PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP KINERJA
KEUANGAN
(Studi Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2006-2007)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI)
Oleh :
Ishaq Bahruni Sinukaban NIM : 105046101557
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Jakarta, 06 November 2009
PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP KINERJA
KEUANGAN
(Studi Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2006-2007)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi Islam (SEI)
Oleh :
Ishaq Bahruni Sinukaban
NIM : 105046101557
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. H. Yayan Sofyan, M.Ag Indoyama Nasarudin, SE, MAB
NIP. 150277991 NIP. 19741127 200212 1 002
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP KINERJA
KEUANGAN (Studi Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2006-2007) telah diujikan dalam siding Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 25 Nopember 2009. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI) pada Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam).
Jakarta, 21 Desember 2009
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Prof.Dr.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM
NIP. 19550505 198203 1 012
PANITIA UJIAN
Ketua :Dr. Euis Amalia, M.Ag (….…………...)
NIP. 19710701 199803 2 002
Sekretaris :H. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, MH (………….…...)
NIP. 19740725 200112 1 001
Pembimbing I :Dr. H. Yayan Sopyan, M.Ag (………….…...)
NIP. 150277991
Pembimbing II :Indoyama Nasarudin, SE, MAB (………….…...)
NIP. 19741127 200212 1 002
Penguji I :Drs. Noryamin Aini, M.A (………... …)
NIP. 19630305 199103 1 002
ABSTRAKSI
Ishaq Bahruni Sinukaban. Pengaruh Modal Kerja terhadap Kinerja Keuangan (Studi Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index), Skripsi, Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam), Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Modal kerja merupakan dana yang dipergunakan oleh perusahaan untuk melangsungkan kegiatan operasi sehari-hari. Untuk mengetahui berapa jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan, manajer melakukan analisis terhadap modal kerjanya yang didasarkan kepada informasi atau laporan keuangan perusahaan, kemudian dikaitkan dengan kinerja keuangan yang diukur dengan penilaian analisis rasio keuangan. Debt to Equity Ratio (DER) termasuk bagian dari rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menganalisis jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Seluruh perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index Bursa Efek Indonesia merupakan 30 saham yang memenuhi kriteria syariah yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Selain mempertimbangkan aspek-aspek syariah, perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index juga merupakan perusahaan yang dipilih dengan mempertimbangkan aspek likuiditas dan kondisi keuangan. Maka dari itu, pengelolaan modal kerja pada perusahaan sangat memerlukan perhatian khusus. Perusahaan juga berkepentingan untuk menjaga kinerja keuangannya dengan baik terutama Debt to Equity Ratio agar perusahaan mampu untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Untuk itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh modal kerja (current ratio, quick ratio, cash ratio, cash to total asset) terhadap kinerja keuangan (Debt to Equity Ratio) baik secara parsial maupun simultan, bagaimana nilai rata-rata modal kerja perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic
Index tahun 2006-2007 serta mencari variabel yang mempunyai pengaruh paling
dominan terhadap Debt to Equity Ratio (DER).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index dengan pengambilan sampel bersifat purposive sampling. Teknik analisa data menggunakan uji asumsi klasik dan uji statistik dengan program SPSS 12. Hasil yang didapat adalah ada pengaruh antara modal kerja (current ratio, quick ratio, cash ratio, cash to total asset) terhadap kinerja keuangan (Debt to Equity Ratio) secara parsial. Hubungan modal kerja terhadap kinerja keuangan cukup kuat. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja keuangan(Debt to Equity Ratio) adalah quick ratio. Rata-rata perkembangan
current ratio,quick ratio, cash ratio, cash to total asset ratio dan debt to equity ratio
tahun 2006-2007 mengalami kenaikan yaitu current ratio naik 1,06%, quick ratio
naik1,36%, cash ratio naik 1,36%, cash to total asset ratio naik 1,38% dan Debt to
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji dan syukur kepada Allah SWT
Tuhan semesta alam yang telah memberikan segala rahmat, hidayah serta
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dalam rangka memenuhi
persyaratan mencapai gelar Sarjana Ekonomi Islam pada Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sholawat dan salam penulis haturkan kepada penutup segala nabi dan rasul
Muhammad SAW, tauladan dan panutan bagi seluruh umat manusia sampai akhir
zaman.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis sangat terbantu oleh partisipasi dari
banyak pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Atas bantuan,
motivasi serta masukan terhadap penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini,
oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH, MA, MM, selaku Dekan Fakultas Syariah
dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Euis Amalia, M.Ag, selaku Ketua Program Studi Muamalat (Ekonomi
3. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, selaku sekretaris Program Studi Muamalat
(Ekonomi Islam) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
4. Kepada Dr. H. Yayan Sopyan, M.Ag, dan Indoyama Nasarudin, SE, MAB,
selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu untuk
memberikan bimbingan, arahan, ilmu pengetahuan, koreksi serta
saran-sarannya kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini terselesaikan.
5. Kepada Drs. Noryamin Aini, M.A dan Dr. Ir.M. Nadratuzzaman Hosen, Ms,
M.Ec, Ph.D selaku penguji dalam siding Munaqosah skripsi penulis.
6. Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) Bursa Efek Indonesia yang telah
menyediakan data laporan keuangan untuk kelangsungan penelitian ini.
7. Kepada ayah dan bunda tercinta yang telah memberikan dukungan baik moril
maupun materil kepada penulis.
8. Pimpinan serta staff Perpustakaan Utama UIN, Perpustakaan Fakultas Syariah
dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Perpustakaan PDII-LIPI
yang telah membantu penulis dalam melengkapi literatur guna mendukung
penulisan skripsi ini.
9. Seluruh Dosen serta segenap Civitas Akademi Fakultas Syariah dan Hukum
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu yang
10.My Siblings Nur Asiah S.Pd.I, Siti Fatimah SE, Ahmad Syukri dan segenap
keluarga besar baik di Medan maupun Jakarta yang selalu memberikan
motivasi.
11.Untuk semua sahabat, teman-teman KKS dan BAKSOS 2009, IKRH
JABABODETABEK, teman-teman alumni angkatan 2005 RH Islamic
Boarding School Medan, rekan-rekan Prodi Muamalat seangkatan khususnya
teman-teman PS A, dan semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan
satu persatu, terima kasih atas bantuan, saran dan iringan do’anya. Semoga
Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk kalian semua. Amin
Jakarta, 06 November 2009
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan/Manfaat Penelitian
E. Review Studi Terdahulu
F. Kerangka Pemikiran
G. Hipotesis
H. Metode Penelitian
I. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Modal Kerja
1. Pengertian Modal Kerja
3. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
4. Manfaat Modal Kerja
5. Pengendalian Modal Kerja
1. Pentingnya Pengendalian Modal Kerja
2. Komponen Modal Kerja
3. Rasio Modal Kerja
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
C. Kinerja Keuangan
1. Pengukuran Kinerja Keuangan
2. Rasio Keuangan
D. Hubungan Modal Kerja terhadap Kinerja Keuangan
BAB III METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
B. Metode Penarikan Sampel
C. Metode Pengumpulan Data
D. Operasional dan Pengukuran Variabel
E. Metode Analisis Data
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN DAN ANALISA HASIL PENELITIAN
[image:10.595.112.489.137.589.2]B. Gambaran Umum Jakarta Islamic Index
C. Analisa Hasil Penelitian
1. Analisis Deskriptif
2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Heteroskedastisitas
b. Uji Autokorelasi
c. Uji Multikolinearitas
d. Uji Normalitas Data
3. Uji Statistik
a. Persamaan Regresi Berganda
b. Analisis Pengaruh secara Parsial (Uji t)
c. Analisis Pengaruh secara Simultan (Uji F)
d. Uji Koefisien Determinasi
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Rekomendasi
DAFTAR TABEL
1. Tabel 3.1 Perusahaan-perusahaan yang dijadikan sampel penelitian
2. Tabel 3.2 Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi
3. Tabel 4.1 Sejarah Perkembangan Bursa Efek Indonesia
4. Tabel 4.2 Data Current Ratio
5. Tabel 4.3 Data Quick Ratio
6. Tabel 4.4 Data Cash Ratio
7. Tabel 4.5 Data Cash to Total Asset Ratio
8. Tabel 4.6 Data Debt to Equity Ratio
9. Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi
10.Tabel 4.8 Durbin Watson Test Bound
11.Tabel 4.9 Hasil Uji Multikolinearitas
12.Tabel 4.10 Model Regresi Linier Berganda dan Nilai Thitung
DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian
2. Gambar 4.1 Struktur Pasar Modal Indonesia
3. Gambar 4.2 Grafik Perkembangan Current ratio
4. Gambar 4.3 Grafik Perkembangan Quick ratio
5. Gambar 4.4 Grafik Perkembangan Cash ratio
6. Gambar 4.5 Grafik Perkembangan Cash to total assets ratio
7. Gambar 4.6 Grafik Perkembangan Debt to Equity Ratio (DER)
8. Gambar 4.7 Grafik Scatterplot
[image:13.595.111.484.172.558.2]DAFTAR LAMPIRAN
1. Lampiran I Data Keuangan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Jakarta
Islamic Index Bursa Efek Indonesia Tahun 2006 - 2007
2. Lampiran II Hasil Perhitungan Debt to Equity Ratio
3. Lampiran III Hasil Perhitungan Current Ratio
4. Lampiran IV Hasil Perhitungan Quick Ratio
5. Lampiran V Hasil Perhitungan Cash Ratio
6. Lampiran VI Hasil Perhitungan Cash to Total Asset Ratio
7. Lampiran VII Perusahaan yang terdaftar dalam Jakarta Islamic Index (JII)
Periode 2006-2007
8. Lampiran VIII Statistik d Durbin –Watson
9. Lampiran IX Tabel Uji t
[image:14.595.111.509.223.560.2]BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Dengan arus globalisasi, perilaku bisnis pun secara cepat terus berubah.
Berbagai parameter, nilai-nilai untuk memenuhi kepuasan dan selera konsumen
harus terus ditingkatkan. Setiap perusahaan menginginkan bisnisnya tumbuh dan
berkembang secara berkesinambungan. Kondisi demikian mengharuskan pelaku
bisnis bertindak dengan hati-hati dan cermat dalam menentukan strategi
usahanya, dengan tujuan menghindari adanya langkah keliru, dan dapat
mempengaruhi kebijakan yang dapat mengancam kelangsungan hidup
perusahaan.
Sejalan dengan perkembangan manajemen keuangan dalam mencapai
tujuan perusahaan, setiap perusahaan seharusnya dapat memperlihatkan kebijakan
dan keputusan yang akan diambil, terutama dalam hal yang berkaitan dengan
masalah keuangan. Keuangan memegang peranan penting dalam setiap kegiatan
operasi perusahaan, keuangan diibaratkan “urat nadi” perusahaan. Modal adalah
satu diantara faktor terpenting untuk mengoperasikan suatu perusahaan, dan
selalu diperlukan setiap saat. Perusahaan memerlukan dana atau modal yang
digunakan untuk membiayai/membelanjai kegiatan operasional dan investasi
jangka panjang perusahaan. Adapun belanja operasional yang dimaksud adalah
membeli bahan mentah, bahan pembantu, mambayar upah, gaji karyawan dengan
yang telah dikeluarkan beserta labanya, mengingat tujuan perusahaan adalah
untuk memaksimalkan labanya, ini berarti bahwa setiap dana yang ditanam dalam
aktiva harus dapat digunakan seefisien mungkin untuk dapat menghasilkan
tingkat keuntungan yang maksimal serta dapat memenuhi seluruh kewajibannya.
Efisiensi dalam manajemen modal kerja diperlukan untuk menjamin
kelangsungan atau keberhasilan jangka panjang dan untuk mencapai tujuan
perusahaan secara keseluruhan yang dalam hal ini memperbesar kekayaan bagi
para pemilik. Apabila manajer keuangan tidak dapat mengelola modal kerja
perusahaan secara efisien, maka tidak akan ada gunanya untuk
mempertimbangkan keberhasilan dalam jangka panjang. Karena keberhasilan
jangka pendek adalah merupakan prasyarat untuk tercapainya keberhasilan jangka
panjang.1
Peningkatan nilai perusahaan antara lain tercermin dari peningkatan
kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit), maka perusahaan
senantiasa menjaga kecukupan modal kerja secara seimbang dengan kebutuhan
operasionalnya, sehingga perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan baik.
Kesalahan pada pengelolaan modal kerja dapat mengakibatkan kelebihan
atau kekurangan modal kerja, yang merupakan satu diantara penyebab kegagalan
perusahaan.
Modal kerja yang berlebihan akan mengakibatkan inefisiensi terjadi pada
dana yang menganggur dan tidak produktif, yang seharusnya dapat digunakan
pada satu diantara alternatif investasi yang dapat memberikan keuntungan bagi
perusahaan. Sebaliknya dengan modal kerja yang kurang akan mengganggu
kegiatan produksi dan penyediaan jasa, sehingga perusahaan akan mengalami
kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang sudah jatuh tempo, dan
mengganggu kelancaran aktivitas perusahaan, yang dapat mengakibatkan
kerugian perusahaan. Efisiensi penggunaan dana secara langsung akan
menentukan tingkat keuntungan dari investasi, dengan modal kerja yang cukup
besar, belumlah tentu perusahaan memperoleh profit yang cukup tinggi, bila
dengan pengelolaan modal kerjanya yang tidak efisien dan efektif. Sebaliknya
dengan modal kerja yang relative kecil akan ada kemungkinan perusahaan
mendapatkan profit yang tinggi, bila cara mengelola modal kerjanya dilakukan
dengan baik.
Mengingat seluruh perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index
merupakan perusahaan yang cukup besar, yang dipilih dengan
mempertimbangkan faktor-faktor tertentu diantaranya perusahaan-perusahaan
yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti : usaha
perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang,
usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan
dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan
bersifat mudarat.
Firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 29 :
$
y
γƒ
r
'
‾
≈
t
ƒ
š
$
#
(
#
θΨ
t
Β
#
u
Ÿ
ω
(
#
θ=2
'
s
?
Ν3
s
9≡
u
θΒ
r
&
Μ6
o
Ψ
/
t
≅
Ü
≈
t
6
9
$
$/
H
ω
)
β
r
&
š
χθ3
s
?
ο
t
≈
p
gB
t
ã
Ú#
t
s
?
Ν3ΖΒ
Ÿ
ω
u
ρ
(
#
θ=
F
)
s
?
Ν3
|
¡
Ρ
r
&
β
)
©
!
$
#
t
β
%
x
.
Ν3
/
$
ϑŠ
m
u
‘
∩⊄∪
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.
Ayat diatas menunjukkan larangan memakan harta dengan jalan yang
batil, termasuk dalam usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi serta
memproduksi, mendistribusi dan memperdagangkan makanan,minuman,
barang-barang ataupun jasa yang tergolong haram dan bersifat mudarat. Oleh karena itu
prinsip-prinsip Islami sangat penting diaplikasikan pada setiap aspek kehidupan
khususnya dalam kegiatan ekonomi, termasuk transaksi di bursa saham.
Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) juga
merupakan perusahaan yang dipilih dengan mempertimbangkan aspek likuiditas
dan kondisi keuangan. Maka dari itu, pengelolaan modal kerja dalam perusahaan
sangat memerlukan perhatian khusus. Perusahaan juga berkepentingan untuk
menjaga kinerja keuangannya dengan baik terutama pada Debt to Equity Ratio
agar perusahaan mampu untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya baik
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk menganalisis modal kerja
serta kemampuan perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index untuk
membayar semua kewajibannya. Penulisan ini didasarkan pada penelitian atas
laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index Bursa Efek
Indonesia, dengan judul “PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP
KINERJA KEUANGAN (Studi Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2006-2007)’’
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Untuk dapat mengetahui pengaruh Modal Kerja terhadap Kinerja
Keuangan pada Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index, penulis
memberikan batasan masalah sebagai berikut :
1. Rasio Modal Kerja yang akan dijadikan variabel independen pada penelitian
ini adalah Rasio Lancar (Current Ratio), Rasio Cepat (Quick Ratio), Rasio kas
terhadap kewajiban lancar (Cash Ratio) dan rasio kas terhadap total aktiva
(Cash to total assets ratio).
2. Untuk mengukur kinerja keuangan, maka dalam penelitian ini penulis
menggunakan rasio solvabilitas yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan akan
dijadikan sebagai variabel dependen.
4. Perusahaan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di
Jakarta Islamic Index yang akan diteliti yaitu pada laporan keuangan untuk
tahun 2006 dan 2007 yang tersedia lengkap.
5. Laporan keuangan yang tersedia dinyatakan dalam rupiah.
2. Perumusan Masalah
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan (Debt to Equity
Ratio)?
2. Bagaimana pengaruh Modal Kerja (Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio
dan Cash to Total Assets Ratio) terhadap Kinerja Keuangan (Debt to Equity
Ratio) jika dianalisa secara parsial?
3. Dari keempat variabel modal kerja tersebut manakah yang mempunyai
pangaruh paling dominan terhadap Kinerja Keuangan (Debt to Equity Ratio)?
C. Tujuan Penelitian
a) Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja
keuangan (Debt to Equity Ratio).
b) Untuk mengetahui pengaruh Modal Kerja (Current Ratio, Quick Ratio, Cash
Ratio dan Cash to total assets ratio ) terhadap Kinerja Keuangan (DER) jika
dianalisa secara parsial.
c) Untuk mengetahui variabel yang mempunyai pengaruh paling dominan
D. Kegunaan/Manfaat Penelitian
a) Bagi Penulis, sebagai pembelajaran dalam menganalisis suatu laporan
keuangan dan diharapkan hasil penelitian dapat menambah kemampuan
berfikir dan menambah ilmu pengetahuan yang berharga.
b) Bagi Akademisi, sebagai bahan bacaan dan menambah referensi yang belum
ada pada perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.
c) Bagi Perusahaan, sebagai bahan masukan untuk merencanakan perbaikan
kinerja keuangan perusahaan, khususnya dalam usaha memenuhi semua
kewajibannya Debt to Equity Ratio (DER).
d) Bagi Mahasiswa dan Masyarakat, sebagai bahan bacaan yang relevan dengan
ilmu yang dipelajari maupun sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya.
E. Review Studi Terdahulu
Untuk mendukung materi dalam penelitian ini, penulis akan
mengemukakan beberapa penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan
variabel dalam penelitian ini :
1. Oktaviani, mahasiwa program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Jakarta (2005) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Pengaruh
Modal Kerja terhadap Profitabilitas pada Industri Properti (BEJ)”. Dalam
penelitiannya digunakan 4 sub variabel bebas dari variabel modal kerja yaitu
X1 (Current Ratio), X2 (Cash to Revenues Ratio), X3 (Quick Asset To
pada variabel terikatnya adalah rasio Net Profit Margin dari variabel
profitabilitas. Objek penelitian ini didasarkan pada Industri Properti Bursa
Efek Jakarta tahun 2002-2003. Dalam hasil analisisnya menunjukkan terdapat
pengaruh positif yang signifikan antara keempat variabel modal kerja dengan
profitabilitas (Net Profit Margin).
Perbedaan :
Penelitian penulis ini menganalisis pengaruh modal kerja terhadap
kinerja keuangan pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index
Bursa Efek Indonesia untuk laporan keuangan tahun 2006-2007. Variabel
dalam penelitian ini yaitu variabel modal kerja (X) sebagai variabel bebas
yang terdiri dari sub variabel X1 (Current Ratio), X2 (Quick Ratio), X3 (Cash
Ratio) dan X4 (Cash to total assets ratio) dan variabel kinerja keuangan yang
menggunakan Debt to EquityRatio dari variabel solvabilitas sebagai variabel
terikat.
Persamaan :
Persamaan penilitian ini dengan penelitian sekarang adalah sama-sama
meneliti tentang modal kerja. Metode penelitian yang digunakan juga
memiliki kesamaan yaitu menggunakan metode penelitian deskriptif
kuantitatif. Selain itu, tingkat signifikansi yang digunakan juga memiliki
kesamaan yaitu 5%.
terhadap Rentabilitas pada PT. Pos Indonesia (PERSERO)”. Penelitian ini
menganalisis pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas pada PT. Pos
Indonesia (PERSERO) tahun 1999-2002. Variabel yang menjadi bahan
penelitian ini adalah variabel modal kerja (X) sebagai variabel bebas dan
rentabilitas (Y) sebagai variabel terikat. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik
korelasi dan determinasi, pengujian dilakukan dengan uji t dengan tingkat
signifikansi atau taraf nyata 5%. Adapun hasil pengujian secara statistik
ternyata modal kerja tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
rentabilitas ekonomi.
Perbedaan :
Penelitian yang dilakukan oleh penulis sekarang ini menganalisis
pengaruh modal kerja terhadap kinerja keuangan pada perusahaan yang
terdaftar di Jakarta Islamic Index Bursa Efek Indonesia untuk laporan
keuangan tahun 2006-2007. Variabel dalam penelitian ini yaitu variabel
modal kerja (X) sebagai variabel bebas yang terdiri dari sub variabel X1
(Current Ratio), X2 (Quick Ratio), X3 (Cash Ratio) dan X4 (Cash to total
assets ratio) dan variabel kinerja keuangan yang menggunakan Debt to Equity
Ratio sebagai variabel terikat. Metode penelitiannya menggunakan metode
berganda. Pengujian dilakukan dengan uji asumsi klasik serta uji t dan uji F
dengan tingkat signifikansi 5%.
Persamaan :
Penelitian ini dengan penelitian sekarang memiliki kesamaan
diantaranya adalah meneliti tentang modal kerja, menggunakan tingkat
signifikansi 5% dalam pengujian secara parsial.
3. Temi Apriani, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Widyatama Bandung dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Investasi dalam Aktiva
Tetap dan Modal Kerja terhadap Profitabilitas PT. Telekomunikasi Indonesia
periode 2001-2005”. Tujuan yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui
pengaruh investasi dalam aktiva tetap dan modal kerja terhadap profitabilitas.
Adapun objek penelitian ini pada PT. Telekomunikasi Indonesia untuk tahun
2001-2005. Variabel yang menjadi bahan penelitian ini adalah variabel
investasi dalam aktiva tetap (X1) dan investasi dalam modal kerja (X2) sebagai
variabel bebas dan variabel terikatnya yaitu variabel profitabilitas dengan
menggunakan rasio Return On Investmen. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode deskriptif dan metode verifikatif. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh kesimpulan bahwa variabel-variabel independen memiliki pengaruh
Perbedaan :
Penelitian yang dilakukan penulis sekarang ini menganalisis pengaruh
modal kerja terhadap kinerja keuangan pada perusahaan yang terdaftar di
Jakarta Islamic Index Bursa Efek Indonesia untuk laporan keuangan tahun
2006-2007. Variabel dalam penelitian ini yaitu variabel modal kerja (X)
sebagai variabel bebas yang terdiri dari sub variabel X1 (Current Ratio), X2
(Quick Ratio), X3 (Cash Ratio) dan X4 (Cash to total assets ratio) dan
variabel kinerja keuangan yang menggunakan Debt to Equity Ratio sebagai
variabel terikat. Metode penelitiannya menggunakan metode kuantitatif
dengan perhitungan regresi berganda. Pengujiannya dilakukan dengan
menggunakan uji asumsi klasik dan uji statistik.
Persamaan :
Penelitian yang dilakukan Temi Apriani dengan penelitian penulis
memiliki kesamaan yaitu sama-sama meneliti tentang modal kerja.
F. Kerangka Pemikiran
Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya tentu
membutuhkan dana yang cukup agar kontinuitas perusahaan dapat berjalan
dengan baik. Disamping itu pengelolaan keuangan secara efektif dan efisien pun
menjadi salah satu kunci di dalam keberhasilan suatu perusahaan untuk dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Keberhasilan suatu perusahaan akan lebih mudah dicapai dengan adanya
sumber-sumber daya yang berkualitas dan pengendalian dalam hal kualitas serta
dengan adanya perluasan modal kerja. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari
semakin berkembang dan tumbuhnya suatu perusahaan.
Pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index Bursa Efek
Indonesia, modal kerja merupakan unsur yang berperan dalam menghasilkan
pendapatan. Tingginya investasi perusahaan yang tercermin dalam aktiva lancar
menunjukkan hal tersebut. Seluruh perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic
Index harus menyediakan modal kerja untuk menjalankan kegiatan sehari-hari
yang digunakan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhannya, seperti pembayaran
gaji, upah, biaya perawatan, biaya perbaikan, pembelian bahan dan biaya-biaya
lainnya. Selain itu dengan modal kerja yang cukup perusahaan juga dapat
memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Tujuan pembentukan Jakarta Islamic Index adalah untuk meningkatkan
kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan
memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk
melakukan investasi di Bursa Efek Indonesia.
Untuk meningkatkan kepercayaan investor tersebut, para investor yang
ingin melakukan investasi pada saham Jakarta Islamic Index dapat menilai
kinerja keuangan yang diukur dari rasio-rasio keuangan pada laporan keuangan
perusahaan. Rasio keuangan merupakan salah satu bentuk informasi akuntansi
keuangan tersebut dapat mengungkapkan kondisi keuangan suatu perusahaan
maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk suatu periode tertentu.
Modal Kerja merupakan dana yang dipergunakan oleh perusahaan untuk
melangsungkan kegiatan operasi sehari-hari. Rasio-rasio keuangan dari modal
kerja yang digunakan sebagai variabel-variabel independen adalah Current
Ratio(X1), Quick Ratio(X2), Cash Ratio(X3), Cash to Total Asset(X4). Sedangkan
untuk mengukur kinerja keuangan, penulis menggunakan Debt to Equity Ratio
(DER) sebagai variabel dependen.
Adapun alur pemikiran hubungan variabel-variabel independen terhadap
variabel dependen adalah sebagai berikut :
1. Current Ratio
Current ratio adalah rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang
dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek, aktiva lancar meliputi kas,
efek persediaan, dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek
meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang
lainnya yang harus segera dibayarkan.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin bagus karena menunjukkan
bahwa perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya tepat waktu.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan
sehingga kinerja keuangan tersebut semakin baik.
Apabila dikaitkan Current ratio terhadap Debt to Equity Ratio yaitu jika
mengalami kenaikan. Oleh karena itu, jika current ratio naik sedangkan Debt to
EquityRatio turun akan membawa dampak yang baik bagi perusahaan karena jika
perusahaan memiliki tingkat Debt to Equity Ratio yang tinggi berarti semakin
buruk kondisi solvabilitasnya berarti perusahaan akan mengalami kesulitan dalam
menutupi hutang-hutangnya. Apabila semakin rendah Debt to Equity Ratio berarti
perusahaan mampu menutup hutang-hutangnya kepada pihak luar. Current Ratio
membandingkan aktiva lancar dengan kewajiban lancar, apabila rasio semakin
naik berarti perusahaan semakin mampu untuk memenuhi kewajibannya dan akan
mempengaruhi penurunan Debt to Equity Ratio yang berarti perusahaanpun akan
mampu menutupi kewajiban-kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka
panjang. Dalam hal ini kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar di Jakarta
Islamic Index akan semakin baik sehingga investorpun semakin yakin untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.
2. Quick Ratio
Quick Ratio adalah hasil pembagian antara aktiva lancar setelah dikurangi
persediaan dengan kewajiban jangka pendek. Rasio ini digunakan untuk
mengukur likuiditas dengan jangka yang sangat pendek. Quick ratio hanya
memperhitungkan aset yang sudah lebih dekat dengan uang tunai.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik, karena perusahaan mampu
melunasi kewajiban jangka sangat pendeknya tepat waktu. Semakin tinggi rasio
ini maka semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan tetapi belum tentu kondisi
ratio yang membandingkan aktiva lancar setelah dikurangi persediaan dengan
kewajiban akan dapat mempengaruhi kenaikan Debt to Equity Ratio perusahaan
karena dengan adanya pengurangan persediaan walaupun persediaan bukan
termasuk aktiva paling likuid dalam aktiva lancar namun hal ini dapat
mempengaruhi terhadap kondisi solvabilitas perusahaan. Oleh karena itu, jika
rasio ini naik berarti perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban jangka sangat
pendek tepat waktu tapi akan mempengaruhi kenaikan Debt to Equity Ratio
perusahaan yang berarti perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menutupi
kewajiban jangka panjangnya. Apabila Debt to Equity Rationya naik berarti
kinerja perusahaan dinilai kurang baik.
3. Cash Ratio
Cash ratio yang tinggi akan semakin baik bagi suatu perusahaan. Rasio ini
mengukur kemampuan sesungguhnya untuk memenuhi kewajiban tepat pada
waktunya.2 Mengingat kembali komponen aktiva lancar, jika piutang usaha
dinilai akan sulit tertagih (kredit macet), komponen aktiva lancar yang
benar-benar siap dicairkan hanyalah kas dan surat berharga jangka pendek. Jadi, rasio
kas mengukur likuiditas dari aktiva lancar yang pasti dapat dicairkan menjadi kas.
Bilamana persediaan diperkirakan lama terjual dan piutang lama tertagih, maka
sebaiknya menggunakan rasio kas sebagai pengukur likuiditas.3
2
Agnes Sawir, “Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan”(Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 147.
3
Rasio kas membandingkan kas dan surat berharga jangka pendek dengan
kewajiban lancar. Semakin tinggi rasio ini akan semakin bagus karena perusahaan
akan mampu memenuhi kewajibannya tepat waktu. Selain itu juga akan
mempengaruhi penurunan Debt to Equity Ratio. Apabila Debt to Equity Ratio
semakin kecil maka perusahaan akan mampu menutupi hutang-hutangnya baik
jangka pendek maupun jangka panjang dari naiknya rasio kas tersebut. Dalam hal
ini kondisi kinerja keuangan perusahaan akan semakin baik. Akibatnya investor
akan semakin yakin untuk berinvestasi pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta
Islamic Index.
4. Cash to Total Asset
Cash to total asset ratio merupakan rasio modal kerja yang
membandingkan jumlah kas dengan total aktiva. Besarnya kas sebagai bagian dari
aktiva merefleksikan kebijakan perusahaan tentang pentingnya likuiditas versus
penggunaan dana untuk aktiva tetap.4
Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin baik dalam memenuhi
kewajiban hutang-hutang perusahaan. Akan tetapi cash to total asset ratio yang
tinggi belum menjadi ukuran bahwa kinerja keuangan yang diukur oleh debt to
equity ratio akan semakin baik. Karena apabila cash to total asset ratio naik maka
debt to equity ratio juga akan naik. Apabila debt to equity ratio naik berarti
menunjukan kondisi solvabilitas perusahaan semakin buruk karena perusahaan
akan mengalami kesulitan dalam menutupi hutang-hutangnya baik jangka pendek
maupun jangka panjang.
5. Debt to Equity Ratio
Kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua hutang-hutangnya
menunjukkan “solvabilitas” suatu perusahaan. Suatu perusahaan yang “solvabel”
berarti perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk
membayar semua hutang-hutangnya, tetapi tidak dengan sendirinya berarti bahwa
perusahaan tersebut likuid.5
Debt to equity ratio adalah rasio pengukur leverage perusahaan. Debt to
equity ratio menunjukan struktur permodalan suatu perusahaan, merupakan
perbandingan antara total hutang dengan ekuitas yang digunakan sebagai sumber
pendanaan perusahaan. Semakin tinggi debt to equity ratio, semakin besar
persentase modal asing yang digunakan dalam operasional perusahaan, atau
semakin besar debt to equity ratio menandakan struktur permodalan usaha lebih
banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas.
Debt to equity ratio yang semakin tinggi menunjukkan semakin besarnya
proporsi hutang terhadap ekuitas, sehingga mencerminkan risiko perusahaan yang
relatif tinggi dan risiko yang harus ditanggung investor juga akan semakin tinggi.
Pada akhirnya investor akan menghindari saham perusahaan yang memiliki debt
to equity ratio yang tinggi. Semakin kecil rasio ini berarti menunjukkan bahwa
5 Bambang Riyanto, Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi 4(Yogyakarta :
perusahaan mampu menutup hutang-hutangnya kepada pihak luar. Solvable suatu
perusahaan, maka kinerja keuangan perusahaan tersebut semakin bagus.
Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian
Bursa Efek Indonesia (BEI)
Jakarta Islamic Index (JII)
Laporan Keuangan Perusahaan Tahun 2006-2007
Rasio Modal Kerja
Cash to total assets (X4)
Cash Ratio (X3)
Quick Ratio (X2)
Current Ratio (X1)
Kinerja Keuangan = Debt to Equity Ratio (Y)
Uji Asumsi Klasik
Uji Statistik : Regresi Linier Berganda
Y = a + b1x1 + b2x2 +b3x3 + b4x4 + єi
[image:32.595.91.532.198.706.2]G. Hipotesis
Adapun hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ho : b1= 0 :Variabel modal kerja (Current ratio, Quick ratio, Cash ratio, Cash to
total asset) tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
keuangan (Debt to Equity Ratio).
Ha : b1≠ 0 : Variabel modal kerja (Current ratio, Quick ratio, Cash ratio, Cash
to total asset) berpengaruh secara parsial terhadap kinerja keuangan
(Debt to Equity Ratio).
H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif
kuantitatif yaitu penelitian yang menggunakan angka mulai dari pengumpulan
data, penafsiran terhadap data serta penampilan hasilnya.6
Kemudian membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian,
menerangkan hubungan-hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi serta
mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan.
2. Objek Penelitian
Penulis melakukan penelitian di Bursa Efek Indonesia, pada seluruh
perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode 2006-2007.
6 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, cet. XIII (Jakarta: PT
3. Teknik Penulisan
Teknik penulisan yang digunakan berpedoman pada buku “Pedoman
Penulisan Skripsi” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.
4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif
khususnya data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari perhitungan.7 Adapun
sumber data pada penelitian ini bersumber dari data sekunder, yaitu berupa
data laporan keuangan perusahaan per 30 Desember untuk perhitungan
rasio-rasio modal kerja dan rasio-rasio keuangan yang diteliti. Data penelitian yang
digunakan adalah data pertahun atau per 30 Desember dari laporan keuangan
dengan rentang waktu yang dijadikan analisa adalah dari tanggal 1 Januari
2006 hingga 31 Desember 2007.
5. Teknik Analisa Data
Analisa data dengan menggunakan program SPSS 12. Data diinput
dan selanjutnya output dari program SPSS 12 tersebut dianalisa dengan uji
asumsi klasik (Heterokedastisitas, Autokorelasi, Multikolinearitas,
Normalitas) dan juga diuji secara statistik (Persamaan regresi berganda,
Analisa pengaruh secara parsial dan uji koefisien determinasi).
I. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran secara sederhana agar memudahkan
penulisan skripsi, maka akan disusun sistematika penulisan yang terdiri dari lima
bab dengan rincian sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan, akan memuat latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan/manfaat penelitian,
review studi terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis, metode
penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Teoritis, akan memuat tentang pengertian modal kerja,
Jenis-jenis modal kerja, sumber dan penggunaan modal kerja, pengendalian
modal kerja, kinerja keuangan dan hubungan modal kerja terhadap
kinerja keuangan.
BAB III Metode Penelitian, akan memuat tentang ruang lingkup penelitian,
metode penarikan sampel, prosedur pengumpulan data, operasional
dan pengukuran variabel, dan metode analisa data.
BAB IV Gambaran umum objek penelitian dan analisa hasil penelitian, akan
memuat tentang gambaran umum Bursa Efek Indonesia, Jakarta
Islamic Index dan analisa hasil uji signifikansi.
BAB V Penutup, akan memuat kesimpulan dan rekomendasi.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS A. Modal Kerja
1. Pengertian Modal Kerja
Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki
perusahaan, atau dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi
perusahaan sehari-hari.
Gitman memberikan pengertian modal kerja sebagai berikut :“working
capital is current assets, which represent the portion of investment that
circulates from one form to another in the ordinary conduct of business.”8
Dari pengertian diatas, modal kerja adalah aktiva lancar, yang
menghadirkan bagian investasi yang beredar dari satu bentuk ke lain bentuk
yang biasa melakukan bisnis.
Menurut Dewi Astuti dalam bukunya “Manajemen Keuangan
Perusahaan”, modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka
pendek yaitu kas, sekuritas yang mudah dijual, persediaan dan piutang. Jadi
modal kerja adalah dana yang digunakan untuk operasional sehari-hari dan
wujud dari modal kerja tersebut adalah perkiraan-perkiraan yang ada dalam
8
aktiva lancar.9 Bambang Riyanto mengemukakan modal kerja dengan
beberapa konsep sebagai berikut10 :
1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam
unsur-unsur aktiva lancar di mana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali
berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva di mana dana yang
tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek.
Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari
jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal
kerja bruto (gross working capital).
2. Konsep Kualitatif
Apabila pada konsep kuantitatif modal kerja itu hanya dikaitkan
dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini
pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar
atau utang yang segera harus dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari
aktiva lancar ini harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansiil yang
segera harus dilakukan, di mana bagian aktiva lancar ini tidak boleh
digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan untuk menjaga
likuiditasnya. Oleh karenanya maka modal kerja menurut konsep ini adalah
9
Dewi Astuti, Manajemen Keuangan Perusahaan ( Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002), h. 156.
10 Bambang Riyanto, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi 4 ( Yogyakarta :
sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk
membiayai operasinya perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu
yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Modal kerja
dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto (net working capital).
Menurut Stephen A Ross, Randolf W Westerfield dan Bradford D
Jordan, modal kerja bersih (net working capital) adalah selisih antara asset
lancar sebuah perusahaan dengan kewajiban lancarnya. Modal kerja bersih
akan positif ketika aset lancar lebih besar dari kewajiban lancar. Berdasarkan
definisi tentang aset lancar dan kewajiban lancar, hal ini artinya kas yang akan
tersedia sepanjang masa 12 bulan kedepan akan melebihi jumlah kas yang
harus dibayarkan sepanjang masa yang sama. Karena alasan ini, modal kerja
bersih biasanya akan positif pada sebuah perusahaan yang sehat.11
3. Konsep Fungsionil
Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan
pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam
perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada
sebagian dana yang digunakan dalam suatu periode accounting tertentu yang
seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current
income) dan ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode
tersebut tetapi tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan “current
income”. Sebagian dari dana itu dimaksudkan juga untuk menghasilkan
pendapatan untuk periode-periode berikutnya (future income). Dalam
hubungan ini, Bambang Riyanto juga memberikan definisi modal kerja
sebagai dana yang digunakan selama periode accounting yang dimaksudkan
untuk menghasilkan current income (sebagai lawan dari future income) yang
sesuai dengan maksud utama didirikan perusahaan tersebut.
Menurut Sofyan Syafri Harahap, modal kerja adalah aktiva lancar
dikurangi utang lancar. Modal kerja ini merupakan ukuran tentang keamanan
dari kepentingan kreditur jangka pendek. Modal kerja bisa juga dianggap
sebagai dana yang tersedia untuk diinvestasikan dalam aktiva tidak lancar atau
untuk membayar utang tidak lancar. Kenaikan dalam modal kerja terjadi
apabila aktiva menurun atau dijual atau karena kenaikan dalam utang jangka
panjang dan modal. Penurunan dalam modal kerja timbul akibat aktiva tidak
lancar naik atau dibeli atas utang jangka panjang dan modal naik.12
2. Jenis-Jenis Modal Kerja
Agnes Sawir menggolongkan modal kerja dalam 2 (dua) jenis :
a) Modal kerja permanen yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada
perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain
modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha, dan
dapat dibedakan dalam :
12 Sofyan Syafri Harahap, “Analisis Kritis atas Laporan Keuangan”(Jakarta : PT.Raja
1) Modal kerja primer yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada
pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha.
2) Modal kerja normal yaitu jumlah modal kerja diperlukan untuk
menyelenggarakan produksi normal dalam artian yang dinamis.
b) Modal kerja variabel yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
sesuai perubahan keadaan, dan dapat dibedakan dalam :
1) Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
disebabkan karena fluktuasi musim.
2) Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
karena fluktuasi konjungtur.
3) Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang berdasarkan perubahan
karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.13
3. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Apabila sumber lebih besar dari pada penggunaan, berarti ada
kenaikan modal kerja. Sebaliknya apabila penggunaan lebih besar dari pada
sumber, berarti terjadi penurunan modal kerja.
a. Sumber Modal Kerja
Sumber-sumber modal kerja yang akan menambah modal kerja adalah:
1) Adanya kenaikan sektor modal, baik yang berasal dari laba maupun
penambahan modal saham.
13 Agnes Sawir, Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan(Jakarta
2) Adanya pengurangan atau penurunan aktiva tetap karena adanya
penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi.
3) Ada penambahan utang jangka panjang, baik dalam bentuk obligasi
atau utang jangka panjang lainnya.
b. Penggunaan Modal Kerja
Penggunaan-penggunaan modal kerja yang mengakibatkan turunnya
modal kerja adalah sebagai berikut :
1) Berkurangnya modal sendiri karena kerugian, maupun pengambilan
privasi oleh pemilik perusahaan.
2) Pembayaran utang-utang jangka panjang.
3) Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap.14
4. Manfaat Modal Kerja
Modal kerja harus cukup besar, dalam arti harus mampu membiayai
pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, karena dengan modal kerja
yang cukup akan menguntungkan perusahaan, disamping memungkinkan bagi
perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan.
Menurut S.Munawir, keberadaan modal kerja yang cukup akan
memberikan beberapa manfaat :
1. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena kurangnya
aktiva lancar.
2. Memungkinkan untuk membayar semua kewajiban tepat pada waktunya.
3. Menjamin dimilikinya credit standing perusahaan semakin besar dan
memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya
atau kesulitan-kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
4. Memungkinkan untuk memiliki persediaan barang dalam jumlah yang
cukup untuk melayani konsumen.
5. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat-syarat kredit
yang lebih menarik bagi pelanggan.
6. Memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi lebih efisien karena
tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan.15
5. Pengendalian Modal Kerja
1. Pentingnya Pengendalian Modal Kerja
Setiap perusahaan perlu mengendalikan modal kerjanya agar dapat
mengetahui apakah modal kerja perusahaan sudah sesuai dengan yang
direncanakan. Disamping pengendalian, pengelolaan modal kerja juga
dibutuhkan karena aktiva lancar merupakan bagian yang cukup besar dari
total aktiva, umumnya sekitar 40%. Perusahaan harus mampu menyediakan
modal kerja yang cukup untuk membiayai kegiatan usahanya. Kelebihan
modal kerja akan menyebabkan inefisiensi, karena terjadi dana yang
menganggur, disisi lain bila kekurangan dana dapat menimbulkan kesulitan
bagi perusahaan.
15
2. Komponen Modal Kerja
Komponen modal kerja meliputi semua aspek pengelolaan dan
pengendalian aktiva lancar dan kewajiban lancar. Aktiva lancar adalah aktiva
yang habis dalam satu kali berputar dalam proses produksi dan proses
perputarannya adalah dalam jangka waktu pendek, terdiri dari kas dan surat
berharga, piutang dagang dan persediaan.
1) Kas
Kas merupakan unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat
likuiditasnya. Tersedianya uang kas yang cukup akan lebih menguntungkan
bagi perusahaan jika sewaktu-waktu harus mengadakan transaksi dengan
pihak ketiga, yang nantinya menghasilkan keuntungan. Disamping itu dengan
tersedianya uang kas yang cukup akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan
dalam keadaan darurat. Yang dimaksud uang kas adalah uang tunai yang
tersedia di perusahaan maupun yang berada di bank. Uang kas dapat
digunakan untuk operasi perusahaan sehari-hari, memiliki barang dan jasa
yang diharapkan juga memenuhi kewajiban perusahaan.
2) Surat berharga
Perusahaan dapat menggunakan kelebihan dananya untuk membeli
surat berharga. Pembelian ini bertujuan untuk menjaga likuiditas juga
merupakan investasi yang bersifat sementara, yaitu apabila perusahaan
membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kewajiban yang mendesak,
3) Piutang Dagang
Piutang dagang timbul karena perusahaan menjual secara kredit.
Penjualan kredit dimaksudkan untuk memperbesar volume penjualan.
Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi
menimbulkan piutang yang kemudian pada hari jatuh tempo pembayaan
piutang tersebut adalah penerimaan kas. Pengaturan piutang ditujukan agar
kredit yang diberikan dapat tertagih tepat pada waktunya. Oleh karena itu
manajemen piutang perlu diperhatikan sebaik-baiknya.
4) Persediaan
Persediaan disini merupakan bagian-bagian yang ada pada perusahaan
yang pada suatu saat akan dijual. Bagi suatu perusahaan, persediaan
merupakan elemen modal kerja yang utama, yang selalu dalam keadaan
berputar, dimana secara terus-menerus mengalami perubahan. Penentuan
besarnya persediaan barang atau alokasi modal dalam persediaan merupakan
masalah penting karena mempunyai efek yang langsung terhadap keuntungan
perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus menentukan berapa besarnya
persediaan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya.16
16 Bintang Dwi Ramadhan, “ Pengaruh Modal Kerja Terhadap Rentabilitas Perusahaan pada
3. Rasio Modal Kerja
Besarnya modal kerja sebuah perusahaan berhubungan dengan
berbagai aktivitas operasional dan finansial. Tanpa modal kerja yang cukup
aktivitas bisnis perusahaan dapat terancam.
Masalah likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya. Sebuah perusahaan
yang mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya digolongkan sebagai
perusahaan “likuid”. Sebaliknya jika perusahaan tidak mampu memenuhi
segala kewajiban finansialnya maka perusahaan tersebut dikatakan “illikuid”.
Adapun rasio yang biasa digunakan untuk menghitung modal kerja adalah
sebagai berikut:
a) Kecukupan Aktiva Lancar17
Aktiva lancar perusahaan merupakan tolak ukuran yang paling kasar
yang menunjukkan adanya dana likuid yang segera menjadi kas dan tersedia
untuk membayar tagihan-tagihan. Rasio yang dapat digunakan adalah:
1. Rasio aktiva lancar terhadap kewajiban lancar (current ratio)
Rasio ini untuk mengukur kesanggupan perusahaan dalam melunasi
hutang jangka pendeknya dengan jumlah aktiva dan hutang lancar. Rasio yang
rendah mengindikasikan bahwa perusahaan tidak dapat membayar tagihannya
pada masa mendatang. Rasio yang tinggi mengindikasikan jumlah aktiva
lancar yang berlebihan.
Current Assets Current Ratio = ---
Current Liabilities
2. Rasio aktiva lancar terhadap total aktiva
Rasio yang rendah menunjukkan kurangnya penjualan kredit (piutang
yang rendah) atau kurangnya dukungan untuk produksi dengan persediaan
yang cukup. Rasio yang tinggi mengindikasikan kebijakan piutang berlebihan
atau persediaan yang besar.
Current Assets Current Assets to Total Asset Ratio = ---
Total Assets
3. Rasio aktiva lancar terhadap penjualan
Dengan adanya penjualan, maka terdapat tagihan untuk dibayar,
piutang untuk didanai dan persediaan untuk mendukung penjualan. Besarnya
aktiva haruslah cukup untuk membayar tagihan tepat waktu, memungkinkan
pengiriman barang yang cepat, dan pemberian kredit dengan syarat kredit
yang kompetitif, sehingga aktiva lancar seharusnya tumbuh secara
professional dengan penjualan atau menurun apabila penjualan berkurang.
Quick Assets Quick Assets To Revenues Ratio = ---
b) Kecukupan Quick Asset18
Quick Asset terdiri dari kas dan piutang dan merupakan aktiva paling
likuid dalam neraca, dengan menggunakan kas dan piutang, likuiditas dapat
diukur dengan lebih tepat dari pada aktiva lancar.
1) Rasio quick assets terhadap kewajiban lancar (quick ratio)
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar
tagihan tanpa bergantung pada penjualan persediaannya.
Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas dengan menggunakan aktiva
paling likuid terhadap kewajiban lancar. Adapun rumus yang dipakai adalah :
Quick Assets Quick Ratio = ---
Current Liabilities
2) Rasio quick assets terhadap total aktiva
Sebuah perusahaan membutuhkan aktiva likuid yang cukup sebagai
bagian dari bauran total aktivanya. Rasio ini menunjukkan besar kas dan
piutang dalam bauran total aktivanya.
Quick Assets Quick Assets To Total Asset Ratio = ---
Total Assets
3) Rasio quick assets terhadap penjualan
Kas dan piutang yang cukup juga diperlukan untuk mendukung
penjualan. Rasio ini memperlihatkan kecukupan kas dan piutang apabila
penjualan meningkat. Rasio ini juga menunjukkan kas dan piutang yang
berlebihan bila penjualan menurun.
Quick Assets Quick Assets to revenues ratio = ---
Revenues
c) Kecukupan Kas19
Kebanyakan perusahaan mempertahankan saldo kas seminimal
mungkin tetapi menginvestasikan dalam efek yang setara kas yang dapat
segera dicairkan. Efek-efek tersebut harus dimasukkan dalam perhitungan
rasio untuk menghitung kecukupan kas. Rasio-rasio yang dapat berguna untuk
keperluan analisis ini adalah:
1) Rasio kas terhadap kewajiban lancar (cash ratio)
Kas harus tersedia untuk membayar tagihan-tagihan yang jatuh tempo
dalam hitungan minggu ataupun bulan. Pengukuran terhadap kecukupan kas
dapat dilakukan dengan menggunakan rasio kas terhadap kewajiban lancar.
Rasio ini mengukur kemampuan sesungguhnya untuk memenuhi kewajiban
tepat pada waktunya.
Cash
Cash Ratio = --- Current Liabilities
2) Rasio kas terhadap total aktiva
Besarnya kas sebagai bagian dari aktiva merefleksikan kebijakan
perusahaan tentang pentingnya likuiditas versus penggunaan dana untuk
aktiva tetap. Hal ini dapat diukur dengan rasio dibawah ini:
Cash
Cash to total assets = --- Total Assets
3) Rasio kas terhadap penjualan
Bila perusahaan meningkatkan penjualannya, maka kas juga perlu
ditingkatkan. Rasio ini mengukur kecukupan kas dibandingkan dengan
kegiatan operasinya.
Cash Cash to revenues ratio = ---
Revenues
d) Arus dana dari persediaan20
Penting bagi sebuah perusahaan memiliki arus kas yang cukup dari
kegiatan operasinya. Apabila perusahaan tidak menjual persediaan, maka
tidak akan ada piutang. Apabila piutang tidak dilunasi, perusahaan tidak
memiliki kas.
1) Perputaran persediaan dalam kas (Inventory turnover in cash)
Rasio ini mengukur berapa kali dalam 1 tahun sebuah perusahaan
menghasilkan penjualan yang sama dengan saldo persediaannya.
Revenues Inventory turnover in cash = ---
Inventory
2) Perputaran persediaan dalam unit (Inventory turnover in unit)
Rasio ini mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan
berputar dalam suatu periode tertentu. Rasio ini mengukur perputaran fisik
persediaan.
COGS Inventory turnover in units = ---
Inventory
e) Kecukupan Modal Kerja21
Modal kerja bersih, selisih antara aktiva lancar dan kewajiban lancar,
adalah ukuran dasar dari likuiditas perusahaan. Kecukupan modal kerja dapat
dievaluasi dengan menggunakan rasio:
1) Rasio total aktiva terhadap modal kerja bersih (total assets to net working
capital)
Rasio yang tinggi mengindikasikan rendahnya tingkat likuiditas,
sedangkan rasio yang rendah mengindikasikan tingkat likuiditas yang tinggi.
Total Assets
Total assets to net working capital= --- Net Working Capital
2) Rasio kewajiban lancar terhadap modal kerja bersih (current liabilities to
net working capital ratio)
Rasio ini merupakan ekspresi alternative dari current ratio. Bila
current ratio rendah, rasio ini akan tinggi, mengindikasikan likuiditas rendah.
Bila rasio ini rendah, current ratio akan tinggi, mengindikasikan likuiditas
tinggi.
Current Liabilities Current Liabilities to net working capital=---
Net working capital
3) Perputaran modal kerja (revenues to net working capital ratio)
Rasio ini mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar
atas kewajiban lancar. Rasio yang tinggi mengindikasikan likuiditas yang
rendah untuk mendukung operasional, rasio yang rendah menunjukkan
likuiditas tinggi.
Revenues
Working capital turnover = --- Net Working Capital
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Modal kerja memang sangat penting bagi perusahaan, oleh karena itu
dalam menentukan besarnya besarnya modal kerja yang dibutuhkan, menurut
1. Besar kecilnya skala usaha perusahaan
Kebutuhan modal kerja pada perusahaan besar berbeda dengan
perusahaan kecil. Hal yang terjadi karena beberapa alasan. Perusahaan besar
mempunyai keuntungan akibat lebih luasnya sumber pembiayaan yang
tersedia dibandingkan dengan perusahaan kecil yang sangat tergantung pada
beberapa sumber saja. Pada perusahaan kecil, tidak tertagihnya beberapa
piutang para pelanggan dapat sangat mempengaruhi unsur-unsur modal kerja
lainnya seperti kas dan persediaan.
2. Aktivitas perusahaan
Perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa tidak mempunyai
persediaan barang dagangan, sedangkan perusahaan yang menjual
persediaannya secara tunai tidak memiliki piutang dagang. Hal ini
mempengaruhi tingkat perputaran dan jumlah modal kerja suatu perusahaan.
Demikian pula dengan syarat pembelian dan waktu yang dibutuhkan untuk
memproduksi atau memperoleh barang yang akan dijual.
3. Volume Penjualan
Volume penjualan merupakan faktor yang sangat penting yang
mempengaruhi kebutuhan modal kerja. Bila penjualan meningkat maka
kebutuhan modal kerja pun akan meningkat, demikian pula sebaliknya.
4. Perkembangan Teknologi
Kemajuan teknologi, khususnya yang berhubungan dengan proses
mengakibatkan proses produksi yang lebih cepat membutuhkan persediaan
bahan baku yang lebih banyak agar kapasitas maksimum dapat dicapai, selain
itu akan membuat perusahaan mempunyai persediaan barang jadi dalam
jumlah yang lebih banyak pula bila tidak diimbangi dengan pertambahan
penjualan yang besar.
5. Sikap perusahaan terhadap likuiditas dan profitabilitas
Adanya biaya dari semua dana yang digunakan perusahaan
mengakibatkan jumlah modal kerja yang relatif besar mempunyai
kecenderungan untuk mengurangi laba perusahaan, tetapi dengan menahan
uang kas dan persediaan barang yang lebih besar akan membuat perusahaan
lebih mampu untuk membayar transaksi yang dilakukan dan risiko kehilangan
pelanggan tidak terjadi karena perusahaan mempunyai persediaan barang
yang cukup.22
C. Kinerja Keuangan
Suatu kinerja perusahaan yang baik dapat dinilai dan berbagai bidang,
baik pemasaran, produksi, distribusi, human resources, keuangan dan lain-lain.23
Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber
informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi
22
Ridwan S.Sundjaja dan Inge Barlian, Manajemen Keuangan Dua (Jakarta : Literata Lintas Media,2002),h.157.
23 Sayekti Suindyah D, “Penggunaan Rasio Keuangan untuk pengelompokan perusahaan dari
keuangan perusahaan yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan
keputusan yang tepat.24 Untuk melakukan analisis perusahaan, disamping
dilakukan dengan melihat laporan keuangan perusahaan, juga bisa dilakukan
dengan menggunakan analisis rasio keuangan.25 Salah satu analisis untuk
membuat perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik adalah dengan
melakukan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan merupakan salah satu bentuk
informasi akuntansi yang penting dalam proses penilaian kinerja perusahaan,
sehingga dengan rasio keuangan tersebut dapat mengungkapkan kondisi keuangan
suatu perusahaan maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk suatu
periode tertentu.
1. Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja keuangan dapat dilakukan dengan pe