Jurnal Akuntansi dan Keuangan

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN EDITORIAL DAN PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL (Jurnal Akuntansi dan Keuangan)

KEBIJAKANEDITORIAL

Jurnal Akuntansi dan Keuangan diterbitkan atas kerjasama Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi dengan Pusat Penelitian Universitas Kristen Petra - Surabaya secara berkala (setiap enam bulan) dengan tujuan untuk menye-barluaskan hasil pengembangan dan pengkajian bidang akuntansi dan keuangan pada umumnya, khususnya bidang akuntansi keuangan, pasar modal, akuntansi manajemen, sistem informasi akuntansi, auditing, perpajakan dan bidang keuangan.

Jurnal Akuntansi dan Keuangan menerima kiriman artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Penulis harus menyatakan bahwa artikel yang dikirim ke Jurnal Akuntansi dan Keuangan tidak dikirimkan atau telah dipublikasikan dalam jurnal yang lain. Untuk artikel hasil riset dengan pendekatan survei, penulis harus melampirkan instrumen riset (kuisioner, daftar wawancara dan lain-lain).

Penentuan artikel yang dimuat dalam Jurnal Akuntansi dan Keuangan melalui proses review oleh Dewan Redaksi. Dewan Redaksi bertanggung jawab untuk memberikan telaah konstruktif dan, jika dipandang perlu, menyampaikan hasil evaluasi kepada penulis artikel. Artikel dikirim ke Redaksi Jurnal Akuntansi dan Keuangan dengan alamat:

Y. Jogi Christiawan, SE. Ak (Pemimpin Redaksi) Jurnal Akuntansi dan Keuangan

Berikut ini adalah pedoman penulisan artikel dalam Jurnal Akuntansi dan Keuangan yang diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi penulis.

A. FORMAT PENULISAN ARTIKEL

1. Artikel adalah karya asli penulis yang belum pernah dipublikasikan di media lain. Artikel bisa berupa artikel ilmiah atau hasil suatu penelitian.

2. Artikel diketik rapi pada satu sisi kertas ukuran kuarto dengan spasi ganda, kecuali kutipan langsung yang diindent (ditulis satu spasi). Jenis huruf artikel adalah times new roman ukuran

10. Artikel diketik dalam program Microsoft Word versi 6.0 atau 7.0

3. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar. 4. Panjang artikel berkisar antara 20 - 25 halaman (tidak termasuk daftar pustaka) dengan margin atas, bawah dan samping sekitar 1 inchi.

5. Khusus halaman depan (cover) memuat judul artikel, nama penulis(tanpa gelar akademik), dan abstraksi.

6. Judul ditulis rata tengah (centre) dengan huruf besar pada setiap awal kata kecuali kata penghubung. Jenis huruf judul adalah times new roman - bold ukuran 14.

7. Sub Judul ditulis rata tengah (centre) dengan huruf besar pada setiap awal kata kecuali kata penghubung. Jenis huruf judul adalah times new roman - bold ukuran 12.

(2)

10. Semua halaman, termasuk tabel, lampiran dan daftar pustaka sebaiknya diberi nomor urut halaman.

B. ABSTRAKSI

Abstraksi merupakan ringkasan yang padat atas isi artikel, yang berisi antara lain seputar pertanyaan atas permasalahan, metodologi, temuan dan bukan rumus matematis. Panjang abstraksi sekitar 100 - 300 kata dan harus dicantumkan pada setiap artikel.

Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan menggunakan huruf miring (italic).

Abstraksi diikuti dengan sedikitnya empat kata kunci (keywords) untuk memudahkan penyusunan indeks artikel.

C. ACUAN

1. Dalam teks, karya yang diacu ditulis dengan menyebut nama akhir penulis serta tahun dalam tanda kurung, misalnya: (Osborn, 1994), untuk dua penulis (Osborn and Caflin, 1992), lebih dari dua penulis (Osborn, et.al, 1993).

2. Apabila sumber yang diacu lebih dari dua : (Osborn, 1991; Nick, 1992), bila dua tulisan ditulis oleh satu orang: (Osborn, 1992,1994)

3. Apabila nomor halaman dicantumkan: (Osborn, 1992:24), apabila halaman berkisar antara 25 sampai 40: (Osborn, 1992:25-40).

4. Apabila acuan berasal dari institusi: (IAI-Pernyataan Akuntansi Keuangan No. 2, 1994)

D. DAFTAR PUSTAKA

Daftar pustaka ditulis alphabetis sesuai dengan nama akhir (tanpa gelar akademik), baik untuk penulis asing maupun penulis Indonesia.

Satu Pengarang

Bringham, Eugene F (1992). Fundamental of Financial Management. Sixth Edition. Fort Wort: The Dryden Press.

Dua Pengarang

Bringham, Eugene F and Virgia H. Graves (1993). Business Mathematics: A Collegiate Approach. Sixth Edition. New Jersey : Prentice Hall.

Referensi dari Majalah / Jurnal

Harvey, Cambell R (March 1991). "The Word Price of Covariance Risk". Journal of Finance, page:111-157.

Referensi dari Institusi

Ikatan Akuntan Indonesia (1994). "Standar Profesional Akuntan Publik". Jakarta, Devisi Penerbitan IAI.

Referensi dari Makalah Seminar

Kadir, Samsir (1996). "Mentalitas dan etos Kerja". Makalah Seminar Nasional Strategi Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Universitas Gajah Mada,Yogyakarta: 16-17 Januari

E. LAIN-LAIN

Artikel dikirim sebanyak satu eksemplar dan menyerahkan disket. Redaksi berhak menolak atau mengedit artikel yang diterima. Artikel yang tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan akan dikembalikan. Artikel yang memerlukan diskusi dengan penulis akan diteruskan kepada penulis untuk ditanggapi.

(3)
(4)

Agenda Kerja Kepengurusan IAI - Kompartemen Akuntan Publik IAI-KAP mempunyai program kerja yang membawahi bidang-bidang : >> BIDANG KEANGGOTAAN

>> BIDANG KEPROFESIAN

>> BIDANG KELEMBAGAAN

>> BIDANG KEMASYARAKATAN

>> BIDANG PASAR MODAL ( FAPM )

>> DEWAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK ( SPAP )

>> BIDANG KEANGGOTAAN

Pengetahuan profesi seorang akuntan menjadi lebih sempurna bila pengetahuan tersebut dikombinasikan dengan etika yang benar , sopan santun, tata tertib, penampilan profesional dan kepribadian yang baik sehingga

menciptakan akuntan yang mempunyai integritas tinggi.

Pendidikan Profesi Berkelanjutan (PPL) yang diselenggarakan pada kepengurusan ini menekankan pembahasan pada kasus-kasus yang merujuk pada teori Akuntansi, Audit, Perpajakan, Sistem Informasi, Keterampilan Profesional, Manajemen Kantor dan Keterampilan Interpersonal.

Penyelenggaraan PPL dibagi dalam tiga kategori. Kategori pertama untuk partner/manajer. Kategori kedua untuk manajer/supervisor. Kategori ketiga untuk senior/junior auditor. Penyelenggaraan PPL untuk partner/manajer setiap bulan di kota yang berbeda. Sedangkan PPL untuk manajer/supervisor dan senior/junior auditor setiap dua bulan di Jakarta.

Informasi akuntansi dan kegiatan-kegiatan yang terjadi di seputar anggota IAI-KAP akan dituangkan dalam buletin 'Antara Kita' yang tentunya dapat bermanfaat bagi anggota, untuk itu akan diusahakan terbit setiap bulan.

Partisipasi dari setiap profesional akuntan publik sebagai penyaji, peserta ataupun pengisi buletin sangat kami hargai. Sumbang saran untuk meningkatkan mutu pendidikan profesi berkelanjutan maupun mutu dari buletin 'Antara Kita' menjadi harapan kami.

>> BIDANG KEPROFESIAN RENCANA KERJA

Memberikan usulan kepada Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dan Dewan Standar Akuntan Publik (DSAP) tentang topik SAK dan SPAP yang perlu segera dibuat dan perbaikan/penyempurnaan SAK dan SPAP. Mengajukan pertanyaan /konfirmasi kepada Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dan Dewan Standar Profesional Akuntan Publik (DSPAP) apabila terdapat hal-hal yang kurang jelas tentang SAK dan SPAP yang telah ada.

Memberikan masukan secara tertulis atas setiap Exposure Draft (ED) kepada DSAK atau DSPAP. Membina komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan DSAK dan DSPAP.

Memonitor pendistribusian Exposure Draft SAK dan SPAP kepada seluruh anggota.

Menginformasikan kepada bidang Keanggotaan tentang topik-topik baru dan penting yang perlu disosialisasikan melalui PPL.

Menginformasikan kepada anggota apabila terdapat isu penting atau peraturan baru yang relevan dengan profesi akuntan publik melalui surat atau newsletter.

Dengan bantuan dari bidang Keanggotaan secara periodik menyelenggarakan diskusi untuk membahas isu teknis keprofesian yang relevan.

Secara periodik membuat daftar ED yang telah dikeluarkan dan yang sudah difinalisasi serta daftar peraturan perpajakan/peraturan lainnya yang dikeluarkan untuk publikasi melalui newsletter.

Untuk menjaga agar tidak ketinggalan terhadap isu baru, bidang Keprofesian perlu dibekali dengan berbagai Publikasi Akuntansi terutama yang diterbitkan oleh AICPA dan IASB.

Membantu Ketua IAI-KAP menyiapkan artikel/tulisan tertentu yang dipandang perlu untuk menanggapi berbagai publikasi yang berhubungan dengan profesi Akuntan Publik.

Membantu mencarikan saksi ahli (dalam hal ini profesi Akuntan Publik) apabila dibutuhkan oleh pihak-pihak tertentu, baik ekstern maupun intern.

Memberi masukan kepada dewan SPAP sehubungan dengan penyusunan Kode Etik Akuntan Kompartemen Akuntan Publik.

(5)

I. CAKUPAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

Mengembangkan dan membina hubungan kelembagaan antara IAI-KAP dengan lembaga / badan Pemerintah, Non Pemerintah, Asosiasi dan organisasi lainnya.

II. TUJUAN

1. Membina hubungan kelembagaan yang saling menguntungkan. 2. Membuat program bersama untuk :

a. memasyarakatkan peluang b. jasa-jasa yang ditawarkan KAP

III. PROGRAM KERJA

Program kerjasama yang ditawarkan dengan lembaga lain untuk mensosialisasikan profesi akuntan antara lain dengan :

1. Seminar 2. Pelatihan 3. Workshop

4. Konsultansi manajemen 5. Perpajakan

6. Pelayanan akuntansi 7. Buku-buku Panduan Audit

8. Penyebaran informasi yang berkaitan dengan profesi akuntan, antara lain Undang-undang / Peraturan. IV. TENAGA PELAKSANA PENUNJANG PROGRAM KERJA

Tenaga pelaksana penunjang kerja ini, terdiri dari : 1. Anggota Bidang Kelembagaan

2. Kerjasama dengan Bidang Kemasyarakatan

3. Instruktur / penatar kerjasama dengan Sub-Bidang PPL 4. Pelaksanaan dan Administrasi kerjasama dengan Sekretariat 5. Narasumber dari anggota IAI-KAP dan dari lainnya.

V. JADWAL PROGRAM KERJA

Intensitas program kerja tersebut diatas sangat terkait dengan respon yang diperoleh dari lembaga-lembaga yang akan dijalin kerjasamanya.

>> BIDANG KEMASYARAKATAN

Mengemban misi mempopulerkan / menghumaskan IAI-KAP dalam hubuNgannya dengan berbagai pihak Pemerintah antara lain : DPR/ MPR, Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan dan Dewan Pertimbangan Agung, Bank Indonesia dan pengguna jasa serta non pengguna jasa. Rincian upaya mempopulerkan / menghumaskan IAI-KAP dapat dilihat pada program kerja tiap-tiap Sub-Bidang :

I. SUB-BIDANG PERUNDANG-UNDANGAN

1. Menciptakan akses kepada pihak Pemerintah, DPR/MPR, Mahkamah Agung Badan Pemeriksa Keuangan dan Dewan Pertimbangan Agung, Bank Indonesia untuk melibatkan profesi Akuntan Publik dalam rangka

penyusunan Revisi Undang-Undang Perpajakan, Undang-Undang Anti Monopoli dan Persaingan Sehat, Rancangan Undang-Undang Profesi Akuntan Publik, Undang-Undang Otonomi Daerah, Revisi Undang-Undang Pasar Modal, dan lain-lain.

2. Melakukan lobby dengan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka mendorong lahirnya Peraturan Pemerintah, Kepres, Inpres, Kepmen dan SE-BI sehubungan dengan peningkatan peran Akuntan Publik dalam pembangunan nasional

II. SUB-BIDANG PENERANGAN

(6)

2. Bekerjasama dengan media cetak maupun elektronik untuk mensosialisasikan IAI-KAP, khususnya tugas atau fungsi akuntan publik, wewenangnya, tanggung jawabnya maupun keterbatasannya seperti mengirimkan tulisan-tulisan dan melakukan talk show.

3. Memberikan tanggapan (counter) atas masalah-masalah aktual yang berhubungan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tugas-tugas akuntan publik yang sering muncul di media massa, setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten.

4. Berperan aktif untuk membantu mensosialisasikan program-program kerja IAI-KAP kepada instansi-instansi terkait sehingga diharapkan terbentuknya kerjasama yang baik.

5. Standarisasi logo dan tulisan IAI-KAP yang berhubungan dengan ukuran, warna dan letak, baik di kop surat, amplop, spanduk, kartu nama, dan lain-lain.

III. SUB-BIDANG SOSIAL

1. Kerjasama Inhouse Training antar KAP dalam rangka membantu KAP yang belum menangani Inhouse Training sendiri.

2. Memberikan Bea Siswa bagi mahasiswa jurusan Akuntansi semester terakhir yang kurang mampu namun BERPOTENSI, dengan pola Anak Asuh yang didanai oleh rekan-rekan yang berminat menjadi Orang Tua Asuh. 3. Melakukan training yang berkaitan dengan Auditing dan Akuntansi bagi Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi yang baru lulus dan diupayakan untuk dapat disalurkan sebagai staf dari KAP atau Perusahaan.

4. Kerjasama dengan IAI PEDULI untuk merealisasikan bantuan kepada yang berhak.

>> BIDANG PASAR MODAL ( FAPM )

Forum Akuntan Pasar Modal (FAPM) adalah wadah organisasi yang keberadaannya sebagai mitra dari Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), dibentuk untuk menghimpun para akuntan publik yang memberi jasa profesi penunjang di Pasar Modal.

TUJUAN

1. Memberikan rekomendasi untuk pendaftaran keanggotaan FAPM.

2. Melakukan pemeliharaan administrasi keanggotaan FAPM dan penyelesaian masalah administrasi lainnya dengan BAPEPAM.

3. Meningkatkan komunikasi antar anggota FAPM, terutama berkenaan dengan informasi, peraturan dan ketentuan di bidang pasar modal yang relevan.

PROGRAM KERJA

1. Registrasi ulang termasuk pengecekan penyelesaian iuran IAI-KAP. 2. Penambahan kalimat sebagai anggota FAPM pada kartu anggota. 3. Membuat mailbox di website IAI.

4. Memfasilitasi penyediaan referensi dan informasi lainnya sebagai tambahan input sehubungan dengan permasalahan teknis yang dihadapi anggota.

5. Temu muka pengurus IAI-KAP dengan BAPEPAM. 6. Pertemuan antara Pengurus FAPM dengan anggota.

7. Menyelenggarakan program PPL di bidang Pasar Modal sekurang-kurangnya 2 kali. >> DEWAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK ( SPAP )

PROGRAM KERJA

1. Perubahan di dalam due process procedure.

2. Up dating Buku SPAP (up dating kode etik harus dilakukan didalam rapat anggota). 3. Penerbitan :

- Standar Auditing - Standar Atestasi - Standar Jasa Konsultasi

- Standar Jasa Akuntansi dan Review (referensi dari IAS dan AICPA)

4. Menerbitkan IPSA, IPSAT, IPSJK, IPSAR sesuai dengan kebutuhan.

(7)

6. Bekerjasama dengan bidang Pendidikan untuk memberikan PPL (sebagai pembicara).

7. Ide dan Implementasi Fund Raising untuk kegiatan DSPAP baik untuk periode 1999-2001 maupun untuk periode yang akan datang.

8. Bekerjasama dengan Dewan Konsultatif untuk mendapatkan masukan mengenai standar profesional yang perlu diterbitkan. Untuk itu dibutuhkan aturan yang mengatur tata kerja Dewan Konsultatif dalam hubungannya dengan DSPAP.

(8)

[ Artikel-Artikel: Upaya Penanggulangan Korupsi di Indonesia ] Memantau Anggaran Publik

Oleh: Rinto Andriono Pengamat

email: idea@yogya.wasantara.net.id

Secara umum, anggaran baik anggaran perusahaan, anggaran negara, anggaran daerah atau anggaran lembaga-lembaga lainnya dapat diartikan sebagai rencana keuangan yang mencerminkan pilihan kebijaksanaan untuk suatu periode masa yang akan datang. Anggaran bagi sektor publik meliputi anggaran bagi sebuah negara, suatu daerah otonom atau badan usaha milik negera atau akan lebih mudah disebut dengan anggaran publik. Makna anggaran publik adalah suatu kebijakan publik tentang perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa depan serta data dari pengeluaran dan penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi di masa yang lalu.1

Pada mulanya fungsi anggaran publik adalah pedoman bagi pemerintah dalam mengelola negara atau daerah otonom untuk satu periode di masa yang akan datang, namun karena sebelum anggaran publik dijalankan harus mendapatkan persetujuan dari lembaga perwakilan rakyat maka anggaran publik berfungsi sebagai alat pengawasan masyarakat terhadap kebijakan publik yang dipilih oleh pemerintah. Selain itu karena pada akhirnya setiap anggaran publik harus dipertanggunjawabkan pelaksanaannya oleh pemerintah kepada lembaga perwakilan rakyat, berarti anggaran negara juga berfungsi sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan yang telah dipilihnya.2

Dengan melihat fungsi anggaran publik diatas maka anggaran publik harus dilihat sebagai power relation antara eksekutif, legislatif dan rakyat sendiri. Bagi rakyat yang harus dilakukan adalah memantau arah dari prioritas kebijakan yang dibuat pemerintah satu tahun mendatang yang akan dinyatakan dalam bentuk nominal dalam anggaran. Tujuan pemantauan prioritas adalah memantau apakah prioritas kebijakan efektif untuk kepentingan rakyat banyak atau tidak.3

Bagi Indonesia dan bagi daerah-daerah kabupaten atau kota dan propinsi di Indonesia prioritas anggaran publiknya hingga 70-80%-nya digunakan untuk membiayai gaji dan fasilitas birokrasinya sedangkan yang kembali kepada rakyat dalam bentuk anggaran pembangunan baru 30-20% saja. Selain itu mengingat anggaran publik adalah pernyataan sebuah power relation antara kekuatan-kekuatan politik maka ada kemungkinan terjadi politik uang dalam penyusunan anggaran. Oleh karena itu sangat strategis peran pemantauan anggaran yang dilakukan oleh elemen-elemen masyarakat sipil yang ada.

Kondisi yang berubah

Di era otonomi daerah ini penyusunan anggaran (APBD) menjadi urusan strategis bagi daerah. Pada masa orde baru otoritas ini dipegang secara sentralistis pada eksekutif yaitu pemerintah pusat. Sedangkan pemerintah daerah bersama DPRD hanya bertugas mengalokasikan sebagian kecil dari APBD, sekitar 10% bagi daerah miskin dan sekitar 20% bagi daerah kaya, yaitu porsi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sekarang ini wewenang untuk menentukan prioritas kebijakannya yang ditunjukan dalam APBD sepenuhnya menjadi otoritas daerah.

Bila pada masa orde baru otoritas penyusunan APBD lebih besar ditangan eksekutif, maka di era otonomi daerah ini otoritas penyusunan APBD sepenuhnya ditangan DPRD. Perubahan kondisi ini menimbulkan

1

John F. Due, Keuangan Negara, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1975

2

Revrisond Baswir, Akuntansi Pemerintahan Indonesia, BPFE, 1997

3

John Samuel (ed), Understanding Budget: As if people mattered,

(9)

banyak masalah pertama sistem pengalihan anggaran yang tidak jelas dari pusat ke daerah. APBD 2001 harus dijalankan per Januari 2001 namun hingga sekarang besarnya dana perimbangan dari pusat yang akan diberikan kepada daerah belum ditentukan. Diperkirakan DPR dan Pemerintah pusat baru akan menyelesaikannya awal Desember 2000, bila demikian maka daerah akan kesulitan untuk menyusun APBD 2001 secara lebih hati-hati, kedua, bila waktunya sempit sementara tahapan yang harus dilalui dalam menyusun anggaran cukup lama maka dimana kehati-hatian dan partisipasi rakyat dapat dilakukan. Tahapan penyusunan anggaran adalah tahap penyusunan yang dilakukan oleh eksekutif untuk anggaran pemerintah daerah dan oleh legislatif untuk anggaran DPRD. Penyusunan ini memerlukan waktu 6 bulan. Setelah disusun, RABPD pemerintah daerah disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD untuk selanjutnya dibahas dan disahkan. Periode pembahasan dan pengesahan ini memerlukan waktu hingga 3 bulan selanjutnya setelah disahkan menjadi Peraturan daerah baru APBD resmi berlaku hingga satu tahun mendatang untuk dipertanggungjawabkan kepada DPRD.

Ketiga, esensi otonomi dalam penyusunan anggaran masih dipelintir oleh pemerintah pusat karena otonomi pengelolaan sumber-sumber pendapatan masih dikuasai oleh pusat sedangkan daerah hanya diperbesar porsi belanjanya. Porsi belanja itu pun tidak meningkat banyak dibandingkan pada masa orde baru dahulu. Bagi daerah kaya seperti Riau, Kaltim atau Papua kemungkinan peningkatan belanja hingga 20% namun bagi daerah miskin seperti DI Yogyakarta dan lain-lain paling banyak hanya naik 3-5% saja.

Keempat, Ternyata DPRD dimanapun memiliki kesulitan untuk melakukan asessment prioritas kebutuhan rakyat yang harus didahulukan dalam APBD. Sementara itu pemerintah daerah selaku eksekutif memiliki kemampuan dan jajaran birokrasi untuk melakukan penyusunan anggaran daerah. Mekanisme yang selama ini dilakukan oleh eksekutif adalah melalui Rakorbang (rapat koordinasi pembangunan) dari tingkat propinsi hingga ke desa. Mekanisme ini masih jauh dari konsep partisipasi publik dan apalagi transparansi serta akuntabilitas.

Kelima, volume APBD yang disusun oleh daerah meningkat hingga 800% dibandingkan pada masa orde baru, hal ini menimbulkan masalah karena sedikit-banyak DPRD dan pemerintah daerah perlu berkerja lebih keras untuk menyusun APBD.

Keenam, meskipun masih harus melalui pemerintah pusat namun pemerintah menurut UU No 25 tahun 1999 memiliki kewenangan untuk melakukan pinjaman daerah baik ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Hal ini tentu saja sama berbahayanya dengan jerat utang luar negeri yang melanda pemerintah pusat.

(10)

Dengan melihat perubahan diatas maka memantau anggaran adalah strategis paling tidak untuk dua hal pertama memantau efektifitas prioritas kebijakan yang dipilih oleh pemerintah. Tentu saja kebijakan akan semakin efektif jika semakin sesuai dengan kebutuhan rakyat. Kedua, memantau penyimpangan yang mungkin terjadi dalam setiap tahap penganggaran dalam siklus anggaran. Namun sebelum melakukan pemantauan, penting bagi kita untuk mengetahui struktur APBD/APBN. Dengan dua tujuan pemantauan diatas maka terdapat dua strategi besar pemantauan anggaran publik yaitu public argument dan budget process monitoring.

Dengan perspektif bahwa anggaran publik adalah power relation antar kekuatan dalam masyarakat maka public argument adalah strategi yang harus diambil untuk memberikan prioritas alternatif yang dibutuhkan oleh rakyat dalam anggaran. Argumen prioritas menurut rakyat ini bisa hasil riset kecil-kecilan di daerah mengenai pertama komparasi antara pengeluaran rutin untuk menggaji dan memfasilitasi birokrasi dengan pengeluaran pembangunan untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat, kedua mengajukan usulan atas pajak yang lebih adil misalnya Pajak Penerangan Jalan yang ada di tiap Kabupaten dan Kota yang ternyata tarif untuk rumah tangga lebih mahal dari pada tarif untuk industri atau instansi pemerintah. Atau pajak kendaraan bermotor yang diatur oleh Permendagri 2/1996 dimana insentifnya dibagikan kepada aparat pemungut dan DPRD padahal pajak ini adalah captive market sehingga tidak perlu insentif dalam pemungutannya. Ketiga mengajukan usulan atas perbaikan fasilitas publik dengan mempertimbangkan pendapatan yang didapat dan kualitas pelayanan publik yang tersedia. Misalnya pendapatan dari pajak penerangan jalan hanya 28-33% saja yang digunakan untuk membiayai fasilitas penerangan jalan padahal kualitas penerangan jalan di desa-desa buruk dan semua pelanggan listrik wajib membayarnya. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya untuk mempengaruhi prioritas yang diambil oleh DPRD bersama pemerintah.

Pada era otonomi daerah ini, kecenderungan meningkatkan PAD dengan melakukan eksetensifikasi pajak sangat sering dilakukan oleh pemerintah daerah. Kecenderungan ini berbahaya karena akan lebih membebani rakyat. Pengingkaran negara terhadap rakyat sudah banyak dengan ditiadakannya subsidi-subsidi seperti BBM, pendidikan, beras, minyak goreng dan lain-lain. Oleh karena itu ekstensifikasi pajak akan lebih membebani rakyat. Untuk itu strategi meningkatkan PAD yang dapat dilakukan oleh daerah adalah dengan melakukan ekstensifikasi pajak atas BUMN milik pusat yang beroperasi di daerah dan menggunakan sumber-sumber daerah. Misalnya Perum Pegadaian, kontribusi pendapatan perum ini terhadap APBD sangatlah kecil namun sangat besar artinya bagi daerah. Oleh karena itu DPRD di Indonesia perlu berjaringan untuk mengalihkannya menjadi milik daerah.

Sedangkan strategi budget process monitoring dapat dilakukan dengan memantau setiap tahapan dalam siklus anggaran. Pemantauan ini paling mudah adalah memantau rapat anggaran di DPRD mulai dari tahap penyusunan yang biasanya berlangsung dari bulan Mei-Oktober setiap tahunnya, tahap pengesahan mulai Oktober-Desember setiap tahunnya, tahap pelaksanaan mulai Januari-Desember dan tahap pertanggungjawaban antara Januari-Maret. Pemantauan oleh masyarakat sipil dilakukan pada setiap titik kritis diatas.

Tentu saja upaya pemantauan ini perlu didahului dengan menjadikan anggaran sebagai isu publik sehingga semua warga masyarakat merasakan urgensi anggaran publik bagi kesejahteraannya. Upaya ini tentu saja harus dilakukan melalui kampanye publik yang masif dan jejaring yang kuat antara sesama elemen masyarakat sipil. Barangkali yang lebih baik untuk dilakukan pertama kali adalah membentuk jaringan pemantau kebijakan publik antara elemen masyarakat sipil di setiap kabupaten atau kota. Hal ini disebabkan karena kebijakan-kebijakan publik yang ada seringkali memiliki kendala struktural seperti untuk mengubah sebuah peraturan daerah harus mengubah dulu peraturan pemerintahnya.

(11)

© Copyright 1999

Masyarakat Transparansi Indonesia

The Indonesian Society for Transparency

http://www.transparansi.or.id

E-mail: mti@centrin.net.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...