• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Media Informasi Batik Tulis Garutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Media Informasi Batik Tulis Garutan"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI

BATIK TULIS GARUTAN

DK 38315/TUGAS AKHIR Semester I 2011/2012

Oleh :

Eka Risma Agustian NIM :

51907004 Program Studi

Desain Komunikasi Visual

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(2)

Syukur Alhamdullilah proyek tugas akhir telah selesai dikerjakan dengan

penuh kemudahan, serta bisa menysusun laporan data selama melakukan

observasi di lapangan dengan sebaik-baiknya.

Penulis banyak mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam proses pencarian data selama penulis melakukan riset

lapangan. Penulis juga banyak mengucapkan terimakasih kepada semua

orang-orang dan masyarakat yang banyak memberikan motivasi untuk lebih

bisa berpikir kreatif dalam berkarya. Dalam isi penyusunan pengantar proyek

tugas akhir ini penulis membahas tentang motif-motif batik tulis Garutan

untuk dikenalkan kepada masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat

Garut, agar batik tulis Garutan semakin bisa dikenal oleh semua masyarakat.

Dalam penyusunan proyek tugas akhir yang dibuat ini penulis mohon maaf

bila ada salah-salah kata yang kurang baik, penulis mungkin masih belum

bisa sempurna sepenuhnya.

Semoga dengan selesainya penyusunan proyek tugas akhir ini penulis lebih

bisa meningkatkan kreatifitas dalam berkarya.

Bandung, 27 Februari

(3)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang memiliki aneka ragam batik tulis

dari berbagai penjuru tanah Jawa. Perempuan-perempuan Jawa di

masa lampau menjadikan batik tulis sebagai keterampilan mereka

dan sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan

membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Ragam corak

dan warna batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing.

Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan

beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu.

Perkembangan batik mulanya berkembang di daerah di pulau Jawa

Tengah yang tersebar ke berbagai daerah-daerah di penjuru

pelosok hingga masuk ke Jawa Barat ke daerah-daerah seperti

Tasikmalaya, Subang, Garut, Cirebon, Indramayu dan Ciamis.

Batik-batik tersebut memiliki ciri khas masing-masing dalam motif

dan warna. Perbedaan tersebut memperkaya khasanah batik Jawa

Barat. Seperti halnya batik tulis dari garut yang memiliki aneka

ragam corak hias batik yang terkenal dari Garut Seperi motif batik

merak ngibing, Bulu Hayam, dan Domba Garut. Masih ada sekitar

130 motif batik dari Garut yang dikenal juga sabagai batik tulis

Garutan.

Batik tulis Garutan sekarang sedang mengalami peningkatan dalam

pembuatan batik, tetapi karena mahalnya batik tulis Garutan hanya

kalangan tertentu saja yang mampu memliki batik tulis Garutan.

walapun batik tulis Garutan sedang mengalami peningkatan dalam

memproduksi, tetap saja masih kekurangan tenaga pengrajin untuk

membuat motif-motif baru. Hal ini dikarenakan membatik itu

(4)

2 bekerja di bidang lain yang setiap bulannya mendapatkan

penghasilan.

Karena minimnya jumlah pembatik di Garut, berdampak pada batik

tulis Garutan menjadi kurang diketahu oleh masyarakat dalam negri

khususnya oleh masyarakat kota Garut. Hal ini mempengaruhi

terhadap penciptaan moti-motif baru pada batik tulis Garutan

sehingga masyarakat kurang mengetahui perbedaan antara batik

tulis Garutan dengan motif yang menyerupai kain batik tulis

Garutan yang dalam proses pengerjaannya melalui printing dengan

corak motif menyerupai kain batik tulis Garutan. Sejalan dengan

berkembangnya teknologi dan kecanggihan alat produksi batik

printing bisa mengancam keberadaan batik tulis Garutan karena

dengan banyaknya batik printing yang bermunculan yang meniru

motif batik tulis Garutan mengakibatkan konsumen/masyarakat

lebih memilih batik printing karena selain memiliki motif yang

beragam juga harga kain yang terjangkau.

Melihat kondisi batik tulis Garutan saat ini perlu adanya usaha dari

pemerintah maupun masyarakat untuk menyikapi masalah

tersebut, seperti misalnya usaha untuk melestarikan motif batik tulis

Garutan, dan usaha lainnya, untuk menanamkan rasa kecintaan

terhadap motif asli batik tulis Garutan agar masyarakat peduli

dengan keberadaan batik tulis Garutan.

1.2. Identifikasi Masalah

 Keragaman motif batik tulis garutan kurang diketahui oleh semua masyarakat khususnya masyarakat kota Garut.

 Kurangnya pengenalan tentang motif batik tulis garutan.

(5)

3  Tidak adanya pembatik untuk meneruskan membuat

motif-motif batik tulis garutan sehingga dikhawatirkan batik tulis

Garutan terancam kurang dikenal.

 Tidak adanya dokumentasi mengenai motif batik tulis Garutan.

 Ketiadaan buku reverensi tentang batik tulis Garutan menjadikan kurangnya pengetahuan yang didapat oleh

masyarakat mengenai informasi-informasi tentang batik tulis

Garutan lewat dokumentasi ilustrasi fotografi

1.3. Fokus Permasalahan

 Tidak adanya dokumentasi mengenai motif batik tulis Garutan, sehingga keragaman motif batik tulis Garutan

kurang diketahui oleh masyarakat kota Garut.

1.4. Tujuan Perancangan

 Mendokumentasikan motif-motif batik tulis Garutan agar tidak hilang dan dapat dikenal oleh masyarakat

 Mengenalkan motif batik tulis Garutan agar masyarakat peduli terhadap keberadaan batik tulis Garutan.

 Agar masarakat peduli dan menambah kecintaan terhadap batik tulis Garutan sehingga diharapkan dapat meningkatkan

jumlah pembatik di Garut dan mengembangkan industri

batik di Garut agar peminat batik tulis Garutan bisa

(6)

4

digunakan dan didapat, hal ini dikarenakan banyaknya

tempat-tempat yang menjual buku atau yang biasa kita kenal sebagai toko

buku yang ada di Indonesia terutama di kota-kota besar, seperti

Bandung dan kota lainnya. Buku memiliki berbagai macam jenis,

mulai dari buku yang hanya berisi informasi berupa teks hingga

buku yang berisi informasi berupa gambar atau keduanya.

Buku sebagai media informasi dapat memenuhi kebutuhan

masyarakat akan pengetahuan, dan segala sesuatu yang ada dan

terjadi, baik itu peristiwa, bermacam cerita, dan apapun yang

menghasilkan informasi. Bentuk buku tidak harus berupa teks,

namun buku juga dapat disajikan berupa gambar atau foto yang

disertai teks, seperti buku bergambar (picture book), yang

disesuaikan dengan kebutuhan penyampaian informasi mengenai

buku tersebut.

2.1.1. Buku Bergambar

Menurut Guntur (seperti yang dikutip Nurmarwan, 2010), “Buku

bergambar merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan

dengan bentuk teks disertai dengan gambar ilustrasi yang

mendukung yang dikemas menjadi sebuah buku.

Buku bergambar terdiri dari beberapa jenis, yang diantaranya

adalah sebagai berikut:

(7)

5

 Buku yang mengandalkan gambar/ilustrasi sebagai penjelas teks. Gambar/ilustrasi hanya berfungsi sebagai tambahan.

 Buku yang gambar/ilustrasinya hanya merupakan dekorasi atau hanya sebagai elemen estetis dan memiliki sedikit

hubungan dengan isi teks.

2.2. Batik

2.2.1. Pengertian Batik

Batik berasal dari bahasa jawa “amba” yang berarti menulis dan nitik, yang pada tekniknya menggunakan bahan malam yang

diaplikasikan diatas kain dengan menggunakan canting dan malam

sebagai perintangnya kemudian memberikan warna dengan cara

dicelup. (Aep. S Hamidin 2010)

Batik merupakan kerajinan menggambar corak diatas selembar

kain yang digunakan sebagai pakaian dan telah menjadi salah satu

kebudayaan keluarga raja-raja di Indonesia zaman dulu. Awalnya

batik dikerjakan terbatas dikerjakan dalam lingkungan keraton saja

hasilnya dipakai oleh raja dan keluarga serta para pengikutnya.

Dikarenakan banya pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka

kerajinan batik dibawa keluar kraton dan dikerjakan dirumah

masing-masing .

Lama kelamaan kerajinan batik ditiru oleh rakyat dan meluas

menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggang.

Selanjutnya, batik yang tadinya hanya dipakai oleh keluarga kraton

kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari baik oleh wanita

maupun pria.

Disebutkan oleh Yudoseputro (2000:98) bahwa batik berarti

(8)

6 sebagai media sekaligus penutup kain. Selain itu, seorang ahli seni

rupa mengemukakan bahwa seni batik merupakan hasil

kebudayaan bangsa Indonesia yang tinggi nilainya. Karena itu

sudah selayaknya ditingkatkan dan dikembangkan (Widodo, 1983 :

1).

Adapun sebuah buku yang mengatakan bahwa batik adalah bahan

sandang yang dibuat berupa tekstil untuk keperluan kelengkapan

hidup sehari-hari. Tekstil yang dibuat dengan teknik atau proses

batik untuk sandang tersebut, berupa kain penutup badan, hiasan

rumah tangga, dan perlengkapan lain yang semuanya

dimaksudkan untuk memperindah penampilan.

2.2.2. Sejarah Batik di Indonesia

Seni Batik tetap hidup subur di Indonesia, dikenal oleh seluruh

lapisan masyarakat. Bila kita bandingkan batik yang kita kenal

sekarang dengan batik puluhan tahun yang silam, tidak begitu

banyak perubahan ; baik bahan, cara maupun coraknya. Sifat inilah

yang menyebabkan seni batik mudah dipelajari, dari generasi ke

generasi (Widodo, 1982 : 2)

Di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit. Adapun

mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia

dan khususnya suku Jawa pada akhir abad ke-XVIII atau awal

abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis

sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang

dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan

penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan

di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi

alat perdagangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim

(9)

7 Kerajinan batik merupakan kerajinan mengambar di atas kain untuk

pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja

pada zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam

kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta

para pengikutnya. Karena banyaknya pengikut raja yang tinggal

diluar kraton, maka kerajinan membatik dibawa oleh pengikut raja

keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kerajinan membatik ini ditiru oleh rakyat dan

selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum hawa dalam rumah

tangganya untuk mengisi waktu senggang.

2.2.3. Batik Tulis

Batik tulis merupakan batik yang dalam proses pengerjaannya

menggunakan canting sebagai alat menggambar, batik tulis

memilik Corak atau motif batik tidak terlalu rapi, karena batik

dikerjakan dengan tangan (manual). Corak dan warna batik tulis

antara kain bagian depan dan belakang terlihat jelas, meskipun

antara corak yang satu dan yang lain terkadang tidak sama. Batik

jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan

menggunakan lilin khusus. Bahannya dari kain katun, kain mori,

atau kain sutra. Harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan

selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari 1 bulan.

2.2.4. Batik Jawa Barat

 Batik Indramayu

Batik Indramayu atau juga disebut batik Dermayon tergolong

ke dalam kelompok batik pesisiran. Oleh karena itu banyak

mengangkat flora dan fauna serta lingkungan lautnya di

ungkap secara datar dan banyak menggunakan garis –garis

yang meruncing, latarnya berwarna muda seperti ada

(10)

8 warna pokok hiasan cenderung menggunakan warna gelap

yang agak kusam. Susunan motifnya sangat dinamis

cenderung asimetris dan ritmis. (Aep S Hamidin Batik

Warisan Budaya Asli Indonesia cetakan pertama 2010 : 39)

Gambar. 2.1. Batik Indramayu Kapal Kandas

(sumber :http: //batik Indonesia.com/batik/images.jpeg/7392)

 Batik Cirebon

Seperti halnya batik Solo dan Batik yogyakarta batik Cirebon

pun menyimpan makna–makna simbolis pada setiap

motifnya. Motif batik Cirebon termasuk batik pesisiran, yang

ada umumnya ditandai dengan sistem pembabaran yang

lebih dinamis, meriah dengan banyak warna dan sangat

ditentukan oleh permintaan.

Gambar. 2.2. Batik cap Mega Mendung Cirebon)

(sumber :http//batikindonesia.com/batik/images.jpeg/7392)

(11)

9

 Batik Ciamis

Batik Ciamis banyak di pengaruhi oleh batik Banyumas,

Yogyakarta, dan Solo. Corak yang dikembangkan adalah

variasi parang dengan warna soga kemerah–merahan dan

hitam dengan latar belakang kuning muda

kemerah-merahan, yang kemudian disebut dengan batik sarian. (Aep

S Hamidin Batik Warisan Budaya Asli Indonesia cetakan

pertama 2010 :43)

Gambar.2.3. Batik Ciamis Pangkah Peteuy

(Sumber :batiksukraj+ciamis+lereng+papangkah.jpeg)

 Batik Tasikmalaya

Beragam corak khas batik tasik disatukan dalam selembar

kain agar lestari. Membuat pakaian jadi juga jadi strategi

menarik minat pasar yang lebih luas bisa dibilang, tak

banyak perajin batik Tasikmalaya yang bertahan sejak tahun

70-an hingga sekarang.

Gambar.2.4. Batik Tasikamalaya Merak Ngibing Lancah

(12)

10

 Batik Garutan

Batik Garutan adalah Batik yang terdapat di daerah Garut –

Jawa Barat yang merupakan salah satu kreasi budaya

bangsa yang diwariskan secara turun-meunrun.

Gambar.2.5. Batik Tulis Garutan Merak Ngibing

(Sumber: Dokumen Pribadi)

2.3. Batik Garutan

Batik Garut. secara umum, Kabupaten Garut, dikenal

dengan penganan dodol garut. Tetapi bagi para kolektor dan

penggemar batik, Garut juga menjadi incaran utama. Batik

Garut mulai berkembang pada 1979. Dilaporkan bahwa

sekitar tahun 1940-an Awalnya batik diproduksi untuk

memenuhi pesanan. Namun, kini batik tulis diproduksi

secara besar-besaran. Produk batik Garut juga tidak hanya

berupa kain untuk wanita tetapi juga berupa turunan produk

tekstil lainnya seperti kemeja pria, tutup meja, sprei, dan tas.

2.3.1. Batik Tulis Garutan

Batik tulis Garutan adalah batik yang terdapat di daerah

Garut Jawa Barat yang merupakan hasil kreasi budaya

bangsa yang diwariskan secara turun menurun. Warna cerah

(13)

11 khas batik Garutan. Warna-warna tersebut didominasi oleh

warna dasar krem atau gading (gumading), biru dan soga.

Warna dasar yang mencerminkan alam itu dihadirkan pula

dengan corak atau motif yang dekat dengan kehidupan

masyarakat Garut ( yanni rosalin 2011).

Gumading, adalah warna buah-buahan seperti mangga dan

sebagainya yang mulai masak dan mulai menguning. Istilah

ini dipakai untuk warna kuning lembut kain batik Garut.

Gambar. 2.6. Latar Gumading Motif Lereng Cucuk

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Soga adalah warna merah, dan biru dongker yang biasa

digunakan oleh batik tulis garutan sebagai ciri khas warna

atau bisa juga disesuaikan dengan keinginan konsemen

untuk warna latar. Sementara corak dan motif batik tulis

garutan sebagai berikut:

Gambar. 2.7. Latar Biru Dongker Motif Lumba-lumba

(14)

12

2.3.2. Penjelasan Arti Dari Motif Batik Tulis Garutan

Merak ngibing, menggambarkan sepasang burung merak yang sedang menari.

Bulu hayam, memperlihatkan ekor ayam yang panjang dengan lengkung setengah lingkaran, didalam setengah

lingkaran didalamnya terdapat berbagai motif dan

tersusun sedemikian rupa membuat komposisi

lengkungan yang indah.

Lereng adumanis, merupakan susunan motif dengan berbagai bentuk ada segitiga, melati berselang seling

dengan lereng, dan ragam hias tersebut dipindahkan

(diadukan/disandingkan) dalam bentuk lajur-lajur panjang

tersusun miring sehingga tampak serasi atau manis.

Lereng su’uk, menggambarkan susunan su’uk (kacang tanah) yang teratur indah.

Lereng calung, merupakan susunan bentuk calung (alat musik orang sunda yang terbuat dari sebuah bambu

dipegang tangan kiri dibunyikan dengan cara memukul

mempunyai ukuran antara 50 cm sampai dengan 70 cm)

disusun secara miring.

Lereng daun, merupakan susunan motif daun berukuran sedang tidak terlalu besar atau terlalu kecil.

Cupat manggu, merupakan bentuk yang diambil dari bagian bawah tapuk buah manggu (manggis) yang

terlihat seperti kitiran. Pada masa lalu anak-anak

didaerah priangan (Jawa Barat) melakukn permainan

menebak jumalah cupat manggu.

 Bilik, merupakan motif yang menggambarkan bentuk anyaman bambu (bilik) yang biasa digunakan sebagai

(15)

13

Lereng dokter, diberi nama demikian disebabkan yang memasan motif tersebut adalah seorang dokter.

Lereng jaksa, karena yang memasannya adalah seorang jaksa.

Lereng perahu.

Lereng sigaret, mempunyai motif seperti cerutu, memang tidak jelas betul bentuknya cerutunya.

Lereng barong, yaitu motifnya besar bervolume dan bentuknya miring diseling beberapa lingkaran berukuran

sedang dan titik.

Mojang priangan, yaitu istilah yang digunakan untuk gadis-gadis (mojang) yang rupawan berasal dari priangan

(Bandung).

Limar, merupakan motif dengan bentuk wajik, atau diamond, kadang antar limar diberi pita atau bagian

dalam bentuk wajik diisi motif.

Siki bonteng merupakan motif yang berarti biji ketimun. Jadi siki bonteng ialah yang terinspirasi dari biji ketimun.

Sidomukti, adalah yang umumnya mengarah ke garis diagonal yang disebut lereng dan berbentuk belah

ketupat.

Tanjung anom, (jenis modifikasi) sejenis bunga berukuran sedang.

Bentuk motif lereng merupakan bentuk yang paling

dominan pada batik Garutan, yakni bentuk hiasan yang

diletakan miring atau diagonal.(Sumber: yani rosallin

(16)

14

2.4. Jenis-jenis Motif Batik Tulis Garutan

Gambar. 2.8. Gambar. 2.9. Gambar. 2.10.

Gambar. 2.12. Gambar. 2.13.

Gambar. 2.14. Gambar. 2.15. Gambar. 2.16.

(17)

15

Tanjung Anom (Sumber Dokumen Pribadi)

Gambar. 2.18.

Gambar. 2.17. Gambar. 2.19.

Gambar.2.20. Gambar.2.21. Gambar.2.22.

Gambar.2.23. Gambar.2.24. Gambar.2.25.

Beton

(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Dokter Lereng Malati

(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Kucubung

Lereng Panah (Sumber Dokumen Pribadi) Lereng Karikil

(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Lereng Dadu

(18)

16

Gambar.2.26. Gambar.2.27. Gambar.2.28.

Gambar.2.29. Gambar.2.30. Gambar.2.31.

Gambar.2.33.

Gambar.2.32. Gambar.2.34.

Bilik Hideung (Sumber Dokumen Pribadi)

Cupat Manggu (Sumber Dokumen Pribadi)

Bulu Hayam (Sumber Dokumen Pribadi) Pita

(Sumber Dokumen Pribadi)

Rereng Sintung Bunga (Sumber Dokumen Pribadi) Lereng Su’uk

(Sumber Dokumen Pribadi)

Angkin Seling Kembang (Sumber Dokumen Pribadi) Bilik Biru

(19)

17

Gambar.2.35. Gambar.2.36. Gambar.2.37.

Gambar.2.38. Gambar.2.39. Gambar.2.40.

Gambar.2.41. Gambar.2.42. Gambar.2.43.

Lereng Adu Manis (Sumber Dokumen Pribadi)

Wayang

(Sumber Dokumen Pribadi) Akar Daun

(Sumber Dokumen Pribadi) Batu

(Sumber Dokumen Pribadi)

Akuarium

(Sumber Dokumen Pribadi) Daun Sampeu

(Sumber Dokumen Pribadi)

Lumba-lumba

(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Keraton Lepaan

Angkin

(20)
(21)

19

Surutu Selang Kembang (Sumber Dokumen Pribadi)

Gambar. 2.56. Gambar. 2.57. Gambar.2. 58.

Gambar.2. 59. Gambar.2. 60. Gambar. 2.61.

Limar

(Sumber Dokumen Pribadi) Rajawali

(Sumber Dokumen Pribadi)

Sidomukti

(Sumber Dokumen Pribadi)

Lereng Kumeli (Sumber Dokumen Pribadi) Carang Ayakan Seling Bunga

(Sumber Dokumen Pribadi) Gambir Saketi

(Sumber Dokumen Pribadi) (Sumber Dokumen Pribadi)Sidomukti Daun

Banji

(22)

20

Gambar. 2.62. Gambar. 2.63. Gambar. 2.64.

Gambar. 2.65. Gambar. 2.66. Gambar. 2.67.

(23)

21

Gambar. 2.71. Gambar. 2.73.

Gambar. 2.74.

Lereng Beungkeut Biru (Sumber Dokumen Pribadi)

Gambar. 2.77.

Gambar. 2.72.

Gambar. 2.75. Gambar. 2.76.

Cakra

(Sumber Dokumen Pribadi)

Bango Rawa (Sumber Dokumen Pribadi) Limar Beungkeut

(Sumber Dokumen Pribadi)

Sidomukti Biru (Sumber Dokumen Pribadi)

Merak Ngibing

(24)

22

2.5. Pola Geometris Pada Batik Tulis Garutan

Dalam pola geometris terkandung arti yang menyangkut falsafah

kejawen dan tata pemerintah tempo dulu. Komposisinya adalah

motif-motif yang diatur berjajar rapat dan mempunyai pusat. Pusat

ini diartikan sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan (sumber

yanni rosalin 2011)

Kategori Jenis Motif Sederhana

Gambar. 2.78.

(25)

23

Bentuk Dasar Motif Belah Ketupat Atau Layang-layang.

Gambar. 2.79.

(26)

24

Kategori Bentuk Dasar Motif Garis Miring.

Gambar. 2.80.

(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)

(27)

25

Kategori Pengulangan Bentuk Yang Monoton

Gambar. 2.81.

(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)

Kategori Gabungan Dari Motif Dasar

Gambar. 2.82.

(28)

26

Kategori Motif Bebas

Gambar. 2.83.

(Sumber: koleksi kain batik milik ibu Yanni Rosalin)

Kategori Motif Latar Gumading

Gambar. 2.84.

(29)

27

2.6. Elemen – Elemen Pada Batik Tulis Garutan 2.6.1. Kain

Kain adalah sebuah bahan yang terbuat dari kapas kain ini biasa di

sebut dengan kain mori (cambrics) adalah kain tenun berwarna

putih yang terbuat dari kapas. Ada 2 jenis kain mori yang sering

dijadikan kain batik yaitu, kain mori yang telah mengalami

pemutihan ( blesching ) dan kain mori yang belum diputihkan. Kain

yang belum diputihkan disebut juga lain belacu. Kualitas kain mori

sangat tampak dari kehalusan tekstur kain, sehingga kain mori

tersebut selain dari cara membatik dalam proses membatik akan

mempengaruhi terhadap kualitas batik yang di hasilkan.

Kain Mori

 Mori Primisima

Mori Primisima adalah mori yang paling halus bisa

digunakan untuk membatik kain batik tulis dan tidak

digunakan dalam batik cap.mori ini diperdagangkan

dalam bentuk gulungan (piece) lebar 1,06 m dan panjang

15,5 m. Susunan atau konstruksi mori primisima

menggunakan benang Ne 50-56. Kepadatan (tetel)

benang untuk lusi antara 105-125 per inch (42-50 per

cm)

 Mori Prima

Mori prima adalah mori yang mempunyai kualitas nomer

dua setelah mori primisima. Mori ini biasanya digunakan

untuk membatik tulis maupun cap. Mori ini juga sama

seperti mori primisima yaitu diperdagangkan dalam

bentuk gulungan (piece) lebar 1,06 m dan panjang 15,5

(30)

28 menggunakan benang Ne 36-46 dan jenis mori ini

mengandung kanji kurang lebih 10%.

 Mori Biru

Mori biru adalah golongan mori dengan kualitas ketiga

,bisa digunakan untuk membatik kasar dan sedang tidak

dipergunakan untuk membatik batik kualitas halus. Mori

ini juga dipergunakan dalam bentuk gulungan (piece),

lebar 1 m dan panjang 16 yard, 30 yard, 40 yard

.susunan atau konstruksi mori biru dengan benang Ne

28-36 untuk benang pakan dan Ne 26-34 untuk benang

lusi.

(Aep S.Hamidin Batik Warisan Budaya Asli Indonesia

cetakan pertama 2010)

Kain Sutra

Sutra atau sutera merupakan serat protein alami yang

dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling

umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan

larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak

(peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra bertekstur

mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang

menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti

prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan

kain sutra membiaskan cahaya pada berbagai sudut.

Sutera ditemukan dan digunakan pertama kali di Cina

dibawah Kekaisaran Huang Ti ( Yellow Emperor ) sekitar

tahun 2697 s/d 2597 Sebelum Masehi. Legenda

mengatakan bahwa Lei-tzu sang Permaisuri kerajaan

saat itu sedang memperhatikan kepompong di pohon

(31)

29 kepompong tersebut jatuh di cangkir teh sang permaisuri.

Saat akan mengambil kepompong tersebut sang

permaisuri menyadari bahwa kepompong tersebut

kemudian menjadi berbentuk helaian benang yang halus

dan panjang. Inilah awal pertamakali benang sutera

ditemukan. Di Cina kemudian permaisuri tersebut sampai

sekarang dikenal sebagai Si Ling-chi atau Lady of the

Silkworm.

Semenjak itu Cina dikenal sebagai penghasil kain sutera

yang terkenal di seluruh dunia. Banyak pedagang datang

ke Cina untuk berdagang kain sutera Cina yang terkenal.

Jalur perdagang tersebut kemudian dikenal sebagai Silk

Road atau Jalur Sutera. Proses Produksi ulat sutra

diletakan pada wadah yang berisi daun murbai sebagai

makanan ulat tersebut

Gambar. 2.85. Kain Mori Untuk Membatik

(32)

30

2.6.2. Canting

Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau

mengambil cairan. Canting untuk membatik adalah alat kecil

yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai

pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola

batik dengan cairan lilin. Sebelum bahan plastik banyak

dipakai sebagai perlengkapan rumah tangga, canting yang

terbuat dari tempurung kelapa banyak dipakai sebagai salah

satu perlengkapan dapur sebagai gayung. Dewasa ini

canting tempurung kelapa sudah jarang terlihat lagi karena

digantikan dengan bahan lain seperti plastik. Canting untuk

membatikpun perlahan digantikan dengan Teflon.

gambar .2.86. canting

(sumber: hop.waroeng.nl/images/canting.jpg)

Bagian Canting :

 Gagang terong merupakan tangkai ekor yang terletak pada bagian ekor (belakang) untuk ditancapkan pada kayu.

 Nyamplungan merupakan bagian-bagian canting yang gunanya untuk mengambil (wadah) malam cair diwajan

(ciduk).

 Carat atau curut merupakan bagian utama canting dengan posisi pada bagian yang mrupakan pipa melengkung (pada

(33)

31 (wadah).Canting dapat dibedakan menurut fungsi ukuran

canting.

Gambar. 2.87.canting

(sumber: http://www hop.waroeng.nl/images/canting.jpg)

Fungsi Canting

 Canting reng-rengan, bercucuk sedang dan tunggal dipergunakan khusus untuk membuat pola.

 Canting isen, bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap, dipergunakan untuk membatik isi bidang atau

Canting Dan Fungsinya

 Canting cecekan, bercucuk satu kecil untuk nitik (buat titik-titik) atau nyeceki untuk membuat garis kecil.

 Canting loron, canting bercucuk dua berlajar atas bawah digunakan untuk membuat garis rangkap.

 Canting talon, canting bercucuk tiga membentuk segitiga, digunakan untuk membentuk titk tiga bekas titik segitiga

pengisi biang.

 Canting prapatan, canting bercucuk empat yang digunakan untuk membuat titik empat tersusun bujur

sangakar sebagai pengisi bidang.

 Canting liman, canting bercucuk lima yang digunakan untuk membuat empat titik bujur sangkar atau titik yang

(34)

32

 Canting byok, canting yang bercucuk tujuh atau lebih untuk membat titil-titik tersusun lingkaran.

 Canting renteng, canting yang bercucuk genap berjumlah empat atau lebih, tersusun dari bawah keatas (system

rangkai cucuk).(Aep S Hamidin Batik Warisan Budaya

Asli Indonesia cetakan pertama 2010:68)

Malam

 Malam tawon dan malam klenceng ialah malam yang dihasilkan oleh serangga sejenis lebah (tawon) dan

diambil dari rebusan sarangnya setelah dibersihkan dari

kotoran dan tolonya.

 Malam kuning dan malam putih ialah lilin (malam) yang dihasilkan dari limbah minyak tanah.

Gambar. 2.88. Malam

(35)

33

2.7. Teknik Membatik

 Kain mori halus/primisima dipotong sesuai ukuran.

 Diketel (pengetelan) yaitu kain yang sudah dipotong kemudian direndam didalam air abu merang yang

dicampur dengan larutan minyak kacang. Bahan yang

dibutuhkan untuk merendam satu helai kain air abu

merang kurang lebih 20 liter (10 iket merang padi) dan

minyak kancang.

 Setelah larutan untuk merendam selesai maka kain tersebut diuleni supaya lemas, kemudian direndam satu

malam.

 Esok harinya kain diangkat kemudian dicuci bersih terus dijemur hingga kering, setelah kering terus masukan lagi

dalam larutan perendam tadi sambil terus diuleni. Setelah

cukup lama diuleni kemudian direndam lagi satu malam.

Demikain seterusnya hingga 10 hari, dan kain tersebut

terlihat seperti ada bintik hitam yang berasal dari merang

dan agak berwarna ke abu-abuan. Setelah dicucui bersih

lalu dijemur setelah kering dipukul-pukul dengan kayu

agar lemas dan bulu kainnya hilang.

 Memberi cairan kanji secara tipis, tujuannya agar malam pada batik mudah untuk dihilangkan. Adapun larutan

kanji yang dibutuhkan untuk satu helai kain yaitu

campuran 1 liter air dengan 20 gram tepung tapioka.

Setelah dikanji lalu dijemur.

 Proses pemberian gambar dengan canting khusus untuk ngerengreng, prosesnya disebut ngarengreng.

(36)

34

Nerasan yaitu melakukan pemalaman pada bidang kain sebaliknya persis mengiktui motif yang sudah direngreng.

Ngobat yaitu proses pewarnaan, bagian yang tidak dimalam maka bidang tersebut akan berwarna.

Ngalorod, yaitu proses menghilangkan malam pada kain dengan cara merebus dalam air yang mendidih.

 setelah dilorod kemudian dicucu hingga bersih dan dijemur.

 Setelah kering kemudian disetrika, agar rapih dan menarik.

Gambar.2. 89. Batik sedang dibuat pola(diterasan)

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Gambar.2. 90. Batik yang telah diberi malam

(37)

35 Gambar.2.91. Batik direndam untuk kemudian diberi obat pewarna

(Sumber: Dokumen Pribadi)

2.8. Kesimpulan Hasil Wawancara

Dari keselurahan hasil wawancara, batik Garutan sekarang masih

bisa didapatkan karena sekarang batik tulis Garutan telah

digalakan kembali oleh wakub agar batik tulis Garutan bisa terus

dikenal dan berkembang.

Batik tulis Garutan memiliki banyak sejarah, seperti yang

diceritakan oleh orang tua dulu bahwa yang membuat batik tulis

Garutan pada zaman dulu merupakan putri-putri raja padjajaran,

(38)

36

2.9. Target Sasaran

 Geografis

Secara geografis, target sasaran perancangan media

buku motif batik tulis garutan adalah semua masyarakat

di kota Garut yang belum mengetahui batik tulis garutan.

 Demografis

Hal layak banyak dari buku motif batik tulis garutan

secara demografis adalah sebagai berikut :

Primer Usia : 16-25 tahun.

Pekerjaan : SMA sampai kuliah

Jenis Kelamin : Laki-laki dan perempuan

Sekunder usia : 25-50 tahun.

Pekerjaan : pegawai kantoran, pengusaha, pejabat.

Buku pengenalan motif buku tulis garutan ini merupakan

golongan menengah keatas yang memiliki ketertarikan

terhadap batik tulis garutan.

 Psikografis

Buku pengenalan motif batik tulis Garutan ini merupakan

golongan menengah keatas yang memiliki ketertarikan

(39)

37

BAB III

STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL 3.1. Pendekatan Komunikasi

Pendekatan komunikasi melalui media cetak dengan cara

memperlihatkan motif-motif batik tulis Garutan lewat teknik dan

media fotografi yang memperlihatkan motif-motif batik tulis

Garutan. Foto-foto yang memuat motif batik tulis Garutan

diaplikasikan kedalam buku batik akan disusun sesuai dengan

urutan alfabet dari huruf A hingga Z agar lebih terartur dan lebih

mudah untuk dilihat. Hal ini merupakan salah satu strategi kreatif

untuk menarik konsumen agar memudahkan masyarakat dalam

mendapatkan pengetahuan tentang batik tulis Garutan.

3.2. Strategi Perancangan

Strategi perancangan akan menggunakan beberapa macam

perancangan sesuai dengan media-media yang digunakan.

Perancangan tersebut seluruhnya berupa pengenalan motif-motif

batik tulis Garutan, agar masyarakat dapat mencintai budaya batik

tulis Garutan. Perancangan media yang akan dibuat berupa media

cetak untuk mendukung promosinya. Buku dipilih sebagai media

utama untuk mengenalkan motif-motif batik tulis Garutan.

3.3. Strategi Kreatif

Dalam perancangan media informasi buku ini ditujukan sebagai

media yang mudah untuk diketahui, agar pemahaman yang di

informasikan lebih cepat sampai untuk dimengerti oleh khalayak

sasaran karena buku merupakan media yang mudah dibawa dan

memudahkan pembacanya untuk mengakses informasi secara

berulang-ulang. Pada isi buku gambar batik disusun dengan

(40)

38 Agar perancangan media informasi buku batik tulis Garutan bisa

bermanfaat bagi khalayak sasaran maka buku ini dirancangan

dengan menarik dengan strategi kreatif sebagai berikut:

 Warna pada tata letak menggunakan warna hitam supaya buku memilki kesan yang elegan menjadikan buku tersebut

tidak bosan untuk dilihat.

 Memberikan beberapa informasi tentang batik tulis Garutan beserta motif-motif batik tulis Garutan agar khalayak sasaran

bisa mengetahui motif-motik batik tulis Garutan serta arti dari

sebagian motif yang memiliki informasi dari motifnya.

 Menggunakan huruf yang meiliki karakter elegan yang mendukung pesan visual yang akan diaplikasikan dan tepat

untuk khlayak sasaran

 Ukuran buku A5 dengan kertas menggunakan art paper 150 gram formt buku landscape agar gambar yang dilihat lebih sebagai elemen visual, bunga tersebut diambil dari batik tulis

Garutan supaya buku terlihat konsisten dengan isi yang

(41)

39

3.4. Konsep Visual

Isi dari buku ini membahas tentang batik, pengertian batik, sejarah

batik Indonesia, batik Jawa Barat, serta batik tulis Garutan dan

ciri-ciri batik tulis Garutan dengan motif-motifnya yang khas dari Garut.

Agar buku ini semakin menarik dilihat oleh khalayak sasaran maka

dibutuhkan sebuah strategi kreatif seperti :

 Ilustrasi fotografi menampilkan gambar-gambar motif batik tulis Garutan agar masyarakat bisa mengetahui tentang batik

tulis Garutan.

Gambar. 3. 1. Kain batik tulis Garutan bermotif irian diambil dengan teknik fotografi

 Warna yang akan digunakan adalah warna hitam CMYK. Keseluruhan background menggunakan latar hitam agar

gamba-gambar batik tulis Garutan lebih terlihat menonjol.

Gambar. 3. 2. Warna hitam untuk background buku.

(42)

40

 Tata letak diatur dengan komposisi motif-motif dari batik tulis Garutan agar lebih besar bidangnya lebih mirip dengan kain

batik tulis Garutan. Sehingga pembaca merasa sedang

melihat-lihat kain batik tulis Garutan.

Gambar. 3. 3. batik tulis Garutan motif surutu bunga sebagai sampul depan buku

Visual diatas merupakan bagian dari batik tuls Garutan yag di potong

untuk dijadikan visual cover buku depan dan belakang ada beberapa

media pendukung yang menggunakan visual tersebut agar tata letak

konsisten.

Gambar. 3.4. potongan motif batik yang telah ditrace dijadikan vector untuk halaman

buku

Visual tersebut merupakan dari daun batik tulis Garutan yang kemudian di

trace dijadikan vektor untuk halaman buku.

(43)

41 Gambar. 3. 5. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad A yaitu motif Akuarium

Gambar. 3.6. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad A yaitu motif Angkin

(44)

42 Gambar. 3.8. berdasarkan susunan huruf diawali dengan abjad C motif Cakra.

3.5. Strategi Media 3.5.1. Media Utama

Media utama merupakan sebuah buku berukuran A5. Isi

buku ini merupakan batik-batik tulis Garutan, buku ini akan

dipasrkan ke toko-toko buku gramedia untuk diperjual

belikan kepada hal layak banyak supaya masyrakat bisa

mengetahui tentang batik tulis Garutan agar batik tulis

Garutan semakin banyak dikenal oleh masyrakat. Warna

buku yang digunakan adalah warna hitam, dengan warna

hitam buku memberi kesan elegan yang terlihat elok dan

anggun. Buku ini berukuran A5 landscape panjang 21 X

lebar 14, 8 Cm agar gambar batik lebih terlihat detail lebih

leluasa untuk dilihat, kertas buku menggunakan art paper

150 art paper, banyak halaman buku adalah 85 halaman.

Typografi dalam buku ini menggunakan lucida calligraphy

karena dengan huruf tersebut buku terlihat tidak kaku dan

terliat elegan, karakter huruf tersebut memiliki dua karakter

yaitu elegan dan klasik. Gambar buku ini menggunakan

(45)

43 tujuannya adalah supaya gambar batik lebih terlihat

keasliannya dan lebih menarik untuk dilihat.

Tata letak desain mengambil dari batik tulis Garutan sebagai

cover untuk sampul depan dan belakang supaya buku

terlihat cantik dan menarik dan semakin terasa bahwa buku

tersebut adalah buku yang membahas motif batik tulis

Garutan. Gambar batik diambil dengan menggunakan

kamera DSLR canon 1000D.

Gambar.3.9..hasil jadi buku batik tulis Garutan.

Typografi yang digunakan pada media

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

!@#$%^&*()_+=-}]{[“’:;?/>.<,1234567890

(46)

44

3.5.2. Media Lain Yang Efektif Sebagai Pendukung Promosi Buku

Media pendukung yang bisa membantu untuk mempromosikan

buku ini akan dibuat beberapa media seperti poster, flyer, x banner,

yang bisa membantu meningkatkan promosi. Untuk bisa menjaga

dan melestarikan batik tulis Garutan supaya tidak punah karena

kurangnya jumlah pembatik yang berada di kota Garut.

3.6. Strategi Distribusi

Daftar tabel.1. Jadwal distribusi media

Buku ini dijadwalkan akan terbit dari awal januari hingga februari untuk

promosi penjualan serta beberapa gimmick hadiah dari buku ini hanya

berlaku pada saat promosi buku ini berlangsung, dengan promosi dan

gimmick tersebut ditujukan agar banyak peminat untuk membeli dan

(47)

45

Poster

Media ini digunakan untuk mempromosikan buku batik tulis Garutan

kepada masyarakat bahwa buku batik tulis Garutan telah terbit disemua

toko buku terdekat.

Gambar. 3.10. Poster

Ukuran :29,7 X 42 0 Cm

Material : Art paper 150 gram

(48)

46 X-banner

Media pendukung ini akan ditempatkan ditoko buku sebagai media

informasi bahwa buku telah terbit dan ada ditoko tersebut, untuk

membantu meningkatkan promosi buku tersebut.

Gambar. 3.11. X-baner 1

Ukuran X-banner 60 X 160

Material Vinyl

(49)

47

Kalender

Sebagai media pendukung media ini tersedia di toko-toko tempat terbitnya

buku yang membahs moif batik tulis Garutan. Media ini sebagai souvenir

apabila pelanggan membeli buku tentang motif batik tulis Garutan maka

pelanggan tersebut berhak mendapatkan kalender sebagai souvenir.

Gambar. 3.12.Cover depan kalender

Gambar. 3.13. Tampilan isi kalender

Ukuran A5 landscape Lebar 21, 0 cm X panjang 14, 8 cm

Material art paper 230 gram

(50)

48 Flyer

Sebagai media untuk mempromosikan buku batik tulis Garutan telah terbit

ditoko-toko terdekat.

Gambar. 3.14. flyer

Ukuran : A5 14, 8 X 21 Cm

Material : Art Paper 150 gram

Teknik Produksi : Cetak offset separasi

Stiker

Media ini merupakan gimmick jika membeli satu unit buku batik tulis

Garutan gratis satu buah stiker.

Gambar. 3.15. Stiker

Ukuran : Panjang 10 X lebar 2 cm

Materrial : kertas stiker

(51)

49

BAB IV

TEKNIS PRODUKSI MEDIA 4.1. Media Utama

Buku Motif Batik Tulis Garutan

Media utama yang akan dibuat adalah sebuah buku ilustrasi,

dengan teknik fotography ilustrasi, menampilkan motif-motif

batik tulis Garutan serta informasi-informasi yang berada pada

motifnya memiliki penjelasan artian tertentu. Dengan media

buku ini diharapkan bisa membantu batik tulis Garutan agar

selalu terus terjaga kelestariannya.

Gambar. 4. 1 cover depan buku

Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm

Tebal cover : Soft cover

Jenis kertas : Art Paper 180 gram

(52)

50 Gambar. 4. 2 cover belakang buku

Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm

Tebal cover : Soft cover

Jenis kertas : Art Paper 180 gram

Produksi : Cetak offset separasi

Gambar. 4. 3 tampilan isi buku

Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm

Tebal cover : 150 gram

Jenis kertas : Art Paper

(53)

51 Gambar. 4. 4 tampilan isi buku

Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm

Tebal cover : 150 gram

Jenis kertas : Art Paper

Produksi : Cetak offset separasi

Gambar. 4. 5 Tampilan isi buku

Panjang : 21, 0 X Lebar 14, 8 cm

Tebal cover : Soft cover

Jenis kertas : Art Paper 150 gram

(54)

52

4.2. Teknis Perancangan

A. Membalikan ukuran landscape.

Gambar. 4. 6 Membalikan kerts

Ukuran yang digunakan A5 lansdcape

B. Memberikan warna pada tata letak

Gambar. 4. 7 Memberikan warna hitam pada kertas

(55)

53 C. Memasukan gambar dari kain batik yang telah dipotong sebagai

visual untuk cover depan sampul buku.

Gambar. 4. 8 Memasukan Gambar untuk cover depan

Memasukan gambar bungan yang telah diedit di photoshop sebagai visual

untuk cover buku depan.

D. Memberikan elemen estestis bunga sebagai elemen visual untuk

sampul depan buku

(56)

54 Elemen estetis bunga tersebut digunakan supaya tampilan cover buku

lebih menarik dan terlihat cantik, potongan tersebut diambil dari kain batik

tulis Garutan.

E. Memasukan huruf Lucida Calligraphy sebagai font untuk tata

letak buku.

Gambar. 4. 10 Memasukan huruf pada layout

G. Cover belakang buku

(57)

Abu Sudja, Wasilah. 1979. Proses Pembuatan dan Pewarna Batik di Indonesia.

Bandung Karya Nusantara

Dharsono. 2007. Budaya Nusantara. Bandung :Rekayasa Sains.

Hamidin. S. Aep. 2010. Batik Warisan Budaya Asli Indonesia. Bandung : PT.

Gramedia Pakar Utama

Rosalin, Yanni. 2010. Batik Tulis Garutan Sesuai Minat Pasar. IKJ

Wulandari, Ari. 2011. Batik Nusantara. Yogyakarta: Andi

(58)

Data Pribadi

Nama : Eka Risma Agustian

Tempat tgl lahir : Subag, 12 – 08 – 1989

Alamat : Perumahan Rs Darbeni No. 78 Subang

Kode Pos : 41212

Jenis kelamin : Pria

Status : Single

Kewarganegaraan : WNI

Agama : Islam

Telepon : 085221186340

Gambar

Gambar. 2.2. Batik cap Mega Mendung Cirebon)
Gambar.2.4. Batik Tasikamalaya Merak Ngibing Lancah
Gambar.2.5. Batik Tulis Garutan Merak Ngibing
Gambar. 2.9.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Motif yang terdapat pada batik Trusmi atau batik Cirebon tidak hanya mendapat pengaruh dari keraton saja, tetapi motif batik Trusmi atau batik Cirebon juga

Motif batik tulis desa Klampar Pemekasan Madura memiliki keunikan, kekhasan, dan kebaharuan (novelty). Agar motif-motif batik tulis tersebut tidak di klaim oleh

Maka diperlukan solusi pemecahan yang tepat untuk masalah yang dihadapi oleh Batik Kabupaten Ngawi ini yaitu Perancangan motif batik tulis ikon Kabupaten Ngawi sebagai media

Truntum sebagai sumber ide penciptaan. Dalam pembuatan karya Tugas Akhir ini, sumber ide dalam pembuatan batik tulis kain panjang dengan bunga Papaver dan motif Truntum

Kain yang digunakan adalah kain primisima.Adapun hasil karya batik tulis motif relief candi Mendut yang dibuat berjumlah sepuluh busana wanita yang berjudul (1) Busana Wanita

Maka diperlukan solusi pemecahan yang tepat untuk masalah yang dihadapi oleh Batik Kabupaten Ngawi ini yaitu Perancangan motif batik tulis ikon Kabupaten Ngawi sebagai media

Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah produk kain batik tulis Motif Panen Raya dan Motif Organik dari Sekar Batik, Motif Mawar dan Melati dari Koko Batik, Motif Cempaka, Motif

Dengan ditetapkannya batik sebagai warisan dunia, maka akan menjadi pendorong bagi para pengrajin batik tulis untuk lebih kreatif dan inovatif dalam membuat motif dan corak agar dapat