50 22 RAMADLAN - 6 SYAWAL 1431 H
TELAAH PENDIDIKAN
KELUARGA SEBAGAI PILAR
PENDIDIKAN KARAKTER
NUR KHOLIS
DOSEN FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
P
enentu kualitas manusia dalam sebuah bangsa bertumpu pada dua faktor. Yaitu, pertama faktor hereditas atau faktor keturunan. Sejatinya, kita anak bangsa yang hidup di era sekarang, merupakan manusia-manusia Indonesia berbahan baku kualitas nomor satu. Lahir dari rahim generasi 1945, cucu dari generasi 1928, dan cicit dari generasi 1912, luar biasa. Tapi mengapa karakter anak bangsa ini tidak sehebat moyangnya? Perilaku kekerasan, vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kelatahan kolektif. Untuk mendapatkan harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan ilmu permalingan dan berselingkuh dengan dunia klenik dan mistik. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas kolosal yang menyuguhkan repertoar tragis, pilu, dan menyesakkan dada.Kedua, dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun karakter bangsa Indonesia menuju bangsa maju, bermartabat dan beradab. Lalu apa yang salah pada pendidikan karakter generasi ini? Dari mana kita mengawali pendidikan karakter anak bangsa ini?
Gagasan Awal
Pendidikan karakter pada mulanya digagas oleh paedagog Jerman FW Foerster (1869-1966) pada dekade abad 19-an yang menekankan pada sisi etis-spiritual sebagai upaya pembentukan kepribadian. Pendidikan ini lebih merupakan reaksi atas kejumudan natural Rousseauian dan instrumentalisme paedagogisnya Deweyan.
Menurut FW Foerster ada empat ciri utama dalam pendidikan karaker, yaitu; pertama, keteraturan interior di mana ukuran segala tindakan berdasarkan takaran nilai dengan kata lain nilai menjadi acuan normatif bagi tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di
situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.
Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Keluarga sebagai Penopang Utama
Keluarga merupakan unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam ajaran agama Islam, anak adalah amanat Allah. Amanat wajib diper-tanggungjawabkan. Jelas, tanggung jawab orang tua ter-hadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan di tengah-tengah keluarga dan men-dapat pendidikan yang pertama di dalam keluarga. Dika-takan utama karena pendidikan yang terjadi dan berlang-sung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya.
Para ahli sependapat bahwa betapa pentingnya pendi-dikan keluarga ini. Mereka mengatakan bahwa apa-apa yang terjadi dalam pendidikan keluarga, membawa pengaruh terhadap lingkungan pendidikan selanjutnya, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tujuan dalam pendidikan keluarga atau rumah tangga ialah agar anak mampu berkembang secara maksimal yang meliputi se-luruh aspek perkembangan yaitu jasmani, akal dan ruhani. Dalam buku The National Studi on Family Strength, Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan ba-hagia, yaitu: 1) Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga, 2) Tersedianya waktu untuk bersama keluarga, 3) Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak, 4) Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak, dan 5) Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi.
De
m
o (Vi
si
t ht
tp:
//www.pdfspl
itm
erge
r.c
om
51 SUARA MUHAMMADIYAH 17 / 95 | 1 - 15 SEPTEMBER 2010
TELAAH PENDIDIKAN
Secara garis besar pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. Pembinaan Akidah dan Akhlak
Pembinaan akidah dan akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan anak untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Tuhan dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits melalui berbagai kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Muhammad Nur Hafidz merumuskan empat pola dasar dalam proses pembinaan akidah pada anak dalam keluarga, yaitu; pertama, senantiasa membacakan kalimat Tauhid pada anaknya.
Kedua, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Ketiga, mengajarkan Al-Qur’an dan keempat
menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan. Sedangkan akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku. Pendidikan dan pembinaan akhlak anak dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orangtua. Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antara ibu, bapak dan masyarakat. Dalam hal ini, Benjamin Spock menyatakan bahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikan teladan ataupun idola bagi mereka.
2. Pembinaan Intelektual
Pembinaan intelektual dalam keluarga memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual, spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitas akan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah. Nabi Muhammad juga mewajibkan kepada pengikutnya untuk selalu mencari ilmu sampai kapan pun.
3. Pembinaan Kepribadian dan Sosial
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai pembentukan
produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatarbelakanginya. Mengingat hal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat menjaga emosional diri dan jiwa seseorang. Dalam hal yang baik ini adanya kewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi support kepribadian yang baik bagi anak didik yang relative masih muda dan belum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berperilaku sopan santun dalam bersosial dengan sesamanya. Untuk memulainya, orangtua bisa dengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orangtua agar kelak si anak dapat menghormati orang yang lebih tua darinya.
Karakter Yang Diharapkan
Oleh pendidikan keluarga di atas minimal harus menghasilkan karakter putera-puteri bangsa sebagai berikut; pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab;
ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan;
kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Untuk kesembilan karakter tersebut, Ratna Megawangi, menawarkan metode pendidikan sebagai berikut; metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan.
Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan. Semoga Muhammadiyah dan Aisyiyah bisa mewujudkannya melalui gerakan keluarga sakinahnya, Amin.l