PERANCANGAN MEDIA INFORMASI
BATIK TULIS GARUTAN
DK 38315/TUGAS AKHIR Semester I 2011/2012
Oleh :
Eka Risma Agustian NIM :
51907004 Program Studi
Desain Komunikasi Visual
FAKULTAS DESAIN
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
Syukur Alhamdullilah proyek tugas akhir telah selesai dikerjakan dengan
penuh kemudahan, serta bisa menysusun laporan data selama melakukan
observasi di lapangan dengan sebaik-baiknya.
Penulis banyak mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses pencarian data selama penulis melakukan riset
lapangan. Penulis juga banyak mengucapkan terimakasih kepada semua
orang-orang dan masyarakat yang banyak memberikan motivasi untuk lebih
bisa berpikir kreatif dalam berkarya. Dalam isi penyusunan pengantar proyek
tugas akhir ini penulis membahas tentang motif-motif batik tulis Garutan
untuk dikenalkan kepada masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat
Garut, agar batik tulis Garutan semakin bisa dikenal oleh semua masyarakat.
Dalam penyusunan proyek tugas akhir yang dibuat ini penulis mohon maaf
bila ada salah-salah kata yang kurang baik, penulis mungkin masih belum
bisa sempurna sepenuhnya.
Semoga dengan selesainya penyusunan proyek tugas akhir ini penulis lebih
bisa meningkatkan kreatifitas dalam berkarya.
Bandung, 27 Februari
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang memiliki aneka ragam batik tulis
dari berbagai penjuru tanah Jawa. Perempuan-perempuan Jawa di
masa lampau menjadikan batik tulis sebagai keterampilan mereka
dan sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan
membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Ragam corak
dan warna batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing.
Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan
beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu.
Perkembangan batik mulanya berkembang di daerah di pulau Jawa
Tengah yang tersebar ke berbagai daerah-daerah di penjuru
pelosok hingga masuk ke Jawa Barat ke daerah-daerah seperti
Tasikmalaya, Subang, Garut, Cirebon, Indramayu dan Ciamis.
Batik-batik tersebut memiliki ciri khas masing-masing dalam motif
dan warna. Perbedaan tersebut memperkaya khasanah batik Jawa
Barat. Seperti halnya batik tulis dari garut yang memiliki aneka
ragam corak hias batik yang terkenal dari Garut Seperi motif batik
merak ngibing, Bulu Hayam, dan Domba Garut. Masih ada sekitar
130 motif batik dari Garut yang dikenal juga sabagai batik tulis
Garutan.
Batik tulis Garutan sekarang sedang mengalami peningkatan dalam
pembuatan batik, tetapi karena mahalnya batik tulis Garutan hanya
kalangan tertentu saja yang mampu memliki batik tulis Garutan.
walapun batik tulis Garutan sedang mengalami peningkatan dalam
memproduksi, tetap saja masih kekurangan tenaga pengrajin untuk
membuat motif-motif baru. Hal ini dikarenakan membatik itu
2 bekerja di bidang lain yang setiap bulannya mendapatkan
penghasilan.
Karena minimnya jumlah pembatik di Garut, berdampak pada batik
tulis Garutan menjadi kurang diketahu oleh masyarakat dalam negri
khususnya oleh masyarakat kota Garut. Hal ini mempengaruhi
terhadap penciptaan moti-motif baru pada batik tulis Garutan
sehingga masyarakat kurang mengetahui perbedaan antara batik
tulis Garutan dengan motif yang menyerupai kain batik tulis
Garutan yang dalam proses pengerjaannya melalui printing dengan
corak motif menyerupai kain batik tulis Garutan. Sejalan dengan
berkembangnya teknologi dan kecanggihan alat produksi batik
printing bisa mengancam keberadaan batik tulis Garutan karena
dengan banyaknya batik printing yang bermunculan yang meniru
motif batik tulis Garutan mengakibatkan konsumen/masyarakat
lebih memilih batik printing karena selain memiliki motif yang
beragam juga harga kain yang terjangkau.
Melihat kondisi batik tulis Garutan saat ini perlu adanya usaha dari
pemerintah maupun masyarakat untuk menyikapi masalah
tersebut, seperti misalnya usaha untuk melestarikan motif batik tulis
Garutan, dan usaha lainnya, untuk menanamkan rasa kecintaan
terhadap motif asli batik tulis Garutan agar masyarakat peduli
dengan keberadaan batik tulis Garutan.
1.2. Identifikasi Masalah
Keragaman motif batik tulis garutan kurang diketahui oleh semua masyarakat khususnya masyarakat kota Garut.
Kurangnya pengenalan tentang motif batik tulis garutan.
3 Tidak adanya pembatik untuk meneruskan membuat
motif-motif batik tulis garutan sehingga dikhawatirkan batik tulis
Garutan terancam kurang dikenal.
Tidak adanya dokumentasi mengenai motif batik tulis Garutan.
Ketiadaan buku reverensi tentang batik tulis Garutan menjadikan kurangnya pengetahuan yang didapat oleh
masyarakat mengenai informasi-informasi tentang batik tulis
Garutan lewat dokumentasi ilustrasi fotografi
1.3. Fokus Permasalahan
Tidak adanya dokumentasi mengenai motif batik tulis Garutan, sehingga keragaman motif batik tulis Garutan
kurang diketahui oleh masyarakat kota Garut.
1.4. Tujuan Perancangan
Mendokumentasikan motif-motif batik tulis Garutan agar tidak hilang dan dapat dikenal oleh masyarakat
Mengenalkan motif batik tulis Garutan agar masyarakat peduli terhadap keberadaan batik tulis Garutan.
Agar masarakat peduli dan menambah kecintaan terhadap batik tulis Garutan sehingga diharapkan dapat meningkatkan
jumlah pembatik di Garut dan mengembangkan industri
batik di Garut agar peminat batik tulis Garutan bisa
4
digunakan dan didapat, hal ini dikarenakan banyaknya
tempat-tempat yang menjual buku atau yang biasa kita kenal sebagai toko
buku yang ada di Indonesia terutama di kota-kota besar, seperti
Bandung dan kota lainnya. Buku memiliki berbagai macam jenis,
mulai dari buku yang hanya berisi informasi berupa teks hingga
buku yang berisi informasi berupa gambar atau keduanya.
Buku sebagai media informasi dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat akan pengetahuan, dan segala sesuatu yang ada dan
terjadi, baik itu peristiwa, bermacam cerita, dan apapun yang
menghasilkan informasi. Bentuk buku tidak harus berupa teks,
namun buku juga dapat disajikan berupa gambar atau foto yang
disertai teks, seperti buku bergambar (picture book), yang
disesuaikan dengan kebutuhan penyampaian informasi mengenai
buku tersebut.
2.1.1. Buku Bergambar
Menurut Guntur (seperti yang dikutip Nurmarwan, 2010), “Buku
bergambar merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan
dengan bentuk teks disertai dengan gambar ilustrasi yang
mendukung yang dikemas menjadi sebuah buku.
Buku bergambar terdiri dari beberapa jenis, yang diantaranya
adalah sebagai berikut:
5
Buku yang mengandalkan gambar/ilustrasi sebagai penjelas teks. Gambar/ilustrasi hanya berfungsi sebagai tambahan.
Buku yang gambar/ilustrasinya hanya merupakan dekorasi atau hanya sebagai elemen estetis dan memiliki sedikit
hubungan dengan isi teks.
2.2. Batik
2.2.1. Pengertian Batik
Batik berasal dari bahasa jawa “amba” yang berarti menulis dan nitik, yang pada tekniknya menggunakan bahan malam yang
diaplikasikan diatas kain dengan menggunakan canting dan malam
sebagai perintangnya kemudian memberikan warna dengan cara
dicelup. (Aep. S Hamidin 2010)
Batik merupakan kerajinan menggambar corak diatas selembar
kain yang digunakan sebagai pakaian dan telah menjadi salah satu
kebudayaan keluarga raja-raja di Indonesia zaman dulu. Awalnya
batik dikerjakan terbatas dikerjakan dalam lingkungan keraton saja
hasilnya dipakai oleh raja dan keluarga serta para pengikutnya.
Dikarenakan banya pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka
kerajinan batik dibawa keluar kraton dan dikerjakan dirumah
masing-masing .
Lama kelamaan kerajinan batik ditiru oleh rakyat dan meluas
menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggang.
Selanjutnya, batik yang tadinya hanya dipakai oleh keluarga kraton
kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari baik oleh wanita
maupun pria.
Disebutkan oleh Yudoseputro (2000:98) bahwa batik berarti
6 sebagai media sekaligus penutup kain. Selain itu, seorang ahli seni
rupa mengemukakan bahwa seni batik merupakan hasil
kebudayaan bangsa Indonesia yang tinggi nilainya. Karena itu
sudah selayaknya ditingkatkan dan dikembangkan (Widodo, 1983 :
1).
Adapun sebuah buku yang mengatakan bahwa batik adalah bahan
sandang yang dibuat berupa tekstil untuk keperluan kelengkapan
hidup sehari-hari. Tekstil yang dibuat dengan teknik atau proses
batik untuk sandang tersebut, berupa kain penutup badan, hiasan
rumah tangga, dan perlengkapan lain yang semuanya
dimaksudkan untuk memperindah penampilan.
2.2.2. Sejarah Batik di Indonesia
Seni Batik tetap hidup subur di Indonesia, dikenal oleh seluruh
lapisan masyarakat. Bila kita bandingkan batik yang kita kenal
sekarang dengan batik puluhan tahun yang silam, tidak begitu
banyak perubahan ; baik bahan, cara maupun coraknya. Sifat inilah
yang menyebabkan seni batik mudah dipelajari, dari generasi ke
generasi (Widodo, 1982 : 2)
Di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit. Adapun
mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia
dan khususnya suku Jawa pada akhir abad ke-XVIII atau awal
abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis
sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang
dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan
penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan
di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi
alat perdagangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim
7 Kerajinan batik merupakan kerajinan mengambar di atas kain untuk
pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja
pada zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam
kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta
para pengikutnya. Karena banyaknya pengikut raja yang tinggal
diluar kraton, maka kerajinan membatik dibawa oleh pengikut raja
keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama kerajinan membatik ini ditiru oleh rakyat dan
selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum hawa dalam rumah
tangganya untuk mengisi waktu senggang.
2.2.3. Batik Tulis
Batik tulis merupakan batik yang dalam proses pengerjaannya
menggunakan canting sebagai alat menggambar, batik tulis
memilik Corak atau motif batik tidak terlalu rapi, karena batik
dikerjakan dengan tangan (manual). Corak dan warna batik tulis
antara kain bagian depan dan belakang terlihat jelas, meskipun
antara corak yang satu dan yang lain terkadang tidak sama. Batik
jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan
menggunakan lilin khusus. Bahannya dari kain katun, kain mori,
atau kain sutra. Harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan
selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari 1 bulan.
2.2.4. Batik Jawa Barat
Batik Indramayu
Batik Indramayu atau juga disebut batik Dermayon tergolong
ke dalam kelompok batik pesisiran. Oleh karena itu banyak
mengangkat flora dan fauna serta lingkungan lautnya di
ungkap secara datar dan banyak menggunakan garis –garis
yang meruncing, latarnya berwarna muda seperti ada
8 warna pokok hiasan cenderung menggunakan warna gelap
yang agak kusam. Susunan motifnya sangat dinamis
cenderung asimetris dan ritmis. (Aep S Hamidin Batik
Warisan Budaya Asli Indonesia cetakan pertama 2010 : 39)
Gambar. 2.1. Batik Indramayu Kapal Kandas
(sumber :http: //batik Indonesia.com/batik/images.jpeg/7392)
Batik Cirebon
Seperti halnya batik Solo dan Batik yogyakarta batik Cirebon
pun menyimpan makna–makna simbolis pada setiap
motifnya. Motif batik Cirebon termasuk batik pesisiran, yang
ada umumnya ditandai dengan sistem pembabaran yang
lebih dinamis, meriah dengan banyak warna dan sangat
ditentukan oleh permintaan.
Gambar. 2.2. Batik cap Mega Mendung Cirebon)
(sumber :http//batikindonesia.com/batik/images.jpeg/7392)
9
Batik Ciamis
Batik Ciamis banyak di pengaruhi oleh batik Banyumas,
Yogyakarta, dan Solo. Corak yang dikembangkan adalah
variasi parang dengan warna soga kemerah–merahan dan
hitam dengan latar belakang kuning muda
kemerah-merahan, yang kemudian disebut dengan batik sarian. (Aep
S Hamidin Batik Warisan Budaya Asli Indonesia cetakan
pertama 2010 :43)
Gambar.2.3. Batik Ciamis Pangkah Peteuy
(Sumber :batiksukraj+ciamis+lereng+papangkah.jpeg)
Batik Tasikmalaya
Beragam corak khas batik tasik disatukan dalam selembar
kain agar lestari. Membuat pakaian jadi juga jadi strategi
menarik minat pasar yang lebih luas bisa dibilang, tak
banyak perajin batik Tasikmalaya yang bertahan sejak tahun
70-an hingga sekarang.
Gambar.2.4. Batik Tasikamalaya Merak Ngibing Lancah
10
Batik Garutan
Batik Garutan adalah Batik yang terdapat di daerah Garut –
Jawa Barat yang merupakan salah satu kreasi budaya
bangsa yang diwariskan secara turun-meunrun.
Gambar.2.5. Batik Tulis Garutan Merak Ngibing
(Sumber: Dokumen Pribadi)
2.3. Batik Garutan
Batik Garut. secara umum, Kabupaten Garut, dikenal
dengan penganan dodol garut. Tetapi bagi para kolektor dan
penggemar batik, Garut juga menjadi incaran utama. Batik
Garut mulai berkembang pada 1979. Dilaporkan bahwa
sekitar tahun 1940-an Awalnya batik diproduksi untuk
memenuhi pesanan. Namun, kini batik tulis diproduksi
secara besar-besaran. Produk batik Garut juga tidak hanya
berupa kain untuk wanita tetapi juga berupa turunan produk
tekstil lainnya seperti kemeja pria, tutup meja, sprei, dan tas.
2.3.1. Batik Tulis Garutan
Batik tulis Garutan adalah batik yang terdapat di daerah
Garut Jawa Barat yang merupakan hasil kreasi budaya
bangsa yang diwariskan secara turun menurun. Warna cerah
11 khas batik Garutan. Warna-warna tersebut didominasi oleh
warna dasar krem atau gading (gumading), biru dan soga.
Warna dasar yang mencerminkan alam itu dihadirkan pula
dengan corak atau motif yang dekat dengan kehidupan
masyarakat Garut ( yanni rosalin 2011).
Gumading, adalah warna buah-buahan seperti mangga dan
sebagainya yang mulai masak dan mulai menguning. Istilah
ini dipakai untuk warna kuning lembut kain batik Garut.
Gambar. 2.6. Latar Gumading Motif Lereng Cucuk
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Soga adalah warna merah, dan biru dongker yang biasa
digunakan oleh batik tulis garutan sebagai ciri khas warna
atau bisa juga disesuaikan dengan keinginan konsemen
untuk warna latar. Sementara corak dan motif batik tulis
garutan sebagai berikut:
Gambar. 2.7. Latar Biru Dongker Motif Lumba-lumba
12
2.3.2. Penjelasan Arti Dari Motif Batik Tulis Garutan
Merak ngibing, menggambarkan sepasang burung merak yang sedang menari.
Bulu hayam, memperlihatkan ekor ayam yang panjang dengan lengkung setengah lingkaran, didalam setengah
lingkaran didalamnya terdapat berbagai motif dan
tersusun sedemikian rupa membuat komposisi
lengkungan yang indah.
Lereng adumanis, merupakan susunan motif dengan berbagai bentuk ada segitiga, melati berselang seling
dengan lereng, dan ragam hias tersebut dipindahkan
(diadukan/disandingkan) dalam bentuk lajur-lajur panjang
tersusun miring sehingga tampak serasi atau manis.
Lereng su’uk, menggambarkan susunan su’uk (kacang tanah) yang teratur indah.
Lereng calung, merupakan susunan bentuk calung (alat musik orang sunda yang terbuat dari sebuah bambu
dipegang tangan kiri dibunyikan dengan cara memukul
mempunyai ukuran antara 50 cm sampai dengan 70 cm)
disusun secara miring.
Lereng daun, merupakan susunan motif daun berukuran sedang tidak terlalu besar atau terlalu kecil.
Cupat manggu, merupakan bentuk yang diambil dari bagian bawah tapuk buah manggu (manggis) yang
terlihat seperti kitiran. Pada masa lalu anak-anak
didaerah priangan (Jawa Barat) melakukn permainan
menebak jumalah cupat manggu.
Bilik, merupakan motif yang menggambarkan bentuk anyaman bambu (bilik) yang biasa digunakan sebagai
13
Lereng dokter, diberi nama demikian disebabkan yang memasan motif tersebut adalah seorang dokter.
Lereng jaksa, karena yang memasannya adalah seorang jaksa.
Lereng perahu.
Lereng sigaret, mempunyai motif seperti cerutu, memang tidak jelas betul bentuknya cerutunya.
Lereng barong, yaitu motifnya besar bervolume dan bentuknya miring diseling beberapa lingkaran berukuran
sedang dan titik.
Mojang priangan, yaitu istilah yang digunakan untuk gadis-gadis (mojang) yang rupawan berasal dari priangan
(Bandung).
Limar, merupakan motif dengan bentuk wajik, atau diamond, kadang antar limar diberi pita atau bagian
dalam bentuk wajik diisi motif.
Siki bonteng merupakan motif yang berarti biji ketimun. Jadi siki bonteng ialah yang terinspirasi dari biji ketimun.
Sidomukti, adalah yang umumnya mengarah ke garis diagonal yang disebut lereng dan berbentuk belah
ketupat.
Tanjung anom, (jenis modifikasi) sejenis bunga berukuran sedang.
Bentuk motif lereng merupakan bentuk yang paling
dominan pada batik Garutan, yakni bentuk hiasan yang
diletakan miring atau diagonal.(Sumber: yani rosallin
14
2.4. Jenis-jenis Motif Batik Tulis Garutan
Gambar. 2.8. Gambar. 2.9. Gambar. 2.10.
Gambar. 2.12. Gambar. 2.13.
Gambar. 2.14. Gambar. 2.15. Gambar. 2.16.
15
Tanjung Anom (Sumber Dokumen Pribadi)
Gambar. 2.18.
Gambar. 2.17. Gambar. 2.19.
Gambar.2.20. Gambar.2.21. Gambar.2.22.
Gambar.2.23. Gambar.2.24. Gambar.2.25.
Beton
(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Dokter Lereng Malati
(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Kucubung
Lereng Panah (Sumber Dokumen Pribadi) Lereng Karikil
(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Dadu
16
Gambar.2.26. Gambar.2.27. Gambar.2.28.
Gambar.2.29. Gambar.2.30. Gambar.2.31.
Gambar.2.33.
Gambar.2.32. Gambar.2.34.
Bilik Hideung (Sumber Dokumen Pribadi)
Cupat Manggu (Sumber Dokumen Pribadi)
Bulu Hayam (Sumber Dokumen Pribadi) Pita
(Sumber Dokumen Pribadi)
Rereng Sintung Bunga (Sumber Dokumen Pribadi) Lereng Su’uk
(Sumber Dokumen Pribadi)
Angkin Seling Kembang (Sumber Dokumen Pribadi) Bilik Biru
17
Gambar.2.35. Gambar.2.36. Gambar.2.37.
Gambar.2.38. Gambar.2.39. Gambar.2.40.
Gambar.2.41. Gambar.2.42. Gambar.2.43.
Lereng Adu Manis (Sumber Dokumen Pribadi)
Wayang
(Sumber Dokumen Pribadi) Akar Daun
(Sumber Dokumen Pribadi) Batu
(Sumber Dokumen Pribadi)
Akuarium
(Sumber Dokumen Pribadi) Daun Sampeu
(Sumber Dokumen Pribadi)
Lumba-lumba
(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Keraton Lepaan
Angkin
19
Surutu Selang Kembang (Sumber Dokumen Pribadi)
Gambar. 2.56. Gambar. 2.57. Gambar.2. 58.
Gambar.2. 59. Gambar.2. 60. Gambar. 2.61.
Limar
(Sumber Dokumen Pribadi) Rajawali
(Sumber Dokumen Pribadi)
Sidomukti
(Sumber Dokumen Pribadi)
Lereng Kumeli (Sumber Dokumen Pribadi) Carang Ayakan Seling Bunga
(Sumber Dokumen Pribadi) Gambir Saketi
(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Sidomukti Daun
Banji
20
Gambar. 2.62. Gambar. 2.63. Gambar. 2.64.
Gambar. 2.65. Gambar. 2.66. Gambar. 2.67.
21
Gambar. 2.71. Gambar. 2.73.
Gambar. 2.74.
Lereng Beungkeut Biru (Sumber Dokumen Pribadi)
Gambar. 2.77.
Gambar. 2.72.
Gambar. 2.75. Gambar. 2.76.
Cakra
(Sumber Dokumen Pribadi)
Bango Rawa (Sumber Dokumen Pribadi) Limar Beungkeut
(Sumber Dokumen Pribadi)
Sidomukti Biru (Sumber Dokumen Pribadi)
Merak Ngibing
22
2.5. Pola Geometris Pada Batik Tulis Garutan
Dalam pola geometris terkandung arti yang menyangkut falsafah
kejawen dan tata pemerintah tempo dulu. Komposisinya adalah
motif-motif yang diatur berjajar rapat dan mempunyai pusat. Pusat
ini diartikan sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan (sumber
yanni rosalin 2011)
Kategori Jenis Motif Sederhana
Gambar. 2.78.
23
Bentuk Dasar Motif Belah Ketupat Atau Layang-layang.
Gambar. 2.79.
24
Kategori Bentuk Dasar Motif Garis Miring.
Gambar. 2.80.
(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)
25
Kategori Pengulangan Bentuk Yang Monoton
Gambar. 2.81.
(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)
Kategori Gabungan Dari Motif Dasar
Gambar. 2.82.
26
Kategori Motif Bebas
Gambar. 2.83.
(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)
Kategori Motif Latar Gumading
Gambar. 2.84.
27
2.6. Elemen – Elemen Pada Batik Tulis Garutan 2.6.1. Kain
Kain adalah sebuah bahan yang terbuat dari kapas kain ini biasa di
sebut dengan kain mori (cambrics) adalah kain tenun berwarna
putih yang terbuat dari kapas. Ada 2 jenis kain mori yang sering
dijadikan kain batik yaitu, kain mori yang telah mengalami
pemutihan ( blesching ) dan kain mori yang belum diputihkan. Kain
yang belum diputihkan disebut juga lain belacu. Kualitas kain mori
sangat tampak dari kehalusan tekstur kain, sehingga kain mori
tersebut selain dari cara membatik dalam proses membatik akan
mempengaruhi terhadap kualitas batik yang di hasilkan.
Kain Mori
Mori Primisima
Mori Primisima adalah mori yang paling halus bisa
digunakan untuk membatik kain batik tulis dan tidak
digunakan dalam batik cap.mori ini diperdagangkan
dalam bentuk gulungan (piece) lebar 1,06 m dan panjang
15,5 m. Susunan atau konstruksi mori primisima
menggunakan benang Ne 50-56. Kepadatan (tetel)
benang untuk lusi antara 105-125 per inch (42-50 per
cm)
Mori Prima
Mori prima adalah mori yang mempunyai kualitas nomer
dua setelah mori primisima. Mori ini biasanya digunakan
untuk membatik tulis maupun cap. Mori ini juga sama
seperti mori primisima yaitu diperdagangkan dalam
bentuk gulungan (piece) lebar 1,06 m dan panjang 15,5
28 menggunakan benang Ne 36-46 dan jenis mori ini
mengandung kanji kurang lebih 10%.
Mori Biru
Mori biru adalah golongan mori dengan kualitas ketiga
,bisa digunakan untuk membatik kasar dan sedang tidak
dipergunakan untuk membatik batik kualitas halus. Mori
ini juga dipergunakan dalam bentuk gulungan (piece),
lebar 1 m dan panjang 16 yard, 30 yard, 40 yard
.susunan atau konstruksi mori biru dengan benang Ne
28-36 untuk benang pakan dan Ne 26-34 untuk benang
lusi.
(Aep S.Hamidin Batik Warisan Budaya Asli Indonesia
cetakan pertama 2010)
Kain Sutra
Sutra atau sutera merupakan serat protein alami yang
dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling
umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan
larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak
(peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra bertekstur
mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang
menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti
prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan
kain sutra membiaskan cahaya pada berbagai sudut.
Sutera ditemukan dan digunakan pertama kali di Cina
dibawah Kekaisaran Huang Ti ( Yellow Emperor ) sekitar
tahun 2697 s/d 2597 Sebelum Masehi. Legenda
mengatakan bahwa Lei-tzu sang Permaisuri kerajaan
saat itu sedang memperhatikan kepompong di pohon
29 kepompong tersebut jatuh di cangkir teh sang permaisuri.
Saat akan mengambil kepompong tersebut sang
permaisuri menyadari bahwa kepompong tersebut
kemudian menjadi berbentuk helaian benang yang halus
dan panjang. Inilah awal pertamakali benang sutera
ditemukan. Di Cina kemudian permaisuri tersebut sampai
sekarang dikenal sebagai Si Ling-chi atau Lady of the
Silkworm.
Semenjak itu Cina dikenal sebagai penghasil kain sutera
yang terkenal di seluruh dunia. Banyak pedagang datang
ke Cina untuk berdagang kain sutera Cina yang terkenal.
Jalur perdagang tersebut kemudian dikenal sebagai Silk
Road atau Jalur Sutera. Proses Produksi ulat sutra
diletakan pada wadah yang berisi daun murbai sebagai
makanan ulat tersebut
Gambar. 2.85. Kain Mori Untuk Membatik
30
2.6.2. Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau
mengambil cairan. Canting untuk membatik adalah alat kecil
yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai
pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola
batik dengan cairan lilin. Sebelum bahan plastik banyak
dipakai sebagai perlengkapan rumah tangga, canting yang
terbuat dari tempurung kelapa banyak dipakai sebagai salah
satu perlengkapan dapur sebagai gayung. Dewasa ini
canting tempurung kelapa sudah jarang terlihat lagi karena
digantikan dengan bahan lain seperti plastik. Canting untuk
membatikpun perlahan digantikan dengan Teflon.
gambar .2.86. canting
(sumber: hop.waroeng.nl/images/canting.jpg)
Bagian Canting :
Gagang terong merupakan tangkai ekor yang terletak pada bagian ekor (belakang) untuk ditancapkan pada kayu.
Nyamplungan merupakan bagian-bagian canting yang gunanya untuk mengambil (wadah) malam cair diwajan
(ciduk).
Carat atau curut merupakan bagian utama canting dengan posisi pada bagian yang mrupakan pipa melengkung (pada
31 (wadah).Canting dapat dibedakan menurut fungsi ukuran
canting.
Gambar. 2.87.canting
(sumber: http://www hop.waroeng.nl/images/canting.jpg)
Fungsi Canting
Canting reng-rengan, bercucuk sedang dan tunggal dipergunakan khusus untuk membuat pola.
Canting isen, bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap, dipergunakan untuk membatik isi bidang atau
Canting Dan Fungsinya
Canting cecekan, bercucuk satu kecil untuk nitik (buat titik-titik) atau nyeceki untuk membuat garis kecil.
Canting loron, canting bercucuk dua berlajar atas bawah digunakan untuk membuat garis rangkap.
Canting talon, canting bercucuk tiga membentuk segitiga, digunakan untuk membentuk titk tiga bekas titik segitiga
pengisi biang.
Canting prapatan, canting bercucuk empat yang digunakan untuk membuat titik empat tersusun bujur
sangakar sebagai pengisi bidang.
Canting liman, canting bercucuk lima yang digunakan untuk membuat empat titik bujur sangkar atau titik yang
32
Canting byok, canting yang bercucuk tujuh atau lebih untuk membat titil-titik tersusun lingkaran.
Canting renteng, canting yang bercucuk genap berjumlah empat atau lebih, tersusun dari bawah keatas (system
rangkai cucuk).(Aep S Hamidin Batik Warisan Budaya
Asli Indonesia cetakan pertama 2010:68)
Malam
Malam tawon dan malam klenceng ialah malam yang dihasilkan oleh serangga sejenis lebah (tawon) dan
diambil dari rebusan sarangnya setelah dibersihkan dari
kotoran dan tolonya.
Malam kuning dan malam putih ialah lilin (malam) yang dihasilkan dari limbah minyak tanah.
Gambar. 2.88. Malam
33
2.7. Teknik Membatik
Kain mori halus/primisima dipotong sesuai ukuran.
Diketel (pengetelan) yaitu kain yang sudah dipotong kemudian direndam didalam air abu merang yang
dicampur dengan larutan minyak kacang. Bahan yang
dibutuhkan untuk merendam satu helai kain air abu
merang kurang lebih 20 liter (10 iket merang padi) dan
minyak kancang.
Setelah larutan untuk merendam selesai maka kain tersebut diuleni supaya lemas, kemudian direndam satu
malam.
Esok harinya kain diangkat kemudian dicuci bersih terus dijemur hingga kering, setelah kering terus masukan lagi
dalam larutan perendam tadi sambil terus diuleni. Setelah
cukup lama diuleni kemudian direndam lagi satu malam.
Demikain seterusnya hingga 10 hari, dan kain tersebut
terlihat seperti ada bintik hitam yang berasal dari merang
dan agak berwarna ke abu-abuan. Setelah dicucui bersih
lalu dijemur setelah kering dipukul-pukul dengan kayu
agar lemas dan bulu kainnya hilang.
Memberi cairan kanji secara tipis, tujuannya agar malam pada batik mudah untuk dihilangkan. Adapun larutan
kanji yang dibutuhkan untuk satu helai kain yaitu
campuran 1 liter air dengan 20 gram tepung tapioka.
Setelah dikanji lalu dijemur.
Proses pemberian gambar dengan canting khusus untuk ngerengreng, prosesnya disebut ngarengreng.
34
Nerasan yaitu melakukan pemalaman pada bidang kain sebaliknya persis mengiktui motif yang sudah direngreng.
Ngobat yaitu proses pewarnaan, bagian yang tidak dimalam maka bidang tersebut akan berwarna.
Ngalorod, yaitu proses menghilangkan malam pada kain dengan cara merebus dalam air yang mendidih.
setelah dilorod kemudian dicucu hingga bersih dan dijemur.
Setelah kering kemudian disetrika, agar rapih dan menarik.
Gambar.2. 89. Batik sedang dibuat pola(diterasan)
(Sumber: Dokumen Pribadi)
Gambar.2. 90. Batik yang telah diberi malam
35 Gambar.2.91. Batik direndam untuk kemudian diberi obat pewarna
(Sumber: Dokumen Pribadi)
2.8. Kesimpulan Hasil Wawancara
Dari keselurahan hasil wawancara, batik Garutan sekarang masih
bisa didapatkan karena sekarang batik tulis Garutan telah
digalakan kembali oleh wakub agar batik tulis Garutan bisa terus
dikenal dan berkembang.
Batik tulis Garutan memiliki banyak sejarah, seperti yang
diceritakan oleh orang tua dulu bahwa yang membuat batik tulis
Garutan pada zaman dulu merupakan putri-putri raja padjajaran,
36
2.9. Target Sasaran
Geografis
Secara geografis, target sasaran perancangan media
buku motif batik tulis garutan adalah semua masyarakat
di kota Garut yang belum mengetahui batik tulis garutan.
Demografis
Hal layak banyak dari buku motif batik tulis garutan
secara demografis adalah sebagai berikut :
Primer Usia : 16-25 tahun.
Pekerjaan : SMA sampai kuliah
Jenis Kelamin : Laki-laki dan perempuan
Sekunder usia : 25-50 tahun.
Pekerjaan : pegawai kantoran, pengusaha, pejabat.
Buku pengenalan motif buku tulis garutan ini merupakan
golongan menengah keatas yang memiliki ketertarikan
terhadap batik tulis garutan.
Psikografis
Buku pengenalan motif batik tulis Garutan ini merupakan
golongan menengah keatas yang memiliki ketertarikan
37
BAB III
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL 3.1. Pendekatan Komunikasi
Pendekatan komunikasi melalui media cetak dengan cara
memperlihatkan motif-motif batik tulis Garutan lewat teknik dan
media fotografi yang memperlihatkan motif-motif batik tulis
Garutan. Foto-foto yang memuat motif batik tulis Garutan
diaplikasikan kedalam buku batik akan disusun sesuai dengan
urutan alfabet dari huruf A hingga Z agar lebih terartur dan lebih
mudah untuk dilihat. Hal ini merupakan salah satu strategi kreatif
untuk menarik konsumen agar memudahkan masyarakat dalam
mendapatkan pengetahuan tentang batik tulis Garutan.
3.2. Strategi Perancangan
Strategi perancangan akan menggunakan beberapa macam
perancangan sesuai dengan media-media yang digunakan.
Perancangan tersebut seluruhnya berupa pengenalan motif-motif
batik tulis Garutan, agar masyarakat dapat mencintai budaya batik
tulis Garutan. Perancangan media yang akan dibuat berupa media
cetak untuk mendukung promosinya. Buku dipilih sebagai media
utama untuk mengenalkan motif-motif batik tulis Garutan.
3.3. Strategi Kreatif
Dalam perancangan media informasi buku ini ditujukan sebagai
media yang mudah untuk diketahui, agar pemahaman yang di
informasikan lebih cepat sampai untuk dimengerti oleh khalayak
sasaran karena buku merupakan media yang mudah dibawa dan
memudahkan pembacanya untuk mengakses informasi secara
berulang-ulang. Pada isi buku gambar batik disusun dengan
38 Agar perancangan media informasi buku batik tulis Garutan bisa
bermanfaat bagi khalayak sasaran maka buku ini dirancangan
dengan menarik dengan strategi kreatif sebagai berikut:
Warna pada tata letak menggunakan warna hitam supaya buku memilki kesan yang elegan menjadikan buku tersebut
tidak bosan untuk dilihat.
Memberikan beberapa informasi tentang batik tulis Garutan beserta motif-motif batik tulis Garutan agar khalayak sasaran
bisa mengetahui motif-motik batik tulis Garutan serta arti dari
sebagian motif yang memiliki informasi dari motifnya.
Menggunakan huruf yang meiliki karakter elegan yang mendukung pesan visual yang akan diaplikasikan dan tepat
untuk khlayak sasaran
Ukuran buku A5 dengan kertas menggunakan art paper 150 gram formt buku landscape agar gambar yang dilihat lebih sebagai elemen visual, bunga tersebut diambil dari batik tulis
Garutan supaya buku terlihat konsisten dengan isi yang
39
3.4. Konsep Visual
Isi dari buku ini membahas tentang batik, pengertian batik, sejarah
batik Indonesia, batik Jawa Barat, serta batik tulis Garutan dan
ciri-ciri batik tulis Garutan dengan motif-motifnya yang khas dari Garut.
Agar buku ini semakin menarik dilihat oleh khalayak sasaran maka
dibutuhkan sebuah strategi kreatif seperti :
Ilustrasi fotografi menampilkan gambar-gambar motif batik tulis Garutan agar masyarakat bisa mengetahui tentang batik
tulis Garutan.
Gambar. 3. 1. Kain batik tulis Garutan bermotif irian diambil dengan teknik fotografi
Warna yang akan digunakan adalah warna hitam CMYK. Keseluruhan background menggunakan latar hitam agar
gamba-gambar batik tulis Garutan lebih terlihat menonjol.
Gambar. 3. 2. Warna hitam untuk background buku.
40
Tata letak diatur dengan komposisi motif-motif dari batik tulis Garutan agar lebih besar bidangnya lebih mirip dengan kain
batik tulis Garutan. Sehingga pembaca merasa sedang
melihat-lihat kain batik tulis Garutan.
Gambar. 3. 3. batik tulis Garutan motif surutu bunga sebagai sampul depan buku
Visual diatas merupakan bagian dari batik tuls Garutan yag di potong
untuk dijadikan visual cover buku depan dan belakang ada beberapa
media pendukung yang menggunakan visual tersebut agar tata letak
konsisten.
Gambar. 3.4. potongan motif batik yang telah ditrace dijadikan vector untuk halaman
buku
Visual tersebut merupakan dari daun batik tulis Garutan yang kemudian di
trace dijadikan vektor untuk halaman buku.
41 Gambar. 3. 5. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad A yaitu motif Akuarium
Gambar. 3.6. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad A yaitu motif Angkin
42 Gambar. 3.8. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad C motif Cakra.
3.5. Strategi Media 3.5.1. Media Utama
Media utama merupakan sebuah buku berukuran A5. Isi
buku ini merupakan batik-batik tulis Garutan, buku ini akan
dipasrkan ke toko-toko buku gramedia untuk diperjual
belikan kepada hal layak banyak supaya masyrakat bisa
mengetahui tentang batik tulis Garutan agar batik tulis
Garutan semakin banyak dikenal oleh masyrakat. Warna
buku yang digunakan adalah warna hitam, dengan warna
hitam buku memberi kesan elegan yang terlihat elok dan
anggun. Buku ini berukuran A5 landscape panjang 21 X
lebar 14, 8 Cm agar gambar batik lebih terlihat detail lebih
leluasa untuk dilihat, kertas buku menggunakan art paper
150 art paper, banyak halaman buku adalah 85 halaman.
Typografi dalam buku ini menggunakan lucida calligraphy
karena dengan huruf tersebut buku terlihat tidak kaku dan
terliat elegan, karakter huruf tersebut memiliki dua karakter
yaitu elegan dan klasik. Gambar buku ini menggunakan
43 tujuannya adalah supaya gambar batik lebih terlihat
keasliannya dan lebih menarik untuk dilihat.
Tata letak desain mengambil dari batik tulis Garutan sebagai
cover untuk sampul depan dan belakang supaya buku
terlihat cantik dan menarik dan semakin terasa bahwa buku
tersebut adalah buku yang membahas motif batik tulis
Garutan. Gambar batik diambil dengan menggunakan
kamera DSLR canon 1000D.
Gambar.3.9..hasil jadi buku batik tulis Garutan.
Typografi yang digunakan pada media
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
!@#$%^&*()_+=-}]{[“’:;?/>.<,1234567890
44
3.5.2. Media Lain Yang Efektif Sebagai Pendukung Promosi Buku
Media pendukung yang bisa membantu untuk mempromosikan
buku ini akan dibuat beberapa media seperti poster, flyer, x banner,
yang bisa membantu meningkatkan promosi. Untuk bisa menjaga
dan melestarikan batik tulis Garutan supaya tidak punah karena
kurangnya jumlah pembatik yang berada di kota Garut.
3.6. Strategi Distribusi
Daftar tabel.1. Jadwal distribusi media
Buku ini dijadwalkan akan terbit dari awal januari hingga februari untuk
promosi penjualan serta beberapa gimmick hadiah dari buku ini hanya
berlaku pada saat promosi buku ini berlangsung, dengan promosi dan
gimmick tersebut ditujukan agar banyak peminat untuk membeli dan
45
Poster
Media ini digunakan untuk mempromosikan buku batik tulis Garutan
kepada masyarakat bahwa buku batik tulis Garutan telah terbit disemua
toko buku terdekat.
Gambar. 3.10. Poster
Ukuran :29,7 X 42 0 Cm
Material : Art paper 150 gram
46 X-banner
Media pendukung ini akan ditempatkan ditoko buku sebagai media
informasi bahwa buku telah terbit dan ada ditoko tersebut, untuk
membantu meningkatkan promosi buku tersebut.
Gambar. 3.11. X-baner 1
Ukuran X-banner 60 X 160
Material Vinyl
47
Kalender
Sebagai media pendukung media ini tersedia di toko-toko tempat terbitnya
buku yang membahs moif batik tulis Garutan. Media ini sebagai souvenir
apabila pelanggan membeli buku tentang motif batik tulis Garutan maka
pelanggan tersebut berhak mendapatkan kalender sebagai souvenir.
Gambar. 3.12.Cover depan kalender
Gambar. 3.13. Tampilan isi kalender
Ukuran A5 landscape Lebar 21, 0 cm X panjang 14, 8 cm
Material art paper 230 gram
48 Flyer
Sebagai media untuk mempromosikan buku batik tulis Garutan telah terbit
ditoko-toko terdekat.
Gambar. 3.14. flyer
Ukuran : A5 14, 8 X 21 Cm
Material : Art Paper 150 gram
Teknik Produksi : Cetak offset separasi
Stiker
Media ini merupakan gimmick jika membeli satu unit buku batik tulis
Garutan gratis satu buah stiker.
Gambar. 3.15. Stiker
Ukuran : Panjang 10 X lebar 2 cm
Materrial : kertas stiker
49
BAB IV
TEKNIS PRODUKSI MEDIA 4.1. Media Utama
Buku Motif Batik Tulis Garutan
Media utama yang akan dibuat adalah sebuah buku ilustrasi,
dengan teknik fotography ilustrasi, menampilkan motif-motif
batik tulis Garutan serta informasi-informasi yang berada pada
motifnya memiliki penjelasan artian tertentu. Dengan media
buku ini diharapkan bisa membantu batik tulis Garutan agar
selalu terus terjaga kelestariannya.
Gambar. 4. 1 cover depan buku
Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm
Tebal cover : Soft cover
Jenis kertas : Art Paper 180 gram
50 Gambar. 4. 2 cover belakang buku
Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm
Tebal cover : Soft cover
Jenis kertas : Art Paper 180 gram
Produksi : Cetak offset separasi
Gambar. 4. 3 tampilan isi buku
Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm
Tebal cover : 150 gram
Jenis kertas : Art Paper
51 Gambar. 4. 4 tampilan isi buku
Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm
Tebal cover : 150 gram
Jenis kertas : Art Paper
Produksi : Cetak offset separasi
Gambar. 4. 5 Tampilan isi buku
Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm
Tebal cover : Soft cover
Jenis kertas : Art Paper 150 gram
52
4.2. Teknis Perancangan
A. Membalikan ukuran landscape.
Gambar. 4. 6 Membalikan kerts
Ukuran yang digunakan A5 lansdcape
B. Memberikan warna pada tata letak
Gambar. 4. 7 Memberikan warna hitam pada kertas
53 C. Memasukan gambar dari kain batik yang telah dipotong sebagai
visual untuk cover depan sampul buku.
Gambar. 4. 8 Memasukan Gambar untuk cover depan
Memasukan gambar bungan yang telah diedit di photoshop sebagai visual
untuk cover buku depan.
D. Memberikan elemen estestis bunga sebagai elemen visual untuk
sampul depan buku
54 Elemen estetis bunga tersebut digunakan supaya tampilan cover buku
lebih menarik dan terlihat cantik, potongan tersebut diambil dari kain batik
tulis Garutan.
E. Memasukan huruf Lucida Calligraphy sebagai font untuk tata
letak buku.
Gambar. 4. 10 Memasukan huruf pada layout
G. Cover belakang buku
Abu Sudja, Wasilah. 1979. Proses Pembuatan dan Pewarna Batik di Indonesia.
Bandung Karya Nusantara
Dharsono. 2007. Budaya Nusantara. Bandung :Rekayasa Sains.
Hamidin. S. Aep. 2010. Batik Warisan Budaya Asli Indonesia. Bandung : PT.
Gramedia Pakar Utama
Rosalin, Yanni. 2010. Batik Tulis Garutan Sesuai Minat Pasar. IKJ
Wulandari, Ari. 2011. Batik Nusantara. Yogyakarta: Andi
Data Pribadi
Nama : Eka Risma Agustian
Tempat tgl lahir : Subag, 12 – 08 – 1989
Alamat : Perumahan Rs Darbeni No. 78 Subang
Kode Pos : 41212
Jenis kelamin : Pria
Status : Single
Kewarganegaraan : WNI
Agama : Islam
Telepon : 085221186340