita dan cinla yang kita inginkan
7. Bual warga wisma sakinah (Bu Olin, Husna, Ila, Neng, Ocen, Ratna, Jendra, ldhul, Evi so, Colim, Dede, Evi Linda, Nani dan Dilla) masakannya enak-enak lho! Terus masak bual sahur dan buka yaa . ., makasih atas kebersamaannya dan kekeluargaannya serta Umi makasih dah mo nganterin malem-malem. Buat eks penghuni Wisma sakinah Betty (makasih atas persahabatannya), Maya (yang tabah yaa ... ) dan Ana (makasih atas suport, lelpon serta smsnya).
Halaman pengesahan ... .
mッセ@ ... .
Persembahan . . . . ... . Abstraksi ... ... . ... . Kata Pengantar. .. ... . ... ... ... .. ... . ... . ... . ... . Daftar lsi .. . .. ... .. .. .. .... .. . ... . ... . .. .... . ... .
Daftar Ta be I... . ... . Daftar Skema... ... . ... .
iii iv
v
vi viiix
xii xiiiBAB I PENDAHULUAN .... ... ... . ... ... . ... 1-14
1.1. Latar belakang masalah ... . 1.2. I dentifikasi masalah .
1.3. Pembatasan dan perumusan masalah .. 1.3.1. Pembatasan masalah
1.3.2. Perumusan masalah ... 1.4. Tujuan dan manfaat penelitian
1.4.1. Tujuan Penelitian ... . ... . 1.4.2. Manfaat Penelitian ... . 1.5. Sistematika Penulisan... . ... .
BAB II KAJIAN TEORI. .... ... .
1 11 12 12 12 13 13 13 14 . ... 15-47
2.1. Deskripsi Teori... ... ... ... 15
2.1.1. Hubungan interpersonal. . . . .. . . . .. .. .. . . . .. . . .. . 15
2.1.2. Tahap-tahap dalam hubungan interpersonal... ... 16
2.1.3. Motif yang melatarbelakangi terjadinya hubungan interpersonal 22 2.1.4. Faktor-faktor yang memepengaruhi hubungan interpersonal... 24
2.1.5. Hubungan antar pribadi . .... ... ... 26
2.1.6. Perkawinan ... ... ... 28
2.1. 7. Poligami ... .... . .. . .. .. . . ... .. ... ... .. . .. . .. .. . .. . . . .. . .... . .. . .. .. . . .. . 29
2.1. 7 .1. Pengertian Poligami ... .. .. . . .. . . .. . . . .. . . 30
2.1.7.2. Alasan Berpoligami di masyarakat... 32
2.1.7.3. Nabi dan Poligami... 34
2.1. 7.4. Karakteristik keluarga poligami. ... .... .. .. . ... ... .. . .. . 36
2.1.8. Sifat perempuan terhadap perkawinan ... ... 39
2.1. 9. I mplikasi perkawinan poligami ... ... .. . .. . .. .. . .. . . .. .. . . . .. . .. . . . .. . ... . . . 41
3.1.1. Pendekatan penelitian... .. . . .. ... .. . .. .. . ... .. . .. .. . .. . . .. .. . . 48
3.1.2. Metode Penelitian ... ... ... ... .. ... .. .. ... 50
3.2. Pengambilan sampel .... ... .. ... ... .. .. ... .. ... 51
3.2.1. Subjek penelitian . ... ... ... .. ... . . ... .. ... .. ... . 51 .
3.2.2. Karakteristik subjek... ... ... ... . ... .. .... ... 52
3.2.3. Tekhnik pengambilan sampel.... ... 52
3.2.4. Jumlah subjek... ... ... 53
3.3. Tekhnik pengumpulan data... ... .... 54
3.3.1.Metode dan lnstrumen penelitian. ... 54
1. Wawancara... .. .. .. .... .. ... ... ... ... .. .. ... . . .. 54
2. Observasi . . . . . . . . . .. . .. . . .. .. . . .. 56
3.3.2. lnstrumen pengumpulan data. ... 56
3.3.3. Analisa Data... ... .. ... ... ... .. 57
3.4. Tahapan penelitian ... ... ... ... 58
3.4.1. Ta hap persiapan penelitian . . . .. .. . .. . . .. .. . . .. . . .. . . .. . 59
3.4.2. Ta hap pelaksanaan penelitian ... .. ... ... .. ... ... 60
3.4.3. Tahap pengolahan data... ... 60
3.4.4. Tahap analisa dan interpretasi data... ... 61
BAB IV HASIL PENELITIAN .... . . ... VRセQ@ 4.1. Gambaran um um subjek penelitian .... .. ... ... .. .. ... ... .... ... 62
4.2. Gamba ran dan analisa kasus ... ... ... ... ... ... .. ... .. . 63
4.2.1. Kasus SM ... .'... ... 63
4.2.2. Kasus F ... ... ... .. .. .. ... .. ... . ... ... .. ... ... ... .... 70
4.2.3. Kasus SJ ... .. ... ... .... .. .. ... ... ... 78
4.2.4. Kasus NS... ... ... .. .. ... . ... 84
4.3. Analisis perbandingan antar kasus .. ... ... ... .. ... .. .... .. . 89
BAB V PENUTUP ... 92-97 5.1. Kesimpulan ... ... .. ... .. ... ... .. ... . ... .. ... ... ... ... .. . 92
5.2. Diskusi ... ... .. ... .. . ... .. ... .... .... .. . . ... ... ... .. ... 93
5.3. Saran... ... ... .... ... .. ... ... ... .. ... 95
2. Skema gambaran Hubungan Interpersonal pada kasus SM .. 3. Skema gambaran Hubungan Interpersonal pada kasus F ... 4. Skema gambaran Hubungan Interpersonal pada kasus QA .. 5. Skema gambaran Hubungan Interpersonal pada kasus R ...
70
1.1.
Latar Aelak;;.,ng
ls:am diyakini sebagai agarna yang menebar
rahmat lif-'alamin
(rahmat bagi alsm se'llesta), dan salah satu rahmat yang dibawanya adalah ajaran tentang perkawinan. /\l-Our'an memberikan tuntunan kepacla manusia bagaimana seharusnya menialani perl<awinan yang dapat menjadi jembatan yang rnengant&rkan ma11u3ia, laki-laki d8n perempuan, menuju kehidupansakina/1, Mawaddah
danRahmat
yang d:ridi1ai Allah. Untuk itu, Islammerumuskan sejumlah ketentuan yang r.arus dipedomani, meliputi tata cara seleks1 C'l'.on suami atau istri, peminangan, penentuan mahar, cara ijab-kabul, hubungan su2mi istri, serta pengaturan keluar;;ia
lsla'11 datang menghapus segala bentuk perkawinan yang bertentangan
Perkawinan dalam Islam merupakan suatu akad atau transaksi. Hal itu terlihat adanya unsu: !jab dan qabul. Sebagai suatu セォ。、@ atau transaksi, perkawrnan seme.>tinya mel,batkan dua pihak yang setara sehingga mencapai satu kata yang sepakat. Setiap perkawinan mengandung serarigl;aian perjanjian diantara dua pihak, yakn: suami dan istri. Allah mene9askan dalam 1\l-quran bahwa suami hanya mempunyai dua pilihan terhad&p istrinya yaitu memperlakukan istri dengan baik at"L!
rnencera'kannya. Sabagaimana dilul<iskan dalam Al-Quran ·
Artinya:
Maka perlakukanlah merekalistri) dengan Gara yang ma'ruf, atau
ceraikanlah me. ·eka dengan cara yang ma 'ruf (pula), (QS Al-Baqarah, 231)
Perkawinan merupakan suatu bentc•k hubungan manusia yang agung, yang harus dipenuhi segala syarat dan ru'<unnya. la menuntut adanya
Aturan yang menguatkan perkawinan di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang P-:erkawinan No.1 Tahun 1974 Bab 1 Pasal 1 yang berbunyi·
"perkawinan »dalah ikatan /ahir batin antara laki-laki dar.1 perempuan sebagai suam'-istri dengan tujuan rr.ei71bentuk keluarga (romah tangga) yang bahagia oan kel<a/ berdasarl<an l<etuhanan yang maha Esa".
Dari definisi <..Ii atas dapat disimpulkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mendapatkan keturunan yang diakui baik secara scsial maupun oleh ajaran agama rJalam naungan cinta kasih dan suasana kebahagiaan yang b&rsifat kekal Penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 2000 subjek berusia 18 hirgga 9U tahun menunjukkan bahwa seseorangr yang menikah cenderunn untul\ mer,jndi lebih bahagia daripada seseorang yang tidak menikah (Papalia, 2001 ).
Mahligai perkav1inan merupakan bagian dari peristiwa penting dalam kehidupan seseorang karena di saat itulnh pasangan pria dan wanita meletakkan ikrar untuk menjalani sebuah "kehidupan banJ" dan dari
perkawin3n itu le'lirlail anak-anak yang kemudian membentuk satu keluarga.
terbentuk umumnva sangat dipengaruhi olt:h lingkungan kBluarga dimana ia di!Jesarkan (Harlock, 1981).
rv1e,alui atmosfir yang baik -secara fisik maupun psikologis- di dalam ke'uarga, seorang c:r1ak besar kemungkinan akan tumbuh menjadi individu dewasa yang memiliki kualitas kepribadian yang baik. Sebaliknya keluarga yang tid<,k harmonis, be:sar kemungkinan tidcik dapat menc:iptakan suasana yang baik bagi perkembangan seorang anak (Pincus, '1£172.).
Se1<ilas uraian di alas dapat menjelaskan betapa pef1.;aw1nan merupakan lembaga yang sedemikian penting. Nam>Jn menurut Strong ("1983), dewasa ini PBrkawinan mulai menurun kualitasnya. Salah satu ir.dikasi dari hal tersebut dapat dite1usuri melalui angka perceraian atau masalah perkawinan yang tak dapat ci atasi dan pada akhimya
rnenyebabkan perceraian, karena perselisihan suami istri yang terus menerus (Pengadilan Tinggi Agama, Departemen Agama, 1999). Munculnya
Meskipun hampi: setiap suam1 istri berharap perkawinan menjadi "surga" •:icilam kehid:Jpannya, namun kondisi ini tidak selalu !"nc;c!ah untuk aiwujudl,an. Dalam kehidupan perkciwinan hampir selalu timb·u1 masalah karena perkawir>an itu melibatkan hubungan antar manusia dan sebagian besar situasi yarig melibatkan hubungan antar manusia, selalu akan timbul masalah. Eksistensi perkawinan dalam lslaM memang sakral dan agung, akan tetapi ada baberapa jenis perkawinan dalam Islam yang masih
kon\roversial. Diar>tara perkawinan itu adalah niKah mut'ah, nikah sirri, dan poligami, aisebul kontrversial karena umat Islam ada yang setuju dan mempraklBkannya sementcira sebagian lain menolaknya.
Bentuk perr.ikahan yang sering diperbincangkan dalam masyarakat salah satunya adal&h poligami karena m&ngandung pandangan yang
kontroversial. MereKa yarg menyetujui p0ligami pada umumnya memberikan alasan dari sisi ag2ma yan9 memb01ehkan sednngkan yang tidak menyetujui menganggap bahwc. poligami c.d2ial1 ben\u'' diskrin•ii1asi terhadap
oerernpuan. Po:i9ami adalah ikatan pukawinan dalam hal mana suami mengawini lebil1 dari s3lu orang istri dalarn waktu yang sama (Siti Musdah,
2004)
diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah rnengenal dan mempraktekf:an poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyGrakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di jazirah Arab sendiri jauh sabelJm Islam, rnasyarakatrya telah mempraktekkan poligarni, bahkan poligami yang tak tertatas. Sejuml<.h riwayat menceritakan bahwa rata-rata remimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suk•J mempunyai istri sampai ratusan Perempuan pada saat itu,
diperlakukan seperti barang yang clapat ditukar bahkan diperjualbelik;:;n 101li Musdah, 2004)
Dalil .1aqli satu-satunya yang selalu dijadikan pembenaran bagi kebolehan berpoligami di set,agian kalangan umat Islam diambil dari surat
An-Nisa ayat 3:
Dan jika kamu takut !id<..k akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yat:m (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau em pat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-!Judak yang kamu miliki. Yang der.1ikian itu acfa/ah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. 4:3)
hamba sahaya saja agar terhindar dari berbuat dzalim.Ayat ini meletakkan poliga1n1 pada konteks perlin-:lungan terhadap anak yatim piatu dan janda korban perang.
Poligami mempunyai beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh seorang suami yang akan melekukan poligami, dan syarat ulamanya adalah berlaku adil pada para istrinya. Sebagaimana d1tegaskan al-Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (al-Nisa: 129)
,.. .J,.. ,. ,.. " セ@ ,.. .J"
ォッ^Mセ@
ャセケゥNゥ[@
015'
.illl
c>\'
ifaj
1;._u
0lJ
, , ,
Artinya:
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantam isteri-isteri(mu), wa/aupun l:amu sar.gat ingin berbuat demikian, karena itujanganlah kamu terlalu cenc!erung (kepa.'Ja yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:129)
Majalah Fem1na No. 27/XXX tahun 2802, melakukan suvei terhadap 200 -esponden dengan perincian 84% perempuan, 16% laki-laki berusia 19-54 tahun dengan frekuensi tertinggi (63%) pada usia 25-35 tahun.
Berdasarkan jawaban angket, kebanyakan responden mene>ntang poligami. Pendapat m>.:ireka antara lain tidak mungkin seorang laki-laki berpoligami dapat berlaku adil, merusak komitmen sel'.inrJQa istri pertama terdzolimi, poligami merupa:,an lambang egoisme laki-laki, perempuan berhak sebagai istri tunggal, bodoh jika bersedia menjadi istr: ka dua, poligami tidak baik untuk perkembangan jiw.3 anak. Sedar.gl<an kalangan yang propoligami dalam survey tersebut berpendapal 。ョエ。セ。@ lain poligami dapat dilakukan dengan syarat mut'sk yang harus dipenul'li, mempunyai win-win solution bagi suami, poligar1i yang dilakukan tidak cii bawah tangan, ada izin dari istri pe1ama dan daripada selingkuh lebih baik menikah.selain it.J kalangan yang mendukung poligami merL:pakan bentuk perkawinan yang diperbolehkan oleh lebih dari tiga pe-empcit kebudayaan dunia (termasuk budaya Indonesia).
timbul dalam perKawinan akan lebili banyak . semua beret•ut untuk
memper:ileh keoutul1an hidup berkeluarga berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan nafkah lainnya. Problem psikologis lain yang mungkin muncul dalam kEduarga poligami adalah benluk konflik internal dalam keluarga, baik antara sesama istri, antara ibu tiri dan anak tiri atau diantara anak-anak yang berlainan ibu. Keluarga dapat berusaha menyAlamatkan masa depan anak-anak dengan car
a
membiarkan mereka tumbuh dalam rasa aman, percaya diri dan ,erhind<1r d3n konflik-konflik keluarga yang rnenimbulkan trauma.kondisi-kondisi tertentu, saya bisa menjembatani hcirapan-ha1apan para istri dengan harapan-harapan suami"
Banynk sL.ami pelaku poligami mengklaim bahwa keluarganya dalam keadaan baik-baik saja bahkan mereka mengatakan bahwa istri-istrinya dapat h1dup rukun berdampingan dan saling berbagi. Atas Jasar inilah peneliti ingin membuktikan apakah benar bahwa エ・セ。、ゥ@ hubungan interpersonal yang baik antara istri-istri yang dipoligami.
Mal<a dengan lacar belakang pemil<iran tersebut, penulis ingin mencari jawabanya dengan melakukan reneliti2n ilmiah, yang dalam hal in' di
tw:ngkan dalari judul skripsi. "Gambaran Hubungan Interpersonal para lstri dalam Perkawinan Poligami".
1.2.
klentifikasi masalah
Untui< lebih ュ・ュオ、セQィォ。ョ@ penulis dnlam meneliti m8salah ini maka dibuat 1dentifikasi masalah penelitian seb2gai berikut:
2. Bagaimanakah gambaran karakteristik perilaku istri yang suaminya berpoligami?
3. Bagc;1mana.<ah hubungan interpersonal c'ntar istri dalam perkawinan poligami?
1.3. Pembatasaan Masalah dan r>erumusan masalah
1.3.1. Pembatasan masalah
Agar masalah yang diteliti lebih terarnh maka penulis membatasi masalah set>agai ber1kut:
1. Poliga'lli a!Jalah seorang suami yang mempunyai istri lebih dari Satu p:::.da saat yang bersamaan
2. Hubungan Interpersonal adalah hubungan yang terjadi di dalam dua individu, melibatkan seluruh <'ikap dan perilaku masing-masing (Sarwono, 1999: 193), meliouti: Perkenalan, keakraban, Kontrol, respon, nada emosion2:I, kesamaan dan ー・ョァィ。イセQ。。ョ@
1.3.2.
Perumusc.n masalahAgar penel:t;an ini lebih terarah dan tidak meluas, maka permasalahan yang akan dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Hubungan
interpersonal para istri da!am perkawinan poligami?
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah rnengetahui bagaimana hubungan interpersonal yan9 terjadi ant:ir istri-istri dalam perk3winan poligami.
1.4.2.
Manfaat penelitian1. Secara t&oritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat rnemperkaya khasanar ilmu pengetahuan kl1ususnya di biclang psikologi sosial dan dapat dipakai sebag:c,i pedoman di dalam penelitian lebih lanjut ten.·tama untuk rnengkaji variabel-variabel lain yang berkaiian dengan poligami dar. hubungan interpersonal.
Bab IV
Bab V
: HASIL PENELITIAN, memuat gambarnn umum subjek penelitien, gambarar dan einalisa kssus, serta analisis antar kasus.
[image:26.595.53.516.37.699.2]KAJIAN PUST
akjセ@
2.1 Deskripsi Teoritik
2.1.1.
Hubungan interpersonalKelley, et.all., (1983) mendifinisikan hubungan sebagai sesuatu yang terjadi bila dua orang saling mempengaruhi satu sama lain dan yang satu bergantung pada orang lain (dalam Sears.et.all, 1999). Hubungan yang terjadi antara dua orang atau lebih memiliki arti yang mendalam, dengan adanya orang lain kita dapat merasakan bahwa betapa orang lain sangat menyayangi, memperhatikan dan menghargai kita, dengan orang lain pula kita dapat mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk sehingga kebutuhan afiliasi sangat terpenuhi. Kelley (1983) juga menambahlcan bahwa faktor-faktor yang berperan dalam suatu hubungan, yaitu keyakinan, perasaan, dan perilaku.
orang lain itu; kemudian dimanifestasikan dalam perilaku yang baik pula, tetapi dapat saja sebaliknya bila dalam dirinya yakin bahwa orang yang ada dihadapannya kurang baik maka akan tumbuh perasaan yang negatif dan yang akan terwujud adalah perilaku yang tidak akademis.
2.1.2. Tahap-tahap dalam hubungan interpersonal
Rakhmat (2007) menyatakan bahwa ada tiga tahap dalam hubungan interpersonal, yaitu;
1. Tahap pembentukan hubungan interpersonal
Tahap ini disebut sebagai tahap perkenalan (aqquaintance Process).
Padas tahap ini akan diuraikkan prosesnya secara rinci dan focus kita ialah pada proses penyampaian dan penerimaan informasi dalam pembentukan hubungan. Dalam karyanya Steve Duck (dalam Rakhmat, 2007) menulis;
" ... acquaintance is a communication process whem by an individual ·=nsm11s rconsc1ous1VJ or convevs (sometimes unintentionally) information about his personality structure and conten to potential friends, using subtly different means at different stages of the friendship's development.'
( ... Perkenalan adalah proses komunikasi di mana individu mengirimkan (secara sadar) atau menyampaikan (kadang-kadang tidak sengaja) informasi tentang struktur dan isi kepribadiannya kEipada bakal
Beberapa peneliti menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, "fase kontak yang permulaan", ditandai dengan usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha meng(Jali secepatnya
identitas, sikap, dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Bila mereka merasa berbeda maka mereka akan berusaha menyembunyikan dirinya dan hubungan interpersonal mungkin diakhiri. Menurut William Brooks dan Philip Emmert (dalam Rakhmat, 2007) kesan pertama sangat menentukan, karena itu hal-hal yang pertama kelitiatan menjadi sangat penting. Para psikolog sosial menemukan bahwa penampilan fisik, apa yang diungkapkan pertama, apa yang dilakukan pertama menjadi penentu yang penting terhadap pembentukan citra pertama tentang orang itu.
2. Tahap peneguhan hubungan interpersonal
a. Keakraban, merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat akan keakraban yang diperlukan.
b. Kontrol, merupakan kesepakatan tentang siapa yang mengontrol siapa. Kontrol disini untuk menghindari te1·jadinya konflik,karena pada umumnya masing-masing individu ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
c. Respon yang tepat, atau ketepatan respon, artinya respon A harus diikuti oleh respon B yang sesuai. Misalnya, dalam percakapan; pertanyaan harus disambut clengan jawaban, lelucon dengan tertawa.
d. Nada emosi yang tepat, atau keserasian suasana emosional ketika berlangsungnya komunikasi.
3. Pemutusan Hubungan Interpersonal
R.D. Nye (1973) dalam bukunya Conflict among Humans (dalam Rakhmat 2007) menyebutkan lima sumber konflii{;
a. Kompetisi, salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan me11gorba11ka11 orang lain; misalnya menunjukkan
kelebihan tertentu dengan merendahkan orang lain.
c. Kegaga/an, masing-masing berusaha menyalahkan orang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai.
d. Provokasi, salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang dia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai, Kedua pihak kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Model interdependensi antara dua orang yang dikembangkan oleh Levinger dan Snoek (1972) seperti dikutip oleh David O.Sears dalam bukunya yang berjudul psikologi sosia/ (1999), sebagai berikut:
1. Titik yang disebut zero contact, tahap ini menerangkan bahwa dua orang yang berada dalam kondisi saling bergantung dan terus
mengalami peningkatan, akan tetapi sebenarnya kedua orang itu tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Mereka sarnpai pada tahap menyadari bila salah satu mulai merasakan atau mempelajari sesuatu tentang yang lain, tetapi belum terjadi kontak lan9sung, tahap
2. Tahap yang disebut kontak permukaan (dasar), disini kedua orang tersebut mulai berinteraksi, mungkin melalui percakapan atau surat menyurat. Kontak dasar ini merupakan awal dari interdependensi dan bahkan dari suatu hubungan.
- Zero contact
0
(dua orang yang belum mempunyai hubungan)- -
.
-p
0
()-()
- Menyadari
Sikap atau kesan satu pihak
p
0
a)
- Kontak permukaanSikap atau kesan dua pihak
- Mutualitas (Suatu konnnum)
Perpotongan minor
Perpotongan moderat
[image:33.595.56.449.61.501.2]Perpotongan mayor
Gambar 1. Suatu model interdepedensi berpasangan. (dikutip dari Levinger dan Snoek, 1972 dalam Sears,1999)
p
0
CT)
p0
())
,o
0
CD)
p ()
Sementara itu, Pearson (1983) mengemukakan te:·jadinya suatu hubungan interpersonal melalui 4 tahap (dalam Enita, 1991), yaitu:
penelitian datang dari jenis motivasi tersendiri yang disebut motivasi berkawan (friendship motivation) (McAdams & Losoff, seperti dikutip sarwono, 1999) yang timbulnya disebabkan oleh ·1) kebutuhan untuk mengurangi kecemasan atau ketidakpastian, 2) mendapat
rangsangan yang positif, 3)mendapat dukungan emosional, dan 4) mendapat perhatian untuk dapat bertahan hidup.
2. Di dalam berhubungan dengan orang lain, seseorang tidak hanya terpengaruh dalam proses pemenuhan-pemenut1an hidupnya, namun hubungan manusia tersebut dapat juga menimbulkan efek dalam segi afeksi. Apabila dalam berhubungan clengan orang lain, terdapat proses saling membantu atau mutualist1k dalam proses pemenuhan kebutuhan, maka diri indiviclu yang bersangkutan akan tumbuh perasaan senang. Pengalaman positif yang menumbuhkan perasaan menyenangkan ini makin memacu seseorang untuk lebih meningkatkan kemauan berhubungan dengan orang lain.
Sebaliknya pengalaman negatif yang terus terulang akan
menyebabkan orang merasa tidak senang dengan situasi sosial sehingga ia cenderung menarik cliri dari pergaulan sosial.
2.1.4. Faktor-faktor yang memepengaruhi hubungan interpersonal
Ada banyak faktor yang memepengaruhi jumlah, tipe, '.Jan kualitas hubungan antar manusia. Read on (1987 dalam Sarwono, 2001)
menyebutkan status sosial-ekonomi, usia dan jenis kelamin sebagai faktor yang mempengaruhi cara sebuah hubungan dijalin, serta cara dan frekuensi interaksi dalam hubungan tersebut sementara itu, Heider (dalam Sarwono, 2001) セM]ョ・Z。イZM[[ォSョ@ ヲ。GセエッイMヲ。ォエッイ@ yang membentuk sebuah hubungan
diantaranya adalah: faktor kesamaan (similarity), kedekatan (proximity),
saling melengkapi (complementa1y) dan faktor pengalarnan (latar belakang) masa lalu.
2.1.5. Hubungan antar pribadi
Hubungan yang terjadi diantara dua individu, melibatkan seluruh sikap dan perilaku masing-masing. Hubungan dengan orang yang belum dikenal atau sudah saling mengenal sama-sama membutuhkan pola interaksi antar pribadi yang sehat, karena sama-sama mempelajari pribadi lawan bicaranya. Hubungan dengan orang lain di mulai dari komunikasi yang efektif, Zajonk (1965) seperti yang aikutip Sears (1999), rnengatakan dengan orang yang baru atau belum dikenal, faktor yang memudahkan komunikasi adalah pertemuan yang berulang-ulang, sejauh reaksi pada saat bertemu tidak terlalu negatif. Dengan pertemuan yang berulang-ulang itu terjadi proses
pengurangan kecemasan dan pembiasaan terhadap orang asing tersebut sehingga dapat saling berhubungan satu sama lain den9an baik. Oleh karena itu menurutnya, faktor kedekatan fisik merupakan salah satu faktor penting untuk peningkatan hubungan.
1. Teori Reinforcement- affect model, yaitu afek yan!j timbul terhadap orang tertentu merupakan genjaran terhadap hubungan menjadi lebih
baik, semen ara hubungan yang positif juga meruoakan ganjaran sehingga menimbulkan rasa senang (Clore & Byrne, 1974)
2. afek tidak hanya diasosiasikan dengan hal yang menimbulkan atau menyebabkan situasi atau stimulus, tetapi jug a dengan hal-hal lain di sekitarnya (Byrne & Clore, 1970)
Dari hubungan antar pribadi yang intensinya masih kurang sampai yang lebih atau dari belum kenal sampai akrab membutuhkan proses yang tidak mudah. Terjadinya hubungan yang erat antar priba•ji karena masing-masing dapat terpenuhi kebutuhan afiliasi dan afek yang lainnya dan didukung oleh adanya kesamaan dan kemiripan dalarn beberapa hal. Pribadi-pribadi yang saling bertemu dan mengenal satu sama lain yang
pula hak dan tanggungjawab di dalam pengasuhan anak di dalam
perkawinan dalam Islam menjalin hubungan interpersonal antar suami -istri terdapat tugas dan perar masing-masing yang telah diatur dalam Islam.
2.1.7. Poligami
Hingga kini, wacana poligami masih terus bergulir dan telah menjadi perdebatan yang makin hangat. Berbagai kontroversi yang mengemuka dalam diskusi tentang poligami saat ini telah menyebabkan terjadinya proses tarik ulur antara kepentingan perempuan dengan berb21gai kepentingan lain diluamya yang sarat dengan kepentingan idiologi patriarki.
Ibrahim (2002) menyatakan bahwa perbandingan sikap antara laki-laki dan perempuan terhadap lembaga perkawinan mempunyai perbedaan dimana sikap perempuan terhadap lembaga perkawinan lebih berarti
dibanding bagi laki-laki. Jika perempuan merasa bahwa lembaga pernikahan adalah segala-galanya dalam hidup, maka problem yang muncul dari
2.1.7.1. Pengertian Poligami
Kata poligami berasal dari Yunani secara epistimologi, dua kata yaitu "poli" atau "polus" yang berarti banyak dan kata "gamein" atau gamos" yang berarti kawin atau perkawinan. Jadi secara bahasa poligami berarti "suatu perkawinan yang banyak" atau "suatu perkawinan yang lebih dari seorang", baik pria maupun wanita. Poligami bisa dibagi alas poliandri dan poligini. Poliandri adalah perkawinan seorang perempuan dengan lebih dari seorang laki-laki. Adapun poligini adalah perkawinan seorang laki-laki dengan lebih dari seorang perempuan. (Dewan redaksi ensiklopedi Islam, 1997)
Salah satu bentuk poligami adalah pcligini. Poligini adalah praktek perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa perempuan pada waktu yang sama, sedangkan poligami dirumuskan sebagai praktek perkawinan yang salah satu pihak memiliki/mengawini beberapa lawan jenis dalam waktu yang bersamaan (Dept. Pendidikan dan kebudayaan, 1993). Berdasarkan definisi di alas penulis mengambil kesimpulan bahwa poligami mempunyai makna umum, bisa berarti poliandri atau poligini. Namun dalam term keindonesiaan berarti perkawinan seorang laki-laki dengan lebih dari satu perempuan.
Dalam Islam poligami mempunyai syarat-syarat sebagai berikut (Wahbc:h al-Zuhaili, 1996):
Islam hanya membolehkan seorang laki-laki rnelakukan poligami dengan empat orang istri seperti yang telah dijelaskan di depan. 2. Adil terhadap semua lstri
Allah SWT telah memerintahkan laki-laki yang ingin berpoligami agar berlaku adil. Arti kata 'adl dalam ayat ini tiermakna perlakuan adil terhadap para istri dalam segala hal yang berhubungan
dengan kehidupan keluarga Bahkan aliran Mu'tazilah berpendapat bahwa makna 'adl bukan saja pengadaan yang menyangkut
akomodasi, seperti pakaian, makanan, dan lain-lain, tetapi
terrnasuk juga dalam hal perasaan dan hati, seperti rasa cinta dan selain yang berhubungan dengan kebutuhan tiatin istri. Sedangkan menurut lbn-Arabi yang dimaksud dengan keadilan adalah yang bersifat fisik saja.
Orang yang mencermati ayat ini akan sampai i\epada pendapat bahwa al-Qur'an menjadikan perasaan ragu tidak bisa berlaku adil sebagai penghalang poligami, bahwa poligami hanya
diperbolehkan jika terdapat keyakinan mampu berlaku adil terhadap semua istri.
3. mampu memberi nafkah
Seorang tidak diperbolehkan menikah dengan seorang perempuan atau lebih jika ia tidak mampu memberi nafkah secara
menjadi ketetapan hukum. Jibiliyyah termasuk sunnah yang berhubungan dengan pengetahuan khusus maupun teknik seperti kedokteran, perdagangan, per tainian dan perang. ltu juga termasuk yang menjadi ciri khas Nabi, seperti jumlah istri Nabi dan puasa wisal Selanjutnya wajar dipertanyakan kepada mereka yang menyebut dalih itu, "apakah mereka benar-benar ingin meneladani Rasuluah dalam penikahannya? Kalau benar demikian maka perlu mereka sadari bahwa Rasulullah SAW baru berpoligami dua tahun setelah meningga/nya istri be/iau Khadijah RA. Rasu/ullah menikah pada usia 25 tahun, 15 tahun sete/ah pernikahan be!iau dengan sayyidah Khadijah RA, be/iau diangkat menjadi nabi. /stri beliau wafat pada tahun ke X kenabian. lni berarti be/iau bermonogami selama 25 tahun. Lalu sete/ah tiga atau empat tahun sesu1jah wafatnya
Khadijah ra baru beliau menggauli Aisyah RA pada tahun kedua atau ketiga hijriah, sedangkan be/iau wafat pada tahun ke-XI (Shihab, 2005).
2. Kesenjangan jumlah laki-laki dan perempuan.
pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasaan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.
Pada banyak kesempatan, nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "barang siapa yang mengawini perempuan, ウ・、。ョセゥォ。ョ@ ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jami' al-Ushul,tt), bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.
Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fatimah, hampir semua orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati orangtuanya.
2.1.7.4. Karakteristik keluarga poligami
Pada keluarga poligami perhatian seorang ayah tentunya akan terbagi kepada keluarganya yang lain. Setiap keluarga pada dasarnya memiliki fungsi keluarga yang dipenuhi melalui peran-peran 。ョqAセッエ。@
keluarganya.menurut Soewondo (2001 ), fungsi-fungsi dari keluarga adalah sebagai berikut:
1. Membarikan afeksi, meneruskan afeksi antara suami, istri dan generasi berikut.
Kebutuhan manusia akan afeksi merupakan suatu hal yang amat penting. Menurut Harlock, afeksi merupakan bagian dari kehangatan emosional yang ada dalam keluarga. Ketiadaan afeksi dalam
hubungan sebuah keluarga akan merenggangkan keeratan dan
merangsang エ・セ。、ゥョケ。@ perselisihan diantara anggota keluarga. Dalam sebagian masyarakat, kebutuhan afeksi ini terutama diberikan oleh keluarga selain oleh kelompok lainnya dalam kehidupan individu. 2. Menyediakan rasa aman dan rasa diterima agar hidup berarti dan
komunitas lainnya. Keluarga merupakan sahabat yang selalu
memberikan rasa simpati yang berkesinambungan kepada anggota-anggotanya.
5. Menyediakan status sosial dan Kesempatan Sosialisasi
Status individu dalam masyarakat akan sangat d1tentukan oleh status orang tuanya. Dengan demikian dimana hirarki dan posisi orang tua, maka disitu pulalah hirarki dan posisi individu dalam masyarakat. Selain itu, dalam keluarga pulalah individu belajar tentang pola perilaku, nilai-nilai, tujuan dan sikap-sikap yang dianggap berharga atau penting. Hal tersebut dipelajarinya melalui pengasuhan orang tua terhadap dirinya maupun melalui gaya hidup keluarga.
6. Menanamkan kontrol dan Rasa Kebenaran
Keluarga adalah ala! atau agen dari sebuah masyarakat yang lebih besar, kegagalannya berfungsi secara penuh menyebabkan tujuan dari masyarakat tidak dapat dicapai secara efektif. Berbagai pujian dan hukuman yang dialami oleh anak-anak pada masa awal akan
anggota keluarga. Pada akhimya perselisihan ini akan mengakibatkan buruknya iklim keluarga.
2.1.8. Sifat Perempuan Terhadap Perkawinan
Perempuan yang memiliki sifat-sifat kewanitaan sejati itu pada umumnya bersifat
monogam
(Mono= satu; gamos = perkawinan; kawin dengan seorang saja). Hal ini memang sangat esensial untuk menjaga kemumian keturunan. Maka monogami adalah usaha manusia untuk mengadakan satu sistem regulasi, demi menjamin kesehatan mental, ketentraman sosial, orde sosial dan organisasi ekonomi ini dikembangkan menjadi satu perundang-undangan atau hukum, demi menjamin kelestarian jenis manusia, secara mumi (Kartono,2006).Jika seorang pria dan seorang perempuan bisa mendapatkan kepuasan dalam relasi seksualnya, biasanya pengalaman tersebut tidak hanya berupa pengalaman fisik dan psikis saja, akan tetapi juga bisa berupa relasi pribadi yang sangat intim. Maka muncullah keinginan yang sangat kuat untuk
memonopoli intimitas eksklusif itu dengan partner yang sangat dicintai. lnilah sikap yang disebut "egoistis", atau disebut pula dengan monogami instinktif atau inhibisi seksual dalam Cinta (Kartono,2006).
lembaga pernikahan, sementara laki-lal<i lebih banyak memberikan perhatian kepada ー・ォ・セ。。ョョケ。@ di luar rumah. Kenyataanya, rumah tidak banyak menyita waktu kaum laki-laki, sementara kehidupan rurnah tangga bagi perempuan adalah segala-galanya. Jika perempuan merasa lembaga
pernikahan adalah segala-galanya dalam hidup, maka problem yang muncul dari kehidupan rumah tangga dalam pandangannya didasarkan atas berbagai makna yang lebih mendalam dibanding laki-laki (Ibrahim, 2002).
Spring (1997) mengemukakan bahwa ada beberapa darnpak yang terjadi pada istri yang dipoligami (dalam Soesrnalijah, 2001 ), diantaranya; 1. Dia kehilangan hubungan baik dengan suaminya dan akan bertanya
siapakah dirnya sekarang?. Sebelumnya dia adalah istri yang dicintai, menarik dan berbagai hal yang positif. Gambaran ini berubah ketika suaminya menikah lagi.gambaran diri berubah menjadi negative, korban kehilangan identitas diri.
2. Dia bukan lagi seorang yang berarti bagi suaminya. la akan sadar bahwa ia bukan satu-satunya orang yang berada disisi suami yang dapat
membahagiakan pasangan. Harga dirinya terluka, ia merasa kehilangan penghargaan terhadap dirinya.
4. Kehilangan hubungan dengan orang lain. la sekarang lebih menyendiri karena merasa malu dan rendah diri.
2.1.9. lmplikasi perkawinan poligami
Setiap perkawinan, baik monogami maupun poligami tidak selalu
berjalan mulus tanpa menghadapi suatu masalah perkawinan apapun. Suatu saat setiap perkawinan pasti akan menghadapi suatu masalah. Bentuk perkawinan poligami adalah bentuk keluarga yang lebih besar. Hal ini menyebabkan bahwa kemungkinan masalah yang akan timbul dalam perkawinan akan lebih banyak.
Masalah yang sering muncul dalam perkawinan poligami adalah istri-istri bertengkar kemudian diikuti oleh pertengkaran anak··anak mereka. Semuanya berebut untuk memperoleh kebutuhan ォ・ャオ。イゥセ。@ berupa makanan,
pakaian yang jenisnya tertentu, tempat tinggal dan nafkah lainnya. Mereka juga berebut tentang kedudukan tiap-tiap anggota dari ke!luarga besar itu,
secara khusus kedudukan tiap-tiap istri terhadap suami clan kedudukan anak terhadap ayahnya.
Tetapi pemiasalahan di alas ditemukan juga pada lceluarga monogami. Karena kadang-kadang istri bertengkar dengan suaminya tentang
terjadi karena masalah makanan, pakaian, tempat tinggal atau nafkah lainnya.jadi masalah-masalah seperti itu timbul dari setiap perkawinan baik monogami maupun poligami.
Problem psikologis yang mungkin muncul dalam k:eluarga poligami adalah dalam bentuk konflik internal dalam keluarga, baik di antara sesama istri, antar istri dan anak tiri atau di antara anak-anak yang berlainan ibu. Permusuhan antar istri terjadi karena suami biasanya lebih memperhatikan istri muda ketimbang istri tuanya. Bahkan, tidak jarang setelah menikah suami menelantarkan istri tua dan anak-anaknya. Karena suami menikah lagi, hubungan baik dan harmonis istri dengan keluarga besar suami menjadi terganggu. Perkawinan poligami juga membawa dampak buruk bagi
perkembangan jiwa anak, terutama anak perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh Mudhofar Badri (dalam Machali, 2005) mengungkapkan temuan yang memprihatinkan sebagai berikut, perkawinan poligami
menimbulkan beban psikologis yang berat bagi anak-anak. Anak malu ketika ayahnya diju\uki "tukang kawin", sehingga timbu\ rasa minder dan
menghindar bergaul dengan teman sebayanya. Bagi anak perempuan biasanya sulit bergaul dengan teman laki-lakinya. Kebanyakan dari anak-anak yang ayahnya berpoligami Jalu mencari pelarian lain, seperti narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena mereka kurang mendapatkan perhatian dari orang tua terutama ayahnya yang harus
pria merupakan perbuatan yang timbul dari kepribadiannya, tindakan yang bijaksana ini bias juga terjadi pada pria yang bermonogami. Tetapi poligami memang menghendaki sikap yc1ng bijaksana dari seorang pria sebagai kepala keluarga.
d. Anak-anak bertengkar
Pertengkaran anak-anak, baik adik kakak yang sekandung atau tidak sekandung bias saja terjadi, baik di dalam keluarga yang monogamy maupun yang poligami. Tetapi memang tidak bias diingkari bahwa poligami adalah salah satu sebab dari pertengkaran anak-anak itu karena mereka tidak sekandung.
e. kesulitan ekonomi
2.2.
Kerangka Berpikir
Sebagai makhluk sosial, manusia per1u berhubungan dengan orang lain, manusia selalu hidup bersama manusia lainnya dan tidak dapat hidup sendiri. Namun tampaknya membentuk dan membina hubungan dengan orang lain bukanlah hal yang mudah dan sederhana.
Perkawinan merupakan suatu lembaga sah yang menyatukan pria dan wanita di dalam suatu hubungan interpersonal yang intim dimana keduanya mendapatkan rasa ketenangan dengan kasih sayang, sehingga mereka dapat memberikan kepuasan dari segi fisik, mental serta materi, dan terdapat pula hak dan tanggung jawab di dalam pengasuhan anak di dalam
perkawinan. Dalam Islam menjalin hubungan interpersonal antar suami-istri terdapat tugas dan peran masing-masing yang telah cliatur dalam syariat Islam.
tidak biasa timbul dalam perkawinan monogami, misalnya
ketidakharmonisan antar para istri, istri dengan suami, ibu tiri dengan anak tiri maupun ayah dan anak.
Dalam keluarga poligami beban psikologis yang ditimbulkan oleh praktek poligami terhadap seorang perempuan amatlah besar. Seorang istri akan cemburu bila rnelihat suami bersama perempuan lain (walaupun dia mengetahui perempuan tersebut adalah istri lain dari suaminya).
Kecemburuan seperti ini tidak hanya terjadi pada istri pertama saja, melainkan juga terjadi pada istri lain, maka tak heran jika dalam keluarga poligami selalu terjadi perselisihan baik antar istri maupun antara istri dengan suami.
Hubungan interpersonal antar istri (walaupun tidal< secara langsung) telah terjadi sejak pertama kali dia mengetahui bahwa suaminya
mempraktekkan poligami. Peneliti ingin melihat hubungan yang terjadi antar istri pada perkawinan poligami. Peneliti berasumsi bahwa hubungan yang terjadi antar istri tidak harmonis karena sulit bagi perempuan menerima ada perempuan lain yang juga disayangi suaminya.
pada istri barunya dari pad a istri yang lama sehingga menyebabkan munculnya rasa iri.
PERI<A WIN AN
POLIGAMI
エ]]]]ャセウエセイ]ゥ]]セMセMZ]]s]オ]。]ュ]]ゥセQMMᄋセ
T
セセ@
Hubungan interpersonal
Tahap pembentukan hubungan interpersonal
Tahap Peneguhan Hubungan Interpersonal
Pemutusan Hubungan Interpersonal
Perkenalan
Memerlukan keseimbangan, faktor penting keseimbangan:
a. Keakraban, b. Kontrol,
c. Respon yang tepat d. Nada emosional yang
tepat
l\llETODE PENELITIAN
Pada bab ini penulis memaparkan semua tentang penelitian, Jenis Penelit1an, Pengambilan Sampel, dan Pengumpulan Data. Dari latar
belaV.ang serta pembatasan masalah yar.9 telah dikemukakan penulis, bahwa yang hendak diteliti dalam penelitian ini" Bagaimana hオ「オョセゥ。ョ@ interpersonal antar istri dalam perkawinan poligami?"
Selanjutnya u:1tuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, ada beberapa langkah yang dilakukan oleh peneliti yaitu:
3.1. Jenis Penelitian
Pada sub bab ini akan dibahas penekatan penelitian apa yang digunakan dan metcde penelitian yang digunakan
3.1.1. Pendekatan penelitian
mendefinisikan penelit1an kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pacia manusia taik dalam kawAsannya maupun dalam peristilahannya (Kirk dan Miller dalam Lexy, 2004).
Krcdibilitas suatu penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapcii maksud merigeksplorasi masalal1 atai.: mendeskripsikan setting, proses, kelompok 3Jsial atau pola interaksi yang kompleks. Deskripsi mendalam yang menielaskan kompleksitc.s aspek-aspek yang terkait dan interaksi dari berbaga; aspek menjacli .salah satu ukuran :{redibilitas penelitian kualita\if (E. Kristi, 2007). Karen an ya, peneliti perlu menguraikan secara jelas bagaimana desain di!<.embangkan, subjek penelitian dipilih, ataupun analisis dilakukan.
Derigan .nGlihat kembali permasalahan penelitian yang akan dijawab, peneliti melihac bahwa pendekatan kualitatif ini lebih sesuai untuk menggali masalah-inasalah apC.1 saja yang dihadapi oleh para istri dalam perkawinan poligami kemudian hagaimana gamoaran proses hubungan interpersonal antar istri yang s1fatnya sangat individual, karena masing-masing istri mefT'iliki pola yang berbeda '<c:tika berhubungan dengan orang lain. Dipilihnya
3.1.2. Metode peneHtian
Masalah penelit,c,n yang ー・ョオャゥセ@ amb1I merupakan studi kasus. 3eperti yang dikutip ol3h E.Kristi (2007), menurut Bogdan menyatakan bahwa studi kasus adalah kajian ya11g rinci atas dasar satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokume11 atau peristiwa.
Berkaitan dalam peneli,ian ini penu:is ingin mengetahui secara mendalam dan mendetail mengenai polR hubungan interpersonal yang dilakukan antar istri dalam perkawinan poligami. Oleh sebab itu peneliti mengr;unakan Jenis peneiitian kuali'.atif untuk mengungkap permC1salahan yang bersifat kasuistil<.. Selain itu jenis pisnelitian ini berusaha memahami gejala tingkah laku mar1usia menurut penghayatan sang pelaku, atau melalui sudut pandang ウオ「ェ・セ@ pene!iti.
Dalam penelitian studi kasus peneliti tidak memaksakan pada sebuah teori untuk mencari hubungan yang pasti antar variabel, melainkan lebih ditunjukkan untuk mencari dinamika masalah.
sehari-hari atau bahf:an mempelajari pengalaman-pe:igalaman subjek yang mungkin belum diket8hui sama sekali oleh penelit1.
3.2.
pセョァ。ュ「ゥャ。ョ@Sampel
Yang diuraikan dalam sui: judul 111i antara lain; subjek penelitian, karakteristik subjek, tekhnik pengambilan sample, dan jumlah subjek.
1.2.1. Subje!< Penelitian
1.2.2. Kar:ikteri<>tik Subjek
Karakte:ristik subjek yang akan digunakan sebagai sampel penelitian a<ialc.r1
1) Subjek ada1ah perempuar, yang memiliki status sebagai istri yang sah ses•Jai de11gnn ketentuan agama yang dianut. t<arena subjek dalam per.elitian ini tidak dibatasi pada agama tertentu saja. 2) Subjek merupakan istri pertama, kedua dalam perkawinan
poligmni, karena syariat agama Islam membatasi ,1umlah istri hingga dua orang dan k6banyakan orang hanya rnemiliki dua istri saja.
1.2.3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik riengambilan sampel 1ang d1gunakan dalam penelitian ini menggunakan purposivci sampling yaitu peneliti rnengambil subjek bukan atas strata, random, atau daerah, tetapi atas dasar adanya tujuan, sehingga tidak 3emua subjek memi'iki peluang yang sama (Suharsim'., 1996) dan dengan cara insidental, yaitu Tefmik penentuan sampel berdasarl<an kebetulan, yakni siapa saja yang secara
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2006).
1.2.4. Jumlah Subjek
Dengan fokus penelitian pada kedglaman dan proses, penelitian kualitatif 」・ョ、・セオョァ@ dilakukan deng<in jumlah kasus seclikit. Suatu kasus tunggalpun dapat dipakai apabila secara potensial memang sangat sulit bagi peneliti rnemperoleh kasus lebih banyak dan apabila penelitian menggunakan k<isus tunggal, maka untuk peneluian tersebut diperlukan informasi yang sangat mendalam (B.3nister dkk,
1994
dalam E.Kristi, 20G7)Da/am peneiitian ini, jumlar subjek yang digunakan sebanyak 4 orang, terdiri dari dua orang istri pertama dan dua orang istri kedua dari pen<awinc:n poligami. Hal ini berkait2n dengan pola pe1w11tian multiple case disign yaitu rnenggunakan resp:;nden lebih dari ::.atu orang. Ada beberapa alasan penelitian ini dibatasi hanya empat responden diantaranya:
2) Oalam penelitan ini peneliti mengambil istri yan£ dipoligami sebagai responden. Walaupun bany'"ik keluarga yang mempraktekkan poligami tetapi mencan subjek penFJlitian ini relatif susah karena di Indonesia orang masih rr.enganggap a:b apabila menjadi istri rnuda dalam suatu perkawinan.
1.3. Teknfk Pengumpul:!n Data
Teknik pengumpulan data ini memuat uraian tentang teknik-teknik penelitian dan instrumen yang digunal;an dalarn penelitian ini, serta analisa data
1.3.1. Teknik Penelitian
Dalam penelitim1 ini teknik pengumpu1an data y3ng digunakan adalah waw;mcara dan observasi
1. Wawar,cara
Wawa11c2ra adalah situasi peran antarpribadi bertatap muka, ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan
diwc.wancara, atau ref ponden (l<:erlinger, 2004). Sedangkan Abu (2004) mendefinisikan w2wancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berla119su119 sacara l'san dimana dua orang atau lebih bertatap muka menc.'e1garkan secara langsung informasi-informasi atau
keterangan- keterangan. Wawarcara kualitatif dilakukan apabila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dip3hami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu ha! ya:ig tidak dapat dilak:il an melalui pendekatan lain (Benister dkk dalam E.Kristi, 2001) peneliti menggunakan pertanyaan terbuka (open-ended question), karena peneliti perlu mendcrong subjek untuk berbicara lebih lanjut mengenai topik yang dibahas, tanpa mengarahkan 1jan tanpa rnembuat subjek rnerasa diarahkan.
Dalam prosef wawancara ini, peneliti dilengkapi dengan pedoman waNancara yang trn lebih dahulu telah disesuaikan dengan teori, yang menccintumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan
munculny;J partanyaan lain saat probing atau pertanyaan-pe1tanyaan lain yang tidak disiapkan sebelumnya olsh peneliti yang muncul saat jalannya wawancara.
?.. Observasi
Selain melakuka1 wawancara, peneliti juga melakukan observasi. Tujuan observasi cidalah mendeskrir;sikan setting yang dipelajari,
akti'tic3s-aktivitas berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, can rnakna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejacHan yang d;amati tersebut (Pat'.on,
1990
dalarn E. kイゥセ\L@2007).
Hal-hal yang akan diobse1vasi melij>uti setting tempat wawancaraberlangsung, penampilan serta bahasa tubuh subjek ketika wawancara sedang berlangsung, dan hal-hal pe11ting lainnya yang ditemui peneliti dalam proses wawancara.
3.3.2.
lnstrumen pengumpul;m dataDalam penelitian ini, alat bantu yang peneliti gunakan aclalah:
1) Alat perekam berupa tape recorder, dig .. makan untuk mempermudah peneli':i dalafT, melakukan wawancara. Penggunaan alat perekarn ini membantu ::ieneliti agar data yanq diperoleh tidak terlewatkan
diberikan subjek tar.pa perlu mencatat jawaban. Penggunaan alat perekam ini digunakan dengan Meminta izin subjek penelitian.
2) Kertas dan alat tulis u.1tuk observasi digunakan L11tuk membantu peneliti rnerekam atau mencatat semua tingkah /aku nonverbal subjek. Setiap sutjek mempunyai lembar catatan yang disiaJ)kan µene/iti untuk mencatat hal-hal penting ber.,enaan dengan kasus subjek selama pene/itian berlangsung.
3.3.3. Analisa Data
Data penelitian kua/itatif tidak be1bentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narns1, dsskripsi, cerita dokumen tertulis dan tidak tertulis, ataupun bentuk-bentuk non-angka lain. Dalam penelitian kualitath tidak ada suatu rumus atau atura.1 yang pasti un•.uk mengo/ah dan
menginterpretas1kannya (Patton, 1990 dalam E.Kristi, 2007)
Prosedur anc;lisis dan interpretasi data yang diperoleh d21lam penelitian ini adalah
I. Mengubah dat.a mentah yang berupa rekaman suara subjek ke dalam bentuk tulisan secara verbatin 1 dan menyusun has ii ol)servasi
2. Setelah verba,im tersebut berbentuk transkripsi, maka peneliti
membac? セQ。ウQゥ@ wawancara s&cara berulang-ulang untuk mengetahui tema-tema ya11g muncul dan rnenyatukannya dengan hasil obseNasi 3. Melakukan koding dan mengelompokkan data ke dalsm beberapa
kategori yang dibuat beroasarkan masalah penelitian · 4. Melakukan analisis terhadap data yang telah di koding dan
dikateg')risesi baik secara individual terhadap setiap subjek 5. Membuat kesimpulan yang rnerupakan jawaban alas pertanyaan
dalam permasalahan penelitian
6. fahap akhir adalcih mengajukan saran-saran yang menunjang penelitian di masa yang akan datung
3.4.
Tahapan penelitian
3.4.1.
Tahap Persiapan PenelitianSebelum melakukan penelitian ini peneliti r1elakukan beberapa :;iersi3p2n dianlara, 1ya;
1) Studi literatur dan metode yang akan digunakan untuk menjawab masalah penelitian.
2) Menear: informasi mengenai calon subjek yang bersedia untuk diwawancara. Hal ini dilakuk.'m dengan cara bertanya kepada keluarga dan teman-teman yang mempunyi hubungan dengan calon subjek yang juga sesua1 dengan karakteris.tik subjek
ー・ョ・セゥエゥ。ョN@ KemudiJn menentukan dan menghubungi calon
sub;ek tersebut
3) Mengecek kesesuaian karakteristik subjek dan rnenanyakan kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian. Ketika subjel\ sudah berseaia di wav1ancara, langkah selanjutnya adalah rnembuat janji untuk mene1lllkan tempat dan waktu dilakukan wawanc3ra.
4) Membuat pedoman wawancara
3.4.2. Tahilp pclaksanaan Penelitian
Dalam melakukan penelitian, pelaksanaannya dimulai dengan
perkenalan terlebih dahulu dengan masing-masing subjel< penelitian dengan maksud untuk rl'enjalin nL1oungan yang baik dengan subjek jan menentukan Kap2n dan dimana untuk pertemuan selanjutnya, kemudian wawancara ::Jilal<uKan dengnn membuat perjanj1an yang menyatakan kesediaan subjek untuk r,1enjawab pertanyaar yang diajukan dengan sejujur-jujumya, dan tanggung ;awab penulis adalah merahasiakan identitas subJek dan hasil wawar:cara y2ng diperoleh. Selarna proses wawnncara, penulis
menggunakan tape rncorder atas perse;ujuan subjek yang kemudiar dipindahkan dalam b2ntuk tulisan.
3.4.3. Tahap Pengolahan Data
Dari 'lasil wawancara dan observasi yang diperoleh dari /apangan penelitian, dipindahkan secara verbatim dalam bentuk naskah (teks). Kemudian merrrilah-milah hasil wawancara berdasarkan pe<Joman
wawancara sesuai de'lgan aturan penulisan verbatim. Selanjutnya dilakukan anal.sis secara kualitatif, yaitu menggambarkan data hasil wawancara
tertentu sehingga dihasilkan gambaran dari masing-masing kasus dan kesimpc1i<::n secara umum, terakhir adalah membuat diskusi.
3.4.4. Tahap Analisa dan lnterpretasi Data
Den9an membandin1;kan hasil analisis dari masing-masing kasus subjek penelitic.n, diperoleh benang merah yang menunjukkan persamaan dan perbedaan, serta f:arakteristik khas dari masing-masing subjek sehingga memudahkan untuk rnelil1at perbedaan gar.1baran dari setiap kasus yang kemudian dilakukan <:1nalisis dengan berbagai penclekatan secara
HASIL PENELITIAN
Setelah melakukan penelitian di lapangan maka dipeiroleh data dari hasil wawancara dan observasi dengan subjek penelitian. Oleh karena itu, pada bab IV ini hasil penelitian akan dipaparkan secara sistematis. Bab ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama tentang gambaran umum subjek penelitian dan bagian kedua tentang gambaran kasus dan analisa kasus yang terbagi menjadi dua yaitu pertama analisis masalah pgikologis, masalah sosial dan keadilan, kedua analisis pola hubungan interpersonal. Dalam
menganalisis setiap kasus peneliti menggunakan kerangka teori yang telah diuraikan pada bab II. Dan hasil wawancara disajikan dalarn potongan kalimat yang ditandai dengan tanda kutip.
4.1.
Gambaran Umum Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan berjumlah empat orang yang memiliki karakteristik sebagaimana yang telah dibatasi pada bab sebelumnya.
yang telah terlibat dalam masalah subjek. Berikut ini adalah hasil penelitian yang telah diolah oleh peneliti berbentuk data deskriptif. Gambaran umum identitas keempat subjek penelitian ini terlihat dalam label tierikut ini
Tabel 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
.
---·----·---Subyek
2·
----__ , .
__
ldentitas subyek Subyek 1 Subyek 3 Subyek 4
Na ma SM F セᄋj@ NS
Status lstri Ke-1 Ke-2 Ke-1 Ke-2
Usia lstri 47 tahun 44 tahun 42 tahun 34 tahun
MセMᄋᄋ@
··-Usia Suami 51 tahun 51 tahun 52 tahun 52 tahun
-Usia perkawinan 31 tahun 29 tahun 28 tahun 18 tahun Usia perkawinan poligami 29 tahun 29 tahun 18 tahun 18 tahun
- - - ·
--Bentuk Perkawinan Resmi Res mi Re:smi Resmi
-Jumlah Anak 2 orang 6 Orang 4 Orang 1 Orang
--- ---.. セMMMMM
___
.._____
セ@.. - - _,,,, -··---.. _, ---- - ..4.2. Gambaran dan Analisa Kasus
4.2.1. Kasus SM
[image:68.595.34.456.170.577.2]dijalaninya bukanlah pendidikan formal berbentuk lembaga sekolah· melainkan pengajian-pengajian yang yang diadakan di surau. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan dirasa dia sudah memiliki umur yang cukup maka dia dinikahkan dengan pemuda sekampungnya dan merantau ke Jakarta
lbu SM merupakan anak ketiga dari empat ber;:audara. lbu SM yang mempunyai tinggi 152 cm dan berat badan 45 kg adalah seorang yang ramah pada orang lain. la adalah seorang ibu rumah tangga yang l1anya
mengandalkan suaminya untuk beke8a.
Perjalanan pernikahan ibu SM dan bapak M dimulai pada tahun 1976,
mengalami banyak sekali halang rintangan. Bapak M yang hanya seorang penjahit tidak mampu mencukupi ekonomi ke\uai·i:Ja, Sci [NL X セ」NBQQ@ '"' ""'"'"' 111011va1 i '"'"
1uai
1a1 ·, J.::ngan be8ualan a pa saja keliling kampung.Pada tahun 1979 ketika ibu SM telah memi!iki seorang putra ia
'' '"' 'IJ'L.111;...a, 1 .ouaff1ir1ya tinggal di kola Bogor sendirian untul< mengadu nasib
'"''"'' "'
'Y"'
"c uc' '"'"' '"' u1 uv8v1. Lii<>ar 1aiai1 suarninya be rte mu dengan ibu FAnalisis kasus
Peneliti membagi analisis kasus ini menjodi dua bagian yaitu analisis masalah psikologis, sosial dan keadilan serta analisis masalah hubungan
interpersonal
1. Analisis masalah psikologis, sosial dan keadilan
konflik yang pertama muncul adalah tekanan psikologis yang di rasakan oleh lbu SM hal ini disebabkan sikap suaminya yang tidak memberitahukan
kepada dirinya bahwa dia menikah lagi dengar. perempuan yang berasal dari Bogor. Hal ini diutarakannya dengan kalimat:
Rasanya ibu marah dan sakit sekali sama bapak ketika tahu bapak' menikah lagi" (Wawancara dengan subjek, 20 September 2007)
lbu SM mengetahui tentang poligami dan lingkungan dimana ia dibesarkan dan melalui pelajaran agama yang ia dapatkan sewaktu ia menuntut ilmu namun tetap saja ia tidak dapat menerima bila suaminya menduakannya
"/bu tau po/igami waktu masih ngaji di padang, di sekitar rumah ibu dulu juga banyak yang betistri dua tapi ibu tetap nggak bisa terima!!"
(VVawancara dengan subjek, 20 September 2007)
Awalnya ibu SM tidak mengetahui kalo suaminya menikah lagi, pak M lt::cof.1
µuid11!,J ke (un1ah sebulan sekali untuk memberikan uang kepada ibu SM,
Waktu itu bapak pulang seperti biasa, satu bu/an sekali ngasih ibu Uang nak! Tapi nggak pernah bilang ka/o bapak mau nikah /agi (Wawancara dengan subjek, 20 September 2007)
Saal pertama kali mengetahui suaminya menikah lagi di Bogor ibu SM merasa dikhianati, marah, sedih, kecewa, sakit hati bercampur jadi satu, ibu SM langsung membawa anak-anaknya yang masih berumur 2 tahun dan 8
bulan pergi ke Bogor untuk bertemu dengan istri lain dari suaminya, ia marah
besar, ia mencaci maki madunya hingga semua tetangga mengetahui perbuatannya. Seperti yang diungkapkan ibu SM sambil menangis
Wai<tu tau bapak nikah /agi, ibu merasa dikhianati marah,sedih, sakit hati bercampur jadi satu,saya bawa anal< saya dua duanya masih Uda
2
tahun dan Uni masih bayi 8 bu/an, ibu pergi ke Bogor, sampe disana ibu marah-marah sama Mamah sampe semua tetangga pada lihat mamah (Wawancara dengan subjek, 20 september 2007)ibu SM tak habis mengerti, tidak ada alasan yang membuat pak M menikah lagi, ibu SM sudah mempunyai dua orang anak satu laki-·laki dan satu
/bu bilang sama bapak "Aku ini kurang apa pal< anc1k sudah ada dua, laki-/aki ada, perempuan ada" (Wawancara dengan subjek, 20 · September 2007)
lbu SM merasa suaminya tidak akan bisa berlaku adil walaupun dia sudah berusaha sekuat tenaganya
Bapak tidal< akan bisa adil se/amanya nak! Tidal< akan bisa, sudah 29 tahun dia kawin lagi, ibu nggak pernah merasa dip11r/akukan adil
Setelah dua puluh sembilan tahun di madu ibu SM dapat menerima ada orang lain yang juga dicintai suaminya dan ada anak-anak lain yang dimiliki suaminya
Sel<arang ibu sudah bisa terima, ada mama:1 dan anal<-anal< yang juga bapal< cintai (Wawancara dengan subjek, 20 September 2007)
Masalah yang terjadi dalam rumah tangga ibu ES antara lain 1) Masalah psikologis
a) Merasa dikhianati, tidak dihargai, perasaan kecewa, sakit hati membuat jiwanya menjadi tidak tenang
b) Dirinya menjadi sangat sensitif terhadap perkataan orang lain
yang membuat dirinya tidak mampu menahan emosinya.
c) Rasa cemburu dan iri hati membuat dirinya menjadikan
madunya sebagai