• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Sosialisasi UU Desa Revisi pptz

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan Sosialisasi UU Desa Revisi pptz"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

Drs. Imanuel Ndun, M.Si

(KABAN BPMD KABUPATEN NAGEKEO)

MATERI SOSIALISASI

UNDANG-UNDANG TENTANG

DESA

(2)

ARGUMENTASI DAN

URGENSI UU TENTANG

DESA

FILOSOFIS:

Desa memiliki hak asal usul dan hak

tradisional dalam mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakat

setempat dan berperan mewujudkan

cita-cita kemerdekaan berdasarkan

(3)

SOSIOLOGIS:

Pelaksanaan pengaturan Desa yang selama ini

(4)

YURIDIS:

Rumusan UUD Negara Republik Indonesia Tahun

1945 Pasal 18B: 2: Negara

mengakui

dan

menghormati

kesatuan-kesatuan

masyarakat

(5)

Tujuan Pengaturan Desa

(Pasal 4)

a) Memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b) Memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi

mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia; c) Melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya

masyarakat Desa;

d) Mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama;

(6)

f. Meningkatkan pelayanan publik bagi warga

masyarakat Desa guna mempercepat perwujudan

kesejahteraan umum;

g. Meningkatkan ketahanan sosial budaya

masyarakat Desa guna mewujudkan masyarakat

Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial

sebagai bagian dari ketahanan nasional;

(7)

Defenisi Desa, Pasal 1 ayat

(1)

Desa

adalah

desa

dan

desa adat

atau yang

disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut

Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang

memiliki batas wilayah yang berwenang untuk

mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan

prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak

tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyebutan desa dan desa adat dapat disesuaikan

(8)

Kedudukan

Desa

UU 32/2004

Desa berada di dalam

dan di bawah

Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota

Penjelasan tambahan:

‘Otonomi desa’ adalah

bagian dari ‘otonomi

daerah’ yang

diserahkan ke desa.

UU Desa

Pasal 5

Desa berkedudukan di

wilayah Kabupaten/Kota

Penjelasan tambahan:

‘Otonomi desa’ tidak lagi

menjadi sisanya ‘otonomi

daerah’ (yang bersumber

dari hak berian),

(9)

Penataan Desa (BAB III,

Pasal 7)

1) Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat melakukan penataan Desa.

2) Penataan sebagaimana dimaksud berdasarkan hasil evaluasi tingkat perkembangan Pemerintahan Desa sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan. 3) Tujuan Penataan Desa :

a. Mewujudkan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Desa; b. Mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa; c. Mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik;

d. Meningkatkan kualitas tata kelola Pemerintahan Desa; dan e. Meningkatkan daya saing Desa.

4) Penataan Desmeliputi : a. Pembentukan;

b. Penghapusan; c. Penggabungan;

(10)

Penataan Desa

Desa dapat menjadi

Desa Adat (Pasal 100)

Kelurahan dapat

menjadi Desa (Pasal

12)

Kelurahan dapat

menjadi Desa Adat

(Pasal 100)

Desa dapat menjadi

Kelurahan (Pasal 11)

Desa Adat dapat

menjadi Kelurahan

(Pasal 100)

Desa/Desa Adat dapat:

Berubah status

Digabung (Pasal 10 & 99)Dimekarkan (Pasal 8 ayat

1)

Dihapus;

Berdasarkan prakarsa

masyarakat;

Ditetapkan dalam

Peraturan Daerah

(Propinsi atau

Kabupaten/Kota);

(11)

Syarat Pembentukan Desa

Batas usia Desa Induk paling sedikit 5 tahun terhitung

sejak pembentukan.

Jumlah penduduk, untuk wilayah NTT, Maluku, dan

Maluku Utara paling sedikit 1.000 (seribu) jiwa atau 200

KK.

Wilayah kerja yang memiliki akses transportasi antar

wilayah.

Memiliki potensi SDA, SDM, dan sumber daya ekonomi

pendukung.

Batas wilayah yang dinyatakan dalam bentuk peta desa.

Tersedia sarana dan prasarana bagi Pemerintahan Desa

dan pelayanan publik

(12)

Kewenangan Desa

Kewenangan

Desa

meliputi

kewenangan

di

bidang

(13)

Kepala Desa

Masa jabatan Kades, 6 tahun, untuk 3 kali periode.

Kalau sudah tiga periode, tidak boleh menjadi kades

di tempat lain di wilayah RI.

Boleh menjadi anggota partai politik tetapi dilarang

menjadi pengurus partai politik.

Kades dilarang meninggalkan tugas selama

30

hari

(14)

Syarat calon kades antara lain: (a)

berpendidikan paling rendah tamat sekolah

menengah pertama atau sederajat; (b)

berusia paling rendah 25 (dua puluh lima)

tahun pada saat mendaftar – jadi tidak ada

batas atas; (c) tidak pernah sebagai Kepala

Desa selama 3 (tiga) kali masa jabatan.

Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara

(15)

Perangkat Desa

Perangkat desa diangkat oleh Kepala Desa setelah dikonsultasikan dengan Camat atas nama

Bupati/Walikota.

Persyaratan pengangkatan perangkat desa:

berpendidikan paling rendah sekolah menengah umum atau yang sederajat;

berusia 20 (dua puluh) tahun sampai dengan 42 (empat puluh dua) tahun;

terdaftar sebagai penduduk Desa dan bertempat

tinggal di Desa paling kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran; dan

syarat lain yang ditentukan dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

(16)

Penghasilan Pemerintah Desa

Penghasilan tetap setiap bulan Kepala Desa dan

perangkat

Desa

bersumber

dari

dana

perimbangan dalam Anggaran Pendapatan dan

Belanja

Negara

yang

diterima

oleh

Kabupaten/Kota

dan

ditetapkan

dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Kabupaten/Kota.

Kepala Desa dan perangkat Desa menerima

tunjangan yang bersumber dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Desa. Diambil dari

pendapatan desa, misalnya dari tanah kas desa.

(17)

Badan Permusyawaratan

Desa

Badan Permusyawaratan Desa atau yang

disebut dengan nama lain adalah lembaga

yang melakukan fungsi pemerintahan

yang anggotanya merupakan wakil dari

penduduk Desa berdasarkan keterwakilan

wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

Badan Permusyawaratan Desa merupakan

(18)

Badan Permusyawaratan

Desa

BPD mempunyai dan menjalankan fungsi

pemerintahan:

(a) membahas dan menyepakati Rancangan

Peraturan Desa bersama Kepala Desa; (b)

menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat

Desa; dan (c) melakukan pengawasan kinerja Kepala

Desa.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa merupakan

wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan

wilayah yang pengisiannya dilakukan secara

demokratis. Bisa berdasarkan musyawarah atau

melalui pemilihan berbasis wilayah.

Masa keanggotaan BPD selama 6 (enam) tahun,

(19)

Musyawarah Desa

Musyawarah Desa diselenggarakan oleh BPD dalam upaya

meningkatkan kinerja pemerintahan Desa, memperkuat kebersamaan, serta meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

Musyawarah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah

forum musyawarah antara BPD, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh BPD untuk memusyawarahkan dan menyepakati hal yang bersifat strategis dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Dengan demikian Musyawarah Desa bukan lembaga yang

permanen, melainkan forum bersama perluasan dari BPD yang bersifat Ad Hock.

Hal yang bersifat strategis meliputi: penataan Desa; perencanaan

Desa; kerja sama Desa; rencana investasi yang masuk ke Desa; pembentukan BUM Desa; penambahan dan pelepasan Aset Desa; dan kejadian luar biasa (seperti bencana, wabah penyakit, gangguan keamanan, dll).

Hasil Musyawarah Desa dalam bentuk kesepakatan yang dituangkan

(20)

Pemerintah dan masyarakat Desa dapat

membentuk Lembaga Adat Desa.

Lembaga Adat Desa merupakan lembaga

yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat

dan menjadi bagian dari susunan asli Desa

yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa

masyarakat Desa.

Lembaga adat Desa (

LADes

) bertugas

membantu Pemerintah Desa dan sebagai

mitra dalam Memberdayakan, Melestarikan,

dan Mengembangkan adat istiadat sebagai

wujud pengakuan terhadap adat istiadat

masyarakat Desa (semacam revitalisasi

(21)

Pembangunan Desa dalam UU

Desa

(22)

BADAN USAH MILIK DESA

(BUMDes)

Desa dapat membentuk BUMDes yg

dapat ditetapkan dengan Perdes

setelah didahului oleh dengan

Musyawarah Desa dan dikelola

secara Gotong-Royong;

Dapat menjalankan Usaha dibidang

(23)

Hasil Usaha BUMDes dpt dimanfaatkan

untuk

1. Pengembangan Usaha lanjutan;

2. Pembangunan Desa;

3. Pemberdayaan Masyarakat Desa;

4. Pemberian bantuan utk Masy miskin

melalui hibah;

5. Bantuan Sosial

(24)

Dukungan Pemerintah

untuk Pengembangan

BUMDes

a. Memberikan Hibah/Akses

Permodalan

b. Melakukan Pendampingan teknis

dan akses Pasar

(25)

Kegiatan Pemberdayaa n Masyarakat Kegiatan Pelayanan Publik Kegiatan Pembanguna n

Visi Tata Kelola Desa Membangun

dalam UU Desa

Tata Kelola (Tata Pemerintaha

n) Desa

Tata Kelola Supra Desa

Desa Sebagai SUBYEK Pembangunan:

•Konsolidasi program/kegiatan di desa.

•Konsolidasi dan penguatan kelembagaan desa.

•Kesatuan perencanaan dan

keuangan desa (one village, one plan,one budget).

•Penguatan partisipasi,

transparansi dan akuntabilitas pembangunan di tingkat desa.

(26)

Implikasi dari Visi Tata Kelola

Pembangunan Lokal Skala Desa

• Desa memiliki kewenangan yang jelas mencakup:

– Kewenangan asal-usul  azas pengakuan

– Kewenangan skala lokal desa  azas subsidiaritas

– Penugasan

• Desa membuat perencanaan program sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pembangunan desa.

• Desa harus memiliki sumber-sumber pendanaan yang memadai.

• Desa memiliki hak untuk mengelola aset dan membentuk usaha.

• Desa diberi kewenangan untuk menjalankan sendiri proyek-proyek skala desa (swakelola).

(27)

Tujuan Normatif Pembangunan

Desa

(Pasal 78)

Pembangunan Desa bertujuan meningkatkan

kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas

hidup manusia serta penanggulangan

kemiskinan melalui:

penyediaan pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa, pengembangan potensi ekonomi lokal,

pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan

secara berkelanjutan.

Pembangunan Desa mengedepankan

kebersamaan, kekeluargaan, dan

kegotongroyongan guna mewujudkan

(28)

Perencanaan Pembangunan

Desa

Pasal 79 (Mengatur Produk Perencanaan)

•Pemerintah Desa menyusun perencanaan Pembangunan Desa sesuai dengan

kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten/kota, mencakup:

– Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM-Desa) untuk jangka waktu 6 (enam) tahun;

– Rencana Pembangunan Tahunan Desa, merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa.

•RPJM-Desa dan Rencana Tahunan Desa ditetapkan dengan Peraturan Desa.

Rencana Pembangunan Desa merupakan satu-satunya dokumen perencanaan di Desa dan merupakan pedoman dalam penyusunan APBDesa(one village, one plan, one budget)

Program Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah yang berskala lokal

Desa dikoordinasikan dan/atau diintegrasikan pelaksanaannya kepada Desa.

(29)

Pelaksanaan Pembangunan Desa

(Pasal 81)

Pembangunan Desa dilaksanakan oleh Pemerintah Desa

dengan

melibatkan seluruh masyarakat Desa

dengan semangat gotong royong.

Pelaksanaan Pembangunan Desa dilakukan dengan

memanfaatkan kearifan lokal dan sumber daya alam

Desa.

Pembangunan lokal berskala Desa dilaksanakan

sendiri oleh Desa

Swakelola

Pelaksanaan program sektoral yang masuk ke

(30)

Pemantauan dan Pengawasan

Pembangunan Desa (Pasal 82)

• Masyarakat Desa berhak mendapatkan informasi

mengenai rencana dan pelaksanaan Pembangunan Desa.

• Masyarakat Desa berhak melakukan pemantauan

terhadap pelaksanaan Pembangunan Desa.

• Masyarakat Desa melaporkan hasil pemantauan dan berbagai keluhan terhadap pelaksanaan Pembangunan Desa kepada Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa.

Pemerintah Desa wajib menginformasikan

perencanaan dan pelaksanaan Pembangunan

termasuk APBDesa- kepada masyarakat Desa melalui

layanan informasi kepada umum dan melaporkannya dalam Musyawarah Desa paling sedikit 1 (satu) tahun sekali.

• Masyarakat Desa berpartisipasi dalam Musyawarah Desa

(31)

Masalah Pelayanan, Pembangunan

dan Pemberdayaan Skala Lokal Desa

Hampir 70% pemerintahan desa tidak berfungsi.

– Desa tidak memiliki keuangan yang cukup untuk membangun desa secara mandiri.

Perangkat desa tidak dapat bekerja dengan efektif karena

ketidakjelasan status.

Banyak desa-desa yang tertinggal, sehingga perlu pemihakan

konkrit dari pemerintah.

Kapasitas kabupaten dalam mendukung desa rendah (rata-rata

PAD = 6% , rata-rata belanja personel= 50,3 terhadapa total APBD).

Program-program K/L masuk secara ad hock dan

(32)

Sumber-Sumber Pendapatan Desa

(Pasal 72)

• Pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;

Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

10% dari dana transfer ke daerah (ini berarti dana transfer ke daerah adalah

110% yang terbagi 100% untuk daerah dan 10% untuk desa)

Bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah

kabupaten/kota;

10% dari Pajak dan Retribusi Daerah

Alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan

yang diterima kabupaten/kota;

10% dari DAU + DBH

• Bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota;

(33)

Sumber-sumber Pendapatan Desa dari

Pemerintah yang Dimandatkan UU

Desa & Terus Menerus

Baik dana yang bersumber dari DAU + DBH maupun alokasi dari APBN yang diperuntukan untuk desa

(34)

Merupakan wujud kongkrit dari pengakuan negara terhadap

kewenangan asal-usul (asas pengkuan) dan kewenangan skala lokal desa (asas subsidiaritas).

Memenuhi keseimbangan pembangunan desa sebagai akibat dari

keberagaman dari yang bersumber dari perimbangan.

Harus dialokasikan sesuai dengan kriteria untuk mendukung

pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa.

– Kriteria mencakup: jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, ketersediaan infrastruktur untuk akses dan pelayanan dasar, dll.

• Penetapan alokasi APBN ke desa harus bersifat transparan dan dapat dikontrol pemerintah dan desa.

Skema pencairan, pemanfaatan dan pertanggungjawaban dana harus

dibuat dengan baik sehingga alokasi menjadi efektif dan akuntabel.

(35)

• Aset Desa dapat berupa tanah kas Desa, tanah ulayat, pasar Desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan Desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik Desa, mata air milik Desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik Desa.

Kekayaan milik Pemerintah dan Pemerintah Daerah berskala lokal Desa yang ada di Desa dapat dihibahkan

kepemilikannya kepada Desa.

• Kekayaan milik Desa yang berupa tanah disertifikatkan atas nama Pemerintah Desa.

• Kekayaan milik Desa yang telah diambil alih oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota dikembalikan kepada Desa, kecuali yang sudah

digunakan untuk fasilitas umum.

• Bangunan milik Desa harus dilengkapi dengan bukti status kepemilikan dan ditatausahakan secara tertib.

• Pengelolaan kekayaan milik Desa dilaksanakan berdasarkan asas kepentingan umum, fungsional, kepastian hukum, keterbukaan, efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan kepastian nilai ekonomi.

Pengelolaan kekayaan milik Desa dilakukan untuk

meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat Desa serta meningkatkan pendapatan Desa.

• Pengelolaan kekayaan milik Desa dibahas oleh Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa berdasarkan tata cara pengelolaan kekayaan milik Desa yang diatur dalam Peraturan Pemerintah.

(36)

BUM Desa (Pasal 87-90)

• Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa yang disebut BUM Desa.

BUM Desa dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

• Pendirian BUM Desa disepakati melalui Musyawarah Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.

•  Hasil usaha BUM Desa dimanfaatkan untuk:

– pengembangan usaha; dan

Pembangunan Desa, pemberdayaan masyarakat Desa, dan pemberian bantuan untuk masyarakat miskin melalui hibah, bantuan sosial, dan kegiatan dana bergulir yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

• Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, dan Pemerintah Desa mendorong perkembangan BUM Desa dengan:

– memberikan hibah dan/atau akses permodalan;

(37)

Pemberdayaan Pemerintah dan Masyarakat

Desa

(Pasal 112 ayat 3)

Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, dan

Pemerintah

Daerah

kabupaten/kota

memberdayakan masyarakat Desa dengan:

menerapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi, teknologi tepat guna, dan temuan baru untuk kemajuan ekonomi dan pertanian masyarakat Desa;

meningkatkan kualitas pemerintahan dan masyarakat Desa

melalui pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan; dan

mengakui dan memfungsikan institusi asli dan/atau yang

sudah ada di masyarakat Desa.

Pemberdayaan masyarakat Desa dilaksanakan

dengan

pendampingan

dalam

perencanaan,

(38)

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

BAB XIV, Pasal 112

 

Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

membina

dan

mengawasi

penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

(39)

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 116

(1)Desa yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku tetap diakui sebagai Desa.

(2)Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menetapkan Peraturan Daerah tentang penetapan Desa dan Desa Adat di wilayahnya. (3)Penetapan Desa dan Desa Adat sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan

(4)Paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Desa melakukan inventarisasi Aset Desa.

(40)

Ketentuan Peralihan

Pasal 117

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang sudah ada wajib menyesuaikannya dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

 

Pasal 118

(1) Masa jabatan Kepala Desa yang ada pada saat ini tetap berlaku sampai habis masa jabatannya.

(2) Periodisasi masa jabatan Kepala Desa mengikuti ketentuan Undang-Undang ini. (3) Anggota Badan Permusyawaratan Desa yang ada pada saat ini tetap

menjalankan tugas sampai habis masa keanggotaanya.

(4) Periodisasi keanggotaan Badan Permusyawaratan Desa mengikuti ketentuan Undang-Undang ini.

(5) Perangkat Desa yang tidak berstatus pegawai negeri sipil tetap melaksanakan tugas sampai habis masa tugasnya.

(41)

Terima

Kasih

“Membangun Dari

Desa

Referensi

Dokumen terkait

f. Memberitahukan unit kerja yang mengelola pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil di kabupaten/kota di wilayah tempat domisili yang bersangkutan tentang pencatatan

Kaitan antara antropologi dengan gizi masyarakat , yaitu Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman dan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu, (1) Kurikulum sains harus tetap berupaya mengintegrasikan antara Al-Quran, sains kealaman dan sains

Penelitian ini merupakan pengembangan dari sistem lightning counter , dengan memperbaiki sistem kinerja alat (hanya menggerakkan indikator angka) menjadi informasi

Mulai dari Siam Paragon yang dinobatkan menjadi The Most Instagrammed , pertunjukkan Muay Thai di Bangkok, dan informasi mengenai tempat-tempat untuk merayakan

•Didalam uji coba ini OpenCV dapat mendeteksi Posisi tangan sehingga Simulasi Robot 3D dapat dikontrol dengan deteksi citra tangan. •Pengontrolan dilakukan secara Real Time dalam

Modul divalidasi oleh 3 dosen ahli (ahli materi, ahli bahasa dan ahli media), 2 peer reviewer dan 2 reviewer. Modul berbasis case-based learning menggunakan analogi

Gubernur Jenderal tidak dapat menguasai tanah yang telah dibuka oleh penduduk asli, atau tanah yang biasa digunakan untuk pengembalaan, atau tanah yang termasuk