• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi terumbu karang di daerah sekitar pelabuhan dan non pelabuhan di perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kondisi terumbu karang di daerah sekitar pelabuhan dan non pelabuhan di perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

KONDISI TERUMBU KARANG DI DAERAH SEIUTAR PELABUHAN DAN NON PELABUHAN DI PERAIRAN PULAU KELAPA DAN

PULAU HARAPAN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA.

Oleh : Achmad Rozul Huda

C64102083

PROGRAM STUD1 ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKIJLTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :

KONDISI TERUMBU KARANG DI DAERAH SEKITAR PELABUHAN DAN NON PELABUHAN DI PERAIRAN PULAU KELAPA DAN PULAU HARAPAN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA.

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diterbitkan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau d i i t i p dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2008

(3)

ACHMAD R. W D A . Kondisi Terumbu Karang di Daerah Sekitar Pelabuhan dan Non Pelabuhan di Perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta. Dibimbing oleh NEVIATY P. ZAMANI dan I WAYAN NURJAYA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kondisi tenunbu karang yang berada pada daerah pelabuhan dan non pelabuhan.

Kegiatan penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 hingga 28 April 2007 bertempat di perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta. Pengamatan terumbu karang dan ikan karang menggunakan metode LIT (Line Intercent Transect) dan metode visual sensus. Data yann didapatkan dianalisis berdaskkan persebtase penutupan karang keras (HC), indeks mortalitas karang (IMK) serta indeks keanekaragaman (H'), keseragaman (E) dan dominansi (C) ikan karang. Parameter kualitas air yang diukur diantaranya suhu, kedalaman,

kecepatan

arus,

kecerahan, salinitas, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (DO),

fosfat dan nitrat perairan.

Berdasarkan hasil yang didapatkan, parameter kualitas air baik di daerah pelabuhan maupun di daerah non pelabuhan masih dalam kisaran batas normal untuk pertumbuhan dan perkembangan tenunbu karang, hanya pada kadar nitrat yang masih bemilai di atas nilai baku mutu pada suatu ekosistem terurnbu karang.

Data terumbu karang yang termasuk dalam kategori baik ditemukan di

daerah barat P.Kelapa bemilai 59,92 % (3 m) dan 52,33 % (10 m) serta timur

P.Harapan 59,19 % (3 m) dan 57,OO % (10 m) yang merupakan daerah non

pelabuhan. Kondisi temmbu karang pada daerah pelabuhan semuanya dalam kategori buruk, yakni dermaga utara P.Kelapa bemilai 17,83% (3 m) dan 10,85%

(10 m ), dermaga barat P.Kelapa bemilai 13,56% (3 m) dan 8,99% (10 m),

dermaga selatan P.Kelapa bemilai 22,76% (3 m) dan 24,93% (10 m) serta dermaga P.Harapan bemilai 19,35% (3 m) dan 18,73% (10 m). Nilai indeks mortalitas karang tertinggi terdapat di daerah dermaga utara P.Ke1apa sebesar 0,87 dan nilai terendah sebesar 0,3 1 terdapat di daerah timur P.Harapan.

Indeks keanekaragaman ikan karang di daerah pelabuhan berkisar antara 1,53 hingga 2,35 dengan rerata sebesar 2,08 (3 m) dan 2,06 (10 m), sedangkan di daerah non pelabuhan berkisar antara 1,76 hingga 2,52 dengan rerata sebesar 2,34 (3 m) dan 2,08 (10 m). Indeks keseragaman di daerah pelabuhan berkisar antara 0,55 hingga 0,93 dengan rerata sebesar 0,77 (3 m) dan (10 m), sedangkan indeks keseragaman ikan karang di daerah non pelabuhan berkisar 0,28 hingga 0,73

dengan rerata sebesar 0,72 ( 3 m) dan 0,41 (10 m). Indeks dominansi di daerah

pelabuhan berkisar antara 0,06 hingga 0,36 dengan rerata sebesar 0,17 (3 m) dan 0,20 (1 0 m), sedangkan indeks dominansi di daerah non pelabuhan berkisar antara 0,16 hingga 0,43 dengan rerata sebesar 0,29 (3 m) dan 0,38 (10 m).

(4)

O

Hak cipta milik Achmad Rozul Huda, tahun 2008

Hak cipta dilindungi

Dilarang n~engutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari

Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalarn

(5)

KONDISI TERUMBU KARANG DI DAERAH SEKITAR PELABUHAN

DAN NON PELABUHAN DI PERAIRAN PULAU KELAPA DAN

PULAU HARAPAN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA.

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan IImu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Achmad Rozul Huda

C64102083

PROGRAM STUD1 ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT P ERTANIAN BOGOR

(6)

Judul : Kondisi Terumbu Karang di Daerah Sekitar Pelabuhan dau Non Pelabuhan di Perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan,

Kepulauan Seribu, Jakarta. Nama mahasiswa : Achmad R. Huda

NRP : C64102083

Program Studi : Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing I1

n

-

Dr. Ir. h a v a n Nuriava, M . ~ C

NIP. 131 788 592 NIP. 1d1859 209

Mengetahui

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta shalawat dan salam kepada junjungan

Nabi Besar Muhammad SAW, yang senmtiasa memberikan syafaatnya sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang be rjudul "Kondisi Terumbu Karang

di Daerah Sekitar Pelabuhan dan Non Pelabuhan di Perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta".

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Neviaty P. Zamani, M.Sc

dan Dr. Ir. I WayanNurjaya, M.Sc sebagai dosen pembimbing yang telah

memberikan saran dan bimbingannya dalam proses penyusunan skripsi ini, serta

kepada Prof. Dr. Ir. Dedi Soedharma, DEA dan Ir. Sri Pujiati, M.Si yang telah

bersedia menjadi dosen penguji. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tak

terhingga kepada kedua orang tua, Ayahanda Ahmad Zaeni Syatiri dan ibunda

Saidah Badrun atas do'a dan kasih sayangnya, kepada kakak dan adii yang telah

memberikan semangat dan motivasinya serta rekan-rekan ITK dan FDC atas

dukungan dan ke rjasamanya.

Penulis sadar bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalarn penulisan ini,

oleh karena itu penulis berharap ada masukan dan saran ataupun kritik yang dapat

membantu kesempurnaan dalarn penyusunan skripsi ini.

Bogor, Januari 2008

(8)

DAFTAR IS1

Halaman

KATA PENGANTAR

...

vi

DAFTAR TABEL

...

ix

DAFTAR GAMBAR

...

x

DAFTAR LAMPIRAN

...

xi

1

.

PENDAHULUAN

...

1

1.1. Latar belakang

...

1

1.2. Tujuan

...

2

2

.

TINJAUAN PUSTAKA

...

...

2.1. Kondisi umum perairan

2.2. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

...

2.3. Ekosistem terumbu karang

...

2.4. Anatomi hewan karang

...

...

2.5. Formasi dan tipe pertumbuhan terumbu karang

2.6. Penyebab kerusakan tenunbu karang

...

2.6.1. P e n g d aktifitas manusia

...

...

2.6.2. Pengaruh alam

...

2.7. Fungsi dan manfaat terumbu karang

2.8. Bentuk pertumbuhan karang

...

...

2.9. Deskripsi ikan karang

2.9.1. Interaksi antara terumbu karang dan &an karang

...

2.9.2. Kelompok ikan karang

...

3

.

BAHAN DAN METODE

...

3.1. Waktu dan tempat

...

3.2. Alat dan bahan

...

3.3. Metode pengambilan data

...

3.3.1. Kualitas air

...

3.3.2. Terumbu karang

...

3.3.3. Ikan karang

...

3.4. Analisis data

...

3.4.1. Persentase penutupan karang hidup

...

3.4.2. Indeks mortalitas

...

3.4.3. Indeks keanekaragaman (H'), keseragaman ( E ) dan

dominansi ( C ) ikan karang

...

3.4.3.1. Indeks keanekaragaman (H ')

...

3.4.3.2. Indeks keseragaman (E)

...

(9)

...

4

.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran umum t e m b u karang di daerah pengamatan

...

...

4.2. Kondisi perairan Pulau Kelapa

...

4.2.1. Suhu

...

4.2.2. Salinitas

4.2.3. Kecepatan arus

...

4.2.4. Kecerahan

...

4.2.5. Derajat keasaman (pH)

...

...

4.2.6. Oksigen terlarut (DO)

...

4.2.7. Fosfat

...

4.2.8. Nitrat

...

4.3. Kondisi penutupan subtrat dasar dan ikan karang

4.3.1. Indeks mortalitas karang

...

4.3.2. Dermaga utara Pulau Kelapa (Stasiun 1)

...

4.3.3. Dermaga barat Pulau Kelapa (Stasiun 2)

...

4.3.4. Barat Pulau Kelapa (Stasiun 3)

...

4.3.5. Dermaga selatan Pulau Kelapa (Stasiun 4)

...

4.3.6. Timur Pulau Harapan (Stasiun 5)

...

4.3.7. Dermaga Pulau Harapan (Stasiun 6)

...

4.4. Perbandingan rerata penyusun subtrat dasar dan kelimpahan

ikan karang di daerah pelabuhan dan non pelabuhan

...

4.4.1. Persentase penutupan karang keras (HC) pada daerah

Pelabuhan

...

4.4.2. Persentase penutupan karang keras (HC) pada daerah

non pelabuhan

...

4.4.3. Indeks mortalitas karang pada daerah pelabuhan dan

non ~elabuhan

...

4.4.4. Indeks keanekaragaman (H'). keseragaman

(4

dan

dorninansi (C) ikan karang di daerah pelabuhan dan daerah non pelabuhan

...

...

5

.

KESIMPULAN DAN SARAN

...

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

...

DAFTAR PUSTAKA

...

LAMPIRAN

...

...

RIWAYAT HIDUP

...

(10)

DAFTARTABEL

Halaman

1. Kategori karang keras dan penyusun subtrat dasar

(English et al., 1994)

...

16

2. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

...

23

3. Parameter fisika-kimia dan alat serta metode yang digunakan

...

24

4. Kisaran tingkat persentase penutupan karang

...

27
(11)

DAFTAR GAMBAR

1. Struktur polip kerangka karang (Suharsono, 1996)

...

10

2. Formasi terumbu karang. Tahap pembentukan terumbu karang dari yang termudaffinging reef (a), barrier reef (b), dan at01 (c)

(Veron, 1986)

...

11 3. Peta lokasi penelitian

...

22

4. Cara pencatatan data koloni karang pada metode transek garis

(English et al., 1994)

...

25

5. Pengambilan data ikan karang pada metode sensus visual

...

26

...

6. Histogram indeks mortalitas karang 35

7. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah dermaga utara

Pulau Kelapa (Stasiun 1)

...

37

8. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah dermaga barat Pulau Kelapa (Stasiun 2)

...

40

9. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah barat Pulau

Kelapa (Stasiun 3)

...

42 10. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah dermaga selatan

Pulau Kelapa (Stasiun 4)

...

45

11. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah timur Pulau

Harapan (Stasiun 5)

...

47 12. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah dermaga Pulau
(12)

DAFTAR LAMPIFUN

Halaman

1

.

Persentase (%) penyusun subtrat dasar

...

61

2

.

Kemunculan karang keras (HC) pada semua stasiun pengamatan

...

63

3

.

Kelimpahan spesies ikan karang (ind/m2) pada semua stasiun

pengamatan

...

65

4

.

Kondisi tenunbu karang di stasiun pengamatan

...

70
(13)

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Salah satu ekosistem perairan tropis yang paling unik adalah ekosistem

terumbu karang. Terumbu karang merupakan ekosistem bahari yang banyak

menarik perhatian karena merupakan daerah alamiah yang mempunyai nilai

estetika tinggi dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Terumbu karang

men~pakan ekosistem paling indab dalam ha1 warna dan bentuk serta desainnya

sangat kaya akan keanekaragaman jenis biota yang hidup di dalarnnya (Nybakken,

1992).

Salah satu penyebab tingginya keanekaragaman spesies di terumbu karang

adalah karena adanya variasi habitat. Tingkat adaptasi dan keanekaragaman

spesies di terumbu karang dipengaruhi oleh adanya interaksi yang kompleks

antara biota penyusun ekosistem tersebut (Nybakken, 1992).

Kepulauan Seribu yang terletak di sebelah utara dari Teluk Jakarta, dahulu

dikenal sebagai kawasan terumbu karang yang kaya akan keanekaragaman jenis

karang batu. Tetapi belakangan ini sejalan dengan pertambahan penduduk yang

pesat membuat kawasan ini dikenal sebagai kawasan terumbu karang yang

menderita kerusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia baik secara langsung

maupun tidak langsung.

Meningkatnya kebutuhan manusia seperti kebutuhan terhadap bahan pangan,

tempat rekreasi, pelabuhan dan aktifitas lain yang berhubungan dengan laut dan

pantai banyak menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem perairan yang berada

di sekitarnya. Pelabuhan merupakan lokasi yang sangat padat dengan aktifitas

(14)

perairan di sekitar pelabuhan tersebut contohnya adalah ekosistem terumbu karang.

Sehingga untuk mengetahui seberapa besar dampak dari aktifitas masyarakat

terhadap ekosistem terumbu karang di sekitar pelabuhan, perlu adanya

pengambilan data terumbu karang dan parameter pendukung terumbu karang itu

sendiri serta data tenunbu karang yang berada di daerah non pelabuhan sebagai

pembanding.

Rusaknya ekosistem terumbu karang hams diatasi melalui pengendalian

secara menyeluruh. Pengendalian menyeluruh tersebut merupakan strategi

pengelolaan lingkungan terumbu karang yang meliputi eksploitasi secara lestari,

perlindungan serta pencegahan terhadap polusi dan degradasi yang disebabkan

oleh aktifitas manusia (Suharsono, 1991). Demi kelancaran proses tersebut,

terlebih dahulu perlu diketahui status dan kondisi sumberdaya terumbu karang di

perairan ini dengan melakukan survei dan monitoring langsung ke lapangan,

1.2. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kondisi

terumbu karang yang berada di daerah sekitar pelabuhan dan non pelabuhan di

(15)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kondisi umum perairan

Kepulauan Seribu terdiri dari 108 pulau karang dengan dasar batu karang dan

sebanyak 30 pulau terletak di Teluk Jakarta, khususnya bagian barat (Azkab dan

Hutomo, 1991).

Lebih lanjut Azkab dan Hutomo (1991) menyatakan bahwa tipe terumbu

karang di Kepulauan Seribu merupakan tipe karang tepi winging reeJ), sehingga

proses pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi ole11 aktifitas pesisir.

Rataan terumbu dan tubir bagian atas pada umumnya didominasi oleh Acropora

dan Montipora.

Menurut Molengraaf (1929) in Huto~no (1991) kedalaman rata-rata perairan

Kepulauan Seribu adalah 30 m dan termasuk bagian dari Laut Jawa. Perairan

antara Pulau Payung dan Pulau Pan mempunyai kedalaman lebih dari 60 m.

Pulau-pulau di Kepulauan Seribu merupakan kelanjutan pertumbuhan terumbu

karang yang sudah berkembang sejak zarnan es (pleistocen) sebelum paparan

sunda tenggelam.

Fluktuasi bulanan suhu dan salinitas permukaan laut rata-rata di bagian barat

perairan Kepulauan Seribu mengikuti fluktuasi suhu dan salinitas perairan Laut

Jawa (Kastoro dan Birowo, 1974 in Hutomo, 1991).

Sistem arus permukaan di Laut Jawa dipengaruhi oleh musim. Pada musim

timur, massa air dengan salinitas tinggi mengalir dari timur ke barat yakni dari

Samudera Hindia melalui Selat Flores dan dari Samudera Pasifik melalui Laut

(16)

salinitas rendah mengalir dari Laut Cina Selatan dan bergerak ke timur di Laut

Jawa sampai ke Laut Flores.

Kawasan Pulau Seribu mengalami musin1 kemarau pada bulan Mei hingga

Oktober dengan 4

-

10 hari hujan perbulan dan Agustus merupakan bulan

terkering. Musim hujan terjadi pada bulan November hingga April dengan 10 -

20 hari hujan perbulan dan Januari merupakan bulan terbasah. Musim pancaroba

terjadi antara bulan April - Mei dan Oktober -November (Dishidros, 1986).

Mulai bulan Desember hingga Maret, angin barat bertiup di kawasan ini. Arah

angin antara barat daya dan barat laut dengan kecepatan angin rata-rata 7 - 20 knot.

Pada bulan Desember hingga Februari dapat melebihi 20 knot. Musim timur

bertiup mulai Juni hingga September, arah angin antara timur laut dan tenggara

dengan kecepatan 7

-

15 knot. Musim pancaroba terjadi antara April

-

Mei dan Oktober -November (Dishidros, 1986).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Giyanto dan Sukarno (1997) bahwa

semakin dekat jarak terumbu karang ke daratan Pulau Jawa, maka kondisinya

semakin buruk. Hal ini memberikan i n d i i i bahwa aktivitas manusia berperan

penting dalam pengrusakan ekosistem terumbu karang.

2.2. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan dan

Konservasi Alam Tahun 1998, maka secara ringkas Taman Nasional Laut

Kepulauan Seribu dapat digambarkan sebagai berikut:

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dengan luas kurang lebih 108.000 ha

adalah bagian dari wilayah laut dangkal di lepas pantai utara Jakarta. Kawasan

(17)

Menteri Kehutanan Nomor 162JKpts-1111995 tanggal 21 Maret 1995 dan Surat

Keputusan Menteri Kehutanan dengan SK No. 63 10IKpts-IU2002, luas 107.489

ha.

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu secara geografis terletak diantara

5"23' - 5O40' Lintang Selatan dan 106"25' - 106'37' Bujur Timur. Menurut wilayah adrninistrasi pemerintahan, kawasan Pulau Seribu terbagi menjadi dua

kecamatan yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan

Seribu Selatan yang berada di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,

Jakarta Utara.

Dalam rangka mencapai h~juan pengelolaan yang ditetapkan, sebagai langkah

operasionalnya Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dibagi dalam 4 (empat)

zonasi,yaitu :

1. Zona inti

Zona inti merupakan bagian kawasan yang mendapatkan upaya perlindungan

paling ketat demi terjaganya kelangsungan hidup biota laut yang terdapat pada

daerah ini. Kegiatan pada zona ini diarahkan pada kondisi alarni sehingga

perubahan yang terjadi adalah karena proses alam.

2. Zona perlindungan

Zona ini adalah kawasan yang tidak diperbolehkan untuk kegiatan eksploitasi

biota laut dengan tujuan komersil. Perlindungan dan pengamanan di zona ini

masih cukup ketat akan tetapi pemanfaatan secara terbatas untuk kepentingan

(18)

3. Zona pemanfaatan intensif

Zona ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan manusia dalam

pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari. Pada kawasan ini dipebolehkan

pengembangan dan pembangunan sarana dan prasarana untuk rekreasi dan wisata

alam.

4. Zona pemanfaatan tradisional

Zona ini dialokasikan

untuk

pemanfaatan sumberdaya laut secara tradisional

oleh masyarakat setempat dalam upaya mendukung sosial ekonomi dan budaya

masyarakat didalain kawasan seperti penangkapan ikan secara tradisional,

budidaya dan sarana secara umum.

2.3. Ekosistem terumbu karang

Ekosistem ter~unbu karang mempunyai sifat yang sangat menonjol

diantaranya mempunyai produktifitas dan keanekaragaman jenis biota yang tinggi

(Sukarno et al., 1983). Besarnya produktifitas yang d i i l i k i terumbu karang

disebabkan karena adanya pendaur ulangan zat-zat hara lewat proses hayati secara

efisien (Odum, 1993).

Khon dan Helfrich (1957) in Nybakken (1992), memperkirakan produktifitas

primer daerah terumbu karang sekitar 1500-3000 gC/mz/th. Hal ini juga

dipertegas oleh White (1987), bahwa produktifitas primer terumbu karang sama

atau melebii semua ekosistem alamiah lainnya dan satu terumbu karang dapat

menghidupi rata-rata sekitar 3000 spesies.

Eldredge (1976) in Sukarno et al. (1983) menyatakan bahwa rangkaian

struktur tropik (jaring-jaring makanan) pada ekosistem terumbu karang yang

(19)

ekosistem terumbu karang. Terumbu karang selalu terdapat di perairan tropis

dangkal antara 0 - 50 m, dasar keras dan perairan jernih, dengan suhu rata-rata tahunan tidak l e b i rendah dari 18' C, dan perairan yang berarus.

Beberapa faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu

karang :

1. Suhu

Terumbu karang dapat hidup dan tumbuh subur pada perairan dengan suhu

berkisar antara 25" - 30" C, tersebar di daerali tropis antara 35" LU dan 32" LS (Sukarno et al., 1983). Suhu ekstrim yang masih dapat ditoleransi adalah 36' - 40" C (Nybakken, 1992).

2. Salinitas

Salinitas merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan terumbu karang,

salinitas normal air laut adalah 32 - 35 9/00. Diluar kisaran ini karang bermatipik

tidak dapat tumbuh (Nybakken, 1992). Suharsono (1984) mengemukakan bahwa

karang yang hidup di tempat-tempat dalam jarang atau tidak pernah mengalami

perubahan saliitas yang cukup besar, sedangkan karang di tempat-tempat

dangkal seringkali dipengaruhi oleh masukan air tawar dari pantai maupun huian

sehingga terjadi penurunan salinitas perairan.

3 . Cahaya

Cahaya adalah faktor pembatas yang terpenting. Cahaya diperlukan oleh

Zooxanthellae untuk melakukan fotosintesis, yang dapat membantu koral untuk

membentuk terumbu. Titik kompensasi karang adalah pada kedalaman dimana

(20)

4. Sedimentasi

Faktor sedimentasi yang tinggi dalam air maupun koral me~p&aII pengaruh

negatif bagi pertumbuhan terumbu karang. Sedimentasi dapat menutupi karang

dan mengahalangi proses makannya, dan juga dapat mengurangi cahaya yang

diperlukan oleh zooxanthellae dalam melakukan fotosintesis (Nybakken, 1992).

5. Kolom air

Faktor pembatas selanjutnya adalah kolom air, pertumbuhan temmbu karang

ke atas dibatasi oleh adanya udara. Banyak koral mati karena terlalu lama berada

di udara terbuka, sehingga pertumbuhan terumbu karang ke arah atas hanya

terbatas sampai tingkat sumt terendah (Nybakken, 1992).

6 . Arus dan Gelombang

Pada urnumnya, terumbu karang lebih berkembang pada daerah-daerah yang

mengalami arus dan gelombang cukup besar. Arus dan gelombang memberikar:

sumber air yang segar, memberi oksigen dalam air laut, mengurangi dan

menghilaugkan proses sedimentasi pada temmbu karang, serta mensuplai

plankton dan sumber makanan lain yang berguna bagi pertumbuhan dan

perkembangan terumbu karang (Nybakken, 1992).

Arus bermanfaat untuk pemindahan nutrien, larva dan sedimen. Ams juga

berguna untuk menghalau dan membersihkan sampah (Tomascik et al., 1997).

Selain itu kecepatan air dan turbulensi juga memiliki pengaruh kuat terhadap

morfologi umum dan komposisi taksonomi dari ekosistem terumbu karang.

2.4. Anatomi hewan karang

Terumbu karang terbentuk dari asosiasi berbagai biota yang lridup dalam

(21)

adalah endapan yang berbentuk seperti batu yang terbentuk dari kalsium karbonat

yang dihasilkan oleh karang. Terumbu yang didapatkan terutama berasal dari

karang (Filum Cnidaria) itu sendiri dengan sedikit tambahan dari alga berkapur

dan organisme-organisme lain yang menghasilkan kalsium karbonat.

Suharsono (1996), menambahkan bahwa karang atau polip karang merupakan

binatang yang sederhana, dimana sebagian besar dari polip karang terdapat

sejumlah alga bersel tunggal yang disebut Zooxanthellae.

Karang merupakan hewan sederhana yang berbentuk tabung dengan mulut

berada di atas yang berfungsi juga sebagai anus. Di sekitar mulut dikelilingi oleh

tentakel yang berfungsi sebagai penangkap makanan. Mulut diteruskan dengan

tenggorokan yang pendek yang langsung menghubungkan dengan rongga perut.

Rongga perut berisi semacam usus yang disebut dengan filamen mesenbi yang

befungsi sebagai alat pencerna (Suharsono, 1996).

Dinding polip karang terdiri dari tiga lapisan yaitu elbodernla, endoderma,

mesoglea. Ektoderma men~pakan jaringan terluar yang terdiri dari berbagai jenis

sel yang antara lain sel mukus dan sel nematokis. Jaringan endoderma berada di

lapisan dalam yang sebagaian besar selnya berisi sel alga yang merupakan

simbion karang. Sedangkan mesoglea adalah jaringan yang berada di tengah

antara keduanya yang berupa lapisan seperti jelly. Seluruh permukaan jaringan

karang juga dilengkapi oleh silia danflagela yang berkembang dengan baik di

lapisan luar tentakel. Struktur polip dan kerangka kapur hewan karang terdiri dari

fempeng dasar, epiteka, koralit, koralum, kalik, kosta dan kolztrnella (Gambar 1). Lempeng dasar terletak di dasar sebagai pondasi dari septa yang muncul

(22)

Koralit yaitu keseluruhan skeleton yang terbentuk dari satu polip, keseluruhan

skeleton yang dibentuk oleh keseluruhan polip dalam satu individu atau satu

koloni disebut koralum. Kalik merupakan permukaan koralit yang terbuka, septa

yang tumbuh hingga mencapai dinding luar dari koralit dinamakan kosta.

Struktur yang terdapat didasar dan tengah koralit yang merupakan kelanjutan dari

septa disebut kolumella.

GeStvOdemiS

_--- Keangka

Zooxanthellae

Septa Kerangka dala

Gambar 1. Struktur polip kerangka karang (Sd~arsono, 1996)

2.5. Formasi dan tipe pertumbuhan terumbu karang

Berdasarkan tempat terbentuknya, formasi dan tipe pertumbuhan terumbu

karang dapat dibagi menjadi :

1. Terumbu tepi Vjinge reefs ataufringing reefs): terdapat di sepanjang tepi pantai dan merupakan perluasan dari garis pantai dan kadang-kadang dipisahkan

dari pantai oleh laguna yang dangkal.

2. Terumbu penghalang (barrier reefs): terdapat jauh dari pantai dipisahkan oleh

[image:22.523.68.441.49.645.2]
(23)

pennukaan air laut lebih rendah; dapat sejajar dengan pantai, membentuk sudut,

atau melingkari suatu laguna yang di dalamnya terdapat daratan.

3. At01 (atolls): berbentuk cincin yang melingkari suatu laguna yang di dalamnya

[image:23.523.72.440.46.615.2]

terdapat daratan, walaupun mungkin ada terumbu meja atau puing-puing terumbu.

Gambar 2. Formasi terumbu karang. Tahap pembentukan terumbu karang dari yang termudafringing reef (a), barrier reef (b) dan at01 (c) (Veron, 1986).

2.6. Penyebab kerusakan terumbu karang

Ekosistem terumbu karang yang telah ada sebaiknya diatur dalam

pemanfaatanya. Manusia terkadang serakah dalam pemanfaatanya, sehingga

berdampak buruk bagi ekosistem terumbu karang. Beberapa penyebab kerusakan

ekosistem tenunbu karang, dapat disebabkan oleh aktifitas manusia dan alam

diantaranya :

2.6.1. P e n g a ~ h aktifitas manusia

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa disadari aktifitas manusia dapat

(24)

penangkapan ikan dengan cara berlebihan dan cara merusak akan merusak

keseimbangan ekosistem terumbu karang.

Aktifitas manusia yang dapat merusak terumbu karang (Suharsono, 1998)

diantaranya adalah :

1. Penambangan karang untuk bahan bangunan dan pembuatan kapur dapat

menimbulkan kerusakan fisik yang besar bagi terumbu karang dan ikan karang.

2.

Kegiatan perikanan yang merusak, seperti penangkapan ikan dengan

menggunakan bahan peledak, jaring insang dan pukat dapat membuat

kerusakan fisik terhadap terumbu karang dan ikan karang.

3. Kegiatan wisata bahari jika tidak dikelola dengan baik dan hati-hati akan

berdampak negatif terhadap kondisi terumbu karang yang akan berakhir dengan

kepunahan. Aktifitas wisata bahari dapat mengganggu ekosistem terumbu

karang baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.6.2. Pengaruh alam

Pengamh alam dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang yang sifatnya

tidak permanen. Alam selalu menjaga dan memberikan peranan setiap nlakhluk

hidup di dalam ekosistem. Beberapa penyebab kerusakan ekosistem terumbu

karang yang disebabkan oleh alam.

1. Perubahan iklim.

Pemutihan karang atau Coral Bleaching yaitu pudamya wama terumbu karang

menjadi pucat atau putih. Hal ini terjadi karena karang kehilangan 60-90%

dari jumlah zooxanthellae-nya dan zooxanthellae yang masih tersisa dapat

kehilangan 50

-

80% dari pigmen fotosintesisnya (Glynn, 1996 in Westmacott
(25)

suhu pemukaan laut akibat pemanasan global, selain itu juga pemutihan

karang ini dapat dikaitkan juga dengan peristiwa EL Nino (Glynn, 1990 in

Westmacott et al., 2000).

2. Radai (Storm) dan Tsunami.

Badai, topan dan tsunami merupakan sunber ancainan terhadap ekosistem

terumbu karang yang cukup besar. Karena kerusakan yang diakibatkan badai

cukup besar dan dalam skala yang luas. Kerusakan yang te jadi berupa

kerusakan fisik atau struktur terumbu karang hancur dan partikel karang

berserakan di tepi pantai, menumpuk dan menggunung (Tulungen et al., 2002).

3. Predator alami.

Ancaman alami lain yaitu ledakan hewan bintang laut berduri atau Acanthaster

plancii. Serangan dari hewan ini bisa mengakibatkan kematian karang keras

mencapai 50 - 90% (Sorokin, 1993). Kematian karang yang tejadi karena

Acanthaster plancii menlakan polip karang yang dilewatinya, sehingga yang

tersisa hanya terumbu. Menurut Tulungen et al. (2002), serangan Acanthaster

plancii mengakibatkan karang mati di tempat-tempat tertentu secara lokal dan

pada saat tejadi pemangsaan yang luas oleh hewan ini maka kematian dan

kerusakan karang akan terjadi dalam skala yang besar. Menurut Supriharyono

(2000), bintang laut berduri (Acanthasterplanci) sebagai contoh predator

karang yang cukup terkenal sebagai perusak karang terutama di daerah Indo-

Pasifik. Selain Acanthasterplanci, beberapa jenis hewan lainnya seperti

gastropods Drupella rugosa, bulu babi (terutama Echinometra mathaei,

Diadema setosum dan Tripneustes gratilla), dan beberapa jenis ikan karang

(26)

kaka tua (Scarrus spp), kepe-kepe (Chaetodon spp). Menurut Glynn et al.

(1972) in Supriharyono (2000), ikan-ikan yang umumnya sebagai predator

karang adalah species Scarruspenico, Scarrus ghobban, Scarrus

ruhroviolaceus, Arothron meleagris, Arothron hispidus dan Stiflamen verres.

2.7. Fungsi dan manfaat terumbu karang

Terumbu karang mempunyai fungsi dan manfaat serta arti yang amat penting

bagi kehidupan manusia baik segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan

pariwisata. Fungsi dan manfaat serta arti terumbu karang adalah:

1. Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan,

hewan dan tumbuhan.

2. Sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi.

3. Sebagai laboratorium dam untuk pendidikan dan penelitian kelautan.

4. Temmbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam

punah seperti kima raksasa dan penyu laut.

5. Sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras

dapat meredam gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan

mencegah rusaknya ekosistem pantai lain seperti padang lan~un dan magrove.

6. Terumbu karang merupakan surnber perikanan yang cukup tinggi. Sebanyak

132 jenis ikan yang bemilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup

di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor.

Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3

-

10 ton ikan Per kilometer Persegi

Ykrtahua.

7. Kkindahan ttxxinibu karang sangat potensial untuk wisata bahari. Miisyarakat

(27)

pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatan mereka

bertambah.

8. Terumbu karang potensi lnasa depan untuk sumber lapangan ke rja bagi rakyat

Indonesia.

9. Terumbu karang dapat dijadikan bahan bangunan. Menurut Supriharyono

(2000), batu-batu karang mati banyak ditambang dari terumhu karang untuk

bahan produksi kapur (misalnya Sri Langka, Mauritius, Indonesia, India dan

Filipina), hahan bangunan sebagai pengganti batu bata (misalnya Maldives,

Indonesia dan India), untuk kontruksi (misalnya Seychelles, India dan

Indonesia), untuk produksi kalsium karbonat dan untuk penahan gelombang

(piers, groynes dan seawalls). Pasir dari karang juga banyak ditambang untuk

produksi kapur untuk pertanian dan bahan campuran pembuat semen.

Demikian pula banyak batu-batu karang yang digunakan untuk keperluan

reklamasi pantai. Pemanfaatan batu karang untuk bahan bangunan biasanya

dilakukan oleh masyarakat pantai, terutama mereka yang tinggal di pulau-

pulau terpencil yang jauh dari pusat perkotaan.

Terumbu karang dapat dimanfmtkan secara langsung sebagai tempat

penangkapan berbagai jenis biota laut konsumsi dan berbagai jenis ikan hias.

Pemanfaatan secara tidak langsung tenunbu karang dapat digunakan sebagai

bahan bangunan, bahan perhiasan dan bahan baku farmasi (Suharsono, 1998).

2.8. Bentuk pertumbuhan karang

Kategori dan kode bentuk pertumbuhan (lifefornt) (English et al., 1994), dapat

(28)

Tabel 1. Kategori karang

Hard Coral :

Dead Coral

Dead Coral wilh Algae

Acropora Branching Encrusting

I

Submassive

I

Digitate

keras dan penyusun substrat dasar (English et al., 1994).

Kode

1

Keterangan

HC DC DCA ACB ACE ACS ACD

Karang yang baru mati, berwarna putih. Karang mati yang masih tanlpak bentuknya, tapi sudah muIai diturnbuhi alga halus. Bentuknya bercabang seperti ranting pohon.

Bentuk merayap, biasanya pada Acropora

yang b e l m sempurna.

Percabangan bentuk gadallempeng dan kokoh. Bentuk percabangan rapat dengan cabang Bentuk seperti jari-jari tangan.

Non Acropora Branching Encrusting Tabular Foliose Massive Submassive Mushroom Millepora ACT CS CMR CME

Bentuk bercabang dengan arah nlendatar, rata, bentuk seperti meja.

CHL

Bentuk bercabang seperti ranting pohon. Bentuk merayap, hampir seluruh bagian menempel pada substrat.

Bentuk menyerupai lembaran daun. Bentuk seperti batu besar yang padat dan bentuk kompak.

Bentuk kokoh dengan tonjolan-tonjolan kecil. Soliter, bentuk seperti jamur.

1

Adanya warna kuning di ujung koloni dan rasa

panas terbakar bila tersentuh.

I Adanya warna biru pada skeletonnya.

I I

Abiotik :

Sand Rzibble

Water

[image:28.530.58.478.53.759.2]
(29)

Berdasarkan bent& pertumbuhannya, karang batu terbagi atas karang

Acropora dan Non Acropora Fnglish el aL, 1994). Karang Acropora adalah karang yang ciri umumnya memiliki aksial koralit dan radial koralit. Berdasarkan

pertumbuhannya, terdapat dua kelompok karang yang berbeda, yaitu hennatipik

dan ahermatipik. Karang hermatipik dapat menghasilkan terumbu sedangkan

karang ahermatipik tidak dapat menghasilkan terumbu. Karang ahermatipik

tersebar diseluruh dunia sedangkan karang hermatipik hanya terdapat pada daerah

tropis. Perbedaan mencolok antara kedua karang ini adalah di dalam jaringan

karang hermatipik terdapat sel-sel tumbuhan bersimbiosis yang dinamakan

Zooxanthellae, sedangkan karang ahermatipik tidak. Karang hermatipik merupakan kelompok yang dominan di dalam pembentukan dan pemeliharaan

terumbu (Nybakken, 1992).

Peranan Zooxanthellae dalam kalsifikasi sangat penting. Jika Zooxanthellae

dicegah untuk tidak melakukan fotosintesis atau dipindahkan dari jaringan kamng

maka reaksi pertumbuhan CaCO3 rnenjadi sangat lambat. Koloni karang dengan

Zooxanthellae masih dapat inengadakan kalsifikasi yang lebih cepat di dalam

keadaan gelap dari pada koloni tanpa Zooxanthellae dalarn keadaan ada cahaya

(Suharsono, 1984). Peranan Zooxanthellae didalam mekanisme kalsifikasi adalah

nlemindahkan hasil buangan yang dillasilkan oleh karang seperti COz, nitrogen,

fosfor dan sulfur. Dengan adanya proses pemindahan zat-zat ini, kecepatan

metabolisme karang rneningkat (Suharsono, 1984).

Karang memiliki sifat yang sangat unik, yaitu peryaduan antara sifat hewan

dan tumbuhan,

arah

pertumbuhannya selalu bersifat fototropik, yaitu selalu
(30)

bahwa karang yang roboh akan membentuk tunas baru yang menuju ke atas.

Begitu pula karang yang tumbuh pada subtrat miring atau tegak maka

pertumbuhannya akan menuju ke atas (Suharsono, 1984).

1,aju pertumbuhan pada koloni-koloni karang dapat berbeda satu sama lainya.

Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan spesies, unlur koloni, dan daerah

suatu terumbu. Koloni yang muda dan kecil cenderung untuk tumbuh lebih cepat

dari pada koloni yang lebih tua (Nybakken, 1992).

Menurut Suharsono (1984), bentuk pertumbuhan karang bervariasi baik

individu maupun koloni. Suatu jenis karang dari marga yang sarnadapat memiliki

bentuk pertumbuhan yang berbeda. Keanekaragaman morfologi koloni karang

dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, pola sirkulasi massa air, ketersediaan

bahan makanan dan faktor genetik.

Adanya perbedaan perturnbuhan pada karang menyebabkan terjadinya

morfologi yang berbeda-beda. Faktor genetik bertanggung jawab terhadap

keragaman morfologi koloni, tetapi diduga bahwa pengaruh lingkungan

mempunyai andil yang lebih besar dalam mempengaruhi keragaman bentuk

koloni karang (Foster, 1980 in Suharsono, 1984).

Bentuk pemimbuhan dari spesies karang juga bervariasi, bergantung pada

lokasi karang. Gerakan gelombang cenderung memaksa spesies bercabang

mempunyai cabang yang lebih pendek dan tumpul, dan

arus

menyebabkan bentuk

cabang mempunyai penyesuaian arah tertentu (Nybakken, 1992).

2.9. Deskripsi ikan karang

Ikan karang merupakan organisme laut tropis yang sangat banyak dan dapat

(31)

dengan terumbu karang yang disebut dengan ikan karang. Ikan karang ini

merupakan penyokong yang ada dalarn ekosistem terurnbu karang (Nybakken,

1992).

Menurut Sale (1991), yang dimaksud dengan ikan karang adalah ikan-ikan

yang hidup pada daerah tenunbu karang sejak dari masa juvenil hingga dewasa.

Biota yang hidup di daerah terumbu karang merupakan suatu komunitas yang

berasal dari kumpulan berbagai organisme, dimana masing-masing organisme ini

mempunyai ketergantungan yang erat satu sama lainnya (Sukarno et al., 1983).

2.9.1. lnteraksi antara terumbu karang dan ikan karang

Interaksi yang te rjadi antara ekosistem tenunbu karang dan ikan karang

(Nybakken, 1992) adalah:

1. Pemangsaan dimana dua kelompok ikan secara aktif memakan koloni karang,

seperti ikan pakol (Balistidae), ikan kuli pasir (Monacanthidae), ikan buntal

(Tetraodontidae), ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) dan sekelonlpok omnivora

yang meniindahkan polip karang untuk mendapatkan alga di dalarn kerangka

karang atau berbagai invertebrata yang hidup dalarn lubang karang.

2. Grazing, dilakukan oleh sekelompok ikan-ikan famili Siganidae,

Pomacentridae, Acanthuridae dan Scaridae yang merupakan herbivor g a z e r

pemakan alga sehingga pertumbuhan alga yang bersaing ruang hidup dengan

karang dapat terkendali.

2.9.2 Kelompok ikan karang

Menurut Adrim (1993), bahwa ikan karang dapat dibedakan menjadi tiga

(32)

1. lkan target yaitu ikan yang dapat disebut juga sebagai ikan konsumsi. Ikan yang dikenal oleh nelayan dan sering dilnanfaatkan seperti Seiranidae,

Lutjanidae, Lethrinidae, Haemulidae.

2. lkan indikator yaitu ikan yang digunakan sebagai indikator perairan terumbu

karang yaitu jenis Chaetodonidae.

3. Ikan mayor yaitu ikan yang belum diketahui perananya kecuali dalam rantai

(33)

3.

BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 hingga 28 April 2007 bertempat di

perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Pengambilan data terumbu karang dan ikan karang dilakukan pada dua lokasi

yang berbeda yakni di daerah pelabuhan yang berada di Pulau Kelapa dan Pulau

Harapan, serta di daerah non pelabuhan yang merupakan daerah pembanding dari

daerah pelabuhan tersebut. Daerah pelabuhan yang terdapat di Pulau Kelapa

bejumlah tiga dermaga yakni dermaga utara Pulau Kelapa, dermaga barat Pulau

Kelapa dan dermaga selatan Pulau Kelapa, sedangkan pelabuhan yang berada di

Pulau Harapan hanya berjumlah satu dermaga yakni dermaga Pulau Harapan.

Pengambilan data terumbu karang dan ikan karang di daerah non pelabuharr

dilakukan di sebelah barat Pulau Kelapa dan sebelah timur Pulau Harapan yang

merupakan daerah pembanding kondisi terumbu karang dari daerah pelabuhan.

Posisi daerah pengambilan data di daerah Pulau Kelapa dan Pulau Harapan dapa$

(34)
[image:34.797.109.668.73.427.2]

'Pete Rupa Bumi Digital Indonest8 Skala 1 25.000 Pulau Pramuka

(35)

3.2. Alat dan bahan

Peralatan yang digunakan untuk pengamatan dan pengambilan data terumbu

karang dan ikan karang di tabulasikan pada Tabel

2.

Tabel 2. Alat dan bahan vang. diwnakan dalam penelitian

1

3

]

Sabak bawah air

1

mencatat data

1

No.

1

2

1

4

1

Alat tulis

I

mencatat data

1

1

5

1

Underwater camera

1

mengambil gambar sampel

1

Alat

Alat SCUBA diving

Roll meter

Kegunaan

/

membantu dalam penyeiaman

mengukur panjang transek

Perlengkapan tambahan dalam pengamatan terumbu karang yaitu buku

identifikasi karang (Veron, 1986) dan buku ikan karang (Kuiter, 1992), yang

merupakan buku identifikasi pengambilan data secara visual.

-

6 Perahu

3.3. Metode pengambilan data 3.3.1. Kualitas air

Kualitas perairan dapat diketahui dengan melakukan pengukuran beberapa

parameter fisika dan kimia yang berpengaruh terhadap terumbu karang.

Pengukuran parameter ini dilakukan pada saat di lapangan dan skala laboratorium

dalam pengukurannya, dapat dilihat pada Tabel 3.

(36)

Tabel 3. Parameter fisika - kimia dan alat serta metode yann diwnakan.

I

Parameter

I

Unit

I

Alat

I

Metode

I

(

Salinitas

I

O/O~

I

Refiaktometer

(

Intensitas matahari

I

. - Suhu

/

Kecerahan

]

m

I

Secchi disk

I

Kekuatan intensitas matahari

I

O

c

Kecepatan m s Termometer air raksa m/s Kedalaman Posisi pH

1

,

,

,

(

mgll

1

Spectrofotor~zeter

(

Dengan metode Brucine

spectrofotomehic

1

-

Berdasarkan tingkat pemuaian

DO

Fosfat

3.3.2. Terumbu karang

Metode yang digunakan untuk pengamatan terumbu karang adalah dengan

metode LIT (Line Intercept Transect), pengambilan data di stasiun pengamatan

dilakukan dengan menggunakan transek garis sepanjang 85 m dengan 3 kali

ulangan sepanjang 25 m yang dilakukan pada dua kedalaman, yakni kedalaman 3

m yang mewakili perairan dangkal dan 10 m yang mewakili perairan yang relatif

dalam. Pemasangan transek diletakkan sejajar dengan garis pantai dan mengikuti

kontur. Pengamatan disetiap stasiun hanya dilakukan satu kali transek.

Metode LIT ini mempunyai beberapa kelebihan antara lain, akurasi data dapat

diperoleh dengan baik, kualitas data lebih baik dan lebii banyak, penyajian

Floating drough, stopwatch m Lintang dan Bujur - Langrangian mg/l mgll Depth gauge GPS Kertas pH (Lakmus)

Jarak permukaan laut ke dasar perairan

Pengukuran pada saat sebelum penyelaman

Menggunakan pH strip

(lnkmzis)

winkler

Spectrofotometer

Dengal menggunakan Titrasi

Winkler

Dengan menggunakan metode

~ ~acid ~ ~ ~ b i ~

[image:36.523.72.471.78.649.2]
(37)

struktur komunitas seperti persentase penutupan karang hidup ataupun karang

mati, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat disajikan secara lebih

menyeluruh serta dapat menyajikan secara baik data struktur komunitas biota

yang berasosiasi dengan terumbu karang (Suharsono, 1994).

Saat pengambilan data, penyelam berenang sepanjang transek dan kemudian

mencatat transisi dalam sentimeter dan karang yang tersinggung oleh transek yang

tepat berada di bawah transek berdasarkan kode pertumbuhan hidupnya (life forin)

disertai dengan keterangan genus (Gambar 4).

Intercept Category

7-1 - 0 I t lifeform 1

T2 - T1 lifeform 2

T3 - T2 1s lifeform i

Tq - T3 14 lifeform 2

[image:37.523.64.467.32.612.2]

T s - T o 1 5 lifofcrrm 1

Gambar 4. Cara pencatatan data koloni karang pada metode transek garis (English et al., 1994).

3.3.3. Ikan karang

Pengambilan data ikan karang dilakukan pada kedalaman yang berbeda yaitu

3 m untuk mewakili daerah dataran terumbu (Reef Flat) dan 10 m yang dianggap

sebagai lereng temmbu (Reef Slope). Pengamatan ini menggunakan metode

sensus visual sepanjang 85 m dengan 3 kali ulangan sepanjang 25 m tiap ulangan.

Batas pengamatan data ikan adalah 2,5

m

ke arah kiri dan ke arah kanan sehingga
(38)

data ikan karang ini adalah dengan mengidentifika5i spesies ikaa yang dijumpai

[image:38.530.80.406.104.380.2]

dan jumlahnya.

Gambar 5. Pengambilan data ikan karang pada metode sensus visual.

3.4. Analisis data

3.4.1. Persentase penutupan karang hidup

Persentase penutupan biota terumbu karang digunakan untuk menghitung

penutupan biota yang dapat ditentukan sebagai berikut (English et al, 1994):

dimana:

L

= Persentase Penutuapan karang (%)

Li

= Panjang Kategori genus ke-i

N

= Panjang Transek

Kondisi penilaian ekosistem terumbu karang berdasarkan persentase

(39)

Tabe,

4.

Kisaran tingkat persentase penutupan k.arang.

I

25 = 49,9

I

Sedang

I

Persentase

penutupan (%)

0 - 24,9

Kisaran B W U ~

3.4.2. Indeks Mortalitas

Indeks mortalits atau indeks kematian digunakan untuk mengetahui tingkat

kematian dari temmbu karang dan merupakan analisis lanjutan dari persen

penutupan (Gomez, 1994 in Edinger et al., 1998), serta memperlihatkan besarnya

perubahan karang hidup menjadi karang mati. Rasio tersebut diketahui melalui

lndeks Mortalitas Karang (XMK) dengan perhitungan:

75 - 100

IMK

=

DC+R

LC+DC+R

Sangat baik

dimana: IMK = Indeks Mortalitas

LC = Penutupan karang hidup

DC = Penutupan karang mati

R

= Rubble (patahan karang)

Nilai indeks mortalitas yang mendekati no1 menunjukkan bahwa tidak ada

p e ~ b a h a n berarti bagi karang hidup, sedangkan nilai yang mendekati satu

menunjukkan bahwa terjadi perubahan berarti dari karang hidup menjadi karang

mati.

Persentase penutupan karang mati terdiri dari DC (Death Coral), DCA (Death.

(40)

3.43. Indeks Keanekaragaman (H'), Keseragaman

(I?)

dan Dominansi (CJ ikan karang.

3.4.3.1. Indeks Keanekaragaman ( H 3

Indeks Keanekaragaman atau keragaman (H? menunjukkan ukuran kekayaan

komunitas dilihat dari jumlah spesies dalam suatu kawasan berikut jumlah

individu dalam setiap spesiesnya (Krebs, 1989). Indeks keanekaragaman

menyatakan keadaan populasi organisme secara matematis agar mempemudah

dalam menganalisa informasi jumlah individu masing-nlasing spesies ikan dalam

suatu komunitas habitat ikan dengan mmus :

dimana:

ff'

= indeks keanekaragaman

S

= jumlah spesies ikan karang

pi

= proporsi jumah individu pada spesies ikan karang

Logaritma natural (in) digunakan untuk komunitas ikan karena ikan

mempakan biota yang aktif bergerak, memiliki kelimpahan relatif tinggi dan

preferensi habitat tertenb.

3.4.3.2. Indeks Keseragaman (Q

Mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman populasi

(E), yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas.

Keseragaman populasi dinyatakan sebagai perbandingan antara keragaman

dengan keseragaman maksimum. Perhitungan keseragaman ( E ) adalah sebagai

(41)

E

=

H'

.

. .

.

. . .

. .

.

. .

. . .

.

. . .

. . .

. . . .

. .

. . . .

.

. .

.

. .

. . .

.

. .

.

. .

.

.

.

.

.

.

. . .

. .

.

H

max

(4)

dimana :

E

= Indeks keseragaman

H'

= lndeks keanekaragaman

H

max

= Xndeks keanekaragaman maksimum (In S)

Nilai indeks berkisar antara 0 - 1 dengall kriteria sebagai berikut:

E

i

0,4 : Keseragaman kecil, komunitas tertekan

0,4 < E 5 0,6 : Keseragaman sedang, komunitas labil

E > 0,6 : Keseragaman tinggi, komunitas stabil

3.4.3.3. Indeks dominansi (C)

Menghitwig indeks doiiiinarisi suatu ikan karfig diguriakw indeks dominansi

Simpson (Odum, 1993), dengan rumus :

diiana:

C

= Indeks dominansi

= perbandingan antara jumlah individu ikan karang spesies

ke-i (ni) dengan jurnlah individu ikan karang (N)

Indeks dnminansi berkisar antara 0 -

I,

apabila nilai mendekati

I

maka ada

kecenderungan satu individu mendominasi yang lainnya, dengan kriteria :

0,OO < C

i

0,30 : Dominansi rendah

0,30 < C 5 0,60 : Dominansi sedang

(42)

4.

E4SIL

DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran umum terumbu karang di daerah pengamatan

Komponen penyuswi ekosistem terumbu karang yang ditemukan di perairan

Pulau Kelapa dan Pulau Harapan terdiri dari komponen biotik dan komponen

abiotik. Komponen biotik terdiri dari Acropora, Non Acropora, alga dan fauna

lain sedangkan komponen abiotik terdiri dari karang mati, pasir, serakan karang,

lunlpur, air dan batu.

Keadaan terumbu karang di perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan

kondisinya banyak dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Aktifitas manusia yang

berpengaruh negatif antara lain kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan

bahan kimia beracun, pembuangan sauh (jangkar) kapal, pembuangan bahan bakar

kapal ke laut dan pembuangan limbah rumah tangga ke perairan.

1.2. Kondisi perairau Pulau Kelapa

Pada penelitian ini parameter fisika dan kimia perairan diambil pada dua

daerah, yaitu daerah pelabuhan clan daerah non pelabuhan. Nilai kualitas air yang

didapatkan pada kedua daerah tersebut secara umum masih dalam kisaran normal

yang menunjang dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup terumbu karang,

kecuali nilai nitrat yang masili di atas baku mutu perairan

Hasil pengukuran beberapa parameter fisika dan parameter kimia perairan

(43)

Tabel 5. Paranleter fisika dan kimia di stasiun pengamatan. Daerah Lokasi Pelabuhan Kedalaman

(m)

Kecerahan (m) Kec. dan

arah h s

/-

,-,

Non Pelabuhan Dermaga utara P.Kelapa (Stasiun 1) Suhu ("C)

Salinitas (%o)

PH

D o (mdl)

Fosfat(md1) Nitrat(mgl1) Dermaga barat P.Kelapa (Stasiun 2) 2,47 31,O 31,O 8,OO 7,6 <0,001 <0,001 10 5,70 Dermaga selatan P.Kelapa (Stasiun 4) 3 3,OO 0,05 Barat 29,5 32,O 8,OO 7,6 <0,001 0,370 10 4,lO Dermaga Pulau Harapan (Stasiun 6) 3 3,OO 0,08 Barat 30,5 32,O 8,OO 6,8 <0,001 0,270 10 4,20 Barat P.Kelapa (Stasiun 3) 0,12 Timur 3 3,OO 29,O 33,O 8,OO 8,O <0,001 0,260

[image:43.797.52.741.109.477.2]
(44)

4.2.1. Suhu

Nilai Suhu dari hasil pengukuran berkisar antara 28,O"C hingga 31,O"C. Suhu

rata-rata dari selumh stasiun pengamatan adalah 29,5'C dengan kisaran 28,O

-

31,O"C yang menunjukkan suhu di perairan Pulau Kelapa. Kehidupan dan

pertumbuhan terumbu karang ditentukan oleh kondisi suhu perairan sekitamya.

Wewan karang biasanya tumbuh pada suhu 18,O"C hingga 36,O"C dengan

pertumbul~an optimum berkisar antara 26,0°C hingga 28,O'C (Sukarno et al.,

1983).

4.2.2. Salinitas

Hasil pengamatan nilai salinitas berkisar antara 30,0960 hingga 33,0%0.

Salinitas rata-rata dari selumh stasiun pengamatan adalah 32,0%0. Pertumbuhan

terumbu karang dipengaruhi oleh kondisi perairan di sekitarnya, salah satunya

adalah salinitas perairan.

Kondisi salinitas yang baik untuk pertumbuhan temmbu karang berkisar

antara 30,O-35,0%0. Nilai salinitas yang diperoleh pada stasiun pengamatan masih

menunjukkan kisaran yang normal untuk pertumbuhan karang hermatipik yaitu

berkisar antara 32,O-35,0960 (Nybakken, 1992). Pengamh salinitas terhadap

karang sangat bervariasi tergantung pada kondisi perairan air laut dan p e n g a d

alam setempat seperti masukan air sungai, badai, hujan, sehingga kisaran saiinitas

bisa sampai 17,5 - 52,596 (Vaughan, 1919; Wells, 1932 in Supriharyono, 2000)-

4.2.3. Kecepatan arus

Kecepatan arus di lokasi pengamatan berkisar antara 0,04-0,12 d s .

(45)

terendah terdapat di dermaga Pulau Harapan sebesar 0,04 m/s ke arah barat dan

nilai tertinggi terdapat di dermaga selatan Pulau Kelapa sebesar 0,12 m/s ke arah

timw.

Kecepatan arus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

perkembangan dan pertumbuhan terumbu karang. Adanya arus akan memberikan

oksigen dalam air, menghalangi pengendapan sedimen pada koloni karang dan

dapat memberikan makanan bagi terumbu karang (Nybakken, 1992).

4.2.4. Kecerahan

Tiugkat kecerahan pada kedalaman 3 meter pada semua stasiuu berkisar antara

2,47 meter hingga 3,00 meter, dengan rata-rata 2,91 meter. Nilai terendalr

terdapat di dermaga utara Pulau Kelapa sebesar 2,47 meter. Pada kedalaman 10

meter tingkat kecerahan berkisar antara 4,10 meter hingga 7,50 meter, dengan

rata-rata 5,20 meter. Nilai terendah terdapat di dermaga barat Pulau Kelapa

sebesar 4,10 meter dan nilai tertinggi terdapat di timw Pulau Harapan sebesar

7,50 meter.

Intensitas cahaya didapat dari tingkat kecerahan, cahaya sangat dibutuhkan

zooxanthellae untuk melakukan fotosintesis, yang dapat membantu koral untuk

membentuk terumbu. Titik kompensasi karang adalah pada kedalaman dimana

intensitas cahaya 15,O - 30,0% dari intensitas perrnukaan (Nybakken, 1992).

4.2.5. Derajat keasaman

@m

Nilai pH pada lokasi pengamatan bernilai sama sebesar 8,00 pada semua

stasiun. Derajat keasaman

OH)

merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan
(46)

perkembangan terumbu karang yaitu pada pH 8,20 - 8,50 (Tomascik et al.,

1997).

Berdasarkan hasil pengamatan nilai pH berada pada batas normal sehingga

dapat dikatakan batas normal yang layak untuk pertumbuhan dan perkembangan

terumbu karang.

4.2.6. Oksigen terlarut (DO)

Oksigen terlarut (DO) yang diperoleh pada semua stasiun pengamatan berkisar

antara 5,2 mg/l - 8,O mgll. Nilai DO tertinggi terdapat pada dermaga barat Pulau

Kelapa dan dermaga selatan Pulau Kelapa sebesar 8;0 mgll di kedalaman 10 meter

dan nilai terendah terdapat pada barat Pulau Kelapa dan dem~aga Pulau Harapan

sebesar 5,2 mgli di kedalaman 3 meter.

Batas normal oksigen terlarut (DO) dari pertumbuhan dan perkembangan

hewan karang addah >4,0 mgll, sedangkan kondisi optimal untuk pertumbuhan

dan perkembangan hewan karang adalah >6,0 mg/l.

4.2.7. Fosfat

Nilai fosfat yang terukur dari semua stasiun bernilai sangat kecil yakni bemilai

minus dapat dikatakan nilainya adalah <0,001 mg/l dengan nilai baku mutu 0,015

mg/l, ha1 ini menunjukkan bahwa nilai fosfat yang didapatkan tergolong rendah.

Nilai fosfat yang terukur sangat kecil, ha1 ini diduga karena adanya kerusakan

(47)

4.2.8. Nitrat

Nilai nitrat yang terukur berkisar antara <0,001 mg/l hingga 0,370 mg/l

dengan nilai baku mutu sebesar 0,008 mg/l, ha1 ini menandakan kandungan nitrat

di perairan termasuk kategori cukup tinggi.

Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran

antropogenik yang berasal dari aktifitas manusia, kadar nitrat nitrogen yang lebih

dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutroJikasi (pengayaan) perairan

yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat

(Effendi, 2003).

4.3. Kondisi penutupan snbtrat dasar dan ikan karang 4.3.1. Indeks mortalitas karang

Kondisi terumbu karang dapat dikatakan memiliki rasio kematian yang tinggi

atau memiliki tingkat kesehatan yang rendah jika nilai indeks mortalitas karang

[image:47.523.68.437.217.754.2]

(IMK) mendekati satu ( English et al., 1994 ).

Gambar 6. Histogram indeks mortalitas karang.

Nilai indeks mortalitas pada semua stasiun berkisar antara 0,3 1 hingga 0,87,

(48)

sebesar 0,31 dan nilai indeks mortalitas tertinggi terdapat di daerah dermaga utara

Pulau Kelapa sebesar 0,87. Hal ini menunjukkan bahwa daerah pelabuhan

memiliki tingkat kematian tenunbu karang lebih tinggi dibanding kan dengan

daerah non pelabuhan.

Daerah timw Pulau Harapan merupakan daerah yang sangat jarang mendapat

tekanan dari aktifitas manusia yang dapat mengganggu ekosistem terumbu karang

sehingga tingkat kematian di daerah ini tergolong kecil, berbeda dengan daerah

dermaga utara Pulau Kelapa yang merupakan daerah pelabuhan dimana aktifitas

manusia sangat sering terjadi sehingga ekosistem terumbu karang dapat terganggu

bahkan mengakibatkan kematian.

Tingginya tingkat kematian dibeberapa stasiun pengamatan dikarenakan oleb

pengaruh dari kondisi perairan, seperti terjadinya proses sedimentasi, kurangnya

masukan oksigen air laut, banyaknya kandungan nutrien dalan~ perairan serta

pengaruh fisik dari aktifitas nelayan dan masyarakat sekitar, seperti penangkapan

ikan dengan zat beracun, penanbangan batu karang dan pasir, pembuangan

jangkar (sauh), turnpahan bahan bakar kapal dan pembuangan limbah rurnah

tawzga

4.3.2. Dermaga utara Pulau Kelapa (Stasiun 1)

Lokasi dermaga utara Pulau Kelapa merupakan lokasi yang diperuntukan

untuk pelabuhan kapal-kapal nelayan. Aktifitas nelayan sangat mempengaruhi

perhunbuhan dan perkenibangan terumbu karang di lokasi ini, selain mendapat

pengaruh dari aktifitas nelayan di lokasi ini juga mendapat ancaman dari kegiatan

(49)

dapat merusak ekosistem terumbu karang, ha1 ini disebabkan karena tubir tidak

jauh dari pesisir pantai.

Hasil pengamatan menunjukkan persentase penutupan karang keras (HC)

lebih rendah dibanding persentase penutupan karang yang telah ditumbuhi alga

(DCA) dan patahan karang (R). Penutupan karang batu pada kedalaman 3 meter

bernilai 17,83 % lebih rendah dari penutupan karang yang telah ditumbuhi alga

sebesar 23,55% dan patallan k m g (R) sebesar 55,400/.

I

I

i

. . . ..

HOHo~dComl, DCA=Dead Comldlgae, DC=DeodCorol, Ol'=Ofhcr, S = W

[image:49.530.53.442.26.615.2]

SWSpongc, U=firbble, MAAhI(rvo A l p , TA=TqfAAlgo(rc, S e So$ Coml

i

Gambar

7.

Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah

demaga utara Pulau Kelapa (Stasiun 1).

Pada kedalaman 10 meter penutupan karang keras bernilai 10,85%, kai-ang

yang telah ditumbuhi alga @CA) sebesar 66,39% dan patahan karang (R) sebesar

5,16%. Komposisi lain seperti pasir, sponge dan other juga ditemukan pada

lokasi ini, dengan persentase masing-masing di kedalaman 3 meter sebesar 7,48%

pasir (S), 0,82% sponge (SP) dan 0,56% other (OT), dan pada kedalaman 10

meter sebesar 17,53% pasir (S), 0,12% sponge (SP) dan 5,20% other (OT).

(50)

dapat digolongkan bahwa kondisi terumbu karang di lokasi ini dalam kondisi

b d(0-24,9%).

Persentase penutupan karang yang telah ditumbuhi alga @CA) lebih besar

dibanding penutupan karang keras, ha1 ini didukung dengan tingginya kadar nitrat

yang berkisar antara <0,001 mg/l hiigga 0,37 mgll dimana tingginya kadar nitrat

dapat memicu pertumbuhan alga yang sangat pesat serta tingkat kecerahan yang

kurang dapat menghambat pertumbuhan karang keras, di daerah ini juga

menunjukkan bahwa kematian karang te jadi pada waktu yang telah lama

sehiigga alga sudah dapat beradaptasi pada tipe subtrat karang mati. Hal ini

didukung dengan nilai indeks mortalitas karang pada lokasi ini yang bernilai 0,82

pada kedalaman 3 meter dan 0,87 pada kedalaman 10 meter. Kondisi tenunbu

karang dikatakan memiliki rasio kematian yang tinggi atau memiliki kesehatan

yang rendah jika nilai indeks mortalitasnya mendekati satu (English et al., 1994).

Hal ini juga bisa terjadi karena banyak nutrien tersedimentasi di daerah ini yang

dapat mendukung pesatnya pertumbuhan alga.

Tingginya tingkat kematian terumbu karang di daerah ini didukung oleh

banyaknya nelayan yang membuang minyak ke laut. Turnpahan minyak bail;

kecelakaan kapal di laut, kebocoran pipa penyalur minyak atau tumpahan ketika

pengisian bahan bakar kapal dapat mengganggu kesehatan karang. Banyak

penelitian membuktikan bahwa turnpahan minyak tersebut dapat mematikm

karang, walaupun beberapa spesies di antaranya mungkin ada yang tahan terhadap

minyak (Johannes et al., 1972 dan Spooner, 1970 in Supriharyono, 2000).

Komposisi bentuk pertumbuhan karang keras di lokasi ini didominasi oleh

(51)

pertumbuhan karang yang umumnya karang kompak menandakan bahwa lokasi

ini mendapat pengaruh pengntsakan yang sangat besar dari aktifitas nelayan dan

masyarakat di sekitar, karena bentuk pertumbuhan karang kompak lebih memiliki

toleransi pertumbuhan yang lebih kuat dibanding dengan bentuk pertumbuhan

karang yalg lain. Jenis genus karang keras (HC) yang umum ditemukan pada

stasiun ini diantaranya terdiri dari Porites, Hydnopora, Montipora, Favites,

Pectinia, Lobophylia, Pavona, Fuvia, Plutygvra dan Sympylia. Secara umum

kondisi terumbu karang pada daerah dermaga utara Pulau Kelapa (Stasiun 1)

dapat dilihat pada Lampiran 4.

Kelimpahan ikan karang yang ditemukan di daerah dermaga utara Pulau

Kelapa sebanyak 406 ind/m2 dengan nilai indek keanekaragaman (H') sebesar

1,33 (3 m) dan 2,35 (10 m), nilai keseragaman

(4

sebesar 0,93 (3 m) dan 0,87 (10

m) sedangkan nilai dominiu~si (C) sebesar 0,27 (3 m) dan 0,13 (1 0 m).

Jenis ikan yang mendominasi di daerah ini adalah Pomacentrus alexanderaa

dari farnili Pomacentridae, Scarus dimidiatus dan Scarus globiceps dari famili

Scaridae dan Apogon compressus dari farnili Apogonidae. Ikan dari famili

Pomacentridae merupakan jenis ikan herbivor pemakan alga bahkan dapai

memakan invertebrata kecil (Sale, 1991).

4.3.3. Dermaga barat Pulau Kelapa (Stasiun 2)

Pengamatan pada lokasi ini dilakukan di sebelah barat dermaga, dermaga ini

be&ngsi selain untuk aktifitas nelayan juga untuk tempat pelabuhan kapal-kapal

penumpang.

Persentase penutupan karang keras (HC) pada lokasi ini bernilai 13,56% pada

(52)

kondisi penutupan terumbu k m g pada lokasi ini termasuk dalam kondisi buruk

pada kedalanlan 3m dan 10 m (Gomez dan Yap, 1988), karena lokasi ini

mendapat pengaruh negatif yang sangat besar dari aktifitas nelayan dan

masyarakat sekitar bagi perturnbuhan dan perkembangan terumbu karang.

HC=Hnrd Cord, DCA=Dead Coroldlgoe, DC=DeadComl, OT=Othcr, +Sand

SP=S~orzxe. R=Rubblc. bfA=b4ano Alnoe. TA=TurfAlaop. SC= Sofi Coral

Ganbar 8. Histogram persentase penutupan subtrat dasar di daerah dermaga barat Pulau Kelapa (Stasiun 2).

Persentase penutupan karang yang telah ditumbuhi alga (DCA) di stasiun ini

umumnya bernilai lebih besar daripada penutupan karang keras, penutupan karang

yang telah ditumbuhi alga (DCA) pada kedalaman 3 meter bernilai 38,57% dan

pada kedalaman 10 meter bernilai 41,55%. Selain karang keras dan karang mati

yang telah ditumbuhi alga, di lokasi ini ditemukan juga penutupan pasir (S)

sebesar 26,84% (3 m) dan 40,17% (1 0 m), penutupatl pataban karang (R) sebesar

6,96% (3 m) dan 20,OO % (10 m), sponge (SP) sebesar 0,28% (3 m) dan 3,58%

(10 m), other (OT) sebesar 0,60% (3 m) dan 0,72% (10 m).

Tingginya persentase penutupan karatlg mati yang telah ditumbuhi alga

(53)

tekanan yang cukup serius dari aktifitas manusia (antropogenik). Dilihat dari

parameter perairan yang terukur, pada daerah ini masih dalam kriteria yang

kurang mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang, dapat

dilihat dengan tingginya kadar nitrat yang berkisar antara 0,26 mg/l hingga 0,27

mg/l dimana dapat mendukung pertumbuhan alga. Hal ini didukung oleh indeks

mortalitas karang yang cukup besar yakni sebesar 0,77 pada kedalaman 3 meter

dan sebesar 0,87 pada kedalaman 10 meter. Persentase penutupan karang batu

yang bemilai kecil disebabkan persentase abiotik di daerah ini seperti pasir

memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan hewan karang menjadi lebih

kecil. Bentuk pertumbuhan karang keras di daerah ini didominasi oleh karang

yang memiliki tipe pertumbuhan yang kompak (Coral Massive).

Jenis genus karang batu (HC) yang umum ditemukan pada stasiun ini

diantaranya terdiri dari Porites, Pavona, Echinopora, Fungia, Chypastrea,

Montipora, Favites, Pectinia, Lobophylia, Favia. Secara umum kondisi terumbu

karang pada daerah dermaga barat Pulau Kelapa (Stasiun 2) dapat dilihat pada

Lampiran 4.

Jenis ikan karang yang ditemukan pada daerah ini didominasi oleh spesies

Pomacentrus alexanderae, Chromis atripectoralis dan Chromis lepidolepis dari

famili Pomacentridae dan Apogon crysoponus, Apogon compressus dari famili

Apogonidae. Kelimpahan ikan karang yang ditemukan sebanyak 1072 ind/m2

dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,22 (3 m) dan 2,08 (10 m), nilai

keseragaman sebesar 0,76 (3 m) dan 0,70 (10 m) serta nilai dominansi sebesar

(54)

Tingginya penutupan karang mati yang telah ditumbuhi alga memungkinkan

banyaknya jenis ikan dari famili Pomacentridae, ikan karang yang ditemukan

merupakan ikan utama (mayor). Ikan karang ini belum diketahui peranannya

kecuali dalarn rantai makanan (Adrim, 1993).

4.3.4. Barat Pulau Kelapa (Stasiun 3)

Lokasi barat Pulau Kelapa merupakan non pelabuhan yang d i j a d i i

pembanding persentase terumbu karang pada daerah pelabuhan (dermaga utara

Pulau Kelapa, dermaga barat Pulau Kelapa, dermaga selatan Pulau Kelapa dan

dermaga Pulau Harapan).

Terumbu karang akan lebih baik berkembang pada daerah yang bergelombang

dan berarus sedang hingga besar, karena gelombang dan arus akan membawa

nutrien dan oksigen dalam air laut, menghalangi sedimentasi pada koloni karang

[image:54.523.67.434.6.789.2]

dan memberi plankton yang baru untuk makanan koloni karang (Nybakken, 1992)

(55)

Persentase penutupan karang keras (HC) pada lokasi Barat Pulau Kelapa

bernilai 59,92% di kedalaman 3 meter dan 52,33% di kedalaman 10 meter.

Persentase penutupan karang batu di kedalaman 3 meter lebih besar dibanding

kedalam

Gambar

Gambar 1. Struktur polip kerangka karang (Sd~arsono, 1996)
Gambar 2. Formasi terumbu karang. Tahap pembentukan terumbu
Tabel 1. Kategori karang
Gambar 3. Peta lokasi penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Data hasil pengamatan ikan karang dihitung kelil1lpahan, komposisi jenis, Indeks Keanekaragaman (H'), Indeks Keseragaman (E) , Indeks Dominansi (D), regresi kuadratik dan

Bentik (tutupan karang) yang paling dominan ditemukan pada ketiga lokasi adalah karang keras (HC) dengan persentase lebih dari 50% pada setiap lokasi dengan genus yang

Dari hasil pengamatan yang didapatkan kemudian dilakuan perhitungan nilai indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman terumbu karang pada tiap-tiap kedalaman di

Dari hasil pengamatan yang didapatkan kemudian dilakuan perhitungan nilai indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman terumbu karang pada tiap-tiap kedalaman di

Secara umum kondisi ikan berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi pada kedalaman 10 meter lebi11 baik dari kedalaman 3 meter, ha1 ini disebabkan pada kedalaman

Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan nilai indeks keanekaragaman (H’) penutupan karang hidup sebesar 2,607, Dari nilai indeks keanekaragaman terumbu karang tersebut

Kondisi terumbu karang Pulau Kayu Angin Genteng Data hasil pengamatan pada Pulau Kayu Angin Genteng menunjukkan persentase tutupan karang keras tertinggi berada di titik utara sebesar

Kondisi kesehatan terumbu karang di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas termasuk dalam kategori cukup/sedang, dengan persentase rata-rata tutupan karang keras hidup sebesar